Anda di halaman 1dari 142

PENGENTASAN KELUARGA MISKIN MELALUI USEP KM (Studi pada Kelompok USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta)

Oleh : Humairoh NIM: 1120010025

TESIS

Diajukan kepada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Magister Ilmu Sains

YOGYAKARTA 2013

ffi rfio

PROGRAM PASCASARJANA KEMENTERIAN AGAMA RI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

PENGESAHAN

Tesis berjudul

PENGENTESAN KELUARGA MISKIN MELALUI USEP KM (Studi pada Kelompok USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo Yogyakarta)

Nama

Humairoh, S.Sos.
I 12001002s

NIM
Prodi
Konsentrasi Tanggal Ujian

Interdisciplinary Islamic Studie s


Pekerjaan Sosial
I

Februari 2013

telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magisterllmu Sains

ffim
Z. Yfi{J /*
fi.hoiruddin, M.A.f
008 199103

I 002

t,

PERI\IYATAAN KTASLIAN

Yang berandatangan di bawah ini

Nama

Humairoh S. Sos.
1r20010025

NIM
Jenjang Program Studi Konsentrasi

Magister (S2) Interdisciplinary Islamic Studies


Pekerjaan Sosial

menyatakan bahwa

naskah tesis

ini secam kesplurutran adalatr hasil

penelitian/karya saya sendm, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk


urnbernya.

Yogyakarta 20 Februari 2013


Saya yang menyatakan,

S. Sos"

: 1120010025

PERSETUJUAI\ TIM PENGUJI UJIAN TESIS

Tesis berjudul

PENGENTESAN KELUARGA MISKIN MELALUI USEP KM (Studi pada Kelompok USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan
Tegalrejo Yogyakarta)

Nama

Humairoh, S.Sos.
1

NIM
Prodi Konsentrasi

120010025

Int erdis c ipl inary Pekerjaan Sosial

Is I amic St udi e s

telah disetujui tim penguji ujian munaqosah

Ketua Sekretaris Pembimbing/Penguji Penguji

Ro'fah, BSW., M.A., Ph.D. Dr. Nurul Hak, M.Hum.


Drs. Lathiful Khuluq, MA., BSW., Ph.D. (

Dr. Sriharini, M.Si.

diuji di Yogyakarta pada tanggal 1l Pebruari2013


Waktu HasilA.lilai
Predikat

14.30 s.d. 15.30 WIB

:901A
: Sangat Memuaskan

IV

NOTA DINAS PEMBIMBING

Kepada Yth. Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kahjaga Yogyakarta


As s alamu' al aikum

wr.

w b.

Setelah melakukan bimbingaru arahan, dan koreksi terhadap penulisan


tesis yang berjudul
:

PENGENTASAI\ KELUARGA IVTISKIN MELALUI USEP KM (Studi pada Kelompok USEP KM Sejehtera YIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta)
yang ditulis oleh Nama
:

Humairoh S. Sos. l 120010025


M4gister (S2)

NIM
Jenjang

Prograp Studi
Konsentrasi

Interdisciplinary Islamic Studies


Pekerjaan Sosial

saya berpendapat bahwa tesis tersebut sudah dapat diajukan kepada Program
Pascasarjana

UIN Sunan Kalijaga untuk diujikan dalam rangka memperoleh gelar

Magister Ilmu Sains.


Wassalamu'

alaikun wr.

wb.

Yogyakarta 20 Februari 2013

Drs. Latiful Khuluq, MA., BSW., Ph. D.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap pengentasan keluarga miskin melalui USEP KM studi pada kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah, Pendamping Kelompok, Pengurus Kelompok, dan Anggota Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo. Dalam proses pengumpulan data, penyusun langsung terjun ke lapangan guna memperoleh data yang diinginkan. Berdasarkan temuan yang dapat di lapangan, maka disimpulkan bahwa Upaya pengentasan keluarga miskin melalui program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta telah berjalan baik. Faktor yang mempengaruhi keluarga miskin mengikuti program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta antara lain: informasi dari Pendamping Kelompok USEP KM, adanya dana pinjaman melalui USEP KM dengan bunga yang rendah. Dampak program USEP KM terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga miskin, antara lain: dampak secara ekonomi, 1) Berpengaruh terhadap budaya menabung. 2) Meningkatkan kesejahteraan anggota USEP KM dan keluarganya. 3) Dapat menyelesaikan permasalahan perekonomian di lingkungan kelompok USEP KM. Sedangkan dampak secara sosial yakni, 1) Terciptanya suasana kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota USEP KM. 2) Meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial yang ada di lingkungan sekitar. 3) Meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial yang ada di lingkungan sekitar. 4) Semakin berkembangnya kerjasama antar anggota USEP KM. Sedangkan yang menjadi hambatan dan kendala dalam pelaksanaan antara lain: adanya anggota yang tidak aktif lagi dalam pertemuan rutin kelompok, adanya anggota yang tidak rutin dalam membayar cicilan pinjaman, dan adanya dana pinjaman yang digunakan untuk konsumtif di beberapa kasus dan tidak digunakan sebagai tambahan modal usaha. Untuk kemajuan lebih lanjut disarankan anggota kelompok agar lebih meningkatkan kebersamaan, bagi pendamping dan pengurus kelompok agar lebih meningkatkan monitoring terhadap anggota kelompok secara personal kepada setiap anggota kelompok, dan Bagi DINSOS DIY khususnya Seksi Keluarga Bermasalah Sosial sebagai fasilitator program USEP KM agar lebih mensosialisasikan program USEP KM ke semua lapisan masyarakat, baik itu tujuan maupun manfaatnya serta meningkatkan pengawasan terhadap kelompok binaannya serta adanya suatu pemberdayaan usaha yang inovatif dan kreatif agar kelompok USEP KM punya ciri tersendiri. Kata kunci: pengentasan, keluarga miskin, usaha sosial ekonomis produktif (USEP KM)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat karuniaNya serta kasih sayangNya jualah penulis dapat menyelesaikan tesis ini yang berjudul PENGENTASAN KELUARGA MISKIN MELALUI USEP KM (Studi pada Kelompok USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta). Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda rasullulah Muhammad SAW. Sungguh, betapa nikmatnya Iman Islam. Penulis menyadari bahwa keberhasilan penulis untuk menyelesaikan tesis ini tidak terlepas bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itulah dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Prof. Dr. H. Musa Asyari, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2. Prof. Dr. H. Iskandar Zulkarnain selaku Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 3. Ibu Rofah, BSW., MA., Ph. D. dan Bapak Dr. Nurul Hak, M. Hum. Selaku ketua dan sekretaris Program Studi Interdisciplinary Islamic Studies, Serta Bapak Jatno atas bantuannya selama ini. 4. Bapak Drs. Latiful Khuluq, MA., BSW., Ph. D. selaku pembimbing yang dengan sabar memberikan arahan serta perhatian yang telah diberikan kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

vii

5. Bapak Edi Suharto, Ph. D., Bapak Adi Fahruddin, Ph. D., Bapak Dr. Almakin, Ph. D., Bapak Prof. Dr. H. Nasruddin Harahap, SU., Ibu Supartini, M. Si., Bapak Drs. Sulistyo, SH., CN., M.Si., Bapak M. Agus Nuryatno, MA., Ph.D., Ibu Dr. Sri Harini., Ibu Abidah Muflihati, M. Si., Bapak Dr. Phil. Sahiron, MA., Bapak Asep Jahidin, M. Si., serta dosendosen lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu, terima kasih tak terhingga atas semua ilmu pengetahuan, dan pembelajaran yang telah penulis dapatkan. 6. Penghargaan yang setinggi-tingginya penulis persembahkan untuk kedua orang tua (Mak dan Baba) untuk seluruh tumpahan kasih sayang yang tiada pernah henti dan menjadi sumber kekuatan bagi penulis, serta saudara-saudara ku atas dukungannya selama ini. Semoga selalu di dalam lindungan Allah, Amin. 7. Pemerintah Provinsi Sumatera Setalatan melalui Dinas Pendidikan atas bantuan beasiswa pendidikan. 8. Bapak Drs. Junaidi selaku kepala seksi, Bapak Ibnu Soleh, S. Ip., dan Ibu Muji Rahayu selaku Staff Seksi Keluarga Bermasalah Sosial Dinas Sosial Provinsi DIY atas kerjasama dan bantuan selama ini. 9. Bapak Bambang Endrowibowo, SIP., M. Si. Selaku Lurah Tegalrejo, Ibu Bibit Mulatinah dan Ibu Maimunah selaku Pendamping kelompok, Ibu Masrikah selaku ketua kelompok serta semua anggota Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo atas kerjasama dan bantuan selama ini.

viii

10. Bapak Suyadi Utomo, SE., Mbak Fitria, ST., yang selalu memberikan motivasi. Tika Nufitriani, S. Pd. serta teman-teman kelas lainnya yang rajin memberikan masukan melalui diskusi. Semoga dimanapun kalian berada bahwa Allah Melihat dan malaikat mencatat segala perjuangan dan pengorbanan kita. 11. Taufiq Kurniawan, SIP. yang selalu memberikan motivasi, bantuan serta perhatian dalam menyelesaikan tesis ini. 12. Serta berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu dalam penyelesaian dan penulisan tesis ini. Ketidaksempurnaan seorang manusia menjadi titik kesadaran diri bagi penulis akan kekurangan yang ada dalam tesis ini. Oleh karena itu penulis berharap kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan tesis ini. Harapan penulis pula semoga tesis ini dapat memberikan banyak manfaat. Yogyakarta, 20 Februari 2013 Penyusun,

Humairoh, S. Sos.

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . PERNYATAAN KEASLIAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

i ii

NOTA DINAS PEMBIMBING . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii ABSTRAK . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iv KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . v viii

DAFTAR TABEL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ix DAFTAR DIAGRAM . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................... C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................ 9 9 x

D. Kajian Pustaka .......................................................................... 10 E. Kerangka Teori ......................................................................... F. Metode Penelitian ..................................................................... G. Sistematika Pembahasan ........................................................... BAB II GAMBARAN UMUM KELURAHAN TEGALREJO 15 45 52

YOGYAKARTA
A. Keadaan Geografis ........................................................................

54

B. Keadaan Demografis ...................................................................... 55 C. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ............................................. 61 D. Keadaan Sarana dan Prasarana ...................................................... E. Keadaan Penduduk Miskin ............................................................ BAB III: PENGENTASAN KELUARGA MISKIN MELALUI USEP KM

67 69

A. Profil Kelompok USEP KM Sejahtera VIII ............................. B. Upaya Pengentasan Keluarga Miskin Melalui Program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta ................................. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keluarga Miskin

70

74

Mengikuti Program USEP KM Di Kelurahan Tegalrejo,

Yogyakarta ................................................................................ 83 D. Dampak Program USEP KM terhadap Peningkatan

Kesejahteraan Keluarga Miskin di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta ................................................................................ 88 E. Hambatan dan Kendala dalam Pelaksanaan Program USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta .........
BAB IV : PENUTUP A. Kesimpulan .................................................................................... 110 B. Saran .............................................................................................. DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................

105

111 113

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................ 117 DAFTAR LAMPIRAN

xi

DAFTAR TABEL Tabel 1 Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok USEP KM tahun 2006 2012, 40 Anggaran Penumbuhan Kelompok USEP KM Tahun 2006-2012, 41 Anggaran Pengembangan Kelompok USEP KM Tahun 20082012, 42 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin, 55 Jumlah Penduduk Pendidikan, 57 Menurut Usia Berdasarkan Kelompok

Tabel 2

Tabel 3

Tabel 4 Tabel 5

Tabel 6

Jumlah Penduduk Menurut Usia Berdasarkan Kelompok Tenaga Kerja, 58 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Berdasarkan Lulusan Pendidikan Umum, 59 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Berdasarkan Lulusan Pendidikan Khusus, 60 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian, 62 Pembangunan Bidang Industri, 63 Pembangunan Bidang Perdagangan, 64 Pembangunan Bidang Jasa, 65 Jumlah Penduduk menurut Agama/Penghayat, 66 Jumlah Penduduk yang Mengikuti Organisasi Sosial, 67 Jumlah Kepala Keluarga Penduduk Miskin/Keluarga Miskin, 69

Tabel 7

Tabel 8

Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15

xii

DAFTAR DIAGRAM

DIAGRAM 1

Struktur Pengurus USEP KM Sejahtera VIII, Tegalrejo Yogyakarta, 72

xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kemiskinan memiliki banyak dimensi.1 Permasalahan kemiskinan selalu menjadi topik perhatian, mengingat dampak yang ditimbulkannya dapat mempengaruhi terhadap aspek-aspek kehidupan, seperti

pengangguran, keterbelakangan bahkan ketidakberdayaan. Serangkaian peristiwa seperti bencana alam, terbatasnya kesempatan kerja dan pemutusan hubungan kerja (PHK) diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap bertambahnya jumlah penduduk miskin. Kemiskinan merupakan masalah pokok nasional yang

penanggulangannya harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. 2 Berdasarkan tingkat kerentanan kemiskinan, maka masalah kemiskinan dapat dibagi menjadi 2 yaitu, pertama, kemiskinan kronis (cronic poverty) yaitu kemiskinan yang telah berlangsung dalam jangka waktu lama, turun temurun, atau disebut juga sebagai kemiskinan struktural. Penyandang masalah kesejahteraan sosial
Edi Suharto, Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia : Menggagas Model Jaminan Sosial Universal Bidang Kesehatan (Bandung: Alfabeta, 2009) hlm. 8. Lihat juga Sunyoto Usman, Pembangunan dan Pemberdayaan Mayarakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 127-128. 2 Pembangunan kesejahteraan sosial yang dimaksud adalah usaha terencana dan terarah yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dan pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial, serta memperkuat institusi-institusi sosial. Ciri utama pembangunan kesejahteraan sosial adalah holistik-komprehensif dalam arti setiap pelayanan sosial yang diberikan senantiasa menempatkan penerima pelayanan (beneficiaries) sebagai manusia, baik dalam arti individu maupun kolektifitas, yang tidak terlepas dari sistem lingkungan sosiokulturalnya. Lihat, Edi Suharto, Analisis Kebijakan Sosial (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 35.
1

(PMKS) yang dikategorikan sebagai fakir miskin termasuk kategori kemiskinan kronis (cronic poverty), yang membutuhkan penanganan sungguh-sungguh, terpadu secara lintas sektoral dan berkelanjutan. Kedua kemiskinan sementara (transient poverty), kemiskinan ini ditandai dengan menurunnya pendapatan dan kesejahteraan anggota masyarakat secara sementara. Terjadi sebagai akibat dari perubahan kondisi normal menjadi kondisi krisis karena bencana alam dan bencana sosial. Penyebab kemiskinan tersebut akibat konflik sosial, gempa bumi, pemutusan hubungan kerja dan sebagainya. Kemiskinan sementara ini jika tidak mendapatkan penanganan serius dapat menjadi kemiskinan kronis. 3 Pada dasarnya kemiskinan merupakan masalah yang sangat kompleks,4 karena berbagai faktor ikut berperan dalam menciptakan fenomena tersebut, seperti faktor ketidakberuntungan dalam keterbatasan kepemilikan aset (poor), kelemahan kondisi fisik (physically weak), keterisolasian (isolation), kerentanan (vulnerable), dan ketidakberdayaan (powerless). Ada juga penyebab terjadinya kemiskinan adalah kemiskinan yang berkaitan dengan kondisi sosial, ialah terkonsentrasinya modal di tangan orang-orang kaya atau konglomerat. Terkonsentrasinya modal di tangan mereka menyebabkan orang-orang miskin tidak memiliki

kesempatan untuk mengaktualisasikan potensi-potensi demi meraih prestasi di bidang ekonomi. Memiliki potensi saja tanpa di dukung oleh modal,

3 Depsos RI, Rencana Strategis Penanggulangan Kemiskinan Program Pemberdayaan Fakir Miskin tahun 2006-2010 (Jakarta: Depsos RI, 2005), hlm. 18. 4 Loekman Soetrisno, Kemiskinan, Perempuan, Pemberdayaan (Yogyakarta : Kanisius, 1997), hlm. 38.

seseorang tidak akan mewujudkan kesejahteraan hidupnya secara optimal. 5 Faktor-faktor tersebut yang menyebabkan keluarga miskin senantiasa berkutat dalam kondisi serba kekurangan di dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup yang meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Fenomena kemiskinan dan pengangguran di Indonesia termasuk kota Yogyakarta merupakan fenomena yang kompleks dan tidak dapat secara mudah dilihat dari satu angka absolut. Kota Yogyakarta yang terkenal dengan kota pelajar dan kota wisata memiliki daya tarik yang kuat terhadap urbanisasi, sehingga berpengaruh terhadap jumlah penduduk. Keberagaman budaya masyarakat yang menyebabkan kondisi dan permasalahan

kemiskinan di Kota Yogyakarta menjadi sangat beragam dengan sifat-sifat lokal yang kuat serta pengalaman kemiskinan yang berada secara sosial maupun antara laki-laki dan perempuan.6 Pada tahun 2011, data resmi kemiskinan D.I. Yogyakarta per Maret-September 2011 adalah 16,14 % atau 560,88 ribu jiwa. Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan garis kemiskinan berdasarkan pengeluaran pendapatan yang merupakan untuk perkiraan memenuhi untuk sejumlah

menggambarkan

seseorang

kebutuhan minimum yang diukur berdasarkan asupan kalori (2100 kalori).7 Selama Maret 2011September 2011, Garis Kemiskinan naik sebesar 4,27

M. Saad Ibrahim, Kemiskinan dalam Perspektif Al-Quran (Malang: UIN Malang Press, 2007), hlm. 82. 6 Buku Pedoman Wali Kota Yogyakarta. Keputusan Wali Kota Yogyakarta No 616/KEP/2007 tentang Rencana aksi daerah penanggulangan kemiskinan dan pengangguran kota Yogyakarta tahun 2007-2011, hlm. 5. 7 Edi Suharto, Kemiskinan, hlm. 15.

persen, yaitu dari Rp 233.740,- per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp 243.729,- per kapita per bulan pada September 2011.8 Seiring itu juga pada kondisi perempuan, data dari World Bank menunjukkan bahwa tingkat pengangguran yang terjadi pada perempuan jauh lebih tinggi daripada laki-laki di setiap negara.9 Kondisi demikian juga menjelaskan berdasarkan faktanya, secara umum perempuan juga memiliki pendapatan yang lebih rendah dari laki-laki, dan kegiatan sektor informal yang tidak terorganisasi. Hal ini semakin menguatkan bukti bahwa perempuan jauh tidak beruntung dari laki-laki. Sumber dari permasalahan kemiskinan yang dihadapi oleh

perempuan menurut Muhadjir dalam Ni Luh Arjani,10 terletak pada budaya patriarki yaitu nilai-nilai yang hidup di masyarakat yang memposisikan lakilaki sebagai superior dan perempuan subordinat. Budaya patriarki seperti ini tercermin dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dan menjadi sumber pembenaran terhadap sistem distribusi kewenangan, sistem pengambilan keputusan, sistem pembagian kerja, sistem kepemilikan dan sistem distribusi resoursis yang bias gender. Kultur yang demikian ini akhirnya akan bermuara pada terjadinya perlakuan diskriminasi, marjinalisasi, ekploitasi maupun kekerasan terhadap

perempuan. Berbagai alasan dapat memicu feminisasi kemiskinan yang terjadi di masyarakat, antara lain: tertanamnya ideologi gender yang
Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012. hlm. 4-8 Data statistik World Bank. Labor force participant rate (% of people ages 15-64), 2010. genderstats.worldbank.org. diakses pada tanggal 23 Oktober 2012 pukul 06.33 wib 10 Ni Luh Arjani, Feminisasi Kemiskinan dalam Kultur Patriark. ejournal.unud.ac.id. Denpasar. 2007.
9 8

membakukan peran perempuan pada sektor domestik dan laki-laki di ranah publik. Hal inilah yang membawa dampak luas bagi keterbelakangan perempuan. Rendahnya kualitas perempuan juga ditandai oleh keterbatasan penguasaan keterampilan sebagai salah satu kompetensi yang dapat digunakan untuk meraih peluang kerja. Akibat kualitas perempuan tersebut menjadikan perempuan mengalami kesulitan untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan. Sementara tuntutan kontribusi dalam pembangunan semakin penting dari waktu ke waktu. Dengan dicanangkan konsep kesetaraan gender11 merupakan peluang yang besar bagi perempuan, tetapi karena terbentur keterbatasan kualifikasi makna hanya sedikit perempuan yang terserap ke dalam kancah pembangunan. Penelitian di negara-negara Amerika Latin dan beberapa negara lainnya menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan pria bagi keperluan rumah tangga hanya berkisar antara 50% hingga 68%, sedangkan wanita mencapai 100%. Dapat disimpulkan bahwa memberdayakan wanita akan membawa dampak berganda (multiplier effect).12 Jika suatu kabupaten menginginkan wilayahnya mengalami kemajuan signifikan, dengan

melibatkan sebanyak mungkin perempuan dalam pembangunan, maka harus


11

Menurut UNESCO, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan merupakan konsep yang menyatakan bahwa semua manusia (baik laki-laki maupun perempuan) bebas mengembangkan kemampuan personal mereka membuat pilihan-pilihan tanpa dibatasi oleh stereotype, peran gender yang kaku dan prasangka-prasangka. Hal ini bukan berarti bahwa perempuan dan laki-laki harus selalu sama, tetapi hak, tanggung jawab dan kesempatannya tidak dipengaruhi oleh mereka dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan. Lihat, Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, Kebijakan Publik Pro Gender (Surakarta: UNS Press, 2009), hlm. 33-34. 12 B.S. Kusmuljono. Dkk., Microfinance Jembatan Menuju Kemakmuran (Bogor: Japek Publishing, 2011), hlm. 19.

diusahakan

pemberdayaan

terhadap

kaum

perempuan.

Melalui

pemberdayaan perempuan akan tercetak kader-kader perempuan pembangun yang sangat kreatif. Tujuan ini sejalan dengan prinsip ilmu pekerjaan sosial (social work) yang mempunyai prinsip, menolong orang agar mampu menolong dirinya sendiri (help people to help themselves).13 Usaha pemberdayaan perempuan hendaknya mampu mengarahkan pada

penyelesaian masalah yang dihadapi perempuan dewasa ini dan kurun waktu mendatang. Oleh karena itu, program yang direncanakan sebagai upaya pemberdayaan perempuan harus selaras dengan kebutuhan dan perkembangan lingkungan yang menyangkut eksistensi perempuan. Sampai saat ini, telah banyak langkah yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan baik yang bersifat nasional maupun daerah yang sasaran utamanya adalah perempuan. Mulai dari kegiatan penciptaan lapangan pekerjaan baru, peningkatan program pendidikan dan keterampilan, sampai dengan pelaksanaan program-program seperti Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Program Keluarga Harapan (PKH), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Program Perempuan
Keluarga Sehat Dan Sejahtera (PERKASSA) sampai pada Proyek Jaring

Pengamanan Sosial (JPS), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) dan lain lain. Tujuan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan tersebut pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial Pekerja Sosial (Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm. 57.
13

miskin dari dua sisi yaitu : 1) dengan peningkatan pendapatan melalui peningkatan produktivitas, dimana masyarakat miskin memiliki kemampuan pengelolaan, memperoleh peluang dan perlindungan untuk memperoleh hasil karya yang lebih baik dalam berbagai kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan politik, 2) pengurangan kemiskinan melalui pengurangan beban kebutuhan dasar seperti akses pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang mempermudah dan mendukung kegiatan sosial ekonomi. Namun demikian, meskipun program-program untuk

penanggulangan kemiskinan telah banyak dikeluarkan oleh pemerintah, kenyataan di lapangan masih banyak masyarakat mengalami hidup dalam keadaan serba kekurangan. Angka kemiskinan secara kuantitas menurun, akan tetapi secara kualitatif belum bisa dikatakan bahwasannya penduduk miskin telah berkurang. Perlu dikaji lebih jauh lagi terkait program-program pengentasan kemiskinan tersebut mengapa dan bagaimana kemiskinan masih banyak dialami oleh masyarakat. Menghadapi kondisi demikian pemerintah melalui Dinas Sosial Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berupaya dalam penanganan pengentasan kemiskinan terutama berbasis kelompok sebagai salah satu cara untuk meringankan beban terhadap keluarga miskin tersebut, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Upaya penanganan tersebut melalui Usaha Sosial Ekonomis Produktif Keluarga Miskin (USEP

KM).14 Langkah-langkah tersebut dipengaruhi oleh berbagai aspek, baik menyangkut aspek pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pemberian bantuan modal sebagai stimulan usaha dan upaya pemberdayaan kemampuan ekonomi dalam bentuk kelompok yang tergabung dalam USEP KM. Program USEP KM merupakan satu kesatuan proses kegiatan yang melibatkan berbagai pihak, baik Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, Pekerja Sosial Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat, swasta, serta keluarga binaan itu sendiri untuk bekerjasama dalam menumbuhkan kewirausahaan serta meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin.15 Dengan pembentukan USEP KM diharapkan mereka mampu memberdayakan keluarganya menjadi keluarga yang sejahtera, kreatif, inovatif, dan mandiri. Salah satu kelompok USEP KM yang sudah berkembang adalah Kelompok USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. Apakah program USEP KM mampu mengentaskan kemiskinan serta dapat meningkatkan kesejahteraan bagi keluarga miskin, menjadi hal yang menarik bagi Peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini akan mengambil tempat di USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo Yogyakarta.

Menurut buku pedoman USEP KM adalah kegiatan yang dilakukan oleh, dari, dan untuk wanita keluarga binaan sosial atau ibu-ibu rumah tangga dari keluarga miskin dan lingkungannya yang mempunyai embrio usaha ekonomis produktif dengan sistem kerja kelompok untuk mencapai tujuan program yang telah ditetapkan. 15 Buku laporan kegiatan pelatihan ketrampilan berusaha bagi keluarga miskin (Yogyakarta: Dinsos Provinsi DIY, 2010), hlm. 1.

14

B. Rumusan masalah Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil antara lain, sebagai berikut: 1. Bagaimana upaya pengentasan keluarga miskin melalui program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta? 2. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi keluarga miskin mengikuti program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta? 3. Bagaimana dampak program USEP KM terhadap peningkatan

kesejahteraan keluarga miskin di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Adapun tujuan penelitian ini antara lain: a. Mengetahui upaya pengentasan keluarga miskin melalui program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keluarga miskin di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta mengikuti Program USEP KM c. Mengetahui dampak Program USEP KM terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta 2. Adapun manfaat penelitian ini antara lain: a. Manfaat teoritis: memperkaya wacana penanganan isu kesejahteraan sosial dalam bidang ilmu pekerjaan sosial, dan memberikan kontribusi pemikiran secara paradigmatis tentang pembangunan kesejahteraan

10

sosial

di

Indonesia

khususnya

dalam

program

pengentasan

kemiskinan. b. Manfaat praktis: sebagai salah satu referensi pengembangan program USEP KM bagi Dinas Sosial Provinsi DIY dan berbagai pihak yang terkait serta berkompeten dalam pengentasan kemiskinan.

D. Kajian Pustaka Telah terdapat beberapa penelitian yang mengupas tema tentang pengentasan kemiskinan. Namun demikian, menurut penulis, penelitian yang akan dilakukan ini belum pernah dikaji oleh peneliti maupun penulis lainnya. Adapun beberapa kajian maupun penelitian tentang pengentasan kemiskinan antara lain: Pertama, Mujiadi dkk. Dalam penelitian Pemberdayaan Masyarakat Miskin, studi evaluasi Penanggulangan Kemiskinan di Lima Provinsi mengemukakan beberapa gambaran kegiatan Kelompok Usaha Bersama Ekonomi antara lain: Aspek konteks: Pedoman P2FM-KUBE kurang mudah dipahami oleh pelaksana Program dan pendamping, sehingga pencapaian tujuan KUBE belum optimal. Aspek input: menemukan kenyataan bahwa sebagian KUBE dalam kondisi tidak produktif dan prospektif. Pelatihan pendampingan belum mampu memberikan pengetahuan dalam pendampingan sosial sehingga dalam pelaksanaan pendampingan masih menghadapi kendala. Aspek proses, seleksi anggota KUBE belum sesuai dengan pedoman, pengelolaan KUBE

11

masih bervariasi, administrasi kegiatan yang terdiri dari 10 buku dirasakan memberatkan, beberapa tahapan dalam proses kegiatan KUBE belum dilaksanakan sesuai Pedoman.16 Irmayani dkk. Dalam penelitian Efektivitas Pelayanan KUBE, dalam perspektif Ketahanan Sosial Keluarga menemukan fakta bahwa tahapan kegiatan dalam proses pemberdayaan keluarga melalui Kelompok Usaha Bersama Ekonomis (KUBE) belum semua dilaksanakan. Pengembangan KUBE dipengaruhi oleh kesesuaian tahapan kegiatan KUBE dengan panduan. Pemahaman usaha kelompok masih sebagai wacana, karena dalam temuan lapangan diketahui fakta bahwa kegiatan usaha dilakukan sendiri-sendiri. Dampak Program Pemberdayaan Keluarga melalui KUBE terhadap Ketahanan Sosial Keluarga dapat meningkatkan penghasilan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, meningkatkan kemampuan

berorganisasi dan meningkatkan kesetiakawanan antara anggota kelompok, meningkatkan rasa kebersamaan memelihara dan meningkatkan usaha keluarga.17 Istiana Hermawati, dkk, Studi Evaluasi Efektivitas KUBE dalam Pengentasan Keluarga Miskin di Era Otonomi Daerah, menguraikan hasil temuannya bahwa Program KUBE sudah tepat sasaran karena anggota berasal

Mujiadi dkk., Pemberdayaan Masyarakat Miskin, Studi Evaluasi Penanggulangan Kemiskinan di Lima Provinsi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia, P3KS Press, 2007. 17 Irmayani dkk., Efektivitas Pelayanan KUBE dalam perspektif Ketahanan Sosial Keluarga, Studi Evaluasi Pemberdayaan Keluarga Melalui KUBE di empat Provinsi, Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial Republik, Indonesia P3KS Press 2010.

16

12

dari petani, buruh tani, penghasilan terbatas, berusia produktif, berpendidikan rendah, memiliki beban tanggung jawab keluarga. Karakteristik anggota KUBE, terdapat dua jenis yaitu KUBE memiliki anggota (1 atau 2 orang) tidak masuk kriteria BPS namun dipilih dengan alasan memiliki keterampilan, pengetahuan, modal dan jiwa kewiraswastaan (Pedoman P2FM-KUBE 2004) dan KUBE yang seluruh anggotanya dari keluarga miskin, Temuan fakta menyebutkan bahwa KUBE yang memiliki anggota tidak termasuk kriteria lebih berhasil dalam mengembangkan usaha dibandingkan dengan KUBE yang beranggotakan keluarga miskin semua.18 Penelitian Retno Endah Supeni dan Maheni Ika Sari dengan judul Upaya Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Melalui Pengembangan

Manajemen Usaha Kecil (Studi diskriptif pada Kegiatan Usaha Kecil Ibu-ibu Desa Wirolegi Kabupaten Jember, Dampingan Pusat Studi Wanita UM Jember) Data penelitian ini diperoleh melalui focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan para informan. Focus group discussion (FGD) dilakukan terhadap ibu-ibu desa Wirolegi yang terbagi dalam tiga kelompok yakni kelompok yang belum pernah berwirausaha, pernah berwirausaha tapi gagal dan berwirausaha yang masih survive sampai sekarang. Beberapa program pemberdayaan ekonomi perempuan yang telah dilaksanakan PSW UM Jember selama kurun waktu empat tahun (2006-2010) belum memberikan hasil yang optimal dalam upaya pemberdayaan ekonomi

18 Istiana Hermawati dkk., Studi Evaluasi Efektivitas KUBE dalam pengentasan Keluarga Miskin di Era Otonomi Daerah. Balai Besar Penelitian Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia P3KS Press, 2005.

13

perempuan di desa Wirolegi meskipun sebenarnya geliat wirausaha bagi ibuibu rumah tangga sudah mulai ada namun masih perlu perhatian khusus dengan melakukan pendampingan dan pembinaan dalam rangka mengelola usaha-usaha mereka melalui pengembangan manajemen usaha kecil. 19 Penelitian Sugih Dina Ritanti tentang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin Melalui Program USEP KM Dinas Sosial Propinsi DIY Di Desa Gadingsari Sanden Bantul Yogyakarta. Program USEP KM milik Dinas Sosial Propinsi DIY merupakan program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang fokus terhadap masyarakat miskin. Dinas Sosial Propinsi DIY adalah suatu Lembaga yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat miskin di wilayah Yogyakarta, khususnya kaum perempuan di Dusun Patihan Desa Gadingsari sanden Bantul. Penelitian ini tentang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin Melalui Program USEP KM Dinas Sosial Propinsi DIY Di Desa Gadingsari Sanden Bantul Yogyakarta. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran tentang wacana keilmun, terutama dalam konsep dan implementasi program USEP KM dalam pemberdayaan ekonomi kaum perempuan Dusun Patihan. Penelitian ini memaparkan tentang konsep dan implementasi program USEP KM dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat Dusun Patihan desa Gadingsari,selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui dampak dari Program USEP KM bagi perkembangan perekonomian masyarakat
Retno Endah Supeni dan Maheni Ika Sari, Upaya Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Melalui Pengembangan Manajemen Usaha Kecil (Studi diskriptif pada Kegiatan Usaha Kecil Ibuibu Desa Wirolegi Kabupaten Jember, Dampingan Pusat Studi Wanita UM Jember), Universitas Muhammadiyah Jember Seminar Nasional Ilmu Ekonomi Terapan Fakultas Ekonomi UNIMUS 2011.
19

14

Dusun Patihan setelah menjadi anggota. Jenis dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan. Adapun subyek dari penelitian ini adalah pengurus USEP KM Patihan, meliputi ketua, sekretaris dan bendahara serta sebagian masyarakat yang menjadi anggota koperasi. Selain pengurus dan anggota USEP KM Patihan, Kepala seksi Keluarga Bermasalah Sosial Dinsos Prop. DIY juga menjadi subjek dari penelitian ini. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif kualitatif, dengan langkah setelah data terkumpul baik yang diperoleh melalui wawancara, dokumentasi dan observasi, data-data tersebut disusun kemudian di analisa dan di jelaskan. Hasil dari penelitian ini yaitu: bahwa dalam konsep dan impelementasi program USEP KM Patihan tidak hanya mengarah pada pertumbuhan ekonomi saja tetapi pertumbuhan dari segi sosialnya juga diprioritaskan. Hal ini ditandai dengan perkembangan kondisi kehidupan anggota USEP KM Patihan ke arah yang lebih baik, terbuka, partisipatoris, dan emansipatoris. Selain itu Dampak positif dari program ini yaitu munculnya kemandirian kaum perempuan anggota USEP KM Patihan ditandai dengan kemampuan mengembangkan usahanya.20 Mencermati hasil kajian diatas, dapatlah diasumsikan bahwa penelitian dan kajian tentang penanganan kemiskinan melalui USEP KM di kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta belum pernah dilakukan adapun penelitian ini akan mendalami tentang upaya,

20 Sugih Dina Ritanti. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin melalui Program USEP KM Dinas Sosial Propinsi DIY di Desa Gadingsari Sanden Bantul Yogyakarta. Skripsi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011.

15

faktor, dan dampak USEP KM pada kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta.

E. Kerangka Teori 1. Konsep dan Pengertian Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah sosial laten yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Kemiskinan senantiasa menarik perhatian berbagai kalangan, baik para akademisi maupun praktisi. Berbagai teori, konsep dan pendekatan pun terus menerus di kembangkan untuk mengurai kemiskinan. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena masalah ini hadir di tengah-tengah kita dan bahkan kini masalahnya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh Bangsa Indonesia. Berbicara tentang kemiskinan bukan semata-mata dialami oleh orang yang teraniaya hak-haknya, baik perempuan maupun laki-laki. Lebih jauh dari itu, kemiskinan merupakan permasalahan gender yang kompleks, yang mana kaum laki-laki dan perempuan menjadi miskin karena alasan yang berbeda, memiliki pengalaman kemiskinan yang berbeda, dan memiliki strategi adaptasi dan kapasitas yang berbeda pula

16

untuk dapat keluar dari jerat kemiskinan. kemiskinan yang umum dikenal antara lain:21 a. Kemiskinan Absolut

Ada dua macam konsep

Dalam konsep ini kemiskinan dikaitkan dengan tingkat pendapatan dan kebutuhan. Kebutuhan tersebut dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar ( basic need ) yang memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Apabila pendapatan tersebut tidak mencapai kebutuhan minimum, maka dapat dikatakan miskin. Sehingga dengan kata lain bahwa kemiskinan dapat diukur dengan membandingkan tingkat

pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masalah utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah

menentukan tingkat komposisi dan tingkat

kebutuhan minimum

karena hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat istiadat, iklim dan berbagai faktor ekonomi lain. Konsep kemiskinan yang didasarkan atas perkiraan kebutuhan dasar minimum merupakan konsep yang mudah dipahami tetapi garis kemiskinan objektif sulit dilaksanakan karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Tidak ada garis kemiskinan yang berlaku pasti dan umum, hal itu dikarenakan garis kemiskinan berbeda antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya.

Arsyad dalam Widodo, Perencanaan Pembangunan: Aplikasi Komputer; Era Otonomi Daerah (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2006), hlm. 298.

21

17

Untuk memudahkan pemahaman terhadap

kemiskinan

absolut, yaitu seseorang yang mempunyai pendapatan dibawah garis kemiskinan atau tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum seperti pangan, papan, sandang, kesehatan, dan pendidikan. b. Kemiskinan Relatif Seseorang yang sudah mempunyai tingkat pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum tidak selalu berarti tidak miskin. Hal ini terjadi karena kemiskinan lebih banyak ditentukan oleh keadaan sekitarnya, walaupun pendapatannya sudah mencapai tingkat kebutuhan dasar minimum tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat sekitarnya, maka orang tersebut masih berada dalam keadaan miskin. Berdasarkan konsep

kemiskinan relatif ini, garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat. Sehingga kemiskinan relatif yang subyektif, ditentukan oleh dirinya sendiri karena membandingkan dirinya dengan masyarakat sekelilingnya. Pada umumnya, ukuran kemiskinan dikaitkan dengan tingkat pendapatan dan kebutuhan. Perkiraan kebutuhan dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang

memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Bila pendapatan tidak mencapai kebutuhan minimum, maka orang tersebut dapat dikatakan miskin. Dengan kata lain, kemiskinan dapat diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan yang diperlukan untuk

18

memenuhi

kebutuhan

hidup.

Tingkat

pendapatan

minimum

merupakan pembatas antara keadaan miskin dan tidak miskin atau sering disebut sebagai garis batas kemiskinan. Istilah kemiskinan muncul ketika seseorang atau sekelompok orang tidak mampu mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu. Untuk memahami pengertian tentang kemiskinan ada berbagai pendapat yang dikemukakan, diantaranya: Menurut Suparlan, 22 kemiskinan dapat didefenisikan sebagai standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri mereka yang tergolong sebagai orang miskin. BAPPENAS mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar tersebut antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan,

sumberdaya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan

22

Suparlan, Kemiskinan di Perkotaan (Jakarta : Sinar Harapan, 1995), hlm. xi.

19

atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik.23 Menurut Friedman,24 Kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuasaan sosial. Basis kekuasaan sosial meliputi: (a) modal produktif atau asset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan), (b) sumber keuangan (pekerjaan, kredit), (c) organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial), (d) jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa, (e) pengetahuan dan keterampilan, dan (f) informasi yang berguna untuk kemajuan hidup. Berdasarkan studi SMERU,25 menunjukkan sembilan kriteria yang menandai kemiskinan: 1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar

(pangan, sandang dan papan). 2. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental. 3. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak telantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil)

Direktorat Penanggulangan Kemiskinan BAPPENAS, Upaya Pengurangan Kemiskinan, http://www.setneg.go.id diakses pada tanggal 24 Oktober 2012 pukul 10.06 wib. 24 Friedman dalam Suharto, dkk., Isu-isu Tematik Pembangunan Sosial: Konsepsi dan Strategi (Jakarta: Balatbangos, 2004), hlm. 6. 25 Edi Suharto, Kemiskinan, hlm. 16.

23

20

4. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam. 5. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal. 6. Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan. 7. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi). 8. Ketiadaan jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga). 9. Ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial masyarakat. Beragam defenisi yang telah dipaparkan dari para ahli, terdapat satu benang merah pemahaman dasar tentang kemiskinan, yakni: suatu kondisi dimana seseorang mengalami ketidakberdayaan dan kekurangan baik secara ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan. Defenisi ini terlalu luas dan universal, hal ini dimaksudkan sebgai upaya mengakomodir berbagai indikator penyebab timbulnya masalah kemiskinan yang multidimensional. 2. Karakteristik Kemiskinan Emil Salim26 memberikan penjelasan bahwa orang miskin memiliki lima ciri, yaitu:

Dalam Jusman Iskandar, Teori dan Isu Pembangunan (Garut: Pustaka PPs. UNIV. Garut, 1999), hlm. 27.

26

21

1. Mereka umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti tanah yang cukup, modal ataupun keterampilan. Faktor produksi yang dimiliki sedikit sekali sehingga kemampuan memperoleh pendapatan menjadi sangat terbatas 2. Mereka memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri, pendapatn yang tidak cukup untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha, sedangkan syarat tidak terpenuhi untuk memperoleh kredit perbankan, seperti adanya jaminan kredit dan lain-lain, sehingga mereka yang perlu kredit berpaling kepada lintah darat yang biasanya menerima syarat pelunasan-pelunasan yang berat dan memungut bunga yang tinggi. 3. Tingkat pendidikan mereka rendah. Tidak sampai tamat SD. Waktu mereka habis tersita untuk mencari nafkah sehingga tak tersisa lagi untuk belajar, juga anak-anak mereka tidak menyelesaikan sekolah karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan atau menjaga adik di rumah, sehingga secara turun temurun mereka terjerat dalam keterbelakangan di bawah garis kemiskinan. 4. Kebanyakan mereka tinggal di perdesaan, banyak diantara mereka tidak memiliki tanah kalaupun ada kecil sekali. Umumnya mereka menjadi buruh tani atau pekerja kasar di luar pertanian karena pertanian bekerja dengan sisem musimam maka kesinambungan kerja kurang terjamin, banyak diantara mereka menjadi pekerja bebas berusaha apa saja. Dalam keadaan penawaran tenaga kerja

22

yang besar. Maka tingkat upah mereka rendah sehingga mengurung mereka di bawah garis kemiskinan di dorong oleh kesulitan hidup di desa maka banyak diantara mereka mencoba berusaha hidup di kota (urbanisasi) 5. Banyak diantara mereka yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan (skill) atau pendidikan, sedangkan kota di banyak negara sedang berkembang tidak siap menampung gerakan urbanisasi penduduk desa ini maka proses urbanisasi di negara yang sedang berkembang tidak disertai dengan penyerapan tenaga kerja, sehingga penduduk miskin yang pindah ke kota terdampar dalam kantong-kantong kemiskinan. Kelompok penduduk miskin yang berada pada masyarakat pedesaan dan perkotaan, pada umumnya dapat digolongkan pada buruh tani, petani, pedagang kecil, nelayan, pengrajin kecil, buruh, pedagang kaki lima, pedagang asongan, pemulung, gelandangan, pengemis, dan pengagguran. 3. Penyebab Kemiskinan Secara konseptual, Suharto27 menyebutkan kemiskinan bisa diakibatkan oleh empat faktor, yaitu : 1. Faktor individual. Terkait dengan aspek patologi, termasuk kondisi fisik dan psikologis si miskin. Orang miskin disebabkan oleh

27

Edi Suharto, Kemiskinan, hlm. 17-18.

23

perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin itu sendiri dalam menghadapi kehidupannya. 2. Faktor sosial. Kondisi-kondisi lingkungan sosial yang menjebak seseorang menjadi miskin termasuk dalam faktor ini adalah kondisi sosial dan ekonomi keluarga si miskin yang biasanya menyebabkan kemiskinan antar generasi. 3. Faktor kultural. Kondisi atau kualitas budaya yang menyebabkan kemiskinan. Faktor ini secara khusus sering menunjuk pada konsep kemiskinan kultural atau budaya dengan kemiskinan hidup yang atau

menghubungkan

kemiskinan

kebiasaan

mentalitas. Kemiskinan ini mengacu pada sikap hidup dan budayanya, dimana mereka sudah merasa kecukupan dan tidak merasa kekurangan. Tradisi dan kebiasaan ini yang cenderung mengarahkan masyarakat pada sikap apatis, nrimo atau pasrah pada nasib, boros dan bahkan tidak kreatif sekalipun ada bantuan dari pihak luar. 4. Faktor struktural. Menunjuk pada struktur atau sistem yang tidak adil, tidak sensitif dan tidak accesible sehingga menyebabkan seseorang atau kelompok orang menjadi miskin. Sharp dkk dalam Mudrajad Kuncoro, mengidentifikasi penyebab kemiskinan dipandang dari sisi ekonomi antara lain : 28

Mudrajad Kuncoro, Ekonomi Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan, Edisi Ketiga (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003), hlm. 131.

28

24

1. Secara mikro, kemiskinanan muncul karena adanya ketidaksamaan pola pemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi

pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya alam dalam jumlah terbatas dan kualitasnya rendah. 2. Kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitasnya rendah, yang pada gilirannya upahnya rendah. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan, nasib yang kurang beruntung, adanya diskriminasi atau karena keturunan. Ketiga, kemiskinan muncul akibat perbedaan akses dalam modal. 3. Ketiga kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty). Adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktifitas. Rendahnya produktifitasnya mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendanya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi.

Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan, dan seterusnya 4. Pendekatan dalam Mengukur Kemiskinan Pendekatan yang digunakan dalam mengukur kemiskinan, yaitu: Pertama , Pendekatan produksi (production approach), misalnya

produksi pada per kapita hanya dapat menggambarkan kegiatan produksi tanpa memperhatikan pemenuhan kebutuhan hidup. Kedua, pendekatan

25

pendapatan (income approach), yaitu pendapatan yang diterima oleh setiap keluarga untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup. Ketiga, pendekatan pengeluaran (expenditure approach), yaitu garis kemiskinan yang dinyatakan dengan sebagai besarnya rupiah yang dapat dikeluarkan atau dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-hari.29 Untuk mewujudkan hak dasar masyarakat miskin, Bappenas

menggunakan beberapa pendekatan utama, antara lain pendekatan kebutuhan dasar, pendekatan pendapatan, pendekatan kemampuan dasar, dan pendekatan objektif dan subjektif. Pendekatan kebutuhan dasar, melihat kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan seseorang, keluarga, dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih dan sanitasi. Menurut pendekatan pendapatan, kemiskinan disebabkan oleh rendahnya

penguasaan aset dan alat produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau perkebunan, sehingga secara langsung memengaruhi pendapatan

seseorang dalam masyarakat. Pendekatan ini, menentukan secara kaku standar pendapatan seseorang di dalam masyarakat untuk membedakan kelas sosialnya. Pendekatan kemampuan dasar menilai kemiskinan sebagai keterbatasan kemampuan dasar seperti kemampuan membaca dan menulis untuk menjalankan fungsi minimal dalam masyarakat. Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan tertutupnya kemungkinan
Sumordiningrat, dkk., Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat (Jakarta: PT. Bina Rena Pariwara, 1999), hlm. 19.
29

26

bagi orang miskin terlibat dalam pengambilan keputusan. Pendekatan obyektif atau sering juga disebut sebagai pendekatan kesejahteraan menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. Pendekatan subyektif menilai kemiskinan berdasarkan pendapat atau pandangan dari orang miskin itu sendiri. Dari pendekatan-pendekatan tersebut di atas, BAPPENAS menguraikan indikator-indikator penyebab kemiskinan seperti : 1. Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, dilihat dari stok pangan yang terbatas, rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita dan ibu. 2. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan kesehatan

disebabkan oleh kesulitan mendapatkan layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap prilaku hidup sehat, kurangnya layanan kesehatan reproduksi, jarak fasilitas kesehatan yang jauh, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal. 3. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan pendidikan yang disebabkan oleh kesenjangan biaya pendidikan, fasilitas pendidikan yang terbatas, biaya pendidikan yang mahal, kesempatan

memperoleh pendidikan yang terbatas, tingginya beban biaya pendidikan baik biaya langsung maupun tidak langsung. 4. Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha dan perbedaan upah serta lemahnya

27

perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga. 5. Terbatasnya akses layanan kesehatan dan sanitasi. Masyarakat miskin yang tinggal di kawasan nelayan, pinggiran hutan dan pertanian lahan kering kesulitan memperoleh perumahan dan lingkungan pemukiman yang sehat dan layak. 5. Keluarga Miskin Defenisi tentang keluarga miskin berdasarkan Dictionary adalah: Poor family is a family which having little or no money, goods, or other means of support: a poor family living on welfare. 30 Berdasarkan pengertian di atas yang di maksud keluarga miskin yaitu keluarga yang mempunyai sedikit uang atau tidak punya uang sama sekali, tidak memiliki barang-barang atau kebutuhan lainnya atau dapat dikatakan suatu keluarga yang kesejahteraannya lemah. Keluarga miskin adalah pelaku yang berperan sepenuhnya untuk menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Ada tiga potensi yang perlu diamati dari keluarga miskin yaitu: a. Kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, contohnya dapat dilihat dari aspek pengeluaran keluarga, kemampuan menjangkau
Menurut Dictionary http://dictionary.reference.com/browse/poor diakses pada tanggal 20 Februari 2013 pukul 09.44 wib.
30

28

tingkat pendidikan dasar formal yang ditamatkan, dan kemampuan menjangkau perlindungan dasar. b. Kemampuan dalam melakukan peran sosial akan dilihat dari kegiatan utama dalam mencari nafkah, peran dalam bidang pendidikan, peran dalam bidang perlindungan, dan peran dalam bidang kemasyarakatan. c. Kemampuan dalam menghadapi permasalahan dapat dilihat dari upaya yang dilakukan sebuah keluarga untuk menghindar dan mempertahankan diri dari tekanan ekonomi dan non ekonomi. Asnawi31 ciri-ciri keluarga miskin dapat dilihat dari: pendapatan perkapita keluarga berada dibawah garis kemiskinan, kurang gizi, kesehatan yang kurang baik, tingkat kematian bayi tinggi, pendidikan anak masih rendah, kualitas perumahan belum memenuhi syarat minimum dan pengeluaran konsumsi pangan yang utama masih belum mencukupi. Sedangkan BPS, mengemukakan ciri-ciri rumah tangga miskin adalah: sebagian besar rumah tangga miskin hanya mempunyai satu orang pekerja, sebagian besar tempat tinggal rumah tangga miskin belum memenuhi persyaratan kesehatan yang ada, sebagian besar memiliki lahan pertanian relatif kecil, tingkat pendidikan kepala rumah tangga sebagian besar masih rendah, rata-rata jam kerja masih rendah

31 Asnawi, Makalah Kemiskinan di Pedesaan dan Strategi Penanggulangannya. Makalah. Seminar Sosial Budaya Pengentasan Kemiskinan. Kelompok Kerja Panitia Dasawarsa Pengembangan Kebudayaan Propinsi Yk I Sumatera Barat Kerjasama dengan Universitas Bung Hatta. 1994.

29

jika dibandingkan dengan rumah tangga tidak miskin, status pekerjaan 70% adalah petani. 32 6. USEP KM a. Sejarah USEP KM33 Dalam REPELITA V Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah ditegaskan bahwa perumusan Strategi Pembangunan Tata Sosial diarahkan pada permasalahan yang berkaitan langsung dengan pengembahangan kependudukan dalam segala aspeknya, antara lain pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Upaya yang ditempuh melibatkan seluruh aspek yang terkait antara lain sebagai berikut: 1. Mengikutsertakan masyarakat yang berkualitas sebagai

motivator pembangunan. 2. Mempercepat transformasi penduduk dari tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Mengurangi berbagai beban masyarakat dari kemiskinan sebagai akibat dari keterbatasannya yang senantiasa berlanjut. Menggerakkan dinamika sosial seluruh golongan dan lapisan masyarakat yang bertumpu pada kegotongroyongan dan

kekeluargaan. Selanjutnya hal tersebut dinyatakan ke dalam langkahlangkah yang terdiri dari berbagai program pembangunan yang termasuk di bidang kesejahteraan sosial. Kesejahteraan sosial antara
32 33

Biro Pusat Statistik, Pengukuran Tingkat Kemiskinan di Indonesia. Jakarta. 1999. Buku Petunjuk Pelaksanaan USEP KM Dinas Sosial Propinsi DIY tahun 1993, hlm. 1.

30

lain mengupayakan terpenuhinya kebutuhan hidup manusia baik ditinjau dari segi jasmani, rohani maupun sosialnya. Upaya pemenuhan hidup warga masyarakat yang kondisi sosial ekonominya lemah, pada umumnya masih dilaksanakan secara tradisional, teknologinya sederhana. Untuk lingkungan pedesaan terasa masih sangat bergantung pada usaha-usaha yang berkaitan dengan potensi agraris. Dalam rangka meningkatkan pendapatan mereka perlu dibangkitkan semangat dan gairahnya berusaha dengan

meningkatkan dan mendayagunakan potensi yang ada, baik potensi alami maupun potensi manusiawi secara swadaya menuju

kemandirian. Untuk itu diperlukan katalisator yang berupa kaderkader pembangunan sosial (KPS), PSM, PKK, LKMD, atau lainnya yang dijadikan pembina tingkat desa, guna membimbing, melatih, membina dan mengarahkan warga masyarakat yang masih dalam kondisi sosial ekonomi lemah tersebut. Dalam hal ini Dinas Sosial Provinsi DIY berusaha membina, meningkatkan bobot keterampilan, dan mengentaskan warga masyarakat yang kurang mampu agar

dapat membuka diri, menerima petunjuk, dan meningkatkan bobot dan keterampilan di bidang usaha sosial ekonomis produktif bagi keluarganya yang masih miskin, yang selanjutnya kelompok mereka ini dapat disebut kelompok USEP KM.

31

USEP KM kepanjangan dari Usaha Sosial Ekonomis Produktif Keluarga Miskin. USEP KM merupakan program

pengentasan kemiskinan yang kegiatannya dilakukan oleh, dari dan untuk WKBS (Wanita Keluarga Binaan Sosial) serta masyarakat lingkungannya yang dilaksanakan dengan sistem kerja kelompok, melalui berbagai kegiatan keterampilan ekonomis produktif, untuk mencapai tujuan kesejahteraaan dengan merubah sikap

ketergantungan menjadi swasembada/mandiri, dapat melaksanakan fungsi sosialnya serta dapat mengatasi permasalahan sosial yang dihadapi di masyarakat, dan selanjutnya bisa ikut berperan aktif dalam proses pembangunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan sosial WKBS, memeratakan pendapatan dan meningkatkan

kesejahteraan keluarga, menciptakan hubungan sosial yang harmonis dan kontinyu, serta mendukung berkembangnya kehidupan sosial yang baik di wilayahnya. 34 b. Sasaran Program USEP KM Sasaran garapan USEP KM pada pokoknya adalah keluargakeluarga yang masuk kategori miskin/kurang mampu. Dengan kegiatan pembinannya lewat wanita/ibu rumah tangganya. Sehingga sasaran garapan ini juga tidak bisa terpisahkan dengan penentuan lokasi desa/kelurahan yang dipandang banyak keluarga-keluarga

34

Buku Petunjuk Pelaksanaan USEP KM Dinas Sosial Propinsi DIY tahun 1993, hlm. 2.

32

kurang mampu, dengan mengacu pada Indek Tingkat Perkembangan Desa (ITPD) dan hasil penjajagan sebagai kegiatan awalnya. 35 Keluarga miskin/kurang mampu yaitu keluarga yang terdiri dari ayah dan atau ibu beserta anak-anaknya yang berada di dalam kondisi sosial ekonomi lemah. Ukuran miskin adalah pendapatan rata-rata perkapita pertahun, ekivalen dengan beras maksimum sebanyak 320 kg per jiwa pertahun untuk di perdesaan, atau maksimum sebanyak 480 kg per jiwa pertahun untuk lokasi perkotaan. Ekivalen beras diperoleh dari konversi pendataan dalam rupiah dengan standard harga pasar setempat pada saat itu. Adapun sebagai pertimbangan pembanding jika dijumpai keragu-raguan bisa digunakan 10 kriteria keterbatasan sebagai pertimbangan lebih lanjut dengan prioritas urutan sebagai berikut:36 1. Keterbatasan pemilikan/kekayaan 2. Perumahan yang kurang memadai 3. Keterbatasan pendidikan 4. Keterbatasan keterampilan 5. Tingkat kesehatan yang rendah 6. Kehidupan agama yang relatif kurang dihayati 7. Kehidupan normatif yang kurang dihayati 8. Keterbatasan hubungan sosial di masyarakat sekitarnya 9. Keterbatasan hubungan sosial dalam keluarga
35 36

Ibid.,hlm. 6. Ibid.,hlm. 6.

33

10. Keterbatasan hubungan sosial dalam masyarakat yang lebih luas Urut-urutan ini sudah menggambarkan prioritas kriteria yang bisa/akan diambil, jika sekiranya tidak semuanya tidak semua kriteria akan dipakai. Agar dapat terjamin ketepatan sasaran garapan perlu adanya seleksi lebih lanjut. Baik seleksi calon WKBS (wanita keluarga binaan sosial) maupun penentuan lokasi kegiatan USEP KM. c. Seleksi Calon WKBS Kegiatan ini bertujuan menyeleksi wanita calon binaan USEP KM dengan sebutan WKBS yaitu wanita keluarga Binaan Sosial, yang disesuaikan dengan ketentusn persyaratannya. Oleh karenannya sebelum dilaksanakan seleksi WKBS perlu terlebih dahulu dipelajari bahan-bahan yang kiranya dapat digunakan dalam memilih namanama calon atau bahan-bahan pertimbangan lain pada buku Penjajagan Calon Peserta Binaan Sosial Kegiatan UKS di propinsi DIY. Selain dari sumber tersebut dapat juga mencari data di kantor kecamatan, Desa/Kelurahan maupun wawancara dengan para pemuka masyarakat di lokasi yang bersangkutan. Adapun ketentuan persyaratan bagi calon WKBS adalah sebagai berikut: 37 1. Ibu rumah tangga/KK wanita yang secara ekonomi termasuk kategori terbawah dalam dalam strata sosial ekonomi

37

Ibid., hlm. 17-18.

34

masyarakat (dari keluarga yang berada di dalam kondisi sosial ekonomi lemah/keluarga kurang mampu/keadaan miskin) 2. Usia produktif, umur 16 s/d 54 tahun, dan sudah kawin 3. Bertempat tinggal tetap di lokasi binaan (Desa/Kelurahan lokasi binaan). 4. Bisa membaca dan menulis (bagi WKBS awal) 5. Memiliki minat bekerja dan bakat keterampilan yang dapat dikembangkan. Kegiatan seleksi Calon WKBS yang dilaksanakan oleh Tim Pengelola USEP KM, antara lain berupa kegiatan: 1. Meneliti dan memilih wanita-wanita yang memenuhi persyaratan sebagai calon WKBS kegiatan USEP KM seperti tersebut di atas. 2. Mengelompokkan permasalahan-permasalahan sosial dan jenis keterampilan yang dimiliki. Sebagai alat untuk mengadakan seleksi ini dapat

dipergunakan formulir seleksi calon WKBS USEP KM yang telah ditentukan. d. Sumber Dana USEP KM Sumber dana dapat berasal dari Dinas Sosial Propinsi DIY, Masyarakat, WKBS sendiri atau lembaga lain. Sumber dana dalam pelaksanaan USEP KM yang berasal dari Dinas Sosial Propinsi DIY diberikan dengan ketentuan sebagai berikut: 38

38

Ibid., hlm. 21.

35

1. Dana ini sebagai sarana kegiatan USEP KM merupakan stimulan pembinaan lanjut. 2. Sasaran penerima stimulan berantai adalah WKBS dengan target awal sejumlah 30 orang. 3. Sasaran penerima stimulan pembinaan lanjut adalah

perseorangan, WKBS, atau kelompok USEP KM yang telah menunjukkan hasil pengembangannya dari laporan Tim Pengelola maupun hasil evaluasi para petugas yang telah ditentukan. Cara penyaluran dana awal yaitu diberikan langsung kepada WKBS binaan awal oleh Proyek dalam bentuk Simpedes yang diuangkan lewat lewat BRI Unit Desa setempat. Pemberiannya disaksikan oleh para pejabat setempat antara lain : Pemerintah Daerah Tingkat II, Tim Penggerak PKK Tingkat II, Cabang Dinas Sosial Dati II, Camat, Tim Penggerak PKK Kecamatan, Kepala Desa/Lurah, Tim Penggerak PKK Kecamatan, LKMD, Tokoh Masyarakat, Tim Pengelola, dan PSM.39 Adapun status dana bantuan adalah milik kelompok binaan dan merupakan milik pribadi yang mempunyai fungsi sosial, yang artinya bahwa setiap penggunaannya harus di laporkan dan mentaati pengarahan Tim Pengelola dalam rapat bersama. Selanjutnya setiap WKBS berkewajiban untuk mengembangkan dana yang

diperolehnya kepada calon WKBS yang lain secara berantai, yang

39

Ibid., hlm. 21.

36

diatur oleh Tim Pengelola dalam rangka perwujudan pelaksanaan kesetiakawanan sosial.40 e. Tolok ukur keberhasilan Kelompok USEP KM41 Penggarapan/pembinaan keluarga kurang mampu (miskin), pada dasarnya adalah suatu kegiatan yang lama, sehingga untuk menentukan tolok ukur keberhasilannya perlu dibagi atas dua tahapan tolok ukur yaitu: tolok ukur jangka pendek (untuk ukuran binaan sampai dengan 5 tahun) dan tolok ukur jangka panjang (untuk ukuran binaan yang sudah berlangsung lebih dari 5 tahun). 1. Tolok ukur jangka pendek Tolok ukur jangka pendek bisa digolongkan pada tiga jenis kelompok ukuran: a. Keberhasilan ditinjau dari segi ekonomi 1) Untuk mengukur ini digunakan rumus P.
10. 10.

Pada

dasarnya rumus ini adalah batas ukuran keberhasilan dari pengembangan usaha, dinilai dari ekivalen rupiah dari pengembangan nilai stimulan yang diterimanya, dinilai tiap tahun (omzet nilai usaha tiap tahun). Untuk seorang WKBS, bisa dinyatakan berhasil mengembangkan stimulan usahanya dalam periode kegiatan selama satu tahun, jika nilai usahanya dalam periode selama satu tahun itu jumlahnya sama atau sudah lebih besar dari
40 41

Ibid., hlm. 21-22. Ibid., hlm. 35-37.

37

nilai P.

10. 10.

Berbeda nilai stimulan yang diterimanya

satu tahun yang lalu, atau terhadap nilai stimulan (yang sudah dikembangkan) pada satu tahun sebelumnya. Kalau nilai stimulan awal (=P1). Untuk mendapatkan P1 bisa dihitung dengan rumus P. 10. 10. Sebagai berikut:

P1 = P0 + (10% x P0) + [10% (P0 + (10% x P0 )] Maka jika jumlah omzet usaha WKBS sesudah satu tahun (= P.
Riil)

melebihi P1, berarti yang bersangkutan

bisa disebut berhasil. Keterangan: P.


Riil

= modal pokok yang secara nyata

masih berputar, baik yang berupa uang tunai bahan produk maupun sarana kerja. Pengembangan rumus di atas berdasarkan perkiraan penurunan nilai uang (inflasi) tiap tahun 10% dan kecepatan pertumbuhan modal 10% tiap tahun (estimasi sangat rendah). 2) Keberhasilan ekonomi disamping ditinjau dari rumus P.
10. 10.

Dilihat pula dari kemampuan kelompok USEP KM

untuk bisa memiliki kemampuan berswadaya/mandiri, terutama sesudah memasuki tahun ke-3. b. Keberhasilan ditinjau dari segi sosial Penilaian terhadap ini diarahkan pada nilai interaksi sosial dari:

38

1. Anggota dengan anggota (termasuk pimpinan) dalam kelompok USEP KM 2. Kelompok USEP KM dengan masyarakat lingkungannya (dalam ikut aktif pada kegiatan usaha kesehatan sosial di wilayahnya). Untuk penilaian interaksi sosial intern kelompok (antar anggota), diukur dari: a) Kewajiban menabung WKBS dalam rangka persiapan untuk perantaian dapat berjalan dengan baik. b) Tercermin sikap rukun dan akrab pada sesama anggota (termasuk dengan Tim Pengelolanya). c) Tidak ada kesan Tim pengelola memaksakan kehendaknya, semua keputusan dicapai berdasarkan musyawarah mufakat. Untuk penilaian interaksi sosial kelompok dengan masyarakat lingkungannya, dinilai dari: a) Berfungsinya perantaian/pengembangan stimulan kepada calon WKBS baru, untuk menambah jumlah orang yang di tolong lewat program WKBS (jumlah anggota USEP KM bertambah) b) Berkembangnya usaha kelompok USEP KM sebagai embrio koperasi, yang selanjutnya diharapkan bisa menambah potensi masyarakat di wilayah setempat. c) Kelompok USEP KM ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di wilayahnya, bersama-sama dengan seluruh anggota

masyarakat setempat.

39

c. Keberhasilan ditinjau dari segi organisasi a) Rapat rutin (bulanan/saparan), selalu bisa dilaksanakan dengan baik. b) Dalam rapat rutin tersebut jumlah anggota yang hadir rata-rata bisa mencapai lebih dari 90% c) Ketua, sekretaris, dan bendahara Tim pengelola aktif

melaksanakan kegiatan/tugasnya dengan baik. d) Ketua, sekretaris, dan bendahara kelompok USEP KM aktif melaksanakan kegiatan tugasnya dengan baik. e) Administrasi pencatatan dan pelaporan dilaksanakan dengan baik meliputi: administrasi pelaporan, administrasi keuangan, administrasi pengelolaan, arsip-arsip surat menyurat dan agenda surat menyurat. f) PSM/KPS selaku pendamping melaksanakan tugas dengan baik. g) Secara rutin Tim pengelola dan pengurus kelompok

mempertanggungjawabkan kegiatan serta keadaan keuangan organisasi dan kelompok kepada anggota. h) PSM/KPS ikut berperan dengan baik 2. Tolok ukur jangka panjang a. Kelompok USEP/KM mampu mengembangkan diri untuk bisa membantu menampung tenaga kerja bagi masyarakat setempat b. Beberapa WKBS sudah berhasil mengembangkan diri, layak dan berani untuk mengusahakan sendiri tambahan modal bagi

40

pengembangan usahanya antara lain bisa ditempuh lewat upaya perkreditan bank yang bunganya rendah (kredit pada bank pemerintah). Program USEP KM telah dilaksanakan sejak tahun 1993 oleh Seksi Keluarga Bermasalah Sosial Dinas Sosial Propinsi D.I.Yogyakarta. Berdasarkan data yang ada di Seksi Keluarga Bermasalah Sosial, kelompok USEP KM yang terbentuk sejak tahun 2006 2012. Dalam kurun waktu tersebut sebanyak 234 kelompok telah ditumbuhkan dan 60 kelompok yang telah dikembangkan. Sebagaimana yang terlihat dalam tabel 1 di bawah ini. Tabel 1 Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok USEP KM tahun 2006 2012 Tahun Anggaran 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Jumlah Kelompok yang Ditumbuhkan 102 Kelompok 45 Kelompok 30 Kelompok 24 Kelompok 18 Kelompok 5 Kelompok 10 Kelompok 234 Kelompok Jumlah Kelompok yang Dikembangkan 0 0 10 Kelompok 10 Kelompok 5 Kelompok 5 Kelompok 30 Kelompok 60 Kelompok Keterangan

@ Kelompok 30 KK @ Kelompok 30 KK @ Kelompok 30 KK @ Kelompok 30 KK @ Kelompok 30 KK @ Kelompok 30 KK @ Kelompok 30 KK

Sumber : Buku Laporan Bantuan Pengembangan USEP KM Melalui POS Gubernur Tahun 2012 DINSOS DIY Sedangkan anggaran dana yang telah digunakan Seksi Keluarga Bermasalah Sosial dalam penumbuhan USEP KM dari tahun 2006-2012 tercatat Rp 4.101.750.000 dengan rincian sebagai berikut:

41

Tabel 2 Anggaran Penumbuhan Kelompok USEP KM Tahun 2006-2012 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Total Anggaran (Rp) 1.020.000.000 1.023.750.000 675.000.000 540.000.000 405.000.000 135.000.000 303.000.000 4.101.750.000

Sumber: Buku Laporan Bantuan Pengembangan USEP KM Melalui POS Gubernur Tahun 2012 DINSOS DIY Dari tabel 2 di atas terlihat bahwa terjadi penurunan anggaran penumbuhan Kelompok USEP KM dari tahun 2010 ke tahun 2011 dan kemudian naik lagi di tahun 2012. Dengan total anggaran sebanyak 4.101.750.000 untuk periode 2006 2012.

42

Tabel 3 Anggaran Pengembangan Kelompok USEP KM Tahun 2008-2012 Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 Total Anggaran (Rp) 140.000.000 100.000.000 60.500.000 145.000.000 825.000.000 1.270.500.000

Sumber: Buku Laporan Bantuan Pengembangan USEP KM Melalui POS Gubernur Tahun 2012 DINSOS DIY

Dari tabel 3 di atas terlihat bahwa terjadi penurunan anggaran pengembangan Kelompok USEP KM dari tahun 2009 ke tahun 2010 dan kemudian naik lagi di tahun 2011 dan 2012. Dengan total anggaran sebanyak 1.270.500.000 untuk periode 2008 2012. Dana bantuan modal usaha penumbuhan USEP KM diberikan kepada kelompok dan menjadi aset dan kekayaan kelompok, sedangkan cara-cara pengembangannya ditentukan atas dasar musyawarah mufakat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan modal usaha kelompok adalah sebagai berikut:42 1. Bantuan modal usaha kelompok sebesar Rp. 22.500.000,- diberikan kepada masing-masing anggota yang berjumlah 30 orang sebagai pinjaman untuk modal awal usaha ekonomis produktif.
42

Buku Laporan Bantuan Pengembangan USEP KM Melalui POS Gubernur Tahun 2012 Dinsos DIY, hlm. 12-13

43

2. Anggota kelompok seyogyanya yang sudah mempunyai embrio usaha kecil-kecilan dan mempunyai prospek untuk dikembangkan. 3. Pinjaman anggota dibelanjakan untuk kegiatan ekonomis produktif, bukan untuk konsumsi. 4. Jumlah pinjaman masing-masing anggota bervariasi besarnya

disesuaikan dengan kemampuan mengembalikan dan membayar bunganya, serta disesuaikan dengan jenis usaha dan potensi yang dimilikinya. 5. Segala sesautu yang berhubungan dengan keputusan kelompok ditentukan atas dasar musyawarah mufakat para anggotanya, baik menyangkut masalah keuangan kelompok, maupun permasalahan lain yang berhubungan dengan aturan-aturan kelompok. 6. Disamping mengembalikan cicilan bunganya, para anggota kelompok diwajibkan menyisihkan sebagian keuntungannya untuk disimpan di kas kelompok dalam bentuk simpanan Iuran Kesetiakawanan Sosial (IKS), yang kedua jenis simpanan tersebut penggunaannya untuk memupuk ikatan kesetiakawanan sosial anggotanya, IKS untuk bantuan sosial anggota seandainya para anggota ada yang mengalami musibah antara lain; keluarga anggota ada yang meninggal dunia, opname di Rumah Sakit dll, besarnya iuran dan bantuan IKS ditentukan dalam musyawarah anggotanya. Sedangkan UKS

digunakan untuk bantuan modal usaha seandainya anggota kelompok ada yang mengalami musibah yang mengakibatkan kebangkrutan

44

dalam usahanya, misal musibah kebakaran, bencana alam tanah longsor, banjir, terjadi pencurian, perampokan, dll. 7. Anggota kelompok wajib mengadakan pertemuan rutin untuk membahas usaha dan perkembangan kelompok, serta melakukan musyawarah guna memecahkan segala permasalahan yang dihhadapi. 8. Bilamana kelompok USEP KM berkembang dengan baik dengan indikasi penambahan modal usaha, IKS & UKS berkembang, manajemen dikelola dengan baik, maka dianjurkan untuk memperluas usaha dengan cara menambah anggota kelompok dan memperbesar jumlah pinjaman. 9. Untuk melestarikan kelompok USEP perlu disusun peraturanperaturan ini penting sebagai bahan rujukan atas permasalahan yang kemungkinan dihadapi kelompok. 10. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan kelompok dicatat dalam buku administrasi USEP, baik mengenai kesepakatan jumlah IKS, UKS, ataupun besar bunga pinjaman, serta tindakan apa yang harus diambil seandainya ada anggota yang kurang aktif dalam mengelola kelompok. 11. Pengurus kelompok wajib membuat laporan perkembangan kelompok kepada pendamping kelompok, untuk memantau perkembangan kelompok.

45

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah jenis studi kasus. Studi kasus adalah jenis penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya. Studi kasus dapat dilakukan terhadap individu (misalnya keluarga), segolongan manusia (guru, karyawan, siswa), lingkungan hidup manusia (desa, sekolah) dan lain-lain. Bahan studi kasus dapat diperoleh dari sumber-sumber seperti laporan pengamatan, catatan pribadi, kitab harian atau biografi orang yang diselidiki, laporan atau keterangan dari orang yang banyak tahu tentang hal itu.43 Penelitian studi kasus ini mempunyai tujuan untuk

mendeskripsikan, mengungkap dan menjelaskan tentang pengentasan keluarga miskin melalui program USEP KM pada Kelompok VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. 2. Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, dan pemikiran orang baik secara individu maupun kelompok. Moleong menjelaskan penelitian kualitatif sebagai Penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang
43

S. Nasution, Metode Research : Penelitian Ilmiah (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm.

27.

46

dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.44 Dipilihnya jenis penelitian kualitatif ini karena peneliti berasumsi bahwa penelitian ini akan lebih mudah dijawab dengan penelitian kualitatif, dengan alasan: (1) penelitian kualitatif berpijak pada konsep naturalistik, (2) penelitian kualitatif berdimensi jamak, kesatuan utuh, terbuka, dan berubah, (3) dalam penelitian kualitatif, hubungan peneliti dengan obyek berinteraksi, penelitian dari luar dan dalam, peneliti sebagai instrumen, bersifat subyektif, dan judgment, (4) setting penelitian alamiyah, terkait tempat dan waktu, (5) analisis subyektif, intuitif, rasional, dan (6) hasil penelitian berupa deskripsi, interpretasi, tentatif, dan situasional.45 Dengan menggunakan pendekatan kualitatif diharapkan dapat membantu meneliti fenomena yang berkenaan dengan pengentasan keluarga miskin melalui USEP KM di Tegalrejo, Yogyakarta. 3. Subyek dan Obyek Penelitian Obyek dalam penelitian ini adalah program USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. Sedangkan subyek penelitian adalah sumber-sumber yang memungkinkan untuk memperoleh

44 Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 6. 45 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 61.

47

keterangan penelitian atau data. Adapun yang dijadikan subyek penelitian dalam penulisan ini adalah: a. Pendamping Program USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo b. Pengurus Program USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo c. Anggota Program USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif jadi keberadaan informan sangat penting, bukan jumlahnya. Oleh karena itu pemilihan orang-orang yang dijadikan sumber informasi sangat perlu. Untuk itu, peneliti sebelumnya mengikuti kegiatan kelompok yakni pertemuan rutin kelompok dalam setiap bulan dan melakukan wawancara dengan ketua kelompok guna memperoleh nama-nama yang memang dianggap menguasai masalah penelitian. Tahap selanjutnya menemui mereka dengan tujuan untuk memperoleh keyakinan bahwa mereka adalah orang-orang yang tepat dijadikan informan penelitian. 4. Lokasi Penelitian Penelitian pengentasan keluarga miskin melalui program USEP KM ini dilakukan pada Kelompok VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai lokasi penelitian, akan dibahas lebih lanjut pada bab II. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan menentukan atau memilih lokasi secara sengaja yang didasarkan atas beberapa

pertimbangan yang rasional, yaitu: 1. Kelompok USEP KM yang berhasil dan berkembang.

48

2. Kelompok yang memperoleh dana pengembangan usaha USEP KM. 5. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi Observasi atau sering disebut pengamatan, dalam istilah sederhana adalah proses dimana peneliti atau pengamat terjun langsung ke lokasi penelitian. Teknik ini dilakukan dengan cara melihat langsung ke lokasi penelitian mengenai kenyataan yang terjadi di lapangan terkait pengentasan keluarga miskin pada

Kelompok VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. Mengamati adalah menatap kejadian, gerak atau proses. Mengamati bukanlah hal yang mudah, karena manusia banyak dipengaruhi oleh minat dan kecenderungan-kecenderungan yang ada padanya. Padahal hasil pengamatan harus sama, walaupun dilakukan oleh beberapa orang. Dengan bahasa yang lain pengamatan harus objektif. 46 Dalam obsevasi ini penulis mengamati secara menganalisis dan selanjutnya membuat langsung, kesimpulan mencatat tentang

bagaimana pengentasan keluarga Miskin melalui USEP KM di Kelurahan Tegalrejo serta melihat secara langsung pelaksanaan program dilapangan. Hal ini dilakukan guna mendapatkan informasi yang relevan dengan topik penelitian ini. Observasi penulis lakukan pada bulan November 2012. Adapun kendala yang dihadapi penulis tidak begitu signifikan, karena jarak lokasi dengan wilayah
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta), hlm. 205.
46

49

Yogyakarta cukup dekat, jarak tempuh ke lokasi penelitian hanya sekitar kurang lebih 45 menit. Selain itu pihak pengurus dan anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII juga menyambut baik kedatangan penulis ketika melakukam observasi awal. b. Dokumentasi Dokumentasi yakni interventarisasi dan menelaah data dokumen yang dimungkinkan dapat memberi informasi, penjelasan, dan rujukan terhadap topik penelitian ini yaitu program USEP KM dalam usaha mengentaskan keluarga miskin. Data dokumentsi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah arsip-arsip, dokumen rapat, dan laporan tahunan yang berhubungan dengan kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta terkait usaha pengentasan keluarga miskin. Pengumpulan data dokumentasi

berkaitan dengan kajian ini dikumpulkan dari: Dinas Sosial DIY adalah arsip-arsip, dokumen-dokumen, dan laporan tahunan yang berhubungan dengan kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta terkait usaha pengentasan keluarga miskin, dari Kantor Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta serta instasi

pemerintah lainnya maupun sumber-sumber lainnya yang meliputi: keadaan fisik daerah (letak geografis, topologi dan lain-lain), demografi kelurahan misalnya kependudukan dan lain-lain, potensi ekonomi kelurahan, kelembagaan ekonomi kelurahan, sosial

50

ekonomi masyarakat seperti mata pencaharian, agama, pendidikan dan angkatan kerja. c. Wawancara (Interview) Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara, seseorang yang mengajukan pertanyaan (interviewer) dan yang di wawancarai (interviewee) yaitu orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.47 Wawancara dilakukan secara mendalam (in depth interview) untuk mendapatkan informasi dan petunjuk-petunjuk tertentu dalam rangka memperoleh hasil penelitian yang relevan dengan tema penelitian. Adapun wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terencana. Pada interview semacam ini pertanyaanpertanyaan diajukan kepada informan sudah dipersiapkan secara lengkap dan cermat. Akan tetapi cara penyampaian pertanyaan tersebut dilangsungkan secara bebas, sehingga tercipta suasana wawancara yang tidak terlalu formal, harmonis dan tidak terlalu kaku. Tujuan wawancara ini adalah untuk memperoleh data tentang, keanggotaan, kepengurusan program USEP KM, Keuangan

kelompok, faktor-faktor yang mempengaruhi anggota bergabung dalam kelompok, dampak yang diperoleh dari program USEP KM, baik untuk anggota maupun masyarakat yang ada di lingkungan sekitar, serta hambatan dalam pelaksanaan. Pada wawancara ini

47

Lexy J. Moleong, Metodologi, hlm. 216.

51

penulis menggunakan teknik wawancara terencana. Wawancara ini penulis lakukan dari mulai bulan Januari sampai dengan Februari 2013. Adapun kendala yang dihadapi penulis tidak begitu signifikan, hanya saja terkadang cuaca yang kurang mendukung untuk penulis datang ke rumah informan. 6. Teknik Analisis Data Penelitian kualitatif memiliki beberapa asumsi dalam proses analisis data. Asumsi yang pertama adalah metode analisis data dalam penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan kekayaan dan kompleksitas dari pengalaman hidup. Asumsi yang kedua adalah dalam analisis data kualitatif pengalaman dari peneliti dan objek yang diteliti dapat digunakan dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Menurut Neuman,48 teknik analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif. Analisa induktif berguna untuk melihat pola hubungan dari data-data yang dikumpulkan, namun demikian dalam analisa kualitatif ini tidak menggambarkan secara luas berdasarkan data statistik. Analisa data kualitatif dimulai dengan menelaah data-data yang telah diperoleh di lapangan dari berbagai sumber baik melalui wawancara, observasi, maupun studi data sekunder. Data-data tersebut kemudian dibaca, ditelaah, dan dianalisa isi ekspresi baik secara verbal maupun nonverbal sehingga dapat ditemukan maksud atau ungkapan

Neuman, Social Research Methods; Qualitative Approaches (A Pearson Education Company, 2000), hlm. 418-419.

48

and

Quantitative

52

yang dapat menjelaskan informasi yang berada di balik suatu fenomena atau ucapan. 7. Keabsahan Data Untuk memperkecil bias kesalahan yang mungkin terjadi, maka dilakukan metode triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembandingan terhadap data itu.49 Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber berarti

membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu yang berbeda. Hal ini dicapai dengan jalan: a. Membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil pengamatan b. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen. c. Membandingkan hasil wawancara, pengamatan, dokumentasi.

Kemudian mengecek hasil dari analisis.

G. Sistematika Pembahasan Untuk mendapatkan hasil penelitian yang sistemik dan ilmiah, akan disajikan sistematika pembahasan sebagai berikut: Bab I. Membahas proposal penelitian yang berisi antara lain: latar belakang masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

49

Lexy J. Moleong, Metodologi, hlm. 330.

53

Bab II. Gambaran umum lokasi penelitian, meliputi tentang, gambaran lokasi penelitian, kondisi geografis, keadaan penduduk, kondisi pendidikan, kehidupan keagamaan, dan kondisi sosial ekonomi. Bab III. Pembahasan dan analisis serta penjelasan tentang pengentasan keluarga miskin Yogyakarta. Bab IV. Penutup, yang terdiri atas kesimpulan yang menjawab permasalahan yang telah dirumuskan dibagian pendahuluan penelitian ini dan saran dari penulis untuk kemajuan lebih lanjut. melalui program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo,

54

BAB II GAMBARAN UMUM KELURAHAN TEGALREJO YOGYAKARTA

A. Gambaran Lokasi 1. Letak Geografis Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. Secara geografis kelurahan Tegalrejo sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Bener, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Pakuncen, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ngestiharjo dan sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Bumijo dan Kelurahan Pringgokusuman.50 2. Luas Wilayah Luas wilayah Kelurahan Tegalrejo adalah 88 Ha. Dari data jarak tersebut bisa dilihat kalau kelurahan tegalrejo berada dekat dengan pusat pemerintahan baik kecamatan, kabupaten/kotamadya maupun ibukota propinsi. Hal ini menunjukkan kelurahan Tegalrejo termasuk daerah yang mudah dijangkau karena berada di pusat pemerintahan kota

administratif.51 3. Keadaan Tanah dan Iklim Kelurahan Tegalrejo terletak di ketinggian tanah 114 m dari permukaan laut dengan banyaknya curah hujan 180 mm/tahun serta suhu udara rata-rata 30 C. Kelurahan Tegalrejo secara topografi termasuk

50 51

Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012. Ibid.

55

daerah dataran rendah. 52 Dan di wilayah ini terdapat dua sungai, yakni sungai Widuri yang berjarak sekitar 200 m sebelah Barat dan sungai Winongo yang juga berjarak sekitar 200 m dari sebelah Utara.53 4. Jarak dengan Pusat Pemerintahan Jarak kelurahan Tegalrejo dari pusat pemerintahan kecamatan sejauh 1 Km. Jarak dari Ibukota Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II sejauh 4 Km, jarak dari Ibukota Propinsi Dati I sejauh 3 Km dan jarak dari Ibukota Negara sejauh 565 Km.54 Perjalanan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, dan menggunakan kendaraan bermotor maupun tidak bermotor.

B. Keadaan Demografis 1. Komposisi Penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Jenis Kelamin Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut jenis kelamin, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini : Tabel 4 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Laki-laki 5267 Perempuan 5341 Total 10608

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012

Ibid. Wawancara dengan Ibu Istina Selaku Seksi Pemberdayaan dan Perekonomian Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. 11 Februari 2013 54 Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012.
53

52

56

Dari tabel 4 di atas terlihat bahwa jumlah total penduduk Tegalrejo berjumlah 10608 orang yang terdiri dari 5267 laki-laki dan 5341 perempuan. Dari data ini terlihat bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki yang tersebar di seluruh RW Kelurahan Tegalrejo. Kelurahan Tegalrejo terdiri atas 12 Rukun Warga (RW) dan 46 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah pengurus RT dan RW tertatar sebanyak 310 orang.55 Oleh karena itulah maka jelas dalam penelitian ini peneliti mengambil kajian tentang USEP KM yang fokus programnya pada peran perempuan dalam keterampilan ekonomis produktif. 2. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Usia Berdasarkan Kelompok Pendidikan Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut usia

berdasarkan Kelompok pendidikan dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini :

55

Ibid.

57

Tabel 5 Jumlah Penduduk Menurut Usia Berdasarkan Kelompok Pendidikan Usia 00-03 04-06 07-12 13-15 16-18 19 keatas Jumlah Total 403 432 856 455 415 8047 10608 % 4 4 8 4 4 76 100%

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 5 di atas dapat dijelaskan bahwa berdasarkan kelompok pendidikan jumlah terbanyak adalah pada usia 19 tahun ke atas sekitar 8047 orang. Hal ini menunjukkan usia terbanyak di kelurahan Tegalrejo adalah dalam kategori usia dewasa. Diikuti jumlah terbanyak kedua yakni 856 orang dengan usia antara 7 sampai 12 tahun, dalam kategori usia anak-anak. Jadi secara keseluruhan menurut usia dan kelompok pendidikannya, usia dewasa antara 19 tahun ke atas adalah yang terbanyak jumlahnya. 3. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Usia Berdasarkan Kelompok Tenaga Kerja Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut usia

berdasarkan kelompok tenaga kerja dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini :

58

Tabel 6 Jumlah Penduduk Menurut Usia Berdasarkan Kelompok Tenaga Kerja Usia 10-14 15-19 20-26 27-40 41-56 57 - Keatas Jumlah Total 719 694 1028 2990 2331 1275 9037 % 8 8 11 33 26 14 100%

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 6 di atas terlihat bahwa jumlah penduduk terbanyak berdasarkan kelompok tenaga kerja berada pada usia 27-40 tahun. Data ini jelas menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbanyak adalah pada usia produktif yakni sekitar usia 27-40 tahun. 4. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Tingkat Pendidikan Berdasarkan Lulusan Pendidikan Umum Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut tingkat pendidikan berdasarkan lulusan pendidikan umum dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini :

59

Tabel 7 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Berdasarkan Lulusan Pendidikan Umum Sekolah Taman Kanak-kanak Sekolah Dasar SMP / SLTP SMA / SLTA Akademi / DI D3 Sarjana (SI - S3) Jumlah Total 2836 661 1370 3043 547 1814 10271 % 28 6 13 30 5 18 100%

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 7 di atas dapat dijelaskan bahwa berdasarkan tingkat pendidikan (lulusan pendidikan umum) tingkatan SMA (Sekolah Menengah Atas) / SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) adalah yang terbanyak sekitar 3043 orang. Lulusan Sarjana (S1 S3) sebanyak 1814 orang. Dan Lulusan Akademi / DI-D3 sebanyak 547 orang. Dari lulusan sarjana yang berjumlah 1814 orang bisa terlihat tingkat pendidikan tergolong cukup banyak. Dan Lulusan SMA/SLTA adalah yang terbanyak di kelurahan Tegalrejo ini. Jadi terdapat perhatian terhadap jenjang pendidikan sekolah disini. Walaupun terbanyak sampai pada tingkat SMA tetapi hal ini mengindikasikan adanya keinginan masyarakat untuk bersekolah dan mengenyam pendidikan. Pendidikan adalah merupakan salah satu yang faktor berpengaruh dalam kehidupan

60

sosial ekonomi masyarakat, karena pendidikan tertinggi yang ditamatkan merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal. 5. Komposisi Penduduk Kelurahan Tegalrejo Menurut Tingkat Pendidikan Berdasarkan Lulusan Pendidikan Khusus Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut tingkat pendidikan berdasarkan lulusan pendidikan khusus, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini : Tabel 8 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Berdasarkan Lulusan Pendidikan Khusus Sekolah Pondok Pesantren Madrasah Sekolah Luar Biasa Kursus/ Keterampilan Jumlah Total 17 31 11 297 356 % 5 9 3 83 100%

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 8 di atas terlihat jumlah penduduk berdasarkan lulusan pendidikan khusus terbanyak adalah pada kursus / keterampilan sebanyak 297 orang. Dilanjutkan pada lulusan madrasah sekitar 31 orang. Dari data ini terlihat bahwa kursus /keterampilan menjadi salah satu tingkat pendidikan yang ditempuh sebagian masyarakat yang berorientasi pada dunia kerja. Jadi masyarakat melihat factor pekerjaan atau cepat mencari kerja bisa ditempuh salah satu caranya dengan mengikuti kursus /

61

keterampilan, yang pada akhirnya bisa langsung berhadapan atau praktek lapangan di dunia kerja. Dari sini terlihat sudah ada minat pada dunia kewirausahaan dalam masyarakat.

C. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Kondisi Perekonomian masyarakat Kelurahan Tegalrejo dapat dilihat dari mata pencaharian, sektor perdagangan dan jasa, dan sektor keuangan yang ada di masyarakat sedangkan untuk kondisi sosial masyarakat dapat dilihat dari Agama/Penghayat, dan masyarakat yang mengikuti Organisasi Sosial. 2. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Mata Pencaharian Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut mata

pencaharian, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini :

62

Tabel 9 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian Pekerjaan a. Karyawan : PNS ABRI Swasta b. Wiraswasta/Pedagang c. Tani d. Pertukangan e. Buruh Tani f. Pensiunan g. Jasa Jumlah 441 49 1791 1205 10 33 5 303 65 3902 11,3 1,2 45,9 30,9 0,3 0,8 0,1 7,8 1,7 100% Total %

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 9 di atas telihat bahwa mata pencarian sebagai karyawan swasta adalah yang terbanyak sekitar 1791 orang atau sekitar 46 %. Diikuti dengan mata pencaharian sebagai wiraswasta/pedagang sebanyak 1205 orang atau sekitar 31 %. Dari data ini terlihat bahwa pekerjaan sebagai karyawan swasta menduduki peringkat terbanyak dibandingkan dengan PNS yang berjumlah 441 orang. Terlihat disini masyarakat sudah mempunyai jiwa berwiraswasta. Dari usia produktif yang ada di kelurahan Tegalrejo sangat memungkinkan mata pencaharian sebagai wiraswasta akan meningkat. Hal ini terlihat dari data di atas. Semangat untuk bekerja walau sebagai karyawan swasta merupakan jumlah terbanyak dari mata pencaharian yang ada di kelurahan Tegalrejo.

63

Selanjutnya jumlah wiraswasta/pedagang menduduki peringkat yang kedua terbanyak. Jadi semangat wirausaha dari masyarakat jelas terlihat di sini. 3. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Pembangunan Bidang Industri Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut pembangunan bidang industri, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini : Tabel 10 Tabel pembangunan bidang industri Kategori Besar Sedang Kecil Rumah Tangga Jumlah Total 3 1 296 14 314 % 1 0.2 94.3 4.5 100%

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 10 di atas dijelaskan bahwa pembangunan bidang industry yang terbanyak adalah pada sektor industri kecil. Hal ini

menunjukkan bahwa sektor industri kecil menjadi lahan pekerjaan juga bagi masyarakat sekitar. Sekitar 296 orang atau sekitar 94.3% berada pada sektor industri ini diikuti dengan sektor industri rumah tangga sekitar 14 orang atau sekitar 4,5%. 4. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Pembangunan bidang perdagangan

64

Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut pembangunan bidang perdagangan, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini : Tabel 11 Pembangunan bidang perdagangan Kategori Toko Warung Kaki lima Super Market Jumlah Total 19 39 35 2 95 % 20 41 37 2 100%

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 11 di atas dijelaskan bahwa bidang perdagangan membuka usaha warung adalah yang terbanyak yaitu sekitar 39 atau orang 41%. Usaha kaki lima 35 orang atau sekitar 37%. Usaha membuka toko 19 orang atau sekitar 20% dan usaha Super Market ada 2 atau sekitar 2% saja. 5. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Pembangunan Bidang Jasa Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut pembangunan bidang jasa, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini :

65

Tabel 12 Pembangunan Bidang Jasa Kategori Bank Travel biro Notaris Pengacara Koperasi Simpan Pinjam Jumlah Total 2 4 1 1 15 23

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 12 diatas dijelaskan bahwa terdapat 2 bank, 4 travel biro, 1 notaris, 1 pengacara dan koperasi simpan pinjam ada 15 buah. Jadi terlihat disini sector jasa perbankan juga ada di Tegalrejo. Dan yang terbanyak adalah koperasi simpan pinjam sekitar 15 buah. Hal ini bisa dijelaskan bahwa geliat perekonomian di tegalrejo sudah tumbuh sejak lama. Dengan banyaknya koperasi simpan pinjam maka terlihat bahwa masyarakat juga memanfaatkan fasilitas jasa ini untuk mengembangkan dan membuka usaha untuk meningkatkan kesejahteraannya. 6. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut Agama/Penghayat Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo menurut

agama/penghayat, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini :

66

Tabel 13 Jumlah Penduduk menurut Agama/Penghayat Agama Islam Kristen Katholik Hindu Budha Penganut/ penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Jumlah 4768 100% Total 2384 894 1469 11 9 1 % 50 18,75 30,81 0,23 0,19 0,02

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 13 di atas terlihat bahwa berdasarkan agama/penghayat, mayoritas masyarakat memeluk agama Islam sekitar 2384 orang atau 50 %. Diikuti dengan agama Katholik 1469 orang atau sekitar 31 % dan agama Kristen 894 orang atau sekitar 19%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Tegalrejo adalah memeluk agama Islam. Dari prosentasi agama Katholik dan Kristen yang hampir 50% sendiri menunjukkan jika terdapat kerukunan antar umat beragama disini. Hal ini terlihat jelas dengan berjalannya kehidupan masyarakat dengan agama yang berbeda-beda. Jadi agama Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Budha dan penganut kepercayaan bisa berjalan beriringan dan saling menghormati satu sama lainnya. 7. Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo yang mengikuti Organisasi Sosial.

67

Komposisi penduduk Kelurahan Tegalrejo yang mengikuti Organisasi Sosial, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini : Tabel 14 Jumlah Penduduk yang Mengikuti Organisasi Sosial Organisasi Karang Taruna Kelompok PKK Jumlah Total 1 12 13 % 20 80 100%

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 14 di atas terlihat bahwa berdasarkan yang mengikuti organisasi sosial, mayoritas masyarakat mengikuti organisasi sosial kelompok PKK sekitar 12 orang atau sekitar 80 %. Untuk organisasi sosial Karang Taruna hanya diikuti oleh 1 atau orang sekitar 2 %. Hal ini terlihat jelas bahwa hanya sedikit dari jumlah penduduk Kelurahan

Tegalrejo yang mengikuti organisasi sosial.

D. Keadaan Sarana dan Prasarana Kelurahan Tegalrejo 1. Sarana Komunikasi Sarana komunikasi yang ada di Kelurahan Tegalrejo adalah sebagai berikut: TV umum 1 buah, pesawat telpon milik pribadi 3 buah, TV milik pribadi 1080 buah, Radio 1030 buah, Dekorder TV swasta milik pribadi 1170 buah, dan Antena Parabola milik pribadi 13 buah.

68

2. Sarana Transportasi Panjang jalan di Kelurahan tegalrejo tercatat sepanjang 9 km, dengan rincian menurut status jalan adalah Jalan Dusun/Lingkungan 1 km, Jalan Desa 2 km dan Jalan Protokol 3 km dan jalan Propinsi 3 km. Sedangkan jumlah jembatan sebanyak 3 buah. Sedangkan jumlah alat transportasi di Kelurahan tegalrejo sebanyak 1.597 buah alat transportasi dengan rincian 390 buah Sepeda, 37 buah becak, 1.070 buah sepeda motor, 8 buah Taksi, 8 buah mobil dinas, 72 buah mobil pribadi, 3 buah bus kota, 5 buah bus umum, dan 4 buah Truk. 3. Sarana Peribadatan Sarana peribadatan merupakan tempat yang digunakan oleh umat beragama untuk beribadah sesuai dengan ajaran agama mereka masingmasing. Di Kelurahan Tegalrejo, terdapat beberapa sarana peribadatan, yaitu : Mesjid 1 Gedung, Mushalla 10 Gedung, dan Gereja 4 Gedung. Hal ni menunjukkan bahwa di Kelurahan Tegalrejo mayoritas beragama Islam dengan tempat ibadah Mesjid dan Mushollah. 4. Sarana Kesehatan Sarana Kesehatan yang ada di Kelurahan Tegalrejo yaitu terdapat Rumah sakit umum swasta sebanyak 1 buah, Rumah Sakit Bersalin sebanyak 2 buah, Poliklinik Balai Pelayanan Masyarakat sebanyak 2 buah, Laboratorium sebanyak 1 buah, dan Apotek sebanyak 1 buah.

69

5. Sarana Sekolah Sarana pendidikan yang ada di Kelurahan Tegalrejo adalah sebagai berikut : TK (Taman Kanak-kanak) 3 Gedung, SD (Sekolah Dasar) 3 Gedung, SMPT 3 Gedung, dan SMTA 1 Gedung, Tinggi 1 Gedung. E. Keadaan penduduk miskin Kelurahan Tegalrejo Komposisi penduduk miskin Kelurahan Tegalrejo menurut kepala keluarga penduduk miskin/keluarga miskin, dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini : Tabel 15 Jumlah kepala keluarga penduduk miskin/Keluarga miskin Kategori Rentan Miskin Miskin Fakir Miskin Tidak Miskin Jumlah Total 349 198 4 1177 1728 % 20,2 11,5 0,2 68,1 100% Institut/Sekolah

Sumber: Data Monografi Desa dan Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012 Dari tabel 15 di atas terlihat bahwa data penduduk rentan miskin ada 349 orang (20,2%), kategori miskin 198 orang (11,5%) dan fakir miskin 4 orang (0,2%). Hal ini bisa dijelaskan bahwa jumlah penduduk miskin lebih sedikit dari jumlah penduduk rentan miskin. Oleh Karena itu lah sangat dibutuhkan program atau upaya untuk meminimalkan kategori rentan miskin dan miskin ini. Salah satu upaya pengentasan kemiskinan oleh pemerintah yaitu melalui program USEP KM.

70

BAB III PENGENTASAN KELUARGA MISKIN MELALUI USEP KM (Usaha Sosial Ekonomis Produktif Keluarga Miskin)

A. Profil Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo berdiri sejak tahun 2008. Kelompok ini dibentuk oleh Dinas Sosial DIY melalui Seksi Keluarga Bermasalah Sosial semua anggotanya adalah perempuan yang masih berusia produktif, rata-rata berada pada usia 43-50 tahun yang berjumlah sebanyak tiga puluh (30) orang. Prosentase anggota yang tidak memiliki tanggungan dalam keluarga 11%, yang mempunyai tanggungan dalam keluarga 1-3 orang atau 58%, tanggungan dalam keluarga 4-6 orang 23%, dan yang mempunyai tanggungan dalam keluarga 1-10 orang yang 8%. Tanggungan dalam keluarga disini bisa anak, ibu, ayah atau kerabat yang lain. Adapun prosentase agama atau kepercayaan yang dianut oleh anggota adalah 92% beragama Islam dan 8% yang beragama Kristen Katolik. Prosentase tingkat pendidikan anggota yang tamat SD 31%, anggota yang tamat SMP 23%, anggota yang tamat SMA 42%, dan anggota yang tamat DIII 4%. Prosentase status tempat tinggal anggota yang menempati rumah sendiri sebesar 38%, status tempat tinggal sewa 8%, dan satus tempat tinggal yang menumpang sebesar 54%. Untuk prosentase jenis usaha anggota yang mempunyai usaha warung kelontong 25%, jenis usaha jual gorengan 21%, jenis usaha warung makan 25%, jenis

71

usaha kerajinan rumah tangga 8%, jenis usaha pakaian 8%, dan yang jenis usaha rongsokan 13%.56 Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta mempunyai kegiatan dalam setiap bulannya yakni pertemuan rutin kelompok yang bertempat di Kantor Kelurahan Tegalrejo, pertemuan rutin ini terutama membahas berbagai permasalahan yang dihadapi pengurus dan berbagai pandangan dalam mengembangkan usaha, sekaligus melakukan pembayaran cicilan pinjaman, iuran IKS, iuran UKS, tabungan serta arisan sebagai salah satu cara agar ibu-ibu peserta USEP KM merasa termotivasi untuk hadir di pertemuan.57 Adapun susunan pengurus Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta dapat digambarkan dalam bagan berikut ini:

56 Wawancara dengan ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo pada tanggal 3 Februari 2013. 57 Buku laporan pertanggungjawaban bantuan pengembangan modal usaha USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo Tahun 2012.

72

Diagram 1 Struktur Pengurus USEP KM Sejahtera VIII, Tegalrejo Yogyakarta. 58


Ketua Masrikah

Bendahara Sri Herlina

Sekretaris

Rahmi Seksi-Seksi

IKS Sri Suwarsih

Tabungan Sandra

Simpan Pinjam Fitri Daryanti Anggota

Arisan Ratmi

Sosial Supriani C

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Sugini Supriyani Erna Mei Priyana Saniyem Sadarini Sumantini Indi Astuti Yuli Tri Suparyanti Nunuk M Sri Haryati Sasi Supriyati

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Temu Mujirah Tri Wuryani Rahmatiyah Sri Minatun Sri Sukesti Sri Lestari Rini Irnawati Tri Haryati Oni Sumaryati Natalia Tri Astutiningsih Wagiyah

Sumber: Data Primer

58

Ibid.

73

Adapun pembagian tugas yang sesuai dengan aturan dan syarat-syarat tentang kelembagaan kelompok antara lain59: a. Ketua 1. Menyusun rencana kerja 2. Menandatangani surat-surat 3. Menjalankan keputusan rapat 4. Mewakili kelompok dalam berhubungan dengan pihak luar 5. Mengakomodir kerjasama pengurus 6. Memimpin rapat b. Sekretaris 1. Membuat notulen 2. Mewakili ketua jika berhalangan hadir 3. Menyimpan dokumen kelompok 4. Menyiapkan bahan dan tempat rapat 5. Mengarsipkan keluar masuknya surat 6. Membuat laporan kegiatan c. Bendahara 1. Mencatat keluar masuknya uang 2. Menyimpan uang 3. Mencatat dan mengamankan kekayaan kelompok 4. Membuat laporan keuangan 5. Menyusun anggaran dan rencana kerja kelompok

59

Ibid.

74

6. Menerima dan mengeluarkan uang d. Anggota 1. Menghadiri rapat anggota atau kegiatan kelompok 2. Mengembalikan pinjaman 3. Membayar simpanan 4. Menerima pelayanan

B. Upaya Pengentasan Keluarga Miskin Melalui Program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta 1. Upaya Pengentasan Keluarga Miskin Melalui Program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta dapat dijelaskan berdasarkan

perkembangannya sebagai berikut : a. Tahap persiapan dan penumbuhan Tahap persiapan dan penumbuhan ini dimulai dari awal pembentukan Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta, setelah sosialisasi dilakukan oleh Dinas Sosial DIY ke kelurahan Tegalrejo, dan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang telah ditunjuk sebagai pendamping kelompok USEP KM anggota kelompok mengadakan rapat untuk menyusun kegiatan usaha kelompok dan kemudian diajukan kepada Dinas Sosial DIY. Ibu Mumun selaku pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII menjelaskan bahwa proses pembentukan USEP KM Sejahtera VIII adalah berawal dari permintaan dari Dinsos Propinsi

75

DIY untuk mengumpulkan 30 orang pedagang kecil dan tidak mampu di kelurahan. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun : Proses pembentukan USEP KM Sejahtera VIII adalah berawal dari permintaan dari Dinsos Propinsi DIY untuk mengumpulkan 30 orang pedagang kecil dan tidak mampu di kelurahan. Proses kegiatannya pada tahun 2008. Penentuan anggota pada saat itu berdasar pada kepemilikan KMS atau Kartu Menuju Sejahtera. pada saat itu dari Dinsos Provinsi meminta ada pendampingan dari kelurahan. Pada akhirnya Ibu Mumun dan Ibu Bibit diminta untuk mendampingi kelompok USEP KM. Setelah itu kita mengikuti pelatihan sebagai pendamping kelompok USEP KM. Setelah selesai mengikuti pelatihan, baru kita disuruh mencari 30 orang yang tidak mampu dan mempunyai usaha kecil. Setelah itu, data diberikan kepada Dinsos Propinsi DIY kemudian diseleksi lagi. Data yang tidak lolos seleksi diminta untuk diganti dengan anggota yang lain. Akhirnya saya mencari lagi anggota yang sesuai dengan persyaratan yang ada. Jadi 30 orang anggota yang diajukan tersebut harus produktif dan tidak boleh lanjut usia (lansia). Walaupun lansia yang diajukan sudah mempunyai usaha tetap tetap tidak lolos dalam seleksi, hal ini karena penjelasan dari Dinsos DIY untuk USEP Lansia sudah ada tempatnya. Jika di USEP KM ini yang menjadi persyaratan adalah ibu-ibu yang masih produktif, masih mempunyai anak yang bersekolah, dan yang masih mempunyai usaha.60

Bahwa pada saat itu diadakan sosialisasi dari pendamping dan Dinsos DIY tentang program USEP KM di kelurahan. Berikut petikan wawancara dari Ibu Masrikah : Pada saat itu diadakan sosialisasi dari pendamping dan Dinsos DIY tentang program USEP KM di kelurahan sekitar tahun 2008. Jadi melalui pendamping yaitu Ibu Mumun program USEP KM ini dijelaskan dan apa saja yang menjadi syarat-syaratnya. 61

60 Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013. 61 Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013.

76

Ibu Masrikah menjelaskan bahwa yang dipersiapkan pertama kali untuk menjadi anggota kelompok USEP KM adalah mempunyai usaha. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Masrikah : Pada awalnya saya membantu usaha warung milik ibu mertua. Karena ibu mertua sudah lanjut usia, usaha warung pun tutup. Selanjutnya saya berjualan barang yang dititipkan teman atau kerabat seperti baju-baju dan jilbab. Jadi yang saya persiapkan pertama kali adalah mempunyai usaha. Dengan adanya usaha jualan seperti ini bisa menjadi salah satu syarat USEP KM. 62

Ibu Sri Suwarsih selaku anggota juga menjelaskan bahwa persiapan awal adalah mempunyai KMS (Kartu Menuju Sejahtera). Berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih : Karena pendamping mengetahui jika saya mempunyai KMS maka saya bisa menjadi anggota USEP KM. jadi persiapan awal adalah mempunyai KMS (Kartu Menuju Sejahtera). Setelah itu saya bisa didaftarkan menjadi anggota USEP KM.63

Sama dengan Ibu Sri Suwarsih, Ibu Sasi Supriyati juga menjelaskan jika pertama dulu beliau menjadi anggota USEP KM karena mempunyai KMS (Kartu Menuju Sejahtera). Berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih : Pada awalnya saya berjualan bensin dan dicatat telah mempunyai usaha oleh pendamping. Usaha berjualan bensin tersebut telah saya jalankan sejak tahun 1998. Setelah menjadi anggota USEP KM saya membuka usaha angkringan dan sudah berjalan tiga tahun lebih. Jadi pertama kali dahulu untuk menjadi

62 Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013. 63 Wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013.

77

anggota USEP KM karena mempunyai KMS (Kartu Menuju Sejahtera).64

Ibu Sri Minatun juga menjelaskan jika pertama kali dahulu persiapan awal adalah mempunyai usaha, dan beliau telah membuka usaha warung dan warungnya di foto oleh pendamping untuk menjadi salah satu syarat bisa menjadi anggota USEP KM. berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Minatun: Pertama kali dahulu persiapan awal saya adalah mempunyai usaha, dan saya telah membuka usaha warung. selanjutnya warung saya difoto oleh pendamping untuk menjadi salah satu syarat USEP KM tadi.65

Dari wawancara kepada narasumber di atas, terlihat bahwa persiapan awal yang dimiliki oleh anggota yang akan tergabung dalam USEP KM harus mempunyai KMS (Kartu Menuju Sejahtera) dan usaha yang sedang dijalankannya. Sesuai dengan petunjuk pelaksaan USEP KM dari Dinsos DIY, maka anggota harus mempunyai usaha agar bisa mendapatkan dana dari USEP KM tersebut. jadi ada kesesuaian antara penentuan anggota yang bisa menjadi anggota dengan persyaratan dari Dinsos di atas. Prosedur dan syarat tertuang dalam buku Laporan Kegiatan Pelatihan Ketrampilan Berusaha Bagi Keluarga Miskin Tahun 2010. Dinas Sosial Provinsi DIY.66

Wawancara dengan Ibu Sasi Supriyati selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 4 Februari 2013. 65 Wawancara dengan Ibu Sri Minatun selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 6 Februari 2013. 66 Buku Laporan Kegiatan Pelatihan Ketrampilan Berusaha Bagi Keluarga Miskin Tahun 2010. Dinas Sosial Provinsi DIY.

64

78

Pertemuan kelompok USEP KM bertempat di kantor kelurahan. Ada 6 kali pertemuan bersama dengan Dinas Sosial Propinsi Yogyakarta. Dari bulan Juli sampai dengan bulan September sering diadakan pertemuan. Pada waktu itu sebelum program USEP KM diluncurkan sudah ada pertemuan dengan membentuk kelompok arisan. Baru satu bulan setelah itu kelompok USEP KM terbentuk. Walaupun anggarannya belum ada tapi pada akhirnya mempunyai dana sekitar 1 juta dari hasil swadaya anggota. Untuk pembuatan proposal misalnya setiap anggota urunan masing-masing Rp. 10.000,-. Jadi untuk setiap ada biaya tidak terduga atau penunjang kegiatan diadakan iuran anggota.67

Berdasarkan wawancara dengan bu Mumun

di atas menjelaskan

bahwa proses penumbuhan kelompok USEP KM berlangsung selama kurang lebih 3 bulan (Juli- September) dengan enam kali pertemuan yang bertempat di kantor lurah Tegalrejo. Meskipun bantuan dana belum turun, akan tetapi pertemuan kelompok telah berlangsung, yakni dengan membentuk kelompok arisan. Untuk mengurus administrasi, kelompok mempunyai dana sebesar Rp. 1.000.000,- hasil dari swadaya anggota yang dipergunakan untuk proposal dan keperluan lain-lain. Pada bulan September hasil dari pengajuan proposal ini kemudian dicairkan dana usaha sebanyak Rp. 22.500.000,- melalui rekening BRI milik kelompok yang kemudian baru diambil Rp. 15.000.000,- untuk dibagikan kepada seluruh anggota untuk dipakai sebagai modal usaha, sisanya masih disimpan di Bank.68 Pertemuan kelompok juga rutin dilaksanakan sehingga secara teknis pelaksanaan kegiatan berjalan baik.

Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013. 68 Ibid.

67

79

Pendekatan yang dapat dilakukan dalam pemberdayaan keluarga yaitu melalui mekanisme kelompok. Pendekatan ini secara sosiologis banyak membantu individu untuk belajar satu sama lain, sehingga mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Sebagimana dikemukakan oleh Iver and Page dalam Soekanto, bahwa anggota dalam sebuah kelompok akan mengalami hubungan timbal balik, saling mempengaruhi serta tumbuh kembangnya kesadaran untuk saling menolong. Pemikiran Iver and Page ini didukung oleh Cooley dalam Soekanto, bahwa dengan terbentuknya kelompok, tujuan anggota secara individu akan menjadi tujuan kelompok. Berdasarkan pemikiran tersebut, pendekatan menjadi lebih efektif dalam pemberdayaan keluarga, karena di dalam kelompok terjadi proses belajar secara intensif baik yang bersifat ekonomi, sosial budaya maupun mental/moral. Melalui sebuah kelompok, ambisi individu dapat dikendalikan dan sebaliknya mengedepankan

kepentingan bersama yang dicapai secara bersama-sama.69 Pendekatan kelompok dalam pemberdayaan keluarga ini menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan oleh Kementrian Sosial. Alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam pendekatan kelompok, yaitu dengan memberikan kesempatan pada anggota kelompok untuk mengelola usahanya secara mandiri dan atau melibatkan anggota keluarganya, namun tetap dalam mekanisme
Suradi, dkk., Pemberdayaan Keluarga: Studi Evaluasi di Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur (Jakarta : P3KS Press, 2010), hlm. 13.
69

80

kelompok. Pada perspektif ini, kelompok dilihat bukan secara fisik akan tetapi secara fungsional. Dengan kata lain, pengertian kelompok bukan pada himpunan dari sejumlah individu, tetapi lebih pada fungsi yang dijalankan oleh anggota melalui kelompoknya. 70 b. Tahap Pengembangan Pada tahap ini usaha kelompok maupun anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta telah mengalami perkembangan, modal usaha yang pada awalnya sebanyak Rp. 22.500.000 telah berkembang. Tahap ini terjadi pada tahun ketiga pelaksanaan program tepatnya pada tahun 2010. Saat itu modal telah berkembang menjadi Rp. 26.250.000,yakni adanya tambahan dari laba sebesar Rp. 3.750.000,- dari modal awal pertama penumbuhan, melihat adanya peningkatan dari segi laporan keuangan, kelompok ini mendapatkan bantuan dana pengembangan dari Dinas Kota Yogyakarta sebesar Rp. 10.000.000,-. Kemudian setahun berikutnya, yakni tahun 2011, kembali mendapatkan bantuan dana pengembangan dari Dinas Sosial DIY sebesar Rp. 29.000.000,- pada saat itu laba dari keuangan kelompok sebesar Rp. 6.313.000,-. Keuangan kelompok sampai pada bulan Desember 2012 sebesar Rp. 68.336.000,dengan laba 6.836.000.71

Jadi dari wawancara di atas bisa dijelaskan bahwa program USEP KM Sejahtera VIII kelurahan Tegalrejo ini telah berjalan sejak tahun 2008 sampai sekarang. Dari awal bantuan dana usaha penumbuhan USEP KM sampai dengan pengembangan. Jadi ada kejelasan dalam kegiatan USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo Yogyakarta.
70

Ibid., hlm. 13. Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013.
71

81

Hal ini sesuai dengan tujuan dari Dinsos Propinsi DIY yang tertuang dalam buku petunjuk pelaksanaan USEP KM Dinas Sosial DIY bahwa Dinas Sosial Provinsi DIY berusaha membina, meningkatkan bobot keterampilan, dan mengentaskan warga masyarakat yang kurang mampu agar dapat membuka diri, menerima petunjuk, dan meningkatkan bobot dan keterampilan di bidang usaha sosial ekonomis produktif bagi keluarganya yang masih miskin, yang selanjutnya kelompok mereka ini dapat disebut kelompok USEP KM.72 Jadi antara elemen-elemen masyarakat dengan pemerintah atau Dinsos ada kerjasama yang terjalin dengan baik yang pada akhirnya program USEP KM ini bisa berjalan sampai sekarang di Kelurahan Tegalrejo.

2. Keanggotaan USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo Yoyakarta Ibu Mumun selaku pendamping kelompok juga menjelaskan tentang keanggotaan USEP KM yang harus terbentuk 30 orang anggota, berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun : Keanggotaan USEP KM yang harus terbentuk 30 orang anggota, dan pada akhirnya dana USEP KM bisa turun sebesar Rp. 22.500.000,-.

Lebih lanjut Ibu Mumun juga menjelaskan bahwa untuk pemilihan pengurus USEP KM Sejahtera VIII berdasarkan pada asas kekeluargaan dan suara terbanyak. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun :

72

Ibid.

82

Jadi setelah terbentuk 30 orang anggota, maka diadakan voting atau pemilihan ketua berdasarkan suara terbanyak. Selanjutnya memilih sekretaris dan bendahara. Untuk periode kepengurusan selama 3 tahun. Kepengurusan yang sudah dibentuk berdasarkan pada kesepakatan bersama antara anggota dan pendamping kelompok. Dinsos Propinsi tidak ikut campur dalam pemilihan pengurus USEP KM ini. Jadi Dinsos DIY hanya membutuhkan laporan bahwa di tempat tersebut ada anggota berjumlah 30 orang, syarat-syarat terpenuhi dan akhirnya dana bantuan USEP KM bisa diturunkan. Untuk pemilihan pengurus USEP KM Sejahtera VIII berdasarkan pada asas kekeluargaan dan suara terbanyak. Jadi ada tenggang rasa antar anggota. 73

Lebih lanjut Ibu Mumun juga menjelaskan bahwa dalam setiap pertemuan rutin kelompok USEP KM disampaikan materi-materi cara berdagang yang baik, berorganisasi dengan benar. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun : Dalam setiap pertemuan rutin kelompok biasanya disampaikan materi-materi tentang dunia perdangan dan keterampilan yang berhubungan dengan usaha kita. Misalnya jika dagangannya bangkrut lalu segera mencoba usaha yang lain dan jangan sampai putus asa dan berhenti begitu saja. Mencoba berdagang lagi, siapa tahu keberuntungan itu ada di tempat lain.74

Jadi keanggotaan USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo sudah mengacu pada persyaratan dari Dinsos DIY. Dengan syarat yang telah ditentukan maka masyarakat yang sesuai kategori bisa menjadi anggota USEP KM. Misal dengan mempunyai KMS (Kartu Menuju Sejahtera) dan usaha yang dijalankan maka bisa menerima dana bantuan dari USEP

73 74

Ibid. Ibid.

83

KM. Penjelasan ini sesuai dengan yang tertuang di Buku Petunjuk dari Dinas Sosial Provinsi DIY tentang Pelaksanaan Program USEP KM.75

C. Faktor-Faktor

yang

Mempengaruhi Keluarga

Miskin

Mengikuti

Program USEP KM Di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta Faktor-faktor yang mempengaruhi keluarga miskin mengikuti

program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta antara lain sebagai berikut : 1. Informasi dari Pendamping Kelompok USEP KM Program USEP KM pertama kali diperkenalkan oleh pendamping USEP KM yang ditunjuk langsung oleh DINSOS DIY. Hal ini disampaikan oleh Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo. Berikut penjelasan dari Ibu Masrikah : Pada awalnya, informasi didapatkan dari pendamping USEP KM. Kemudian saya diminta untuk mengisi daftar selebaran dari pendamping. Pendamping hanya memberikan daftar isian bagi ibu rumah tangga yang mempunyai KMS (Kartu Menuju Sejahtera) dan mempunyai usaha. Kemudian yang diberi daftar isian di undang untuk berkumpul di kelurahan. Undangan ini ternyata adalah sebuah sosialisasi tentang program USEP KM oleh Dinsos DIY, pendamping dilatih terlebih dahulu untuk merekrut anggota di daerahnya, dalam hal ini Kelurahan Tegalrejo. Sosialisasi tersebut dilaksanakan sekitar awal pertengahan tahun 2008. selanjutnya ibu Mumun dari PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) mengajak saya untuk mengikuti program USEP KM.76

75 Buku Laporan Kegiatan Pelatihan Ketrampilan Berusaha Bagi Keluarga Miskin Tahun 2010. Dinas Sosial Provinsi DIY. 76 Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013.

84

Senada dengan penjelasan dari Ibu Masrikah di atas, Ibu Sri Suwarsih77 dan Ibu Sasi Supriyati78 selaku anggota aktif kelompok USEP KM juga menjelaskan hal yang sama. Jadi mereka diundang ke kelurahan untuk mengikuti sosialisasi program USEP KM di kelurahan Tegalrejo. Beda halnya dengan Ibu Sri Minatun yang juga anggota aktif USEP KM, beliau menjelaskan pertama kali mengetahui dan berminat untuk ikut program USEP KM setelah bertemu dengan Ibu Masrikah. 79 Dari wawancara kepada narasumber di atas dapat dijelaskan bahwa melalui pendamping kelompok yang ditunjuk oleh Dinsos DIY, anggota bisa mengetahui informasi tentang USEP KM dan tertarik untuk masuk menjadi anggota. Tentunya yang bisa menjadi anggota adalah yang sudah mempunyai usaha dan termasuk keluarga miskin serta bisa ditunjukkan dengan mempunyai KMS. Dari penjelasan narasumber di atas, maka peran pendamping kelompok sangat penting di sini. Hal ini seperti yang tertuang dalam buku laporan kegiatan pelatihan ketrampilan berusaha bagi keluarga miskin Tahun
2010 Dinas Sosial Provinsi DIY . Di dalamnya dijelaskan bahwa salah satu
80

ciri USEP KM dikatakan dalam keadaan tumbuh jika sudah mempunyai pendamping kelompok USEP KM.

Wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013. 78 Wawancara dengan Ibu Supriyati selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 4 Februari 2013. 79 Wawancara dengan Ibu Sri Minatun selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 6 Februari 2013. 80 Buku Laporan Kegiatan Pelatihan Ketrampilan Berusaha Bagi Keluarga Miskin Tahun 2010. Dinas Sosial Provinsi DIY.

77

85

Salah satu unsur di dalam kegiatan USEP KM adalah pendamping pada tingkat provinsi, kabupaten/kota dan desa/ kelurahan. Rekruitmen pendamping dari lingkungan birokrasi pada instansi sosial provinsi maupun kabupaten/kota tentu tidak efektif. Kesibukan mereka

melaksanakan tugas-tugas administrasi, tidak memungkinkan mereka melaksanakan intervensi langsung kepada WKBS secara intensif. Pendamping seyogyanya adalah orang-orang yang melaksanakan

intervensi langsung atau tugas-tugas teknis pendampingan di lapangan, dan memiliki banyak waktu untuk melakukan pendampingan secara intensif. Oleh karena pendamping melaksanakan tugas-tugas teknis pendampingan, maka mereka mestinya menguasai metode dan teknikteknik intervensi langsung dalam pemberdayaan masyarakat atau intervensi komunitas. Kalaupun mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan pekerjaan sosial, sekurang-kurangnya mereka memiliki pengamalan yang memadai di bidang intervensi komunitas. 81 Di dalam konteks pemberdayaan sosial dalam perspektif pekerjaan sosial, pendamping adalah pekerja sosial yang karena itu mereka melaksanakan peranan sebagai pekerja sosial. Ada beberapa peranan yang mestinya dilaksanakan oleh pendamping, antara lain peranan sebagai fasilitator, pemberdaya, mediator dan motivator).82 Jadi peran

pendamping disini dalam memberikan informasi kepada masyarakat atau sosialisasi tentang USEP KM sangatlah penting. Jadi masyarakat menjadi
Suradi, dkk., Pemberdayaan Keluarga: Studi Evaluasi di Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur (Jakarta : P3KS Press, 2010), hlm. 100. 82 Ibid. hlm. 100.
81

86

lebih paham dengan program USEP KM ini karena informasi dari pendamping yang sudah dikenal baik dalam lingkungan masyarakat tersebut.

2. Adanya dana pinjaman melalui USEP KM dengan bunga yang rendah dan tidak ada jaminan. Salah satu faktor WKBS bergabung dalam kelompok USEP KM karena adanya dana pinjaman melalui USEP KM dengan bunga yang rendah, Berikut penjelasan dari Ibu Mumun: Bunga pinjaman seperti yang ada di bank BRI sebesar 1%. Hal ini bertujuan agar tidak memberatkan anggota dan pada akhirnya bunga yang 1% tersebut akan kembali ke anggota juga. Jadi bunga yang 1% tersebut akan kembali ke anggota dan yang setengahnya akan masuk ke saham anggota. Setengahnya dibagi lagi dimana yang seperempat untuk bunga tabungan dan seperempatnya lagi untuk jasa bagi yang meminjam dan untuk pengurus yang mengelola uang tersebut.83

Senada dengan penjelasan dari Ibu Mumun, Ibu Masrikah menjelaskan bahwa karena di program USEP KM tersebut ada dana yang bunga pinjamannya rendah. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Masrikah: Pada awalnya kan ada dana. Dari Dinsos melalui USEP KM diberikan pinjaman dana hibah. Yang istilah disini adalah dana yang tidak diberikan tanggung jawab didalamnya dan pemerintah tidak meminta pengembalian dana yang telah diberikan tetapi dikelola untuk kemajuan kelompok USEP KM. Ya menurut saya pribadi ya bisa terbantu, karena kalo kita pinjam tu ga usah ribet kayak di kalo kita ambil di KUR itu kan perlu
Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013.
83

87

jaminan, agunan rata-rata lek disana bunganya memang bunganya bersaing 1 % sama-sama rendah tapi kan nek bunga di USEP kan buat kita sendiri. Bunga 1% ditentukan kelompok, bareng-bareng pendamping ngusulkan kelompok setuju, karena dia kan sudah tau seluk beluk dilatih dulu, satu persen ya ringan kan, bunga juga buat kita sendiri, untuk anggota sendiri juga.84

Ibu Sri Minatun juga menjelaskan alasannya mengikuti program USEP KM karena ada tambahan modal dengan bunga sedikit. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Minatun : Itu kan cuman ditambahin modal untuk bantuan dibantu dipinjamin tapi ya dikembalikan tapi bungaya kan dikit.

Ibu Sri Suwarsih juga menjelaskan alasannya mengikuti program USEP KM karena bisa mengisi dagangannya. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih : Yang menarik lainnya adalah adanya pinjaman yang tidak rumit dan bunga yang ringan sekitar 1%. Akhirnya sampai sekarang saya bisa mengisi dagangan saya. Trus kalo mau pinjem uang ga sulit, ga ribet ga pake jaminan 85 Dari penjelasan narasumber di atas maka bisa dikatakan bahwa salah satu hal yang menarik bagi anggota dalam USEP KM ini adalah adanya dana pinjaman untuk mengembangkan usahanya dan untuk proses peminjamannya tidak rumit dan bunganya ringan. Hal ini tentu sangat membantu anggota dalam mengembangkan usahanya agar lebih maju lagi.

Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013. 85 Wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013.

84

88

D. Dampak Program USEP KM terhadap Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Miskin di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta Dampak program USEP KM terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta antara lain sebagai berikut : a. Dampak Secara Ekonomi 1. Berpengaruh terhadap budaya menabung Ibu Masrikah menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini berpengaruh terhadap budaya menabung. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Masrikah: Dengan adanya tabungan maka kita bisa memberikan semangat untuk menyimpan uang dan bekerja lebih giat lagi. Secara tidak langsung ini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab. Jika anggota ingin meminjam uang harus mempunyai tabungan terlebih dahulu dan hal ini tentu akan memunculkan budaya menabung bagi anggota kelompok.86

Ibu Sri Suwarsih juga menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini jelas berpengaruh terhadap budaya menabung. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih: Saya menabung di pertemuan Dasa Wisma, di PKK RT. Beliau menabung di RT sekitar Rp.10.000,- dan di Dasa Wisma Rp.20.000,- dan di USEP Rp.10.000,-87

Ibu Sasi Supriyati juga menjelaskan bahwa melalui anaknya beliau menabung di AXA Mandiri dan ada asuransinya. 88
86 Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013. 87 Wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013.

89

Jadi dari wawancara dengan narasumber di atas maka dapat dijelaskan dengan program USEP KM ini secara langsung maupun tidak langsung dapat menumbuhkan budaya menabung dari anggota USEP KM. Menurut Kasmir dalam bukunya: Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Pengertian tabungan adalah penarikanya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati maksudnya adalah untuk dapat menarik uang yang disimpan di rekening tabungan antar satu bank dengan bank yang lainnya berbeda, tergantung dari bank yang mengeluarkanya hal ini sesuai dengan perjanjian sebelumya yang telah dibuat oleh bank.89 Pengertian dari tabungan dalam UU Pokok Perbankan No.10 Tahun 1998 Bab I Pasal I Butir 5 : Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro atau alat pembayaran lain yang dapat dipersamakan dengan itu.90 Menurut Lukman Dendawijaya dalam bukunya yang berjudul Manajemen Perbankan, Tabungan adalah simpanan pihak ketiga

Wawancara dengan Ibu Sasi Supriyati selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 4 Februari 2013. 89 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya , (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 84. 90 Undang-Undamg Pokok Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan , Sinar Grafika, Jakarta.

88

90

yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.91 Dari pengertian-pengertian diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa tabungan adalah simpanan masyarakat pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan berdasarkan syarat-syarat tertentu yang telah disepakati oleh bank dan nasabah dimana nasabah akan mendapat kontraprestasi berupa bunga dan asuransi jiwa bebas premi bagi penabung yang memiliki saldo tabungan kelipatan. Berkaitan dengan konsep kebutuhan, selain kebutuhan dasar ada jenis kebutuhan yang juga memerlukan pemenuhan. Menurut Haryanto dan Tamrin, jenis kebutuhan dimaksud, yaitu kebutuhan sosial-psikologis dan kebutuhan pengembangan. Termasuk di dalam kebutuhan sosial psikologis, yaitu pendidikan, rekreasi, transportasi, interaksi sosial internal dan eksternal. Sedangkan kebutuhan pengembangan, yaitu tabungan, pendidikan khusus/kejuruan dan akses terhadap informasi.92

2. Meningkatkan kesejahteraan anggota USEP KM dan keluarganya Ibu Mumun selaku pendamping kelompok menjelaskan bahwa dengan USEP KM dapat meningkatkan pendapatan dan memenuhi

91 Lukman Dendawijaya, 2003 Manajemen Perbankan, (Jakarta : Penerbit Ghalia Indonesia, 2003) 92 Suradi dan Mujiyadi, Pemberdayaan Masyarakat Miskin : Studi Evaluasi Penanggulangan Kemiskinan di Lima Provinsi. ( Jakarta : P3KS Press, 2009),, hlm. 18-19.

91

kebutuhan dasar kelurga. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun: Jadi anggota merasa terbantu sekali. Kalau pinjam melalui bank membutuhkan jaminan, sedang jika meminjam melalui USEP KM tidak memerlukan jaminan. Jadi dengan USEP KM ini dapat meningkatkan pendapatan dan memenuhi kebutuhan dasar kelurga. 93

Ibu Masrikah selaku ketua kelompok pun menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini dapat meningkatkan kemampuan anggota dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Masrikah: Saya berpikir jika anggota diberi modal dengan bunga rendah dan modalnya untuk laba dan anggota sendiri. Peningkatan itu tergantung kepada mereka sendiri. Hal ini ini tentunya dapat meningkatkan kemampuan anggota dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. 94

Senada dengan penjelasan Ibu Masrikah di atas, Ibu Sri Suwarsih95, Ibu Sasi Supriyati96 dan Ibu Sri Minatun97 juga menjelaskan hal yang sama bahwa dengan USEP KM bisa meningkatkan kesejahteraan anggota dan keluarganya. Hal ini ditunjukkan dengan tetap berjalannya usaha masing-masing anggota dan berjalannya kegiatan kelompok USEP KM sampai sekarang.
Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013 94 Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013 95 Wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013 96 Wawancara dengan Ibu Sasi Supriyati selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 4 Februari 2013 97 Wawancara dengan Ibu Sri Minatun selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 6 Februari 2013
93

92

Dari wawancara di atas bisa dijelaskan bahwa dengan USEP KM dapat meningkatkan kesejahteraan anggota dan keluarganya. Hal ini tentu sangat bermanfaat juga dalam upaya untuk terus mengembangkan usahanya agar semakin maju. Dengan adanya suatu kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan bersama, program USEP KM ini tentu mempunyai nilai dan manfaat. Semangat yang muncul dari anggota untuk mengikuti USEP KM tentu berlatar belakang dari faktor-faktor di atas. Dimana ada keinginan dari anggota pada akhirnya akan memunculkan semangat dan motivasi untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pembangunan kesejahteraan rakyat yang di dalamnya termasuk sektor kesejahteraan sosial dilaksanakan untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional, yaitu meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian posisi pembangunan kesejahteraan sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan pembangunan nasional, dan ikut menentukan keberhasilan

nasional. Pembangunan kesejahteraan sosial di

Indonesia dilaksanakan dengan filosofi kesejahteraan sosial adalah hak bagi setiap warga negara atau welfare for all. Atas dasar filosofi tersebut, maka fakir miskin sebagai warga Negara Indonesia berhak atas kesejahteraan sosial sebagaimana warga Negara Indonesia pada umumnya. Mereka memiliki hak untuk hidup sejahtera, yang ditandai dengan terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial untuk

93

dapat hidup secara layak dan mampu mengembangkan diri, serta mampu melaksanakan fungsi sosialnya. 98 Keluarga merupakan satuan sosial budaya terkecil yang menjadi bagian masyarakat. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka konsep-konsep umum yang berlaku di dalam masyarakat, dapat digunakan dalam upaya memahami sebuah keluarga. Sehubungan dengan itu, maka untuk memberikan pengertian tentang kesejahteraan keluarga, masyarakat dapat atau digunakan pengertian sosial. tentang kesejahteraan sosial keadaan

kesejahteraan

Kesejahteraan yaitu suatu

didefinisikan sebagai kondisi sejahtera,

terpenuhiya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan perawatan kesehatan. Kemudian di dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Kesejahteraan Sosial didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Berdasarkan definisi tersebut, kesejahteraan keluarga dapat

didefinisikan sebagai suatu keadaan terpenuhinya kebutuhan material (makan, pakaian, tempat tinggal kesehatan), spiritual dan sosial pada

98

Suradi dan Mujiyadi, Pemberdayaan, hlm. 1.

94

keluarga agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.99 Haryanto dan Tamagola memberikan definisi, bahwa keluarga sejahtera adalah dibentuk berdasarkan perkawinan yang syah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan yang sama, selaras, seimbang antar anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan. Berdasarkan definisi tersebut, definisi keluarga terdiri dari dua unsur, (1) kelembagaan keluarga yang terbentuk dari perkawinan yang syah, dan (2) kemampuan memenuhi kebutuhan material, spiritual dan sosial.100 Direktorat kesejahteraan Pemberdayaan sebagai Keluarga kemampuan mendefinisikan keluarga dalam

keluarga

melaksanakan peranan dan fungsi sosialnya melalui pemenuhan kebutuhan pemecahan dasar, penjangkauan partisipasi sistem sosial sumber, dalam penyadaran komunitas,

masalah,

pengembangan investasi dan asset, serta keikutsertaan dalam pengambilan keputusan dalam komunitas. Dimensi dalam definisi keluarga sejahtera tersebut akan sangat ditentukan oleh pelaksanaan fungsi dan peranan keluarga, baik di dalam keluarga sendiri (internal)

99

100

Suradi, dkk. Pemberdayaan, hlm. 14. Ibid., hlm. 14.

95

maupun dalam hubungan dengan lingkungan sosial yang lebih luas (eksternal).101

3. Dapat menyelesaikan permasalahan perekonomian di lingkungan kelompok USEP KM. Ibu Mumun selaku pendamping kelompok menjelaskan bahwa dengan USEP KM dapat mengentaskan kemiskinan. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun: Keluarga miskin terbantu sekali dengan USEP KM ini. Asalkan pinjaman dari USEP KM ini digunakan sebagai modal usaha dan untuk mengembangkan usaha, tentu saja akan mengurangi angka kemiskinan. Anggota yang masih aktif sekarang ini menunjukkan bahwa mereka menggunakan bantuan dengan benar dan untuk tujuan mengembangkan usahanya.102

Ibu Sri Suwarsih juga menjelaskan bahwa bisa dikatakan melalui USEP KM bisa mengentaskan keadaan anggotanya yang kurang layak atau miskin menjadi lebih baik dan ada peningkatan. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih: Melalui USEP KM bisa mengentaskan keadaan anggotanya yang kurang layak atau miskin menjadi lebih baik dan ada peningkatan harapan kedepan semoga semua berjalan lancar.103

Ibu Masrikah juga menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini selain bisa membantu anggota juga bisa membantu warga yang ada di
Ibid., hlm. 14-15. Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013. 103 Wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013.
102 101

96

lingkungan sekitar kelompok, berikut petikan wawancara dengan Ibu Masrikah: USEP KM ini ada pinjeman diluar anggota, dulu kan belum ada LKM, terus saya mikir kan tujuan ini kan untuk membantu usaha ekonomi keluarga miskin, terus uang daripada di bank kan bunganya kadang ibaratnya malah kadang ada potongan, ternyata dia punya usaha dan rata-rata memang ekonominya menengah ke bawah nah istilahnya saya bantu intinane biar dia ada usaha disitu meringankan beban mereka, alhamdulillah lancar, mayoritas yang saya kasih bantu punya usaha, dia tahu usepnya saya beda disitu, disini kan ada dua usep bukan cuman anggota diluar anggota juga menikmati, ini dana dari pemerintah dibantukan untuk mereka dengan bunga rendah. Awal pinjeman diluar anggota, Nganu kan kadang tahu mbok saya dipinjemin modal mbak, iya dengan konsekuensi tapi kan nek untuk diluar anggotakan yang pertama ga banyak paling 500 waktu tiga bulan, kok lancar ditambah, lancar.. kalo ga lancar resiko kita soalnya kan mereka bukan anggota, saya harus tanggungjawab sama anggota, saya utamakan anggota dulu anggota sudah tercover dia pinjam ada uang, uang itu kan tersisa daripada di bank kan, dimanfaatkan buat yang lain pokoknya selama ini ga ada komplain, karena mereka pinjam ada uang nanti dingeleharap besok pinjamnya ndadak nek saya tahu dia sudah masih dua kali saya catet sudah dipersiapkan kalu ndadak pinjemnya besarkan sudah ga bisa Jadi dari wawancara dengan narasumber di atas bisa dijelaskan bahwa dengan program USEP KM ini bisa mengentaskan kemiskinan khususnya di lingkungan kelompok USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo Yogyakarta. Undang-Undang Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial mengatur secara khusus Penanggulangan Kemiskinan.

Sebagaimana, tercantum di dalam Bab IV Pasal 19 sampai dengan Pasal 23. Pasal 19 menjelaskan, bahwa penanggulangan kemiskinan merupakan kebijakan, program dan kegiatan yang dilakukan terhadap

97

orang,

keluarga,

kelompok

dan/atau

masyarakat

yang

tidak

mempunyai atau mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak dapat memenuhi kebutuhan yang layak bagi kemanusiaan. Pasal 20 menegaskan, bahwa penanggulangan kemiskinan ditujukan untuk (a) meningkatkan kapasitas dan mengembangkan kemampuan dasar serta kemampuan berusaha masyarakat miskin; (b) memperkuat peran masyarakat miskin dalam pengambilan keputusan kebijakan publik yang menjamin penghargaan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak dasar; (c) mewujudkan kondisi dan lingkungan ekonomi, politik, dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin dapat memperoleh kesempatan seluas-luasnya dalam pemenuhan hak-hak dasar dan peningkatan taraf hidup secara bekelanjutan, dan (d) memberikan rasa aman bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan.104 Selanjutnya pada Pasal 21 ditegaskan, bahwa penanggulangan kemiskinan dilaksanakan dalam bentuk (a) penyuluhan dan bimbingan sosial; (b) pelayanan sosial penyediaan akses kesempatan kerja dan berusaha; (c) penyediaan akses pelayanan kesehatan dasar; (d) penyediaan akses pelayanan pendidikan dasar; (e) penyediaan akses pelayanan perumahan dan permukiman, dan/atau (f) penyediaan akses pelatihan, modal usaha, dan pemasaran hasil usaha.105

104 105

Suradi dan Mujiyadi, Pemberdayaan, hlm. 2-3. Ibid., hlm. 3.

98

b. Dampak Secara Sosial 1. Terciptanya suasana kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota USEP KM. Ibu Masrikah menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini Terciptanya suasana kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota dan masyarakat sekitarnya. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Masrikah: ....kadang kan orang merasa itu di sisi lain tertolong atau nggak kan saya ga tahu tapi saya lihat-lihat dari yang lain kayaknya ya ada disiplinnya apa nggak tapi kekerabatannya lebih di kita, kekeluargaan, kebersamaan. Jadinya pinjam nek dia bayar tu karena kesadaran dia bukan dioyak-oyak diberi tanggungjawab, dia merasa itu punyanya lek dia enak kan kita juga enak untuk kita sendiri dan kalau keluarganya ada musibah kena apa, kita ada dana disitu dari IKS, istilahnya itu masih dikhususkan untuk anggota. 106

Ibu Sasi Supriyati juga menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini bisa menambah teman, maikin akrab, dan sudah seperti saudara. Berikut petikan wasil wawancaranya: Di USEP enak, bisa tambah temen, makin akrab, seperi sodara, pokoknya enak. Alhamdulillah saya ga pernah telat buat nyaur.107

Senada dengan Bu Masrikah dan Bu Sasi Supriyati, Bu Sri Minatun juga menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini bisa lebih

Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013 107 Wawancara dengan Ibu Sasi Supriyati selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 4 Februari 2013

106

99

banyak

teman

dan

banyak

saudara.

Berikut

petikan

wasil

wawancaranya: Kalau di kelompok itu kebersamaan antar anggota sudah bagus mbak. Saling ngobrol, cerita usahanya sampai sejauh mana. Menarik mbak jika sudah berkumpul begitu. Jadi bisa berbagi pengalaman begitu. Saling menghormati dan bisa bertukar pengalaman. Dan dapat informasi-informasi tebaru dari pengurus. Seneng ya karena saya jadi lebih banyak temen, lebih banyak sodara pokoknya ga cuma di rumah aja seneng setiap bulan ada ketemu sama temen-temen 108 Dari wawancara di atas bisa dijelaskan bahwa dengan USEP KM juga akan tecipta suasana kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota kelompok USEP KM. Konsep pemberdayaan tidak hanya berlaku secara individual, tetapi juga secara kolektif (individual self empowerment maupun collective self empowerment), dan semua itu harus menjadi bagian dari aktualisasi eksistensi manusia dan kemanusiaan. Dengan kata lain, manusia dan kemanusiaanlah yang menjadi tolok ukur instrumen, dan substansial dalam proses pemberdayaan. Ini tidak lain adalah menempatkan konsep pemberdayaan atau empowerment sebagai bagian dari upaya membangun eksistensi pribadi, keluarga,

masyarakat, bangsa, pemerintahan, negara, dan tata dunia di dalam kerangka proses aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab; yang terwujud di berbagai medan kehidupan: politik, ekonomi, hukum, pendidikan dan lain sebagainya. Maka dari itu konsep empowerment

Wawancara dengan Ibu Sri Minatun selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 6 Februari 2013

108

100

pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif, baik di dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional; dalam bidang sosial, budaya, politik, ekonomi, dan lain-lain). Pendekatan yang dapat dilakukan dalam pemberdayaan fakir miskin, yaitu melalui mekanisme kelompok. Di dalam perspektif pekerjaan sosial dikenal dengan Group Work yang seringkali diterjemahkan dengan

Bimbingan Sosial Kelompok sebagai metode intervensi sosial. Dalam hal ini kelompok ditempatkan sebagai metode atau cara (bukan sekedar wahana atau tempat) untuk melakukan perubahan bagi klien. Selain Group Work, dalam perpspektif pekerjaan sosial dikenal metode Case Work, Community Organization dan Community Develompment. Ketiga metode tersebut tidak berlaku secara parsial, akan tetapi berlaku secara simultan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi client yang pada umumnya bersifat multi-demisional.109

2. Meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial yang ada di lingkungan sekitar Ibu Sri Suwarsih juga menjelaskan bahwa dengan USEP KM tersebut setidaknya bisa sebagai jalan keluar masalah yang dihadapi. Berikut petikan wawacara dengan Ibu Sri Suwarsih: Misal pada saat anaknya masuk tahun ajaran baru dan membutuhkan biaya peralatan sekolah, maka bisa pinjam ke USEP
109

Suradi dan Mujiyadi, Pemberdayaan, hlm. 17-18.

101

KM tersebut tetapi dengan konsekuensi usaha yang dikembangkan tetap berjalan. Jadi ada solusi disini mbak.110

Ibu Sasi Supriyati pun menjelaskan bahwa beliau meminjam dari USEP KM untuk modal usahanya dan jika ada sisa disimpan, jadi kalau ada kebutuhan mendadak bisa digunakan.111 Ibu Sri Minatun pun menjelaskan hal yang serupa, berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Minatun Meminjam di USEP KM bisa membantu saya memecahkan masalah. Biasanya saya mengikuti arisan APSARI yang berjalan tiga bulan sekali. APSARI yang memegang Ibu Musrikah. Jadi prosesnya seperti menamam saham. Pertemuannya setiap tanggal 13 pada setiap bulannya. Jika tidak meminjam biasanya setiap dua tahun sekali menerima tabungan jika tidak nabung tidak menerima. Menurut saya USEP KM saat ini bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga.112 Dari wawancara dengan narasumber di atas dapat dijelaskan bahwa dengan USEP KM dapat meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial yang ada di lingkungan sekitar. Menurut Suharto, kesejahteraan sosial dapat didefinisikan sebagai arena atau domain utama tempat berkiprahnya pekerja sosial. Pemaknaaan kesejahteraan sebagai arena, menempatkan kesejahteraan sosial sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan pembangunan. Pemaknaan kesejahteraan sosial ini mendukung pemikiran Dunham
Wawancara dengan Ibu Sri Suwarsih selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013 111 Wawancara dengan Ibu Sasi Supriyati selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 4 Februari 2013 112 Wawancara dengan Ibu Sri Minatun selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 6 Februari 2013
110

102

yang dikutip oleh Soetarso, bahwa kesejahteraan sosial adalah kegiatan-kegiatan yang terorganisasi untuk meningkatkan kondisi kesejahteraan sosial melalui pemberian bantuan kepada orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan.113 Kemudian Friedlander yang dikutip oleh Soetarso

menggabungkan pelayanan sosial dan lembaga sosial dalam pengertian kesejahteraan sosial, yaitu sistem terorganisasi dari pelayanan dan lembaga sosial yang dimaksudkan untuk membantu perorangan dan kelompok untuk mencapai standar kehidupan dan kesehatan yang memuaskan, serta hubungan sosial dan pribadi yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan kemampuan

sepenuhnya dan meningkatkan kesejahteraan mereka serasi dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat. 114 Kesejahteraan sosial juga sering didefinisikan sebagai kondisi sejahtera, yaitu suatu keadaan terpenuhiya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan perawatan kesehatan. Pengertian ini menempatkan kesejahteraan sosial sebagai tujuan dari suatu kegiatan pembangunan. Berkaitan dengan konsep kebutuhan, selain kebutuhan dasar ada jenis kebutuhan yang juga memerlukan pemenuhan. Menurut Haryanto dan Tamrin, jenis kebutuhan dimaksud, yaitu kebutuhan sosial-psikologis dan kebutuhan pengembangan. Termasuk
113 114

Suradi dan Mujiyadi, Pemberdayaan, hlm. 18. Ibid., hlm. 18.

103

di dalam kebutuhan sosial psikologis, yaitu pendidikan, rekreasi, transportasi, interaksi sosial internal dan eksternal. Sedangkan kebutuhan pengembangan, yaitu tabungan, pendidikan

khusus/kejuruan dan akses terhadap informasi.115

3. Semakin berkembangnya kerjasama antar anggota USEP KM Ibu Masrikah menjelaskan bahwa rasa kekeluargaan antar anggota menjadi semakin terikat. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Masrikah: Saya merasakan bahwa USEP KM ini memang berbeda dengan USEP yang lain. Kekerabatan dalam anggota kelompok bisa terjalin dengan baik. Rasa kekeluargaan, kebersamaan dapat terwujud. Jadi jika ada pinjaman dan belum bisa membayar karena adanya rasa tanggungjawab bisa dilunasi secara perlahan tanpa adanya tekanan dari pihak pengurus.116 Ibu Sasi Supriyati juga menjelaskan bahwa dengan USEP KM ini bisa semakin akrab, sudah menjadi seperti saudara sendiri. Dan sampai sekarang jika ada pinjaman beliau belum pernah terlambat dalam melunasinya.117 Ibu Sri Minatun juga menjelaskan bahwa kerjasama antar anggota USEP KM semakin berkembang. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Sri Minatun: Kerjasama antar anggota sudah berjalan dengan baik mbak. Bagi anggota yang tidak pernah berangkat harus didekati
Ibid., hlm. 18-19. Wawancara dengan Ibu Masrikah selaku ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 3 Februari 2013 117 Wawancara dengan Ibu Sasi Supriyati selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 4 Februari 2013
116 115

104

secara perlahan. Biarpun saya mempunyai utang saya tetap berangkat ke pertemuan. Kelompok juga sudah percaya kepada saya. Saya pernah meminjam uang dan belum lunas tetapi karena kelompok merasa percaya maka diberikanlah pinjaman. Laba dari simpanan yang ada biasanya digunakan untuk acara makan bersama. Seperti misalnya beberapa waktu yang lalu anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII bertamasya ke pantai cemara dan rencana tahun depan membuat seragam kelompok USEP KM Sejahtera VIII.118

Jadi dari wawancara dengan narasumber di atas dapat dijelaskan bahwa dengan program USEP KM kerjasama antar anggota USEP KM dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Dalam rangka memberdayakan masyarakat yang dapat juga diberlakukan bagi fakir miskin, dilakukan melalui beberapa dimensi, salah satunya adalah dengan menciptakan situasi atau iklim sosial yang memungkinkan potensi fakir miskin berkembang (enabling). Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya, tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya karena, kalau demikian sudah punah. Pemberdayaan adalah upaya untuk

membangun daya itu dengan mendorong (encourage), memotivasi, dan membangkitkan kesadaran (awareness) potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya. 119

Wawancara dengan Ibu Sri Minatun selaku anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 6 Februari 2013 119 Suradi dan Mujiyadi, Pemberdayaan, hlm. 15.

118

105

E. Hambatan dan Kendala dalam Pelaksanaan Program USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta Hambatan dan kendala dalam pelaksanaan program USEP KM Sejahtera VIII antara lain sebagai berikut : 1. Adanya anggota yang tidak aktif lagi dalam pertemuan rutin USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta Ibu Mumun selaku pendamping kelompok menjelaskan bahwa masih adanya anggota yang vacuum atau tidak aktif dalam pertemuan rutin anggota kelompok USEP KM. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun : Ada sekitar empat anggota yang tidak berangkat secara rutin dalam pertemuan anggota. Mungkin mereka merasa tidak mempunyai uang sama sekali. Jadi masih ada saja anggota yang vacuum atau tidak aktif dalam pertemuan rutin anggota kelompok USEP KM. 120

Dari penjelasan Ibu Mumun selaku pendamping USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo di atas, maka bisa dijelaskan bahwa salah satu kendala yang ada adalah adanya anggota yang tidak aktif dalam pertemuan rutin kelompok USEP KM. Hal ini mungkin karena anggota merasa tidak bisa membayar utang dan akhirnya merasa malu dan tidak datang ke pertemuan rutin USEP KM. Suradi dkk menjelaskan bahawa selain adanya kelayakan sosial, dalam upaya menanamkan kepatuhan anggotanya, di dalam keluarga

Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013

120

106

perlu adanya pengendalian sosial (Social control). Dimungkinkan karena sebab-sebab tertentu anggota keluarga melakukan penyimpangan

perilaku. Untuk itu perlu ditertibkan dengan cara memberikan hukuman bagi yang bersalah, atau sebaliknya memberikan ganjaran bagi yang patuh. Pemberian hukuman bukan bermaksud penyiksaan, dan sebaliknya pemberian ganjaran bukan bermaksud pemanjaan.121 Jadi dari cakupan yang terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, tanggung jawab dan kesadaran akan suatu sikap sosial tumbuh. Jadi dalam hal ini kelompok bisa dikatakan sebagai sebuah keluarga yang cakupannya lebih luas. Kelompok USEP KM merupakan komunitas dalam masyarakat yang terdiri dari ibu rumah tangga yang sudah berkeluarga.

2. Adanya anggota yang tidak rutin dalam membayar cicilan pinjaman dari USEP KM VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta Ibu Mumun selaku pendamping kelompok menjelaskan bahwa masih ada anggota yang tidak rutin membayar cicilan pinjaman di USEP KM. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun: Dari pengurus sendiri mengharapkan anggota bisa belajar untuk mengembangkan usahanya. Tidak pinjam lalu tanpa upaya meningkatkan usahanya. Jika dibiarkan saja pinjam tanpa ada upaya untuk mengembangkan usaha, tentunya selain usahanya akan hancur, modal USEP KM sendiri juga akan habis. Hal ini tentu sangat merugikan USEP KM sendiri.122

Suradi, dkk. Pemberdayaan, hlm. 8. Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013.
122

121

107

Jadi kendala yang lain adalah adanya anggota yang tidak rutin membayar cicilan pinjaman di USEP KM. Kendala keuangan memang menjadi hambatan yang utama. Usaha yang tidak berkembang pada akhirnya akan berhenti dan tidak membuka usaha lagi. Hal ini berpengaruh teradap proses pengembalian pinjaman di USEP KM. Suradi dkk menjelaskan bahwa keluarga hanya dapat bertahan kalau anggota-anggotanya merasa perlu dan berkepentingan terhadap keutuhannya. Dalam upaya mencapai keutuhan itu keluarga memerlukan aturan sebagai pedoman yang dipatuhi segenap anggotanya. Oleh karena itu, keluarga hendaknya mampu mengembangkan kelayakan sosial (Social standard ) sebagai tolok ukur tentang apa yang baik dan buruk, apa yang patut dan tidak terpuji, tentang apa yang dihargai tinggi dan rendah.123 Jadi tidak rutinnya anggota dalam membayar pinjaman dan cicilan bisa berdampak anggota tersebut merasa malu atau enggan untuk datang dalam pertemuan rutin kelompok. Jadi kesadaran anggota sangat penting disini. Dalam menjaga keutuhan kelompok tentu sangat dibutuhkan adanya kebersamaan dan kesadaran dari anggotanya.

3. Adanya pinjaman yang digunakan untuk konsumtif anggota di beberapa kasus dan tidak digunakan sebagai tambahan modal usaha Ibu Mumun selaku pendamping kelompok menjelaskan bahwa dibeberapa kasus memang ada anggota yang meminjam melalui USEP

123

Suradi, dkk. Pemberdayaan, hlm. 8.

108

KM tetapi tidak diberdayakan untuk mengembangkan usahanya. Berikut petikan wawancara dengan Ibu Mumun: Bahkan pinjaman yang seharusnya untuk membuka dan mengembangkan usaha digunakan untuk uang sekolah anaknya dan keperluan lain diluar modal usaha. Pada akhirnya usahanya berhenti dan tidak aktif dalam pertemuan kelompok. Jadi memang ada anggota yang meminjam melalui USEP KM tetapi tidak diberdayakan untuk mengembangkan usahanya.124

Hal ini tentunya tidak sesuai dengan prosedur atau mekanisme pinjaman di USEP KM yang telah ditentukan oleh kelompok sebelumnya. Jadi meminjam melalui USEP KM tetapi tidak digunakan untuk membuka usaha atau mengembangkan usahanya. Jelas pada akhirnya usahanya akan terhenti dan tidak berjalan lagi. Karena kebutuhan anggota dan keluarganya yang semakin meningkat tentu budaya konsumtif ini muncul dan cenderung merugikan. Oleh karena itu pinjaman yang seharusnya digunakan untuk modal usaha bisa digunakan untuk kebutuhan mendesak tetapi pada prosesnya usaha yang dimiliki harus tetap berjalan dan berkembang lagi. Kesejahteraan sosial juga sering didefinisikan sebagai kondisi sejahtera, yaitu suatu keadaan terpenuhiya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan perawatan kesehatan. Pengertian ini menempatkan kesejahteraan sosial sebagai tujuan dari suatu kegiatan pembangunan. Berkaitan dengan konsep kebutuhan, selain kebutuhan
Wawancara dengan Ibu Mumun selaku Pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII pada tanggal 5 Februari 2013.
124

109

dasar ada jenis kebutuhan yang juga memerlukan pemenuhan. Menurut Haryanto dan Tamrin, jenis kebutuhan dimaksud, yaitu kebutuhan sosialpsikologis dan kebutuhan pengembangan. Termasuk di dalam kebutuhan sosial psikologis, yaitu pendidikan, rekreasi, transportasi, interaksi sosial internal dan eksternal. Sedangkan kebutuhan pengembangan, yaitu tabungan, pendidikan khusus/kejuruan dan akses terhadap informasi. 125

125

Suradi dan Mujiyadi, Pemberdayaan, hlm. 18-19.

110

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan mengenai pengentasan keluarga miskin melalui USEP KM (studi pada kelompok USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo Yogyakarta), maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Upaya pengentasan keluarga miskin melalui program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta telah berjalan baik. Hal ini dibuktikan dengan berjalannya pertemuan rutin anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII setiap bulannya. 2. Faktor yang mempengaruhi keluarga miskin mengikuti program USEP KM di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta antara lain : a. Informasi dari Pendamping Kelompok USEP KM b. Adanya dana pinjaman melalui USEP KM dengan bunga yang rendah dan tidak rumit. 3. Dampak program USEP KM terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga miskin di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta antara lain : a. Dampak Secara Ekonomi 1. Berpengaruh terhadap budaya menabung 2. Meningkatkan kesejahteraan anggota USEP KM dan keluarganya

111

3. Dapat menyelesaikan permasalahan perekonomian di lingkungan kelompok USEP KM. b. Dampak Secara Sosial 1. Terciptanya suasana kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota USEP KM. 2. Meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial yang ada di lingkungan sekitar. 3. Meningkatkan kemampuan anggota dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial yang ada di lingkungan sekitar. 4. Semakin berkembangnya kerjasama antar anggota USEP KM. 4. Hambatan dan Kendala dalam Pelaksanaan Program USEP KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. a. Adanya anggota yang tidak aktif lagi dalam pertemuan rutin USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. b. Adanya anggota yang tidak rutin dalam membayar cicilan pinjaman dari USEP KM VIII Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta. c. Adanya pinjaman yang digunakan anggota untuk konsumtif di beberapa kasus dan tidak digunakan sebagai tambahan modal usaha.

B. SARAN Berdasarkan hasil penelitian terhadap kelompok USEP KM Sejahtera VIII Kelurahan Tegalrejo Yogyakarta, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:

112

a. Bagi anggota kelompok agar lebih meningkatkan kebersamaan kelompok USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo. b. Bagi Pengurus agar lebih memperhatikan anggota kelompok secara personal, jika terjadi permasalahan dalam menjalankan usaha maupun dalam proses pembayaran cicilan diselesaikan berdasarkan

musyawarah kekeluargaan. c. Bagi pendamping agar lebih meningkatkan monitoring kepada setiap anggota kelompok USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo. d. Bagi DINSOS DIY khususnya Seksi Keluarga Bermasalah Sosial sebagai fasilitator program USEP KM agar lebih mensosialisasikan program USEP KM ke semua lapisan masyarakat, baik itu tujuan maupun manfaatnya serta meningkatkan pengawasan terhadap kelompok binaannya serta adanya suatu pemberdayaan usaha yang inovatif dan kreatif agar kelompok USEP KM punya ciri tersendiri.

113

DAFTAR PUSTAKA Al-Hibri, Azizah., dkk. 2001. Wanita dalam Masyarakat Indonesia: Akses, Pemberdayaan dan Kesempatan, Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press. Arikunto, Suharsini. 1992. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Arjani, Ni Luh. Potensi dan hambatan sosial budaya Perempuan bali dalam era transformasi http://ejournal.unud.ac.id diakses pada tanggal 20 Oktober 2012 pukul 07.49 wib Asnawi, S. 1994. Makalah Kemiskinan di Pedesaan dan Strategi Penanggulangannya. Makalah. Seminar Sosial Budaya Pengentasan Kemiskinan. Kelompok Kerja Panitia Dasawarsa Pengembangan Kebudayaan Propinsi Yk I Sumatera Barat Kerjasama dengan Universitas Bung Hatta. Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012. Biro Pusat Statistik. 1999. Pengukuran Tingkat Kemiskinan di Indonesia. Jakarta. Browne, Colette V. Empowerment in Social Work Practice with Older Women Social Work. Academic journal article from Social Work, Vol. 40, No. 3. May 1995. Social Work, University of Hawaii. Buku Pedoman Wali Kota Yogyakarta. Keputusan Wali Kota Yogyakarta No 616/KEP/2007 tentang Rencana aksi daerah penanggulangan kemiskinan dan pengangguran kota Yogyakarta tahun 2007-2011 Buku Petunjuk. 1993. Pelaksanaan USEP KM Dinas Sosial Propinsi DIY. Buku Laporan. 2003. Kegiatan Pelatihan Ketrampilan Berusaha bagi Keluarga Miskin Yogyakarta: Dinsos Provinsi DIY. Buku Laporan. 2012. Bantuan Pengembangan USEP KM Melalui POS Gubernur: Dinsos Provinsi DIY. Bogdan, Robert dan Taylor, Steven J. 1992. Metoda penelitian Kualitatif; Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial, terj. Arief Furchan. Surabaya: Usaha Nasional. Data statistik World Bank, Labor force participant rate (% of people ages 15-64), 2010. http://datatopics.worldbank.org/gender/ diakses pada tanggal 23 Oktober 2012 pukul 06.33 wib Dendawijaya, Lukman. 2003 . Manajemen Perbankan. Jakarta : Penerbit Ghalia Indonesia.

114

Depsos RI. 2005. Rencana Strategis Penanggulangan Kemiskinan Program Pemberdayaan Fakir Miskin tahun 2006-2010, Depsos RI, Jakarta. Direktorat Penanggulangan Kemiskinan BAPPENAS, Upaya Pengurangan Kemiskinan, http://www.setneg.go.id diakses pada tanggal 24 Oktober 2012 pukul 10.06 wib Friedmann, J. 1992. Empowerment: The Politicts of Alternative Development. Oxford. USA : Blackwell. Gutierrez, L. 1990. Working with Woman of Color. Social Work. Handayani, C.S., Novianto. 2004. Ardhian, Kuasa Wanita Jawa , Yogyakarta: LkiS. Hasibuan, Malayu SP. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara. Ife, Jim. 1995. Community Development: Creating Community Alternatives, Vision, Analysis and Practice. Australia: Longman. Irmayani dkk. 2010. Efektivitas Pelayanan KUBE dalam perspektif Ketahanan Sosial Keluarga, Studi Evaluasi Pemberdayaan Keluarga Melalui KUBE di empat Provinsi, Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial Republik, Indonesia P3KS Press. Iryani, Siti, Wahyu. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial. Vol. IX, No 32, Juni 2010 Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Istiana Hermawati dkk. 2005. Studi Evaluasi Efektivitas KUBE dalam pengentasan Keluarga Miskin di Era Otonomi Daerah. Balai Besar Penelitian Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Yogyakarta, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia P3KS Press. Jusman Iskandar. 1999. Teori dan Isu Pembangunan. Garut: Pustaka PPs. UNIV. Garut Kasmir. 2001. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Kusmuljono, B.S., dkk. 2011. Microfinance Jembatan Menuju Kemakmuran, Bogor: Japek Publishing. Listyawati, Andayani. Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial. Vol. 35, No 1, Maret 2011 Yogyakarta: Badan Pendidikan dan Pelatihan

115

Kesejahteraan Sosial Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Nasution, S. 2007. Metode Research : Penelitian Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara. Neuman, Lawrence, W. 2000. Social Research Methods. Qualitative and Quantitative Approaches, A Pearson Education Company. Nurhaeni, Ismi Dwi Astuti. 2009. Kebijakan Publik Pro Gender, Surakarta: UNS Press. M. Saad Ibrahim. 2007. Kemiskinan dalam Perspektif Al-Quran (Malang: UIN Malang Press. Moleong, L.J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya. Moleong, L.J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif . Bandung: Remaja Rosdakarya. Moser, Caroline O.N. 1993. Gender Planning and Development: Theory, Practice and Training, London and New York: Routledge & Kegan. Mudrajad, Kuncoro. 2003. Ekonomi Pembangunan : Teori, Masalah dan Kebijakan, Edisi Ketiga, Yogyakarta :UPP AMP YKPN. Mujiadi dkk. 2007. Pemberdayaan Masyarakat Miskin, Studi Evaluasi Penanggulangan Kemiskinan di Lima Provinsi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial Republik Indonesia, P3KS Press. Nurhadi. 2007. Mengembangkan Jaminan Sosial Mengentaskan Kemiskinan, cetakan pertama. Yogyakarta: Media Wacana. Pranarka dan Moeldjarto. 1996. Pemberdayaan (Empowerment), Dalam Pemberdayaan, Konsep Kebijakan dan Implementasi. CSIS. Jakarta. Ritanti, Sugih Dina. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Miskin melalui Program Usep Km Dinas Sosial Propinsi DIY di Desa Gadingsari Sanden Bantul Yogyakarta. Yogyakarta : Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011. Skripsi Syaodih Sukmadinata, Nana. 2007. Metode Penelitian Pendidikan . Bandung: Remaja Rosdakarya. Setyawati, E, Yuningtyas. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial. Vol. 10, No 2, Juni 2011 Yogyakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Siti Wahyu Iryani. Kontribusi KUBE dalam Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Keluarga Miskin. Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial. Vol. IX No 32

116

Juni 2010. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (BP2P3KS) Soetrisno, Loekman. 1997. Kemiskinan, Perempuan, Pemberdayaan, Yogyakarta: Kanisius Suharto, Edi. 2006. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial Pekerja Sosial. Bandung: Refika Aditama. Suharto, Edi, dkk. 2004. Isu-isu Tematik Pembangunan Sosial: Konsepsi dan Strategi. Jakarta: Balatbangos. Suharto, Edi. 2009. Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia; Menggagas Model jaminan Sosial Universal Bidang Kesehatan , Bandung: Alfabeta. Suharto, Edi. 2010. CSR dan Comdev; Investasi Kreatif Perusahaan di Era Globalisasi, Bandung: Alfabeta. Sumordiningrat, Gunawan, dkk. 1999. Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : PT. Bina Rena Pariwara. Suparlan, Parsudi. 1995. Kemiskinan di Perkotaan, Jakarta : Sinar Harapan. Suradi dan Mujiyadi. 2009. Pemberdayaan Masyarakat Miskin : Studi Evaluasi Penanggulangan Kemiskinan di Lima Provinsi. Jakarta : P3KS Press. Suradi, dkk. 2010. Pemberdayaan Keluarga: Studi Evaluasi di Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur. Jakarta : P3KS Press. Undang-Undamg Pokok Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Jakarta : Sinar Grafika, Jakarta. Widodo. 2006. Perencanaan Pembangunan: Aplikasi Komputer (Era Otonomi Daerah). Yogyakarta: UPP STIM YKPN Yuningtyas, E. Setyawati. Pemberdayaan Perempuan dalam Peningkatan Pengolahan Ekonomi Produktif. Jurnal Penelitian Vol. 10 No. 2 Juni 2011. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (BP2P3KS)

117

DAFTAR RIWAYAT HIDUP A. Identitas Diri Nama Tempat/Tgl. Lahir Alamat Rumah : Humairoh, S. Sos. : Indralaya, 11 Maret 1987 : Jl. Terusan LK IV Rt 09 No 56 Kelurahan Timbangan KM 32 Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sum-Sel 30662 Nama Ayah Nama Ibu Nomor Telephone Email : : : : Nazori Khodijah 081995031859 uum_azka1103@yahoo.com

B. Riwayat Pendidikan I. Pendidikan Formal a. SDN 2 Simpang Timbangan Indralaya Sum-Sel, Lulus tahun 1999 b. Madrasah Tsanawiyah Al-Ittifaqiah Indralaya Sum-Sel, Lulus Tahun 2002 c. Madrasah Aliyah Al-Ittifaqiah Indralaya Sum-Sel, Lulus tahun 2005 d. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Sosiologi Universitas Sriwijaya Indralaya Sum-Sel, Lulus tahun 2011 II. Pendidikan Non Formal Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya Sum-Sel dari tahun 20052006

C. Prestasi/Penghargaan 1. Juara I Lomba Pencak Silat pada Pekan Olahraga dan Seni seKecamatan tahun 2004 2. Juara III Lomba Pencak Silat pada Pekan Olahraga dan Seni seKabupaten tahun 2005

118

3. Juara II Lomba Penulisan Opini se-Fkip Universitas Sriwijaya tahun 2007 4. Mahasiswa Berprestasi Universitas Sriwijaya tahun 2010

D. Pengalaman Organisasi 1. Sekretaris Pencak Silat Tapak Suci Periode 2004-2005 2. Ketua Pelaksana Pendidikan dan Pelatihan Dasar Masopala

Universitas Sriwijaya tahun 2008 3. Sekretaris Karang Taruna Periode 2007-2008 4. Seksi Dana dan Usaha di Organisasi Masopala Universitas Sriwijaya Periode 2007-2008 5. Anggota Club Survival Indonesia tahun 2008-sekarang 6. Sekretaris kegiatan P2K Fisipol Universitas Sriwijaya tahun 2008 7. Ketua pelaksana POM Fisipol Universitas Sriwijaya tahun 2008 8. Bendahara kegiatan SAR Sampoerna tahun 2009 9. Sekretaris KPU dalam PEMIRA Fisipol Unsri tahun 2009 10. Sekretaris Umum Masopala Universitas Sriwijaya Periode 2008-2009 11. Bendahara Umum Karang Taruna Periode 2009-2010 12. Ketua Umum Masopala Universitas Sriwijaya Periode 2009-2010 13. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Ogan Ilir Periode 2010-2011 14. Sekretaris Lembaga Sosial AMOEBA Social Center periode 20122013

PEDOMAN WAWANCARA KE PENDAMPING Assalamualaikum Wr. Wb Dengan kerendahan hati saya: Nama Nim Jurusan : Humairoh : 1120010025 : Pekerjaan Sosial

Memohon kepada ibu agar kiranya meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan dengan memberikan jawaban yang sebenarnya atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam daftar ini. Jawaban-jawaban yang ibu berikan hanya di pergunakan semata-mata sebagai bahan dalam penulisan tesis saya yang berjudul Pengentasan Kemiskinan Melalui USEP KM (Studi pada Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo, Yogyakarta). Sebagai tugas akhir dalam memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Magister di program Interdisciplinary Islamic Studies program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam kesempatan yang baik ini saya juga mengucapkan terimakasih atas kesediaan ibu yang telah meluangkan waktunya untuk menjawab daftar pertanyaan berikut ini: Identitas diri 1. Nama : 2. Umur : 3. Agama : 4. Pendidikan terakhir : 5. Alamat : 6. No.Tlp. : Pertanyaan seputar USEP KM 1. Dari mana pertama kali ibu mengetahui program USEP KM yang dilaksanakan pemerintah di Kelurahan Tegalrejo? 2. Bagaimana awal proses pembentukan USEP KM Sejahtera VIII? 3. Sejak tahun berapa USEP KM Sejahtera VIII dibentuk? 4. Apa saja syarat untuk menjadi anggota USEP KM? 5. Apa saja yang ibu persiapkan dalam rangka membentuk kelompok USEP KM? 6. Bagaimanakah mekanisme pemilihan pengurus USEP KM Sejahtera VIII? 7. Bagaimanakah prosedur pencairan dana bantuan program USEP KM? 8. Siapa sajakah yang menentukan kelayakan calon anggota menjadi anggota USEP KM Sejahtera VIII? 9. Apakah ada pelatihan untuk calon pendamping kelompok USEP KM? 10. Apakah ada pelatihan untuk calon anggota kelompok USEP KM? 11. Apa saja kendala ibu selama menjadi pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII? 12. Bagaimana prosesnya ibu bisa menjadi pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII? 13. Apa saja yang ibu lakukan sebagai pendamping kelompok USEP KM Sejahtera VIII? 14. Apakah dengan USEP KM dapat meningkatkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga? 15. Apakah dengan USEP KM secara sosial dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya? 16. Apakah anggota USEP KM sudah mampu mengelola USEP KM? 17. Apakah USEP KM yang dikelola sudah bagus? 18. Apakah USEP KM dapat meningkatnya kesejahteraan keluarga miskin ? 19. Apakah USEP KM dapat mengatasi permasalahan perekonomian di lingkungan sekitar?

PEDOMAN WAWANCARA KE ANGGOTA

Assalamualaikum Wr. Wb Dengan kerendahan hati saya: Nama Nim Jurusan : Humairoh : 1120010025 : Pekerjaan Sosial

Memohon kepada ibu agar kiranya meluangkan waktu untuk megisi daftar pertanyaan dengan memberikan jawaban yang sebenarnya atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam daftar ini. Jawaban-jawaban yang ibu berikan hanya di pergunakan semata-mata sebagai bahan dalam penulisan tesis saya yang berjudul Pengentasan Kemiskinan Melalui USEP KM (Studi pada Kelompok USEP KM Sejahtera VIII Tegalrejo, Yogyakarta). Sebagai tugas akhir dalam memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Magister di program Interdisciplinary Islamic Studies program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam kesempatan yang baik ini saya juga mengucapkan terimakasih atas kesediaan ibu yang telah meluangkan waktunya untuk menjawab daftar pertanyaan berikut ini. Identitas diri 1. Nama : 2. Umur : 3. Agama : 4. Pendidikan terakhir : 5. Status : 6. Pekerjaan/jenis usaha : 7. Pendapatan per bulan : 8. Alamat : 9. No.Tlp. : Identitas suami 1. Nama : 2. Umur : 3. Agama : 4. Pendidikan terakhir : 5. Pekerjaan : 6. Pendapatan per bulan : Jumlah tanggungan dalam keluarga : Pendidikan anak : Status tempat tinggal : Memperoleh pinjaman selain dari kelompok USEP : (Pinjam di Bank, Pinjam dengan saudara, pinjam dengan tetangga, pinjam di rentenir) Jenis pelayanan sosial yang pernah di terima : (Jamkesmas, BLT, Raskin, PKH, Jampersal, Askesos)

Pertanyaan seputar USEP KM 1. Dari mana pertama kali ibu mengetahui program USEP KM yang dilaksanakan pemerintah di Kelurahan Tegalrejo? 2. Siapa yang mengajak ibu pertama kali untuk mengikuti program USEP KM? 3. Sejak kapan ibu mengikuti program USEP KM? 4. Apa alasan ibu mengikuti program USEP KM? 5. Apakah suami/keluarga mendukung ibu dalam mengikuti program USEP KM? 6. Apa saja yang ibu persiapkan untuk mengikuti program USEP KM? 7. Apakah ibu merasa senang dengan terdaftarnya ibu menjadi anggota kelompok USEP KM? 8. Apakah ibu sudah punya usaha sebelum mengikuti program USEP KM? 9. Sejak tahun berapa ibu membuka usaha? 10. Bagaimana keadaan usaha ibu sebelum memperoleh pinjaman dana dari program USEP KM? 11. Bagaimana dengan usaha ibu sekarang setelah memperoleh pinjaman dana dari program USEP KM? 12. Apa saja kendala ibu saat menjalankan usaha? 13. Apakah suami/keluarga membantu usaha yang ibu jalankan? 14. Apakah USEP KM dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam memecahkan masalah kesejahteraan sosial yang ada di lingkungan sekitar? 15. Apakah USEP KM dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam menjalin kerja sama untuk mengembangkan usaha? 16. Apakah USEP KM dapat meningkatkan kepedulian terhadap warga masyarakat di lingkungan? 17. Apakah USEP KM dapat mengembangkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan terhadap warga masyarakat di lingkungan? 18. Apakah dalam kelompok USEP KM kerjasama antar anggota semakin berkembang? 19. Apakah dengan USEP KM dapat meningkatkan pendapatan keluarga? 20. Apakah dengan USEP KM dapat meningkatkan gizi keluarga? 21. Apakah dengan USEP KM dapat meningkatkan pembelian pakaian keluarga? 22. Apakah dengan USEP KM berpengaruh terhadap budaya menabun? 23. Apakah dengan USEP KM secara sosial dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya? 24. Apakah USEP KM berpengaruh terhadap berkembangnya kesetiakawanan sosial antara anggota USEP KM dengan masyarakat sekitarnya? 25. Apakah dengan USEP KM bisa terjalinnya kerjasama yang kuat dengan dunia usaha? 26. Apakah USEP KM dapat meningkatkan kemampuan anggota dalam memenuhi kebutuhan dasar? 27. Apakah USEP KM yang dikelola sudah mantap? 28. Apakah anggota USEP KM sudah mampu mengelola USEP KM? 29. Apakah anggota USEP KM mampu menggulirkan bantuan dana pinjaman kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkan (diluar anggota)? 30. Apakah USEP KM dapat meningkatnya kesejahteraan keluarga miskin ? 31. Apakah USEP KM dapat mengatasi permasalahan perekonomian di lingkungan sekitar?

Informan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. No 1 2 3 4 5 Pak Junaidi (Seksi Keluarga Bermasalah Sosial) Ibu Bibit Mulatinah (Pendamping Kelompok USEP KM Sejahtera VIII) Ibu Maimunah (Pendamping Kelompok USEP KM Sejahtera VIII) Ibu Masrikah (Ketua kelompok USEP KM Sejahtera VIII) Ibu Sri Minatun (Anngota) Ibu Sri Sukesti (Anngota) Ibu Sri Suwarseh (Anngota) Ibu Sasi Supriyati (Anngota) Pendidikan Umur SLTA 34 SD 41 SD 54 SMP 44 SLTA 46 Alamat Tegalrejo 3 Rt 17 Rw 05 Tegalrejo Rt 15 Rw 05 Sudagaran Rt 41 Rw 11 Demakan Tr 3 Rt 30 Rw 08 Tompeyan Tr 3 HP 081392651944 081328874034 02749127816 -

Nama Ibu Masrikah Ibu Sri Minatun Ibu Sri Sukesti Ibu Sri Suwarseh Ibu Sasi Supriyati

PERSETUJUAN
Proposal Penelitian dan Penulisan Tesis berjudul:

PENGENTASAN KELUARGA MISKIN MELAtUt USEP KM (Studi pada Kelompok USEe

KM Sejahtera Vlll di Kelurahan Tegalrejo yogyakarta)

Diajukan Oleh:

Humairoh, S.Sos.

NIM:

1120010023

Telah disetujuai Oleh:

Pembimbing,

Drs. Latiful Khuluq, M.A., BSW.rPh.D.

Mengetahui

Islam Kahjaga

w.,M.A.,Ph.D.

lll4

2002t2 2 002

Hal

: Permohonan Pembimbing Tesis

Kepada:

Yth. Ketua Program Studi IIS


Saya yang bertanda tangan di bawah

ini:

Nama

Humairoh
1120010025

NIM
Prodi
Konsentrasi Tahun Akademik

Interdisciplinary Islarnic Studies


Pekerjaan Sosial

20tt-20t2

27

Memberitahukan bahwa proposal tesis saya telah di seminarkan di kelas pada tanggal September 2012. Dengan ini mengajukan permohonan pembimbing dalam rangka
"Pengentasan Keluarga Miskin

penulisan tesis saya yang berjudul:

Melalui USEP KM (Studi pada Kelompok USEp

KM

Sejahtera

VIII di Kelurahan Tegalrejo, yogyakarta),,

Sebagai pertimbangan Ibu, saya mohon untuk dapat dibimbing oleh Bapak Drs. Latiful Khuluq, MA., BSw., Ph. D. Karena selama ini dari awal proses pembuatan pgoposal

tesis saya telah melibatkan beliau sebagai punbimbing.

Yogyakart a, 04 J anuai 2013

airoh
120010025

ffi oirf
Nomor

KEMENTERIAITI AGAMA

RI

UIN SUNAN KALIJAGA


Jln, Marcda Adisucipto Yogyakada, 55281 Telp. (0274) 519709 Fax (O274) 55797A e-maih pps@uin-suka.ac.id. http!//pps,uin-suka.ac.id.

PROGRAM PASCASARJANA

: UlN.O2lPPs/PP.00.9 Lamp. : Perihal : Kesediaan Menjadi


Kepada Yth.
:

IOOL3/}OL3 Pernbimbing Tesis'

Yogyakarta, 5 Januari 2013

Drs. Latiful Khuluq, M.A, BSW., Ph.D. di- Tempat


Assala mu'
o
I

aiku m wr. wb.

kesediaan Bapak/!bu untuk bertindak sebagai Pembimbing Tesis yang berjudul: USEP KM PENGENTASAN KELUARGA MTSKIN MEIALUI USEP KM (StUdi PAdA KCIOMPOK Sejahtera Vllt di Kelurahan Tegalreio Yogyakarta) Tesis tersebut akan dlkerjakan oleh:
Nama

Direktur program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogaykarta mengharapkan

NIM Program Studi Konsentrasi Semester Tahun Akadenrik

Humairoh, S.Sos. 1120010023 t nte rdisci plinory I sla m ic Studi es Pekerjaan Sosial GasaU lll (tiea)

2072120t3

Bapak/lbu

Kami sangat nrengharap surat jawaban/pernyataan bersedia atau tidak bersedia dari dengan mengisi Formulir terlampir dan dikirimkan kembali kepada kami

secepatnya. Apabila Bapal./lbu tidak bersedia, kami mohon proposaUusulan penelitian terlampir dikirimkan kembali ke sekretariat Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yoguakarta. Demikianlah surat keterangan ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Wossolo m u' olai ku m w r. wb.

Studies,

., MA., Ph.D.

2002122002
Tembusan : 1. Direktur (sebagai laPoran) ; 2. Mahasiswa Sdri. Hunrairoh, S.Sos.; 3. ArsiP.

Perihal

Kesediaan Menjadi PembimbingTesis.


Kepada Yth. : Direktur Program Pascasarjana U.b. Ketua Program Sudi lnterdisciplinary lslamic Studies Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Assa lo m u' al o i ku m

wr. wb.

Menjawab surat Saudara Nomor U|N.O2/PPs/PP.oo.9/oOL3/zOL3 tanggal 5 Januari 2OLg bersama ini saya menyatakan bersedia/ tidak bersedia*) menjadi pembimbing Tesis yang berjudul:
PENGENTASAN KETUARGA MISKIN METALU! USEP KM (Studi pada Kelompok USEp KM
Tesis

Sejahtera Vlll di Kelurahan Tegalrejo yogyakarta) tersebut akan dikerjakan oleh: Nama Humairoh, S.Sos. NIM 1120010023 Program Studi I nte rd iscipli no ry I sla mic Stud i es Konsentrasi Pekerjaan Sosial Semester Gasal/ lll (tiga) Tahun Akadernik 2OL2/20L3

Demikian, harap menjadi periksa.


Wo sso lo m u'a lo i ku

m wr. wb.
yogya
ka

rta, ..!.2.. J.lny. nti..,V.Q!.$

Hormat Kami,

Latiful Khuluq, M.A, BSW., ph.D.


*). Coret yang tidak perlu

ffi lli0

KEMENTERIAil AGAMA RI

UIN SI'NAN KALITAGA.


lln. Marcda Adisucipto Yogyakada, 55281
Telp. (027a) 519709 Fax (0274) ss797a e-mail: pps@uin-suka.ac.id. http://pps.uin-suka.ac,id,

PROGRAM PASCASARIANA

Nomor : UIN.02/PPs/PP.00.9/0 0t5 /2013 Lamp. : I (satu) eksemplar.

Yogyakarta, 4 januari 20 13

Hal.

Permohonan

Ijin Penelitian
:

Kepada Yth.

Gubernur Cq. Kepala Bappeda Propinsi D.I.Yogyakarta

Di Yogyakarta
Assalamu'alaikum wr. wb..

Dalam rangka merryelesaikan studi Program Magister bagi mahasiswa program Pascasarjana UIN Sunan_ Kalijaga Yogyakarta, dengan ini kami mengharap bantuan Bapak/Ibu Pimpinan unluk memberikan ijin dan kesempatan pada mahasiiwa berikut :
Nama Nomor Induk
Jenjang Semester

Program Studi Konsentrasi Tahun Akademik

Humairoh, S.Sos. 11200t0023 Magister (S2) III (tiga) Interdisciplinary Islamic Studies
Pekerjaan Sosial

2012t2013

ryYk melakukan penelitian guna penulisan tesis dengan judul: pENGENTASAN KELUARGA MISKIN MELALUI usEp KM (studi pada Kelompok usEp KM Sejahtera VIII di Kelurahan Tegalrejo yogyakarta)
Di bawah bimbingan : Drs. Latiful Khuluq, M.A., BSW., ph.D.
Demikian atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.
Was s alomu'

alaikum

r.

b.

tudi Islamic Studies,

MA., Ph.D. 7L24zAOLLz2002


., Tembusan:

3.

2.

1.

Direktur Program Pascasarjana (sebagai laporan); Sdri. Humairoh, S.Sos.; Pertinggal.

PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

SEKRETARIAT DAERAH
Kompleks Kepatihan, Danurejan, Telepon (4274') 562811 - 562814 (Hunting) YOGYAKARTA 55213

SURAT KETEMNGAN / IJIN


a70B79NnEA13
Membaca

Surat

Tanggal

: :

Direktur Prog. FascasarJana UIN Suka Yogyakarta Nomor


04 Januari 2013

: Perihal :

UlN.02/PPs/PP.00.910015/2013

Permohonan ljin Penelitian

Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2006, tentang Perizinan bagi Perguruan Tlnggi fulng, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing dan Orang Asing dalam

2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2007, tentang Pedoman penyelenggaraan

melakukan Kegitan Penelitian dan Pengembangan di lndonesia;

3.

Penelitlan dan Pengembangan diLingkungan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah; Peraturan Gubernur Daerah lstimewa Yogyakarta Nomor 37 Tahun 2008, tentang Rinclan Tugas dan

Fungsi Satuan Organisasi di Lingkungan Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan
RakYat Daerah.

4. peraturan

Gubemur Daerah lstimewa Yogyakarta Nomor 18 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan

Perlzinan, Rekomendasi Pelaksanaan Survei, Penelitlan, Pendataan, Pengembangan, Pengkajian, dan StudiLapangan di Daerah lstlmewa Yogyakarta'
D!!JINKAN untuk melakukan keglatan survei/penelitianlpendataan/pengembangan/pengkajian/studi lapangan kepada: Nama Alamat Judul Lokasi Waktu

NIP/NIM 112001002;F HUMAIROH, S.SOS Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta PENGENTASAN KELUARGA MISKIN MELALUI USEP KM (STUDI PADA KELOMPOK USEP KM SEJAHTERAVIII DI KELUMHAN TEGALREJO YOGYAKARTA) - Kec. TEGALREJO, Kota/Kab. KOTA YOGYAKARTA 15 Januari 2013 s/d 15 April 2013

Dengan Ketentuan

1. Menyerahkan surat keterangan/ijin survei/penelitian/pendataan/pengembangan/pengkajian/studi lapangan

.) dari

2.
3.

4.
5,

Pemerlntah Daerah DIY kepada BupatiMalikota melaluiinstitusiyang berwenang mengeluarkan ljin dimaksud; Menyerahkan soft copy hasil penelitiannya baik kepada Gubemur Daerah lstimewa Yogyakarta melalui Blro Administrasi Pembangunan Setda DIY dalam compaet disk (CD) maupun mengunggah (upload) melalui webslte adbangJogjaprcv.go.ld dan menunJukkan cetakan asli yang sudah disahkan dan dibubuhl cap institusl; fiin lnl hanya diperyunakan untuk keperluan ilmiah, dan pemegang iJln waJib mentaati ketentuan yang berlaku di lokaslkegiatan; fiin penelitian dapat diperpanJang maksimal 2 (dua) kali dengan menunjukkan surat ini kemball sebelum berakhlr waktunya setelah mengaJukan perpanjangan melalui website adbang.jogjaprov.go.id; ljin. yang diberikan dapat dibatalkan sewaktu-waktu apabita pemegang ijin ini tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. Dikeluarkan di Yogyakarta Pada tanggal 15 Januari 2013 A.n Sekretaris Daerah

Tembusan:

1. Yth. Gubemur Daerah lstlmewa Yogyakarta (sebagai laporan); 2. Walikota Yogyakarta cq. Dinas Perlzinin 3. Kepala Dinas SosialDlY {*Dlrektur Program Pascasarjana UIN Suka Yogyakarta

fir.ngtsersangruran

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA

DINAS

PERIZINAN

Jl. Kenari No. 56 Yogyakarta so16s retepon s1444g, slog6g, s1sg66, s62692 EMAIL: perizinan@ogjakota.go.id EMATL TNTRANET: perizinan@intra.jogjakota.go.id

SURAT IZIN

NOMOR
Dasar
Mengingat

070/01& 0153111

surat izin / RekomendasidariGubernur Kepala Daerah lstimewa yogyakarta Nomor : 0701379N11 12013 Tanggal :1510il2}13 1. Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pembentukan, Susunan, Kedudukan dan Tugas Pokok Dinas Daerah 2. Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 85 Tahun 2008 tentang Fungsi, Rincian Tugas
Dinas Perizinan Kotra Yogyakarta; 3. Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemberian tzin penelitian, Praktek Kerja Lapangan dan Kutiah Kerja Nyata diwlayah Kota yogyaka$a; 4. Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 18 Tahun 2011 tentang Penyelenlgaraan perizinan pada Pemerintah Kota Yogyakartr;

5' Peraturan Gubernur Daerah lstimewa Yogyakarta Nomor: 18 Tahun 200g tentang pedomar Pelayanan Perizinan, RekomendasiPelaksanaan Survei, Penelitian, pendataan, pengembangar Pengembangan, Pengkajian dan studi Lapangan diDaerah lstimewa yogyakarta;

Diijinkan Kepada

Nama Pekerjaan

Alamat
Penanggungjawab Keperluan

HUMAIRQH, S.Sos. NO MHS / Mahasiswa PPs UIN SUKAYogyakarta Jl. Marsda Adisucipto, Yogyakarta Drs. LatifulKhuluq, M.A., BSW., ph.D.

NtM

11200'10025

Melakukan Penelitian dengan judul proposal : pENGENTASAN KELUARGA MtSKtN I\4FLA!-U! USEP KM (Studipaaa Kerompor USEP KM Sejahtera Vlil di Kelurahan Tegilrejo i,ogyakarta)'

LokasilResponden

Kota Yogyakarta

Waktu
Lampiran Dengan Ketentuan

1510il2913 Sampai 1Sl04XA01g Proposal dan Daftar Pertanyaan 1. wajib_Memberi Laporan hasil penelitian be;"upa cD kepada walikota yogyakarta (Cq. Dinas Perizinan Kota yogyakarta) ?. Wiib Menjaga Tata tertib dan mentaatiketentuan-ketentuan yang berlaku setempat 3. lzin initidak disalahgunakan untuk tujuan tertentu yang dapat mengganggu kestaLihn Pemerintah dan hanya diperlukan untuk keperluan itmiatr' 4. surat izin ini sewaktu-waktu dapat dibatatkan apabila tidak dipenuhinya ketentuan -ketentuan tersebut diatas Kemudian diharap para Pejabat pemerintah setempat dapat memberi
bantuan seperlunya

:Yogyakarta
Perizinan
H

Tembusan Yth. 1. Walikota Y


101985031013 nan Setda Prop. DIY

2. Ka. Biro

Ka. Dinas Sosnakertrans Kota Yogyakarta