Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia membungkus otot-otot dan organ dalam. Kulit merupakan jalinan pembuluh darah, saraf, dan kelenjar yang tidak berujung, semuanya memiliki potensi untuk terserang penyakit. Kulit berfungsi melindungi tubuh dari trauma dan merupakan benteng pertahanan terhadap bakteri. Kehilangan panas dan penyimpanan panas diatur melalui vasodilatasi pembuluh-pembuluh darah kulit atau sekresi kelenjar keringat. Kulit juga merupakan sensasi raba, tekan,suhu, nyeri, dan nikmat berkat jalinan ujung-ujung saraf yang saling bertautan. Secara mikroskopis kulit terdiri dari tiga lapisan: pidermis, dermis,dan lemak subkutan.Salah satu penyakit kulit yang paling sering dijumpai yakni DERMATITISyang lebih dikenal sebagai eksim, merupakan penyakit kulit yang mengalami peradangan. Dermatitis dapat terjadi karena bermacam sebabdan timbul dalam berbagai jenis, terutama kulit yang kering. Umumnya enzim dapat menyebabkan pembengkakan, memerah, dan gatal pada kulit. Dermatitis tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu.Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masingmemiliki indikasi dan gejala Dermatitis yang muncul dipicu allergen(penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada berbeda, antaralain dermatitis kontak, neurodermatitis, dermatitis numularis, dermatitisstatis, dan dermatofitosis. B. Tujuan Penulisan Tujuan Umum : Agar setiap mahasiswa dapat memahami, menjelaskan Asuhan Keperawatan Dermatitis Kontak. Tujuan Khusus : 1.Diharapkan mahasiswa/I dapat mengerti teori tentang dermatitis kontak dari definisi sampai asuhan keperawatan dermatitis kontak. 2.Sebagai pemenuhan tugas KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III. C. Ruang Lingkup Penulisan Dalam penulisan makalah ini, penulis membatasi pada Bayi Tabung dan Penatalaksanaannya. D. Metode Penulisan Metode ini menggunakan metode deskripsi dimana penulis mendapatkan data dan informasi melalui studi kepustakaaan dan metode observasi melalui sumber internet. E. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan terdiri dari : A. Latar Belakang B. Tujuan Penulisan C. Ruang Lingkup Penulisan D. Metode Penulisan E. Sistematika Penulisan Bab II Tinjauan teori terdiri dari :

A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K. L.

Definisi Etiologi Patofisiologi Manifestasi Klinik Komplikasi Pemeriksaan Penunjang Pencegahan Penatalaksanaan Pengkajian Diagnosa Keperawatan Perencanaan dan Implementasi Evaluasi Bab III Penutup terdiri dari A. Kesimpulan B. Saran :

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI Dermatitis merupakan epiderma-dermatitis dengan gejala subjektif pruritus, obyek tampak inflamasi eritema, vesikulasi, eksudasi dan pembentukan sisik. (Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 2. Jakarta: Media Aesculapius) Dermatitis kontak sering terjadi pada tempat tertentu dimana allergen mengadakan kontak dengan kulit. (Price, SylviaAnderson 1999 Patofisiologi. Jakarta: EGC). Dermatitis kontak adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang disertai dengan adanya spongiosis/edeme interseluler pada epidermiskarena kulit berinteraksi dengan bahan bahan kimia yang berkontak atau terpajan kulit .Bahan- bahan tersebut dapat bersifat toksik ataupun alergik. (Harahap Mawarli Prof.Dr. 2006.Ilmu Penyakit Kulit.Jakarta:Hipokrates). Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit (dermatitis venenata) merupakan reaksi inflamasi kulit terhadapunsur-unsur fisik, kimia, atau biologi. Penyakit ini adalah kelainan inflamasi yang sering bersifat ekzematosoa dan disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejumlah b a h a n ya n g i r i t a t i f a t a u a l e r g e n i k .

