Anda di halaman 1dari 166

MODUL

Sosiologi Jenjang SMA

KONSORSIUM SERTIFIKASI GURU 2013

MODUL

Sosiologi Jenjang SMA

Penulis

Basuki Haryono Siti Rochani Atik Catur Budiati Siany Indria Liestyasari Siti Chotidjah
Penyunting ........................................

KONSORSIUM SERTIFIKASI GURU 2013


i

KATA PENGANTAR
Kehadiran modul ini merupakan bagian dari sistem pembelajaran yang diselenggarakan oleh Pemerintah untuk mendukung program Sertifikasi Guru bidang Sosiologi. Hal yang penting untuk dipahami bahwa Sosiologi bukanlah seperangkat doktrin yang kaku dan selalu menekan apa yang seharusnya terjadi. Ada banyak perspektif yang melingkupi kajian Sosiologi sehingga mampu mengungkap fakta-fakta yang tersembunyi di balik realitas sosial yang ada di dalam masyarakat. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Peter Berger bahwa dunia ini bisa dipahami dan dikaji dunia lebih mendalam dan

diinterpretasikan nampaknya.

sehingga

gambaran

bukanlah

sebagaimana

Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri namun sosiologi juga menjadi ilmu terapan (applied science). Modul ini diharapkan dapat membantu para pengajar SMA untuk lebih memahami ilmu Sosiologi. Modul ini dibagi menjadi 8 bab yang masing-masing bab membahas konsep dasar (fundamental) dari ilmu Sosiologi. Modul ini berupaya menyesuaikan dengan kurikulum mata pelajaran Sosiologi di SMA meskipun ada pembenahan di beberapa hal untuk pengembangan studi sosiologi lebih lanjut. Selanjutnya, kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyusun modul mata pelajaran sosiologi jenjang SMA. Namun, kami menyadari bahwa modul ini masih banyak kekurangannya. untuk itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan untuk penulisan

selanjutnya. Semoga modul akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang studi sosiologi bagi pengajar sosiologi khususnya. Jakarta , 31 Desember 2012 Tim Penyusun

ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Peta Kedudukan Modul Glossary Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu Yang Mengkaji Hubungan Masyarakat dan Lingkungan Pengantar ................................................................................... Sejarah Lahirnya Sosiologi ...................................................... Pengertian Sosiologi ................................................................. Sosiologi Berparadigma Ganda .............................................. Sumbangan Sosiologi bagi Masyarakat ................................. Metode Sosiologi ....................................................................... Perspektif Teori Sosiologi ........................................................ Bab 2 Nilai dan Norma Sosial Pengantar ................................................................................... Nilai Sosial ................................................................................. Norma Sosial ............................................................................. Interaksi Sosial .......................................................................... Syarat Interaksi Sosial .............................................................. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial ............................................... Perspektif Teori Interaksi Sosial ............................................. Bab 3 Sosialisasi dan Kepribadian Pengantar ................................................................................... Pengertian Sosialisasi ............................................................... Agen Sosialisasi ......................................................................... Sosialisasi dalam Pembentukan Kepribadian ...................... Teori Sosialisasi dan Kepribadian .......................................... Perilaku Menyimpang ............................................................. Jenis-jenis Perilaku Menyimpang ........................................... Teori Perilaku Menyimpang ................................................... Pengendalian Sosial .................................................................. Cara-cara Pengendalian Sosial ................................................ Bab 4 Struktur Sosial Pengantar ................................................................................... Pengertian Struktur Sosial ....................................................... Diferensiasi Sosial ..................................................................... Stratifikasi Sosial ....................................................................... Dampak Stratifikasi Sosial ....................................................... Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial ...................................... Halaman ii iii vi vii

1 2 6 9 11 12 14 17 18 22 26 28 30 35 39 40 43 44 47 51 54 56 59 60 63 64 68 70 81 82

iii

Bab 5

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural Pengantar ................................................................................... Pengertian Kelompok Sosial ................................................... Jenis Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural ... Faktor Penyebab Munculnya Masyarakat Multikultural ... Konflik Sosial dalam Masyarakat Multikultural .................. Integrasi Sosial dalam Masyarakat Multikultural ............... Bab 6 Perubahan Sosial Pengantar ................................................................................... Konsep Perubahan dalam Masyarakat .................................. Teori Perubahan Sosial ............................................................ Proses Perubahan Sosial .......................................................... Faktor Penghambat dan Pendorong terjadinya Perubahan Sosial ........................................................................................... Bentuk-bentuk Perubahan Sosial ........................................... Dampak Perubahan Sosial ...................................................... Bab 7 Lembaga Sosial .............................................................................. Pengantar ................................................................................... Pengertian Lembaga Sosial ..................................................... Karakteristik Lembaga Sosial ................................................. Tipe Lembaga Sosial ................................................................. Basic Social Institution ............................................................... Bab 8 Penelitian Sosial ............................................................................ Pengantar ................................................................................... Pengertian Penelitian Sosial .................................................... Rancangan Penelitian Sosial ................................................... Seminar Hasil Penelitian Sosial .............................................. Daftar Pustaka

91 92 93 99 100 105 113 114 115 120 121 122 124 127 127 129 131 134 142 143 150 161

iv

PETA KEDUDUKAN MODUL


Lembaga Sosial

Bab 1. Sosiologi sebagai Ilmu yang mengkaji Masyarakat dan Lingkungan

Sejarah Perkembangan Sosiologi

Pengertian Sosiologi Metode Sosiologi Bab 2. Nilai dan Norma Sosial

Stratifikasi dan Diferensiasi Sosial Struktur Sosial

Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian

Interaksi Sosial Mobilitas Sosial

Perilaku Menyimpang

Konflik Sosial

Kelompok Sosial

Pengendalian Sosial

Penelitian Sosial

vi

GLOSSARY
Akulturasi Proses pengambilan unsur-unsur (sifat) kebudayaan lain oleh sebuah kelompok atau individu Amalgamasi Perbauran biologis antara dua atau lebih ras manusia yang berbeda ciri-ciri fisiknya sehingga mereka menjadi satu rumpun. Anomie Kondisi masyarakat yang tidak memiliki seperangkat norma dan nilai yang konsisten yang dapat dihayati dan digunakan sebagai pedoman oleh para anggota masyarakat itu Applied science (Ilmu pengetahuan terapan) Metodologi ilmiah yang digunakan dalam pengembangan pengetahuan yang dapat bermanfaat untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Asimilasi Peleburan dua kebudayaan atau lebih sehingga menjadi satu kebudayaan Case study (Studi kasus) Studi mendalam terhadap suatu peristiwa, tempat, orang, kelompok, atau lembaga tertentu Counterculture Sebuah kebudayaan khusus (subkultur) yang tidak hanya berbeda dnegan kebudayaan masyarakat yang berlaku dan diterima, tetapi juga bertentangan dengan kebudayaan masyarakat tersebut Cross-sectional study (Studi lintas-seksional) Studi yang mencakup sejumlah besar fenomena dan sampel serta dilakukan dalam jangka waktu tertentu Difusi Penyebaran unsur-unsur budaya dari suatu kelompok ke kelompok lainnya atau dari suatu masyarakat ke masyarakat lainnya

Discovery Persepsi manusia terhadap aspek kenyataan yang sudah ada dan telah disepakati bersama Diskriminasi Perbedaan perlakuan terhadap sesama manusia, pembatasan kesempatan atau imbalan yang berdasarkan ras, agama, atau kelompok etnik Etnosentrisme Kecenderungan setiap kelompok untuk percaya begitu saja akan keunggulan kebudayaan sendiri Evaluation study (Studi evaluasi) Studi yang menelaah hasil dari suatu program atau kebijakan. Extended Family (Keluarga Luas) Keluarga batih yang ditambah dengan beberapa anggota sank keluarga yang memiliki hubungan dekat. Folkways (Kebiasaan) Perilaku kebiasaan yang normal dan sering dilakukan serta merupakan ciri dari para anggota kelompok Gerakan Separatisme Gerakan pemutusan hubungan terhadap golongan mayoritas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang menderita sebagai akibat dari adanya diskriminasi pada masa lalu sehingga mereka menghendaki terciptanya kehidupan sosial dan ekonomi yang terpisah Hegemoni Pengaruh kepemimpinan, dominasi, kekuasaan, dan sebagainya dalam suatu negara atas negara lain atau suatu kelompok atas kelompok lain Integrasi Bangsa Penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial ke dalam suatu wilayah dan pembentukan suatu indentitas nasional Inovasi

ii

Cara dimana perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat. Invention Suatu penggambungan (kombinasi) baru atau kegunaan baru dari pengetahuan yang sudah ada Interview study (Studi wawancara) Studi dimana para informan (pemberi informasi) menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Kelompok Etnik Sejumlah orang yang memiliki persamaan ras dan warisan budaya yang membedakan mereka dengan kelompok lainnya Kepribadian Keseluruhan perilaku seseorang bserta kecenderungan tertentu yang

berinteraksi dengan serangkaian situasi Ketertiban Sosial Sistem kemasyarakatan pola hubungan dan kebiasaan yang berjalan lancar demi mencapai tujuan masyarakat Konservatif Seseorang yang mungkin saja dapat menerima perubahan-perubahan kecil, namun tetap yakin bahwa sistem sosial yang berlangsung pada hakikatnya sudah baik. Kebudayaan Segala sesuatu yang dipelajari melalui masyarakat dan dilakukan oleh para anggota masyarakat, warisan sosial yang diterima oleh seseorang dari kelompoknya, sistem perilaku yang dimiliki bersama oleh para anggotanya. Kelompok Etnik Sejumlah orang yang memiliki persamaan ras dan warisan budaya yang membedakan mereka dengan kelompok lainnya Longitudinal study (Studi longitudinal) Suatu studi menyangkut suatu fenomena yang sama pada masa tertentu

iii

Mores Pandangan ketat mengenai hal yang benar dan salah yang mewajibkan tindakan tertentu dan melarang tindakan tertentu lainnya Nilai Pandangan mengenai apa yang penting dan tidak penting, yang berguna dan yang tidak berguna Norma Pedoman untuk melaksanakan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan dan anjuran agar seseorang agar dapat bertingkah laku pantas guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamian dalam masyarakat Nuclear Family (Keluarga batih) Keluarga yang terdiri atas suami, istri dan beserta anak-anak mereka. Dapat juga disebut keluarga konjugal Perilaku Menyimpang Perilaku pelangggaran terhadap norma-norma kelompok sosial atau

masyarakatnya Konformitas merupakan perilaku yang mengikuti tujuan yang ditentukan oleh masyarakat dan mengikuti cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut. Penyimpangan Primer Penyimpangan yang bersifat sementara dan tidak banyak memberikan kerugian bagi masyarakat sekitar. Penyimpangan Sekunder Penyimpangan yang dilakukan secara terus menerus meskipun sanksi telah diberikan. Pengendalian Sosial Metode pengawasan terhadap masyarakat baik secara persuasif maupun memaksa sehingga perilaku anggota masyarakatnya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

iv

Pluralisme Budaya Toleransi terhadap adanya perbedaan budaya dalam suatu masyarakat, memperkenankan kelompok-kelompok yang berbeda untuk tetap memelihara keunikan budaya masing-masing Primordialisme Pemikiran yang mengutamakan atau menempatkan pada tempat yang pertama kepentingan suatu kelompok atau komunitas masyarakat. Pure Science (Ilmu pengetahuan murni) Upaya pengembangan pengetahuan baru tanpa memusatkan perhatian pada kegunaan atau hasil praktisnya Ras Suatu kelompok orang yang agak berbeda dengan orang lain dalam segi ciriciri fisik bawaan. Reference Group setiap kelompok yang menjadi model atau penuntun bagi

keputusan dan tindakan seseorang Ritualisme Perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya namun masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat. Retreatism Perilaku seseorang tidak mengikuti tujuan budaya dan juga tidak mengikuti cara untuk meraih tujuan budaya. Rebellion (Pemberontakan) Bentuk adaptasi dimana orang tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan suatu struktur sosial yang lain. Questionnaire study (Studi kuesioner) Studi yang datanya diperoleh dari jawaban yang diberikan oleh para informan dengan cara mengisi (menjawab) sejumlah pertanyaan setulis Science (Ilmu pengetahuan)

Sejumlah pengetahuan yang teratur dan dapat dibuktikan yang diperoleh melalui penyelidikan ilmiah, suatu metode studi yang dipakai untuk memperoleh sejumlah pengetahuan yang bisa dibuktikan kebenarannya Simbol Segala sesuatu yang melambangkan yang lain daripada benda (lambang) itu sendiri, misalnya kata, gerakan, atau bendera. Society (Masyarakat) Kelompok manusia yang secara nisbi mampu menghidupi kelompoknya, bersifat independen dan mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan, serta kebanyakan kegiatannya berlangsung di dalam kelompok itu sendiri. Sociology (Sosiologi) Studi ilmiah tentang kehidupan masyarakat Xenosentrisme Sikap yang lebih menyenangi pandangan atau produk asing, lawan kata dari etnosentrisme

vi

BAB I SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU YANG MENGKAJI HUBUNGAN MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN

Standar Kompetensi: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran sosiologi Kompetensi Dasar: 1. Memahami materi, struktur, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran sosiologi 2. Menjelaskan fungsi sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan kriteria sosiologi yang dapat dinyatakan sebagai ilmu pengetahuan 2. Membedakan pengertian sosiologi sebagai ilmu murni dan sosiologi sebagai ilmu terapan 3. Menjelaskan metode-metode yang digunakan sosiologi 4. Membandingkan pejelasan sosiologi dalam pendekatan struktural fungsional dan pendekatan struktural konflik 5. Membandingkan pendapat ahli tentang konsep sosiologi 6. Menjelaskan sumbangan sosiologi dalam pembangunan kehidupan masyarakat

A. Pengantar Tindakan sosial telah ada sejak manusia itu ada. Namun baru pada akhir abad 19, manusia berusaha menyusun sebuah ilmu tentang kehidupan sosial. Hal ini karena manusia mulai mempertanyakan tentang apa yang mendorong manusia melakukan tindakan sosial? Bagaimana kehidupan masyarakat itu berjalan? Bagaimana tindakan kekerasan sering terjadi dalam masyarakat? Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, manusia berusaha mencari jawabannya dengan cara yang dianggap ilmiah bukan lagi berdasarkan legenda, mitos ataupun dongeng semata. Pada perkembangannya, sejumlah ilmuwan berusaha menemukan suatu sistem pengetahuan yang mampu memverifikasi tindakan sosial manusia, hubungan antar manusia dan perilaku sosial budaya melalui kehidupan bermasyarakat. Gambaran jelas mengenai kehidupan manusia di dalam masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya dan fisik terkandung dalam ilmu Sosiologi. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 1

Dalam modul pertama ini, akan mempelajari tentang fungsi sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan. Pada kegiatan belajar ini, akan

mengenal sejarah sosiologi (awal munculnya sosiologi), pengertian sosiologi menurut tokoh sosiologi, sumbangan sosiologi pada pembangunan sampai pada sosiologi sebagai ilmu pengetahuan berparadigma ganda yang berpengaruh pada metode-metode mempelajari sosiologi. Untuk itu bab 1 ini akan dibagi menjadi 3 kegiatan pembelajaran.

Sejarah Lahirnya Sosiologi Pernahkan membayangkah hidup dalam situasi dan kondisi masyarakat yang penuh dengan konflik? Apa yang akan lakukan mengingat pada waktu itu tidak ada sesuatu

dukungan apapun tentang sebuah konsep masyarakat. Hal ini memicu munculnya suatu ilmu yang dinamakan sosiologi. Sosiologi lahir karena keinginan untuk memahami kehiduan sosial dan cara orang bertindak di dalamnya. (Cabin, 2004: xii). Dalam sejarahnya, sosiologi berusaha untuk menjawab berbagai pertanyaan, yaitu: a. Pengetahuan tentang fenomena-fenomena kolektif. Sosiologi dianggap dapat menjawab perilaku patologis manusia sehingga dapat mewujudkan harmonisasi dalam masyarakat b. Sosiologi bertujuan mendeskripsikan masyarakat dan fungsinya. Hal ini berangkat dari prinsip bahwa materi dasar kehidupan manusia adalah tindakan manusia sebagai individu (aktor) c. Kepedulian manusia untuk memahami kehidupan sosial secara ilmiah dan rasional sehingga sosiologi mampu membuktikan hukum-hukum fungsional dalam masyarakat d. Munculnya kritik dalam masyarakat untuk mengungkapkan suatu tatanan sosial yang tersembunyi. Berbagai pertanyaan mendasar itu melahirkan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan. Sosiologi lahir sebagai ilmu yang paling muda dari ilmu-ilmu sosial lainnya lahir dari suatu kekacauan yaitu pada masa transisi ke arah masyarakat baru yang merupakan titik pertemuan antara tiga peristiwa, yaitu: a. Revolusi Politik (Revolusi Perancis) Perubahan masyarakat yang terjadi selama revolusi politik sangat luar biasa baik bidang ekonomi, politik dan sosial. Adanya semangat liberalisme muncul di segala bidang seperti penerapan dalam hukum dan undang-undang. Pembagian masyarakat perlahan-lahan terhapus dan disemua diberikan hak yang sama dalam hukum. b. Revolusi Ekonomi (Revolusi Industri)

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 2

Abad 19 merupakan saat terjadinya revolusi industri. Berkembangnya kapitalisme perdagangan, mekanisasi proses dalam pabrik, terciptanya unit-unit produksi yang luas, terbentuknya kelas buruh dan terjadinya urbanisasi merupakan manifestasi dari hirukpikuknya perekonomian. Struktur masyarakat mengalami perubahan dengan munculnya kelas buruh dan kelas majikan dengan kelas majikan yang menguasai perekonomian semakin melemahkan kelas buruh sehingga muncul kekuatan-kekuatan buruh yang bersatu membentuk perserikatan. c. Revolusi Intelektual (Kemenangan rasionalisme, ilmu pengetahuan, dan positvisme). Auguste Comte yang mengumumkan datangnya zaman positivisme yaitu sebuah dunia yang didasarkan pada penjelasan ilmiah, yang tunduk pada pengetahuan tentang tindakan dan percobaan (eksperimental). Bahwa sebuah ilmu harus berdasarkan observasi empiris dan eksak tentang fenomena-fenomena sosial. Dari ketiga peristiwa tersebut semua berawal dari kondisi yang memprihatinkan. Terjadinya perubahan besar-besaran di tengah-tengah masyarakat yang mempengaruhi kehidupan ekonomi, sosial dan politik melahirkan suatu pemikiran bagaimana mengatur masyarakat sehingga tercipta keharmonisan dan keseimbangan masyarakat. Istilah sosiologi muncul pertama kali pada tahun 1839 pada keterangan sebuah paragraf dalam pelajaran ke 47 Cours de la Philosophie (Kuliah Filsafat) karya Auguste Comte. Tetapi sebelumnya Comte sempat menyebut ilmu pengetahuan ini dengan sebutan fisika sosial tetapi karena istilah ini sudah dipakai oleh Adolphe Quetelet dalam studi ilmu barunya yaitu tentang statistik kependudukan maka dengan berat hati Comte harus melepaskan nama fisika sosial dan merumuskan istilah baru yaitu sosiologi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu socius (masyarakat) dan logos (ilmu). Dengan harapan bahwa tujuan sosiologi adalah untuk menemukan hukum-hukum masyarakat dan menerapkan pengetahuan itu demi kepentingan pemerintahan kota yang baik. Sosiologi lahir di tempat yang berbeda yaitu Perancis, Jerman dan Amerika Serikat yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab yang menunjukkan adanya beberapa kemajuan intelektual yang secara radikal bertentangan. Mazhab Perancis ditandai dengan personalitas Emile Durkheim melalui pendekatan yang obyektif dengan menggunakan model ilmu pengetahuan alam. Mazhab Jerman, membedakan antara ilmu pengetahuan alam dengan ilmu pengetahuan kejiwaan, penjelasan, serta cakupannya. Sedangkan di Amerika terkenal dengan Mazhab Chicago bertujuan untuk mengintervensi dan membahas permasalahan yang konkret secara empiris dengan membangun laboratoium, melakukan penelitian sampai

mempublikasikan buku-buku dan majalah. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 3

Dari tempat-tempat lahirnya Sosiologi tersebut memunculkan banyak tokoh perintis sosiologi dan mulai menggeluti ilmu pengetahuan ini dan melakukan banyak penelitian tentang sebuah masyarakat dan permasalahan sosialnya. Mereka mencoba mencari sebuah pemikiran yang murni sosiologi karena selama kurun waktu tersebut sosiologi masih banyak terpengaruh dari ilmu filsafat dan psikologi yang telah terlebih dahulu ada. Sebelum pembahasan tentang fungsi sosiologi bagi perkembangan masyarakat, ada baiknya mengenal sumbangan pemikiran para tokoh perintis awal sosiologi (klasik) dan pemikiran tokoh sosiologi setelahnya. Auguste Comte (1798 1857) Tokoh sosiologi yang memiliki banyak julukan sebagai Bapak Sosiologi, Perintis Positivis dan Nabi sebuah Agama Baru. Salah satu sumbangan pemikiran sosiologi adalah tentang hukum kemajuan kebudayaan masyarakat yang dibagi menjadi tiga zaman yaitu pertama, zaman teologis adalah zaman dimana masyarakatnya mempunyai kepercayaan magis, percaya pada roh, jimat serta agama, dunia bergerak menuju alam baka, menuju ke pemujaan terhadap nenek moyang, menuju ke sebuah dunia dimana orang mati mengatur orang hidup. Kedua, zaman metafisika yaitu masa masyarakat dimana pemikiran manusia masih terbelenggu oleh konsep filosofis yang abstrak dan universal. Ketiga, zaman positivis yaitu masa dimana segala penjelasan gejala sosial maupun alam dilakukan dengan mengacu pada deskripsi ilmiah (hukum-hukum ilmiah). Karena memperkenalkan metode positivis maka Comte dianggap sebagai perintis positivisme. Ciri-ciri metode positivis adalah obyek yang dikaji berupa fakta, bermanfaat, dan mengarah kepastian serta kecermatan. Sumbangan pemikiran yang juga penting adalah pemikiran tentang agama baru yaitu agama humanitas yang mendasarkan pada kemanusiaan. Menurut Comte, intelektualitas yang dibangun manusia harus berdasarkan pada sebuah moralitas. Bagi Comte, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemajuan sosial tergantung perkembangan perasan altruistik serta pelaksanaan tugas meningkatkan kemanusiaan sehingga masyarakat yang tertib, maju, dan modern dapat terwujud. Tetapi agama humanitas ini belum sempat dikhotbahkan Comte sebagai agama baru bagi masyarakat dunia karena pada tahun 1957, Comte meninggal dunia. Karl Marx (1818 1883) Lahir di Jerman pada tahun 1818 dari kalangan keluarga rohaniawan Yahudi. Pada tahun 1814 mengakhiri studinya di Unversitas Berlin. Karena pergaulannya dengan orangorang yang dianggap radikal terpaksa mengurungkan niat untuk menjadi pengajar Universitas dan menerjunkan diri ke kancah politik. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 4

Sumbangan utama Marx bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas social yang tertuang dalam tulisannya berjudul The Communist Manifest yang ditulis bersama Friedrich Engels. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Marx perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda yaitu kelas borjuis (majikan) terdiri dari orang-orang yang menguasai alat produksi dan kelas proletar (buruh) yang tidak memiliki alat produksi dan modal sehingga menjadi kelas yang dieksploitasi oleh kelas proletar. Menurut Marx, suatu saat kelas proletar akan menyadari kepentingan bersama dengan melakukan pemberontakan dan menciptakan masyarakat tanpa kelas. Meskipun ramalan Marx tidak pernah terwujud tetapi pemikiran tentang stratifikasi dan konflik social tetap berpengaruh terhadap pemikiran perkembangan sosiologi khususnya terkait dengan kapitalisme. Emile Durkheim (1858 1917) Merupakan seorang ilmuwan yang sangat produktif. Karya utamanya antara lain Rules of The Socioligical Method, The Division of Labour in Society, Suicide, Moral Education, dan The Elementary Forms of The Religious Life. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas dengan membedakan dua tipe utama solidaritas yaitu solidaritas mekanis yang merupakan tipe solidaritas yang didasarkan pada persamaan dan biasanya ditemui pada masyarakat sederhana dan solidaritas organis ditandai dengan adanya saling ketergantungan antar individu atau kelompok lain, masyarakat tidak lagi memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Dalam pengembangan selanjutnya, Durkheim menggunakan lima metode untuk mempelajari sosiologi, yaitu: a. Sosiologi harus bersifat ilmiah, dimana fenomena-fenomena social harus dipelajari secara obyektif dan menunjukkan sifat kausalitasnya. b. Sosiologi harus memperlihatkan karakteristik sendiri yang berbeda dengan ilmu-ilmu lain. c. Menjelaskan kenormalan patologi d. Menjelaskan masalah social secara sosial pula e. Mempergunakan metode komparatif secara sistematis Metode tersebut telah diterapkan dalam sebuah penelitian tentang gejala bunuh diri yang melanda masyarakat Eropa saat itu dengan judul Suicide. Dengan menggunakan metode tersebut, Durkheim menjelaskan adanya pengaruh integrasi sosial terhadap kecenderungan individu untuk mengakhiri hidupnya sendiri (bunuh diri).

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 5

Max Weber (1864 1920) Max Weber lahir di Erfurt pada tahun 1864. Menyelesaikan studi di bidang hukum, ekonomi, sejarah, filsafat, teologi dan mengajar disiplin ilmu tersebut di berbagai universitas di Jerman, serta terus-menerus menyebarluaskan terbentuknya ilmu sosiologi yang saat itu masih berusia muda. Karya penting dari Weber berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism yang berisi hubungan antara Etika Protestan (Sekte Kalvinisme) dengan munculnya perkembangan kapitalisme. Menurut Weber, ajaran Kalvinisme mengharuskan umatnya untuk bekerja keras dengan harapan dapat menuntun mereka ke surga dengan syarat bahwa keuntungan dari hasil kerja keras tidak boleh untuk berfoya-foya atau bentuk konsumsi lainnya. Hidup sederhana dan melarang segala bentuk kemewahan menjadikan para penganut agama ini semakin makmur karena keuntungan yang dihasilkan ditanamkan kembali menjadi modal. Dan dari sinilah kapitalisme di Eropa berkembang pesat.

Pengertian Sosiologi Setelah mengetahui perkembangan awal sosiologi, dapat diketahui bahwa sosiologi adalah salah satu ilmu sosial yang berumur paling muda diantara ilmu sosial lainnya yang dikenalkan oleh Auguste Comte. Satu pertanyaan yang menarik adalah apa yang sebenarnya menjadi pokok pembahasan dalam sosiologi? Sebelumnya telah melihat bahwa ilmu sosiologi muncul ketika terjadinya kekacauan-kekacauan dalam masyarakat dunia sehingga melahirkan tokoh-tokoh sosiologi. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dijelaskan tentang pengertian sosiologi dari sudut pandang tokoh sosiologi klasik mulai Auguste Comte sampai tokoh sosiologi modern George Simmel. 1. Auguste Comte Sosiologi adalah studi tentang statika sosial (social statics) dan dinamika sosial (social dynamics). Dalam hal ini statika sosial mewakili stabilitas sedangkan dinamika mewakili perubahan. Dengan memakai analogi biologi, Comte menyatakan hubungan antara statika sosial dengan dinamika sosial dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan fisiologi dan menganggap masyarakat seperti organisme hidup artinya masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung satu sama lain. Akan tetapi pada akhirnya Comte tidak benar-benar mengembangkan pemikiran ini. 2. Emile Durkheim Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan mampu melakukan pemaksaan dari luar terhadap individu. Adapun ciri fakta sosial adalah: Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 6

a. Bersifat eksternal terhadap individu artinya fakta social berada di luar individu. b. Bersifat memaksa individu. c. Bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam satu masyarakat. Fakta sosial dibagi menjadi 2 yaitu fakta sosial yang bersifat material dan non material. Adapun ciri-ciri fakta sosial yang bersifat material adalah: a. Berusaha menjelaskan ciri-ciri dasar kehidupan kaitannya dengan kondisi praktis material dari eksistensi manusia. Kondisi tersebut meliputi lingkungan fisik, tingkat teknologi, dan sistem organisasi ekonomi b. Sifat-sifat tersebut sebagai pembentuk prasyarat dasar eksistensi manusia c. Jenis teknologi dan sistem ekonomi yang berbeda akan melahirkan jenis pola-pola sosial yang berbeda d. Menganggap gagasan dan nilai-nilai berasal dari pola-pola yang diciptakan sebelumnya e. Gagasan dan nilai-nilai bukanlah sesuatu yang lahir sebagai respon terhadap berbagai kondisi material dan sosial yang telah mapan f. Contoh fakta sosial yang bersifat material adalah bentuk-bentuk arsistektur sebuah bangunan (masjid, gereja, rumah adat,dll), komponen morfologi masyarakat (distribusi penduduk, tata ruang daerah,dll). Sedangkan ciri-ciri fakta sosial non material adalah: a. Berusaha memahami (verstehen), makna, kepercayaan dan nilai-nilai dasar yang membentuk pola-pola perilaku (tindakan) masyarakat, tentang realitas sosial b. Setiap masyarakat merupakan jalinan makna, kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut bersama, kepercayaan dan nilai-nilai suatu masyarakat yang dapat membentuk struktur dan cara-cara dasar masyarakat dalam mengorganisir kehidupan sosial c. Contoh fakta sosial yang bersifat non materiil adalah adat istiadat, nilai-nilai/norma yang disepakati bersama dalam masyarakat, kesadaran sosial, maupun situasi sosial yang sedang terjadi 3. Max Weber Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial. Masyarakat adalah produk dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi nilai, motif, dan kalkulasi rasional. Lebih lanjut, Weber menjelaskan sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dengan cara melakukan interprestasi atas tindakan sosial. Bertitik tolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial, Weber menyebutkan ada lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian ilmu sosiologi: a. Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 7

b. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif. c. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam. d. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu. e. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu. 4. George Simmel Sosiologi bagi Simmel bertujuan untuk mempelajari dan menguraikan bentuk-bentuk dari interaksi sosial. Masyarakat terdiri dari orang yang mempersatukan diri melalui relasirelasi timbal balik. Dalam memberikan penjelasannya, lebih lanjut Simmel memberikan pengertian dasar tentang hal ini, yaitu: a. Masyarakat terdiri dari dari jariangan relasi-relasi antara orang yang menjadikan mereka bersatu. Masyarakat merupakan sekumpulan pola perilau yang disepakati dan ditunjang bersama. Interaksi anggota yang bertumpu pada konsepsi-konsepsi dan pola-pola perilaku yang ditunjang bersama, itulah satu-satunya titik tolak agar kita mencapai suatu pengertian akan masyarakat yang sebenarnya. b. Relasi-relasi aktif antara yang berkelompok atau bermasyarakat tidak semua sama sifatnya. Di zaman sekarang ini, terdapat kecenderungan dalam masyarakat untuk menggantikan pola relasi yang bersifat personal dan afektif dengan pola yang bersifat fungsional dan rasional. c. Kesatuan-kesatuan sosial tidak hanya terbentuk dari relasi-relasi integratif dan harmonis. Untuk mencapai strukturisasi sosial yang sehat maka kritik, oposisi, persaingan, konflik sama-sama diperlukan seperti kerjasama, persahabatan, kesesuaian paham, partisipasi,dll. d. Tidak semua kesatuan sosial mempunyai lama waktu dan intensitas yang sama. Ada kelompok yang mempunyai frekuensi interaksi dan integrasi yang rendah tetapi ada juga kelompok yang mempunyai frekuensi interaksi dan integrasi yang tinggi. Semakin pentinglah hal yang mempertemukan orang dalam relasi-relasi timbal balik, semakin cepatlah juga relasi-relasi itu dilembagakan menjadi pranata. 5. C Wright Mills Satu pernyataan yang penting dari Mills adalah bahwa untuk dapat memahami apa yang terjadi di dunia maupun apa yang ada dalam diri sendiri manusia memerlukan apa yang dinamakan dengan sociological imagination (khayalan sosiologis). Pemikiran ini bertujuan untuk memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Untuk melakukannya diperlukan dua peralatan pokok yaitu personal troubles of millieu

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 8

(gangguan pada lingkungan pergaulan bersifat pribadi) dan public issues of social structure (isu-isu umum tentang struktur sosial). 6. Peter Berger Suatu konsep yang digeluti oleh Berger adalah masalah sosiologis. Suatu masalah sosiologi tidak sama dengan suatu masalah sosial karena masalah sosiologis menyangkut pemahaman terhadap interaksi sosial. Seorang ahli sosiologi dapat mempelajari pengangguran, kemiskinan, pelacuran (sering disebut masalah sosial) tetapi dapat pula mempelajari mengapa suatu kelompok masyarakat lebih berhasil meraih sukses daripada yang lain atau tentang kemajuan lainnya. 7. Alex Inkeles Sosiologi mempunyai tiga pokok bahasan yang khas yaitu hubungan sosial, institusi dan masyarakat. Hubungan sosial merupakan molekul kehidupan sosial. Hubungan sosial merupakan satuan analisis khas sosiologis. Sistem kompleks hubungan sosial itulah yang akan membentuk institusi. Menurut Inkeles sosiologi tidak hanya membahas bagian-bagian tertentu masyarakat melainkan dapat pula mempelajari masyarakat itu sendiri sebagai satuan analisa. KOTAK PENGETAHUAN Objek Kajian Sosiologi Dalam perspektif struktural fungsional, Talcott Parsons mendeskripsikan masyarakat sebagai suatu sistem yang stabil dan terorganisasi melalui 4 fungsi Adaptation, Goal, Integration, dan Lattent pattern (AGIL). Sebuah masyarakat akan tetap eksis apabila fungsi adaptasi (A) terhadap lingkungannya dapat menjamin kelangsungan hidup masyarakat tersebut lebih lama, selanjutnya mengejar tujuan (G) sebab suatu sistem hanya akan berfungsi jika diorientasikan menuju suatu tujuan yaitu integrasi (I) para anggota terhadap kelompok, dan akhirnya terpeliharanya model-model dan norma (L). Sumber: Dortier, 2004:107-108 Sosiologi Berparadigma Ganda Berawal dari pemikiran Thomas Kuhn bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukan bersifat kumulatif melainkan bersifat revolusi. Hal ini mendorong lahirnya paradigma dalam ilmu pengetahuan. Bagi Kuhn, paradigma adalah suatu pandangan mendasar tentang apa yg menjadi pokok persoalan (subject matter) dari suatu cabang ilmu. Dari konsep yang dikemukakan oleh Kuhn, George Ritzer berusaha menjembatani teori sosiologi yang dihasilkan pada tokoh untuk memantapkan posisi sosiologi sebagai ilmu pengetahuan meskipun pada perkembangannya tidak hanya terbatas pada 3 paradigma yaitu fakta sosial, Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 9

definisi sosial dan perilaku sosial. Paradigma menggolong-golongkan, mendefinisikan, dan mengubung-hubungkan antara exsemplar, teori-teori, metode serta peralatan analisis yang terkandung didalammya. Ada 3 hal yang membedakan paradigma dalam mempelajari sosiologi yaitu: a. Pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan (tokoh sosiologi) berbeda b. Sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat maka teori yg dibangun dan dikembangkan juga berbeda c. Pada akhirnya melahirkan metode yang digunakan juga berbeda Di satu sisi, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan maka sosiologi sekurang-kurangnya harus dirumuskan dalam dua cara, pertama suatu ilmu adalah satuan kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang diperoleh melalui suatu penelitian ilmiah dan kedua, adalah suatu ilmu adalah suatu metode untuk menemukan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji. Sosiologi dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan dan mampu berdiri sendiri karena telah terpenuhinya unsur-unsur ilmu pengetahuan sebagai berikut: a. Empiris yang berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif b. Teoritis yaitu ilmu pengetahuan yang selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hail observasi. Abstraksi merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori. c. Kumulatif, bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas, serta memperhalus teori-teori lama. d. Bersifat non-etis, yang dipersoalkan dalam sosiologi bukan baik buruknya fakta tetapi bertujuan untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis. Pertanyaannya sekarang termasuk dalam ilmu pengetahuan apa sosiologi itu? Pada perkembangannya, terdapat perdebatan apakah sosiologi merupakan ilmu murni (pure science) atau ilmu terapan (applied scinence). Ilmu murni adalah pencarian pengetahuan, penggunaan praktisnya bukan merupakan perhatian utama. Sedangkan ilmu terapan adalah pencarian cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah guna memecahkan masalah praktis. Banyak sarjana atau tokoh sosiologi yang mencoba menerapkan teori sosiologi untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan di lain pihak sosiologi secara konstan tetap mencari pengetahuan yang lebih mendasar sebagai dukungan bagi penerapan pengetahuan praktisnya, sehingga sosiologi adalah ilmu murni dan ilmu terapan. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 10

KOTAK PENGETAHUAN Membandingkan Sosiologi Murni dan Terapan Sosiologi Murni (Dasar) Sosiologi Terapan Khalayak : Sesama Sosiolog Khalayak : Klien Produk : Pengetahuan Produk : Perubahan

Konstruksi teori: menguji hipotesis

Jalan Analisis tengah: masalah kritik khusus, terhadap evaluasi masyarakat keefektifan & kebijakan kebijakan dan sosial program Sumber: DeMartini, 1982 dalam Henslin, 2007:11

Penelitian dasar kehidupan sosial, cara kelompok mempengaruhi manusia

Menawarkan penyelesaian masalah, mengusulkan cara memperbaiki kebijakan

Menerapkan penyelesaian masalah (sosiologi klinis)

Sumbangan Sosiologi bagi Masyarakat Sekarang ini sosiolog mulai dipekerjakan sebagai konsultan ahli di pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, dan badan-badan sosial lainnya. Di Indonesia, sosiologi telah banyak digunakan sebagai alat untuk membantu atau memecahkan masalah sosial. Menurut Horton & Hunt (1984), peran sosiolog terbagi menjadi 5 yang mampu memberikan alternatif pengembangan karir sosiologi. 1. Sebagai Ahli Riset (Peneliti) Tugas utama seorang sosiolog adalah mencari dan mengorganisasi ilmu pengetahuan tentang kehidupan sosial. Melalui penelitian sosial, seorang sosiolog akan menjelaskan segala hal yang terjadi di dalam masyarakat dengan metode ilmiah sehingga menjadi lebih jelas bukan lagi berdasar cerita-cerita fiktif atau tahayul semata. 2. Sebagai Konsultan Kebijakan (Pengamat) Sosiolog dapat membantu meramalkan pengaruh dari suatu kebijaksanaan sehingga dapat memberikan sumbangan dalam pemilihan kebijakan untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Termasuk didalamnya pengaruh kebijakan tersebut bagi kehidupan masyarakat secara luas. 3. Sebagai Teknisi Sumbangan sosiologi dalam perencanaan dan pelaksanaan program kegiatan masyarakat, memberi saran-saran dalam hubungan masyarakat, hubungan antar karyawan, masalah moral atau hubungan antar kelompok dalam suatu organisasi, penyelesaian berbagai Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 11

masalah tentang hubungan antar manusia. Artinya, inilah saatnya sosiologi sebagai ilmu terapan yang mengkaji bidang khusus antara lain sosiologi pedesaan/perkotaan, sosiologi industri, psikologi sosial, sampai sosiologi organisasi. 4. Sebagai Guru Kegiatan mengajar adalah karir utama bagi sosiolog, meskipun kenetralan nilai versus komitmen nilai masih menjadi perdebatan. Sosiologi harus mampu keluar dari indoktrinasi sebagai pengembangan kode etik sebagai guru. 5. Sebagai Relawan Sosial Peran ini berkaitan dengan ciri sosiologi yang bebas nilai, yang mencoba menuntut peran utama dalam pengambilan keputusan tentang kebijaksanaan umum dan melibatkan diri dalam masalah utama masyarakat yaitu sebagai relawan sosial. Setelah mempunyai pemahaman dan pengertian mendalam tentang sosiologi, hal terpenting lainnya adalah mengetahui metode-metode penelitian dalam sosiologi sehingga mampu mempergunakan konsep-konsep sosiologi secara mudah.

Metode Sosiologi Ada banyak metode yang dilakukan para ahli dalam mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan. Pada saat ini telah berkembang menjadi sebuah metodologi penelitian untuk memperdalam dan menganalisis perubahan-perubahan sosial budaya dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam sosiologi (Horton & Hunt, 1984), antara lain: a. Studi Cross-Sectional dan Longitudinal Studi Cross-Sectional adalah studi yang meliput suatu daerah pengamatan yang luas dalam suatu jangka waktu tertentu. Misalnya penelitian tentang pengukuran kepuasan dan ketidakpuasan terhadap kinerja Presiden Susilo Bambang Yudoyono selama satu tahun dengan penyebaran lokasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makasar. Studi Longitudinal adalah studi yang berlangsung sepanjang waktu yang menggambarkan suatu kecenderungan atau serangkaian observasi sebelum dan sesudah. Misalnya melihat tingkat kemiskinan suatu daerah sebelum dan setelah mendapatkan bantuan dengan daftar pertanyaan yang sama. Secara sederhana, pengumpulan pendapat umum dalam skala nasional disebut studi cross-sectional sedangkan penggunaan daftar pertanyaan yang sama diulang dalam selang waktu akan diperoleh perbandingan disebut studi longitudinal.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 12

b. Eksperimen Laboratorium dan Eksperimen Lapangan Dalam penelitian laboratorium, subjek orang dikumpulkan di dalam suatu tempat atau laboratorium kemudian diberi pengalaman yang sesuai dengan yang diinginkan peneliti kemudian dicatat dan ditarik kesimpulan. Sedangkan eksperimen lapangan adalah pengamatan yang dilakukan di luar laboratorium dimana peneliti memberikan pengalaman-pengalaman baru kepada obyek secara umum kemudian diamati hasilnya dan ditarik kesimpulannya. c. Metode Evaluasi Ini biasa dilakukan untuk mengukur keefektifan suatu program kegiatan dengan tujuan untuk melihat keberhasilan program melalui pengetahuan yang ilmiah. Misalnya tentang evaluasi pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam pendidikan nasional kita. Biasanya dalam penelitian evaluasi ini banyak menggunakan variabel yang harus dikendalikan dan tidak mudah karena seringkali hasil kesimpulan yang ada dengan kenyataannya berbeda. d. Metode Kuantitatif dan Kualitatif Merupakan metode dasar dalam sosiologi. Metode kuantitatif merupakan metode yang menggunakan angka-angka yang kemudian diolah dan diwujudkan dalam bentuk statistik seperti skala, tabel, indeks, dan lainnya. Yang termasuk metode kuantitatif adalah 1. Metode deduktif, yaitu metode yang dimulai dari hal-hal yang berlaku umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus 2. Metode induktif, yaitu metode yang mempelajari suatu gejala khusus untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum 3. Metode empiris, yaitu metode yang mengutamakan keadaan-keadaan nyata di dalam masyarakat 4. Metode rasional, yaitu metode yang mengutamakan penalaran dan logika akal sehat untuk mencapai pengertian tentang masalah 5. Metode Fungsional, metode yang dipergunakan untuk menilai kegunaan lembagalembaga sosial kemasyarakatan dan struktur sosial masyarakat. Metode kualitatif merupakan metode yang lebih menekankan pada terjadinya interaksi yang membentuk tindakan, dan kondisi sosial tertentu. Yang termasuk metode kualitatif adalah 1. Metode historis, metode pengamatan yang menganalisis peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 13

2. Metode komparatif, metode pengamatan dengan membandingkan antara bermacammacam masyarakat serta bidang-bidangnya untuk memperoleh perbedaan dan persamaan sebagai petunjuk tentang perilaku suatu masyarakat pertanian Indonesia pada masa lalu dan masa depan. 3. Metode studi kasus, metode pengamatan tentang suatu keadaan, kelompok, masyarakat setempat, lembaga-lembaga maupun individu-individu. Lebih lanjut, penjelasan metode-metode sosiologi akan dijelaskan pada bab 9 dalam modul ini dengan kegiatan belajar mempraktifkan metode penelitian sosial yang fokus pada 2 metode penelitian yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif.

