Anda di halaman 1dari 41

Sitoskeleton

Hery Haryanto Lab. Biolog FMIPA Universitas Bengkulu

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Tujuan pembelajaran
Mahasiswa dapat menjelaskan struktur dan fungsi sitoskeleton . Mahasiswa dapat menghubungkan antara proses pergerakan otot, cilia/flagela, kebutuhan ATP dengan komponen sitoskeleton

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Pendahuluan

Salah satu gejala kehidupan adalah gerak. Pada level individu organisme, gerakan bertujuan untuk kelangsungan hidup individu itu berhadapan dengan lingkungannya. Hewan berlari guna mendapatkan makanan, menghindar dari predator, mengejar jodoh, dll. Pada level organ otot melakukan gerakan, usus melakukan gerakan peristaltis. Amoeba, siliata dan flagelata bergerak guna mendapatkan makanan. Di dalam internal seluler, ada gerakan organel, gerakan sitoplasma, dll. Semua gejala gerak itu dapat dipahami sebagai gejala gerak pada level seluler, dan yang melaksanakan itu adalah sitoskeleton.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Gerakan dan bentul sel terkait sitoskeleton


Gerakan sel bervariasi dari yang paling sederhana sampai yang rumit, antara lain adalah gerak menyusun struktur internal sel, translokasi organel dalam sitoplasma, perubahan bentuk sel, kontraksi otot, dan gerak cepat alat gerak sel seperti silia, dan flagela. Sitoskeleton dalam sel melaksanakan gerakan pada sel tunggal ataupun sel di dalam jaringan jasad multiseluler. Selain itu bentuk sel yang berlainan juga disebabkan karena sitoskeleton di dalam sitoplasmanya

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Sitoplasma dan sitoskeleton


Sitoplasma atau cairan sel adalah matriks yang berada di sebelah dalam membran plasma di luar nukleus. Sitoplasma tersusun atas sitosol yang berupa koloida rangka sel (sitoskeleton) dan organelorganel sel. Komponen sitoskeleton di dalam sitoplasma tersusun oleh serabut protein.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Fungsi Sitoskeleton
Untuk memelihara bentuk sel. Untuk sarana kekuatan mekanik sel. Untuk mengadakan gerakan sel (locomotion) : contohnya,

gerakan kromosom sewaktu pembelahan sel baik secara meiosis maupun mitosis, gerakan organel secara intracellular, Untuk tempat tertambatnya enzim di dalam sitoplasma, sehingga terjadinya reaksi-reaksi/metabolisme sitosolik.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Macam sitoskeleton
Sitoskeleton merupakan jejala serat atau filamen yang terdapat pada sitoplasma, diidentifikasi ada 3 macam ialah a. mikrotubula, b. mikrofilamen, dan c. filamen menengah. Tiap filamen tersusun atas monomer protein yang berbeda, dan akan membentuk struktur yang bervariasi tergantung dari jenis protein yang berasosiasi. Filamen-filamen tersebut pada dasarnya dapat disusun dan diurai kembali (assembly & disassembly), hanya saja cara dan kecepatannya berbeda menurut macam sitoskeletonnya, menurut jenis sel, dan menurut waktu ontogenik suatu sel.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Sifat assembly & disassembly


Mikrotubula tergolong paling mudah diurai dan disusun. Penyusunan dan penguraian filamen mikrotubula yang cepat misalnya terjadi saat sel membelah (gelendong protein menarik kromosom menuju ke kutub). Filamen menengah paling stabil. Mikrofilamen berfungsi pada gerakan kontraksi otot, aliran sitoplasma, dan sitokinesis. Filamen menengah berguna untuk menggabungkan kesatuan kontraksi di dalam sel otot.
E-mail : hery-h@unib.ac.id

