Anda di halaman 1dari 13

POKOK BAHASAN TEKNIK REPRODUKSI

SUB POKOK BAHASAN SEXING SPERMATOZOA, GERTAK BIRAHI, SINKRONISASI BIRAHI, SINKRONISASI OVULASI, SUPEROVULASI, TRANSFER EMBRIO

OLEH : Drh. I Dewa Putu Anom Adnyana, M.Vet

PENDAHULUAN Teknologi dalam bidang peternakan diharapkan akan membawa perkembangan baru dan modernisasi usaha peternakan, sehingga akan membawa peningkatan produktivitas, effisiensi, daya saing pasar dan produk yang berkualitas. Teknologi akan diarahkan pada : a). Teknoiogi yang berbasis sumber daya lokal, tepat lokasi dan tepat guna yang benar-benar dibutuhkan dan dapat diterima oleh peternak, b). Teknologi untuk pengembangan dan peningkatan usaha kearah agroindustry, c). Teknologi untuk dapat mendukung upaya peningkatan produksi, reproduksi, populasi, produktivitas dan peningkatan mutu bibit serta pakan ternak dan d). Alih teknologi akan terus didorong melalui kelompok tani, asosiasi dan para ahli. I. SEXING SPERMATOZOA Sexing atau pemisahan sperma adalah kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan spermatozoa yang membawa sifat kelamin jantan dengan betina. Teknologi ini bertujuan untuk menjawab tingginya permintaan peternak terhadap pedet atau anak sapi jantan potong karena harga jualnya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak betina. Sedangkan khusus untuk bangsa sapi penghasil susu atau Frisian Holand (FH), benih yang diminamati adalah yang betina (Anonim, 2009 (a)). Metode dalam sexing spermatozoa yang sering digunakan adalah dengan menggunakan 1. Metode Sentrifugasi Sentrifugasi gradien densitas kolom percoll : merupakan medium yang terdiri dari partikel silica colloidal dengan lapisan polyvinyl-pyrrolidone, dapat dijadikan dasar untuk mengisolasi spermatozoa motil, terbebas dari kontaminasi dari berbagai komponen seminal 2. Swim up bertujuan untuk menganalisis spermatozoa dengan memisahkan spermatozoa motil dari non-motil, celluler debris dan menyingkirkan komponen seminal plasma yang mempengaruhi kualitas spermatozoa. Spermatozoa berkromosom Y bergerak lebih cepat ke permukaaan media dibandingkan spermatozoa berkromosom X. Metodemetode ini mendasarkan dari spermatozoa yang berada pada lapisan atas setelah inkubasi mengandung populasi spermatozoa berkromosom Y dan Spermatozoa berkromosom Y mempunyai

kemampuan bermigrasi lebih cepat dibandingkan spermatozoa berkromosom X, sehingga apabila dilakukan sentrifugasi spermatozoa berkromosom X cenderung lebih cepat membentuk endapan. Pemisahan sperma dengan metode sentrifugasi gradien densitas kolom percoll mempunyai persentase recovery yang tinggi (86,78 % 5,55) dibandingkan dengan metode Swim up (62,38 % 8,44) 3. Flow cytometry Teknik untuk identifikasi dan memisahkan sel dan komponen-komponennya (DNA) menggunakan pewarnaan fluorescent dye dan deteksi fluorescence usu. Menggunakan sinar laser dan pada

sexing spermatozoa didapatkan pemisahan spermatozoa berkromom X, kromosom Y dan bahan buangan. II. GERTAK BIRAHI Deteksi birahi dan ketepatan waktu inseminasi merupakan hal penting yang mempengaruhi keberhasilan kebuntingan pada ternak. Kejadian infertilitas atau ketidakberhasilan kebuntingan biasanya terjadi oleh karena ketidaktahuan dalam heal mendeteksi birahi sehingga waktu inseminasi menjadi tidak tepat. Hal terpenting dalam deteksi birahi setelah beranak adalah mutlak diperlukan, pada peternakan dengan jumlah ternak yang banyak, deteksi birahi per-individu sulit dilakukan, untuk mengatasi hal tersebut teknik sinkronisasi birahi merupakan alternatif pemecahan masalah. Gertak birahi adalah suatu upaya membuat sekelompok ternak birahi dalam waktu yang bersamaan. Tujuan utama dari gertak birahi ini adalah membuat hewan ternak menjadi birahi kemudian terjadi aktivitas perkawinan yang diianjutkan dengan periode kebuntingan dan kelahiran dan hasilnya adalah terlahir individu baru. Dengan penyerentakan birahi dimaksudkan untuk pengendalian siklus estrus birahi sedemikian rupa sehingga periode estrus pada banyak hewan betina terjadi serentak pada hari yang sama atau dalam waktu 2 atau 3 hari.

