Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No.

ISSN 1858-4330

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KARBOHIDRAT SIAP PAKAI KE DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN SERTA RASIO ANTARA PENDAPATAN DENGAN BIAYA RANSUM BROILER
The effects of readily available carbohydrate meals in diets on performance and income over feed and chick cost of broiler
Suhendra Pantjawidjaja Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin ABSTRAK Suatu percobaan pemberian ransum telah dilakukan untuk mendeterminasi pengaruh pemberian karbohidrat siap pakai terhadap penampilan dan rasio antara pendapatan dengan biaya ransum broiler. Sebanyak 72 ekor anak broiler telah ditempatkan secara acak ke dalam empat perlakuan ransum sesuai rancangan acak lengkap, dengan enam kali ulangan yang ditempati oleh tiga ekor setiap ulangan. Perlakuan-perlakuan R0 (ransum kontrol), R1(9% tepung tapioka dalam ransum), R2(tepung gaplek dalam ransum), dan R3(tepung sagu dalam ransum). Data dianalisis dengan program komputer SPSS - version 12 khususnya untuk analisis keragaman satu arah, dan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. Pemberian 9% tepung tapioka nyata mempengaruhi penurunan penampilan produksi, konversi ransum, dan rasio antara pendapatan dengan biaya ransum. Pemberian 9% tepung sagu sebagai karbohidrat siap pakai memperlihatkan hasil yang terbaik. Kata-kata kunci : tepung tapioka, tepung gaplek, tepung sagu, dan broiler ABSTRACT A feeding trial was conducted to determine the effect of readily available carbohydrate meals on the production performance and income over feed and chick cost of broiler. A total of 72 broiler chicks, were randomly distributed to four dietary treatments following a completely randomized design, replicated six times with 3 birds per replicate. The treatments were R0 (control diet), R1 (9% tapioca meal in diet), R2 (9% cassava-chip meal in diet), and R3 (9% sago meal in diet). The data was analyzed by computer program SPSS-for Windows version 12, especially for Oneway ANOVA and continued to Duncans test. The 9% tapioca meal and 9% cassava-chip meal in the broiler diets significantly decreased average body life weight gain, feed conversion ratio (FCR), and income over feed and chick cost (IOFCC) at 42 days of age. Broiler fed with 9% sago meal showing the best performance, FCR, and IOFCC. Keywords: tapioca meal, cassava-chip meal, sago meal, and broiler PENDAHULUAN Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap daging broiler telah menjadikan prospek ternak broiler semakin menjanjikan. Pada awalnya, konsumen hanya menuntut agar harga daging broiler cukup murah, namun dengan berkem-bangnya pendidikan masyarakat dan pengetahuan 60 tentang konsumsi gizi yang baik serta seimbang maka saat ini tuntutan tersebut bertambah dengan keamanan (food safety) dan kualitas (quality assurance) daging broiler. Undang-Undang Keamanan Pangan Nomor 7 tahun 1996, pada dasarnya merupakan kondisi serta upaya pen-

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

cegahan pangan dari kemungkinan adanya pencemaran biologis (mikrobiologis), kimia dan benda-benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Meng-hadapi hal itu, peternak pun tertantang untuk dapat menghasilkan daging broiler yang bebas residu obat-obatan, bahkan lemak yang diduga mengandung kolesterol sebagai pemicu timbulnya penyakit jantung koroner. Astrup (2004) mengingatkan agar konsumen mewaspadai karbohidrat karena dapat menyebabkan obesitas (kegemukan) yang ditandai dengan banyaknya penimbunan lemak. Selanjutnya, dijelaskan bahwa dugaan selama ini terhadap kolesterol sebagai penyebab kematian adalah anggapan yang keliru, karena pemicu sebenarnya adalah karbohidrat. Menurut Soewardi (1974) telah lama diketahui bahwa ternak ruminansia mempunyai kemampuan dalam mencerna karbohidrat tipe serat kasar (NSP), sementara karbohidrat tipe siap pakai (RAC) dapat digunakan sebagai sumber energi untuk mikroorganisme rumen dalam memanfaatkan non protein nitrogen menjadi protein. NSP dan RAC ini, pada ternak non-ruminansia (khususnya unggas) sangat kurang mendapat perhatian para ahli karena dalam penyusunan ransumnya lebih difokuskan pada kebutuhan protein atau energi secara umum. Berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah, untuk melihat penampilan, serta rasio antara pendapatan dengan biaya ransum, yaitu dengan cara mengurangi lemak abdomen pada broiler tersebut melalui pemberian tipe karbohidrat sesuai jenisnya ke dalam ransum. BAHAN DAN METODE Sebanyak 72 ekor anak broiler jantanbetina (doc) strain SUR 707 diletakkan

