Anda di halaman 1dari 6

Aku, Ratih dan R. A.

Kartini Tadi malam ketika mencari sebuah berkas,saya tidak sengaja menemukan kembali satu cerpen saya yang berjudul Aku,Ratih dan Kartini. Cerpen ini saya tulis sekitar 8 tahun yang lalu untuk mengikuti kegiatan lomba menulis cerita pendek tingkat Sumatera yang diselenggarakan website iSekolah.org. ang tidak saya perkirakan adalah bahwa tulisan ini berhasil memperoleh juara kedua kategori pelajar. !engingat hari ini adalah hari Kartini maka saya putuskan untuk memuatnya di blog ini. "njoy ########################################################### Aku, Ratih dan R. A. Kartini Kebebasan adalah buah dari pikiran untuk maju. $erpikir untuk bebas, berarti telah melangkahkan satu kaki menuju kebaikan di masa datang. %katan dan belenggu itu cuma khayalan. Cuma sampah. &angan terlalu dipikirakan. ang harus kita pikirkan adalah menemukan cara agar hidup ini berjalan dengan baik walau tidak semestinya. $agaimana caranya agar hidup benar'benar kelihatan seperti hidup. $ukan hidup yang seperti mati atau hidup tapi sesungguhnya mati suri. !anusia hidup dalam dua kesadaran. Kesadaran akan dirinya sendiri dan kesadaran akan dirinya bersama orang lain. "gosentrisme sekaligus kebersamaan. Keduanya, bersanding seperti dua sisi mata uang. Tidak dapat terpisahkan. Sama halnya dengan segala ciptaan Tuhan yang ada di muka bumi,baik itu nyata maupun yang gaib. Semuanya berpasangan. Siang'malam, bumi'langit,baik'buruk,hitam'putih,perempuan dan laki' laki. $etapa keterpaduan itu merupakan hal yang serasi dan harmonis. Sebaiknya,kita meghormati hal tersebut. Sadar ataupun tidak,kita bergerak di atas realita,yang memaksa kita mengakui perbedaan itu justru sebagai hiasan yang memperindah persamaan. $eda itu indah. %tu intinya, beda itu indah. Tiba'tiba seorang siswi di pojok kanan ruangan mengangkat tangannya dan berkata. (!aa) %bu * $oleh saya bertanya +, ( ak,silahkan, (Apa saya boleh memperkuat teori ibu tersebut dengan cerita saya +,, siswi itu terkesan tahu lebih banyak tentang hal yang baru saja aku sampaikan. (Tentu,apa ada hal yang ingin kamu koreksi +,, aku mencoba bersikap demokratis. $agiku memiliki siswa'siswi yang krtis dan -okal adalah dambaan bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. $etapa aku menyenangi saat'saat dimana aku harus berdiskusi dan beradu )ikir dengan siswa' siswiku. ($oleh saya minta waktu lima belas menit untuk bercerita sedikit, bu + %ni tentang kenyataan yang saya alami sendiri,,pintanya. ($aik.nama kamu, Ratih kan +, (%ya bu,

