Anda di halaman 1dari 14

REFERAT BEDAH UROLOGI BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA DAN VESICOLITHIASIS

Pembimbing : dr. Tri Budiyanto , Sp. U

Disusun Oleh : Karlina Hadriyanti Gamal Hariansyah 1310 2210 66 1310 2210 76

SMF ILMU BEDAH UROLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO 2013

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN REFERAT BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA DAN VESICOLITHIASIS Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik Di bagian SMF Bedah Orthopedi RSUD Prof. Margono Soekardjo Purwokerto

Disusun Oleh : Karlina Hadriyanti Gamal Hariansyah 1310 2210 66 1310 2210 76

Telah disetujui Pada tanggal : 26 Desember 2013

Dosen Pembimbing :

dr. Tri Budiyanto, Sp. U NIP.196407081990031010

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan referat dengan judul benign prostatic hyperplasia dan vesicolithiasis. Tujuan penulisan laporan referat ini ialah untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di bagian Bedah RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo, Purwokerto Dalam kesempatan ini perkenakanlah penulis untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. dr. Tri Budiyanto, Sp. U selaku pembimbing yang telah memberikan arahan pada laporan referat ini. 2. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan referat ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan referat ini masih jauh dari kesempurnaan serta masih banyak terdapat kekurangan. Penulis berharap semoga laporan referat ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca serta perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang kedokteran.

Purwokerto,

Desember 2013

Penyusun

A.

Anatomi dan Fisiologi Prostat Kelenjar prostat adalah suatu kelenjar fibromuskular yang melingkari bledder neck

dan bagian proksimal uretra. Secara anatomis prostat berhubungan erat dengan kandung

kemih, uretra, kedua ureter, vas deferens dan vesikula seminalis. Berat kelenjar prostat
pada orang dewasa sekitar 20 gram dengan ukuran rata-rata panjang 3.4 cm, lebar 4.4 cm dan tebal 2.6 cm. secara embriologis terdiri dari 5 lobus yaitu lobus medius, lobus anterior, lobus posterior dan lobus lateral. Selama perkembangannya lobus medius, anterior dan posterior akan menjadi satu yang disebut lobus medius. Pada penampang lobus medius kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogen berwarna abu-abu dengan kista kecil berisi cairan dan susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Prostat mengeluarkan secret cairan yang bercampur secrte dari testis yang berfungsi sebagai pelumas, produksi ejakulat dan finansial untuk ejakulasi.

Gambar 1. Sistem Reproduksi Pria

Anatomi Prostat sediri adalah sebagai berikut : 1. Zona anterior 2. Zona transisional ( tempat BPH ) 3. Zona sentral 4. Zona perifer Aliran arteri dari : 1. Cabang a. Vesicalis inferior ( terpenting ) 2. a. Rectalis media

3. Cabang a. Iliaca interna Vena dan penyaluran limfe : Vena-vena bergabung membentuk plexus venosus prostaticus sekeliling sisi dan alas prostat. Plexus prostaticus akan bermuara ke vena iliaca interna. Pembuluh limfe terutama berakhir pada nodi lymphoidei iliaca interna dan nodi lymphoidei sacrales. Persyarafan : 1. Sistem simpatis dari plexus hipogastricus inferior 2. Sistem parasimpatis dari nervi splanchnici pelvici (nervi erigentes) [S2-S4]

B.

Anatomi dan Fisiologi Vesica Urinaria Vesica urinaria, sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli, merupakan

tempat untuk menampung urine yang berasal dari ginjal melalui ureter, untuk selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan eksternal tubuh melalui mekanisme relaksasi sphincter. Vesica urinaria terletak di lantai pelvis (pelvic floor), bersamasama dengan organ lain seperti rektum, organ reproduksi, bagian usus halus, serta pembuluh-pembuluh darah, limfatik dan saraf.