Teknik gertak birahi biasanya dipakai dengan menggunakan preparat hormon. Hormon yang senng dipakai untuk gertak birahi adalah hormon progesteron dan hormon prostagiandin. Analisis SWOT dari teknologi sinkronisasi birahi ini adalah : 1. Kekuatan (Strong) merupakan teknologi yang murah dan efisien untuk menggertak sekelompok ternak untuk dapat birahi secara serentak Pelaksanaanya memerlukan tenaga terlatih, sehingga membuka peluang kesempatan kerja bagi mahasiswa yang baru lulus Merupakan peluang baru bagi tenaga terampil, seperti inseminator dan tenaga

paramedis koperasi Merupakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi reproduksi secara efektif

2. Kelemahan (Weakness) Masih mahalnya harga preparat hormon yang dipakai untuk penerapan teknoiogi ini Kebuntingan yang dihasilkan oleh teknologi ini masih belum memuaskan, Belum banyak diminati oleh peternak karena kurangnya informasi yang diberikan Biaya operasional yang masih tinggi bila dilakukan pada sekelompok ternak dengan

jumlah yang sedikit

3.Kesempatan (Opportunity) Penyempumaan penggunaan teknologi ini sehingga menjadi semakin murah Jumlah populasi ternak yang semakin banyak Gangguan reproduksi akibat rendahnya efisiensi reproduksi mulai disadari kerugiannya oleh mitra peternak 4. Ancaman (Threat) mahalnya biaya insemiansi buatan membuat mitra peternak akan beralih pada kawin alam

. - Perilaku peternak yang masih tradisional Tujuan Pada ternak besar khususnya sapi, kerbau, kambing dan domba, gertak birahi biasanya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh anak dengan umur yang sama, sehingga akan mempermudah perawatan anak. Untuk sapi, baik potong maupun perah juga sangat membantu para inseminator dalam menjalankan tugasnya, oleh karena birahi yang timbul akan dapat diperkirakan waktunya sehingga memudahkan dalam proses perkawinan yang dilakukan dengan cara inseminasi buatan Gertak birahi juga dimanfaatkan untuk pengobatan, misalnya pada hewan ternak yang mengalami anestrus. Hormon yang digunakan 1. Progesteron Progesterone releasing intravaginal device (PRID) Controlled interval drug device (CIDR) Synch romate B

2. Prostaglandin F2 Prinsip Gertak birahi dengan menggunakan preparat hormon didasarkan pada prinsip adanya mekanisme umpan balik dari hormon-hormon reproduksi dan bisa dengan sinar laser (laser Puncture). 1. Progesteron Penggunaan hormon ini untuk gertak birahi didasarkan pada penurunan kadar hormon progesteron secara tiba-tiba sehingga aktivitas dari gonadotropin releasing hormone dan follicle stimulating hormone akan terjadi. Hormon ini biasanya diberikan pada fase luteal selama 9-14 hari. 2. Prostaglandin F2 Hormon ini bekerja melisis korpus luteum, sehingga kadar progesteron menjadi rendah, akibatnya follicle stimulating hormone akan bekerja. Hormon ini digunkan pada fase luteal dan birahi terjadi 48-72 jam setelah penyuntikan. 3. Sinar Laser (Laser Puncture) Perlakuan laser puncture dilakukan di 14 titik akupuntur reproduksi Inter processus spinossus vertebrae lumbal 1-2 dan inter processus transversus vertebrae lumbalis 2-6 (Kiri Kanan), inter Lutalyse Prostavet Glandin

vertebrae sacralys dan vertebrae coccygealis serta dibagian depan dan bekakang tuber coccy (Kiri Kanan) dengan durasi 10 detik di setiap titik aplikasi diberikan dua kali dengan selang waktu 24 jam, akan menimbulkan sinyal karena kejutan dari sinar laser tersebut. Sinyal akan dikumpulkan ke otak, dan direspon akan adanya perintah ke bagian titik estrus sehingga akan menghasilkan hormone estrogen, ke ovarium yang berupa produksi sel telur masak, dan perintah otak ke urterus (kornue urteri) bagian kanan dan kiri dengan adanya produksi darah pada uterus, untuk persiapan penerimaan hasil fertilisasi dari ampula-istmus junction. Perintah otak ke titik hormonal akan direspon dengan produksi hormon yang mempengaruhi siklus birahi. Mengingat posisi sel-sel reseptor berada dibawah kulit maka untuk ternak yang kulitnya tebal seperti sapi dan kerbau diperlukan intensitas sinar yang lebih kuat untuk stimulasi yaitu 70 m watt dapat menjangkau sel-sel reseptor ternak besar, aplikasi laser puncture pada induk sapi Bali menghasilkan respon birahi 90% dan dari inseminasi diperoleh tingkat kebuntingan 80%.