Anatomi kulit B. ETIOLOGI Zat zat yang dapat menyebabkan dermatitis kontak melalui 2 cara yaitu : 1. Iritasi ( dermatitis iritan ) 2. Alergi ( dermatitis kontak alergi ) Penyebab dermatitis kontak alergika kosmetika : Cat kuku, penghapus cat kuku, deodorant, pelembablotion sehabis bercukur, parfum, tabir surya. Senyawa kimia ( dalam perhiasan ) : nikel t a n a m a n R a c u n I V Y ( t a n a m a n m e r a m b a t ) r a c u n p o h o n c o n t o h n ya sejenis rumput liar, primros. Obat obat yang terkandung dalam krim kulit : antibiotic ( penisilin, sulfonagnid, neomisin ), autihistamin ( defenhidramin ) Zat kimia yang digunakan dalam pengelolaan pakaian Sabun detergen dan logam-logam tertentu yang bisa mengiritasi kulit Selain berdasarkan fase respon peradangannya, gambaran klinis dermatitis kontak alergi juga dapat dilihat menurut predileksi regionalnya. Hal ini akan memudahkan untuk mencari bahan penyebabnya : 1. Tangan Kejadian dermatitis kontak baik iritan maupun alergik paling sering di tangan, misalnya pada ibu rumah tangga. Demikian pula dermatitis kontak akibat kerja paling banyak ditemukan di tangan. Sebagian besar memang disebabkan oleh bahan iritan. Bahan penyebabnya misalnya deterjen, antiseptik, getah sayuran/tanaman, semen dan pestisida. 2. Lengan Alergen umumnya sama dengan pada tangan, misalnya oleh jam tangan (nikel), sarung tangan karet, debu semen dan tanaman. Di aksila umumnya oleh bahan pengharum. 3. Wajah Dermatitis kontak pada wajah dapat disebabkan bahan kosmetik, obat topikal, alergen yang ada di udara, nikel (tangkai kaca mata). Bila di bibir atau sekitarnya mungkun disebabkan oleh lipstik, pasta gigi dan getah buah-buahan. Dermatitis di kelopak mata dapat disebabkan oleh cat kuku, cat rambut, perona mata dan obat mata. 4. Telinga Anting atau jepit telinga terbuat dari nikel, penyebab lainnya seperti obat topikal, tangkai kaca mata, cat rambut dan alat bantu pendengaran. 5. Leher dan Kepala

Pada leher penyebabnya adalah kalung dari nikel, cat kuku (yang berasal dari ujung jari), parfum, alergen di udara dan zat warna pakaian. Kulit kepala relative tahan terhadap alergen kontak, namun dapat juga terkena oleh cat rambut, semprotan rambut, sampo atau larutan pengeriting rambut. 6. Badan Dapat disebabkan oleh pakaian, zat warna, kancing logam, karet (elastis, busa ), plastik dan deterjen. 7. Genitalia Penyebabnya dapat antiseptik, obat topikal, nilon, kondom, pembalut wanita dan alergen yang berada di tangan. 8. Paha dan tungkai bawah Disebabkan oleh pakaian, dompet, kunci (nikel) di saku, kaos kaki nilon, obat topikal (anestesi lokal, neomisin, etilendiamin), semen, sandal dan sepatu.

