Anda di halaman 1dari 26

Makalah Manajemen Akuakultur Air Tawar

Budidaya Ikan di Akuarium dan Bak Fiberglass

Kelompok 3: Muh. Chaidir (L221 12 257) Nur Astuti (L221 12 280)

Program Studi Budidaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar 2014

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga penulis mendapat kesempatan menyelesaikan makalah ini. Makalah Manajemen Akuakultur Air Tawar ini yang berjudul Budidaya Ikan di Akuarium dan Bak Fiberglass merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh nilai tugas dari dosen mata kuliah Manajemen Akuakultur Air Tawar. Tidak lepas dari segala bentuk kekurangan dan kesalahan manusia maka penyusun dengan segala kerendahan hati menerima saran, kritik, dan tanggapan yang bersifat membangun. Akhir kata penyusun menyampaikan rasa penghargaan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dari awal hingga akhir penyusunan Makalah Manajemen Akuakultur Air Tawar ini. Semoga kehadiran makalah ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi seluruh pembaca, khususnya bagi penyusun sendiri hal ini dianggap sebagai pembuka wawasan berfikir yang seluas-luasnya untuk masa depan yang lebih mengarah kepada perikanan.

Makassar, Februari 2014

Penyusun

BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Potensi perikanan di Indonesia saat ini masih sangat besar, termasuk usaha budidaya yang saat ini masih sedikit di minati oleh masyarakat Indonesia. Budidaya ikan merupakan suatu kegiatan yang sangat penting saat ini dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan ikan merupakan salah satu jenis pangan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mempunyai harga jual relatif murah dan mempunyai kandungan gizi yang lengkap. Dengan mengkonsumsi ikan maka kebutuhan gizi manusia akan terpenuhi. Oleh karena itu kemampuan sumber daya manusia untuk memproduksi ikan budidaya sangat dibutuhkan. Pengetahuan tentang wadah budidaya ikan dan media yang dibutuhkan bagi ikan budidaya akan memberikan pemahaman tentang investasi yang harus dipersiapkan sesuai dengan skala produksi yang akan diterapkan. Dengan menerapkan teknologi budidaya ikan yang sesuai dibutuhkan pemahaman tentang produksi pakan buatan yang ramah lingkungan tetapi sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya. Dalam budidaya sendiri, terdapat berbagai macam wadah budidaya yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Dalam makalah ini, akan dibahas dua macam wadah budidaya ikan air tawar konsumsi yang umum digunakan oleh masyarakat. Kedua wadah tersebut adalah akuarium dan bak fiberglass. Umumnya kedua wadah ini sering digunakan sebagai wadah pemeliharaan benih, kultur pakan alami, pemijahan, dll. B. Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah manajemen akuakultur air tawar ini adalah menambah wawasan pembaca dalam hal wadah budidaya akuarium dan bak fiberglass.

BAB II Pembahasan
A. Akuarium Akuarium merupakan salah satu wadah pemeliharaan ikan yang relatif sangat mudah dalam perawatannya. Akuarium dapat digunakan untuk budidaya ikan tawar konsumsi biasanya pada proses kegiatan pembenihan ikan atau untuk kultur pakan alami. Akuarium ini terbuat dari bahan kaca di mana penamaan akuarium ini berasal dari bahasa latin yaitu Aqua yang berarti air dan area yang berarti ruang. Jadi akuarium ini adalah ruangan yang terbatas untuk tempat air yang berpenghuni, yang dapat diawasi. Akuarium yang digunakan untuk budidaya ikan ini dapat dibuat sendiri atau membeli langsung dari toko. Akuarium yang digunakan dalam budidaya ikan konsumsi air tawar, umumnya digunakan sebagai wadah pemeliharaan benih ikan konsumsi air tawar. Hal ini dimaksudkan karena pengontrolan terhadap benih dapat lebih efektif dan efisien dilakukan. Umumnya akuarium yang digunakan memiliki bentuk persegi panjang dengan perlengkapan lengkap seperti; aerator, heater, lampu, dll. 1. Fungsi akuarium Akuarium dalam proses budidaya ikan konsumsi air tawar dapat berfungsi sebagai: a. Edukatif, yakni akuarium dapat difungsikan sebagai penerapan pelajaran yang berhubungan dengan budidaya. b. Ilmiah, yakni akuarium sebagai wadah pemeliharaan biota air untuk penelitian. c. Lapangan pekerjaan, industri rumah tangga pembuatan akuarium dapat menyerap tenaga kerja. 2. Konstruksi akuarium Konstruksi wadah akuarium sangat bergantung pada desain yang akan dikerjakan berdasarkan bentuk akuarium yang diinginkan. Bentuk akuarium yang biasa digunakan sebagai wadah budidaya ikan antara lain adalah akuarium

segi empat, akuarium trapesium, akuarium segi delapan, akuarium segi enam, akuarium botol dan akuarium elips. Setelah merencanakan bentuk akuarium kaca yang akan dibuat, langkah selanjutnya menentukan ukuran kaca yang akan dipergunakan untuk membuat akuarium. Ukuran kaca yang akan digunakan biasanya berkisar antara 3 mm 16 mm. Sebagai acuan dalam membuat akuarium, ukuran kaca yang akan digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Untuk kaca yang akan digunakan sebagai dasar akuarium sebaiknya ketebalannya ditambah 1 2 mm.

