Anda di halaman 1dari 15

TUGAS TUGAS BANGUNAN AIR

Nama : Fityat Sidik Paningal NIM : 201101329 11/20/2013 In the name of my self with honesty, indeed l would like to say that this assignment is belong to my self not copy paste from others

Bendung tetap
1. 1) Keadaan topografi dari rencana daerah irigasi yang akan diairi : - Dalam hal ini semua rencana irigasi dapat terairi, sehingga harus dilihat elevasi sawah tertinggi yang akan diairi, - Bila elevasi sawah tertinggi yang akan diairi telah diketahui maka dapat ditetapkan, - Dari kedua hal diatas, lokasi bendung dilihat dari segi topografi dapat diseleksi, - Disamping itu ketinggian mercu bendung dari dasar sungai dapat pula direncanakan. 2) Kondisi topografi dari lokasi bendung; harus mempertimbangan beberapa aspek yaitu : - Ketinggian bendung tidak terlalu tinggi; bila bendung dibangun di palung sungai, maka sebaiknya ketinggian bendung dari dasar sungai tidak lebih dari tujuh meter, sehingga tidak menyulitkan pelaksanaanya, - Trace saluran induk terletak di tempat yang baik; misalnya penggaliannya tidak terlalu dalam dan tanggul tidak terlalu tinggi untuk tidak menyulitkan pelaksanaan, penggalian saluran induk dibatasi sampai dengan kedalaman delapan meter, bila masalah ini dijumpai maka sebaiknya likasi bendung dipindah ke tempat lain; catatan untuk kedalaman saluran induk yang diijinkan sampai tanah dasar cukup baik dan saluran tidak terlalu panjang. - Penempatan lokasi intake yang tepat dilihat dari segi hidraulik dan angkutan sedimen; sehingga aliran ke intake tidak mengalami gangguan dan angkutansedimen yang akan masuk ke intake, salah satu syaratnya, intake harus terletak di tikungan luar aliran atau di bagian sungai yang lurus dan harus dihindari penempatan intake di tikungan dalam aliran. 3) Kondisi hidraulik dan morfologi sungai di lokasi bendung; termasuk angkutan sedimennya adalah faktor yang harus dipertimbangkan pula dalam pemilihan lokasi bendung. 4) Kondisi tanah fundasi; bendung harus ditempatkan dilokasi dimana tanah fundasinya cukup baik sehingga bangunan akan stabil. 5) Biaya pelaksanaan; beberapa alternatif lokasi harus dipertimbangkan; yang selanjutnya biaya pelaksanaan dapat ditentukan dan cara pelaksanaanya, peralatan dan tenaga. 6) Faktor-faktor lain; yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi bendung yaitu penggunaan lahan di sekitar bendung, kemungkinan pengembangan daerah di sekitar bendung, perubahan morfologi sungai, darah genangan yang tidak terlalu luas dan ketinggian tanggul banjir.

2. Keuntungan bendung ditempatkan di sudetan yaitu: Memudahkan pelaksanaan bendung tanpa gangguan aliran sungai, dan tidak perlu terburu-buru karena gangguan musim, Arah aliran menuju bendung dan ke hilirnya akan lebih baik, Untuk mendapatkan tanah fundasi yang lebih baik, Penempatan lokasi intake, kantong sedimen dan saluran akan lebih baik.

Namun akan dijumpai pula kesulitannya yaitu: Harus dibuat tanggul penutup sungai, yang kadangkala cukup tinggi dan berat, Diperlukan pula bangunan pengelak khusus dalam pelaksanaan pembuatan tanggul penutup tersebut, Adakalanya perlu penyeberangan saluran induk di atas palung sungai asli.

