Anda di halaman 1dari 32

BAB IV ANALISA KUALITAS BATUBARA

4.1 Pengertian Analisa Kualitas Batubara Analisa Kualitas batubara bertujuan untuk mengetahui kandungan yang terdapat di dalamnya. Dalam pemanfaatannya, batubara harus diketahui terlebih dahulu kualitasnya. Hal ini dimaksudkan agar spesifikasi mesin atau peralatan yang memanfaatkan batubara sebagai bahan bakarnya sesuai dengan mutu batubara yang akan digunakan, sehingga mesin-mesin tersebut dapat berfungsi optimal dan tahan lama. 4.2 Kualitas Batubara Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara dipengaruhi oleh komponen-komponen dalam batubara tersebut, yaitu air (moisture), organic matter penyusunnya. 4.2.1 Air (moisture Air yang terkandung dalam batubara terdiri dari Air bebas (free moisture) adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan, dalam retakan atau kapiler dan mempunyai tekanan uap normal. Kadarnya dipengaruhi oleh bermacam macam kondisi, seperti pengeringan dan pembasahan selama penambangan, transportasi, penyimpanan dan lain-lain. Air lembab (inherent moisture!moisture in air dried sample) adalah air yang terikat secara fisik dalam batubara pada struktur pori-pori sebelah dalam, dan mempunyai tekanan uap lebih rendah daripada tekanan normal. Kadar air lembab dipakai sebagai karakteristik dasar daripada batubara, kadar air lembab bertambah besar dengan turun naiknya rank batubara. Air kristal adalah air yang terikat secara kimia dengan mineral yang terdapat dalam batubara. "entuk ini menguap pada suhu yang cukup tinggi, tergantung dari jenis mineral yang mengikatnya. #enguapan umumnya mulai terjadi pada suhu di atas $%& '. "eberapa badan standarisasi international membuat metode untuk menetapkian air kristal ini, namun jarang dipergunakan. #ara ahli Amerika menetapkan air kristal ini sebesar () dari kadar abu batubaranya, sedangkan negara *ropa menetapkan sebesar +) dari kadar abu batubaranya. 4.2.2 !rgani" #atter ($at !rgani% ,rganik matter adalah satu-satunya komponen batubara yang menghasilkan kalori pada proses pembakaran. #enguraian komponen ini dapat dilihat dari dua sisi berbeda. #ertama dilihat dari sisi bagian dan jenis tanaman a-al yang membentuknya, sedangkan sisi kedua dilihat dari unsur kimia yang membentuknya.
&

yang terdapat

dan mineral matter

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Dilihat dari sisi pertama, yaitu bagian dan jenis tanaman a-al yang membentuknya, komponen batubara ini diuraikan menjadi beberapa elemen yang disebut dengan maceral. .ihat tabel di ba-ah ini/ 0abel 1. 2ean 2aceral 3roup

2aceral 3roup Vitrinite

2aceral Collinite Telinit

"agian!jenis tanaman

Wood and cortical tissues

Exinite

Sporinite Resinite Cutinite Alginite

Spore exines Resine and waxes Leaf cuticles Algae

Inertinite

Fusinite Semi Fusinite Micrinite Scleronite

Wood and corticle tissues Wood and corticle tissues ncertain Resin or fungae

4ika dilihat dari sisi kedua, yaitu unsur kimia yang membentuknya, komponen ini terdiri dari unsur car!on" #$drogen" nitrogen" sulfur" ox$gen" serta terdapat juga sedikit unsur 5at organik ba-aan, seperti natrium, kalium, dan sebagainya. 6alaupun 5at organik batubara merupakan satu-satunya komponen yang menghasilkan kalori, namun di dalamnya terdapat beberapa unsur yang dianggap pengotor, karena pada proses pembakaran unsur ini dapat menimbulkan polusi. 7nsur kimia tersebut antara lain nitrogen dan sulfur.Dalam proses pembakaran, nitrogen akan membentuk 8,9, sedangkan sulfur akan membentuk :,;. 4.2.& Inorgani" #atter ($at Anorgani% *lemen dari 5at anorganik disebut mineral atau disebut juga dengan mineral matter. :atu hal yang perlu diingat, bah-a batubara tidak mengandung abu tetapi mengandung mineral. Abu hanyalah residu sisa pembakaran batubara, namun dalam pengujian disebut sebagai kadar abu. Kadar mineral matter dalam batubara bisa didapat le-at pengujian di laboratorium, tetapi hal tersebut jarang dilakukan. #ada umumnya untuk mendapatkan data ini melaui