Tabel 1. Perbandingan tebal kaca dan ukuran akuarium Selain ukuran dan ketebalan kaca yang perlu diperhatikan saat pembuatan akuarium perlu juga memperhatikan kelengkapan peralatan akuarium sbb: a. Aerator atau pompa udara, berfungsi sebagai pemasok oksigen ke kolom air di akuarium b. Batu aerasi, untuk mengatur besarnya gelembung udara yang diinginkan, c. Filter, untuk menjaga kebersihan air dalam akuarium d. Tempat makanan, terutama untuk menyimpan makanan hidup sehingga tidak berpindah-pindah yang dapat menyebabkan air akuarium menjadi kotor, e. Serokan, untuk menangkap ikan dan mengambil tanaman air yang mati, f. Heater (pemanas) g. Perlengkapan pengukur kualitas air, seperti : termometer, pH meter, h. Lampu penerang

Setelah menentukan bentuk dan ukuran kaca yang akan dipergunakan untuk membuat akuarium maka langkah selanjutnya adalah memotong kaca. Kaca yang dipergunakan untuk membuat akuarium masih dalam bentuk lembaran kaca. Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam memotong kaca antara lain adalah : a. Letakkan lembaran kaca pada meja kerja, meja kerja harus dalam keadaan datar dan bersih. Hal ini untuk menghindari terjadinya keretakan kaca yang akan dipergunakan.

Gambar 1. Meletakkan lembaran kaca b. Ukuran kaca yang akan dipotong ini disesuaikan dengan bentuk akuarium yang akan dibuat. Dalam membuat potongan-potongan kaca, lembaran kaca dibuat polanya terlebih dahulu dengan menggunakan spidol dan penggaris besi. Pola yang sudah dibentuk dapat langsung dipotong.

Gambar 2. Mengukur kaca

c. Untuk memotong kaca gunakan alat pemotong kaca yang banyak dijual di toko besi.

Gambar 3. Memotong kaca d. Setelah kaca terpotong, bagian pinggir dari potongan-potongan kaca harus dihaluskan dengan gerinda atau batu asahan karborondum.

Gambar 4. Menghaluskan bagian pinggir kaca Setelah kaca yang dibutuhkan untuk membuat akuarium tersebut disiapkan langkah selanjutnya adalah melakukan perakitan akuarium. Dalam merakit akuarium dibutuhkan ketelitian dan ketepatan dalam merangkainya. Kaca sebagai bahan utama dalam pembuatan akuarium dapat diperoleh dengan cara membeli lembaran kaca atau membeli potongan kaca sesuai dengan ukuran yang tepat. Akuarium sebagai salah satu wadah yang dapat digunakan untuk membudidayakan ikan baik ikan hias maupun ikan konsumsi yang berasal dari

perairan tawar dan laut dapat diperoleh dengan cara membeli langsung di toko atau membuatnya sendiri. Dengan membuat akuarium sendiri akan diperoleh keuntungan antara lain adalah harganya relatif lebih murah, ukuran sesuai dengan kebutuhan dan kaca yang digunakan mempunyai ketebalan sesuai dengan luasan akuarium yang dibuat. Dalam membuat akuarium, ada beberapa hal yang harus dikuasai agar akuarium yang dibuat tidak bocor dan tahan lama, yaitu merancang/mendesain akuarium, memotong kaca, merakit akuarium dan melakukan uji coba terhadap akuarium tersebut. Akuarium yang akan dirakit sendiri, langkah awal yang harus dilakukan adalah menyiapkan kaca sebagai dasar utama pembuatan akuarium. Kaca yang akan dirakit menjadi akuarium ini sudah dalam bentuk potonganpotongan kaca yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran akuarium yang akan dibuat. Sebelum dirakit kaca-kaca tersebut sebaiknya dilakukan penggosokan dengan menggunakan batu asahan karborondum atau gerinda. Hal ini bertujuan agar akuarium yang dibuat tidak berbahaya bagi pemakainya. Kaca-kaca yang telah dihaluskan seluruh bagian pinggirnya dengan gerinda ini telah siap untuk dirakit. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan alat dan bahan lainnya yaitu lem kaca silikon, alat tembak lem, lakban besar dan cutter. Lem kaca yang digunakan adalah lem silikon yaitu lem khusus untuk merekatkan kaca agar melekat dengan baik dan tidak bocor. Alat tembak lem silikon ini berfungsi untuk memudahkan si pembuat akuarium dalam merakit akuarium, bentuk alat tembak ini seperti pistol sehingga disebut alat tembak.

