Anda di halaman 1dari 55

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Meningkatnya usia angka harapan hidup orang Indonesia mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit degeneratif dan metabolik, termasuk osteoporosis akan menjadi problem musculoskeletal yang memerlukan perhatian yang khusus, di Negara-negara yang berkembang termasuk Indonesia. Pada survey kependudukan tahun 1990, ternyata jumlah penduduk yang berusia 55 tahun lebih mencapai 9,2%, meningkat 50% dibandingkan survey tahun 1971 (ipd jilid 3). Osteoporosis adalah istilah umum untuk suatu penyakit tulang yang menyebabkan berkurangnya jumlah jaringan tulang dan tidak normalnya struktur ata bentuk dari mikroskopis tulang. (Felicia cosman). Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas pada massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah (ipd jilid 3)

Usia lanjut atau proses menua adalah sebuah tahap akhir dari kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihalangi , Secara Individu, pada

seseorang yang berada pada usia diatas 55 tahun terjadi proses penuaan secara alamiah yang nantinya akan menimbulkan masalah- masalah seperti pada fisiknya, mental, sosial, ekonomi, dan psikologisnya. Salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian yang serius pada masa lanjut usia adalah osteoporosis.

Osteoporosis atau yang lebih dikenal dengan tulang keropos adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan massa tulang dan kerusakan mikro arsitektur jaringan tulang yang mengakibatkan tulang rapuh dan mudah patah (siagin). Pada penyakit osteoporosis ini dimana tulang akan menjadi rapuh atau

pengeroposan dimana sama seperti penyakit kronis, awal mulanya tulang rapuh dan lama kelamaan tulang akan menjadi patah (fraktur). (Lane 2001). Berbagai macam osteoporis ini dapat disebabkan salah satunya dengan kurangnya asupan kalsium,contohnya dalam kegiatan sehari- hari seperti kurangnya paparan sinar matahari, dimana sinar matahari tersebut banyak mengandung vitamin D yg sangat baik untuk tulang kita, kurangnya minum susu yang berkalsium tinggi, olahraga yang tidak pernah/ jarang dan juga penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka yang panjang dapat menyebabkan kerapuhan tulang/ kepadatan massa tulang yang

penyebab awalnya kurang bisa diketahui secara jelas(Lane, 2001 ). Hal ini terbukti dengan rendahnya asupan konsumsi kalsium rata-rata di Indonesia yang hanya 254mg perhari dari 1000-1200 mg per hari menurut standar Internasional (depkes, 2005 ). Massa tulang maksimum jumlah tulang tertinggi yang dimiliki seseorang selama hidupnya- biasa diperoleh pada usia 25 tahun. Tulang yang bisa diperoleh pada tahap ini ditentukan oleh faktor genetik seseorang. Kemungkinan ada beberapa gen yang berperan. Factor genetik sepperti jenis kelamin dan ras merupakan faktor penting yang menentukan massa tulang maksimum. Massa tulang pria sekitar 5-10

persen lebih tinggi dari wanita. Orang kulit hitam memiliki massa tulang yang lebih tinggi dari orang kulit putih. Faktor gaya hidup yang sangat bagus seperti nutrisi keseluruhan dengan asupan kalsium yang mencukupi serta olahraga rutin dapat membantu anak muda mendapat massa tulang maksimum sesuai potensi genetiknya. Mempunyai periode menstruasi juga penting bagi seorang wanita muda agar bisa mencapai massa tulang maksimum.(FELICIA) Osteoporosis sebenarnya dapat dicegah sejak dini atau paling sedikit ditunda kejadiannya dengan membudayakan perilaku hidup sehat yang intinya mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang dan memenuhi kebutuhan nutrisi dengan unsur kaya serat, rendah lemak, dan kaya akan perhari).(Lane, 2001, dan Felicia) Menurut WHO (1994) angka kejadian patah tulang (fraktur) akibat osteoporosis diseluruh dunia mencapai angka 1,7 juta orang dan diperkirakan angka ini akan terus meningkat hingga mencapai 6,3 juta orang pada tahun 2050 dan 71% kejadian ini akan terdapat di Negara-negara berkembang. Di Indonesia 19,7% dari jumlah lansia atau sekitar 3,6 juta orang diantaranya menderita osteoporosis lebih tinggi adalah Sumatera Selatan (27,7%), Jawa Tengah (24,02%), Yogyakarta (23,5%), Sumatera Utara (22,82%), Jawa Tmur (21,42%), Kalimantan Timur (10,5%) (8). Patah tulang osteoporosis telah menjadi suatu ancaman, hampir 24% dari lansia yang mengalami patah tulang pinggul meninggal dunia pada tahun pertama, sedangkan 50% mempunyai resiko tidak bias melakukan aktivitas seumur hidup, dan 25% memerlukan perawatan jangka panjang dan butuh dana yang besar serta tidak akan bias hidup tanpa bantuan orang lain(lane, 2001, yatim 2000). kalsium (1000-1200 mg kalsium

Menurut Notoadmojo(2005), pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi perilakunya, semakin baik pengetahuannya maka perilakunya pun akan semakin baik dan pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sumber informasi dan pengalaman. Pengetahuan merupakan hasil dari penggunaan panca indra yang didasarkan atas intuisi dan kebetulan, otoritas dan kewibawaan, tradisi dan pendapatan umum(efendy 2006). Menurut soejoed 2005 dalam kristiana 2008), salah satu factor yang dapat menyebabkan timbulnya perubahan, pemahaman sifat dan perilaku seseorang, sehingga seseorang mau mengadopsi perilaku yang baru. Yaitu kesiapan psikologis, yang ditentukan oleh tingkat pengetahuan . Dijelaskan pula oleh Green dkk(2000 dalamkristiana 2008), bahwa pengetahuan merupakan salah satu factor predisposisi . Meilani 2007 dan Ashar (2008) bahwa terdapat hubungan substansial antara pengetahuan dengan upaya-upaya pencegan dini osteoporosis. dalam penelitiannya mengenai pengaruh pengetahuan dan upaya lansia terhadap derajat osteoporosis menyatakan lansia yang kurang pengetahuannya mengenai osteoporosis dan upaya yang kurang tepat mempunyai resiko lebih tinggi untuk meningkatnya derajat osteoporosis dapat mencegah meningkatnya osteoporosis( ashar,2008). Maka dari itu penulis tertarik untuk mengetahui dan meneliti lebih jauh mengenai hubungan pengetahuan terhadap pencegahan osteoporosis yang dilakukan pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan hal tersebut, maka pertanyaan dalam penelitian ini yaitu Bagaimana hubungan antara tingkat pengetahuan lansia dan pencegahan osteoporosis pada Lansia?

1.3 Tujuan Penelitan 1.3.1 Tujuan Umum Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana hubungan antara pengetahuan lansia terhadap pencegahan osteoporosis yang dilakukan pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa, Bandar Lampung. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui tingkat pengetahuan lansia tentang osteoporosis di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung; 2. Mengetahui pencegahan osteoporis yang dilakukan pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung; 3. Mengetahui langkah pencegahan osteoporosis yang meliputi pengurangan, faktor resiko, nutrisi dan olahraga; 4. Mengetahui pengaruh tingkat pendidikan lansia terhadap cara pencegahan osteoporosis. 1.4 Manfaat penelitian A.Manfaat teoritis. 1.Untuk menambah wawasan tentang hubungan pengetahuan dan pencegahan osteoporosis pada lansia dibidang Ilmu kedokteran 2.Memberikan informasi yang ilmiah mengenai apakah ada hubungan pengetahuan dan pencegahan osteoporosis pada lansia

B.Manfaat praktis 1. Untuk menjadi bahan masukan kepada osteoporosis pada Lansia agar tetap selalu menjaga kesehatan fisiknya 2. Menjadi bahan informasi bagi para lansia pentingnya pengetahuan dan pencegahan tentang osteoporosis 3. Dapat menjadi acuan dan referensi pembanding bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

1.5 Kerangka Konsep Kerangka konseptual penelitian ini menjelaskan adanya hubungan antara pengetahuan mengenai osteoporosis (pengertian, patifisiologi, factor resiko) terhadap pencegahan osteoporosis yang dilakukan lansia (terapi medikasi, pengaturan pola makan, olahraga, konsultasi dengan petugas kesehatan) (Lane, 2001). Pengetahuan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sumber informasi, dan pengalaman

(Notoadmojo,2005), sedangkan tingkat pengetahuan dan kepercayaan, tekanan positif kelompok dan individu, dan dukungan lingkungan pencegahan dapat ditentukan atau dipengaruhi oleh kesiapan psikologis yang (Soejati,2005 dalam Kristina dkk, 2008).

OSTEOPOROSIS LANSIA

Tingkat Pendidikan lansia Pengetahuan Lansia mengenai Osteoporosis Upaya pencegahan Osteoporosis yang dilakukan Lansia

Skema 1.Kerangka konseptual penelitian hubungan pengetahuan terhadap pencegahan osteoporosis yang dilakukan oleh lansia.

