Anda di halaman 1dari 8

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS TEKNIK

TUGAS KEWARGANEGARAAN IDENTITAS LOKAL KABUPATEN MAGELANG

DISUSUN OLEH: NOVIA DIAN SUNDARI 12/330428/TK/39585

ROMBONGAN KELAS: JUMAT 14.00-15.50

YOGYAKARTA APRIL 2013

IDENTITAS LOKAL KABUPATEN MAGELANG Kabupaten Magelang adalah sebuah Kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Ibukota Kabupaten ini adalah Kota Mungkid. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Semarang di utara, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali di timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung di barat, serta Kota Magelang yang berada di tengah-tengahnya. Kabupaten Magelang berada di cekungan sejumlah rangkaian pegunungan. Di bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Boyolali) terdapat Gunung Merbabu (3.141 meter dpl) dan Gunung Merapi (2.911 m dpl). Di bagian barat (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo) terdapat Gunung Sumbing (3.371 m dpl). Di bagian barat daya terdapat rangkaian Bukit Menoreh. Pada bagian tengah mengalir Kali Progo beserta anak-anak sungainya menuju selatan. Di Kabupaten Magelang juga terdapat Kali Elo yang membelah dua wilayah ini. Pertemuan kembali kedua kali tersebut terletak di desa Progowati. Terdapat beberapa versi yang menjelaskan asal nama Magelang. Versi terpopuler mengatakan bahwa Magelang berasal dari kata tepung gelang, yang berarti "mengepung rapat seperti gelang". Nama tersebut diberikan untuk mengenang Raja Jin Sonta yang dikepung di daerah ini oleh pasukan Mataram sebelum akhirnya mati di tangan Pangeran Purbaya. Latar belakang sejarah Kabupaten Magelang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Kota Magelang. Pada tahun 1812, Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles mengangkat Ngabei Danuningrat sebagai bupati pertama Magelang dengan gelar Adipati Danuningrat I. Penunjukkan ini terjadi sebagai konsekuensi perjanjian antara Inggris dan Kesultanan Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1812 yang menyerahkan wilayah Kedu kepada pemerintah Inggris. Sejak itu Danuningrat menjadi bupati pertama di Kabupaten Magelang dengan gelar Adipati Danuningrat I. Atas petunjuk dari gurunya beliau memilih daerah antara desa Mantiasih dan desa Gelangan sebagai pusat pemerintahan. Pada tahun 1930, jabatan bupati diserahkan dari dinasti Danuningrat kepada pejabat baru yang bernama Ngabei Danukusumo. Sementara itu sebagai tindak lanjut dari Keputusan

Desentralisasi (Decentralisatie Besluit) tahun 1905, Kota Magelang menjadi gemeente bersama dengan Kota Semarang, Salatiga, dan Pekalongan. Jabatan walikota baru diangkat pada tahun 1924. Meskipun demikian, kedudukan bupati masih tetap berada di kota Magelang. Akibatnya ada sejumlah pimpinan daerah di kota Magelang yaitu bupati Magelang, residen Kedu, asisten residen Magelang dan walikota Magelang. Seiring dengan waktu, kedudukan Kabupaten Magelang diperkuat melalui UU No. 2 tahun 1948 dengan ibu kota di Kota Magelang. Pada tahun 1950 berdasarkan UU No. 13 tahun 1950 Kota Magelang berdiri sendiri dan diberi hak untuk mengatur rumah tangga sendiri, sehingga ada kebijaksanaan untuk memindah ibukota kabupaten ke daerah lain. Ada dua alternatif ibukota sebagai penganti Kota Magelang, yaitu Kawedanan Secang atau Kawedanan Muntilan, namun kedua daerah ini ditolak. Pada tanggal 22 Maret 1984, kecamatan Mertoyudan bagian Selatan dan kecamatan Mungkid bagian Utara dipilih secara resmi sebagai ibukota Kabupaten Magelang oleh gubernur Jawa Tengah dengan nama Kota Mungkid. Kabupaten Magelang terdiri atas 21 kecamatan. Kabupaten Magelang berada di jalur strategis yang menguhubungkan dua ibu kota provinsi yaitu Semarang dan Yogyakarta. Kota Mungkid sebagai ibu kota kabupaten ini, berada sekitar lima belas kilometer di sebelah selatan Kota Magelang, dapat dijangkau mudah dengan kendaraan roda empat. Selain itu, Secang merupakan persimpangan antara jalan negara Semarang - Magelang - Yogyakarta dan jalan provinsi menuju Temanggung. Dahulu wilayah Kabupaten Magelang dilalui jalur kereta api yang menghubungkan Semarang - Yogyakarta, bahkan merupakan salah satu jalur kereta api tertua yang berada di Indonesia. Stasiun yang dimiliki Kabupaten Magelang antara lain adalah Stasiun Muntilan, Stasiun Blabak, Stasiun Mertoyudan, dan Stasiun Secang. Namun, meletusnya Gunung Merapi sekitar tahun 1970-an membuat jalur kereta api tersebut rusak akibat terjangan lahar sehingga menyebabkan jalur dan stasiun tersebut kini tidak difungsikan lagi. Di kabupaten ini terdapat Candi Borobudur merupakan obyek wisata andalan Provinsi Jawa Tengah yang kini mendapat perlindungan dari UNESCO sebagai warisan dunia (World Heritage). Selain Borobudur, terdapat sejumlah

candi di antaranya Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen, Candi Canggal atau Candi Gunungwukir, Candi Selogriyo, Candi Gunungsari, Candi Lumbung, Candi Pendem, dan Candi Asu. Selain candi sebagai objek wisata budaya, Kabupaten Magelang juga mempunyai satu museum yang terletak di jalan antara Candi Mendut dan Borobudur, yaitu Museum Senirupa Haji Widayat. Untuk obyek wisata alam, Kabupaten Magelang memiliki beberapa obyek wisata, antara lain kawasan wisata Kopeng, Gardu Pandang Ketep Pass juga air terjun Kedung Kayang kira-kira lima kilometer dari Ketep Pass, Gardu Pandang Babadan, Curug Silawe, Losari Coffee Plantation, pemandian air panas Candi Umbul dan air terjun Sekar Langit di Kecamatan Grabag. Di samping itu Kali Progo dan Kali Elo juga sering digunakan untuk wisata arung jeram. Beberapa obyek wisata religi yang ada di Kabupaten Magelang antara lain Langgar Agung Pangeran Diponegoro, Makam Kyai Condrogeni, Makam Sunan Geseng, dan Makam Raden Santri. Sementara itu, untuk seni budaya dan kriya terdapat beberapa obyek dan daya tarik wisata (ODTW) antara lain kesenian tradisional, kerajinan cinderamata, kerajinan mebel dan interior, serta makanan khas. Kabupaten Magelang mempunyai beberapa kesenian, antara lain adalah Kubro Siswo, Dayakan, Kuntulan, Soreng, dan masih banyak lagi. Kubro Siswo adalah kesenian tradisional yang berlatar belakang penyebaran islam di Pulau Jawa. Secara bahasa kubro berarti besar dan siswo berarti siswa atau murid. Sehingga dapat di artikan murid-murid Tuhan yang diimplementasikan dalam pertunjukan yang selalu menjunjung kebesaran Tuhan. Kubro Siswo merupakan singkatan dari Kesenian Ubahing Badan lan Rogo (kesenian mengenai gerak badan dan jiwa), yang bermakna meningkatkan manusia khususnya umat islam agar mereka selalu hidup seimbang antara keperluan dunia dan akhirat. Kubro Siswo merupakan tarian khas daerah Magelang. Konon, tari ini berasal dari daerah sekitar Candi Mendut. Sejak tahun 1965, tari ini sudah ada di Borobudur dan sekitarnya. Tentang kapan dan di mana terciptanya tarian ini belum di ketahui secara pasti. Kesenian Kubro Siswo ini ditarikan secara masal sekitar 25 orang atau mungkin lebih dan biasanya semua penarinya dalah laki-laki. Tari ini ditampilkan kurang lebih dengan durasi 5 jam, dengan musik yang hampir mirip atau bahkan mirip dengan lagu perjuangan dan

ada juga musik qasidahan. Akan tetapi liriknya diubah dengan lirik yang lebih islami. Alat musik yang digunakan antara lain 3 buah dodok, jedor dan gendang. Dayakan sebenarnya merupakan istilah bagi sekelompok wong alasan, yaitu suku pedalaman yang belum mengenal dunia luar. Istilah ini secara salah kaprah memang mengacu kepada suku Dayak Kalimantan. Tapi dayakan yang kita bahas ini bukan dayakan suku pedalaman,tapi adalah suatu kesenian asal magelang yang berupa tarian khas yang diiringi dengan musik yang khas pula,para penari memakai pakaian dan accesoris yang menyerupai orang indian (pakaian rumbai dan tutup kepala dari bulu unggas). Dayakan bisa diperkirakan merupakan pengembangan dari kesenian kobra siswa. Dilihat dari kemiripan ubo rambe gamelan utama yang digunakan, seperti bedug/drum, dan bende nampak sekali kesamaannya. Ditinjau dari lagu pengiring yang dinyanyikanpun ada kemiripannya dimana banyak diperdengarkan lagu-lagu bertemakan dakwah, di samping lagu-lagu nasional, mocopatan, dan campur sari modern. Di samping ditanggap untuk acara hajatan semisal pernikahan, atau sunatan, seni dayakan sering juga dipentaskan untuk acara perayaan seperti merti desa, tujuh belasan, karnaval, sampai pasang mustoko mesjid. Semoga ke depan seni dayakan bisa lebih ngrembaka dan berkembang sehingga bisa menjadi ikon bagi Kabupaten Magelang, atau bahkan mampu nyundul langit menjadi salah satu warisan budaya bangsa bahkan dunia. Tari Kuntulan berasal dari kata Kun tauw yang berarti merupakaan jenis Seni bela diri dan juga berasal dari kata Kuntul yang berarti jenis burung Angsa yang berwama putih. Sehingga dari dua artinya tersebut kesenian Tari Kuntulan di Kota Magelang mempunyai 2 ( dua ) ciri khas yaitu gerakan Tari Kuntulan merupakan penghalusan / penyarnaran dari gerakan bela diri dan kostum Tari Kuntulan menggunakan wama putih putih (atas / bawah) yang merupakan warna khas burung kuntul. Jumlah penari minimal 10 orang. Warna seragam khas putih/ diitambah asesoris lain terdiri dari kalung Kace, kain dan mote, ubel dalam dan luar berplisir, bersepatu dan berkaos kaki putih, Gelang berbahan kain, ikat pinggang, celana panjang putih dan properti kipas. Instrumen musik terdiri dari : Kenthing, Kenthung, Rebana, Kendhang, Kecer, Bedhug, Vokalis. Untuk saat ini " tari kuntulan "sudah berkembang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai

dengan berdirinya sanggar " tari kuntulan " di sekolah sekolah lanjutan tingkat pertarna maupun tingkat atas di Kota Magelang. Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata secara rutin mengadakan pembinaan dan memfasilitasi untuk tampil diberbagai event. Selain itu juga mengadakan perlombaan tari kuntulan setiap tahun, bagi sanggar sanggar tersebut yang bertujuan untuk memacu presentasi maupun kreasi. Kesenian Soreng ini menceritakan perlawanan antara Sultan Hadiwijaya Kadipaten Pajang dan Adipati Ario Penangsang dari Jipang Panolan. Persilisihan Hadi Wijaya dengan Adipati Ario Penangsang adalah perselisihan keluarga keturunan Sultan Trenggana. Seorang Prajurit Soreng Pati dan Soreng Rana adalah Prajurit andalana Adipati Ario Penangsang, dengan kesaktiannya

mempersiapkan. Wadyabala berlatih, setelah beberapa kesaktiannya disampaikan kepada para wadyabalanya yang disertai dengan ketrampilan mengunakan pusaka, dicobalah satu persatu untuk adu kesaktian temasuk para prkathik. Teknik ini dilakukan dalam bentuk tarian. Sampai puncaknya adalah persiapan

pemberangkatan perang untuk melawan prajurit Sultan Hadi Wijaya, peperangan antara Arya Penangsang dan Sultan Hadi Wijaya tidak pernah selesai, sebab diantara kebencian itu adalah keluarga. Kabupaten Magelang memiliki beberapa masakan khas, yaitu Kupat Tahu, Sop Senerek. Tahu kupat adalah makanan khas Magelang kaya rasa yang dibuat dengan saus kacang yang mantap. Campuran beraneka rempah, irisan tahu, ketupat, dan kol serta taburan bawang goreng dengan kuah yang manis menjadikan tahu kupat sebagai makanan khas Magelang yang disukai hingga manca negara. Selain itu, ada kuliner khas Magelang lain yang sayang untuk dilewatkan yaitu Sop Senerek. Tidak kalah dengan kupat tahu atau gethuk, sop senerek menyajikan cita rasa yang khas. Sekilas, sop senerek hampir mirip dengan sop iga atau sop buntut pada umumnya. Namun, sop senerek mempunyai ciri khas yakni kacang merah. Perpaduan antara kacang merah dan kuah kaldu iga sapi menghasilkan cita rasa yang gurih. Kabupaten Magelang juga memiliki beberapa jajan pasar khas, yaitu Gethuk Trio, Wajik Salaman, Tape Ketan Muntilan. Berbicara soal Getuk tak lepas dari salah satu Getuk yang cukup terkenal di Magelang adalah Getuk Trio

Warna yang mempunyai tiga warna cantik, putih, coklat, dan merah jambu. Getuk Trio Warna terus mengadakan beberapa perubahan dengan tetap menjaga kualitas. Jajanan berbahan dasar ketela khas kombinasi rasa manis dan gurih sangat merangsang lidah dan membuat ketagihan orang yang mencobanya.

Teksturnyapun lembut dan halus, sehinggar memungkinkan semua usia dapat mengkonsumsi makanan ini sangat berbeda dengan Getuk di kota lain. Wajik week adalah wajik khas magelang dengan rasa yang sangat lezat dan manis. Terbuat dari beras ketan pilihan dan gula jawa yang di masak dengan cara

tradisional. Bahan yang di buat berupa beras ketan, gula jawa, santan dan bumbu bumbu yang lain. Sebutan "Muntilan" khas dengan menu tape ketan yang cukup banyak dibuat warga di sekitar kota terbesar di Kabupaten Magelang itu untuk oleh-oleh. Jejeran toko oleh-oleh di tepi kanan dan kiri jalan utama kota Kecamatan Muntilan pasti menjajakan makanan dari beras ketan dengan fermentasi menggunakan ragi itu. Umumnya pembuat tape ketan Muntilan adalah warga setempat yang sekaligus pemilik toko oleh-oleh. Dan tidak kalah penting, Kabupaten Magelang memiliki beberapa oleholeh khas, yaitu Pothil Magelang, Jeruk Keprok dan Salak Nglumut Magelang. Pothil merupakan makanan ringan khas Magelang yang terbuat dari singkong. Berbeda dengan keripik singkong, pothil terasa lebih gurih karena diolah dengan bumbu tradisional lain. Bentuknya seperti bulatan cincin panjang yang tipis. Terdapat pula jeruk keprok yaitu jeruk yang rasanya manis asam dan menyegarkan ini banyak ditanam di daerah Ngablak, Magelang, Jawa Tengah. Melihat penampilan buahnya, jeruk ini sangat mirip dengan jeruk tawangmangu. Kulit dan daging buahnya berwarna kuning kemerahan. Perbedaan yang paling menonjol dengan jeruk keprok lainnya ialah jeruk keprok grabag sangat harum baunya. Ukurannya tergolong besar, diameternya rata-rata 8 cm dengan bentuk bulat pendek. Magelang juga dikenal sebagai sentra salak, utamanya salak Nglumut. Ciri khas salak ini adalah daging agak kuning, biji kecil, kulit kuning atau merah hitam. Salah satu petani pionir yang fanatik terhadap salak jenis ini adalah Supangat, asal Dusun Ngreno, Desa Sonorejo, Kecamatan Candi Mulyo, Magelang.

Kabupaten Magelang mempunyai produk khas yaitu produk-produk kerajinan dari batu. Di kota ini terdapat banyak pengusaha seni ukir batu yang memajang produk-produknya di sepanjang jalan utama di kota ini. Berbagai produk kerajinan dari batu mulai dari patung dengan berbagai bentuk dan ukuran, sampai ke berbagai benda penghias taman atau seperti air mancur, hiasan pagar dapat ditemukan di sini. Di sini dapat juga ditemukan produk alat-alat rumah tangga seperti meja, tempat duduk dari batu juga alat-alat dapur khas dari batu seperti cowek, lumpang, munthu, dll. Para pengusaha seni ukir batu ini juga siap mengerjakan pesanan produk-produk dengan bentuk khusus, seperti patung binatang, atau hiasan dinding atau taman dengan bentuk dan ukuran yang khusus. Berikut ini berberapa gambar yang menjadi khas Kabupaten Magelang.

Kubro Siswo

Dayakan

Kuntulan

Soreng

Tahu kupat

Sop senerek

Getuk Trio

Wajik

Tape Ketan

Pothil

Jeruk Keprok

Salak Nglumut