Gambar 5. Lem silikon dan alat tembak

Gambar 6. Penggunaan alat tembak lem Sedangkan lakban yang digunakan dalam merakit akuarium sebaiknya lakban plastik yang berwarna cokelat atau hitam dengan ukuran lebar lakbannya adalah 5 cm. Lakban ini berfungsi untuk membantu berdirinya kaca dengan kaca lainnya agar tidak bergeser yang memudahkan dalam pemberian lem kaca.

Gambar 7. Penempelan lakban pada kaca Pada saat menempelkan lem silikon ke kaca sebaiknya ketebalan lem pada seluruh permukaan kaca sama. Hal ini akan membuat ketebalan lem sama pada setiap sudut . Setelah seluruh kaca terakit menjadi akuarium, langkah selanjutnya adalah mengeringkan akuarium tersebut minimal selama 24 jam agar lem silikon tersebut benar-benar kering.

Gambar 8. Mengeringkan akuarium Langkah terakhir dalam merakit akuarium adalah melakukan uji coba terhadap akuarium tersebut. Uji coba tersebut dilakukan dengan mengisi air ke dalam akuarium selama 24 jam dan perhatikan apakah ada bagian yang bocor. Untuk memperoleh akuarium yang rapi setelah diuji coba bersihkan lem yang tidak rapi dengan menggunakan cutter.

3. Pemeliharaan ikan di akuarium Pada umumnya, pemeliharaan ikan air tawar konsumsi di akuarium dilakukan saat penetasan telur sampai stadia larva. Larva ikan yang biasa dipelihara dalam akuarium bermacam-macam misalnya, ikan mas, patin, gurame, nila, lele, dll. Adapun dari teknik pemeliharaan agak berbeda pada setiap spesies, misalnya dapat kita ambil contoh pemeliharaan larva ikan patin pada akuarium berikut: a. Penetasan telur Telur-telur hasil stripping dapat di tetaskan dalam akuarium atau bak penetasan. Sebelum penebaran telur, terlebih dahulu bak atau akuarium di bersihkan kemudian diisi air setinggi 20 cm dan dipasang aerasi dan Heater untuk menjaga suhu media penetasan. Selama proses penetasan kondisi suhu selalu dikontrol agar tetap stabil yaitu pada kisaran 28-31 0C. Jika suhu dibawah 28 0C maka heater dinyalakan dan jika suhu 31 0C maka heater dimatikan. Telur akan menetas berkisar antara 28-28 jam pada suhu 28-290C (Siregar, 2001). Setelah telur menetas, wadah penetasan di bersihkan dengan cara menyipon cangakang dan telur yang tidak menetas. Wadah yang digunakan untuk penetasan dapat juga digunakan sebagai pemeliharaan larva dengan cara membuang air hingga 90%. Tetapi sebaiknya larva dipelihara pada wadah dan media yang baru agar lebih steril. b. Pemeliharaan larva Larva ikan patin dapat dipelihara di dalam akuarium, setiap akuarium dipasang 1 titik aerasi. Ketinggian air pada saat pemeliharaan 20 cm dan sejalan pertumbuhannya air ditinggikan menjadi 30 cm. Ruangan yang digunakan tertutup rapat untuk menjaga suhu agar tidak

fluktuatif. Pada akuarium yang diletakan pada ruangan tertutup


digunakan kompor untuk memanaskan ruangan serta air di akuarium. Untuk menjaga kualitas air dilakukan penyiponan pada pagi hari dan

pergantian air sebanyak 60-70% setiap 2-3 hari sekali (Khairuman dan Sudenda, 2002). Pada saat larva berumur 1-2 hari, belum di beri pakan karena masih memiliki yolk sac sebagai cadangan makanannya. Larva yang telah berumur 3 hari diberi pakan berupa Artemia sp. yang diberikan secara adlibitum dengan frekuensi 2 jam sekali. Setelah larva berumur 4 hari dapat diberi pakan alami berupa kutu air (Dapnia sp. dan Moina sp.) dan cacing sutra (Tubifex) yang dicacah terlebih dahulu, diberikan secara adlibitum dengan frekuensi 3-4 jam sekali. Larva yang berumur lebih dari 5 hari, di berikan pakan berupa cacing sutra (Tubifex) yang dicacah terlebih dahulu, diberikan secara adlibitum dengan frekuensi 3-4 jam sekali. Pemeliharaan larva ini berlangsung hingga umur 15 hari. Larva yang berumur 15 hari dengan menggunakan pakan Tubifex dapat mencapai ukuran 0,75 inchi. c. Panen benih Pemanenan larva patin dilakukan saat larva telah berumur 15 hari.. Panen dilakukan dengan cara air pada akuarium dikurangi sebanyak 70-80%, kemudian diambil dengan menggunakan skopnet dan ditampung kedalam waskom. Setelah larva terkumpul, kemudian dimasukkan dalam jaring untuk dilakukan greding. Setelah larva dalam jaring, kemudian air dipercik-percikkan agar larva yang berukuran lebih kecil keluar dari jaring. Sedangkan larva yang tertampung dalam jaring dipindahakan kedalam akuarium lain. Kegiatan tersebut dilakukan terus menerus sampai semua larva tergreding semua. Ikan yang berukuran kecil akan keluar dari jaring sedangkan yang berukuran yang lebih besar akan terperangkap dalam jaring. Ikan yang lolos dikembalikan dalam akuarium untuk dibesarkan kembali. Sedangkan ikan yang terperangkap ditampung juga dalam wadah yang terpisah. Setelah semua benih di greding, kemudian larva di pindahkan ke wadah pemeliharaan untuk didederkan. 4. Kelebihan dan kekurangan

