Anda di halaman 1dari 8

BAB V PEMBAHASAN

.Data pada penelitian ini diperoleh dari pasien pemakai gigitiruan jembatan di bagian Prostodonsi RSGMP Kandea yang telah menggunakan gigitiruan jembatan dengan masa pemakaian kurang lebih 5 tahun dimana jaringan gigi penyangganya sehat/tidak mengalami karies sebelum dilakukan preparasi gigi penyangga. Data yang telah diolah, disajikan dalam bentuk tabel frekuensi untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen digunakan tabulasi silang dilanjutkan dengan analisis chi square. Dimana pada penelitian ini hubungan antara jenis desain gigitiruan jembatan dengan terjadinya karies pada gigi penyangga diperoleh hasil uji statistik nilai p = 0,301 (p>0,05). Ini berarti didapatkan hasil yang tidak signifikan antara jenis desain gigitiruan dengan terjadinya karies pada gigi penyangga. Hal ini didukung oleh percobaan yang dilakukan oleh Suzan Elias yang mengatakan bahwa success rate gigitiruan jembatan ditentukan oleh banyak faktor. Desain jembatan merupakan salah satu faktor yang cukup penting untuk menentukan hal tersebut. Yang dimaksud dengan desain jembatan disini adalah baik tidaknya konstruksi jembatan yang dibuat mulai dari diagnosa gigi penyangga, bentuk oklusi, curve of spee, jumlah gigi penyangga, letak gigi penyangga, dan jenis retainer, terlepas dari jenis gigitiruan jembatannya. Dari beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Goodacre et all dan Baucic et all

18

mengatakan bahwa jenis bahan gigitiruan jembatan yang mempengaruhi terjadinya karies pada gigi penyangga.31, 41 Demikian juga dengan hubungan antara frekuensi menyikat gigi dengan terjadinya karies pada gigi penyangga diperoleh hasil yang tidak signifikan. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,542 (p>0,05). Ini berarti tidak ada hubungan antara frekuensi menyikat gigi dengan karies pada gigi penyangga. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh F. Setiawati yang mengatakan bahwa tidak ditemukan hubungan antara frekuensi menyikat gigi dengan prevalensi karies karena efektifitas menyikat gigi tidak hanya ditentukan oleh frekuensi menyikat gigi saja namun ada beberapa faktor yakni cara menyikat gigi, waktu menyikat gigi, kebiasaan atau kemauan menyikat gigi, desain dan ukuran sikat gigi juga berpengaruh terhadap kebersihan rongga mulut.44 Hasil uji statistik hubungan antara terjadinya karies pada gigi penyangga dengan frekuensi oral hygiene diperoleh nilai p = 0,434 (p> 0,05). Hal ini berarti tidak ada hubungan antara frekuensi oral hygiene dengan terjadinya karies pada gigi penyangga. Oral hygiene sampel pada penelitian ini di periksa dengan menggunakan OHI-S (Oral Higiene Index Simplefied) yaitu memberi skor debris (DI) dan skor Calculus (CI). Sedangkan Hiranya M. mengatakan bahwa plak memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak merupakan deposit lunak yang membentuk biofilm yang menumpuk pada permukaan gigi atau permukaan keras lainnya di rongga mulut yang tidak dibersihkan. Lokasi dan laju pembentukan plak bervariasi pada setiap individu. Faktor yang mempengaruhi

