Anda di halaman 1dari 8

Tugas Kelompok 1 Bahasa Indonesia Rekayasa Sungai

Disusun oleh : Ratu Anita R, NIM : 1350601111071 Elfira Dyah S, NIM : 135060407111003 Hanif Rafif, NIM : 135060407111006 Saifuddin Muhammad, NIM :135060407111012 Hardiman Mahendra, NIM : 135060407111021 Kelas : D

A. Pengertian Sungai Sungai merupakan bagian terendah di permukaan bumi dalam bentuk alur memanjang dari sebelah hulu (atas) menuju ke sebelah hilir (bawah). Sungai merupakan sistem alur alam, dapat terdiri dari satu atau lebih alur-alur yang bertemu atau bercabang yang akan mengalir menuju Samudera, Danau atau laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada

saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai. Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertantu air sungai juga berasal dari lelehan es/salju. Secara hidrologis, jumlah air atau debit aliran di sungai akan dipengaruhi oleh sifat penutupan permukaan lahan. Untuk lahan dengan penutupan berupa vegetasi (baik perkebunan, hutan atau sawah) umumnya akan menyebabkan distribusi air yang lebih merata sepanjang tahun, dimana musim hujan tidak terlalu besar dam musim kemarau tidak terlalu besar dan musim kemarau tidak terlalu kering. Sebaliknya untuk lahan dengan sifat penutupan yang relatif kurang mampu meresap air (pemukiman industri, sarana transportasi, dll), sifat aliran di sungai akan kurang merata sepanjang tahun. Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai (DAS). Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Apabila selama di permukaan air berinteraksi dengan lahan yang mudah tererosi, maka air yang masuk ke sungai, akan membawa banyak kandungan sedimen. Pencemaran yang tidak dikendalikan di lahan pada gilirannya akan terbawa masuk ke sungai. Dibeberapa daerah atau negara (misal : Sungai Ciliwung dan Sungai Angke di Jakarta, sungai Theme di London), sungai telah menjadi bagian dari pengembangan daerah urban. Salah satu dari banyak jenis pemanfaatan sungai di daerah tersebut adalah bahwa sungai digunakan sebagai tempat pembunagan limbah domestik. Konsekuensinya, sungai di bagian hilir relatif lebih banyak menimbulkan permasalahan lingkungan, terutama dari sisi pencemaran kualitas. B. Pemanfaatan sungai Makhluk hidup yaitu tumbuh tumbuhan, hewan, dan manusia untuk melangsungkan kehidupannya selalu membutuhkan air. Sumber sumber air berasal dari; mata air, air tanah, danau, danau buatan (waduk), air hujan, air pasang surut dan sungai. Kelebihan curah hujan dan kelebihan air tanah akan mengalir kelembah membentuk alur alur atau saluran yang lazim disebut Sungai. Sungai digunkan untuk berbagai tujuan yaitu: Air bersih untuk keperluan air minum Keperluan pertanian Untuk pengendalian banjir Keperluan irigasi Keperluan drainase Tenaga Listrik Keperluan industri

a. b. c. d. e. f. g.

h. Keperluan water supply navigasy i. Dan sebagainya. Sumberdaya sungai tidak saja dilihat dari kandungan dan pola ketersediaan air di sungai tersebut, melainkan juga sumberdaya sedimen yang dimilikinya. Pada hampir semua pembangunan keteknik-sipilan, kedua jenis sumberdaya sungai tersebut merupakan material penting yang selalu digunakan. a. b. c. d. e. Aspek negatif bagi keberadaan air sungai terhadap kehidupan adalah: Kelebihan air pada musim penghujan yang mungkin mengakibatkan banjir banjir Kekurangan air pada musim kemarau yang mungkin mengakibatkan kekeringan Erosi pada sungai. Transportasi sedimen maupun material yang mengakibatkan pencemaran lingkungan Pada muara sungai terutama karena pengaruh pasang surut laut, sehingga menimbulkan penutupan muara oleh sedimen C. Aspek negatif fenomena sungai di Indonesia Fenomena sungai di Indonesia yang cenderung bertambah ketika musim hujan dan menyusut ketika musim kemarau dan curah hujan yang terdistribusi tidak merata sepanjang tahun sehingga fluktuasi debit alirannya sangat fluktuatif. Fenomena lain ialah besarnya laju erosi yang terbawa ke hilir yang mengakibatkan terjadi sedimentasi di saluran drainase di hilir. Besarnya laju erosi rata-rata ditunjukkan pada hasil beberapa penelitian yang mengatakan bahwa laju erosi beberapa sungai telah mendekati ambang Toleransi erosi sebesar 1,12 13,45 ton/ha/tahun. Ambang toleransi ini ditentukan berdasarkan berbagai faktor pada sistem pengelolaan tanah. Permasalah sedimentasi di aliran air ini diperparah dengan adanya tambahan limbah padat (sampah) yang masuk di badan air akibat tindakan masyarakat. Indikasi yang terjadi akibat fenomena ini adalah terjadinya transpor sedimen yang besar dan erosi yang terjadi di sungai meander yang berujung pada degradasi sungai.