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

perhitungan. "anyak formula yang dapat digunakan untuk menghitung kandungan mineral matter, %arr formula adalah salah satunya, 22 < 1.&(A = &.%%: 22 < mineral matter, ) A < ash, ) : < sulfur, ) 2ineral yang terdapat dalam batubara terbagi dalam dua bentuk, yaitu in#erent mineral dan extraneous mineral matter. In#erent Mineral 2aterial ini terdapat dalam batubara dalam bentuk partikel halus yang tersebar ke seluruh bagian batubara. #ada dasarnya, sebagian material ini ialah unsur anorganik berasal dari tanaman yang membentuk batubara tersebut, dan sebagian lainnya berasal dari material sampingan yang terba-a ke dalam batubara selama terjadinya proses pembentukan batubara. ,leh karena itu jumlah serta sifat mineral dalam batubara bisa berbeda dari satu lapisan ke lapisan lainnya. "erdasarkan bentuk ikatan mineral ini dengan batubara maka hampir dapat dipastikan bah-a mineral ini tidak dapat dipisahkan dari batubara dengan cara mekanis (penggilingan dan pencucian). Extraneous mineral 2aterial ini berasal dari tanah penutup atau lapisan-lapisan yang terdapat di antara lapisan batubara yang terba-a ke dalam batubara saat berlangsungnya proses penambangan. #ada umumnya tingkat kandungan e9traneous mineral dalam batubara ber>ariasi mengikuti ukuran partikelnya, dimana partikel yang lebih halus akan mempunyai kandungan e9traneous mineral yang lebih tinggi, sehingga proses liberasi dengan penggilingan ke ukuran yang lebih kecil dapat dimanfaatkan. Komponen-komponen batubara dapat digambarkan sebagai berikut "atubara

moisture

&rganic matter

Inorganic matter

Komponen pengotor

sumber energi sumber karbon

komponen pengotor

Kalori merupakan hasil #embakaran (oksidasi) komponen ini

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

4.& Basis 'alam Per(itungan Analisa Batubara "asis dalam perhitungan hasil analisa batubara adalah dasar yang dipakai untuk

menyatakan nilai dari suatu parameter dan menginterpretasikan nilai tersebut pada kondisi tertentu. ?nterpretasi dari basis tersebut sesuai dengan istilah basis tersebut, misalkan seperti basis basis di ba-ah ini As recei>ed!as sampled basis (ar) < nilai parameter atau kualitas batubara pada saat batubara tersebut diterima ! disampling.

Air dried basis (adb) < nilai kualitas pada kondisi batubara setelah dikeringkan dalam udara.

Dry basis (db) < nilai kualitas pada kondisi batubara kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free)

Dry ash free basis (daf) < nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut kering dan bebas dari ash.

Dry mineral matter free basis (dmmf) < menginterpretasikan nilai kualitas pada kondisi batubara tidak mengandung air dan mineral matter.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

2oist, mineral matter free basis (mmmf) menginterpretasikan nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut masih didalam tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter.

"asis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau biasanya dipakai dalam menyatakan nilai dari suatu parameter kualitas dari suatu batubara. :elain basis-basis tersebut di atas masih ada beberapa basis lainnya yang hanya untuk keperluan tertentu saja digunakan seperti misalnya @ :ulfat free, :,A free, Ash free, dan lain-lain. Dari interpretasiBinterpretasi basis di atas, maka dibuatlah suatu persamaan matematis untuk menyatakannya ke dalam bentuk angka.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

4.&.1 Rumus Untu% #eng(itung )asil Pengu*ian %e Basis +ang Berbe,a (IS! 11-./100- 1

4.4 PARA#1T1R/PARA#1T1R KUALITAS BATUBARA #arameter-parameter kualitas yang dilakukan pengujian di .aboratorium terdiri dari 0otal 2oisture #roksimate air (moisture), abu (ash content), 5at terbang (>olatile matter) dan karbon padat (fi9ed carbon) 7ltimate carbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen 'alorific >alue (nilai kalor) Ash Analysis (komposisi abu) Ash Cusion 0emperature (titik leleh abu) Hardgro>e 3rindability ?nde9 (inde9 ketergerusan) :i5e Analysis (ukuran partikel) :lagging dan Couling ?nde9 4.4.1 Total #oisture 0otal moisture (02) adalah air (moisture) yang terkandung dalam batubara, yang menggambarkan kandungan keseluruhan moisture yang terdapat dalam batubara. 0otal moisture dalam analisa terdiri dari Cree 2oisture dan Desidual 2oisture. 0inggi rendahnya total moisture tergantung pada #eringkat "atubara (Dank) :i5e Distribusi Kondisi pada saat sampling (pengambilan sample)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Pering%at Batubara :emakin tinggi peringkat suatu batubara semakin kecil porositas batubara tersebut atau semakin padat batubara tersebut. Dengan demikian akan semakin kecil juga moisture yang dapat diserap atau ditampung dalam pori-pori batubara tesrsebut. Hal ini menyebabkan semakin kecil kandungan moisturenya terutama inherent moisturenya.