III.SINKRONISASI BIRAHI Sinkronisasi birahi atau sinkronisasi estrus merupakan suatu cara untuk menimbulkan gejala birahi atau estrus secara bersama-sama, atau dalam selang waktu yang pendek dan dapat diramalkan pada sekelompok hewan. TUJUAN sinkronisasi birahi adalah untuk memanipulir proses reproduksi, sehingga hewan akan terinduksi birahi proses ovulasinya, dapat diinseminasi serentak dan dengan hasil fertilitas yang normal. Penggunaan teknik sinkronisasi birahi akan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak, disamping juga mengoptimalisasi pelaksanaan inseminasi buatan dan meningkatkan fertilitas kelompok. Sinkronisasi birahi mempunyai beberapa keuntungan praktis bagi peternak terutama dalam peternakan sapi potong yang diperlihara secara ekstensif di lapangan dan perkawinannya dilaksanakan melalui inseminasi buatan memakai bibit-bibit unggul yang diinginkan. Disamping itu penggunaan teknik penyerentakan birahi pada peternakan-peternakan sapi perah, babi dan domba juga dapat memberi arti ekonomi yang tidak kecil. Konsentrasi periode birahi dalam 2 atau 3 hari akan menghemat tenaga kerja; memungkinkan inseminasi pada banyak hewan betina (terutama babi) dengan semen seekor pejantan unggul pada satu waktu tertentu, anak-anak yang lahir tidak perlu dipisahkan menurut kelompok-kelompok umur selama pertumbuhan dan penggemukan karena semuanya mempunyai umur yang hampir sama, waktu partus dan pemasaran dapat lebih dikonsentrasikan pada waktu tertentu sesuai dengan keinginan peternak dan disesuaikan pula dengan permintaan pasaran dan menurut pertimbangan-pertimbangan ekonomis. Dalam program pemisahan embrio, tehnik sinkronisasi estrus dapat dipakai menyerentakkan stadium siklus birahi antara hewan pamberi (donor) dan hewan penerima (recipient). Supaya suatu program pengendalian siklus birahi dapat berhasil maka suatu angka konsepsi yang tinggi harus dicapai pada ovulasi yang diserentakkan. Dasar fisiologis dari penyerentakan birahi adalah hambatan pelepasan LH dari edenohypophysa yang menghambat pematangan folikel de Graaf, atau penyingkiran korpus luteum secara mekanik manual atau secara fisiologik dengan pemberian preparat-preparat luteolitik.

Tehnik dari sinkronisasi birahi ada bermacam-macam diantaranya adalah : a. Sinkronisasi menggunakan hormone progesterone atau progestagen Pemakaian progesteron dalam sinkronisasi estrus pertama kali dilapor oleh Ulberg, Christian dan Casida (1951) yang menyatakan bahwa apabila dimulai kira-kira 15 hari sesudah akhir estrus, penyuntikan 50 mg progesteron dalam minyak setiap hari atau 500 mg dalam bentuk repositor setiap 10 hari a kan menghambat estrus dan ovulasi pada sapi. Estrus terjadi dalam waktu 4-6 hari, rata-rata 5,2 hari, sesudah penghentian penyuntikan. Menurut Trimberger dan Hansel (1955) penyuntikan progesteron 50-100 mg setiap hari dari hari ke 15 hari ke 19 siklus birahi akan menyebabkan estrus normal pada 14 dari 25 sapi yang disuntik dalam waktu rata-rata 4,6 hari sesudah penghentian penyuntikan dan hanya 50 % yang mempunyai korpora lutea normal. Suntikan-suntikan progesteron tidak selalu memberi respon yang seragam karena perbedaan-perbedaan individual dalam kadar penyerapan hormon tersebut, dan kadar

