Anda di halaman 1dari 50

BIOETIKA SEBAGAI SALAH SATU CIRI PROFESI DOKTER

Djamhoer Martaadisoebrata
Bagian Obstetri Ginekologi FKUP/RSHS Bandung

DEFINISI WINSLOW

SEHAT BUKAN HANYA SEKEDAR BEBAS DARI PENYAKIT ATAU KELEMAHAN SAJA, TETAPI SUATU KEADAAN SEHAT FISIK, MENTAL DAN SOSIAL.

KOMPETENSI YANG HARUS DIKUASAI

KLINIK = CURE : how to make the patient get better, if possible, untuk menjaga ketahanan fisik.

(BIO)ETIKA = CARE : how to make the patient feel better, always, untuk memberi rasa nyaman, puas dan percaya diri. MANAJERIAL = LEADERSHIP : How to identifiy health problems and resolve it, sehingga CURE dan CARE dapat disampaikan secara efektif, efisien dan adil.

DATA AKTUAL
Profesi Kedokteran belum mampu memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna, baik fisik, mental maupun sosial. BUKTI ??? AKI/AKA dan Infeksi masih tinggi, Gizi Buruk, Masyarakat tidak puas dan banyak menuntut. MENGAPA ???

POKOK BAHASAN
Profesi Kedokteran Perkembangan Bioetika Isu-isu Bioetika Upaya perbaikan

PROFESI KEDOKTERAN
Berkembang dari keadaan primordial menjadi modern, melalui ilmu dan bioteknologi. Yang tidak boleh berubah adalah niat dan tujuannya yang mulia untuk memberikan pelayanan terbaik.

Dahulu : Do not inflict harm to the patient dan Per primum non nocere

Sekarang : Beneficence, Non Malficence, Autonomy dan Justice.

PROFESIONAL ???
A calling, requiring a specialized and often long and intensive preparation, including instruction and skills and methods as well as in the scientific, historical, or scholarly principles underlying such skills and methods, maintaining by force or organization or concerned opinion, high standard of achievement and conduct, and committing its members to continued study and to a kind of work which for its prime purpose the rendering of public service.

PENGERTIAN HAKIKI PROFESIONAL


Merupakan calling atau panggilan nurani, bukan sekedar IQ 2. Sudah mencakup dimensi kognitif, psikomotor dan afektif, yang merupakan gabungan dari IQ dan EQ 3. Harus berorganisasi dan CME 4. Tugas Utama : Pelayanan Publik
1.

BAGAIMANA BISA PROFESIONAL DAN TETAP PROFESIONAL ???

1.

Pendidikan Terstruktur
2.

Long Life Education.

PENDIDIKAN TERSTRUKTUR
UNESCO The International Commission of Higher Education for 21th, Paris 1998. Learning to Know Dimensi Kognitif, Sikap Rasional (IQ) Learning to Do Dimensi Psikomotor, Sikap Praktis (IQ)

Learning to Be Dimensi Emansipasif, Emosional, Afektif, Sikap Etis (IQ + EQ).

Learning to Live Together Dimensi Ekologis, Sikap Kooperatif (IQ + EQ)

PERHATIAN !!!
Tahapan pendidikan UNESCO sangat cocok untuk calon profesional, termasuk dokter. Dokter baru : Potensial Profesional !

Medical education is not completed at medical school, it is only begun (Weilch WH 1850-1934)

LONG LIFE EDUCATION


Pelatihan Simposium, Seminar, Meet the Expert. Penelitian Pengalaman pribadi

DOKTER PROFESIONAL ???


YA !!! Kurikulum : intensif, paripurna, dinamis. Kompetensi : Klinik dan Etik Tugas utama : Menjaga kesehatan masyarakat. Mempunyai organisasi profesi.

CIRI-CIRI PROFESI KEDOKTERAN

MEMILIKI Ilmu dan Bioteknologi mutakhir. Ketrampilan sesuai standar profesi. Perilaku yang Etis. Sifat Pemimpin (Manager) Butir 1 dan 2, bersifat NISBI, tergantung kepada ruang dan waktu.

PERKEMBANGAN BIOETIKA
Berkembang dengan pesat, baik dalam istilah, pengertian, ruang lingkup, aplikasi, respon masyarakat maupun dokter. Berasal dari negara Barat yang bersifat rasional, sekuler, pragmatis dan pengagum HAM.