3. Menurut standar Tata Cara Perencanaan Umum Bendung, yang diartikan dengan bendung adalah suatu bangunan air dengan kelengkapan yang dibangun melintang sungai atau sudetan yang sengaja dibuat untuk meninggikan taraf muka air atau untuk mendapatkan tinggi terjun, sehingga air dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke tempat yang membutuhkannya. Sedangkan bangunan air adalah setiap pekerjaan sipil yang dibangun di badan sungai untuk berbagai keperluan. 4. Bendung tetap adalah bendung yang terdiri dari ambang tetap, sehingga muka air banjir tidak dapat diatur elevasinya. Dibangun umumnya di sungai-sungai ruas hulu dan tengah. 5. Bendung tetap yang terbuat dari pasangan batu untuk keperluan irigasi terdiri atas berbagai komponen yang mempunyai fungsi masing-masing. Komponen utama bendung itu yakni : Tubuh bendung; antara lain terdiri dari ambang tetap dan mercu bendung dengan bangunan peredam energinya. Bangunan intake; antara lain terdiri dari lantai/ambang dasar, pintu, dinding, banjir, pilar penempatan pintu, saringan sampah, jembatan pelayan, rumah pintu dan perlengkapan lainnya. Bangunan pembilas; dengan undersluice atau tanpa undersluice, pilar penempatan pintu, pintu bilas, jembatan pelayanan, rumah pintu, saringan batu dan perlengkapan lainnya. Bangunan perlengkapan lain yang harus ada apada bendung antara lain yaitu tembok pangkal, sayap bendung, lantai udik dan dinding tirai, pengarah arus tanggul banjir dan tanggul penutup atau tanpa tanggul, penangkap sedimen atau tanpa penangkap sedimen, tangga, penduga muka air, dan sebagainya. 6. Pengaturan tata letak bendung yang tidak lazim, yang dijumpai pada bendung ini yaitu : 1.) Sumbu bendung ditempatkan tidak tegak lurus arah aliran sungai, 2.) Bangunan intake, tidak dibagian sisi bendung tapi jauh di udik bendung yang tidak merupakan satu kesatuan dengan bendung, 3.) Pintu intake diletakkan di voorkanaal, 4.) Bendungan tanpa bangunan pembilas. Masalah utama pada Bendung Glapan yang dibicarakan tahun 1975 antara lain yaitu terjadinya kesulitan penyadapan air ke intake, akibat adanya timbunan endapan sedimen di voorkanaal. Masalah lain yaitu masuknya angkutan muatan sedimen ke intake dan saluran induk dengan jumlah yang relatif besar.

7. Pelimpah lurus umunya banyak digunakan dan dikembangkan untuk bendung tetap. Dibangun melintang di palung sungai dan tegak lurus antara tembok pangkal dan pilar pembilas bendung. Mengarah tegak lurus terhadap aliran utama sungai. Aliran sungai yang keluar dari bendung ke hilir akan merata dan tidak terkonsentrasi pada satu bagian, sehingga penggerusan setempat di hilir bendung tidak terpusat pada suatu tempat. Pelimpah lengkung adalah alternatif lain dari bentuk tegak lurus. Bentuk ini tidak banyak dijumpai dan dibangun sebelum tahun 1970-an. Dijumpai antara lain pada bendung-bendung cisokan, cianjur, cibongas, bogor, cumulu, tasikmalaya. Lengkungan pelimpah berbentuk cembung mengarah ke udik. Jarak lengkungan biasanya sekitar 1/10 s.d 1/20 dari lebar bentang. Bentuk ini akan melimpahkan aliran sungai lebih besar dibandingkan dengan bentuk lurus karena bentangnya lebih panjang. Umumnya dibangun di daerah dasar sungai dari jenis batuan keras sehingga penggerusan setempat hilir bendung tidak perlu dikahawatirkan. Pelimpah bentuk gergaji, bentuk pelimpah lain yang dikembangkan yaitu bentuk pelimpah gergaji atau pelimpah bergigi. Telah dibangun antara lain ada bendungbendung ciwadas, karawang dan tami di papua. Kapasitas pelimpahan akan menjadi jauh lebih besar dan dapat dikembangkan di daerah pedataran untuk mengurangi daerah genangan banjir di bagian udik bendung. Pelimpah bentuk < dijumpai pada bendung Karang Talun di K. Progo, Yogyakarta. Semula di tempat ini hanya terdapat free intake. Kemudian dibangun bendung. Untuk penyesuaian letak mulut intake, arah aliran utama sungai dan penempatan bendung maka ditata penempatannya sedemikian. Ambang pelimpah yang pendek di bagian kiri tadinya dirancang untuk penempatan pembilas. Tetapi berdasarkan hasil penyelidikan di laboratorium DPMA dan diskusi dengan konsultan kemudian desain asli diubah menjadi bentuk sekarang, dimana bendung tanpa pembilas tetapi mempunyai kantong sedimen yang cukup efektif. 8. Mercu bendung berfungsi sebagai penentu tinggi muka air minimum di sungai bagian udik bendung; sebagai pengempang sungai dan sebagai pelimpah aliran sungai. Bangunan pembilas befungsi untuk menghindarkan angkutan muatan sedimen dasar dan mengurangi angkutan muatan sedimen layang masuk ke intake. Bangunan intake berfungsi sebagai penyadap aliran sungai, mengatur pemasukan air dan sedimen serta menghindarkan sedimen dasar sungai dan sampah masuk ke intake. Tembok sayap hilir berfungsi sebagai pembatas, pengaruh arus, penahan gerowongan dan longsoran tebing sungai di hilir bangunan dan pencegah aliran samping. Tembok pangkal bendung berfungsi sebagai pengarah arus agar arah aluran sungai tegak lurus (frontal) terhadap sumbu bendung, sebagai penahan tanah, pencegah rembesan samping, panangkal jembatan dan sebagainya. Tembok sayap udik berfungsi sebagai pengarah arus, pelindung tebing dan atau pelindung tanggul penutup dari arus yang deras.