penghambatan dan pemulihan kembali dari hambatan sesudah persediaan hormon didalam tubuh habis (Toelihere, 1979). Selain dengan penyuntikan, penggunaan hormone progesterone sebagi sinkronisasi siklus hormone juga dapat menggunakan alat yang menunjang diantara adalah: Progesteron releasing intravaginal Device (PRID) Merupakan implant intra vaginal terbuat dari silicon dan berbentuk spral. Progesteron sintetik tersimpan di dalam implan tersebut dan akan dibebaskan secara pelanpelan lewat selaput lendir vagina. Pemasangan implan intravagina biasanya selama 15 hari, dan birahi akan timbul pada waktu 48-72 jam setelah pengambilan implan. Angka birahi yang ditimbulkan dapat mencapai 100%, namun angka konsepsi dari inseminasi pertama masih cukup rendah yaitu sekitar 45%. Beberapa sifat yang tidak disukai dari penggunaan PRID untuk sinkronisasi antara lain mudah lepas sebelum waktunya dan ada kecenderungan iritasi selaput lendir vagina sehingga mudah menyebabkan vaginitis. Controlled Internal Drug Releasing (CIDR) Juga merupakan implant yang berbenuk huruf T dan terbuat dari silicon, yang nanti bentukan T tersebut akan dimasukkan ke dalm kornue uteri. Impaln ini diinsersikan selam 15 hari, dan biasanya menghasilkan angka konsepsi 58-66 %. Progesteron yang terkandung di dalamnya (1,9 gram) merupakan progesteron alam, sehingga mudah dideteksi dalam darah dan mempunyai waktu paruh yang sangat pendek, sifat ini adalah memberikan respon pembebasan gonadotrophin yang lebih nyata. Sifat lain yang disukai dari CIDR adalah dapat dipakai berulang-ulang, sampai 5 kali dengan fertilitas yang sama, karena kandungan progesteronnya yang tinggi.

b. Sinkronisasi menggunakan hormone Prostaglandin (PGF2) Cara standar sinkronisasi birahi meliputi 2 kali penyuntikan prostaglandin dengan selang 10 12 hari. Birahi akan terjadi dalam waktu 72-96 jam setelah penyuntikan kedua. Pelaksanaan inseminasi dilakukan 12 jam setelah kelihatan birahi, atau sekali pada 80 jam setelah penyuntikan kedua . Sinkronisasi birahi dengan prostaglandin hanya akan berhasil pada kerbau yang bersiklus birahi normal dan tidak akan meningkatkan angka konsepsi melebihi inseminasi pada birahi alam. Angka konsepsi dari inseminasi pertama dengan sinkronisasi birahi ini tidak setinggi pada sapi, tetapi hanya berkisar antara 30-40 (Sujarwo, 2009). Prosedur yang digunakan adalah: Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2satu kali. Birahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2 dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari. Setelah itu dilakukan pengamatan timbul tidaknya birahi 36-72 jam setelah peyuntikan kedua. Pemberian PGF2 analog dapat menyebabkan luteolisis melalui penyempitan vena ovarica yang menyebabkan berkurangnya aliran darah dalam ovarium. Berkurangnya aliran darah ini menyebabkan regresi sel-sel luteal. Regresi sel-sel luteal menyebabkan produksi progesteron menurun menuju kadar basal mendekati nol nmol/lt, dimana saat-saat terjadinya gejala birahi. Regresi korpus luteum menyebabkan penurunan produksi progesteron. Untuk mengetahui profil progesteronnya sendiri dapat ditentukan dengan cermat atas bantuan teknik Radioimmunoassay (RIA) fase padat yang mamaki radio aktif lodium 125, dengan kepekaan assay 0,30 nmol/ml. Kesuksesan program sinkronisasi membutuhkan pengetahuan mengenai siklus birahi. Hari ke-0 dari merupakan hari pertama estrus, pada saat ini biasanya perkawinan secara alami terjadi. Hormon estrogen mencapai puncaknya pada hari ke-1 dan kemudian menurun, level progesteron rendah karena Corpus Luteum (CL) belum terbentuk. Ovulasi terjadi 12-16 jam setelah akhir standing estrus. CL yang menghasilkan hormon progesteron terbentuk pada tempat ovulasi dan secara cepat mengalami pertumbuhan mulai dari hari ke-4 sampai ke-7, pertumbuhan ini diikuti dengan peningkatan level progesteron. Mulai hari ke-7 sampai ke-16, CL menghasilkan progesteron dalam level tinggi. Selama periode ini, 1 atau 2 folikel mungkin menjadi besar, tetapi dalam waktu yang singkat akan mengalami regresi, kirakira hari ke-16, prostaglandin dilepaskan dari uterus dan menyebabkan level progesteron menjadi turun. Ketika level progesteron menurun, level estrogen meningkat dan folikel baru mulai tumbuh, estrogen mencapai puncaknya pada hari ke-20, diikuti tingkah laku estrus pada hari ke-21. Pada saat ini siklus estrus kembali dimulai.