Secara normatif/moral sangat dianjurkan, tetapi dalam pelaksanaanya sering menimbulkan konflik dan merusak tatanan masyarakat(Pellegrino)

WAWASAN BIOETIKA ???

Hans-Martin Sass Bioethics encompasses a field that is wider than just the relationship between individual physician and the patient, one that includes a professional responsibility toward all form of life as well as the specific ethos that much prevail in modern of institutionalized and organized medicine.

Tugas dokter adalah menjaga kesehatan, tetapi harus diakui bahwa kemampuan (Ekspertis)- nya terbatas. Praktek dokter selalu dipandu prinsip Etika : non nocere, bonum facere.

Secara tradisi, Ekspertis dan Etika selalu merupakan satu kesatuan Ekspertis tanpa Etika, tidak akan membawa kebahagiaan pada penderita. Etika tanpa Ekspertis, tidak akan efektif.

McCullough & Laurance Bioethics is the discipline of morality in health care, including the morality physicians, patients, the institution of health care that organize, deliver or pay of health care, and health care policy.

Abel Bioethics is the interdisciplinary study of problems, caused by the development of biology and medicine, in micro as well as macro scale, and its impact on the community values systems, at present, as well as in the future.

Ketiganya berbicara tentang Makro dan MikroBioetika. MakroBioetika Ada fihak lain terlibat dlm pelkes (SassMcCullough) Isu-2 Bioetika yg muncul akibat perkembangan biotek.(Abel). Kebijakan harus diambil oleh instansi yg lebih tinggi.

MikroBioetika Identik dengan pengertian klasik dari Etika Klinik (Profesi), yaitu hubungan dokter-penderita.

ETIKA KLINIK ???


Tiga paradigma arahan : 1. Filosofi Moral dari Etika Klinik Beneficence : Segala sesuatu hanya demi kebaikan penderita. Non Malficence : Harus dijaga jangan sampai merugikan penderita.

Autonomy : Hak penderita untuk mendapat informasi/pelayanan terbaik, ikut serta dlm penentuan klinik dlm kedudukan yg setara. Justice : Keadilan; seluruh masyarakat berhak utk mendapat pelkes yg sama.

2. Medicine Medicine is the Art and Science of the Diagnosis and Treatment of the Disease and the Maintenance of Health. (Dorlands Medical Dictionary) Bentuk PelKes Paripurna agar tujuan normatif Etika Klinik tercapai

SCIENCE = Komp. Klinik utk membuat D/ dan Th/ yg EBM = CURE. ART = Komp Etik, bagaimana CURE disampaikan secara holistik dan humanistis = CARE. Pelkes Paripurna, harus merupakan gabungan CURE dan CARE yang proporsional.

Paradigma 1 dan 2 masih terlalu Normatif. Bagaimana membumikannya ?

PARADIGMA JONSEN CS

3. Etika Klinik Jonsen cs Clinical Ethics is a practical discipline which provide a structured approach in decision making, identifying, analyzing and solving ethical issues in clinical medicine

Agar tidak terjadi konflik, ada 4 topik yang berkaitan : 1. Medical Indication : kemampuan dokter utk melakukan penilaian klinik, termasuk D/ dan Th, berdasarkan pendidikan, pengalaman dan sikap profesionalismenya.

2. Patients preference : Sikap penderita thd anjuran dokter, bisa berupa persetujuan, penolakan atau penangguhan 3. Quality of Life (QOL) : perlu ditentukan apakah QOL penderita setelah sakit dan mendapat mengobatan itu, menurun, tetap atau bertambah baik.

4. Contextual Factors : Faktor-2 eksternal yg berkaitan erat dgn pengobatan dan perawatan penderita, seperti keluarga, sosial, ekonomi, budaya dan hukum. Konflik akan terjadi bila satu atau lebih dari topik tsb tidak terpenuhi.

Bahasan thd paradigma Jonsen cs Topik 1 : Keputusan klinik harus bersifat EBM, yg menggambarkan niat beneficence dan non malficence.

Topik 2 : Merupakan pengakuan thd hak otonomi penderita.