9. Bentuk mercu bendung yang lazim digunakan di Indondesia yaitu bentuk mercu bulat. Hal ini dikarenakan : - bentuknya sederhana sehingga mudah dalam pelaksanaannya. - mempunyai bentuk mercu yang besar, sehingga lebih tahan terhadap benturan batu gelundung, bongkah dan sebagainya. - tahan terhadap goresan atau abrasi, karena mercu bendung diperkuat oleh pasangan batu candi atau beton. - pengaruh kavitasi hampir tidak ada atau tidak begitu besar asalkan radius mercu bendung memenuhi syarat minimum yaitu 0,7 h < R < h. Bendung bermercu bulat memiliki harga koefisien debit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan koefisien bendung ambang lebar. Karena itu bendung berambang lebar hampir tidak digunakan lagi pemakaiannya. Kalau mercu bendung tipe ogee susah dibuatnnya. 10. Pertimbangan dan kriteria penentuan elevasi mercu Elevasi mercu bendung ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan : 1) Elevasi sawah tertinggi yang akan diairi, 2) Keadaan tinggi air di sawah, 3) Kehilangan tekanan mulai dari intake sampai dengan saluran tersier ditambah kehilangan tekanan akibat exploitas, 4) Tekanan yang diperlukan agar dapat membilas sedimen di undersluice dan kantong sedimen, 5) Pengaruh elevasi mercu bendung terhadap panjang bendung untuk mengalirkan debit banjir rencana, 6) Untuk mendapatkan sifat aliran sempurna. 11. Dampak yang yang kurang baik akibat dari peninggian mercu bendung yaitu : penyadapan air terganggu terutama musim kemarau sehingga daerah irigasi yang diairi menjadi berkurang, tinggi energi yang dibutuhkan kurang, sehingga pembilasan sedimen oleh undersluice dan di kantong sedimen tidak memadai. 12. Perkiraan penentuan elevasi mercu bendung No. Uraian Ketinggian (m) 1 Sawah yang akan diairi X 2 Tinggi air di sawah 0,10 3 Kehilangan tekanan ; - Dari saluran tersier ke 0,10 sawah - Dari saluran sekunder ke 0,10 tersier - Dari saluran induk ke 0,10 sekunder - Akibat kemiringan saluran 0,15 - Akibat bangunan ukur 0,40 - Dari intake ke saluran 0,20 induk/kantong sedimen - Bangunan lain antara lain 0,25 kantong sedimen 4 Exploitasi 0,10 Elevasi mercu bendung X + 1,50 m

Dalam penentuan elevasi mercu bendung dapat di lakukan langkah kegiatan sebagai berikut: 1) Tetapkan elevasi sawah tertinggi yang akan diairi; tinggi muka air disawah dan di saluran irigasi hingga mendapatkan tinggi muka air di bangunan bagi pertama. 2) Hitung kebutuhan tinggi tekan untuk mengalirkan air dari intake ke bangunan ukur dan ke bangunan bagi pertama ke saluran sekunder, tersier dan sawah dengan memperhatikan kehilangan tekanan akibat gesekan sepanjang saluran. 3) Hitung kehilangan tinggi tekan pada bangunan ukur dengan memperhitungkan tipe alat ukur yang dipakai. 4) Hitung kehilangan tinggi tekan di intake dengan memperhatikan kehilangan tekanan akibat saringan sampah dan pintu-pintu. 5) Bila bendung dilengkapi dengan kantong sedimen maka; hitung tinggi elevasi muka air di awal intake berdasarkan keadaan aliran untuk pembilasan sedimen di kantong sedimen. 6) Pilih elevasi muka air di udik intake yang lebih menentukan antara hasil perhitungan untuk keperluan jaringan irigasi dan hasil perhitungan untuk keperluan pembilasan sedimen. 7) Tentukan kehilangan tinggi tekan akibat saringan sampah dan atau saringan batu yang dipasang di udik intake. 8) Tambahan tinggi mercu sekurangnya sebesar 0,10 meter, untuk mengatasi penurunan muka air di udik mercu akibat gelombang yang timbul oleh tiupan angin dan kebocoran di pintu. 9) Elevasi hasil perhitungan di atas, sehingga pada debit desain tetap terjadi aliran sempurna. 13. Bangunan intake adalah suatu bangunan pada bendung yang berfungsi sebagai penyadap aliran sungai , mengatur pemasukan air dan sedimen serta menghindarkan sedimen dasar sungai dan sampah masuk ke intake. Tata letak intake diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi fungsinya dan biasanya diatur seperti berikut : 1. Sedekat mungkin dengan bangunan pembilas. 2. merupakan satu kesatuan dengan pembilas. 3. tidak menyulitkan penyadapan aliran. 4. tidak menimbulkan pengendapan sedimen dan turbulensi aliran di udik intake. 14. Intake biasa, intake gorong-gorong, intake frontal,dua intake di satu sisi bendung. 15. Arah intake terhadap sumbu sungai dapat diatur seperti berikut : 1. Tegak lurus membentuk sudut kira-kira 90 terhadap sumbu sungai, 2. Menyudut membentuk sudut antara 45 - 50 terhadap sumbu sungai, 3. Keadaan tertentu yang ditetapkan berdasarkan hasil uji model hidraulik di laboratorium. Arah intake yang tegak lurus dibandingkan dengan arah yang menyudut ditinjau dari segi hidraulik lebih menguntungkan arah yang tegak lurus terhadap sumbu sungai. Letak intake harus ditata sedemikian rupa sehingga berada di tinkungan luar

