Anda di halaman 1dari 4

INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN FISIK DAN PEMERIKSAAN LAB Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter, didapatkan hasil

tekanan darah 90/60 mmHg, yang dapat diinterpretasikan lebih rendah dari angka normal (120/80 mmHg). Penurunan tekanan darah dapat terjadi secara fisiologis maupun patologis. Secara fisiologis, misal pada ibu hamil, penurunan tekanan darah terjadi akibat peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan relaksnya otot-otot jantung, sehingga tekanan darah menurun. Dapat pula disebabkan oleh keadaan patologis, seperti dehidrasi dan perdarahan. Dalam keadaan dehidrasi dan perdarahan, volume darah akan menurun sehingga akan menyebabkan penurunan tekanan darah. Denyut nadi pasien juga meningkat dari angka normal, yakni 100x/menit. Pada wanita hamil, denyut nadi biasanya meningkat sebagai kompensasi untuk memenuhi cardiac output yang juga meningkat. Cardiac output meningkat agar kebutuhan oksigen pada ibu hamil yang juga meningkat dapat terpenuhi. Oleh karena itu, frekuensi denyut jantung akan meningkat dan ventrikel jantung juga akan mengalami hipertrofi serta dilatasi sehingga stroke volume juga meningkat. Hal inilah yang menyebabkan cardiac output meningkat dan kebutuhan oksigen yang meningkat dapat terpenuhi. Hal ini juga berhubungan dengan frekuensi napas pasien yang meningkat, dari harga normal 20x/menit menjadi 24x/menit.

Peningkatan respiration rate pada wanita hamil adalah normal. Ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat pada wanita hamil. Selain itu, pada wanita hamil juga terjadi peningkatan volume tidal untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang bertambah pada wanita hamil. Keberadaan janin akan mendesak abdomen ke atas, sehingga kapasitas paruparu menjadi terbatas, ini berakibat meningkatnya frekuensi napas. Pada pemeriksaan suhu tubuh, hasil menunjukkan harga dalam batas normal. Suhu tubuh yang normal berkisar antara 36,5oC 37,5oC. Pada wanita hamil, suhu tubuh akan meningkat karena metabolisme yang meningkat sehingga panas yang terbentuk akan meningkat. Namun, tubuh akan berusaha mengeluarkan panas tersebut lewat

vasodilatasi pembuluh darah dan radiasi lewat pori-pori. Pengamatan konjungtiva pasien terlihat, yang dapat diinterpretasikan terjadinya anemia. Pada wanita hamil terjadi hemodilusi dan penurunan konsentrasi hemoglobin yang akan menimbulkan gejala klinis pada konjungtiva (menjadi pucat). Anemia ini terbukti dengan adanya hasil pemeriksaan laboratorium yang kemudian dilakukan oleh dokter, yang

menunjukkan kadar hemoglobin 6 mg/dl. Kadar hemoglobin pada ibu hamil dikatakan anemia apabila: trimester I : < 11 mg/dl trimester II : < 10,5 mg/dl trimester III: < 10 mg/dl Namun, anemia juga dapat terjadi karena keadaa patologis seperti perdarahan. Mulut kering dan tugor kulit menurun juga dapat terjadi pada ibu hamil karena ibu hamil mengalami dehidrasi. Dari gejala yang dialami pasien dan hasil pemeriksaan fisik, kemungkinan pasien mengalami dehidrasi akibat mual muntah berat yang dialami (hiperemesis gravidarum). Hiperemesis gravidarum dapat dikategorikan berdasarkan kriteria sebagai berikut: Tingkat I : tekanan darah turun dengan sistole tidak kurang dari 80 mmHg; turgor kulit

menurun; lidah kering; mata cekung Tingkat II : tekanan darah turun dengan sistole dibawah 80 mmHg; turgor kulit menurun; lidah kering; mata cekung Tingkat III : gejala di tingkat II dengan sianosis dan ikterik Hasil pemeriksaan fisik lain adalah fundus uteri teraba 1 cm di atas simfisis. Menurut metode pemeriksaan obstetrik, fundus uteri teraba 1 cm di atas simfisis menunjukkan kehamilan berumur 12 minggu. Pemeriksaan fundus uteri digunakan untuk mengetahui tahapan kehamilan melalui beberapa metode, contohnya McDonald (Tabel 1). Metode lain bisa dengan standar internasional atau Bartolomew. Minggu kehamilan 12 15 20 28 32 36 40 Tinggi fundus kira-kira Hanya teraba di atas simfisis (1 2 cm) Pertengahan simfisis-umbilikus Pada umbilikus 6 cm dibawah umbilikus 6 cm dibawah xiphoid 4 cm dibawah xiphoid 2 cm dibawah xiphoid

Tabel 1. Pemeriksaan fundus uteri metode McDonald

Pada pemeriksaan inspekulo tampak ostium uteri eksternum tertutup dan keluar darah segar. Pada kehamilan normal, ostium uteri eksternum memang tertutup. Namun, pada keadaan abortus spontan, ostium uteri eksternum pada porsio masih terbuka atau sudah tertutup. Sedangkan hasil pemeriksaan inspekulo berupa portio livid dapat terjadi karena adanya bendungan vaskular yang menyebabkan portio tampak berwarna merah-kebiruan. Hal ini biasa terjadi pada wanita hamil. Normalnya, portio berwarna merah muda. Keluarnya darah segar dari ostium uteri eksternum, dapat merupakan tanda kehamilan normal (Tanda Hartman), dapat pula merupakan tanda perdarahan pada abortus spontan, khususnya abortus iminens, karena pada skenario dijelaskan bahwa keluarnya darah dari vagina sedikit-sedikit. Sementara pada jenis abortus spontan lainnya, seperti abortus insipien dan inkomplit, perdarahan yang terjadi biasanya bersifat lebih. Adanya perdarahan pervaginam diperkuat dengan hasil dari vagina toucher yaitu sarung tangan lendir darah (+). Namun, tidak ditemukan nyeri tekan. Nyeri tekan biasanya terjadi pada kehamilan ektopik dan beberapa abortus, sedangkan pada kehamilan normal tidak menunjukkan nyeri tekan yang berarti. Pmeriksaan uterus sebesara telur angsa memungkinkan kehamilan yang berumur kira-kira 3 bulan (12 minggu). Rahim yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam kampung, pada kehamilan 2 bulan sebesar telur bebek, dan kehamilan 3 bulan sebesar telur angsa. Walaupun begitu, ukuran uterus juga berbeda-beda tiap individu karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, misal RAS dan postur tubuh. Keadaan anemis pada pasien (hemoglobin 6 mg/dl) dapat terjadi karena hiperemesis gravidarum yang dialami pasien, sehingga asupan gizi, seperti zat besi yang dibutuhkan tubuh, berkurang. Selain itu, kebiasaan minum alkohol dan merokok pasien juga bisa menyebabkan gangguan penyerapan asam folat dan B12, yang juga dapat berakibat anemis. Pada skenario ini, sulit untuk menentukan diagnosis pasti apa yang sebenarnya terjadi pada pasien. Dari hasil pemeriksaan dan keluhan-keluhan yang dialami pasien, diagnosis banding yang paling logis adalah kehamilan normal dan abortus iminens yang disertai dengan komplikasi berupa hiperemesis gravidarum. Mungkin, itu alasannya mengapa dokter menyarankan pasien untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografi karena dengan pemeriksaan ini, dapat diketahui keadaan janin yang sedang dikandung pasien masih berkembang dengan normal atau cenderung untuk mengalami abortus spontan. Selain itu, pemeriksaan USG lebih baik memang dilakukan secara rutin untuk mengetahui perkembangan janin.

DAFTAR PUSTAKA Campbell, NA, Reece JB, Mitchell LG. 2004. Biologi Jilid III Edisi 5. Jakarta : Penerbit Erlangga, pp: 162, 164-5 Guyton, AC, Hall JE. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : EGC, pp: 1070-1 Price SA, Wilson LM. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC, pp: 1279 Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. 2005. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid I. Jakarta : Media Aesculapius, pp: 253-4, 258, 259-63 Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I Edisi Ii. Jakarta : EGC, pp: 43-5, 195 Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. 1991. Obstetri Williams Edisi 17. Surabaya : Airlangga University Press, pp: 9, 243-51, 539-45 Benson RC, Pernoll ML. 2009. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi Edisi 9. Jakarta:EGC