Akuarium mempunyai kelebihan yaitu perawatannya yang mudah, dapat dikontrol, mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Adapun kekurangan akuarium ialah tidak dapat digunakan dalam kegiatan budidaya dalam skala yang besar karena keterbatasan tempat B. Bak fiberglass Pemeliharaan ikan di bak fiberglass pada umumnya dilakukan secara intensif di mana parameter kualitas air, pakan, hama penyakit serta padat penebaran dikontrol dengan baik. Pemeliharaan ikan di bak fiberglass umumnya untuk benih ikan yang memiliki toleransi kualitas air yang rendah serta memiliki harga relatif mahal. Ketersediaan pakan pada pemeliharaan larva ikan di bak fiberglass sangat tergantung pada pemberian pakan dari luar wadah pemeliharaan. Berbeda dengan pemeliharaan larva ikan di kolam, ketersediaan pakan alami di bak fiberglass tidak tersedia secara alami.

Gambar 9. Bak fiberglass Bak fiberglass merupakan terobosan baru yang telah membuahkan hasil yang memuaskan untuk budidaya pembesaran ikan Bak Fiberglass sangat tepat sebagai pengganti kolam untuk pemeliharaan dan penampungan berbagai macam ikan hias maupun ikan konsumsi. Mudah penempatan dan pemindahan Kuat, ringan dan tahan lama. Banyak digunakan oleh: Hobbiist ( Koi, Ikan koki) Pembenihan dan peternakan ikan (Lele, Patin, Gurame, Bandeng, Lobster, dll ).

Istilah pun banyak sekali untuk barang-barang fiberglass, sebagian orang tidak mengerti menyebutnya dengan akrilik, atau orang bule menyebutnya resin karena memang bahan dasar fiberglass adalah resin. Proses pembuatan fiberglass tidak perlu mesin-mesin khusus seperti pembuatan barang-barang plastik kita perlu investasi mesin yang mahal dan fiberglass membutuhkan cetakan. Bak fiberglass merupakan pilihan untuk menghemat tempat dan dapat dipindah-pindah. Sebenarnya bak yang dapat dipindah tidak hanya dari bahan fiberglass, tetapi ada juga yang dibuat dari bahan plastik. Bentuk bak dari bahan plastik dan fiberglass bermacam-macam ada yang berbentuk bujur sangkar, empat persegi panjang, kerucut dan silindris/bulat. Ukuran bak juga beragam tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Bak fiber berbentuk silinder atau bulat lebih banyak digunakan untuk membesarkan benih ikan laut di berbagai industri Farm skala besar. Bentuk silindris memang mempunyai kelebihan karena saat diputar dengan arus atau blower, maka semua air akan berputar sehingga semua spot mempunyai peluang yang sama untuk mendapatkan suplai oksigen. Kebanyakan ikan laut sangat sesuai memakai bentuk seperti ini. Tetapi untuk ikan air tawar tentu mempunyai perhitungan yang lain. Ikan air tawar ada yang hidup di daerah yang menggenang, mereka tidak terlalu butuh oksigen terlarut yang tinggi, sehingga bentuk bak konvensional atau bak yang berbentuk persegi dan bujur sangkar adalah pilihan yang tepat. 1. Konstruksi bak fiberglass Bahan pembuat fiberglass pada umumnya terdiri dari 11 macam bahan, 6 macam sebagai bahan utama dan 5 macam sebagai bahan finishing, di antaranya : erosil, pigmen, resin, katalis, talk, mat, aseton, PVA, mirror, cobalt, dan dempul.

Gambar 10. Bahan pembuat fiberglass a. Erosil Bahan ini berbentuk bubuk sangat halus seperti bedak bayi berwarna putih. Berfungsi sebagai perekat mat agar fiberglass menjadi kuat dan tidak mudah patah/pecah. b. Resin Bahan ini berujud cairan kental seperti lem, berkelir hitam atau bening. Berfungsi untuk mengencerkan semua bahan yang akan dicampur. Resin mempunyai beberapa tipe dari yang keruh, berwarna hingga yang bening dengan berbagai kelebihannya seperti kekerasan, lentur, kekuatan dan lain-lain. Selain itu harganya pun bervariasi. c. Katalis