($aik Ratih,waktu kamu dua puluh menit. /an, saya harap hal yang kamu sampaikan mempunyai korelasi yang jelas dan pantas untuk didengarkan di ruangan ini,. Ratih mengangguk dengan pasti. /an,gadis itu mulai bercerita. Cerita yang penuh inspirasi. R.A. Ratih Sanggarwuni begitu nama lengkapnya. Terlahir dari turunan keluarga ningrat di kalangan keraton Solo yang masih memegang teguh adat'istiadat dan kebudayaan jawa. /i daerah Solo, keluarganya masih tergolong bangsawan yang cukup dihormati masyarakat. Kehidupan remajanya jelas dilewati dengan perkembangan 0aman yang kelewat modern namun tetap tidak mampu menembus dinding pembatas bernama kebudayaan. Sebagai keluaraga pembesar, otomatis orangtuanya masih bersikap kaku dan keras. Kurang bisa diajak bermusyawarah dan terlalu otoriter. 1aya lama ini tidak lain dan tidak bukan adalah perwujudan pengasuhan anak yang masih kuno dan ketinggalan 0aman. &uni,2384. Ratih lahir sebagai seorang perempuan. 5erempuan yang diharuskan mendapatkan berbagai cobaan dan tantangan dalam kehidupan. Ayah dan ibunya sangat menantikan kelahiran anaknya tersebut. 6ebih lagi, selama ini mereka belum mendapatkan seorang anak perempuan pun.$egitu mengetahui bahwa anak tersebut perempuan, sudah terbayang jelas apa yag akan dilakukan 5rabowosutedjo 7 ayah Ratih 7 untuk mendidik anaknya dengan baik. $ak pepatah lama, orang tua sudah banyak makan asam garam. !eski 0aman modern sudah ikut menyentuh sendi'sendi kehidupan daerah Solo, kultur &awa yang keras adalah metode yang dipilih 5rabowo untuk mendidik anaknya. /an, sebagai seorang anak Ratih tentu menurut kepada kedua orangtuanya. Terlalu menurut malah. Kehidupan masa kecilnya berjalan dengan baik sekali meski ia dididik dengan keras di rumahnya. $elum dirasakannya kon)lik maupun masalah yang berkenaan dengan metode yang diterimanya dari kedua orangtuanya. Ratih tumbuh menjadi gadis cilik &awa yang anggun,sesuai dengan gelar darah biru yang disandang keluarganya. 8sia Ratih pun bertambah seiring dengan tahun demi tahun yang dilewatinya. Seperti kebanyakan anak seusianya, Ratih juga bersekolah. %a masuk sekolah dasar di dekat rumahnya. $ukan main senangnya, Ratih. Selama ini dunia yang ia kenal hanyalah bangunan segiempat besar seperti limas 7 rumah &oglo 7 dan halaman luas penuh kebun bunga melati yang tak lain adalah rumahnya sendiri. $egitulah ia,pada masa kecilnya rasa melindungi dan pengajaran dari kedua orangtua Ratih tumbuh berlebihan sehingga mereka tidak mengi0inkan Ratih meninggalkan rumah. &adilah ia bagai burung dalam sangkar. $urung yang sangat merindukan kebebeasan untuk terbang. 5adahal,jika dibiarkan saja ia terbang, ia tentu tidak akan menghilang. !asalahnya hanya sang ayah dan ibu yang tidak mau bersikap sedikit lunak kepada Ratih.

Ratih sekarang adalah siswi S/ yang lucu. $erpakaian putih merah dan tas sandang model terbaru, pergi ke sekolah, bermain dan bercanda dengan teman'teman seusianya. Tak pelak lagi ketika ia berada di tingkat sekolah dasar adalah masa'masa indah penuh ilmu pengetahuan dan kesenangan. Suatu hari,menjelang peringatan 9ari Kartini :2 April ketika ia masih duduk di kelas tiga, wali kelasnya bercerita tentang salah seorang pahlawan wanita, R.A.Kartini. Cerita yang ia dengar itu perlahan mengilhaminya untuk mulai menyadari, bahwa ia perlu melakukan sesuatu demi dirinya sendiri. $ukan berarti egois.;amun, sesungguhnya manusia hidup dalam dua kesadaran. Kesadaran akan dirinya sendiri dan kesadaran akan dirinya bersama orang lain. "gosentrisme sekaligus kebersamaan. /an R.A. Kartini berhasil mewujudkan keduanya, meski ia tidak merasakan hal tersebut sama sekali. R.A. Kartini tercatat sebagai orang yang giat mengedepankan keadilan gender dan emansipasi wanita. 6ahir sebagai bangsawan &epara, Kartini tumbuh di lingkungan yang sangat kental memahami dan mempraktekkan adat' istiadat &awa. Tahun'tahun awal kehidupannya merupakan saat yang penting dalam proses pemahaman dan pemaknaan identitasnya kelak. Relati) sedikit waktu yang beliau habiskan bersama ibunya, ;gasirah. 9al ini dikarenakan ;gasirah bukanlah isteri utama 7 atau disebut selir 7 sehingga ia tinggal di luar keraton. $entuk interaksi yang e)ekti) justru Kartini rasakan bersama para pengasuhnya. Ayahnya + Sama saja. !eski )eodalisme telah runtuh bersamaan dengan Re-olusi 5rancis, namun sistem itu masih belum punah total dari tanah &awa. /an Ayah Kartini begitu sibuk dengan urusan keraton dan masyarakat, dan malah melupakan urusan terpenting, yaitu keluarga. /ari para pengasuhnya inilah, Kartini menerima banyak nilai'nilai kultural yang kelak menentukan identi)ikasi dirinya. Ketika Kartini mulai menyadari untuk mengidenti)ikasikan dirinya berbeda dari ayahnya, ketika itu pula ia menyadari kondisi lingkungan disekitarnya. %deologi patriarki yang kental di masyarakat &awa menyebabkan Kartini 7 sebagai seorang perempuan 7 memiliki kekuatan yang lemah dan tidak perlu diberdayakan. !asa bersekolah di sekolah pembesar selama usia < 72: tahun merupakan pengalaman khusus di saat ia membentuk landasan pola pikir kon)rontasi terhadap keresahan yang selama ini ia rasakan, ketidakadilan. Ketidakadilan, hanya karena ia seorang perempuan. ;amun disitulah masalahnya. Kartini menyadari betul konsep pembawaan dirinya dan orang lain,yang harus menurut pada perbedaan gender di kalangan masyarakatnya. ;amun di sisi lain, hal itu sangat menentang keinginan egoisnya akan kebebasan. !enentang hasratnya untuk mengetahui dunia luar yang ada. 6alu, lahirlah persepsi ia untuk bergerak. 5ada saat 0aman 5ergerakan ;asional, ia mendirikan sekolah'sekolah untuk rakyat dan wanita. /engan giat ia memberikan nilai'nilai baru kepada wanita &awa, agar jangan hanya mau bergerak di rumah. /unia luar masih luas. ;amun, lagi'lagi Kartini mesti menerima kenyataan. Sikapnya yang baik itu sangat butuh