aliran yang membentuk aliran helicoidal. Sehingga pada keadaan sungai banjir, angkutan sedimen dasar yang mendekat ke intake akan terlempar ke tikukan dalam menjauhi intake. 16. Komponen utama bangunan intake terdiri dari : 1. Ambang/lantai dinding bangunan tembok sayap, 2. Pintu dan perlengkaannya serta dinding penahan banjir, 3. Pilar penempatan pintu bila pintu lebih dari satu buah, 4. Jembatan pelayan, 5. Rumah pintu, 6. Saringan sampah, 7. Sponeng cadangan, dan lain-lain. 17. Jika debit yang diperlukan untuk irigasi sebelah kiri dan kanan bendung jauh berbeda , tidak perlu membuat 2 intake, solusinya adalah dengan cara membuat bangunan gorong-gorong di tengah-tengah bendung. Keuntungan bendung ditempatkan di sudetan yaitu: Memudahkan pelaksanaan bendung tanpa gangguan aliran sungai, dan tidak perlu terburu-buru karena gangguan musim, Arah aliran menuju bendung dan ke hilirnya akan lebih baik, Untuk mendapatkan tanah fundasi yang lebih baik, Penempatan lokasi intake, kantong sedimen dan saluran akan lebih baik.

Namun akan dijumpai pula kesulitannya yaitu: Harus dibuat tanggul penutup sungai, yang kadangkala cukup tinggi dan berat, Diperlukan pula bangunan pengelak khusus dalam pelaksanaan pembuatan tanggul penutup tersebut, Adakalanya perlu penyeberangan saluran induk dia atas palung sungai asli. 18. Bentuk bendung pelimpah : Pelimpah lurus umumnya banyak digunakan dan dikembangkan untuk bendung tetap.dibangun melintang di palung sungai dan tegak lurus antara tembok pangkal dan pilar pembilas bendung. Pelimpah lengkung adalah alternatif lain dari bentuk lurus. Bentuk ini tidak banyak dijumpai dan dibangun sebelum tahun 1970-1n. Di jumpai antara lain pada bendung-bendung Cisokan, Cianjur, Cibongas, Bogor, Cumulu, Tasikmalaya. Lengkungan pelimpah berbetuk cembung mengarah ke udik. Jarak lengkungan biasanya sekitar 1/10 s.d 1/20 dari lebar bentang. Pelimpah bentuk gergaji, bentuk pelimpah lain yang dikembangkan yaitu bentuk pelimpah gergaji atau pelimpah bergigi. Telah dibangun antara lain ada bendung-bendung ciwadas, karawang dan tami di papua. Kapasitas pelimpahan akan menjadi jauh lebih besar dan dapat dikembangkan di daerah pedataran untuk mengurangi daerah genangan banjir di bagian udik bendung. Pelimpah bentuk < dijumpai pada bendung Karang Talun di K. Progo, Yogyakarta. Semula di tempat ini hanya terdapat free intake. Kemudian dibangun bendung. Untuk penyesuaian letak mulut intake, arah aliran utama sungai dan penempatan bendung maka ditata penempatannya sedemikian. Ambang pelimpah yang pendek di bagian kiri tadinya dirancang untuk penmpatan pembilas. Tetapi berdasarkan hasil penyelidikan di laboratorium DPMA dan diskusi dengan

konsultan kemudian desain asli diubah menjadi bentuk sekarang, dimana bendung tanpa pembilas tetapi mempunyai kantong sedimen yang cukup efektif.