c. Sinkronisasi secara peroral Sinkronisasi ini menggunakan 1. MAP, 6-metil -17 acetoxcyprogesterone, (Upjohn Co. Repromix) pertama kali dievaluasi pada tahun 1960 oleh Hansel dan Malven. Sapi-sapi betina yang diberi makan lebih dari 500 mg MAP setiap hari untuk 20 hari, menunjukkan birahi pada waktu yang bersamaan tetapi angka konsepsi hanya mencapai 25%. Dosis efektif minimal untuk MAP adalah 180 200 mg/ hari/ hewan yang diberi makan setiap hari pada waktu yang sama 2. Pada tahun 1963 diperkenalkan CAP, 6-chloro-6dihydro-17-acetoxyprogesterone, suatu senyawa progestational yang lebih kuat., sedangkan untuk CAP cukup 10 mg/ ekor/ hari. 3. Dapt pula denggan menggunakn MGA, Melengestrol acetate, yang jauh lebih kuat lagi dengan dosis hanya 1 mg/ ekor/ hari. 4. DHPA, Dihydroxy progesterone acetophenide, seuatu preparat progesteron lain, dapat pula dipakai untuk penyerentakan birahi pada sapi. Lama optimum pemberian preparat-preparat ini adalah 18 hari walaupun beberapa peneliti menganjurkan periode yang lebih pendek, 10-14 hari. 5. Sedangkan Obat nonstreriodal yang diberikan secara peroral diantaranya ICI-33828, yang dipakai untuk pengendalian siklus reproduksi pada babi karena pada ruminansia obat non steriodal tidak berpengaruh. Clomipere atau MRL 4 suatu anti estrogen telah dicoba pada sapi dan menghambat etrus tetapi tidak terjadi ovulasi setelah pemberhentian pemberian obat. Clomipere menghambat ovulasi dan menggangu pelepasan LH Angka konsepsi pada percobaan dengan sapi-sapi perah dara dan sapi potong memakai preparatpreparat ini mencapai 20-70% pada estrus pertama yang terjadi serentak dalam waktu 2-8 hari seseudah akhir pemberian preparat progestagen. Sesudah pemberian MAP sapi-sapi memperlihatkan birahi dalam waktu 3-4 hari; dengan CAP dan MGA intervalnya lebih lama 2-3 hari. Pada hampir semua perlakuan angka konsepsi adalah 10-15 % dibawah nilai yang diperoleh pada sapi-sapi kontrol dan diinseminasi pada kondisi yang sama. Angka-angka konsepsi pada periode estrus berikutnya, yang terjadi sesudah interval 21 hari, adalah normal. Jadi tidak ada perpanjangan pengaruh progestagen. Periode siklus birahi, permulaan, pertengahan atau akhir, sewaktu senyawa progestational mulai diberikan tidak mempengaruhi angka konsepsi pada estrus pertama yang diserentakan. Angka konsepsi yang rendah pada estrus yang disebabkan oleh kegagalan pembuahan karena gangguan pengangkutan sperma di dalam saluran kelamin betina. Fertilisasi yang rendah disebabkan oleh gangguan transpor ova yang telah dibuahi atau kematian embrional.

IV. SINKRONISASI OVULASI Metoda sinkronisasi birahi belum merupakan penyelesaian masaiah terhadap deteksi birahi dan ketepatan waktu inseminasi, pada usaha peternakan besar metoda baru tanpa pendeteksian birahi setelah pemberian hormon diharapkan akan dapat meningkatkan daya reproduktivitas ternak. Metoda sinkronisasi ovulasi diharapkan dapat memecahkan permasalah yang muncul di lapangan. Dasar sinkronisasi ovulasi Pada ovarium, pertumbuhan folikel berlangsung seiama 9 -14 hari dalam siklus birahi pertumbuhan folikel terdiri daii fase seleksi dan fase dominan. |

