Anda di halaman 1dari 4

3/11/2014

Budisan's Blog: Mafia Politik di Parlemen

Budisan's Blog
Kontroversi Corby bermula ketika Pembela Corby menuntut Corby Bebas Murni karena konon, tanpa setahu Corby, Narkoba seberat 4,2 Kg tsb diselundupkan ke dlm tas bawaan Corby. Sementara Pengadilan RI menyatakan Corby Bersalah dan memutuskan Hukuman Penjara 20 Tahun utk Corby. Pembela Corby lalu membuat Buku dan Film Tragedi Corby dan menekan Aussie Govt. So far, hasilnya adalah Grasi dan BebasBersyarat utk Corby..yg karenanya SBY hrs rela menerima Kritik dan Makian dari Rakyatnya.

SENIN, 23 DESEMBER 2013

Cari

Mafia Politik di Parlemen

MENGENAI SAYA

Mafia Politik di Parlemen


Anhar Putra Iswanto ; Mahasiswa Magister Sosiologi
Universitas Muhammadiyah Malang
OKEZONENEWS, 23 Desember 2013
CD OPINI

Budi Santoso
Ikuti

305

Lihat profil lengkapku

Anda Ingin Memilikinya?

Pemilu 2014 kurang dari setahun lagi. Kompetisi antara partai politik sudah dimulai. Bendera parpol, kampanye terselubung, dan iklan di berbagai media massa semakin bertebaran. Kandidat calon presiden (capres) dan calon anggota legislatif (caleg) tidak mau ketinggalan. mereka mulai menebarkan kharisma untuk mendekati rakyat. Pemilu selalu mengeluarkan modal besar. Karenanya, pemilu bisa menjadi pecutan bagi siapapun untuk melakukan korupsi demi mendapatkan modal memenangkan pemilu. Dan, kampiun korupsi yang paling basah menjelang pemilu adalah parlemen. Kejahatan korupsi yang dilakukan oleh anggota parlemen nyaris sempurna. Bahkan hampir dapat dipastikan, parlemen adalah hulunya segala korupsi. Berbagai kasus korupsi melibatkan anggota parlemen dengan konfigurasi trias koruptika: legislatif, eksekutif, yudikatif. Korupsi politik di parlemen adalah pengkhianatan paling nyata atas amanah kedaulatan rakyat. Parlemen menjadi tempat jual-beli kekuasaan yang telah diamanti rakyat. Kewenangannya yang besar menjadikan parlemen sebagai ladang empuk untuk mencari kekayaan. Korupsi politik di parlemen merupakan kejahatan yang sifatnya lebih berbahaya daripada yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan. Dampak sosial, politik, dan ekonominya lebih besar karena menggunakan kekuasaan dan kewenangan politik yang dimiliki parlemen. Konspirasi korupsi sistematis yang dilakukan Komisi IX DPR periode 1999-2004 menjadi bukti paling nyata. Skandal dana haram Bank Indonesia sebesar Rp24 miliar itu melibatkan 52 anggota IX DPR 1999-2004. Fakta ini menunjukan
http://budisansblog.blogspot.com/2013/12/mafia-politik-di-parlemen.html

OPINI TERBARU

Bencana dan Pendidikan yang Memberdayakan (Khairil Azhar) PK Berkali-kali, Langkah Menguntungkan atau Merugikan? (Andi Hamzah) Menata Ulang, Stigma Negatif dalam Berdemokrasi (Aman Supendi) Jerat Kasus Dugaan Politik Uang (Herie Purwanto) Mengubah Kultur Belajar (Harjito) PK Berkali-kali Melawan Kepastian Hukum? (Romli Atmasasmita) PK, Antara Kepastian Hukum dan Keadilan (W Riawan Tjandra) Pilihan Rakyat Bukan Pilihan Tuhan (Mohamad Sobary) Membaca Preferensi Pemilih 2014 (Wasisto Raharjo Jati) Dua RUU Tak Layak Dibahas (Bambang Soesatyo) Prabowo dan Wiranto : Subplot Militer dalam Panggung Politik (Seno Gumira Ajidarma) Hari Musik Nasional Sekadar Seremoni? (Denny Sakrie) Dongeng dan Bencana (Wahyudi Kaha) Pulau yang Dulu Dikira Tidak Maju (Dahlan Iskan) Meluruskan Pembangunan Jatim (Ahmad Erani Yustika) Pemilu Elektronik (Darminto M Sudarmo) Setelah Revisi UU Migas (Pri Agung