19

laju pembentukan plak adalah oral hygiene, dan faktor-faktor pejamu seperti diet, serta komposisi dan laju aliran saliva. Faktor substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang banyak mengonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan gigi, sebaliknya orang yang dietnya banyak mengandung lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak mempunyai karies. Sebagaimana diketahui, plak merupakan salah satu komponen dalam pembentukan karies, sehingga insiden karies dapat dikurangi dengan meningkatkan oral hygiene.41 Tetapi pada percobaan yang dilakukan oleh Edwina A. M. Kidd dan Sally Joyston-Bechal yang mengatakan bahwa dengan adanya penambahan sukrosa dalam bentuk minuman, roti, coklat, caramel dan permen diantara waktu makan dapat menyebabkan meningkatnya aktifitas karies tetapi apabila dikonsumsi di waktu makan saja maka kecepatan pembentukan lesi akan berkurang bahkan tidak terbentuk karies. Penelitian lain yang juga mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Stephan yang mengatakan bahwa setelah mengkonsumsi karbohidrat maka pH mulut akan turun dalam 5 10 menit menjadi 5,5 yang bersifat asam, tetapi akan normal kembali dalam waktu 30 45 menit.34 Hasil uji statistik hubungan antara frekuensi karies dengan terjadinya karies pada gigi penyangga diperoleh nilai p = 0,037 (p < 0,05). Hal ini berarti ada

20

hubungan antara frekuensi karies pada rongga mulut dengan terjadinya karies pada gigi penyangga. Menurut Wawan Kustiawan, terdapat orang-orang yang beresiko tinggi mengalami perkembangan lesi karies. Dengan mengetahui faktor-faktor tertentu yang berkenaan dengan riwayat pasien, dapat mengidentifikasi pasien yang beresiko tinggi mengalami karies. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor usia, jenis kelamin, pemajanan fluoride, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan, status ekonomi dan pendidikan, letak geografis dan keturunan. Orangtua dapat menurunkan keadaan giginya kepada anak-anaknya. Bila orang tua mempunyai gigi yang kuat serta tidak pernah berlubang, maka keadaan ini dapat juga dialami oleh anak-anaknya. Kalau gigi orangtuanya rapuh maka gigi anak-anaknya pun rapuh. Keadaan ini tidak selalu terjadi tetapi merupakan suatu kecenderungan. Pengalaman karies terdahulu dapat memprediksi aktivitas karies pada masa yang akan datang. 45, 46 Hasil uji statistik hubungan antara retensi GTJ dengan terjadinya karies pada gigi penyangga diperoleh nilai p = 0,000 (p< 0,05). Ini berarti ada hubungan antara terjadinya karies pada gigi penyangga dengan retensi GTJ. Demikian juga dengan hubungan antara stabilitas GTJ dengan terjadinya karies pada gigi penyangga. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 (p< 0,05). Hal ini berarti ada hubungan antara stabilitas GTJ dengan terjadinya karies pada gigi penyangga. Penelitian yang dilakukan Farisza Gita Roemoso dalam Indonesian Journal of Dentistry mengatakan bahwa bentuk preparasi harus dapat mencegah terlepasnya restorasi terhadap gaya-gaya yang berlawanan dengan arah

21

pemasukan restorasi yang dikenal sebagai retensi. Retensi merupakan hal yang saling berhubungan dengan resistensi. Resistensi mencegah terlepasnya restorasi akibat gaya-gaya lateral dan pergerakan restorasi akibat adanya tekanan-tekanan yang jatuh pada permukaan oklusal. Agar gigitiruan jembatan dapat berfungsi dengan baik, retensi dan resistensi merupakan faktor biomekanis yang harus diperhatikan. Secara teoritis, makin sejajar permukaan preparasi aksial yang berhadapan, retensi akan semakin baik. Semakin luas permukaan preparasi, akan semakin besar retensi yang diperoleh. Penyelesaian akhir tepi restorasi pada preparasi sangat diperlukan agar didapatkan bentuk permukaan yang dapat meminimalkan retensi plak dan memaksimalkan adaptasi gigitiruan tersebut pada gigi penyangga.46 Hasil uji statistik hubungan antara terjadinya karies pada gigi penyangga dengan celah tepi/marginal gaps GTJ diperoleh nilai p = 0,033 (p< 0,05). Hal ini berarti ada hubungan antara celah tepi/marginal gaps GTJ dengan terjadinya karies pada gigi penyangga. Dari hasil penelitian R.A Lesmana dalam jurnal kedokteran gigi Universitas Indonesia mengatakan bahwa adaptasi tepi restorasi tidak boleh menekan atau mengiritasi jaringan gusi, harus halus dan tidak tajam. Lokasi tepi restorasi sebaiknya diletakan diatas tepi jaringan gusi. Hal penting lainnya yaitu tepi restorasi tidak boleh berlebih (over hanging) karena akan menyebabkan mudahnya terjadi retensi plak. Kecekatan tepi restorasi juga merupakan faktor penting dalam hubungannya dengan terjadinya karies sekunder. Hal ini sudah dibuktikan oleh penelitian klinis oleh Wright 1963, Sherkat 1964, Gilmore dan