Pada fase seleksi beberapa folikel berkembang pada saat yang bersamaan sampai 3-4 hari setelah

ovulasi dan diharapkan salah satu folikel dominan akan berhenti berkembang. Pada fase dominan folikel yang berkembang akan mengalami pemasakan dalam waktu 8-9 hari. Bila prostaglandin diberikan pada fase pertama pertumbuhan folikel, regresi korpus luteum, pematangan dan perkembangan folikel sampai birahi dibutuhkan waktu 5-6 hari. Bila pemberian prostaglandin dilakukan pada fase terakhir dari perkembangan folikel, birahi akan muncul 2-3 hari. Hormon yang digunakan Hormon GnRH dikombinasikan dengan prostaglandin. Penggunaan GnRH 6-7 hari sebelum pemberian prostaglandin dapat meningkatkan penampakan birahi pada hari ke-3 setelah prostaglandin diberikan. Saat GnRH diberikan, folikel dominan dengan diameter 10 mm berovulasi, dan pertumbuhan folikel baru dimulai 1,5 hari setelah pemberian. Ovulasi folikel dominan mempengaruhi korpus luteum, korpus luteum merespon untuk melawan prostaglandin. Seteiah tujuh hari perkembangan folikel akan didukung dengan pemberian GnRH yang akan mempersiapkan folikel dominan dalam waktu 5-6 hari. Pada saat ini jika prostaglandin diberikan, folikel dominan akan matang setelah tiga hari dan birahi akan nampak.

V. SUPEROVULASI Superovulasi didefinisikan sebagai perlakuan pada hewan betina dengan menggunakan preparat hormonal sehingga didapatkan ova (oosit) yang diovulasikan lebih dari normainya. Pada sapi superovulasi bisa menghasilkan ova 0-50 per sapi dengan rataan 10 ova, enam diantaranya yang ditemukan merupakan embrio normal. Saat sapi dilahirkan, ovariumnya mengandung lebih dari 200.000 oosit yang dibentuk saat kehidupan fetus, setelah lahir tidak didapatkan adanya pembentukan oosit baru. Kenyataannya , oosit yang pada saat lahir akan mengalami degenerasi dan menghilang dari ovarium pada saat memasuki pubertas. Proses degenerasi ini disebut dengan atresia. Atresia ini berlanjut seiama masa kehidupan sapi, kadang-kadang ovari sapi yang sudah tua tidak lagi mengandung ova. Superovulasi dan embrio transfer adalah suatu metoda yang membantu menyelamatkan potensi genetik ternak. Regulasi hormon pada ovarium Folikel-folikel yang masak membutuhkan kondisi yang khusus seiama 4-5 hari menjelang ovulasi. Kondisi tersebut meliputi penurunan konsentrasi progresterone secara cepat dalam darah yang berhubungan dengan regresi dari korpus luteum,adanya hanya seiama periode akhir dari siklus birahi,menjelang birahi. Oosit dalam folikel mengalami maturasi bila konsentrasi progesterone tidak mengalami penurunan secara cepat sehingga menjadi atresia, dimana folikel-folikel yang ada pada stadium ketika progesterone mengalami penurunan akan mengalami penyelesaian maturasi dan ovulasi. Sistem ini dibawah kontrol dua hormon. Yang pertama adalah Follicle Stimulating Hormone ( FSH ) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa anterior.Hormon ini menyebabkan pertumbuhan folikel secara cepat seiama 4-5 hari menjelang ovulas. Hormon kedua adalah inhibin yang dihasilkan oleh folikel-folikel yang sedang tumbuh secara cepat. Inhibin berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dari hipofisa anterior. Jadi, bila banyak folikel mulai meghasilkan inhibin, hormon ini akan menghambat sekresi FSH sehingga tidak ada lagi folikel yang akan tumbuh menjadi matur dan ovlasi. Keadaan demikian meyakinkan kita bahwa hanya satu folikel yang akan mengaiami ovulasi selama dalam satu siklus birahi pada sapi.