Si2e 'istibusi :emakin kecil ukuran partikel batubara, maka semakin besar luas permukaannya. Hal ini menyebabkan semakin tinggi surface moisturen$a. #ada nilai inherent moisture tetap, maka total moisture-nya akan naik karena naiknya surface moisture. Kon,isi Sam3ling 0otal moisture dapat dipengaruhi oleh kondisi pada saat batubara tersebut di sampling. Eang termasuk kondisi sampling adalah Kondisi batubara pada saat di sampling :i5e distribusi sample batubara yang diambil terlalu besar atau terlalu kecil 'uaca pada saat pengambilan sample 4.4.2 Pro%simate #ada proses pembakaran batubara pada suhu tertentu terjadi beberapa perubahan fisik pada komponen batubara. 2oisture akan menguap. 2ineral akan terbakar menghasilkan residu yang disebut dengan ash dan menguapkan sedikit 5at terbang yang kemudian terukur sebagai sebagian kecil dari 'olatile matter. &rganic matter akan menghasilkan residu karbon

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

yang disebut dengan fixed car!on serta gas hidrokarbon ringan yang menguap sebagai 'olatile matter( 4adi proksimate adalah rangkaian pengujian untuk mengukur unsur moisture, abu, >olatile matter dan fi9ed carbon. #oisture 2oisture dalam standar A:02 disebut Moisture in t#e Anal$sis Sample adalah moisture yang terkandung dalam batubara dikeringkan dalam udara. "esar kecilnya dipengaruhi oleh peringkat batubara, makin tinggi peringkatnya maka semakin rendah moisturenya. 8ilainya tergantung pada humiditas (kelembaban) dan temperatur ruangan di mana moisture tersebut dianalisa. 8ilainya tergantung juga pada preparasi sample sebelum moisture dianalisa (standar preparasi)

3ambar $.1. Diagram Alir :tandar #reparasi sample untuk moisture Abu (As( 4ontent "atubara sebenarnya tidak mengandung abu, melainkan mengandung mineral matter. 8amun sebagian mineral matter dianalisa dan dinyatakan sebagai kadar Abu atau Ash 'ontent. 2ineral 2atter atau ash dalam batubara terdiri dari inherent dan e9tarneous. ?nherent Ash ada dalam batubara sejak pada masa pembentukan batubara dan keberadaan dalam batubara terikat secara kimia dalam struktur molekul batubara. :edangkan *9traneous Ash, berasal dari dilusi atau sumber abu lainnya yang berasal dari luar batubara.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

$at terbang (Volatile #atter Folatile matter! 5at terbang, adalah bagian organik batubara yang menguap ketika dipanaskan pada temperature tertentu. Folatile matter biasanya berasal dari gugus hidrokarbon dengan rantai alifatik atau rantai lurus, yang mudah putus dengan pemanasan tanpa udara menjadi hidrokarbon yang lebih sederhana seperti methana atau ethana. Kadar Folatile 2atter dalam batubara ditentukan oleh peringkat batubara. :emakin tinggi peringkat suatu batubara akan semakin rendah kadar >olatile matternya. Folatile matter dalam batubara dapat dijadikan sebagai indikasi reaktifitas batubara pada saat dibakar. Karbon Pa,at5Tertambat (6i7e, "arbon Ci9ed carbon ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam batubara setelah >olatile matter dipisahkan dari batubara. Kadar fi9ed carbon diperoleh dari hasil perhitungan sebagai berikut #ersentase fi9ed carbon < 1&&) - )(moisture = ash content = >olatile matter) 4.4.& Ultimate 7ltimate adalah rangkaian pengujian untuk mengukur unsur yang terkandung dalam organic matter, yaitu car!on" #$drogen" nitrogen" sulfur" ox$gen dan unsur lainnya yang jumlahnya tidak terlalu besar seperti c#lorine dan flourine. #ada saat pembakaran, komponen organic matter inilah yang menghasilkan kalori. 4.4.4 4alori8i" Value (Nilai Kalor :alah satu parameter penentu kualitas batubara ialah nilai kalornya, yaitu seberapa banyak energi yang dihasilkan per satuan massanya. 8ilai kalor batubara diukur menggunakan alat yang disebut "omb Kalorimeter. 8ilai kalori batubara dapat dinyatakan dalam satuan 24!Kg, Kcal!Kg atau "tu!.b. 8ilai kalori tesebut dinyatakan dalam 3ross dan 8et. 8ilai kalori batubara bergantung pada peringkat batubara. :emakin tinggi peringkat batubara, semakin tinggi nilai kalorinya. 8ilai kalori juga dipengaruhi oleh moisture dan abu. :emakin tinggi moisture dan abu, semakin rendah nilai kalorinya. 4.4.9 As( Anal+sis As# anal$sis adalah pengujian untuk menentukan komposisi kimia residu sisa pembakaran (abu). #arameter yang dianalisa adalah silika (:i,;), alumina (Al;,A), besi (Ce;,A), kalsium ('a,), Kalium (K;,), 8atrium (8a;,), 2agnesium (2g,), 0itanium (0i;,), posfor (#;,%), 2angan (2nA,$), dan sulfur (:,A). Data ash analysis ini dapat dipakai untuk menghitung potensi slagging dan fouling yang akan terjadi di ruang bakar. 4.4.: As( 6usion Tem3erature As# Fusion Temperature adalah pengujian untuk melihat perilaku abu ketika dipanaskan pada suhu tertentu. Abu tersebut meleleh atau tidak. #arameter yang dilaporkan adalah suhu pada saat contoh abu (yang dibentuk seperti piramid) berubah bentuk sesuai dengan