19. Bentuk mercu bendung tetap, yaitu : Mercu bulat dengan satu jari-jari pembulatan, Mercu bulat dengan dua jari-jari pembulatan, Mercu tipe Orgee, SAF, dan Mercu ambang lebar. 20. Perkiraan penentuan elevasi mercu bendung No. Uraian 1 Sawah yang akan diairi 2 Tinggi air di sawah 3 Kehilangan tekanan ; - Dari saluran tersier ke sawah - Dari saluran sekunder ke tersier - Dari saluran induk ke sekunder - Akibat kemiringan saluran - Akibat bangunan ukur - Dari intake ke saluran induk/kantong sedimen - Bangunan lain antara lain kantong sedimen 4 Exploitasi Elevasi mercu bendung

Ketinggian (m) X 0,10 0,10 0,10 0,10 0,15 0,40 0,20 0,25 0,10 X + 1,50 m

Langkah penentuan elevasi mercu bendung. Dalam penentuan elevasi mercu bendung dapat di lakukan langkah kegiatan sebagai berikut: 1. Tetapkan elevasi sawah tertinggi yang akan diairi; tinggi muka air disawah dan di saluran irigasi hingga mendapatkan tinggi muka air di bangunan bagi pertama. 2. Hitung kebutuhan tinggi tekan untuk mengalirkan air dari intake ke bangunan ukur dan ke bangunan bagi pertama ke saluran sekunder, tersier dan sawah dengan memperhatikan kehilangan tekanan akibat gesekan sepanjang saluran. 3. Hitung kehilangan tinggi tekan pada bangunan ukur dengan memperhitungkan tipe alat ukur yang dipakai. 4. Hitung kehilangan tinggi tekan di intake dengan memperhatikan kehilangan tekanan akibat saringan sampah dan pintu-pintu. 5. Bila bendung dilengkapi dengan kantong sedimen maka; hitung tinggi elevasi muka air di awal intake berdasarkan keadaan aliran untuk pembilasan sedimen di kantong sedimen.

6. Pilih elevasi muka air di udik intake yang lebih menentukan antara hasil perhitungan untuk keperluan jaringan irigasi dan hasil perhitungan untuk keperluan pembilasan sedimen. 7. Tentukan kehilangan tinggi tekan akibat saringan sampah dan atau saringan batu yang dipasang di udik intake. 8. Tambahan tinggi mercu sekurangnya sebesar 0,10 meter, untuk mengatasi penurunan muka air di udik mercu akibat gelombang yang timbul oleh tiupan angin dan kebocoran di pintu. 9. Elevasi hasil perhitungan di atas, sehingga pada debit desain tetap terjadi aliran sempurna.

21.Kantong

sedimen/lumpur berfungsi untuk mengurangi kecepatan aliran dan memberi kesempatan kepada sedimen untuk mengendap.

Metode operasional kantong sedimen adalah sbb : Metode Angkutan Sedimen Dasar Diantara formula formula untuk mencari bed load, ada Formula Einstein.
Dalam formula ini Einstein menetapkan persamaan muatan dasar sebagai persamaan yang menghubungkan material dasar dengan pengaliran setempat. Persamaan itu menggambarkan keadaan keseimbangan pertukaran butiran dasar antara lapisan dasar ( bed layer ) dan dasarnya. Hubungan antara kemungkinan butiran akan terangkut dengan intensitas angkutan muatan dasar di jabarkan sebagai berikut (Einstein, 1950) : Qb = ( ( g. . D353 )1/2 ).B = 0.044638 + (0.36249.1) (0.226795. 2) + (0.036. 3) = ( . R. I ) / ( . D35 ) = w. g. R. I = ( C/C )3/2 C = 18 log ( 12R / D65 ) C = V / ( R. I )1/2 dimana : A = Luas penampang basah ( m2 ) P = Keliling basah ( m ) R = Jari jari hidroulis (A/P) V = Kecepatan ( m/dt ) Q = Debit ( m3/dt ) V. A

Metode Angkutan Sedimen Melayang


Muatan layang (suspended load) dapat juga dihitung dengan menggunakan metode USBR (united state bureau reclamation) dimana untuk menghitung angkutan muatan layang, diperlukan pengukuran debit air (Qw) dalam m3/det, yang dikombinasikan dengan konsentrasi sedimen (C) dalam mg/l, yang menghasilkan debit sedimen dalam ton/hari dihitung dengan persamaan (Strand, 1982) : Qs = 0,0864 C.Qw. Keterangan : Qw : Debit air (m3/det) C : Konsentrasi sedimen (mg/l)

22. Intake biasa, intake gorong-gorong, intake frontal,dua intake di satu sisi bendung. 23. Langkah perencanaan yang dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut ialah dengan cara tata letak intake diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi fungsinya dan biasanya diatur seperti berikut : Sedekat mungkin dengan bangunan pembilas, Merupakan satu kesatuan dengan pembilas, Tidak menyulitkan penyadapan aliran, Tidak menimbulkan pengendapan sedimen dan turbulensi aliran di udik intake.

