Anda di halaman 1dari 75

I.

MODUL 1 KEBIJAKAN DASAR PUSKESMAS DAN PENERAPANNYA

DESKRIPSI SINGKAT Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan
DESKRIPSI SINGKAT
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional. Tujuan pembangunan kesehatan
adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal. Keberhasilan pembangunan
kesehatan berperan penting dalam meningkatkan mutu dan
daya saing sumber daya manusia Indonesia.
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut
diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara
menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Puskesmas adalah
penanggung jawab penyelenggaraan upaya kesehatan
masyarakat dan perorangan jenjang pertama.
Pada saat ini Puskesmas telah dibangun hampir diseluruh
pelosok tanah air. Untuk menjangkau seluruh wilayah
kerjanya, puskesmas diperkuat dengan puskesmas pembantu
serta puskesmas keliling, sehingga dengan demikian seluruh
daerah terpencil sudah dapat dijangkau sehingga masyarakat
pada prinsipnya sudah mempunyai fasilitas pelayanan
kesehatan.

Dalam rangka mengoptimalkan fungsi Puskesmas dalam mendukung tercapainya tujuan penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Departemen Kesehatan telah menetapkan kebijakan dan langkah-langkah strategis sebagai acuan dalam penyelenggaraan puskesmas, yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan

II.

Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Puskesmas harus memahami kebijakan tersebut secara benar, serta mampu menerapkannya dalam pengelolaan dan penyelenggaraan Puskesmas. Oleh karena itu modul Kebijakan dasar Puskesmas dan Penerapannya menjadi bagian dari modul pelatihan Manajemen Puskesmas.

Modul ini akan membahas tentang: Kebijakan Dasar Puskesmas meliputi Konsep Dasar Puskesmas, Kedudukan organisasi dan
Modul ini akan membahas tentang: Kebijakan Dasar
Puskesmas meliputi Konsep Dasar Puskesmas, Kedudukan
organisasi dan Tata Kerja, Upaya dan Azas
Penyelenggaraan, Manajemen Puskesmas dan Pembiayaan,
serta Penerapan dalam Penyelenggaraan Puskesmas.
Metode pembahasan menggunakan metode yang melibatkan
peran aktif peserta, meliputi: ceramah tanya jawab, curah
pendapat, diskusi kelompok dan pleno.
TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti sesi ini, peserta latih mampu memahami
kebijakan dasar Puskesmas serta penerapannya dalam
penyelenggaraan Puskesmas.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta latih mampu:

1. Menjelaskan konsep dasar puskesmas. 2. Menjelaskan kedudukan, organisasi dan tata kerja puskesmas. 3. Menjelaskan upaya dan azas penyelenggaraan pelayanan puskesmas. 4. Menjelaskan ruang lingkup manajemen puskesmas. 5. Menjelaskan pembiayaan upaya kesehatan di puskesmas. 6. Mengaplikasikan kebijakan dasar dalam penyelenggaraan Puskesmas.

III.

POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN Pokok Bahasan 1. Konsep dasar Puskesmas. Sub Pokok Bahasan
POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN
Pokok Bahasan 1. Konsep dasar Puskesmas.
Sub Pokok Bahasan : Visi dan Misi, Tujuan pembangunan
kesehatan oleh puskesmas dan Fungsi Puskesmas.
Pokok Bahasan 2. Kedudukan, Organisasi dan Tata Kerja
Puskesmas.
Sub pokok Bahasan:
• Kedudukan
• Organisasi
• Tata Kerja
Pokok Bahasan 3. Upaya dan Azas Penyelenggaraan
Sub Pokok Bahasan :
• Upaya
• Penyelenggaraan
Pokok Bahasan 4. Manajemen Puskesmas
Sub Pokok Bahasan :
• Perencanaan
• Pelaksanaan dan pengendalian
• Pengawasan dan pertanggungjawaban
Pokok Bahasan 5. Pembiayaan upaya pelayanan
puskesmas.
Pokok Bahasan 6. Aplikasi Kebijakan dalam
penyelenggaraan Puskesmas
Sub Pokok Bahasan:
- Visi dan Misi
- Penerapan Fungsi
- Penerapan Upaya dan Azas Penyelenggaraan

- Penerapan manajemen Puskesmas

IV.

Langkah-langkah pembelajaran Langkah 1. Pengkondisian (10’)

• Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran, metode yang digunakan, mengapa modul/materi ini diperlukan dalam
• Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran, metode
yang digunakan, mengapa modul/materi ini diperlukan
dalam pelatihan Manajemen Puskesmas, serta keterkaitan
dengan materi lainnya.
• Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta yang
sudah mempunyai pengalaman dalam melaksanakan
pelayanan untuk menyampaikan pengalamannya.
• Peserta lain diminta untuk memberi tanggapan.
Langkah 2. Membahas Pokok Bahasan (90 menit )
• Secara singkat fasilitator menyampaikan rangkuman
tentang Kebijakan Dasar Puskesmas yaitu isi Pokok
Bahasan 1 sampai dengan pokok bahasan 4. Selanjutnya
fasilitator mempersilahkan peserta untuk menanggapi
uraian tersebut.
• Fasilitator membagi ke dalam 4-5 kelompok, setiap
kelompok membahas Sub Pokok Bahasan 1 sampai
dengan sub pokok bahasan 4 yang dituliskan pada kertas
flip chart atau diketik di komputer dan di presentasikan.
• Selanjutnya fasilitator memberikan kesempatan kepada
peserta untuk menanggapi terhadap hasil pendapat tiap
kelompok.
• Dari hasil pendapat peserta selanjutnya fasilitator
memberikan komentar serta memberikan kesimpulan.
Langkah 3. Applikasi/penerapan kebijakan dalam
penyelenggaraan Puskesmas ( 160 menit).

Fasilitator menjelaskan tentang Aplikasi/penerapan kebijakan dalam penyelenggaraan Puskesmas

Peserta diberi kesempatan untuk tanya jawab.

Selama sesi ini ada beberapa penugasan, yaitu:

oPenugasan 1 : Menyusun Visi dan Misi Puskesmas. oPenugasan 2 : Pemantapan Pemahaman Pembangunan Berwawasan
oPenugasan 1 : Menyusun Visi dan Misi Puskesmas.
oPenugasan 2 : Pemantapan Pemahaman Pembangunan
Berwawasan Kesehatan
oPenugasan 3 : Mengidentifkasi Program Pemberdayaan
Masyarakat diwilayah kerja puskesmas
• Untuk penugasan tersebut peserta dibagi dalam kelompok,
sebaiknya tim Puskesmas.
• Kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil
diskusinya.
• Peserta lain diminta untuk memberi tanggapan.
• Fasilitator memberikan komentar dan menyimpulkan hasil
diskusi tersebut.
Langkah 4. Rangkuman dan Penutup (10 menit).
• Fasilitator secara singkat menyimpulkan seluruh hasil diskusi
serta aplikasi pemberdayaan masyarakat dan sekaligus
menutup sesi ini.
• Fasilitator memandu peserta untuk membuat rangkuman dari
sesi yang sudah dibahas.
• Fasilitator menegaskan kembali pentingnya Puskesmas
menerapkan/mengaplikasikan Kebijakan Dasar Puskesmas
dalam penyelenggaraan/pengelolaan Puskesmas.
• Fasilitator menutup sesi dengan mengucapkan terimakasih
dan salam.

V.

URAIAN MATERI A. KEBIJAKAN DASAR PUSKESMAS 1. Konsep dasar Puskesmas VISI dan MISI Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mencakup 4 indikator utama yakni (1) lingkungan sehat, (2) prilaku sehat, (3) cakupan pelayanan kesehatan yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah kecamatan setempat. Rumus visi untuk masing-masing puskesmas harus mengacu pada visi pembangunan kesehatan puskesmas di atas yakni terwujudnya kecamatan sehat, yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah kecamatan setempat.

MISI Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan
MISI
Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan
oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi
pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut adalah:

1.Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas akan selalu menggerakkan pembangunan disektor lain yang diselenggarakan diwilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan, yaitu pembangunan

yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat. 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi setiap keluarga dan masyarakat diwilayah kerjanya. Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya dibidang kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan menuju kemandirian untuk hidup sehat. 3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan dan sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota masyarakat. 4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta anggota masyarakat. Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya pemeliharaan dan peningkatan yang dilakukan puskesmas mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan.

dilakukan puskesmas mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan. Kurikulum dan Modul Manajemen Puskesmas 7

Tujuan pembangunan kesehatan oleh puskesmas

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan
oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan
pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan
kesehatan, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja
Puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia sehat 2010.
Fungsi Puskesmas.
1.
Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan
Kesehatan. Puskemas selalu berupaya menggerakkan
dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas
sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di
wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta
mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu
Puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak
kesehatan dari penyelenggaraan setiap program
pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk
pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan
Puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa
mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan.
2.
Pusat Pemberdayaan Masyarakat
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama
pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat dunia
usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan
melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat,
berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan
kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut
menerapkan, menyelenggarakan dan memantau
pelaksanaan program kesehatan. Pemberdayaan

perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat. 3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi :

a. Pelayanan Kesehatan Perseorangan Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi (private
a. Pelayanan Kesehatan Perseorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan
yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan
utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan
kesehatan perorangan. Tanpa mengabaikan
kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan
perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk
Puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.
b. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan
yang bersifat publik (public goods). Dengan tujuan
utama memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara
lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan
penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi,
peningkatan kesehatan keluarga, keluarga
berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta
berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.

2. Kedudukan Organisasi dan Tata Kerja Puskesmas a. Kedudukan Kedudukan Puskesmas dibedakan menurut keterkaitannya dengan sistem kesehatan nasional, sistem kesehatan kabupaten/kota dan sistem pemerintah daerah :

kesehatan kabupaten/kota dan sistem pemerintah daerah : 1) Sistem Kesehatan Nasional Kedudukan Puskesmas dalam

1) Sistem Kesehatan Nasional Kedudukan Puskesmas dalam sistem kesehatan nasional adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya. 2) Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota Kedudukan Puskesmas dalam sistem kesehatan kabupaten/kota adalah sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan kabupaten/kota diwilayah kerjanya. 3) Sistem Pemerintah Daerah Kedudukan Puskesmas dalam Sistem Pemerintahan Daerah adalah sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang merupakan unit struktur Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bidang kesehatan ditingkat kecamatan. 4) Antar Saran Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Diwilayah kerja Puskesmas terdapat berbagai organisasi pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta seperti praktik dokter, praktik dokter gigi, praktik bidan, poliklinik dan balai kesehatan masyarakat. Kedudukan Puskesmas di antara

berbagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama ini adalah sebagai mitra. Diwilayah kerja Puskesmas terdapat pula berbagai bentuk upaya kesehatan berbasis dan berbudaya masyarakat seperti Posyandu, Polindes, Pos Obat Desa dan Pos UKK. Kedudukan Puskesmas diantara berbagai sarana pelayanan kesehatan berbasis dan bersumberdaya masyarakat adalah sebagai Pembina.

b. Organisasi 1) Struktur Organisasi Struktur organisasi Puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas
b. Organisasi
1) Struktur Organisasi
Struktur organisasi Puskesmas tergantung dari
kegiatan dan beban tugas masing-masing
Puskesmas. Penyusunan struktur organisasi
Puskesmas disatu kabupaten/kota dilakukan oleh
dinas kesehatan kabupaten/kota. Sedangkan
penetapannya dilakukan dengan peraturan
daerah. Sebagai acuan dapat dipergunakan pola
struktur organisasi Puskesmas sebagai berikut :
a) Kepala Puskesmas
b) Unit tata usaha yang bertanggung jawab
membantu Kepala Puskesmas dalam
pengelolaan :
- Data dan Informasi
- Perencanaan dan Penilaian
- Keuangan
- Umum dan Kepegawaian
c) Unit pelaksanaan teknis fungsional puskesmas:
- Upaya Kesehatan Masyarakat, termasuk
pembinaan terhadap UKBM
- Upaya Kesehatan Perorangan

d) Jaringan Pelayanan Puskesmas :

- Unit Puskesmas Pembantu

- Unit Puskesmas Keliling - Unit Bidan didesa/komunitas 2) Kriteria Personalia Kriteria personalia yang mengisi
- Unit Puskesmas Keliling
- Unit Bidan didesa/komunitas
2)
Kriteria Personalia
Kriteria personalia yang mengisi struktur
organisasi Puskesmas disesuaikan dengan
tugas dan tanggungjawab masing-masing unit
Puskesmas. Khusus untuk Kepala Puskesmas
kriteria tersebut dipersyaratkan tersebut harus
seorang sarjana dibidang kesehatan yang
kurikulum pendidikannya mencakup kesehatan
masyarakat.
3)
Eselon Kepala Puskesmas
Kepala Puskesmas adalah penanggungjawab
pembangunan kesehatan ditingkat Kecamatan.
Sesuai dengan tanggungjawab tersebut dan
besarnya peran Kepala Puskesmas dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan
ditingkat Kecamatan maka Jabatan Kepala
Puskesmas setingkat dengan Eselon III-B.
Dalam keadaan tidak tersedia tenaga yang
memenuhi syarat untuk menjabat jabatan Eselon
III-B, ditunjuk pejabat sementara yang sesuai
dengan kriteria Kepala Puskesmas yakni seorang
sarjana dibidang kesehatan yang kurikulum
pendidikannya mencakup bidang kesehatan
masyarakat, dengan kewenangan yang setara
dengan pejabat tetap.

c. Tata kerja

1) Dengan Kantor Kecamatan Dalam melaksanakan fungsinya, Puskesmas berkoordinasi dengan kantor Kecamatan melalui
1)
Dengan Kantor Kecamatan
Dalam melaksanakan fungsinya, Puskesmas
berkoordinasi dengan kantor Kecamatan melalui
pertemuan berkala yang diselenggarakan ditingkat
Kecamatan. Koordinasi tersebut mencakup
perencanaan, penggerakkan pelaksanaan,
pengawasan dan pengendalian serta penilaian.
Dalam hal pelaksanaan fungsi penggalian sumber
daya masyarakat oleh Puskesmas, koordinasi
dengan kantor kecamatan mencakup pula
kegiatan fasilitas.
2) Dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas
kesehatan kabupaten/kota. Dengan demikian
secara teknis dan administratif, Puskesmas
bertanggungjawab kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota sebaliknya dinas kesehatan
kabupaten/kota bertanggungjawab membina serta
memberikan bantuan administratif dan teknis
Kepala Puskesmas.
3) Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Strata
pertama
Sebagai mitra pelayanan kesehatan strata
pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat
dan swasta, Puskesmas menjalin kerjasama
termasuk penyelenggaraan rujukan dan
memantau kegiatan yang diselenggarakan.
Sedangkan sebagai pembina upaya kesehatan
bersumberdaya masyarakat, Puskesmas

melaksanakan bimbingan teknis, pemberdayaan dan rujukan sesuai kebutuhan.

4) Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan
4) Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan
Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
perorangan dan upaya kesehatan masyarakat,
Puskesmas menjalin kerjasama yang erat dengan
berbagai pelayanan kesehatan rujukan. Untuk
upaya kesehatan perorangan, jalinan kerjasama
tersebut diselenggarakan dengan berbagai sarana
pelayanan kesehatan perorangan seperti rumah
sakit (kabupaten/kota), dan berbagai balai
kesehatan masyarakat (balai pengobatan penyakit
paru-paru, balai kesehatan mata masyarakat,
balai kesehatan kerja masyarakat, balai kesehatan
olahraga masyarakat, balai kesehatan jiwa
masyarakat, balai kesehatan indra masyarakat).
Sedangkan untuk upaya kesehatan masyarakat,
jalinan kerjasama diselenggarakan dengan
berbagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat
rujukan, seperti dinas kesehatan kabupaten/kota,
balai teknik kesehatan lingkungan, balai
laboratorium kesehatan serta barbagai balai
kesehatan masyarakat. Kerjasama tersebut
diselenggarakan melalui penerapan konsep
rujukan yang menyeluruh dalam koordinasi dinas
kabupaten/kota.

5) Dengan Lintas Sektor Tanggung jawab Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan dinas kesehatan kabupaten/kota. Untuk hasil yang optimal, penyelenggaraan pembangunan tersebut harus dapat dikoordinasi

dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada ditingkat kecamatan. Diharapkan disatu pihak, penyelenggaraan pembangunan kesehatan sedangkan dipihak lain pembangunan yang diselenggarakan oleh sektor lain ditingkat kecamatan berdampak positif terhadap kesehatan.

6) Dengan Masyarakat Sebagai Penanggungjawab penyelenggaraan pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya, Puskesmas
6) Dengan Masyarakat
Sebagai Penanggungjawab penyelenggaraan
pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya,
Puskesmas memerlukan dukungan aktif dari
masyarakat sebagai objek dan subjek
pembangunan. Dukungan aktif tersebut
diwujudkan melalui pembentukan Badan
Penyantun Puskesmas (BPP).
yang menghimpun berbagai potensi masyarakat,
seperti : tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM,
organisasi kemasyarakatan, serta dunia usaha.
BPP tersebut berperan sebagai mitra Puskesmas
dalam menyelenggarakan pembangunan
kesehatan.
Badan Penyantun Puskesmas (BPP)
Pengertian :
Suatu organisasi yang menghimpun tokoh-tokoh masyarakat
peduli kesehatan yang berperan sebagai mitra kerja
puskesmas dalam penyelenggaraan upaya pembangunan
C.
kesehatan diwilayah kerja Puskesmas.
Fungsi :

1. Melayani pemenuhan penyelenggaraan pembangunan kesehatan oleh puskesmas (to serve) 2. Memperjuangkan kepentingan kesehatan dan keberhasilan pembangunan kesehatan oleh Puskesmas (to advocate) 3. Melaksanakan tinjauan kritis dan memberikan masukan tentang kinerja Puskesmas (to watch)

3. Upaya dan Azas penyelenggaraan a. Upaya Untuk mencapai visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas yakni terwujudnya kecamatan sehat menuju Indonesa Sehat, Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan

masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama.
masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari sistem
kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan
tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut
dikelompokkan menjadi dua yakni :
1)
Upaya Kesehatan Wajib
Upaya kesehatan wajib Puskesmas adalah upaya
yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional,
regional dan global serta mempunyai daya ungkit
tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan
masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus
diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada
di wilayah Indonesia.
Upaya kesehatan wajib tersebut adalah :
a. Upaya Promosi Kesehatan
b. Upaya Kesehatan Lingkungan
c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga
Berencana
d. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit Menular
f. Upaya Pengobatan
2)
Upaya kesehatan Pengembangan
Upaya kesehatan pengembangan adalah upaya
yang ditetapkan berdasarkan permasalahan
kesehatan yang ditemukan dimasyarakat serta
yang disesuaikan dengan kemampuan
Puskesmas, Upaya kesehatan pengembangan

dipilih

Puskesmas yang telah ada yakni :

dari

daftar

upaya

kesehatan

pokok

a) Upaya Kesehatan Sekolah b) Upaya Kesehatan Olah Raga c) Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat d)
a) Upaya Kesehatan Sekolah
b) Upaya Kesehatan Olah Raga
c) Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
d) Upaya Kesehatan Kerja
e) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
f) Upaya Kesehatan Jiwa
g) Upaya Kesehatan Mata
h) Upaya Kesehatan Usia Lanjut
i) Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional

Upaya laboratorium medis dan laboratorium kesehatan serta upaya pencatatan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan. Perawatan kesehatan masyarakat merupakan pelayanan penunjang baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Apabila perawatan kesehatan masyarakat menjadi permasalahan spesifik didaerah tersebut maka dapat dijadikan sebagai salah satu upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan pengembangan Puskemas dapat pula bersifat upaya inovasi, yakni upaya lain diluar upaya Puskesmas tersebut diatas yang sesuai dengan kebutuhan. Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovatif ini adalah dalam rangka mempercepat tercapainya visi Puskesmas. Pemilihan upaya kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh Puskesmas bersama dinas kesehatan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan masukan dari BPP. Upaya kesehatan telah terlaksana secara optimal dalam

arti target cakupan serta peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan upaya kesehatan pengembangan pilihan Puskesmas ini dilakukan oleh Dinas kesehatan kabupaten/kota. Dalam keadaan tertentu Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas dapat pula ditetapkan sebagai penugasan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Apabila Puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan padahal telah menjadikan kebutuhan masyarakat, maka dinas kesehatan kabupaten/kota bertanggungjawab dan wajib menyelenggarakannya. Untuk dinas kesehatan kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit fungsional lainnya. Dalam keadaan tertentu, masyarakat membutuhkan pula pelayanan rawat inap. Untuk ini di Puskesmas dapat dikembangkan pelayanan rawat inap tersebut, yang dalam pelaksanaannya harus memperhatikan berbagai persyaratan tenaga, sarana dan prasaran sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, dibeberapa daerah tertentu telah muncul pula kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan medik spesialistik. Dalam keadaan ini, apabila ada kemampuan, di Puskesmas dapat dikembangkan pelayanan medik spesialistik tersebut, baik dalam bentuk rawat jalan maupun rawat inap. Keberadaan pelayanan medik spesialistik di Puskesmas hanya dalam rangka mendekatkan pelayanan rujukan kepada masyarakat yang membutuhkan. Status dokter dan atau tenaga spesialis yang bekerja di Puskesmas sebagai tenaga konsulen atau tenaga

spesialis yang bekerja di Puskesmas sebagai tenaga konsulen atau tenaga Kurikulum dan modul Manajemen Puskesmas 18

tetap fungsional Puskesmas yang diatur oleh Dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.

Perlu diingat meskipun Puskesmas menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik dan memiliki tenaga spesialis, kedudukan
Perlu diingat meskipun Puskesmas
menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik
dan memiliki tenaga spesialis, kedudukan dan
fungsi Puskesmas tetap sebagai sarana
pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan
masyarakat diwilayah kerjanya.
b. Azas Penyelanggaraan
Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya
kesehatan pengembangan harus menerapkan azas
penyelenggaraan Puskesmas secara terpadu. Azas
penyelenggaraan Puskesmas tersebut
dikembangkan dari tiga fungsi Puskesmas dalam
menyelenggarakan setiap upaya Puskesmas, baik
upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan
pengembangan. Azas penyelenggaraan Puskesmas
yang
dimaksud
adalah
:
1)
Azas Pertanggungjawaban Wilayah
Azas penyelenggaraan Puskesmas yang pertama
adalah pertanggungjawaban wilayah. Dalam
arti Puskesmas bertanggungjawab meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat yang bertempat
tinggal di wilayah kerjanya. Untuk ini Puskesmas
harus melaksanakan berbagai kegiatan, antara
lain sebagai berikut :
a) Menggerakkan pembangunan berbagai sektor
tingkat kecamatan sehingga berwawasan
kesehatan

b) Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya c) Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang diselenggarakan oleh masyarakat dan dunia usaha diwilayah kerjanya d) Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama (primer) secara merata dan terjangkau diwilayah kerjanya.

2) Azas Pemberdayaan Masyarakat Azas penyelenggaraan Puskesmas yang kedua adalah pemberdayaan masyarakat. Dalam arti
2)
Azas Pemberdayaan Masyarakat
Azas penyelenggaraan Puskesmas yang kedua
adalah pemberdayaan masyarakat. Dalam arti
Puskesmas wajib memberdayakan perorangan,
keluarga dan masyarakat, agar berperan aktif
dalam penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas.
Untuk ini, berbagai potensi masyarakat perlu
dihimpun melalui pembentukan Badan Penyantun
Puskesmas (BPP). Beberapa kegiatan yang harus
dilaksanakan oleh Puskesmas dalam rangka
pemberdayaan masyarakat antara lain :
a)
b)
c)
d)
e)

Upaya Kesehatan Ibu dan anak : Posyandu, Polindes, Bina Keluarga Balita (BKB) Upaya Pengobatan : Posyandu, Pos Obat Desa (POD) Upaya Perbaikan Gizi : Posyandu, Panti Pemulihan Gizi, Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Upaya Kesehatan Sekolah : dokter kecil, penyertaan guru dan orang tua/wali murid, Saka Bhakti Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) Upaya Kesehatan Lingkungan : Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa Percontohan Lingkungan (DPKL)

f) g) h) Upaya Kesehatan Usia Lanjut : Posyandu Usila, panti wreda Upaya Kesehatan Kerja
f)
g)
h)
Upaya Kesehatan Usia Lanjut : Posyandu
Usila, panti wreda
Upaya Kesehatan Kerja : Pos Upaya
Kesehatan Kerja (Pos UKK)
Upaya Kesehatan Jiwa : Posyandu, Tim
Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat
(TPKJM)
i)
Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional :
Taman Obat Keluarga (TOGA), Pembinaan
Pengobatan Tradisional (Battra)
j)
Upaya Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan
(inovatif) : dana sehat, Tabungan Ibu Bersalin
(Tabulin), mobilisasi dana keagamaan
3)
Azas Keterpaduan
Azaz penyelenggaraan Puskesmas yang ketiga
adalah keterpaduan. Untuk mengatasi
keterbatasan sumber daya serta diperolehnya
hasil yang optimal, penyelenggaraan setiap upaya
Puskesmas harus diselenggarakan secara
terpadu, jika mungkin sejak dari tahap
perencanaan. Ada dua macam keterpaduan yang
perlu diperhatikan yakni :
a)
Keterpaduan Lintas Program
Keterpaduan lintas program adalah upaya
memadukan penyelenggaraan berbagai upaya
kesehatan yang menjadi tanggungjawab
Puskesmas.
Contoh keterpaduan lintas program antara lain :
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS):
keterpaduan KIA dengan P2M, Gizi, Promosi
Kesehatan, Pengobatan
Upaya Kesehatan Sekolah (UKS):

keterpaduan kesehatan lingkungan dengan Promosi Kesehatan, pengobatan, kesehatan

gigi, kesehatan reproduksi remaja dan kesehatan jiwa Puskesmas Keliling: keterpaduan pengobatan dengan KIA/KB, gizi, promosi kesehatan, kesehatan gigi Posyandu: keterpaduan KIA dengan KB, Gizi, P2M, kesehatan jiwa, promosi kesehatan

b) Keterpaduan Lintas Sektor Keterpaduan lintas sektor adalah upaya memadukan penyelenggaraan upaya Puskesmas (wajib,
b) Keterpaduan Lintas Sektor
Keterpaduan lintas sektor adalah upaya
memadukan penyelenggaraan upaya
Puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi)
dengan berbagai macam program dari sector
terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi
kemasyarakatan dan dunia usaha. Contoh
keterpaduan lintas sektor antara lain :
Upaya Kesehatan Sekolah: keterpaduan
sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama
Upaya Promosi Kesehatan: keterpaduan
sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama,
pertanian
Upaya Kesehatan Ibu dan Anak:

keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, PKK, PLKB Upaya perbaikan Gizi: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, pertanian, pendidikan, agama, koperasi, dunia usaha, PKK, PLKB Upaya Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, tenaga

kerja, koperasi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan Upaya Kesehatan Kerja: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, tenaga kerja, dunia usaha.