Superovulasi dapat dilakukan dengan menyuntikkan FSH dari luar. Pada sapi, penyuntikan FSH dapat dilakukan pada hari ke 16-19 dari siklus birahi, dimana konsentrasi progesterone secara alami mengaiami penurunan. Induksi pertumbuhan folikel menyebabkan produksi inhibin banyak yang akan menghambat sekresi FSH dari hipofisa anterior. Namun injeksi FSH dari luar masih efektif. Dampak praktek, sapi disuperovulasi dengan dua alasan yaitu pertama, adanya beberapa variasi dari lamanya siklus birahi dari siklus ke siklus sehingga hal ini menyultkan dalam mengoptimalkan waktu penyuntikan FSH. Sebagai contoh, penyuntikan FSH dapat dilakukan pada hari ke 15 bila sapi mempunyai lama siklus birahinya 19 hari, tap i pada sapi yang lamanya siklus birahi 23hari, penyuntikan FSH dilakukan pada hari ke 19 Masalah kedua adalah jadwal dari prosedur embrio transfer akan mengaiami kesulitan bila mengandalkan siklus birahi secara alami. Kedua masalah tersebut dapat diatasi d engan membuat dan memendekkan siklus birahi secara buatan. Keadaan dapat dilakukan dengan menurunkan konsentrasi progesterone secara cepat dengan pemberian PGF2 alfa yang mampu meregresikan korpus luteum. FSH disuntikkan sebelum dan sesudah penyuntikan PGF2 alfa untuk mempercepat pertumbuhan folikel pada waktu yang tepat. Penyuntikan FSH dapat dimulai pada hari ke 9-14 dari siklus birahi. Berbeda dengan penyuntikan PMSG hanya dilakukan hanya sekali karena pemecahan hormon tersebut sangat pelan dalam darah. Sapi donor biasanya mengaiami ovulasi dalam waktu satu hari setelah tanda birahi tampak. Superovulasi tidak akan memperpendek masa kehidupan reproduksi dari sapi sebab extra ova yang diproduksi pada akhirnya akan mengaiami atresia juga. Super Ovulasi dengan FSH Hari ke 0 PGF 11 PGF 13-14 ESTRUS 23-24 24-25 25-26 26-27 28-29 IB

PAGI PAGI FSH FSH SORE SORE

PAGI PAGI FSH FSH SORE SORE

Keterangan: - PGF2 - FSH : 20-25 mg : 5/5 mg; 4/4 mg; 3/3 mg; 2/2 mg

Super Ovulasi dengan PMSG dan hCG 0 PGF Keterangan : PGF2 PMSG hCG E : 20-25 mg : 2000-3000 IU : 500-2000 IU : estrus 11 PGF 13-14 E 23-24 PMSG 25-26 PGF 26-27 E/hCG/IB

VI. TRANSFER EMBRIO PADA SAPI

Usaha untuk melakukan pemindahan embrio dari satu individu ke individu lainnya telah lama diusahakan manusia. Heape (1890) di Inggris mencoba untuk pertama kalinya, kemudian berturut-turut disusul oleh beberapa peneliti seperti Biedl et al (1922), Nicholas (1933), Pincus dan Enznann (1934), Chang (1948) dan Dowling (1949) dilaporkan sukses memindahkan embrio kelinci. Pada domba dan kambing juga pernah dilakukan yaitu oleh Warwick dan Berry (1951), Lopyrin et al (1950) dan pada babi oleh Kvansnickii (1951). Keberhasilan pertama kali pada sapi dilakukan oleh Willet et.al, dari Cornell University USA pada tahun 1951 yang kemudian diikuti oleh peneliti lainnya. KEUNTUNGAN Penerapan teknik transfer embrio mempunyai beberapa keuntungan antara lain: 1. Memperbanyak reproduksinya, sebanyak 6-7 keturunan seekor ekor. induk unggul dengan nilai genetis hanya yang mampu tinggi. Selam periode anak untuk

sapi

betina

secara teknologi

normal

menghasilkan

Dengan

transfer

embrio,

dimungkinkan

meningkatkan jumlah anak yang dihasilkan dengan cara superovulasi. 2. Memperpendek interval generasi. Dengan teknologi transfer embrio dimungknkan untuk yang

mempercepat sapi betina tersebut

keturunan

selain

memperpendek waktu

diperlukan untuk memperoleh sifat genetis yang baik dari induk maupun pejantannya. 3. Membuat kelahiran kembar Kebuntingan kembar dapat dilakukan dengan meletakkan satu embrio masing-masing pada kornua uteri, atau dengan membuat kembar identik dengan melakukan sayatan pada balastomer (teknik splitting ) 4. Penentuan jenis kelamin embrio 5. Transportasi Dengan metoda penyimpanan beku embrio maka pengiriman jarak jauh akan memerlukan biaya yang lebih rendah bila dibandingkan dengan pengiriman ternak dewasa. Tidak perlu adaptasi iklim serta menghindarkan kemungkinan penularan penyakit dari negara pengekspor ternak. 6. Cloning Yang dimaksud dengan kloning disini adalah pembentukan individu baru yang tidak sama dengan pejantannya maupun induknya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memasukkan khromosom somatik ke dalam inti sel embrio, sehingga akan dihasilkan individu yang sama sekali baru. EMBRIO YANG DIGUNAKAN 1. Embrio segar (diperoleh langsung dari proses flushing donor, kemudian langsung di -