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

profil-profil yang tersedia dalam metode standar. #rofil-profil tersebut, yaitu deformation" sp#erical" #emisp#erical dan flow. 4.4.- )ar,gro;e <rin,abilit+ In,e7 (In,e7 Ketergerusan Hardgro>e 3rindability ?nde9 (H3?) atau nilai ketergerusan hardgro>e adalah angka yang menunjukkan kemudahan batubara untuk digerus oleh alat penggerus (pul>eri5er) di #.07. 8ilai H3? yang tinggi menyatakan batubara tersebut mudah digerus dan sebaliknya. 4.4.= Si2e Anal+sis ( Analisa U%uran Parti%el :i5e analysis ialah pengujian yang mengukur distribusi!penyebaran ukuran patikel batubara. #engujian ini penting artinya dalam perancangan preparation plant, mengukur kinerja crushing plant dan terutama dalam #.07 adalah perancangan peralatan #ul>eri5er. 4.4.0 Slagging ,an 6ouling In,e7 Slagging adalah masalah yang timbul pada proses pembakaran dimana abu batubara meleleh dan membentuk kerak yang menempel di dinding ruang bakar pada daerah radiasi seperti di wall tu!e !oiler. Slagging Index adalah indeks yang dihitung dari data ash analysis maupun data ash fusion temperature (titik leleh abu), yang dapat memberikan indikasi kecenderungan suatu batubara menimbulkan masalah slagging selama pembakaran. Fouling adalah masalah yang timbul pada proses pembakaran dimana abu batubara halus yang mengandung sodium menguap bersama sama sulfur dan bereaksi membentuk endapan dan menempel di pipa boiler pada daerah kon>eksi seperti di super#eater dan re#eter. Fouling Index adalah indeks yang dihitung dari data ash analysis, yang dapat memberikan indikasi kecenderungan suatu batubara menimbulkan masalah fouling selama pembakaran. 4.9 PRINSIP K1R>A 'AN ANALISA KUALITAS BATUBARA Analisa!pengujian kualitas batubara merupakan tahapan yang sangat penting untuk

menentukan kualitas batubara sesuai kontak atau design boiler.#engujian kualitas batubara dilakukan di laaboratorium setelah melaui tahapan pengambilan sample (sampling) dan penyiapan sample (preparasi). #rosedure pelaksanaan pengujian kualitas batubara menggunakan standar nasional (:8?!:tandard 8ational ?ndonesia) maupun standar

internasional (A:02!American :ociety 0esting and 2aterials, ?:,!?nternational :tandard ,rgani5ation, ":!"ritish :tandard, A:!Australian :tandard), dan lain-lain yang diakui secara international. #ada materi diklat ini hanya dibahas standar A:02 (umum dipakai oleh laboratorium di #.07). #engujian kualitas batubara meliputi pengujian sifat kimia dan fisika batubara, di antaranya proksimate (moisture, kadar abu, 5at terbang dan fi9ed carbon), ultimate (carbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan o9ygen), nilai kalori, ash analysis, ash fusion temperature,Hardgro>e grindability inde9 (H3?), si5e analysis dan slagging!fouling inde9. 7ntuk memperoleh hasil analisa yang >alid (dapat dipercaya), perlu diperhatikan hal-hal berikut #eralatan analisa dan pendukungnya harus terkalibrasi dan tertelusur ke satuan international