Gambar 2. Vesica Urinaria

Dalam keadaan kosong vesica urinaria berbentuk tetrahedral yang terdiri atas tiga bagian yaitu apex, fundus/basis dan collum. Serta mempunyai tiga permukaan (superior dan inferolateral dextra dan sinistra) serta empat tepi (anterior, posterior, dan lateral dextra dan sinistra). Dinding vesica urinaria terdiri dari otot m.detrusor (otot spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum vesicae pada bagian

posteroinferior dan collum vesicae. Trigonum vesicae merupakan suatu bagian berbentuk mirip-segitiga yang terdiri dari orifisium kedua ureter dan collum vesicae, bagian ini berwarna lebih pucat dan tidak memiliki rugae walaupun dalam keadaan kosong.

C.

Benigna Prostatica Hyperplasia

Definisi Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau disebut tumor prostat jinak adalah pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas4. Pembesaran prostat jinak akibat sel-sel prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal, biasanya dialami laki-laki berusia di atas 50 tahun2. Etiologi BPH adalah tumor jinak pada pria yang paling sering ditemukan. Pria berumur lebih dari 50 tahun, kemungkinannya memiliki BPH adalah 50%. Ketika berusia 80 85 tahun, kemungkinan itu meningkat menjadi 90%. Beberapa teori telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan usia, di antaranya4: 1. Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-a reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat. 2. Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan epitel. 3. Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal. 4. Teori growth factors. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor-b (TGF-b), akan menyebabkan terjadinya

ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran prostat. Patofisiologi

BPH adalah perbesaran kronis dari prostat pada usia lanjut yang berkorelasi dengan pertambahan umur. Perubahan yang terjadi berjalan lambat dan perbesaran ini bersifat lunak dan tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam banyak hal dengan berbagai faktor pembesaran ini menekan uretra sedemikian rupa sehingga dapat terjadi sumbatan partial ataupun komplit. Gejala Klinis Gejala pembesaran prostat jinak dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, gejala iritatif, terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia), dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence). Kedua, gejala obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong (incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil (hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow.

IPSS (International Prostate Symptom Score) IPSS merupakan salah satu skor gejala prostat yang dikembangkan oleh America Urological Association (AUA) dan telah disetujui oleh WHO untuk dipakai secara luas. IPSS merupakan kuesioner berisi 7 index gejala traktus urinarius bagian bawah, yaitu : a. 4 gejala obstruktif : kencing tidak puas (incomplete emptying), kencing terputus-putus (intermittency), pancaran kencing lemah (weak stream) dan kencing mengejan (staining). b. 3 gejala iritasi : sering kencing (frequency), tidak dapat menunda kencing (urgency) dan kencing malam hari (nocturia).

1.

Menilai tingkat keparahan gejala

7 index gejala IPSS masing-masing mempunyai skala 0-5, sehingga skor total yang diperoleh berkisar antara 0-35. IPSS ringan : skor 0-7, IPSS sedang : skor 8-19, IPSS berat : skor 20-35.

Tidak pernah

Kurang dari sekali dalam lima kali

Kurang dari setengah

Kadang (50%)

Lebih dari setengah

Hampir selalu

Skor

1.

2.

3.

4.

5. 6. 7.

Selama sebulan terakhir, seberapa sering anda merasa tidak lampias saat selesai berkemih? Selama sebulan terakhir, seberapa sering anda harus kembali kencing dalam waktu kurang dari 2 jam setelah selesai berkemih? Selama sebulan terakhir, seberapa sering anda mendapatkan bahwa kencing anda terputus-putus? Selama sebulan terakhir, seberapa sering anda mendapatkan bahwa anda sulit menahan kencing? Selama sebulan terakhir, seberapa sering pancaran kencing anda lemah? Selama sebulan terakhir, seberapa sering anda harus mengedan untuk mulai berkemih? Selama sebulan terakhir, seberapa sering anda harus bangun untuk berkemih sejak mulai tidur pada malam hari hingga bangun di pagi hari?