Topik 3 : QOL tidak berbicara ttg kondisi medis, tetapi ttg apa yg masih bisa/ingin dilakukan. JAMES WALTER The world quality should refer to the relationship that exist between the medical condition of the patient, on one hand, and the patients ability to pursue human purposes. The purposes are understood as the material, social, moral and of spiritual values that transcend physical biological life. Thus for the patients to judge that they have a QOL means that the patients themselves would evaluate that, based on medical condition they are able to pursue values important to them at some qualitative and acceptable level.

Topik 4 : Pengakuan ttg adanya faktor non medis yg berpengaruh thd keberhasilan pengobatan dan perawatan, sehingga pendekatannya harus bersifat Biopsikososial. Bila dilakukan secara konsisten, paradigma Jonsen cs sudah memenuhi filosofi moral Etika Klinik dan definisi Medicine yg menggabungkan CURE dan CARE melalui proses Informed Consent yg benar.

ALIRAN BIOETIKA Teleologis/Consequentialist : Segala sesuatu boleh dilakukan asal tujuannya BAIK (The end justifies the means). Deontologis/Non Consequentialist : Perbuatan yg BAIK tidak dilihat dari hasilnya, tetapi dari PERBUATANNYA sendiri.

Bioetika berasal dari Barat yg rasional, sekuler, praktis, pragmatis yg lebih sesuai dgn aliran Teleologis. Beneficence, Non Maficence dan Autonomy diungkapkan dlm bentuk hasil akhir yg harus memuaskan penderita, walaupun harus mengabaikan NORMA.

Contoh Data menunjukkan bahwa kematian maternal akibat unsafe abortion sangat tinggi.

Sebagian besar penyebabnya adalah unwanted pregnancy

Solusi mereka, bukan mencegah unwanted pregnancy (Normatif), tetapi menganjurkan safe abortion (Pragmatis).

Setuju pencegahan unwanted pregnancy, asal disertai dgn pemberian kontrasepsi kepada semua yang membutuhkan, termasuk remaja (Pragmatis).

Harus diakui bahwa pendekatan pragmatis lebih efektif dan efisien dibandingkan dgn normatif. Bagaimana kita harus mensikapi masalah ini ? Sejauh mana kita harus mengikuti globalisasi ini, tanpa mengorbankan norma dan budaya kita yg baik.

ISU-2 BIOETIKA DALAM PELAYANAN KESEHATAN


MakroBioetika : Keputusan terletak pada pengambil kebijakan tertinggi : Pemerintah/DPR, MenKes, Direktur RS. Contoh : Euthanasia, surrogate mother, kloning manusia, keadilan utk semua orang dlm pelkes

MikroBioetika = Etika Klinik 1. Hubungan Dokter-Penderita Isu negatif makin banyak dan makin terbuka. Bersifat kasuistik, bukan merupakan aib seluruh profesi dokter.

Penyebab multifaktor & kompleks Pergeseran paradigma Tuntutan otonomi meningkat Penghayatan dokter ttg Bioetika masih kurang. Masyarakat yg makin materialistik, termasuk dokter.

2. Wawasan Bioetika Barat sebagai Isu. Sikap Teleologis dapat menimbulkan benturan budaya dan norma. Kita harus segera mempunyai Bioetika, perspektif Indonesia, yg lebih mengedepankan Norma, sedangkan Pragmatis sebaiknya merupakan pengecualian.

Apakah isu negatif ini dapat dihilangkan ? Tidak mungkin, karena penyebabnya multifaktor, kompleks dan akan selalu ada. Yang dapat/harus dilakukan adalah upaya terus menerus utk menguranginya.

UPAYA PERBAIKAN
KEMBALI KEPADA FITRAH, YAITU MENJAGA PROFESIONALISME : 1. Ilmu dan bioteknologi mutakhir 2. Ketrampilan yg sesuai dgn Standar Profesi. 3. Niat, Sikap dan perilaku yg Etis, yg dapat diterima oleh semua pihak. 4. Manajer yang baik.

2.

3.

CARANYA : 1. Penyempurnaan Kurikulum Bioetika secara terstruktur. Long Life Education, baik melalui organisasi maupun refleksi diri. Sosialisasi berkala kpd masyarakat ttg profesi dokter. 4. Mohon ridla Allah SWT.