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Guality control dilakukan secara konsisten agar penyimpangan hasil analisa dapat diketahui sedini mungkin dan dilakukan tindak lanjut perbaikannya. 4.9.1 Analisa Total #oisture (AST# '/&&.2 #engujian total moisture dilakukan dalam dua tahap sehingga pengujiannya disebut two) stage determination. 0ahap pertama dilakukan di ruang preparasi contoh dengan menimbang contoh, kemudian dikeringkan pada suhu ruangan sampai diperoleh berat konstan (perbedaan berat penimbangan terakhir dengan berat penimbangan sebelumnya harus H&.1)). Kehilangan berat dihitung persentasinya dan disebut dengan air dr$ loss (A:02) atau free moisture (?:,!":!A:). 0ujuan pencapaian berat konstan adalah agar contoh tidak mengalami perubahan lagi (menyerap atau menguapkan moisture) pada saat dilakukan proses preparasi berikutnya seperti pengggilingan dan pembagian, sehingga hasil pengujian total moisture menjadi lebih benar. :etelah dicapai berat konstan, contoh digiling ke partikel tertentu, diambil sebagian dan dikirimkan ke laboratorium untuk dianalisa residual moisture-nya, dengan cara memanaskan contoh tersebut dalam o>en pada suhu 1&%-11& ' selama A jam sambil dialiri gas nitrogen.
&

3ambar $.;. Diagram Alir #enentuan 0otal 2oisture

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

Total moisture kemudian dihitung dengan rumus 02 < AD. = D2 9 (1-AD.!1&&) Di mana 02 < total moisture dalam ) (as-recei>ed basis B ar) AD. < air-dry loss dalam ) (as-recei>ed basis B ar) D2 < residual moisture dalam ) (air-dried basis B ad) 4.9.2 Analisa Pro%simate (AST# '/&1-&? '/&1-4? '/&1-9 ,an '/-9=2 a. Analisa #oisture in t(e Anal+sis Sam3le (AST# '/&1-& #enetapan Moisture in t#e Anal$sis Sample ditentukan dengan cara memanaskan 1 gram contoh batubara berukuran -I& mesh dalam o>en pada suhu 1&%-1&J selama A jam atau sampai berat konstan. Kehilangan berat selama pemanasan adalah berat air lembab dari batubara tersebut. "erat asal < 21 "erat ca-an = sample setelah dipanaskan < 2A "erat ca-an = sample setelah dipanaskan < 2A #ersentase moisture < (2; B 2A)! 2A 9 1&&)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

3ambar $.A. 0ahap-tahap analisa moisture b. Analisa Abu (As( 4ontent / (AST# '/&1-4 'a-an ditimbang dan kemudian dimasukkan sampel ke dalam ca-an
& &

sebanyak 1 gram.
&

:ampel dimasukkan ke dalam furnace" yaitu memulai dari suhu rendah ;%& ' selama A& menit kemudian suhu ;%&-%&& ' selama A& menit dan %&&-(1% ' selama I& menit. 'a-an diambil dari dalam furnace dan diletakkan pada lempengan logam kemudian didinginkan dalam desikator. :etelah dingin kemudian sampel ditimbang. 'ara ini diulangi untuk sampel yang sama, sampai didapat hasil yang hampir sama.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

3ambar $.$. 0ahap-tahap analisa abu ". Analisa $at Terbang (Volatile #atter / (AST# '/&1-9 Folatile matter ditentukan dengan cara menghitung kehilangan berat dari contoh batubara yang dipanaskan tanpa oksigen pada suhu +&& ' K 1& ' selama J menit, selanjutnya hasilnya dikoreksi terhadap kadar air lembab. 0ujuan dipanaskan tanpa oksige agar tidak terjadi oksidasi terhadap organic matter-nya dan >olatile matter yang diukur adalah murni sebagai >olatile matter saja.
& &

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

,. Analisa Karbon Pa,at (6i7e, "arbon Kadar fi9ed carbon diperoleh dari hasil perhitungan sebagai berikut #ersentase fi9ed carbon < 1&&) - )(moisture = ash content = >olatile matter) e. Analisa Pro%simate meto,e instrumental (AST# '/-9=2 2etode pengujian secara instrumental ini meliputi penentuan moisture, abu,>olatile matter dan perhitungan fi9ed carbon secara gra>imetri dalam suatu alat yang diprogram dan dikendalikan oleh sistem komputer. #enimbangan, pemanasan dan perhitungan terhadap parameter tersebut langsung dapat dilihat di layar komputer.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

3ambar $.%. #eralatan analisa #roksimate secara ?nstrumental (.*',-03A-I&1)

