Anda di halaman 1dari 4

- Terapi alternatif merupakan terapi pengganti dari terapi utama/medis dan pasien tidak menjalani terapi medis.

Terdapat hal yang kontradiktif, dari suatu survei pasien mengatakan bahwa tujuan penggunaan terapi komplementer/alternatif ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan fisiologis dan psikososial, namun pada beberapa kasus malahan terjadi sebaliknya, yaitu meningkatnya distres psikososial serta memburuknya kualitas hidup. Dampak Terapi Alternatif Terapi alternatif menjadi suatu masalah tersendiri di kalangan dokter yang menangani kasus onkologi. Keterlambatan penanganan dapat menyebabkan penurunan bahkan hilangnya kemungkinan tercapainya remisi atau kesembuhan. Sebab makin dini suatu kanker ditangani, maka makin tinggi kemungkinannya untuk disembuhkan. Kanker payudara dini mempunyai angka harapan hidup 5 tahun 90 %, bahkan bila ditemukan pada saat sangat dini (stadium 0) maka angka harapan hidup 10 tahunnya mencapai 98%. Tapi bila datang dalam stadium lanjut maka angka harapan hidupnya hanya 15%. Kanker leher rahim stadium dini bahkan dapat sembuh 100%. Dengan menjalankan terapi alternatif bukan saja menyebabkan terjadinya penundaan terapi medis, tetapi juga karena cara terapi alternatif sering berpotensi membahayakan penderita dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Umumnya, berbagai terapi alternatif tidak atau diradiasi, terlebih lagi diberikan kemoterapi. Jika terapi alternatif tersebut gagal, pemberi jasa pengobatan alternatif memakai alasan tidak berjodoh atau tidak cocok. Salah satu terapi alternatif yang cukup banyak digunakan adalah herbal. Tidak seperti obat yang umumnya mengandung 1 atau beberapa zat aktif yang telah terstandarisasi dan teruji, herbal mengandung berbagai zat aktif beserta kandungan lainnya yang belum terdokumentasi. Efeknya juga tidak selalu dapat diprediksi. Badan Pengawasan Obat dan Makanan tidak melakukan kajian khasiat dan keamanan menyeluruh mengenai herbal dan hanya beberapa produk herbal yang dilakukan uji toksisitas atau kontrol kualitas.

Demikian pula dengan studi interaksi antara herbal dengan obat yang masih jarang dilakukan. Produk herbal/nutraseutikal dapat berinteraksi dengan obat kemoterapi, menyebabkan sensitisasi kulit terhadap radioterapi, gangguan tekanan darah, serta potensi interaksi lain dengan obat anestesi selama prosedur pembedahan. Beberapa herbal seperti garlic, ginger, dan ginkgo memiliki sifat anti-koagulan dan perlu dihindari bagi pasien yang memiliki kecenderungan perdarahan atau yang mendapat anti-koagulan. Dampak ekonomi penggunaan terapi komplementer/alternatif juga terbilang besar. Hasil suatu survei yang dilakukan di Amerika Serikat, menunjukkan terjadinya peningkatan kunjungan pasien ke terapis alternatif/ komplementer dari 427 juta pada tahun 1990 menjadi 629 juta pada tahun 1997, melebihi kunjungan ke seluruh dokter umum di Amerika Serikat. Biaya yang dikeluarkan diperkirakan sekitar US$ 27 milyar memiliki bukti ilmiah dan kerapkali menjanjikan kesembuhan. Informasi mengenai terapi alternatif ini umumnya berasal dari sumber yang kurang dapat dipercaya seperti testimonial. Hasil analisis tentang sumber dari internet (hasil analisis 32 website mengenai terapi alternatif/komplementer untuk kanker) menemukan bahwa kualitas informasi yang disampaikan sangat bervariasi dan banyak dari website tersebut yang menganjurkan terapi yang belum terbukti bahkan tidak benar dan membahayakan. Hingga kini belum ada bukti memadai mengenai manfaat terapi alternatif dalam mencegah atau menyembuhkan kanker. Kendatipun ada, masih terbatas pada penelitian awal. Terapi alternatif menjanjikan penyembuhan dengan metode pengobatan sederhana dengan cara minum ramuan, dipijat, acupressure, ditotok, ataupun dengan metode yang tak dapat dicerna oleh akal sehat seperti penyakitnya dipindahkan ke binatang, mengkonsumsi racun ular, disengat lebah bahkan ada yang mengkonsumsi urin sendiri. Hal ini tentu dilakukan dengan harapan dapat sembuh tanpa perlu dioperas

Pada umumnya, saat seseorang didiagnosis kanker akan terjadi kepanikan. Saat ini merupakan masa kritis. Informasi yang masuk dapat membingungkan untuk keputusan menjatuhkan pilihan

menjalani terapi medis. Seperti diketahui, banyak pilihan terapi alternatif yang tersedia. Pencarian informasi terapi alternatif di internet dengan kata kunci alternative cancer medicine di Google.com menghasilkan lebih dari 16 juta hasil. Suatu survei mengemukakan bahwa sekitar 36% hingga 55% pengguna internet mengakses website untuk tujuan mendapatkan informasi kesehatan dan berpotensi 1 mempengaruhi pilihan terapi. Penyakit kanker merupakan target promosi terapi alternatif yang didorong oleh berbagai alasan dan motivasi, seperti ingin segera sembuh, takut operasi, biaya medis yang mahal dan lain sebagainya. Maka tak jarang terapi alternatif merupakan terapi utama yang ditempuh dengan meninggalkan terapi medis. Alasan pasien kanker menggunakan terapi komplementer/alternatif 2 ,yaitu untuk: - membantu mengurangi/mengatasi efek samping terapi, seperti mual, nyeri, dan rasa lelah - membuat diri merasa lebih nyaman dan mengurangi stres psikis - membuat mereka merasa dapat melakukan sesuatu yang lebih dalam terapinya - berusaha menyembuhkan penyakit kanker yang dideritanya Suatu survei yang melibatkan 36 pasien kanker payudara mengungkapkan bahwa motivasi pasien menggunakan terapi komplementer/alternatif yaitu : membantu tubuh dalam proses penyembuhan (75%), meningkatkan sistem kekebalan tubuh (56%), dan membuat merasa berbuat sesuatu dalam terapinya (56%). Sebanyak 88% responder menggunakan terapi komplementer/alternatif ini bersama dengan terapi medis.

Dikutip dari naturalhealingnh.com, salah satu manfaat obat herbal adalah karena obat ini dipercaya memiliki efek samping yang sangat minim atau bahkan hampir tidak ada. Hal ini sangat berbeda dengan pengobatan medis biasa yang banyak menimbulkan efek sampig atau bahkan ketagihan. Selain itu, para ahli juga menegaskan bahwa

obat herbal ini selain hampir tidak memiliki efek samping ternyata juga dapat menyembuhkan alergi yang dimiliki seseorang.