Perspektif Teoritis dalam Sosiologi Selanjutnya dalam memahami sosiologi, ada banyak pendekatan yang digunakan sebagai seperangkat dasar dalam menelaah sosiologi lebih mendalam. Ada banyak pendekatan yang digunakan tetapi yang paling mendasar yang dipakai adalah analisis struktural fungsional, analisis struktural konflik dan analisis interaksionisme simbolik. Dalam pendekatan fungsional, masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan ke arah keseimbangan yaitu suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang. Sedangkan menurut pendekatan konflik, masyarakat dilihat selalu berada dalam konflik antar kelas-kelas kepentingan. Adapun analisis interaksionisme simbolik berusaha untuk mengkaji bagaimana manusia menggunakan simbol untuk mengembangkan persepsi manusia tentang dunia sosial dan cara berkomunikasi. Para penganut ini berupaya untuk menganalisis perilaku manusia yang mendasarkan pada makna diri sendiri dan orang lain dimana diri (self) disebut juga simbol.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 14

KOTAK PENGETAHUAN Perspektif Utama Sosiologi Perspektif Jenjang Analisis Fungsional Makro Sosiologi: mempelajari pola masyarakat skala besar Konflik Makro Sosiologi: mempelajari pola masyarakat skala besar

Interaksionisme Simbolik

Mikro Sosiologi: mempelajari pola interaksi sosial berskala kecil

Fokus Analisis Hubungan antara bagian masyarakat yang bersifat fungsional atau disfungsional Pertarungan antara kelompok untuk memperoleh sumber daya langka, kaum elit menggunakan kekuasaan untuk mengendalikan kelompok lemah Interaksi tatap muka, cara orang menggunakan simbol untuk menciptakan kehidupan sosial

Istilah Kunci Struktur Fungsi (manifest & laten) Disfungsi Ekuilibrium Ketidaksetaraan Kekuasaan Konflik Persaingan Eksploitasi

Simbol Interaksi Makna Definisi

Sumber: Henslin, 2007:20 Pendekatan dalam sosiologi membantu untuk memahami bahwa masyarakat selalu mengalami perubahan dan melalui analisis sosiologis, perubahan tersebut dapat diramalkan dan mencoba mencari alternatif pemecahan masalahnya. Namun demikian, karena setiap pedekatan memiliki penafsiran dan analisis yang berbeda tentang kehidupan sosial maka dalam penggunaannya diperlukan fakta-fakta sosial melalui metode sosiologi sehingga akan menghasilkan suatu gambaran yang komprehensif mengenai kehidupan sosial. Hal ini menandakan bahwa teori dan metode saling bergantung. Teori digunakan untuk menafsirkan data yang dikumpulkan melalui metode penelitian, dan dilain pihak, penelitian membantu memunculkan teori.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 15

KOTAK PENGETAHUAN Hubungan Paradigma, Teori dan Metode Paradigma Pokok Persoalan Teori Fakta Sosial Struktur makro Struktural Fungsional sosial dan pranata Struktural Konflik sosial Definisi situasi Interaksionisme dan dampaknya Simbolik terhadap tindakan Fenomenologi sosial Perilaku Perilaku manusia, Behavioral Sociology Sosial reward dan Exchange Theory punishment yang mempengaruhinya Sumber: Kamanto Sunarto, 2004; Ritzer, 2009 Definisi Sosial

Metode Survei dengan menggunakan kuesioner dan interview Interview dan Observasi

Eksperimen

Lembar Kerja BERPIKIR KRITIS Bahan : Koran, Majalah, Gambar, Film (jika dimungkinkan) Alat : Gunting, Kertas Flano, Selotip, Spidol, Laptop Perkembangan perspektif teori dan metode dalam sosiologi yang beragam, sebagai guru, buatlah media pembelajaran mengenai contoh kehidupan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat untuk menjelaskan 3 perspektif teori tersebut sehingga mampu dipahami oleh siswa. Bandingkan ketiga perspektif teori tersebut untuk melihat fenomena sosial yang terjadi berdasar data-data yang dapat diperoleh melalui koran, majalah maupun film yang disediakan oleh fasilitator. Untuk mendapatkan pemahaman yang benar, buatlah kelompok yang terdiri dari 3 4 orang. Diskusikan dan presentasikan hasil tersebut di depan kelas. Lembar Latihan 1. Apa yang dimaksud dengan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang dapat berdiri sendiri? 2. 3. Mengapa sosiologi disebut ilmu terapan dan juga ilmu murni, jelaskan? Jelaskan perbedaan analisis fungsional dan analisis konflik dalam melihat kehidupan sosial masyarakat? 4. Bagaimana hubungan antara teori dan metode penelitian dalam sosiologi? Mengapa keduanya saling mempengaruhi? 5. Tunjukkan apa saja sumbangsih sosiologi dalam pembangunan di Indonesia?

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 16

BAB 2 NILAI DAN NORMA SOSIAL

Standar Kompetensi Memahami perilaku keteraturan hidup sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat Kompetensi Dasar 1. Mendeskripsikan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat 2. Mendeskripsikan proses interaksi sosial sebagai dasar pengembangan pola keteraturan dan dinamika kehidupan sosial Tujuan Pembelajaran 1. Membedakan ciri nilai dan norma sosial dalam masyarakat 2. Mengidentifikasi jenis nilai sosial yang ada dalam masyarakat 3. Menjelaskan fungsi norma sosial dalam masyarakat 4. Mengidentifikasi ciri-ciri dan syarat interaksi sosial sebagai dasar pengembangan pola keteraturan dan dinamika kehidupan sosial 5. Menganalisis bentuk-bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif dan disosiatif 6. Menganalisis wacana interaksi sosial berdasarkan teori-teori sosiologi

Pengantar Hal terpenting dalam proses sosial kehidupan masyarakat adalah adanya nilai dan norma sosial yang dijadikan pedoman bagi masyarakat sebagai peraturan untuk memahami lingkungan sosial budayanya. Nilai dan norma sosial memiliki peranan penting dalam setiap masyarakat yang beradab. Hal ini dianggap penting karena seperangkat nilai dan norma tersebut berperanan dan berfungsi untuk mengatur tata kehidupan setiap anggota masyarakat sebagai makhluk sosial, sehingga tercapai suatu bentuk keteraturan yang berlandaskan pada sistem budaya masing-masing. Cara berpikir orang awam dalam kehidupan sehari-hari dimana mereka menafsirkan dan memahami keteraturan sosial pada hakikatnya adalah suatu teori moral. Hal ini tidak hanya berarti bahwa anggota-anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya dibatasi oleh kode-kode moral yaitu mengenai apa yang harus mereka kerjakan dan apa yang tidak, tetapi keseluruhan dari dunia sosial itu sendiri adalah suatu konstruksi moral. Sosiolog dapat melakukan pendekatan pada keteraturan moral dalam kehidupan sosial dengan

mempertimbangkan nilai dan norma sosial yang ditetapkan masyarakat yang mengatur Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 17

terjadinya realitas sosial di dalam masyarakat. Pada akhirnya, kondisi inilah yang akan menciptakan proses terjadinya interaksi sosial dalam masyarakat yang terpola secara teratur sebagai dasar pengembangan pola perilaku manusia. Dalam kegiatan belajar ini, akan mempelajari pengertian, jenis dan fungsi nilai dan norma sosial serta keterkaitan nilai dan norma sosial dalam interaksi sosial yang mencakup ciri, syarat, bentuk dan analisis teori mengenai interaksi sosial. Sebagai bagian dari kekayaan budaya, norma dan nilai sosial harus dijunjung tinggi, dibina dan dipertahankan sehingga keberadaannya tidak diremehkan dan terancam musnah. Bila nilai dan norma tersebut sudah diperlakukan dengan baik maka kehidupan masyarakat akan lebih terkendali dan teratur sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat itu.

Nilai Sosial Nilai sosial lahir sebagai bagian dari kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial yang diciptakan dan disepakati bersama untuk mencapai ketentraman dan kenyamanan hidup bersama orang lain. Nilai sosial sebagai alat ukur bagi manusia untuk mengendalikan beragam kemauan manusia yang selalu berubah dalam berbagai situasi. Diharapkan manusia akan mempunyai gambaran tentang apa yang baik dan apa yang buruk, mana yang boleh dan mana yang dilarang. Nilai sosial yang hidup langgeng akan mampu menjadi sistem nilai budaya. Nilai sosial dapat diartikan sebagai konsep abstrak mengenai segala sesuatu yang baik, dicita-citakan, yang penting, dan yang berguna bagi kehidupan manusia menurut ukuran masyarakat dimana nilai itu dijunjung tinggi. Nilai sosial merupakan landasan bagi masyarakat untuk menentukan apa yang benar dan penting, memiliki ciri-ciri tersendiri serta mendorong individu untuk berbuat sesuai norma yang berlaku. Untuk lebih memahami nilainilai sosial, maka perlu tahu ciri-ciri nilai sosial yang ada di masyarakat, yaitu: a. Tercipta dari proses interaksi antar manusia secara intensif dan bukan perilaku yang dibawa sejak lahir. b. Ditransformasikan melalui proses belajar seperti melalui proses sosialisasi atau diwariskan dari generasi satu ke generasi lainnya. c. Berupa ukuran atau peraturan sosial yang turut memenuhi kebutuhan sosial. d. Berbeda-beda pada tiap kelompok manusia e. Masing-masing nilai mempunyai efek yang berbeda-beda bagi tindakan manusia f. Dapat mempengaruhi kepribadian individu sebagai anggota masyarakat

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 18

Nilai sebagai suatu bagian penting dari kebudayaan sehingga nilai senantiasa akan ikut berubah seiring perkembangan masyarakat. Misalnya keberadaan tayangan televisi swasta di Indonesia, perlahan-lahan mendorong pergeseran nilai dalam masyarakat. Misalnya rambut yang diwarnai di kalangan remaja dianggap wajar karena mengikuti mode rambut terkini. Tetapi dulu rambut yang diwarnai dianggap sebagai bentuk pelanggaran nilai moral dalam masyarakat. Nilai sosial yang sangat beragam dan kompleks yang ada di masyarakat, dapat diklasifikasikan menurut jenisnya sendiri. Beberapa jenis nilai sosial yang ada dalam masyarakat dapat dibedakan sebagai berikut: a. Menurut Prof. Notonegoro, nilai sosial dibedakan menjadi 3 macam yaitu: 1. Nilai Material adalah nilai yang terkandung dalam materi suatu benda yang berguna bagi kehidupan manusia. Misalnya bahan bangunan (pasir, batu-batuan) yang berguna untuk membuat rumah, gedung bertingkat, sekolah, dll. 2. Nilai Vital adalah sesuatu yang berguna bagi manusia agar dapat melakukan aktivitas atau kegiatan dalam kehidupannya. Misalnya komputer sebagai alat teknologi canggih yang membantu kegiatan administrasi di perkantoran. 3. Nilai Spiritual/Rohani adalah sesuatu hal yang berguna untuk kebutuhan rohani masyarakat, yang dibagi menjadi 4. Pertama, Nilai Religius, merupakan nilai yang berisi filsafat-filsafat hidup yang dapat diyakini kebenarannya, misalnya nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci. Kedua, Nilai Estetika, merupakan nilai keindahan yang bersumber dari unsur rasa manusia (perasaan atau estetika) misalnya kesenian daerah atau penghayatan sebuah lagu. Ketiga, Nilai Moral, merupakan nilai mengenal baik buruknya suatu perbuatan misalnya kebiasaan merokok pada anak sekolah. Keempat, Nilai Kebenaran/Empiris, merupakan nilai yang bersumber dari proses berpikir menggunakan akal dan sesuai dengan fakta-fakta yang terjadi (logika/rasio) misalnya ilmu pengetahuan bahwa bumi berbentuk bulat. b. Berdasarkan itensitasnya, dibagi menjadi dua: 1. Nilai-nilai yang terencanakan adalah nilai-nilai yang telah menyatu dalam pribadi seseorang sehingga sikap dan perilakunya selalu sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Misalnya nilai gotong royong di dalam masyarakat pedesaan. 2. Nilai-nilai dominan adalah nilai-nilai yang diutamakan daripada nilai-nilai lainnya. Adapun ciri-ciri nilai dominan adalah banyaknya orang yang menganut nilai tersebut, lamanya nilai itu dirasakan oleh para anggotanya, tingginya usaha untuk mempertahankan nilai itu, tingginya kedudukan orang yang membawakan nilai Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 19

tersebut. Misalnya segala sikap dan perilaku manusia selalu didasarkan pada nilai agama yang dianutnya. c. Menurut C. Klukhon, nilai budaya pada masyarakat mendasarkan pada lima masalah pokok yaitu: 1. Nilai hakikat hidup manusia, masyarakat yang menganggap hidup itu baik, buruk atau hidup buruk tetapi berusaha untuk mengubah menjadi hidup yang baik 2. Nilai hakikat karya manusia, masyarakat yang menganggap karya manusia untuk memungkinkan hidup, memberikan kedudukan yang terhormat atau sebagai gerak hidup untuk menghasilkan karya lagi. 3. Nilai hakikat kehidupan manusia dalam ruang dan waktu, masyarakat yang memandang penting berorientasi masa lampau, masa sekarang atau masa mendatang. 4. Nilai hakikat hubungan manusia dengan alam sekitar, masyarakat yang memandang alam sebagai suatu hal yang dasyat, suatu yang bisa dilawan manusia atau berusaha mencari keselarasan dengan alam. 5. Nilai hakikat manusia dengan sesamanya, masyarakat yang lebih mendahulukan hubungan vertikal antara manusia dengan sesamanya, hubungan horisontal antara manusia dengan sesamanya, atau bergantung dengan orang lain adalah tindakan tidak benar.

Dari penjelasan panjang lebar tentang nilai sosial tersebut, maka nilai sosial sangat penting bagi manusia karena sangat memberikan pengaruh bagi sikap dan perilaku manusia. Adapun peran nilai sosial dalam masyarakat dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Sebagai petunjuk arah untuk bersikap dan bertindak bagi warga masyarakat. Misalnya gotong royong atau kerja bakti membersihkan selokan atau memperbaiki jalan. b. Sebagai acuan dan sumber motivasi untuk berbuat sesuatu. Misalnya penanaman nilainilai keagamaan melalui pengajian. c. Alat solidaritas atau mendorong masyarakat untuk saling bekerjasama untuk mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai sendiri. Misalnya nilai-nilai yang ditanamkan di sebuah negara untuk melindungi negara dari ancaman negara lain. d. Mengarahkan masyarakat untuk berpikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Misalnya penanaman nilai-nilai dalam keluarga kewajiban untuk menghormati orang tua. e. Pengawas, pembatas, pendorong, dan penekan individu untuk selalu berbuat baik. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 20

KOTAK PENGETAHUAN Kebudayaan Ideal versus Kebudayaan Nyata Banyak diantara norma yang mengitari nilai budaya hanya diikuti secara sebagian. Selalu terdapat perbedaan antara apa yang IDEAL bagi suatu kelompok dengan apa yang NYATA dilakukan para anggotanya. Kebudayaan Ideal merujuk nilai, norma dan tujuan yang oleh suatu kelompok dianggap ideal, yang pantas dijadikan aspirasi. Sedang Kebudayaan Nyata merujuk pada nilai, norma dan tujuan sebenarnya yang diikuti orang. Sumber: Henslin, 2007:57 Sebagai contoh, setiap anak di Indonesia wajib mengikuti pendidikan dasar 9 tahun (Ideal) namun kenyataannya ada orang yang tidak memenuhi ideal budayanya, misal keterbatasan ekonomi, maka tidak semua anak dapat mengenyam pendidikan.

Norma Sosial Secara sosiologis, norma sosial itu tumbuh dari proses kemasyarakatan dan hasil dari kehidupan bermasyarakat. Individu dilahirkan dalam suatu masyarakat dan disosialisasikan untuk menerima aturan-aturan dari masyarakat yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu norma sosial itu adalah sesuatu yang berada di luar individu, membatasi mereka dan mengendalikan tingkah laku mereka. Bagi siapapun yang melakukan pelanggaran terhadap norma sosial maka akan ada sanksi atau hukuman dari masyarakat.. Norma sosial dibuat oleh manusia agar nilai-nilai sosial yang ada dapat dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua warga masyarakat. Apabila di dalam masyarakat telah menjalankan norma yang berisi nilai-nilai maka di dalam masyarakat akan tercipta suatu tata hubungan yang harmonis tanpa adanya pelanggaran terhadap hak-hak setiap individu dalam masyarakat. Norma sosial adalah aturan-aturan dengan sanksi-sanksi sebagai pedoman untuk melangsungkan hubungan sosial dalam masyarakat yang berisi perintah, larangan, anjuran agar seseorang dapat bertingkah laku yang pantas guna menciptakan ketertiban, keteraturan, dan kedamaian dalam bermasyarakat. Adapun tingkatan norma sosial dibedakan menjadi 5 yaitu: a. Cara (Usage) Proses interaksi yang terus menerus akan melahirkan pola tertentu yang disebut cara (usage). Cara (usage) adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan individu dalam suatu masyarakat tetapi tidak secara terus menerus. Sanksi yang diberikan hanya berupa celaan. Norma ini mempunyai kekuatan yang lemah dibanding norma lain. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 21

Misalnya bersendawa dengan keras dikelas, berpakaian seragam yang seksi ke sekolah,dll. b. Kebiasaan (Folkways) Kebiasaan adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu. Sanksi terhadap pelanggaran norma ini berupa teguran, sindiran, dipergunjingkan. Folkways kebanyakan dianut orang di dalam batas-batas kelompok tertentu. Ancaman sanksi terhadap pelanggaran folkways hanya akan datang dari kelompok tertentu saja. Oleh karena tiu, sanksi informal yang mempertahankan folkways seringkali terbukti tidak efektif apabila ditunjukkan kepada orang yang tidak menjadi warga penuh dari kelompok pendukung folkways tersebut. Misalnya seorang remaja kota yang memiliki banyak tato datang ke sebuah desa maka dengan sendirinya akan mendapatkan gunjingan warga desa. Meskipun begitu, remaja tersebut tidak akan terpengaruh karena secara sosial remaja tersebut hidup di kota yang menerima keberadaan tato sebagai nilai artistik meski secara fisik berada di desa. c. Tata kelakuan (Mores) Mores adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan oleh kelompok terhadap anggota-anggotanya. Kesamaan mores dan folkways terletak pada kenyataan bahwa kedua-duanya tidak jelas asal-usulnya, terjadi tidak terencana. Dasar eksistensinya pun tidak pernah dibantah, dan kelangsungannya karena didukung tradisi. Walaupun ada kesamaan, namun mores selalu dipandang sebagai bagian dari hakikat kebenaran. Pelanggaran terhadap folkways akan dianggap aneh tetapi pelanggaran terhadap mores akan dikucilkan atau dikutuk oleh sebagian besar masyarakat. Misalnya mempekerjakan anak dibawah umur, suka melakukan perampasan/pemalakan, suka bertindak kekerasan,dll. Adapun fungsi mores adalah sebagai berikut: 1. Memberikan batasan pada perilaku individu dalam masyarakat tertentu 2. Mendorong seseorang agar sanggup menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan tata kelakuakn yang berlaku di dalam kelompoknya. 3. Membentuk solidaritas antara anggota-anggota masyarakat dan sekaligus memberikan perlindungan terhadap keutuhan dan kerjasama antara anggota yang bergaul di dalam masyarakat. d. Hukum (Law)

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 22

Pada kebanyakan masyarakat, disamping folkways dan mores, diperlukan pula adanya suatu gugus kaidah lain yang lazim disebut hukum, yang berfungsi untuk menegakkan keadaan tertib sosial. Berbeda dengan folkways dan mores pada hukum didapati adanya organisasi politik yang secara formal dan prosedural bertugas memaksakan ditaatinya kaidah sosial yang berlaku. Organisasi ini dikenal dengan lembaga hukum (peradilan) seperti kepolisian, kejaksaan,dll. Pada perkembangannya, untuk menegakkan ketertiban sosial lembaga peradilan yang ada pun berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. e. Adat istiadat (customs) Tata kelakuan yang kekal dan kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat dapat mengikat menjadi adat istiadat (customs). Adat istiadat adalah kumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Pelanggaran terhadap adat istiadat ini akan menerima sanksi yang keras dari anggota lainnya. Tetapi kadang-kadang pelanggaran terhadap norma adat tidak mempunyai akibat apa-apa misalnya upacara adat perkawinan suku Jawa seperti siraman tidak banyak masyarakat sekarang yang melakukannya karena biaya yang mahal dan telah bercampurnya dengan kebudayaan lain. Lebih lanjut, norma sosial yang ada di masyarakat terbagi menjadi 4 macam yang kesemuanya merupakan pedoman yang dapat dijumpai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat. a. Norma Agama Merupakan norma yang berfungsi sebagai petunjuk dan pegangan hidup bagi manusia yang berasal dari Tuhan, berisi perintah dan larangan. Pelanggaran terhadap norma agama akan mendapatkan sanksi dosa dan balasan neraka di dunia akhirat nantinya. b. Norma Hukum Merupakan rangkaian aturan yang ditunjukkan kepada anggota masyarakat yang berisi ketentuan, perintah, kewajiban, dan larangan agar suatu masyarakat tercipta suatu ketertiban dan keadilan yang biasanya dibuat oleh lembaga khusus. Aturan ini bersifat tertulis sehingga sanksi yang diberikan lebih jelas berupa denda, penjara, dan atau hukuman mati. c. Norma Kesusilaan Merupakan peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang menghasilkan akhlak sehingga seseorang dapat membedakan apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Norma ini biasanya untuk menjalankan nilai moral dalam rangka menghargai harkat dan martabat orang lain. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 23

d. Norma Kesopanan Merupakan pedoman hidup bagi anggota masyarakat yang mengatur bagaimana seseorang harus bertingkah laku dalam masyarakat. Nah, untuk melihat perbedaan dari keempat macam norma tersebut, coba diskusikan dengan kelompok contoh-contoh norma sosial tersebut yang dapat ditemui dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam kehidupan sosial, tidak ada kelompok manusia yang dapat berlangsung tanpa norma, karena norma memungkinkan adanya kehidupan sosial dengan cara membuat suatu perilaku dapat diprediksikan. Hal ini karena norma menentukan panduan utama mengenai bagaimana manusia harus memainkan peran dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk itu, norma sosial memiliki fungsi sebagai: 1. Sebagai petunjuk perilaku yang benar Tujuan terciptanya norma sosial adalah mewujudkan keteraturan sosial (sosial order) yaitu pengaturan sosial suatu kelompok berdasarkan kebiasaan sehingga masyarakat tidak mengalami kekacauan sosial. Hal ini karena individu dalam masyarakat memahami norma yang berlaku. 2. Sebagai pengatur sistem dalam masyarakat Sistem merupakan serangkaian perilaku yang terstruktur dan sistematis, melalu terciptanya nilai dan norma sosial untuk menjamin masyarakat berjalan pada sistem yang disepakai sehingga keseimbangan hidup dalam masyarakat dapat tercipta. 3. Sebagai pelindung bagi mereka yang lemah Secara umum, kelompok masyarakat terbagi menjadi dua yaitu kelompok kuat dan kelompok lemah yang telah melembaga dalam kehidupan masyarakat. Disepakatinya norma sosial dalam masyarakat diharapkan mampu melindungi kelompok lemah dari ketidaknyamanan dan sikap yang merugikan dari kelompok kuat yang biasanya menjadi penguasa (pemimpin). 4. Sebagai khasanah budaya masyarakat Norma sosial dapat menjadi ciri khas atau etos budaya suatu masyarakat yang membedakan dengan masyarakat lain.

Pada perkembangannya, norma-norma sosial yang tumbuh dan berkembang di dalam suatu masyarakat dapat terbentuk menjadi lembaga sosial jika mengalami proses sosial yaitu: a. Proses pelembagaan (institutionalization) yaitu norma-norma mulai dikenal, diakui, dihargai, dan kemudian ditaati. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 24

b. Proses internalized (internalisasi) yaitu norma-norma sudah mendarah daging dalam jiwa anggota masyarakat. Kedua proses tersebut yang melegalkan norma-norma itu menjadi pedoman bagi masyarakat. Seperti misalnya aturan pembayaran pajak tanah bagi pemilik rumah atau lahan yang dilembagakan dalam bentuk peraturan pemerintah tentang pajak dan dikelola oleh dinas pajak. Untuk lebih jelasnya, bahasan lembaga sosial akan dijabarkan dalam bab 8 modul ini.

Interaksi Sosial Sebagian besar interaksi sosial manusia berdasarkan sekumpulan asumsi yang tidak tertulis, yang mengarahkan perilaku manusia sehari-hari. Interaksi sosial dapat juga dinamakan sebagai proses sosial karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dan sebagainya. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tak mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompokkelompok manusia terjadi antara kelompok tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya. Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada faktor yang mempengaruhinya, yaitu: a. Imitasi Imitasi adalah tindakan sosial meniru sikap, tindakan, tingkah laku atau penampilan fisik seseorang secara berlebihan. Secara positif, imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku apabila yang ditiru adalah individu yang baik menurut masyarakat. Namun, dampak negatif dari proses ini adalah apabila yang ditiru berlawanan dengan persepsi umum masyarakat. b. Sugesti Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Sugesti ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wibawa dan pengaruh yang besar di lingkungan sosialnya. c. Identifikasi Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 25

Identifiksi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini. Biasanya proses identifikasi yang berlangsung kurang disadari oleh seseorang. d. Simpati Sebenarnya merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya. Simpati biasanya menjadi dasar terjadinya hubungan persahabatan. Hal terpenting dari interaksi sosial adalah tidak terlepas dari konsep tindakan atau perilaku manusia. Karena melakukan hubungan dengan orang lain melahirkan tindakantindakan yang akan menunjukkan variasi hubungan dengan proses berpikir, tujuan yang akan dicapai dan cara bagaimana mencapai tujuan itu. Sebagai makhluk sosial, tindakan manusia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial. Adanya pengaruh timbal balik itu dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga atau yang lebih luas lagi di dalam lingkungan masyarakat. Itulah sebabnya tindakan yang dilakukan oleh manusia disebut tindakan sosial. Menurut Max Weber, tindakan sosial adalah tindakan yang mempunyai makna, tindakan yang dilakukan seseorang dengan memperhitungkan keberadaan orang lain atau tindakan individu yang dapat mempengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat. Hal itu perlu diperhatikan mengingat tindakan sosial menjadi perwujudan dari perhubungan atau interaksi sosial. Jadi tindakan sosial adalah tindakan atau perilaku manusia yang mempunyai maksud subyektif bagi dirinya, untuk mencapai tujuan tertentu dan juga merupakan perwujudan dari pola pikir individu yang bersangkutan. KOTAK PENGETAHUAN Salah satu pendekatan untuk mempelajari interaksi sosial adalah interaksionisme simbolik yang diperkenalkan oleh Herbert Blumer. Pertama, manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dimiliki. Kedua, makna tersebut muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan orang lain. Ketiga, makna diperlakukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interpretative process).

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 26

Syarat Interaksi Sosial Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok. Secara teoritis, sekurang-kurangnya ada 2 syarat terjadinya suatu interaksi sosial yaitu terjadinya kontak sosial dan komunikasi. Terjadinya suatu kontak sosial tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tergantung kepada adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut. Sedangkan aspek terpenting dari komunikasi adalah bila seseorang memberikan tafsiran pad sesuatu atau perikelakukan orang lain. 1. Adanya kontak sosial (sosial contact) Hal ini dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antar individu, antar individu dengan kelompok, antar kelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung. Kata kontak berasal dari bahasa latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Arti secara harafiah adalah bersamasama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah. Sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena dewasa ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang dapat menyentuh berbagai pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah bukanlah syarat untuk terjadinya suatu kontak. Kontak sosial dapat terjadi dalam 3 bentuk : a. Adanya orang perorangan Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebiasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota. b. Ada orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya. Kontak sosial ini misalnya adalah seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat. c. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan parpol yang ketiga di pemilihan umum. Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerjasama, sedangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan suatu Interaksi sosial.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 27

Suatu kontak dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka. Kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Sekunder dapat dilakukan secara langsung, namun tetap melalui perantara, misalnya dengan melalui telepon, telegraf, radio, dan sebagainya. 2. Adanya komunikasi Seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap, perasaanperasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut. Coba interpretasikan tentang simbol hitam. Bagi sebagian orang warna hitam selalu identik dengan kejahatan misalnya ilmu hitam. Di sisi yang lain secuil kain hitam yang ditempelkan di lengan baju menandakan bahwa individu tersebut sedang berduka cita. Nah, motivasi dan makna tindakan sosial seseorang yang berbeda dapat mempengaruhi interaksi sosial di dalam masyarakat. Menurut George Hebert Mead, agar interaksi sosial bisa berjalan dengan tertib dan teratur serta agar anggota masyarakat bisa berfungsi secara normal maka diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk menilai secara obyektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Erving Goffman bahwa masalah utama yang dihadapi setiap individu dalam berbagai hubungan sosial adalah bagaimana mengontrol kesan-kesan yang diberikan kepada orang lain. Dalam hal ini Erving Goffman menyebutnya sebagai teori Dramaturgi. Ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain berarti seseorang tampil di panggung depan (frontstage), sedangkan bila seseorang berada di belakang panggung (backstage) maka perilaku apapun yang ditampilkan tidak akan menjadi masalah. Penafsiran lebih lanjut tentang proses sosial akan dijelaskan pada sub bab perspektif teori tentang wacana interaksi sosial.

Bentuk-bentuk Interaksi Sosial Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelsaian tersebut hanya Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 28

akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenuhnya. Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya Interaksi sosial, yaitu : 1. Proses Sosial Asosiatif a. Kerja sama (Cooperation) Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama supaya rencana kerja samanya dapat terlaksana dengan baik. Ada 5 bentuk kerja sama, pertama, kerukunan yang mencakup gotong royong dan tolong menolong. Kedua, Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barangbarang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih. Ketiga, Cooptation, yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan. Keempat, Coalition, yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karena maksud utama adalah untuk mendapat satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnya adalah kooperatif. Kelima, Joint Venture, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batubara, perfilman, perhotelan, dan sebagainya. b. Akomodasi (Accomodation) Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti menunjuk pada suatu keadaan dan menunjuk pada suatu proses. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya. Adapun tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya. Pertama, mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham. Kedua, mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer. Ketiga, memungkinkan terjadinya kerjasama Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 29

antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem kasta. Keempat, mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah. c. Asimilasi (Assimilation) Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama. Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati. Proses asimilasi dapat terjadi apabila, pertama, kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya. Kedua, orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama. Ketiga, kebudayaankebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri. Adapun faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah toleransi, kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi, sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya, sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat, persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan, perkawinan campuran

(amaigamation), adanya musuh bersama dari luar. Sedangkan faktor-faktor utama yang menjadi penghalang terjadinya asimilasi, pertama, terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat. Kedua, kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi. Ketiga, perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi. Keempat, perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya. Kelima, dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah dapat pula menjadi salah satu penghalang terjadinya asimilasi. Keenam, In-Group-Feeling yang kuat menjadi penghalang berlangsungnya asimiliasi. In group feeling berarti adanya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan kebudayaan. 2. Proses Sosial Disosiatif Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional proccesses, yang persis halnya dengan kerjasama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia untuk Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 30

mencapai tujuan tertentu. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi proses-proses yang disosiatif dibedakan dalam 4 bentuk, yaitu : a. Persaingan (Competition) Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidangbidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan mempunyai dua tipe umum. Pertama, tipe rivalry yaitu bersifat pribadi, individu, perorangan yang bersaing dalam memperoleh kedudukan. Kedua, bersifat tidak pribadi; misalnya terjadi antara dua perusahaan besar yang bersaing untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah tertentu. Adapun bentuk-bentuk persaingan, pertama, persaingan ekonomi yaitu timbul karena terbatasnya persediaan dibandingkan dengan jumlah konsumen. Kedua, persaingan kebudayaan yaitu dapat menyangkut persaingan bidang keagamaan, pendidikan, dan sebagainya. Ketiga, persaingan kedudukan dan peranan yaitu di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok terdapat keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan serta peranan terpandang. Keempat, persaingan ras yaitu merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Hal ini disebabkan karena ciri-ciri badaniah terlihat dibanding unsur-unsur kebudayaan lainnya. b. Kontraversi (Contravetion) Kontraversi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Bentuk kontraversi menurut Leo von Wiese dan Howard Becker ada lima, pertama, Umum, meliputi perbuatan seperti penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, gangguangangguan, kekerasan, pengacauan rencana. Kedua, Sederhana, seperti menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca, memfitnah, melemparkan beban pembuktian pada pihak lain, dan sebagainya. Ketiga, Intensif, penghasutan, menyebarkan desas-desus yang mengecewakan pihak lain. Keempat, Rahasia, mengumumkan rahasia orang, berkhianat. Kelima, Taktis, mengejutkan lawan, mengganggu dan membingungkan pihak lain. Contoh lain adalah memaksa pihak lain menyesuaikan diri dengan kekerasan, provokasi, dan intimidasi. c. Pertentangan (pertikaian atau conflict) Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 31

Pribadi maupun kelompok menyadari adanya perbedaan-perbedaan misalnya dalam ciri-ciri badaniyah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, dan seterusnya dengan pihak lain. Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian. Sebab-sebab terjadinya pertentangan adalah perbedaan antar individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial. Pertentangan dapat pula menjadi sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Timbulnya pertentangan merupakan pertanda bahwa akomodasi yang sebelumnya telah tercapai. Pertentangan mempunyai 5 bentuk khusus, pertama, pertentangan pribadi. Kedua, pertentangan rasial yaitu dalam hal ini para pihak akan menyadari betapa adanya perbedaan antara mereka yang menimbulkan pertentangan. Ketiga, pertentangan antara kelas-kelas sosial yaitu disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan. Keempat, pertentangan politik yaitu menyangkut baik antara golongan-golongan dalam satu masyarakat, maupun antara negara-negara yang berdaulat. Kelima, pertentangan yang bersifat internasional yaitu disebabkan perbedaanperbedaan kepentingan yang kemudian merembes ke kedaulatan negara. Adapun akibat-akibat dari adanya pertentangan adalah tambahnya solidaritas ingroup, apabila pertentangan antara golongan-golongan terjadi dalam satu kelompok tertentu, akibatnya adalah sebaliknya, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok tersebut, perubahan kepribadian para individu serta hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia. d. Konflik Konflik secara umum memang sering terjadi di dalam masyarakat sebagai gejala sosial yang alami. Menurut Soerjono Soekamto, konflik adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuan dnegan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Konflik selama ini banyak dipersamakan dengan kekerasan. Namun sesungguhnya konflik berbeda dengan kekerasan. Kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau juga menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Konflik dapat berubah menjadi kekerasan apabila upaya-upaya yang berkaitan dengan tuntutan maka akan timbul gerakan yang mengarah pada kekerasan. Menurut Robert Lawang, konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 32

juga untuk menundukkan saingannya. Konflik sosial merupakan proses sosial antar perorangan atau kelompok suatu masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganja interaksi sosial diantara pihak yang bertikai. Perspektif Teori Wacana Interaksi Sosial Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pembahasan interaksi sosial cenderung menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik karena didalam proses sosial tersebut akan ditemukan penafsiran makna dan berbagai simbol yang digunakan manusia dalam berinteraksi sosial. Dalam Kamanto Sunarto (2004) dijabarkan 5 teori sosiologi dalam menganalisis wacana interaksi sosial. Interaksi dan Definisi Situasi Teori ini dikemukakan oleh William Issac Thomas (1968) yang menyebutkan bahwa interaksi sosial bukan merupakan pemberian tanggapan (respon) terhadap rangsangan (stimulus) tetapi tindakan sosial seseorang selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan, rangsangan dari luar diseleksi melalui proses yang disebut definisi atau penafsiran situasi. Apabila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata maka konsekuensinya nyata. Sebagai contoh, penafsiran terhadap ucapan selamat pagi bergantung pada siapa yang mengucapkan. Apabila seorang perempuan mendapatkan ucapan selamat pagi dari laki-laki yang tidak dikenal, maka cenderung ucapan tersebut akan diabaikan. Namun, apabila diucapkan oleh atasannya maka secara otomatis akan diucapkan balik dengan cara yang baik. Ada 2 macam definisi situasi yaitu yang dibuat spontan oleh individu dan yang dibuat oleh masyarakat (teman, komunitas, keluarga). Kedua definisi situasi tersebut mengalami persaingan, sehingga membutuhkan moralitas yang berwujud aturan atau hukum untuk mengatur kepentingan pribadi agar tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat. Aturan yang Mengatur Interaksi Teori ini dikemukakan oleh Edward Hall dalam bukunya yang berjudul The Hidden Dimension (1982) yang menjelaskan bahwa dalam interaksi dijumpai aturan tertentu dalam hal penggunaan ruang. Lebih lanjut, Hall mejabarkan bahwa dalam situasi sosial orang cenderung menggunakan 4 macam jarak sosial. Pertama, jarak intim (intimate distance), berkisar antara 0-45 cm, keterlibatan dengan tubuh orang lain disertai keterlibatan intensif dari pancaindera seperti penglihatan, bau badan, suhu badan, suara, sentuhan kulit, hembusan nafas. Hall juga menambahkan apabila seseorang terpaksa berada dalam jarak intim dengan orang lain yang tidak dikenal misalnya di tempat umum, naik kendaraan umum yang penuh Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 33

maka seseorang akan berusaha membatasi kontak tubuh dan pandangan mata dengan orang lain disekitarnya. Kedua, jarak pribadi antara 45 122 cm, interaksi sosial yang terjadi biasanya memiliki hubungan yang sangat dekat seperti orang tua dan anak, pasangan suami istri. Ketiga, jarak sosial antara 122 366 cm, orang yang berinteraksi dapat berbicara secara normal dan tidak saling menyentuh. Tahap dekat dalam jarak ini dijumpai pada orang yang berinteraksi dalam pertemuan santai atau informal. Sedangkan tahap jauh, dipihak lain, dijaga di antara orang yang terlibat dalam hubungan kerja secara formal. Keempat, jarak publik antara diatas 366 cm, dipelihara oleh orang yang harus tampil di depan umum seperti politikus dan aktor. Semakin besar jarak, semakin keras pula suara yang harus dikeluarkan. Pemilihan kata dan kalimat yang diucapkan mulai diperhatikan dan pilih dengan seksama. Pemikiran Hall tentang jarak sosial ini selanjutnya disempurnakan dalam buku lain yang berjudul The Silent Language (1981) yang membahas aturan mengenai waktu. Hal ini karena dalam masyarakat berbeda dijumpai penggunaan waktu secara berbeda karena adanya persepsi yang berbeda waktu. Selain berbicara ruang dan waktu, Hall juga menyebutkan hal penting yang perlu diperhatikan dalam berinteraksi sosial adalah komunikasi nonverbal atau bahasa tubuh (body language) yang merupakan komunikasi pertama yang dipelajari manusia sebelum ada bahasa lisan. Menurut Karp & Yoels, studi sosiologis terhadap gerak tubuh dan isyarat tangan disebut kinesics. Interaksi dan Sumber Informasi Pendekatan ini dikemukakan oleh Karp dan Yoels, bahwa untuk berinteraksi sosial, untuk dapat mengambil peran orang lain seseorang perlu mempunyai informasi mengenai orang yang berada dihadapannya. Apabila seseorang berhadapan dengan orang yang memiliki cultural stranger maka interaksi sukar dilakukan. Yang dimaksud sumber informasi disini adalah ciri-ciri fisik yang diwarisi sejak lahir seperti jenis kelamin, usia, ras dan penampilan (daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan percakapan). Dari berbagai sumber informasi tersebut, hal yang menarik saat ini adalah percakapan yang digunakan oleh orang tersebut untuk menunjukkan status masing-masing. Hal ini agar komunikasi berjalan lancar dan tidak ada kesalahpahaman/kekeliruan. Seseorang yang terlibat dalam interaksi sosial harus dapat memilah-milah berbagai macam informasi yang diterima untuk dapat menafsirkan makna yang sesungguhnya. Interaksi dan Prinsip Dramaturgi Pembahasan interaksi sosial menggunakan prinsip seperti bermain teater, sehingga dinamakan prinsip dramaturgi. Analisis ini dikemukakan oleh Erving Goffman dalam Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 34

bukunya yang berjudul The Presentation of Self in Everyday Life (1959), bahwa dalam suatu perjumpaan masing-masing pihak secara sengaja maupun tidak membuat pernyataan (expression), pihak lain memperoleh kesan (impression). Pernyataan dibedakan menjadi dua yaitu pernyataan yang diberikan (expression given), yaitu memberikan informasi sesuai dengan apa yang umumnya berlaku dan pernyataan yang dilepaskan (expression given off), yaitu mengandung informasi yang menurut orang lain memperlihatkan ciri si pembuat pernyataan. Dalam proses ini masing-masing pihak berusaha mendefinisikan situasi, berusaha mengendalikan perilaku orang lain dengan jalan memberikan pernyataan yang dapat menghasilkan kesan yang diinginkan. Usaha mempengaruhi kesan orang lain ini dinamakan pengaturan kesan (impression management). Lebih lanjut, Goffman menyatakan bahwa perilaku orang ditampakkan seperti saat bermain sandiwara ada sisi frontstage (panggung depan) dan backstage (panggung belakang), yang masing-masing menampilkan performance yang berbeda. Seringkali performance tidak ditampilkan secara individu melainkan tim. Interaksi dari Berjumpa sampai Berpisah Mark L Knapp dalam bukunya Social Intercourse: From Greeting to Goodbye (1978) menyebutkan bahwa tahap interaksi dapat dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu tahap yang mendekatkan peserta interaksi dan tahap yang menjauhkan mereka. Tahap yang mendekatkan dirinci menjadi tahap memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating), dan mempertalikan (bonding). Pada tahap ini peningkatan hubungan terjadi secara berhati-hati dan bertahap, sehingga terjadi peningkatan komunikasi pribadi dan komunikasi nonverbal. Tahap dalam proses perenggangan hubungan yaitu membeda-bedakan

(differentiating), membatasi (circumscribing), memacetkan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating). Pada tahap ini, pentingnya pernyataan mengenai jarak dan pemisahan diri sehingga masing-masing pihak dapat meneruskan hidupnya tanpa kehadiran pihak lain.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 35

KOTAK PENGETAHUAN Dalam prinsip dramaturgi, suatu kekhususan dalam sosiologi, kehidupan sosial dipandang serupa dengan teater. Dalam kehidupan sehari-hari individu adalah aktor yang memainkan peran. Namun kadang-kadang apa yang diharapkan dari individu dalam suatu peran lain yang dapat menimbulkan konflik peran (role conflict). Biasanya saat berhasil menghindari konflik peran dengan jalan memisahkan peranperan yang dalam keadaan tertentu menuntut pengaturan yang cekatan namun menimbulkan masalah yang disebut ketegangan peran (role strain). Sumber: Henslin, 2007: 106 107

Lembar Kerja BERPIKIR KRITIS Bahan : Media sosial seperti facebook, twitter, blog, youtube Alat : Kertas Flano, Selotip, Spidol, Laptop Perkembangan masyarakat modern, memungkinkan tidak lagi adanya interaksi secara langsung. Dengan bantuan internet, manusia dapat saling berinteraksi sosial tanpa terbatasi ruang dan waktu. Jarak sosial menjadi tidak lagi penting. Bagaimana interaksi sosial yang dilakukan melalui media sosial yang saat ini lagi menjadi trend? Apakah ciri dan syarat interaksi sosial sudah terpenuhi saat melakukan selancar di dunia maya? Perspektif mana yang dapat menjelaskan proses sosial tersebut. Diskusikan fenomena sosial tersebut.