Filamen Mikrotubula
Mikrotubula adalah serat makromolekul protein yang berbentuk tongkat silinder berlobang dengan diameter 200 nm sampai 25 mm, tersusun oleh unit a tubulin dan tubulin, masingmasing dengan berat molekul 50 kilodalton. Organisasi mikrotubula: a tubulin dan tubulin mula-mula membentuk susunan dimer molekul tubulin . Cara penyusunan tubulin sepanjang serat mikrotubula adalah selang-seling , ,. Jadi, mikrotubula telah memiliki suatu polaritas mantap. Unit tubulin mikrotubulin mengalami polimerisasi membentuk protofilamen. 13 protofilamen protofilamen mengalami asosiasi membentuk singlet filamen mikrotubula. Dinding mikrotubula tersusun oleh sub-unit globular berdiameter 4-5 mn, dan subunit tersebut menyusun 13 baris longitudinal berkeliling membentuk sebuah cincin lingkaran yang di tengah-tengahnya kosong. Struktur dasar ini sangat lazim pada semua jasad eukaryot, sungguhpun pada sel nematoda ada yang tersusun 11 atau 15 baris longitudinal. 13 protofilamen berjajar paralel sepanjang aksis protofilamen. Panjang serat mikrotubula bervariasi dan dapat tumbuh seribu kali pada saat diperlukan. Tergantung macamnya, mikrotubula ada yang aktif mengalami pemanjangan dan pemendekan, tetapi ada yang stabil sekali dibentuk Pada mikrotubula yang aktif melakukan pemanjangan dan pemendekan, maka mikrotubula tersebut sangat aktif memasang tubulinnya pada salah satu ujung guna menambah panjang, dan dapat membongkar tubulin pada ujung lain guna menyusun mikrotubula pada tempat lain di dalam sel. Mikrotubula terdapat pada hampir semua sel eukaryot. Sel darah merah adalah perkecualiannya.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Protein lain yang terkait mikrotubula


Mikrotubula selain merupakan asosiasi homodimer tubulin, juga berasosiasi dengan protein lain yaitu protein MAP (singkatan microtubule assosiated protein, atau protein yang berasosiasi dengan mikrotubula). MAP memiliki asosiasi spesifik terhadap dan tubulin, salah satu diantaranya adalah MAP spesifik yang berasosiasi dengan dan tubulin secara unik karena hanya terjadi pada saat pembelahan sel (interfase mikrotubula). Protein MAP mengontrol polimerisasi tubulin sehingga efektif dalam menggerakkan kromosom hanya saat anafase dan telofase. Sementara itu MAP itu sendiri diatur oleh siklus fosforilasi-defosforilasi MAP. Contoh MAP lain terdapat pada mikrotubula sel syaraf bagian akson (bukan dendrit). MAP tersebut dinamakan protein tahu, yang membantu stabilitas axonal mikrotubula pada sel syaraf tersebut.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Gerakan Cilia

E-mail : hery-h@unib.ac.id

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Struktur cilia dan flagella

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Komponen mikrotubula

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Polaritas mikrotubula
Pada semua sel, baik yang istirahat maupun yang sedang aktif membelah, mikrotubula menyebar dari pusatnya ialah pusat organisasi mikrotubula/sentrosoma/MTOC (microtubule organizing center). Pada sel hewan letak sentrosoma itu adalah pada sentriola. Demikian pula mikrotubula flagela dan silia menyebar dari badan basal yang fungsinya serupa dengan MTOC. Dengan demikian, mikrotubula terpolarisasi dari sentrosoma atau sentriola (-), ke ujung lain ialah ujung benang spindel yang kontak dengan kromosom. Pada flagela, polaritas mikrotubula flagela terbentang dari badan basal (-) ke ujung proksimal flagela (+).

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Pusat organisasi mukrotubula/ sentrosoma/ MTOC (microtubule organizing center).


MTOC merupakan pusat pertumbuhan mikrotubula (kutub -), berarti tempat polimerisasi tubulin terbentuk berada pada bagian prosimal (menjauhi MTOC) yaitu kutub +. Dengan kata lain, kutub + adalah kutub mikrotubula stabil, sedangkan kutub adalah kutub tempat terjadinya pemanjangan atau pemendekan.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

MTOC merupakan pusat pertumbuhan mikrotubula (kutub -), berarti tempat polimerisasi tubulin terbentuk berada pada bagian prosimal (menjauhi MTOC) yaitu kutub +.