Kulit mengelupas Karena iritan Karena alergi

C. PATOFISIOLOGI Dermatitis Kontak Iritan

Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat k e r u s a k a n s e l ya n g disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritanmerusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahani r i t a n t e r s e b u t a k a n b e r d i f u s i m e l a l u i m e m b r a n u n t u k m e r u s a k l i s o s o m , mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipidkeratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan systemkinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yanga k a n membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. PAF a k a n m e n g a k t i v a s i p l a t e l e t s ya n g a k a n m e n ye b a b k a n p e r u b a h a n v a s k u l e r . D i a c i l gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis protein.P a d a d e r m a t i t i s k o n t a k i r i t a n t e r j a d i k e r u s a k a n k e r a t i s o n i t d a n k e l u a r n y a mediatormediator. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak. Alergik sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.Ada dua jenis bahan iritan yaitu : 1. I r i t a n k u a t a k a n m e n i m b u l k a n k e l a i n a n k u l i t p a d a p a j a n a n p e r t a m a pada hampir semua orang 2. I r i t a n l e m a h h a n y a p a d a m e r e k a y a n g p a l i n g r a w a n a t a u mengalami kontak berulang-ulang. F a k t o r k o n t r i b u s i , m i s a l n y a kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi, mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut. D e r m a t i t i s K o n t a k A l e r g i Pada dermatitis kontak alergi, ada dua fase terjadinya respon imun tipe IV yangmenyebabkan timbulnya lesi dermatitis ini yaitu : 1. Fase sensitisasi disebut juga fase induksi atau fase aferen. Pada fase ini terjadisensitisasi terhadap individu yang semula belum peka, oleh bahan kontaktan yang disebutalergen kontak atau pemeka. Terjadi bila hapten menempel pada kulit selama 18-24 jamk e m u d i a n h a p t e n d i p r o s e s d e n g a n j a l a n p i n o s i t o s i s a t a u e n d o s i t o s i s o l e h s e l L E (Langerhans Epidermal), untuk mengadakan ikatan kovalen dengan protein karier yang berada di epidermis, menjadi komplek hapten protein.Protein ini terletak pada membran sel Langerhans dan berhubungan dengan produk genHLA-DR (Human Leukocyte Antigen -DR). Pada sel penyaji antigen (antigen presentingcell). Kemudian sel LE menuju duktus Limfatikus dan ke parakorteks Limfonodus regionaldan terjadilah proses penyajian antigen kepada molekul CD4+ (Cluster of Diferantiation4 + ) d a n m o l e k u l C D 3 . C D 4 + b e r f u n g s i s e b a g a i p e n g e n a l k o m p l e k H L A D R d a r i s e l Langerhans, sedangkan molekul CD3 yang berkaitan dengan protein heterodimerik Ti (CD3-Ti), merupakan pengenal antigen yang lebih spesifik, misalnya untuk ion nikel sajaatau ion kromium saja. Kedua reseptor antigen tersebut terdapat pada permukaan sel T. P a d a s a a t i n i t e l a h t e r j a d i p e n g e n a l a n a n t i g e n ( a n t i g e n r e c o g n i t i o n ) . S e l a n j u t n y a s e l Langerhans dirangsang untuk mengeluarkan IL-1 (interleukin-1) yang akan merangsang selT u n t u k

mengeluarkan IL-2. Kemudian IL-2 akan mengakibatkan p r o l i f e r a s i s e l T , s e h i n g g a t e r b e n t u k p r i m e d m e m o r y T c e l l s , ya n g a k a n b e r s i r k u l a s i k e s e l u r u h t u b u h meninggalkan limfonodi dan akan memasuki fase elisitasi bila kontak berikut denganalergen yang sama. Proses ini pada manusia berlangsung selama 14-21 hari, dan belumterdapat ruam p ada kulit. Pada saat ini individu tersebut telah tersensitisasi yang berarti mempunyai resiko untuk mengalami dermatitis kontak alergik. 2. Fase elisitasi atau fase eferen terjadi apabila timbul pajanan kedua dari antigen yang sama dan sel yang telah t ersensitisasi telah tersedia di dalam kompartemen dermis.Sel Langerhans akan mensekresi IL-1 yang akan merangsang sel T untuk mensekresi Il2.Selanjutnya IL-2 akan merangsang INF (interferon) gamma. IL -1 dan INF gamma akanmerangsang keratinosit memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yanglangsung beraksi dengan limfosit T dan lekosit, serta sekresi eikosanoid. Eikosanoid akanm e n g a k t i f k a n s e l m a s t d a n m a k r o f a g u n t u k m e l e p a s k a n histamin sehingga t e r j a d i vasodilatasi dan permeabilitas ya n g m e n i n g k a t . A k i b a t n ya t i m b u l b e r b a g a i m a c a m kelainan kulit seperti eritema, edema dan vesikula yang akan tampak sebagai dermatitis.Proses peredaan atau penyusutan peradangan terjadi melalui beberapa mekanismeyaitu proses skuamasi, degradasi antigen oleh enzim dan sel, kerusakan sel Langerhans dansel keratinosit serta pelepasan Prostaglandin E-1dan 2 (PGE-1,2) oleh sel makrofag akibatstimulasi INF gamma. PGE-1,2 berfungsi menekan produksi IL-2R sel T serta mencegahkontak sel T dengan keratisonit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan denganm e m p e r l a m b a t p u n c a k d e g r a n u l a s i s e t e l a h 4 8 jam paparan antigen, diduga histamin b e r e f e k m e r a n g s a n g m o l e k u l C D 8 ( + ) y a n g b e r s i f a t s i t o t o k s i k . D e n g a n b e b e r a p a mekanisme lain, seperti sel B dan sel T terhadap antigen spesi fik, dan akhirnya menekanatau meredakan peradangan.