1/375

3/11/2014

Budisan's Blog: Mafia Politik di Parlemen

bahwa korupsi politik di parlemen bukan lagi gunung es, melain sudah menjadi kampung korupsi yang diselimuti asap pekat keserakahan dan kemunafikan. Maraknya kasus korupsi yang dilakukan anggota parlemen menunjukan kegagalan parlemen untuk melakukan shit of paradigm dari rezim sebelumnya. Mengutip pernyataan mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada masa Soekarno korupsi dilakukan di bawah meja, pada era Soeharto korupsi digelar di atas meja, dan era reformasi, meja-mejanya pun di korupsi. Parlemen adalah representasi kadaulatan rakyat yang memiliki kewenangan untuk mengawasi pelaksanaan kekuasaan yang dijalankan oleh eksekutif. Argumentasi ini mengikuti alur pemikiran UUD 1945 pasca amandemen yang membatasi peran dan fungsi eksekutif, dan memperkuat peran dan fungsi parlemen. Diantara penambahan peran parlemen adalah pengangkatan pejabat publik seperti; hakim agung, pimpinan KPK, pimpinan BPK, pimpinan Bank Indonesia. Dalam konteks ini, dengan kekuasaan dan peran yang luas, dapatlah dikatakan bahwa baik-buruk bangsa ini ditentukan oleh parlemen. Kegagalan perubahana paradigma oleh parlemen itu justru menempatkan DPR sebagai kampiun korupsi paling dominan. Berdasarkan laporan Lembaga Tranparency International Indonesia (TII) 2013, parlemen merupakan lembaga terkorup di Indonesia selain kepolisian, pengadilan, dan partai politik. Temuan TII ini jelas saja membuat rakyat geram terhadap parlemen. Parlemen adalah representasi tertinggi kedaulatan rakyat. Jika kedaulatan itu dilanggar oleh anggota DPR, maka jelas akan mempengaruhi kepercayaan rakyat terhadap wakilnya di parlemen. Korupsi politik di parlemen bersifat struktural. Bahkan kerap dilakukan secara berjamaah dengan melibatkan elit-elit partai politik. Korupsi di parlemen tidak hanya persoalan penyalahgunaan kekuasaan, melainkan persoalan sistem dan budaya korupsi anggota parlemen. Peran mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam kasus korupsi daging sapi di Kementerian Pertanian menjadi bukti paling mutakhir betapa partai politik turut menjadi biang kerok habitus korupsi. Disisi lain, partai politik juga sering menjadikan anggotanya di parlemen sebagai kartu ATM dalam melakukan broker anggaran negara (APBN). Mereka lupa bahwa anggota DPR adalah perwakilan rakyat yang harus berjuang dan membela kepentingan rakyat, bukan untuk memperjuangkan kepentingan partai politik semata demi mendaptkan proyek yang menghasilkan dana besar untuk pemilu. Anggota DPR juga ditekan oleh parpol asalnya untuk menyetor sejumlah uang demi kelansungan hidup partai. Harus diakui, agar dapat dicalonkan kembali sebagai calon anggota DPR, faktor sangat menentukan. Membersihkan Parlemen Menjelang Pemilu 2014, lalu lintas parlemen menjadi sangat riskan dengan korupsi. Karena itu, rakyat sebagai pemilik kadaulatan, dan dengan keterlibatan seluruh unsur penegak hukum di negei ini wajib melakukan pemantaun terhadap parlemen. Dengan peranya yang begitu besar membuat parlemen terlihat
http://budisansblog.blogspot.com/2013/12/mafia-politik-di-parlemen.html