1.6 Definisi Konseptual dan Operasional 1.6.1 Definisi Konseptual Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu ( Notoadmojo, 2005). Pencegahan adalah suatu proses, cara, perbuatan/ perilaku/ tindakan mencegah (Depdiknas, 2005). Pencegahan osteoporosis yaitu suatu proses atau perilaku mencegah berkurangnya massa pada tulang (Lane, 2001). Menurut WHO (1994) osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat menurunnya kekuatan tulang dan meningkatnya kerapuhan pada tulang serta resiko terjadinya patah tulang. 1.6.2 Definisi Operasional

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui lansia yang ada diwilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung, mengenai pengertian osteoporosis, patofisiologi, serta faktor resiko. Pengertian osteoporosis yaitu apa yang dimaksud dengan osteoporosis dan apakah osteoporosis itu bias dicegah atau tidak, patofisiologi osteoporosis yaitu mengapa osteoporosis bias terjadi, faktor resiko osteoporosis yaitu hal-hal yang menyebabkan seseorang memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita osteoporosis seperti usia, jenis kelamin, dan ras; faktor keturunan dan reproduktif; bentuk tubuh; gaya hidup; pemasukan kalsium dan vitamin D dan Diet. Pencegahan adalah semua tindakan yang dilakukan untuk mencegah osteoporosis yang dilakukan lansia diwilayah kerja puskesmas Rajabasa Bandar Lampung dalam kurun waktu satu bulan terakhir seperti terapi medikasi, pengaturan pola makan olahraga dan konsultasi dengan petugas kesehatan. Terapi medikasi yaitu pencegahan yang dilakukan dengan meningkatkan asupan kalsium baik melalui susu ataupun suplemen tambahan kalsium, dan peningkatan penyerapan vitamin D seperti berjemur dipagi hari atau melakukan kegiatan-kegiatan yang terpapar dengan sinar matahari. Pengaturan pola makan yaitu makan seimbang dengan cukup sayur dan buah, serta mengurangi penggunaan garam, kopi, rokok, dan alkohol. Olahraga yaitu aktivitas atau latihan yang biasa dilakukan . Konsultasi dengan petugas kesehatan yaitu menanyakan kepada petugas kesehatan bila mengalami nyeri dipinggang atau bila memiliki resiko mengalami osteoporosis.

1.7 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pemaparan diatas , penulis merumuskan hipotesis penelitian kedalam bentuk pernyataan sebagai berikut : Hipotesis Alternatif (Ha) : Terdapat hubungan yang signifikan tentang pengetahuan dan pencegahan osteoporosis pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung. Hipotesis Nol (Ho) : Tidak terdapat hubungan yang signifikan tentang pengetahuan dan pencegahan osteoporosis pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Landasan Teori 2.1 Definisi Pengetahuan Menurut Notoadmojo(2005), pengetahuan adalah hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan adalah sesuatu yang ada secara niscaya pada diri manusia. Keberadaanya diawali oleh kecenderungan psikis manusia sebagai bawaan kodrat manusia, yaitu dorongan ingin tahu yang bersumber dari kehendak atau kemauan (suhartono suparlan,2008) Jujun S. Suriasumantri (2005:104) mendefinisikan pengetahuan dengan segenap apa yang diketahui tentang suatu obyek tertentu, termasuk didalamnya ilmu. Menurut Surajiyo (2007:26), Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu obyek yang dihadapinya. Atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Selanjutnya Surajiyo (2007) membagi pengetahuan dalam dua jenis :

a. Pengetahuan ilmiah; adalah segenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. b. Pengetahuan non-ilmiah; adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara yang tidak termasuk kategori metode ilmiah. Dari uraian diatas dapatlah dipahami bahwa pengetahuan didapat dari rasa ingin mengetahui tentang obyek tertentu kemudian yang didapat dengan dan tanpa menggunakan metode ilmiah serta dirasakan melalui pengalaman indrawi.

2.2 Tingkat pengetahuan Tingkat pengetahuan Menurut Notoadmojo (2005) yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat, yaitu : A. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah, biasanya digunakan kata kerja menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan dan sebagainya. B. Memahami (comprehention) Memahami adalah merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secarabenar . Orang yang sudah memahami suatu materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyimpulkan,dan sebagainya terhadap objek yang telah dipelajari.

C. Aplikasi (application)

Merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya . Misalnya pada penggunaan hokumhukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam situasi atau kasus lain.

D. Analisis (analysis) Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur organisasi dan berkaitan satu sama lainnya. Misalnya kemampuan untuk memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

E. Sintesis (synthesis) Diartikan sebagai kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian didalam suatu bentuk keseluruhanyang baru, Artinya sintesis itu adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. Misalnya dapat menyusun, merencankan, meringkas, menyesuaikan dan sebagainya terhadapsuatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

F. Evaluasi (evaluation) Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek atau materi. Penilaian tersebut didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri ataupun yang telah ada. Misalnya membandingkan antara orang yang menggunakan obat secara rasional dan tidak rasional dan sebagainya.

2.3 Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Notoadmojo (2005) . Pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu : 1.) Pendidikan Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berartiterjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang padar diri individu, keluarga, dan pada masyarakat.

2.) Persepsi Persepsi yaitu mengenal dan memilih objeksehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

3.) Motivasi Motivasi yaitu merupakan suatu dorongan, keinginan dan tenaga penggerak yang berasal dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dengan mengesampingkan hal-hal yang dianggap kurang bermanfaat . Agar motivasi muncul diperlukan suatu rangsangan dari dalam maupun dari luar pada individu.

4.) Pengalaman Pengalaman adalah sesuatu yang dirasakan (diketahui, dikerjakan) juga merupakan kesadaran akan suatu hal yang tertangkap oleh indera manusia.

2.4 Osteoporosis Osteoporosis dan massa tulang yang rendah saat ini diperkirakan merupakan ancaman kesehatan yang serius bagi hampir 44 juta wanita dan pria berusia lima

puluh tahun atau lebih di Amerika Serikat. Satu di antara dua wanita Kaukasia dan Asia berpeluang mengalami patah tulang karena osteoporosis. Sementara pada pria Kaukasian, satu banding empat. Sedang wanita kulit hitam, mempunyai risiko yang sama dengan pria kulit putih, dan pria kulit hitam mempunyai risiko paling rendah, meskipun tetap saja besar. Risiko wanita mengalami patah tulang pinggul sama dengan risiko wanita tersebut menderita kanker payudara, rahim, ovarium, digabungkan menjadi satu.(Felicia) Osteoporosis adalah istilah umum untuk suatu penyakit tulang yang menyebabkan berkurangnya jumlah jaringan tulang dan tidak normalnya struktur atau bentuk mikroskopis tulang. Kuantitas dan kualitas tulang yang tidak normal membuat tulang tersebut lemah dan mudah patah, bahkan ketika mengalami trauma ringan. Tidak ada bukti terdokumentasi yang menyatakan bahwa keropos tulang atau berkurangnya jaringan tulang yang tidak disertai kejadian patah tulang- berkaitan dengan rasa sakit atau gejala-gejala lainnya. Ini berarti osteoporosis tidak menunjukkan gejala-gejala, tetapi hanya akibat-akibat seperti patah tulang atau rasa sakit kronis yang menyertainya, kelainan bentuk tubuh, dan kelumpuhan (Felicia) Osteoporosis menyebabkan tulang lemah sehingga membuat tulang mudah retak atau patah hanya karena trauma ringan. Patah tulang pinggul dan tulang belakang adalah akibat osteoporosis Yang konsekuensinya paling parah, tetapi patah tulang apapun dapat terjadi. Meskipun patah tulang belakang dapat mengakibatkan sakit punggung yang parah secara mendadak, banyak peristiwa patah tulang ini terjadi tanpa disertai peringatan sebelumnya. Pada akhirnya, patah tulang belakang sering mengakibatkan tubuh memendek, kelainan bentuk tubuh, rasa sakit kronis, kesulitan bernafas, perut buncit dan sakit perut. Patah tulang pinggul berkaitan dengan tingginya tingkat kematian setelah terjadinya patah tulang tersebut dan sering

menyebabkan hilangnya kemandirian serta kelainan bentuk tubuh yang permanen. Pasien yang dikirim ke panti jompo kebanyakan didiagnosis mengalami patah tulang jenis ini.(Felicia) Penting sekali membedakan antara osteoporosis dan osteoarthritis.