Bagan

D. MANIFESTASI KLINIS Gejala dermatitis kontak mencakup keluhan : a. Gatal gatal b. Rasa terbakar c. Lesi kulit ( vesikel ) d. Edema yang diikuti oleh pengeluaran secret

Pembentukan krusta serta akhirnya mongering dan mengelupas kulit. R e a k s i ya n g b e r u l a n g u l a n g d a p a t d i s e r t a i p e n e b a l a n k u l i t d a n p e r u b a h a n pigmentasi. Invasi sekunder oleh bakteri dapat terjadi pada kulit yang mengalamiekskoriasis karena digosok atau digaruk. Biasanya tidak terdapat gejala sistemik kecuali jika erupsinya tersebar luas.Berikut gambaran klinis dermatitis kontak berdasarkan fase-fasenya : a. Fase akut Kelainan kulit umumnya muncul 24-48 jam pada tempat terjadinya kontak dengan bahan penyebab. Derajat kelainan kulit yang timbul bervariasi ada yang ringan ada pula yang berat. Pada yang ringan mungkin hanya berupa eritema dan edema, sedang pada yang berat selain eritema dan edema yang lebih berat disertai pula vesikel atau bula yang bila pecah akan terjadi erosi dan eksudasi. Lesi cenderung menyebar dan batasnya kurang jelas. Keluhan subyektif berupa gatal. b. Fase sub akut Jika tidak diberi pengobatan dan kontak dengan alergen sudah tidak ada maka proses akut akan menjadi subakut atau krobis. Pada fase ini akan terlihat eritema, edema ringan, vesikule, krusta dan pembentukan papul-papul. c. Fase kronis Dermatitis jenis ini dapat primer atau merupakan kelanjutan dari fase akut yang hilang timbul karena kontak yang berulang-ulang. Lesi cenderung simetris, batasnya kabur, kelainan kulit berupa likenifikasi, papula, skuama, terlihat pula bekas garukan berupa erosi atau ekskoriasi, krusta serta eritema ringan. E. KOMPLIKASI Seringkali timbul infeksi pada kulit yang pecah-pecah dan meradang yang disebabkan oleh dermatitis. Timbul selulit (cellulitis), infeksi bakteri yang terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit muncul karena peradangan pada kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan, dan terasa panas saat disentuh. Selulit muncul pada seseorang yang sistem kekebalan tubuhnya tidak bagus (Rahman, 2004). Komplikasi yang juga bisa terjadi adalah infeksi sekunder oleh bakteri, septikemi, diare, dan pneumoni (Imtikhananik,1992) F. PEMERIKSAAN PENUNJANG P e m e r i k s a a n ya n g d a p a t d i l a k u k a n u n t u k m e n e g a k k a n d i a g n o s i s g a n g g u a n integument yaitu : 1. Biopsi kulit Biopsi kulit adalah pemeriksaan dengan cara mengambil cintih jaringan dari kulit yang terdapat lesi.B i o p s i k u l i t d i g u n a k a n u n t u k m e n e n t u k a n a p a k a h a d a k e g a n a s a n a t a u infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. 2. Uji kultur dan sensitivitas Uji ini perlu dilakukan untuk mengetahui adanya virus, bakteri, dan jamur pada kulit.Kegunaan lain adalah untuk mengetahui apakah mikroorganisme tersebutresisten pada obat obat tertentu.C a r a p e n g a m b i l a n b a h a n u n t u k u j i k u l t u r a d a l a h d e n g a n m e n g a m b i l eksudat pada lesi kulit.

