Anda di halaman 1dari 35

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep HIV/AIDS
1 Definisi HIV
Virus penyebab AIDS yang menyerang system kekebalan tubuh
manusia, sehingga tubuh tidak mampu lagi melindungi. HIV adalah
singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, adalah penyakit lain
(infeksi oportunistik) dan dapat berlangsung lama/ bertahun-tahun tanpa
memberikan gejala. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang umumnya
tidak berbahaya pada orang dengan tubuh normal namun dapat berakibat
fatal pada ODHA ( Orang Dengan HIV/AIDS) karena sistem kekebalan
tubuhnya lemah. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired
Immunodeficiency Syndrome suatu kumpulan gejala penyakit yang didapat
akibat menurunnya system kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus
HIV. HIV/AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang
merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV ( Sylvia &. Wilson, 2005)
AIDS ( Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan
sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya
kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human immunodeficiency
Virus) yang termasuk famili retroviradae. AIDS merupakan tahap akhir
dari infeksi HIV ( Zubari Djoerban & Samsuridjal Djauzi, 2001)
AIDS ( Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah suatu
penyakit retrovirus oportunitik, neoplasma sekunder dan kelainan
neurologik. AIDS adalah merupakan stadium akhir dari suatu kelainan
imunologik dan klinis kontinum yang dikenal sebagai spektrum infeksi
HIV (Sylvia &.wilson,2005)
Kesimpulan dari beberapa definisi diatas adalah HIV/AIDS adalah
kumpulan dari gejala penyakit infeksi oportunistik yang berlangsung lama
yang mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh yang disebabkan oleh
virus HIV.
8
2 Etiologi
a. Konsep Virus
Virus adalah suatu mikroorganisme terkecil yang dapat melewati
saringan kuman yang mempunyai sifat :
Mengubah asam ribonukleat (RNA) menjadi asam deoksiribonukleat
(DNA)
1) Struktur genomic, virus-virus memiliki perbedaan bahwa protein
HIV-1, Vpu yang membantu pelepasan virus, tampaknya diganti
oleh protein Vpx pada HIV2. Berbentuk sferis yang terdiri atas
capsid yang terselimuti dengan envelope yang berupa komponen
membrane yang berasal dari sel Host.
2) Capsid berbentuk peluru yang terbentuk dari protein p24 dari gen
gag, capsid berisi dua duplikat atas RNA yang merupakan genom
virus.
3) RNA virus yang berada didalam capsid terdapat protein
nukleokapsid p7 dan p9.
4) Didalam capsid juga terdapat enzim reverse transcriptase, RNase
H, Integrase Protease.
5) Capsid ini akan dibungkus oleh memberan lipid host yang
didapatkan pada saat budding dari sel yang terinfeksi, sehingga
terdapat protein permukaan sel host pada membran HIV.
6) Dibawah membrane yang membungkus capsid terdapat matriks
yang tersusun oleh protein p17 gag outer core. Protein tersebut
pada envelope virus mengalami glikosilasi kuat berupa
penambahan kompleks rantai samping karbohidrat oleh enzim
seluler selama melewati reticulum endoplasma dan apparatus golgi.
7) Kegunaan dari rantai samping karbohidrat untuk evasi dari respon
antibody host. (Agung Dwi Wahyu Widodo, Maria Inge Lusia,
2007).
HIV yang dahulu disebut virus limpotrofik sel T manusia tipe III
(HTL V-III) atau virus Limfadenopati (LAV), adalah suatu retrovirus
manusia sitopatik dari famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam
9
ribonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribonukleat (DNA) setelah
masuk ke dalam sel penjamu. HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik,
dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS di seluruh dunia (Sylvia
&Wilson,2005).
b. Anatomi virus
1) Reverse Transcriptase
2) Protein luar gp41
3) Protein luar gp120
4) protein kapsul p24
5) selaput lipid
6) protein matrik p17
7) RNA
c. Port dentree Virus
1) Saluran pernafasan
2) Saluran pencernaan
3) Kulit dan mukosa genitalia
4) Placenta
d. Sel Target Virus HIV
Sel yang merupakan target utama HIV adalah sel yang
mempunyai reseptor CD4, yaitu limfosit CD4 + (Sel T helper atau Th)
dan monosit/makrofag (Ari W, Sudoyo & Tim, 2006)
Kesimpulan dari etiologi HIV/AIDS adalah disebabkan virus.
HIV merupakan suatu virus RNA yang termasuk Retrovirus dari family
lentovirus. Strukturnya terdiri dari lapisan luar glikoprotein gp120 yang
melekat pada gp4. Dibagian dalamnya terdapat lapisan kedua yang
terdiri dari protein p17.
Di dalam inti terdapat komponen penting berupa dua buah rantai
RNA dan enzim reverse transcriptase. Dikenal dua tipe HIV yaitu HIV-1
dan HIV-2. Epidemi HIV secara global terutama disebabkan HIV tipe 1
3. Cara Penularan
Virus HIV dapat diisolasikan dari cairan semen, secret
serviks/vagina, limfosit, sel-sel dalam plasma bebas, cairan cerebrospinal,
10
air mata, saliva, air seni dan air susu. Namun tidak berarti semua cairan
tersebut dapat menjalarkan infeksi karena konsentrasi virus dalam cairan
tersebut sangat bervariasi. Sampai saat ini hanya darah dan air mani/cairan
semen dan sekresi cerviks/vagina yang terbukti sebagai sumber penularan
serta ASI yang dapat menularkan HIV dari ibu ke bayinya. Karena itu HIV
dapat tersebar melalui hubungan seks baik homo maupun heteroseksual,
penggunaan jarum yang tercemar pada penyalahgunaan NAPZA,
kecelakaan kerja pada sarana pelayanan kesehatan misalnya tertusuk jarum
atau alat tajam yang tercemar, tranfusi darah, donor organ, tindakan medis
invasive serta in utero, perinatal dan pemberian ASI dari ibu ke anak.
Tidak ada petunjuk/bukti bahwa HIV dapat menular melaui kontak sosial,
alat makan, toilet, kolam renang, udara ruangan, maupun oleh
nyamuk/serangga.
4. Manifestasi Klinis
Menurut Loraine M.Wilson (2005) AIDS memiliki beragam
manifestasi klinis
Meliputi:
a. Keganasan
Sarkomo Kaposi (SK) adalah jenis keganasan yang tersering di jumpai
pada laki-laki homoseks atau biseks yang terinfeksi oleh HIV
(20%),tetapi jarang pada orang dewasa lain (kurang dari 2%) dan
sangat jarang pada anak. Tanda lesi berupa bercak-bercak merah-
kekuningan di kulit,tetapi warna juga mungkin bervariasi dari ungu
tua, merah muda, sampai merah coklat. Gejala: demam, penurunan
berat badan, dan keringat malam
b. Sistem Syaraf Pusat (SSP)
Gejala tanda awal limfoma system syaraf pusat (SSP) primer
mencakup nyeri kepala, berkurangnya ingatan jangka pendek
,kelumpuhan syaraf kranialis, hemiparesis, dan perubahan kepribadian
c. Respiratorius
Pneumonia pneumocystis carinii, Gejala: demam, batuk kering non
produktif, rasa lemah, dan sesak nafas.
11
d. Gastrointestinal
Manifestasi gastrointestinal penyakit AIDS mencakup hilangnya selera
makan, mual, vomitus, kandidiasis oral serta esophagus, dan diare
kronis
e. Neurologik
Manifestasi dini nerologik penyakit AIDS ensefalopati HIV mencakup
gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan berkonsentrasi, konfusi
progresif, pelambatan psikomotorik, apatis dan ataksia. Pada stadium
lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan pada respon
verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi
parafresis spastic, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, kejang,
mutisme dan kematian.
f . Integumen
Manifestasi kulit menyertai infeksi HIV dan infeksi oportunis serta
malignasi. Infeksi oportunistik seperti herpes zoster dan herpes
simpleks akan di sertai dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan
merusak integritas kulit. Moluskum kontangiosum merupakan infeksi
yang di tandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas.
Dermatitis seboreika akan di sertai ruam yang difus, bersisik dengan
indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah. Penderita AIDS juga
dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan
kulit yang kering dan mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti
exzema atau psoriasis (Brunner & Suddarth,2001).
5. Perjalanan Penyakit HIV/AIDS
Perjalanan alamiah infeksi HIV dapat dibagi dalam tahapan sebagai
berikut : sindrom retroviralakut yaitu infeksi virus masuk dua sampai tiga
minggu dengan gejala menghilang dan serokonversi. Sedangkan infeksi
kronis HIV asimtomatik rata-rata delapan tahun (di Negara berkembang
lebih pendek), infeksi HIV/AIDS simtomatik rata-rata satu sampai tiga
tahun dapat mengakibatkan kematian. Kejadian awal yang timbul setelah
infeksi HIV disebut sindrom retroviral akut. Sindrom ini diikuti oleh
penurunan CD4 dan peningkatan kadar RNA-HIV dalam plasma.
12
Hitung CD4 secara perlahan akan menurun dalam beberapa tahun
dengan laju penurunan CD4 yang lebih cepat pada 1,5 - 2,5 tahun sebelun
pasien jatuh dalam keadaan AIDS. Viral load akan meningkat dengan cepat
pada awal infeksi dan kemudian turun sampai suatu titik tertentu. Dengan
berlanjutnya infeksi, viral load secara perlahan meningkat. Pada fase akhir
penyakit akan di temukan CD4<200/mm3, diikuti timbulnya infeksi
oportunistik, berat badan menurun dan munculnya komplikasi neurologis.
Periode jendela (window period) adalah masa dimana pemeriksaan tes
serologis atau antibody HIV masih menunjukan hasil negative sementara
sebenarnya virus sudah ada dalam jumlah banyak dalam penderita. Periode
jendela menjadi hal penting untuk di perhatikan karena pada masa itu orang
dengan HIV sudah mampu menularkan kepada orang lain misalnya melalui
jarum, darah yang di donorkanya, bertukar jarum suntik pada IDU
(Intravena Drug User)atau melalui hubungan seksual (Depkes RI.2003)
6. Klasifikasi
Tabel 2.1 Klasifikasi Infeksi HIV menurut WHO 2006
Kelas Kriteria
Stadium Klinis 1
Asimtomatik. Total CD4 : >500/ml
1.Asimtomatik
2.Limfadenopati generalisata persisten
Stadium Klinis II Sakit Ringan.
Total CD4 : 200-499/ml
1.Penurunan berat badan 10%
2.Ispa berulang (sinusitis, tonsillitis,
otitismedia dan faringitis
3.Herpes zoster
4.Kelitis angularis
Stadium Klinis III Sakit sedang 1.Penurunan berat badan >10%
2.Diare kronis > 1 bulan
3.Kandidiasis oral
4.TB Paru
5.Limfadenopati generalisata persisten
Stadium Klinis IV Sakit berat
(AIDS). Total CD4 : < 200/ml
1.HIV wasting syndrome
2.Pneumonia pneu mosistis
3.Herpes simpleks > 1 bulan
13
4.Kandidiasis esophagus
5.TB ekstra paru
6.Sarkoma Kaposi
7.Retinitis CMV
8.Toksoplasmosis
9.Ensefalopati HIV
10.Meningitis kriptokus
11.Infeksi mykobakterium non TB iseminata
12.Progresssivemultifocal
13.Mikosis profunda
14.Limfoma
15.Karsinoma
16.Isoproriasis kronis
17.Nefropati dan kardiomiopati terkait HIV
Berdasarkan klasifikasi tersebut diatas, maka makin kronis suatu
penyakit terutama pada pasien HIV/AIDS dapat mengganggu kemampuan
untuk terlibat dalam aktivitas yang menunjang perasaan berharga atau
berhasil, makin besar pengaruhnya pada peningkatan harga diri. Penyakit
HIV/AIDS yang mengubah pola hidup dapat juga menurunkan perasaan
nilai diri. Sedangkan harga diri pada pasien HIV/AIDS adalah rasa ingin
dihormati, diterima, kompeten, dan bernilai. Orang dengan harga diri
rendah, sering merasa tidak di cintai dan sering mengalami depresi dan
ansietas. Ketidak mampuan untuk memenuhi harapan orang tua, harga diri
pada orang dewasa mencakup ketidak berhasilan dalam pekerjaan, dan
kegagalan dalam hubungan (Potter,Patricia.A.2005)
7. Penatalaksanaan
a. Penanganan pasien HV/AIDS meliputi penanganan umum dengan
istirahat yang cukup, dukungan nutrisi, terapi psikososial dengan
konseling serta penanganan khusus pada pasien HIV/AIDS
14
b. Penanganan khusus terdiri dari :
1) Penanganan pada wasting syndrome mencakup penanganan
penyebab yang mendasari infeksi oportunistik sistemik maupun
gastrointestinal. Malnutrisi sendiri akan memperbesar resiko infeksi
dan dapat pula meningkatkan insidens infeksi oportunistik. Terapi
nutrisi harus disatukan dalam keseluruhan rencana penatalaksanaan,
mulai dari diet oral dan pemberian makanan lewat sonde (terapi
nutrisi enteral) hingga dukungan nutrisi parenteral jika diperlukan.
Diet seimbang merupakan terapi nutrisi yang esensial bagi pasien
HIV/AIDS. Jumlah kalori yang diperlukan harus dihitung pada
semua penderita HIV/ AIDS dengan penuruan berat badan yang
tidak jelas penyebabnya . hal ini untuk mengevaluasi status nutrisi
pasien dan memulai terapi nutrisi yang tepat. Tujuannya adalah
untuk mempertahankan berat badan ideal pasien dan jika bisa
menaikkan berat badannya (Brunner and suddart, 2002)
2) Prinsip dasar penanganan pasien HIV/AIDS adalah menurunkan
angka kesakitan dan kematian akibat AIDS,
memperbaiki/meningkatkan kualitas hidup pasien, mempertahankan
serta memulihkan system kekebalan tubuh pasien, menekan dan
menghambat pembelahan virus
8. Komplikasi
Adapun komplikasi yang terjadi pada pasien HIV/AIDS adalah sebagai
berikut :
a. Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru-paru
b. Kandidiasis esophagus
c. Kriptokokosis ekstraparu
d. Kriptosporidiosis, intestinal kronis (>1 bulan)
e. Renitis CMV (gangguan penglihatan)
f. Herpes simplek : ulkus kronik (> 1 bulan)
g. Mycobacterium tuberculasis, diparu atau ekstra paru
h. Ensefalitis toxoplasma
15
B. Konsep Diri
Konsep diri adalah semua pikiran, kepercayaan dan keyakinan yang
diketahui tentang dirinya yang mempengaruhi individu dalam hubungan
dengan orang lain (stuart dan sundeen, 1991). Konsep diri belum ada saat
dilahirkan, tetapi dipelajari dari pengalaman unik melalui eksplorasi diri
sendiri hubungannya dengan orang dekat dan berarti bagi dirinnya.
Konsep diri berkembang dengan baik apabila : budaya pengalaman
dikeluarga dapat memberikan perasaan positif, memperoleh kemampuan yang
berarti bagi individu/lingkungan dan beraktualisasi, sehingga individu
menyadari potensi dirinya. Konsep diri juga pada pasien HIV/AIDS yaitu
adanya perubahan perilaku antara lain : penurunan harga diri karena
ketidakmampuannya menjadi kepala keluarga sebagai pencari nafkah, tidak
ada semangat.
1. Rentang respon
Respon individu terhadap konsep diri, berfungsi sepanjang rentang
respon dari adaptif sampai maladaptive.
Skema 2.1 Rentang Respon terhadap Konsep Diri
Respon adaptif Respon maladaptif
Konsep diri positif Kekacauan identitas
Aktualisasi diri Harga diri rendah Depersonalisai
a. Aktualisasi diri adalah pertanyaan diri tentang konsep diri yang positif
dangan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat
dieterima.
b. Konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang
positif dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif maupun
yang negatif dari dirinya.
16
c. Harga diri rendah adalah : individu cenderung untuk menilai drinya
negatif dan merasa lebih rendah dari orang lain, ini sering ditemukan
pada pasien HIV/AIDS.
d. Identitas kacau adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek-
aspek identitas masa kanak-kanak kedalam kematangan aspek
psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis.
e. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap
dirinya sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta
tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain terutama pada
pasien HIV/AIDS.
Konsep diri terdiri dari 5 (lima) komponen (Stuart dan Sundeen, 1991)
yaitu :
a. Gambaran diri, disadari atau tidak disadari. Termasuk persepsi,
perasaan masa lalu dan sekarang, tentang ukuran tubuh, fungsi,
penampilan dan potensi diri. Pandangan ini terus berubah oleh
pengalaman dan persepsi baru. Gambaran tubuh yang diterima secara
realistis akan meningkatkan keyakinan diri sehingga dapat mantap
dalam menjalani kehidupan. Perubahan pada tubuh seperti
perkembangan payudara, perubahan suara, pertumbuhan bulu-bulu dan
menstruasi pada wanita adalah perubahan yang dapat mempengaruhi
tubuh yang diantisipasi oleh individu.
b. Ideal diri (Self Ideal) adalah persepsi individu tentang perilaku yang
harus dilakukan sesuai standart, aspirasi, tujuan atau nilai yang
ditetapkan. Ideal diri diperlukan oleh individu untuk memacu pada
tingkat yang lebih tinggi.
c. Harga diri (Self Esteem) adalah penilaian tentang nilai individu dengan
menganalisa kesesuaian perilaku dengan ideal diri. Harga diri yang
tinggi berakar dari penerimaan diri yang tinggi tanpa syarat, sebagai
individu yang berarti dan penting, walaupun salah, gagal atau kalah.
Harga diri diperolah dari penghargaan diri sendiri dan orang lain.
Factor yang mempegaruhi harga diri tinggi adalah perasaan diterima,
17
dicintai, dihormati serta frekuensi kesuksesan, ini yang diharapkan
oleh pasien HIV/AIDS.
d. Peran (Role Performance) adalah seperangkat perilaku yang
diharapkan oleh masyarakat tersebut
Ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dengan
peran :
1) Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran
pada pasien HIV/AIDS.
2) Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran pasien
HIV/AIDS
3) Keseimbangan dan kesesuaian antara peran yang dilakukan oleh
pasien HIV/AIDS
4) Keselarasan harapan dan kebudayaan dengan peran pada pasien
HIV/AIDS
5) Kesesuaian situasi yang dapat mendukung pelaksanaan peran
terutama pada pasien HIV/AIDS
e. Identitas (Identity) adalah penilaian individu terhadap dirnya sebagai
satu kesatuan yang utuh, berlanjut, konsisten dan unik. Ini berarti
individu tersebut otonom, berbeda dengan orang lain, termasuk
persepsinya terhadap jenis kelamin. Pembentukan identitas dimulai
sejak lahir dan berkembang melalui sikap kehidupan dan terutama
pada periode remaja.
Kepribadian yang sehat
Kepribadian yang sehat pada pasien HIV/AIDS mempunyai ciri-ciri
konsep diri sebagai berikut :
1) konsep diri yang positif
2) Gambaran diri yang tepat dan positif
3) Ideal diri yang realistis
4) Harga diri yang tinggi
5) Penampilan diri yang memuaskan
6) Identitas yang jelas
18
2. Pengkajian Keperawatan
a. Faktor Predisposisi
Faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah :
1) Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang
tua, harapan orang tua yang tidak realistis, keadaan yang dialami
oleh pasien HIV/AIDS
2) Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu peran yang
sesuai dengan jenis kelamin, peran dalam pekerjaan dan peran
yang sesuai dengan kebudayaan
3) Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang tua yang
tidak percaya pada anak, tekanan teman sebaya dan kultur social
yang berubah.
b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi pada pasien HIV/AIDS dapat disebabkan oleh
factor dari dalam atau factor dari luar individu (Internal Or external
Sources), yang dibagi 5 (lima) kategori.
1) Ketegangan peran adalah stress yang berhubungan dengan frustasi
yang dialami individu dalam peran atau posisi yang diharapkan.
2) Konflik peran : ketidaksesuaian peran antara yang dijalankan
dengan yang diinginkan, seperti konsep berikut :
a) Peran yang tidak jelas, kurang pengetahuan pasieng HIV/AIDS
tentang peran yang dilakukannya
b) Peran berlebihan, kurang sumber yang adekuat untuk
menampilkan seperangkat peran yang kompleks
3) Perkembangan transisi, yaitu perubahan norma yang berkaitan
dengan nilai untuk menyesuaikan diri.
4) Situasi transisi peran, adalah bertambah atau berkurangnya orang
penting dalam kehidupan individu melalui kelahiran atau kematian
orang yang berarti
5) Tranisi peran sehat sakit, yaitu peran yang diakibatkan oleh
keadaan sehat atau keadaan sakit. Transisi ini dapat disebabkan:
19
a) Kehilangan bagian tubuh
b) Perubahan ukuran dan bentuk, penampilan atau fungsi
tubuh
c) Perubahan fisik yang berkaitan dengan pertumbuhan dan
perkembangan
d) Prosedur pengobatan dan perawatan
Ancaman fisik seperti pemakaian oksigen, kelelahan,
ketidakseimbangan biokimia, gangguan penggunaan obat,
alkohol dan zat
C. Perilaku
Data yang dikumpulkan oleh seorang perawat, hendaknya data
perilaku obyektif dan dapat di amati. Perilaku yang berhubungan dengan
harga diri yang rendah pada pasien HIV/AIDS (Stuart dan Sundeen 1995),
yaitu :
1). Perilaku dengan harga diri rendah pada pasien HIV/AIDS
a) Mengkritik diri sendiri atau orang lain
b) Produktifitas menurun
c) Destruktif pada orang lain
d) Gangguan berhubungan
e) Merasa tidak layak
f) Rasa bersalah
g) Mudah marah dan tersinggung
h) Perasaan negative pada diri sendiri
i) Pandangan hidup yang pesimis
j) Keluhan-keluhan fisik
k) Pandangan hidup terpolarisasi
l) Mengingkari kemampuan diri sendiri
m) Mengejek diri sendiri
n) Mencederai diri sendiri
o) Isolasi social
p) Menarik diri dari realitas
q) Khawatir
r) Ketegangan peran
20
2). Perilaku Identitas Kacau pada pasien HIV Aids adalah
a) Tidak mengindahkan Moral
b) Mengurangi hubungan interpersonal
c) Perasaan kosong
d) Perasaan yang berubah-ubah
e) Kekacauan identitas seksual
f) Kecemasan yang tinggi
g) Tidak mampu berempati
h) Kurang keyakinan diri
i) Mencintai diri sendiri
j) Masalah hubungan intim
k) Ideal diri tidak realita
3). Perilaku Depersonalisasi Pada pasien HIV/AIDS adalah :
Table. 2.2 Perilaku depersonalisasi pada pasien HIV/AIDS
Komponen Tanda dan Gejala
AFEK
Identitas hilang
Asing dengan diri sendiri
Perasaan tidak aman, rendah diri, takut, malu
Perasaan tidak realistis
Merasa sangat terisolasi
PERSEPSI
Halusinasi pendengaran dan penglihatan
Tidak yakin akan jenis kelaminnya
Sukar membedakan diri dengan orang lain
KOGNITIF
Kacau
Disorientasi waktu
Penyimpangan pikiran
Daya ingat terganggu
Daya penilai terganggu
PERILAKU
Afek tumpul
Pasif dan tidak respon emosi
Komunikasi tidak selaras
Tidak dapat mengontrol perasaan
Tidak ada inisiatif dan tidak mampu mengambil keputusan
Menarik diri dari lingkungan
Kurang bersemangat
21
4). Mekanisme Koping pada pasien HIV/AIDS adalah
Table. 2.3 Mekanisme koping pada pasien HIV/AIDS
Jangka Pendek \ Jangka Panjang
1. Kegiatan yang di lakukan untuk lari
sementara dari krisis : Pemakaian
obat-obatan, kerja keras, nonton tv
terus-menerus
1. Menutup identitas : Terlalu cepat
mengadopsi identitas yang
disenangi dari orang-orang yang
berarti, tanpa mengindahkan hasrat,
aspirasi atau potensi diri sendiri.
2. Kegiatan mengganti identitas
sementara: (ikut kelompok sosial,
keagamaan, politik)
2. Identitas negatif : Asumsi yang
bertentangan dengan nilai dan
harapan masyarakat.
3. Kegiatan yang memberi dukungan
sementara : (kompetisi olah raga
kontes popularitas)
4. Kegiatan mencoba menghilangkan
arti identitas sementara :
(penyalahgunaan obat-obatan
3. Masalah keperawatan
Masalah gangguan konsep diri berhubungan dengan kecemasan,
bermusuhan dan rasa sering menimbulkan kekacauan dan mengakibatkan
respon koping yang maladaptif. Respon ini dapat di lihat pada pasien
HIV/AIDS, yang mengalami ancaman integritas diri atau harga diri.
Masalah keperawatan dan contoh diagnosa keperawatan lengkap yang
berkaitan dengan gangguan konsep diri.
Masalah Keperawatan yang berhubungan dengan konsep diri pada pasien
HIV/AIDS adalah:
a. Gangguan gambaran diri
b. Gangguan identitas diri
c. Gangguan penampilan peran
d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
22
4. Perencanaan Tindakan Keperawatan:
a. Tujuan Umum:
Meningkatkan aktualitas diri pasien HIV/AIDS dengan membantu
menumbuhkan, mengembangkan, menyadari potensi sambil mencari
kompensasi ketidakmampuan.
b. Tujuan Khusus:
Pasien HIV/AIDS dapat mengenal dukungan yang di butuhkan dalam
penyelesaian masalah yang berhubungan dengan konsep diri dan
membantu pasien HIV/AIDS agar mengerti akan dirinya secara tepat.
c. Tindakan keperawatan:
Tindakan keperawatan membantu pasien HIV/AIDS
mengidentifikasikan penilaian tentang situasi dan perasaan yang
terkait, guna meningkatkan penilaian diri dan kemudian melakukan
perubahan perilaku.
Prinsip intervensi terhadap diagnosa keperawatan gangguan konsep
diri : harga diri rendah adalah :
a. Memperluas kesadaran diri.
b. Menyelidiki diri.
c. Mengevaluasi diri.
d. Membantu perencanaan yang realistis.
e. Pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan
23
Table. 2.4 Tahap memperluas kesadaran diri pada pasien HIV/AIDS
Prinsip Rasional Tindakan
Membina hubungan
saling percaya
Sikap perawat yang
terbuka dapat
mengurangi perasaan
terancam dan membantu
pasien HIV/AIDS
menerima semua aspek
dirinya
Menerima pasien
HIV/AIDS apa
adanya
Dengarkan pasien
Dorong pasien
Mendiskusikan
pikiran dan
perasaannya
Respon yang tidak
mengadili. Katakan
bahwa pasien adalah
individu berharga,
bertanggung jawab,
dan dapat menolong
diri sendiri
Bekerja dengan
kemampuan yang
dimiliki pasien
HIV/AIDS
Tingkat kemampuan
menilai realitas dan
kontrol diri diperlukan
sebagai landasan asuhan
keperawatan
Identifikasi
kemampuan pasien
Arahkan pasien sesuai
dengan kemampuan
yang dimiliki
Meyakinkan identitas
pasien
Beri dukungan untuk
menurunkan panik
24
Table. 2.5 Membantu pasien HIV/AIDS menyelidiki diri
Prinsip Rasional Tindakan
Bantu pasien menerima
perasaan dan pikirannya
Dengan menunjukkan sikap
menerima perasaan dan
pikiran pasien akan
melakukan hal yang sama
Motivasi pasien
mengekspresikan
emosi, keyakinan
perilaku dan pikirannya
Gunakan komunikasi
terapeutik dan empati
Catat pikiran yang logis
dan tidak logis,
observasi respon emosi
Menolong pasien
menjelaskan konsep dirinya
dan hubungannya dengan
orang lain secara terbuka
Keterbukaan persepsi diri
adalah awal untuk merubah
suasana sepi dan dapat
mengurangi anxietas
Tumbuhkan persepsi
pasien terhadap
kekuatan dan
kelemahannya
Bantu pasien
menurunkan self
idealnya
Bantu pasien
menjelaskan
hubungannya dengan
orang lain
Menyadari dan mengontrol
perasaan perawat
Kesadaran diri akan
membantu penampilan
model perilaku dan
membatasi efek negatif
dalam berhubungan dengan
orang lain
Sadari perasaan sendiri
baik perasaan negatif
dan positif dalam
hubungannya
Empati pada pasien
tekankan bahwa kekuatan
untuk berubah ada pada
pasien
Rasa empati dapat
menguatkan pandangan
pasien memahami perasaan
orang lain
Gunakan respon empati
dan observasi apakah
perasaan perawat
simpati atau empati
Jelaskan bahwa pasien
berguna dalam
memecahkan
masalahnya
Libatkan keluarga dan
kelompok menyelidiki
diri pasien
Bantu pasien mengenal
konflik dan koping
maladaptif
25
Table. 2.6 Membantu Pasien HIV/AIDS Mengevaluasi Diri
Prinsip Rasional Tindakan
Membantu pasien
mengidentifikasi
masalahnya secara jelas
Setelah mengetahui
masalah dengan jelas
alternatif pemecahan
dapat dibuat pasien
Bersama pasien
identifikasi stressor
dan bagaimana
penilaiannya
Jelaskan bahwa
keyakinan pasien
mempengaruhi
perasaan dan
perilakunya
Kaji respon koping
adaptif dan maladaptif
pasien terhadap masalah
yang dihadapi
Dengan mengetahui
koping yang dipilih
pasien dapat
mengevaluasi
konsekwensi positif dan
negatif
Bersama pasien
mengidentifikasi
keyakinan, ilusi,
tujuan yang tidak
realistis
Identifikasi kekuatan
pasien
Tunjukkan konsep
sukses dan gagal
dalam persepsi yang
cocok
Teliti sumber koping
yang digunakan
pasien
Uraikan pada pasien
respon koping dapat
dipilih dengan bebas
dan mempunyai
dampak positif
maupun negatif
Bersama pasien
mengidentifikasi
respon yang
maladaptif
Komunikasi yang
memfasilitasi
konfrontasi yang
mendukung
Klarifikasi peran
26
Table. 2.7 Membantu Pasien HIV/AIDS Membuat Perencanaan yang Realistis
Prinsip Rasional Tindakan
Bantu pasien
mengidentifikasi
pemecahan masalah
Jika semua alternatif
sudah dievaluasi,
perubahan menjadi
efektif
Jelaskan bahwa yang
dapat merubah
dirinya adalah pasien
bukan orang lain
Bantu keyakinan dan
ide pasien kedalam
kenyataan
Gunakan lingkungan
membantu keyakinan
pasien jadi konsisten
Bantu pasien mengkonsep
tujuan yang realitas
Dengan tujuan yang
jelas dapat merubah
harapan yang diinginkan
Bantu pasien
merumuskan tujuan
Bantu pasien untuk
menetapkan
perubahan yang
diinginkan
Anjurkan pasien
menggunakan
pengalaman baru
untuk
mengembangkan
potensinya
Gunakan role model,
role ply, visualisasi
dan redemonstrasi
yang sesuai
27
Table.2.8 Membantu Pasien HIV/AIDS Membuat Keputusan dan Mencapai
Tujuan
Prinsip Rasional Tindakan
Mengeksplorasikan
koping adaptif dan
maladaptif pasien dalam
memecahkan masalahnya
Sangat penting bagi
pasien mengetahui
koping yang digunakan
dalam pemecahan
masalahnya baik yang
negatif maupun yang
positif
Beri kesempatan
pasien untuk memilih
koping yang ingin
digunakan dan
konsekwensinya
Bantu pasien
mengidentifikasi
keuntungan kerugian
mekanisme koping
yang dipilih
Diskusikan bila
pasien memilih
mekanisme koping
negatif berikan
konsekwensinya
Berikan dukungan
positif untuk
mempertahankan
kemajuannya
5. Evaluasi
a. Baik ancaman integritas fisik atau harga diri pasien HIV/AIDS sudah
berkurang akan sifat, jumlah dan waktu
b. Perilaku pasien HIV/AIDS menunjukkan kemajuan dan menerima,
menghargai dan meyakini dirinya
c. Sumber koping pasien HIV/AIDS yang adekuat sudah dimiliki dan
digunakan
d. Pasien HIV/AIDS dapat memperluas kesadaran diri, menyelidiki dan
mengevaluai diri\
28
e. Pasien HIV/AIDS menggunakan respon yang adaptif
f. Pasien HIV/AIDS sudah mempelajari strategi baru untuk beradaptasi, dan
meningkatkan aktualisasi diri
g. Pasien HIV/AIDS sudah menggunakan pemahaman tinggi tentang diri
sendiri untuk meningkatkan harga diri
C. KONSEP KONSELING
1. Definisi Konseling
WHO mendefinisikan konseling HIV/AIDS sebagai suatu
dialog/percakapan yang menjaga kerahasiaan antara klien dengan
konselor, dengan tujuan agar klien mampu mengatasi stress dan dapat
membuat keputusan pribadi berkaitan dengan HIV/AIDS.
Konseling HIV/AIDS sangat penting sebab mempunyai tujuan untuk
membangun perubahan perilaku (mencegah penularan penyakit),
meningkatkan kemampuan koping (mengatasi masalah) dan
mememberikan dukungan psikososial secara individual bagi mereka yang
terinfeksi HIV/AIDS
2. Pentingnya Konseling HIV/AIDS
Konseling HIV/AIDS penting bagi pasien sebab :
h. Konseling membantu pasien HIV positif untuk mengatasi perasaannya
berkaitan dengan statusnya dengan HIV/AIDS, mengembangkan harga
diri dan tetap hidup produktif dengan pengobatan dan dukungan sosial.
i. Konseling membantu individu untuk menjelaskan kepada pasangannya
tentang resiko terinfeksi HIV/AIDS dan rencana mengurangi resiko
Konseling HIV/AIDS juga penting bagi orang dekat dengan pasien,
seperti keluarga dekat atau teman dekat (Barry, 1997)
j. Konseling memfasilitasi komunikasi antara pasien dan keluarga.
Keluarga diharapkan berperan memberi dukungan kepada pasien
dalam menghadapi rasa takutnya akibat HIV/AIDS dengan
membicarakannya secara terbuka baik mengenai diagnosa, masalah,
maupun mamilih teman di masyarakat, sehingga pasien dapat
29
bersosialisasi, merasa diterima dan dihargai sehingga dapat
meningkatkan harga dirinya.
k. Konseling memberikan kemampuan pada keluarga untuk terlibat
dalam mendiskusikan langkah/tindakan perawatan pasien dan
pencegahan penularan HIV.
3. Tipe konseling HIV/AIDS meliputi :
a. Konseling berkaitan dengan resikonya apabila mereka menerima beberapa
informasi tentang penyebaran HIV, yang mana hal ini membuat mereka
ragu akan keamanan mereka. Penyebab yang membuat mereka ragu
mungkin merupakan suatu rahasia. Penyebab atau alasan mereka tidak
dapat didiskusikan publik, dimana individu memerlukan kesempatan
khusus untuk mendiskusikannya. Informasi yang baik dan realistis dapat
menolong, menjembatani resiko perilaku dan menenangkan mereka dari
kecemasan.
b. Konseling dibutuhkan dalam semua kasus yang berkaitan dengan testing
HIV. Seorang HIV positif akan shock dan boleh jadi tiba-tiba merasakan
krisis emosi dengan beban mental yang berat dapat membuat suatu
keputusan yang tidak rasional. Oleh karena itu orang yang akan dilakukan
test HIV sebaiknya diberikan penjelasan hasilnya apabila mereka
menginginkannya. Konseling membentu untuk menurunkan stress yang
terkait dengan test HIV. Oleh karena itu test HIV sebaiknya selalu disertai
dengan post dan pre konseling yang mengarahkan pasien dengan
memberikan dukungan yang sesuai. Pre test konseling adalah suatu dialog
antar tiga pasien dan pemberi layanan dengan tujuan utama mendiskusikan
tentang tes HIV, kemungkinan komplikasinya akan mengarahkan pasien
pada keputusan apakah ia akan melakukan tes atau tidak.
Post konseling adalah dialog antara pasian dan pemberi pelayanan untuk
mendiskusikan hasil test HIV dengan informasi yang sesuai, serta
memberikan dukungan dan arahan untuk mengurangi perilaku-perilaku
beresiko. Untuk mengatasi masalah pasien dengan status HIV positif,
dukungan dapat diberikan oleh konselor, keluarga, masyarakat, pelayanan
kesejahteraan sosial dan pelayanan medis.
30
Konselor adalah orang pertama yang mengetahui apakah orang tersebut
terinfeksi HIV, dan bertanggung jawab untuk menjaga kerahasiaan dengan
siapa masalah tersebut dapat didiskusikan. Pasien akan membuat
keputusan, siapa, kapan dan bagaimana menginformasikan keadaan ini.
c. Konseling terkait dengan diagnosis HIV/AIDS.
Pada saat clinician/perawat/bidan memastikan bahwa pasien mengidap
AIDS. Pasien sebaiknya diberitahu tentang diagnosis tersebut. Hal ini
dapat dilakukan dengan menanyakan ulang apakah pasien melakukan
kontak dengan HIV sebelum pemeriksaan dan melihat gejala-gejala saat
ini, disertai dengan tambahan informasi dri tanda-tanda AIDS. Temuan
tersebut dapat didiskusikan bersama pasien sepanjang emosi pasien
mendukung untuk mendiskusikan diagnosis tersebut.
d. Konseling Keluarga
Pasangan hidup, orang tua dan orang-orang terdekat dari pasien dengan
HIV dipengaruhi oleh pengetahuan dan kecurigaan bahwa salah satu orang
yang mereka cintai terinfeksi HIV. Untuk alasan tersebut mereka
membutuhkan dukungan emosional. Kedua, mereka harus memberikan
perawatan kepada pasien, untuk itu mereka membutuhkan informasi
terkini tentang perawatan HIV. Kapan dan bagaimana merujuknya, dan
mereka membutuhkan secara terus menerus dukungan emosional melalui
perawatan dan kematian pasien. Ketiga, AIDS dapat menyebabkan
penurunan ekonomi dan diskriminasi sosial, keluarga yang hidup dengan
pasien HIV membutuhkan dukungan psikososial atau arahan untuk
perawatan di rumah, makanan dan bantuan. Keluarga juga diberi
penjelasan siapa yang harus membawa pasien ke rumah sakit atau kapan
pasien dapat dikunjungi selama di rumah sakit. Isu yang tarkait tentang
perlindungan diri dan test HIV terhadap pasangan atau anak-anak juga
dapat didiskusikan.
31
Untuk meningkatkan penerimaan pasien HIV/AIDS secara unik di dalam
keluarga, diperlukan konseling yang dapat dilihat pada table dibawah ini
Table 2.9 Konseling Bagi Keluarga
Tujuan Kegiatan Instruksional Evaluasi
Menegaskan konsep
keunikan anggota
keluarga
Diskusikan keunikan
masing-masing anggota
keluarga. Bantu pasien
mengidentifikasikan tingkat
kemampuannya diantara
anggota keluarga
Pasien dapat
mengidentifikasikan
fungsi keluarga
Uraikan karakteristik
perpaduan emosi
Analisa tipe dan pola
hubungan dalam keluarga.
Gunakan kertas dan pensil
untuk menggambarkan pola
keluarga
Pasien menguraikan
pola hubungan dalam
keluarga
Pasien
mengidentifikasikan
peran dan perilakunya
Diskusikan pembentukan
dan pelaksanaan peran
dalam keluarga
Sintesa dinamika keluarga
dan menifestasi stress
pasien akan mendorong
komunikasi dalam keluarga
Pasien menyadari
kontribusi keluarga
terhadap stress masing-
masing anggota
Menguraikan genogram
keluarga dan bagaimana
itu terbentuk
Gunakan papan tulis untuk
menggambarkan genogram
keluarga. Tugaskan pasien
menyusun genogram
keluarga
Pasien melakukan
kontak dengan anggota
keluarga pasien
mendapat informasi
yang nyata tentang
keluarga
Menganalisa kebutuhan
yang nyata dan tanggung
jawab untuk merubah
perilaku tertentu
Melalui interaksi anggota
keluarga yang berbeda akan
mendorong pasien untuk
mencoba cara-cara baru
dalam berhubungan dengan
anggota keluarga
Pasien dapat
mendemonstrasikan
tingkat hubungan yang
berbeda di dalam
keluarga
32
4. Konseling bagi Pasien ODHA dengan Gangguan Harga Diri
Seperti yang sudah dijelaskan tentang konsep konseling diatas. Konseling
adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling
oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah
(klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini
pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan
konseling karier. Selanjutnya juga diadopsi oleh Carl Rogers yang kemudian
mengembangkan pendekatan terapi yang berpusat pada klien (Glassman, 2006).
Penelitian yang dilakukan Sudartik (2009) yang berjudul pengaruh
konseling terhadap peningkatan harga diri pada pasien HIV/AIDS diruang
paviliun anggrek RSUP Fatmawati, dari 10 orang yang dilakukan konseling
didapatkan hasil, sebelum dilakukan konseling nilai rata-rata 22,60 sedangkan
setelah dilakukan konseling didapatkan nilai rata-rata 29, 90 menunjukan bahwa
ada pengaruh konseling terhadap kemampuan pasien HIV/AIDS dalam
meningkatkan harga diri.Hal ini seperti yang diungkapkan pada teori Swanburg
(1990) konseling dapat berpengaruh terhadap kemampuan pasien HIV/AIDS
dalam meningkatkan harga dirinya.
Peningkatan harga diri pada pasien HIV/AIDS mempunyai peranan
penting dalam proses perawatan seperti yang diungkapkan oleh Stuart dan
Sundeen (2000) self esteem (harga diri) adalah perilaku tentang nilai individu
menganalisa kesesuaian perilaku dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi berakar
dari penerimaan diri tanpa syarat sehingga diharapkan pasien HIV/AIDS dengan
harga diri yang tinggi dapat berpengaruh terhadap penerimaan diri tentang
kondisinya tanpa syarat
Dibanding dengan psikoterapi, konseling lebih berurusan dengan klien
yang mengalami masalah yang tidak terlalu berat sebagaimana halnya yang
mengalami psikopatologi, skizofrenia, maupun kelainan kepribadian, gangguan
harga diri. Umumnya konseling berasal dari pendekatan humanistik dan client
centered. Konseling juga berhubungan dengan permasalahan sosial, budaya, dan
perkembangan selain permasalahan yang berkaitan dengan fisik, emosi, dan
kelainan mental. Dalam hal ini, konselor melihat kliennya sebagai seseorang yang
tidak mempunyai kelainan secara patologis. Konseling merupakan pertemuan
33
antara konselor dengan kliennya yang memungkinkan terjadinya dialog dan
bukannya pemberian terapi atau treatment. Konseling juga mendorong terjadinya
penyelesaian masalah oleh diri klien sendiri (Leserman et al, 1999)
Kondisi penurunan harga diri,depresi, stress, dan tak bisa menerima
kenyataan dialami hampir setiap dirinya atau anggota keluarganya didiagnosa
mengidap HIV/AIDS. Kondisi tersebut terjadi karena sampai saat ini
masyarakat masih menganggap HIV/AIDS sebagai momok menyeramkan. Saat
divonis sebagai Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), yang terbayang di benak
mereka adalah kematian(Sherbourne , et al, 2007)
Harga diri adalah konsep yang meliputi rendah diri, dan penerimaan
mereka kepada orang lain. Ini meliputi penilaian diri meraka secara internal yang
didasarkan pada pengalaman masa lalu , misalnya mereka sukses atau kegagalan
dan pengalaman interpersonal mereka, diantaranya penerimaan atau
penolakan.ODHA dengan harga diri rendah bukan dikarenakan untuk melindungi
dirinya sendiri atau orang lain terhadap tertular infeksi HIV, namun, dengan
stigmatisasi, rasa bersalah, kehilangan citra tubuh yang positif, kehilangan peran,
kehilangan pekerjaan, dan hilangnya jaringan sosial, tampaknya intuitif bahwa
harga diri akan terancam (Hoffman, 1996, hal 61). Dalam rangka
mempertahankan harga diri, mekanisme koping yang digunakan pada pasien
HIV/AIDS adalah sebagai berikut :
a. Penolakan: meniadakan realitas situasi
b. Penghindaran: Mencoba untuk mengabaikan akibat situasi
c. Regresi: Menjadi lebih tergantung, lebih pasif, lebih emosional
d. Kompensasi : meniadakan keterbatasan disatu area dan
mendapatkan keahlian didaerah lain
e Rasionalisasi: memaafkan diri untuk tidak mencapai harapan
Pengalihan perasaan: Penyaluran perasaan yang tidak dapat
diterima ke dalam perilaku yang dapat diterima secara sosial (bisa
konstruktif)
Keberadaan program konseling sangat diperlukan pada kondisi kejiwaan
Odha. Tugas utamanya adalah memberi dukungan emosional untuk
membangkitkan semangat hidup ODHA. Dalam tugasnya, seorang konselor akan
34
menerangkan secara rinci seluk beluk HIV/AIDS. Mulai dari definisi HIV/AIDS,
pengaruhnya terhadap kesehatan, penyebab, proses penularan, pengobatan, serta
sikap-sikap yang harus diterapkan dalam bergaul dengan keluarga maupun
masyarakat luar. Bila ODHA memerlukan rawat inap, konselor juga akan
memfasilitasi proses rawat inap tersebut. Bila kebetulan ODHA tersebut adalah
seorang ibu hamil, konselor akan membantu ibu tersebut untuk melakukan
tindakan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak yang dikandungnya.
Dan untuk ODHA anak-anak, konselor juga akan membantu menghubungkannya
dengan spesialis anak-anak. Dengan penjelasan rinci mengenai HIV/AIDS,
diharapkan persepsi-persepsi keliru mengenai HIV/AIDS pun dapat diluruskan.
Termasuk persepsi bahwa penderita HIV/AIDS pasti segera berakhir dengan
kematian (Ickovics et al, 2001)..
ODHA harus tahu bahwa seorang penderita HIV/AIDS pun dapat hidup
dengan normal dan produktif.. Hal itu terjadi terutama pada ODHA yang secara
kejiwaan lemah, tak bisa menerima kenyataan hidup (Ciesla et al, 2001).
Peran konselor dalam penanganan HIV/AIDS memang mutlak dibutuhkan.
Kadang kondisi tidak memungkinkan dokter untuk memberi penjelasan detail.
Tak jarang ODHA pula yang berkata, dokter enak saja mengatakan itu, dokter
kan tidak mengalami. Di sinilah peran konselor diperlukan (Dilley et al, 2007).
5. Proses dan Ketrampilan Konseling
a. Proses Konseling
1) Membangun hubungan
Hubungan professional antara konselor dan pasien harus disepakati.
Konselor mencari tahu apakah pasien memahami tentang konseling
dan harapannya terhadap konselor, juga harus memastikan pada pasien
bahwa kerahasiannya dalam proses konseling dijaga, pasien harus
mempercayai konselor
2) Eksplorasi
Konselor menggunakan kemampuan konseling untuk membantu
memfasilitasi pasien dalam memahami dirinya utnuk mencari tahu
masalahnya dan kebutuhan-kebutuhan apa yang perlu dibantu.
35
3) Pengertian
Pemahaman diri pasien dan informasi masalah yang perlu dibantu
4) Perencanaan
Konselor membantu/memfasilitasi pasien untuk membuat rencana dan
keputusan bagaimana mengatasi masalahnya.
5) Penutup
Rangkuman isu penting dari sesi konseling dan membuat kesepakatan
unuk menindak lanjuti sesi tersebut atau membuat rujukan bila perlu.
b. Ketrampilan Konseling
1) Ketrampilan non verbal
a) Kontak mata (eye contact). Komunikasi interpersonal yang
baik membutuhkan kontak mata yang sesuai, perlu diperhatikan
apakah pasien dapat mempertahankan kontak mata sebaiknya
konselor berupaya untuk mengarahkan wajahnya agar dapat
bertatap muka dengan pasien. Hal ini penting untuk
menunjukkan, bahwa konselor tetap memperhatikan pasien
sehingga minat pasien untuk tetap berkomunikasi dapat
dikembangkan.
b) Bahasa tubuh (body language), bahasa tubuh berbeda dari satu
budaya dengan budaya lainnya. Komunikasi tergantung pada
bahasa tubuh untuk semua kebudayaan. Aspek dari bahasa
tubuh adalah : jarak antara 2 orang, gerakan, sikap. Ekspresi
wajah, dan sentuhan.
c) Kualitas suara (vocal qualities), gunakan nada suara yang
sama, jangan berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat.
2) Kemampuan Verbal
a) Mengikuti percakapan : tetap dengan topik yang dibicarakan
pasien. Jangan meloncat-loncat pada topik lain atau merubah
topik pembicaraan
b) Pertanyaan : pertanyaan memberikan kesempatan untuk pasien
menyatakan pikiran, perasaan dan hal-hal yang ingin
36
diceritakan. Pasien dapat mengeksplorasi/menggali informasi
tentang dirinya untuk lebih memahami lagi permasalahannya.
c) Pertanyaan tertutup : pertanyaan-pertanyaan yang membatasi
kebebasan si pembicara untuk menjawab, contoh :
1) Apakah anda mempraktekkan seks yang aman?
2) Apakah anda mengetahui bagaimana menggunakan
kondom?
3) Berapa usia anda ?
4) Kapan waktu terakhir anda melakukan test ?
d) Pertanyaan terbuka : pertanyaan-pertanyaan yang diberikan
kepada pasien sedapat mungkin jawaban dapat dipilih oleh
pasien untuk menjawabnya. Pasien diberi kebebasan untuk
menjawab dan konselor mendapatkannya lebih rinci
Contoh pertanyaan terbuka :
1) Apa pendapatmu tentang homoseksual ?
2) Apa yang kamu ketahui tentang resiko penularan HIV ?
3) Bagaimana kamu melindungi dirimu dari teman kencanmu
4) Apa yang membuat kamu mengambil keputusan untuk
datang kemari hari ini?
5) Hal apa yang sangat kamu takuti ?
6) Dapatkah kamu menceritakan kembali tentang..?
7) Silahkan kamu gambarkan gejala-gejala.?
8) Bagaimana perasaanmu tentang hal ini ?
e) Diam (silence). Diam, memberikan waktu kepada pasien untuk
berpikir tentang apa yang dikatakan dan memberikan ruang
untuk ekspresi perasaan dengan adanya perasaan ambivalen
(keraguan) untuk sharing dan kebebasannya memilih apakah
komunikasi akan ia teruskan atau tidak
f) Paraphrase : adalah komunikasi verbal dengan melakukan
pengulangan terhadap kata-kata atau ungkapan pembicaraan
pasien sebelumnya tanpa merubah isi, arti, dan tanpa komentar.
37
Paraphrasing dilakukan sebagai anjuran agar pasien
melanjutkan pembicaraan tentang permasalahan yang dialami.
Contoh :
1) Pasien : saat ini istri saya merawat saya, tetapi saya
khawatir saat mendatang jika saya sakit dia akan menolak
saya
2) konselor : kamu khawatir bahwa istrimu menolakmu jika
engkau sakit
g) Refleksi perasaan : konselor menyimak perasaan dengan
mengidentifikasi emosi pasien yang mungkin diekspresikan
berdasarkan apa yang pasien katakan atau lakukan dan
mengkomunikasikan kembali kepada pasien dengan jelas.
Kesehatan saya, tetapi saya tidak tahu untuk yang akan datang,
akankah saya mendapatkan
h) Rangkuman (summarizing) : kesimpulan tentang apa yang
terjadi selama atau sesudah sesi konseling meliputi : bentuk-
bentuk pikiran dan perasaan yang diekspresikan pasien secara
verbal maupun non verbal
i) Memberikan informasi : memberikan informasi adalah suatu
komunikasi verbal yang diberikan secara rinci kepada pasien
untuk membuat keputusan dalam pemecahan masalahnya
6. Kualifikasi penting untuk seorang konselor yang baik adalah :
a. Menjamin Kerahasiaan
Kerahasiaan adalah pusat pengembangan hubungan saling percaya
yang produktif diantara pasien dan konselor. Kedua hal tersebut
merupakan isu etik dan legal. Konselor harus menghormati
kerahasiaan dalam menyingkap masalah pasien melalui suatu
hubungan professional. Konselor harus menyimpan informasi rahasia
yang didapat dari pelayanan konseling kecuali dibutuhkan untuk
kesejahteraan, pasien mengenai adanya keterbatasan dalam
kerahasiaan
38
b. Kewaspadaan diri
Diperlukan pengembangan kewaspadaan sikap, nilai kepercayaan
dalam diri konselor. Seorang konselor yang baik tidak akan
membiarkan sikap, nilai maupun kepercayaan mereka akan
mempengaruhi proses konseling. Mereka perlu mengetahui
bagaimana merespon konfrontasi dengan pasien yang mempunyai
pendapat berbeda. Kesulitan-kesulitan dan konflik yang berkaitan
dengan sikap, nilai maupun kepercayaan sebaiknya ditempatkan
melalui supervisi dan konsultasi seorang konselor yang
berpengalaman. Rujukan dilakukan apabila dibutuhkan
c. Pendengar yang aktif
Seorang konselor yang baik selalu mendengarkan secara aktif.
Mendengarkan secara aktif melibatkan perhatian terhadap verbal
maupun nan verbal pasien (perasaan, ekspresi wajah, dan postur/gaya
tubuh). Dalam hal ini konselor memperlihatkan rasa hormat, minat
dan empati.
d. Menunjukkan kesejatian/ketulusan
Ketulusan seorang yang dilandasi kesederhanaan dan tanpa pamrih,
keluar dari hati yang paling dalam dan terpancar keluar melalui sikap
dan tindakan sehingga ketulusan dapat dirasakan oleh pasien. Suatu
keterbukaan perasaan dan sikap dalam membina hubungan antara
pasien dan konselor merupakan dasar keberhasilan konseling.
e. Hal-hal positif tanpa syarat
Perhatian tanpa syarat yaitu dengan tidak menghakimi pasien atas
perasaannya, pikirannya dan perilakunya sebagai suatu hal yang baik
atau tidak baik. Konselor hendaknya menerima pasien sebagaimana ia
ada.
f. Empati
Suatu kemampuan untuk melihat masalah pasien seperti yang dilihat
pasien sebelumnya dan pada waktu bersamaan berdiri dibela
kang, secara objektif mengamati apa yang terjadi dengan pasien pada
saat membina hubungan dalam konseling.
39
g. Kejujuran
Konselor seharusnya menyadari keterbatasannya dan merujuk pasien
pada sumber ahli jika memungkinkan. Konselor juga membutuhkan
kewaspadaan terhadap isu-isu dirinya tentang kemampuannya sebagai
konselor.
h. Kesabaran
Hindari untuk mendesak pasien, sepakati waktu yang sesuai dalam
proses konseling. Beberapa isu mungkin sangat sensitif atau mungkin
pasien tidak yakin apakah ia harus mempercayai konselor atau tidak.
i. Kepekaan budaya
Rasa hormat pasien tarhadap kebudayaan dan sistim kepercayaan.
Perlu informasi kebudayaan, tentang bagaimana dan kapan mereka
melakukan sesuatu. Perbedaan pengetahuan dan cara pandang,
menggali kepercayaan pemahaman dan dapat mengoptimalkan bantuan
yang diberikan (WHO, 2004:27)
j. Pengetahuan
Sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan yang dimiliki pasien.
Konselor sebaiknya mempunyai informasi yang baik tentang lapangan
kerjanya meliputi pelayanan dan sumber yang tersedia dan penempatan
kelompok pasien di masyarakat.
7. Manajemen ketidaknyamanan konselor
Dukungan dan perawatan HIV/AIDS merupakan suatu proses yang secara
terus menerus dihubungkan dengan isu-isu sensitif.
Koselor mungkin merasa tidak nyaman saat merawat pasien secara
professional. Sehingga konselor harus peka/waspada terhadap rasa
ketidaknyamanan dan mengelolanya untuk untuk mencegah terputusnya
hubungan. Memodifikasi respon emosi dan perilaku agar tujuan konseling
dapat dicapai. Dalam hal ini konselor dapat menggunakan berbagai strategi
untuk mengelola rasa tidak nyaman mereka.
Langkah penting mengubah emosi dan sikap dengan merubah pemikiran
kita. Teori tersebut diperoleh dari terapi perilaku kognitif. Teori dapat
memodifikai emosi dan perilaku kita untuk merespons situasi, orang dan
peristiwa-peristiwa dengan merubah pemikiran kita.
40
kema 2.2 Kerangka Teori
Konseling Kemampuan klien dan keluarga
Hari I : informasi dasar ttg HIV 1. Klien dan keluarga mampu
memahami ttg penyakit HIV AIDS
2. Klien dan keluarga dapat
menerima perasaan dan pikirannya
3. Klien dan keluarga dapat
mengidentifikasi masalah yang
berkaitan dengan konsep diri
pasien
4. Keluarga dapat memberi dukungan
terhadap klien dan menerima klien
apa adanya
5. Melibatkan klien dalam
mengambil keputusan untuk
mengikuti konseling
Hari ke II : kebutuhan primer untuk
mencegah infeksi dan infeksi berulang
1. Klien dan keluarga mengetahui
tindakan untuk mencegah infeksi
berulang
2. Mengidentifikasi kemampuan yang
masih dimiliki klien
3. Klien dan keluarga dapat
menyadari dan mengontrol
perasaan sehingga dapat
meningkatkan rasa percaya diri
klien untuk tetap melakukan
kegiatan yang masih dimiliki
Kemampuan pasien
HIV/AIDS meningkatkan
harga diri sebelum
dilakukan konseling
Intervensi Keperawatan
untuk Harga Diri Rendah
SP Pasien : SP-1 s.d SP-2
SP Keluarga : SP-1 s.d
SP3
Pasien
HIV/AIDS
Kemampuan pasien
HIV/AIDS
meningkatkan harga
diri setelah dilakukan
konseling
41
4. Mengarahkan klien sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki
Hari ke III : penilaian tingkat resiko
infeksi HIV dan mengkaji
kemungkinan sumber infeksi pasien
1. Klien dan keluarga mengetahui
tingkat resiko infeksi HIV agar
tidak terjadi komplikasi
2. Klien dan keluarga memahami
kemungkinan sumber infeksi lain :
tidak melakukan personal hygiene
dengan baik, kebersihan
lingkungan dan keamanan yang
kurang mendukung.
3. Melibatkan keluarga dalam
perawatan klien dan memberikan
motivasi melakukan kemampuan
Hari ke IV : Informasi khusus untuk
menurunkan resiko dengan perubahan
perilaku beresiko
1. Klien dan keluarga mengetahui
tindakan menurunkan resiko untuk
mencegah penularan pada orang
lain dengan cara menghindari
pemakaian jarum suntik bergantian,
hubungan seks tanpa kondom,
perubahan perilaku beresiko
dengan menyadari dan menerima
kondisi yang dialami saat ini.
2. Keluarga membantu klien memilih
koping yang sesuai, misalnya ikut
berpartisipasi dalam aktivitas
kelompok, mendorong klien
melakukan aktivitas perawatan diri
sendiri dan melakukan hal-hal yang
bermanfaat
3. Membantu klien mengidentifikasi
kegiatan yang masih bisa diikuti
Hari ke V : Review manfaat konseling 1. Klien dan keluarga mengevaluasi
manfaat konseling
2. Klien dapat meningkatkan
kemampuan diri
3. Klien dapat meningkatkan rasa
percaya diri melakukan kegiatan
dengan dibantu keluarga
4. Keluarga dapat mendukung setiap
kegiatan klien