Lembar Latihan 1. Mengapa nilai/norma sosial masyarakat dapat berubah seiring dengan perkembangan dalam masyarakat? Jelaskan dengan disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari 2. Bagaimana peran nilai/norma sosial dalam proses sosialisasi di dalam masyarakat, jelaskan? 3. Jelaskan faktor-faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial! 4. Jelaskan perbedaan bentuk-bentuk interaksi sosial yang assosiatif dan disosiatif! 5. Mengapa interaksi sosial dikatakan sebagai kunci utama dalam kehidupan sosial?

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 36

BAB 3 SOSIALISASI DAN KEPRIBADIAN

Standar Kompetensi: Menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan kepribadian Kompetensi Dasar 1. Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian 2. Mendeskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan pengertian sosialisasi dan jenis-jenis sosialisasi 2. Menganalisis proses pembentukan kepribadian 3. Menjelaskan agen-agen sosialisasi 4. Menganalisis wacana sosialisasi berdasarkan teori sosiologi 5. Menjelaskan pengertian perilaku menyimpang dan jenis-jenisnya 6. Menganalisis faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang secara teoritis 7. Menjelaskan upaya penanggulangan perilaku menyimpang

Pengantar Telah disinggung pada bab sebelumnya bahwa dalam proses sosialisasi yang akan di ajarkan adalah nilai dan norma sosial yang ada dalam masyarakat. Pengetahuan tentang nilai dan norma sosial sangat penting dalam proses sosialisasi agar manusia mampu melakukan penyesuaian terhadap nilai dan norma sosial yang sudah ada di dalam masyarakat. Sebagai petunjuk dan pedoman perilaku serta sikap manusia, nilai dan norma disosialisasikan oleh generasi tua kepada generasi muda baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat luas. Dapat diartikan bahwa proses sosialisasi adalah proses memahami nilai dan norma sosial yang ada dalam masyarakat. Artinya hanya lewat proses-proses sosialisasi itu sajalah nilai/norma sosial (yang menjadi determinan segala keadaan tertib sosial) itu dapat diwariskan dan dan diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya (dengan atau tanpa perubahan). Pada bab 3 ini, akan dipelajari 2 materi yaitu sosialisasi dalam proses pembentukan kepribadian dan perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat. Pada materi yang pertama, modul ini akan berbicara tentang pengertian sosialisasi, jenis sosialisasi, agen sosialisasi dan teori sosiologi yang membahas tentang sosialisasi yang kesemuanya berkaitan dengan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 37

pembentukan kepribadian individu di dalam masyarakat. Sedangkan pada materi yang kedua, akan dibahas tentang definisi perilaku menyimpang, teori penyimpangan sosial, faktor penyebab terjadinya dan upaya untuk menanggulangi perilaku menyimpang.

Pengertian Sosialisasi Manusia melakukan proses sosialisasi disadari ataupun tidak disadari akan memberikan manfaat besar dalam proses menjalankan kehidupan bersama di dalam masyarakat. Apabila hal ini tidak dilakukan maka yang terjadi adalah kecanggungan dalam perilaku atau justru penyimpanagan terhadap perilaku-perilaku yang baku dalam masyarakat. Sosialisasi menjadi faktor penting bagi individu sebagai anggota kelompok masyarakat untuk mengenali nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat tersebut. Seperti yang bisa dilihat pada gambar, bahwa proses terjadinya sosialisasi dikenalkan dari generasi tua ke generasi muda sebagai proses pewarisan nilai dan norma sosial. SOSIALISASI Generasi Tua Generasi Muda

Nilai dan Norma Sosial sebagai pedoman bagi tingkahlaku manusia Sebelum berbicara lebih lanjut tentang proses sosialisasi, terlebih dahulu dibahas pengertian sosialisasi. Menurut Peter Berger, sosialisasi adalah proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seseorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Bagi Charlotte Buhler, sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berpikir kelompoknya agar dia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Hal ini juga senada yang disampaikan oleh Bruce J. Cohen yang menyebut sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajarai tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota suatu kelompok. Dari pengertian tersebut, sosialisasi berkaitan dengan proses pengenalan nilai dan norma sosial kepada individu dalam hal ini berkaitan dengan peran sosial yang dijalankan. Untuk itu, tujuan sosialisasi antara lain:

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 38

1. Mengetahui nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam suatu masyarakat sebagai ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan seseorang kelak di tengah-tengah masyarakat dimana individu tersebut sebagai anggota masyarakat. 2. Mengetahui lingkungan sosial budaya baik lingkungan sosial tempat individu bertempat tinggal termasuk lingkungan sosial yang baru agar terbiasa dengan nilai-nilai dan normanorma soasial yang ada pada masyarakat. 3. Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat. 4. Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien serta mengembangkan kemampuannya seperti membaca, menulis, berkreasi,dll. Tidak semua proses sosialisasi yang dilakukan diterima dengan baik. Kadangkala dalam melakukan proses sosialisasi ditemui banyak kendala seperti penolakan dan ini dapat dilihat dengan perilaku penyimpangan yang dilakukan oleh manusia. Adapun indikator keberhasilan proses sosialisasi itu berjalan dengan baik apabila: 1. Meningkatnya status yang seringkali diikuti dengan meningkatnya kepercayaan dan meningkatnya peranan sosial di lingkungan sosial yang baru. 2. Terintegrasi secara kuat dengan masyarakat setempat dalam setiap aktivitas yang ditandai dengan keakraban dan peran di antara individu tersebut dengan masyarakat yang lain. 3. Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisiknya 4. Memiliki banyak teman atau relasi usaha yang akan mengakibatkan ketentraman dalam pergaulan dan keberhasilan dalam karir dan usaha. Untuk mempenjelaskan lebih lanjut tentang proses sosialisasi, di dalam kehidupan masyarakat dapat dikenali adanya dua sosialisasi yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Menurut Peter Berger dan Luckman, sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil, melalui mana ia menjadi anggota masyarakat. Biasanya pada usia 1 5 tahun, secara bertahap mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya. Peran orang-orang terdekat sangat penting untuk membentuk karakter kepribadian sesuai yang diharapkan. Ini merupakan proses penting karena apapun yang diserap anak di masa ini menjadi ciri mendasar kepribadian anak setelah dewasa. Oleh karena itu penting untuk memberikan pola pengasuhan yang baik jauh dari suasana kekerasan baik fisik maupun psikis agar kelak karakter anak menjadi baik. Sedangkan sosialisasi sekunder, menurut Peter Berger dan Luckman, merupakan proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan ke dalam sektor Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 39

baru dari dunia obyektif masyarakatnya. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberikan identintas diri baru dan desosialisasi adalah ketika seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama. Proses resosialisasi dan desosialisasi ini sering dikaitkan dengan proses yang berlangsung dalam apa yang disebut Erving Goffman sebagai institusi total (total institutions), yaitu proses pembelajaran norma baru, nilai, sikap dan perilaku. Institusi Total dilakukan melalui proses Upacara Degradasi sebagai usaha mengubah diri manusia dengan jalan melepas identitas sekarang dan menanamkan identitas baru sebagai gantinya. Contoh institusi total adalah penjara, rumah sakit jiwa dan lembaga pendidikan militer, seringkali juga biara dan pondok pesantren termasuk institusi total. Dalam Kamanto Sunarto (2004: 29-30), dijelaskan bahwa seseorang yang berubah status dari orang bebas, kemudian tahanan, dan akhirnya menjadi narapidana mula-mula mengalami desosialisasi sehingga orang tersebut harus menanggalkan busana bebas dan menggantinya dengan seragam tahanan. Berbagai kebebasan yang semula dinikmatinya dicabut, berbagai milik pribadinya disita dan disimpan oleh penjaga (sipir penjara). Seringkali namanya juga diganti dengan pemberian identitas nomor untuk memudahkan mengidentifikasi tahanan. Setelah menjalani proses yang cenderung membawa dampak terhadap citra diri serta harga diri. Selanjutnya, di dalam penjara, seseorang akan menjalani resosialisasi, dididik untuk menerima aturan dan nilai baru.

Agen Sosialisasi Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang melakukan proses sosialisasi? Untuk mempermudah dalam proses sosialisasi maka perlu adanya agen-agen sosialisasi. Menurut Fuller dan Jacobs ada empat agen sosialisasi yang utama yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sekolah. Mari kita coba untuk menjelaskannya satu persatu. 1. Keluarga Secara sosiologis, keluarga terbagi menjadi dua yaitu nuclear family (keluarga inti) dan extended family (keluarga luas). Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, saudara kandung atau saudara lainnya yang tinggal di dalam satu rumah dan dalam waktu yang cukup lama. Peranan orang tua pada tahap awal sosialisasi ini sangat penting karena apa yang terjadi antara anak dan orang tua tidak banyak diketahui oleh orang luar. Diharapkan bahwa kekuasaan orang tua terhadap anak tidak disalahgunakan dengan melakukan penyalahgunaan kekuasaan seperti melakukan tindakan kekerasan terhadap anak, mempekerjakan anak dibawah umur,dll. Sedangkan keluarga luas Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 40

terdiri dari beberapa keluarga seperti kakek, nenek, paman, bibi dan lainnya yang masih menjadi kerabat baik dari pihak bapak maupun pihak ibu. Hal lain lagi apabila kalian melakukan pengamatan di masyarakat perkotaan dimana anak-anak banyak dititipkan pada lembaga penitipan anak, pembantu rumah tangga maupun babysitter. Oleh karena itu mereka memegang peranan penting dalam proses sosialisasi karena orang tua sibuk dengan kegiatan mereka sendiri sehingga pola pengasuhan anak diserahkan oleh orang lain. 2. Kelompok Bermain Setelah anak beranjak besar maka agen sosialisasi selanjutnya adalah di kelompok bermain yaitu teman-teman sebayanya. Pada tahap ini anak-anak memasuki game stage yaitu mulai mempelajari aturan-aturan yang mengatur peranan-peranan orang yang kedudukannya sederajat. Kalau di dalam keluarga, anak-anak berinteraksi dengan orang dewasa tetapi di kelompok bermain ini, anak-anak menemukan dunia yang berbeda dan menemukan kemampuan baru bersama teman bermainnya.

3. Sekolah Menurut Dreeben, di sekolah anak dituntut tanggungjawab yang lebih karena semua pekerjaan yang diberikan sekolah tidak bisa mengharapkan bantuan dari orang tua seperti ketika di dalam keluarga. Guru akan menuntut seorang anak untuk mandiri dan tidak bergantung lagi kepada orang tua. Dari pandangan Dreeben kita dapat melihat bahwa sekolah merupakan suatu jenjang peralihan antara keluarga dan masyarakat. Sekolah memperkenalkan aturan-aturan baru yang diperlukan bagi anggota masyarakat dan aturan-aturan tersebut sering berbeda dan bahkan bertentangan dengan aturan-aturan yang dipelajari selama sosialisasi berlangsung ketika anak di rumah. 4. Media Massa Media massa sebagai bentuk komunikasi masyarakat secara luas terdiri dari media cetak dan elektronik memberikan pengaruh yang cukup penting bagi masyarakat. Coba kalian perhatikan bagaimana anak-anak selalu meniru setiap adegan dalam film yang ditonton dan memakai pernak-pernik yang berhubungan dengan tokoh yang diidolakan? Pesan-pesan yang disampaikan oleh agen sosialisasi media massa ini berbeda satu sama lain dan kadangkala bertentangan dengan aturan yang diajarkan di rumah. Menurut penelitian Robert Hodge dan David Tripp, televisi tidak memberikan pesan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 41

tunggal yang sederhana melainkan menyajikan berbagai pesan yang rancu dan saling bertentangan. Dampak televisi dapat memberikan arah perilaku prososial maupun perilaku antisosial.

Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian Dalam proses sosialisasi tidak akan terlepas dari terbentuknya kepribadian seorang individu. Kepribadian merupakan gambaran secara umum dari perilaku seorang individu yang sangat khas yang dapat terlihat dari perilaku sehari-hari. Wujud nyata dan kepribadian dapat berupa banyak hal antara lain perangai, sikap, atau perilaku, tutur kata, persepsi, kegemaran, keimanan dan lain-lain. Kepribadian merupakan perpaduan antara warisan biologis yang diterima seseorang dari leluhurnya dengan pengaruh lingkungan melalui proses interaksi dan proses sosialisasi sejak lahir hingga dewasa. Ada banyak bagian atau unsur pembentuk kepribadian sebagai bagian dari pemahaman tentang kepribadian. Adapun unsur-unsur pembentuk kepribadian terdiri dari: 1. Pengetahuan Setiap manusia berusaha untuk mengisi pemikirannya dengan berbagai macam pengetahuan yang ada di lingkungannya. Semua hal yang telah dipelajari sebagai pengetahuan direkam dalam otak dan dicerna atau direspon melalui bentuk-bentuk perilaku tertentu. 2. Perasaan Merupakan bentuk penilaian seseorang terhadap sesuatu hal yang berupa perasaan positif ataupun negatif sehingga penilaian ini akan memberikan respon yang juga dapat positif atau negatif. Setiap perilak yang didasarkan pada perasaan mempunyai penilaian yang subyektif karena setiap manusia mempunyai penilaian terhadap seseorang itu berbedabeda. 3. Dorongan Naluri Adalah keinginan yang ada pada diri seseorang bersumber dari panca indra sebagai aksi yang kemudian dicerna dan diwujudkan dalam bentuk reaksi. Setiap dorongan naluri sebagai perwujudan dari keinginan manusia untuk menanggapi rangsangan tersebut. Sedikitnya ada tujuh dorongan naluri dalam diri manusia, yaitu: a. Dorongan untuk mempertahankan hidup b. Dorongan seksual c. Dorongan untuk mencari makan d. Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi dengan sesama manusia Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 42

e. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya f. Dorongan untuk berbakti g. Dorongan akan keindahan bentuk, warna, suara, dan gerak Dari bagian-bagian pembentuk kepribadian tersebut dapat terlihat bahwa kepribadian yang tumbuh dan berkembang dalam diri individu dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu: 1. Warisan Biologis Adanya persamaan biologis dalam diri manusia membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku semua orang. Semua manusia yang normal dan sehat mempunyai persamaan biologis tertentu seperti mempunyai dua tangan, dua kaki, pancaindra, otak,dll. Selain itu setiap warisan biologis membentuk karakter kepribadian unik karena tidak semua orang mempunyai karakter fisik yang sama meskipun anak kembar pasti ada perbedaannya. Hal lain yang juga terkait dengan biologis adalah kematangan biologis. Yang dimaksud dengan kematangan biologis adalah misalnya seorang anak berusia 2 tahun yang dipaksa belajar membaca dan menghitung tentu saja mengalami kesulitan. Ini bukan karena anaknya yang bodoh tetapi karena pada umur 2 tahun otot mata belum berkembang dengan sepenuhnya. 2. Lingkungan Fisik (Alam) Faktor kedua yang mempengaruhi kepribadian adalah lingkungan fisik seperti iklim, topografi dan sumber alam. Tetapi menurut para ahli sosiologis faktor ini tidak dianggap cukup penting dalam mempengaruhi kepribadian seseorang. Misalnya gaya hidup masyarakat yang hidup di pantai (nelayan) dengan masyarakat yang hidup di pegunungan (petani). Gaya hidup mereka dapat berbeda tetapi manusia dapat menerapkan strategi adaptasi jika tinggal di lingkungan fisik yang berbeda. 3. Kebudayaan Khusus Coba kalian perhatikan masyarakat desa dengan masyarakat kota di lingkungan sekitar. Apakah mereka mempunyai kepribadian yang berbeda? Kita mengetahui bahwa setiap masyarakat selalu mempuyai karakter yang khusus dan berbeda satu sama lain. Karakter yang khas ini bisa disebut sebagai kebudayaan khusus yang hanya dapat ditemui pada masyarakat tertentu. Masyarakat desa cenderung bersifat homogen sedang masyarakat kota cenderung bersifat heterogen sehingga kepribadian keduanya pun juga berbeda memiliki keunikan (kekhususan) tersendiri. 4. Pengalaman Kelompok

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 43

Sangat jelas sekali bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai pengaruh yang penting bagi kepribadian individu. Adapun kelompok tersebut dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: a. Kelompok Acuan (referensi) Merupakan kelompok yang diterima sebagai panutan atau model untuk penilaian atau tindakan seseorang. Pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan kelompok referensinya di tahun-tahun pertama yaitu dalam lingkungan keluarga. Dan seiring perkembangannya maka kelompok referensinya juga berkembang dan berpencar sesuai dengan keinginannya. b. Kelompok Majemuk Hal ini timbul karena mengingat kompleksnya sebuah masyarakat. Dalam keadaan seperti ini maka seseorang harus berusaha dengan keras untuk mempertahankan haknya untuk menentukan sendiri apa yang dianggapnya baik dan bermanfaat bagi diri dan kepribadiannya sehingga tidak terhanyut dalam arus perbedaan dalam kelompok majemuk tempatnya hidup. 5. Pengalaman Unik Menurut Paul Horton, kepribadian tidak dibangun dengan menyusun peristiwa di atas peristiwa lainnya. Arti dan pengaruh suatu pengalaman tergantung pada pengalamanpengalaman yang mendahuluinya. Pengalaman-pengalaman yang unik akan mempengaruhi kepribadian seseorang karena setiap pengalaman seseorang itu berbeda-beda dan tidak ada yang bisa menyamai sehingga kepribadian seseorang juga berbeda-beda. Akhirnya, proses pembentukan kepribadian sangat ditentukan oleh kebudayaan yang dibangun oleh masyarakat karena setiap kebudayaan menyediakan seperangkat pengaruh umum, yang sangat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Untuk lebih memahami sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian, dalam bab ini akan dibahas teori sosiologi yang berkaitan dengan wacana sosialisasi dan kepribadian.

Teori Sosialisasi sebagai Proses Pembentukan Kepribadian 5. Pemikiran George Herbert Mead Menurut Mead, proses sosialisasi yang dilakukan oleh manusia adalah melalui peranperan yang harus dijalankan oleh individu sehingga pemikirannya terkenal dengan Role Theory (teori mengenai peranan). Melalui penguasaan peranan yang ada dalam masyarakat maka seorang individu dapat berinteraksi dengan orang lain. Pengembangan diri manusia

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 44

melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain berjalan secara bertahap mulai dari tahap play stage, game stage, dan generalized other.

a. Tahap Play Stage (Tahap Bermain) Pada tahap ini ditandai dengan peran-peran yang dilakukan anak kecil yang menirukan peran-peran yang dimainkan orang-orang yang berada di sekitarnya seperti orang tuanya atau orang dewasa lainnya yang sering mengadakan interaksi dengannya. Ini dapat kalian amati ketika anak kecil sedang bermain dan menjalankan peran yang dilakukan orang dewasa tanpa memahami isi peran-peran tersebut. Misalnya seorang anak yang berpura-pura menjadi dokter, pilot, polisi, tanpa tahu mengapa dokter harus menyuntik, pilot berada di pesawat ataupun mengapa polisi itu harus membawa pistol. b. Tahap Game Stage (Tahap Permainan) Pada tahap ini, masa peniruan sudah mulai berkurang dan tergantikan dengan oleh peran yang secara langsung dimainkan dengan penuh kesadaran. Selain itu, jumlah orang yang berinteraksi dengannya semakin banyak dan kompleks serta mulai memahami peran yang harus dijalankan oleh orang lain tersebut. Seorang anak kecil mulai menyadari adanya norma-norma yang harus dipahami baik yang berlaku di dalam keluarganya maupun di luar keluarganya. c. Tahap Generalized Stage (Tahap Penerimaan Norma Kolektif) Pada tahap ini, seorang anak telah beranjak dewasa dan mampu mengambil peranperan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat. Individu tersebut telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat karena telah memahami peranannya sendiri serta peranan orang-orang lain dengan siapa berinteraksi. Sebagai anak, ia telah mampu memahami peranan yang dijalankan orang tua, sebagai siswa, ia telah mampu memahami peranan yang dijalankan seorang guru,dll. Dari pemikiran Mead ini, nampak jelas bahwa diri seseorang terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Tanpa berinteraksi dengan orang lain, maka seorang individu tidak mampu untuk tumbuh dan berkembang.

6. Pemikiran Charles Horton Cooley Pemikiran Cooley terkenal dengan Looking Glass-self (Cermin Diri) yang juga menekankan pentingnya peranan interaksi dalam sosialisasi. Seorang individu berkembang Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 45

melalui interaksinya dengan orang lain. Dalam hal ini, seorang individu berkembang melalui tiga tahap, yaitu: a. Persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya b. Persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya c. Seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu Untuk memahami pemikiran Cooley, disini akan disajikan suatu contoh kasus. Seorang murid yang merasa dirinya pandai karena selalu mendapatkan rangking pertama di kelasnya. Karena dengan kepandaiannya itu maka ia selalu diminta gurunya untuk mengikuti perlombaan. Setiap tindakan yang dilakukan selalu mendapatkan pujian dan komentar yang baik. Dengan adanya penilaian tersebut maka seorang anak akan merasa dirinya pandai dan menimbulkan perasaan bangga. Ini juga dapat berlaku ketika seorang anak yang mendapatkan predikat sebagai anak yang nakal, bodoh dan bandel sehingga setiap tindakan yang dilakukannya selalu dianggap salah menimbulkan penilaian yang buruk bagi anak tersebut akibatnya anak merasa dirinya nakal, bandel dan bodoh juga. 7. Pemikiran Jean Piaget Pembahasan Piaget berdasarkan pada asumsi bahwa manusia memiliki nalar sehingga manusia harus mampu mengembangkan kemampuan penalarannya dalam menjalani kehidupan sosial. Berdasarkan hasil penelitiannya, Piaget menyebutkan ada 4 tahap pengembangan nalar yang dilakukan oleh manusia. a. Tahap Sensorimotor (sejak lahir usia 2 tahun) Selama tahap ini, pemahaman anak terbatas pada kontak langsung dengan lingkungan antara lain menghisap, menyentuh, mendentar, dan melihat. Bayi tidak berpikir dalam artian yang dipahami orang dewasa. b. Tahap Pra-Operasional (usia 2 7 tahun) Selama tahap ini, anak-anak mengembangkan kemampuan untuk menggunakan simbol. Namun anak-anak belum memahami konsep umum seperti ukurang, kecepatan dan sebab akibat. Apabila anak sudah pandai berhitung, namun mereka belum memahami makna angka tersebut. Mereka juga memiliki kemampuan mengambil peran orang lain. c. Tahap Operasional Konkret (usia 7 12 tahun) Meskipun kemampuan penalaran (reasoning) lebih berkembang, namun kemampuan tersebut harus tetap bentuk konkret. Anak-anak akan mulai mengenal angka dan memahaminya namun tanpa adanya konsep konkret, mereka belum dapat menjelaskan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 46

secara tepat. Kemampuannya juga bertambah dengan keterlibatannya dalam permainan tim. d. Tahap Operasional Formal (setelah usia 12 tahun) Pada tahap ini, anak-anak telah memiliki kemampuan berbicara tentang konsep, menarik kesimpulan atas dasar prinsip umum, dan menggunakan aturan untuk memecahkan masalah yang abstrak. 8. Pemikiran Sigmund Freud Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan oleh Sigmund Freud terkenal dengan sebutan psikoanalisa. Freud percaya bahwa kepribadian terdiri dari 3 unsur yaitu id, ego dan superego. Lapisan Id terletak paling bawah terdiri dari motivasi naluriah yang menyebabkan seseorang mencari kepuasan diri yang ada sejak lahir. Lapisan Ego di tengah (ambang sadar) berfungsi mempertimbangkan kesesuaian pemenuhan motivasi naluriah dengan norma lingkungan. Ego merupakan kekuatan penyeimbang antara id dan tuntutan masyarakat yang meredamnya. Ego juga bertugas untuk mengimbangi id dan superego, yang lebih umum disebut hati nurani. Lapisan Superego terletak paling atas (kesadaran) berfungsi untuk mengambil keputusan secara rasional sesuai dengan norma lingkungan. Superego mewakili kebudayaan dalam diri seseorang, norma dan nilai sosial yang telah diinternalisasikan dari kelompok sosial. Sebagai suatu komponen moral dan kepribadian, superego memicu rasa bersalah atau malu ketika melakukan pelanggaran peraturan sosial atau kebanggaan dan kepuasan diri saat menaatinya. BERPIKIR KRITIS Dari penjelasan tentang sosialisasi mengindikasikan bahwa sosialisasi sangat kuat mempengaruhi kehidupan manusia. Sosialisasi masuk, memproduksi perilaku berdasar sosialisasi. Hal ini menandakan bahwa orang tidak dapat berbuat apa-apa terhadap perilaku, pikiran atau perasaan karena semuanya hasil dari konstruksi agen sosialisasi. Lantas, apakah manusia itu sebuah robot kehidupan? Ataukah manusia itu terjebak dalam sosialisasi sehingg pantas disebut tahanan sosialisasi? Diskusikan bersama terkait dengan manusia sebagai tahanan sosialisasi.

Perilaku Menyimpang Pengantar Dalam sosiologi segala tindakan yang melanggar norma atau nilai dalam masyarakat disebut sebagai perilaku menyimpang. Sebagian besar ahli menganggap bahwa perilaku menyimpang merupakah hasil dari sosialisasi yang tidak sempurna. Ketidaksempurnaan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 47

proses sosial ini disebabkan kegagalan individu atau kelompok untuk mengindentifikasikan diri agar pola perilakuanya sesuai dengan tuntutan norma dan nilai yang berkembang dan berlaku di dalam masyarakat. Meskipun masyarakat telah berusaha agar setiap anggota berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat namun dalam tiap masyarakat kita selalu menjumpai adanya anggota yang menyimpang. Proses sosialisasi yang dibangun melalui interaksi sosial tidak selamanya selalu menghasilkan pola-pola perilaku yang sesuai dan dikehendaki masyarakat. Perilaku menyimpang ini tentu saja merugikan anggota masyarakat lain dan mengganggu keteraturan sosial yang ada di masyarakat. Oleh karena itu sangat diperlukan tindakan pencegahan melalui alat-alat pengendalian sosial yang ada di dalam masyarakat. Pengertian Perilaku Menyimpang Menurut Robert M.Z. Lawang, perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut. Hal yang perlu diingat adalah bahwa suatu perilaku itu dapat dikatakan menyimpang di suatu daerah belum tentu di daerah lain juga mengkategorikan sebagai perilaku menyimpang. Misal ketika berada di daerah pedalaman Irian Jaya akan terlihat kaum laki-laki hanya menggunakan koteka saja untuk menutupi badannya. Di Irian Jaya hal tersebut dianggap biasa tetapi coba kalau di daerah lainnya ada yang hanya memakai koteka maka akan dianggap menyimpang dan terlihat aneh. Yang perlu diperhatikan bahwa patokan nilai-nilai atau norma-norma adalah ukuran baku bagi masyarakat setempat. Untuk lebih mempertajam tentang pengertian perilaku meyimpang maka menurut Paul B Horton, penyimpangan sosial memiliki 6 ciri, yaitu:

1. Penyimpangan harus dapat didefinisikan Tidak ada satupun perbuatan penyimpangan yang berdiri sendiri. Suatu perbuatan disebut menyimpang bilamana perbuatan itu dinyatakan sebagai menyimpang. Menurut Becker, penyimpangan bukanlah kualitas dari suatu tindakan yang dilakukan orang melainkan konsekuensi dari adanya peraturan dan penerapan sangsi yang dilakukan oleh orang lain terhadap pelaku tindakan tersebut. Penilaian apakah itu menyimpang atau tidak berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya. 2. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 48

Sebagian ahli sosiologi menyebutkan bahwa penyimpangan tidak selalu berdampak negatif. Ada beberapa perilaku menyimpang yang dapat diterima oleh masyarakat, misalnya saja keberadaan Penjaja Kaki Lima (PKL) yang dapat menjadi sumber pendapatan bagi Pemda setempat. Banyak perilaku menyimpang yang melanggar hukum. Dalam banyak hal, studi tentang perilaku menyimpang merupakan studi tentang perilaku kriminal. 3. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak Pada masyarakat modern, kebanyakan orang tidak termasuk baik dalam kategori patuh seutuhnya maupun dalam kategori penyimpangan seutuhnya. Sedangkan seorang menyimpang sepenuhnya akan mengalam kesulitan besar dalam kehidupannya. Hampir semua orang dalam masyarakat kita merupakan penyimpangan pada batas-batas tertentu hanya saja beberapa diantaranya lebih sering melakukan penyimpangan dan lebih tinggi kadar penyimpangannya dan beberapa orang melakukan penyimpangan mereka lebih tersembunyi daripada orang lain. Sampai batas-batas tertentu dapat dikatakan bahwa seorang penyimpang adalah orang yang melakukan penyimpangan secara terbuka yang oleh orang lain dilakukan secara sembunyi-sembunyi. 4. Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal Budaya ideal terdiri dari kepatuhan terhadap segenap peraturan hukum, namun dalam kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan hukum. Kesenjangan nilai-nilai utama antara budaya ideal (apa yang diucapkan) merupakan masalah penting. Pada setiap diskusi menyangkut kesenjangan yang dianggap penting tersebut, diperlukan adanya landasan normatif yang berupa budaya ideal atau budaya nyata yang dipegang secara tersirat ataupun dinyatakan secara tegas. Misalnya seorang suami yang melakukan kekerasan terhadap istrinya tetapi istri takut melaporkan kepada polisi maka yang ada penyimpangan tersebut tetap ada. 5. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan Apabila nilai adat atau peraturan hukum melarang sesuatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh banyak orang maka kemungkinan besar norma-norma penghindaran akan muncul. Norma penghindaran merupakan pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka. Norma-norma penghindaran dalam masyarakat yang sering kita jumpai misalnya mengendarai kendaraan di di luar batas maksimum kecepatan yang berlaku, tidak menggunakan helm pada waktu bersepeda motor, pelanggaran marka jalan, pelanggaran batas beban berat truk yang melebihi,dll. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 49

6. Penyimpangan sosisal bersifat adapatif (menyesuaikan) Penyimpangan merupakan ancaman tetapi juga merupakan alat pemeliharaan stabilitas sosial. Di satu pihak masyarakat hanya dapat melakukan kegiatannya secara efisien bilamana terdapat ketertiban dan kepastian dalam kehidupan sosial. Kita harus mengetahui sampai batas tertentu perilaku apa yang kita harapkan dari orang lain, apa yang orang lain inginkan dari kita, serta wujud masyarakat seperti apa yang pantas bagi sosialisasi anggotanya. Di lain pihak perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Tidak ada masyarakat yang mampu bertahan dalam kondisi statis untuk jangka waktu lama. Masyarakat yang terisolasi sekalipun akan mengalami perubahan ledakan penduduk perubahan teknologi serta hilangnya kebudayaan lokal dan tradisi mengharuskan banyak orang untuk menerapkan norma-norma baru. Misalnya di suku badui di daerah Banten. Di dalam masyarakat Badui dilarang menggunakan alat-alat yang berbau teknologi, tetapi semakin dengan terdesaknya masyarakat tersebut dan hasil dari interaksi dengan penduduk sekitar maka pada malam hari karena listrik tidak boleh masuk banyak masyarakat Badui yang telah menggunakan lilin sebagai alat penerang. Lilin merupakan teknologi yang dibuat oleh manusia. Meskipun secara nyata, kita dapat menyebutkan berbagai bentuk perilaku menyimpang namun mendefinisikan arti perilaku menyimpang itu sendiri merupakan hal yang sulit karena kesepakatan umum tentang itu berbeda-beda diantara berbagai kelompok masyarakat. Ada segolongan orang yang menyatakan perilaku menyimpang adalah ketika orang lain melihat perilaku itu sebagai sesuatu yang berbeda dari kebiasaan umum. Namun ada pula yang menyebut perilaku menyimpang sebagai tindakan yang dilakukan oleh kelompok minoritas atau kelompok tertentu yang memiliki nilai dan norma sosial yang berbeda dari kelompok sosial yang lebih dominan. Oleh karena itu, definisi perilaku menyimpang dengan demikian berarti relatif tergantung dari masyarakat yang mendefinisikannya, nilai-nilai budaya dari suatu masyarakat, dan masa, zaman, atau kurun waktu tertentu. Secara umum, perilaku yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang antara lain: a. Tindakan yang nonconform yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai/norma sosial yang ada. Misalnya merokok di area bebas rokok, membolos,dll b. Tindakan yang antisosial yaitu tindakan yang melawan kebiasaan masyarakat atau kepentingan umum. Misalnya penyimpangan seksual, bunuh diri, menarik diri dari pergaulan,dll. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 50

c. Tindakan kriminal yaitu tindakan yang nyata-nyata telah melanggar aturan hukum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain. Misalnya perampokan, pembunuhan, korupsi,dll.

Jenis-jenis Perilaku Menyimpang Kita telah mempelajari tentang teori-teori perilaku menyimpang, bagaimana dengan jenisjenis perilaku menyimpang yang ada di masyarakat. Untuk memudahkan dalam memahami tentang perilaku menyimpang maka akan dibedakan perilaku menyimpang menurut jenisjenisnya. 1. Berdasarlan jumlah individu yang terlibat a. Penyimpangan Individu Penyimpangan ini dilakukan oleh seseorang yang telah mengabaikan dan menolak norma-norma yang telah berlaku dengan mantap dalam kehidupan masyarakat. Hanya satu individu yang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma umum yang berlaku, tanpa bantuan dan tanpa melibatkan orang lain. Perilaku seperti ini secara nyata menolak norma-norma yang telah diterima secara umum dan berlaku dalam waktu yang relatif lama. Misalnya, mencuri/merampok yang dilakukan sendirian, mencopet di dalam bus, menghipnotis orang dan mengambil barang berharga dari korbannya,dll. Untuk jenis penyimpangan individu ini, masyarakat telah memberikan cap atau julukan tertentu sesuai dengan kadar penyimpangannya. Bila individu tersebut tidak mau tunduk kepada nasihat orang-orang di lingkungannya agar mau mengubah pendiriannya disebut pembandel. Bila individu tidak mau tunduk kepada peringatan orang-orang yang berwenang di lingkungannya disebut pembangkang. Bila individu melanggar norma-norma umum atau masyarakat yang berlaku disebut si pelanggar. Bila individu mengabaikan norma-norma umum atau masyarakat sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya disebut penjahat b. Penyimpangan Kelompok Penyimpangan kelompok terjadi apabila perilaku menyimpang dilakukan bersamasama dalam kelompok tertentu. Individu yang termasuk situasi seperti ini bertindak sesuai dengan norma-norma kebudayaan kelompoknya yang bertentangan. Biasanya mereka tidak mau menerima norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang kelompok ini agak rumit sebab kelompok-kelompok tersebut mempunyai nilai-nilai, norma-norma, sikap dan tradisi sendiri. Fanatisme anggota Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 51

terhadap kelompoknya menyebabkan mereka merasa tidak melakukan perilaku menyimpang. Kejadian seperti inilah yang menyebabkan penyimpangan kelompok lebih berbahaya bila dibandingkan dengan penyimpangan individu. c. Penyimpangan Campuran Penyimpangan ini dilakukan oleh seseorang dengan melibatkan banyak orang. Misalnya, perdagangan obat-obatan terlarang yang biasanya melibatkan jaringan kelompok sindikat tertentu, aksi bom bunuh diri atau terorisme yang akhir-akhir ini sering terjadi. 2. Penyimpangan yang berdasarkan jangka waktu tertentu a. Penyimpangan Primer Penyimpangan yang bersifat sementara dan orang yang melakukan penympangan primer masih tetap dapat diterima oleh masyarakat termasuk kelompok sosialnya. Karena penyimpangan ini biasanya tidak akan dilakukannya lagi serta tidak banyak memberikan kerugian bagi masyarakat sekitar misalnya terkena razia polisi karena tidak membawa/mempunyai Surat Ijin Mengemudi, anak yang suka merokok,dll. b. Penyimpangan Sekunder Penyimpangan yang dilakukan secara terus menerus meskipun sanksi telah diberikan. Orang yang telah melakukan penyimpangan sekunder ini akan dibenci oleh masyarakat umum dan kehadirannya tidak bisa diterima kembali. Misalnya seseorang yang sering keluar masuk penjara karena alasan yang sama seperti mencuri sepeda motor atau menjual obat-obatan terlarang. 3. Berdasarkan kadar penyimpangannya a. Penyimpangan Ringan Penyimpangan yang menimbulkan gangguan, ancaman, hambatan dan kerugian yang kecil kepada pihak luar. Biasanya sanksi yang diberikan berupa nasihat dan diminta tidak diulangi lagi. Misalnya seorang anak yang mengambil buah-buahan tetangga tanpa minta ijin terlebih dahulu. b. Penyimpangan Berat Penyimpangan yang menimbulkan kerugian cukup besar bagi pihak lain dan kadangkala menimbulkan korban jiwa dan harta. Penyimpangan jenis ini biasanya terancam hukuman yang cukup berat seperti hukuman penjara seumur hidup maupun hukuman mati. Misalnya pembunuhan, menyetir dalam kondisi mabuk yang menyebabkan kecelakaan, merampok yang disertai tindakan kekerasan,dll.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 52

Nah, untuk memahami lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku menyimpang di masyarakat, maka diberikan pembahasan mengenai teoriteori sosiologi yang membangun konstruksi sosial perilaku menyimpang. Teori-teori Perilaku Menyimpang 1. Teori Differencial Association (Edwin H. Sutherland) Menurut Sutherland, penyimpangan perilaku adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma yang menyimpang, terutama dari subkultur atau diantara teman-teman sebaya yang menyimpang. Teori ini dapat diterapkan untuk menganalisis: a. organisasi sosial atau subkultur (baik yang menyimpang atau tidak) b. penyimpangan perilaku di tingkat individu c. perbedaan norma-norma yang menyimpang ataupun yang tidak terutama pada kelompok atau asosiasi yang berbeda 2. Teori Labelling (Edwin M. Lemert) Seseorang menjadi orang yang menyimpang karena proses labelling berupa julukan, cap, etiket dan merk yang ditujukan oleh masyarakat ataupun lingkungan sosialnya. Mulamula seorang melakukan penyimpangan primer (primary deviation). Akibat dilakukannya penyimpangan tersebut misalnya pencurian, penipuan, pemerkosaan, pelanggaran susila maka si penyimpang di beri cap pencuri, penipu, pemerkosa, wanita nakal,dll. Sebagai tanggapan terhadap pemberian cap oleh orang lain maka si pelaku penyimpangan primer kemudian mendefinisikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi perbuatan menyimpangnya melakukan penyimpangan sekunder sehingga mulai menganut suatu gaya hidup menyimpang yang menghasilkan suatu karier menyimpang. Teori labelling ini menggambarkan bagaimana suatu perilaku menyimpang seringkali menimbulkan serangkaian peristiwa yang justru mempertegas dan meningkatkan tindakan

penyimpangan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu pemberian cap mendorong timbulnya penyimpangan berikutnya. Dan dalam keadaan tertentu lainnya pemberian cap akan mendorong kembalinya orang yang menyimpang ke perilaku yang normal. 3. Teori Perilaku Adaptasi (Robert K Merton) Robert K Merton mengindentifikasi lima tipe cara adaptasi individu terhadap situasi tertentu, dimana diantara perilaku dalam menghadapi situasi tersebut merupakan perilaku menyimpang. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 53

a. Konformitas, merupakan cara yang paling banyak dilakukan. Disini perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan oleh masyarakat dan mengikuti cara yang ditentukan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut. b. Inovasi, merupakan cara dimana perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi memakai cara yang dilarang oleh masyarakat. c. Ritualisme, merupakan perilaku seseorang yang telah meninggalkan tujuan budaya namun masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan masyarakat. d. Retreatism merupakan bentuk adaptasi berikutnya. Dalam bentuk adaptasi ini perilaku seseorang tidak mengikuti tujuan budaya dan juga tidak mengikuti cara untuk meraih tujuan budaya. Pola adaptasi ini dapat dijumpai pada orang yang menderita gangguan jiwa, gelandangan, pemabuk, pecandu obat bius. Orang-orang dalam kategori ini berada dalam masyarakat tetapi tidak merupakan bagian darinya. e. Rebellion (Pemberontakan) merupakan bentuk adaptasi terakhir. Dalam pola adaptasi ini orang tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan suatu struktur sosial yang lain. Tujuan budaya yang ada dianggap sebagai penghalang bagi tujuan yang didambakan. Cara yang tersedia untuk mencapai tujuan pun tidak diakui. Tabel 3 Tipologi Adaptasi Individual Merton No Cara Adaptasi Tujuan Budaya Cara-cara yg melembaga 1 Konformitas + + 2 Inovasi + 3 Ritualisme + 4 Pengunduran Diri 5 Pemberontakan Keterangan: Lima macam cara yang dapat ditempuh oleh seseorang untuk bereaksi terhadap tujuan masyarakat dan cara-cara standar untuk mencapai tujuan itu. Tanda + menunjukkan sikap menerima, tanda berarti penolakan, dan tanda berarti penolakan terhadap nilai-nilai yang berlaku dan upaya mengganti dengan nilai-nilai baru. 4. Teori Konflik dari Karl Marx Perspektif konflik klasik melihat terbentuknya masyarakat tidak didasarkan atas suatu konsensus terhadap nilai-nilai tetapi karena suatu perjuangan diantara kelas-kelas sosial yang ada. Oleh karena itu, menurut pandangan ini apa yang merupakan perilaku menyimpang didefinisikan oleh kelompok-kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Hukum merupakan pencerminan kepentingan kelas yang berkuasa dan bahwa sistem peradilan pidana mencerminkan nilai dan kepentingan mereka. Orang yang dianggap melakukan tindak pidana dan yang terkena Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 54

hukuman biasanya lebih banyak terdapat di kalangan orang miskin. Di satu sisi, banyak perusahaan besar melakukan pelanggaran hukum tetapi tidak dituntut ke pengadilan. 5. Teori Kontrol Sosial Penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Kebanyakan orang yang menyesuaikan diri dengan nilai dominan karena adanya pengendalian dari dalam maupun dari luar. Pengendalian dari dalam berupa norma yang dihayati dan nilai yang dipelajari seseorang. Pengendalian dari luar berupa imbalan sosial terhadap konformitas (tindakan mengikuti warna) dan sanksi hukuman terhadap tindakan penyimpangan. Berdasarkan proposisi Hirschi, ada 4 unsur utama dalam kontrol sosial internal yaitu attachment (kasih sayang), commitment (tanggungjawab), involvement (keterlibatan) dan believe (kepercayaan). Keempat unsur terseut dianggap merupakan social bonds yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku individu.