e.

3.

Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus P e m e r i k s a a n k u l i t p e r l u m e m p e r s i a p k a m p e n c a h a ya a n k h u s u s s e s u a i kasus. Factor pencahayaan memegang peranan penting. 4. Uji tempel Uji ini dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi.U n t u k m e n g e t a h u i apakah lesi tersebut a d a k a i t a n n ya d e n g a n f a c t o r imunologis.Untuk mengidentifikasi respon alergi. U j i i n i m e n g g u n a k a n b a h a n k i m i a y a n g d i t e m p e l k a n p a d a k u l i t , selanjutnya dilihat bagaimana reaksi local yang ditimbulkan.Apabila ditemukan kelainan pada kulit, maka hasil nya positif. G. PENCEGAHAN Pencegahan dermatitis kontak berarti menghindari berkontak dengan bahan yang telah disebutkan di atas. Strategi pencegahan meliputi: Bersihkan kulit yang terkena bahan iritan dengan air dan sabun. Bila dilakukan secepatnya, dapat menghilangkan banyak iritan dan alergendari kulit. Gunakan sarung tangan saat mengerjakan pekerjaan rumah tanggauntuk menghindari kontak dengan bahan pembersih. B i l a s e d a n g b e k e r j a , g u n a k a n p a k a i a n p e l i n d u n g a t a u s a r u n g tangan untuk menghindari kontak dengan bahan alergen atau iritan. Dermatitis tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan mempengaruhi psikologis pasien seperti timbulnya rasa minder, malu bertemu dengan orang lain dan tidak menerima keadaan dirinya saat ini. Pengobatan yang lama serta ketakutan akan timbulnya kerusakan pada kulit bisa menganggu rasa nyaman dari pasien. Pada usia muda khususnya remaja putri gangguan pada kulit kecendrungan harga diri mereka rendah, karena mereka kurang puas dengan penampilannya dimana kondisi fisik sangat bermakna agar dapat diterima oleh kelompoknya (Rahmawati, 2006). H. PENATALAKSANAAN Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mengistirahatkan kulit yang sakit dan melindunginya terhadap kerusakan lebih lanjut. Penatalaksanaan dermatitis kontak (Corwin, 2001), adalah sebagai berikut: Identifikasi penyebab dermatitis dan menghindari pajanan. Kompres dingin untuk mengurangi peradangan Terapi anti-inflamasi topikal (kadang-kadang sistemik) jangka pendek misalnya streroid untuk menghentikan peradangan I. PENGKAJIAN Untuk menetapkan bahan alergen penyebab dermatitis kontak alergik d i p e r l u k a n anamnesis yang teliti. Riwayat penyakit yang lengkap Pemeriksaan fisik dan uji tempel. Anamnesis ditujukan selain untuk menegakkan diagnosis juga untuk mencari kausanya.Karena hal ini penting dalam menentukan terapi dan tindak lanjutnya,

J.