Kolkhisin menghambat polimerisasi


Kolkhisin adalah sejenis alkaloid yang menghalangi terbentuknya polimerisasi mikrotubula, karena tubulin dimer mengandung afinitas yang tinggi untuk mengikat kolkhisin. Tubulin dengan kolkhisin yang terikat padanya masih dapat mengikat tubulin lainnya. Tetapi ujung tubulin yang tak bebas, karena telah mengikat kolkhisin tak akan mampu lagi mengikat tubulin berikutnya. Ini menyebabkan terhambatnya polimerisasi. Jadi, pada medium sel yang diberi kolkhisin, polimerisasi mikrotubula tidak terbentuk, sebaliknya tubulin dimer yang bebas akan mengakumulasi dalam sel. Akan tetapi harus dicatat bahwa kolkhisin tidak mempengaruhi depolimerisasi tubulin. Artinya tubulin yang telah tersusun dalam mikrotubula tidak dapat dibongkar oleh kolkhisin. Tambahan lagi, kolkhisin juga dilaporkan menghambat sintesis tubulin dengan cara adanya tubulin bebas dalam sitoplasma akan menghalangi ribosom yang sedang mencetak tubulin, dan memicu degradasi mRNA yang mengkode tubulin. Senyawa lain yang menghalangi polimerisasi tubulin membentuk mikrotubula, ialah vinblastin dan vincristine, yang juga menghambat pembentukan benang spindel. Obat ini digunakan sebagai obat anti-kanker, karena fungsinya menghambat pembelahan sel dapat berfungsi membunuh sel kanker yang sedang aktif membelah.
E-mail : hery-h@unib.ac.id

Fungsi mikrotubula
Untuk memberi bentuk sel. Beberapa mikrotubula menyusun jala serat yang menyebar dari sentromer (MTOC, pusat pengorganisasi mikrotubula). Untuk medium transport aksonal pada sel syarat terjadi sepanjang mikrotubula. Untuk gerakan sitoplasma, gerakan organel, dan vesikula, dan gerakan kromosom pada saat pembelahan sel. Pada gerak vesikula badan golgi ke plasma membran (pada peristiwa sekresi), mikrotubula dibantu oleh molekul motor kinesin. Antara kinesin dan vesikula terdapat reseptor kinesin. Gerakan vesikula seolah-oleh dibawa oleh kinesin yang berjalan di atas mikrotubula stasioner dengan bantuan energi ATP.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Fungsi mikrotubula
gerakan bergelombang flagella dan silia (misal pada sel sperma yang berflagella). Flagella dan silia adalah alat gerak sel, Silia terdapat dalam jumlah besar di permukaan sel dan biasanya berukuran pendek 2 s/d 20 mm, sedangkan flagella lebih panjang berukuran 10 s/d 200 mm dan jumlahnya tiap sel satu atau beberapa saja. Cambuk flagella dan serabut silia berpangkal dari badan basal yang berbentuk seperti sentriola, tersusun oleh 9 pasang mikrotubula dublet. Antara mikrotubula satu dengan lainnya terdapat molekul motor dinein sehingga menyusun melingkar. Sedangkan untuk membentuk suatu strukutur tongkat lingkaran 9 mikrotubula diperkokoh oleh protein yang berfungsi sebagai jari-jari radial. Di pusatnya terdapat dua mikrotubula lagi yang berfungsi sebagai pusat silia atau flagella.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Fungsi mikrotubula
Pada pembelahan sel, kromosom digerakkan oleh benang-benang spindel yang tidak lain adalah mikrotubula yang secara cepat dapat memanjang dan memendek dengan cara asosiasi dan disosiasi alpha dan beta tubulin. Serat kinetokor atau gelendong benang spindel tidak lain adalah benang mikrotubula berujung di dua polaritas. Ujung positif melekat pada sentromer kromosom dan ujung negatif berlekatan dengan sentriola. Jadi pada ujung sentriola mikrotubula diperpendek untuk menggerakkan kromosom menuju ke kutub pembelahan. Perubahan pigmen kulit ikan dan bunglon terjadi karena perubahan distribusi molekul-molekul pigmen tersebut. Bila pigmen tersebar di bagian interior sebelah dalam membran sel, maka warna terang tertentu pada permukaan kulit akan terjadi. Sebaliknya jika molekul-molekul pigmen itu terkonsentrasi di sebelah dalam sel kulit mendekati inti, maka warna menjadi pucat. Perubahan pigmen juga terjadi karena perubahan distribusi jenis-jenis pigmen di permukaan sel-sel kulit hewan itu. Dengan cara ini maka hewan melakukan mimikri (perubahan warna kulit untuk keperluan adaptasi dan melindungi diri dari ancaman predator). gerakan bergelombang flagella dan silia (misal pada sel sperma yang berflagella). Flagella dan silia adalah alat gerak sel, Silia terdapat dalam jumlah besar di permukaan sel dan biasanya berukuran pendek 2 s/d 20 mm, sedangkan flagella lebih panjang berukuran 10 s/d 200 mm dan jumlahnya tiap sel satu atau beberapa saja. Cambuk flagella dan serabut silia berpangkal dari badan basal yang berbentuk seperti sentriola, tersusun oleh 9 pasang mikrotubula dublet. Antara mikrotubula satu dengan lainnya terdapat molekul motor dinein sehingga menyusun melingkar. Sedangkan untuk membentuk suatu strukutur tongkat lingkaran 9 mikrotubula diperkokoh oleh protein yang berfungsi sebagai jari-jari radial. Di pusatnya terdapat dua mikrotubula lagi yang berfungsi sebagai pusat silia atau flagella. E-mail : hery-h@unib.ac.id