Dengan banyaknya bentuk-bentuk perilaku menyimpang yang terjadi di dalam masyarakat menyebabkan kekacauan dalam masyarakat. Ketenangan dalam masyarakat akan terusik dengan adanya perilaku-perilaku yang melanggar norma masyarakat tersebut. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah pengendalian sosial sebagai bentuk pengawasan terhadap perilaku anggota masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Pengertian Pengendalian Sosial Pengendalian sosial atau sering disebut sebagai social control adalah bentuk pengawasan bagi perilaku masyarakat agar terhindar dari kekacauan yang diciptakan oleh anggota masyarakat sendiri. Pengendalian sosial ini biasanya terjadi apabila masyarakat mampu menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan perannya masing-masing. Pengendalian sosial merupakan suatu metode pengawasan terhadap masyarakat baik secara persuasif maupun memaksa sehingga perilaku anggota masyarakatnya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Adapun ciri-ciri pengendalian sosial adalah: 1. Suatu cara, metode, atau teknik tertentu terhadap masyarakat 2. Bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan yang terus terjadi di dalam suatu masyarakat 3. Dapat dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya atau oleh suatu kelompok terhadap individu

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 55

Secara umum, fungsi pengendalian sosial adalah sebagai alat kontrol agar masyarakat tertib dan teratur. Tetapi lebih jauhnya, fungsi pengendalian sosial dapat dibedakan menjadi 4 yaitu: 1. Mencegah timbulnya perilaku menyimpang sehingga mencegah meluasnya kasus-kasus perilaku menyimpang yang terjadi. 2. Memberi peringatan kepada para pelaku penyimpangan atas perilaku menyimpangnya dan berusaha mengembalikan ke jalan yang benar 3. Menjaga kelestarian nilai-nilai dan norma yang berlaku termasuk menegakkan norma hukum yang kadangkala diabaikan. 4. Membantu terciptanya ketertiban, keteraturan, keharmonisan sosial, keamanan dan ketentraman bagi seluruh warga masyarakat Cara-cara Pengendalian Sosial Secara umum, pengendalian sosial dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu: 1. Melalui proses sosialisasi, masyarakat menerima nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat tanpa paksaan. Usaha ini dapat dilakukan melalui lembaga baik formal maupun non formal kepada anggota masyarakat secara terus menerus. 2. Tekanan sosial masyarakat menimbulkan keseganan melalui penekanan kelompok terhadap orang perorangan sehingga tergugah untuk menyesuaikan diri dengan aturan kelompok atau memberi sanksi terhadap orang yang melanggar aturan kelompok. 3. Pengendalian sosial melalui kekuatan dan kekuasaan. Ini digunakan bila bentuk pengendalian sosial lainnya gagal untuk mengarahkan tingkah laku orang perorang dalam menyesuaikan diri dengan nilai dan norma sosial. Sedangkan menurut Koentjaraningrat, pengendalian sosial dapat dilakukan melalui 4 cara, yaitu: 1. Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosial Proses penanaman keyakinan terhadap norma sosial yang baik sangat diperlukan dalam rangka keberlangsungan tatanan bermasyarakat yang dapat dilakukan melalui lembagalembaga pengedalian sosial yang ada dimasyarakat. 2. Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma Dengan pemberian imbalan kepada warga yang menaati norma maka mendorong seorang individu untuk melakukan tindakan yang baik dan sesuai dengan norma. Imbalan dapat berupa materi maupun pujian saja. 3. Mengembangkan rasa malu dalam jiwa warga masyarakat yang menyeleweng dari aturan atau nilai yang berlaku Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 56

Perasaan malu akan menghinggapi seseorang individu apabila melakukan pelanggaran dan mendapatkan celaan dari masyarakat. Turunnya harga diri menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang di luar kontrol. Misalnya melakukan bunuh diri karena belum membayar uang sekolah. 4. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa warga yang hendak melanggar dengan ancaman dan kekuasaan. Perasaan takut seorang manusia akan mengarahkan seorang individu untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap norma. Ketakutan seorang individu menggugah kesadaran bahwa perilakunya akan menghasilkan keadaan yang tidak baik. Untuk menjalankan pengendalian sosial melalui cara-cara tersebut maka perlu adanya lembaga pengendalian sosial sebagai pelaksana. Lembaga pengendalian sosial ini berfungsi sebagai lembaga pengontrol dan pengawas terciptanya stabilitas masyarakat. Ada banyak lembaga pengendalian sosial yang ada di masyarakat yang terbentuk secara sengaja untuk mengendalikan perilaku anggota masyarakat, misalnya lembaga kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga adat maupun tokoh masyarakat.

BERPIKIR KRITIS Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak ditemukan kasus penyimpangan yang menimpa pelajar dari mulai tawuran pelajar, pelecehan seksual, genk motor, pencurian sampai pembunuhan. Hal ini jelas sangat memprihatinkan. Sebagai guru, bagaimana penjelasan fenomena sosial ini dari perspektif sosiologi? Apakah hal ini karena ketidakberhasilan sosialisasi? Bagaimana cara menanggulangi masalah ini?

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 57

Lembar Kerja Alat & Bahan : Gunting, lem, spidol, kertas, laptop, berita di koran dan majalah Mencari koran atau majalah-majalah yang berisi tentang berita-berita bentuk-bentuk perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat. Dapat dilakukan dengan bantuan berita online. Gunting/copy setiap berita tersebut buatlah sebanyak-banyaknya dan tempelkan pada kertas. Setelah itu dibawahnya berikan penjelasan tentang bentuk perilaku penyimpangan tersebut sehingga menjadi sebuah gambaran yang sosiologis tentang fenomena sosial yang biasa terjadi di masyarakat. Untuk memudahkan dalam memberikan analisis dapat menggunakan bantuan, sebagai berikut: 1. Apa bentuk perilaku menyimpang yang terjadi 2. Termasuk dalam jenis perilaku menyimpang apa 3. Apa yang menjadi penyebab perilaku menyimpang itu dapat terjadi (gunakan salah satu teori yang ada) 4. Bagaimana pengendalian sosial yang telah dilakukan 5. Lembaga pengendalian sosial apa yang terlibat,dll Setelah selesai menulisnya, dipresentasikand dan didiskusikan bersama. Lembar Evaluasi 1. Mengapa proses sosialisasi sangat penting bagi manusia? Apa yang akan terjadi apabila seorang individu kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya? 2. Bagaimana hubungan antara sosialisasi dengan kepribadian? Jelaskan? 3. Mengapa tiap-tiap individu mempunyai kepribadian yang berbeda satu dengan yang lain? 4. Bagaimana cara agen-agen sosialisasi mempengaruhi kepribadian seseorang? Apakah masing-masing agen memiliki cara yang berbeda? 5. Mengapa definisi perilaku menyimpang cenderung mengalami relativitas? 6. Jelaskan perbedaan perilaku menyimpang primer dan sekunder, berikan contoh untuk membantu penjelasannya? 7. Sebutkan dan tujuan utama pengendalian sosial di masyarakat? 8. Jelaskan faktor yang mendorong seseorang melakukan tindakan menyimpang padahal sistem pengendalian sosial sudah diatur sedemikian rupa? 9. Bagaimana pengendalian sosial yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mencegah meluasnya white-collar crime? 10. Bagaimana fenomena laki-laki metroseksual dapat dijelaskan? Apakah hal ini termasuk perilaku menyimpang atau bukan? Jelaskan.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 58

BAB 4 STRUKTUR SOSIAL

Standar Kompetensi: Memahami struktur sosial serta berbagai faktor penyebab konflik dan mobilitas sosial Kompetensi Dasar 1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk struktur sosial dalam fenomena kehidupan 2. Menganalisis faktor penyebab konflik sosial dalam masyarakat 3. Menganalisis hubungan antara struktur sosial dengan mobilitas sosial Tujuan Pembelajaran 1. Mengidentifikasi unsur-unsur dalam struktur sosial dalam kehidupan masyarakat 2. Menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya diferensiasi dan stratifikasi sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat 3. Menjelaskan dampak stratifikasi sosial 4. Menganalisis hubungan antara struktur sosial dan mobilitas sosial

Pengantar Manusia selalu hidup berkelompok untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sejarah peradaban manusia jelas memperlihatkan bagaimana hubungan manusia dengan manusia lain dalam menghadapi bahaya dan tantangan lingkungan sekitarnya sebagai wujud dalam proses adaptasi. Dengan demikian, setiap individu tidak bebas dan senantiasa terlibat dalam interaksi sosial dengan sesama warga kelompoknya sejak ia dilahirkan. Ketika manusia lahir ke dunia, ia akan dihadapkan pada aturan-aturan dimana ia lahir. Dalam melakukan interaksi sosial tersebut maka muncullah apa yang dinamakan sebuah penghargaan terhadap sesuatu hal. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap sesuatu hal menyebabkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi. Gejala tersebut menyebabkan timbulnya lapisan sosial dalam masyarakat yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal. Hal ini pernah disampaikan oleh Pitirim Sorokim yang menyebutkan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Dalam kacamata sosiologi, kondisi tersebut dipelajari dalam konsep struktur sosial. Dalam kegiatan belajar kali ini, maka akan mempelajari pengertian struktur sosial dan bentuk struktur sosial tersebut yaitu adanya diferensiasi dan stratifikasi sosial dalam Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 59

masyarakat serta dampak stratifikasi sosial yang menimbulkan konflik sosial dan memunculkan mobilitas sosial dalam masyarakat

Pengertian Struktur Sosial Apa yang dimaksud dengan konsep struktur sosial? Untuk menjawab pertanyaan ini tidak mudah karena sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempunyai banyak teori dan paradigma. Dalam sosiologi, ketika berbicara mengenai struktur sosial, maka sesungguhnya berbicara mengenai sesuatu yang saling bergantung dan membentuk suatu pola tertentu, yang terdiri atas pola perilaku individu, kelompok, institusi maupun masyarakat secara luas. George C. Homans, yang mempelajari sosiologi mikro, mengaitkan struktur sosial dengan perilaku sosial elementer dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Gerhard Lenski, yang mempelajari sosiologi makro, berbicara mengenai struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons mengatakan bahwa struktur sosial adalah keterkaitan antar manusia. Kornblum menekankan konsep struktur sosial pada pola perilaku individu dan kelompok, yaitu pola perilaku berulang-ulang yang menciptakan hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat. Menurut Raymond Flirth, struktur sosial merupakan suatu pergaulan hidup manusia meliputi berbagai tipe kelompok yang terjadi dari banyak orang dan meliputi pula lembagalembaga dimana orang banyak tersebut ambil bagian. Sedangkan menurut Soerjono Soekamto, bahwa struktur sosial mengacu pada hubungan-hubungan yang lebih fundamental yang memberikan bentuk dasar pada masyarakat yang memberikan batas-batas pada aksi-aksi yang mungkin dilakukan secara organisasi. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa struktur sosial adalah cara bagaimana suatu masyarakat terorganisasi dalam hubungan-hubungan yang dapat diprediksikan melalui pola perilaku berulang-ulanh antar individu antar kelompok dalam masyarakat tersebut. Struktur sosial memiliki empat unsur pembentuk, yaitu:

1. Status Sosial Status sosial merupakan kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok masyarakat, meliputi keseluruhan posisi sosial yang terdapat dalam suatu kelompok besar masyarakat, dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Status terbagi atas: a. Ascribed Status

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 60

Status yang diberikan kepada seseorang oleh masyarakat tanpa memandang bakat atau karakteristik unik orang tersebut. Didapat secara otomatis melalui kelahiran (keturunan). Misalnya ras, gender, dan usia. b. Achieved Status Status yang didapat seseorang melalui usaha-usahanya sendiri. Seseorang harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan acheved status, seperti bersekolah, mempelajari keterampilan, berteman, atau menciptakan sesuatu yang baru. c. Assigned Status Status yang diberikan kepada seseorang karena telah berjasa melakukan sesuatu untuk masyarakat, misalnya pahlawan nasional. 2. Peran Sosial Merupakan seperangkat harapan yang mulai dilakukan oleh seseorang yang menempati suatu posisi atau status sosial tertentu. Peran yang melekat pada diri seseorang, harus dibedakan dengan posisi atau tempatnya dalam pergaulan

kemasyarakatan. Posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat (sosial-position) merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu dalam organisasi masyarakat. Sedangkan peran lebih banyak menunjuk pada fungsi artinya seseorang menduduki suatu posisi tertentu dalam masyarakat dan menjalankan suatu peran. Suatu peran paling sedikit mencakup 3 hal yaitu: a. Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat b. Peran adalah suatu konsep ikhwal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat c. Peran dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat Seiring dengan adanya konflik antara kedudukan-kedudukan maka ada juga konflik peran (conflict of role) dan bahkan pemisahan antara individu dengan peran yang sesungguhnya harus dilaksanakan (role-distance), yang terjadi apabila seseorang merasakan dirinya tertekan karena merasa dirinya tidak sesuai untuk melaksanakan peran yang diberikan oleh masyarakat kepadanya sehingga tidak dapat melaksanakan perannya dengan sempurna atau bahkan menyembunyikan diri. Berdasarkan pelaksanaannya peranan sosial dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 61

a. Peranan yang diharapkan (expected roles) merupakan peranan yang ideal sesuai dengan penilaian masyarakat. Peranan ini dilaksanakan dengan secermat-cermatnya yang tidak dapat ditawar lagi dan harus dilaksanakan seperti yang ditentukan. b. Peranan yang disesuaikan (actual roles), merupakan cara yang sebenarnya peranan itu dijalankan. Artinya dalam menjalankan peranan ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang tertentu. 3. Kelompok Setujukah bahwa bagi sebagian besar anggota masyarakat terputusnya hubungan

dengan seluruh jaringan kelompok secara total sama saja hukuman mati artinya manusia itu mati secara sosial. Jika setuju, apakah peran kelompok yang sebenarnya dan mengapa begitu penting bagi setiap anggota masyarakat? Kelompok memainkan peran yang sangat penting dan vital dalam struktur sosial masyarakat karena sebagian besar interaksi sosial kita berlangsung dalam kelompok dan dipengaruhi oleh norma-norma dan sanksi yang ada dalam kelompok. Kelompok sosial merupakan sejumlah orang yang memiliki norma-norma, nilainilai, dan harapan yang sama, serta secara sadar dan teratur saling berinteraksi. Secara sosiologis, kelompok adalah setiap kumpulan manusia yang memiliki pola interaksi yang terorganisir dan terjadi secara berulang-ulang. Hakikat keberadaan kelompok sosial bukanlah terletak pada dekatnya jarak fisik melainkan pada kesadaran untuk berinteraksi. Misalnya saja, sekumpulan orang yang sedang menonton pertandingan sepak bola apabila diantara mereka tidak ada interaksi sosial hanya menonton sepak bola saja maka bukan sebuah kelompok sosial. Mereka tidak ada kesadaran untuk berinteraksi sosial. Sangat berbeda ketika ada banyak orang yang tidak pernah bertemu secara fisik tetapi mereka saling mengirimkan kabar melalui surat, email, telepon ataupun sms. Kesadaran berinteraksi ini diperlukan oleh mereka untuk menciptakan suatu kelompok sedangkan kehadiran fisik semata-mata sama sekali tidak diperlukan. Kesadaran berinteraksi ini sangat penting karena melalui kelompok, seorang individu menghayati aturan-aturan yang ada dalam masyarakat sehingga mampu memenuhi kebutuhannya. 4. Institusi Sosial Merupakan pola terorganisasi dari kepercayaan dan perilaku yang dipusatkan kebutuhan dasar sosial. Institusi dibentuk untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Melalui institusi sosial, terlihat struktur dalam masyarakat. Institusi sosial seperti keluarga, agama, dan pemerintah merupakan aspek fundamental dari struktur sosial. Ada 3 kata kunci di dalam setiap pembahasan institusi sosial yaitu nilai/norma dan pola perilaku yang dibakukan serta sistem hubungan yaitu jaringan peran dan status yang menjadi Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 62

wahana untuk melaksanakan perilaku sesuai dengan prosedur umum yang berlaku. pembahasan insititusi sosial akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab 7. Sejak orang mulai berspekulasi mengenai sifat-sifat masyarakat, perhatian mereka tertarik pada perbedaan-perbedaan yang terlihat antara individu-individu dan kelompokkelompok dalam masyarakat. Adanya struktur soaial yang berbeda-beda, dengan peran dan status anggotanya yang juga berbeda-beda, menimbulkan terjadinya ketidaksamaan dalam masyarakat. Ketidaksamaan ini meliputi jumlah kekayaan, prestise dan kekuasaan yang dimiliki. Selain itu, ketidaksamaan dalam masyarakat juga dapat dilihat dari adanya berbagai macam ras atai etnik, gender, agama dan lain-lain. Keanekaragaman individu yang berinteraksi dalam masyarakat ini disebut perbedaan sosial. Secara umum, perbedaan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu secara horizontal yang disebut Diferensiasi Sosial, yaitu perbedaan yang dikaitkan dengan interaksi, tetapi tidak menunjukkan adanya tingkatan lebih tinggi atau lebih rendah dan secara vertikal disebut Stratifikasi Sosial, yaitu perbedaan sosial yang menunjukkan adanya tingkatan yang berbeda dalam masyarakat.

Diferensiasi Sosial Pengertian masyarakat terbentuk oleh sekumpulan individu yang masing-masing mempunyai potensi atau kemampuan yang berbeda-beda. Keanekaragaman individu yang saling berinteraksi ini disebut perbedaan sosial. Diferensiasi sosial adalah proses penempatan orang-orang dalam berbagai kategori sosial yang berbeda, yang didasarkan pada perbedaan-perbedaan yang diciptakan secara sosial. Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi sosial adalah variasi pekerjaan, prestise dan kekuasaan kelompok dalam masyarakat, yang dikaitkan dengan interaksi atau akibat umum dari proses interaksi sosial yang lain. Diferensiasi sosial terjadi akibat pola interaksi individu yang memiliki ciri-ciri fisik dan non fisik berbeda-beda, meliputi : 1. Ciri fisik seperti bentuk dan tinggi tubuh, raut muka, warna kulit, warna rambut, dan lain-lain 2. Ciri sosial budaya, antara lain kecerdasan, motivasi, dedikasi, minat dan bakat. Dalam lingkup yang lebih luas meliputi bentuk organisasi, kebiasaan dan sistem nilai budaya lainnya. Diferensiasi sosial merupakan karakteristik sosial yang membuat individu atau kelompok terpisah dan berbeda satu sama lain. Perbedaan ini didasarkan pada beberapa faktor, yaitu usia, gender, latar belakang etnik. Bentuk-bentuk diferensiasi berdasarkan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 63

faktor-faktor pembentuk yang lebih disebutkan di atas, ada beberapa bentuk diferensiasi sosial, yaitu : 1. Ras dan Etnik Menurut Banton (1967) ras merupakan suatu tanda peran; perbedaan fisik yang dijadikan dasar untuk menetapkan peran yang berbeda-beda. Pengertian ras menyangkut aspek biologis (ciri fisik, warna kulit, bentuk tubuh, dan lain-lain) dan aspek sosial (menyangkut peran dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan). Menurut Francs (1847), kelompok etnik adalah suatu komunitas yang menampilkan persamaan bahasa, adat istiadat, kebiasaan, wilayah, bahkan sejarah. Etnik ditandai dengan persamaan warisan kebudayaan dan ikatan batin (Wefeeling) di antara anggotaanggotanya. Menurut Koentjraningrat (1983) pengertian kelompok etnik mempunyai kesamaan makna dengan pengertian suku bangsa pada masyarakat Indonesia. 2. Agama dan Kepercayaan Pada dasarnya suatu agama timbul karena adanya ketidakmampuan manusia mengungkap seluruh rahasia alam dengan mengunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Terutama tentang rahasia alam gaib, termasuk untuk menjawab pertanyaan ada apa setelah kematian?. Jadi pada hakikatnya, agama adalah kepercayaan akan alam gaib, dai mana, bagaimana, dan akan kemana manusia setelah mati, yang dicantumkan dalam kitab-kitab suci. Terdapat beberapa agama dan kepercayaan di dunia ini, antara lain Islam, Nasrani, Katolik, Buddha, Hindu, dan lain-lain. Dengan demikian, agama dan kepercayaan dapat dijadikan dasar diferensiasi sosial. Namun, diferensiasi berdasarkan agama dan kepercayaan ini jangan sampai dibesar-besarkan dan dijadikan pembeda dalam interaksi sosial di kehidupan sehari-hari. 3. Jenis Kelamin Jenis kelamin merupakan ciri fisik yang dibawa sejak lahir dan tidak ditentukan sendiri oleh individu berdasarkan keinginannya. Di lain sisi, juga dikenal konsep gender untuk membedakan peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Gender adalah perbedaan secara budaya antara pria dan wanita yang dipelajari melalui proses sosialisasi. Para ahli sosiologi sebenarnya tidak memandang bahwa pria berkedudukan lebih tinggi dari wanita di dalam sistem sosial. Namun demikian, fakta sosial di dalam kehidupan masyarakat, perbedaan laki-laki dan perempuan seringkali mengakibatkan dominasi laki-laki terhadap perempuan sehingga sebagian ahli sosiologi melihat gender sebagai stratifikasi sosial. 4. Klan (Clan) Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 64

Bentuk diferensiasi sosial lainnya adalah klan. Menurut Koentjaraningrat, klan adalah suatu kelompok kekerabatan yang terdiri atas semua keturunan dari seorang nenek moyang yang diperhitungkan melalui garis keturunan sejenis, yaitu keturunan warga-warga pria atau wanita. Apabila garis keturunan ditarik dari laki-laki disebut patrilineal. Sedangkan apabila garis keturunan ditarik dari perempuan dinamakan matrilineal.

5. Suku Bangsa Diferensiasi sosial yang lebih luas daripada klan adalah suku bangsa. Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan sosial lainnya. Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa adalah kelompok masyarakat dengan corak kebudayaan yang khas (Koentjaraningrat, 1996:166). Secara lengkap dikemukakan bahwa suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan jati diri mereka akan kesatuan kebudayaan mereka, sehingga kesatuan kebudayaan tidak ditentukan oleh orang luar melainkan oleh warga kebudayaan yang bersangkutan. Indonesia memiliki banyak suku bangsa dengan perbedaan-perbedaan kebudayaan, yang tercermin pada pola dan gaya hidup masing-masing. Menurut Clifford Geertz, di Indonesia terdapat 300 suku bangsa dan menggunakan kurang lebih 250 bahasa daerah. Akan tetapi apabila ditelusuri, maka sesungguhnya berasal dari rumpun bahasa Melayu Austronesia.

Stratifikasi Sosial Setiap individu di dalam masyarakat memiliki status sosial yang berbeda-beda. Perbedaan status sosial ini diawali dengan adanya sikap menghargai hal-hal tertentu, baik yang berupa materi (harta benda) maupun bukan materi. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap suatu hal akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari halhal lainnya sehingga setiap orang yang memilikinya akan menjadi orang-orang berstatus sosial tinggi. Jadi, meskipun ada beberapa upaya untuk menyamakan kedudukan dan perlakuan terhadap seseorang, dalam kenyataan sehari-hari sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dapat diwujudkan. Menurut Pitirin A. Sorokin, system stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat, yang diwujudkan dalam kelas tinggi, kelas sedang, dan kelas rendah. Dasar dan inti sistem stratifikasi masyarakat adalah adanya Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 65

ketidakseimbangan pembagian hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu-individu ata kelompok-kelompok dalam suatu sistem sosial. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, stratifikasi sosial adalah pembedaan posisi seseorang atau kelompok dalam kedudukan berbeda-beda secara vertikal. Stratifikasi sosial merupakan gejala umum pada masyarakat, baik masyarakat tradisional maupun masyarakat modern yang heterogen. Pada umumnya, stratifikasi sosial didasarkan pada kedudukan yang diperoleh dalam melangsungkan interaksinya di dalam masyarakat. Macam-macam stratifikasi sosial : 1. Berdasarkan status yang diperoleh secara alami a. Stratifikasi Berdasarkan Perbedaan Usia (Age Stratification) Dalam stratifikasi sosial berdasarkan usia ini, umumnya anggota masyarakat yang bersifat lebih muda mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda dengan anggota masyarakat yang lebih tua. Pada kelompok masyarakat tertentu, anak tertua mempunyai status yang lebih tinggi daripada anak yang lebih kecil atau muda. b. Stratification Berdasarkan Senioritas Senioritas menyangkut usia dan jenjang pengalaman akan sesuatu hal. Asas senioritas tampak sekali dalam dunia kerja, misalnya dalam hal kenaikan pangkat atau golongan. Untuk mengisi posisi tertentu, diutamakan karyawan yang lebih tua atau lebih lama masa kerjanya. Bahkan sering terjadi seseorang yang lebih tua dijadikan ketua atau guru tanpa memandang kemampuan sesungguhnya yang dimiliki orang tersebut. c. Stratification Berdasarkan Gender (Gender Stratification) Perbedaan status sosial pada kebanyakan kelompok masyarakat juga dapat disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin. Perbedaan status ini sangat dipengaruhi oleh tradisi dan ajaran mengenai harkat dan martabat pria dan wanita dalam pergaulan sehari-hari, misalnya pria selalu disanjung oleh sebutan seorang pemimpin, upah kerja butuh pria lebih tinggi dari upah kerja buruh wanita meskipun dengan produktivitas dan jam kerja yang sama. d. Stratifikasi Berdasarkan Sistem Kekerabatan Pada umumnya, dalam suatu sistem kekerabatan terdapat perbedaan hak dan kewajiban antara ayah, ibu, anak serta cucu. Oleh sebab itu, posisi mereka secara hierarki juga akan memiliki status sosial yang berbeda-beda pula atau berada pada tingkatan hak dan kewajiban yang berbeda-beda. e. Stratifikasi Berdasakan Keanggotaan dalam Kelompok Tertentu Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 66

Stratifikasi ini terjadi dalam kelompok etnik dan ras tertentu, yang berbeda-beda hak dan kewajibannya. Sehubungan dengan hal di atas, sering kita jumpai suku, agama dan warna kulit tertentu menempati lapisan atau strata sosial yang lebih tinggi daripada kelompok, suku, agama, dan warna kulit lainnya. 2. Berdasarkan status yang diperoleh melalui serangkaian usaha a. Stratifikasi Sosial dalam Pendidikan Orang-orang yang mampu menyelesaikan pendidikan formal sampai pada jenjang yang lebih tinggi umumnya memperoleh hak dan kewajiban yang lebih beragam, sehingga status sosial yang diperolehnya pun akan lebih beragam. Sehubungan dengan itu, jelas bahwa tingkat pendidikan seseorang atau kelompok tertentu akan membedakan hak dan kewajibannya dengan individu atau kelompok lain, yang pada akhirnya akan menentukan kelas sosial yang mereka tempati. b. Stratifikasi dalam Bidang Pekerjaan Stratifikasi ini sangat tampak pada instansi organisasi yang dikelola secara modern, di mana terdapat kedudukan yang berbeda-beda untuk pekerjaan sejenis. Misalnya, stratifikasi antara seorang manajer dengan pelaksana administrasi (staff), asisten dosen dengan guru besar (profesor) di perguruan tinggi, terutama dengan perwira dalam jenjang kepangkatan militer, dan sebagainya. c. Stratifikasi dalam Bidang Ekonomi Stratifikasi ini sangat menonjol hampir di setiap kelompok masyarakat di mana pun. Pembedaan kelas sosial didasarkan pada penghasilan dan kekayaan material. Akan tetapi, ukuran tentang kekayaan yang dianggap mapan berbeda antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Hal ini sangat bergantung pada tingkat kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan. Kriteria orang kaya di kota metropolitan sangat berbeda dengan kriteria orang kaya di pedesaan. Begitu pula kriteria orang yang mapan secara ekonomi di negara maju sangat berbeda sekali dengan di negara miskin atau negara berkembang sekalipun.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stratifikasi sosial dibedakan menjadi 4, yaitu : 1. Kekayaan Kekayaan adalah kriteria ekonomi, maka orang-orang yang berpenghasilan tinggi atau besar akan menempati lapisan sosial yang tinggi pula. Contoh, seorang pengusaha yang

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 67

sukses, akan berada pada lapisan kelas atas. Kondisi ini menghasilkan kelas sosial yang disebut the have dan the have not atau orang-orang kaya dan orang-orang miskin. 2. Kekuasaan (Power) Orang-orang yang memperoleh kesempatan menjadi pemimpin, baik melalui suatu mekanisme pemilihan umum maupun secara turun temurun (pada negara sistem monarki), akan menempati kelas sosial yang lebih tinggi. 3. Kehormatan / kebangsawanan Golongan bangsawan, baik pada masyarakat tradisional maupun pada masyarakat modern, selalu menduduki kelas sosial yang lebih tinggi. Mereka sangat dihormati, bahkan sering dijadikan sumber dari berbagai kebutuhan sosial manusia. Biasanya keturunan kelas bangsawan ini akan secara otomatis menjadi orang yang berada dan menyandang status sosial orang tuanya tersebut. 4. Pendidikan Pada masyarakat yang mulai berkembang atau masyarakat pra industri, pendidikan menjadi suatu yang amat penting, sehingga orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi secara otomatis akan menempati lapisan sosial yang tinggi pula. Mislanya, kelompok sarjana di negara manapun mempunyai status sosial yang lebih tinggi daripada kelompok yang hanya menyelesaikan jenjang pendidikan menengah dan kejuruan. Dari keempat faktor tersebut di atas, kecenderungan-kecenderungan yang paling dominan pada masyarakat, sangat tergantung pada perkembangan peradaban masyarakat itu sendiri. Mislanya pada masyarakat di negara-negara berkembang, kekayaan material merupakan faktor utama stratifikasi, sedangkan faktor pendidikan belum dianggap sebagai simbol status sosial yang lebih penting dalam membentuk kelas sosial seseorang. Berdasarkan sifatnya, stratifikasi sosial terbagi menjadi :

a. Stratifikasi Sosial Terbuka Di dalam stratifikasi sosial terbuka (open stratification), kelas-kelas sosial tidak bersifat tertutup, artinya seseorang dapat saja masuk ke dalam kelas sosial tertentu yang diinginkan ataupun keluar setelah mencapai kelas sosial yang lebih tinggi. Seseorang dapat pula dikeluarkan apabila tidak sanggup melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kelas sosial yang disandangnya. Sistem kelas sosial terbuka memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berusaha dengan kemampuannya sendiri masuk ke kelas tertentu. Jadi, sistem stratifikasi sosial terbuka bersifat sementara karena gerak

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 68

sosial (mobilitas sosial) dari suatu ke status lainnya dapat terjadi setiap saat dan di mana saja. b. Stratifikasi Sosial Tertutup Pada sistem stratifikasi sosial tertutup (closed stratification), terdapat pembatasan terhadap kemungkinan pindahnya kedudukan seseorang dari suatu lapisan ke lapisan sosial lainnya. Jadi, dalam sistem stratifikasi sosial tertutup bersifat tetap. Satu-satunya jalan supaya berada pada suatu lapisan kelas tertentu adalah melalui kelahiran. Pada stratifikasi ini gerak sosial tidak dapat terjadi karena seseorang tidak dapat naik, atau bahkan turun ke kelas sosial lainnya. Misalnya, stratifikasi sosial yang berlaku pada sistem kasta dan agama Hindu di India. Bentuk sederhana dari lapisan sosial pada hampir semua masyarakat adalah strata yang jelas antara majikan dan buruh, bangsawan atau bangsawan atau penguasa dengan rakyat jelata, ilmuwan dengan kaum awam, dan lain sebagainya. Ada beberapa bentuk sistem stratifikasi sosial yang terdapat dalam masyarakat, baik sekarang maupun dahulu, yaitu : 1. Sistem Kasta Menurut Lumberg (1968), kasta adalah suatu kategori di mana pada anggotanya ditunjuk dan ditetapkan status yang permanen dalam hierarki sosial, serta hubunganhubungannya dibatasi sesuai dengan statusnya. Dalam kenyataannya, sistem kasta mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a. Keanggotaan diperoleh karena warisan atau kelahiran. Anak yang lahir akan menyandang kasta orang tuanya. Oleh sebab itu, kualitas seseorang tidak diperhitungkan dalam menentukan kastanya. b. Keunggulan yang diwariskan berlaku seumur hidup. Oleh sebab itu, seseorang tidak mungkin mengubah kedudukannya kecuali bila ia dikeluarkan dari kastanya karena melakukan kesalahan besar yang berakibat fatal. c. Perkawinan bersifat endogami, artinya harus dipilih dari orang-orang yang kastanya sama. Laki-laki dapat menikah dengan wanita dari kasta yang sama atau dari kasta yang lebih rendah, tetapi tidak menikah dengan wanita yang kastanya lebih tinggi. d. Hubungan dengan kelompok-kelompo sosial lainnya bersifat terbatas. e. Kesadaran pada keanggotaan suatu kasta tertentu, terutama dari nama kasta, identifikasi anggota pada kastanya, penyesuaian diri yang ketat pada norma-norma kasta. 2. Sistem Kelas Sosial

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 69

Sistem kelas sosial didasarkan pada status sosial yang diperoleh dengan usaha-usaha (achieved status). Menurut Wood, kelas sosial terdiri atas sejumlah orang yang memiliki status sosial yang sama dan biasanya didapat sejak lahir bisa juga didapat dengan usahausaha. Status dalam sistem kelas sosial dapat diperoleh dengan memanfaatkan kepiawaian seseorang, sehingga bersifat lebih luwes atau fleksibel dalam menerima gerak sosial seseorang atau kelompok masyarakat. Sebagai akibatnya, seseorang yang hidup di dalam masyarakat dengan bentuk sistem kelas sosial ini dapat mengubah atau memperbaiki status sosialnya, atau bahkan dapat pula jatuh ke status sosial yang lebih rendah dari sebelumnya. Pada masyarakat yang menganut sistem kelas sosial ini, perpindahan seseorang atau kelompok dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya (mobilitas sosial) lebih sering terjadi tanpa hambatan yang berarti. Menurut Karl Marx, suatu kelas sosial adalah suatu kelas yang mempunyai hubungan sebab-akibat dengan alat-alat produksi. Sednagkan menurut Max Weber, kelas sosial juga berkaitan dengan atau mencakup penguasaan atas barang-barang dan meliputi peluang untuk memperoleh penghasilan (Kamanto, 1993: 115). Apabila menurut Marx dan Weber kelas sosial itu adalah kelompok, maka menurut Bernard Barber, kelas sosial merupakan himpunan keluarga-keluarga. Jadi, kedudukan seorang anggota keluarga dalam suatu kelas terkait dengan kedudukan anggota keluarga lainnya. Misalnya, apabila kepala keluarga menduduki jabatan menteri pada suatu pemerintahan, maka semua anggota keluarganya otomatis akan berada pada kelas pejabat tinggi pula. 3. Sistem Feodal Posisi seseorang dalam masyarakat diberikan dan tidak mungkin berpindah dari satu tingkat ke tingkat lain yang lebih tinggi. Dalam sistem ini, stratifikasi didasarkan pada empat tingkatan dalam masyarakat yang disebut estate. Seluruh penduduk bersumpah untuk mengabdi pada raja yang kekuasaannya dipercaya merupakan pemberian dari Tuhan. Kaum bangsawan diberikan kepemilikan tanah oleh raja. Kemudian, kaum bangsawan memberikan tanahnya kepada para ksatria yang mengabdi pada kaum bangsawan tersebut. Pada tingkat yang paling bawah dalam sistem feodal, kaum petani dan nelayan diberikan hak pengolahan atas sedikit tanah tersebut yang kemudian ditukarkan dengan hasil produksi yang mereka hasilkan. Hubungan dasar dari feodalisme, diperkuat oleh adanya upeti. 4. Sistem Apartheid

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 70

Sistem stratifikasi ini pernah diterapkan di Afrika Selatan. Latar belakang etnik digunakan sebagai dasar untuk menentukan stratifikasi masyarakat. Kata apartheid berarti pemisahan dalam bahasa Afrika, yang menggambarkan pemisahan rasial yang nyata antara penduduk kulit putih yang merupakan kaum minoritas yang memimpin dengan penduduk non kulit putih yang merupakan mayoritas. Seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatan, pendidikan, perumahan dan pekerjaan ditentukan oleh apakah seseorang itu berkulit putih atau hitam. Sitem apartheid mengklarifikasikan orang berdasarkan tiga kelompok ras besar, yaitu kulit putih (yang merupakan golongan minoritas), bantu (kulit hitam mayoritas), dan kulit berwarna (orang-orang berdarah campuran). Kemudian ras Asia, India dan Pakistan ditambahkan sebagia kategori keempat. Sistem ini menentukan di mana masing-masing anggota kelompok dapat hidup, pekerjaan apa yang dapat mereka lakukan, dan tipe pendidikan apa yang dapat mereka terima. Bahkan, sistem ini juga melarang kontak sosial antar ras, mengharuskan adanya pemisahan fasilitas publik antara kulit putih dan bahkan kulit putih,s erta melarang perwakilan non kulit putih duduk di pemerintahan. Orang yang secara terbuka menentang apartheid dianggap sebagai komunis sehingga akan ditindak. Dalam sistem ini, terdapat ketidaksamaan dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik antara kulit putih dan kulit hitam. Sistem ini memiliki kesamaan dengan sistem kasta dalam hal ascribed sistem, di mana posisi seseorang dalam masyarakat diberikan sejak lahir. Kaum kulit hitam tidak mendapat kesempatan yang sama dengan kulit putih dalam bidang pendidikan dan pekerjaan sehingga kesempatan hidup golongan kulit hitam menjadi terbatas. Selain itu, kemungkinan untuk berpindah status dari satu tingkat masyarakat ke tingkat masyarakat lainnya sangat kecil, bahkan hampir dikatakan tidak ada. Wacana mengenai stratifikasi sosial tidak dapat dilepaskan dari pendekatan teoritis yang digunakan untuk melihat dimensi stratifikasi sosial maupun fungsinya dalam masyarakat. 1. Kingsley Davis dan Wilbert Moore Pandangan kedua ahli ini dalam melihat sistem stratifikasi sosial dapat dikategorikan dalam pendekatan fungsional, karena menekankan pada fungsi status dalam masyarakat yang dinilai menunjang kesinambungan masyarakat. Menurut kedua ahli ini, sistem stratifikasi sosial dimaksudkan untuk memberi rangsangan agar manusia mau menempati status-status sosial dan setelah itu bersedia menjalankan perannya sesuai dengan harapan masyarakat (role expectation). Semakin penting status yang ditempati, semakin sedikit tersedia anggota Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 71

masyarakat yang dapat menempatinya, semakin besar pula imbalan yang diberikan masyarakat. Jadi menurut pendapat ini, perbedaan imbalan yang diterima orang pada strata atas dengan strata bawah inilah yang menyebabkan stratifikasi sosial. 2. Karl Marx Pemikiran Marx ini dikenal dengan pendekatan konflik yang memfokuskan sistem stratifikasi sosial pada dimensi ekonomi semata yang menciptakan terjadinya kelas sosial dalam masyarakat. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa kehancuran feodalisme serta lahir dan berkembangnya kapitalisme mengakibatkan masyarakat modern terbagi menjadi dua kelas sosial yaitu kelas proletar, yang tidak memilik alat produksi dan kelas borjuis, yang memiliki alat produksi. 3. Max Weber Meskipun dikategorikan dalam pendekatan konflik, namun dimensi stratifikasi sosial bagi Weber ditentukan oleh dimensi ekonomi (kekayaan), sosial (kehormatan) dan politik (kekuasaan). Ketiga dimensi tersebut mengakibatkan pembedaan konsep kelas, kelompok status dan partai politik yang merupakan dasar pembedaan tiga jenis stratifikasi sosial yang ada di masyarakat. Menurut Weber, kelas ditandai oleh 2 hal yaitu pertama, life chances, peluang untuk hidup (nasib) yang ditentukan oleh kepentingan ekonomi berupa penguasaan atas barang dan kesempatan untuk memperoleh penghasilan dalam pasaran komoditas dan pasaran kerja. Kedua, class situation, saat seseorang menempati kelas yang sama akibat penguasaan barang dan jasa tersebut. Dimensi yang kedua adalah dimensi kehormatan yang memunculkan kelompok status, yang merupakan orang yang berada dalam situasi status (status situation) yang sama, yaitu orang yang peluang hidup atau nasibnya ditentukan oleh ukuran kehormatan tertentu. Lebih lanjut, Weber mengemukakan bahwa persamaan kehormatan status terutama dinyatakan melalui persamaan gaya hidup (style of life). Di bidang pergaulan gaya hidup ini dapat berwujud pembatasan terhadap pergaulan erat dengan orang yang statusnya lebih rendah. Selain itu, juga ditandai oleh adanya berbagai hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material. Selanjutnya, dimensi kekuasaan yang memunculkan partai politik. Kekuasaan diartikan sebagai peluang seseorang atau sejumlah orang untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri melalui suatu tindakan komunal meskipun mengalami tentangan dari orang lain yang ikut serta dalam tindakan komunal itu. Partai politik sebagai gejala yang melibatkan tatanan kekuasaan sosial dipengaruhi oleh tindakan bersama untuk mencapai tujuan yang terencana. Cara yang ditempuh untuk memperoleh kekuasaan berbeda-beda antara lain Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 72

menggunakan kekerasan fisik, menggalang dukungan melalui money politic, pengaruh sosial, maupun intimidasi. Pemikiran Weber ini mempengaruhi dua tokoh lain seperti Peter Berger yang menyebutkan stratifikasi sosial adalah penjenjangan masyarakat menjadi hubungan atasanbawahan berdasarkan kekuasaan, kekayaan dan kehormatan. Pemikiran ini juga nampak pada pemikiran Jeffries dan Ransford, yang membedakan sistem stratifikasi sosial berdasar 3 ukuran yaitu kekuasaan, privilese, dan prestise. Berdasarkan 3 ukuran tersebut maka ada 3 jenis stratifikasi sosial yaitu kekuasaan, kelas sosial berdasar penggunaan barang dan jasa, dan status sosial berdasar atas pembagian kehormatan dan status sosial.

KOTAK PENGETAHUAN Titik temu perbedaan Karl Marx & Max Weber Perbedaan Karl Marx Kapitalisme Menimbulkan penindasan, lahir dari penguasaan alat produksi Kelas Sosial Mengacu pada komunitas yang lahir dari penguasaan alat produksi Stratifikasi Ditentukan oleh faktor ekonomi Sosial

Max Weber Sistem yang diidealkan, lahir dari semangat agama Kelompok orang yang mempunyai kesamaan ekonomi Bukan hanya ditentukan oleh faktor ekonomi, tetapi juga status dan kekuasaan

Stratifikasi sosial dalam masyarakat secara nyata dapat dilihat dalam beberapa bidang, antara lain : a. Pelapisan Sosial dalam Bidang Ekonomi Sebutan yang berbeda antara orang kaya dan orang miskin tampaknya masih tetap ditujukan pada jumah harta benda material milik seseorang. Jadi istilah kaya identik dengan orang-orang yang memiliki banyak benda-benda bernilai ekonomi, dan istilah miskin adalah sebaliknya. Sedangkan kekayaan lainnya yang abstrak, misalnya ilmu pengetahuan, kepercayaan terhadap diri sendiri, tingkah laku yang sopan dan santun, jarang diakui sebagai kekayaan yang membanggakan? Dalam hal ini, Max Weber mengemukakan bahwa di dalam setiap masyarakat terdapat dua macam kelas, yaitu kelas yang memiliki tanah atau alat-alat produksi (disebut kelas atas) dan kelas yang tidak memiliki tanah atau alat-alat produksi kecuali tenaga untuk disumbangkan dalam proses produksi (disebut kelas bawah).

