Anda di halaman 1dari 44

1

MANAGEMEN LAYANAN SOSIAL STUDI PENELITIAN PANTI SOSIAL KARYA WANITA


Dosen Pengampu : Ibu Supartini, M.Si

Oleh !i"ri#ah A$%a&ati NIM '(.()).')).*+ KONSENTRASI PEKER,AAN SOSIAL INTERDIS-IPLINARY ISLAMI- STUDIES PROGRAM PAS-ASAR,ANA UNI.ERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALI,AGA YOGYAKARTA ()'/

A. PENDA0ULUAN Dalam upaya penanganan masalah kesejahteraan sosial yang dilakukan pemerintah, dalam hal ini yang dilakukan oleh Kementerian Sosial, baik yang melalui sistem luar panti maupun sistem panti sejatinya terus dilakukan pembenahan dari sisi sarana prasarana, metode pelayanan maupun peningkatan kualitas sumber daya pelaksananya. Pada hakekatnya proses pelayanan dan rehabilitasi sosial yang dilakukan melalui sistem panti tidak berakhir pada saat penyandang masalah selesai mendapatkan pelayanan didalam panti, namun hingga yang bersangkutan kembali ke keluarga maupun masyarakat lingkungannya yang dilayani dengan kegiatan pembinaan lanjut. Keterbatasan dari berbagai aspek mengakibatkan pembinaan lanjut belum dilakukan secara proporsional. Hal tersebut mendorong penulis untuk melakukan penelitian singkat mengenai Evaluasi Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Pada Panti Sosial: Studi kasus Pembinaan Lanjut (After Care Services Pasca Rehabilitasi Sosial, yang dilakukan untuk mengetahui realisasi pelaksanaan pelayanan dan pembinaan lanjut yang telah dilakukan panti-panti sosial yang hari ini peneliti rasa masih minim dilakukan, termasuk kendala yang dihadapi dalam pelayanan. Sasaran pada penelitian ini adalah Panti Sosial Karya Wanita diba ah koordinasi Kementerian Sosial, dari beberapa masalah yang terdapat di kota !ogyakarta. "una memberikan man#aat yang optimal bagi panti yang diteliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan kebijakan pengembangan pelayanan sosial dalam panti, khususnya unit teknis di lingkungan Kementerian Sosial maupun pihak lain yang melakukan pelayanan sosial dalam panti. $enyadari akan segala keterbatasan dan kesempurnaan makalah hasil penelitian ini, maka saran dan kritik yang membangun dari para dosen pengampu khususnya, serta penggiat pembangunan kesejahteraan sosial sangat diharapkan.

1. PRO!ILE PSKW %una susila sebagai penyakit masyarakat, selalu muncul dan merupakan masalah sosial yang sulit untuk ditangani. Dikatakan masalah sosial karena didalam tindakannnya terdapat penyimpangan-penyimpangan perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama, adat istiadat, selain keberadaannya meresahkan arga masyarakat Sulitnya menangani masalah tuna susila ini disebabkan berbagai #aktor seperti: #aktor ekonomi, sosial, moral, budaya bahkan #aktor psikologis. Kartini Kartono dalam Patologi Sosial menyebutkan bah a penyebab terjadinya tindak tuna susila antara lain& '. adanya dorongan manusia untuk menyalurkan kebutuhan seks diluar ikatan peka inan& (. komersialisasi dari seks& ). merosotnya norma-norma susila dan agama& *. kebudayaan eksploitasi +. #aktor ekonomi. Sedangkan akibat yang ditimbulkan dari tindak tuna susila yaitu& ', penyebarluasan penyakit kelamin& (, merusak sendi-sendi kehidupan keluarga& ), memberikan pengaruh demoralisasi kepada lingkungan& *, merusak sendi-sendi moral, susila, hukum, agama& +, adanya eksploitasi manusia oleh manusia lainnya. Walaupun permasalahan tersebut sulit ditangani, namun pemerintah dan masyarakat tetap berupaya untuk menangani masalah tersebut melalui sistem panti maupun non panti. Panti Sosial Karya Wanita -PSKW, Sidoarum yang secara prinsip bertugas melakukan pelayanan rehabilitasi eks tuna susila. .amun dalam prakteknya PSKW Sidoarum hanya melakukan upaya pre#enti# -pencegahan, yakni dengan mendidik klien-klien berjenis kelamin perempuan dengan rentan usia antara ')-*/ tahun yang dianggap rentan menjadi P$KS.

'. GAM1ARAN UMUM PANTI SOSIAL a. Kele%ba2aan Panti Sosial Karya Wanita !ogyakarta merupakan 0nit Pelaksana %eknis Dinas Sosial D1! sebagai lembaga pelayanan masyarakat - Public Service, yang memberikan pelayanan konsultasi, rehabilitasi dan pelayanan sosial untuk membantu merubah sikap dan perilaku psikologis Wanita 2a an Sosial Psikologis -W2SP,, keluarga dan lingkungan. b. L3"a$i 3okrobedog, Sidoarum, "odean, Sleman, !ogyakarta %elp.4 5a6 -/(7*, 789*7+* :mail : psk ;jogjapro<.go.id

4. Se5arah PSKW Tahun '67' : Kan il Depsos Pro<. D1! mendirikan tempat rehabilitasi W=.1%= -S2KW, Tahun '66+ : .ama S2KW berubah menjadi P=.%1 S@S1=? K=2!= W=.1%= -PSKW, !@"!=K=2%= sesuai dengan Keputusan $enteri Sosial 21 .o. ((4H0K4'88+ Tahun ())(: Dengan dibubarkannya Departemen Sosial, dalam era otonomi daerah PSKW menjadi 0nit Pelaksana %eknis Daerah -0P%D, dengan peraturan Daerah Pro<insi D1! Ao SK "ubernur .omor 'B/ %ahun (//( tentang 0raian tugas dan tata kerja di 0P%D di lingkungan Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan sosial Pro<insi D1!. Tahun ())7 : Diterbitkan Peraturan Daerah .omor : B %ahun (//9 tentang @rganisasi dan %ata KerjaDinas Sosial Pro<insi D1! dan Peraturan Daerah .omor : )B tahun (//9 tentang @rganisasi dan %ata Kerja 0P%D Pro<insi D1!. anita

ra an sosial psikologis dengan nama S=S=.= 2:H=>1?1%=S1 K=2!=

8. .ISI %er ujudnya anita yang berman#aat, berguna, dan mandiri. e. MISI $eningkatkan sumberdaya anita melalaui pelatihan C pelatihan sosial, mental, ketrampilan usaha untuk kemandirian $elindungi dan meningkatkan martabat anita melalui rehabilitasi dan pelayanan sosial $eningkatkan peran anita dalam pembangunan $engembangkan teknologi pelayanan dan potensi pega ai melalui studi dan penelitian, sebagai laboratorium $enggali potensi masyarakat untuk dapat berpartisipasi melalui in#ormasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan PSKW $engembangkan jalinan kerja dan jaringan sosial untuk pengembangan PSKW !ogyakarta 9. Tu5uan Pulihnya kembali harga diri, kepercayaan diri, tanggungja ab sosial serta kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan #ungsi sosialnya secara ajar dalam bermasyarakat yang normati# serta mengembangkan potensi arga binaan untuk hidup produkti#. 2. Stru"tur Or2ani$a$i

h. Sa$aran Wanita 2a an Sosial Psikologis -W2SP, yaitu anita usia '7 C */ tahun yang secara pribadi maupun lingkungannya ra an terhadap penyimpangan norma, psikologis dan sosial. i.Su%ber:8a#a Manu$ia Dalam menyelenggarakan pelayanan dan rehabilitasi sosial, PSKW Sidoarum didukung dengan sumber daya manusia berjumlah +/ pega ai. Sumber daya tersebut terdiri dari, pejabat struktural, pejabat #ungsional, pembimbing keterampilan, dan tenaga lainnya. ?atar belakang pendidikan pega ai cukup ber<ariasi, mulai dari SD hingga S( dengan rincian sebagai berikut: S( -' orang,, S' -(/ orang,, S?%= -'7 orang,, D) -B orang,, S( -) orang,, dan S?%P, SD -masingmasing ( orang,. Dari komposisi latar belakang pendidikan tersebut, nampak bah a SD$ yang ada di PSKW Sidoarum cukup memadai. Khusus pendidikan S( dimiliki oleh kepalapanti dan pekerja sosial. Komposisi tenaga dilihat dari masing-masing bidang, jumlah tenaga terbanyak pada bidang %0 -'B orang,, Pekerja Sosial '* orang, Seksi 2ehsos '' orang dan Seksi P=S 9 orang. >erdasarkan golongan, pega ai yang sudah menempati golongan 1D -B orang,, golongan 111 -)' orang, dan selebihnya golongan 11. 0ntuk memperlancar pelaksanaan kegiatan, PSKW Sidoarum juga didukung tenaga #ungsional arsiparis, penyuluh sosial, dan terutama pekerja sosial. Saat ini, jumlah tenaga #ungsional arsiparis dan penyuluh sosial masing-masing ' orang. Sedangkan jumlah pekerja sosial sebanyak '( orang. Aika dilihat banyaknya klien yang harus ditangani selama satu angkatan selama B bulan sebanyak ''/ orang, maka jumlah pekerja sosial yang ada saat ini belumlah memadai. Dimana satu orang pekerja sosial harus menangani '/ orang klien dalam satu angkatan.

5.Si$te% Pela#anan Penyelenggaraan 2ehabilitasi melalui sistem dalam panti yaitu sistem pelayanan sercara khusus dan intensi# menyangkut nilai-nilai keber#ungsian sosial serta pengembangan potensi arga binaan. Sistem penerimaan arga binaan dilaksanakan secara buka tutup setiap bulan. ". Wa"tu Pela#anan Program bimbingan dilaksanakan maksimal satu tahun pelayanan. l. Tahap Pela#anan '; TA0AP SOSIALISASI a; Pen#ebarlua$an in93r%a$i $elakukan koordinasi dengan ilayah Kabupaten dan Kota se-D1! yang ditindaklanjuti dengan penyebaran in#ormasi langsung pada masyarakat. b; 4; Pen5an2"auan Re"rut%en "ela#an 2ekrutmen kelayan berasal dari : ?aporan masyarakat 2ujukan dari tokoh masyarakat, PS$, @rsos4?S$, PKK dan instansi terkait lainnya. Penda#taran diri4 serah diri calon kelayan

(; TA0AP PENERIMAAN a; Pen8e"atan A&al b; Orienta$i 8an K3n$ulta$i 4; I8enti9i"a$i 8; M3ti<a$i e; Sele"$i 9; Re2i$tra$i Pencatatan $emberian .omor 2egistrasi Pengenalan ?iningkungan Panti 2; Pen2un2"apan 8an Penelaahan Ma$alah (Assessment %es Psikologi %es >akat $inat h; Pene%patan "ela#an 8ala% a$ra%a

i; Pene%patan 8ala% Pr32ra% Pela#anan *; TA0AP RE0A1ILITASI SOSIAL a; 1i%bin2an 9i$i", %ental 8an $3$ial Pemeliharaan kesehatan, olah raga dan sarana kebersihan $akan dan minum setiap hari >imbingan Keagamaan >imbingan Kedisiplinan >imbingan >udi Pekerti Pendampingan =srama Dinamika Kelompok Kerja bakti lingkungan Konseling %erapi Kelompok Art Therapy Muatan lokal b; 1i%bin2an Ketra%pilan Jahit, Bordir dan Kerajinan Tata Rias/Salon lahan Pan!an /; TA0AP RESOSIALISASI a; 1i%bin2an "e$iapan 8an peran $erta %a$#ara"at Melibat"an &ar2a binaan 8ala% "e2iatan "e%a$#ara"atan $e"itar. Koordinasi 4kerjasama dengan aparat desa setempat Koordinasi4kerjasama dengan stakeholder >akti sosial jasa ketrampilan Kerja bakti Pentas seni b; 1i%bin2an U$aha=Ker5a =chie<ment Motivation Trainin! "AMT# $ield Study Perusahaan Praktek >elajar Kerja -P>K, Serti#ikasi 4; Pen#aluran Penempatan kerja

0saha $andiri Pemberian bantuan Stimulan

+; TA0AP 1IM1INGAN LAN,UT a; 1i%bin2an penin2"atan "ehi8upan ber%a$#ara"at b; 1i%bin2an pene%patan u$aha 4; 1antuan pen2e%ban2an u$aha Pelaksanaan >imbingan ?anjut, yaitu dengan : Konseling Home <isit %emu alumni 2ujukan sebagai upaya tindak lanjut untuk mencegah kera anan Disit di tempat kerja >antuan stimulan :<aluasi >; TA0AP TERMINASI a; Penutupan pen4atatan "a$u$ b; Penutupan hubun2an pela#anan %. Ke2iatan Penun5an2 Pela#anan ', (, ), *, +, Pertemuan Pra Pemulangan @rang %ua Warga >inaan Kajian %ingkat Keberhasilan Pelayanan Pengembangan =plikasi Database Pelayanan Pertemuan Aejaring Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Workshop Program PSKW !ogyakarta

n. OUT PUT '; Wanita Ra&an S3$ial P$i"3l32i$ a; Wanita 8en2an per%a$alahan p$i"3l32i$ 8an e"3n3%i $emiliki kepercayaan diri Hidup dan besosialisasi secara normati# >er#ungsi secara sosial di dalam masyarakat $ampu mempraktekan ketrampilan yang dimiliki >ertahan hidup mandiri

10

Hidup harmonis dalam keluarga dan masyarakat $ampu membangun masa depan lebih baik

b; K3rban Ke"era$an 8an K3rban Per8a2an2an Oran2 ?Tra99i4"in2; Keluar dari lingkungan kekerasan4tra##icking Pulih secara #isik, sosial dan psikologis Pulih dari trauma $ampu melindungi diri sendiri $emiliki kepercayaan diri dan ber#ungsi secara sosial (; Mantan Tuna Su$ila a, Hidup dan besosialisasi secara normati# b, >er#ungsi secara sosial di dalam masyarakat c, $ampu mempraktekan ketrampilan yang dimiliki d, Hidup mandiri bekerja secara layak dan normati#.

3. Sarana 8an Pra$arana 0ntuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas, panti memiliki #asilitas yang cukup memadai. Sarana dan prasarana yang dimiliki Panti Sosial Karya Wanita Sidoarum, sampai dengan tahun (/') terdiri dari : a. Sarana dan Prasarana PSKW Sidoarum menempati luas seluruhnya 8,88+ $(. Peman#aatan lahan tersebut untuk gedung perkantoran yang terdiri dari: ruang kerja4kantor, ruang rapat, aula4 ruang serbaguna, ruang seleksi, ruang konsultasi, dan ruang data. Sedangkan untuk kepentingan proses keterampilan, disediakan gedung pendidikan antara lain untuk ruang keterampilan tata rias dan olah pangan, ruang keterampilan menjahit manual, ruang menjahit %i!h Speed dan bordir, serta ruang untuk pendidikan. b. 0ntuk klien PSKW Sidoarum disediakan #asilitas berupa asrama, isma, kamar, ruang makan dan dapur, serta poliklinik dan ruang pera atan. >eberapa #asilitas penunjang berupa lapangan tenis, lapangan olah raga, taman, lahan pertanian, dan sarana ibadah berupa masjid dan mushola.

11

p. K3n8i$i Alu%ni >erdasarkan data jumlah alumni PSKW !ogyakarta tahun (//7 C (/') adalah '8' orang. Dari data tersebut, diketahui '99 orang telah bekerja -9',7E,, )( orang membuka usaha mandiri -'B,7E, dan ) orang belum bekerja -',BE,. Dari '8' orang alumni tersebut sejumlah 9) orang -*),+E, telah mengikuti kegiatan serti#ikasi tahun (//7 C (/'(, sejumlah (/ orang -'/,*E, alumni mengikuti kegiatan serti#ikasi tahun (/'). Peserta serti#ikasi memperoleh bantuan stimulan sesuai dengan bidang ketrampilan masing-masing. Dengan bantuan stimulan tersebut, diharapkan peserta serti#ikasi mampu meman#aatkan bantuan stimulan yang diberikan untuk meningkatkan produkti<itas, membuka usaha mandiri serta mengembangkan lapangan kerja baru dalam masyarakat. -. PEM1A0ASAN Panti sosial adalah lembaga pelayanan kesejahteran sosial yang memiliki tugas dan #ungsi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberdayakan penyandang masalah kesejahteraan ke arah kehidupan normati# secara #isik, mental dan sosial.' @leh sebab itu pelayanan melalui sistem panti pada hakikatnya merupakan upaya-upaya yang bersi#at pencegahan, penyembuhan, rehabilitasi, dan pengembangan potensi klien, menjadi penting peranannya. $enurut Data data yang kami terima Kementerian Sosial 2epublik 1ndonesia, memiliki 2encana Strategis tahun (/'/ - (/'* bah asanya 0nit Pelaksana %eknis -0P%, Panti Sosial merupakan pusat kesejahteraan sosial yang berada di baris paling depan dalam pelaksanaan tugas dan #ungsi penyelenggaraan kesejahteraan sosial dan pilar inter<ensi pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi P$KS. 0P% panti sosial adalah sebuah pilihan yang harus tersedia disamping pilihan utama lainnya yakni pelayanan
1

=stuti, $. -(/'/,. Penelitian Tentan! Rehabilitasi Sosial di PSB&' Aakarta: P)KS Press.

12

sosial berbasis keluarga dan komunitas dan4atau s asta, sehingga masyarakat terutama P$KS memiliki pilihan sesuai dengan kondisi mereka. Panti sosial mempunyai #ungsi utama sebagai tempat penyebaran layanan& pengembangan kesempatan kerja& pusat in#ormasi kesejahteraan sosial& tempat rujukan bagi pelayanan rehabilitasi dari lembaga rehabilitasi tempat di ba ahnya -dalam sistem rujukan4 re(erral syste), dan tempat pelatihan keterampilan. Sedangkan prinsip prinsip dasar penyelenggaraan panti sosial dan atau lembaga pelayanan sosial lain yang sejenis adalah: '. $emberikan kesempatan yang sama kepada mereka yang membutuhkan untuk mendapatkan pelayanan& menghargai dan memberi perhatian kepada setiap klien dalam kapasitas sebagai indi<idu sekaligus juga sebagai anggota masyarakat& (. $enyelenggarakan #ungsi pelayanan kesejahteraan yang bersi#at pencegahan, perlindungan, pelayanan dan rehabilitasi serta pengembangan& ). $enyelenggarakan #ungsi pelayanan kesejahteraan sosial yang dilaksanakan secara terpadu antara pro#esi pekerjaan sosial dengan pro#esi lainnya yang berkesinambungan& *. $enyediakan pelayanan berdasarkan kebutuhan klien guna meningkatkan #ungsi sosialnya& dan
5. $emberikan kesempatan kepada klien untuk berpatisipasi secara akti# dalam

usaha-usaha pertolongan yang diberikan.( Proses pelayanan panti sosial meliputi -', tahap pendekatan a al& -(, asesmen& -), perencanaan program pelayanan& -*, pelaksanaan pelayanan& dan -+, pasca pelayanan. %ahap pasca pelayanan terdiri dari penghentian pelayanan, rujukan, pemulangan dan penyaluran dan pembinaan lanjut. Pembinaan lanjut merupakan tahapan terakhir dari proses pelayanan sosial dan rangkaian proses rehabilitasi sosial atau pemulihan, yang ditujukan agar eks klien dapat beradaptasi dan berperan akti# dalam keluarga dan masyarakat. Pembinaan lanjut di panti-panti sosial mengalami berbagai kendala diantaranya data eks klien yang tersebar hingga ke pelosok desa,
2

Departemen Sosial 21, -(//7,. Pedo)an Penyelen!!araan Panti Sosial Karya *anita "PSK*#, Direktorat Pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial %una Susila.

13

anggaran yang tidak memadai, dan pemahaman tentang pembinaan lanjut yang masih beragam mengakibatkan pelaksanaan pembinaan lanjut belum optimal. Hasil penelitian juga menunjukkan bah a belum adanya dukungan dari masyarakat termasuk dunia usaha terhadap eks klien. Padahal pembinaan lanjut dalam praktik pekerjaan sosial cukup penting untuk mencapai keberhasilan pelayanan, dan merupakan bagian dari manajemen kasus. $enurut $aguire dan ?ambert,) manajemen kasus digunakan untuk mengelola, mengkoordinasi, dan memandu klien melalui serangkaian langkah-langkah tertentu di lapangan. ?angkah tersebut antara lain assessmen a al yang mende#inisikan masalah dan kekuatan, perencanaan, penghubungan dan pengkoordinasian, pemantauan dan perubahan yang mendukung, dan pada akhirnya meringkas serta menyelesaikannya melalui terminasi dan dilanjut dengan tahap pembinaan lanjut. Pembinaan lanjut tidak boleh lepas dari prinsip-prinsip yang digunakan dalam memandu akti<itas praktik pekerjaan sosial. Seperti yang dikemukakan oleh Shea#or dan Horejsi, diantaranya: * '. Seorang pekerja sosial harus dapat memaksimalkan pemberdayaan kliennya& (. Seorang pekerja sosial harus terus menerus melakukan e<aluasi terhadap kemajuan dari perubahan yang dicapai klien& ). Seorang pekerja sosial harus bertanggungja ab kepada lembaga, masyarakat dan pro#esi pekerjaan sosial. $enurut Woodside dan $c.3lam -(//),, Keberlanjutan pelayanan memiliki dua pengertian: + '. Keberlanjutan berarti bah a pelayanan yang diberikan pada klien tidak terputus dari tahap a al sampai terminasi dan keberlanjutannya.

?ambert, $. D. -(//',. +linical Social *ork Beyond &eneralist Practice ,ith -ndividuals, "roups and 5amilies. ?ondon: >rook43ole. -:-book diakses pada * Aanuari (/'*, Shea#or, S. -(//),. -ntroduction to Social *ork Practice' .e !ork: $ac $illan. -:-book diakses pada B Aanuari (/'*, Woodside, $. D. -(//),. &eneralist +ase Mana!e)ent. A Method o( %u)anService /elivery' Paci#ic "roo<e 3=: >rooks 3ole. -:-book diakses pada B Aanuari (/'*,

14

(.

Keberlanjutan pelayanan berarti penyediaan layanan secara komprehensi#. Didalamnya termasuk inter<ensi dengan dukungan dari lingkungan, memelihara hubungan dengan keluarga klien dan pihak-pihak lain dan jejaring sosial yang menghubungkan dengan pelayanan-pelayanan yang ada. >erdasarkan prinsip-prinsip pekerjaan sosial, maka bimbingan lanjut dianggap

perlu untuk dilakukan. =dapun tahapan dari bimbingan lanjut adalah sebagai berikut: '. $enyusun rancangan kegiatan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial. (. $elaksanakan kegiatan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial melalui bimbingan dan penyuluhan sosial. ). $elaksanakan kegiatan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial melalui bimbingan dan pendampingan secara indi<idual. *. $elaksanakan kegiatan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial melalui koordinasi dengan pihak terkait. +. $elaksanakan kegiatan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial dengan menggali dan mengaitkan dengan sistem sumber yang tersedia. B. $elaksanakan kegiatan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial dengan menggali dan mengaitkan dengan memberikan bantuan pengembangan usaha. 7. $emantau perkembangan eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial dalam masyarakat. 9. $engideti#ikasi hambatan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap eks penerima program pelayanan kesejahteraan sosial. $emberikan super<isi dalam pelaksanaan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap pekerja sosial di ba ahnya.

15

8. $emberikan super<isi dalam pelaksanaan bimbingan dan pembinaan lanjut terhadap pekerja sosial di ba ahnya. D. KERANGKA E.ALUASI :<aluasi pelaksanaan Program Pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial di PSKW Sidoarum menggunakan $odel 31PP. Di dalam pembahasan ini akan dilakukan e<aluasi ke empat komponen, yaitu Konteks, 1nput, Proses dan @utput. Di samping itu juga merujuk pada 1ndikator Kinerja dan Standar Pelayanan $inimal -SP$, bidang pelayanan dan rehabilitasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Sosial 21 -Peraturan $enteri Sosial .omor '(84H0K4(//9, sebagai panduan dalam melaksanakan program. Standar Pelayanan $inimal >idang Sosial adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar bidang sosial yang merupakan urusan ajib daerah yang berhak diperoleh setiap Penyandang $asalah Kesejahteraan Sosial secara minimal. Selanjutnya pada %ahun (//7, Direktorat Pelayanan dan 2ehabilitasi %una Sosial menetapkan Standar Pelayanan $inimal Pelayanan dan 2ehabilitasi %una Susila. >eberapa peraturan ini akan menjadi dasar dalam menge<aluasi pelaksanaan program pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial di PSKW Sidoarum. Penetapan indikator kinerja dan target SP$ >idang Sosial yang ditetapkan untuk Pro<insi merupakan target minimal yang harus dicapai secara bertahap sejak ditetapkannya Peraturan $enteri Sosial sampai dengan %ahun (/'+. Aadi hasil kajian melalui e<aluasi ini sekaligus dapat menjadi petunjuk kemajuan PSKW dalam mencapai SP$. Peraturan $enteri Sosial 21 .omor '''4H0K4(//8 menjelaskan

bah a1ndikator Kinerja Pembangunan Kesejahteraan Sosial adalah suatu ukuran kuantitati# dan4atau kualitati# yang menggambarkan tingkat usaha, pencapaian sasaran, dan tujuan pembangunan kesejahteraan sosial. 1ndikator Kinerja terdiri dari indicator masukan -input,, indicator keluaran -output,, indicator man#aat -outco)e, dan indicator dampak -i)pact,.

16

1ndikator input adalah segala sumber daya yang dibutuhkan dan digunakan agar tujuan pembangunan kesejahteraan sosial dapat tercapai. 1ndikator output adalah segala sesuatu yang diperoreh dan dicapai dalam pembangunan kesejahteraan sosial sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. 1ndikator outcome adalah segala sesuatu yang diperoleh dengan ber#ungsinya keluaran yang dicapai secara optimal dalam pembangunan kesejahteraan sosial. sedangkan hasil kegiatan pembangunan kesejahteraan sosial. '.In8i"at3r Input ?Ma$u"an; 1ndikator masukan merupakan segala potensi yang dapat dijadikan sumber daya untuk melaksanakan program, yang meliputi ketersediaan sumber daya manusia, sarana prasarana, anggaran dan peman#aatannya serta norma, standard, prosedur, dan kriteria -.SPK,. 1ndikator ketersediaan sumber daya manusia kesejahteraan sosial meliputi segala potensi dan kemampuan yang dimiliki baik pega ai maupun tenaga kesejahteraan sosial yang melaksanakan program pelayanan dan rehabilitasi sosial. Dalam menge<aluasi kinerja sumber daya manusia sebagai bagian dari indikator input -masukan,, maka akan dilihat melalui ketersediaan Pekerja Sosial Pro#esional, %enaga Kesejahteraan Sosial terlatih. Selain itu juga ketersediaan tenaga pro#esional lain yang mendukung proses pelayanan, seperti instruktur ketrampilan, psikolog, maupun tenaga medis. Secara kuantitati# akan dilihat proporsi jumlah sumber daya manusia dengan jumlah klien atau arga binaan yang diyalani. Selain itu secara kualitati# juga akan dilihat latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja dalam bidang pelayanan dan rehabilitasi sosial. Secara terperinci Kementerian Sosial telah menetapkan standar pelayanan minimal untuk sumber daya manusia dalam pelaksanaan program pelayanan dan rehabilitasi tuna susila yaitu : a. Pimpinan 1ndikator impact adalah segala pengaruh yang ditimbulkan dari man#aat yang diperoleh dari

17

', $emiliki ?atar >elakang Pendidikan dan Pelatihan Pekerjaan Sosial (, $emiliki Pengalaman di bidang sosial ), Pernah mengikuti pelatihan manajemen pelayanan panti b. %enaga =dministrasi ', $emiliki pendidikan serendah-rendahnya S?%= dan diutamakan S$K bidang =dministrasi (, Pernah mengikuti pelatihan di bidang =dministrasi panti c. %enaga Pelaksana %eknis ', 5ungsional Pekerja Sosial -rasio ' : 8, (, $emiliki latar belakang pendidikan pekerjaan sosial ), Pernah mengikuti pelatihan pelayanan dan rehabilitasi sosial dalam panti

d. 1nstruktur -rasio ' : (/, ', $emiliki serti#ikat sesuai bidangnya (, =danya kesepakatan bersama tentang jad al pelayanan e. %enaga paruh aktu ', $emiliki keahlian lainnya sesuai dengan kebutuhan -dokter, para medis, psikolog, pembimbing rohani, (, =danya kesepakatan bersama tentang jad al pelayanan #. %enaga rela an

18

', =danya kesepakatan tentang aktu pelayanan (, Penempatan sesuai minat dan kebutuhan pelayanan (. In8i"at3r Pr3$e$ 1ndikator Proses menunjukkan serangkaian akti<itas atau kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelaksanaan program Pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial. Di Dalam Standar Pelayanan $inimal juga sudah ditetapkan prosedur atau tahap-tahap pelayanan dan rehabilitasi sosial yang meliputi :

a. Pendekatan = al dan Penerimaan Klien ', Kegiatan yang dilakukan a, @rientasi dan Konsultasi kepada ?embaga terkait dan ?intas Sektor untuk memperoleh dukungan b, 1denti#ikasi calon klien c, $oti<asi calon klien

d, Seleksi calon klien e, Kesepakatan pelayanan dengan klien -kontrak pelayanan,

(, Kuali#ikasi petugas pelaksana a, Pekerja sosial -Pemerintah maupun s asta,

b, 2ela an sosial yang terlatih ), 5rekuensi dan jangka aktu pelaksanaan ?amanya '-( minggu

19

*, =dministrasi dan materi pendukung a, 5ormulir penda#taran b, >uku registrasi c, 5ormulir identi#ikasi d, 5ormulir perjanjian -kontrak pelayanan, e, ?aporan kunjungan b. Pengungkapan dan Pemahaman $asalah -assessment, ', Kegiatan a, $enggali masalah, potensi dan sumber yang dapat diakses b, $enyusun rencana pelayanan4inter<ensi (, Kuali#ikasi Petugas Pro#esional a, Pekerja Sosial Pro#esional b, 2ela an sosial di ba ah super<isi pekerja sosial ), 5rekuensi dan jangka aktu a, ( kali melaksanakan assessment terhadap klien

b, ( kali melakukan assessment terhadap lingkungan klien c, '-) minggu

*, =dministrasi dan materi pendukung a, 1nstrument studi kasus b, ?aporan studi kasus

20

c, Pembahasan kasus -case con(erence, c. >imbingan sosial, #isik, mental dan ketrampilan ', Kegiatan a, >imbingan sosial -indi<idu, kelompok, masyarakat, b, >imbingan #isik -kesehatan, giFi, olah raga, kebersihan lingkungan, c, >imbingan mental -spiritual4budipekerti, kepribadian, d, >imbingan ketrampilan kerja e, >imbingan pendidikan -#ormal dan non #ormal,

(, Aenis petugas a, Pekerjasosial pro#essional b, %enagamedis4paramedic c, 2ohania an d, Psikolog e, 1nstruktur ketrampilan ), 5rekuensi dan jangka aktu a, >imbingan perorangan * kali pertemuan4bulan b, >imbingan kelompok ( kali pertemuan4bulan *, =dministrasi dan materi pendukung a, ?aporan proses dan perkembangan

21

b, Silabus bimbingan -materi pendukung, d. 2esosialisasi ', Kegiatan a, >imbingan kesiapan dan peran serta masyarakat b, $agang di tempat kerja sesuai ketrampilannya c, Dititipkan di dunia usaha (, Kuali#ika sipetugas a, Pekerja sosial pro#esional b, 2ela an sosial terlatih ), 5rekuensi dan jangka aktu '-) bulan *, =dministrasi dan materi pendukung ?aporan proses penanganan dan perkembangan e. Penyaluran ', Kegiatan a, Penyaluran kelapangan kerja b, >antuan stimulant usaha ekonomi sprodukti# -0:P, c, Pengembalian kekeluarga d, 2ujuk denga nsuami4dinikahkan (, Kuali#ikasi petugas

22

a, Pekerjasosial pro#essional b, 2ela an sosial terlatih ), 5rekuensidanjangka aktu Segera setelah resosialisasi *, =dministrasi dan materi pendukung 5ormulir penyaluran #. >imbingan?anjut ', Kegiatan a, $emantau dan memoti<asi perkembangan eks klien b, Super<ise (, Kuali#ikasi petugas a, Pekerjasosial pro#essional b, Pekerja sosial terlatih c, Disiplin lain dari instansi terkait ), 5rekuensi dan jangka aktu a, 5rekuensi kontak ( bulan sekali b, Aangka aktu B bulan *, =dministrasi dan materi pendukung a, 5ormulir bimbingan lanjut b, ?aporan bimbingan lanjut

23

g. :<aluasi ', Kegiatan a, :<aluasi pada setiap tahapan proses b, :<aluasi akhir (, Kuali#ikasi petugas a, Pekerja sosial pro#essional b, 2ela an sosial dengan super<ise pekerja sosial ), 5rekuensi dan jangka aktu * kali dalam ' tahun *, =dministrasi dan materi pendukung a, 5ormulir e<aluasi b, ?aporan akhir h. Pengakhiran -%erminasi, ', Kegiatan a, Pengakhiran kegiatan pelayanan b, Pendokumentasian4pengarsipan #ile klien (, Kuali#ikasipetugas Penanggung ja ab kegiatan ), 5rekuensi dan jangka aktu ' kali

24

*, =dministrasi dan materi pendukung a, 5ormulir pengakhiran pelayanan b, Surat pemberitahuan pengakhiran pelayanan *.In8i"at3r Output 1ndikator output atau keluaran menunjukkan sejauhmana program pelayanan dan rehabilitasi sosial dapat menjangkau kelompok sasaran yang dalam hal ini adalah anita ra an sosial psikologis dan tuna susila. 1ndikator output arga di#ormulasikan dengan beberapa komponen yang meliputi jumlah -kuantitas, diberikan. Dengan dua kriteria itu, indikator output ditetapkan sebagai berikut : a. Aumlah sosial. b. Aumlah arga binaan sosial yang telah lulus dalam bimbingan mental sosial. c. Aumlah klien kerja d. Aumlah klien arga binaan sosial yang mengikuti praktek belajar kerja e. Aumlah kelompok usaha bersama yang dikelola oleh arga binaan sosial arga binaan sosial yang lulus dalam uji kompetensi ketrampilan arga binaan sosial yang terjangkau program pelayanan dan rehabilitasi

binaan sosial yang dapat dijangkau dan kualitas atau mutu pelayanan yang dapat

/. In8i"at3r Man9aat 1ndikator man#aat menunjuk pada sejauhmana keluaran dapat berpengaruh positi# atau ber#ungsi bagi arga binaan sosial, keluarga maupun lingkungan sosial. Di dalam Peraturan $enteri Sosial, indikator man#aat dilihat dari apakah program dapat mengubah dan meningkatkan keber#ungsian sosial. Keber#ungsian sosial

25

merupakan

dalam

memenuhi

kebutuhan

dasar,

mengatasi

masalah,

dan arga

menampilkan peran sesuai dengan statusnya. >erdasarkan aturan tersebut maka indikator man#aat dalam program pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi binaan sosial dirumuskan sebagai berikut : a. mempunyai kepercayaan diri b. mampu berkomunikasi yang e#ekti# c. mampu menghadapi situasi kritis d. mampu menjalin relasi sosial yang baik dengan lingkungan sosialnya. e. mampu melaksanakan peranan sosialnya #. mempunyai ketrampilan kerja dan memudahkan dalam mencari pekerjaan yang layak atau memungkinkan untuk mengelola usaha mandiri. Sedangkan indikator man#aat bagi keluarga arga binaan sosial adalah : a. $empunyai relasi yang setara di dalam keluarga b. %erciptanya keadilan dalam pembagian peran, tugas, dan tanggung ja ab dalam keluarga. c. $ampu memberikan perlindungan bagi anggota keluarga d. $ampu menghadapi situasi krisis e. $empunyai akses terhadap sumber-sumber pelayanan sosial #. $ampu berkomunikasi dan menjalin relasi dengan lingkungan sosialnya +. In8i"at3r Da%pa"

26

1ndikator dampak Program Pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial diukur dari peningkatan kualitas hidup dan tara# kesejahteraan sosial arga binaan sosial PSKW. Peningkatan kualitas hidup dilihat dari beberapa kondisi, yaitu : a. %erpenuhi kebutuhan dasar b. $eningkatnya kualitas kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi. c. $empunyai konsep diri yang positip dan pertumbuhan pribadi yang optimal d. %er ujudnya ketenangan, kenyamanan dan keberdayaan psikologis. e. $emiliki aktu dan akses yang terbuka untuk pengembangan pengetahuan dan ketrampilan. #. $eningkatnya kemampuan dan keberanian dalam membuat keputusan secara independen. g. >erpartisipasi akti# dalam kegiatan sosial masyarakat bersama dengan lainnya. arga

h. $empunyai sumber mata pencaharian yang dapat diandalkan dan sudah meninggalkan pekerjaannya sebagai W%S. i. $empunyai akses terhadap sumber-sumber ekonomi dan kepemilikan terhadap asset-asset produkti#. j. %erlibat dalam pengambilan keputussan di ranah publik.

E. 0ASIL E.ALUASI PROGRAM '. 1ndikator Proses -=ssessment, SP$ bidang rehabilitasi sosial anita tuna susila menetapkan bah a

bimbingan sosial meliputi bimbingan indi<idu, kelompok, dan masyarakat. .amun demikian PSKW belum merumuskan dengan jelas materi yang akan disampaikan dalam bimbingan sosial. Salah satu materi yang dikategorikan dalam bimbingan sosial adalah bimbingan kedisiplinan dan kesadaran hukum. $ateri yang disusun

27

mengarah pada pemahaman mengenai beberapa peraturan perundangan yangg rele<an dengan kehidupan perempuan, seperti : 00 PKD2%, 00 Perlindungan =nak. =kan tetapi 00 perka inan belum disampaikan, begitu pula dengan perundangan lainnya yang penting bagi perempuan. Di dalam bimbingan kedisplinan dan kesadaran hukum juga terdapat bahasan mengenai gender. Sebenarnya tema ini sangat penting dalam bimbingan sosial, namun tidak sesuai jika ditempatkan dalam materi mengenai kedisiplinan dan kesadaran hukum. Di dalam kegiatan bimbingan kedisiplinan lagi-lagi juga diisi dengan kegiatan baris berbaris yang tidak jelas rele<ansinya dengan tujuan bimbingan. >imbingan ketrampilan kerja dilaksanakan dengan ) jenis ketrampilan, yaitu menjahit, olahan pangan dan tata rias. Sejak PSKW berdiri hingga sekarang, pelatihan di#okuskan pada ) jenis ketrampilan tersebut yang menjadi andalan. >elum ada pengembangan jenis ketrampilan lain sesuai dengan dinamika perkembangan potensi pasar yang prospekti#. Pada saat a al dimulainya program rehabilitasi anita tuna susila, ketiga jenis ketrampilan tersebut dipilih karena dianggap lebih sesuai dengan perempuan. 1ni menunjukkan adanya bias gender karena mengamini !ender stereotype dan memasukkannya dalam praktek implementasi kebijakan dan program. PSKW juga belum menyelenggarakan bimbingan ketrampilan secara berjenjang, mulai dari tingkat dasar, menengah hingga mahir. PSKW selalu mengambil posisi pada pelatihan tingkat dasar padahal pasar menuntut kompetensi pada jenjang mahir. Warga binaan yang menerima man#aat dari bimbingan ketrampilan juga sangat menginginkan pelatihan lanjutan. :<aluasi atas perkembangan yang telah dicapai dilakukan oleh masing-masing instruktur ketrampilan. Sedangkan e<aluasi terhadap perkembangan bimbingan mental sosial belum dilakukan secara terstruktur, karena belum dirumuskan instrumen e<aluasi yang baku dan standar. >elum semua pekerja sosial

28

mendokumentasikan secara tertulis e<aluasi berkala atas perkembangan psiko sosial klien. Pada prinsipnya e<aluasi diikuti dengan kegiatan pembahasan kasus, untuk memecahkan permasalahan yang telah diiidenti#ikasi. .amun pembahasan kasus hanya diarahkan pada saat akan menetapkan jurusan ketrampilan dipecahkan dengan melibatkan para pro#esional. %ahap selanjutnya adalah 2esosialisasi, yang ditujukan untuk mengembalikan klien pada kehidupan keluarga dan masyarakat. %erdapat beberapa kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap resosialisasi, yaitu :
a. >imbingan kesiapan dan peran serta masyarakat b. $agang di tempat kerja sesuai ketrampilannya c. Dititipkan di dunia usaha d. Serti#ikasi

dan ketika

menjelang P>K. =kibatnya permasalahan psiko sosial sering tidak dikenali dan

Kegiatan bimbingan kesiapan dan peran serta masyarakat dilaksanakan melalui home <isit dengan keluarga, melakukan bimbingan dengan orang tua dan memberi moti<asi agar para orang tua dan keluarga agar memberi dukungan kepada anak atau keluarganya yang segera akan selesai mengikuti program rehabilitasi sosial. >imbingan ini seharusnya juga dilaksanakan terhadap masyarakat sekitarnya. .amun, Para pekerja sosial dan petugas PSKW baru menjangkau aparat desa atau kepala dusun setempat. >imbingan sosial kesiapan masyarakat dimaksudkan untuk membangun konteks masyarakat yang tidak diskriminati# terhadap eks arga binaan PSKW. $asyarakat diharapkan menerima penuh kehadiran mereka menyatu kembali dalam kehidupan sosial yang ajar. >imbingan ketrampilan di PSKW dilengkapi dengan kegiatan Praktek >elajar Kerja -P>K, atau magang. Kegiatan ini dilaksanakan selama (/ hari di sejumlah pengusaha Aahit, olahan pangan dan tata rias. .amun kegiatan ini lebih banyak

29

bermitra dengan pengusaha 0K$ dan belum menjangkau perusahaan-perusahaan besar yang bergerak pada bidang usaha tersebut. Selain itu aktu P>K juga sangat pendek dan dirasakan belum mampu mengasah kemampuan selesai mengikuti P>K arga binaan. Salah satu terobosan yang sudah dikembangkan PSKW adalah uji kompetensi. Setelah arga binaan sosial yang memenuhi syarat akan diuji kompetensinya untuk mendapatkan serti#ikat. ?embaga Pendidikan Kejuruan -?PK, bertindak sebagai pelaksana dan ber enang menerbitkan serti#ikat. Setiap tahun program serti#ikasi baru diikuti kurang lebih (/ orang arga binaan, padahal uji kompetensi ini penting untuk melegitimasi kemampuan yang telah mereka kuasai. Di dalam SP$ ditetapkan bah a kegiatanCkegiatan dalam tahap >imbingan Kesiapan dan peran serta masyarakat dilaksanakan oleh pekerja sosial. Kegiatan ini berlangsung '-) bulan. PSKW telah memenuhi standar ini, meskipun masih lemah dalam aspek =dministrasi dan materi pendukung. ?aporan proses penanganan dan perkembangan klien maupun situasi keluarga dan masyarakat calon penerima belum disusun secara lengkap. Pekerja sosial maupun sta# PSKW telah melakukan monitoring, home <isit, namun tidak diikuti dengan pembuatan laporan secara tertulis. =kibatnya catatan perkembangan klien tidak lengkap, padahal ini sangat penting ketika nantinya akan melakukan terminasi. %ahap selanjutnya dalam proses rehabilitasi adalah Penyaluran yang menurut SP$ dapat dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut :
a. Penyaluran ke lapangan kerja b. >antuan stimulan usaha ekonomis produkti# -0:P, c. Pengembalian ke keluarga d. 2ujuk dengan suami4dinikahkan

arga binaan

PSKW telah melaksanakan kegiatan penyaluran membangun usaha mandiri. Seluruh

arga binaan, sebagian

menjadi karya an atau bekerja pada usaha orang lain dan sebagiannya lagi arga binaan yang telah selesai mengikuti

30

program rehabilitasi sosial diberikan bantuan stimulan usaha produkti# dan dikembalikan kepada keluarganya. Sedangkan penyaluran dengan pernikahan atau rujuk dengan suami menjadi kasus yang jarang ditemui. .amun menurut penjelasan pekerja sosial, ada juga klien dari %rauma 3enter karena kasus KD2% yang akhirnya rujuk dengan suami. Pada a al-a al berdirinya PSKW juga ada beberapa klien yang dipertemukan jodohnya oleh Panti dan dinikahkan. Sebenarnya standar terakhir yang berada dalam SP$ ini mengandung bias gender pula karena rujuk atau menikah diidealisasikan sebagai sebuah bentuk solusi, padahal belum tentu itu menjadi alternati# terbaik bagi perempuan. >imbingan ?anjut merupakan kegiatan yang dilakukan setelah klien kembali ke dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. bimbingan lanjut dilakukan dengan memantau dan memoti<asi perkembangan eks klien serta melakukan super<isi. PSKW setiap tahun telah mengalokasikan anggaran dan menugaskan Pekerja sosial dan sta# nya untuk melakukan bimbingan lanjut. .amun demikian <olume kegiatan ini sangat kecil dibandingkan dengan jumlah eks arga binaan. arga =kibatnya bimbingan lanjut hanya menjangkau sebagian kecil dari eks

binaan. >imbingan lanjut harusnya dilakukan setiap ( bulan sekali, namun hal ini sulit dicapai karena keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia. Super<isi harusnya diberikan oleh super<isor dari intansi terkait dan pro#esi yang lain. Super<isi lebih diarahkan untuk mendukung pengembangan usaha, sehingga di dalam super<isi ada trans#er pengetahuan teknis mengani bagaimana mengembangkan usaha jahit, olahan pangan dan tata rias. Super<isi inilah yang belum dilaksanakan oleh PSKW Sidoarum, padahal ini menjadi kebutuhan nyata arga binaan yang tengah membangun usaha mandiri, untuk mencari solusi atas beberapa masalah yang dihadapi usaha ekonominya. Kegiatan bimbingan lanjut juga belum dibarengi dengan penyediaan administrasi dan materi pendukung yang memadai. $eskipun #ormulir bimbingan lanjut sudah tersedia namun ?aporan bimbingan lanjut belum disusun oleh semua pekerja sosial atau sta# PSKW yang melaksanakan kegiatan tersebut.

31

%ahap selanjutnya dalam proses rehabilitasi sosial adalah :<aluasi. Standar Pelayanan $inimal mensyaratkan e<aluasi dilakukan dengan dua tahap, yaitu e<aluasi pada setiap tahapan proses dan e<aluasi akhir dengan 5rekuensi dan jangka aktu * kali dalam ' tahun. Sampai saat ini PSKW menyelenggarakan e<aluasi menjelang selesainya bimbingan, sedangkan e<aluasi untuk setiap tahapan belum dilakukan. Hal ini juga disebabkan kurang didukung adanya administrasi dan materi pendukung seperti #ormulir e<aluasi dan instrumen e<aluasi lainnya. Pekerja sosial juga belum semuanya menyusun laporan akhir atas kegiatan e<aluasi yang telah dilakukannya. %ahap terakhir dalam proses pelayanan dan rehabilitasi sosial adalah terminasi atau pengakhiran pelayanan. PSKW telah melaksanakan kegiatan terminasi, dimana masing-masing pekerja sosial sudah mempersiapkan #ormulir pengembalian klien atau surat pemberitahuan pengakhiran pelayanan. Dari serangkaian kegiatan yang termasuk dalam kategori indikator proses, PSKW telah melaksanakannya setiap tahapan, meskipun dalam beberapa komponen belum dilakukan secara maksimal. Pada tahap pendekatan a al, sosialisasi kurang memberi perhatian pada ilayah yang menjadi lokasi praktek komodi#ikasi seksual yang akibatnya semakin menjauhkan PSKW dari mandat utamanya yang sudah ditetapkan melalui Peraturabn "ubernur. =sesmen juga baru dilakukan dalam bentuk asesmen a al untuk kepentingan penempatan belum asesmen yang menggali permasalahan dan potensi atau kekuatan klien. Pada kegiatan bimbingan mental sosial juga sangat kurang dengan pendekatan indi<idual karena lebih sering menggunakan pendekatan klasikal berupa pembelajaran di dalam kelas. Sedangkan dalam bimbingan ketrampilan masih tersandera oleh ) jenis ketrampilan dan pada le<el dasar4pemula. Kegiatan P>K juga masih dilaksanakan terlalu singkat -(/, hari dan belum memberi man#aat maksimal bagi teknis bagi eks arga binaan. Salah satu pengembangan kegiatan yang sudah baik arga binaan yang mengelola usaha mandiri yang menjadi adalah uji kompetensi dalam rangka serti#ikasi. Super<isi dan pendampingan

32

kebutuhan penting juga belum diakomodasi dalam skema bimbingan lanjut. Aadi meskipun secara prosedural proses rehabilitasi di PSKW telah sesuai dengan ketentuan dalam SP$, namun itulah pimpinan dan para pelaksana program. (. In8i"at3r Output 1ndikator output atau keluaran menunjukkan sejauh mana program pelayanan dan rehabilitasi sosial dapat menjangkau kelompok sasaran yang dalam hal ini adalah anita ra an sosial psikologis dan tuna susila. Seperti yang telah disampaikan pada bagian terdahulu, PSKW selama ini lebih banyak menjangkau anita ra an sosial psikologis dari pada tuna susila baik yang masih akti# atau eks anita tuna susila. %idak mudah menjangkau anita tuna susila dan memoti<asinya untuk mengikuti program rehabilitasi yang syaratnya adalah tinggal di dalam panti. Sementara hasil raFia aparat keamanan tidak lagi dirujuk ke PSKW tetapi diselesaikan dengan %1P121.". 1nilah agenda mendasar yang harus segera diselesaikan. Aika PSKW ingin kembali ada mandate utamanya maka sasaran jangkauan tetap menyertakan tuna susila. Karena mandate inilah yang membedakannya dengan panti yang lain dan menjadi alasan kenapa harus ada PSKW. =pabila persoalannya adalah pada model rehabilitasi yang berbasis panti yang banyak ditolak oleh para W%S maka PSKW perlu mengembangkan pendekatan lain, misalnya melalui pendekatan luar panti. dan jika pendekatan inipun akan sama dengan program yang dilaksanakan oleh Seksi 2ehabilitasi %una Sosial, maka Kepala Dinas Sosial membuat kebijakan yang mengatur koodinasi dan sinergi antara kedua unit kerja tersebut. Aumlah arga binaan sosial yang terjangkau program pelayanan dan beberapa catatan penting dari e<aluasi terhadap seluruh rangkaian kegiatan yang masih harus mendapat perhatian dari

rehabilitasi sosial +/ orang setiap tahun. .amun PSKW menerapkan sistem terbuka, sehingga klien tidak harus selama ' tahun mengikuti rehabilitasi di dalam panti. =pabila sudah dinilai mampu dan siap untuk mandiri maka setelah

33

menjalani uji kompetensi sudah dapat kembali kepada keluarganya. Aumlah tahun. Aumlah klien

arga

binaan sosial yang telah lulus dalam bimbingan mental sosial +/ orang setiap arga binaan sosial yang mengikuti praktek belajar kerja atau arga binaan sosial yang lulus dalam magang di atas 7+ E. .amun Aumlah klien

uji kompetensi ketrampilan kerja masih di ba ah +/ E. Dahulu PSKW pernah mengembangkan usaha mandiri secara berkelompok, namun pada saat ini basis usaha ekonomi dilaksanakan secara perorangan. *. In8i"at3r Man9aat 1ndikator man#aat menunjuk pada sejauhmana keluaran dapat berpengaruh positi# atau ber#ungsi bagi arga binaan sosial, keluarga maupun lingkungan sosial. Di dalam SP$ juga sudah dirumuskan indikator man#aat dari program pelayanan dan rehabilitasi sosial, yaitu arga binaan sosial &
a. mempunyai kepercayaan diri b. mampu berkomunikasi e#ekti# c.

mampu menghadapi situasi kritis

d. mampu menjalin relasi sosial yang baik dengan lingkungan sosialnya. e. mampu melaksanakan peranan sosialnya #. mempunyai ketrampilan kerja dan memudahkan dalam mencari pekerjaan yang

layak atau memungkinkan untuk mengelola usaha mandiri. Dalam melakukan e<aluasi terhadap keman#aatan program pelayanan dan rehabilitasi sosial, %im Kajian telah melakukan analisis terhadap '/( hasil a ancara dengan a ancara arga binaan serta melalui dokumentasi proses 5"D maupun =da dua bagian analisis, pertama man#aat mendalam.

bimbingan4pelatihan ketrampilan dalam meningkatkan kemandirian ekonomi eks arga binaan, dan kedua man#aatnya dalam membangun keberdayaan psiko sosialnya. /. Ke%an8irian E"3n3%i E"$ War2a 1inaan

34

Salah satu kegiatan dari Program Pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial di PSKW Sidoarum adalah Pelatihan Ketrampilan. Pelatihan ketrampilan dimaksudkan untuk memberikan bekal kompetensi yang diharapkan dapat memudahkan arga binaan untuk mendapatkan pekerjaan. =da ) jenis arga binaan sosial, yaitu $enjahit, ketrampilan yang diikuti oleh perempuan

@lahan Pangan dan %ata 2ias. Warga binaan sosial dapat mengikuti salah satu jenis ketrampilan berdasarkan bakat dan minat-nya yang diketahui melalui asesmen <okasional. >agian ini akan memaparkan hasil kajian tentang dampak dan man#aat program pelatihan ketrampilan dan bantuan usaha ekonomi bagi perempuan arga binaan PSKW dalam memperoleh pekerjaan dan mengembangkan usaha. Pada bagian a al akan menggambarkan sejauhmana man#aat kegiatan pelatihan ketrampilan sebagai skill yang dapat menguatkan kompetensi untuk masuk dan bersaing di pasar kerja. Selain itu juga menganalisis daya saing ketrampilan yang diikuti. %ingkat pendapatan yang arga binaan juga PSKW dengan melihat persentase yang memperoleh pekerjaan berdasarkan jenis diperoleh menggambarkan kondisi kemampuan ekonomi mereka dan mencerminkan situasi pekerjaan yang diperoleh pada saat ini. >agian selanjutnya akan memaparkan perkembangan usaha mandiri yang dikelola oleh eks arga binaan. Deskripsi meliputi jenis usaha mandiri yang dikelola, jumlah pendapatan yang diperoleh serta dinamika dan hambatan dalam mengembangkan usaha. Dari penjelasan mengenai perkembangan kondisi ekonomi, pembahasan akan diteruskan dengan menganalisis tingkat kemandirian eks arga binaan. >ahasan ini akan menja ab pertanyaan apakah pendapatan yang diterima cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri dan keluarganya bagi mereka yang sudah mempunyai keluarga, serta strategi apa yang digunakan untuk tetap menjaga kelangsungan hidupnya.

35

!. KESIMPULAN @ REKOMENDASI '. Kesimpulan Program Pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial yang dilaksanakan Panti Sosial Karya Wanita belum cukup mampu me ujudkan keberdayaan psiko sosial bagi perempuan penerima man#aat. $oti<asi diri penerima man#at masih rendah. 2endahnya moti<asi ini disebabkan karena kuatnya pengaruh dari pola pengasuhan orangtua, jenjang pendidikan yang kurang memadai sehingga mempengaruhi pola pikir mereka, 0sia klien dalam kategori remaja a al, daya juang rendah dan kurangnya pemantauan dari para pembimbing, instruktur, dan pendamping. Penerima man#aat juga belum memiliki persepsi dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. $asih banyak di antara mereka yang bersikap pasi# dan belum mampu mengambil keputusan termasuk memperhitungkan resiko dalam mengelola usaha ekonomi mereka. $asih banyak pula penerima man#aat yang belum mengenali potensi diri dan kekuatan-kekuatan yang mereka miliki. Kemampuan dalam berkomunikasi juga belum cukup baik. >aik dalam bahasa <erbal maupun non <erbal, banyak klien masih merasa malu dan canggung ketika berkomunikasi dengan orang lain, baik komunikasi personal maupun komunikasi publik. >anyak penerima man#aat juga masih belum mampu hidup secara mandiri. bahkan masih banyak yang hidupnya tergantung dengan orang tua. >agi klien yang telah berkeluarga, juga masih berada pada posisi subordinat terhadap suaminya. >anyak penerima man#aat yang terpaksa harus berhenti bekerja atau mengelola usaha karena harus menjalankan tugas-tugas domestiknya. Kemandirian dalam berusaha tidak serta merta diikuti dengan kemandirian dalam menjalani hidup. >erbagai keputusan penting masih sangat ditentukan oleh orang-orang terdekat di sekitar mereka. Pengambilan keputusan dalam mengelola usaha juga banyak ditentukan oleh orang tua atau pasangan hidupnya.

36

Kemampuan dalam menganalisis masalah, membuat alternati# pemecahan masalah dan mengambil keputusan masih belum dimiliki klien. Penerima man#aat juga belum cukup mempunyai copin! )echanis) yang memadai. =sesment yang dilakukan %im PSKW belum mengidenti#ikasi masalah psiko sosial yang dihadapi klien sehingga banyak problem yang belum diselesaikan. Selama proses bimbingan dan pendampingan penerima man#aat juga juga belum banyak dilatih bagaiamana menghandle problem psiko sosial. Konsep diri yang belum terbangun dengan baik, rendahnya moti<asi dan kepercayaan diri, keterbatasan kemampuan dalam pengambilan keputusan dan mekanisme koping merupakan aspek yang saling berkait yang menyebabkan penerima manaat belum sepenuhnya dapat hidup mandiri. Posisi sosial para penerima man#aat dalam masyarakat juga belum nampak terjadi perubahan. $ereka masih belum mampu menujukkan peran yang nyata dan dominan dalam masyarakat. klien yang bekerja atau mengelola usaha jarang berkomunikasi, berinteraksi dan berpartisipasi dalam akti<itas sosial masyarakat. apalagi klien yang sudah berkeluarga, sangat jarang yang melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat. Seluruh perhatiannya ter#okus untuk menyelesaikan tugastugas domestiknya. Salah satu temuan positip dari kajian ini adalah pada aspek bimbingan atau pelatihan ketrampilan. Pelatihan ketrampilan cukup mampu menjadi bekal bagi penerima man#aat untuk mendapatkan penghasilan. Sebagian penerima man#aat memperoleh pekerjaan, baik bekerja pada orang lain maupun mengelola usaha mandiri. %emuan pada aspek ekonomi ini juga menunjukkan bah a mengelola usaha mandiri lebih prospekti# dibandingkan dengan dengan bekerja pada orang lain. Pada tahap memulai usaha memang banyak ditemukan kesulitan dan hambatan. .amun secara bertahap penerima man#aat dapat mengembangkan

37

usahanya. Pendapatan yang diterima dari mengelola usaha mandiri lebih besar dari pada bekerja pada orang lain. Hal ini disebabkan karena penerima man#aat yang menjadi karya an bekerja pada perusahaan kecil sebagai pekerja upahan, jarang yang menjadi karya an tetap. Sedangkan mereka yang mengelola usaha mandiri dapat mengembangkan beberapa jenis usaha sehingga pendapatan juga lebih tinggi. Di antara jenis usaha olahan pangan, menjahit dan salon, yang paling prospekti# adalah bidang usaha salon. 0saha ini bertumpu pada seberapa baik kualitas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan, sedangkan bahan dan alat dapat digunakan secara lebih e#isien. 1ni berbeda dengan usaha olahan pangan yang dibatasi oleh aktu kadalu arsa, apalagi usaha makanan basah. 0saha penjahitan menghadapi kompetisi yang sangat keras dari usaha pakaian jadi. Pakaian jadi dapat dibeli dengan harga yang sangat murah, dan konsumen tidak perlu harus menunggu untuk menggenakan pakaian yang diinginkan. @leh karenanya usaha penjahitan harus benar-benar mampu membidik pelanggan dan menentukan spesi#ikasi jenis jasa penjahitan. %emuan lain dari kajian ini juga menunjukkan bah a tingkat kemandirian ekonomi penerima man#aat yang mengelola usaha mandiri juga lebih besar dibanding dengan mereka yang bekerja pada orang lain. $ayoritas pengelola usaha mandiri menyatakan pendapatan yang diterima dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan mayoritas yang bekerja pada orang lain menyatakan masih didukung oleh orang tua dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hambatan dan kesulitan dalam mengelola usaha mandiri yang segmen

diidenti#ikasi adalah lokasi tempat usaha yang tidak strategis. $ayoritas penerima man#aat menggunakan rumah orang tua sebagai tempat usaha. 1ni sangat tidak mendukung pemasaran hasil produksi mereka. Sejumlah penerima man#aat yang mengelola usaha tata rias atau salon menye a tempat usaha pada

38

lokasi yang cukup strategis, dan ini terbukti sangat mendukung keberhasilan usaha mereka. .amun bagi penerima man#aat yang menekuni usaha penjahitan dan olahan pangan di rumah, sangat merasa kesulitan untuk mencari pasar, apalagi mengembangkan usaha. Hambatan lain yang dihadapi adalah peralatan yang belum lengkap dan ketrampilan yang belum memadai. >antuan peralatan dan bahan yang diberikan PSKW adalah sarana dasar yang bisa digunakan untuk memulai usaha. .amun dalam perkembangannya masih dibutuhkan alat-alat khusus yang mampu mendukung perkembangan usaha. =palagi perubahan, mode selera konsumen juga sangat pesat sehingga ini perlu disesuaikan dengan penyediaan alat-alat yang dibutuhkan. Para pengelola usaha juga seringkali belum cukup peraya diri untuk menerima order yang membutuhkan ketrampilan khusus. Hal ini disebabkan karena mereka merasa ketrampilan yang dikusasi baru tingkat dasar sehingga merasa kurang mampu untuk mengerjakan order yang lebih rumit, baik itu untuk produk olahan pangan, model jahitan maupun model tata rias4rambut. Hambatan lain dalam pengelolaan usaha yang diidenti#ikasi adalah tugastugas domestik dalam keluarga. >anyak penerima man#aat yang menghentikan usahanya karena harus mengasuh dan mera at anak. Hal ini menegaskan masih adanya kesenjangan gender dalam keluarga yang menghambat pencapaian peran produkti# perempuan.

(. 2:K@$:.D=S1 Dari pemaparan hasil e<aluasi diatas baik terkait aspek administrasi ataupun dampak ekonomis dan psiko sosial yang dialami oleh penerima bantuan, tim kajian ini mengajukan beberapa rekomendasi. 2ekomendasi ini berupa langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh PSKW untuk lebih menjamin e#ekti#itas

39

layanan atau lebih tepatnya meningkatkan dampak positi# serta tingkat keberhasilan program-program PSKW dalam pemberdayaan dan keber#ungsian sosial klien. a. A$$e$%ent Data di lapangan menunjukkan bah a in#ormasi terkait latar belakang klien tidak cukup tersedia. =ssement terhadap klien misalnya, hanya dilakukan secara sangat singkat dalam #ormulir penerimaan klien di a al kegiatan. ?aporan lebih detail masih menjadi GkoleksiH pribadi pekerja sosial yang menangani klien dan tidak selalu di dokumentasikan dalam #ile klien. Padahal assement dan e<aluasi perkembangan klien seharusnya menjadi akti<itas berkelanjutan yang dilakukan pada setiap tahapan program sehingga bisa diketahui perkembangan yang dicapai klien dan juga bisa di identi#ikasi kebutuhan atau agenda yang perlu disusun. Secara lebih spesi#ik assessment yang ada juga masih sangat ter#okus pada indi<idu klien dan belum menyentuh lingkungan sosial klien yang lebih luas: misalnya keluarga dan lingkungan terdekat. Hal ini berimplikasi pada tidak terdeteksinya permasalahan-permasalahan yang penting yang dimiliki klien. >eberapa kasus menunjukan bah a problem sosial seperti relasi dengan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lain yang dimiliki sebelum mengikuti program tidak teridenti#ikasi pada asssement dan karenanya tidak ada langkah inter<ensi yang dilakukan. 1ni berakibat kembalinya klien kembali ke rumah paska program dalam lingkungan yang tidak kondusi# untuk menindaklanjuti akti<itas pemberdayaan yang harus dilakukan. Hal ini menunjukan bah a proses assessment perlu dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan serta menggunakan prespekti# H>S: - %u)an behavior and Social 0nviron)ent, yang menjadi core intervensi peksos. Dengan assemsent yang mendalam dan mencakup lingkungan yang lebih luas

40

maka diharapkan in#ormasi yang didapatkan tentang klien lebih lengkap dan terbangunnya rencana inter<ensi yang lebih e#ekti# dan menjamin keberhasilan. 3ase con#erence dijadikan sebagai salah satu standar operasional dan prosedur pelayanan, sehingga tidak seorang pun klien yang tidak diketahui masalahnya dan dipecahkan secara komprehensi# dengan melibatkan pandangan dari multi didiplin dan multipro#esi. b. Perlua$an ,arin2an 8an Si$te% Ru5u"an Penekanan yang terlampau kuat pada pendekatan indi<idu Csebagaimana yang telah dipaparkan di atas-- juga tere#leksikan pada mekanisme yang dibangun PSKW dalam program ketrampilan dan pemberdayaan ekonomi. PSKW masih ter#okus pada pemberian ketrampilan kepada klien, tanpa kemudian dibarengi dengan dukungan dan layanan lanjutan yang signi#ikan bagi pengembangan usaha mandiri atau pengembangan karir yang dilakukan klien. Hampir semua klien misalnya mengakui bah a hambatan bagi pengembangan usaha yang mereka adalah terbatasnya modal serta jaringan pemasaran. Klien belum memiliki keberanian dan kemampuan untuk meningkatkan modal di luar keluarga dan teman. $ereka juga belum memiliki kemampuan untuk mengakses skope pemasaran yang luas, dan hanya terbatas pada lingkup yang sangat kecil seperti tetangga dan teman dan le<el usaha yang sangat rendah. Dengan demikian pemberdayaan ekonomi, yang juga berimbas kepada pemberdayaan psikososial, akan lebih e#ekti# jika bimbingan lanjutan -binjut, yang diberikan PSKW bisa membangun jaringan dan membangun rujukan kepada :

'; Le%ba2a !inan$ial= Pen#e8ia Kre8it PSKW hendaknya bisa membantu klien untuk mengakses modal4 kredit dari lembaga #inancial : i.e. >ank pemerintah atau s asta, lembaga

41

pemberi kredit ataupun lembaga #inancial lainnya. $engingat kebanyakan klien tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan pinjaman dari bank - misalnya karena tidak memiliki jaminan,, maka jaringan dan kerjasama PSKW perlu membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga modal tersebut sehingga akses menjadi lebih mudah. (; Pr32ra%:pr32ra% S3$ial 8an Pe%ber8a#aan S3$ial E"3n3%i. PSKW juga bisa membangun sistem rujukan dengan dinas layanan sosial lainnya sehingga klien PSKW secara otomatis juga menjadi peserta program perlindungan dan jaminan sosial lainnya seperti jaminan kesehatan, kelompok usaha ekonomi, program keluarga harapan , pengentasan kemiskinan dan lainnya. Klien juga bisa di rujuk kepada program pemberdayaan yang dita arkan lembaga-lembaga non pro#it seperti program 3S2, Dompet Dua#a, 2umah Iakat dan sebagainya. 4. Me%bentu" A$3$iai 8an ,arin2an Alu%ni =spek lain yang bisa dibangun oleh PSKW adalah men#asilitasi para lulusan program untuk membentuk asosiasi sehingga program bimbingan lannjut bisa dilakukan dengan lebih terarah dan e#ekti#. pengembangan usaha mandiri. =sosiasi atau jaringan alumni adalah bentuk pengorganisasian =danya asosiasi lulusan juga sangat berman#aat bagi penguatan dukungan psiko sosial serta

perempuan. Dari aspek psikososial adanya asosiasi lulusan bisa menjadi support group "sel(1help1!roup# yang sangat berman#aat. Klien bisa tetap menjalin bahkan mengembangkan persahabatan dengan sesama lulusan dan menjadikan sebagai satu resource sosial dan support system yang sangat penting dalam menghadapi masalah dan. =sosiasi alumni juga sangat potensial untuk pengembangan jaringan dalam rangka pengembangan usaha di kalangan

42

mereka. $isalkan saja lulusan yang membangun usaha salon pengantin bisa bekerja sama dengan mereka yang memiliki usaha penjahit untuk membuat baju dan seragam pengantin yang bisa dise akan pemilik salon. Aika langkahlangkah ini bisa dilakukan maka asosiasi alumni akan terbentuk menjadi sel#help group yang sangat penting bagi pemberdayaan sosial meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan mengatasi masalah, pengembangan jaringan dan akses terhadap sumberdaya dan modal =sosiasi alumni tidak perlu dikha atirkan akan menegaskan kembali stigma masyarakat terhadap arga binaan PSKW. Austru aosisiasi ini akan menjadi organisasi yang solid yang nantinya akan mampu melakukan ad<okasi dan mempunyai kekuatan untuk mendesakan terjadinya perubahan, khususnya dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan serta meningkatnya akses layanan bagi kaum perempuan. 8. Re:E<alua$i Man8at PSKW Perlu adanya perumusan ulang tentang tugas dan mandat pokok PSKW yang bisa digambarkan pada pertanyaan sederhana namun mendasar: mau di kemanakan PSKW ke depanJ dilakukan : ', PSKW harus melakukan pengembangan langkah-langkah penjangkauan -outreach, untuk menarik tuna susila kembali menjadi target utama pelayanan. 1ni bisa dilakukan misalnya dengan kerjama yang erat dengan dinas ketertiban 4 satpol PP. (, PSKW perlu beralih dari pola dan perspekti# pelayanan yang sangat indi<idual: sangat ter#okus pada klien, dengan menyentuk aspek yang lebih struktural. 1ni bisa di ujudkan misalnya dengan membangun jaringan 4 net orking sekaligus menciptakan sistem rujukan -re#erral system, dengan berbagai lembaga layanan ataupun stake holder terkait, misalnya satpol PP, Secara garis besar ada dua hal yang bisa

43

dinas Cdinas terkait pada

ilayah propinsi maupun kabupaten kota, bank,

uni<ersitas dan sebagainya. Secara lebih mendetail pihak-pihak terkait akan di jelaskan lebih lanjut pada bagian selanjutnya.

DA!TAR PUSTAKA

=stuti, $. -(/'/,. Penelitian Tentan! Rehabilitasi Sosial di PSB&' Aakarta: P)KS Press. Departemen Sosial 21, -(//7,. Pedo)an Penyelen!!araan Panti Sosial Karya *anita "PSK*#, Direktorat Pelayanan dan 2ehabilitasi Sosial %una Susila. ?ambert, $. D. -(//',. +linical Social *ork Beyond &eneralist Practice ,ith -ndividuals, "roups and 5amilies. ?ondon: >rook43ole. -:-book diakses pada * Aanuari (/'*, Shea#or, S. -(//),. -ntroduction to Social *ork Practice' .e book diakses pada B Aanuari (/'*, !ork: $ac $illan. -:-

Woodside, $. D. -(//),. &eneralist +ase Mana!e)ent. A Method o( %u)anService /elivery' Paci#ic "roo<e 3=: >rooks 3ole. -:-book diakses pada B Aanuari (/'*, Departemen Sosial 21 -(//*,, Pedo)an Penyelen!!araan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Tuna Susila'

44

Departemen Sosial 21 -(//7,, Standard Pelayanan Mini)al Pelayanan dan rehabilitasi Sosial Tuna Susila' Kementerian Sosial 21 -(/'/,, Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Berbasiskan Masyarakat "RBM#'