Tolok ukur manfaat dan pengaruh negatif untuk berbagai jenis kegiatan pemanfaatan sungai yang lain misalnya: 1. Irigasi Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Tolok ukur manfaat: ketersediaan air dengan jumlah dan waktu serta kualitas yang tepat. Pengaruh negatif: pencemaran air dari pupuk/pestisida di sawah, dsb, menyuburkan enceng gondok, ikan-ikan banyak mati. 2. Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau di bawah tanah, drainase bisa merujuk pada parit di permukaan tanah atau gorong-gorong di bawah tanah. Drainase berperan penting untuk mengatur suplai air demi pencegahan banjir. 3. Tenaga hidro Tolok ukur: ketersediaan air dengan debit dan beda tinggi tertentu.

Pengaruh negatif: peningkatan temperatur air menyebabkan turunnya kandungan O2, hewan-hewan (ikan) akan mati, juga semua biota air lainnya.

4. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah pembangkit yang mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik. Energi listrik yang dibangkitkan ini biasa disebut sebagai hidroelektrik. 5. Suplai air Tolok ukur : ketersediaan air dengan jumlah dan kualitas yang memenuhi syarat. Pengaruh negatif : pengambilan air terlalu banyak dapat meningkatan intrusi air laut. Lebih jauh dapat menyebabkan kekeringan 6. Suplai sedimen Tolok ukur: ketersediaan sedimen (sebagai bahan bangunan) dalam jumlah yang cukup. Pengaruh negatif: sedimen yang berlebihan dapat mengurangi kapasitas sungai (banjir), pengambilan sedimen yang berlebihan dapat menyebabkan erosi. Dengan demikian usaha pemanfaatan sungai didefinisikan sebagai usaha-usaha untuk memanfaatkan sumber alam di sungai tersebut, yaitu air dan sedimen. Ilmu teknik sungai diharapkan dapat berperan dalam usaha mengendalikan cara/teknologi pemanfaatan sumberdaya sungai, sehingga pengaruh negatif yang timbul adalah sekecil mungkin.

D. Rekayasa Sungai (River Engineering) Teknik sungai adalah ilmu yang memepelajari bagaimana metode untuk menetapkan manfaat sungai semaksimal mungkin dan bagaimana metode menekan agar aspek aspek negatif pengaruhnya seminimal mungkin. Dengan kata lain bagaimana agar sungai tersebut dapat dimanfaatkan sebesar besarnya bagi keperluan kehidupan makhluk. Ilmu dan teknologi yang dimaksud menyangkut aspek aspek sebagai berikut: a) Topografi b) Meteorologi, Klimatologi c) Hidrologi d) Hidrolika e) Geologi dan Mekanika Tanah f) Geomorpfologi g) Tata guna tanah h) Ekologi i) Lingkungan hidup

E. Penggolongan Teknik Sungai Teknik sungai dapat digolongkan dalam tiga tipe pokok yaitu: 1. Pengaturan Saluran Pengaturan saluran dimaksudkan agar dimensi (ukuran saluran) pada sungai diformulasikan sesuai dengan bentuk rancangan yang diperlukan untuk tujuan tertentu.Jadi lebar dan kedalaman saluran pada sungai diatur sedemikian rupa supaya profil tertentu tersebut dapat dipertahankan sepanjang tahun, lazim disebut normalisasi sungai.Maksud dan tujuan normalisasi adalah untuk keperluan navigasi, melindungi tebing sungai karena erosi (kikisan), atau untuk memperluas profil sungai guna menampung banjir banjir yang terjadi.Pekerjaan untuk normalisasi untuk sungai antara lain menggunakan mesin pengurukan (dredgingmachine), pemasangan krib (groynes), pemasangan tanggul kanan kiri sungai (levee), pemasangan pelindung tebing (revetment), pemasangan ambang terendam (submerged sill) dan lain lain. 2. Pengaturan Debit Curah hujan sepanjang tahun selalu berubah ubah tergantung pada musim, hal ini mempengaruhi banyaknya air yang mengalir disungai. Maka kondisi ini akan menyulitkan pengaturan debit bagi keperluan navigasi, irigasi, tenaga air dan lain lain. Maka untuk itu sungai sunagi yang fluktuasi debit sungai besar yaitu perbandingan debit maksimum dan minimum cukup besar, maka debit sungai perlu diatur. Pengaturan dilakukan dengan cara membangun bendungan besar, sehingga air ditampung dalam suatu waduk (reservoir) tahunan sedangkan debit sungai melalui outlet structure(bangunan pengeluaran) dapat diatur sepanjang tahun. Maka perlu dipasang peralatan debit hydrograph pada sungai disebelah hilir (downstream) waduk. 3. Pengaturan Muka Air Sungai Pengaturan muka air sungai ini dimaksudkan untuk meninggikan muka air sungai dengan membangun sebuah ambang pada palung sungai yang berupa BENDUNG (WEIR) dan air yang dialirkan melalui

saluran buatan.Maksud dan tujuan tersebut digunakan untuk berbagai tujuan yang telah disebutkan. Contoh kegiatan penanganan sungai : Bangunan Pengendalian banjir Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai. Di banyak daerah yang gersang di dunia, tanahnya mempunyai daya serapan air yang buruk, atau jumlah curah hujan melebihi kemampuan tanah untuk menyerap air. Ketika hujan turun, yang kadang terjadi adalah banjir secara tiba-tiba yang diakibatkan terisinya saluran air kering dengan air. Banjir semacam ini disebut banjir bandang. Pendekatan hidrologi dalam sistem DAS telah banyak memberikan jasa bagi perencanaan bangunan air. Berdasarkan prinsip hidrograf satuan, beberapa peneliti telah menghasilkan model-model Hidrograf Satuan Sintetis (model-model HSS), beberapa di antaranya yaitu HSS Snyder (lokasi penelitian di USA, 1938), HSS Nakayasu (lokasi penelitian di Jepang, 1948), dan HSS Gama I (lokasi penelitian di Pulau Jawa, 1985). Keseluruhan model pendekatan tersebut juga berguna untuk pengendalian banjir yang mungkin terjadi di sebuah sungai. Beberapa bangunan pengendali banjir dan transpor sedimen yang ada di Indonesia pada umumnya terdapat di Pulau Jawa dengan jumlah penduduk yang banyak dan kepadatan yang tinggi. Mengatasi masalah banjir di Indonesia sampai saat ini masih bertumpu pada upaya yang bersifat struktur, yaitu berupa kegiatan fisik yang berada di sungai (instream). Tujuannya melindungi dataran banjir yang telah berkembang menjadi kawasan pemukiman, agar masalah banjir menjadi berkurang. Upaya mengatasi masalah banjir dan genangan hanya bertujuan memperkecil kerugian atau bencana yang ditimbulkan oleh banjir (flood damage mitigation). Bangunan yang dipakai untuk pengendali banjir di antaranya: 1. Waduk Pengendalian banjir di suatu DPS yang telah terbangun di Kali Brantas, ditentukan dari usaha melakukan konservasi potensi air permukaan yang tersedia secara alami melalui pengelolaan tampungan permukaan dan proses mendistribusikan air yang tersedia sesuai kebutuhan.Pengendalian banjir melalui waduk dapat dilakukan dengan cara menahan/ menampung sementara debit banjir di dalam waduk, selanjutnya air dilepas setelah keadaan debit di hilir memungkinkan, atau pada saat di hilir membutuhkan tambahan debit air. 2. Tanggul Upaya pengendalian banjir dapat juga dilakukan dengan cara meningkatkan/menambah kapasitas penampang sungai melalui peninggian tanggul. Peninggian tanggul disamping untuk meningkatkan kapasitas penampang sungai juga melindungi daerah kanan/ kiri sungai terhadap kemungkinan terjadinya luapan banjir. Beberapa sungai yang telah dilengkapi dengan tanggul antara lain : Kali

Brantas Kali Wudu Kali Porong Kalidawir Kali Surabaya Kali Konto Kali Wonokromo Kali Konto Kali Ngasinan Kali I Ulo Kali I Ngasinan Kali Ulo Kali Parit Raya Kali Widas Kali Termas Kali Kedungsoko Kali Beng Dan Lain-lain 3. Diversion/ Flood way/ Shortcut Floodway Merupakan suatu kanal pengelak banjir, yaitu suatu saluran yang berfungsi untuk menguragi beban/ volume banjir suatu daerah untuk kemudian dialirkan ke suatu daerah yang aman (laut). Di DPS Kali Brantas terdapat 5 (lima) flood way yang cukup besar, yaitu : Kali Porong Berfungsi untuk mengurangi/ mengelakkan beban banjir Kali Surabaya dari Kali Brantas dengan membuang langsung ke laut melalui pintu pengatur Dam Lengkong Baru Kali/ Kanal Wonokromo Berfungsi untuk mengurangi/ mengelakkan beban banjir jantung Kota Surabaya dari Kali Surabaya dengan membuang langsung ke laut melalui pintu pengatur Dam Jagir Nganjuk/ Ulo Flood Diversion Berfungsi untuk mengurangi/ mengelakkan beban banjir Kota Nganjuk dari Kali Ulo dan sekitarnya dengan membuang/ memotong langsung ke Kali Widas. Kali Parit Raya, Parit Agung dan Terowong Tulungagung Selatan Berfungsi untuk membebaskan daerah Tulungagung dari banjir yang datang dari Kali Ngasinan, Kalidawir dan lain-lain dengan cara langsung mengalirkan ke laut selatan melalui pintu pengatur Dam Bendo (Kali Ngasinan) dan Pintu Terowong Tulungagung Selatan. Shortcut/ Sudetan Kali Putih Berfungsi untuk mengurangi/ mengelakkan beban banjir/ sedimen/ lahar yang datang dari Gunung Kelud langsung ke hilir Bendung Lodoyo 4. River Improvement/ Perbaikan Alur Sungai Perbaikan alur sungai dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai melalui kegiatan/ pekerjaan pelurusan alur sungai, pengerukan dasar sungai, perkuatan tebing, parapet dan lain-lain. Beberapa perbaikan alur sungai yang telah dilaksanakan di DPS Kali Brantas antara lain: K. Brantas, K. Porong, K. Surabaya, K. Wonokromo, K. Ngasinan, K. Ngrowo, K. Widas, K. Kedungsoko, K. Mas, Dan Lain-lain Sedangkan contoh kegiatan pemanfaatan sungai yang ditujukan untuk penyediaan air (irigasi dan non irigasi) antara lain adalah: a. Perbaikan saluran: mempertahankan kapasitas sungai seperti debit rencana b. Membuat tanggul dan perlindungan tebing (terutama di daerah belokan untuk mencegah erosi) c. Membuat waduk: sebagai tempat penampungan air dan pengaturan/ pengalokasian air d. Membuat bendung: mempermudah pengaturan air.

Daftar Pustaka

http://id.scribd.com/doc/28672220/TEKNIKSUNGAI http://id.scribd.com/doc/83999956/teknik-sungai http://id.wikipedia.org/wiki/Pembangkit_listrik_tenaga_air http://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_air http://id.wikipedia.org/wiki/Drainase

http://sudarman28.blogspot.com/2011/09/rekayasa-sungai.html https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&ved=0C DgQFjAC&url=http%3A%2F%2Ffrengkiasharia.files.wordpress.com%2F2012%2F08%2Fp ermasalahansungai1.docx&ei=kJdHUuSnDsKGrAe0_4DQBw&usg=AFQjCNEn9dQAv9a9B9cpTNlAlt O3uUmqEA&bvm=bv.53217764,d.bmk