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 73

Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pelapisan sosial dalam bidang ekonomi ini bersifat terbuka, jadi perpisahan antar kelas dapat terjadi secara bebas sesuai dengan kemampuan seseorang. b. Pelapisan Sosial dalam Hal Status Sosial Pelapisan sosial dengan kriteria status sosial ini meliputi kedudukan dan peran. Kedua unsur ini merupakan unsur baku dalam sistem lapisan dan mempunyai arti yang penting bagi sistem sosial. Sedangkan sistem sosial itu sendiri adalaj pola-pola yang mengatur hubungan timbal balik antara individu dengan masyarakatnya dan tingkah laku individu-individu tersebut. Dalam hubungan timbal balik tersebut, kedudukan dan peran individu mempunyai arti penting, karena kelanggengan masyarakat tergantung pada keseimbangan kepentingankepentingan yang dimakud. Kedudukan adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Sedangkan kedudukan sosial adalah tempat sseorang secara umum dalam masyarakatnya, sehubungan dengan orang-orang lain didalam lingkungan pergaulannya, prestise, dan hakhak serta kewajibannya. Ini berarti kedudukan seseorang untuk menunjukkan kelas sosial yang ditempatinya. Namun, para sosilog menyatakan bahwa kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu suatu pola tertentu. c. Pelapisan Sosial dalam Bidang Politik Di dalam setiap masyarakat selalu terdapat garis-garis batas yang tegas antara penguasa dan masyarakat yang dikuasai sehingga kita mengenal kelompok pemerintah dan kelompok rakyat yang diperintah. Dalam setiap sistem politik, terdapat lapisan-lapisan kekuasaan yang didasarkan pada kekhawatiran masyarakat akan terjadi disintegrasi (perpecahan) apabila tidak ada kekuasaan yang mengendalikannya. Tata tertib akan dijalankan dengan perubahan, baik secara damai maupun melalui kekerasan, pada suatu masyarakat berbangsa dan bernegara? Para sosiolog menyatakan bahwa meskipun selalu ada perubahan yang berpengaruh terhadap sistem lapisan sosial, namun lapisan sosial itu akan tetap ada, hanya wujudnya saja yang berbeda antara suatu masa dengan masa yang lainnya. Menurut Mac lver, ada tiga pola umum sistem lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan, yaitu : a. Tipe kasta adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garus pemisah yang tegas dan kaku. Tipe seperti ini biasanya terdapat pada masyarakat yang menganut kasta, di mana hampir tidak terjadi mobilitas vertikal. Garis pemisah antara masing-masing lapisan hampir tak mungkin ditembus.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 74

b. Tipe oligarkis adalah sistem lapisan kekuasaan yang masinh mempunyai garis pemisah tegas, akan tetapi dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama pada kesempatan yang diberikan kepada para warga untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu. Bedanya dengan tipe kasta adalah walaupun kedudukan para warga pada tipe kedua masih didasarkan pada kelahiran (ascribed status), tetapi individu masih diberi kesempatan untuk naik lapisan. Di setiap lapisan juga dapat dijumpai lapisan-lapisan yang lebih khusus lagi, sedangkan perbedaan antara satu lapisan dengan lapisan lainnya tidak begitu mencolok. c. Tipe demokratis adalah tipe kekuasaan yang menunjukkan kenyataan akan adanya garis pemisah antara lapisan yang sifatnya fleksibel sekali. Kelahiran tidak menentukan kedudukan seseorang, yang terpenting adalah kemampuan dan kadang-kadang juga faktor keberuntungan. Yang terakhir ini terbukti dari anggota-anggota partai politik yang dalam suatu masyarakat demokratis dapat mencapai kedudukan-kedudukan tertentu melalui partai politik.

Dampak Stratifikasi Sosial Munculnya stratifikasi sosial dalam masyarakat menimbulkan dampak kentara yang dapat ditemui dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Kamanto Sunarto, dampak yang ditimbulkan akibat ketidaksamaan dalam sistem sosial, yaitu terjadinya perbedaan gaya hidup yang disebabkan karena adanya simbol status yang menandakan status seseorang dalam masyarakat. Dalam pandangan Peter Berger, orang senantiasa

memperlihatkan kepada orang lain bahwa apa yang telah diraihnya dengan memakai berbagai simbol dapat menyimpulkan bahwa simbol status berfungsi untuk memberitahu status yang diduduki seseorang. Simbol status ini terwujud dalam cara menyapa, berbahasa, gaya bicara maupun komunikasi nonverbal seperti gerak tubuh, gaya pakaian, dan penggunaan aksesoris. Selain itu, kesemua perbedaan pada diferensiasi dan stratifikasi sosial menjadikan struktur masyarakat menjadi majemuk. Suatu masyarakat yang majemuk umumnya memiliki kebudayaan yang bermacam-macam. Hal ini dapat menimbulkan konflik-konflik sosial atau setidaknya oleh kurangnya integrasi dan saling ketergantungan di antara kesatuan-kesatuan sosial yang menjadi bagian-bagiannya. Namun tidak selamanya masyarakat majemuk mempunyai dampak negatif. Struktur masyarakat yang majemuk tentunya memiliki khazanah budaya yang kaya. Selanjutnya, kondisi ini menyebabkan masyarakat seolah-olah terkotak-kotak. Situasi ini mendorong munculnya sikap primordialisme. Istilah primordialisme menggambarkan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 75

adanya ikatan-ikatan seseorang dalam kehidupan sosial dengan hal-hal yang dibawa sejak awal kelahirannya, misalnya kesukubangsaan, kedaerahan, ras, dan lain-lain. Dari sikap primordialisme memunculkan sikap etnosentrisme. Sikap etnosentrisme merupakan sikap yang memandang budaya orang lain dari kacamata budaya sendiri akibatnya dapat memunculkan sebuah konflik sosial. Dampak sistem stratifikasi sosial menjadikan struktur masyarakat memiliki kesenjangan sosial. Hal ini dikarenakan dalam sistem stratifikasi memuat lapisan-lapisan sosial masyarakat yang berdasarkan tinggi rendahnya kedudukan. Karenanya di dalam masyarakat terdapat penggolongan secara vertikal, yaitu kelompok masyarakat yang lebih tinggi atau lebih rendah apabila dibandingkan dengan kelompok lain. Perbedaan ini sering kali memunculkan sikap penindasan terhadap kelompok lainnya.

Struktur Sosial dan Mobilitas Sosial Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa struktur sosial yang ada dalam masyarakat terbagi menjadi dua yaitu diferensiasi dan stratifikasi sosial. Untuk menciptakan stabilitas sosial dalam struktur sosial suatu masyarakat, maka seseorang melakukan mobilitas sosial yaitu yaitu perpindahan status dalam stratifikasi sosial. Apabila individu dalam masyarakat mempunyai kesempatan yang seimbang untuk melangsungkan mobilitas sosial berarti struktur sosial khususnya stratifikasi sosialnya bersifat terbuka. Sebaliknya pada masyarakat yang berkasta mobilitas sosial dapat dikatakan hampir tidak ada, meskipun tidak secara mutlak tertutup sebab status atau kedudukan sosial indvidu sudah ditentukan sejak kelahirannya. Pengertian Mobilitas Sosial Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Kata sosial yang ada pada istilah mobilitas sosial untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna gerak yang melibatkan seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain. Dengan demikian mobilitas sosial diartikan sama dengan istilah perpindahan sosial, gerak sosial atau gerakan sosial. Atau secara umum mobilitas sosial dapat diartikan sebagai perpindahan orang atau kelompok orang dari strata sosial yang satu ke strata sosial yang lain. Tetapi mobilitas sosial tidak selalu diartikan sebagai bentuk perpindahan dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi karena mobilitas sosial sesungguhnya dapat berlangsung dalam dua arah. Mobilitas sosial bisa berupa peningkatan atau penurunan dalam segi status sosial dan penghasilan yang dialami individu atau seluruh anggota masyarakat. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 76

Perubahan dalam mobilitas sosial ditandai oleh struktur sosial yang meliputi hubungan antar individu dalam kelompok dan antara individu dengan kelompok. Baik mobilitas individu maupun kelompok sama-sama memiliki dampak sosial. Keduanya membawa pengaruh bagi perubahan struktur masyarakat yang bersangkutan. Mobilitas sosial berkaitan erat dengan stratifikasi sosial karena mobilitas sosial merupakan gerak perpindahan dari satu strata ke strata sosial yang lain. Dalam dunia modern, banyak orang berupaya melakukan mobilitas sosial. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih bahagia dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang peling cocok bagi diri mereka. Bila tingkat mobilitas sosial tinggi, meskipun latar belakang sosial berbeda. Mereka tetap dapat merasa mempunyai hak yang sama dalam mencapai kedudukan sosial yang lebih tinggi. Bila tingkat mobilitas sosial rendah, tentu saja kebanyakan orang akan terkukung dalam status nenek moyang mereka. Mereka hidup dalam kelas sosial tertutup. Mobilitas sosial lebih mudah terjadi pada masyarakat terbuka karena lebih memungkinkan untuk berpindah strata. Sebaliknya, pada masyarakat yang sifatnya tertutup kemungkinan untuk pindah strata lebih sulit. Contohnya, masyarakat feodal atau pada masyarakat yang menganut sistem kasta. Pada masyarakat yang menganut sistem kasta, bila seseorang lahir dari kasta yang paling rendah untuk selamanya ia tetap berada pada kasta yang rendah. Dia tidak mungkin dapat pindah ke kasta yang lebih tinggi, meskipun ia memiliki kemampuan atau keahlian. Karena yang menjadi kriteria stratifikasi adalah keturunan. Dengan demikian, tidak terjadi gerak sosial dari strata satu ke strata lain yang lebih tinggi. Bentuk Mobilitas Sosial 1. Mobilitas Vertikal Mobilitas vertikal adalah perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok warga pada lapisan sosial yang berbeda. Dalam mobilitas vertical terjadi perpindahan status yang tidak sederajat dan dapat dibedakan menjadi perpindahan naik ataupun turun dari strata satu ke strata yang lain. Mobilitas vertical yang naik disebut sosial climbing (upward mobility) misalnya seorang staf karyawan yang dipromosikan atasan untuk menjadi kepala sub bagian. Adapun mobilitas sosial yang turun disebut sosial sinking (downward mobility), misalnya seorang bupati yang tidak lagi terpilih menjadi bupati turun menjadi rakyat biasa. Mobilitas vertical naik memiliki dua bentuk, yaitu:

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 77

a. Naiknya orang-orang berstatus sosial rendah ke status sosial yang lebih tinggi, dimana status itu telah tersedia, misalnya seorang guru menjadi kepala sekolah b. Terbentuknya suatu kelompok baru yang lebih tinggi daripada lapisan sosial yang sudah ada, misalnya karena ketrampilan dan keahlian yang dimiliki maka suatu perusahaan tertentu mampu menyaingi perusahaan lama yang terlebih dahulu terkenal. Sedangkan mobilitas vertical turun memiliki dua bentuk, yaitu: a. Turunnya kedudukan seseorang ke kedudukan lebih rendah, misalnya karena pensiun maka seorang direktur bank berubah menjadi rakyat biasa b. Turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa suatu disintegrasi dalam kelompok sebagai suatu kesatuan, misalnya lembaga yang terkena kasus korupsi akan memiliki derajat sosial yang rendah. Mudah tidaknya seseorang melakukan mobilitas verikal salah satunya ditentukan oleh kekakuan dan keluwesan struktur sosial dimana orang itu hidup. Mereka yang memiliki bekal pendidikan yang tinggi dan hidup di lingkungan masyarakat yang menghargai profesionalisme besar kemungkingan akan lebih mudah menembus batas-batas lapisan sosial dan naik ke kedudukan lebih tinggi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Sebaliknya setinggi apapun tingkat pendidikan seseorang tetapi bila ia hidupn pada suatu lingkungan masyarakat yang masih kuat nilai-nilai primordialisme dan system hubungan koneksi maka kecil kemungkinan orang tersebut akan bisa lancer jenjang karirnya dalam bekerja. Secara umum, prinsip-prinsip dalam mobilitas vertical yang perlu diperhatikan adalah: a. Hampir tidak ada masyarakat yang sifat system lapisan sosialnya secara mutlak tertutup sekalipun itu pada masyarakat yang berkasta. Misalnya di India, seorang kasta Brahmana apabila melakukan kesalahan besar dapat dikeluarkan dari kastanya dan turun menjadi kasta yang lebih rendah. b. Betapa pun terbukanya system lapisan sosial dalam suatu masyarakat tidak mungkin gerak sosial vertical dapat dilakukan sebebas-bebasnya, sedikit banyak akan ada hambatan-hambatan. c. Gerak sosial vertical yang umum berlaku bagi semua masyarakat tidaklah ada setiap masyarakat mempunyai cirri tersendiri bagi gerak sosialnya d. Laju gerak sosial vertical yang disebabkan oleh factor-faktor ekonomi, politik serta pekerjaan adalah berbeda-beda

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 78

e. Berdasarkan bahan-bahan sejarah, khususnya dalam gerak sosial vertical yang disebabkan oleh factor ekonomi, politik dan pekerjaan tidak ada kecenderungan yang kontinum perihal bertambah atau berkurangnya laju gerak sosial. Hal ini berlaku bagi suatu Negara, lembaga sosial yang besar dan juga bagi sejarah manusia. 2. Mobilias Horisontal Mobilitas horizontal adalah perpindahan status sosial seseorang atau sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama. Dalam mobilitas horizontal terjadi perpindahan yang sederajat tidak terjadi perubahan derajat kedudukan seseorang atau sekelompok orang. Cirri utama mobilitas horizontal adalah lapisan sosial yang ditempati tidak mengalami perubahan. Mobilitas horizontal sangat diperlukan untuk penyegaran peningkatan daya hasil dan daya guna sehingga perananya dapat lebih efektif dan efisien. Mobilitas horizontal tidak menimbulkan pengaruh terhadap tinggi-rendahnya status atau kedudukan sosial seseorang. Selain itu mobilitas horinsontal dapat terjadi karena terpaksa ataupun sukarela. Misalnya perpindahan penduduk karena bencana alam direlokasi ke daerah transmigrasi, atau migrasi yang dilakukan penduduk desa ke kota untuk mencari pekerjaan karena di desa sudah tidak ada pekerjaan lagi. 3. Mobilitas Intragenerasi Mobilitas intragenerasi mengacu pada mobilitas sosial yang dialami seseorang dalam masa hidupnya. Misalnya, dari status sebagai karyawan swasta menjadi direktur. 4. Mobilitas Antargenerasi Mobilitas antargenerasi mengacu pada perbedaan status yang dicapai seseorang dengan status orang tua. Misalnya bapaknya adalah seorang petani sedangkan anaknya menjadi direktur bank. 5. Mobilitas Geografis Gerak sosial ini adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain seperti transmigrasi, urbanisasi, dan migrasi. Bagi Anthony Giddens, mobilitas ini juga disebut lateral mobility yang mengacu pada perpindahan geografis antara lingkungan setempat, kota, dan wilayah. Faktor Determinan Mobilitas Sosial Faktor pendorong terjadinya mobilitas sosial 1. Perubahan kondisi sosial Struktur kasta dan kelas dapat berubah dengan sendirinya karena adanya perubahan dari dalam dan dari luar masyarakat. Misalnya, kemajuan teknologi membuka kemungkinan timbulnya mobilitas ke atas. Perubahan ideologi dapat menimbilkan stratifikasi baru. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 79

2. Ekspansi teritorial dan gerak populasi Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang cepat membuktikan cirti fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial. Misalnya, perkembangan kota, transmigrasi, bertambah dan berkurangnya penduduk. 3. Komunikasi yang bebas Situasi-situasi yang membatasi komunikasi antarstrata yang beraneka ragam

memperkokoh garis pembatas di antara strata yang ada dalam pertukaran pengetahuan dan pengalaman di antara mereka dan akan mengahalangi mobilitas sosial. Sebaliknya, pendidikan dan komunikasi yang bebas sertea efektif akan memudarkan semua batas garis dari strata sosial uang ada dan merangsang mobilitas sekaligus menerobos rintangan yang menghadang. 4. Pembagian kerja Besarnya kemungkinan bagi terjadinya mobilitas dipengaruhi oleh tingkat pembagian kerja yang ada. Jika tingkat pembagian kerja tinggi dan sangat dispeliasisasikan, maka mobilitas akan menjadi lemah dan menyulitkan orang bergerak dari satu strata ke strata yang lain karena spesialisasi pekerjaan nmenuntut keterampilan khusus. Kondisi ini memacu anggota masyarakatnya untuk lebih kuat berusaha agar dapat menempati status tersebut. Faktor Penghambat Mobilitas Sosial 1. Perbedaan kelas rasial, seperti yang terjadi di Afrika Selatan di masa lalu, dimana ras berkulit putih berkuasa dan tidak memberi kesempatan kepada mereka yang berkulit hitam untuk dapat duduk bersama-sama di pemerintahan sebagai penguasa. Sistem ini disebut Apharteid dan dianggap berakhir ketika Nelson Mandela, seorang kulit hitam, terpilih menjadi presiden Afrika Selatan 2. Agama, seperti yang terjadi di India yang menggunakan sistem kasta. 3. Diskriminasi Kelas dalam sistem kelas terbuka dapat menghalangi mobilitas ke atas. Hal ini terbukti dengan adanya pembatasan suatu organisasi tertentu dengan berbagai syarat dan ketentuan, sehingga hanya sedikit orang yang mampu mendapatkannya. 4. Kemiskinan dapat membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai suatu sosial tertentu. 5. Perbedaan jenis kelamin dalam masyarakat juga berpengaruh terhadap prestasi, kekuasaan, status sosial, dan kesempatan-kesenmpatan untuk meningkatkan status sosialnya. Saluran-saluran Mobilitas Sosial Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 80

1. Angkatan Bersenjata Angkatan bersenjata merupakan organisasi yang dapat digunakan untuk saluran mobilitas vertikal ke atas melalui tahapan yang disebut kenaikan pangkat. Misalnya, seorang prajurit yang berjasa pada negara karena menyelamatkan negara dari pemberontakan, ia akan mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Dia mungkin dapat diberikan pangkat/kedudukan yang lebih tinggi, walaupun berasal dari golongan masyarakat rendah. 2. Lembaga-lembaga keagamaan Lembaga-lembaga keagamaan dapat mengangkat status sosial seseorang, misalnya yang berjasa dalam perkembangan agama seperti ustad, pendeta, biksu dan lain lain. 3. Lembaga pendidikan Lembaga-lembaga pendidikan pada umumnya merupakan saluran yang konkret dari mobilitas vertikal ke atas, bahkan dianggap sebagai sosial elevator (perangkat) yang bergerak dari kedudukan yang rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Pendidikan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. 4. Organisasi politik Seperti angkatan bersenjata, organisasi politik memungkinkan anggotanya yang loyal dan berdedikasi tinggi untuk menempati jabatan yang lebih tinggi, sehingga status sosialnya meningkat. 5. Organisasi ekonomi Organisasi ekonomi (seperti perusahaan, koperasi, BUMN dan lain-lain) dapat meningkatkan tingkat pendapatan seseorang. Semakin besar prestasinya, maka semakin besar jabatannya. Karena jabatannya tinggi akibatnya pendapatannya bertambah. Karena pendapatannya bertambah akibatnya kekayaannya bertambah. Dan karena kekayaannya bertambah akibatnya status sosialnya di masyarakat meningkat. 6. Organisasi keahlian Seperti di wikipedia ini, orang yang rajin menulis dan menyumbangkan

pengetahuan/keahliannya kepada kelompok pasti statusnya akan dianggap lebih tinggi daripada pengguna biasa. 7. Perkawinan Sebuah perkawinan dapat menaikkan status seseorang. Seorang yang menikah dengan orang yang memiliki status terpandang akan dihormati karena pengaruh pasangannya. 8. Organisasi Keolahragaan

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 81

Melalui organisasi ini seseorang dapat meningkatkan statusnya ke strata yang lebih tinggi. Dampak Mobilitas Sosial Gejala naik turunnya status sosial tentu memberikan konsekuensi-konsekuensi tertentu terhadap struktur sosial masyarakat. Konsekuensi-konsekuensi itu kemudian mendatangkan berbagai reaksi. Reaksi ini dapat berbentuk konflik. Ada berbagai macam konflik yang bisa muncul dalam masyarakat sebagai akibat terjadinya mobilitas. Menurut Horton dan Hunt, ada beberapa konsekuensi negatif dari adanya mobilitas sosial vertical yaitu: 1. Kecemasan akan terjadi penurunan status bila terjadi mobilitas menurun 2. Ketegangan dalam mempelajari peran baru dari status jabatan yang meningkat 3. Keretakan hubungan antar anggota kelompok primer yang semula karena seseorang berpindah status yang lebih tinggi atau ke status lebih yang rendah 4. Menimbulkan benturan-benturan nilai dan kepentingan sehingga dapat menimbulkan konflik sosial Dampak positif 1. Orang-orang akan berusaha untuk berprestasi atau berusaha untuk maju karena adanya kesempatan untuk pindah strata. Kesempatan ini mendorong orang untuk mau bersaing, dan bekerja keras agar dapat naik ke strata atas. 2. Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 82

KOTAK PENGETAHUAN

Hubungan Stratifikasi Sosial, Kelas Sosial & Mobilitas Sosial

Stratifikasi sosial Klas sosial Mobilitas sosial

BERPIKIR KRITIS Dari berbagai bentuk-bentuk struktur sosial yang ada dalam masyarakat terlihat bahwa manusia berhubungan dengan yang lain bukan atas dasar diri mereka sebenarnya, tetapi lebih berdasarkan pada pendapat/pengertian (conception) yang mereka bentuk mengenai diri mereka sendiri dan orang lain. Hal inilah yang disebut sebagai identitas sosial sebagai salah satu pengaruh bentuk struktur sosial dalam masyarakat. Melalui identitas sosial inilah yang menjadi alat untuk memobilisasi tindakan kolektif yang menciptakan solidaritas sosial. Coba jelaskan pendapat diatas dengan contoh yang ada di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 83

Lembar Kerja Prosedur Kerja Lakukan pengamatan di lingkungan sekitar mengenai bentuk diferensiasi dan stratifikasi sosial yang ada dalam bentuk nyata. Untuk mempermudah melakukan tugas tersebut, dibawah ini dibedakan antara diferensiasi dan stratifikasi sosial. Diferensiasi Sosial Stratifikasi Sosial Pengelompokan secara horisontal Pengelompokan secara vertikal Berdasarkan ciri dan fungsi Berdasarkan posisi, status, kelebihan yang dimiliki, sesuatu yan dihargai Distribusi kelompok Distribusi hak dan wewenang Genotipe Stereotipe Kriteria biologis/fisik Kriteria ekonomi, pendidikan, sosiokultural kekuasaan dan kehormatan Bentuk Diferensiasi Sosial di Lingkungan RT No 1 2 3 4 5 Bentuk Diferensiasi Sosial Berdasarkan Suku Bangsa Berdasarkan Agama Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan Asal Daerah Berdasarkan Partai Politik Uraian

Bentuk Stratifikasi Sosial (menurut Max Weber) di Lingkungan RT No 1 2 3 Bentuk Stratifikasi Sosial Berdasarkan Ekonomi Berdasarkan Politik Berdasarkan Status Uraian

Lembar Evaluasi 1. Identifikasikan unsur-unsur dalam struktur sosial yang terjadi dalam masyarakat? 2. Identifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya diferensiasi sosial dalam masyarakat? 3. Mengapa stratifikasi sosial selalu terjadi di dalam masyarakat? 4. Jelaskan fungsi stratifikasi sosial dengan menggunakan pendekatan fungsional? 5. Bagaimana konsekuensi adanya mobilitas sosial dalam masyarakat? Jelaskan dengan disertai contoh.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 84

BAB 5 KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Standar Kompetensi: Menganalisis kelompok sosial dalam masyarakat multikultural Kompetensi dasar 1. Mendeskripisikan berbagai kelompok sosial dalam masyarakat multikultural 2. Menganalisis perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat multikultural 3. Menganalisis keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat Tujuan Pembelajaran 1. Mengidentifikasi berbagai kelompok sosial dalam masyarakat multikultural 2. Mengidentifikasi cirri-ciri masyarakat multikultural

3. Menganalisis dampak konflik sosial dalam masyarakat multikultural 4. Menganalisis upaya mewujudkan integrasi sosial dalam masyarakat multikultural 5. Menganalisis perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat multikultural 6. Menganalisis penyebab keanekaragaman masyarakat multikultural 7. Menganalisis terjadinya primordialisme dalam masyarakat 8. Menganalisis penyebab primordialisme dalam masyarakat

Pengantar Bangsa Indonesia adalah masyarakat yang terdiri dari beranekaragam suku bangsa yang memiliki adat istiadat yang berbeda-beda. Dari catatan yang ada, di Indonesia ini terdapat 656 suku bangsa dengan bahasa lokal 300 macam. Keanekaragaman tersebut merupakan kekayaan milik Bangsa Indonesia yang harus kita jaga dan lestarikan sehingga mampu memberikan warna ketentraman dan kedamaian bagi rakyat Indonesia agar ke depan tidak banyak menimbulkan persoalan yang mengancam disintegrasi bangsa. Selain itu, kebudayaan masyarakat juga mengalami dinamika perubahan yang cukup pesat karena berbagai macam perkembangan teknologi dan modernitas global. Arus globalisasi yang mendera masyarakat kita memberikan pengaruh tersendiri terhadap solidaritas yang dibangun oleh masyarakat kita. Globalisasi juga memunculkan pola interaksi dan perilaku kebudayaan yang berbeda diantara kelompok masyarakat. Kondisi semacam ini memunculkan persoalan, apakah keanekaragaman di Indonesia ini akan menimbulkan masalah yang mengancam disintegrasi bangsa? Sebuah pendapat Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 85

menyebutkan bahwa keanekaragaman sebuah masyarakat pada suatu saat akan menimbulkan dua hal yaitu: a. Berkembangnya perilaku konflik di antara berbagai kelompok etnik, dan b. Kecenderungan hadirnya kekuatan/kekuasaan sebagai kekuatan pemersatu utama yang mengintegrasikan masyarakat. Dengan struktur sosial yang sedemikian komplek, sangat rasional sekali Indonesia selalu menghadapi permasalahan konflik antar etnik, kesenjangan sosial, dan sukar sekali terjadinya integrasi secara permanen. Setujukah dengan hal ini? Masyarakat Indonesia yang bercorak majemuk (Plural Society) yang berisikan potensi kekuatan primordial yang otoriter dan militeristik, haruslah diubah dengan multikulturalisme. Dalam multikulturalisme kelompok-kelompok budaya tersebut berada dalam kesetaraan derajat, demokratis dan toleransi sejati. Untuk itu dalam modul ini, akan mempelajari tentang pengertian masyarakat majemuk dan masyarakat multikultural, serta dampak masyarakat multikultural yang rentan terjadinya konflik. Lebih lanjut, salah satu ancaman bagi integrasi sosial masyarakat di Indonesia adalah berkembangnya modernitas. Hal ini memang tidak dapat dihindari melihat kondisi bangsa Indonesia berada pada posisi peralihan dari ciri masyarakat tradisional menuju masyarakat modern. Modernitas dapat mengancam rasa tenggang rasa, kepedulian sosial dan interaksi antar manusia. Mungkin yang paling dirasakan dari modernitas adalah hilangnya identitas lokal ataupun kebangsaan. Sedangkan, identitas kebangsaan adalah dasar dari integrasi sosial. Identitas kebangsaan yang menyatukan keberagaman dalam bangsa ini. Dengan munculnya modernitas, sikap tidak kepedulian masyarakat akan tumbuh dan hilangnya wujud keadilan sosial.

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural Pengertian Kelompok Sosial Setiap mahkluk hidup pasti cenderung untuk hidup berkelompok, saling berinteraksi dan melakukan kerjasama dalam kehidupannya. Bukan hanya manusia saja, melainkan juga banyak jenis mahkluk lain yang hidup bersama dengan individu-individu sejenisnya dalam sebuha kelompok. Koentjaraningrat (2009) mendefinisikan bahwa ciri khas kehidupan berkelompok yaitu: (1) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam subkesatuan atau golongan individu dalam kelompok untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup, (2) ketergantungan individu kepada individu lain dalam kelompok sebagai akibat dari pembagian kerja tadi, (3) kerjasama antar individu yang disebabkan karena sifat ketergantungan tadi, (4) Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 86

komunikasi antar individu yang diperlukan guna melaksanakan kerjasama tadi, (5) diskriminasi yang diadakan antara individu-individu warga kelompok dan individu-individu dari luarnya. Kelompok sosial adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain, memiliki harapan dan tujuan yang sama, serta mempunyai kesadaran diri sebagai anggota kelompok yang diakui pihak luar. Beberapa ahli mendefinisikan pengertian kelompok sosial sebagai berikut: 1. Joseph S.Roucek & Roland S. Warren, Kelompok sosial adalah suatu kelompok yang meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya/orang lain secara keseluruhan 2. Goodman, Kelompok sosial adalah dua orang atau lebih yang memiliki kesamaan identitas dan berinteraksi satu sama lain secara terstruktur untuk mencapai tujuan bersama. 3. Paul B. Horton, Kelompok sosial berarti setiap kumpulan manusia secara fisik 4. Sherif, Kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial secara intensif dan teratur sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu yang khas bagi kesatuan sosial tersebut. 5. Robert K. Merton, Kelompok sosial adalah sekumpulan orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.

Jenis Kelompok Sosial 1. Kelompok sosial berdasarkan Solidaritas Antara Anggotanya (Emile Durkheim) a. Kelompok dengan solidaritas mekanik, yakni masyarakat yang masih sederhana dan diikat oleh kesadaran kolektif serta belum mengenal adanya pembagian kerja atau spesialisasi diantara para anggotanya. Hukum yang berlaku adalah hukum adat. b. Kelompok dengan solidaritas organic, yakni masyarakat yang sudah kompleks dan telah mengenal pembagian kerja secara teratur diantara para anggotanya. Hukum yang berlaku adalah hukum negara. 2. Kelompok sosial berdasarkan Erat Longgarnya Ikatan Dalam Kelompok (Ferdinand Tonnies) a. Gemeinschaft (Paguyuban) yakni kelompok sosial yang memiliki ikatan erat dan intim b. Gesellschaft (Patembayan) yakni kehidupan public yang bersifat sementara dan semu Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 87

3. Kelompok sosial berdasarkan Identitas Diri a. In-Group yakni kelompok yang terbentuk karena adanya kesamaan diantara anggotanya b. Out-Group yakni terbentuk karena adanya rasa benci dan permusuhan antar kelompok 4. Kelompok sosial berdasarkan Hubungan Di Antara Para Anggotanya a. Kelompok Primer, yakni kelompok sosial yang memiliki hubungan saling mengenal dan memiliki perasaan kebersamaan b. Kelompok Sekunder, yakni kelompok sosial yang terbentuk karena adanya kepentingan yang sama sehingga kerjasama didasarkan pada hitungan untung rugi 5. Kelompok sosial berdasarkan Sistem Hubungan a. Kelompok Formal, yakni kelompok yang memiliki system hubungan yang sengaja diciptakan sehingga unsure-unsur dalam suatu organisasi merupakan bagian-bagian fungsional yang berhubungan b. Kelompok Informal yakni kelompok yang memiliki hubungan secara pribadi, bersifat erat dan intim

Arus globalisasi dan migrasi yang begitu besar di Indonesia menyebabkan beragamnya masyarakat Indonesia tidak hanya dari sisi suku bangsa namun juga agama, ideology, kelas sosial ekonomi dan kebudayaan. Pulau Jawa saat ini tidak hanya dihuni oleh masyarakat Jawaorang yang lahir dan merupakan keturunan dari budaya Jawanamun terdapat beragam komunitas dan individu yang berasal dari beragam suku bangsa. Mereka hidup dalam satu komunitas yang sama sehingga muncullah apa yang disebut dengan masyarakat yang multikultural. Naluri manusia adalah ingin hidup dengan dengan orang lain,oleh karena itu secara otomatis akan lahir masyarakat yang berarti kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu, yang bersifat kontinue atau terikat oleh identitas bersama. Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari dua kelompok masyarakat atau lebih yang memiliki perbedaan karakteristik dan kebudayaan yang beragam. Atau dengan definisi lain masyarakat multikultural adalah masyarakat yang memiliki berbagai kultur dan terbentuknya masyarakat tersebut karena adanya proses sosial dan perubahan-perubahan sosial. Masyarakat multikultural secara sederhana adalah masyarakat yang memiliki beragam kebudayaan yang berbeda-beda. Masyarakat jenis ini kadang disebut sebagai masyarakat majemuk atau plural society. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 88 multikultural. Kelompok sosial juga terdapat dalam masyarakat

Istilah plural society, pertama kali digunakan oleh JS Furnival untuk menyebut masyarakat masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih tertib sosial, komunitas atau kelompok-kelompok yang secara kultural, ekonomi dan politik terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, atau dengan kata lain merupakan suatu masyarakat di mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggotanya kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan. Istilah plural atau majemuk sebenarnya berbeda dengan pengertian heterogen. Majemuk atau plural itu merupakan lawan dari kata singular atau tunggal. Sehingga, masyarakat plural itu bukan masyarakat yang tunggal. Masyarakat tunggal merupakan masyarakat yang mendukung satu sistem kebudayaan yang sama, sedangkan pada masyarakat plural, di dalamnya terdapat lebih dari satu kelompok baik etnik maupun sosial yang menganut sistem kebudayaan (subkultur) berbeda satu dengan yang lain. Sebuah masyarakat kota, mungkin tepat disebut sebagai masyarakat heterogen, sepanjang meskipun mereka berasal dari latar belakang SARA (sukubangsa, agama, ras, atau pun aliran/golongangolongan) yang berbeda, tetapi mereka tidak mengelompok berdasarkan SARA tersebut. Heterogen lawan dari kondisi yang disebut homogen. Disebut homogen kalau anggota masyarakat berasal dari SARA yang secara relatif sama. Disebut heterogen kalau berasal dari SARA yang saling berbeda, namun sekali lagi mereka tidak mengelompok (tersegmentasi) berdasarkan SARA tersebut. Indonesia adalah salah satu contoh yang tepat untuk mendefinisikan masyarakat multikultural. Kota Yogyakarta misalnya, kota yang dijuluki kota pendidikan itu sarat akan berbagai lembaga pendidikan tinggi yang banyak dijadikan pilihan bagi masyarakat Indonesia untuk melanjutkan pendidikan jenjang universitas. Ragam individu yang ada dalam kota Yogyakarta merupakan bukti nyata bagaimana multikulturnya masyarakat Indonesia. Sebuah rumah kos mungkin akan dihuni oleh berbagai individu yang sedang menempuh kuliah yang berasal dari beragam suku bangsa, daerah asal, ras, agama dan juga ideology serta gaya hidup yang berbeda karena kelas sosial yang berbeda. Kemunculan masyarakat demikian merupakan ekses dari adanya berbagai perubahan sosial yang ada dalam masyarakat. Konsep masyarakat multikultural sebenarnya relatif baru. Sekitar 1970-an, gerakan multikultural muncul pertama kali di Kanada. Kemudian diikuti Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan lainnya. Kanada pada waktu itu didera konflik yang disebabkan masalah hubungan antarwarga negara. Masalah itu meliputi hubungan antarsuku bangsa, agama, ras, dan aliran politik yang terjebak pada dominasi. Konflik itu diselesaikan dengan digagasnya Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 89

konsep masyarakat multikultural yang esensinya adalah kesetaraan, menghargai hak budaya komunitas dan demokrasi. Gagasan itu relatif efektif dan segera menyebar ke Australia, Eropa dan menjadi produk global. Bagi masyarakat Indonesia yang telah melewati reformasi, masyarakat multikultural bukan sekedar wacana saja. Tetapi sebuah cita-cita yang harus diperjuangkan karena dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM) dan kesejahteraan masyarakat. Kita harus bersedia menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa mempedulikan perbedaan sukubangsa, agama, budaya, bahasa, kebiasaan, ataupun kedaerahan. Multikultural memberi penegasan, segala perbedaan itu adalah sama di dalam ruang publik. Dengan kata lain, adanya komunitas yang berbeda saja tidak cukup, sebab yang terpenting komunitas itu diperlakukan sama oleh negara. Adanya kesetaraan dalam derajat kemanusiaan yang saling menghormati, diatur oleh hukum yang adil dan beradab yang mendorong kemajuan dan menjamin kesejahteraan hidup warganya. Kesetaraan dalam derajat kemanusiaan hanya mungkin terwujud dalam praktik nyata dengan adanya pranata sosial, terutama pranata hukum yang merupakan mekanisme kontrol secara ketat dan adil mendukung dan mendorong terwujudnya prinsip demokrasi dalam kehidupan nyata. Diskriminasi sosial, politik, budaya, pendidikan dan ekonomi yang berlaku di masa pemerintahan Orde Baru, secara bertahap maupun radikal harus dikikis oleh kemauan untuk menegakkan demokrasi demi kesejajaran dalam kesederajatan kemanusiaan sebagai Bangsa Indonesia. Persatuan dan kesatuan bangsa yang terwujud dari sejumlah suku bangsa yang semula merupakan masyarakat yang berdiri sendiri dan mendukung kebudayaan yang beraneka ragam itu perlu diperkokoh dengan kerangka acuan yang bersifat nasional, yaitu kebudayaan nasional. Suatu kebudayaan yang mampu memberi makna bagi kehidupan berbangsa dan berkepribadian, akan dapat dibanggakan sebagai identitas nasional. Akan tetapi dalam masyarakat majemuk dengan keragaman latar belakang kebudayaan seperti yang terjadi di Indonesia tidaklah mudah untuk mengembangkan suatu kebudayaan nasional hanya dengan mengandalkan pada kemampuan dan kemapanan masyarakat semata-mata. Oleh karena itu kebudayaan nasional yang hendak dikembangkan itu telah ditetapkan landasan dan arah tujuannya yang dituangkan dalam penjelasan pasal 32 UUD 45 yang berbunyi. "Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan dengan tidak menolak Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 90

bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia". Berdasarkan penjelasan tersebut, nyatalah bahwa perkembangan kebudayaan bangsa yang hendak dimajukan itu terselenggara tanpa ketentuan arah serta tanpa memperhatikan keberagaman masyarakat dengan segala kebutuhan yang timbul dalam proses perkembangan masyarakat bangsa. Sejak kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia selalu dirongrong oleh gerakan sparatisme seperti DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, Permesta Kahar Muzakar di Sumatera, APRA, PKI, DI/TII Daud Barureh di Aceh, dan RMS di Maluku yang menyisakan luka lama. Bahkan sampai sekarang gerakan itu masih terus berlangsung di Aceh lewat GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka) di propinsi paling timur di Indonesia. Pemerintah Indonesia selalu berhadapan dengan gerakan separatisme, sehingga Indonesia mempunyai peluang yang sama seperti Yugoslavia dan Uni Soviet menjadi negara yang pecah akibat ketidakstabilan kondisi sosiokultural dan politik. Samuel Hutingthon pernah berkomentar pada akhir abad ke-20, bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi paling besar untuk hancur, setelah Yugoslavia dan Uni Soviet akhir abad ke-20 ini. Demikian juga Cliffrod Gertz Antropolog yang Indonesianis ini pernah mengatakan; kalau bangsa Indonesia tidak pandai-pandai memanajemen keanekaragaman etnik, budaya, dan solidaritas etnik, maka Indonesia akan pecah menjadi negara-negara kecil. Hal ini terbukti dengan lepas Timor Timur menjadi negara yang berdiri sendiri. Selanjutnya, suatu masyarakat disebut multikultural, majemuk, atau plural apabila para anggota-anggotanya berasal dari SARA yang saling berbeda, dan SARA tersebut menjadi dasar pengelompokan para anggota masyarakat, sehingga dalam masyarakat terdiri atas dua atau lebih kelompok etnis maupun sosial yang didasarkan pada SARA yang pada umumnya bersifat primordial, dan masing-masing mengembangkan subkultur tertentu. Interaksi antar-kelompok lebih rendah daripada interaksi internal kelompok. Bahkan, di dalam banyak masyarakat majemuk, struktur sosial yang ada sering bersifat konsolidatif, sehingga proses menuju integrasi sosialnya terhambat. Masyarakat multikultural menurut van Den Berghe memiliki beberapa karakteristik, yakni: 1. Mengalami segmentasi ke dalam kelompok-kelompok dengan subkultur saling berbeda 2. Memiliki struktur yang terbagi ke dalam lembaga-lembaga yang nonkomplemen 3. Kurang dapat mengembangkan konsensus mengenai nilai dasar Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 91

4. Relatif sering mengalami konflik 5. Secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan, dan/atau 6. Ketergantungan ekonomi, dan/atau 7. Dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain

Faktor-faktor Penyebab Munculnya Masyarakat Multikultural Meskipun menurut sejarah, masyarakat Indonesia relatif berasal dari nenek moyang yang sama, tetapi karena keadaan geografiknya, akhirnya masyarakat Indonesia bersifat majemuk. Kondisi geografik yang menjadi penyebab kemajemukan masyarakat, adalah: 1. Bentuk wilayah yang berupa kepulauan. Kondisi ini mengakibatkan, meskipun berasal dari nenek moyang yang sama, tetapi akhirnya mereka terpisah-pisah di pulau-pulau yang saling berbeda, sehingga masing-masing terisolasi dan mengembangkan kebudayaan sendiri. 2. Jadilah masyarakat Indonesia mengalami kemajemukan ethnik atau sukubangsa. 3. Letak wilayah yang strategis, di antara dua benua dan dua samudera, kondisi ini mengakibatkan Indonesia banyak didatangi oleh orang-orang asing yang membawa pengaruh unsur kebudayaan, antara lain yang paling menonjol adalah agama. Kondisi ini mengakibatkan masyarakat Indonesia majemuk dalam hal agama. Lima agama besar dunia ada di Indonesia. Lima agama besar yang dimaksud adalah (1) Hindu (pengaaruh India), (2) Budha (pengaruh bangsa-bangsa Asia), (3) Katholik (pengaruh kedatangan bangsa portugis), (4) Kristen (pengaruh kedatangan bangsa Belanda), dan (5) Islam (pengaruh masuknya pedagang-pedagang dari Timur Tengah). 4. Variasi iklim, jenis serta kesuburan tanah yang berbeda di antara beberapa tempat, misalnya daerah Indonesia bagian Timur yang lebih kering, tumbuh menjadi sukubangsa peternak, daerah Jawa dan Sumatra yang dipengaruhi vulkanisme tumbuh menjadi daerah dengan masyarajat yang hidup dari bercocok tanam. Variasi iklim dan jenis serta kesuburan tanah ini mengakibatkan masyarakat Indonesia majemuk dalam hal kultur, antara lain cara hidup. Macam-macam masyarakat multikultural 1. Masyarakat majemuk dengan kompetisi seimbang. Yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komonitas atau kelompok etnis yang memiliki kekuatan kompetitif seimbang.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 92

2. Masyarakat majemuk dengan mayoritas dominan. Yaitu masyarakat majemuk yang terdiri atas sejumlah komonitas atau kelompok etnis yang kekuatan kompetitifnya tidak seimbang.salah satunya yang merupakan kelompok mayoritas memiliki kekuatan yang lebih besar daripada lainnya. 3. Masyarakat majemuk dengan minoritas dominan. Yaitu masyarakat yang diantara komunitas atau kelompok etnisnya terdapat kelompok minoritas, tetapi mempunyai kekuatan kompetitif diatas yang lain. 4. Masyarakat majemuk dengan fragmentasi. Yaitu masyarakat yang terdiri atas sejumlah besar komunitas atau kelompok etnis dan tidak ada satu kelompok pun mempunyai posisi politik atau ekonomi yang dominan. Sifat-sifat masyarakat multikultural 1. Terjadi segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok sub kebudayaan yang berbeda satu dengan yang lain. 2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non komplementer. 3. Kurang mengembangkan konsensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar. 4. Secara relatif sering mengalami konflik diantara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. 5. Secara relatif tumbuh integrasi sosial diatas paksaan dan saling ketergantungan di bidang ekonomi. 6. Adanya dominasi politik oleh satu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.