Rakhmanto) Politik Pemilu (Yonky Karman) Antisipasi Serbuan Dana Jangka Pendek (Ferry Latuhihin) Petahana Senayan (Yuna Farhan) Rupiah, Perbankan, dan OJK (A Tony Prasetiantono) Risma, Prita and the media (Warief Djajanto Basorie) Its a race between known unknown cats (Endy Bayuni) Duduk Bersama (Sarlito Wirawan Sarwono) Perspektif OKBCM (Rhenald Kasali) Perempuan dalam Sembilan Ribu Hari, Frieda Amran (Sartika Sari) Hope (Samuel Mulia) Suara Negatif Diri (Kristi Poerwandari) Perempuan Pemikir Bangsa (Sutrisno) Perempuan Kunci Perdamaian (John Kerry)

PALING SERING DIKUNJUNGI

Gagasan Asuransi Bencana (12857) Anggito Abimanyu Miss World (3751) - Rhenald Kasali BIN dan Intelijen yang Terbuka (3188) - Ridlwan Rektor-rektor Administratif (1819) Rhenald Kasali Pendulum Penguasaan Migas (1744) Gde Pradnyana Pesona Bali Democracy Forum (1637) - Dinna Wisnu Keislaman Indonesia (1588) Komaruddin Hidayat Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat (1459) - Haidar Bagir Melacak Siluman Cebongan (1356) Ridlwan Dewoningrat Mencermati EYD alias Ejaan Yudhoyono (940) - Charmelya Maretha

ARTIKEL PRIBADI

Kisruh Tata Kelola UI: Haruskah Rektor UI Diganti? Survei Membuktikan Hasil Survei Bisa Menyesatkan Mengapa Membela Khadafy? Anas Membantah dan Sekaligus Mengakui Kisah Perjalanan Briptu Norman Camaru KAMU Ketika Para Tokoh dan Pemimpin Kita "Berbohong"

2/375

3/11/2014

Budisan's Blog: Mafia Politik di Parlemen

arogan dan kebal hukum. Mereka bisa melakukan apa saja, termasuk korupsi. Korupsi politik yang dilakukan secara berjamaah oleh anggota parlemen nyaris sulit untuk dibongkar, karena melibatkan segala unsur kekuasaan dan kekuatan politik. Pengawasan terhadap parlemen mutlak dilakukan. Mengapa? Pertama, parlemen adalah tempat nasip rakyat dipertaruhkan. DPR memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan negeri ini. DPR memiliki kewenangan dalam pembuatan UU, penentuan anggaaran belanja (budgeting), maupun pengontrolan (controling). Baik-buruknya wajah bangsa ini ditentukan oleh perilaku dan kerja yang dilakukan DPR. Maka, anggota parlemen harus melakukan tugas mulia itu dengan mengedepankan kepentingan rakyat dan tidak berperilaku busuk dan korup. Kedua, diperlukan pembenahan partai politik. Parpol merupakan hilir sekaligus hulu dari parlemen. Partai politik menjadi pilar utama proses perekrutan anggota parlemen. Sebelum dipilih oleh rakyat, parpol memiliki peran besar untuk menyediakan calon anggota parlemen. Maka, kualitas anggota parlemen nantinya sangat ditentukan proses perkaderan dan penidikan politik yang dilakukan parpol. Proses prekrutan calon anggota parlemen tidak hanya dilakukan berdasarkan kedekatan dengan elit partai tertentu dan kekuatan uang, tapi perlu dilihat integritas dan kualifikasi personal calon anggota DPR. Dan sekarang, partai politik sudah menentukan calon angggota parlemennya pada 2014. Maka, rakyat harus menentukan pilihan dengan sebaik mungkin. Ketiga, memecah mata rantai korupsi politik di parlemen perlu dilakukan peninjauan kembali (PK) atas kewenangan DPR yang begitu besar. Alih-alih memindahkan pendulum kekuasaan dari eksekutif kepada legislatif, pilihan itu justru sekadar memindahkan pendulum habitat korupsi dari eksekutif menuju parlemen. Akuntabilitas penggunaan kewenangan DPR perlu ditingkatkan dengan melibatkan kontrol publik yang masif dan berkualitas. Pemilu 2014 merupakan momentum perubahan bangsa Indoneisia. Hitam-putih bangsa Inodnesia kedepan sangat ditentukan oleh kualitas pemimpin yang dipilih rakyat nanti. Jika yang terpilih adalah penjahat, maka sangat sulit untuk bangkit dari korupsi yang kian membabi buta. Kita berharap akan muncul pemimpin orisinil yang mengerti masalah dan solusi persolan bangsa.
Diposkan oleh Budi Santoso di 18.36
+1 Rekomendasikan ini di Google