Bila hal diatas tidak memungkinkan karena misalnya kebutuhan untuk penempatan jembatan, letak tembok pangkal, dan sebagainya maka tata letak intake dapat menyimpang dari itu. Untuk itu pengaturan tata letak intake sebaiknya dipelajari dengan uji model hidraulik. 24. Bangunan pembilas berfungsi untuk menghindarkan angkutan muatan sedimen dasar dan mengurangi angkutan muatan sedimen layang masuk ke intake. Sistem kerja pembilas dengan undersluice bila dioperasikan yaitu : 1. Aliran sungai di lapisan bawah dan atas bersa-sama dengan sedimen dasar mengalir dan masuk ke bangunan pembilas pada saat pintu bilas diuka dan intake ditutup, yang akhirnya terbuang ke hilir bendung melalui pintu bilas, 2. pembilasan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu sehingga mendapatkan kedung daerah bebas endapan di udik dan mulut intake. 25. Bangunan udersluice adalah salah satu perlengkapan bendung yang terletak di bawah bangunan pembilas, di dekat dan menjadi satu kesatuan dengan intake, yang berfungsi untuk membersihkan sedimen yang ada di dasar. 26. Fungsi bangunan peredam energi adalah untuk menjauhkan dari penggerusan setempat terhadap bangunan bendung dan menghindarkan benturan langsung pada permukaan bangunan di bagian hilir.

Perinsip kerja bangunan peredam energi adalahpada saat keadaan aliran pusaranbalik atas, energi air dikurangi dengan cara di pecahkan oleh bangunan peredam energi, dll. 27. Peredam energi tipe cekung adalah bagian di hilir tubuh bendung berbentuk lantai cekung masif, dilengkapi dengan ambang akhir (apron lip) dan dibatasi oleh tembok pangkal di bagian kanan kirinya. Peredam energi tipe berganda adalah struktur di bagian hilir tubuh bendung yang merupakan kolam olak berganda, yang masing-masing kolam olak dilengkapi dengan lantai dengan lantai dasar dan ambang akhir pembentuk olakan. Dibagian kanan kirinya dibatasi oleh tembok pengakal bentuk tegak. Peredam energi tipe USBR di Indonesia dimulai sejak tahun 1970-an, yang diperkenalkan oleh konsultan asing atau petugas-petugas Indonesia yang telah bersekolah di luar negeri. Peredam energi tipe kotak-kotak penerapannya dilakukan pada ruang olakan kedua bendungbendung Berugbug dan Tajum. Peredam energi ini digunakan sebagai tambahan peredam energi yang telah ada sebelumnya dan sudah tidak efektif bekerja karena berbagai sebab antara lain pennggerusan setempat yang dalam, dan terjadinya degradasi dasar sungai. 28. Tembok sayap hilir berfungsi sebagai pembatas, pengarah arus, penahan gerowongan dan longsoran tebing sungai di hilir bangunan dan pencegah aliran samping. 29. Untuk tinjauan terhadap stabilitas bendung yang terpenting ialah : 1. Aman terhadap sliding. 2. Aman terhadap piping. 3. Tidah boleh pecah. 4. Tidak boleh kropos. 5. Tidak boleh ambles. 6. Tidak boleh ada tegangan tarik.

Metode Pelaksanaan Bendungan


1. Bendungan adalah bangunan yang menutup aliran sungai yang terletak di suatu tempat, sehingga diperoleh suatu tandon air tawar yang cukup besar untuk dipergunakan dalam berbagai keperluan manusia. Alternatiif letak bendungan, biasanya dipilih yang paling pendek untuk pertimbangan ekonomis. Pertimbangan letak bendungan (dan site) juga memikirkan tentang banyaknya volume tandon air yang akan dan yang diperlukan, dan juga seberapa luas areal genangan yang akan terjadi bila bendungan dalam kondisi diisi penuh. 2. Bendungan tertinggi di dunia saat ini adalah Bendungan Rogun (Kompas 30/01/2005), terletak di Sungai Vakhsh di Tajikistan, dengan ketinggian 1.099 kaki (335 meter). 3. Karena 3 hal tersebut-lah yang sangat penting dalam/menentukan sukses, berhasilnya suatu bendung itu dapat beroperasi sampai dengan umur yang telah ditentukan.