4) Azas Rujukan Azas penyelenggaraan Puskesmas yang keempat adalah rujukan. Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat
4)
Azas Rujukan
Azas penyelenggaraan Puskesmas yang keempat
adalah rujukan. Sebagai sarana pelayanan
kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang
dimiliki oleh Puskesmas terbatas. Padahal
Puskesmas berhadapan langsung dengan
masyarakat dengan berbagai permasalahan
kesehatannya. Untuk membantu Puskesmas
menyelesaikan berbagai masalah kesehatan
tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi,
maka penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas
(wajib, pengembangan dan inovasi) harus
ditopang oleh azas rujukan.
Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan
tanggungjawab atau kasus penyakit atau masalah
kesehatan yang diselenggarakan secara timbale
balik, baik secara vertikal dalam arti dari satu
strata sarana pelayanan kesehatan ke strata
sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun
secara horizontal dalam arti antar strata sarana
pelayanan kesehatan yang sama.
Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang
diselenggarakan oleh Puskesmas ada dua macam
rujukan yang dikenal yakni :

a) Rujukan upaya kesehatan perorangan Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu Puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka Puskesmas

tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik vertical maupun horizontal). Sebaliknya pasien pasca rawat inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke Puskesmas. Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam :

Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik misal operasi) dan lain-lain Rujukan bahan
Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik,
pengobatan, tindakan medik misal operasi)
dan lain-lain
Rujukan bahan pemeriksaan (specimen)
untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih
lengkap
Rujukan ilmu pengetahuan antara lain
mendatangkan tenaga yang lebih kompeten
untuk melakukan bimbingan tenaga
Puskesmas dan ataupun menyelenggarakan
pelayanan medik di Puskesmas.
b) Rujukan upaya kesehatan masyarakat
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan
masyarakat adalah masalah kesehatan
masyarakat, misalnya kejadian luar biasa,
pencemaran lingkungan dan bencana.
Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga
dilakukan apabila disatu Puskesmas tidak
mampu menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat wajib dan pengembangan, padahal
upaya kesehatan masyarakat tersebut telah
menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu
Puskesmas tidak mampu menanggulangi
masalah kesehatan masyarakat dan atau tidak
mampu menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat, maka Puskesmas wajib

merujuknya ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam :

Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging, peminjaman alat laboratorium kesehatan,
Rujukan sarana dan logistik, antara lain
peminjaman peralatan fogging, peminjaman
alat laboratorium kesehatan, peminjaman
alat audio visual, bantuan obat, vaksin,
bahan-bahan habis pakai dan bahan
makanan
Rujukan tenaga, antara lain dukungan
tenaga ahli untuk penyidikan kejadian luar
biasa, bantuan penyelesaian masalah
hukum kesehatan, penanggulangan
gangguan kesehatan karena bencana alam
Rujukan operasional, yakni menyerahkan
sepenuhnya kewenangan dan
tanggungjawab penyelesaian masalah
kesehatan masyarakat dan atau
penyelenggaraan upaya kesehatan
masyarakat (antara lain Usaha Kesehatan
Sekolah, Usaha Kesehatan Kerja, Usaha
Kesehatan Jiwa, pemeriksaan contoh air
bersih) kepada dinas kesehatan
kabupaten/kota. Rujukan operasional
diselenggarakan apabila Puskesmas tidak
mampu.

4. Manajemen Puskesmas Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan puskesmas perlu ditunjang oleh manajemen puskesmas yang baik. Manajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang

bekerja secara sistematik untuk menghasilkan luaran Puskesmas yang efektif dan efisien. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Ada tiga fungsi manajemen puskesmas yang dikenal yakni Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian serta Pengawasan dan Pertanggungjawaban. Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan. a. Perencanaan Perencanaan adalah proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan diwilayah kerja Puskesmas. Rencana tahunan puskesmas dibedakan atas dua macam. Pertama, rencana tahunan upaya kesehatan wajib. Kedua, rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan. 1) Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap puskesmas, yakni promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular serta pengobatan. Langkah- langkah perencanaan yang harus dilakukan puskesmas adalah sebagai berikut ; Menyusun Usulan kegiatan Langkah pertama yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun usulan kegiatan dengan memperhatikan berbagai kebijakan yang berlaku, baik nasional maupun daerah, sesuai dengan masalah sebagai hasil kajian data dan informasi yang tersedia di Puskesmas. Usulan ini disusun dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang berisikan rincian

Usulan ini disusun dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang berisikan rincian Kurikulum dan modul Manajemen Puskesmas

kegiatan, tujuan, sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan. Contoh Gantt Chart Usulan Kegiatan (RUK)

N Upaya Keg Tujuan Sasar Target Wa Vol Hasil yg o Puskesmas an ktu Keg
N
Upaya
Keg
Tujuan
Sasar
Target
Wa
Vol
Hasil yg
o
Puskesmas
an
ktu
Keg
Diharap
kan

Rencana ini disusun melalui pertemuan perencanaan tahunan puskesmas yang dilaksanakan sesuai dengan siklus perencanaan kabupaten/ kota dengan mengikutsertakan BPP serta dikoordinasikan dengan camat. Mengajukan Usulan Kegiatan Langkah kedua yang dilakukan Puskesmas adalah mengajukan usulan kegiatan kedinas kesehatan kabupaten/ kota untuk persetujuan pembiayannya. Perlu diperhatikan dalam mengajukan usulan kegiatan harus dilengkapi dengan usulan kebutuhan rutin, sarana dan prasarana dan operasional puskesmas beserta pembiayaannya Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan Langkah ketiga yang dilakukan oleh Puskesmas adalah menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui oleh dinas kesehatan kabupaten/kota (rencanakerja kegiatan/ Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping).

Contoh

(POA)

Gantt

Chart

Rencana

Pelaksanaan

Upaya Kesehatan N Keg Sas Target Vol Rincian Lokasi Tenaga Jad Kebut o aran Keg
Upaya Kesehatan
N
Keg
Sas
Target
Vol
Rincian
Lokasi
Tenaga
Jad
Kebut
o
aran
Keg
Pelaksa
pelaksa
Pelaksa
wal
Pelak
naan
naan
naan
sanaan
2) Perencanaan Upaya Kesehatan Pengembangan
Jenis upaya kesehatan pengembangan dipilih dari
daftar upaya kesehatan puskesmas yang telah
ada, atau upaya inovasi yang dikembangkan
sendiri. Upaya laboratorium medik, upaya
laboratorium kesehatan masyarakat dan
pencatatan pelaporan tidak termasuk pilihan
karena ketiga upaya ini adalah upaya penunjang
yang harus dilakukan untuk kelengkapan upaya-
upaya Puskesmas. Langkah-langkah perencanaan
upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan
oleh puskesmas mencakup hal-hal sebagai
berikut:
Identifikasi upaya kesehatan pengembangan Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi upaya kesehatan

Identifikasi upaya kesehatan pengembangan Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi upaya kesehatan pengembangan yang akan diselenggarakan oleh Puskesmas. Identifikasi ini dilakukan berdasarkan ada tidaknya masalah kesehtan yang terkait dengan setiap upaya kesehatan pengembangan tersebut. Apabila Puskesmas memiliki kemampuan, identifikasi masalah dilakukan bersama masyarakat melalui pengumpulan data secara langsung dilapangan (Survei Mawas Diri)

Survei Mawas Diri Pengertian : Kegiatan pengumpulan data untuk mengenali keadaan dan masalah yang dihadapi,
Survei Mawas Diri
Pengertian :
Kegiatan pengumpulan data untuk mengenali
keadaan dan masalah yang dihadapi, serta potensi
yang dimiliki untuk mengatasi masalah tersebut.
Tahap Pelaksanaan :
1. Pengumpulan data dapat berupa data primer
yakni yang dikumpulkan langsung dari sumber
data atau data sekunder yakni yang berasal dari
catatan yang ada.
2. Pengolahan data
3. Penyajian data berupa data masalah dan
potensi.
data 3. Penyajian data berupa data masalah dan potensi. Tetapi apabila kemampuan pengumpulan data bersama masyarakat

Tetapi apabila kemampuan pengumpulan data bersama masyarakat tersebut tidak dimiliki oleh Puskesmas, identifikasi dilakukan melalui kesepakatan kelompok (Delbecq Technique) oleh petugas Puskesmas dengan mengikut sertakan Badan Penyantun Puskesmas.

Perumusan masalah dan identifikasi potensi melalui kesepakatan sekelompok orang yang memahami masalah tersebut.

4. Menetapkan urutan prioritas masalah berdasarkan kriteria penilaian dilengkapi dengan uraian tentang potensi yang dimiliki

Delbecq Technique Pengertian : Tahap Pelaksanaan : 1. 2. 3. Pembentukan tim Menyusun daftar masalah
Delbecq Technique
Pengertian :
Tahap Pelaksanaan :
1.
2.
3.
Pembentukan tim
Menyusun daftar masalah
Menetapkan kriteria penilaian masalah

Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, jumlah upaya kesehatan pengembangan yang terpilih dapat lebih dari satu. Disamping itu identifikasi upaya kesehatan pengembangan dapat pula memilih upaya yang bersifat inovatif yang tidak tercantum dalam daftar upaya kesehatan Puskesmas yang telah ada, melainkan dikembangkan sendiri sesuai dengan masalah dan kebutuhan masyarakat serta kemampuan Puskesmas. Menyusun usulan kegiatan Langkah kedua yang dilakukan oleh Puskesmas adalah menyusun usulan kegiatan yang berisikan rincian kegiatan, tujuan, sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan. Rencana yang telah disusun tersebut diajukan dalam bentuk matriks (Gantt Chart).

Penyusunan rencana pada awal pengembangan program dilakukan melalui pertemuan yang dilaksanakan secara khusus bersama dengan BPP dan Dinas Kesehatyan Kabupaten/ Kota dalam bentuk musyawarah masyarakat.

Musyawarah Masyarakat Pengertian; Pertemuan masyarakat yang dihadiri oleh para pemimpin, baik formal maupun informal dan
Musyawarah Masyarakat
Pengertian; Pertemuan masyarakat yang dihadiri oleh
para pemimpin, baik formal maupun informal dan
anggota masyarakat untuk merumuskan prioritas
masalah kesehatan dan upaya penanggulangannya.
Tahap Pelaksanaan :
Pemaparan daftar masalah kesehatan dan potensi
yang dimiliki
Membahas dan melengkapi urutan prioritas masalah
Membahas dan melengkapi potensi penyelesaian
masalah
Merumuskan cara penanggulangan masalah sesuai
dengan potensi
Menetapkan rencana kegiatan penanggulangan
masalah (dalam bentuk Gantt Chart)
kegiatan penanggulangan masalah (dalam bentuk Gantt Chart) Penyusunan rencana pada tahap pelaksanaan tahun berikutnya

Penyusunan rencana pada tahap pelaksanaan tahun berikutnya dilakukan secara terintegrasi dengan penyusunan rencana upaya kesehatan wajib. Mengajukan usulan kegiatan Langkah ketiga yang dilakukan oleh puskesmas adalah mengajukan usulan kegiatan ke dinas kesehatan kabupaten/kota untuk pembiayaannya. Usulan kegiatan tersebut dapat pula diajukan ke Badan Penyantun

Puskesmas atau pihak-pihak lain. Apabila diajukan ke pihak-pihak lain, usulan kegiatan harus dilengkapi dengan uraian tentang latar belakang, tujuan serta urgensi perlu dilaksanakannya upaya pengembangan tersebut.

Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan Langkah keempat yang dilakukan oleh Puskesmas adalah menyusun rencana pelaksanaan
Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan
Langkah keempat yang dilakukan oleh
Puskesmas adalah menyusun rencana
pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui oleh
dinas kesehatan kabupaten/kota atau
penyandang dana lain (rencana kerja kegiatan/
Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt
Chart) yang dilengkapi dengan pemetaan
wilayah (mapping). Penyusunan rencana
pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara
terpadu dengan penyusunan rencana
pelaksanaan upaya kesehatan wajib.
b. Pelaksanaan dan Pengendalian
Pelaksanaan dan pengendalian adalah proses
penyelenggaraan, pemantauan serta penilaian
terhadap penyelenggaraan rencana tahunan
Puskesmas, baik rencana tahunan upaya kesehatan
wajib maupun rencana tahunan upaya kesehatan
pengembangan, dalam mengatasi masalah
kesehatan diwilayah kerja Puskesmas. Langkah-
langkah pelaksanaan dan pengendalian adalah
sebagai berikut :

1) Pengorganisasian Untuk terlaksananya rencana kegiatan Puskesmas perlu dilakukan pengorganisasian. Ada dua macam pengorganisasian yang harus dilakukan.