4.9.& Analisa Ultimate (AST# '/&1--? '/&1-=? '/&1-0? '/42&0 ,an '/9&-& a. Analisa 4arbon ,an )+,rogen (AST# '/&1-= Kadar karbon dan hydrogen ditentukan secara bersamaan dengan cara mengoksidasi contoh dengan oksigen murni dalam alat L2icro 'ombustion CurnaceM, sehingga seluruh karbon berubah menjadi karbon dioksida (',;) dan hydrogen berubah menjadi air (H;). 3as hasil oksidasi ini dialirkan melalui penyerap air dan karbon dioksida, kemudian ditetapkan secfara gra>imetri. 0otal karbon dan hydrogen dihitung dari penambahan berat penyerap gas-gas tersebut. b. Analisa Nitrogen (AST# '/&1-0 7ntuk penentuan nitrogen dilakukan dengan cara Kyeldahl. 'ontoh batubara didestruksi dengan asam sulfat pekat sehingga terbentuk garam amonium sulfat (8H$);:,$ dan selanjutnya dilakukan proses destilasi. #ada saat larutan mendidih tambahkan larutan kalium hidroksida, maka 8HA akan dibebaskan dan ditampung ke dalam larutan asam borat. Kadar nitrogen dapat dihitung dengan cara meniter (titrasi) larutan tersebut. "atubara = H;:,$ ------N (8H$);:,$ (8H$);:,$ = K,H -------N 8H$,H -----N 8HA = H;,

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

". Analisa Sul8ur (AST# '/&1--? '/42&0 Analisa total sufur dapat dilakukan dengan A metode yaitu metode *sckha, metode pembakaran suhu tinggi dan metode ?nfra Ded (isntrumental). Analisa dengan metode *sckha (A:02 D-A1JJ) 'ontoh batubara dicampur dengan pereaksi *sckha (2g, = 8a;',A) dan dipanaskan dalam furnace sampai suhu (;% ', selanjutnya leburan dilarutkan dalam air panas. :ulfat yang terbentuk kemudian diendapkan dengan penambahan larutan "a'l; membentuk endapan "a:,$ dan selanjutnya ditetapkan secara gra>imetri. ) : < O(A-") 9 1A,JA(P!' Di mana A < berat "a:,$ yang diendapkan " < berat "a:,$ koreksi ' < berat sample yang dianalisa Analisa dengan metode pembakaran suhu tinggi (A:02 D-$;A+) 'ontoh batubara dibakar dalam furnace pada suhu 1A%& ' dengan dialiri oksigen. 3as :,; dan 'l; yang terbentuk diserap oleh larutan hydrogen peroksida dan selanjutnya kadar sulfur ditentukan dengan cara titrasi. Koreksi dilakukan untuk menghitung jumlah chlor yang terbentuk. oksigen "atubara ------------N :,; = H;,; -------N H;:,$ ------N titrasi 1A%& ' Analisa ,engan meto,e In8ra Re,5instrumental (AST# '/42&0 #enetapan ini menggunakan sebuah peralatan instrumen yang dikendalikan oleh sistem komputer. :alah satu peralatan yang digunakan adalah .*', :-1$$DD. #engujian dimulai dengan menimbang sample. :ample dibakar di dalam sebuah L'ombustion 'hamberM pada suhu 1A%& ', di mana dengan adanya oksigen yang dialirkan ke dalam ruang bakar akan mengakibatkan sample terbakar. #roses pembakaran akan merubah elemen sulfur menjadi :,;. 3as-gas tersebut selanjutnya dile-atkan ke cell infra red untuk mengukur kadar sulfur dalam batubara tersebut. oksigen "atubara ------------N :,; -------N cell infra red 1A%& '
& & & & &

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

3ambar $.I. #eralatan analisa sulfur dengan metode infra red (instrumental) ,. Analisa !%sigen (b+ ,i8eren"e Kadar oksigen dalam batubara adalah kandungan oksigen yang terdapat dalam batubara, baik yang terikat dalam material batubara, mineral maupun dalam air. Kadar oksigen ditentukan dengan cara perhitungan, menggunakan persamaan berikut Kadar total oksigen = 1&&) - )(abu = ' = H = 8 = :) Kadar oksigen terkoreksi < 1&&) - ) (abu = air = H terkoreksi = ' = 8 = :) Di mana ,ksigen terkorekasi adalah kadar oksigen tidak termasuk oksigen dalam air. Hidrogen terkoreksi adalah kadar hidrogen tidak termasuk hidrogen dalam air, dapat dihitung dengan menggunakan rumus H terkoreksi < H total B (&.111+ 9 moisture) 4.9.4 Analisa Nilai %alor (AST# '/9=:9 8ilai kalor adalah panas yang dihasilkan oleh pembakaran setiap satuan berat batubara pada kondisi satandar, satuannya adalah cal!g, kcal!kg, 24!kg atau "tu!lb. 8ilai kalori dari batubara dapat dihitung dari kenaikan suhu setelah pembakaran dengan mengadakan beberapa koreksi. (ta B t&) 9 ' B f koreksi 8ilai Kalor, kcal!kg < Di mana @ 2