Andaikan Semua Bulan Ramadhan Mencari Sosok Ibu di Hari Ibu Merintis Tradisi Baru Merayakan Idul Kurban Pelangi Dalam Bencana Dari Komunikasi Hingga ke Dewan Revolusi Kemana Arah Pembangunan Kita? [Bukan] KPPN No.1 Jafung "Bendahara", Kemandirian, dan Profesionalitas JFPP dan Pengelola Perbendaharaan yang Profesional Sosialisasi SPAN ala Budisan Menyiasati Rekonsiliasi Antara Data SAU dan Data SAI
QUOTES

Falsafah Hidup dan Pencerahan Motivasi Kepemimpinan Kicauan

PUISI KITA

Chairil Anwar W.S. Rendra Taufiq Ismail Paidjo


GALERI FOTO

Klasik Manusia dan Peradabannya Panorama Aneh Tata Surya

TOTAL TAYANGAN LAMAN

1 8 2 0 6 4 0
PENGIKUT Join this site
w ith Google Friend Connect

Members (214) More

Label: Anhar Putra Iswanto, Mafia Politik di Parlemen Reaksi:


lucu (0) menarik (0) keren (0)

Already a member? Sign in

ARSIP BLOG

2014 (1530) 2013 (6861) Desember (613)

http://budisansblog.blogspot.com/2013/12/mafia-politik-di-parlemen.html

3/375

3/11/2014

Budisan's Blog: Mafia Politik di Parlemen

1 komentar

Ekonomi Memasuki Masa Transisi 2014 UU Desa dan Kemiskinan Anomali Harga Gas Elpiji

Tambahkan komentar

Ketegasan (tidak) Melantik Tersangka Korupsi Rahasia Kesuksesan dalam Pendidikan Gus Dur dan Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional

Komentar teratas

Modernisasi dan Kapitalisasi Desa, Siap Enggak? Kemunduran Peradaban Antisipasi Dini Bencana Alam Korupsi dan Efektivitas Pemerintahan LPG : Antara Bisnis dan Subsidi Kekuasaan demi Kekuasaan Lega Tidak Impor dan Lega Tidak Godean Nalar Semu Pemilih Efisien Gus Dur, PKB, dan Raja Dangdut Tugas Rezim Baru Peta Politik 2014 Catatan Sains 2013 Pendidikan dan Paradigma Filosofis

Budi Santoso 2 bulan yang lalu - Dibagikan kepada publik Mafia Politik di Parlemen Mafia Politik di Parlemen Anhar Putra Iswanto ; Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang OKEZONENEWS, 23 Desember 2013 Pemilu 2014 kurang dari setahun lagi. Kompetisi antara partai politik sudah dimulai. Bendera parpol, ...
1 Balas

Posting Lebih Baru


Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Beranda

Posting Lama

Soal Panggilan Timwas Century kepada Wapres Politik Pangan Global RI dalam Sistem Hukum Internasional Menata Sistem Perdagangan Kembali ke Jati Diri Destruktif Kreatif demi Masa Depan Presidensialisme Masih Tetap Setengah Hati Indonesia dan Globalisasi Lebur atau Bersiasat dalam Liberalisasi Momen Penting Menuju Negara Matang Berdemokrasi Bergantung pada Transformasi Ideologi Berani Berubah untuk Melaju Lebih Cepat Peluang Menuai Buah Demokrasi Merawat Benih Pendorong Perubahan Ketika Agenda Pembangunan Dibajak BPJS Kesehatan : Menghitung Hari Ekonomi Biru di Pusaran Wacana Konektivitas Ekonomi Dalam Negeri : Dapatkah Mendo... Infrastruktur - Eksekusi yang Sangat Terlambat

http://budisansblog.blogspot.com/2013/12/mafia-politik-di-parlemen.html

4/375