yaitu mencegah k e k a m b u h a n . D i p e r l u k a n k e s a b a r a n , k e t e l i t i a n , p e n g e r t i a n d a n k e r j a s a m a ya n g b a i k dengan pasien. Riwayat atopi perjalanan penyakit, pekerjaan, hobi, riwayat kontaktan dan pengobatan yang pernah diberikan oleh dokter maupun dilakukan sendiri, obyek personal meliputi pertanyaan tentang pakaian baru, sepatu lama, kosmetika, kaca mata, dan jam tangan serta kondisi lain yaitu riwayat medisumum dan mungkin faktor psikologik. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema, edema dan papula d i s u s u l d e n g a n pembentukan vesikel yang jika pecah akan membentuk dermatitis yang membasah. Lesi pada umumnya timbul pada tempat kontak, tidak berbatas tegas dan dapat meluas ked a e r a h s e k i t a r n y a . A k t i v i t a s / I s t i r a h a t Tanda : Penurunan kekuatan, tahanan, Perubahan tonus S i r k u l a s i Tanda : pembentukan edema jaringan I n t e g r i t a s E g o Gejala : Pekerjaan, masalah tentang keluargaTanda : ansietas, menarik diri E l i m i n a s i Tanda : Diuresis ( setelah kebocoran kapiler dan m o b i l i s a s i c a i r a n k e dalam sirkulasi ) M a k a n a n / C a i r a n Tanda : edema jaringan umum N e u r o s e n s o r i Tanda : perubahan orientasi, perilaku N y e r i / k e n y a m a n a n Gejala : nyeri pada kulit P e r n a p a s a n Gejala : terkurung dalam ruang tertutup, terpajan lama K e a m a n a n Tanda : adanya destruksi jaringan DIAGNOSA KEPERAWATAN Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit Nyeri dan yang berhubungan dengan lesi kulit Perubahan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat informasi

K. PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI Diagnosa 1 Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit Tujuan : Kulit klien dapat kembali normal. Kriteria hasil : Klien akan mempertahankan kulit agar mempunyai hidrasi yang baik dan turunnya peradangan, ditandai dengan mengungkapkan peningkatan kenyamanan kulit. Intervensi: Mandi paling tidak sekali sehari selama 15 20 menit. Segera oleskan salep atau krim yang telah diresepkan setelah mandi. Mandi lebih sering jika tanda dan gejala meningkat. Rasional : dengan mandi air akan meresap dalam saturasi kulit. Pengolesan krim pelembab selama 2 4 menit setelah mandi untuk mencegah penguapan air dari kulit. Gunakan air hangat jangan panas.

Rasional : air panas menyebabkan vasodilatasi yang akan meningkatkan pruritus. Gunakan sabun yang mengandung pelembab atau sabun untuk kulit sensitive. Hindari mandi busa. Rasional : sabun yang mengandung pelembab lebih sedikit kandungan alkalin dan tidak membuat kulit kering, sabun kering dapat meningkatkan keluhan. Oleskan/berikan salep atau krim yang telah diresepkan 2 atau tiga kali per hari. Rasional : salep atau krim akan melembabkan kulit. Diagnosa 2 Nyeri dan yang berhubungan dengan lesi kulit Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi Kriteria hasil : Klien menunjukkan berkurangnya pruritus, ditandai dengan berkurangnya lecet akibat garukan, klien tidur nyenyak tanpa terganggu rasa gatal, klien mengungkapkan adanya peningkatan rasa nyaman Intervensi : Jelaskan gejala gatal berhubungan dengan penyebabnya (misal keringnya kulit) dan prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus gatal-garuk-gatal-garuk. Rasional : dengan mengetahui proses fisiologis dan psikologis dan prinsip gatal serta penangannya akan meningkatkan rasa kooperatif. Cuci semua pakaian sebelum digunakan untuk menghilangkan formaldehid dan bahan kimia lain serta hindari menggunakan pelembut pakaian buatan pabrik. Rasional : pruritus sering disebabkan oleh dampak iritan atau allergen dari bahan kimia atau komponen pelembut pakaian. Gunakan deterjen ringan dan bilas pakaian untuk memastikan sudah tidak ada sabun yang tertinggal. Rasional : bahan yang tertinggal (deterjen) pada pencucian pakaian dapat menyebabkan iritas Diagnosa 3 Perubahan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus Tujuan : Klien bisa beristirahat tanpa adanya pruritus. Kriteria Hasil : Mencapai tidur yang nyenyak, melaporkan gatal mereda, mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat, menghindari konsumsi kafein, mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur, mengenali pola istirahat/tidur yang memuaskan. Intervensi : Nasihati klien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik. Rasional: Udara yang kering membuat kulit terasa gatal, lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi. Menjaga agar kulit selalu lembab. Rasional: Tindakan ini mencegah kehilangan air, kulit yang kering dan gatal biasanya tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan. Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur. Rasional: kafein memiliki efek puncak 2-4 jam setelah dikonsumsi.