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

0a < suhu a-al 0b < suhu akhir ' < kapasitas panas efektif (energi ekui>alent) 2 < berat contoh Caktor koreksi, f adalah 1. #anas akibat pembakaran ka-at ;. #anas pembentukan asam sulfat, dan A. #anas pembentukan asam nitrat :elama proses pembakaran yang sebenarnya di boiler, nilai gross calorific >alue ini tidak pernah tercapai karena beberapa komponen batubara, terutama air, menguap dan menghilang bersama-sama denga panas penguapannya. 8ilai pendekatan maksimum kalori yang dapat dicapai selama proses ini adalah nilai net calorific >alue, nilai ini didapat dengan perhitungan

3ambar $.J. #eralatan analisa 8ilai Kalor 4.9.9 Analisa Kom3osisi Abu5As( Anal+sis (AST# '/&:=2 Abu batubara dikomposisikan dari senya-a-senya-a :i, Al, Ce, 'a dan sedikit 0i, K, 8a, 2g, 2n dalam bentuk silikat, oksida, sulfat dan phospat. #engujian komposisi abu dapat dikerjakan dengan cara melarutkan contoh abu batubara tersebut dengan cara peleburan menggunakan asam kuat, selanjutnya oksida-oksida logam dalam abu batubara tersebut dapat ditentukan dengan cara Atomic Absorption :pectrophotometry (AA:)

Q-ray Cflourescense Dan lain-lain

3ambar $.(. #eralatan analisa komposisi abu (AA:) 4.9.: Analisa As( 6usion Tem3erature5Titi% Lele( Abu (AST# '/1=9Abu batubara merupakan sisa pembakaran yang tinggal setelah semua material yang dapat terbakar habis. Abu batubara akan meleleh dan menempel pada pipa boiler bila tercapai titik lelehnya.#engujian titik leleh abu di laboratorium untuk melihat perubahan karakteristik dari abu batubara apabila dipanaskan pada kondisi standar. #rinsip kerja Abu batubara dicetak menjadi bentuk piramida, kemudian dipanaskan pada kenaikan suhu tertentu pada suasana reduksi atau oksidasi dan diamati secara kontinu. :uhu saat terjadinya perubahan karakteristik dari bentuk uji tersebut diamati sebagai :uhu deformasi a-al (initial deformation temperature) ?0, adalah suhu saat terjadinya perubahan pertama pada bentuk piramida dari contoh uji. :uhu spherical!softening (spherical!softening temperature) :0, adalah suhu pada saat piramida dari contoh uji berubah menjadi spherical, yaitu bila diamati secara >isual, tingginya sama dengan lebar dari dasar piramida.

:uhu hemispherical (hemispherical temperature) H0, adalah suhu saat bentuk piramida dari contoh uji berubah menjadi hemispherical, yaitu bila diamati secara >isual, tingginya sama dengan setengah dari lebar dasar piramida. :uhu alir (flo-!fluid temperature) :0, adalah suhu pada saat abu batubara mulai meleleh pada dudukannya, sehingga tingginya menjadi 1!A bagian dari lebar dasar piramida.

?0

:0

H0

C0

3ambar $.+. #erubahan titik leleh abu 4.9.- Analisa )ar,gro;e <rin,abilit+ In,e75)<I (AST# '/4.0 Hardgro>e grindability inde9 atau nilai ketergerusan hardgro>e adalah anagka yang menunjukkan kemudahan batubara untuk digerus. 8ilai H3? yang tinggi menyatakan batubara tersebut mudah digerus dan sebaliknya. 'ara pengujiannya sebagai berikut 'ontoh batubara yang berukuran -;& = ;( mesh digerus dalam alat Hardgro>e 3rindability 2achine sampai I& putaran.Hasil penggerusan diayak dengan saringan ;&& mesh menggunakan alat Lsie>e shakerM selama 1& menit. H3? dapat dihitung dari hasil penimbangan berat contoh batubara yang lolos saringan ;&& mesh, dengan mengkon>ersikan ke dalam kur>a kalibrasi dari contoh standar.

H3?

"erat contoh lolos saringan ;&& mesh, gr

3ambar $.1&. Kur>a kalibrasi H3?

3ambar $.11. #eralatan analisa H3?