Katalis berbentuk cairan jernih dengan bau menyengat. Fungsinya


sebagai katalisator agar resin lebih cepat mengeras. Penambahan katalis ini cukup sedikit saja tergantung pada jenis resin yang digunakan. Selain itu umur resin juga mempengaruhi jumlah katalis yang digunakan. Artinya resin yang sudah lama dan mengental akan membutuhkan katalis lebih sedikit bila dibandingkan dengan resin baru yang masih encer. Zat kimia ini biasanya dijual bersamaan dengan resin. Perbandingannya adalah resin 1 liter dan katalisnya 1/40 liter. d. Pigmen

Pigmen adalah zat pewarna saat bahan fiberglass dicampur. Pemilihan


warna disesuaikan dengan selera pembuatnya. Pada umumnya pemilihan warna untuk mempermudah proses akhir saat pengecatan. e. Mat Bahan ini berupa anyaman mirip kain dan terdiri dari beberapa model, dari model anyaman halus sampai dengan anyaman yang kasar atau besar dan jarang-jarang. Berfungsi sebagai pelapis campuran/adonan dasar fiberglass, sehingga sewaktu unsur kimia tersebut bersenyawa dan mengeras,

mat berfungsi sebagai pengikatnya. Akibatnya fiberglass menjadi kuat dan


tidak getas. f. Talk Sesuai dengan namanya, bahan ini berupa bubuk berwarna putih seperti sagu. Berfungsi sebagai campuran adonan fiberglass agar keras dan agak lentur. g. Aseton Pada umumnya cairan ini berwarna bening, fungsinya yaitu untuk mencairkan resin. Zat ini digunakan apabila resin terlalu kental yang akan mengakibatkan pembentukan fiberglass menjadi sulit dan lama keringnya.

h. Kobalt Cairan kimia ini berwarna kebiru-biruan berfungsi sebagai bahan aktif pencampur katalis agar cepat kering, terutama apabila kualitas katalisnya kurang baik dan terlalu encer. Bahan ini dikategorikan sebagai penyempurna, sebab tidak semua bengkel menggunakannya. Hal ini tergantung pada kebutuhan pembuat dan kualitas resin yang digunakannya. Perbandingannya adalah 1 tetes kobalt dicampur dengan 3 liter katalis. Apabila perbandingan

kobalt terlalu banyak, dapat menimbulkan api.


i.

PVA

Bahan ini berupa cairan kimia berkelir biru menyerupai spiritus. Berfungsi untuk melapis antara master mal/cetakan dengan bahan fibreglass. Tujuannya adalah agar kedua bahan tersebut tidak saling menempel, sehingga fiberglass hasil cetakan dapat dilepas dengan mudah dari master mal atau cetakannya. j.

Mirror
Sesuai namanya, manfaatnya hampir sama dengan PVA, yaitu

menimbulkan efek licin. Bahan ini berwujud pasta dan mempunyai warna bermacam-macam. Apabila PVA dan mirror tidak tersedia, perajin/pembuat fiberglass dapat memanfaatkan cairan pembersih lantai yang dijual bebas di mall / toserba. k. Dempul Setelah hasil cetakan terbentuk dan dilakukan pengamplasan, permukaan yang tidak rata dan berpori-pori perlu dilakukan pendempulan. Tujuannya agar permukaan fiberglass hasil cetakan menjadi lebih halus dan rata sehingga siap dilakukan pengecatan. Di samping bahan-bahan yang disebutkan di atas, dalam pembuatan fiberglass diperlukan peralatan antara lain : a. Wadah, untuk tempat mencampur resin dan mencuci alat. b. Pengaduk untuk resin dan pengambil pigmen. c. Kuas, untuk meratakan resin pada permukaan yang dilapisi fiberglass. d. Masker, untuk menghindari masuknya zat kimia berbahaya, bau menyengat, serbuk/serat halus dan lain-lain. e. Kain lap, untuk membersihkan kotoran/ceceran resin. f. Alat tambahan lain seperti gergaji, gunting, gerinda dan lain-lain mungkin dibutuhkan dalam beberapa jenis pekerjaan. Proses pembuatan fiberglass dapat diklasifikasikan menjadi 3 tahapan, yaitu : (a) membuat master cetakan; (b) membuat fiberglass hasil; dan (c)