Melaksanakan gerak badan secara teratur. Rasional: memberikan efek menguntungkan bila dilaksanakan di sore hari. Mengerjakan hal ritual menjelang tidur. Rasional: Memudahkan peralihan dari keadaan terjaga ke keadaan tertidur. Diagnosa 4 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus Tujuan : Pengembangan peningkatan penerimaan diri pada klien tercapai Kriteria Hasil : 1. Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri. 2. Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri. 3. Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi. 4. Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri. 5. Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat. 6. Tampak tidak meprihatinkan kondisi. 7. Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan teknik untuk meningkatkan penampilan Intervensi : Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan merendahkan diri sendiri).Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien, kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri. Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan. Rasional: Terdapat hubungan antara stadium perkembangan, citra diri dan reaksi serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya. Berikan kesempatan pengungkapan perasaan. Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien, bantu klien yang cemas mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali masalahnya. Rasional: Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi, ketakutan merusak adaptasi klien . Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri , spt merias, merapikan. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. Mendorong sosialisasi dengan orang lain. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. Diagnosa 5 Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat informasi Tujuan Terapi dapat dipahami dan dijalankan Kriteria Hasil : 1. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit. 2. Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi. 3. Melaksanakan mandi, pembersihan dan balutan basah sesuai program. 4. Menggunakan obat topikal dengan tepat. 5. Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.

Intervensi : Kaji apakah klien memahami dan mengerti tentang penyakitnya. Rasional: memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan konsepsi/informasi. Rasional: Klien harus memiliki perasaan bahwa sesuatu dapat mereka perbuat, kebanyakan klien merasakan manfaat. Peragakan penerapan terapi seperti, mandi dan penggunaan obat-obatan lainnya. Rasional: memungkinkan klien memperoleh cara yang tepat untuk melakukan terapi. Nasihati klien agar selalu menjaga hygiene pribadi juga lingkungan.. Rasional: Dengan terjaganya hygiene, dermatitis alergi sukar untuk kambuh kembali. L. EVALUASI Evaluasi yang akan dilakukan yaitu mencakup tentang : 1.Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit. 2.Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi. 3.Melaksanakan mandi, pembersihan dan balutan basah sesuai program. 4.Menggunakan obat topikal dengan tepat. 5.Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.

A.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Dari pembahasan yang telah diuraikan pada makalah ini, kami menyimpulkan bahwa Dermatitis kontak (dermatitis venenata) merupakan reaksi inflamasi kulit terhadapunsurunsur fisik, kimia, atau biologi. Penyebab zat zat yang dapat menyebabkan dermatitis kontak melalui 2 cara yaitu : Iritasi ( dermatitis iritan ), Alergi ( dermatitis kontak alergi )Gejala dermatitis kontak mencakup keluhan : Gatal gatal, rasa terbakar , lesi kulit ( vesikel ), edema yang diikuti oleh pengeluaran secret, pembentukan krusta serta akhirnya mengering. Diagnosa yang dapat muncul yaitu : Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit Nyeri dan yang berhubungan dengan lesi kulit Perubahan pola tidur yang berhubungan dengan pruritus Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat informasi B. SARAN Dengan telah membacanya makalah ini, mahasiswa/I diharapkan dapat mengerti, mengetahui tentang Asuhan Keperawatan Dermatitis Kontak dan memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan sesuai standart .