Osteoporosis adalah penyakit yang menyebabkan tulang menjadi lemah dan mudah patah, sedangkan osteoarthritis adalah penyakit yang merusak sendi-sendi tulang, tulang persendian yang berisi tulan rawan, jaringan penghubung lainnya, dan zat yang berfungsi sebagai peredam. Tulang sendi menjadi bengkak, meradang, dan berubah bentuk, tulang rawan terkikis, dan ada kemungkinan muncul tonjolan tulang (sepotong kecil jaringan tulang di luar batas tulang yang normal). Penyebab dan pengobatan untuk osteoarthritis sangat berbeda dengan osteoporosis meskipun banyak orang yang menderita kedua penyakit tersebut. Terkadang arthritis merupakan dampak patah tulang atau penyembuhan patah tulang- keduanya dapat mengekibatkan tekanan yang tidak normal pada tulang sendi . (Felicia cosman) Osteoporosis merupakan suatu penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh penurunan densitas massa tulang dan perburukan mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. (ipd jilid III). Osteoporosis merupakan suatu keadaan dimana tulang menjadi keropos, tanpa merubah bentuk atau struktur luar tulang, namun daerah didalam tulang tersebut menjadi berlubang-lubang, sehingga jadi mudah patah. (Roesma,2006). Menurut WHO (1994), osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat menurunnya kekuatan pada tulang dan meningkatnya kerapuhan tulang serta resiko terjadinya patah tulang. Sebenarnya

istilah osteoporosis telah dikenal sejak zaman Yunani kuno, osteo yang berarti tulang dan porosi berarti lubang atau tulang yang berlubang (Roesma,2006).

2.5 Patofisiologi osteoporosis Semua bagian tubuh berubah seiring dengan bertambahnya usia, begitu pula dengan rangka tubuh. Mulai dari lahir hingga mencapai usia dewasa, atau kira-kira 30 tahun, jaringan tulang yang dibuat lebih banyak dari pada yang hilang, namun setelah 30 tahun situasinya mulai berbalik , jaringan tulang yang hilang lebih banyak dari pada yang dibuat (Lane, 2001). Kekuatan tulang berasal dari dua sumber yaitu bagian luar yang padat (korteks) yang beratnya 80% dari massa tulang dan bagian dalam yang halus seperti spons yang disebut dengan trabekular (20% dari massa tulang) dan jaringan dasar tulang mengandung sel-sel tulang (osteosit) , yang terdiri dari osteoklas (penghancur) dan osteoblas (pembentuk) (roesma, gomez2006).

Siklus resorbsi dan pembentukan pada tulang terjadi sepanjang hidup, pada masa kanak-kanak pembentukan tulang lebih banyak daripada proses resorbsi tulang, namun keadaan ini mulai menurun secara bertahap selama masa dewasa muda dan pada usia 25-35 tahun kedua proses ini berada dalam keseimbangan, sampai pada akhirnya proses resorbsi lebih banyak daripada pembentukan tulang, yang biasanya dimulai pada usia 35 tahun, sehingga secara bertahap jaringan tulang akan menghilang bersamaan dengan kandungan mineralnya (kalsium) terutama pada bagian trabekularnya (Gomez,2006).

Pada wanita menopause tingkat esterogen menurun sehingga system remodeling tulang berubah dan pengurangan jaringan tulang dimulai karena salah

satu fungsi esterogen adalah mempertahankan tingkat remodeling tulang yang normal, sehingga ketika kadar esterogen mulai menurun, tingkat resorbsi tulang menjadi lebih tinggi daripada formasi tulang yang mengakibatkan berkurangnya massa pada tulang (Lane, 2001).

2.6 Faktor resiko osteoporosis Osteoporosis merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial. Umur dan densitas tulang merupakan factor resiko osteoporosis yang berhubungan erat dengan resiko terjadinya fraktur osteoporotik. Fraktur osteoporotik akan meningkat dengan meningkatnya umur. Insiden fraktur pergelangan tangan meningkat secara bermakna setelah umur 50-an, fraktur vertebrae setelah umur 60-an dan fraktur panggul setelah umur 70-an . Pada perempuan, resiko fraktur dua kali lipat jika dibandingkan dengan laki-laki pada umur yang sama dan dengan lokasi fraktur tertentu. Karena harapan hidup perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki, maka prevalensi fraktur osteoporotic pada perempuan akan menjadi jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan laki-laki (ipd jilid 3) Tabel 1. Faktor resiko osteoporosis

Umur Setiap peningkatan umur 1 dekade berhubungan dengan peningkatan resiko 1,4-1,8

Hormon endogen dan penyakit kronik Defisiensi esterogen,Defisiensi androgen Gastrektomi,sirosis, tirotoksikosis, hiperkortisolisme

Genetik Etnis(Kaukasus/Oriental) >orang hitam / polinesia

Lingkungan Makanan, defisiensi kalsium Aktivitas fisik dan pembebanan -

Sifat fisik pada tulang Densitas massa tulang

2.6.1 Faktor Resiko Usia, Ras, dan Jenis kelamin Usia, jenis kelamin dan Ras merupakan factor penentu utama dari massa tulang dan dan resiko terjadinya patah tulang. Osteoporosis dapat terjadi pada semua usia, namun hal ini lebih banyak terjadi pada orang yang lanjut usia. Kita semua akan mengalami kehilangan kepadatan tulang seiring dengan usia kita, namun beberapa dari kita kehilangan lebih banyak ataupun lebih cepat. Tidak benar jika seorang lansia akan mengalami osteoporosis namun osteoporosis memang lebih sering terjadi pada lansia (National Osteoporosis Foundation, 2008). Risiko pada wanita yang lebih besar dibandingkan pada pria berhubungan dengan bentuk badan yang lebih kecil, ukuran tulang yang lebih kecil, massa tulang yang lebih rendah, dan pengeroposan tulang yang lebih besar pada usia paruh baya yang disebabkan menopause. Tahun-tahun awal pascamenopause terkait dengan meningkatnya risiko terjadinya patah pergelangan tangan dan ruas tulang belakang. Sementara frekuensi terjadinya patah pergelangan tangan tidak meningkat seiring bertambah tuanya seorang wanita, hampir semua jenis patah tulang lain yang disebabkan oleh osteoporosis meningkat seiring bertambahnya usia. Penelitian di University of Arkansas menunjukkan fakta yang menakutkan: 15% mahasiswi di Amerika Serikat kehilangan cukup banyak massa tulang yang

mening katkan

risiko terkena osteoporosis; sedangkan 2% dipastikan mengidap

osteoporosis. Bahkan anak-anak juga mulai terancam: anak perempuan 56% lebih berisiko patah tulang lengan dibanding 30 tahun lalu. Penyebabnya adalah kurangnya asupan kalsium pada anak-anak zaman sekarang. Intinya, wanita bertubuh kurus cenderung lebih mudah kehilangan kepadatan tulang pada usia muda. Karena berdasarkan penelitian di atas, kebanyakan wanita osteoporosis bertubuh ramping. Jangankan orang awam. Para ahli kesehatan pun menganggap osteoporosis adalah penyakit lansia, cetus Susan Brown Ph.D, direktur organisasi nonlaba Foundation for Better Bones di East Syracuse, New York. Banyak dokter me nganggap tak perlu memeriksa kekuatan tulang saat ada perempuan muda me ngalami patah tulang. Padahal, kemungkinan osteoporosis selalu ada. Bahkan menurut Susan, di Amerika, lembaga konsultan untuk Departemen Kesehatan AS The US Preventive Services Task Force hanya merekomendasikan cek kekuatan tulang dengan sinar X pada perempuan berusia 65 tahun ke atas. Oleh karena itu, sudah saatnya dunia menghapus anggapan bahwa osteoporosis adalah penyakit nenek-nenek.( Felicia)

Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Delapan puluh persen, atau empat dari lima pada sepuluh juta orang Amerika osteoporosis terjadi pada wanita . Ada beberapa alasan mengenai hal ini. Wanita memiliki tulang yanglebih tipis dan lebih kecil. Mereka juga kehilangan massa tulang dengan cepat setelah menopause. Kenyataannya faktor resiko osteoporosis pada wanita sama dengan pada faktor resiko kanker payudara, kanker ovarium dan kanker rahim. Namun ini bukan berarti osteoporosis tersebut adalah penyakitnya wanita. Dua puluh persen , atau dua juta orang darisepuluh juta penderita osteoporosis adalah pria.

Pria berusia diatas 50 tahun lebih seringterjadi patah tulang osteoporosis dibandingkan terjadinya kanker prostat (National Osteoporosis Foundation,2008). Umumnya ras campuran Afrika- Amerika memiliki massa tulang tertinggi, sedangkan ras kulit putih, khususnya dari Eropa Utara, memiliki massa tulang yangterendah (Lane,2001).

Tabel 2 Faktor resiko fraktur panggul (ipd 3jilid) Terjatuh Penurunan respon protektif = kelainan neuromuscular, gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan Gangguan penyediaan energy= Malabsorbsi Peningkatan fragilitas tulang= Densitas massa tulang rendah Hiperparatiroidisme

2.6.2 Faktor Keturunan dan Reproduktif Faktor genetika juga memiliki kontribusi terhadap massa tulang . Anak perempuan dari wanita yang mengalami patah tulang osteoporosis rata-rata memiliki massa tulang yang lebih rendah dari normal usia mereka (3-7 %) lebih rendah) sedangkan wanita yang mengalami menopause diniakan memiliki massa tulang yang rendah dan efeknya tetap bertahan sampai usia tua, hal ini dikarenakan pada wanita , esterogen untuk melindungi tulang . Jika pada seorang wanita mengalami menopause lebih awal maka resiko terkena osteoporosisnya pun akan semakin besar. Hal yang

sama juga akan terjadi pada wanita yang mengalami pengangkatan ovarium, dikarenakan banyak esterogen tubuh diproduksi oleh ovarium (National Osteoporosis Foundatiom, 2008). Pada seorang pria, testosteron yang melindungi tulang. Rendahnya kadar hormon tersebut dapat mengakibatkan tulang menjadi rapuh. Banyak penyebab rendahnya hormone testosteron, termasuk kurangnya asupan makanan dan konsumsi alkoholyang berlebihan (National Osteoporosis Foundation,2008) Jika seorang wanita memiliki siklus haid yang tidak teratur, dapat diasumsikan bahwa wanita tersebut memiliki kadar esterogen yang rendah. Ada banyak alasan dalam hal ini, misalnya aktifitas yang terlalu banyak atau kurangnya asupan makanan pada wanita yang badannya ingin selalu tampak kurus. Penyebab lainnya termasuk gangguan pada ovarium atau kelenjar pituitari, yang bertugas menstimulus pembentukan eterogen di ovarium. Kehilangan esterogen dan bentuk tubuh yang sangat kurus dapat mengganggu kesehatan tulang , yang nantinya akan berefek pada system vital tubuh, oleh karena itu wanita yang memiliki siklus haid yang tidak teratur harus mengkonsultasikan hal tersebut pada petugas kesehatan (National Osteoporosi Foundation, 2008). 2.6.3 Peranan esterogen pada tulang Esterogen merupakan regulator pertumbuhan pada tulang dan homeostasis tulang yang penting. Esterogen memiliki efek langsung dan tak langsung pada tulang. Efek tak langsung meliputi esterogen terhadap tulang berhubungan dengan homeostasis kalsium yang meliputi regulasi absorbs kalsium diusus,ekskresi Ca di ginjal dan sekresi hormone paratiroid (PTH). Terhadap sel-sel tulang, esterogen memiliki

beberapa efek seperti meningkatkan formasi tulang dan menghambat resorbsi tulang oleh osteoklas.(ipd jilid 3). Estrogen adalah hormon yang diproduksi terutama oleh ovarium. Selain memberikan efek pada system roproduksi, estrogen penting untuk memelihara kesehatan tulang dan metabolism tulang yang normal. Sudah lama diketahui bahwa pengobatan estrogen yang sering disebut juga terapi sulih estrogen (estrogen replecemant therapy/ ERT atau ET) atau terapi sulih hormon/ TSH (hormone replacement theraphy/ HRT atau HT) mengembalikan laju pembentukan tulang ke tingkat sehat seperti pada wanita muda yang menstruasinya normal. Hal yang mengejutkan kemudian adalah penemuan salah satu badan riset besar, Womens Health Initiative (WHI) di Amerika pada Juli 2001. Terapi yang diharapkan mampu meredakan gejala-gejala menopause, mencegah osteoporosis dan kanker usus ini ternyata bisa menyebabkan meningkatnya risiko kanker payudara, stroke, dan penyumbatan darah (risiko penyakit jantung dan stroke). Seorang bioethics dan sosiolog, Sara Rosenthal, menawarkan pandangan yang berbeda tentang HRT ini. Dengan HRT yang menggunakan phtoestrogen (estrogen dari tumbuhan), ia memberikan solusi lengkap yang mendukung bahwa HRT jenis ini dapat membantu wanita mengatasi masalah pramoenopause, perimenopause, menopause, dan postmenopause.

2.6.4 Bentuk Tubuh Berat badan yang ringan, indeks massa tubuh yang rendah, dan kekuatan tulang yang menurun berkaitan dengan berkurangnya massa tulang. Wanita yang

kelebihan berat badan menempatkan tekanan yang lebih besar pada tulangnya sehingga merangsang pembentukan tulang yang baru dan meningkatkan massa tulang. 2.6.5 Gaya Hidup Kebiasaan- kebiasaan seperti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, dan aktif secara fisik sangat mempengaruhi kesehatan pada tubuh kita, Tembakau dapat meracuni tulang dan menurunkan kadar esterogen dan testosteron akibatnya perokok memiliki kemungkinan satu setengah hingga dua kali lipat lebih besar akan mengalami patah tulang karena osteoporosis sedangkan alkohol itu sendiri selain dapat meracuni tulang secara langsung juga dapat mengurangi massa tulang melalui nutrisi yang buruk. Latihan beban menekan rangka tulang dan dapat menyebabkan tulang berkontraksi sehingga merangsang pembentukan tulang, sebaliknya ketidakaktifan karena istirahat ditempat tidur yang berkepanjangan dapat mengurangi massa tulang (National Osteoporosis Foundation, 2008). 2.6.6 Pemasukan Kalsium dan Vitamin D Kalsium adalah komponen penting dari tulang, jadi dapat dipastikan makanan yang berkalsium rendah berarti tulang yang tidak sehat ditambah lagi dengan ketika seseorang bertambah usia, kemampuan untuk menyerap kalsium dari system gastrointestinal menurun, begitu pula dengan tulang yang kekurangan vitamin D . 2.6.7 Diet Diet yang burukbiasanya memperlambat pubertas dan pubertas yang tertunda merupakan faktor resiko dari osteoporosis. Penggunaan garam yang berlebih dapat merusak tulang, garam dapat memaksa keluar kalsium melalui urin secara berlebihan.

Pemakaian garam yang dianjurkan tidak melebihi 100 mmol atau 6 gram/hari. Bahan makanan yang diolah seperti kecap, margarine/mentega, keju, terasi, dan bahan-bahan makanan yang diawetkan tidak boleh terlalu banyak dikonsumsi karena banyak mengandung garam (Hartono, 2000). 2.6.8 Obat- Obat Yang Mengakibatkan Osteoporosis Terdapat beberapa obatan yang jika digunakan untuk waktu yang lama mengeluh pergantian tulang dan meningkatkan resiko osteoporosis. Obat-obat tersebut dapat mencakup Steroid, hormon thyroid, dan thyroxin, antikonvulsan, dan antikoagulan. Hormon thyroid yang berlebihan dapat mengakibatkan pergantian pada tulang menjadi lebih cepat yang mengakibatkan lebih banyak resorbsi tulang daripada formasi dan massa tulangpun berkurang.

Skema 1 Osteoporosis karena pemberian steroid

2.7Jenis-Jenis Osteoporosis Osteoporosis dapat dikelompokkan menjadi osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder. 2.7.1 Osteoporosis Primer Osteoporosis yang penyebabnya tidak berkaitan dengan penyakit lain, berhubungan dengan berkurangnya dan atau terhentinya produksi hormon (wanita) disamping bertambahnya usia . Osteoporosis Primer terbagi dalam : a. Osteoporosis Tipe I Disebut juga Osteoporosis idiopatik (post- menopausal osteoporosis/ pasca menopause), osteoporosis ini biasa terjadi pada dewasa muda dan pada usia tua, baik pria maupun wanita. Osteoporosis tipe I ini berkaitan dengan perubahan hormon setelah menopause. Pada Osteoporosis tipe ini terjadi penipisan bagian keras tulang paling luar (korteks) dan perluasan rongga tulang (trabekula). b. Osteoporosis Tipe II Pada Osteoporosi tipe II ini, disebut juga osteoporosis senilis( senile osteoporosis/ involutional osteoporosis), disebabkan oleh gangguan absorbs kalsium diusus sehingga dapat menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder yang mengakibatkan timbulnya osteoporosis. Belakang konsep itu berubah, karena ternyata peran esterogen juga menonjol pada osteoporosis tipe II. Selain itu pemberian kalsium dan vitamin D pada osteoporosis tipe II juga tidak

memberikan hasil yang adekuat. Akhirnya pada tahun 1990-an Riggs dan Melton memperbaiki hipotesisnya dan mengemukakan bahwa esterogen menjadi faktor yang sangat berperan pada timbulnya osteoporosis primer, baik pasca menopause maupun senilis.

Skema 3 Patogenesis Osteoporosis Tipe II dan fraktur (ipd jilid3)

2.7.2 Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis sekunder dapat disebabkan berbagai jenis penyakit tulang (kronik rheumatoid arthritis, tbc spondilitis, osteo malacia, dll), pengobatan dengan penggunaan kortikosteroid untuk waktu yang lama, astronot tanpa gaya berat, paralise otot, tidak bergerak untuk periode yang lama, hiperthiroid,dll). 2.8 Pencegahan Osteoporosis Semua orang harus mengetahui hal yang bisa mereka lakukan untuk mencegah penyakit kronis, termasuk osteoporosis. Semakin dini langkah pencegahan yang dilakukan, semakin besar dampaknya pada pengurangan risiko penyakit di kemudian hari. Namun tidak ada kata terlambat dalam megembangkan perilaku yang mementingkan kesehatan tulang. Dasar tindakan pencegahan adalah dengan mengurangi faktor risiko, mengoptimalkan nutrisi, dan berolahraga secara rutin. 2.8.1 Langkah Pertama Merokok Kebiasaan pertama dan terpenting dalam daftar kebiasaan yang merusak tulang adalah merokok. Merokok meningkatkan risiko patah tulang panggul sebesar 100 persen. Merokok secara langsung meracuni sel-sel pembuat tulang. Selain itu, merokok juga mengurangi kadar hormon estrogen dan dapat mengakibatkan menopause dini. Para perokok secara keseluruhan kuran melakukan aktivitas fisik, dan gaya hidup yang pasif adalah faktor risiko lain yang dapat menyebabkan osteoporosis. Hasil penelitian Krall dan Dawson-Hughes (1999), yang dilakukan pada pria dan wanita manula, menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berkaitan dengan kerapuhan tulang pada pangkal paha dan seluruh tubuh dan salah satu faktor yang berkontribusi adalah kurang efisiennya absorpsi kalsium. Selanjutnya hasil penelitian Vogt (1999), menemukan adanya zat antiestrogenik akibat merokok yang berperanan penting pada kerusakan tulang.

Obat-obatan Obat-obatan yang dapat mempengaruhi kesehatan tulang terutama meliputi hormon steroid dan tiroid. Steroid (disebut juga glukokortikoid atau kortikosteroid) adalah obat-obatan seperti prednisone, kortison, dan medrol. Selain digunakan untuk pengobatan penyakit paru-paru, obat jenis ini juga digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit autoimun, arthritis rematoid, lupus, reamtik polimeiagia, multiple skleriosi, penyakit radang usus, dan penyakit kanker tertentu. Dosis steroid harus diupayakan sekecil mungkin.Untuk hormon tiroid, indikasi yang menyebabkan penggunaan obot ini dalam dosis yang besar adalah penderita kanker tiroid dimana hormon tiroid bekerja dalam menekapertumbuhan tumor jinak kecil bernama nodulus. Sebenarnya, banyak orang menggunakan hormon tiroid untuk menggantikan hormon yang tidak diproduksi oleh kelenjar mereka sendiri kondisi yang disebut hipertiroidisme. Alkohol Mengonsumsi alkohol secara berlebihan mampunyai dampak yang sangat besar terhadap massa tulang. Pecandu alkohol menderita osteoporosis yang parah. Konsumsi alkohol dalam jumlah kecil atau sedang sebenarnya tidak memberikan efek negatif terhadap tulang. Sebab alkohol dalam jumlah kecil justru dapat meningkatkan massa tulang karena alkohol meningkatkan kadar estrogen rata-rata. Hidup Bahagia Hidup bahagia juga sangat penting. Nasihat ini terkesan klise, tetapi benar adanya. Mengapa? Bersedih hati itu tidak baik untuk tulang. Penelitian dari The National Institute of Mental Health di Amerika menunjukkan, wanita depresi secara signifikan mengalami pengurangan massa tulang pinggul dan tulang belakang dibanding teman-temannya yang lebih berbahagia. Karena saat depresi terjadi wanita

itu mengalami penurunan level protein yang memperkuat tulang dan level protein yang merusak tulang malah naik levelnya. Selain itu dalam keadaan depresi seseorang cenderung berdiam diri di rumah dan malas olahraga. Maka, ketika problem mendera dan hidup terasa berat, segeralah curhat dengan sahabat baik. Dengan begitu depresi tak sempat mampir. Perlu juga diperhatikan, untuk mengusir depresi, jangan sembarangan mengonsumsi obat anti depresi. Hasil penelitian menunjukkan obat anti depresi yang mengandung serotonin reuptake inhibitor (SSRI) seperti prozac dan Paxil, berisiko meningkatkan kerusakan tulang. Peneliti menemukan bahwa selain menurunkan kadar depresi, serotonin juga bisa menurunkan formasi massa tulang. Intinya, konsultasikan pada dokter mengenai penggunaan obat anti depresi ini.

2.8.2 LANGKAH KEDUA NUTRISI Pola makan pada remaja akan menentukan pertumbuhan fisik optimal yang akan dapat dicapai sesuai dengan potensi genetik yang dimiliki (Khomsan 2004). Dari hasil penelitian Tucker et al. (2002), pola makan yang lebih banyak buah dan sayuran dapat mempertahankan tulang dari kerusakan pada pria, sedangkan yang banyak mengonsumsi manisan diketahui mempunyai kepadatan tulang yang rendah baik pada pria maupun wanita manula (umur 69 93 tahun). Nutrisi yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan tulang. Pada anak-anak dan remaja, nutrisi tersebut termasuk kalori, protein, kalsium, dan vitamin D. Nutrisi tersebut merupakan nutrisi penting tulang. Kalsium Pada anak-anak dan remaja, asupan kalsium yang cukup dapat membantu memproduksi kepadatan massa tulang maksimum yang lebih tinggi. Sedangkan pada

orang dewasa (sampai awal 40 tahunan), asupan kalsium yang cukup dapat mempertahankan kepadatan tulang.

Tabel 3 Asupan Kalsium Optimal (Referensi: Asupan makanan, National Academy of Scince) Usia dalam Tahun 1-3 4-8 9-18 19-50 51 atau lebih Keperluan kalsium harian 500 mg 800 mg 1.300 mg 1.000 mg 1.200 mg

Berdasarkan tabel diatas, asupan kalsium yang cukup selama masa kanakkanak akhir (9=18 tahun) adalah yang tertinggi sepanjang fase hidup (1.300 mg), karena inilah saatnya remaja tumbuh sangat pesast dalam hal panjang atau tinggi tulang. Fase ini juga merupakan fase penimbunan mineral tulang, yang artinya jumlah tulang dan mineral tulang meningkat pesat meskipun volume tulang tetap (tulang semakin padat). Pengaruh makanan dari nutrisi lain pada keseimbangan kalsium Kalsium yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi dicerna dalam lambung, kemudian dikirimkan ke usus kecil tempat kalsium tersebut diserap ke dalam darah untuk digunakan dalam tubuh. Makanan-makanan tertentu dapat menurunkan penyerapan kalsium, termasuk kafein, serat gandum, phytate, oksalat, dan suplemen zat besi. Serat gandum adalah bagian penting dari pola makan karena dapat membantu mempertahankan tingkat kolesterol agar tetap rendah serta baik untuk

mempertahankan kesehatan usus besar. Jika mengonsumsi suplemen berserat, usahakan mengonsumsi makanan kaya kalsium di waktu yang berbeda. Makanan yang mengandung phytate termasuk buncis, kacang polong, biji-bijian, kacang, dan biji-biji sereal. Oksolat ditemukan dalam bayam, ubi manis, kelembek, bit swiss, dan buncis. Namun, dari perspektif kesehatan tulang, tidak ada alas an untuk menghindari konsumsi produk-produk ini, karena produk tersebut mempunyai nilai gizi yang penting dan asuoan kalsium yang cukup dari sumber lain akan mampu mengatasi pengaruh kecil bahan gizi ini pada penyerapan kalsium. Misalnya, kalsium dari bayam tidak bisa diserap dengan baik, tetapi kalsim dari sumber lain yang dikonsumsi bersama dengan bayam akan diserap dengan baik. Pil zat besi atau vitamin yang mengandung zat besi tidak boleh dikonsumsi bersama dengan kalsium karena kalsium menggangu penyerapan zat besi, demikian pula sebaliknya. Produk lain yang dapat mempengaruhi keseimbangan kalsium dalam tubuh adalah garam dan protein. Konsumsi garam dan protein yang berlebih dapat meningkatkan jumlah kalsium yang dikeluarkan bersama urine. Selain itu banyak orang yang meributkan isu fosfat dalam soda, khususnya cola, dan pengaruhnya pada penyerapan kalsium dan tulang. Sebenarnya, pengaruh fosfat pada keseimbangan kalsium sangat kecil atau tidak sama sekali. Masalah yang ada sebenarnya adalah banyak remaja dan orang dewasa yang minum banyak soda, tetapi meminum susu dan produk olahan susu yang kaya kalsium dalam jumlah yang sedikit. Sehingga, jika asupan kalsium cukup, mengonsumsi soda atau cola tidak akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesahatan tulang. berikut adalah contoh beberapa bahan makanan yang kaya akan kandungan kalsium:

1. Teri tawar kering 2. Udang kering ukuran kecil 3. Teri nasi kering 4. Udang rebon segar 5. Teri segar 6. Jamur kuping kering 7. Kepiting 8. Susu sapi segar 9. Udang segar 10. Kerang 11. Tempe 12. Kacang hijau 13. Tahu 14. Yogurt

Tabel 4 Kebutuhan Kalsium Sesuai Umur (Lane, 2001) Kelompok Populasi Jumlah (mg/ hari)

1200 - Anak-anak dan remaja (2-24 tahun) -Pria diatas 24 tahun -Wanita usia 24 tahun hingga 1000 menopause -Wanita yang hamil/ menyusui -Wanita pasca Menopause 1500 -Wanita yang menjalani terapi esterogen 1000 1600 1000

Protein Peranan asupan protein pangan pada osteoporosis masih kontroversial. Protein adalah suatu komponen struktural penting dari tulang dan suplementasi protein dapat memperbaiki hasil medis pada pasien patah tulang panggul. Akan tetapi alasan kenapa asupan protein dapat mengurangi risiko patah pada tulang panggul belum diketahui dengan jelas. Beberapa peneliti menyatakan bahwa makanan yang relatif tinggi fosfor dan protein di negara-negara industri diketahui mengurangi absorpsi kalsium dan memperburuk masalah defisiensi protein. Hasil penelitian Sellmeyer et al. (2001), bahwa wanita usia tua (>65 tahun) dengan konsumsi bahan pangan yang lebih tinggi protein hewani daripada nabati, lebih cepat menderita keropos tulang paha dan lebih besar menderita risiko kerusakan

tulang panggul daripada yang mengonsumsi lebih rendah pangan hewani. Kenyataan ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi protein nabati (sayuran) dan penurunan asupan protrein hewani akan dapat menurunkan kerapuhan tulang dan risiko kerusakan tulang panggul. Akan tetapi, menurutnya, hasil ini masih harus diperkuat dengan hasil penelitian prospektif lainnya dan diuji secara percobaan teracak. Seperti hasil penelitian Munger et al. (1999), yang melakukan suatu studi prospektif pada asupan protein dan risiko patah tulang panggul pada wanita pascamenopause, menunjukkan bahwa ternyata dengan mengonsumsi lebih banyak protein hewani, dapat dihubungkan dengan berkurangnya kejadian patah tulang panggul pada wanita pasca-menopause. Zat Gizi Lainnya Konsumsi kopi dilaporkan dapat menyebabkan adanya risiko tinggi dalam pengurangan massa tulang pada wanita. Akan tetapi, pada umumnya studi hanya memfokuskan perhatian pada kandungan kafein yang ada. Sedangkan pada teh, yang juga mengandung kafein, mempunyai kandungan zat yang lain seperti flavonoid, yang dapat mempengaruhi massa tulang dengan cara yang berbeda. Dari hasil penelitian Hegarty et al. (2000), diketahui bahwa wanita manula (65-76 tahun) yang meminum teh, ternyata mempunyai ukuran kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada yang tidak meminum teh. Kondisi ini diduga karena adanya kandungan flavonoid yang dapat melindungi tulang dari serangan osteoporosis pada wanita manula.

2.8.3LANGKAH PENCEGAHAN KETIGA OLAHRAGA Olahraga adalah cara paling penting untuk membantu mencegah osteoporosis, mempertahankan kesehatan secara umum, dan menghindari penyakit kronis lainnya,

seperti kanker, dan penyakit pembuluh darah. Olahraga terbaik untuk tulang adalah kombinasi olahraga aerobic yang bertumpu pada kaki dan latihan menahan beban.1
1

M. Sara Rosenthal, Ph. D., Revolusi Terapi Hormon (Yogyakarta, 2009), hal.

209 Sebenarnya olahraga apapun lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Ada keuntungan tersendiri dengan melakukan olahraga berbeda setiap harinya karena otot yang dilatih berbeda pula. Dalam jangka panjang, cara ini bisa memberikan manfaat yang optimal pada tulang dan otot serta mengurangi risiko cedera. Saat masih anakanak dan remaja, katika panjang tulang masih bertambah, oalahraga tidak hanya meningkatkan massa tulang, tetapi juga membuat tulang menjadi besar, efeknya dapat meningkatkan kekuatan tulang secara drastis. Namun, olahraga tetap dapat meningkatkan massa dan kekuatan tulang pada usia berapapun. Yang paling penting adalah berusaha menciptakan kebiasaan yang abadi. Tidak ada program yang efektif dalam jangka panjang apabila tidak dilakukan secara terus-menerus.

Tulang kita merespon tekanan dan tarikan. Ketika kita berolahraga, otot-otot kita menekan tulang sehingga tulang akan semakin kuat. Studi tentang olahraga dan massa tulang secara umum menunjukkan bagaimana pria dan wanita yang melakukan latihan yang menyangga tubuh tiga sampai lima kali seminggu umumnya memiliki massa tulang yang sedikit lebih besar ketimbang orang yang tidak melakukannya. Ada beberapa jenis latihan yang bias dilakukan, yaitu : a. Weight- bearing, impact exercise Latihan ini termasuk aktivitas yang membuat kita bergerak tegak melawan gravitasi yang berfungsi untuk meningkatkan kekuatan tulang. Terdiri dari high-

impact exercise yang dilakukan oleh orang yang memiliki massa tulang yang kuat dan tidak menderita osteoporosis dan low- impact exercise dilakukan oleh orang yang memiliki osteoporosis. Jenis high-impact exercise yaitu seperti dancing, high- impact aerobic, jogging, lari dan tenis, sedangkan jenis low- impact exercise seperti low- impact aerobic dan berjalan. b. Resistance and strengtheningexercises Latihan ini termasuk aktivitas yang menggunakan gravitasi sebagai tahanannya, namun kita hanya menggerakkan salah satu bagian tubuh saja secara bergantian. Beberapa contoh latihan ini yaitu bertahan dan berdiri diatas jari kaki dan angkat beban. c. Non- impact activities (balance, fungsional, and posture exercise) Latihan ini membantu melatih meningkatkan keseimbangan, postur, dan pergerakan dalam aktivitas sehari- hari, latihan ini juga membantu meningkatkan kekuatan tulang dan menurunkan resiko jatuh dan kerusakan tulang, contohnya Tai-chi dan yoga. Balance exercise menguatkan lengan dan melatih keseimbangan, posture exercise meningkatkan postur dan mengurangi bentuk bahu yang miring serta mengurangi resiko fraktur terutama pada tulang bagian belakang, functional exercise dapat meningkatkan pergerakan yang bias membantu aktivitas sehari- hari , misalnya jika kita memiliki masalah saat bangun dari kursi atau saat menaiki tangga serta menurunkan resiko jatuh dan fraktur. 2.8.4 Konsultasi dengan petugas kesehatan Konsultasi dengan mpetugas kesehatan profesional mengenai osteoporosis yang diderita akan membantu kita lebih mengerti tentang resiko, pencegahan, dan pilihan pengobatan dari osteoporosis. Beberapa pertanyaan yang harus ditanyakan dengan petugas kesehatan antara lain sebagai berikut :

Berdasarkan riwayat pengobatan, gaya hidup dan riwayat keluarga, apakah saya beresiko menderita osteoporosis?

Apakah yang sebaiknya saya lakukan untuk mencegah/ mengobati osteoporosis?

Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa kepadatan tulang saya rendah? Berapa banyak asupan kalsium yang saya butuhan dalam sehari? Olahraga apa yang sebaiknya saya lakukan agar terhindar dari osteoporosis?

Jika kita menderita osteoporosis atau petugas medis menyatakan bahwa kita beresiko tinggi terhadap osteoporosis, maka sebaiknya yang harus kita tanyakan adalah : Pengobatan apa saja yang bias saya lakukan umtuk bias menolong saya? Apa keuntungan dan kerugian pengobatan tersebut? Apakah akan berinteraksi dengan obat yang saya gunakan sekarang? Bagaimana saya tahu jika pengobatan yang saya jalani dapt berjalan secara efektif?

2.8.5 Hidup dengan osteoporosis Jika osteoporosis sudah terjadi pada diri kita, itu bukan berarti akhir dari segalanya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh lansia yang menderita osteoporosis agar dapat hidup nyaman yaitu : Sikap Tubuh Sikap tubuh sangat menjadi fokus perhatian utama pada penderita osteoporosis terutama didaerah punggung (tulang belakang). Dalam

kondisi yang wajar, tulang belakang menanggung beban yang cukup berat, sehingga bias dibayangkan jika terjadi kerapuhan pada tulang tersebut. Sebaiknya saat kita berdiri tegak, badan jangan membungkuk, bahu jangan turun dan perut jangan kedepan, karena hal tersebut dapat memberikan bebam yang berlebihan pada tulang belakang. Saat kita merapikan tempat tidur, mengganti popok bayi, menyiangi tanaman dikebun atau dihalaman rumah, dan alin- lain, usahakan jangan membungkuk tetapi berlutut (Hartono, 2000). Hindari resiko terjatuh Sekitar 35% kasus patah tulang pada penderita osteoporosis berawal dari kecelakaan di dalam rumah oleh berbagai sebab, seperti kondisi lantai yang licin dan basah, penerangan yang buruk, alas kaki yang kurang memadai, serta permukaan jalan dirumahataupun disekitarnya yang tidak rata (Hartono, 2000).

Situasi kondisi lingkungan rumah yang ramah bagi penderita osteoporosis didalam rumah, misalnya : 1. Lantai dan karpet dalam keadaan yang baik dan tidak menonjol disanasini yang mungkin akan menyebabkan jatuh. 2. Pencahayaan yang cukup terang namun tidak silau. 3. Penempatan lampu cukup baik, terutama di dekat tangga atau tempat lalu lalang antara tempat tidur dan kamar mandi. 4. Kabel-kabel listrik dirumah tidak terletak dilantai, Jika perlu harus diperpendek dan dipakukan kedinding Di Kamar mandi

1.Terdapat pegangan didaerah toilet dan bak mandi yang mudah dicapai jika diperlukan. 2. Permukaan lantai pancuran atau bak rendam tidak licin. 3. Bagian belakang keset harus berlapis karet yang tak bias licin. 4.Drainase air harus baik sehingga mencegah lantai licin setelah dipakai mandi. Di Kamar Tidur 1. Terdapat meja tidue disamping tempat tidur untuk meletakkan kacamata atau barang lainny, sehingga tidak diletakkan dilantai samping tempat tidur.