4.9.= Si2e Anal+sis5Analisa u%uran 3arti%el (AST# '/4-40 :i5e analysis ialah pengujian yang bertujuan mengukur distribusi partikel batubara. :ejumlah contoh setelah dikeringkan dalam udara, diayak dengan ayakan ukuran J& mm, %& mm, A; mm dan ;.A( mm. 'ontoh yang tertahan pada masing-masing ayakan selanjutnya ditimbang dan dihitung prosentasenya ukuran partikel batubara. 4.9.0 Slagging ,an 6ouling In,e7 :lagging dan Couling ?nde9 ditentukan dengan perhitungan berdasarkan data ash analysis dan ash fusion temperature. 7ntuk perhitungannya perlu ditetapkan dulu karakteristik dari abu yaitu abu bituminous atau abu lignitic. Abu bitumunous, bila Ce;,A N 'a, = 2g, Abu lignitic, bila Ce;,A H 'a, = 2g, :lagging inde9- abu bituminous (Ds) Ds < ("!A) 9 : Di mana " < 'a, = 2g, = Ce;,A = 8a;, = K;, A < :i,; = Al;,A = 0i,; : < ) sulfur, dry basis Klasifikasi slagging inde9 menggunakan Ds sebagai berikut Ds H&.I < lo&.I H Ds H;.& < medium ;.& H Ds H;.I < high ;.I H Ds < se>ere

:lagging inde9- abu lignitic (DsR) (ma9 H0 = $ (min ?0) Ds R < % Di mana ma9 H0 < temperature hemispherical tertinggi min ?0 < temperature initial deformation terendah Couling inde9- abu bituminous (Df) Ds < ("!A) 9 8a;, Di mana 8a;, < ) dari ash analysis Klasifikasi fouling inde9 menggunakan Df sebagai berikut Df H&.; < lo&.; H Df H &.% < medium &.% H Df H 1.& < high 1.& H Df < se>ere

Couling inde9- abu lignitic (DfR), berdasarkan kandungan sodium (8a;,) dalam abu "ila 'a, = 2g, = Ce;,A N ;&) 8a;, H A < lo- to medium A H 8a;, H I < high 8a;, N I < se>ere "ila 'a, = 2g, = Ce;,A H ;&) 8a;, H 1.; < lo- to medium 1.; H 8a;,H A < high 8a;, N A < se>ere

4.: Pela3oran 'ata #arameter :atuan Hasil pengujian As "asis Pro7imate Anal+sis@ 0otal 2oisture 2oisture sample in the analysis ) -t ) -t ) -t Ash 'ontent ) -t Folatile 2atter Ci9ed 'arbon ) -t A$.A$ $&.+I $J.;A A%.+; $;.($ $+.$& ;J.;+ ;.$% 1A.;( ;.+; A.AJ Decei>ed Air Dried "asis Dry "asis

Kcal!kg <ross 4alori8i" Value

$+;(

%(J(

IJJ(

Ultimate Anal+sis@ ) -t 'arbon Hydrogen :ulfur 8itrogen ,9ygen ) -t ) -t ) -t ) -t A.;+ &.1A &.%% 1+.I+ A.+; &.1I &.II ;A.$( $.%; &.1( &.JI ;J.&( $I.I& %%.%( I$.&+

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

)<I

?nde9

%;

Si2e ,istribution@ = J& mm = %& B J& mm = A; B %& mm = ;.A( B A; mm ;.A( mm ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t &.A% A.&% 1A.1I I$.++ 1(.$%

As( Anal+sis@ :i,; Al;,A Ce;,A 0i,; 'a, 2g, K; , 8a;, #;,% :,A 2n,; 7ndetermined Slagging In,e7 6ouling In,e7 ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t ) -t %1.$A 1$.+; 1&.;$ ;.&A A.JI $.;& &.IA &.%$ &.%; 11.1; &.1& &.%1 &.&% &.1% lolo-

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

As( Tem3erature

6usion
&

Re,u"ing ' ' ' ' 11+& 1;1& 1;;& 1;$&

!7i,i"ing 1;I& 1;J& 1;(& 1;+&

?nitial deformation :pherical Hemispherical Clo-

&

&

&

4.- #a"am 3engu*ian serta 8ungsin+a Parameter Total moisture %roximate Moisture As# Volatile matter Fixed car!on Calorific 'alue Total sulp#ur ltimate Car!on *idrogen +itrogen Sulp#ur &x$gen As# temperature ,eformation Sp#erical
&

Unit )

Basis ar adb

4atatan Diperlukan untuk menghitung parameter ke as recei>ed basis Analisis dasar

) ) ) ) 'al!g ) adb adb daf ) ) ) ) ) fusion


&

#arameter penting

Hasil analisis dalam adb, tetapi pelaporan dalam daf

Diperlukan untuk memprediksi perilaku abu batubara saat proses pembakaran ' ' '

&

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal

*emisp#erical Flow As# anal$sis Si&Al-&. Fe-&. Ti&Mn.&/ Ca& Mg& +a-& 0- & % -& 1 S&. *ardgro'e grinda!ilit$ index

&

'

) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

?gnited at & (1% '

Diperlukan untuk memprediksi perilaku abu batubara saat proses pembakaran

7ntuk memperkirakan inde9 gerus

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal