Anda di halaman 1dari 4

3/11/2014

Bagikan

Budisan's Blog: KPK Tak Usah Galau


1

Lainnya

Blog Berikut

Buat Blog

Masuk

Budisan's Blog
Kontroversi Corby bermula ketika Pembela Corby menuntut Corby Bebas Murni karena konon, tanpa setahu Corby, Narkoba seberat 4,2 Kg tsb diselundupkan ke dlm tas bawaan Corby. Sementara Pengadilan RI menyatakan Corby Bersalah dan memutuskan Hukuman Penjara 20 Tahun utk Corby. Pembela Corby lalu membuat Buku dan Film Tragedi Corby dan menekan Aussie Govt. So far, hasilnya adalah Grasi dan BebasBersyarat utk Corby..yg karenanya SBY hrs rela menerima Kritik dan Makian dari Rakyatnya.

JUMAT, 28 FEBRUARI 2014

Cari

KPK Tak Usah Galau

MENGENAI SAYA

KPK Tak Usah Galau


Harkristuti Harkrisnowo
; Guru Besar Fakultas Hukum UI

Budi Santoso
Ikuti

305

Lihat profil lengkapku

KOMPAS, 28 Februari 2014


CD OPINI

Anda Ingin Memilikinya?

HARI-hari ini media membahas dilanjutkan atau tidaknya pembahasan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Rancangan UndangUndang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana sesuai tuntutan Komisi Pemberantasan Korupsi dan para pegiat anti korupsi. Pernyataan bahwa kedua RUU ini akan menggerogoti KPK tentu membuat semua orang Indonesia berang. Lalu apakah sumber kegaduhan sebenarnya? Sungguhkah ini manuver politik untuk mendebilitasi KPK? RUU KUHP sebenarnya bukan RUU yang muncul kemarin sore, tetapi sudah dirancang sejak awal 1970-an untuk menggantikan KUHP sekarang yang sudah berlaku 1915. Tim perancang dipimpin para profesor hukum pidana, dari Prof Sudarto hingga Prof Muladi. Upaya rekodifikasi dan unifikasi memakan waktu lama dengan banyak perdebatan sengit. Namun, semua sepakat bahwa RUU KUHP perlu untuk menegakkan kembali nilai-nilai dasar sosial (basic social values), berperan sebagai ultimum remedium, dan menjunjung HAM. Tahun 1986 Buku I selesai. Buku II selesai 1993 dan diserahkan Prof Mardjono kepada Menteri Kehakiman. Namun, upaya Menteri Kehakiman berikutnya, Muladi, agar dibahas di DPR tidak berhasil. Tahun 2004 dibentuk tim RUU KUHP di bawah Prof Muladi untuk menyempurnakan dan harmonisasi empat misi utama: dekolonialisasi, demokratisasi, konsolidasi, serta harmonisasi dan humanisasi. Baru pada akhir 2012 RUU KUHP diserahkan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan diteruskan ke DPR pada 11 Desember 2012.
http://budisansblog.blogspot.com/2014/02/kpk-tak-usah-galau.html
OPINI TERBARU

Bencana dan Pendidikan yang Memberdayakan (Khairil Azhar) PK Berkali-kali, Langkah Menguntungkan atau Merugikan? (Andi Hamzah) Menata Ulang, Stigma Negatif dalam Berdemokrasi (Aman Supendi) Jerat Kasus Dugaan Politik Uang (Herie Purwanto) Mengubah Kultur Belajar (Harjito) PK Berkali-kali Melawan Kepastian Hukum? (Romli Atmasasmita) PK, Antara Kepastian Hukum dan Keadilan (W Riawan Tjandra) Pilihan Rakyat Bukan Pilihan Tuhan (Mohamad Sobary) Membaca Preferensi Pemilih 2014 (Wasisto Raharjo Jati) Dua RUU Tak Layak Dibahas (Bambang Soesatyo) Prabowo dan Wiranto : Subplot Militer dalam Panggung Politik (Seno Gumira Ajidarma) Hari Musik Nasional Sekadar Seremoni? (Denny Sakrie) Dongeng dan Bencana (Wahyudi Kaha) Pulau yang Dulu Dikira Tidak Maju (Dahlan Iskan) Meluruskan Pembangunan Jatim (Ahmad Erani Yustika) Pemilu Elektronik (Darminto M Sudarmo) Setelah Revisi UU Migas (Pri Agung

1/376

3/11/2014

Budisan's Blog: KPK Tak Usah Galau


Rakhmanto) Politik Pemilu (Yonky Karman) Antisipasi Serbuan Dana Jangka Pendek (Ferry Latuhihin) Petahana Senayan (Yuna Farhan) Rupiah, Perbankan, dan OJK (A Tony Prasetiantono) Risma, Prita and the media (Warief Djajanto Basorie) Its a race between known unknown cats (Endy Bayuni) Duduk Bersama (Sarlito Wirawan Sarwono) Perspektif OKBCM (Rhenald Kasali) Perempuan dalam Sembilan Ribu Hari, Frieda Amran (Sartika Sari) Hope (Samuel Mulia) Suara Negatif Diri (Kristi Poerwandari) Perempuan Pemikir Bangsa (Sutrisno) Perempuan Kunci Perdamaian (John Kerry)

RUU KUHAP relatif baru karena beranjak dari KUHAP tahun 1981. Tim penyusun diketuai Prof Jur Andi Hamzah dan melibatkan elemen-elemen terkait. Walau ada perdebatan, penyusunan ini dilandasi kesepakatan bahwa penting sekali menegakkan sistem peradilan kriminal terintegrasi (the integrated criminal justice system) dengan kesamaan asas yang menjunjung tinggi HAM sebagaimana dimandatkan Konstitusi, serta pentingnya mekanisme kontrol guna menghindari penyalahgunaan kekuasaan. Berbagai instrumen HAM internasional juga dijadikan acuan, misalnya Konvensi Anti Penyiksaan, Pendanaan Terorisme, dan Konvensi Korupsi. Akar polemik Lalu apa akar polemiknya? Bermula dari pandangan KPK bahwa pembahasan kedua RUU akan mengurangi bahkan menghilangkan kewenangan KPK. Padahal, RUU KUHP bukan semata-mata mengatur korupsi. Dari 766 pasal, hanya 15 pasal tentang korupsi. RUU KUHP adalah upaya mengindonesiakan KUHP eks penjajah, yang mengatur sebagian besar tindak pidana: mulai dari pengemisan, penganiayaan, pemerkosaan, pencurian, penghinaan, pembunuhan, perdagangan orang, hingga pelanggaran HAM berat. Korupsi tentu penting diatur, tapi apakah pembahasan terhadap 751 pasal termasuk 211 pasal dalam Buku I tentang Ketentuan Umumharus ditunda demi menanti pembahasan 15 pasal korupsi? Apalagi ada Pasal 211 yang memberi peluang mengatur lex specialis di luar KUHP. RUU KUHAP memuat aturan mengenai tata cara polisi mulai dari penangkapan, penahanan, pemeriksaan, sampai lembaga pemasyarakatan, yang berlaku untuk semua tindak pidana, bukan hanya untuk korupsi. Bahkan, hukum acara pidana untuk penanganan korupsi telah diatur secara khusus dalam UU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan UU KPK. Tidak mungkin penanganan perkara pencurian atau penganiayaan sama dengan korupsi. Lex specialis juga dibuka peluangnya dalam Pasal 3 Ayat (2) RUU KUHAP. Intinya, Pasal 211 RUU KUHP dan Pasal 3 Ayat (2) RUU KUHAP ini mematahkan argumentasi bahwa dengan berlakunya kedua UU ini kelak maka UU pidana di luar KUHP menjadi hilang. Justru kedua RUU ini kelak bila diberlakukan merupakan lex generalis atau ketentuan umum, tetapi eksistensi UU pidana khusus lain yang berperan sebagai lex specialis tetap diakui. Maka tak akan terjadi penghapusan UU ataupun delegitimasi keberadaan lembaga seperti KPK, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan lain-lain. Tidak betul pendapat KPK bahwa kedua pasal pengecualian hanya berlaku bagi tindak pidana perbankan dan perpajakan. Harus diakui perancang RUU KUHP luput merumuskan kedua tindak pidana dalam ranah hukum administrasi ini. Namun, lex specialis umumnya lebih ditujukan pada hukum yang masuk dalam satu genre, dalam hal ini hukum pidana UU pidana murni seperti UU Tipikor, Pencucian Uang, Pengadilan HAM, dan Terorisme. Dikatakan oleh Silvia Zorzetto (2012), lex specialis is often used to solve redundancy in law a tool to prevent the simultaneous application of special and general compatible
http://budisansblog.blogspot.com/2014/02/kpk-tak-usah-galau.html

PALING SERING DIKUNJUNGI

Gagasan Asuransi Bencana (12857) Anggito Abimanyu Miss World (3751) - Rhenald Kasali BIN dan Intelijen yang Terbuka (3188) - Ridlwan Rektor-rektor Administratif (1819) Rhenald Kasali Pendulum Penguasaan Migas (1744) Gde Pradnyana Pesona Bali Democracy Forum (1637) - Dinna Wisnu Keislaman Indonesia (1588) Komaruddin Hidayat Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat (1459) - Haidar Bagir Melacak Siluman Cebongan (1356) Ridlwan Dewoningrat Mencermati EYD alias Ejaan Yudhoyono (940) - Charmelya Maretha

ARTIKEL PRIBADI

Kisruh Tata Kelola UI: Haruskah Rektor UI Diganti? Survei Membuktikan Hasil Survei Bisa Menyesatkan Mengapa Membela Khadafy? Anas Membantah dan Sekaligus Mengakui Kisah Perjalanan Briptu Norman Camaru KAMU Ketika Para Tokoh dan Pemimpin Kita "Berbohong"

2/376

3/11/2014

Budisan's Blog: KPK Tak Usah Galau


Andaikan Semua Bulan Ramadhan Mencari Sosok Ibu di Hari Ibu Merintis Tradisi Baru Merayakan Idul Kurban Pelangi Dalam Bencana Dari Komunikasi Hingga ke Dewan Revolusi Kemana Arah Pembangunan Kita? [Bukan] KPPN No.1 Jafung "Bendahara", Kemandirian, dan Profesionalitas JFPP dan Pengelola Perbendaharaan yang Profesional Sosialisasi SPAN ala Budisan Menyiasati Rekonsiliasi Antara Data SAU dan Data SAI
QUOTES

rules. Tak mungkin ada lex specialis manakala tidak ada lex generalis. Pengaturan delik pokok diperlukan dalam RUU KUHP, diatur lebih khusus dalam UU sektoral. Kejahatan luar biasa Istilah kejahatan luar biasa (extra-ordinary crimes) dalam hukum internasional adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida, kejahatan perang, dan agresi. Konvensi PBB tentang korupsi tak memakai istilah itu walau sepakat bahwa korupsi adalah kejahatan yang mengurangi kualitas hidup manusia. Menempatkan UU Tipikor dan UU KPK sebagai lex specialis, bukan hanya hukum materiil tentang korupsi yang diatur, melainkan juga hukum acara pidana. Karenanya, penyelidikan (Pasal 43 dan 44 UU KPK), penyitaan (Pasal 47), dan penyadapan (Pasal 12), sebagian dari kewenangan KPK saat ini, tidak akan diderogasi RUU KUHAP. Walau demikian, tetap harus diperhatikan bahwa mekanisme kontrol urgen untuk memastikan akuntabilitas penegak. Jika KPK memandang Hakim Pemeriksa Pendahuluan terlampau restriktif, misalnya, harus dicarikan solusi agar KPK tidak dipandang sebagai lembaga yang anti kontrol atau control-proof. Kegalauan KPK akan potential elimination dengan demikian sebenarnya tidak perlu terjadi. KPK masih diperlukan memberantas kejahatan korupsi.
Diposkan oleh Budi Santoso di 11.26
+1 Rekomendasikan ini di Google

Falsafah Hidup dan Pencerahan Motivasi Kepemimpinan Kicauan

PUISI KITA

Chairil Anwar W.S. Rendra Taufiq Ismail Paidjo


GALERI FOTO

Label: Harkristuti Harkrisnowo, KPK Tak Usah Galau Reaksi:


lucu (0) menarik (0) keren (0)

Klasik Manusia dan Peradabannya Panorama Aneh Tata Surya

TOTAL TAYANGAN LAMAN

1 8 2 0 8 9 4
PENGIKUT Join this site
w ith Google Friend Connect

Members (214) More

Already a member? Sign in

ARSIP BLOG

2014 (1530) Maret (230) Februari (642)

http://budisansblog.blogspot.com/2014/02/kpk-tak-usah-galau.html

3/376

3/11/2014

Budisan's Blog: KPK Tak Usah Galau


Parpol untuk Siapa?

1 komentar

Kala KPK Merawat Mainan Koruptor Parlemen versus Pengemis

Tambahkan komentar

KPK Tak Usah Galau Menumpas Pemberantasan Korupsi Tri Dharma PT dan Karier Dosen Draf Nol Indonesia

Komentar teratas

Konflik Politik Lokal Kegagalan Merpati

Budi Santoso 1 minggu yang lalu - Dibagikan kepada publik KPK Tak Usah Galau KPK Tak Usah Galau Harkristuti Harkrisnowo ; Guru Besar Fakultas Hukum UI KOMPAS, 28 Februari 2014 ...
1 Balas

Dicari, Calon Wakapolri yang Berintegritas Jebakan Mitos Politik Does neoliberalism constitute a national threat Journos can help ensure informed and rational vote... Australian government bypasses Jakarta, builds ti... Hakikat Ancaman Pemilu 2014 Penegasan Tentara Rakyat Kereta Bandara Jati Diri Kita, Ungkapan Budaya Kita Menggugat Pembonsaian KPK Negarawan

Posting Lebih Baru


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Beranda

Posting Lama

Bencana versus Sabda Alam Memahami Megawati Gelombang Kelima dan Bandara Kita Memberdayakan Pemilih Muda Status Awas dan Evaluasi Televisi Customer-Based Brand Equity Buka Rahasia Bank untuk Pajak Nasib Presiden Korban Korupsi Rupiah Menguat dan Stabil Memilih Caleg Profetik Calon Wakapolri Pejabat Tunarasa Revisi KUHP dan KUHAP Peneliti untuk Industri Ekonomi Tidak Lagi Rentan The dire need for reform of Indonesias SOEs A recovery in Japans economy will boost Indonesia... Anak Kandung Reformasi Menjadi Pemilih yang Cerdas Menanti Kepemimpinan Din Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN Meragukan Janji JKN

http://budisansblog.blogspot.com/2014/02/kpk-tak-usah-galau.html

4/376