Di Dapur 1. Lantai terbuat dari bahan yang tidak licin 2. Tumpahan-tumpahan cepat dibersihkan untuk mencegah terpeleset. 3. Bahan untuk membersihkan dan memasak diletakkan ditempat yang tidak terlalu tinggi ataupun juga terlalu rendah. 4. Disediakan kursi tinggi untuk keperluan mencuci piring. 5. Tersedia tempat pijakan yang stabil untuk mencapai barang yang letaknya agak tinggi Di Ruang duduk 1. Keset-keset tidak terletak diatas karpet atau berserakan. 2. Perabotan diletakkan sedemikian rupa sehingga jalan lalu lalang cukup lebar

3. Tinggi kursi dan sofa cukup sehingga mudah bagi lansia untuk duduk atau bangkit. Di Tangga 1. Terdapat pegangan yang kuat dikedua sisi anak tangga, termasuk anak tangga ke lantai dasar. 2. Lantai anak tangga tidak licin 3. Bahan atau barang-barang tidak diletakkan di lantai anak tangga terbawah atau di lantai anak tangga teratas. 4. Jika mungkin, anak tangga terbawah dan teratas diwarnai dengan warna yang terang untuk menandai awal dan akhir tangga. Di Luar rumah 1. Pintu masuk depan dan belakang dalam keadaan yang baik. 2. Jalan lalu lalang harus bebas dari lumpur atau air pada musim hujan, sehingga terhindar dari resiko terpeleset. 3. Anak tangga atau pegangan harus terpasang kuat dan baik (Hartono, 2000)

2.9 MENDIAGNOSIS OSTEOPOROSIS Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terkena osteoporosis atau berisiko tinggi terkena osteoporosis adalah dengan menjalani tes kepadatan tulang. Beberapa kemungkinan faktor risiko yang mengindikasi dapat terjadinya osteoporosis diantaranya: Lanjut usia Ras Kaukasia, Asia, atau Hispanik Pernah mengalami patah tulang saat dewasa, khususnya patah tulang belakang atau tulang panggul.

Riwayat patah tulang dalam keluarga Berat badan yang rendah Menopause dini atau periode menstruasi yang sangat tidak rutin atau jarang saat muda Merokok Mengonsumsi alkohol secara berlebihan Penyakit-penyakit kronis seperti arthritis rematoid, penyakit seliak, atau malaabsorbsi Menggunakan obat-obat seperti steroid, hormon tiroid dosis tinggi, atau obat untuk mencegah serangan mendadak Hormon testosteron yang rendah pada pria.

OSTEOPOROSIS PADA PRIA Pria mempunyai massa tulang yang lebih tinggi dibandingkan wanita karena mempunyai badan dan tulang yang lebih besar serta faktor-faktor genetis lainnya. Namun bukan berarti pria tidak berpeluang menderita osteoporosis. Pria memiliki risiko patah tulang karena osteoporosis yang lebih randah ketimbang wanita tetapi masih cukup besar-. Tidak sama seperti wanita pada saat menopause, pria tidak mengalami percepatan laju keropos tulang saat mencapai usia paruh baya. Namun, sama seperti wanita, pria juga mengalami keropos tulang seiring berta,bahnya usia. Pria diperkirakan mengalami keadaan yang lebih buruk ketimbang wanita setelah mengalami patah tulang pinggul. Ada dua obat yang disetujui untuk pengobatna osteoporosis pada pria: Alendronat (Fosamax) dan PTH (Teriparatide atau Forteo).

2.9.1 TES KEPADATAN TULANG Beberapa tes kepadatan tulang yang dapat dijalani diantaranya: Cental Dual X-Ray Absorptiometry (Central DXA)

Metode ini merupakan metode terbaik dalam menentukan kepadatan tulang. Sesuai dengan namanya, metode ini menggunakan sinar X. Peripheral DXA dan SXA (Singel X-Ray Absorbtiometry) Cara yang diukur dalam metode ini adalah tulang-tulang perifer (bagian tepi tubuh) dan dapat dilakukan pada tumit atau lengan bawah, atau jari. Ultrasaund Ultrasound mengukur kecepatan suara, saat sinar ini bergerak menembus tulang dan jaringan lunak diatasnya, dan pengukuran kuaat sinyal, atau jumlah gelombang suara yang hilang saat bergerak menembus begian tubuh yang diukur. Quantitative Computed Tomography (QCT) Penggunaan teknik ini untuk memeriksa kepadatan tulang tidak direkomendasilkan pada sebagian besar pasien sebab memilik ketelitian yang buruk dan melibatkan paparan radiasi yang sangat tinggi. Radiografi tangan Teknik ini juga berbasis sinar X.

Ukuran kepadatan tulang biasanya dinyatakan sebagai nilai T dan nilai-Z. Nilai-T dihitung dari hasil pengukuran kepadatan tulang, dan kepadatan tulang ratarata dari populasi referensi normal kelompok usia muda dengan massa tulang maksimum. Sedangkan nila-Z membandingkan hasil pengukuran kepadatan tulang seseorang dengan rata-rata hasil kepadatan tulang pada populasi referensi dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Tes-tes khusus lainnya seperti tes darah dan urin juga dapat dilakukan untuk menentukan ada tidaknya penyakit lain yang menyebabkan osteoporosis. Tes tersebut diantaranya unutk mengetahui kadar hormon paratiroid, vitamin D, subkelas protein

yang ada dalam darah, antibody transglutaminase, kadar kortisol dan kadar kalsium urin yang masing-masing mengindikasi jenis penyakit yang berbeda. 2.10 OBAT-OBATAN DAN PENGOBATAN Perawatan dan rehabilitasi bagi pasien patah tulang Awalnya, patah tulang palinga akut dievaluasi dan diawasi oleh ahli ortopedi, sebagian membutuhkan gips, dan sebagian lain membutuhkan operasi. Sebagian besar patah ruas tulang belakang diobati secara medis, pada awalnya dengan obar pereda rasa sakit, obat pereda ketegangan otot, perlakuan panas, dan terkadang menggunakan alat penahan punggung. Aktivitas yang ringan lebih baik ketimbang istirahat total di tempat tidur; setelah rasa sakit menghilang, serangkaian olahraga untuk melatih postur tubuh yang benar dan memperkuat otot punggung

direkomendasikan. Untuk orang-orang yang merasakan sakit yang teramat sangat secara terusmenerus selama beberapa minggu setelah mengalami patah ruas tulang belakang, prosedur verteboplasty (semen disuntikkan langsung pada tulang yang remuk) atau kyphoplaty (balon kecil dipompa begitu jarum dimasukkan ke tempat yang tepat, kemudian semen atau bahan lem tersebut disuntikkan ke ruang yang diciptakan oleh balon) dapat dipertimbangkan. -Obat osteoporosis untuk wanita Pilihan obat-obatan yang disetujui oleh U.S Food and Drug Administration (FDA) untuk pencegahan dan/atau pengobatan osteoporosis, antara lain: Terapi hormon atau estrogen Reloxifene (Evvista) Alendronat (Fosamax) Risedronat (Actenol)

Kalsitonin dengan disemprotkan ke hidung (Miacalcin) Bisfosfonat


Hormon Paratiroid (PTH atau Forteo)

BAB III METODELOGI PENELITIAN


3.1 Metode Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan terhadap pencegahan osteoporosis yang dilakukan pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung. Metode penelitian ini adalah deskripsi dengan jenis penelitian korelasion sesuai dengan tujuan penelitian yang meneliti adakah hubungan tingkat pengetahuan dan pencegahan osteoporosis pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung ( Arikunto, 2006). 3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi Populasi pada penelitian ini adalah semua penduduk yang berada di wilayah kerja puskesmas Rajabasa Bandar Lampung yang telah berusia 60 tahun dan dari hasil pendataan yang didapat Lansia (50>60) di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung. 3.2.2 Sampel Dalam penelitian ini jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan metode power analysis (Polit dan Hungler, 1995) , yang memperkirakan jumlah minimal sampel berdasarkan pada ketetapan

alpha ( 3.2.3 Tehnik Pengambilan Sampel Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik non probability sampling jenis convenience sampling yaitu subjek dijadikan sampel karena kebetulan dijumpai ditempat dan waktu secara bersamaan pada saat pengumpulan data (Nursalam, 2003). Adapun kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Lansia yang tidak mengalami gangguan pendengaran. b. Lansia yang mampu berbahasa Indonesia c. Lansia yang bersedia menjadi responden 3.2.4 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan diwilayah kerja Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung, Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah selain karena keterbatasan kemampuan, waktu dan dana, didaerah tersebut juga belum pernah dilakukan penelitian mengenai osteoporosis. Penelitian dilakukan selama 4 minggu, mulai dari tanggal 3.2.5 Pertimbangan Etik