Cilia dan Flagella


Cilia dan flagella merupakan organ yang keluar dari sel. Keduanya tersusun atas mikrotubula, dan keduanya dapat bergerak (motil) yang berfungsi apakah untuk pergerakan sel itu sendiri atau untuk membuang substansi yang menempel di sekeliling sel. Peranan utama cilia pada sel mamalia untuk membuang cairan, lendir pada permukaan sel. Cilia dan flagella mempunyai persamaan struktur, dan berbeda pada ukuran panjangnya.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Mikrofilamin Aktin
Mikrofilamen (disebut Aktin F) merupakan rangka sel berbentuk serat-serat protein berdiameter 7 nm dan merupakan makromolekul polimer aktin G (singkatan dari globuler). Aktin G merupakan bentuk monomer dengan berat molekul 45 kD menyusun Aktin F (G singkatan globuler). Cara polimerisasi aktin G menjadi aktin F adalah unik, karena polimernya tidaklah linear betul, melainkan tersusun menyudut terhadap sumbu heliks. Polimerisasi diinduksi oleh ion Mg, ion K atau Na.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Mikrofilamin Aktin
Aktin dari berbagai organisme sangatlah beraneka ragam, akan tetapi dalam percobaan in vitro polimerisasi antara aktin dari sumber organisme berbeda ternyata dapat terjadi. Ini menunjukkan bahwa komponen unit monomer aktin G sangatlah identik pada berbagai organisme. Ini menunjukkan bahwa bahan dasar penyusunan aktin F sangatlah terkonservasi, sehingga sangat dipertahankan dalam waktu evolusinya. Mikrofilamen lebih stabil daripada mikrotubula. Pada hampir semua waktu hidup seluler, kebanyakan aktin berada dalam bentuk mikrofilamen. Artinya, sekali aktin mengalami polimerisasi membentuk mikrofilamen, maka mikrofilamen tersebut tidak mengalami depolimerisasi (jadi, tetap stabil). Ini terutama terjadi pada sel-sel otot, dan ini diduga karena mikrofilamen distabilkan oleh protein pengikat aktin. Namun, pada bagian sel hewan yang motil yang ujungnya mengalami pemanjangan, filamen aktin mengalami polimerisasi dan depolimerisasi dalam ukuran waktu menit. Dan kontrol terhadap perubahan ini merupakan dasar esensiel bagi gerakan sel.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Mikrofilamen miosin
Miosin terdapat pada sel otot, dan sel bukan otot pada hewan. Pada sel tanaman dan sel mikroorganisme eukaryot, miosin juga dijumpai. Miosin merupakan serabut yang memiliki ujung ekor berbentuk serabut slinder dan ujung dengan dua kepala yang globuler. Miosin merupakan makromolekul 2X dimer, tersusun oleh dua rantai protein berat (heavy chain) dengan berat molekul 230 kD, dan dua rantai protein ringan (light chain) yang berbeda tipenya, masing-masing 20 kD. Kedua komponen protein berat memanjang membentuk serat dengan dua ujung ekor dan kepala. Ujung kepala merupakan ujung N, berbentuk dua globuler, rangkap. Sedangkan ujung ekor adalah ujung C. Pada ujung kepala globuler terdapat komponen protein ringan berikatan dengan kepala globuler. Pada sel otot, ujung-ujung ekor sebanyak 300 s/d 400 dimer miosin memaket bersama membentuk agregat bipolar yang dinamakan filamen miosin tebal bipolar. Satu serat bipolar panjangnya 325 nm. Ujung-ujung serat bipolar terdapat kepala globuler sepanjang 80 nm di kedua ujungnya dan di bagian tengahnya terdapat 160 nm serat tanpa kepala globuler.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Tipe Sel Otot

Human body : muscle

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Susunan sarkomer (unit mikrofilamen) sel otot


Organisasi jaringan otot seran lintang tersusun oleh jaringan serat miofiber. Jaringan miofiber terdiri atas sel otot (sel miofiber). Sel miofiber berbentuk silindris, panjang 1-40 mm, dan lebar 1050 mikron, berisi banyak inti sel, dan banyak filamen miofibril. Satu unit miofibril tersusun oleh ulangan-ulangan sarkomer. Pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa satu sarkomer berisi dua tipe filamen ialah filamen tebal (miosin) dan filamen tipis (aktin). Kedua filamen bertumpukan tumpang tindih antara filamen aktin dengan filamen miosin.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Susunan sarkomer
Tiap sarkomer mengandung pita A (terwarna gelap) dan pita I (terwarna terang). Pita A adalah daerah tumpang tindih kedua filamen (miosin dan aktin). Zona pada pita A terbagi tiga daerah ialah, Zona A1 dan A2 terdapat di kedua ujung pita A berisi tumpukan tumpang tindih miosin dengan aktin, Zona AH hanya berisi pita filamen miosin. Pada kedua sisi pita A adalah pita I di dalamnya terdapat bentuk piring Z. Pita I sepenuhnya berisi filamen aktin. Asosiasi antara aktin dengan miosin adalah dengan cara bagian kepala globuler miosin lengket pada filamen aktin.
E-mail : hery-h@unib.ac.id