stabilitas. Resistensinya berakhir buruk karena ia sendiri masih terikat dengan ideologi tersebut. Kumpulan surat'suratnya bersama teman penanya Stella 7 seorang $elanda 7 dan surat'suratnya yang lain sekarang telah dibukukan, dengan judul 9abis 1elap Terbitlah Terang. /an, emansipasi yang ia bentuk mulai berkembang pesat setelah kemerdekaan yang kita raih. !eski ia belum merasakannya pada saat ia masih hidup, namun semua orang percaya bahwa ia pasti merasa bahagia,karena buah pikiran dan perjuangannya telah mengantarkan wanita kepada kedudukan yang sejajar dengan laki'laki di masa kini. $ukan main seriusnya Ratih mendengar cerita tentang kartini itu. !atanya berbinar'binar dan bibirnya tersenyum. Seolah ia mendapat sebuah kekuatan baru untuk bergerak. (;ah,sekarang ibu mau bertanya. Siapa yang bisa menjawab akan ibu beri buku 9abis 1elap Terbitlah Terang ini, kata guru Ratih saat itu. (5ertanyaannya, apakah pada masa sekarang ini emansipasi sudah mulai disikapi di daerah &awa+, 5ada saat itu Ratih hanya diam. %a tidak menjawab pertanyaan wali kelasnya. Karena saat itu ia belum tahu. Atau lebih tepatnya, belum merasakan. !erasakan apa + Sebuah ketidakadilan. Ratih tidak pernah menduga bahwa masa'masa Kartini belum usai. =aman belenggu itu masih ada. Setamatnya dari sekolah dasar, Ratih memang masih diperbolehkan melanjutkan ke S!5. ;amun tidak untuk ke S!8. %tulah awal dari pemberontakan Ratih. Ayah Ratih pada suatu malam setelah Ratih merayakan ulangtahunnya yang ke lima belas memanggilnya ke beranda. /an mereka berdua terlibat pembicaraan yang serius. (Ratih.ini tentang kehidupan masa depanmu,, kata ayahnya (Ada apa, ah +,, Ratih bertanya. (Ayah sudah bicara dengan ibumu, dan ibumu setuju dengan keputusan ayah. Kamu tidak usah melanjutkan pendidikanmu ke S!8,. (!emang kenapa, ah +, (%ni sudah menjadi kebiasaan dan adat'istiadat kita, Ratih. 5erempuan itidak perlu bersekolah terlalu tinggi. 5erempuan hanya perlu tahu cara mengasuh anak dan keluarga. $ukankah dari kecil, mbahmu sering berkata demikian (, kata ayah Ratih. Kali ini dengan nada sangat tegas. (%ya ah.yang itu, Ratih paham. Tapi, sekarang kan sudah berbeda. Sekarang mestinya anak perempuan sudah boleh bersekolah, sudah boleh