4. Kriteria tentang bendungan besar yang telah diterapkan ICOLD yaitu : 1) Bendungan dengan tinggi lebih dari 15 (lima belas) meter, diukur dari bagian terendah ke puncak bendungan. 2) Bendungan dengan tinggi antara 10 meter dan 15 meter, yang memenuhi minimum saru dari hal-hal dibawah ini : i. Panjang puncak bendungan tidak kurang dari 500 meter ii. Kapasitas resevoir tidak kurang dari satu juta meter kubik iii. Debit sungai tidak kurang dari 200 meter kubik per detik iv. Bendungan mempunyai kesulitan pada persoalan fondasi v. Bendungan dengan desain yang tidak biasa (khusus). 5. Kegagalan konstruksi bendungan besar di Indosnesia yang terkenal adalah jebolnya Bendungan sempor yang terjadi pada tahun 1967, yang disebabkan oleh overtopping. Overtopping itu sendiri kabarnya disebabkan oleh kekurangmampuan spillway yang ada, sehingga debit banjir yang terjadi saat itu tidak dapat dilayani, dan akhirnya menyebabkan terjadinya overtopping. Cara mengatasinya adalah dengan cara menjadikan suatu hikmah yang dapat dapat menambah banyak pengetahauan suatu kegagalan bendungan yang telah terjadi, sehingga semakin sempurananya pengetahauan para engineer dalam membuat desain bendungan, dan dalam menetapkan cara pelaksanaannya. 6. Umur bendungan biasanya banyak ditentukan oleh jumlah endapan lumpur (slit) yang dibawa oleh sungai yang bersangkutan. Sebagai contoh Danau Mangla di Pakistan, akan kehilangan kapasitasnya sebesar 1.233 juta meter kubik setiap 20 tahun. 7. rockgrouting adalah merupakan pekerjaan masukan bahan yang masih dalam keadaan cair untuk perbaikan tanah, dengan cara tekanan, sehingga bahan tersebut akan mengisi semua retak-retak dan lubang-lubang, kemudian setelah beberapa saat bahan tersebut akan mengeras, dan menjadi satu kesatuan dengan tanah yang ada. 8. Fungsi dari spill way adalah untuk membuang/menyalurkan sebagian debit air yang tidak diperlukan dalam pengoperasian bendungan, kembali ke sungai. Dilihat dari letaknya, spill way dapat bermacam-macam, yaitu : 1) Melalui puncak bangunan. 2) Melalui badan bangunan. 3) Melalui badan bawah bangunan. 9. Dilihat dari bentuknya, dapat dibedakan atas : 1) Spill way chute 2) Sipbon spill way 3) Spill way tunnel 4) Free overfall spill way 10. River diversion ini diperlukan agar daerah yang akan dibangun bendungan, dapat dikeringakan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut : 1) Inspeksi kondisi geologi secara fondasi 2) Persiapan dan perbaikan fondasi 3) Memulai pelaksanaan bendungan tahap pertama. Untuk dapat mengalihkan aliran sungai ke riverdiversion, maka aliran sungai harus ditutup dengan cofferdam baik di upstream maupun di downstream.

11. Pada dasarnya river diversion ada dua jenis, yaitu : 1) Channel diversion, merupakan saluran terbuka yang biasanya melalui badan bendungan dimana dalam proses pengisian bedungan, channel diversion ini akan ditutup. 2) Tunnel diversion terletak di luar sungai, sering dilakukan baik pada bendungan tipe urugan maupun bendungan beton. 12. Pekerjaan persiapan meliputi hal-hal sebagai berikut : 1) Survei untuk menetapkan quarry tanah untuk material timbunan (core, filter maupun rock fill) dengan bantuan tes lab. 2) Survei untuk menetapkan disposal area, bila diperlukan untuk membuang material yang tidak dipakai. 3) Menetapkan lokasi dan meembuat base camp, kantor-kantor, laboratorium beserta seluruh fasilitas yang diperlukan. 4) Melakukan pengukuran di lokasi bendungan untuk menetapkan as bendungan, dan batas kaki bendungan, untuk keperluan stripping dan pekerjaan galian fondasi. Hasil pengukuran lokasi bendungan ini juga dipakai sebagai dasar pembuatan tunnel diversion. 5) Membuat jalan kerja yang memadai, terutama jalan kerja untuk transportasi meterial timbunan. 13. Pekerjaan fondasi embankment dan, dilakukan antara lain sebagai berikut : 1) Dilakukan striping/pembersihan seluruh daerah kontak antara material timbunan dengan lembah yang ada, dengan batasan-batasan yang ditunjukkan oleh pengukuran. 2) Dilakukan penggalian untuk memperbaiki slope lembah yang ada, sesuai yang dipersyaratkan (tidak boleh menggunakan peledakan). 3) Seluruh permukaan kontak fondasi, dibersihakan dua sampai tiga kali dan terkahir dengan air-water jet kecuali utuk batuan (rock) yang sensitif terhadap air/retak-retak. Di beberapa tempat dilapisi lean concrete tidak kurang dari 5 cm. 4) Dilakukan blanket grout minimal dia pertiga daerah kontak di bagian up stream, atu sesuai persyaratan yang diminta. Setelah blanket grout dilakukan grout curtain sesuai yang disyaratkan. 14. Hal-hal pertimbangan yang mendasari dalam memilih quary tanah untuk lapisan core atau homogeneous dam adalah sbb : - Permeability, - Resistance to piping, - Shear strength, - Flexibility, - Resistance to cracking. 15. Pemadatan material : a. Pemadatan fine material, b. Pemadatan filter, c. Pemadatan Rock Fill, d. Urutan pemadatan. 16. Tailings dams, adalah bendungan yang dibuat untuk menampung buangan tanah (limbah) yang terjadi pada proses pertamnbangan. Fungsi pokok dari Tailings Dams, ada dua yaitu : 1) Menampung waste dari tambang, yang berbentuk slurry, membentuk seperti suatu bendungan. 2) Menyediakan penampungan sementara untuk sejumlah air yang diperlukan (diperlukan untuk kegiatan penambangan).