Konstraksi otot
Kontraksi otot dihasilkan dari gerakan miosin di atas aktin yang memperpendek sel. Miosin mempunyai lengan kepala globuler yang memegang filamin aktin. Lagi-lagi ATP menyediakan tenaga gerakan ini. Gerakan miosin di atas aktin dipicu oleh kalsium yang dikeluarkan oleh retikulum sarkoplasma (RS). Struktur RS ini terdapat dalam miofibril. Pada otot serat lintang, selain aktin dan miosin masih ada makromolekul sitoskeleton lain yang mengatur kontraksi otot melalui kadar kalsium. Tropomiosin adalah 2 polipeptida helikal yang paralel, (2X 35kD). Tropomiosin melekat pada aktin dengan bantuan kalsium, bila kalsium tidak ada maka tropomioson tidak terikat pada aktin. Troponin adalah molekul protein yang terikat pada sisi spesifik tropomiosin.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Konstraksi otot
Ada empat mekanisme pengaturan kontraksi dan relaksasi sel otot polos pada vertebrata , ialah Pertama melalui jalur kalmodulin. Enzim Kinase Miosin rantai ringan (LC) akan aktif jika dipicu oleh terbentuknya kompleks kalmodulin kalsium. Aktivitas kinase selanjutnya mengaktifkan miosin melekat pada aktin dengan bantuan 1 ATP 1 ADP + P. Kedua, melalui pengaturan yang diperantarai oleh c-AMP (melalui transduksi sinyal pesan sekunder dari epineprin mengaktifkan reseptor b-adrenergik dan selanjutnya mengaktifkan siklase adrenilat. Selanjutnya siklase mengaktifkan protein kinase yang merubah miosin kinase menjadi inaktif dan hanya dapat diaktifkan kembali oleh posfatase yang menyebabkan kontraksi otot. Ketiga melalui pengaktifan protein kinase oleh diasil-gliserol bersama kalsium. Ini menyebabkan fosforilasi miosinLC kinase dan menyebabkan otot relaksasi. Keempat, melalui pengaturan kaldesmon oleh ion kalsium tinggi mengaktifkan aktin tropomiosin dan berikatan dengan miosin menghasilkan kontraksi otot.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Muscle Contraction: Sliding Filaments

(A) The myosin and actin filaments of a sarcomere overlap with the same relative polarity on either side of the midline. Recall that actin filaments are anchored by their plus ends to the Z disc and that myosin filaments are bipolar. (B) During contraction, the actin and myosin filaments slide past each other without shortening. The sliding motion is driven by the myosin heads walking toward the plus end of the adjacent actin filament

Filamen Intermediate
Filamen intermediate (filamen tengah) adalah jenis makromolekul rangka sel berbentuk serat-serat protein yang saling berkumpar (supercoiled) membentuk serabut tebal berdiameter 8-12 nm Dinamakan demikian karena menurut ukuran diameternya berukuran lebih besar dibanding mikrofilamen (aktin filamen tipis) tetapi lebih kecil dibanding miosin filamen tebal, dan lebih tipis dibanding mikrotubula. Berbeda dengan kedua sitoskeleton terdahulu, filamen menengah tersusun oleh unit monomer protein yang berbeda-beda. Keragamannya karena itu merupakan ciri filamen menengah.

E-mail : hery-h@unib.ac.id

Sub-unit Penyusun Filamen Tengah


Vimentin (57 kD). Jala serabut Vimentin berujung pada membran inti sel, pada desmosoma, atau pada pelekatan membran plasma. Fungsi vimentin adalah untuk memelihara inti atau organel pada tempat yang tetap dalam sel. Desmin (45kD), terdapat pada sel otot berbagai tipe. Desmin membentuk jaringan antar hubungan tiap sel otot, berlawanan arah dengan aksis memanjang sel. Serat berisi desmin menghampar dan mengorientasi pada semua cawan Z, sehingga semua miofibril pada sel otot teratur dan membentuk pola seraT lintang pada sel yang besar. Serat desmin juga berpaut dengan cawan Z kepada membran plasma atau organel seluler. Neurofilamin (70, 150, dan 210 kD), pada sisi pusat dan periferal akson sel syaraf, berasosiasi erat dengan mikrotubula aksonal. Neurofilamin berfungsi untuk memberi kekuatan dan kekakuan akson. Protein asam fibrilari glial (GFAP= glial fibrillary acidic protein) (50kD) pada sel glial mengelilingi sel syaraf.
E-mail : hery-h@unib.ac.id

Perbedaan filamen menengah dengan mirkotubula dan mikrofilamen


susunan filamen menengah relatif lebih stabil dibanding kedua sitoskeleton lainnya. Mikrofilamen dan mikrotubula mudah disusun dan mudah dibongkar sesuai dengan keperluannya. Adapun susunan filamen menengah tidak mudah berubah. Ini berguna untuk menghasilkan kekakuan sel dan tumpuan utama pada bangunan bentuk sel. Oleh karena itu filamen menengah merupakan sitoskeleton yang berfungsi sebagai rangka utama pada keseluruhan sitoskeleton.

E-mail : hery-h@unib.ac.id