finishing atau penyempurnaan. Sebagai gambaran misalnya akan dibuat sebuah bak persegi panjang. a. Pembuatan master cetakan Membuat master cetakan merupakan langkah awal dari pembuatan fiberglass. Ada dua pilihan bahan yang akan digunakan untuk membuat master cetakan, yakni bahan dari gips dan bahan dari fiberglass. Masingmasing bahan master cetakan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pembuatan master cetakan dari bahan gips akan lebih mudah dikerjakan, dan saat pelepasan fiberglass hasil dari master cetakannya mudah dilakukan, bahkan dapat dilakukan dengan merusak master cetakannya. Di samping itu harganya pun relatif lebih murah. Kekurangannya adalah konstruksinya rapuh dan hanya dapat dipakai sekali saja. Untuk bahan master cetakan dari fiberglass memang harganya lebih mahal. Di samping itu proses pembuatan master cetakan dan proses pelepasan fiberglass hasil dari master cetakan lebih sulit dikerjakan. Kelebihannya adalah konstruksinya lebih kuat/tidak mudah patah dan master cetakannya dapat dipergunakan beberapa kali. Oleh karena itu, dalam membuat master cetakan pembuat fiberglass lebih senang menggunakan bahan dari fiberglass juga. Dengan demikian yang akan dibahas di sini adalah membuat master cetakan dari bahan fiberglass. Proses pembuatannya sebagai berikut : 1) Membuat mal cetakan Membuat mal cetakan dapat dilakukan dengan cara membuat tutup bumper dengan kertas karton yang ukuran dan bentuknya sama persis dengan ukuran dan bentuk aslinya. Apabila tersedia bentuk asli tutup bumper (tentunya yang sudah tidak terpakai), maka bentuk asli tutup bumper ini dapat dimanfaatkan sebagai mal. 2) Melapisi mal tersebut dengan PVA atau mirror. Apabila bahan ini tidak tersedia maka dapat menggunakan cairan pembersih lantai. 3) Menyiapkan wadah sebagai tempat adonan fiberglass berupa kaleng bekas oli atau kaleng bekas cat, yang penting keadaannya bersih.

4) Membuat adonan fiberglass dengan cara mencampur jadi satu talk, resin, dan katalis. Aduk dengan cepat bahan-bahan ini hingga merata, kalau terlalu lama dapat lebih dulu mengeras. 5) Selanjutnya adonan fiberglass diulaskan dengan cepat pada mal sebelah luar dan ditunggu sampai kering. Agar cepat kering dapat dijemur di terik matahari. 6) Memasang/menempatkan mat pada permukaan lapisan adonan fiberglass. Ukuran mat menyesuaikan bentuk mal. 7) Menyiapkan adonan fiberglass lagi, dan diulaskan kembali di atas lapisan mat dengan cepat serta ditunggu sampai kering. 8) Apabila lapisan fiberglass sudah kering, master cetakan dapat dilepas dari malnya dan siap digunakan sebagai cetakan fiberglass. Agar dapat dihasilkan kualitas fiberglass yang kuat, campuran bahan untuk master cetakan harus lebih tebal daripada fiberglass hasil, yaitu sekitar 2 - 3 mm atau dilakukan 3 - 4 kali pelapisan. b. Pembuatan fiberglass hasil Apabila master cetakan sudah dibuat, maka proses pembuatan fiberglass hasil dapat dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Menyiapkan master cetakan. 2) Menyiapkan wadah sebagai tempat adonan fiberglass berupa kaleng bekas oli/ kaleng bekas cat/mangkuk, yang penting keadaannya bersih. 3) Resin sejumlah 1,5 - 2 liter dicampur dengan talk dan diaduk rata. 4) Apabila campuran yang terjadi terlalu kental maka perlu ditambahkan katalis. Penggunaan katalis harus sesuai dengan perbandingan 1 : 1/40. Oleh karena itu apabila resinnya 2 liter, maka katalisnya 50 cc. 5) Selanjutnya ditambahkan erosil antara 400 - 500 gram pada campuran tersebut dan pigmen atau zat pewarna. 6) Apabila semua campuran tersebut diaduk masih terlalu kental, maka perlu ditambahkan katalis dan apabila campurannya terlalu encer

dapat ditambahkan aseton. Pemberian banyak sedikitnya katalis akan mempengaruhi cepat atau lambatnya proses pengeringan. Pada cuaca yang dingin akan dibutuhkan katalis yang lebih banyak. 7) Setelah campuran bahan dasar dibuat, langkah berikutnya yaitu memoles permukaan master cetakan pada bagian dalam dengan mirror (sebagai pelicin dan pengkilap ) dilakukan memutar sampai lapisannya benar-benar merata. 8) Agar didapatkan hasil yang lebih baik, perlu ditunggu beberapa menit sampai pelicin tersebut menjadi kering. Untuk mempercepat proses pengeringan, dapat dijemur di terik matahari. 9) Apabila mirror sudah terserap, permukaan cetakan dapat dilap dengan menggunakan kain bersih hingga mengkilap. 10) Permukaan cetakan diolesi PVA untuk menjaga agar permukaan cetakan tidak lengket dengan fiberglass hasil. Apabila mirror dan PVA tidak tersedia, dapat digunakan cairan pembersih lantai sebagai gantinya. 11) Mengoleskan permukaan cetakan dengan adonan/ campuran dasar sampai merata, dan ditunggu sampai setengah kering. Seperti langkah sebelumnya, yakni untuk mempercepat proses pengeringan, dapat dijemur di terik matahari. 12) Selanjutnya di atas campuran yang telah dioleskan dapat diberi selembar mat sesuai dengan kebutuhan. Tentu saja ukuran mat harus menyesuaikan dengan ukuran dan bentuk cetakan. 13) Selanjutnya di atas mat tersebut dilapisi lagi dengan adonan dasar. Untuk menghindari adanya gelembung, pengolesan adonan dasar dilakukan sambil ditekan, sebab gelembung akan mengakibatkan fiberglass mudah keropos. Jumlah pelapisan adonan dasar disesuaikan dengan keperluan, makin tebal lapisan maka akan makin kuat daya tahannya.