0 0 Tidak ada 0

1 1 1 kali 1

2 2 2 kali 2

3 3 3 kali 3

4 4 4 kali 4

5 5 5 kali 5

3 2

Uroflowmetri merupakan prosedur diagnostic yang mudah untuk mengukur flowrate urine. Tes ini non invasive dan digunakan untuk menilai fungsi bladder dan sphincter. Uroflow metri dilakukan dengan cara pesien kencing ke corong special yang terhubung dengan alat pengukur. Alat akan mengukur jumlah urine, kecepatan aliran

per sekon dan waktu yang dibutuhkan untuk kencing sampai dengan selesai. Informasi ini diubah dalam grafik dan di interpretasikan. Informasi yang didapatkan berguna untuk mengevaluasi fungsi lower urinary track atau membantu menentukan jika ada aliran urin normal. Penilaian hasil : Flow rate maksimal 15 ml/detik 10-15 ml/detik 10 ml/detik Non obstruktif Borderline Obstruktif

Indikasi dilakukannya pemeriksaan ini jika terdapat aliran urin seperti benign prostate hyperplasia, kanker prostat atau tumor bladder, urinary incontinence, urinary blockage dan neurogenic bladder disfunction.

Prostat Spesific Antigen (PSA) Prostat Spesifik Antigen (PSA) adalah enzim proteolitik yang dihasilkan oleh epitel prostat dan dikeluarkan bersamaan dengan cairan semen dalam jumlah yang banyak. Prostat Spesifik Antigen memiliki nilai normal 4ng/ml. Pemeriksaan PSA sangat baik digunakan bersamaan dengan pemeriksaan DRE dan TRUSS dengan biopsy. Peningkatan kadar PSA bias terjadi pada keadaan Benign Prostate Hyperplasya (BPH), infeksi saluran kemih dan kanker prostat sehingga dilakukan penyempurnaan dalam interpretasi nilai PSA yaitu PSA velocity atau perubahan laju nilai PSA, densitas PSA dan nilai rata rata PSA, yang nilainya bergantung kepada umur penderita Rata Rata Nilai Normal PSA (ng/mL) 40 49 50 59 60 69 70 79 0.0 2.5 0.0 3.5 0.0 4.5 0.0 6.5

Umur (tahun)

Tanda Klinis Tanda klinis terpenting dalam BPH adalah ditemukannya pembesaran pada pemeriksaan colok dubur/digital rectal examination (DRE). Pada BPH, prostat teraba membesar dengan konsistensi kenyal. Diagnosis Diagnosa ditegakkan dari anamnesa yang meliputi keluhan dari gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Kemudian dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk merasakan/meraba kelenjar prostat. Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui adanya pembesaran prostat, benjolan keras (menunjukkan kanker) dan nyeri tekan (menunjukkan adanya infeksi). Selain itu biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi ginjal dan untuk penyaringan kanker prostat (mengukur kadar antigen spesifik prostat atau PSA). Pada penderita BPH, kadar PSA meningkat sekitar 30-50%. Jika terjadi peningkatan kadar PSA, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah penderita juga menderita kanker prostat. Penatalaksanaan 1) Watchful Waiting Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan, dapat dilakukan dengan observasi tanpa pengobatan 2) Terapi medikamentosa 3) Terapi bedah konvensional 4) Open simple prostatectomy Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran rostat terlalu besar, di atas 100g, atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli. 5) Terapi invasive minimal a) Transuretheral resection of the prostat (TUR-P) Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter. b) Transuretheral insicion of the prostate (TUIP)

Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat kecil. 6) Terapi Laser Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy. 7) Terapi alat a) Microwave hyperthermia Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan melalui uretra atau rektum sampai suhu 42-45oC sehingga diharapkan terjadi koagulasi. b) Trans urethral needle ablation (TUNA) Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang menancap di jaringan prostat. c) High intensity focused ultrasound (HIFU) Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan energi ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus. d) Intraurethral stent Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa prostatika untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka e) Transurethral baloon dilatation Dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih. Prognosis Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat.

D.

Vesicolithiasis

Definisi Vesicolithiasis adalah adanya batu yang terjadi di bagian bawah traktus urinarius biasanya disebabkan oleh diet protein non hewani. Sedangkan yang bagian atas disebabkan oleh diet protein hewani. Batu dapat berasal dari vesica urinaria batu primer atau berasal dari ginjal batu sekunder.