Konflik Sosial dalam Masyarakat Multikultural Suatu masyarakat pada dasarnya merupakan kumpulan individu yang membentuk organisasi sosial yang bersifat kompleks. Di dalam organisasi sosial tersebut terdapat nilainilai, norma-norma, pranata-pranata sosial, dan peraturan-peraturan untuk bertingkah laku dalam kelompoknya. Meskipun setiap keelompok mempunyai norma, nilai, dan pranatanya sendiri, namun tidak semua anggota kelompok mengetahuinya sehingga tidak mungkin semua orang akan berperilaku sesuai dengan norma dan nilai-nilai yang ada. Selalu ada penyimpangan perilaku dalam kelompok tersebut. Kenyataan ini menyebabkan

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 93

ketidakselarasan dalam kelompok atau bahkan bisa mendatangkan pertentangan dalam masyarakat. Pada lingkup yang lebih luas seperti masyarakat Indoensia yang memiliki keragaman etnik, budaya, dan latar belakang, pertentangan di antara kelompok yang berbeda sangat mungkin terjadi baik yang skalanya kecil maupun besar. Oleh sebab itu dibutuhkan

kesadaran dan kemampuan dalam mengelola perbedaan dan keragaman yang terdapat di masyarakat agar keragaman dan perbedaan tersebut menghasilkan sesuatu yang positif. Salah satu caranya adalah dengan cara menjaga keharmonisan dan saling menghargai perbedaan agar tetap terdapat integrasi sosial yang harmonis. Namun demikian, kadangkala pertentangan-pertentangan tidak bisa dihindarkan. Pertentangan yang timbul dari perbedaanperbedaan tersebut bisa mendatangkan konflik. Pertentangan ini bisa saja disebabkan karena perbedaan tata cara, adat istiadat, suku bangsa, dan bahkan agama yang seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan. Padahal, apabila dikelola dan ditangani dengan baik bisa mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat. Masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman etnik, budaya, dan latar belakang sangat berpotensi untuk terlibat konflik. Oleh sebab itu, dibutuhkan kesadaran dan kemampuan untuk dapat mengelola konflik sesuatu yang positif, yaitu dengan cara mengendalikan dan menjaga integritas sosial yang harmonis. Meskipun menurut Parsons bahwa tidak semua sistem sosial yang terintegrasi secara sempurna, selalu ada kemungkinan ketidaksesuaian dalam memberikan prioritas pada nilainilai yang berbeda, interpretasi yang berbeda, konflik peran, ketegangan kebutuhan antara individu serta ketidakkonsistenan harapoan individu satu sama lain. Pengertian Konflik Konflik adalah percekcokan, perselisihan, pertentangan antara orang, tokoh, kelompok kekuatan karena suatu kepentingan. Ada beberapa jenis konflik: 1. Konflik batin yaitu konflik yang disebabkan oleh adanya dua atau lebih gagasan atau keinginan yang bertentangan menguasai diri individu sehingga mempengaruhi tingkah laku. 2. Konflik kebudayaan yaitu persaingan dua masyarakat sosial yang mempunyai kebduayaan berbeda / hampir sama. 3. Konflik sosial yaitu bertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan. Tetapi definisi yang sederhana itu tentu beelum memadai,karena konflik tidak saja tampak sebagai pertentangan fisik semata. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 94

proses sosial antara dua ornag atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Sebagai proses sosial, konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu yang terlibat dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan dan lains ebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakatpun yang tidak pernah mengalami konflik antaranggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Soerjono Soekanto meenyebut konflik sebagai pertentangan atau pertikaian, yaitu suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan, disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan. Sementara itu, konflik sosial bisa diartikan menjadi dua hal. Pertama, perspektif atau sudut pandang yang menganggap konflik selalu ada dan mewarnai segenap aspek interaksi manusia dan struktur sosial. Kedua, konflik sosial merupakan peertikaian terbuka seperti perang, revolusi,pemogokan, dan gerakan perlawanan. Para teoritisi konflik banyak berpedoman pada pemikiran Marx, meskipun memiliki pemikiran sendiri yang berlainan. Tokoh-tokoh teoritis konflik diantaranya, Ralf Dahrendorf dan Randall Collins. Dahrendorf berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah, yaitu konflik dan konsensus, sehingga tteori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian, teori konflik dan teori konsensus. Dahrendorf juga mengakui bahwa masyarakat takkan ada tanpa konsensus dan konflik yang menjadi persyaratan ssatu sama lain. Jadi kita takkan punya konflik jika tidak ada konsensus terlebih dahulu. Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki pluralitas berbagai bidang, multietnis, dan multi budaya, bahkan akhir-akhir ini memiliki multi partai dalam sistem politiknya. Dalam kondisi serba multi apalagi transisi dari era terpasang era Orba ke era kebebasan dimasa reformasi, konflik antar orang/kelompok/organisasi sangat sulit dihindari. Konflik bukan selalu mengandung makna disfungsional, tetapi justru dapat menjadi sesuatu yang fungsional, dalam arti konflik dapat menjadi wahana untuk mendorong terjadinya suatu perubahan menuju pada suatu kondisi yang lebih baik. Kita tidak boleh menciptakan konflik, tetapi tidak boleh menghindari konflik apabila muncul di muka kita. Jenis Konflik 1. Konflik yang bersifat destruktif, seperti konflik antar suku Dayak dan Melayu melawan suku Madura. Sebetulnya ini dipicu kecemburuan sosial. Dalam partai politik konflik karena adanya pendukung yang fanatisme, sehingga terjadi perilaku emosional dan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 95

irasional. Contoh : Peristiwa G 30vS / PKI tahun 1965, PKI memaksakan kehendak untuk menjadikan Indonesia Negara Komunis. 2. Konflik Fungsional, yaitu konflik yang menghasilkan perubahan atau konsensus baru yang bermuara ke perbaikan. Contoh perbedaan pendapat para cendekiawan dalam upaya mencari kebenaran. Penyebab Konflik (pendekatan sosiologi klasik) 1. Dinamika Masyarakat Menurut Aguste Comte dampak dari revolusi industri di Eropa mengubah model produksi tradisional menjadi model produksi modern menghasilkan produk secara masal telah berperan dalam mengubah struktur sosial masyarakat Eropa awal abad 19. Dengan datangnya para pemodal yang menguasai sistem produksi menyebabkan ketertindasan yang tidak punya modal, disini penyebab timbulnya konflik. 2. Konflik kelompok dan perjuangan kelas Menurut Ibnu Khaldim terjadinya konflik adanya perebutan kekuasaan oleh kelompokkelompok yang hidup di jaman itu. 3. Stratifikasi Sosial Menurut Max Weber konflik muncul dalam setiap entitas stratifikasi sosial. Setiap stratifikasi adalah posisi yang pantas diperjuangkan oleh setiap manusia dan kelompoknya. Weber membagi 3 (tiga) model kekuasaan: a. Kekuasaan berbasis pada karisma yang berpusat pada kualitas pribadi. b. Wewenang tradisional, yang diwarisi melalui adat kebiasaan dan nilai-nilai komunal. c. Wewenang berbasis pada aturan hukum resmi. Kekuasaan merupakan generator dinamika sosial yang mana individu dan kelompok dimobilisasi, yang pada saat bersamaan kekuasaan menjadi sumber dari hubungan konflik. a. Kesadaran kolektif dan gerakan sosial Menurut Marx individu bergerak atas dasar nilai sosial yang ekternal, diluar dirinyya dan memaksa. Melalui kesadaran kolektif, gerakan sosial bisa memunculkan berbagai ketegangan dan konflik. b. Sosialisasi dan konflik alamiah Menurut Jonathan Turner dan Simmel protes konflik adalah satu karakter dimanapun dari sistem sosial. Menurut Lewis Coser yang melahirkan teori fungsi-fungsi konflik, yaitu konflik secara alamiah memabwa struktur sosial pada kondisi yang lebih mapan dan baru. Di samping itu secara umum faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya konflik, antara lain: 1. Perbedaan individu Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 96

2. Perbedaan latar belakang kebudayaan 3. Perbedaan kepentingan 4. perubahan nilai yang cepat Ursula Lehr (1980) melihat penyebab konflik dari segi psikologi sosial, dimana dapat timbul dari konflik dengan orang tua sendiri, konflik dengan anak-anak sendiri, Konflik dengan sanak keluarga, konflik dengan orang lain, konflik suami isteri, konflik di sekolah, konflik dalam pemilihan pekerjaan, konflik agama, dan konflik pribadi. Multikultural merupakan cita-cita dalam upaya merajut kembali hubungan antarmanusia yang belakangan selalu hidup dalam suasana penuh dengan konflik. Adanya sebuah kesadaran yang muncul diperlukan kepekaan terhadap kenyataan kemajemukan, pluralitas bangsa, baik dalam etnis, agama, budaya, hingga orientasi politik. Secara sederhana, multikutural dapat dipahami sebagi suatu konsep keanekaragaman budaya dan kompleksitas kehidupan di dalamnya. Multikultural mengajak masyarakat dalam arus perubahan sosial, sistem tata nilai kehidupan menjunjung tinggi toleransi, kerukunan dan perdamaian bukan konflik atau kekerasan meskipun terdapat perbedaan sistem sosial di dalamnya. Ide keanekaragaman kebudayaan atau masyarakat multikultural, dapat dilihat sebagai sebuah kebijakan yang bertujuan meredam konflik dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan agama. Sebaliknya, kebijakan tersebut menonjolkan kekayaan, potensi-potensi pengembangan, dan kemajuan melalui ide keanekaragaman kebudayaan yang sejalan dan mendukung berlakunya prinsip demokrasi dalam kehidupan masyarakat. Berpijak pada kerangka pemikiran ini, maka multikultural diharapkan menjadi solusi konflik kemanusiaan selama ini. Oleh karena itu, wacana multikultural menjadi sangat penting sebagai upaya mencari bangunan masyarakat madani (civil society) yang berlandaskan pada demokrasi untuk tercapainya sebuah masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Integrasi Sosial dalam Masyarakat Multikultural Integrasi dapat diartikan sebagai suatu pembauran hingga menajdi kesatuan yangg utuh. Di samping itu ada beberapa pengertian yang terkait erat dengan integrasi sosial yaitu integrasi bangsa yaitu proses pernyataan berbagai kelompok budaya dan sosial ke dalam kesatuan wilayah dan pembentukan suatu identitas nasional. Kedua, integarsi kebudayaan yaitu proses penyesuaian antara unsur kebudayaan yang saling berbeda, ssehingga mencapai suatu keserasian fungsi dalam kehidupan masyarakat.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 97

Integrasi mengandung dua pengertian, yaitu pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan dalam suatu sistem sosial dan membuat suatu keseluruhan atau menyatukan unsur-unsur tertentu, khususnya dalam suatu masyarakat yang beranekaragam. Sedangkan dikatakan integrasi sosial jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan. Dari uraian di atas, dapat disederhanakan, bahwa integrasi sosial adalah proses penyesuaian diantara unsur-unsur yang berbeda dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat terdiri atas unsur-unsur yang berbedabeda, misalnya perbedaan kedudukan,sosial, rasa, etnik, agama, bahasa, dan lain-lain. Untuk dapat hidup saling berdampingan, diperlukan suatu penyesuaian antara satu dengan lainnya untuk mengurnagi perbedaan-perbedaan dan berusaha memupuk kesamaan yang terdapat diantara mereka dalam suatu kesatuan wilayah adat atau negara. Suatu integrasi sosial diperlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik berupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya. Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktural, sistem sosial senantaisa terintegarsi di atas dua landasan berikut : 1. Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus diantara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental. 2. Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliations). Setiap konflik yang terjadi diantara suatu kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari para anggota masyarakat terhadap beerbagai kesatuan sosial. Para penganut pendekatan konflik berpandangan bahwa suatu masyarakat terintegrasi atas paksaan (coercion) dari suatu kelompok atau satuan sosial yang lain. Selain itu, suatu masyarakat dapat terintegrasi karena adanya saling ketergantungan. Integrasi sosial adalah suatu proses yang terjadi secara bertahap sebagai lawan dari konflik (pertentangan) di dalam masyarakat. Para ilmuwan mengidentifikasi bentuk-bentuk ideal suatu integarsi sosial, yaitu meliputi asimialsi dan akulturasi. Dua konsep tersebut telah dijelaskan pada Bab 2. Syarat-syarat Integrasi Sosial Integrasi sosial akan terbentuk di masyarakat apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial dari suatu wilayah atau negara tempat mereka tinggal. Selain itu, sebagian besar masyarakat tersebut bersepakat mengenai struktur kemasyarakatan yang dibangun, termasuk nilai-nilai, norma-norma, dan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 98

yang lebih tinggi lagi adalah pranata-pranata sosial yang berlaku dalam masyarakatnya, guna mempertahankan keberadaan masyarakat tersebut. Selain itu, karakteristik yang dibentuk sekaligus menandai batas dan corak masyarakatnya. Menurut William F.Ogburn dan Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya suatu integrasi sosial adalah : a. Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhankebutuhan satu dengan lainnya. b. Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (consensus) bersama mengenai normanorma dan nilai-nilai sosial yang dilestarikan dan diajdikan pedoman dalam beerinteraksi satu dengan lainnya, termasuk menyepakati hal-hal yang dilarang menurut

kebduayaannya. c. Norma-norma dan nilai sosial itu berlaku cukuplama dan dijalankan secara konsisten serta tidak mudah mengalami perubahan sehingga dapat menjadi aaturan baku dalam melangsungkan proses interaksi sosial. Faktor-faktor Pendorong Integrasi Sosial Suatu integrasi sosial tidak terjadi dengan sendirinya tanpa adanya faktor-faktor pendorong untuk berlangsungnya tahap-tahap proses sosial tersbeut. Faktor-faktor tersebut adalah : a. Homogenitas kelompok Pada setiap masyarakat terdapat kemajemukan. Selain itu juga terdapat pengelompokan berdasarkan kelas-kelas sosial secara bertingkat. Namun, di beberapa kelompok masyarakat perbedaan-perbedaan itu lebih sedikit dan di dalam kelompok masyarakat lainnya kemajemukannya lebih terlihat bervariasi. Integrasi sosial akan mudah dicapai apabila tingkat kemajemukan suatu masyarakat itu kecil atau masyarakat berusaha untuk memperkecil keanekaragaman tersebut. b. Besar kecilnya kelompok Pada kelompok yang kecil biasanya tingkat kemajemukannya juga relatif kecil, sehingga akan mempercepat proses integrasi sosial. Selain itu kelompok-kelompok kecil biasanya melakukan hubungan-hubungan primer yang intensif sehingga komunikasi dan tukar menukar budaya akan semakincepat terjadi. Di sini berarti mereka akan mencari penyesuaian akan perbedaan-perbedaan dan kesamaan unsur kebudayaan mereka. c. Mobilitas geografis Manusia adalah makhluk yang senantiasa ingin melakukan perpindahan secara geeografis dari suatu tempat ke tempat lainnya. Penduduk yang datang atau keluar Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 99

dengans endirinya akan menyesuaikan diri dengan keadaan sosial budaya masyarakat yang ditujunya.

d. Efektivitas dan efisiensi komunikasi Komunikasi yang berlangsung di dalam masyarakat akan mempercepat integrasi sosial.

Seperti yang kita tahu, di Indonesia, terdapat berbagai macam kebudayaan yang berasal dari hampir seluruh sukubangsa. Hal ini mungkinkah terwujud sebagai masyarakat multikultural? Syarat terwujudnya masyarakat multikultural adalah apabila warganya dapat hidup berdampingan, toleransi dan saling menghargai. Nilai-nilai tersebut harus dijadikan pedoman untuk bertindak, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik maupun tindakan individual. Di antara prinsip mendasar dari demokrasi yang patut dikembangkan di Indonesia adalah kesetaraan derajat individu, kebebasan, toleransi terhadap perbedaan, konflik dan konsensus, hukum yang adil dan beradab serta perikemanusiaan. Kebudayaan Indonesia secara sempit dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum terbentuknya Bangsa Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia adalah merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Buddha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi. Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar dari kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi. Hambatan-hambatan yang potensial dimiliki oleh suatu masyarakat yang plural dan heterogen juga dapat ditentukan dalam banyak aspek lainnya. Masyarakat Indonesia yang Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 100

majemuk yang terdiri dari berbagai budaya, karena adanya berbagai kegiatan dan pranata khusus dimana setiap kultur merupakan sumber nilai yang memungkinkan terpeliharanya kondisi kemapanan dalam kehidupan masyarakatta pendukungnya, setiap masyarakat pendukung kebudayaan cenderung menjadikan kebudayaannya sebagai kerangka acuan bagi perikehidupannya yang sekaligus untuk mengukuhkan jati diri sebagai kebersamaan yang berciri khas. Sehingga perbedaan antar kebudayaan, justru bermanfaat dalam

mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut. Dalam kehidupan masyarakat multikultural, seperti yang sudah dijelaskan di atas memang sering tidak dapat dihindari berkembangnya faham-faham atau cara hidup yang didasarkan pada ethnosentrisme, primordialisme, aliran, sektarianisme, dan sebagainya. Selain etnosentrisme yang juga muncul dalam masyarakat multicultural adalah perilaku primordialisme. Primordialisme diartikan sebagai sebuah tindakan yang memperlakukan secara istimewa (memberi prioritas) orang-orang yang latarbelakag sukubangsa, agama, ras, aliran atau golongan yang sama dalam urusan publik. Misalnya ketika penguasa pemerintahan adalah dari suatu suku bangsa tertentu maka semua anak buah dan perlakuan istimewa harus diberikan juga kepada setiap orang yang berlatar belakang suku, agama atau ras yang sama dengan si penguasa. Contoh yang paling nyata adalah pada saat kepemimpinan Orde Baru di bawah Rezim Soeharto. Nepotisme dan kolusi banyak berkembang karena prinsip primordialisme. Meskipun saat ini negara kita juga mengalaimi hal yang sama dalam bentuk yang berbeda. Pluralisme masyarakat dalam tatanan sosial agama, dan suku bangsa telah ada sejak jaman nenek moyang, kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan secara damai merupakan kekayaan yang tak ternilai dalam khasanah budaya nasional karena diunggulkannya suatu nilai oleh seseorang atau sekelompok masyarakat, bukan berarti tidak dihiraukannya nilai-nilai lainnya melainkan kurang dijadikannya sebagai acuan dalam

bersikap dan berperilaku dibandingkan dengan nilai yang diunggulkannya. Sehingga permasalahan multikultural justru merupakan suatu keindahan bila indentitas masing-masing budaya dapat bermakna dan diagungkan oleh masyarakat pendukungnya serta dapat dihormati oleh kelompok masyarakat yang lain, bukan untuk kebanggan dan sifat egoisme kelompok apalagi bila diwarnai oleh kepentingan-kepentingan politik. Masalah yang biasanya dihadapi oleh masyarakat majemuk adalah adanya persentuhan dan saling hubungan antara kebudayaan suku bangsa dengan kebudayaan umum lokal, dan dengan kebudayaan nasional. Diantara hubungan-hubungan ini yang paling kritis adalah hubungan antara kebudayaan suku bangsa dan umum lokal di satu pihak dan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 101

kebudayaan nasional di pihak lain. Pemaksaan untuk merubah tata nilai atau upaya penyeragaman budaya seringkali dapat memperkuat penolakan dari budaya-budaya daerah, atau yang lebih parah bila upaya mempertahankan tersebut, justru disertai dengan semakin menguatnya Etnosentrime. Etnosentrisme secara formal didefinisikan sebagai pandangan bahwa kelompok sendiri adalah pusat segalanya dan kelompok lain akan selalu dibandingkan dan dinilai sesuai dengan standar kelmok sendiri. Etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya. kesetiakawanan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai dengan prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa yang lain. Orang-orang yang berkepribadian etnosentris cenderung berasal dari kelompok masyarakat yang mempunyai banyak keterbatasan baik dalam pengetahuan, pengalaman, maupun komunikasi, sehingga sangat mudah terprofokasi. Perlu pula dipahami bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada pada berbagai keterbatasan tersebut. Dalam masyarakat selalu bekerja dua macam kekuatan yaitu kekuatan yang ingin menerima perubahan dan kekuatan yang menolek adanya perubahan. Meskipun selalu terdapat dua kekuatan, namun sejarah memperlihatkan bahwa kaum konservatif cepat atau lambat akan terdesak untuk memberi tempat pada adanya perubahan. Proses itu seringkali tidak berjalan secara linier, tapi berjalan maju mundur. Konflik antara kaum progresif dengan kaum konservative maupun konflik diantara kaum progresif itu sendiri. Dengan pemahaman pada fenomena tersebut landasan sosial budaya masyarakat Indonesia yang bercorak pada masyarakat majemuk (plural society) perlu memperoleh perhatian dan dikaji kembali, karena ideology masyarakat majemuk lebih menekankan pada keanekaragaman suku bangsa akan sangat sulit untuk diwujudkan dalam masarakat yang demokratis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa maka yang nampak menyolok dalam kemajemukan masyarakat Indonesia adalah penekanan pada pentingnya kesukubangsaan yang terwujud dalam komunitas-komunitas suku bangsa, dan digunakannya kesukubangsaan tersebut sebagai acuan utama bagi jati diri individu. Ada sentimen-sentimen kesuku bangsaan yang memiliki potensi pemecah belah dan penghancuran sesama bangsa Indonesia karena masyarakat majemuk menghasilkan batas-batas suku bangsa yang didasari oleh stereotip dan prasangka yang menghasilkan penjenjangan sosial, secara primordial dan subyektif. Konflik-konflik yang terjadi antar etnik dan antar agama yang terjadi, sering kali berintikan pada permasalahan hubungan antara etnik asli setempat dengan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 102

pendatang, konflikkonflik itu terjadi karena adanya pengaktivan secara berlebihan jatidiri etnik untuk solidaritas dalam memperebutkan sumber daya yang ada. KOTA PENGETAHUAN Multikulturalisme dalam masyarakat multicultural Multikulruralisme pada dasarnya merupakan cara pandang yang mengakui dan menerima adanya perbedaan-perbedaan cara berfikir, cara berperasaan, dan cara bertindak dalam masyarakat yang bersumber dari adanya latar belakang sukubangsa, agama, ras, atau aliran yang berbeda. Multikulturalisme lahir karena adanya kesadaran bahwa di masa lalu hubungan di antara warga masyarakat dalam majemuk lebih conderung didasarkan pada primordialisme, ethnosentrisme dan aliran. Sehingga di dalam masyarakat majemuk terdapat potensi konflik di antara kelompok-kelompok atau golongan-golongan sosial yang ada. Hubungan yang demikian menimbulkan masalah dalam proses integrasi sosial dalam masyarakat majemuk. Lahirlah faham multikulturalisme yang lebih didasarkan pada pandangan tentang relativisme kebudayaan. Bahwa pada dasarnya setiap kelompok atau golongan sosial, baik itu sukubangsa, agama, ras, ataupun aliran memiliki ukuran-ukuran dan nilai-nilainya sendiri tentang suatu hal, meskipun tidak tertutup kemungkinan ditemukakannya common platform atau kesamaan di antara kelompok atau golongan-golongan yang saling berbeda itu.

Lembar Kerja BERPIKIR KRITIS Dalam masyarakat modern dewasa ini banyak bermunculan kelompok sosial berdasarkan kelas sosial tertentu, antara lain komunitas Motor Gede (Moge), kaum sosialita, hijabers community, dan berbagai komunitas yang dibentuk melalui jejaring online. Berdasarkan fenomena sosial tersebut, sebagai guru, analisislah kondisi tersebut dikaitkan dengan konflik dan integrasi sosial masyarakat?

Lembar Evaluasi 1. Bagaimana sebenarnya struktur kemajemukan bangsa Indonesia? 2. Mengapa struktur sosial masyarakat Indonesia rentan terjadinya konflik sosial? 3. Bagaimana gerakan separatisme selalu muncul di masyarakat majemuk? Jelaskan. 4. Identifkasikan upaya-upaya untuk mengatasi konflik sosial yang sering terjadi? 5. Bagaimana integrasi sosial di dalam masyarakat dapat terwujud?

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 103

BAB 6 PERUBAHAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

Standar Kompetensi: Memahami dampak perubahan sosial Kompetensi dasar 1. Menjelaskan proses perubahan sosial di masyarakat 2. Menganalisis dampak perubahan sosial terhadap kehidupan masyarakat Tujuan Pembelajaran 1. Menganalisis proses perubahan sosial di masyarakat 2. Mengidentifikasi faktor penghambat atau pendorong perubahan sosial 3. Menganalisis faktor penyebab perubahan sosial 4. Mengidentifikasi bentuk perubahan sosial 5. Mengidentifikasi pola perubahan sosial 6. Menganalisis dampak positif/negative perubahan sosial terhadap kehidupan masyarakat

Pengantar Teknologi hadir di tengah masyarakat sebagai reaksi atas keinginan manusia yang terus menerus mencari cara untuk mensejahterakan hidupnya. Ketidakpuasan akan kehidupan yang sudah ada membuat manusia mengembangkan inovasi dari berbagai macam teknologi supaya mempermudah kehidupannya. Dengan demikian kemunculan teknologi merupakan salah satu pendorong dari adanya perubahan sosial. Paul B Horton (1984) menyebutkan bahwa rasa bosan manusia membuat mereka selalu mengembangkan berbagai hal yang menyebabkan adanya perubahan dalam masyarakat. Hal ini diperkuat oleh semakin luasnya interaksi dan migrasi yang dilakukan oleh manusia ke berbagai penjuru dunia tidak sedikit pula ikut berpengaruh terhadap pola perilaku kehidupan manusia. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini membuat berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat. Gadget seolah menjadi barang kebutuhan primer dari masyarakat yang hampir menggeser kedudukan kebutuhan primer lainnya misalnya pangan. Hampir semua orang memiliki handphone yang sifatnya personal. Hampir semua orang terhubung dengan sistem jaringan internet melalui facebook, twitter dan fasilitas komunikasi dalam masyarakat cyber lainnya. Pertanyaannya adalah bagaimana perubahan sosial bisa begitu cepat diadopsi oleh masyarakat kita? apakah faktor pendorong dan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 104

penghambat sebuah perubahan sosial dalam masyarakat? Bagaimana perubahan sosial diteorikan oleh berbagai ilmuwan sosial? dan bagaimana dampak perubahan sosial dalam masyarakat kita? Pemahaman sosiologis harus dilakukan supaya tidak muncul labelisasi terhadap perilaku sosial tertentu. Bagian ini akan membahas persoalan tersebut satu per satu.

Konsep Perubahan Sosial Dalam Masyarakat Heraclitus pernah berkata bahwa sesuatu yang tetap di dunia itu adalah perubahan. Artinya perubahan selalu terjadi dalam kehidupan masyarakat kita baik sejak dulu maupun sekarang. Di berbagai belahan dunia, masyarakat modern maupun tradisional pasti tersentuh dengan perubahan. Tidak ada satu pun upaya bersejarah yang berhasil dalam menahan perubahan sosial dan menghentikan pengaruh asing dapat bertahan lama. Perubahan sosial dan budaya berlangsung terus menerus dan tidak dapat dihentikan. Hanya tingkat kecepatannya saja yang berbeda-beda. Paul B. Horton (1984:208) mengargumentasikan bahwa terdapat perbedaan pengertian antara perubahan sosial (social change) dan perubahan budaya (cultural change). Perubahan sosial merupakan perubahan dalam segi struktur sosial dan hubungan sosial, sedang perubahan budaya mencakup perubahan dalam segi budaya masyarakat. Perubahan sosial antara lain meliputi perubahan dalam segi distribusi kelompok usia, tingkat pendidikan rata-rata, tingkat kelahiran penduduk, penurunan kadar rasa kekeluargaan dan informalitas antar tetangga karena adanya migrasi individu dan persoalan gender. Perubahan budaya meliputi antara lain penemuan dan penyebaran inovasi dari berbagai teknologi masyarakat, penambahan kata-kata baru dalam bahasa kita, perubahan konsep tata susila dan moralitas dan munculnya kesenian-kesenian baru. Namun Horton mengakui bahwa sebenarnya kedua konsep tersebut timpang tindih dan terkadang digunakan secara bersamaan sehingga perbedaannya tidaklah terlalu diperhatikan. Kedua istilah tersebut juga seringkali ditukarpakaikan karena memang kedua konsep tersebut satu sama lain saling melengkapi. Ada banyak ahli yang mendefinisikan tentang perubahan sosial, diantaranya adalah: 1. Selo Soemardjan, mendefinisikan perubahan sosial adalah perubahan pada lembagalembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompokkelompok dalam masyarakat. 2. Kinsley Davis, mendefinisikan perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 105

Teori Perubahan Sosial Ada berbagai argumentasi teoritik yang berbicara tentang bagaimana sebuah perubahan bisa terjadi dan berproses di dalam sebuah masyarakat. 1. Teori Evolusioner Teori evolusioner berargumentasi bahwa ada tahapan yang arahnya tetap dalam perubahan sosial yang dilewati oleh setiap masyarakat. Semua masyarakat melewati urutan atau tahapan-tahapan tertentu dalam perkembangannya seiring dengan proses perubahan yang ada. Tahapan awal dimulai dari tahapan masyarakat yang tradisional kemudian perlahan-lahan bergerak menuju pada tahapan masyarakat modern. Teori evolusioner juga berpendapat bahwa manakala tahap perkembangan masyarakat terakhir telah dicapai maka pada saat itu perubahan evolusioner pun berakhir. Gambar bagaimana proses teori evolusioner dalam memahami perubahan sosial adalah sebagai berikut:

Gambar 6.1. Perspektif evolusioner dalam perubahan sosial

Semua masyarakat bergerak dalam satu garis linear untuk menuju pada satu titik tertentu dalam peradaban kebudayaan manusia dimulai pada tahap primitive (savage), tradisional sampai modern. Untuk melihat modern atau tradisionalnya sebuah masyarakat maka dilihat dari sampai dimana tingkatan kebudayaan masyarakat tersebut. Acuan yang seringkali digunakan adalah sistem tekonologi yang digunakan sebagai peralatan hidup. Suku-suku terasing yang hidup di pedalaman Irian atau Kalimantan masih mengantungkan hidupnya pada hutan. Tempat hidup mereka di hutan sehingga mereka tidak banyak tersentuh dengan pendidikan modern. Akibatnya kehidupan mereka cenderung tradisional karena tidak mengenal berbagai teknologi yang bisa digunakan untuk keperluan hidup. Lain halnya dengan masyarakat di daerah perkotaan yang sudah terbiasa dengan kehadiran berbagai macam teknologi canggih. Dalam perspektif evolusioner masyarakat bergerak perlahan melewati tahapan tradisional sampai modern. Apabila ada sebuah masyarakat yang sampai Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 106

saat ini masih tradisional maka diyakini bahwa masyarakat tersebut belum sampai pada tahapan modern dan suatu saat kelak tahapan tersebut akan dilalui juga oleh masyarakat yang bersangkutan. Namun ahli evolusi percaya bahwa setiap masyarakat memiliki kemampuan yang berbeda dalam melewati setiap tahapan perkembangan masyarakat sehingga ada beragam masyarakat yang memiliki tingkat perkembangan yang berbeda. Ibarat kita berjalan menaiki sebuah tangga menuju lantai berikutnya dalam sebuah gedung maka beragam faktor akan mempengaruhi kecepatan kita menaiki anak tangga tersebut. Orang yang berusia lanjut akan lebih lambat dibandingkan dengan anak muda karena tenaga yang dimiliki untuk menaiki tangga juga berbeda. Orang tua harus berpegangan pada sisi tangga dan berjalan perlahan supaya tidak jatuh sementara anak muda menaiki tangga dengan berlari. Dengan demikian waktu yang dibutuhkan untuk sampai pada tahapan puncak anak tangga juga berbeda. Dalam konteks cara berpikir masyarakat juga mengalami perubahan. Aguste Comte (1798-1857) yang juga merupakan pendiri Sosiologi melihat adanya tiga tahap perubahan yang dilakukan oleh masyarakat dalam memahami fenomena yakni: 1. Tahap Teologis, Tahap ini adalah ketika fenomena sosial dijelaskan dalam konteks entitas supranatural seperti roh-roh dan Tuhan. Cara berpikir masyarakat mencerminkan bagaimana kekuatan supranatural memainkan peranan penting dalam kehidupan. Contohnya misalnya ketika orang sakit dibawa pergi berobat ke dukun karena penyakit yang diderita oleh si sakit dianggap karena adanya gangguan roh-roh halus. Ketika terjadi bencana alam baik itu banjir maupun gempa bumi maka orang berpikir bahwa sang penguasa semesta sedang murka karena itu perilaku yang muncul adalah membuat sesaji dan sebagainya. 2. Tahap Metafisika Tahap ini merupakan tahap peralihan dimana kepercayaan terhadap unsure adikodrati digeser oleh prinsip-prinsip abstrak yang berperan sebagai dasar perkembangan budaya. Penjelasan atas sebuah fenomena dibangun dalam konsep-konsep yang abstrak, seperti hukum moral. Contoh cara berpikir demikian misalnya ketika bencana alam dimaknai sebagai akibat dari dekadensi moral masyarakat. 3. Tahap Positivis Tahap ini adalah tahap cara berpikir ilmiah dimana masyarakat diarahkan oleh kenyataan yang didukung oleh prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Penjelasan atas suatu fenomena dinyatakan dalam konteks hukum-hukum yang menghubungkan fakta satu sama lain. Bencana alam lebih dimaknai karena berbagai fakta sosial yang menyebabkan hal Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 107

tersebut terjadi. Banjir di kota-kota besar seperti Jakarta lebih dipahami sebagai sebuah bentuk tata kota yang salah karena tidak ada lahan resapan bagi air hujan. Fakta ini juga diperparah dengan tidak berfungsinya sungai sebagai penampung air hujan karena masyarakat membuang sampah secara sembarangan di sungai. Lewis Henry Morgan (1818-1881) seorang ahli Antropologi Amerika, melihat adanya tujuh tahap teknologi yang dilalui oleh masyarakatdari tahap perbudakan hingga tahap peradaban. Sementara itu JJ. Bachoffen seorang Antropolog klasik menjelaskan bagaimana sistem kekerabatan masyarakat terbangun melalui mekanisme evolusioner yakni dari tahapan promiskuitasmartriarchatpatriarchatdan parental. Namun teori

evolusioner memiliki kelemahan tertentu yakni : 1. Data yang menunjang penentuan tahap masyarakat dalam rangkaian tahap seringkali tidak cermat; dengan demikian tahap suatu masyarakat ditentukan sesuai dengan tahap yang dianggap paling cocok dengan teori 2. Urutan tahap tidak sepenuhnya tegas, karena beberapa masyarakat mampu melangkahi beberapa tahap antara dan langsung ke tahap puncak, serta beberapa masyarakat lainnya bahkan mundur ke tahap pendahulu 3. Pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial besar akan berakhir ketika masyarakat telah mencapai tahap akhir tampaknya merupakan pandangan yang naf Meskipun beragam kritik dilontarkan karena secara umum teori evolusioner dianggap bias eropasentris karena tahap modern selalu diasosiasikan dengan keberadaan budaya Eropa yang memiliki beragam kompleksitas namun teori evolusi masih mengandung banyak deskripsi yang cermat. menurut Paul B. Horton (1984) kebanyakan masyarakat telah beralih dari masyarakat sederhana ke masyarakat kompleks. Sampai pada batas-batas tertentu memang ada tahap-tahap perkembangan dan pada setiap tahap berbagai unsure budaya terkait ke dalam sistem yang terintegrasi. 2. Teori Siklus Para penganut teori siklus juga melihat adanya sejumlah tahap yang harus dilalui oleh sejumlah masyarakat, tetapi mereka berpandangan bahwa proses peralihan masyarakat bukannya berakhir pada tahap terakhir yang sempurna, melainkan berputar kembali ke tahap awal untuk peralihan selanjutnya seperti gambar 6.2.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 108

Gambar 6.2. Teori Siklus dalam Perubahan sosial

Pitirim Sorokin (1889-1968) berpandangan bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir yakni: a. Kebudayaan Ideasional, yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap unsure adikodrati (supernatural) b. Kebudayaan Idealistis, dimana kepercayaan terhadap unsure adikodrati dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakta ideal c. Kebudayaan sensasi, dimana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup Meskipun teori siklus berkembang dalam analisa sosial untuk melihat perubahan sosial masyarakat namun tak urung juga menemui kelemahan. Teori siklus dicurigai tidak mendasarkan diri pada data-data yang akurat karena begitu banyaknya hal yang harus diidentifikasi. Selain itu, teori siklus tidak menjelaskan mengapa peradaban mengalami perubahan dan mengapa beberapa masyarakat yang berbeda memberikan respon terhadap suatu tantangan secara berbeda pula. 3. Teori Fungsional dan Konflik Para penganut teori fungsional menerima perubahan sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap mengacaukan keseimbangan masyarakat. proses pengacauan itu berhenti pada saat perubahan tersebut telah diintegrasikan ke dalam kebudayaan. Perubahan yang ternyata bermanfaat (fungsional) diterima dan perubahan lain yang terbukti tidak berguna (disfungsional) ditolak. Sementara itu teori konflik lebih menilai bahwa yang konstan adalah konflik sosial, bukannya perubahan. Perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut. Karena konflik berlangsung secara terus menerus maka perubahan pun demikian adanya. Perubahan menciptakan kelompok baru dan kelas sosial baru. Konflik antar kelompok dan antar kelas sosial melahirkan perubahan berikutnya. Setiap perubahan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 109

tertentu menunjukkan keberhasilan kelompok atau kelas sosial pemenang dalam memaksakan kehendaknya terhadap kelompok atau kelas sosial yang lain.

Proses Perubahan Sosial Rogers & Shoemaker (1987) menjelaskan bahwa perubahan sosial terdiri dari tiga tahap berurutan yakni (1) Invensi atau proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan, (2) Difusi, yakni proses dimana ide-ide baru itu dikomunikasikan ke dalam sistem sosial, (3) konsekwensi yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi. Paul B. Horton (1984) menjelaskan juga bahwa ada tiga hal yang berpengaruh dalam proses perubahan sosial yakni penemuan, invensi dan difusi. Penemuan menambahkan sesuatu yang baru pada kebudayaan karena sebuah hal tersebut sudah lama ada namun hal tersebut baru menjadi bagian dari kebudayaan pada saat hal tersebut ditemukan. Misalnya diintoruksikannya WC pada sebuah masyarakat. Penemuan WC sebagai salah satu sanitasi dan kebersihan memang sudah lama ada namun mungkin baru diintroduksikan dan dikenalkan pada sebuah masyarakat pedesaan tertentu sehingga WC menjadi hal yang baru. Penemuan baru menjadi suatu faktor dalam perubahan sosial jika hasil penemuan tersebut didayagunakan. Atau dengan kata lain penemuan baru menjadi suatu faktor dalam perubahan sosial jika penemuan tersebut diterapkan untuk suatu kegunaan baru. Invensi seringkali disebut sebagai suatu kombinasi baru atau cara penggunaan baru dari pengetahuan yang sudah ada. Invensi lebih merupakanide pengkombinasian unsur-unsur yang sudah ada demi suatu kegunaan yang belum pernah muncul sebelumnya. Penemuan prinsip roda mungkin bukanlah hal yang baru namun ketika itu dikombinasikan dengan hewan ternak dan pembuatan gerobak maka muncullah alat transportasi angkutan yang baru. Ketika prinsip roda dikaitkan dengan unsur yang lain maka jadilah kincir air pembangkit tenaga listrik di beberapa daerah pegunungan. Dewasa ini semakin banyak invensi yang ditemukan melalui upaya tim penelitian pada perusahaan besar, badan pemerintah, dan laboratorium universitas. Difusi diartikan sebagai proses penyebaran sebuah unsur kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Meskipun masyarakat bisa melakukan invensi dan menemukan berbagai hal baru namun banyak perubahan sosial disebabkan karena adanya kontak dengan komunitas atau budaya yang lain atau merupakan hasil dari adanya proses difusi. Difusi terjadi manakala beberapa masyarakat saling berhubungan. Penggunaan Blackberry yang awalnya hanya dikonsumsi oleh masyarakat Amerika mulai menyebar dan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 110

bahkan menjadi trend di kalangan masyarakat Indonesia. Ketika Obama berkampanye untuk pemilihan presiden secara tidak sengaja media menyorot tangan Obama yang memegang handphone dengan model blackberry. Sontak model telepon gengam ini menjadi laris manis karena diidentikkan penggunaanya dengan Obama yang pada saat itu menjadi ikon demokrasi amerika. Masyarakat Indonesia mengkonsumsi blackberry karena pengaruh dari media massa.