14) Selain itu sebagai penguat dapat ditambahkan tulangan besi atau tripleks, terutama untuk bagian yang lebar. Tujuannya adalah agar hasilnya tidak mengalami kebengkokan. 15) Pelepasan fiberglass hasil dilakukan apabila lapisan adonan tersebut sudah kering dan mengeras sebab apabila dilepas sebelum kering dapat terjadi penyusutan. c. Langkah finishing Pada langkah finishing, langkah pertama yang dilakukan yaitu merapikan fiberglass setelah dilepaskan dari master cetakannya dengan menggunakan gergaji, gunting, atau gerinda. Apabila fiberglass hasil telah rapi dapat dilakukan proses pengamplasan permukaan, pendempulan,dan pengecatan fiberglass, sesuai dengan warna yang diinginkan. 2. Pemeliharaan ikan di bak fiberglass Sistem teknologi akuakultur berupa bak fiberglass didukung atau dikaitkan oleh komponen saluran, pintu dan keran air. Saluran/selang, pintu dan keran air di bedakan untuk pemasukan/pengambilan dan untuk pengeluaran/pembuangan. Selain instalasi air dan udara, komponen lainnya yang mendukung sistem ini adalah instalasi listrik. Sistem teknologi bak fiberglass sering digunakan di dalam hatchery. Hatchery adalah unit pembenihan yang berfungsi menghasilkan benih bagi kebutuhan sistem budidaya lainnya. Untuk memproduksi benih dilakukan serangkaian kegiatan seperti pemeliharaan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva, pemeliharaan benih dan kultur pakan alami. Dalam rangka penghematan penggunaan air dan mendapatkan kestabilan lingkungan air, wadah pemeliharaan berupa bak fiberglass bisa dirangkai dalam suatu sistem resirkulasi. Air dari wadah pemeliharaan dialirkan ke dalam wadah filter, selanjutnya dialirkan kembali ke dalam wadah pemeliharaan, penggerakan aliran air dilakukan dengan bantuan pompa dan secara gravitasi. Wadah filter berfungsi untuk menyaring air secara mekanis, kimiawi dan biologi. Filter mekanis bisa menggunakan kerikil, pasir dan ijuk atau dapat pula mengendapkan partikel tersuspensi

dengan cara melambatkan arus air atau membuat arus laminer dalam wadah filter. Filter secara kimiawi, yakni dengan menggunakan bahan filter berupa arang aktif atau batuan zeolit. Kedua bahan tersebut mampu bereaksi dengan amoniak yang dikandung air buangan dari wadah pemeliharaan. Filter secara biologi adalah dengan memanfaatkan bakteri pengurai. Bakteri ini ditumbuhkan dengan bantuan substrat penempel, antara lain bioball. Pemeliharaan ikan di kolam/fiberglass pada umumnya dilakukan secara intensif dimana parameter kualitas air, pakan, hama penyakit serta padat penebaran dikontrol dengan baik. Pemeliharaan ikan di bak / fiberglass umumnya untuk benih ikan yang memiliki toleransi kualitas air yang rendah serta memiliki harga relatif mahal. Ketersediaan pakan pada pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass sangat tergantung pada pemberian pakan dari luar wadah pemeliharaan. Berbeda dengan pemeliharaan larva ikan di kolam, ketersediaan pakan alami di bak / fiberglass tidak tersedia. Kolam fiber merupakan terobosan baru yang telah membuahkan hasil yang memuaskan untuk budidaya pembesaran ikan Bak Fiber sangat tepat sebagai pengganti kolam untuk pemeliharaan dan penampungan berbagai macam ikan hias maupun ikan konsumsi. Mudah penempatan dan pemindahan Kuat, ringan dan tahan lama. Banyak digunakan oleh: Hobbiist (Koi, Ikan koki) Pembenihan dan peternakan ikan (Lele, Patin, Gurame, Bandeng, Lobster dll). Istilah pun banyak sekali untuk barang-barang fiberglass, sebagian orang tidak mengerti menyebutnya dengan akrilik, atau orang bule menyebut nya resin karena memang bahan dasar fiberglass adalah resin. Proses pembuatan fiberglass adalah tidak perlu mesin-mesin khusus seperti pembuatan barang-barang plastic kita perlu investasi mesin yang mahal, sedangkan fiberglass hanya membutuhkan cetakan. Bak fiberglass merupakan pilihan untuk menghemat tempat dan dapat dipindah-pindah. Sebenarnya bak yang dapat dipindah tidak hanya dari bahan fiberglass, tetapi ada juga yang dibuat dari bahan plastic. Bentuk kolam dari bahan plastic dan fiberglass bermacam-macam ada yang berbentuk

bujursangkar, empat persegi panjang, kerucut dan silindris/ bulat. Ukuran bak juga beragam tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Bak fiber berbentuk silinder atau bulat lebih banyak digunakan untuk membesarkan benih ikan laut di berbegai industri farm skala besar. Bentuk silindris memang mempunyai kelebihan karena saat diputar dengan arus atau blower, maka semua air akan berputar sehingga semua spot mempunyai peluang yang sama untuk mendapatkan suplai oksigen. Kebanyakan ikan laut sangat sesuai memakai bentuk seperti ini. Tetapi untuk ikan air tawar tentu mempunyai perhitungan yang lain. Ikan air tawar ada yang hidup di daerah yang menggenang, mereka tidak terlalu butuh oksigen terlarut yang tinggi, sehingga bentuk kolam konvensional atau bak yang berbentuk persegi dan bujur sangkar adalah pilihan yang tepat. Berdasarkan proses budidaya ikan, jenis bak yang akan digunakan disesuaikan dengan skala produksi budidaya dan hampir sama dengan kolam dimana dapat dikelompokkan menjadi bak pemijahan, bak penetasan, bak pemeliharaan dan bak pemberokan. Bak yang digunakan untuk melakukan pemijahan ikan biasanya adalah bak yang terbuat dari fiber. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketinggian air media

pemeliharaan larva sebaiknya tidak terlalu dalam atau tinggi, idealnya adalah 20-40 cm. bila terlalu tinggi akan menyulitkan larva dalam mengambil oksigen dari udara, karena ikan patin sesekali akan mengambil oksigen dari udara meskipun kandungan oksigen terlarut dalam air cukup karena diberikan aerasi. Sebelum digunakan untuk pemeliharaan larva, wadah dicuci dengan deterjen hingga bersih kemudian dibilas dengan desinfektan seperti klorin, kaporit atau PK, kemudian dibilas dengan air bersih dan dibiarkan kering. Setelah benar-benar kering wadah dapat diisi dengan air bersih sebagai media pemeliharaan larva, pengisian air dilakukan sehari sebelum larva akan ditebar, kedalam wadah ditambahkan aerasi. 3. Kelebihan dan kekurangan bak fiberglass Kelebihan dari bak fiberglass adalah mudah dipindahkan, tidak terpengaruh oleh kualitas tanah, mudah dikontrol.

Kekurangan dari bak fiberglass adalah pakan alami tidak bisa tumbuh secara alami, biayanya cukup mahal.

BAB III Penutup


A. Simpulan Adapun beberapa simpulan yang didapatkan dari makalah ini adalah: 1. Akuarium merupakan salah satu wadah pemeliharaan ikan yang relatif sangat mudah dalam perawatannya. 2. Fungsi akuarium terdiri atas; Edukatif, Ilmiah, dan Lapangan pekerjaan. 3. Konstruksi wadah akuarium sangat bergantung pada desain yang akan dikerjakan berdasarkan bentuk akuarium yang diinginkan. 4. Pemeliharaan ikan di bak fiberglass pada umumnya dilakukan secara intensif di mana parameter kualitas air, pakan, hama penyakit serta padat penebaran dikontrol dengan baik. 5. Bahan pembuat fiberglass pada umumnya terdiri dari 11 macam bahan, 6 macam sebagai bahan utama dan 5 macam sebagai bahan finishing, di antaranya : erosil, pigmen, resin, katalis, talk, mat, aseton, PVA, mirror,

cobalt, dan dempul.


6. Proses pembuatan fiberglass dapat diklasifikasikan menjadi 3 tahapan, yaitu : (a) membuat master cetakan; (b) membuat fiberglass hasil; dan (c) finishing atau penyempurnaan. Sebagai gambaran misalnya akan dibuat sebuah bak persegi panjang. B. Saran Adapun saran yang dapat diberikan oleh penyusun adalah dalam memilih wadah budidaya ikan konsumsi air tawar, sebaiknya wadah yang sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan habitat asli biota yang dibudidayakan.

Daftar Pustaka
Bangsa, Putra Harapan. 2010. Memelihara Larva Ikan Di Bak Fiberglass file:///D:/ducument/fiberglass/Debit-dan-Volume-Air.htm. Diakses pada hari Sabtu, 08 Februari 2014. Gusrina. 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta Rosita. 2012. Cara Membuat Fiberglass. file:///D:/ducument/fiberglass/membuatfiberglass.html. Diakses pada hari Sabtu, 08 Februari 2014. Susanto, H. 1994. Membuat akuarium. Penebar Swadaya, Jakarta. Zanzi. 2008. Usaha Seni Fiberglass. file:///D:/ducument/fiberglass/usaha-seni-fiberglass.html. Diakses pada hari Sabtu, 08 Februari 2014. Zonneveld, N., E.A. Huisman dan J.H. Boon. 1991. Prinsip-prinsip budidaya ikan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.