Etiologi 1. Obstruksi kelenjar prostat yang membesar 2. Striktur uretra (penyempitan lumen dari uretra) 3. Neurogenik bladder (lumpuh kandung kemih karena lesi pada neuron yang menginervasi bladder) 4. Benda asing misalnya kateter 5. Divertikula urin dapat tertampung pada suatu kantung didinding vesika urinaria 6. Shistomiasis, terutama oleh Shistoma haemotobium lesi mengarah keganasan Hal-hal yang disebutkan di atas dapat menimbulkan retensi urin, infeksi, maupun radang. Statis, lithiasis, dan sistitis adalah peristiwa yang saling mempengaruhi. Statis menyebabkan bakteri berkembang sistitis, urin semakin basa memberi suasana yang tepat untuk terbentuknya batu MgNH4PO4 (batu infeksi/struvit). Batu yang terbentuk bisa tunggal ataupun banyak. Tanda dan gejala 1. Dapat tanpa keluhan 2. Sakit berhubungan dengan kencing (terutama diakhir kencing) 3. Lokasi sakit terdapat di pangkal penis atau suprapubis kemudian dijalarkan ke ujung penis (pada laki-laki) dan klitoris (pada wanita). 4. Terdapat hematuri pada akhir kencing 5. Disuria (sakit ketika kencing) dan frequensi (sering kebelet kencing walaupun VU belum penuh). 6. Aliran urin berhenti mendadak bila batu menutup orificium uretra interna. 7. Bila batu mneyumbat muara uretera hidroueretera hidronefrosis gagal ginjal

Pemeriksaan Diagnostik 1. Laboratorium a. Darah : ureum/kreatinin, elektrolit, Ca, Phospat anorganik. Alkali Phospate, Asam urat, Protein, Hb b. Urin : rutin (Midstream urin) 2. Radiologis a. Foto polos : BNO tampak opak (90%), lebih baik dilanjutkan dengan IVP untuk mengetahui ada atau tidak kerusakan pada ginjal b. IVP : Dapat untuk melihat batu di lain tempat, anatomi saluran kencing bagian atas c. PV (Pem Postvoid) : mengetahui pengosongan kandung kemih d. USG : Gambaran acustic shadow 3. Sistokopi : Untuk menegakkan diagnosis batu kandung kencing. 4. Fisik : Kurang berarti, kecuali jika batu cukup besar Penatalaksanaan Tujuan Terapi : membuang batu 1. Secara tertutup Litotripsi (menghancurkan batu). Tenaga litotripsi bisa berasal dari manusia-mekanik, LASER, atau elektrohidrolik. 2. Secara terbuka Dengan membuka v.u secara SECTIO ALTA

DAFTAR PUSTAKA

1. Sabiston, David C. Hipertrofi Prostat Benigna, Buku Ajar Bedah bagian 2, Jakarta : EGC, 1994. 2. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi revisi, Jakarta : EGC, 1997. 3. Anonim. Kumpilan Kuliah Ilmu Bedah Khusus, Jakarta : Aksara Medisina, 1997. 4. Priyanto J.E. Benigna Prostat Hiperplasi, Semarang : Sub Bagian Bedah Urologi FK UNDIP. 5. Purnomo B.P. Buku Kuliah Dasar Dasar Urologi, Jakarta : CV.Sagung Seto, 2000. 6. Rahardjo D. Pembesaran Prostat Jinak; Beberapa Perkembangan Cara Pengobatan, Jakarta : Kuliah Staf Subbagian Urologi Bagian Bedah FK UI R.S. Dr. Cipto Mangunkusumo, 1993. 7. Reksoprodjo S. Prostat Hipertrofi, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah cetakan pertama, Jakarta : Binarupa Aksara, 1995. 8. Mansjoer, A., dkk, Kapita Selekta Indonesia, Penerbit Media Asculapius, FK UI 2000 9. Sylvia A. Price, dkk. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Jakarta : EGC 10. repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf