Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN KATARAK A. Konsep Dasar Katarak 1.

Pengertian Katarak Katarak adalah proses terjadinya opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun (Marilynn Doengoes, dkk. 2000). Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran ( katarak congenital ). Dapat juga berhubungan karena trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemis, seperti diabetes miletus atau hipopara tiroidisme, pemajanan radiasi, pemajanan sinar matahari ( ultraviolet ) yang lama, atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior. Diperkirakan 5-10 juta indifidu mengalami kerusakan penglihatan akibat katarak setiap tahun (newell, 1986). Di USA sendiri 300. 000 400.000 ekstraksi mata tiap tahunnya. Insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi yang lebih tua.

2. Etiologi 1) Ketuaan, biasanya dijumpai katarak senilis. 2) Trauma, terjadi karena pukulan benda tumpul /tajam terpapar oleh sinar X atau benda-benda radioaktif. 3) Penyakit mata seperti Uveitis 4) Penyakit sistemik seperti DM. 5) Defek congenital.

3. Fisiologi Lensa Mata Fungsi lensa mata memfokuskan sinar pada retina. Pada saat itu kekuatan refraksi lensa berubah sesuai dengan kebutuhan sehingga sinar dapat difokuskan pada retina. Perubahan kekuatan retraksi disebut akomodasi. 2 (dua) faktor yang menentukan dalam akomodasi yaitu: a. b. Kemampuan lensa untuk berubah bentuk (menjadi lebih cembung) Kekuatan dari muskulus siliaris.

Bila muskulus siliaris relaks, zonula zinn menjadi tegang, diameter antara posterior lensa menjadi lebih pendek dan kekuatan refraksi berkurang. Sebaliknya bila muskulus siliaris kontraksi maka ketegangan zonula zinn berkurang, sehingga bentuk lensa menjadi lebih cembung dan kekuatan refraksi bertambah.

4. Klasifikasi Katarak Menurut etiologinya katarak dibagi menjadi : 1) Katarak senile ( 95 %) . Katarak ini disebabkan oleh ketuaan (lebih 60 tahun). Menurut catatan The framinghan eye studi, katarak terjadi 18 % pada usia 65 74 tahun dan 45 % pada usia 75 84 tahun. Beberapa derajat ktarak diduga terjadi pada semua orang pada usia 70 tahun. 2) Katarak congenital Katarak yang terjadi sebelum atau segera setelah lahir ( bayi kurang dari 3 bulan). Katarak congenital digolongkan dalam : Katarak kapsulo lentikuler: Merupakan katarak pada kapsul dan kortek. Katarak lentikuler: merupakan kekeruhan lensa yang tidak mengenai kapsul. Katarak congenital atau trauma yang berlanjut dan terjadi pada anak usia 3 bln sampai 9 tahun merupakan katarak juvenil . 3) Katarak traumatic : terjadi karena cedera pada mata, seperti trauma tajam/trauma tumpul, adanya benda asing pada intra okuler,X Rays yang berlebihan atau bahan radio aktif. Waktu untuk perkembangan katarak traumatic dapat bervariasi dari jam sampai tahun. 4) Katarak toksik : Setelah terpapar bahan kimia atau substansi tertentu (korticostiroit, Klorpromasin/torasin, miotik, agen untuk pengobatan glaucoma). 5) Katarak asosiasi : penyakit sistemik seperti DM, Hipoparatiroid,Downs sindrom dan dermatitis atopic dapat menjadi predisposisi bagi individu untuk

perkembangan katarak. Pada penyakit DM, kelebihan glukosa pada lensa secara kimia dapat mengurangi alcoholnya yang disebut L-Sorbitol. Kapsul lensa

impermiabel terhadap gula,alcohol dan melindungi dari pelepasan. 6) Katarak komplikata : Katarak ini dapat juga terjadi akibat penyakit mata lain (kelainan okuler). Penyakit intra okuler tersebut termasuk retinitis pigmentosa, glaucoma dan retina detachement. Katarak ini biasanya unilateral.

5. Stadium Katarak 1) Stadium insipien Kekaburan dimulai pada bagian perifer lensa, lambat laun mengarah pada bagian inti lensa mata sehingga menyerupai terali besi ( roda sepeda ). Pada keadaan ini biasanya katarak stasioner. 2) Stadium intumesen ( imatur ) Terjadi perubahan pada lensa, dimana lensa menjadi bengkak dan menarik

cairan dari jaringan sekitar. Kelainan yang nampak pada keadaan ini adalah myopia, astigmatisme, bayangan iris pada lensa terlihat. 3) Stadium maturesen ( matur ) Kekaburan lensa lebih padat dan lebih mudah dipisahkan dari kapsulnya, ini merupakan stadium yang tepat untuk dilakukan operasi. 4) Stadium hipermatur Biasanya akan ditemukan beberapa perubahan, katarak menjadi lembek, mencair atau menjadi seperti susu.

6. Patofisiologi Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju; mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nucleus, di perifer ada kortek, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opesitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan pada serabut halus multiple (zunula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak. Katarak biasanya terjadi bilateral namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemis, seperti diabetes, namun sebenarnya mempunyai konsekwensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan matang ketika seseorang memasuki dekade ketuju. Katarak dapat bersifat congenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanent. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet B, obat-obatan, alcohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antitoksin yang kurang dala jangka waktu yang lama.

7. Patways Klasifikasi Katarak

Katarak kongenital

Katarak juvenil

Katarak senilis

Katarak traumatic

Katarak metabolik

Otot ( distrofi miotonuik )

Katarak traumatik

Katarak komplikata

PEMBEDAHAN

Komplikasi

Pengelolaan : kacamata apakia, lensa kontak, lensa tanam

Perdarahan

Post Operasi Prolaps iris

Glaukoma Nyeri

Peradangan

Gangguan persepsi sensori visual Akomodasi menurun Gangguan rasa

Resti infeksi

nyaman nyeri

8. Tanda-Tanda Katarak 1) Visus menurun, berlangsung lambat sampai cepat tergantung proses kekeruhannya 2) Pada katarak tipe nucleus, penglihatan menjadi lebih terang pada waktu senja dibanding pada waktu siang hari 3) Pada katarak tipe kortek, sebaliknya 4) Terlihat bintik-bintik hitam pada suatu lapang pandang pada posisi tertentu ( pada stadium insipien ) 5) Diplopia atau poliplopia ( pengaruh pembiasan yang ireguler dari lensa mata ) 6) Myopia, sebagai proses pembentukan katarak dimana lensa mengabsorpsi air sekitar lensa sehingga lensa menjadi cembung.

9. Pemeriksaan Penunjang 1) Penyinaran samping Dengan bantuan lampu senter, terlihat kekaburan lensa mata yang putih keabuan dengan dasar hitam. Pada stadium imatur, tampak bayangan iris diatas lensa akibat superfisial lensa masih transparan, iris shadow positif. Pada stadium matur, iris shadow negative, lensa keruh sama sekali. 2) Offtalmoskope Pada stadium impisien da imatur tampak kekaburan yang kehitaman dengan latar belakang merah jambu. Pada stadium matur haya didapat warana putih atau kehitaman tanpa latar belakang merah jambu, lensa sudah keruh.

10. Penatalaksanaan 1) Stadium I Dengan deteksi catalin, catalin adalah zat yang berfungsi untuk menghalangi kerja zat quino, yaitu zat yang mengubah protein lensa mata yang bening menjadi gelap. Tujuan pegobatan ini adalah untuk menekan proresifitas kekaburan lensa supaya katarak menjadi stasioner. 2) Stadium II Dilakukan secara simtomatis. 3) Stadium III, dan IV Operasi untuk mengeluarkan lensa yang karakteus. Ada dua macam teknik pembedahan untuk pengangkatan katarak : 1. Ekstraksi Katarak Intrakapsuler Ekstraksi katarak intra kapsuler ( ICCE, intra capsuler catarak ekstraksion ) dalah pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zona dipisahkan, lensa diangkat dengan cryoprobe, yang diletakkan secara langsung pada kapsula lentis. Bedah beku berdasar pada suhu pembekuan untuk mengangkat suatu lesi

atau abnormalitas. Insrumen bedah beku bekerja dengan prinsip bahwa logam dingin akan melekat pada benda yang lembab. Ketika cryoprobe diletakkan secara langsung pada kapsula lentis, kapsula akan melekat pada probe.lensa kemudian diangkat secara lembut. Yang dahulu merupakan cara pangangkatan katarak utama, ICCE sekarang jarang dilakukan karena tersedianya teknik bedah yang lebih canggih. 2. Ekstraksi Katarak Ekstrakapsuler Ekstraksi katarak ekstracapsuler ( ECCE, extracapsuler catarak ekstraksion ) sekarang merupakan teknik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98 % pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan. Prosedur ini meliputi pengambilan kapsula anterior, menekan keluar nucleus,dan mengisap sisa fragmen kortikal lunak menggunakan irigasi dan alat hisap. Dengan meninggalkan kapsula posterior dan zonula lentis tetap utuh, dapat mempertahankan arsitektur bagi posterior mata, jadi mengurangi insidensi yang serius. Evaluasi sesudah operasi katarak : Hari 1 sesudah operasi harus sudah dievaluasi yaitu : 1) Perdarahan dibilik mata depan (hifema). 2) Kamera okuli anterior jernih/keruh : Bila mata depan keruh (flare/sel positif) o o o Bilik mata depan keruh (flare /sel positif) Mungkin sampai terjadi pengendapan pus di bilik mata depan (hipopion). Iris miossi disertai sinekia postrior

3) Perhatikan pupil miosis/midriasis/normal : o Miosis : biasanya dipergunakan miotikum pada waktu operasi sehingga hari berikutnya pupil menjadi miosis. Miosis ini dapat terjadi bila terjadi uveitis anterior, dan biasanya disertai adanya sinekia posterior. o o Midirasis : dapat terjadi bila ada peningkatan tekanan intra okuler (glaucoma) Pupil tidak bulat : terjadi bila pada waktu operasi terjadi korpukasi (korpus viterius keluar).

PENGOBATAN SESUDAH OPERASI KATARAK : Setelah operasi dapat diberi : Kacamata, diberikan bila tanda-tanda iritasi sudah hilang (kurang lebih sesudah 1,5 bulan post op), sudah tidak ada perubahan refraksi (3 x refraksi tiap minggu). Lensa Kontak : Penglihatan lebih baik daripada kacamata, dan dipakai pada operasi katarak unilateral (satu mata).

Inolan Lensa Intra Okuli (IOL) : o Implan ini memasukkan ke dalam mata pada saat operasi, menggantikan lensa yang diambil (ECCE). o o o Letaknya permanen Tidak memerlukan perawatan. Visus lebih baik daripada kacamata / lensa kontak.

Kerugian : o o Merupakan benda asing, kemungkinan bereaksi / ditolak oleh tubuh. Tehnik operasi lebih sukar/canggih.