Dalam penelitian ini juga dilakukan pertimbangan etik yaitu pertama peneliti memperkenalkan diri terlebih dahulu kemudian penelitimemberikan penjelasan kepada calon responden penelitian tentang tujuan penelitian dan prosedur pelaksanaan penelitian. Apabila calon responden bersedia maka responden dipersilakan untuk menandatangani informed consent. Peneliti juga menjelaskan bahwa responden yang diteliti bersifat sukarela dan jika calon responden tidak bersedia, maka resonden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri selama proses pengumpulan data berlangsung. Penelitian ini tidak memiliki resiko terhadap individu yang menjadi responden, baik resiko fisik maupun psikologisnya. Kerahasiaan mengenai data responden dijaga dengan tidak menuliskan data responden pada instrument tetapi hanya menuliskan nomor kode yang digunakan untuk menjaga kerahasiaan semua informasi yang diberikan oleh responden. Data- data yang diperoleh dari responden juga hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. 3.2.6 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan kuisioner sebagai instrument untuk mendapatkan informasi dan data dari responden. Ada tiga penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yang dibuat oleh peneliti berdasarkan tinjauan kepustakaan, bagian pertama kuisioner yaitu data demografi yang diisi oleh responden. Kuisioner

demografi berisi tentang : Usia, Jenis kelamin, Suku bangsa, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan. Bagian kedua adalah kuisioner pengetahuan tentang osteoporosis, terdiri dari 16 (enam belas) pertanyaan, yang menggunakan skala dikotomi yang terdiri atas 10 (sepuluh pertanyaan) positif dan 6 (enam) pertanyaan yang negative dengan alternatif jawaban benar dan salah. Kuisioner tentang pengetahuan dan osteoporosis terdiri dari 16 (enambelas) pertanyaan, maka dibuat ketentuan bahwa pada pernyataan positif setiap alternatif jawaban benar bernilai 1 (satu) dan 0 (nol) untuk alternatif jawaban yang salah, sedangkan pada pernyataan negatif setiap alternatif jawaban salah bernilai 1 (satu) dan 0 (nol) untuk alternatif jawaban yang benar. Jadi nilai tertinggi yang diperoleh adalah 16 (enambelas) dan nilai terendah adalah 0 (nol). Berdasarkan rumus statistika menurut Sudjana (1995) rentang P = _________ banyak kelas Dimana P merupakan panjang kelas dengan rentang sebesar 10 ( selisih nilai tertinggi dan terendah) dan banyak kelas 2 ( pengetahuan yang baik dan kurang) maka didapatkan panjang kelas sebesar 16/2 = 8 dan dengan nilai terendah 0 (nol) sebagai batas bawah kelas interval pertama, sehingga pengetahuan lansia mengenai osteoporosis dikategorikan atas interval sebagai berikut : 0-7 = Pengetahuan yang kurang

8-16 = Pengetahuan yang baik Bagian ketiga instrument ini adalah mengenai pencegahan osteoporosis yang dilakukan lansia yang terdiri dari 12 pertanyaan. Pertanyaan menggunakan skla likert dengan alternative jawaban Tidak Pernah (TP), Kadang- Kadang (KK), Sering (S). Dimana jawaban TP bernilai 1, KK bernilai 2 dan S bernilai 3. Jadi nilai tertinggi yang mungkin dicapai adalah 36 dan nilai terendah adalah 12. Pencegahan dibagi menjadi dua yaitu pencegahan yang baik dan pencegahan kurang, menurut rumus statistik Sudjana (1995) panjang kelas sebesar 24/2 =12 dan nilai 12 sebagai batas interval pertama. Pencegahan osteoporosis dikategorikan sebagai berikut : 12-23 = Pencegahan kurang 24- 36 = Pencegahan baik

3.2.7

Uji Validitas dan Reabilitas Uji Validitas digunakan untuk mengetahui apakah alat ukur yang digunakan untuk mengukur apa yang diukur (Notoadmojo, 2002). Validitas instrument untuk menguji , peneliti menggunakan penghitungan uji validitas program SPSS versi 16,0 for windows. Uji Reabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoadmojo, 2002). Dalam penelitian ini menggunakan reabilitas konsistensi internal karena pemberian kuisioner hanya satu

kali dengan satu bentuk instrument pada subjek studi (Dempsey& Dempsey, 2002). Uji tes pengetahuan dilakukan pada 10 orang responden dengan menggunakan uji K-R 21 (Kuder dan Ricadson 21) dan uji tes pencegahan dilakukan pada 10 orang responden dengan menggunkan uji cronbach alpha. Instrument ini dianggap reliabel karena hasil uji lebih besar 0,70 dan penghitungan uji reabilitas ini menggunakan SPSS 16,0 for windows. (Polit dan Hungler, 1995).

3.2.8 Pengumpulan Data Setelah mendapatkan izin untuk penelitian, Peneliti selanjutnya membawa surat permohonan penelitian kepada kepala Puskesmas Rajabasa Bandar Lampung, setelah mendapatkan izin peneliti melakukan pengumpulan data. Peneliti mendatangi responden yang sesuai dengan kriteria peneliti secara door to door, kemudian peneliti menerapkan pertimbangan etik kepada calon responden, jika setuju dan telah menandatangani lembar persetujuan untuk penelitian (informed consent),peneliti terlebih dahulu menjelaskan prosedur pengambilan data yaitu menggunakan kuisioner, selanjutnya peneliti menjelaskan petunjuk pengisian dan memberikan kuisioner kepada responden yang akan diisi sendiri oleh responden , responden juga diberikan kesempatan untuk bertanya apabila ada pertanyaan yang tidak dipahami, responden mengisi kuisioner dalam waktu sekitar 10-15 menit. Demikian selanjutnya sampai semua data terkumpul dan dilakukan analisa data.

3.2.8

Analisa Data

Analisa data dilakukansetelah semua data berupa kuisioner dikumpulkan oleh peneliti dan diperiksa satu per satu, setiap data dan jawaban pertanyaan dalam kuisioner diberi kode untuk mempermudah proses tabulasi dan analisa data. Peneliti memeriksa kelengkapan identitas dan data responden dan memastikan bahwa semua jawaban sudah terisi menggunakan program SPSS versi 16,0 for windows. Data demografi dianalisa untuk mengetahui karakteristik responden. Untuk mengidentifikasi pengetahuan mengenai osteoporosis dan pencegahan pada osteoporosis yang dilakukan lansia dianalisa engan menggunakan skala interval dan ditampilkan dalam bentuk distrbusi frekuensi dan persentase. Untuk menguji hubungan pengetahuan terhadap pencegahan osteoporosis yang dilakukan lansia dianalisa secara statistik dengan menggunakan koefisien korelasi Spermans Rho, interpretasi hasil korelasi didasarkan pada nilai p, kekuatan korelasi, serta ara h korelasinya. Tabel 5 merupakan table panduan interpretasi hasil uji hipotesis berdasarkan kekuatan korelasi, nilai p dan arah korelasi. Peluang untuk diterima dan ditolaknya suatu hipotesis tergantung pada besar kecilnya perbedaan antara nilai sampel dengan nilai hipotesis. Bila perbeaan tersebut kecil, maka peluang untuk menolak hipotesis menjadi kecil, dan bila perbedaan tersebut besar maka makin besar juga peluang untuk menolak hipotesis. Maka untuk mengetahui keputusan uji statistik dengan perbandingan hasi p value dengan nilai a (alpha) yaitu ;

Bila nilai p< nila a, maka keputusannya adalah Ho (ditolak) dan Ha (diterima) yang artinya; ada hubungan atau perbedaan yang signifikan antara kelompok data yang lain , dan bila p > a, maka keputusannya Ho gagal ditolak (yang artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kelompok data yang lain (Arlinda, 2004). Tabel 5. Panduan Interpretasi hasil uji hipotesis berdasarkan kekuatan korelasi, nilai p ,dan arah korelasi (Dahlan,2004). No 1. Parameter Kekuatan korelasi (r) Nilai 0,000-0,199 0,20- 0,399 0,40- 0,599 0,60- 0,799 0,80- 1,000 2. Nilai p P< 0,05 Nilai Sangat lemah Lemah Sedang Kuat Sangat kuat Terdapat korelasi yang bermakna antara dua variable yang P> 0,05 diuji Tidak terdapat korelasi yang bermakna antara dua variable yang diuji

3.

Arah korelasi

+ (Positif)

Searah. Semakin besar nilai suatu variabel, semakin besar juga nilai

-(negative)

variabel lainnya Semakin besar nilai suatu variabel , semakin kecil variabel lainnya.

3.2.9

Pembahasan Dalam tahap ini, penulis melakukan interpretasi dan pembahasan terhadap hasil analisis statistik berdaskan teori. Kemudian penulis membuat kesimpulan hasil penelitian dengan memperhitungkan data penunjang yang diperoleh .

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN