Anda di halaman 1dari 2

Murniyati, A. S dan Sunarman. 2000. Pendinginan dan Pengawetan Ikan. Kanisius,Yogyakarta. Halaman 197-198.

DAFTAR PUSTAKA Adawyah, R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Hal. 37, 38, 40, 41. Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. 2006. Teknologi pengolahan Fillet Ikan. Jakarta. Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. 2006. Teknologi Pengolahan Fillet Ikan. Jakarta. Effendi, M.S. 2009, Teknologi Pengolahan dan Pengawetan Pangan. PT.Alfabeta. Bandung. Hal. 43. Estiasih, T dan Ahmadi. 2009. Teknologi Pengolahan Pangan H. PT. Bumi Aksara. Malang. Hal. 127, 130, 134. Fitday . 2010, Gizi dari Octopus. http://www.fitday.com/fitness-articles/nutrition/healthy-eating/the-nutritionof-octopus.html [diakses, 19 April 2011] Gibson SC. 2002. http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi_FIFO_dan_LIFO [diakses 16 Juni 2011] Hadiwiyoto. S. 1993. Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Liberty. Yogyakarta Moeljanto. 1992. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta. Murniyati, S dan Sunarman. 2000. Pendinginan Pembekuan dan Pengawetan Ikan. PT. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 5. Narbuko, Cholid dan A. Achmadi. 2001. Metode Penelitian. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Hal 70, 83. National Wildlife. 1997, Artikel Cephalopoda.http://www.google.co.id/http://en.wikipedia.org/wiki/Octopus [diakses, 19 April 2011] Nazir. M. 1988. Metode Penelitian. PT. Ghalia Indonesia. Jakarta. Hal 65, 406. Purnawijayanti, H.A. 2001. Sanitasi Higiene dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan. Kanisius . Yogyakarta. SNI.01.6941.1-2002. Syarat mutu Bahan Baku Gurita. Jakarta. SNI.01.6941.3-2002. Pengolahan dan Penanganan Gurita. Jakarta. Suseno, A. 2008. Diktat Penanganan Hasil Perikanan. Akademi Perikanan Sidoarjo Warta Pasar Ikan Edisi April 2007. Gurita Ada Pasarnya. Direktorat Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Jakarta. Hal. 15.

Era globalisasi saat ini berdampak terhadap sistem perdagangan bebas (free trade) dan lebih terbuka antara negara satu dengan negara lainnya. Sistem perdagangan bebas memungkinkan produk yang dihasilkan oleh industri agar produknya dapat bersaing di pasar dalam negeri maupun pasar internasional. Disisi lain, persaingan antar negara yang semakin ketat diikuti oleh persaingan antar industri dalam menghasilkan produk yang bermutu. Krisis global seperti saat ini, pengembangan agroindustri yang masih mempunyai peluang dan potensi adalah industri yang memanfaatkan bahan baku utama produk hasil pertanian dalam negeri, mengandung komponen bahan impor sekecil mungkin, dan produk yang dihasilkannya mempunyai mutu yang mampu bersaing di pasar dalam negeri maupun ekspor.

Dewasa ini telah berkembang suatu trend baru dalam sistem pembinaan mutu produk makanan, khususnya produk olahan hasil perikanan. Inti trend tersebut adalah digunakannya

sistem pendekatan baru dalam pengawasan mutu produk yang lebih berorientasi pada prinsip pendeteksian dan pencegahan secara dini (preventive measure). Pengolahan hasil perikanan yang memegang peranan penting dalam kegiatan pasca panen, sebab dengan melakukan usaha pengolahan, hasil perikanan sebagai komoditi yang sifatnya mudah rusak dan membusuk dapat ditingkatkan daya awetnya, disamping itu usaha pengolahan juga dapat meningkatkan nilai tambah (added value) produk tersebut. Dengan memenuhi persyaratan dalam penanganan maupun pengolahan, maka diharapkan hasil pengolahan dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan baik secara nasional maupun internasional. Kontinuitas mutu produk sangat penting guna meningkatkan kepercayaan luar negeri terhadap mutu suatu produk sehingga produk tersebut dapat ditemui di pasar Internasional. Oleh karena itu produsen/pengolah harus semaksimal mungkin memenuhi keinginan negara importir demi menjaga pasaran dan kontinuitas usahanya yang pada akhirnya mampu memberikan devisa bagi negara.