Ditransferkan ke resipien). 2. Embrio beku (diperoleh dari hasil flusing donor,kemudian dibekukan terlebih dahulu,

Atau diperoleh dari fertilisasi in vitro ). TEKNIK YANG DIGUNAKAN 1. Teknik bedah 2. Teknik non bedah
KEGIATAN - KEGIATAN DALAM TRANSFER EMBRIO (embrio segar ) KEGIATAN - KEGIATAN DALAM TRANSFER EMBRIO (embrio beku )

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Programing Seleksi donor dan resipien Penyerentakan birahi. Superovulasi Pengamatan birahi Insminasi Flushing ( Pemanenan embrio ) Identifikasi embrio Transfer embrio

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Programing Seleksi resipien Sinkronisasi resipien Pengamatan birahi Thawing dan Identifikasi embrio Transfer embrio Pemeriksaan kebuntingan

10. Pemeriksaan Kebuntingan

Programing Merupakan tahap awal penyusunan program kerja, baik periakuan terhadap resipien terhadap donor, demikan juga penyesuaian waktu dan lokasi pelaksanaannya. Seleksi donor dan resipien Seleksi donor dilakukan dengan melihat kondisi fisik, sejarah penyakit terutama penyakit reproduksi. Palpasi rektal dilakukan untuk mengetahui status dan anatomis saluran reproduksi. Untuk donor minimal telah pernah beranak satu kali. - Penyerentakan birahi - Superovulasi - Pengamatan birahi dan Insminasi - Pemanenan embrio ( Flushing ) Flushing dilakukan pada hari ke 7 setelah insminasi Flushing dapat diiakukan dengan cara bedah dan tanpa pembedahan maupun

Identifikasi embrio Identifikasi embrio dilakukan berdasarkan penampakan morfologis dengan kriteria A. (Bagus sekali) perkembangan normal tanpa adanya efek yang terlihat. A. (Bagus) embrio bagus dengan beberapa ketidakteraturan bentuk (<10%) Beberapa blastomer menonjol. B. (Cukup) Embrio cukup bagus, ketidakteraturan bentuk 10-30% C. (Jelek) perkembagan embrio terganggu, ada sejumlah besar penonjolan blastomer,vesiculasi dan degenarasi sel, ketidakteraturan bentuk 30-50%. D. (Jelek sekali) degenerasi total atau embrio terlalu muda.

Transfer embrio Embrio yang telah diseleksi didalam media PBS dan FCS 20% dimasukkan didalam -straw dengan urutan media-udara-media+embrio-udara-media.Setelah dipastikan embrio berada dalam straw

kemudian disiapkan pada kateter transfer. Deposisi embrio pada apeks kornua ipsi lateral dengan korpus luteum yang ada. DAFTAR BACAAN 1. Tanaka, H., Herliantien dan D. Zamanti. 2001. Fisiologi dan Gangguna Reproduksi. The aftercare technical cooperation for the strengthening of artificial inseminati on center project. Japan International Coorperation Agency. Indonesia. 2. Tanaka, H, dkk, 2002. Reproduksi Klinik. . The aftercare technical cooperation for the strengthening of artificial insemination center project. Japan International Coorperation Agency. Indonesia. 3. Boediman s. 2002. Pembangunan di Bidang Peternakan dalam menunjang Otonomi daerah dan Menyongsong Ekonomi Global. Panduan Seminar nasional. Pengembangan Peternakan. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. 4. Anonim. 2009 (a). Teknologi Sexing Sperma. http://disnak.jawatengah.go.id 5. Hasnurrizal. 2008. Sinkronisasi Birahi dengan Preparat Prostaglandin (PGF 2). Ko-Asistesi Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. 6. Ismaya. 1998. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bagian Program Studi Produksi Ternak Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta 7. Kartasudjana, Ruhyat. 2001. Teknik Inseminasi Buatan pada Ternak. Jakarta :Departemen Pendidikan Nasional. 8. Salisbury. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Yogyakarta :Gadjah Mada University Press. 9. Sujarwo, Susila. 2009. Penerapan Tehnik Sinkronisasi Birahi pada Kerbau dan Problemnya .Dinas Peternakan Sulawesi Selatan.

10. Toelihere. 1979. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung : Penerbit Angkasa. 11. Toelihere. 1994. Inseminasi Buatan pada Sapi. Bandung : Penerbit Angkasa