secara acak ke dalam 24 petak kandang terpisah, dan diberi perlakuan iso calorie yaitu : RAC yang terdiri dari R0 = ransum kontrol, R1 = diberi 9% tepung tapioka, R2 = diberi 9% tepung gaplek, dan R3 = diberi 9% tepung sagu. Semua petak kandang terbuat dari besi dengan dinding dan lantai dari kawat ram, yang terletak di Laboratorium Usaha Pakan Terpadu, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Penelitian berlangsung selama 42 hari pada musim pancaroba, yaitu peralihan dari musim hujan ke musim kemarau (bulan Maret April 2007). Ransum dan air minum diberikan secara ad libitum setiap hari, pencegahan penyakit menggunakan antisep; dua kali vaksinasi ND (strain HB1 dan strain Lasota) dengan disertai pemberian vita-stress pada setiap kali vaksinasi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dengan enam ulangan, masing-masing ulangan ditempati oleh tiga ekor broiler. Penampilan broiler yang diamati adalah berat badan dan konsumsi ransum, kemudian data tersebut dihitung rasionya sebagai berikut : Konversi ransum (KR) dengan rumus (Boyle, 2003):

KR = -

Jumlah ransum yang dikonsumsi (kg) Berat badan ayam (kg) rumus

Pendapatan, dengan (Santoso, 1989) :

Pendapatan = TP (HAA + BR)

dengan asumsi :

Total penjualan (TP) adalah harga jual ayam pada akhir penelitian berdasarkan harga per kg berat ayam

61

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

hidup yang berlaku pada saat akhir penelitian. Harga anak ayam (HAA) adalah harga beli anak ayam pada saat awal penelitian. Biaya ransum (BR) adalah banyaknya ransum yang dikonsumsi oleh setiap ekor ayam selama penelitian dikalikan dengan harga per kg ransum yang berlaku selama penelitian.

puter SPSS for Windows Version 12 sesuai Analisis Ragam Rancangan Acak Lengkap dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Data hasil penelitian memperlihatkan ratarata konsumsi ransum, berat badan, dan konversinya dari masing-masing perlakuan, sebagai terlihat pada Tabel 1:

Semua data hasil perhitungan diolah dengan mempergunakan program kom-

Tabel 1. Rata-rata Konsumsi, Berat badan, Konversi Per Ekor Selama Penelitian Parameter Konsumsi (kg) Berat Badan (kg) Konversi Ransum P E R0 3,236 1,542 2,10 R L R1 3,028 1,399 2,17 A K U R2 3,036 1,383 2,20 A N R3 3,121 1,457 2,15 SEM 0,041 0,040 0,002

Keterangan : R0 = ransum kontrol; R1 = 9% tp.tapioka; R2 = 9% tp.gaplek; R3 = tp.sagu; SEM = Standard Error Mean

Pada Tabel 1, hasil uji jarak Duncan memperlihatkan urutan konsumsi dari yang terrendah adalah tepung tapioka, tepung gaplek, tepung sagu, dan kontrol. Hal yang menarik di sini ialah tepung yang berasal dari ubi kayu dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan konsumsi tepung sagu maupun kontrol. Terdapat dugaan bahwa ayam mempunyai kemampuan dalam membedakan bahan makanan, yaitu melalui sistem gustative or taste budspada lidahnya sehingga dapat mengenali rasa makanan (Packham, 1981; Amrullah, 2004). Pengaruh perlakuan terhadap rata-rata berat badan juga memperlihatkan hasil yang hampir sama, yaitu urutan perbedaan berat menurut hasil uji jarak Duncan dari yang terrendah adalah tepung gaplek,

tepung tapioka, tepung sagu, dan kontrol. Dengan hasil-hasil tersebut maka konversi ransumnya juga memperlihatkan hasil uji jarak Duncan dari yang paling efisien adalah kontrol, tepung sagu, tepung tapioka, dan tepung gaplek. Selanjutnya, hasil perhitungan rasio pendapatan dengan biaya ransum broiler seperti terlihat pada Tabel 2. Hasil perhitungan rata-rata pendapatan pada Tabel 2 memperlihatkan IOFCC dari tepung ubi kayu (tepung tapioka dan tepung gaplek) adalah paling rendah dibandingkan tepung sagu dan kontrol. Rendahnya pendapatan (IOFCC) dan juga konversi ransum (FCR) yang dialami broiler sebagai akibat pemberian tepung ubi kayu, perlu mendapat perhatian yang serius.