22

Shieham 1971. Sejak tahun 1956 sampai 1974 banyak ilmuwan membuktikan bahwa permukaan restorasi yang kasar mengakibatkan retensi plak.47 Pada pemasangan gigitiruan cekat sebaiknya restorasi didudukan sedekat mungkin dengan gigi penyangga. Garis semen yang minimal pada tepi restorasi akan mengurangi pembentukan plak dan mencegah terjadinya karies sekunder. Pembersihan sisa-sisa semen dari kantong gusi, daerah interproksimal, daerah antara pontik dan retainer, antara retainer dan gigi tetangganya, daerah bawah pontik. Hal ini dapat dilakukan dengan mengolesi permukaan luar restorasi dan daerah ridge dibawah pontik dengan petrolomeum jelly atau dengan menggunakan dental floss setelah pemasangan. Cara lain setelah semen mengeras daerah tepi restorasi dipoles dengan rubber cups yang dilumuri dengan pumice dan glycerin.47 Pemeliharaan gigitiruan setelah pemasangan tetap. Pertama yang harus dokter gigi lakukan yaitu memberi penjelasan (Dental Health Education) kepada pasien bagaimana cara menjaga kebersihan mulut pada umumnya dan gigitiruan jembatan pada khususnya dengan cara menggosok gigi yang benar dan melakukan kontrol plak secara teratur. Pemanggilan ulang 1 minggu, 2 minggu, 4 minggu setelah pemasangan, lalu setiap 6 bulan secara terus menerus.3,47 Selain kebersihan mulut dan kesehatan seluruh jaringan penyangga gigi, perlu juga diperiksa ulang oklusi dan artikulasi. Oklusi harus diperiksa secara teratur setelah pemasangan karena hubungan oklusal akan berubah setiap waktu sebagai akibat pergerakan gigi geligi.47

23

Harus diterapkan prinsip-prinsip perawatan restoratif. Gigitiruan dilihat sebagai bagian integral dari seluruh perawatan dimana pergantian gigi yang hilang bukan merupakan faktor utama. Disini diutamakan suatu perawatan terencana dan perawatan pendahuluan gigi penyangga dan struktur lain yang mendukung gigitiruan jembatan.7 Dalam penelitian ini terdapat hal-hal yang memungkinkan menjadi kelemahan dan keterbatasan dalam memperoleh hasil yang lebih tepat dan akurat, antara lain: 1. Di dalam pengisian kuesioner, bisa saja responden tidak memberikan tanggapan yang sebenarnya sehingga dapat menjadi bias pada jawaban yang diberikan. 2. Di dalam pengisian kuesioner, bisa saja peneliti kurang teliti sehingga dapat menjadi bias pada jawaban yang diberikan. 3. Sedikitnya jumlah responden sehingga dapat menjadi faktor bias pada pengolahan data SPSS. 4. Keterbatasan peneliti dalam mencari penelitian dengan kasus yang serupa sehingga tidak maksimal dalam aspek analogi dengan membandingkan hasil penelitian yang didapatkan dengan penelitian di tempat lain.

24

25