Anda di halaman 1dari 21

EPISTAKSIS

KELOMPOK III HEMATOLOGY ONCOLOGY MEDIC

ANGGOTA KELOMPOK
030.09.076 Dyka Jafar H.

030.10.074
030.10.196 030.11.007 030.11.021

Denok Kosasi
M. Syahrizal Adri Permana U. Amydhea Garnetta

030.11.034
030.11.049 030.11.064 030.11.079

Anindya L. S.
Atriya Iga Amanda David Setia P. Dimas Firman H.

030.11.094
030.11.108 030.11.121 030.11.136

Fara Julizta A
Fransiska Kartika Hanindia Ayu K. Icha Leandra W.

030.11.151

Junila Rosa

LAPORAN KASUS
Seorang Ibu membawa anaknya Doni, 6 tahun ke poliklinik rumah sakit di Jakarta dengan keluhan utama sering mimisan. Keluhan ini telah berlangsung selama 6

bulan, tanpa trauma dan demam. Pasien tidak pernah


mengalami ptechiae, purpura, ecchymosis dan perdarahan abnormal lainnya.

Usia 6 tahun Berlangsung selama 6 bulan

Epistaksis

Masalah pasien

Epistaksis
Perdarahan melalui hidung yan berasal dari rongga hidung atau sekitarnya

Purpura
Ekstravasasi sel darah merah ke kulit dan mukosa dengan manifestasi berupa makula kemerah yang tidak hilang pada penekanan
Merupakan suatu symptom yang menyertai penyakit lain

Echymosis

Ptechiae

Termasuk dalam pembagian dalam purpura berdasarkan ukuran

Termasuk dalam pembagian dalam purpura berdasarkan ukuran

Merupakan suatu symptom dan memiliki penyebab yang bermacammacam

Ukurannya lebih besar dan letaknya lebih dalam daripada petekie, berwarna kehitaman

Merupakan purpura superfisial berukuran miliar yang awalny a berwarna merah kemudian menjadi kecoklatan seperti karat besi

Mekanisme pembekuan darah

Hubungan 3 faktor hemostasis


Pembuluh darah cedera Penguatan dengan dibantu oleh fibrinogen Pengaktifan faktor-faktor pembekuan darah

vasokontriksi

Agregasi trombosit

Reaksi berantai dari faktor2

Pengeluaran faktor Von Willebrand

Adhesi Trombosit

Bekuan darah

Etiologi epistaksis

Hipotesis
DEFISIENSI VITAMIN K Struktur Faktor II , VII, IX dan X (Vit K dependent) tidak bisa berubah

Epistaksis

Faktor Pembekuan tidak dapat bekerja

Hipotesis
Defisiensi vitamin C Menurunnya produksi kolagen Pengaktifan dan pengikatan trombosit menurun

Epistaksis

Proses hemostasis terganggu

Hipotesis
LEUKIMIA DAN NEOPLASMA Faktor pembekuan menurun
Epistaksis

Proliferasi sel kanker

Depresi sumsum tulang

Infiltrasi sel kanker

Sel normal digantikan sel kanker

Hipotesis
HEMOFILIA Faktor VIII dan IX defisiensi

Hemostasis sekunder terganggu

Tidak terbentuk fibrin dan plug trombosit non permeable

Epistaksis

Hipotesis
LIVER DISEASE Pembentukan factor pembekuan terganggu

Epistaksis

Proses hemostasis terganggu

Pemeriksaan penunjang dari masing-masing hipotesis

Pemeriksaan albumin pengukuran kadar albumin dalam darah

Pemeriksaan cholinesterase (CHE) pengukuran kadar CHE dalam darah.

Pemeriksaan PT (Protrombin Time) Protrombin dihasilkan oleh hati dan merupakan prekusor tidak aktif dalam proses pembekuan.

Liver diseases

Pemeriksaan untuk Leukemia


Biopsi Biopsi Aspirasi Sumsum tulang

Pemeriksaan darah

Sitogenetik

Pemeriksan fisik

Leukemia

Spinal tap

Pemeriksaan untuk Hemofilia

APTT

Untuk menguji jalur intrinsik Untuk menguji jalur ekstrinsik

Hemofilia
PT

Pemeriksaan untuk Vit K dan C


Vitamin K
PT dan APTT
desgammacarboxy prothrombin (DCP)
Kadar Vit K dalam darah

Vitamin C
Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan Vit C dalam darah

TINJAUAN PUSTAKA

EPISTAKSIS

EPISTAKSIS
Epistaksis didefinisikan sebagai perdarahan akut

dari lubang hidung, rongga hidung, atau nasofaring. Bukan merupakan suatu penyakit melainkan suatu gejala suatu kelainan. 90% Berhenti spontan. >90% Berasal dari regio anterior (Plexus Kiesselbach). Penatalaksanaan tergantung lokasi dan berat ringannya.

Patofisiologi Epistaksis
Perdarahan biasanya terjadi ketika mukosa terkikis dan

pembuluh menjadi terpajan dan kemudian pecah.


Lebih dari 90% dari pendarahan terjadi anterior dan timbul

dari daerah kecil, di mana Kiesselbach pleksus terbentuk pada septum. Kiesselbach pleksus dibentuk dari pertemuan ICA/Arteri Karotis Interna (anterior dan posterior arteri ethmoid) dan ECA/Arteri Karotis eksterna (sphenopalatina dan cabang dari arteri maksilaris internal).
Perdarahan posterior muncul lebih jauh ke belakang dalam

rongga hidung, biasanya lebih banyak jumlah darah yang keluar, dan sering berasal dari arteri (misalnya, dari cabang-cabang dari arteri sphenopalatina dalam rongga hidung posterior atau nasofaring). Perdarahan pada bagian posterior memberikan risiko yang lebih besar seperti hambatan pada jalan nafas, aspirasi darah, dan lebih sulit untuk mengendalikan perdarahan

TERIMA KASIH