Faktor Penghambat dan Pendorong Perubahan Sosial Tidak semua perubahan diterima oleh masyarakat karena mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokalitas masyarakat yang bersangkutan. Ada masyarakat yang begitu sulit menerima inovasi sehingga masyarakat tersebut nampak tidak mau berubah. Namun di sisi lain ada banyak kelompok sosial yang dengan mudahnya dapat menyerap berbagai macam inovasi dan cepat beradaptasi dengan berbagai perubahan sosial. Faktor penghambat perubahan sosial misalnya adalah: 1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain 2. Adanya adat atau kebiasaan yang sulit diubah 3. Adanya kepentingan yang tertanam kuat 4. Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat 5. Rasa takut akan terjadi kegoyahan pada integrasi kebudayaan 6. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis 7. Sikap masyarakat yang tradisional 8. Prasangka terhadap hal-hal baru dan asing Sedangkan faktor pendorong perubahan sosial misalnya adalah : 1. Sistem pendidikan formal yang maju 2. Sikap menghargai karya orang lain dan keinginan untuk maju 3. Sistem terbuka dalam lapisan masyarakat 4. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang 5. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu 6. Penduduk yang heterogen 7. Orientasi ke masa depan yang lebih baik 8. Adanya kontak dengan kebudayaan lain Faktor Penyebab Perubahan Sosial

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 111

Bagaimana masyarakat bisa mengalami perubahan? Berbagai hal menjadi penyebab perubahan sosial dalam masyarakat seperti yang akan diuraikan berikut ini. Faktor Intern Masyarakat 1. Adanya penemuan baru 2. Bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk 3. Terjadinya pemberontakan atau revolusi 4. Pertentangan dalam masyarakat Faktor Ekstern Masyarakat 1. Terjadinya bencana alam 2. Masuknya kebudayaan dari masyarakat lain 3. Peperangan dengan Negara lain Bentuk Perubahan Sosial Ada tiga macam bentuk perubahan sosial yang bisa ditemukan dalam masyarakat yakni: 1. Perubahan cepat dan perubahan lambat (berdasar proses waktu) Perubahan cepat disebut dengan revolusi yakni perubahan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat. Misalnya revolusi Industri yang membuat berdirinya berbagai macam pabrik di berbagai Negara industry dan mengubah berbagai sendi kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran pabrik membuat perempuan-perempuan yang awalnya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga mulai beralih kerja di ranah publik dengan menjadi buruh pabrik. Hal ini kemudian menggeser pola pengasuhan anak yang semula dibebankan kepada ibu menjadi dialihkan pada pihak-pihak lain misalnya nenek, kerabat lain atau tempat penitipan anak. Syarat-syarat terjadinya revolusi adalah sebagai berikut: a. Harus ada keinginan dari masyarakat untuk mengadakan suatu perubahan b. Adanya pemimpin yang mampu memimpin masyarakat untuk mengadakan perubahan c. Adanya pemimpin yang dapat menampung keinginan atau aspirasi dari masyarakat dan merumuskannya menjadi program kerja d. Ada tujuan konkret yang dicapai e. Harus ada momentum yang tepat untuk memulai gerakan Sementara itu, perubahan lambat atau biasa diistilahkan dengan evolusi merupakan perubahan yang dilalui oleh masyarakat setahap demi setahap untuk mencapai suatu tahap tertentu yang dianggap paling akhir. Misalnya perubahan sistem mata pencaharian masyarakat dari tradisional ke modern. Dijelaskan dalam berbagai argument Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 112

evolusionistik bahwa masyarakat awalnya hidup dari berburu dan meramu, mereka hidup berpindah-pindah sehingga pertanian yang dikembangkan pada awalnya adalah sistem slash and burn. Setelah itu muncul sistem pertanian menetap yang dikaitkan dengan pemeliharaan binatang ternak. Munculnya sistem pasar dan masuknya sistem uang dalam masyarakat mengganti kehidupan masyarakat yang semula subsistensi menjadi masyarakat produksi. Hasil pertanian dan peternakan tidak saja dikonsumsi oleh keluarga namun dipertukarkan dengan barang lain yang tidak bisa diproduksi sendiri. Lambat laun sistem industry yang masuk dalam masyarakat mengubah sistem mata pencaharian penduduk. Semua proses ini bertahap dan mengalami perubahan yang lambat, tidak revolusioner. 2. Perubahan kecil dan perubahan besar Perubahan kecil terjadi jika pengaruh yang ditimbulkannya tidak berdampak luas dalam masyarakat, misalnya perubahan mode gaya rambut atau gaya pakaian dari tahun ke tahun. Sementara itu perubahan besar diartikan sebagai perubahan yang terjadi jika pengaruh yang ditimbulkannya berdampak luas dalam masyarakat, misalnya masuknya proses industrialisasi dalam sebuah masyarakat. Masuknya sistem intensifikasi pertanian dan berbagai macam teknologi pertanian menggeser solidaritas sosial masyarakat yang tadinya dibangun berdasarkan gotong royong menjadi sistem upah karena semua pengerjaan lahan dilakukan dengan mesin-mesin yang disewa dan dijalankan oleh tenaga-tenaga terampil yang diupah. 3. Perubahan yang direncanakan (dikehendaki) dan yang tidak direncanakan (tidak dikehendaki) Perubahan yang direncanakan adalah sebuah perubahan yang diproses melalui suatu program atau rencana tertentu agar menghasilkan suatu perubahan tertentu. Misalnya program keluarga berencana untuk menekan laju pertumbuhan penduduk sekaligus untuk menghasilkan keluarga sejahtera. Program Wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia ditujukan untuk memberantas buta huruf, menaikkan indeks pembangunan manusia yang tujuan akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan bangsa. dalam perubahan yang direncanakan ada pihak-pihak yang menghendaki adanya perubahan dan ada agent of change yakni pelaku perubahan. Perubahan yang tidak direncanakan adalah perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki oleh masyarakat yang bersangkutan, berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan. Contohnya adalah ketika terjadinya krisis moneter Indonesia tahun 1998 Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 113

yang membuat banyak perusahaan bangkrut dan PHK masal tak terhindarkan. Pengangguran menjadi meningkat dan masyarakat stress karena tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan sementara kebutuhan terus melonjak. Bunuh diri, perampokan dan aksi anarkis lainnya banyak terjadi. 4. Perubahan struktural dan perubahan proses Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Contohnya adalah perubahan sistem pemerintahan dari kerajaan menjadi republik. Perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya tidak mendasar yakni jika perubahan tersebut hanya menyempurnakan dari perubahan yang sudah ada sebelumnya. Misalnya adalah perubahan kurikulum pendidikan kita dari KTSP menjadi kurikulum KBK.

Dampak Perubahan Sosial Setiap perubahan sosial apapun bentuknya, bagaimanapun prosesnya pastilah memiliki dampak-dampak tertentu yang muncul di masyarakat. Dampak yang ditimbulkan bisa berupa dampak positif dan negative yang tentu saja akan sangat bergantung pada bagaimana kita menilai dan menghadapi perubahan sosial tersebut. suatu perubahan sosial akan berdampak positif apabila perubahan tersebut bisa diterapkan dalam masyarakat dan berhasil guna atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun perubahan sosial bisa berdampak negatif ketika penerapannya tidak sesuai dengan tujuan yang dikehendaki atau ketidaksiapan masyarakat menerima sebuah hal baru menjadikan hal tersebut berfungsi tidak sebagaimana mestinya. Dengan demikian sebuah bentuk perubahan sosial, misalnya inovasi teknologi bagaikan sekeping mata uang dimana dampak positif dan negatif menyatu di dalamnya. Handphone bisa memberikan dampak positif berupa kemudahan dan kemurahan dalam teknologi komunikasi dan informasi. Namun di sisi lain handphone juga menimbulkan perilaku-perilaku yang tidak sepatutnya dilakukan misalnya penipuan melalui SMS, penyebaran pornografi dalam bentuk visual sampai budaya konsumsi yang berlebihan. Dampak positif perubahan sosial antara lain: 1. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat Berbagai penemuan baru yang diintroduksikan dalam masyarakat membuat kesejahteraan meningkat. Di Sumba misalnya, masuknya program air bersih dari Danone dan Aqua yang membuat sumur dan sanitasi membuat masyarakat tidak lagi kesulitan akan air bersih dan tidak mudah terjangkit penyakit seperti kondisi sebelumnya. 2. Kemudahan hidup karena berbagai kecanggihan teknologi Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 114

Masyarakat dimudahkan dengan kehadiran teknologi sehingga berbagai macam pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah. 3. Efisiensi Kemudahan kemudian mengakibatkan adanya efisiensi dalam berbagai hal, salah satunya adalah efisiensi waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan suatu hal. Komunikasi dapat dilakukan secara personal, cepat, mudah dan murah melalui berbagai fasilitas yang ada di handphone maupun jaringan internet. 4. Modernisasi masyarakat Adapun dampak negatif terjadinya perubahan sosial, antara lain; 1. Munculnya pencemaran lingkungan dari berbagai kecanggihan teknologi 2. Melemahnya solidaritas sosial yang berganti dengan menguatnya individualisme 3. Materialisme kebendaan yang mendorong pada praktik konsumerisme 4. Dekadensi moral dan berbagai macam perilaku menyimpang akibat dari ketidaksiapan budaya masyarakat menerima perubahan sosial yang baru 5. Disintegrasi bangsa 6. Gaya hidup praktis Semua perubahan sosial memberikan dampak positif dan negatif. Masyarakat tidak secara sama mengapresiasi dan memanfaatkan perubahan sosial yang masuk dalam komunitas mereka sehingga definisi positif dan negatif perlu dikonstruksi ulang dengan melihat bagaimana kenyataan yang terjadi di masyarakat. Relativisme kebudayaan harus dipegang untuk mendefinisikan apakah sebuah perubahan sosial memang memiliki dampak negatif bagi masyarakat atau tidak apabila di sebagian masyarakat lain justru menimbulkan dampak positif. POJOK PENGETAHUAN Seorang Antropolog Herbert Spencer mengargumentasikan adanya Seleksi Alam dalam proses perubahan sosial yang bersifat evolusioner. Bagi Spencer, di dalam masyarakat ada serangkaian seleksi yang membuat manusia bisa tetap bertahan hidup dan beradaptasi dengan berbagai perubahan sosial yang ada. Manusia yang bisa beradaptasi akan mampu hidup dalam sebuah masyarakat sementara yang tidak mampu Lembar Kerja beradaptasi akan tersingkir. 1. Diskusikanlah dengan teman sekelompok bentuk perubahan apakah yang mendasari penggunaan berbagai alat teknologi komunikasi dan informasi canggih dewasa ini (blackberry, i-pad, i-phone, tablet pc) oleh masyarakat kita. 2. Wawancarailah seorang temanmu tentang kehidupannya dan analisis serta ambillah kesimpulan perubahan sosial apa yang telah dia lakukan selama hidupnya berkaitan dengan penggunaan teknologi. Tulislah dalam sebuah Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 deskripsi analitik pendek (2 3 halaman).

Hal 115

Lembar Evaluasi 1. Bagaimana konsep perubahan sosial dalam masyarakat? jelaskan dengan disertai contoh. 2. Bagaimana teori siklus dapat menjelaskan perubahan kehidupan modern, jelaskan dengan contoh? 3. Deskripsikan faktor penyebab terjadinya perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat pedesaan? 4. Mengapa perubahan sosial dalam masyarakat dapat terjadi? jelaskan dengan disertai contoh 5. Bagaimana dampak perubahan sosial bagi masyarakat? Jelaskan dengan contoh.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 116

BAB 7 LEMBAGA SOSIAL

Standar Kompetensi: Memahami lembaga sosial Kompetensi Dasar 1. Menjelaskan tujuan lembaga sosial 2. Mengklasifikasikan tipe-tipe lembaga sosial 3. Mendeskripsikan peran dan fungsi lembaga sosial Tujuan Pembelajaran 1. Menjelaskan proses terbentuknya lembaga sosial 2. Mendeskripsikan tipe-tipe lembaga sosial yang ada dalam masyarakat 3. Mendeskripsikan peran-peran lembaga sosial dalam masyarakat

Pengantar Manusia pada dasarnya selalu hidup di dalam suatu lingkungan yang serba terlembaga. Artinya segala tindak tanduk atau perilaku manusia senantiasa akan diatur menurut cara-cara tertentu yang telah disepakai bersama. Di dalam kehidupan bermasyarakat, jumlah lembaga sosial yang ada relatif beragam dan jumlahnya terus berkembang seriing dengan dinamika perkembangan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Terciptanya lembaga sosial pada dasarnya tidak berbeda dengan norma-norma sosial karena lembaga sosial sebenarnya produk dari norma sosial tersebut. Tanpa adanya lembaga sosial, kehidupan manusia nyaris bisa dipastikan bakal porak poranda karena jumlah prasarana dan sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia relatif terbatas, sementara jumlah warga masyarakat yang membutuhkan justru semakin lama semakin banyak. Untuk itu sangat penting dalam kajian sosiologi ini mempelajari lembaga sosial. Dalam kegiatan belajar ini, akan mempelajari tentang pengertian, kharakteristik serta bentuk dasar dari lembaga sosial yang ada dalam masyarakat. Pengertian Lembaga Sosial Setiap kehidupan masyarakat akan muncul adanya berbagai wadah aktivitas hidup. Wadah aktivitas hidup tersebut disebut dengan lembaga. Manusia beraktivitas dalam rangka hidup bersama atau berkelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian lembaga sosial (social institution) merujuk pada dua pengertian yaitu sistem nilai dan norma sosial

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 117

serta bentuk atau organ sosial. Para sosiolog mendefinisikan lembaga sosial berdasarkan aspek mana yang lebih utama. Pendapat tersebut antara lain: a. Paul Norton dan Chester L Hunt Lembaga sosial adalah sistem norma-norma dan hubungan hubungan penyatuan nilai dan prosedur-prosedur tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. b. Peter L Berger Lembaga sosial adalah prosedur yang menyebabkan perbuatan manusia ditekankan oleh pola tertentu dan dipaksa bergerak sesuai dengan keinginan masyarakat. c. Mayor Polak Lembaga sosial adalah kompleks atau sistem peraturan dan adat istiadat yang mempertahankan nila nilai penting. d. W. Hamilton Lembaga sosial adalah tata cara kehidupan kelompok dengan derajat sanksi. e. Robert Mac Iver dan CH page Lembaga sosial adalah prosedur atau tata cara untuk mengatur hubungan antar manusia dalam suatu kelompok masyarakat. f. Leopold Von Wiese dan becker Lembaga sosial adalah jaringan proses hubungan antar manusia dan kelompok yang berfungsi memelihara hubungan tersebut sesuai minat dan kepentingan individu dan kelompok. g. Koentjaraningrat Lembaga sosial adalah sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas memenuhi komplesitas khusus manusia. h. Soerjono Soekanto Lembaga sosial adalah himpunan norma berkisar dari segala tingkatan kebutuhan pokok manusia. Dari pengertian-pengertian diatas diketahui bahwa lembaga sosial berkaitan dengan: a. Seperangkat norma yang saling berkaitan, bergantung dan mempengaruhi. b. Seperangkat norma yang dapat dibentuk, diubah dan dipertahankan sesuai dengan kebutuhan hidup. c. Seperangkat norma yang mengatur hubungan antar warga masyarakat agar dapat berjalan tertib dan teratur. Lembaga sosial merupakan sekumpulan norma yang tersusun secara sistematis yang terbentuk dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia yang bersifat khusus. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 118

Lembaga sosial sebagai sistem gagasan terorganisasi yang ikut serta dalam perilaku. Untuk memfungsikan sekumpulan norma atau gagasan perilaku, setup lembaga sosial memiliki beberapa asosiasi atau organisasi. Hubungan antara lembaga sosial dan asosiasi dijelaskan pada Tabel 7.1. Tabel 7.1. Hubungan Lembaga Sosial dan Asosiasi Lembaga Perkawinan Pendidikan Agama Pemerintahan Perekonomian Karakteristik Lembaga Sosial Secara empirik lembaga sosial (local) yang ada dan berkembang di masyarakat pada kenyataannya ada yang bersifat formal dan informal. Karakateristik lembaga yang bersifat informal terbentuk atas kehendak masyarakat yang bersangkutan, manajemennya lemah, dinamika aktivitas tidak teratur, terbentuk atas norma dan nilai yang dikembangkan atas dasar trust, pengurus dipilih lembaga bersifat monoton, dan menolak campur tangan pihak luar. Contoh lembaga lumbung padi di pedesaan dan lembaga sinoman. Karakteristik lembaga sosial yang bersifat formal adalah terbentuk atas campur tangan pihak luar (pemerintah). Terdapat dasar hukum untuk membentuk lembaga secara legal, pengurus dipilih atas pertimbangan kebutuhan dan masa kepengurusannya jelas, struktur bersifat formal dan mudah dipengaruh oleh pihak luar (hegemoni). Misalnya karang taruna. Secara umum, lembaga sosial memiliki karakteristik: a. Memiliki simbol sendiri, sebagai tanda kekhasan atau ciri khusus lembaga. Misalnya lembaga hukum simbolnya timbangan b. Memiliki tanda tertib dan tradisi, sebagai panutan secara tertulis dan tidak tertulis oleh anggotannya. Misalnya lembaga keluarga ada aturan menghormati anggota keluarga yang lebih tua. c. Usianya lebih lama sehingga terjadi pewarisan dari generasi ke generasi. d. Memiliki alat kelengkapan untuk mewujudkan tujuan lembaga. e. Memiliki idiologi sistem gagasan mendasar yang dimiliki bersama, dianggap ideal oleh anggotanya. f. Memiliki tingkat kekebalan/daya tahan, tidak akan lenyap begitu saja. Contoh : kurikulum pendidikan dan adat istiadat. Asosiasi atau organisasi Kantor urusan agama Perguruan Tinggi, SMA, SMP, SD Masjid, gereja, Pura, wihara Partai, Parlemen PT, Firms, CV

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 119

Sedangkan JL. Gillin dan JP. Gillin memberikan karakteristik lembaga sosial sebagai berikut: a. Lembaga sosial mempunyai tradisi tertulis dan atau tidak tertulis yang merumuskan tujuan, tata-tertib dan lain-lain. b. Lembaga sosial merupakan suatu organisasi pola-pola pemikiran dan perikelakuan yang terwujud melalui aktivitas masyarakat dan hasil-hasilnya. c. Lembaga sosial memiliki tingkat kekekalan tertentu, umurnya lama dan melalui proses yang panjang. d. Setiap lembaga sosial mempunyai satu atau beberapa tujuan. e. Setiap lembaga sosial mempunyai alat atau perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. f. Setiap lembaga sosial mempunyai lambang, simbol yang khas yang menggambarkan tujuan dan fungsi. Coba bandingkan dengan karakteristik lembaga sosial menurut Mayor Polak berikut ini: a. Lembaga sosial merupakan simbol kebudayaan Artinya berupa tanda-tanda pengenal yang digunakan untuk menandai kehadiran suatu lembaga yang dapat bersifat materi atau non materi. Contoh logo, lagu/mars, lambang, bendera dan lain sebagainya. b. Lembaga sosial sebagai tata-krama atau perilaku Aturan formal mengenai tingkah-laku dan kebiasaankebiasaan informal yang sesuai dengan peranan peranan tertentu. Contohnya setiap dokter dan guru atau dosen harus mematuhi kode etik sebagai profesi dokter, seorang guru/dosen. c. Lembaga Sosial sebagai ideologi Artinya suatu pemikiran yang interdependen yang dianut oleh suatu kelompok. Contohnya Ideologi negara Indonesia adalah Pancasila. Unsur-unsur Lembaga Sosial a. Individu Inti dari sebuah lembaga adalah kumpulan individu jika kita melihat manusia dari aspek individu, maka kita akan mengetahui hakikat manusia secara eksistensi sebagai makhluk individu (manusia yang unik) dan sebagai makluk sosial (manusia yang tidak dapat hidup tanpa bantuan manusia lain).

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 120

b. Lembaga Keluarga Proses alami bagi setiap individu yang sudah dewasa cepat atau lambat akan membentuk keluarga. Disanalah akan dilahirkan individu-individu baru sebagai penerus atau generasi baru. c. Lembaga Sosial Merupakan akomodasi dari berbagai macam individu dan individu tersebut bersumber dari berbagai keluarga. d. Lembaga Kemasyarakatan Pada prinsipnya mendekati sama dengan lembaga sosial tetapi berdasarkan kajian yang mendalam lembaga kemasyarakatan cenderung bersifat lebih luas bila dibanding dengan lembaga sosial. e. Lembaga Negara Merupakan lembaga terbesar pada tingkat tataran "state". Lembaga ini memiliki kekuasaan dan kekuatan yang paling tinggi bila dilihat dari kacamata kedudukan dan wewenang. Kelima unsur lembaga sosial tersebut dapat digambarkan berikut ini.
Individu
Lembaga Keluarga
Lembaga Masyarakat

Lembaga Sosial Lembaga Negara

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 121

Tipe-tipe Lembaga Sosial Di bawah ini akan diuraikan tipe-tipe lembaga sosial menurut pendapat JL. Gillin and JP. Gillin, sebagai berikut : a. Tipe pranata sosial dilihat dari sudut perkembangannya 1. Crescive institution atau lembaga paling primer Suatu tipe lembaga yang tumbuh tidak sengaja dan tumbuhnya berasal dari adat istiadat. Contoh: hak milik, bentuk bentuk perkawinan, dan lumbung padi. 2. Enacted institution Tipe lembaga yang dibentuk dengan sengaja dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang bersangkutan. Contoh lembaga utang piutang, lembaga pendidikan dan lembaga perdagangan. Semuanya ini berakar dari kebiasaankebiasaan yang sistimatis dan diatur kemudian dituangkan lembaga-lembaga yang disahkan oleh pemerintah. b. Tipe lembaga sosial dilihat dari, sudut nilai 1. Basic institution Dianggap sebagai lembaga sosial yang paling penting untuk mernelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Contoh; lembaga keluarga dan lembaga agama. 2. Subsidiary institution Lembaga sosial yang dianggap kurang penting oleh sekelompok masyarakat tertentu, misalnya lembaga rekreasi dan lembaga olah raga. c. Tipe lembaga sosial dilihat dari sudut penerimaan oleh masyarakat. 1. Aprovedd sosial institution Tipe lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang diterima oleh masyarakat karena dirasa memberi manfaat dan keuntungan serta sangat dibutuhkan misalnya lembaga agama, lembaga pendidikan, lembaga perdagangan, lembaga bantuan hukum dan lembaga titipan anak dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. 2. Unproved- un sanctioned intitution Tipe lembaga ini ditolak oleh masyarakat secara umum sebab lembaga ini dianggap meresahkan dan merugikan masyarakat secara umum, misalnya gank persatuan perampok/copet/, gali/momoli, kumpul kebo/kaum lesbian/homo seks dan lembaga perakitan bom ilegal.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 122

d. Tipe lembaga sosial dilihat dari sudut penyebarannya. 1. General institution Suatu lembaga yang lahir atas dasar faktor penyebaran sehingga dikenal di seluruh dunia misalnya lembaga pemerintahan, lembaga agama dan perserikatan bangsabangsa. 2. Restricted institution Suatu lembaga yang dikenal hanya terbatas pada suatu masyarakat atau negara tertentu misalnya lembaga adat, lembaga keyakinan/aliran dan lembaga pemerintahan (khususnya pada sistemnya). e. Tipe lembaga sosial dilihat dari sudut fungsinya 1. Operative institution Suatu lembaga yang berfungsi untuk menghimpun pola-pola atau cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya LSM, IMF, UMDB, dan lembaga industri 2. Regulated institution Lembaga yang berfungsi menggawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian dari pada lembaga tersebut. Contoh lembaga hukum dan lembaga ferifikasi.

Kelima tipe lembaga sosial di atas dapat mengetahui adanya bermacam-macam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat tertentu. Jadi setiap masyarakat mempunyai sistem nilai yang menentukan lembaga sosial mana yang dianggap paling atas dari lembaga-lembaga sosial lainnya. Semuanya tergantung dari masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan jenis-jenis masyarakat yang erat kaitannya dengan keberadaan lembaga sosial ada tiga, yaitu : a. Masyarakat totaliter Suatu masyarakat yang menganggap negara sebagai lembaga kemasyarakatan yang pokok membawahi lembaga-lembaga lain seperti lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga keluarga dan lain sebagainya. Contoh lembaga Unisoviet dan Rusia. b. Masyarakat homogen dan tradisional Suatu masyarakat yang menganggap lembaga kemasyarakatan satu dengan yang lainnya sebagai suatu institusi configurasi (pola-pola hubungan). Contohnya, terciptanya suatu desa swasembada karena dukungan dari berbagai komponen kelembagaan pada tingkat

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 123

desa. Komponen tersebut antara lain, lembaga perekonomian desa, lembaga keamanan desa, lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan. c. Masyarakat kompleks atau terbuka Masyarakat beranggapan dan percaya bahwa terjadinya perubahan sosial dan budaya dianggap sebagai sarana untuk merubah norma dalam rangka pemenuhan kebutuhan.

Peran dan Fungsi Lembaga Sosial Sebuah lembaga adalah sebuah sistem hubungan sosial yang terorganisasi yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum tertentu dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Secara umum, ada lima lembaga sosial paling dasar dalam kehidupan masyarkat yang masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berguna mengatur stabilitas kehidupan sistem sosial. Lembaga Keluarga Keluarga merupakan suatu kelompok kekerabatan yang menyelenggarakan

pemeliharaan anak dan kebutuhan manusiawi tertentu lainnya. Secara historis, keluarga terbentuk atas satuan yang terbatas yaitu dua individu (laki-laki dan perempuan) yang disebut perkawinan. Selanjutnya, secara berangsur-angsur anggota keluarga semakin meluas yaitu dengan kelahiran anak. Pada saatnya nanti, anak juga melangsungkan ikatan perkawinan, demikian seterusnya sehingga proses atau siklus tersebut terus berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Secara umum, ada 3 bentuk keluarga yaitu: a. Keluarga inti (batih, somah, nuclear famihr) terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah. b. Keluarga besar (extended family) ikatan keluarga dalam satu keturunan, kakek, nenek, ipar, paman dsb. c. Keluarga poligamous, beberapa keluarga inti yang dipimpin oleh satu kepala keluarga. Lebih lanjut, bentuk-bentuk perkawinan dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu: a. Menurut jumlah suami dan istri 1. Monogami merupakan perkawinan satu pria dan satu wanita. 2. Poligami merupakan perkawinan yang beristri atau bersuami lebih dari satu orang. Terbagi menjadi poligini, seorang laki-laki beristri lebih dari satu orang dan poliandri, seorang wanita yang bersuami lebih dari satu orang. b. Menurut asal suami dan istri 1. Endogami ialah perkawinan dari lingkungan sendiri. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 124

2. Eksogami ialah perkawinan di luar lingkungan sendiri, yang dibedakan menjadi 4 tipe yaitu, pertama, Connubium circulation/asymetris (sepihak), hubungan perkawinan dimana dua klan hanya mempunyai satu kedudukan sebagai pemberi atau penerima gadis. Kedua, Connubium symetris, hubungan perkawinan di mana dua klan saling tukar menukar pasangan. Ketiga, Homogami, pernikahan dalam strata/status sosial yang sama. Keempat, Heterogami, pernikahan antara dua keluarga yang berbeda lapisan sosialnya. c. Pola menetap sesudah perkawinan 1. Patrilokal (Virilokal), suami istri bertempat tinggal di sekitar pusat kerabat suami. 2. Matritokal (otorilokal), suami istri tinggal di sekitar kerabat istri. 3. Bilokal, menetap bergantian antara kerabat istri dan suami. 4. Neolokal yaitu bertempat di tempat baru. 5. Avunkulokal yaitu menetap di rumah laki-laki ibu (paman) dari pihak suami. 6. Natalokal yaitu suami istri terpisah tinggal di tempat kelahiran masing-masing bertemu dalam waktu yang relatif pendek. 7. Utrolokal yaitu bebas menentukan tempat tinggal. 8. Komonlokal yaitu tinggal didalam kelompok di mana kedua orang tua dari pihak laki dan perempuan berdiam.

Selanjutnya, fungsi lembaga keluarga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebagai warga masyarakat. Secara sosiologis, kebutuhan dasar hidup manusia yang terpenting meliputi kebutuhan biologis, rasa aman, ekonomi, agama, dan sosial. Jadi dapat dikatakan bahwa keluarga melalui aturan serta norma-normanya berperan mengatur perilaku dan tindakan individu dalam keluarga, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup individu tersebut sebagai anggota masyarakat keluarga. Secara rinci dapat disebutkan bahwa lembaga keluarga memiliki fugnsi manifes berupa funggsi reproduksi, sosialisasi, afeksi, ekonomi, pengawasan sosial, proteksi dan pemberian status. Sedangkan fungsi laten dari lembaga keluarga adalah sarana pertemuan hidung belang, sarana perjudian/rumah bandit atau bandar, dan tempat menimbun harta curian.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 125

Lembaga Pendidikan Pendidikan sering diartikan sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau kelompok orang lain agar mencapai kedewasaan atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dalam pendidikan dikenal konsep sekolah yang mulai lahir ketika kebudayaan berkembang sangat kompleks, sehingga pengetahuan yang dianggap perlu tidak mungkin lagi ditangani dalam lingkungan keluarga sehingga lahirlah guru dan kelas dalam artian formal. Pendidikan yang berlangsung di sekolah dan kelas-kelas formal merupakan pendidikan yang bersifat formal. Sedangkan pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga dinamakan pendidikan informal. Namun demikian, ketika sekolah dan kelas-kelas formal serta lingkungan keluarga tersebut masih belum cukup efektif dalam memenuhi kebutuhan sebagian anak didik dalam mengembangkan mental dan ketrampilannya maka lahirlah bentuk lembaga pendidikan yang ketiga yaitu lembaga pendidikan non formal. Berbeda dengan pendidikan keluarga maupun sekolah, pendidikan non formal ini memberikan pelayanan berupa pendidikan ketrampilan praktis dan sikap mental yang fungsional serta relevan agar mereka mampu meninggalkan mutu dan taraf hidup serta mampu berpartisipasi aktif dalam proses pembaruan dan pembangunan. Menurut Horton dan Hunt (1984: 343-345), fungsi lembaga pendidikan dibedakan menjadi 2 yaitu fungsi manifest dan fungsi laten. Fungsi manifest lembaga pendidikan adalah: 1. Membantu individu untuk mencari nafkah hidup 2. Menolong individu untuk mengembangkan potensi demi pemenuhan kebutuhan pribadi dan pengembangan masyarakat 3. Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskannya dari generasi satu ke generasi lainnya 4. Merangsang partisipasi demokratis melalui pengajaran keterampilan berbicara dan mengembangkan kemampuan berpikir secara rasional dan bebas 5. Memperkaya kehidupan dengan menciptakan kemungkinan berkembangnya cakrawala intelektual dan cita rasa keindahan para anak didik 6. Meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri melalui bimbingan pribadi dan berbagai kursus 7. Menunjang integrasi masyarakat multikultural 8. Membentuk kepribadian melalui interaksi sosial yang dilakukan dengan penghuni sekolah lainnya

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 126

Sedangkan fungsi laten pendidikan terbagi menjadi 4 yaitu menciptakan sikap yang tidak dewasa dan penguluran masa ketidakdewasaan, melemahnya pengawasan orang tua, mempertahankan sistem kelas sosial, serta tempat bernaungnya perbedaan pendapat. Di lain pihak, menurut David Popenoe, terdapat 4 macam fungsi pendidikan yaitu transmisi (pemindahan) kebudayaan masyarakat, memilih dan mengajarkan peranan sosial, sekolah mengajarkan corak kepribadian, dan sumber inovasi sosial. Adapun unsur-unsur pembentuk lembaga pendidikan adalah: 1. Pola perilaku: cinta pengetahuan, kehadiran, meneliti, dan semangat belajar 2. Budaya simbolis: seragam sekolah, maskot, lagu sekolah, dan logo. 3. Budaya manfaat: kelas, perpustakaan, buku, laboratorium, dan tingkatan strata. 4. Kode spesialisasi: akreditasi, tata tertib, kurikulum, dan tingkatan,/ strata. 5. Idiologi: keberhasilan akademis, pendidikan progresif, inovatif, dan klasikisme. Lembaga Politik Lembaga politik berupa perangkat aturan atau status yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang. Bentuk kekuasaan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu berdasarkan kewibawaan lahiriah (kharismatik) misalnya tokoh agama, karena tradisi atau keturunan, misalnya raja, dan secara formal (legal-rasional) berdasarkan hukum misalnya presiden. Pemerintahan negara sebagai bentuk (wujud) utama dari lembaga yang melaksanakan lembaga politik, memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan bentuk lembaga atau organisasi lainnya. Sifat-sifat lembaga pemerintahan negara tersebut antara lain: 1. Sifat memaksa, yaitu setiap pemerintahan negara dapat memaksakan kehendak dan kekuasaannya baik melalui jalur hukum maupun jalur kekuasaan atau kekerasan 2. Sifat monopoli, yaitu setiap pemerintahan negara menguasai hal-hal tertentu demi tujuan negara tanpa saingan. 3. Sifat totalitas, yaitu semua hal tanpa kecuali mencakup kewenangan pemerintahan negara misalnya kewajiban membayar pajak, membela negara,dll. Secara umum, bentuk negara dibedakan menjadi dua yaitu negara kesatuan yaitu dengan satu kesatuan pemerintahan, parlemen, lembaga peradilan dan konstitusi dan negara federasi/ serikat yaitu adanya negara bagian yaitu negara yang memiliki undang-undang dan peradilan sendiri. Sedangkan bentuk-bentuk pemerintahan adalah republik yaitu dipimpin oleh presiden yang memegang kekuasan eksekutif dan parlemen dengan kekuasaan legislatif, monarki yaitu dipimpin oleh raja/ratu yang didapatkan berdasarkan keturunan dan diperoleh seumur hidup, dan kekaisaran dipimpin seorang kaisar yang diperoleh secara turun temurun. Adapun fungsi lembaga politik adalah: Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 127

1. Fungsi Manifest a. Memelihara ketertiban di dalam (internal order). b. Menjaga keamanan di luar (external security). c. Mengusahakan kesejahteraan umum (general welfare). d. Mengatur proses politik. e. Mengerakkan partisipasi masyarakat. f. Mengembangkan budaya demokrasi. 2. Fungsi laten a. Tempat melakukan korupsi dan kolusi b. Pemerasan dan penipuan c. Sebagai wahan untuk memecah belah dan adu domba d. Kemandulan pelaksanaan pemerintahan sehinga terjadi stagnasi dalam segala aspck kehidupan Lembaga politik terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut: 1. Pola perilaku; loyalitas, kepatuhan, subordinasi,, kerjasama dan konsensus. 2. Budaya simbolis; bendera, materia, maskot, dan lagu kebangsaan 3. Budaya manfaat; gedung, persenjataan, pekerjaan pemerintah, blanko dan formulir. 4. Kode spesialisasi; program, konstitusi, traktat dan hukum. 5. Idiologi; nasionalisme, hak rakyat, demokrasi, dan republik/monarki

Lembaga Ekonomi Lembaga ekonomi mempnyai fungsi mengatur pembagian kerja dalam kehidupan manusia. Menurut Kornblum, penelitian difokuskan pada pembahasan, pasar dan pembagian kerja, interaksi pemerintah, institusi ekonomi dan perubahan pada pekerjaan. Adapun polapola politik ekonomi adalah: 1. Sistem feodalisme yaitu seperangkat lembaga politik dan ekonomi yang menempatkan pemilik tanah (raja) dan prajurit yang menjaga keamanan sebagai pelindung warga, harta benda dan hak pengguna tanah. 2. Sistem merkatilisme yaitu sistem yang menempatkan negara bertanggungjawab mengendalikan dan mengarahkan seluruh kegiatan ekonomi termasuk mengatur individu untuk profesi-profesi tertentu. 3. Sistem kapitalisme yaitu pemilik modal bebas mengembangkan usahanya dan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 128

4. Sistem komunisme yaitu partal tunggal atau diktator sebagai wakil rakyat yang memerintah atas nama rakyat. 5. Sistem sosialisme yaitu bertujuan merombak masyarakat pada persamaan hak dan pembatasan hak milik pribadi untuk kesejahteraan masyarakat. Lebih lanjut, lembaga ekonomi adalah sistem norma yang mengatur kegiatan ekonomi meliputi cara produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa yang diperlukan bagi setiap manusia, untuk kelangsungan hidupnya. Kegiatan produksi adalah cara manusia menghasilkan barang dan jasa, cara orang memilih sumber daya yang langka dan terbatas untuk diproduksi. Distribusi merupakan kegiatan menyalurkan barang dan jasa kepada pemakai, yang prosesnya meliputi resiprositas (timbal balik), redistribusi, dan pertukaran pasar. Kegiatan konsumsi merupakan kegiatan masyarakat dalam rangka memakai, dan memanfaatkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Adapun fungsi lembaga ekonomi adalah: 1. Fungsi Manifes a. Pedoman mendapat bahan pangan b. Pedoman pertukaran barang/ barter. c. Pedoman harga jual beli barang. d. Pedoman menggunakan tenaga kerja. e. Pedoman cara pengupahan. f. Pedoman cara pemutusan hubungan kerja. g. Identitas diri masyarakat 2. Fungsi laten a. Menumpuk barang guna kepentingan individu atau kelompok. b. Kurang memperhatikan lingkungan kemanusiaan. c. sebagai ladang korupsi dan kolusi. Adapun unsur-unsur lembaga ekonomi adalah: 1. Pola perlaku; efisiensi, penghematan, profesional dan laba. 2. Budaya simbolis; merek dagang, hak paten, slogan, dan lagu komersial. 3. Budaya manfaat; toko, pabrik, pasar, kantor, blanko dan formulir. 4. Kode spesialisasi; kontrak, liensi, hak monopoli, dan akte perusahaan. 5. Idiologi; liberalisme, tanggung jawab, manajerial, dan hak buruh.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 129

Lembaga Agama Durkheim (1966) menyatakan bahwa agama merupakan suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktek yang berhubungan dengan hal yang suci. Agama merupakan sarana manusia untuk berhubungan dengan sang pencipta. Agama mempunyai peranan penting dalam mengatur kehidupan manusia. Agama merupakan sistem keyakinan (religi) dan praktek dalam masyarakat yang telah dirumuskan dan dibakukan serta dianut secara luas. Adapun fungsi agama adalah: 1. Fungsi Manifes a. Sumber pedoman hidup manusia. b. Mengatur hubungan (tata cara) manusia secara vertikal dan horizontal c. Nilai nilai hidup manusia (ukuran). d. Pedoman rasa kebersamaan. e. Pedoman keyakinan (confidence). f. Pedoman keberadaan (existence). g. Pengungkapan estetika (keindahan). h. Pedoman rekreasi dan hiburan. i. Memberi identitas. 2. Fungsi laten a. Sarana untuk kumpul kebo, zina dan perjudian. b. Dijadikan landasan aktivitas SARA atau peperangan. c. Kedok untuk meminta bantuan di luar kepentingan agama.

Menurut Light, Killer dan Callhoun (1989), unsur-unsur pembentuk lembaga agama adalah kepercayaan, praktek keagamaan, simbol agama, umat dan pengalaman keagamaan. Dalam lembaga agama mengandung dua dimensi vertikal dan horisontal. Secara vertikal, lembaga agama, mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Sementara dimensi horisontal mengajarkan agar manusia selalu berbuat baik kepada sesamanya, dan makhluk hidup yang termasuk lingkungan. Lembar Kerja Alat dan Bahan : kertas, spidol, bolpoint Sebagai guru, bagaimana menjelaskan maraknya pasar modern antara lain minimarket, supermarket dan hipermarket termasuk pembangunan mall dan ruko yang mulai merambah kawasan pedesaan dalam mempengaruhi perilaku masyarakat? bagaimana pengaruhnya bagi keberadaan pasar tradisional. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 130

Lembar Evaluasi Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan tepat! 1. Bagaimana proses nilai dan norma sosial dapat berkembang menjadi lembaga sosial? Jelaskan. 2. Dalam pembentukan lembaga sosial, membutuhkan unsur-unsur pembentuknya, sebutkan dan jelaskan dengan disertai contoh. 3. Bagaimana kaitan antara lembaga sosial satu dengan lembaga sosial lainnya? Apakah saling mempengaruhi atau berdiri sendiri? 4. Jelaskan fungsi laten lembaga keluarga? Kaitkan dengan perkembangan lembaga keluarga modern yang semakin kompleks permasalahannya. 5. Coba jelaskan bagaimana lembaga politik yang ada di Indonesia mengalami perkembangan dari tahun ke tahun sesuai dengan budaya politik yang dibangun di Indonesia.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 131

BAB 9 PENELITIAN SOSIAL


Standar Kompetensi Mampu melakukan penelitian dengan benar Kompetensi Dasar 1. Merancang metode penelitian secara sederhana 2. Melakukan penelitian sosial secara sederhana 3. Mengkomunikasikan hasil penelitian sosial secara sederhana Tujuan Pembelajaran 1. Membedakan dua pendekatan dalam penelitian social yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif 2. Membuat proposal penelitian sosial dengan benar berdasarkan dua pendekatan tersebut 3. Menyusun laporan penelitian sosial 4. Melakukan seminar hasil penelitian sosial Pengantar Telah disebutkan pada Bab 1 bahwa sosiologi berusaha untuk mempelajari masyarakat secara ilmiah. Adapun, fokus sosiologi adalah tentang kehidupan kolompok manusia dan hasil interaksi sosial dari kehidupan kelompok sosial tersebut. Untuk dapat memberikan intepretasi dan analisis tentang realitas sosial yang terjadi di dalam masyarakat maka diperlukan suatu penelitian. Orientasi penelitian dalam ilmu sosial dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, nomotetik adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang berfokus untuk membangun hukum atau teori bersifat umum mengikuti model ilmu pengetahuan alam (natural science). Kedua, idiografik yaitu cara kerja ilmu pengetahun yang berfokus pada pengalaman yang bersifat individual atau unik (dalam kaitan dengan nilai-nilai) dari generalisasi, memahami realitas secara mendalam atau model empati, mengarah pada ilmu-ilmu humaniora. Untuk itu sangat penting dalam studi sosiologi mempelajari penelitian sosial. Karena salah satu upaya untuk memberikan analisis sosiologis dapat dilakukan melalui sebuah penelitian sosial. Dalam kegiatan belajar kali ini, peserta diharapkan dapat melakukan sebuah rancangan penelitian dan melakukannya dengan benar.

Pengertian Penelitian Sosial

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 132

Secara definitif penelitian oleh Fred N Kerlinger (1990:17) menyatakan penelitian ilmiah adalah penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis, tentang fenomenafenomena alami, dengan dipandu oleh teori dan hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang dikira terdapat antara fenomena-fenomena itu. Dari definisi tersebut perlu ada penekanan dua hal, pertama, penelitian ilmiah bersifat sistematik dan terkontrol, ini berarti bahwa penyelidikan ilmiah tertata dengan cara tertentu sehingga penyelidik dapat memiliki keyakinan kritis mengenai hasil penelitian. Sebagai yang akan kita lihat nanti, pengamatan-pengamatan dalam penelitian ilmiah terikat erat pada disiplin. Kedua, penyelidikan ilmiah bersifat empiris. Jika ilmuwan berpendapat bahwa sesuatu adalah "begini", dia harus menggunakan cara tertentu untuk menguji keyakinannya itu dengan sesuatu di luar diri si ilmuwan. Dengan kata lain, pendapat atau keyakinan subyektif harus diperiksa dengan menghadapkannya pada realitas obyektif. Ilmuwan mesti selalu menghadapkan pemikiran-pemikirannya pada "majelis" telaah dan uji empirik. Secara taksonomis, ada dua aliran utama dalam kegiatan penelitian pada umumnya, termasuk penelitian dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan pendidikan, yaitu aliran positivistik dan aliran non positivistik (interpretatif). Aliran positivistik melahirkan praksis penelitian dengan pendekatan kuantitatif, sedangkan aliran non positivistik melahirkan praksis penelitian dengan pendekatan kualitatif. Tabel 8.1. Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Berdasar Asumsi yang Ada Asumsi Dasar Ontologi Hakikat dasar gejala sosial Kuantitatif Real Berpola Kualitatif Dibuat melalui definisi Hasil makna dan interpretasi Memberi makna hukum Bebas

Hakikat dasar manusia

Rasional Diatur oleh universal Epistemologi (Hakikat dasar ilmu pengetahuan) Kaitan ilmu dengan nilai Bebas nilai Objektif Kaitan ilmu dengan akal Ilmu adalah cara terbaik sehat memperoleh pengetahuan Metodologi

Deduktif Nomotetik Aksiologi Menemukan universal, penjelasan Sumber: Bambang Prasetyo & Lina Mifatahul Jannah, 2006: 33 Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Tidak bebas nilai Subjektif Akal sehat adalah teori orang awam yang perlu dipahami Induktif Idiografis hukum Menemukan arti mencari pemahaman

Hal 133

Berdasarkan pada Tabel 8.1 dapat dijelaskan bahwa perbedaan pokok penelitian kuantitatif dari penelitian kualitatif dapat terlihat dari: 1. Cara memandang sifat realitas sosial Penelitian kualitatif menganggap realitas sosial itu bersifat ganda. Realitas sosial merupakan hasil konstruksi pemikiran dan bersifat holistis. Di pihak lain, penelitian kuantitatif memandang realitas sosial bersifat tunggal, konkret dan teramati. 2. Peranan nilai Penelitian kualitatif menganggap bahwa proses penelitian dapat dikatakan sebagai sepenuhnya tidak bebas nilai. Di pihak lain, penelitian kuantitatif menganggap bahwa proses penelitian sepenuhnya bebas nilai. 3. Fleksibillitas dalam pengumpulan data Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif tidak bersifat kaku tetapi selalu disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Demikian pula hubungan antara peneliti dan yang diteliti bersifat interaktif dan tidak dapat dipisahkan. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif, prosedur pengumpulan data distandarisasi dan menganggap bahwa hubungan peneliti dengan yang diteliti adalah independen dan dapat dipisahkan. (Sumber: Emy Susanti Hendarso, 2005:168-169) Penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan formal, objektif, dan proses kerja yang sistematis. Metode penelitian ini digunakan untuk menjelaskan variabel, menguji hubungan antar variabel, dan menentukan interaksi sebab dan akibat antar variabel. Menurut Taylor dan Bogdan (1984), penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti. Pada penelitian kualitatif, data numerikal digunakan untuk memperoleh informasi tentang dunia sosial. Penelitian kualitatif adalah pendekatan sistematis dan subjektif yang digunakan untuk menjelaskan pengalaman hidup dan memberikan makna atasnya. Penelitian kualitatif bukan ide baru dalam berbagai cabang ilmu, dan mungkin juga akan terus berkembang di dunia penelitian khususnya ilmuilmu sosial dan pendidikan. Tipe penelitian macam ini dilaksanakan untuk menjelaskan dan mendorong pemahaman tentang pengalaman manusia dalam aneka bentuk.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 134

Tabel 8.2. Predisposisi antara Metode Kuantitatif dan Kualitatif No 1. Metode Kuantitatif Asumsi a. Fakta sosial adalah realitas objektif dan bebas nilai b. Mengutamakan desain atau metode kerja yang ketat c. Variabel-variabel penelitian diidentifikasi dan diukur hubunganhubungan atau perbedaanperbedaannya d. Mengutamakan perspektif rtik atau beranjak pada pandangan dari luar subjek Tujuan a. Dapat digeneralisasikan atau ditransfer dalam situasi lain b. Memiliki kemampuan memprediksi fenomena sejenis c. Eksplanasi kausalitas, dampak dari perlakuan atau perbedaan antarvariabel Metode Kualitatif Asumsi a. Realitas dikonstruksi secara sosial dan tidak bebas nilai b. Mengutamakan penguasaan mendalam atas fenomena secara material c. Variabel adalah kompleks, memiliki tautan secara fenomena dan sulit diukur secara statiskal d. Menggunakan perspektif emik atau beranjak pada pandangan dari dalam subjek Tujuan a. Kontekstualisasi, dapat ditransfer manakala karakteristiknya memiliki sebagian besar kesamaan b. Interpretasi secara meluas dan emndalam dengan perspektif tertentu c. Pemahaman atas perspektif pelaku dan menautkan secara lunak fenomena Pendekatan a. Berkahir dengan hipotesis atau teori grounded. b. Proses kerja bersifat kontinu, Selesainya proposal relative sejalan dengan selesainya penelitian c. Emergensi dan poenjelasan atau fenomena d. Peneliti sebagai instrument utama, dengan pendekatan utama observasi partisipatif dan wawancara mendalam e. Bersifat inkuiri secara alami atau naturalistic f. Menggunakan pola berpikir atau penarikan simpulan secara induktif g. Mencari untuk membuat pola pola atau kecenderungan kecenderungan dilihat dari Hal 135

2.

3.

Pendekatan a. Dimulai dari hipotesis dan teori b. Proses kerja bertahap ketat, mulai dari proposal, desain, pelaksanaan, dan pelaporan c. Manipulasi dan mengontrol variabel atau perlakuan d. Menggunakan instrument formal, seperti angket dan tes yang divalidasi sebelumnya e. Eksperimentasi, baik secara sungguhan maupun kuasi f. Menggunakan pola berpikir atau penarikan simpulan secara deduktif g. Analisis komponen komponen secara detail, termasuk uji asumsiasumsi statistic untuk analisis data h. Mencari consensus, norma tertentu yang ditetapkan secara ketat i. Mereduksi data ke indeks numerical

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

untuk keperluan analisis j. Bahasa abstrak dalam penulisan

4.

5.

Peran Peneliti a. Tidak terpengaruh dan tidak menjadi dari subjek penelitian b. Penjelasan secara objektif Tekhnik Pengumpulan Data a. Kuesioner b. Observasi c. Wawancara terstruktur

Instrumen Penelitian a. Tes, angket, wawancara terstruktur b. Instrument yang telah terstandar

Data a. Kuantitatif b. Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrument Sampel a. Besar b. Representative c. Sedapat mungkin random d. Ditentukan sejak awal e. Responden Analisis a. Setelah selesai pengumpulan data b. Deduktif c. Menggunakan analisis statistik untuk menguji hipotesis

10

Hubungan dengan Responden a. Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif

konteksnya h. Mencari pluralitas atau kompleksitas tautan antarfenomena yang bersifat lunak i. Membuat minor menggunaan indeks numerical j. Bahasa deskriptif dalam penulisan Peran Peneliti a. Keterlibatan pribadi dan menjadi bagian dari subjek penelitian b. Pemahaman secara empati Tekhnik Pengumpulan Data a. Participant Observation b. In depth interview c. Dokumentasi d. Observasi e. Focus Group Discussion Instrumen Penelitian a. Peneliti sebagai instrument (human instrument) b. Field note, recorder, camera, dan handycam Data a. Deskriptif kualitatif b. Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan informan, dokumen dan lain-lain. Cuplikan a. Kecil b. Tidak representative c. Purposive, snowball d. Berkembang selama proses penelitian e. Informan Analisis a. Terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian dari mulai pengumpulan data, reduksi data, verifikasi data dan kesimpulan b. Induktif c. Mencari pola, model, tema, teori Hubungan dengan Narasumber/ Informan a. Empati, akrab supaya memperoleh Hal 136

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

b. Kedudukan peneliti lebih tinggi dari responden c. Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan 11 Usulan Desain a. Luas dan rinci b. Literature yang berhubungan dengan masalah, dan variabel yang diteliti c. Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya d. Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas e. Hipotesis dirumuskan dengan jelas f. Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan Kapan penelitian dianggap selesai? Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan Kepercayaan terhadap hasil Penelitian Pengujian validitas dan realiabilitas instrument

12

13

pemahaman yang mendalam b. Kedudukan sama bahkan sebagai guru, konsultan c. Jangka lama, sampai datanya jenuh, dapat ditemukan teori Usulan Desain a. Singkat, umum bersifat sementara b. Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama c. Masalah bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuluan d. Tidak dirumuskan hipotesis, namun asumsi dasar e. Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan Kapan penelitian dianggap selesai? Setelah tidak ada data yang dianggap baru/jenuh Kepercayaan terhadap hasil Penelitian Pengujian kredibilitas, depenabilitas, proses dan hasil penelitian melalui uji validitas teknik triangulasi

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Perbedaan dalam penggunaan metode penelitian berdampak pada penyusunan rancangan penelitian, instrumen penelitian, subyek penelitian bahkan pada teknik analisis data. Setiap gejala sosial yang bervariasi tersebut, menuntut setiap peneliti untuk memahami metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan benar sehingga tidak salah dalam pemilihan metode. Metode kuantitatif dapat diigunakan apabila: a. Masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Masalah adalah merupakan penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi, antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek, antara rencana dengan pelaksanaan. Dalam menyusun proposal penelitian, masalah ini harus ditunjukkan dengan data, baik data hasil penelitian sendiri maupun dokumentasi. b. Peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan infomasi yang luas tetapi tidak

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 137

mendalam. Bila populasi terlalu luas, maka penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. c. Ingin diketahui pengaruh perlakuan atau treatment tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini metode eksperimen paling cocok digunakan. d. Peneliti bermasud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian dapat berbentuk hipotesis deskriptif, komparatif dan asosiatif. e. Peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat diukur. f. Ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori dan produk tertentu.

Lebih lanjut, metode kualitatif digunakan untuk kepentingan yang berbeda bila dibandingkan dengan metode kuantitatif. Metode kualitatif dapat digunakan apabila: a. Jika masalah penelitian belum jelas, masih remang-remang atau mungkin malah masih gelap. Kondisi semacam ini cocok diteliti dengan metode kualitatif, karena peneliti kualitatif akan langsung masuk ke obyek, melakukan penjelajahan dengan grant tour question, sehingga masalah akan dapat ditemukan dengan jelas. Melalui penelitian model ini, peneliti akan melakukan ekplorasi terhadap suatu obyek. Ibarat orang akan mencari sumber minyak, tambang emas dan lain lain. b. Untuk memahami makna di balik data yang tampak. Gejala sosial sering tidak bisa dipahami berdasarkan apa yang diucapkan dan dilakukan orang. Setiap ucapan dan tindakan orang sering mempunyai makna tertentu. Sebagai contoh, orang yang menangis, tertawa, cemberut, mengedipkan mata, memiiki makna tertentu. c. Untuk memahami interaksi sosial. Interaksi sosial yang kompleks hanya dapat diurai kalau peneliti melakukan penelitian dengan metode kualitatif dengan cara ikut berperan serta, wawancara mendalam terhadap interaksi sosial tersebut. Dengan demikian akan dapat ditemukan pola-pola hubungan yang jelas. d. Memahami perasaan orang. Perasaan orang sulit dimengerti kalau tidak diteliti dengan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, dan observasi berperan serta untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang tersebut. e. Untuk mengembangkan teori. Metode kualitatif paling cocok digunakan untuk mengembangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh melalui lapangan. Teori yang demikian dibangun melalui grounded research. Dengan metode kualitatif peneliti pada tahap awalnya melakukan penjelajahan, selanjutnya melakukan Hal 138

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

pengumpulan data yang mendalam. Setelah data dianalisis maka maka akan menjadi tesis atau teori. f. Untuk memastikan kebenaran data. Data sosial sering sulit dipastikan kebenarannya. Dengan metode kualitatif, melalui teknik uji kevalidan data (teknik trianggulasi) maka kepastian data akan lebih terjamin. Selain itu dengan metode kualitatif, data yang diperoleh diuji kredibilitasnya, dan penelitian berakhir setelah data itu jenuh, maka kepastian data akan dapat diperoleh. Ibarat mencari siapa yang menjadi provokator, maka sebelum ditemukan siapa provokator yang dimaksud maka penelitian belum dinyatakan belum selesai. g. Meneliti sejarah perkembangan. Sejarah perkembangan kehidupan seseorang tokoh atau masyarakat akan dapat dilacak melalui metode kualitatif. Dengan menggunakan data dokumentasi, wawancara mendalam kepada pelaku atau orang yang dipandang tahu, maka sejarah perkembangan kehidupan seseorang.

Rancangan Penelitian Sosial Menurut Lincoln dan Guba, rancangan penelitian adalah upaya merencanakan kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan secara pasti apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsurnya masing-masing dalam sebuah penelitian. Sedangkan menurut Lexy Moleong, rancangan penelitian diartikan sebagai usaha merencanakan dan menentukan segala kemungkinan dan perlengkapan yang diperlukan dalam suatu penelitian. Dalam bahasa yang umum, rancangan penelitian dapat disebut proposal penelitian yang didalamnya mencakup judul penelitian, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka (kerangka teori) dan metode penelitian. Dalam penelitian sosial, penyusunan rancangan penelitian, masing-masing pendekatan memiliki ciri khas yang berbeda karena asumsi dasar yang dibangun juga berbeda. Pemilihan Topik/Judul Penelitian Sebelum peneliti menentukan judul penelitian yang tepat, maka sebelumnya peneliti akan memilih topik penelitian apa yang akan dilakukan. Hal ini penting untuk membuat judul penelitian singkat, padat dan jelas. Dalam merumuskan topik penelitian, faktor yang menjadi pertimbangan untuk memudahkan dalam penentuan topik adalah: a. Pengalaman pribadi dan kehidupan sehari-hari b. Masalah yang ada di media massa c. Pengetahuan di lapangan dan memperbandingkannya dengan teori Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 139

d. Kebutuhan memecahkan masalah e. Kemudahan mendapatkan data (peluang) f. Personal Values

Judul penelitian harus dirumuskan dengan singkat dan jelas, yang mencakup 5 hal yaitu sifat atau jenis permasalahan penelitian, obyek yang diteliti, subyek penelitian, lokasi penelitian dan waktu terjadinya peristiwa. Menyusun latar belakang masalah Latar belakang masalah biasanya terdiri dari alasan pemilihan masalah penelitian, urgensi penelitian, serta adanya segi kemenarikan dari masalah tersebut sehingga seorang peneliti memiliki alasan yang kuat untuk melakukan penelitian sosial tersebut. Hal ini karena dalam dunia ilmiah suatu masalah itu timbul apabila terdapat kesenjangan antara das sein, apa yang sebenarnya terjadi (sesuai kenyataan) dan das sollen, apa yang seharusnya terjadi (sesuai keinginan). Kedua hal tersebut perlu dicantumkan dalam latar belakang masalah yang biasanya berisi data-data yang terjadi sesuai dengan gejala sosial yang ada. Tanpa dukungan data tersebut, maka latar belakang masalah hanya bersifat teoritis semata sehingga penelitian ini menjadi diragukan manfaatnya. Merumuskan masalah penelitian sosial Seperti telah dikemukakan bahwa, rumusan masalah itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data. Bagian ini tidak dapat dipisahkan dengan latar belakang masalah. Secara umum, masalah penelitian dapat dipilih dengan mengajukan pertanyaan seperti berikut ini: 1. Apakah masalah tersebut merupakan sesuatu yang baru/aktual, relatif belum banyak diteliti oleh orang lain? 2. Apakah masalah itu mengundang rasa ingin tahu (curriosity) bagi peneliti maupun pihak luar yang bakal membaca atau memanfaatkan hasil penelitian itu? 3. Apakah masalah yang dipilih berbeda dalam ruang lingkup ilmu yang dipelajarinya? 4. Apakah kemampuan dan latar belakang pendidikan peneliti mendukung masalah penelitian tersebut? 5. Apakah alat materi, kondisi fisik psikologis dan metode yang dipakai memungkinkan terlaksananya penelitian tersebut? 6. Apakah penelitian mempunyai waktu yang cukup? 7. Apakah tersedia dana penunjang bagi terlaksananya penelitian tersebut? Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 140

Bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian ini dikembangkan berdasarkan penelitian menurut tingkat eksplanasi. (level of explanation). Bentuk masalah dapat dikelompokkan ke dalam bentuk masalah deskriptif, komparatif dan asosiatif. 1. Rumusan masalah Deskriptif Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian deskriptif. Contoh rumusan masalah deskriptif : a. Bagaimana kinerja Kepala Sekolah SMAN X selama lima tahun terakhir? b. Bagaimana sikap masyarakat terhadap pertumbuhan rumah-rumah kos mahasiswa di sekitar kampus di Kota X? c. Bagaimana efektivitas pelaksanaan Program KTSP di SMAN X? d. Bagaimana tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Pemerintah

Desa/Kelurahan dalam bidang kependudukan? e. Bagaimana produktivitas lulusan SMK Jurusan Otomotif yang bekerja di pabrik Motor X? f. Bagaimana minat baca warga masyarakat dalam pemanfaatan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat? Dari beberapa contoh di atas terlihat bahwa setiap pertanyaan penelitian berkenaan dengan satu variabel atau lebih secara mandiri (bandingkan dengan masalah komparatif dan asosiatif) 2. Rumusan Masalah Komparatif Rumusan komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda. Contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: a. Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid-murid Sekolah SMAN yang berasal dari keluarga tingkat ekonomi menengah dan tingkat ekonomi rendah/miskin? b. Adakah perbedaan disiplin murid yang berasal dari keluarga PNS dengan keluarga Pedagang? Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 141

c. Adakah perbedaan antara disiplin belajar dan prestasi belajar antara peserta didik yang berasal dari daerah pedesaan dengan daerah perkotaan? d. Adakah perbedaan kompetensi pedagogik antara guru yang berlatar belakang Pendidikan Ilmu Murni dan guru yang berlatar belakang Pendidikan LPTK? 3. Rumusan Masalah Asosiatif Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, dan interaktif /reciprocal / timbal balik. Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang kebetulan munculnya bersama. Contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut: a. Adakah hubungan antara tumbuhnya supermarket di pedesaan dengan perilaku belanja masyarakat. b. Adakah hubungan antara postur tubuh dengan gaya kepemimpinan Kepala Sekolah? c. Adakah hubungan antara jarak gedung sekolah dengan minat masyarakat menyekolahkan anak. d. Adakah hubungan antara pembangunan jalan di daerah pedesaan dengan perkembangan ekonomi petani? Contoh judul penelitiannya adalah sebagai berikut. a. Hubungan antara tumbuhnya supermarket di pedesaan dengan perilaku belanja masyarakat Desa Maliran. b. Hubungan antara postur tubuh dengan gaya kepemimpinan Kepala Sekolah SMAN X di Kota Banyubiru. c. Hubungan antara jarak gedung sekolah dengan minat masyarakat menyekolahkan anak di Desa Miri. d. Hubungan antara pembangunan jalan di daerah pedesaan dengan perkembangan ekonomi petani di Kecamatan Ronggo Jambu. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (dipengaruhi), contoh: a. Apakah ada pengaruh pola asuh orang tua di dalam keluarga terhadap prestasi belajar anak ? b. Apakah ada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah SMA X terhadap peluang diterima di Perguruan tinggi ? Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 142

c. Apakah ada pengaruh Tata ruang kelas terhadap kenyamanan siswa dalam pembelajaran ? d. Apakah ada pengaruh guru yang telah bersertifikasi terhadap kualitas pembelajaran bidang studi Sosiologi di SMA X ? Contoh judul penelitiannya: a. Pengaruh pola asuh orang tua di dalam keluarga terhadap prestasi belajar anak di Kota Dadapan b. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah SMK X terhadap peluang diterima di Perguruan tinggi di Kota Sariparna c. Pengaruh tata ruang kelas terhadap kenyamanan siswa dalam pembelajaran di Pagar Besi d. Pengaruh guru yang telah bersertifikasi terhadap kualitas pembelajaran yang ada di SMA Kota Beringin Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Disini tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, contoh: a. Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar sosiologi di SMA kelas XI di Kota Y. b. Hubungan antara ketekunan belajar dengan kecerdasan siswa Kelas XII SMAN di Kota Y. Merumuskan tujuan dan manfaat penelitian. Tujuan penelitian dinyatakan secara lengkap, operasional dan koefisien dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan, yaitu untuk memperoleh jawaban atas masalah yang telah dirumuskan. Tujuan penelitian berisi pernyataan mengenai apa yang hendak dicapai oleh peneliti, dengan maksud agar peneliti maupun pihak lain yang membaca laporan penelitian dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan penelitian tersebut. Tujuan penelitian terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum berhubungan dengan konsepkonsep yang bersifat umum, sedang tujuan khusus berhubungan dengan konsep-konsep yang lebih spesifik dibanding dengan yang digunakan dalam perumusan masalah. Berdasarkan tujuan penelitian, maka peneliti dapat mengemukakan harapan tentang manfaat penelitiannya. Manfaat penelitian dapat dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat teoritis, yaitu untuk mengembangkan ilmu dan dapat dalam bentuk kegunaan praktis yang menyangkut pemecahan masalah aktual. Menyusun Kajian Pustaka

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 143

Pengkajian variabel penelitian satu persatu dengan teori-teori yang relevan sesuai dengan masalah yang dirumuskan merupakan langkah awal untuk mencari jawaban atas masalah penelitian. Pengkajian mengarah pada pencarian jawaban dari perumusan masalah. Kajian teori pada dasarnya merupakan pengkajian terhadap pengetahuan ilmiah yang sudah ada. Pengkajian dapat berbentuk konsep-konsep, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip yang relevan dengan permasalahan. Cara yang tepat untuk memberikan pemahaman dan penjelasan tersebut maka dalam penelitian sosial dibutuhkan teori, dalam hal ini teori sosial. Menurut Ramlan Surbakti (2005:34) menjelaskan teori adalah seperangkat proposisi yang menggambarkan suatu gejala yang terjadi. proposisi-proposisi yang dikandung dana yang membentuk teori terdiri atas beberapa konsep yang terjalin dalam bentuk hubungan sebab akibat. Selain itu, di dalam teori juga mengandung konsep teoritis yang berfungsi menggambarkan realitas dunia sebagaimana yang dapat diobservasi. Lebih lanjut, Ramlan Surbakti (2005:34) menyebutkan bahwa manfaat teori dalam penelitian khususnya pendekatan kualitatif adalah, pertama, teori memberikan pola bagi interpretasi data. Kedua, teori menghubungkan satu studi dengan lainnya. Ketiga, teori menyajikan kerangka sehingga konsep dan variabel mendapatkan arti penting. Keempat, teori memungkinkan menginterpretasikan data yang lebih besar dari temuan yang diperoleh dari suatu penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, penjelasan teori tidak dapat dilepaskan dari hipotesis. Seperti yang dijelaskan oleh I.B Wirawan (2005:43), bahwa dalam penelitian ilmiah, sebelum peneliti sampai pada sebuah teori (yang berarti sebuah proposisi yang telah terbukti kebenarannya), mula-mula peneliti akan menyusun teori sementara. Dengan teori yang bersifat sementara itu peneliti mengumpulkan data dan melakukan pengujian apakah teori sementara yang diajukan itu benar (karena bisa diterima) ataukah salah (karenanya harus ditolak). Selama data belum terkumpul, maka peneliti akan berpedoman pada teori sementara sebagai petunjuk sementara ke arah pemecahan masalah. Teori sementara yang berfungsi demikian tersebut, biasa disebut hipotesis. Dalam kajian pustaka selain kajian teori perlu dikaji pula tentang hasil-hasil penelitian, yang relevan (jika ada). Kajian ini diperlukan untuk melihat kemungkinan adanya unsur-unsur yang dapat mendukung penelitian yang sedang dilakukan, sehingga penelitian ini mengandung kebaruan (novelty). Selanjutnya, dalam tinjauan pustaka juga memuat kerang berpikir yang merupakan arahan penalaran, untuk dapat sampai pada penemuan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan. Kerangka berpikir berguna untuk mewadahi teoriteori yang seperti terlepas satu sama lain menjadi satu rangkaian yang utuh mengarah pada Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 144

penemuan jawaban sementara. Penyusunan kerangka berpikir berarti membuat argumentasiargumentasi rasional, berdasarkan teori-teori yang telah diutarakan dalam kajian teori, dan mengarah pada penemuan jawaban atas untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan, peneliti dituntut untuk membuat penalaran yang menggunakan logika deduktif untuk sampai jawaban sementara atas masalahnya. Tahap perumusan tinjauan pustaka diakhir dengan merumuskan Hipotesis pada pendekatan kuantitatif dan Asumsi Dasar pada pendekatan kualitatif. Hipotesis dan Asumsi dasar adalah jawaban sementara atas masalah yang sedang diteliti, yang disusun berdasarkan teori-teori yang telah dikaji, dengan kerangka berpikir tertentu.

Merancang Metode Penelitian Metode penelitian merupakan suatu kegiatan untuk mengumpulkan data penelitian dengan menggunakan instrumen penelitian yang benar dan ilmiah sehingga mendapat data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Adapun metode penelitian dapat berisi: 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian harus diungkapkan secara jelas, disertai dengan dasar pertimbangan pemilihan lokasi. Hal ini berkaitan dengan masalah penelitian. Dengan penentuan lokasi penelitian yang akurat maka pembaca laporan penelitian ini akan mendapatkan gambaran jelas tempat penelitian. Sedangkan, tujuan penulisan waktu penelitian digunakan untuk menjelaskan rentang waktu yang digunakan dalam menyusun laporan penelitian. Hal ini karena waktu penelitian menjadi poin penting penelitian ini masih aktual atau sudah lama taerjadi. Waktu penelitian diperhitungkan dari mulai pembuatan proposal sampai dengan penulisan laporan hasil penelitian selesai dilakukan. 2. Jenis dan Strategi Penelitian Hal ini untuk menentukan jenis penelitian menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif. Selanjutnya, peneliti harus menentukan strategi penelitian berdasar pendekatan yang digunakan. Pada Tabel 8.3 diklasifikasikan strategi penelitian berdasar dua jenis penelitian tersebut.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 145

Tabel 8.3. Strategi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Deskripsi Penelitian deskriptif Penelitian perkembangan Penelitian tindakan Penelitian perbandingan kausal Penelitian korelasional Penelitian eksperimental semu Penelitian eksperimental Tipe penelitian kualitatif Penelitian fenomenologi Penelitian grounded Penelitian etnografi Penelitian historis Penelitian kasus Inkuiri filosofis - Inkuiri fundasional - Inkuiri filosofis - Analisis etik g. Metodologi teori kritik sosial Sumber: Diolah dari berbagai sumber a. b. c. d. e. f. g. a. b. c. d. e. f. Klasifikasi Tipe penelitian kuantitatif

Dalam menentukan strategi penelitian, maka peneliti harus mencermati judul, masalah dan teori yang digunakan. Seperti yang telah dijelaskan dalam Bab 1, bahwa teori yang digunakan memiliki pengaruh dalam penentuan metode penelitian dalam hal ini juga pemilihan strategi penelitian. 3. Teknik pengumpulan data Dalam pengumpulan data berkaitan juga dengan sumber data yang akan digunakan dalam penelitian. Sumber data dalam penelitian dibedakan menjadi sumber data primer dan sekunder. Data primer merupakan data utama yang digunakan dalam penelitian. Data primer dapat diperoleh dari angket/kuesioner (kuantitatif), dan interview guide (kualitatif). Sedangkan data sekunder merupakan data yang mendukung data primer sehingga data yang ditemukan menjadi lebih valid. Biasanya dalam data sekunder berupa dokumentasi seperti monografi daerah, berita koran/majalah, data statistik,dll. Dalam penelitian kuantitatif, teknik pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner, yang berisi pertanyaan yang berstruktur dan jawaban yang diperoleh cenderung kurang mendalam. Kuesioner tersebut dimaksudkan sebagai suatu daftar pertanyaan untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari para responden yaitu orang yang dipilih untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 146

untuk mendapatkan data dengan kuesioner yaitu wawancara melalui telepon, sistem angket yang diposkan, kuesioner diisi sendiri oleh responden, dan melalui wawancara langsung. Sedangkan interview guide umumnya berisikan daftar pertanyaan yang sifatnya terbuka dan ingin memperoleh jawaban yang mendalam. Rangkaian pertanyaan yang tersusun dalam interview guide tidak dilengkapi dengan option jawaban yang sudah ditentukan terlebih dahulu, sehingga memungkinkan informan memberikan jawaban yang lebih rinci, luas dan lengkap. Dengan kata lain, interview guide adalah sejenis rambu-rambu yang dipergunakan untuk mengarahkan seorang peneliti agar tidak terjebak mencari data di luar permasalahan dan tujuan penelitiannya. Selanjutnya, interview guide ini digunakan sebagai pedoman dalam indept interview (wawancara mendalam) untuk mendapatkan data. Selain itu, dalam penelitian kualitatif juga dikenal teknik pengumpulan data melalui observasi baik observasi partisipasi maupun observasi non partisipasi serta focus group discussion (FGD) untuk mendapatkan data yang disepakati bersama dalam kelompok diskusi. 4. Teknik Pengambilan Sampel (Kuantitatif) dan Teknik Pengambilan Cuplikan (Kualitatif) Pada dasarnya, teknik pengambilan sampel meliputi teknik random (random sampling), yaitu teknik penarikan sampel yang mendasarkan diri bahwa setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama dipillih sebagai sampel, dan non random (nonrandom sampling) yaitu teknik penarikan sampel yang mendasarkan pada setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan yang sama. Penarikan sampel secara random meliputi 4 macam yaitu: a. Simple Random Sampling, teknik pengambilan sampel yang paling mudah dilakukan melalui acak sederhana seperti dalam pengocokan arisan. b. Stratified Random Sampling, teknik ini digunakan jika populasi yang dimiliki tidak memiliki sifat homogen tetapi heterogen yaitu karakteristik populasi yang bervariasi. c. Cluster Random Sampling, digunakan jika peneliti memiliki keterbatasan ketiadaan kerangka sampel (daftar nama seluruh anggota populasi) namun peneliti memiliki data yang lengkap tentang kelompok. d. Interval/Systematic Random Sampling, teknik ini digunakan jika populasi sangat banyak dan homogen serta jumlah sampel yang akan diambil juga banyak. Sedangkan teknik penarikan sampel nonprobabilita terdiri dari 4 teknik, yaitu: a. Teknik Penarikan Sampel Aksidental, sampel yang dipilih karena berada pada waktu, situasi dan tempat yang tepat.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 147

b. Teknik Penarikan Sampel Purposive, disebut juga judgmental sampling yang digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel, terutama orangorang yang dianggap ahli. c. Teknik Penarikan Sampel Kuota, yaitu teknik penarikan sampel yang sejenis dengan teknik penarikan sampel stratifikasi, perbedaannya pada saat pengambilan sampel menggunakan cara kemudahan (accidental) bukan cara acak. d. Teknik Penarikan Sampel Bola Salju, digunakan jika peneliti tidak memiliki informasi tentang anggota populasi, biasanya karena penelitian yang dilakukan kasus yang sensitif atau rahasia. Adapun faktor-faktor yang menjadi pertimbangan pengambilan jumlah sampel harus memperhatikan heterogenitas dari populasi, jumlah variabel yang digunakan, dan teknik penarikan sampel yang digunakan. Sedangkan dalam penelitian kualitatif, tidak dikenal adanya pengambilan sampel namun dikenal dengan teknik pengambilan cuplikan atau informan meliputi teknik purposive dan snowball. Teknik purposive merupakan pengambilan informan yang didasarkan pada tujuan penelitian sehingga peneliti dapat membuat kriteria informan untuk memudahkan mendapatkan informan yang tepat. Teknik snow ball adalah teknik pengambilan informan dimana peneliti tidak mengenal dan mengetahui sebelumnya. Dalam teknik ini maka peneliti membutuhkan key informan (informan kunci) yang akan membantuk menemukan informan selanjutnya. Penggunaan teknik ini biasanya penelitian yang bersifat rahasia atau memiliki resiko yang besar.

5. Teknik analisis data Teknik analisis data mengungkapkan analisis yang akan digunakan untuk mengolah data yang akan dikumpulkan. Lebih lanjut, analisis data adalah suatu proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Teknik analisis data ini berhubungan erat dengan jenis penelitian yang digunakan. Pendekatan kuantitatif maka dalam teknik analisis data yang digunakan berhubungan dengan analisis statistik yang dapat diolah dengan program SPSS (komputer). Jika pendekatan kualitatif maka cara mengolah data menggunakan perspektif peneliti dengan memperhatikan kerangka pemikiran yang telah dibuat sebelumnya. Dalam penelitian kuantitatif, analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu pengolahan data, pengorganisasian data dan penemuan hasil. Pada analisis data kuantitatif, Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 148

maka pengolahan data merupakan kegiatan pendahuluan yang meliputi tahap editing dan coding (pembuatan kode), penyederhanaan data dan mengode data. Tahap selanjutnya adalah mengorganisasi data melalui pengelompokkan kategori/variabel ke dalam kategori/variabel baru sehingga data penelitian menjadi lebih sederhana bentuknya sehingga memudahkan peneliti melakukan analisis. Selanjutnya, data diolah menggunakan analisis statistik dengan program SPSS. Setelah analisis data selesai dan informasi telah diperoleh, hasil-hasilnya harus diinterpretasikan untuk mencari makna dan implikasi yang lebih luas dari hasil penelitian tersebut. Interpretasi dilakukan dengan dua cara, pertama, interpretasi secara terbatas, peneliti hanya melakukan interpretasi atas data dan hubungan yang ada dalam penelitian, cara ini merupakan interpretasi dalam pengertian sempit tetapi paling sering dilakukan. Kedua, peneliti berusaha mencari pengertian yang lebih luas tentang hasil-hasil yang diperoleh dari analisis. Interpretasi ini dilakukan dengan cara membandingkan hasil analisis dengan kesimpulan peneliti lain serta menghubungkannya dengan teori. Namun, interpretasi ini jarang dilakukan oleh peneliti. (Sumber: Sudarso, 2005: 56-57; Sutinah, 2005: 100-105) Sedangkan analisis data penelitian kualitatif menggunakan teknik analisis interaktif yang saling berkesinambungan dan dilakukkan secara bersamaan dalam proses penelitian. Langkah analisis data kualitatif terdiri dari 3, yaitu reduksi data, display data serta pengambilan kesimpulan dan verifikasi data. Langkah pertama adalah melakukan reduksi data yaitu menyeleksi data yang diperoleh dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan tujuan penelitian. Data-data yang direduksi memberikan gamabran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencari data yang dibutuhkan. Langkah selanjutnya adalah melakukan penyajian data dalam bentuk matrik, chart, grafik, tabel dan sebagainya. Dari bentuk-bentuk tersebut, dapat dengan mudah data dibaca dan dinterpretasi. Langkah terakhir adalah pengampilan kesimpulan dari data yang telah disajikan dan melakukan verifikasi data dengan cara mengumpulkan data baru jika data perlu diperdalam.

Penulisan Laporan Penelitian Setelah menyusun rancangan penelitian maka yang selanjutnya dilakukan adalah mengumpulkan data sesuai dengan metode penelitian yang telah dibuat. Langkah selanjutnya adalah mengolah data hasil penelitian yang selanjutnya disusun dalam sebuah laporan penelitian. Pada akhir laporan penelitian diberikan kesimpulan dan rekomendasi bagi pihakpihak terkait. Penulisan laporan penelitian dapat juga dimanfaatkan untuk keperluan publikasi

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 149

ilmiah. Hal ini sebagai upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dari hasil penelitian yang telah kita lakukan. Adapun jenis-jenis laporan penelitian adalah: 1. Laporan lengkap 2. Catatan penelitian pendek untuk publikasi singkat dalam jurnal akademik sekitar 1-5 halaman 3. Monografi atau working paper 4. Makalah atau artikel ilmiah untuk dipublikasikan dalam jurnal akademik sekitar 15 20 halaman. 5. Makalah atau artikel untuk dijadikan press release. Makalah ini bersifat sosial meringankan tugas para wartawan. Tujuan dari laporan jenis ini adalah menarik perhatian orang yang berminat untuk membaca lebih lanjut laporan lengkapnya 6. Buku, dapat berupa buku ajar atau buku ilmiah lainnya. Dalam laporan lengkap, semua unsur harus dimasukkan meliputi abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel/grafik, rumusan masalah, tinjauan pustaka, metode penelitian, temuan data, analisis data, kesimpulan, rekomendasi, daftar pustaka dan lampiran.

Abstrak Abstrak berisi uraian singkat tentang tujuan penelitian, teori, metode dan temuan data. Abstrak memudahkan pembaca untuk mengetahui garis besar persoalan, metode, dan temuan data yang ada dalam laporan penelitian. Rumusan Masalah Masalah yang diteliti harus dilaporkan secara jelas, aspek permasalahan sosial dan atau aspek permasalahan akademis. Tinjauan Pustaka Setiap penelitian seharusnya ditempatkan dalam konteks body of knowledge. Selain itu, peneliti perlu meninjau secara kritis data yang sudah ditemukan sebelumnya, analisis yang sudah dilakukan, faktor yang belum diperhatikan oleh penelitian sebelumnya, kekuatan dan kelemahan logika yang ada dalam penelitian dan persetujuan atau ketidaksetujuan penelitian sebelumnya. Temuan dan Interpretasi Sajian temuan data dan interpretasi harus terintegrasikan dalam keseluruhan pemikiran yang logis. Hal ini penting bagi pengembangan ilmu. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan menempatkan temuan data diikuti interpretasi secara bergantian atau menempatkan seluruh Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 150

temuan data secara tersendiri. Hal ini karena pembaca harus dapat menganalisis atau menginterpretasi sendiri temuan-temuan data yang sama dengan analisisnya sendiri. Kesimpulan Tahap ini merupakan tahap merangkum hasil penelitian dengan menampilkan temuan-temuan penting dalam penelitian yang menjadi fokus penelitian. Kesimpulan berisi pernyataan apa yang sudah ditemukan tentang objek yang diteliti dalam konteks kerangka teori. Teknik Penulisan Laporan Penelitian Sebagai upaya untuk menulis laporan penelitian dengan baik maka harus diperhatikan teknik penulisan laporan penelitian yang meliputi: 1. Gaya Penulisan (Bahasa) Bahasa sebagai sarana komunikasi yang paling utama, harus dipergunakan secara efektif. Sebagai syarat agar bahasa mampu mengkomunikasikan suatu hasil tulisan atau temuan secara lebih tepat dan mudah dipahami, maka komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat sehingga memungkinkan proses penyampaian pesan lebih bersifat reproduktif dan impersonal. Dengan kata lain, bahasa yang dipergunakan harus jelas dimana pesan mengenai obyek yang ingin dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga si penerima betul-betul mengerti akan isi pesan yang disampaikan kepadanya. 2. Notasi Ilmiah Pernyataan ilmiah yang dipergunakan dalam tulisan setidaknya harus mencakup 3 hal yaitu, pertama, harus dapat diidentifikasikan orang yang membuat pernyataan tersebut. Kedua, harus dapat diidentifikasikan media komunikasi ilmiah dimana pernyataan itu disampaikan apakah itu makalah, buku, seminar, maupun lokakarya. Ketiga, harus dapat diidentifikasikan lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat berdomisili dan waktu penerbitan itu dilakukan. Ada 2 macam teknik notasi ilmiah yaitu yang dicantumkan atau ditulis langsung di badan halaman setelah kutipan disebut model APA, dan ditulis pada kaki halaman (footnote/catatan kaki). Catatan kaki berfungsi untuk memberikan catatan tambahan dan sebagai sumber informasi bagi pernyataan ilmiah yang dipakai dalam tulisannya. 3. Penulisan Daftar Pustaka Semua kutipan yang ditulis dalam laporan penelitian harus dituliskan sumber pustakanya baik kutipan langsung maupn kutipan tidak langsung. Penulisan sumber referensi tertulis dalam daftar pustaka yang disusun berdasarkan abjad huruf awal nama familinya bagi penulis internasional, sedangkan nama penulis Indonesia tidak perlu dibalik namanya, karena seringkali nama belakang bukan nama famili. Setelah penulisan nama diikuti tahun Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 151

penerbitan buku tersebut, selanjutnya dituli judul buku. Sedangkan nama penerbit dan kota penerbit dituliskan sesudahnya. Berikut contoh penulisan daftar pustaka: Nurcholis Madjid. 2001. Pluralitas Agama, Jakarta, Kompas Piotr Setompka. 2004. Sosiologi dan Perubahan Sosial, Jakarta, Predana 4. Gaya Pengetikan Teknik penulisan laporan penelitian tidak dapat dilepaskan dari standar gaya pengetikan di komputer. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: a. Kertas, biasanya kertas yang digunakan adalah kertas ukuran quarto (A4) dengan berat 70gr. b. Margin (jarak tepi), standar baku dalam hal ini seringkali berubah yaitu 3-3-3-3. Namun ada yang menuliskan 4-3-4-3. Dengan jarak penulisan adalah 1,5 spasi. c. Penulisan tabel dan gambar harus ada nama, nomor dan sumber.

Seminar Hasil Penelitian Langkah terakhir bagi seorang peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian adalah menyusun dan mengkomunikasikan hasil penelitiannya kepada khalayak ramai (umum). Salah satu caranya adalah melalui seminar hasil penelitian. Tujuan

diselenggarakannya seminar hasil penelitian untuk publikasi ilmiah dan pengembangan keilmuan, serta untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak untuk menyempurnakan hasil penelitian. Namun demikian cara mengkomunikasikan hasil penelitian tidak harus menyelenggarakan seminar hasil penelitian namun juga dapat melalui jurnal ilmiah, press release media massa, dan buku.

Lembar Kerja Prosedur kerja 1. Buatlah kelompok yang terdiri dari 4 5 anggota 2. Buatlah topik penelitian yang aktual yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitar, selanjutnya rumuskan masalah dan buatlah instrumen penelitian berdasarkan jenis penelitian yang direncanakan. 3. Setelah itu, presentasikan dan diskusikan di kelas untuk lebih memahami peneltian sosial Lembar Evaluasi 1. Jelaskan pengertian penelitian!

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 152

2. Jelaskan perbedaan secara esensial antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif ! 3. Apakah manfaat teori dalam penelitian kuantitatif? 4. Jelaskan perbedaan teknik pengambilan random sampling dan non random sampling? 5. Bagaimana teknik analisis data penelitian dilakukan, bedakan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif?

DAFTAR PUSTAKA

Bagong Suyanto & Sutinah, 2005. Metode Penelitian Sosial, Jakarta, Prenada Media Bambang Prasetyo & Lina Miftahul Jannah, 2005. Metode Penelitian Kuantitatif, Jakarta, RajaGrafindo Persada Berry, David. 2003. Pokok-pokok Pikiran dalam Sosiologi (terjemahan), Jakarta, RajaGrafindo Persada Black, James A & Champion, Dean J, 1999. Metode dan Masalah Penelitian Sosial, Bandung, Refika Aditama Firman Fajar. Perubahan Sosial diunduh dari http://sosiologipendidikan.blogspot.com/ 2009/03/perubahan-sosial.html tanggal 27 Desember 2012 pukul 18.30 WIB. Giddens, Anthony; Bell, Daniel & Forse, Michel,etc. 2004. Sosiologi: Sejarah dan Pemikirannya (terjemahan), Yogyakarta, Kreasi Wacana Gerungan WA. 1981. Psikologi Sosial, Jakarta-Bandung, PT Eresco Horton, Paul B & Hunt, Chester L. 1984. Sosiologi Jilid 1 dan 2, Jakarta, Erlangga J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto (editor). 2004. Sosialogi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta, Prenada Media. Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik, Jakarta, Gramedia Kamanto Sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi, Jakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta Loekman Sutrisno. 2003. Konflik Sosial, Yogyakarta, Tojion Press Nouri Susan. 2009. Sosiologi Konflik, Jakarta, Kencana Perdana Media Group Nurcholis Madjid. 2001. Pluralitas Agama, Jakarta, Kompas Piotr Setompka. 2004. Sosiologi dan Perubahan Sosial, Jakarta, Predana Ritzer, George. 2004. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013 Hal 153

Ritzer, George & Goodman, Douglas J. 2004. Teori Sosiologi Modern, Jakarta, Prenada Media Rogers, Everret M & Shoemaker. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru (Terj. Drs. Abdillah Hanafi). Surabaya: Usaha Nasional Soerjono Soekanto. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Raja Grafindo Persada. _______________. 1985. Aturan-Aturan Metode Sosiologis (Seri Pengenalan Sosiologi 2 Emile Durkheim), Jakarta, CV Rajawali Sudarwan Danim, 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif, Bandung, Pustaka Setia Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, Alfabeta Taufik Abdullah & Leeden, A.C. Van Der. 1986. Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas (terjemahan), Jakarta, Yayasan Obor Indonesia Tilaar. 2007. Meng-Indoensiakan Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia, Jakarta, PT. Rineka Cipta Veeger, KJ. 1985. Realitas Sosial, Jakarta, PT Gramedia Weber, Max. 2006. Sosiologi (terjemahan), Yogyakarta, Pustaka Pelajar http://wwwcerminguru.blogspot.com/2012/01/kelompok-sosial-dalam-masyarakat.html diunduh tanggal 27 Desember 2012 pukul 18.40 WIB.

Modul PLPG_Sosiologi_Unimed 2013

Hal 154