17. Ada dua teknik dasar yang digunakan pada proses konstruksi tailing dam, yaitu penggunaan meterial dari luar (borrow materials) untuk tanggul yang menahan material waste dari penambangan, dan material waste itu sendiri yang akan membentuk struktur dam. Teknik yang pertama dipilih bila volume dam tidak terlalu besar atau kandungan pasir dari tailing hanya sedikit, sedang teknik yang kedua yang menggunakan meterial tailing, dipilih bila volume damnya besar dan material tailingnya mengandung pasor sebesar 30% sampai dengan 40%, atau bahkan lebih. 18. Concreting (Pembetonan) 1) Kapasitas concrete batching plant harus sesuai dengan kapasitas pekerjaan yang harus dicapai. Sebelum pengecoran dimulai, harus dilakukan trial mixing untuk menjamin diperolehnya kualitas beton sesuai persyaratan. 2) Concrete hendling juga harus dipikirkan agar dapat mencapai kapasitas pekerjaan dan teknik placing-nya harus dapat menghindari terjadinya segregasi dari campuran beton. Concrete handling dilakukan tergantung pada situasi dan kondisi setempat dapat menggunakan cable way atau tower crane, seperti yang diuraikan pada pekerjaan persiapan dengan menggunakan bucket. 3) Untuk pengecoran concrete dam yang besar, bucket beton yang digunakan dapat berukuran 3 m sampai 6 m. 4) Untuk meratakan beton dipergunakan Dozer 45 HP untuk bucket 3 s.d. 4 m dan Dozer 60 HP untuk bucket 6 m. 5) Untuk menghemat penggunaan semen, kadang-kadang menggunakan batu-batu besar yang ditimbun dalam beton. Batu tersebut dapat berukuran sampai 10 ton lebih. Dirusia telah dilakukan penggunaan batu berukuran lebih dari 3 m sebanyak 8 sampai 13% dari beton. Penggunaan batu-batu besar tersebut dapat mengurangi naiknya temperatur sampai 6 celcius. 6) Form work (slip form atau jump form) dapat dipergunakan untuk mengecor dinding di bagian up stream dan down stream, sedang tengahnya diisi beton dan dinding-dinding tersebut berfungsi sebagai form work yang permanen. 7) Beberapa hari dalam proses pengerasan beton dalam volume yang besar, menimbulkan panas akibat prosses hidrasi dari semen. 8) Kenaikan temperatur ini harus dikendalikan agar tidak menimbulkan keretakan pada beton. Ada beberapa carauntuk mengendalikan temeratur yaitu : - Penggunaan fly ash untuk mengurangi semen. - Pemasangan pipa pendingin di dalam beton. - Penggunaan air dingin (air es). - Penggunaan notrogen cair. 19. Dari pengalaman-pengalaman yang dilaporkan, kegagalan bendungan dapat digolongkan menjadi tiga kelompok sebagai berikut : 1) Failure by Sliding Contoh : Waco Dam, Texas U.S.A tahun 1961. Dam ini merupakan timbunan homogen dengan tinggi 43 meter dan panjang 5500 m. Sewaktu kelihatan pecah pada sisi down stream pekerjaan hampir selesai. Dari tanggal 4 oktober sampai 20 oktober 1961 bergerak dengan pelan, tetapi pertambahan terus dan baru berhenti awal november.

Puncak timbunan telah turun 5 meter dan pada posisi down stream, bergerak horizontal sejauh 6 meter lebih sepanjang 2 meter.