bekerja. Kan,nggak mungkin selalu seperti ini. ang namanya kebiasaan kan juga bisa berubah, ah ( (Ratih, cukup * Kamu jangan sok tahu. Anak kecil seperti kamu tahu apa+,, potong ayahnya (Ayah,Ratih tidak sok tahu. Ratih hanya mengatakan apa yang Ratih inginkan dan Ratih rasakan. Ratih masih ingin bersekolah, ah. Ratih ingin belajar ( (Ratih, kamu jangan melawan *, bentak ayahnya. (Ratih tidak melawan, ah.Ratih.., ,Sudah,cukup * Kamu masuk saja sana ke dalam, Ratih berhenti bersikeras. !eski dengan muka merengut, Ratih tetap patuh pada ayahnya. %a masuk ke dalam dan pergi mengadu ke tempat ibunya. ,$u, Ratih masih ingin sekolah, $u. Ratih mau belajar (, rengek Ratih. (%bu mengerti ,Ratih. Tapi, itu sudah menjadi keputusan ayahmu. Sudah, turuti saja,, kata ibunya lembut. ($u., Keduanya saling berpandangan. >ajah ibu Ratih juga tampak sedih. %a tatap anak kesayangannya itu. !asih jelas wajah tidak menerima keputusan ayahnya di sana. $agaimana ya+ $egitulah adanya. Ayah adalah simbol kekuasaan sekaligus pemimpin di sistem masyarakat &awa. ### Suasana kelas hening. ang terdengar hanya riuh rendah ribut di kelas sebelah. $ahkan akupun terkesima mendengar penuturan Ratih. Aku kira kisah seperti itu hanya terjadi pada 0aman dulu atau sinetron di tele-isi. ;amun, ternyata masih ada perempuan yang tersiksa karena ideologi lama. Apa sih salahnya jadi perempuan. Toh, kami juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai perempuan. Semuanyakan kehendak Allah. 9arusnya kalau begitu, berarti mereka memblokir kehendak Allah dengan mendiskriminasikan perempuan. ($aik, terima kasih Ratih.cerita kamu barusan sangat membantu kita disini untuk lebih memahami pelaksanaan dari nilai'nilai emansipasi wanita pada 0aman sekarang ini, Ternyata, rencana dan pelaksanaan terkadang berjalan dalam rel berbeda. Searah namun tidak pernah saling berpotongan, tidak pernah akan bertemu. >ahai, ibu Kartini yang kukagumi, di hadapanku ada gadis yang merasakan penderitaan sepertimu juga. Tiba'tiba ada siswa yang bertanya,,6alu bagaimana bisa kamu sekarang bersekolah +,

ap* 5ertanyaan menarik. Kejadian itu berarti baru saja terjadi setahun yang lalu. 5ertanyaan cerdas, dan cuma satu orang yang memikirkannya. ($agaimana Ratih, apa kamu masih ingin berbagi cerita +(, sebagai gurunya tentu aku juga tidak akan memaksa. (Tidak apa'apa, $u. $iar saya lanjutkan sebentar,,katanya. (!ungkin teman'teman sangat bertanya'tanya kenapa sekarang saya boleh bersekolah + Saya saja tidak tahu harus bagaimana merasakannya + "ntah saya harus senang atau sedih bisa bersekolah. Karena beberapa bulan setelah kejadian itu, kesehatan Ayah saya memburuk akibat penyakit jantung yang dideritanya. /an, tak lama kemudian beliau wa)at. Tragis ya, aku bisa bersekolah karena ayahku sudah meninggal,, kalimatnya berakhir dengan gemetar. %ni lebih menyakitkan. !endengar kenyataannya saja sudah perih, apalagi ia, yang merasakannya. /i umur tanggung, gadis berusia lima belas tahun harus rela kehilangan ayahnya dulu baru ia bisa sekolah. %deologi apa itu + %deologi sampah. $etapa mahalnya kita harus membayar,jika untuk bersekolah kita harus kehilangan orang yang sangat kita cintai. a Allah.Kuatkan ia. 5endidikan butuh manusia seperti Ratih. Seorang gadis yang menjalankan prinsipnya dengan baik. Seperti Kartini. Tapi, bukan kartini biasa. ang ini, sudah luar biasa. Amin