Pertama, pengorganisasian berupa penentuan para penanggungjawab dan para pelaksana untuk setiap kegiatan serta untuk setiap satuan wilayah kerja. Dengan perkataan lain, dilakukan pembagian habis seluruh program kerja dan seluruh wilayah kerja kepada seluruh petugas Puskesmas dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimilkinya. Penentuan para penanggungjawab ini dilakukan melalui pertemuan penggalangan tim pada awal tahun kegiatan.

Contoh Gantt Chart Pembagian Beban Tugas dan Wilayah Kerja N Nama Upaya Sasaran Targ Jadwal
Contoh Gantt Chart Pembagian Beban Tugas dan
Wilayah Kerja
N
Nama
Upaya
Sasaran
Targ
Jadwal
Lokasi
o
Petugas
Keg
et
Kerja
Keg
Contoh Pemetaan Wilayah Upaya Kesehatan
Puskesmas (Mapping)
Sedang scan.
Kedua, pengorganisasian berupa penggalangan
kerjasama tim secara lintas sektoral. Ada dua
bentuk penggalangan kerjasama yang dapat
dilakukan :
a) Penggalangan kerjasama bentuk dua pihak
yakni antara dua sektor terkait, misalnya antara

Puskesmas dengan tenaga kerja pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan kerja. b) Penggalangan kerjasama bentuk banyak pihak yakni antar berbagai sektor terkait, misalnya antara Puskesmas dengan sektor pendidikan, sektor agama, sektor kecamatan pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan sekolah. Penggalangan kerjasama lintas sektor ini dapat dilakukan :

• Secara langsung yakni antar sektor-sektor terkait. • Secara tidak langsung yakni dengan memanfaatkan pertemuan
• Secara langsung yakni antar sektor-sektor
terkait.
• Secara tidak langsung yakni dengan
memanfaatkan pertemuan koordinasi
kecamatan.
2) Penyelenggaraan
Setelah pengorganisasian selesai dilakukan,
kegiatan selanjutnya adalah menyelenggarakan
rencana kegiatan Puskesmas, dalam arti para
penanggungjawab dan para pelaksana yang telah
ditetapkan pada pengorganisasian, ditugaskan
menyelenggarakan kegiatan Puskesmas sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan. Untuk
dapat terselenggaranya rencana tersebut perlu
dilakukan kegiatan sebagai berikut :

a) Mengkaji ulang rencana pelaksanaan yang telah disusun terutama yang menyangkutjadwal pelaksanaan, target pencapaian, lokasi wilayah kerja dan rincian tugas para penanggungjawab dan pelaksana. b) Menyusun jadwal rencana kegiatan bulanan untuk tiap petugas sesuai dengan rencana pelaksanaan yang telah disusun. Beban kegiatan Puskesmas harus terbagi habis dan merata kepada seluruh petugas.

c) Menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pada waktu menyelenggarakan kegiatan Puskesmas harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Azas penyelenggaraan Puskesmas harus menerapkan keempat azas penyelenggaraan Puskesmas yakni azas pertanggungjawaban
Azas penyelenggaraan Puskesmas harus
menerapkan keempat azas
penyelenggaraan Puskesmas yakni azas
pertanggungjawaban wilayah, azas
pemberdayaan masyarakat, azas
keterpaduan dan azas rujukan.
Berbagai standar dan pedoman pelayanan
Puskesmas. Pada saat ini telah berhasil
dikembangkan berbagai standar dan
pedoman pelayanan Puskesmas sebagai
acuan penyelenggaraan kegiatan
Puskesmas yang harus diperhatikan pada
waktu menyelenggarakan kegiatan
Puskesmas. Standar dan pedoman tersebut
adalah :
Standar
dan
pedoman
bangunan
Puskesmas
Standar
dan
pedoman
peralatan
Puskesmas
Standar
manajemen
peralatan
Puskesmas
Standar
dan
pedoman
ketenagaan
Puskesmas
Standar manajemen obat Puskesmas
Standar dan pedoman teknis pelayanan
berbagai upaya kesehatan perorangan
dan upaya kesehatan masyarakat yang
diselenggarakan oleh Puskesmas
Pedoman Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas (SIMPUS)

Pedoman perhitungan satuan biaya pelayanan Puskesmas Kendali Mutu Penyelenggaraan kegiatan Puskesmas harus menerapkan program kendali mutu. Prinsip program kendali mutu adalah kepatuhan terhadap berbagai standar dan pedoman pelayanan serta etika profesi, yang memuaskan pemakai jasa pelayanan.

1. 2. Dilaksanakan melalui kerjasama tim (team based) 3. Sesuai sumber daya yang tersedia (resource
1.
2.
Dilaksanakan melalui kerjasama tim (team based)
3.
Sesuai sumber daya yang tersedia (resource based)

Kendali Biaya Penyelenggaraan kegiatan Puskesmas harus menerapkan program kendali biaya. Prinsip program kendali biaya adalah kepatuhan terhadap berbagai standar dan pedoman pelayanan serta etika profesi, yang terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan.

Kendali Mutu Pengertian : upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan, dan melaksanakan cara penyelesaian masalah

sesuai dengan kemampuan yang tersedia serta menilai hasil yang dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan. Prinsip :

Mengikuti siklus pemecahan masalah (Problem Solving cycle)

Kendali Biaya Pengertian : Upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan kebijakan dan tatacara penyelenggaraan upaya kesehatan termasuk pembiayaannya, serta memantau pelaksanaannya sehingga terjangkau oleh masyarakat. Tahap pelaksanaannya :

1. Menetapkan upaya kesehatan yang diselenggarakan lengkap dengan rincian pembiayaannya. 2. Menjabarkan kebijakan dan tatacara penyelenggaraan (standar, pedoman dan nilai etika) yang mendukung. 3. Melaksanakan upaya kesehatan yang sesuai dengan kebijakan tatacara penyelenggaraan. 4. Menampung dan menyelesaikan keluhan masyarakat yang terkait dengan masalah biaya. 5. Menyempurnakan penyelenggaraan upaya kesehatan dengan memperhatikan keluhan biaya dari

3) Pemantauan Penyelenggaraan kegiatan harus diikuti dengan kegiatan pemantauan yang dilakukan secara berkala. Kegiatan
3) Pemantauan
Penyelenggaraan kegiatan harus diikuti dengan
kegiatan pemantauan yang dilakukan secara
berkala. Kegiatan pemantauan mencakup hal-hal
sebagai berikut :
a) Melakukan telaahan penyelenggaraan kegiatan
dan hasil yang dicapai yang dibedakan atas
dua hal :

Telaahan internal yakni telaahan bulanan terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai oleh Puskesmas, dibandingkan dengan rencana dan standar pelayanan. Data yang dipergunakan diambil dari Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) yang berlaku.

Simpus

Pengertian ;

Suatu

proses

melaksanakan manajemen

mencapai sasaran kegiatannya. Sumber Informasi :

1. SP2TP terdiri dari

membantu

tatanan

yang menyediakan informasi untuk

dalam

dalam

pengambilan

keputusan

Puskesmas

- Catatan :

kartu

individu,

keluarga dan buku register

rekam

kesehatan

- Laporan : bulanan, tahunan dan KLB

2. Survei lapangan

3. Laporan lintas sektor

4. Laporan sarana kesehatan swasta

Kesimpulan dirumuskan dalam dua bentuk. Pertama, kinerja Puskesmas yang terdiri dari cakupan (coverage), mutu (quality)
Kesimpulan dirumuskan dalam dua bentuk.
Pertama, kinerja Puskesmas yang terdiri
dari cakupan (coverage), mutu (quality)
dan biaya (cost) kegiatan Puskesmas.
Kedua, masalah dan hambatan yang
ditemukan pada waktu penyelenggaraan
kegiatan Puskesmas. Telaahan bulanan ini
dalam Lokakarya Mini Bulanan
Puskesmas.
Lokakarya Mini Bulanan Pengertian : Pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan di Puskesmas yang dihadiri oleh
Lokakarya Mini Bulanan
Pengertian :
Pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan di Puskesmas yang
dihadiri oleh seluruh staff di Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan
bidan didesa serta dipimpin oleh kepala Puskesmas.
Tahapan pelaksanaan
1. Lokakarya Mini Pertama
a. Masukan
-
Penggalangan tim dalam bentuk dinamika kelompok tentang
peran tanggungjawab staf dan kewenangan Puskesmas
-
Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru
-
Informasi tentang tatacara penyusunan POA Puskesmas
b. Proses
-
Inventarisasi kegiatan Puskesmas termasuk kegiatan
lapangan/ daerah binaan
-
Analisis beban kerja tiap petugas
-
Pembagian tugas baru termasuk pembagian tanggungjawab
daerah binaan
-
Penyusunan POA Puskesmas tahunan
c. Keluaran
-
POA Puskesmas tahunan
-
Kesepakatan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu)
2. Lokakarya mini Bulanan
a. Masukan
- Laporan hasil kegiatan bulan lalu
- Informasi tentang hasil rapat dinas kab/ Kota
- Informasi tentang hasil rapat tingkat kecamatan
- Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru
b. Proses
-
Analisis
hambatan dan masalah, antara lain dengan
mempergunakan PWS.
-
Analisis sebab masalah, khusus untuk mutu dikaitkan dengan
kepatuhan terhadap standar pelayanan.
-
Merumuskan alternatif pemecahan masalah.
c. Keluaran
-
Rencana kerja bulan yang baru
Telaahan eksternal yakni telaahan triwulan terhadap hasil yang dicapai oleh sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama

Telaahan eksternal yakni telaahan triwulan terhadap hasil yang dicapai oleh sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya serta sektor terkait yang ada diwilayah kerja Puskesmas. Telaahan triwulan ini dilakukan dalam Lokakarya Mini triwulan Puskesmas secara lintas sektor.

Lokakarya Mini Bulanan Pengertian : Pertemuan yang diselenggarakan setiap 3 bulan sekali di Puskesmas yang
Lokakarya Mini Bulanan
Pengertian :
Pertemuan yang diselenggarakan setiap 3 bulan sekali di Puskesmas yang
dihadiri
oleh
instansi
lintas
sektor
tingkat
kecamatan,
Badan
Penyantun
Puskesmas (BPP), staf puskesmas dan jaringannya, serta dipimpin oleh
camat
Tahapan pelaksanaan
1. Lokakarya Mini Tribulanan Pertama
a. Masukan
-
Penggalangan tim yang dilakukan melalui dinamika kelompok
-
Informasi tentang program lintas sektor
-Informasi tentang program kesehatan
-Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru
b. Proses
-Inventarisasi peran bantu masing-masing sektor
-Analisis masalah peran bantu dari masing-masing sektor
-Pembagian peran masing-masing sektor
c. Keluaran
-
Kesepakatan tertulis sektor terkait dalam mendukung program
kesehatan termasuk program pemberdayaan masyarakat
2. Lokakarya Mini Tribulanan Rutin
a. Masukan
-
Laporan
kegiatan
pelaksanaan
program
kesehatan
dan
dukungansektor terkait
-
Inventarisasi masalah/ hambatan dari masing-masing sektor dalam
pelaksanaan program kesehatan
-
Pemberian informasi baru
b. Proses
-
Analisis hambatan dan masalah pelaksanaan program kesehatan
-
Analisis hambatan dan masalah dukungan dari masing-masing sektor
-
Merumuskan cara penyelesaian masalah
c. Keluaran
- Rencana kerja tribulan yang baru
- Kesepakatan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu)

b) Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian kinerja Puskesmas serta masalah dan hambatan yang ditemukan dari hasil telaahan bulanan dan triwulan. 4) Penilaian Kegiatan penilaian dilakukan pada akhir tahun anggaran. Kegiatan yang dilakukan mencakup hal- hal sebagai berikut :

a) Melakukan penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan
a) Melakukan penilaian terhadap
penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang
dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan
dan standar pelayanan. Sumber data yang
dipergunakan pada penilaian dibedakan atas
dua. Pertama, sumber data primer yakni yang
berasal dari SIMPUS dan berbagai sumber
data lain yang terkait, yang dikumpulkan secara
khusus pada akhir tahun. Kedua, sumber data
sekunder yakni data dari hasil pemantauan
bulanan dan triwulanan.
b) Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan
kegiatan sesuai dengan pencapaian serta
masalah dan hambatan yang ditemukan untuk
rencana tahun berikutnya.
c. Pengawasan dan Pertanggungjawaban
Pengawasan dan pertanggungjawaban adalah
proses kepastian atas kesesuaian penyelenggaraan
dan pencapaian tujuan puskesmas terhadap rencna
dan peraturan perundang-undangan serta berbagai
kewajiban yang berlaku. Untuk terselenggaranya
pengawasan dan pertanggungjawaban dilakukan
kegiatan sebagai berikut :

1) Pengawasan Pengawasan dibedakan atas dua macam yakni pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan langsung. Pengawasan eksternal dilakukan oleh masyarakat, dinas kesehatan kab/ kota serta barbagai institusi pemerintah terkait. Pengawasan mencakup aspek administratif, keuangan dan teknis. Apabila dana pengawasan ditemukan adanya penyimpangan, baik terhadap rencana, standar, peraturan perundang-undangan maupun berbagai kewajiban yang berlaku, perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2) Pertanggungjawaban Pada setiap akhir tahun anggaran, Kepala Puskesmas harus membuat laporan pertanggungjawaban tahunan yang mencakup pelaksanaan kegiatan, serta perolehan dan penggunaan berbagai sumberdaya termasuk keuangan. Laporan tersebut disampaikan kepada Dinas Kesehatan kabupaten/ Kota serta pihak- pihak terkait, termasuk masyarakat melalui Badan Penyantun Puskesmas. Apabila terjadi penggantian Kepala Puskesmas, maka Kepala Puskesmas yang lama diwajibkan membuat laporan pertanggungjawaban masa jabatannya.

5. Pembiayaan Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang menjadi
5. Pembiayaan
Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan
perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang
menjadi tanggungjawab Puskesmas, perlu ditunjang
dengan tersedianya pembiayaan yang cukup. Pada saat
ini ada beberapa sumber pembiayaan Puskesmas yakni

a.

Pemerintah Sesuai dengan azas desentralisasi, sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah terutama adalah pemerintah kabupaten/kota. Di samping itu Puskesmas masih menerima dana yang berasal dari pemerintah propinsi dan pemerintah pusat. Dana yang disediakan oleh pemerintah dibedakan atas dua macam yakni :

1) Dana anggaran pembangunan yang mencakup dana pembangunan gedung, pengadaan peralatan serta pengadaan obat 2)
1) Dana anggaran pembangunan yang mencakup
dana pembangunan gedung, pengadaan peralatan
serta pengadaan obat
2) Dana anggaran rutin yang mencakup gaji
karyawan, pemeliharaan gedung dan peralatan,
pembelian barang habis pakai serta biaya
operasional.
Setiap tahun kedua anggaran tersebut disusun oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk diajukan
dalam Daftar Usulan Kegiatan kepemerintah
kabupaten/kota untuk seterusnya dibahas bersama
DPRD kabupaten/kota. Puskesmas diberikan
kesempatan melalui Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.
Penanggungjawab penggunaan anggaran yang
diterima oleh Puskesmas adalah Kepala Puskesmas
yakni seorang staf yang ditetapkan oleh Dinas
kesehatan kabupaten/kota atas utusan Kepala
Puskesmas.
Peggunaan dana sesuai dengan usulan kegiatan
yang telah disetujui dengan memperhatikan berbagai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
b.

Pendapatan puskesmas Sesuai dengan kebijakan Pemerintah, masyarakat dikenakan kewajiban membiayai upaya kesehatan

perorangan yang dimanfaatkannya, yang besarnya ditentukan oleh peraturan daerah masing-masing (retribusi). Pada saat ini ada beberapa kebijakan yang terkait dengan pemanfaatan dana yang diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan ini yakni :

1) Seluruhnya disetor ke kas daerah Untuk itu secara berkala Puskesmas menyetor seluruh dana distribusi
1) Seluruhnya disetor ke kas daerah
Untuk itu secara berkala Puskesmas menyetor
seluruh dana distribusi yang diterima ke kas
daerah melalui dinas kesehatan kabupaten/kota
2) Sebagian dimanfaatkan secara langsung oleh
Puskesmas
Beberapa daerah tertentu membenarkan
Puskesmas menggunakan seluruh dana yang
diperoleh dari penyelenggaraan upaya kesehatan
perorangan untuk membiayai kegiatan operasional
Puskesmas. Dahulu Puskesmas yang
menerapkan model pemanfaatan dana seperti ini
disebut Puskesmas Swadana. Pada saat ini
sesuai dengan kebijakan dasar Puskesmas yang
harus menyelenggarakan upaya kesehatan
masyarakat yang dananya ditanggung oleh
pemerintah diubah menjadi Puskesmas
Swakelola. Dengan perkataan lain Puskesmas
tidak mungkin sepenuhnya menjadi Swadana.
Pemerintah tetap berkewajiban menyediakan dana
yakni untuk membiayai upaya kesehatan
masyarakat yang memang menjadi
tanggungjawab pemerintah.

c. Sumber Lain Pada saat ini Puskesmas juga menerima dana dari beberapa sumber lain seperti :

1. PT ASKES peruntukannya sebagai imbal jasa pelayanan yang diberikan kepada para peserta ASKES. Dana
1. PT ASKES peruntukannya sebagai imbal jasa
pelayanan yang diberikan kepada para peserta
ASKES. Dana tersebut dibagikan kepada para
pelaksana sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. PT (Persero) Jamsostek yang peruntukannya juga
sebagai imbal jasa pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada peserta jamsostek. Dana
tersebut juga dibagikan kepada para pelaksana
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. JPSBK/PKPSBBM
Untuk membantu masyarakat miskin, pemerintah
menyalurkan dana secara langsung ke
Puskesmas. Pengelolaan dana ini mengacu pada
Pedoman yang telah ditetapkan.
B. APLIKASI KEBIJAKAN DALAM PENYELENGGARAAN
PUSKESMAS
Kebijakan Dasar Puskesmas yang ditetapkan dengan Surat
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
128/MenKes/SK/II/2004, seharusnya menjadi acuan bagi
manajer/Kepala Puskesmas dalam menyelenggarakan/
mengelola Puskesmasnya.

Bagian II dari uraian materi modul ini mencoba menjabarkan, bagaimana aplikasi/penerapan Kebijakan dasar tersebut dalam menyelenggarakan/ mengelola Puskesmas. 1. Visi Setiap Puskesmas harus memiliki visi, yaitu gambaran masa depan masyarakat diwilayah kerja Puskesmas yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan diwilayah tersebut. Dalam menyusun visi Puskesmas, harus

mengacu pada visi pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan yaitu: Terwujudnya Kecamatan Sehat, serta mempertimbangkan :

Visi Departemen Kesehatan, yaitu: Memandirikan masyarakat untuk hidup sehat Visi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dimana
Visi Departemen Kesehatan, yaitu: Memandirikan
masyarakat untuk hidup sehat
Visi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dimana
Puskesmas itu berada.
Apabila Puskesmas belum memiliki visi, kepala Puskesmas
memfasilitasi penyusunan visi dengan melibatkan “orang-
orang kunci” atau para penanggung jawab program di
Puskesmas. Mungkin diperlukan beberapa kali pertemuan
untuk penyusunan visi sampai ada kesepakatan.Setelah
dirumuskan visi yang disepakati,kemudian
mensosialisasikan visi tersebut kepada seluruh jajaran
SDM Puskesmas, agar dipahami, dihayati dan dijadikan
acuan dalam pelaksanaan tugasnya.Visi suatu Puskesmas
menggambarkan tentang kondisi yang ingin dicapai pada
kurun waktu tertentu, misalnya 5 tahun atau 10 tahun.
Apabila Puskesmas sudah memiliki visi, perlu dikaji
kembali, apakah visi tersebut masih relevan dengan kondisi
saat ini, dengan visi Departemen Kesehatan dan visi dinas
Kesehatan kabupaten/kota.
Beberapa contoh visi Puskesmas:
Terwujudnya masyarakat mandiri dan peduli kesehatan.
Kesehatan bagi semua, setiap saat, dimana saja, kapan
saja dan oleh semua orang
Tiada hari tanpa pelayanan prima dan paripurna.
dan lain-lain.

Panduan menyusun/merumuskan visi

• Gambarkan keadaan kesehatan masyarakat yang diinginkan diwilayah kerja Puskesmas anda pada 5 atau 10
• Gambarkan keadaan kesehatan masyarakat yang
diinginkan diwilayah kerja Puskesmas anda pada 5
atau 10 tahun mendatang.
• Keadaan
tersebut
secara
kuantitatif
dan
kualitatif
harus berbeda dengan keadaan sekarang.
• Rumusan visi harus menarik dan dapat menantang
serta memberikan semangat untuk mencapainya.
• Tulisan ringkas dan mudah dimengerti.
• Menarik bagi setiap orang didalam organisasi
2. Misi
Puskesmas perlu menjabarkan misi pembangunan
kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas kedalam
misi Puskesmas.
Contoh misi Puskesmas:
a) Menyelenggarakan pelayanan yang berkualitas dan
terjangkau bagi masyarakat diwilayah kerja Puskesmas.
b) Melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui
pembentukan dan pembinaan UKBM yang sesuai
dengan situasi kondisi dan kebutuhan masyarakat
setempat.
c) Melakukan upaya penggerakkan pembangunan
berwawasan kesehatan diwilayah kerja
Puskesmas,serta pemantauan dampak pembangunan
tersebut terhadap kesehatan masyarakat.
d) dan lain-lain.

Panduan menyusun/merumuskan misi

untuk

Rumusan misi harus ringkas dan terbatas pada beberapa paragraf

Rumusan misi menggambarkan tentang produk organisasi, pelayanan yang diberikan, teknologi/metodologi yang digunakan dan manfaat untuk masyarakat.

• Rumusan misi harus dapat memberi arah dan fokus perencanaan organisasi • Rumusan misi harus
Rumusan
misi
harus
dapat
memberi
arah
dan
fokus
perencanaan organisasi
Rumusan misi harus berlaku untuk jangka waktu yang lama.
.
3. Penerapan Fungsi Puskesmas
Setelah menetapkan/memiliki visi dan misi, langkah
selanjutnya adalah bagaimana menerapkan ketiga fungsi
Puskesmas dalam pengelolaan/penyelenggaraan Puskesmas.

Penugasan 1. Menyusun visi dan misi Puskesmas Sampai disini fasilitator memberikan penugasan 1, yaitu:

Peserta dibagi dalam kelompok sesuai dengan tim Puskesmas.

misi

Puskesmas.

Hasil individu dibahas sehingga menjadi hasil kelompok.

Tuliskan hasil kelompok pada kertas manila berwarna, kemudian ditempel didinding agar dapat dibaca oleh semua orang.

Didalam

kelompok

setiap

individu

menyusun

visi

dan

Mintalah perwakilan kelompok untuk membacakan hasilnya.

Peserta lain diberi kesempatan menanggapi.

Pada akhir tanggapan, fasilitator menyampaikan kesimpulan.

Kepala Puskesmas sebagai manajer harus memahami ketiga fungsi Puskesmas serta penerapannya dan mampu memfasilitasi staf Puskesmas dalam menerapkan fungsi tersebut. a) Penerapan fungsi sebagai Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan Dalam menerapkan fungsi sebagai Pusat Penggerak Pembangunan berwawasan Kesehatan diwilayah kerjanya, beberapa kegiatan yang perlu dilakukan adalah:

Puskesmas harus memulai dengan melakukan sosialisasi tentang pemahaman Pembangunan Berwawasan Kesehatan, agar setiap SDM
Puskesmas harus memulai dengan melakukan
sosialisasi tentang pemahaman Pembangunan
Berwawasan Kesehatan, agar setiap SDM Puskesmas
memiliki kesamaan persepsi, termasuk apa yang
menjadi peran Puskesmas.
Melakukan sosialisasi kepada aparat pemerintah serta
lintas sektor diwilayah kerja Puskesmas.
Mengiventarisasi pembangunan yang akan
dilaksanakan diwilayahnya, berkoordinasi dengan
aparat pemerintah kecamatan dan atau desa/kelurahan.
Mengidentifikasi upaya/kegiatan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit yang harus
dilakukan sebagai antisipasi terhadap dampak
pembangunan tersebut terhadap kesehatan.
Melakukan pemantauan terhadap dampak kesehatan
dari penyelenggaraan pembangunan tersebut, serta
membuat laporan hasil pemantauan.

Penugasan 2. Memantapkan pemahaman Pembangunan Berwawasan Kesehatan Fasilitator memberi penugasan,yaitu:

Mengidentifikasi jenis pembangunan di wilayah kerja Puskesmas Memprediksi dampak pembangunan terhadap kesehatan
Mengidentifikasi jenis pembangunan di wilayah kerja
Puskesmas
Memprediksi dampak pembangunan terhadap
kesehatan
Mengidentifikasi kegiatan yang harus dilakukan.
Menuliskan hasil kelompok pada kertas flipchart dan
menempelnya pada dinding.
b) Penerapan fungsi sebagai pusat pemberdayaan
masyarakat
Sebagai Pusat Pemberdayaan Masyarakat, Puskesmas
mewujudkannya dengan membentuk, membina dan
mengembangkan berbagai Upaya Kesehatan Berbasis
Masyarakat (UKBM), yang pada prinsipnya adalah bentuk
upaya kesehatan yang melibatkan peran aktif masyarakat,
dikelola oleh masyarakat atau dengan kata lain dari, oleh
dan untuk masyarakat.
Berbeda dengan waktu yang lalu, pada era desentralisasi
ini, UKBM yang dikembangkan disuatu wilayah Puskesmas
akan tidak sama, tergantung dari situasi kondisi serta
kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
Upaya kesehatan berbasis masyarakat ( UKBM ) sangat
tergantung pada partisipasi dan keterlibatan masyarakat
(community engagement) serta upaya terpadu antara
masyarakat dengan elemen-elemen dalam pemerintahan.
Dalam pembentukan Desa Siaga, masyarakat difasilitasi
agar mampu melakukan analisa masyarakatnya, potensi-
potensi yang ada, dan langkah-langkah penyelesaian
masalah.

Secara lebih jelas, penerapan fungsi sebagai Pusat Pemberdayaan Masyarakat akan dibahas pada bab tentang Azas Pemberdayaan Masyarakat.

c) Penerapan fungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama Pada umumnya Puskesmas telah menerapkan fungsi
c) Penerapan fungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan
strata pertama
Pada umumnya Puskesmas telah menerapkan fungsi
sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama, baik
pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat pribadi
(private goods) maupun pelayanan kesehatan masyarakat
yang bersifat publik (public goods). Namun sejalan dengan
perkembangan IPTEK dibidang kesehatan/kedokteran,
informasi dan komunikasi, serta tuntutan kebutuhan
masyarakat akan pelayanan kesehatan, Puskesmas perlu
melakukan :
1) Mengidentifikasi pangsa pasar atau masyarakat yang
menjadi pelanggan Puskesmas
2) Mengidentifikasi kebutuhan masyarakat tersebut akan
pelayanan yang perlu disediakan di Puskesmas
3) Apabila pelayanan yang dibutuhkan masyarakat
ternyata masih diluar kemampuan Puskesmas untuk
menyelenggarakannya, Puskesmas harus membahas
dengan dinas kesehatan kabupaten/kota dan BPP
(apabila sudah terbentuk). Karena pelayanan tersebut
merupakan upaya kesehatan pengembangan yang
menjadi kebutuhan masyarakat.
4) Tentukan prioritas pelayanan yang akan dikembangkan.
Kemungkinan pelayanan yang menjadi kebutuhan
masyarakat berdasarkan hasil identifikasi tidak dapat
sekaligus dipenuhi. Untuk pelayanan yang menjadi
prioritas untuk dikembangkan, perlu dipersiapkan
tenaga, sarana dan prasarana sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan.

4. Upaya dan Azas Penyelenggaraan a. Upaya kesehatan yang diselenggarakan Upaya kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas telah ditetapkan dalam upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan, sebagai berikut:

Upaya Kesehatan Wajib : 1. Upaya Promosi Kesehatan 2. Upaya Kesehatan Lingkungan 3. Upaya Kesehatan
Upaya Kesehatan Wajib :
1. Upaya Promosi Kesehatan
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta keluarga
berencana
4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
5. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyaklit
menular
6. Upaya Pengobatan
Upaya kesehatan Pengembangan a.l.
1. Upaya Kesehatan Sekolah
2. Upaya Kesehatan Olah raga
3. Upaya Kesehatan masyarakat
4. Upaya Kesehatan Kerja
5. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
6. Upaya Kesehatan Jiwa
7. Upaya Kesehatan Mata
8. Upaya Kesehatan Usia lanjut
9. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional

Sebagaimana telah ditetapkan, upaya kesehatan wajib harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas yang ada diwilayah Indonesia. Sedangkan Upaya Kesehatan Pengembangan tidak akan sama disetiap Puskesmas, karena ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan dimasyarakat dan atau sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani. Upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan harus dikelola secara optimal,

mulai dari perencanaan, penggerakkan pelaksanaan sampai monitoring dan evaluasinya. Untuk itu secara terinci akan dibahas pada modul inti manajemen Puskesmas (Modul Perencanaan, Lokakarya Mini dan Evaluasi Kinerja Puskesmas).

b. Azas penyelenggaraan Pada hakekatnya, azas penyelenggaraan adalah menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi
b. Azas penyelenggaraan
Pada hakekatnya, azas penyelenggaraan adalah
menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi Puskesmas
dalam menyelenggarakan setiap upaya Puskesmas.
1) Azas Pertanggungjawaban Wilayah
Dalam menerapkan azas pertanggungjawaban wilayah,
ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a) Pertanggungjawaban atas wilayah kerja
Puskesmas, jadi sebagai tanggungjawab institusi,
bahwa Puskesmas bertanggungjawab dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
diwilayah kerjanya. Karena itu setiap
penyelenggaraan upaya kesehatan dan
kegiatannya, harus berorientasi pada pemenuhan
kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan
serta mengantisipasi permasalahan kesehatan yang
dihadapi. Pada umumnya Puskesmas
merealisasikan azas pertanggungjawaban wilayah
melalui penyelenggaraan upaya kesehatan melalui
puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas
keliling, bidan di desa dan lain-lain kegiatan luar
gedung. Namun penting bagi Puskesmas untuk
mengetahui apakah azas pertanggungjawaban
wilayah telah dilaksanakan secara optimal. Untuk
itu Puskesmas perlu:

Mengidentifikasi apakah upaya kesehatan yang dilakukan oleh Puskesmas sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat diwilayah kerja Puskesmas?

Mengidentifikasi apa saja permasalahan kesehatan yang ada diwilayah kerja Puskesmas, dan apakah upaya yang dilakukan

Mengidentifikasi apa saja permasalahan kesehatan yang ada diwilayah kerja Puskesmas, dan apakah upaya yang dilakukan sudah mengantisipasi permasalahan tersebut? Mengidentifikasi upaya kesehatan yang dilaksanakan oleh institusi pelayanan kesehatan lain yang ada diwilayah kerja Puskesmas, sehingga dapat dilakukan upaya koordinasi dalam rangka mengoptimalkan azas pertanggungjawaban wilayah.

b) Pertanggungjawaban setiap satuan wilayah kerja atau setiap kegiatan, yaitu pemberian tanggungjawab kepada setiap
b) Pertanggungjawaban setiap satuan wilayah kerja
atau setiap kegiatan, yaitu pemberian
tanggungjawab kepada setiap pelaksana /petugas
Puskesmas terhadap satu satuan wilayah kerja
seperti desa/kelurahan, atau suatu kegiatan tertentu
sesuai dengan kemampuan. Hal ini akan membantu
mempermudah Puskesmas dalam menerapkan
azas pertanggungjawaban wilayah, serta dalam
melakukan pemantauan penyelenggaraan upaya
kesehatan diseluruh wilayah kerja Puskesmas.
Untuk itu perlu dilakukan:
Mengidentifikasi satuan wilayah kerja yang ada.
Mengidentifikasi seluruh kegiatan/program kerja
Menginventarisasi seluruh tenaga
pelaksana/petugas serta kemampuan yang
dimiliki.
Membagi habis seluruh program kerja dan
satuan wilayah kerja kepada seluruh
petugas/tenaga pelaksana.
Pertanggungjawaban satuan wilayah kerja dan program
kerja, dapat digambarkan sebagai berikut:
Desa/ Petugas dan Program kerja/kegiatan kelurahan Petugas A Petugas B Petugas C Petugas D Petugas
Desa/
Petugas dan Program kerja/kegiatan
kelurahan
Petugas A
Petugas B
Petugas C
Petugas D
Petugas E
Petugas F
Program
Program
Program
Program
Program
Program
kerja
kerja
kerja
kerja
kerja
kerja
Desa/Kel A
xxxxxxx
Desa/Kel B
xxxxxxx
Desa/Kel C
xxxxxxx
Desa/Kel D
xxxxxxx
Desa/Kel E
xxxxxxx
Desa/Kel F
xxxxxxx
Format tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi Puskesmas.
Keterangan:
Kolom Desa/Kelurahan: diisi dengan seluruh nama
desa/kelurahan yang ada diwilayah kerja Puskesmas.
Kolom Petugas dan Program Kerja: diisi dengan nama dan
jenis petugas pelaksana/penanggungjawab program yang
ada di Puskesmas serta program kerja/kegiatan yang
menjadi tanggungjawabnya.
Tanda xxxxxxxx: menunjukkan bahwa petugas yang
bersangkutan sebagai penanggungjawab satuan wilayah
kerja (desa/kelurahan), serta juga tetap bertanggungjawab
terhadap penyelenggaraan program/kegiatan yang menjadi
tanggungjawabnya untuk desa/ kelurahan lainnya.
Matriks tersebut merupakan contoh yang bisa
dikembangkan lagi oleh Puskesmas.

2) Azas Pemberdayaan Masyarakat Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa penerapan azas pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan Puskesmas dilakukan melalui pembentukan dan pembinaan UKBM. Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) sangat tergantung pada partisipasi dan keterlibatan masyarakat (community

engagement), serta upaya terpadu antara masyarakat dengan elemen-elemen dalam pemerintahan. Dalam pembentukan desa siaga, masyarakat difasilitasi agar mampu melakukan analisa masyarakatnya, potensi- potensi yang ada, dan langka-langkah penyelesaian masalah. Demikian halnya dalam menentukan bentuk/jenis UKBM yang diperlukan, mulai dengan melibatkan masyarakat mengenal dan menganalisis permasalahan,p otensi yang dimiliki serta alternatif penanggulangan masalah.

Istilah Community Engagement diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai keterlibatan masyarakat secara penuh.
Istilah Community Engagement diterjemahkan dalam
Bahasa Indonesia sebagai keterlibatan masyarakat
secara penuh. Community Engagement didefinisikan
sebagai sebuah proses dimana anggota-anggota
masyarakat, dengan kekuatan dan sumber daya/dana
yang dimiliki, terlibat secara penuh dan bertanggung
jawab dalam upaya meningkatkan atau memperbaiki
derajat kesehatan meraka. Proses yang terlibat dapat
meliputi: pembuatan rencana aksi, pelaksanaan,
surveilans, evaluasi dan monitoring).
Dalam Community Engagement, terkandung unsur
partisipasi aktif, komitmen dan kesabaran serta kerja
sama membuat perubahan atau perbaikan. Jadi
community engagement lebih dari sekedar mobilisasi
masyarakat (misalnya kerja sama bersih lingkungan
memperingati hari Kemerdekaan 17 Agustus).
Modal penting dalam community engagement adalah
rasa ikut memiliki dan perasaan sebagai komunitas yang
berdaya, bertanggung jawab dan mandiri dalam
mengatasi masalah kesehatan di lingkungannya.

KENAPA PERLU COMMUNITY ENGAGEMENT? Riset dalam dua dekade belakangan ini menunjukkan fakta bahwa perilaku sosial dan faktor-faktor non- kesehatan besar perannya dalam derajat kesehatan individu maupun kelompok masyarakat. Misalnya: gaya hidup minum minuman beralkohol, merokok, diet yang tidak sehat berperanan dalam penyakit darah tinggi dan stroke. Atau perilaku yang tidak higienis lebih memungkinkan seseorang menderita diare. Riset juga menunjukkan bahwa masyarakat dapat memperbaiki atau meningkatkan derajat kesehatannya (misalnya menurunkan angka kematian, meningkatkan usia harapan hidup, menurunkan angka kejadian DBD, diare atau mengurangi risiko diabetes) bila setiap individu anggota masyarakat secara aktif bekerja sama melakukan perubahan perilaku menjadi lebih sehat. IDENTIFIKASI STAKEHOLDERS dan KEMITRAAN Telah disebutkan bahwa kemitraan antara masyarakat, elemen pemerintah dan swasta akan sangat menentukan keberhasilan pembentukan desa siaga. Stakeholders adalah individu atau institusi yang baik secara langsung atau tidak langsung, secara positif atau negative terkait dengan suatu permasalahan (mis. sebagai penyebab masalah atau korban dari suatu masalah). Untuk mengidentifikasi siapa saja aktor yang terlibat, tidaklah mudah tapi proses identifikasi ini diperlukan sebelum menentukan langkah strategis penanganan permasalahan kesehatan yang ada. Dengan diagram (3 lingkaran) di bawah ini, identifikasilah siapa saja stakeholders yang terlibat dalam proyek/permasalahan kesehatan yang ada. Gunakanlah pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai panduan melakukan identifikasi stakeholders yang relevan:

berikut sebagai panduan melakukan identifikasi stakeholders yang relevan: Kurikulum dan Modul Manajemen Puskesmas 57

- Siapakah yang bertanggung jawab atau menyebabkan suatu masalah kesehatan?

- Siapa saja dalam masyarakat yang secara langsung terpengaruh oleh masalah kesehatan tersebut? - Siapakah,
- Siapa saja dalam masyarakat yang secara langsung
terpengaruh oleh masalah kesehatan tersebut?
- Siapakah, yang berada didekat/diluar masyarakat
yang secara langsung terpengaruh oleh masalah
kesehatan tersebut?
- Siapa yang mungkin terpengaruh, baik secara
negatif/positif oleh masalah kesehatan yang ada?
- Siapa yang cukup peduli dengan masalah kesehatan
yang ada yang mungkin akan dapat membantu atau
berpartisipasi dalam mengatasinya?
- Siapakah mereka yang ‘voiceless’ (yang
termarginalisasi) yang perlu khususnya diperhatikan
dalam masalah kesehatan ini?
- Siapa sajakah mereka yang dapat menjadi
perwakilan/representative dari mereka yang
terpengaruh oleh masalah kesehatan yang dihadapi?
- Siapakah yang mungkin mengalami masalah serupa
di masyarakat yang lainnya?
- Siapakah yang mungkin berkepentingan/akan tertarik
dengan permasalahan kesehatan yang ada?
- Siapakah yang bertanggung jawab dalam
monitoring/pengawasan dan regulasi masalah
kesehatan yang bersangkutan?
- Siapakah yang memiliki “kekuasaan” atau “otoritas”
untuk mengabulkan permintaan anda? Atau
menuruti/mengabulkan apa yang anda minta?
- Siapakah yang memiliki ‘kekuasaan’ atau ‘wewenang’
lebih terhadap orang yang dapat mengabulkan
permintaan anda? (mis. Siapa bosnya? Atau
siapakah kekuasaan yang lebih tinggi lagi?)
- Siapakah ‘opponent’ anda (atau) mereka yang
berpotensi menentang anda?

- Siapakah yang paling berkepentingan untuk mempertahankan ‘status quo’?

- Siapakah yang berpotensi dalam memobilisasi atau menghambat rencana yang akan dilakukan? - Siapakah yang
- Siapakah yang berpotensi dalam memobilisasi atau
menghambat rencana yang akan dilakukan?
- Siapakah yang dapat memberikan sumbangan
secara financial/ teknis?
- Perilaku siapakah yang perlu diubah untuk menjamin
keberhasilan pengatasan masalah kesehatan?
Gunakanlah pertanyaan-pertanyaan di atas untuk
menyelesaikan tiga diagram tiga lingkaran bertumpuk ini :
Yang mungkin tertarik
Tidak langsung terlibat/
terpengaruh
Langsung
terpengaruh
tertarik Tidak langsung terlibat/ terpengaruh Langsung terpengaruh Kurikulum dan Modul Manajemen Puskesmas 59

Dalam merealisasikan/menerapkan azas pemberdayaan masyarakat, perlu dipahami tentang Prinsip, Strategi dan Pokok-pokok Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat, sebagai berikut:

Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat a. Menumbuhkembangkan kemampuan masyarakat Di dalam upaya pemeliharaan dan
Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat
a. Menumbuhkembangkan kemampuan masyarakat
Di dalam upaya pemeliharaan dan peningkatan derajat
kesehatan masyarakat sebaiknya secara bertahap
sedapat mungkin menggunakan sumber daya yang
dimiliki oleh masyarakat, apabila diperlukan bantuan
dari luar bentuknya hanya berupa perangsang atau
pelengkap sehingga tidak semata-mata bertumpu pada
bantuan tersebut.
b. Menumbuhkan dan atau mengembangkan peran serta
masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
Peran serta masyarakat didalam pembangunan
kesehatan dapat diukur dengan makin banyaknya
jumlah anggota masyarakat yang mau memanfaatkan
pelayanan kesehatan seperti memanfaatkan
puskesmas, pustu, polindes, mau hadir ketika ada
kegiatan penyuluhan kesehatan, mau menjadi kader
kesehatan, mau menjadi peserta Tabulin, JPKM, dan
lain sebagainya
c. Mengembangkan
semangat
gotong
royong
dalam
pembangunan kesehatan

Semangat gotong royong yang merupakan warisan budaya masyarakat Indonesia hendaknya dapat juga ditunjukkan dalam upaya pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Adanya semangat gotong royong ini dapat diukur dengan

melihat apakah masyarakat bersedia bekerjasama dalam peningkatan sanitasi lingkungan, penggalakan gerakan 3 M (Menguras-Menutup-Menimbun) dalam upaya pemberantasan penyakit demam berdarah, dan lain sebagainya.

d. Bekerja bersama masyarakat Setiap pembangunan kesehatan hendaknya pemerintah/ petugas kesehatan menggunakan prinsip
d. Bekerja bersama masyarakat
Setiap pembangunan kesehatan hendaknya
pemerintah/ petugas kesehatan menggunakan prinsip
bekerja untuk dan bersama masyarakat. Maka akan
meningkatkan motivasi dan kemampuan masyarakat
karena adanya bimbingan, dorongan, alih pengetahuan
dan keterampilan dari tenaga kesehatan kepada
masyarakat.
e. Menggalang kemitraan dengan LSM dan organisasi
kemasyarakatan yang ada dimasyarakat.
Prinsip lain dari pemberdayaan masyarakat di bidang
kesehatan adalah pemerintah/tenaga kesehatan
hendaknya memanfaatkan dan bekerja sama dengan
LSM serta organisasi kemasyarakatan yang ada di
tempat tersebut. Dengan demikian upaya pemeliharaan
dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat lebih
berhasil guna (efektif) dan berdaya guna (efisien).
f. Penyerahan pengambilan keputusan kepada
masyarakat

Semua bentuk upaya pemberdayaan masyarakat termasuk di bidang kesehatan apabila ingin berhasil dan berkesinambungan hendaknya bertumpu pada budaya dan adat setempat. Untuk itu pengambilan keputusan khususnya yang menyangkut tata cara pelaksanaan kegiatan guna pemecahan masalah kesehatan yang ada di masyarakat hendaknya diserahkan kepada masyarakat, pemerintah/tenaga

kesehatan hanya bertindak sebagai fasilitator dan dinamisator. Sehingga masyarakat merasa lebih memiliki tanggung jawab untuk melaksanakannya, karena pada hakekatnya mereka adalah subyek dan bukan obyek pembangunan.

Ciri-ciri pemberdayaan masyarakat Sebuah kegiatan dapat dikategorikan sebagai upaya yang berlandaskan pada pemberdayaan
Ciri-ciri pemberdayaan masyarakat
Sebuah kegiatan dapat dikategorikan sebagai upaya yang
berlandaskan pada pemberdayaan masyarakat apabila
dapat menumbuhkan dan mengembangkan
kemampuan/kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat itu
sendiri, bukan kegiatan yang segala sesuatunya diatur dan
disediakan oleh pemerintah maupun pihak lain.
Kemampuan (potensi) yang dimiliki oleh masyarakat, dapat
berupa :
a.
Tokoh-tokoh masyarakat
Yang tergolong sebagai tokoh masyarakat adalah
semua orang yang memiliki pengaruh di masyarakat
setempat baik yang bersifat formal (Ketua RT, Ketua
RW, Ketua Kampung, Kepala Dusun, Kepala Desa)
maupun tokoh non formal (Tokoh agama, adat, tokoh
pemuda, kepala suku). Tokoh-tokoh masyarakat ini
merupakan kekuatan yang sangat besar yang mampu
menggerakkan masyarakat di dalam setiap upaya
pembangunan.
b.
Organisasi kemasyarakatan

Organisasi yang ada di masyarakat seperti LLPKK, Lembaga Persatuan Pemuda (LPP), Pengajian, dan lain sebagainya merupakan wadah berkumpulnya para angggota dari masing-masing organisasi tersebut, sehingga upaya pemberdayaan masyarakat akan lebih

berhasil guna apabila pemerintah / tenaga kesehatan memanfaatkannya dalam upaya pembangunan kesehatan.

c. Dana masyarakat Pada golongan masyarakat tertentu, penggalangan dana masyarakat merupakan upaya yang tidak kalah
c. Dana masyarakat
Pada golongan masyarakat tertentu, penggalangan
dana masyarakat merupakan upaya yang tidak kalah
pentingnya. Tetapi pada golongan masyarakat yang
tidak ekonominya pra-sejahtera, penggalangan dana
masyarakat hendaknya dilakukan sekedar agar mereka
merasa ikut memiliki dan bertanggung-jawab terhadap
upaya pemeliharaan dan peningkatan derajat
kesehatannya. Cara lain yang dapat ditempuh adalah
dengan model tabungan-tabungan atau sistem asuransi
yang bersifat subsidi silang.
d. Sarana dan material yang dimiliki masyarakat
Pendayagunaan sarana dan material yang dimiliki oleh
masyarakat seperti peralatan, batu kali, bambu, kayu
dan lain sebagainya untuk pembangunan kesehatan
akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan ikut
memiliki dari masyarakat.
e. Pengetahuan masyarakat
Masyarakat memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi
pembangunan kesehatan masyarakat, seperti
pengetahuan tentang obat tradisional (asli Indonesia),
pengetahuan mengenai penerapan teknologi tepat guna
untuk pembangunan fasilitas kesehatan di wilayahnya
misal penyaluran air menggunakan bambu dlll.
Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut
akan meningkatkan keberhasilan upaya pembangunan
kesehatan.

f. Teknologi yang dimiliki masyarakat

Masyarakat juga telah memiliki teknologi tersendiri dalam memecahkan masalah yang dialaminya, teknologi ini biasanya
Masyarakat juga telah memiliki teknologi tersendiri dalam
memecahkan masalah yang dialaminya, teknologi ini
biasanya bersifat sederhana tapi tepat guna. Untuk itu
pemerintah sebaiknya memanfaatkan tekonologi yang
dimiliki oleh masyarakat tersebut dan apabila
memungkinkan dapat memberikan saran teknis guna
meningkatkan hasil gunanya.
g.
Pengambilan keputusan
Apabila tahapan penemuan masalah dan perencanaan
kegiatan pemecahan masalah kesehatan telah dapat
dilakukan oleh masyarakat, maka pengambilan
keputusan terhadap upaya pemecahan masalahnya akan
lebih baik apabila dilakukan oleh masyarakat sendiri.
Dengan demikian kegiatan pemecahan masalah
kesehatan tersebut akan berkesinambungan karena
masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab
terhadap kegiatan yang mereka rencanakan sendiri.
STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
1.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya
kesehatan
2.
Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang telah
disediakan oleh pemerintah
3.
Mengembangkan berbagai cara untuk menggali dan
memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh
masyarakat untuk pembangunan kesehatan
4.
Mengembangkan berbagai bentuk kegiatan
pembangunan kesehatan yang sesuai dengan kultur
budaya masyarakat setempat

5.

Mengembangkan manajemen sumber daya yang dimiliki masyarakat secara terbuka (transparan).

POKOK - POKOK KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Untuk kegiatan di tingkat desa, pemberdayaan masyarakat dapat
POKOK
-
POKOK
KEGIATAN
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
Untuk kegiatan di tingkat desa, pemberdayaan masyarakat dapat
dilakukan dengan pendekatan PKMD (Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa).
Pendekatan ini melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
• Pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat
Pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat berupa
sosialisasi tentang pentingnya peningkatan derajat kesehatan
masyarakat serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam
pembangunan kesehatan.
• Penemuan masalah kesehatan
Penemuan masalah kesehatan dilakukan oleh masyarakat
sendiri melalui suatu survei yang disebut dengan survei
mawas diri (SMD) yang dilakukan oleh kader penggerak
pembangunan kesehatan (kader kesehatan). Kader
kesehatan ini dipilih dari dan oleh masyarakat.
1. Penyamaan persepsi tentang permasalahan kesehatan
yang ada di masyarakat dan perencanaan kegiatan untuk
pemecahan masalah.
Tahapan penyamaan persepsi dan perencanaan kegiatan
untuk pemecahan masalah kesehatan yang telah
diketemukan dilakukan dalam suatu pertemuan yang dihadiri
oleh semua tokoh masyarakat dan kader kesehatan. Dengan
demikian diharapkan ada kesepakatan tentang bentuk-bentuk
kegiatan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah
kesehatan yang telah ditemukan.

2.

Pelaksanaan rencana kegiatan

Pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan bersama dilakukan semaksimal mungkin oleh masyarakat setempat dengan
Pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan bersama
dilakukan semaksimal mungkin oleh masyarakat setempat
dengan menggunakan sumber daya yang ada di masyarakat,
sedangkan bantuan dari pihak luar hanya bersifat
rangsangan ataupun pelengkap.
3. Pembinaan dan pengembangan
Pembinaan dan pengembangan kegiatan di tingkat desa
selain dilakukan oleh tingkat kecamatan/ puskesmas,
hendaknya dapat pula dilakukan oleh tokoh-tokoh
masyarakat seperti Kepala desa, Kepala dusun, Ketua
RW/RT, Ketua LLPKK, Tokoh agama, dan lain sebagainya.
Dengan adanya kegiatan pembinaan dan pengembangan ini
diharapkan masyarakat tetap memiliki semangat untuk
melakukan pembangunan kesehatan di lingkungannya.
Langkah-langkah Kegiatan pembinaan dan pengembangan :
Pembinaan peran serta masyarakat tingkat desa merupakan
suatu rangkaian kegiatan yang berurutan, berkesinambungan
dan saling terkait.
Paket kegiatan dalam pembinaan peran serta masyarakat dalam
mewujudkan Poskesdes dan desa siaga meliputi :
a. Pertemuan Tingkat Desa (PTD)
b. Survei Mawas Diri (SMD)
c. Musyawaran Masyarakat Desa )MMD)
d. Latihan Kader
Keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut pada hakekatnya
merupakan suatu kesatuan pendekatan edukatif dan karenanya
menjadi kegiatan lanjutan serta bagian yang tak terpisahkan
dengan kegiatan sebelumnya di tingkat kecamatan.

A.

Pertemuan Tingkat Desa (PTD) Pertemuan tingkat desa merupakan langkah awal dari kegiatan pembinaan di tingkat desa.

1. Tujuan kegiatan ini adalah : a. Dikenalnya konsep desa siaga sebagai upaya meningkatkan derajat
1.
Tujuan kegiatan ini adalah :
a. Dikenalnya konsep desa siaga sebagai upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
b. Dikenalnya Poskesdes sebagai wadah koordinasi
UKBM yang merupakan kriteria desa siaga
c. Diperolehnya dukungan pamong dan pemuka
masyarakat dalam pelaksanaan desa siaga
d. Disadari pentingnya survei mawas diri
e. Tersusunnya kelompok kerja Survei mawas diri dan
jadwal survei
2. Tempat pertemuan sebaiknya dipilih di desa,
medayagunakan balai desa atau tempat pertemuan
lainnya di desa.
3.
Peserta pertemuan terdiri dari atas
a. Peserta tingkat kecamatan
• Camat atau stafnya (Kesra dan Seksi seksi
pemerintahan dan pembangunan Kecamatan)
• Dokter pimpinan beserta staf puskesmas
• Pimpinan Dinas Kependudukan Catatan Sipil
dan Keluarga Berencana (Disduk Capil KB),
Depag, Deptan dan lintas sektor lain di
Kecamatan
b. Peserta tingkat desa
• Kepala Desa dan pamong desa lainnya
• Bidan di desa
• Kader desa siaga
• Pimpinan LSM
• Pemuka masyarakat
:
LLPKK,
Pramuka,Lembaga Persatuan Pemuda (LPP),

Guru dan Pemuka agama setempat

4. Waktu untuk pertemuan hendaknya disesuaikan dengan kesediaan dan kondisi desa yang

bersangkutan, agar memungkinkan semua yang diundang hadir serta cukup memberikan kesempatan untuk tercapainya tujuan
bersangkutan, agar memungkinkan semua yang
diundang hadir serta cukup memberikan kesempatan
untuk tercapainya tujuan pertemuan di atas
5. Pelaksanaan pertemuan hendaknya diatur sebagai
berikut :
a. Berdasarkan petunjuk dan hasil pertemuan tingkat
kecamatan, Kepala Desa mengundang para peserta
pertemuan tingkat desa
b. Pertemuan dibuka oleh kepala desa dengan
memperkenal kan para hadirin dan menjelaskan
maksud pertemuan serta acara pertemuan
c. Kepala desa mempersilahkan Camat atau wakilnya
untuk memberikan sambutan atau arahan
pertemuan
d. Kemudian bidan di desa sebagai pembicara
berikutnya menjelaskan tentang masalah kesehatan
dan perlunya Desa Siaga yang meliputi latar
belakang, tujuan dan cara pelaksanaan serta
pentingnya dukungan masyarakat dalam program
tersebut.
e. Selanjutnya di diskusikan bersama tentang langkah
kegiatan khususnya tentang survei mawas diri,
waktu pelaksanaan survei dan kelompok yang akan
melakukan survei, serta ditentukannya waktu untuk
mengadakan musyawarah masyarakat desa.
B. Survei Mawas Diri ( SMD )
1. SMD adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan, dan
pengkajian masalah kesehatan oleh sekelompok
masyarakat setempat di bawah bimbingan petugas
kesehatan di desa / bidan di desa

2.

Tujuan SMD a. Masyarakat mengenal, mengumpulkan data, mengkaji masalah kesehatan yang ada di desa dalam rangka menyiapkan desa siaga. b. Timbulnya minat dan kesadaran masyarakat untuk mengetahui masalah kesehatan dan pentingnya desa siaga.

3. SMD dilaksanakan di desa terpilih dengan memilih lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan desa
3. SMD dilaksanakan di desa terpilih dengan memilih
lokasi tertentu yang dapat menggambarkan keadaan
desa pada umumnya.
4. SMD dilaksanakan oleh sekelompok warga masyarakat
yang telah ditunjuk dalam pertemuan tingkat desa.
Informasi tentang masalah-masalah kesehatan di desa
dapat diperoleh sebanyak mungkin dari Kepala
Keluarga (KK) yang bermukim dilokasi terpilih tersebut.
5. Waktu SMD dilaksanakan sesuai dengan hasil
kesepakatan pertemuan desa
6. Cara pelaksanaan Survei Mawas Diri
a.
Bidan di desa dan kelompok yang ditugaskan untuk
melaksanakan Survei Mawas Diri meliputi :
• Penentuan
sasaran,
baik
jumlah KK ataupun
lokasinya
• Penentuan
jenis
informasi masalah kesehatan

yang akan dikumpulkan dalam mengenal masalah kesehatan Penentuan cara memperoleh informasi kesehatan, Misalnya apakah akan mempergunakan cara pengamatan atau wawancara. Cara memperoleh informasi dapat dilakukan dengan kunjungan dari

pertemuan

kelompok sasaran. Pembuatan instrumen / alat untuk memperoleh informasi kesehatan. Misalnya dengan menyusun daftar pertanyaan (kuisioner), yang akan dipergunakan dalam wawancara atau membuat daftar hal -hal yang akan dipergunakan dalam pengamatan.

rumah

ke

rumah

atau

melalui

b. Kelompok pelaksanaan Survei Mawas Diri dengan bimbingan bidan di Desa mengumpulkan informasi masalah kesehatan
b. Kelompok pelaksanaan Survei Mawas Diri dengan
bimbingan bidan di Desa mengumpulkan informasi
masalah kesehatan sesuai dengan yang
direncanakan pada butir a
c. Kelompok pelaksanaan Survei Mawas Diri dengan
bimbingan bidan di Desa mengolah informasi
masalah kesehatan yang telah dikumpulkan
sehingga dapat diperoleh perumusan masalah
kesehatan dan prioritas masalah kesehatan di
wilayahnya.
C.
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)
1. MMD adalah pertemuan seluruh warga desa untuk
membahas hasil survei mawas diri dan merencanakan
penanggulangan masalah kesehatan yang diperoleh
dari hasil survei mawas diri
2. Tujuan Musyawarah Masyarakat Desa :
a.
Masyarakat
mengenal masalah kesehatan di
wilayahnya
b.
Masyarakat bersepakat untuk menanggulangi
masalah kesehatan melalui pelaksanaan Desa
Siaga dan Poskesdes
c.
Masyarakat menyusun rencana kerja untuk
menanggulangi masalah kesehatan, melaksanakan
Desa Siaga dan Poskesdes

3.

MMD harus dihadiri oleh pemuka masyarakat desa, petugas Puskesmas, dan sektor terkait di tingkat kecamatan (Seksi-seksi pemerintahan dan pembangunan, BKKBN, Pertanian, Agama, dan lain lain)

4. MMD dilaksanakan di Balai Desa atau tempat pertemuan lain yang ada di desa 5.
4. MMD dilaksanakan di Balai Desa atau tempat
pertemuan lain yang ada di desa
5. MMD dilaksanakan segera setelah SMD dilaksanakan
6. Cara pelaksanaan :
a. Pembukaan dengan menguraikan maksud dan
tujuan MMD dipimpin oleh kepala desa
b. Pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat
sendiri melalui curah pendapat dengan
mempergunakan alat peraga, poster, dan lain lain
dipimpin oleh petugas puskesmas
c. Penyajian hasil SMD oleh kelompok SMD
d. Perumusan dan penentuan prioritas masalah
kesehatan atas dasar pengenalan masalah (butir b)
dan hasil SMD (butir c) dilanjutkan dengan
rekomendasi teknis dari petugas kesehatan di desa
/ bidan di desa
e. Penyusunan rencana penanggulangan masalah
kesehatan, dipimpin oleh kepala desa
f. Penutup

Penugasan 3.Mengidentifikasi program pemberdayaan masyarakat diwilayah kerja Puskesmas. Fasilitator membagi peserta dalam kelompok Puskesmas,dengan penugasan:

Menginventarisasi program pemberdayaan apa yang sudah dilaksanakan diwilayah kerja Puskesmas.

Mengidentifikasi permasalahan apa yang belum tertangani dengan porgram pemberdayaan saat ini?

Mengidentifikasi/memprediksi program pemberdayaan apa lagi yang harus dilakukan (dengan melibatkan masyarakat sejak awal).

• • Memprediksi permasalahan kesehatan di masyarakat. • • 3) Azas keterpaduan Dalam menerapkan azas
Memprediksi permasalahan kesehatan di masyarakat.
3) Azas keterpaduan
Dalam menerapkan azas keterpaduan dalam
penyelenggaraan Puskesmas, hal mendasar yang perlu
dipahami adalah, keterpaduan merupakan upaya
memadukan penyelenggaraan upaya kesehatan
Puskesmas,baik wajib maupun perorangan dalam
rangka mengantisipasi keterbatasan sumberdaya yang
dimiliki serta untuk mencapai hasil yang optimal.Karena
itu,sebaiknya keterpaduan sudah dimulai sejak dari
tahap perencanaan,serta perlu komitmen dari semua
pihak yang menjadi pemilik atau penanggungjawab
program, keterbukaan/ transparansi, serta kejelasan
peran dan tanggungjawab masing-masing.
Beberapa hal yang harus dilakukan Puskesmas:
• Keterpaduan Lintas Program:
o Mengidentifikasi program/kegiatan yang
mempunyai sasaran yang sama.

o Memilah bentuk/jenis program yang bisa dipadukan penyelenggaraannya.

o

Mengidentifikasi potensi yang ada untuk masing- masing progam, seperti; tenaga/ SDM, sarana dan fasilitas, dana yang dimiliki dll.

o Mengidentifikasi peran dan tanggungjawab setiap orang yang terlibat dalam keterpaduan tersebut. o Menuangkan program
o
Mengidentifikasi peran dan tanggungjawab setiap
orang yang terlibat dalam keterpaduan tersebut.
o
Menuangkan program keterpaduan dalam suatu
rencana kegiatan, digabungkan dengan /menjadi
bagian dari perencanaan Puskesmas
o
Membahas rencana kegiatan tersebut agar
dipahami semua orang yang terlibat serta untuk
mendapatkan komitmen dalam pelaksanaannya.
Keterpaduan Lintas Sektor
o
Mengidentifikasi program/kegiatan yang
memerlukan koordinasi dan keterlibatan
sektor lain dalam penyelenggaraannya,yaitu
yang mempunyai sasaran program/kegiatan
yang sama.
o
Mengadakan pertemuan dengan lintas sektor
tersebut untuk membahas tentang bentuk/jenis
program terpadu lintas sektor,potensi masing-
masing sektor,serta peran dan tanggungjawab
masing-masing.
o
Menuangkan program keterpaduan dalam
suatu rencana kegiatan ,digabungkan dengan
/menjadi bagian dari perencanaan Puskesmas
o
Membahas rencana kegiatan tersebut agar
dipahami semua orang yang terlibat serta untuk
mendapatkan komitmen dalam
pelaksanaannya.
Secara
operasional
rencana
keterpaduan
program/kegiatan
dapat
dibahas
pada
waktu
pelaksanaan Lokakarya
Mini
Puskesmas Bulanan
Pertama
untuk
keterpaduan
lintas
program
dan

Lokakarya Mini Tribulanan Pertama untuk keterpaduan lintas sektor.

4) Azas Rujukan Sebenarnya sudah jelas bagi Puskesmas tentang azas rujukan,baik rujukan Upaya Kesehatan Perorangan
4) Azas Rujukan
Sebenarnya sudah jelas bagi Puskesmas tentang azas
rujukan,baik rujukan Upaya Kesehatan Perorangan
maupun Upaya Kesehatan Masyarakat.Yang kemudian
menjadi penting adalah, apakah Puskesmas memiliki
mekanisme atau prosedur rujukan secara tertulis yang
diketahui dan dipahami oleh setiap petugas Puskesmas.
Seringkali rujukan hanya diartikan sebagai kegiatan
pengiriman kasus/pasien yang tidak dapat ditangani di
Puskesmas,atau bentuk permintaan bantuan ke Dinas
Kesehatan mengenai fasilitas, sarana pelayanan,
tenaga dan lain-lain.
Beberapa prosedur rujukan yang perlu dimiliki
Puskesmas antara lain:
• Prosedur rujukan internal Puskesmas.
• Prosedur rujukan kasus/pasien ke Pusat Pelayanan
Kesehatan Perorangan Strata yang lebih tinggi
(Rumah sakit dll).
• Prosedur tindak lanjut rujukan pasien pasca
perawatan dari fasilitas pelayanan rujukan.
Prosedur rujukan tersebut disusun oleh suatu tim yang
dipilih oleh pimpinan Puskesmas, dan disahkan untuk
diberlakukan serta dipatuhi oleh semua petugas yang
terkait.

5. Penerapan Manajemen Puskesmas Pada prinsipnya, manajemen Puskesmas adalah suatu rangkaian kegiatan yang sistematis, saling terkait dan berkesinambungan, efektif serta efisien, dalam rangka terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat sesuai dengan azas

penyelenggaraan Puskesmas, agar menghasilkan luaran Puskesmas secara optimal. Penerapan manajemen Puskesmas secara operasional dilaksanakan melalui kegiatan:

• Perencanaan tahunan Puskesmas • Lokakarya Mini Puskesmas Bulanan dan Tribulanan. • Evaluasi kinerja Puskesmas
• Perencanaan tahunan Puskesmas
• Lokakarya Mini Puskesmas Bulanan dan Tribulanan.
• Evaluasi kinerja Puskesmas
Ketiga fungsi manajemen tersebut akan dibahas dalam modul
Perencanan Puskesmas, Lokakarya Mini Puskesmas dan
Evaluasi Kinerja Puskesmas.