62

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Tabel 2. Rata-rata Pendapatan dari Rasio Total Penjualan Dengan Biaya Ransum Dan Harga Anak Broiler Total Penjualan (Rp) 22.500 20.985 20.745 21.855 Harga anak broiler + Biaya ransum (Rp) 19.090 18.570 18.590 18.803 Pendapatan (Rp) (IOFCC) 3.410 2.415 2.155 3.052

Perlakuan R0 R1 R2 R3

Keterangan : Harga anak ayam/ekor = Rp 3.000,-; Harga jual ayam/kg hidup = Rp 15.000,-

Funk dan Frank (1978) menyatakan bahwa perlu diambil suatu keputusan penetapan harga dalam menyikapi bahanbahan pakan yang banyak dibutuhkan oleh peternak. Menurut Promthong, dkk. (2003) ubi kayu tumbuh secara liar dan sangat potensial sebagai sumber energi di dalam menggantikan jagung pada ransum broiler, karena selain banyak terdapat di daerah tropis harganya pun relatip sangat murah. Josep (2004) menyatakan pendapatnya bahwa salah satu upaya untuk memperbaiki keberhasilan pemeliharaan broiler ialah melalui penambahan suplemen ke dalam ransumnya. Hasil penelitiannya melalui pemberian suplemen campuran tepung kencur dengan tepung bawang putih ternyata mampu memperbaiki penampilan broiler, walaupun dalam memperbaiki IOFCC belum berhasil baik. Sedangkan Luis, dkk.,(2004) telah berhasil memperbaiki FCR maupun IOFCC melalui pemberian suplemen 0,075% protease ke dalam protein ransum broiler.
KESIMPULAN

pakai ini terlihat nyata pada tepung sagu. Untuk menaikkan penampilan produksi, FCR, dan IOFCC, disarankan memberi tambahan suplemen.
DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, I.K. 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor. Astrup, A. 2004. Benefits of a high protein diet. Meat Processing Global Journal. July/August.p:34-36. [diakses dari: www.meatnews.com.] Boyle, M. 2003. How do you measure feed conversion ?. Poultry International. February Vol.42 :(2): 20 26. Funk, T.F., and T.C. Frank. 1978. The farmer decision process in purchasing broiler feeds. American Journal of Agricultural Economics. Vol. 60(4): 678 682. Josep. 2004. Pengaruh Penambahan Tepung Kencur (Kaempferia galanga L.) dan Tepung Bawang Putih (Allium sativum L.) Pada Ransum Broiler. Indonesian Research Institute for Animal Production. Balai Penelitian Ternak. Bogor. Luis, E.S., M.Akila, M.R. Batungbacai, and M.J.R. Revilleza. 2004. Microbial acid protease supplementation of reduced-crude protein 63

Berdasarkan bahasan penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung tapioka ke dalam ransum broiler nyata akan menurunkan penampilan produksi, FCR, dan IOFCC dibandingkan pemberian tepung gaplek, tepung sagu, dan kontrol. Hasil terbaik diantara pemberian tiga macam karbohidrat siap

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

corn-soybean based diet for broiler chickens. Philippines Journal of Veterinary Medicine. Vol. .41(2): 69 76.

Packham, R.G. 1981. Feed, Composition, Formulation and Poultry Nutrition. In Nutrition and Growth Manual. Short Course on Growth and Nutrition. AAUCS UNHAS, Ujung Pandang. Promthong, S., U. Kanto, S. Tongyai, and A. Engkagul. 2003. The comparative

effects of corn and cassava diets on physiologycal properties of gastrointestinal tract of broilers. Thai Science. Vol. 20(2): 45 49. Thailand.

Santoso, U. 1989. Limbah Ransum Unggas yang Rasional. PT. Bharata Karya Aksara. Jakarta. Soewardi, B. 1974. Gizi Ruminansia (bagian I). Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan IPB. Bogor.

64