Anda di halaman 1dari 34

ABSTRAK

Seorang manajer proyek yang kompeten sangat penting untuk kesuksesan proyek. Sementara banyak studi telah meneliti kompetensi manajemen proyek, dan beberapa telah melakukannya dalam green construction. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh manajer proyek yang melaksanakan green construction dan untuk menentukan bidang pengeatahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk merespon tantangan tersebut. Melalui kajian literature, survei dan wawancara dengan manajer proyek, penelitian ini akan membantu membangun pengetahuan bagi manajer proyek untuk menjadi kompetitif dan untuk melaksanakan suistanable projects secara efektif.

2012 Elsevier Ltd APM dan IPMA. All rights reserved.

Keywords: Sustainability; Competency; Project manager; Project management; Knowledge areas; Skills; Challenges; Green construction

1. Pengantar Seorang manajer proyek yang kompeten adalah faktor yang sangat penting untuk keberhasilan proyek , dan beberapa penelitian telah menyoroti keterampilan yang penting (Avots , 1969; Belassi dan Tukel, 1996; Crawford, 2000; Sayles dan Chandler, 1971) . Ahadzie (2007) juga menegaskan kesadaran industri dalam hubungannya antara pencapaian keberhasilan proyek dan kompetensi konstruksi manajemen proyek. Konstruksi organisasi yang sukses sekarang fokus untuk memastikan bahwa manajer proyek memperoleh kompetensi inti yang diperlukan untuk kebfgggerhasilan dalam tugas-tugas mereka. Menurut Frank (2002), manajer proyek memiliki pengaruh langsung sebesar 34-47 % dari keberhasilan proyek. Berdasarkan studi sebelumnya, jelas bahwa manajer proyek memainkan peran penting dalam menentukan

keberhasilan proyek. Suatu organisasi dapat memaksimalkan kesempatan yang tetap ada untuk mencapai keberhasilan proyek dengan merekrut , mengembangkan , memelihara dan mempertahankan manajer proyek superior. Bekerja sama dengan berbagai profesional lain, manajer proyek mengatur, merencanakan, menjadwal, dan mengontrol pekerjaan dan bertanggung jawab untuk mendapatkan proyek yang dapat diselesaikan dalam keterbatasan waktu dan biaya yang telah ditetapkan (Sears et al ., 2008). Untuk mengelola proyek profesional dan berhasil, seorang manajer proyek perlu memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. Meluasnya studi penelitian telah mendokumentasikan keterampilan manajerial yang diperlukan untuk kinerja proyek yang efisien. Fryer (1985) mendaftar berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh manajer proyek, seperti : keterampilan pengambilan keputusan, keterampilan penanganan masalah, kemampuan untuk mengenali peluang, dan manajemen perubahan sebagai kunci yang mempengaruhi keberhasilan proyek. Mengingat perubahan lingkungan yang cepat dari industri
1

konstruksi dengan tantangan seperti kekurangan keterampilan, majunya teknologi informasi dan komunikasi, dan meningkatnya prioritas akan isu-isu seperti keberlanjutan lingkungan, perlindungan dan perubahan iklim , peran manajer proyek perlu disesuaikan. Dengan keprihatinan permasalahan global yang memiliki dampak negatif datang dari

lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan manusia di baru-baru tahun ini, banyak industri yang mengarahkan menuju pembangunan berkelanjutan dan menerapkan langkah-langkah konstruksi green. Bangunan perusahaan dari berbagai macam daerah di seluruh dunia telah terintegrasi menggunakan konsep green ke dalam konstruksi, mereka berencana untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan (Hwang dan Tan, 2010). Bahkan, Singapura telah membuat pembangunan berkelanjutan menjadi prioritas nasional utama (Lutchmeeduth et al ,2010; Singapore Green Building Council, 2009). Akibat perubahan industri, manajer proyek akan menemukan sendiri isu-isu baru dan mereka harus menghadapinya sebagai bagian dari peran menjalankan tanggung jawab mereka (Edum - Fotwe dan McCaffer , 2000). Diakui Ceran dan Dorman ( 1995) dan Russell et al (1997) dengan adanya perubahan konstruksi maka peran manajer proyek harus melengkapi fungsi tradisional dengan pengetahuan non - teknik dan keterampilan untuk memenuhi tuntutan profesional saat ini. Hari ini manajer proyek tidak hanya memenuhi peran tradisional dari manajemen proyek, tapi juga harus mengelola proyek dalam cara yang paling efisien dan efektif dengan menghormati keberlanjutan. Fenomena konstruksi bangunan green terus tumbuh dan mendapatkan popularitas, ada kebutuhan untuk lebih memahami bahwa atribut penting memiliki manajer proyek harus mengelola proyek dengan konstruksi green. Meskipun banyak penelitian pada sebuah kompetensi manajer proyek, beberapa memiliki examinded yang khusus, pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan manajer proyek agar berhasil memberikan sebuah proyek
2

berkelanjutan. Upaya peningkatan proyek berkelanjutan dilakukan tanpa mengorbankan daya saing manajer proyek, studi ini bertujuan untuk ( 1 ) mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi manajer proyek yang kompeten dari proyek-proyek konstruksi green; ( 2 ) untuk menemukan bahwa manajer proyek menghadapi tantangan dalam mengelola proyek konstruksi green, menentukan bidang pengetahuan kritis, keterampilan yang bisa menanggapi tantangan; dan ( 3 ) Untuk memberikan perbandingan bidang pengetahuan kritis dan keterampilan antara proyek konstruksi green dan konstruksi tradisional. 2. Kompetensi Manajer Proyek Dogbegah et al. (2011) mengutip banyak studi seperti Chen et al. (2008) dan Veres et al. (1990) yang berfokus pada kompetensi manajemen proyek dan bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penentu dan/atau kriteria untuk seseorang manajer proyek yang kompeten. Chen et al. (2008) menggunakan 2 (dua) pendekatan tradisional utama, worker-oriented dan work-oriented, untuk membedakan persaingan manajemen proyek. Sebelumnya ditekankan atribut-atribut yang harus dimiliki oleh pekerja, seperti pengetahuan, keterampilan dan kemampuan, dan sifat pribadi, sedangkan keberadaan para pekerja secara independen merupakan atribut yang terakhir, yang dapat didefinisikan di dalam syarat-syarat teknis dari tugas-tugas pekerjaan (Holmes and Joyce, 1993). Sedangkan persaingan dapat mewujudkan sebuah susunan dari karakteristik yang berbeda, tingkah laku, dan sifat, diperlukan untuk hasil pekerjaan yang efektif (Abraham et al. 2001), Crawford (2000) memberikan sebuah pengertian secara mendalam dengan mengusulkan 3 (tiga) klasifikasi, yaitu input competencies, personal competencies, dan output competencies. Menurut Crawford (2000), input competencies mengacu pada pengetahuan dan keterampilan yang seseorang bawa pada sebuah pekerjaan. Personal competencies adalah karakteristik
3

personal yang mendasari kesanggupan seseorang untuk mengeksekusi sebuah pekerjaan, sedangkan output competencies berelasi dengan kinerja, dimana seseorang menunjukkan kemampuannya di tempat kerjanya. Klasifikasi tersebut dikombinasikan dengan kompetensi menaksir. Klasifikasi yang diusulkan oleh Crawford melahirkan beberapa persamaan dengan klasifikasi yang diusulkan oleh Ahadzie et al. (2008), terlebih pada relasi antara personal dan output competencies. Ahadzie et al (2008) mempersembahkan sebuah tipologi tugas yang kontekstual, yang mana kinerja tingkah laku kontekstual adalah kebijakan yang berhubungan dengan pekerjaan, yang mana pekerja melakukan kontribusi terhadap keefektifan organisasi akan tetapi itu semua tidak resmi diakui sebagai bagian dari pekerjaan. (Ahadzie et al., 2008; Chen et al., 2008). Perilaku kinerja yang konstektual berperan seperti personal competencies, yang mana sama-sama berkontribusi pada efektivitas pekerjaan, akan tetapi tidak secara resmi diakui sebagai bagian dari pekerjaan dan prediksi yang terbaik dapat dilakukan oleh antarpribadi dan dedikasi pekerjaan (Ahadzie, et al., 2008). Di sisi lain, tugas dari perilaku kinerja adalah spesifikasi tugas dan pemberian penghargaan secara normal. Seorang manajer proyek bertugas menampilkan kompetensi sesuai fungsi dari awal hingga akhir, seperti organizing, planning, coordinating dan controlling. Perilaku kinerja tugas adalah prediksi terbaik yang dillakukan oleh kemampuan kognitf, pengetahuan tentang pekerjaan, kemahiran tugas dan eksperien. Borman and Motowidlo (1993) menyatakan bahwa sumber utama dari variasi pada kinerja tugas adalah diakbatkan pada karakteristik manusia seperti pengetahuan, keterampilan dan kemampuan. Maksud dari menerima perbedaan tugas-kontekstual adalah pengenalan ilmunya, keterampilannya dan kebiasannya yang saling berhubungan dengan dua jenis dari perilaku seperti mencoba menjadi berbeda (Ahadzie et al, 2008). Faktanya, menurut bukti-bukti, kinerja fasilitas

tugas adalah prediksi terbaik yang dapat dilakukan oleh individu untuk dapat mengetahui perberdaan masing-masing, contohnya kemampuan kognitif, pengetahuan pekerjaan, kemahiran tugas, dan eksperimen bekerja (Ahadzie et al., 2008; Gellatly and Irving, 2011). Sebagai kemungkinan lain, kontekstual kinerja tugas adalah prediksi terbaik yang dapat dilakukan seseorang untuk membandingkan pengabdian pada pekerjaannya dan fasilitas antarpribadi (Conway, 1999). Pengabdian pada pekerjaan didefinisikan sebagai landasan motivasi untuk kinerja pekerjaan yang mendorong orang untuk bertindak secara sengaja dengan niat mempromosikan kepentingan organisasi dan termasuk perilaku disiplin seperti mengikuti aturan, bekerja keras, dan mengambil inisiatif. Fasilitas antarpribadi mengacu pada atribut-atribut yang membantu memertahankan konteks social dan antarpribadi yang dibutuhkan untuk mendukung efektivitas kerja (Van Scotter dan Motowidlo, 1996). Sementara, ciri-ciri kepribadian juga dapat digunakan untuk memprediksi kinerja manajer kontruksi proyek, manfaat menggunakan kompetesi perilaku adalah kemampuan mereka untuk memberikan wawasan tentang watak yang mendasari pengembangan proyek professional manajer (Borman dan Motowidlo, 1993; Hayes et al., 2000). Tidak seperti ciri-ciri pada umumnya, kompetensi perilaku lebih cenderung setuju untuk melakukan perubahan melalui pelatihan, misalnya. Artinya, perilaku kompetensi dipelajari daripada karakteristik yang melekat (Skipper and Bell, 2006). Singkatnya, atribut seorang manajer proyek pada makalah ini terdiri dari pengetahuan dan keterampilan manajemen proyek. 3. Bidang Pengetahuan dan Keterampilan dari Seorang Manajer Project Management Institute ( PMI ) mencatat sembilan bidang pengetahuan yaitu integrasi , waktu, biaya, pengadaan, kualitas, komunikasi, sumber daya manusia, ruang lingkup dan risiko yang kemudian dimasukan ke Badan Manajemen Proyek Pengetahuan ( PMBOK Guide) pada

tahun 1987 dalam upaya untuk mendokumentasikan dan membakukan informasi proyek yang diterima manajemen dan prakteknya (PMI, 2008). Masing-masing dari sembilan bidang pengetahuan mengandung proses yang perlu dicapai dalam disiplin serta dalam rangka mencapai program manajemen proyek yang efektif. Misalnya, biaya proyek yang mencakup proses manajemen yang diperlukan untuk memastikan proyek ini selesai dan sesuai dengan anggaran yang disetujui, terdiri dari perencanaan sumber daya, estimasi biaya, biaya penganggaran dan pengendalian biaya. Demikian juga, proyek manajemen risiko berkaitan dengan proses mengidentifikasi, menganalisis dan menanggapi risiko proyek. kegiatannya meliputi identifikasi risiko, kuantifikasi risiko, pengembangan respon, dan kontrol. Kompetensi manajemen proyek dicapai dengan kombinasi selama pelatihan pengetahuan yang diperoleh, keterampilan yang dikembangkan melalui pengalaman, dan penerapan pengetahuan. Bidang pengetahuan yang dibutuhkan oleh manajer proyek dalam prakteknya melampaui ruang lingkup yang cenderung lebih kompleks dan beragam daripada di industri lain ( Ahadzie et al . , 2008). Manajer proyek harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan tentang aspek teknis tingkat industri yaitu dengan memahami produk dan jasa yang dibangun dan dikirimkan. Menurut Edum - Fotwe dan McCaffer (2000) banyak pengetahuan dibutuhkan untuk mengelola proyek-proyek konstruksi yang unik untuk proyek manajemen: seperti analisis jalur kritis dan peramalan arus kas proyek. Hal tersebut merupakan tuntutan untuk menghargai konteks yang lebih luas sebagai subyek dari batas-batas yang ditetapkan oleh persyaratan sertifikasi. Oleh karena itu praktek manajemen proyek modern memiliki tuntutan umum dan pengetahuan manajemen lainnya, ditambah bahwa dengan keterampilan yang melampaui aspek teknis tradisional pada bidang engineering ( Edum - Fotwe dan McCaffer , 2000).

Dogbegah et al . ( 2011) mengidentifikasi 18 bidang kompetensi dalam manajemen proyek, dan sebuah argumen apakah manajemen proyek itu harus dikonseptualisasikan serta ditekankan dalam keahlian administrasi proyek pada bidang pengetahuan yang diidentifikasi oleh studi sebelumnya. Disajikan pada Tabel 1 . Edum - Fotwe dan McCaffer (2000) menyatakan bahwa mendapatkan input pengetahuan bagi pemilik memungkinkan untuk mengembangkan manajer proyek memiliki dua jenis

keterampilan, yakni keterampilan khusus yang langsung dan hanya berhubungan dengan konstruksi proyek dan khususnya berada pada daerah tersebut. Yang kedua keterampilan secara keseluruhan dapat dialihkan dari pembangunan untuk bidang lain , tetapi lebih penting dari satu jenis konstruksi yang lain. Keterampilan secara keseluruhan menyediakan banyak dasar untuk mengembangkan keterampilan manajemen proyek dan hal tersebut adalah penting bagi manajer proyek yang berfungsi efektif dengan dibarengi pengetahuan. Tabel 1 Summary of Knowledge Areas

Pada Tabel 2 mendaftar keterampilan yang dibutuhkan untuk seorang manajer proyek yang efektif berdasarkan studi sebelumnya.

Kesamaan hasil penelitian mengidentifikasi keterampilan langsung dan tidak langsung mempengaruhi kompetensi manajer proyek. Keterampilan langsung biasanya mengacu pada keterampilan teknis kompetensi itu memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja proyek. Misalnya, keterampilan perencanaan dimanfaatkan untuk penjadwalan kegiatan dalam rangka memenuhi tenggang waktu proyek. Keterampilan langsung terkait dengan bidang manajemen proyek pengetahuan. Komunikasi adalah kompetensi manajemen, keterampilan Tabel 1 Summary of Skills Areas

komunikasi yang efektif menunjukkan bahwa melalui keterampilan tidak langsung efektivitas manajerial memiliki pengaruh pada kinerja proyek. Kepemimpinan merupakan keterampilan yang dibutuhkan seperti halnya keterampilan perencanaan, memastikan bahwa pekerja melaksanakan pekerjaan mereka dalam rangka memenuhi proyek sesuai dengan batas waktu. 4. Pembangunan Green Building Konstruksi pembangunan gedung green dapat menjadi bagian dari keseluruhan rencana pengembangan perusahaan yang berkelanjutan. Menurut Kubba ( 2010), bangunan green

dirancang untuk energi optimal, efisiensi dan dibangun dengan preferensi untuk alam, reklamasi , dan bahan daur ulang . Bangunan-bangunan ini memberikan dampak yang baik bagi kesehatan, lingkungan berada dalam ruangan lebih nyaman dan produktif untuk penghuni dengan memaksimalkan penggunaan sumber daya yang efisien seperti energi, air , dan bahan baku . The American Society of Testing and Material ( ASTM , 2009 ) menegakkan bangunan green sebagai persyaratan kinerja bangunan yang telah ditentukan, selain itu meminimalkan gangguan dan meningkatkan fungsi ekosistem lokal , regional dan secara keseluruhan baik selama dan setelah konstruksi dalam jangka waktu tertrntu. Burnett ( 2007) menjelaskan green building yang sempurna harus memiliki lima fitur utama : integrasi dengan ekosistem lokal, sistem lingkaran material yang tertutup, maksimum penggunaan desain pasif dan energi terbarukan, optimasi membangun siklus hidrologi, dan Implementasi penuh langkah-langkah kualitas lingkungan dalam ruangan. Pendekatan bangunan green yang sempurna harus ditujukan kepada pemilik dan manajer proyek. Dalam beberapa tahun terakhir, secara keseluruhan telah ditempatkan penekanan pada bangunan green dan fenomena ini terbukti di Singapura dengan peluncuran skema Green Mark pada tahun 2005 oleh Bangunan dan Konstruksi Authority ( BCA ). Pembangunan berkelanjutan tetap menjadi prioritas utama pembangunan nasional ke depan, selanjutnya Green Building Masterplan adalah untuk set-up spesifik diluncurkan inisiatif untuk mencapai lingkungan berkelanjutan di Singapura pada tahun 2030 . Targetnya adalah memiliki setidaknya mencapai 80 % dari bangunan di Singapura adalah BCA Green Mark yang bersertifikat pada tahun 2030 ( BCA , 2010). Pada April 2011 , statistik yang diperoleh dari halaman web BCA Green Mark mengungkapkan ada lebih dari 750 Green Mark bangunan bersertifikat di Singapura ( BCA ,2011). Karena jumlah bangunan green meningkat, begitu juga kebutuhan akan spesialis yang kompeten untuk merancang, membangun , mengelola dan

menjaga fasilitas dan layanan khusus green. Akhirnya, diperkenalkan BCA Green Mark yang bersertifikat program profesional merupakan program pelatihan dan pengenalan dalam memperluas kemampuan industri desain dan pengembangan berkelanjutan di daerah ( BCA Academy , 2011). Hal tersebut dirancang sebagai kesempatan karir sukarela untuk membangun program profesional, yang mengakui Individu dengan kompetensi yang dimiliki untuk program green desain bangunan dan praktek. Individu tersebut mencari akreditasi yakni bersertifikat Green Mark Professionals ( GMP ), program ini ditawarkan sebagai serangkaian modul pendek, fokus pada konsep desain ,solusi green dan teknologi praktis, dan simulasi penggunaan alat bangunan untuk memprediksi kinerja bangunan . 5. Tantangan yang dihadapi dalam proyek green construction Tantangan yang dihadapi dalam proyek-proyek konstruksi green berasal dari kajian literatur yang komprehensif yang dibawa untuk penelitian ini, Tabel 3 merangkum tantangan utama bagi manajer proyek yang harus dihadapi dalam mengelola proyek konstruksi green . 5.1 . Biaya yang lebih tinggi untuk praktek dan bahan konstruksi green bila dibandingkan dengan proyek-proyek konvensional, proyek-proyek green membutuhkan biaya lebih untuk membangun. Menurut perkiraan oleh Tagaza dan Wilson ( 2004) biaya modal untuk proyek-proyek green berkisar dari 1 sampai 25 % lebih tinggi. Biaya yang lebih tinggi karena desain kompleksitas , dan pemodelan biaya yang diperlukan untuk mengintegrasikan praktik green ke dalam proyek ( Zhang et al . , 2011). Biaya yang lebih tinggi juga terkait dengan bahan bangunan green dan menggunakan teknologi green ( Hwang dan Tan , 2010). Zhang et al . ( 2011) perhitungan jika menggunakan bahan green biaya 3% sampai 4 % lebih dari bahan konstruksi konvensional. Beberapa bahan green biayanya lebih besar dibandingkan konvensional, contohnya bahan green menggunakan papan gandum terkompresi biaya 10 kali lebih besar dari kayu lapis biasa ( Hwang

10

dan Tan , 2010). Biaya yang lebih tinggi langsung mempengaruhi manajer proyek dalam membangun konstruksi green, karena mereka bertanggung jawab untuk mengelola proyekproyek dalam alokasi anggaran tertentu( Ling , 2003). 5.2. Kesulitan teknis selama proses konstruksi, seorang manajer proyek mengimplementasikan rencana proyek dengan otorisasi pelaksanaan kegiatan untuk menghasilkan deliverable proyek ( Ling ,2003). Seringkali, teknologi green memerlukan teknik yang rumit dalam konstruksi dan proses ( Zhang et al . , 2011). Jika kompleksitas tidak ditangani dengan baik, maka hal itu mungkin mempengaruhi kinerja manajer proyek. Tagaza dan Wilson ( 2004) menyatakan bahwa salah satu tantangan utama dalam green building adalah kesulitan mendapat teknisi berpengalaman selama proses konstruksi, selain itu desain bisa lebih rumit dari bangunan konvensional karena evaluasi bahan alternatif dan sistemnya ( Hwang dan Tan , 2010). 5.3 . Risiko akibat berbagai bentuk kontrak pengiriman proyek Tagaza dan Wilson ( 2004) melaporkan bahwa keberhasilan mengembangkan dan menerapkan desain green sangat tergantung pada jenis kontrak yang dipilih untuk pengiriman proyek (2004). Jenis kontrak yang digunakan dalam proyek-proyek green harus memasukkan rincian desain green yang terintegrasi. Hal ini dapat menciptakan masalah jika desain terkunci sebelum sepenuhnya dikembangkan ( Tagaza dan Wilson , 2004). Beberapa perubahan skala yang signifikan mungkin dilakukan jika fitur green digabungkan pada tahap berikutnya , sehingga biaya proyek secara keseluruhan yang menjadi lebih besar ( Hwang dan Tan , 2010). 5.4 .Proses persetujuan yang panjang untuk teknologi green menggunakan bahan daur ulang, lingkungan pasar mengusulkan bahwa proses perencanaan bisa berlarut-larut sebagai proses menyetujui penggunaan teknologi green dengan menggunakan bahan daur ulang ( Tagaza dan Wilson , 2004). Demikian pula, survei dilakukan oleh Zhang et al . ( 2011) dan Eisenberg et al . (

11

2002) menunjukkan bahwa tambahan waktu diharapkan untuk mendapatkan persetujuan. Sebuah proses panjang persetujuan menyajikan sebuah tantangan untuk manajer proyek mereka harus mengembangkan jadwal dan menyetujui pembayaran kemajuan vendor dan pemasok ( Ling , 2003). 5.5 . Banyak penelitian telah membuktikan bahwa teknologi green menimbulkan hambatan tertentu untuk pengembang, klien dan kontraktor. Dua alasan yang disarankan oleh Eisenberg et al . ( 2002) yang tidak memadai adalah pengetahuan atau keahlian teknis dan ketidakbiasaan dengan produk ,bahan ,sistem , atau desain. Tantangan utama adalah bahwa teknologi green lebih rumit dan berbeda dari teknologi konvensional ( Tagaza dan Wilson ,2004). Hal ini dikonfirmasi oleh Zhang et al . ( 2011). Seorang manajer proyek harus menyelesaikan proyek dengan kinerja yang diperlukan dan ditentukan oleh klien ( Ling , 2003), karena ketidakbiasaan dengan kinerja teknologi green dapat mempengaruhihasil kinerja . 5.6 . Komunikasi yang lebih besar yang diperlukan antara anggota tim proyek untuk menjadi sukses, manajer proyek harus mengelola pemasok, subkontraktor dan anggota tim. Komunikasi sangat penting untuk proyek green guna menyampaikan praktek-praktek berkelanjutan yang diharapkan dari anggota tim. Tagaza dan Wilson (2004) menemukan semangat awal untuk memisahkan bahan limbah yang hilang di antara sub kontraktor sebagai proyek yang berlangsung menggunakan bahan daur ulang dan campuran bahan lain. 5.7 . Lebih banyak waktu yang dibutuhkan untuk konstruksi green di tempat praktik di situs pemeriksaan acak dan tempat kunjungan oleh manajer proyek biasanya diperlukan untuk memastikan praktek-praktek berkelanjutan yang diimplementasikan di tempat ( Tagaza dan Wilson , 2004). Hal tersebut penting karena pekerja mungkin mengorbankan waktu yang ada

12

untuk melakukan raktek-praktek berkelanjutan karena diharuskan untuk menyelesaikan sebuah proyek .

6. Metodologi dan Data Presentasi Setelah dilakukan kajian literatur yang komprehensif tentang pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk seorang manajer proyek yang kompeten yang melaksanakan green projects, dikembangkanlah kuisioner pra-survey. Kuisioner pra-survey bertujuan untuk memvalidasi 39 bidang pengetahuan dan keterampilan yang telah diidentifikasi melalui kajian literature. Dengan menggunakan metode peringkat rata-rata nilai, 20 bidang pengetahuan dan keterampilan yang tertinggi dipilih dan akhirnya diadopsi untuk survey yang utama. Pada akhirnya, 52 survei kuisioner yang sudah selesai itu diterima, ditabulasi dan dianalisis. Singkatnya, tahun distribusi pengalaman responden pada manajemen proyek ditemukan sebagai berikut: sampai 5 tahun (11,5%), 6-10 tahun (26,9%) , 11-15 tahun (21,2%), 16-20 tahun (26,9%) dan di atas 20 tahun (13,5%). Selain itu, wawancara dengan pakar industry dilakukan untuk menyempurnakan daftar tantangan yang dihadapi manajer proyek dalam mengelola proyek green construction. Yang diwawancarai (interviewees) mendiskusikan tantangan yang teridentifikasi dalam tinjauan literature. Hasil ini meningkatkan pemahaman tentang alasan untuk tantangan yang dimasukkan dalam survey. Penelitian ini melibatkan tiga orang manajer proyek dari perusahaan yang berbeda untuk wawancara, kebanyakan dari mereka memiliki lebih dari 10 tahun pengalaman dalam mengelola proyek-proyek konstruksi.

13

Tujuan utama dari survey ini adalah (1) untuk menemukan tantangan yang manajer proyek hadapi dalam green construction dan (2) untuk mengidentifikasi atribut penting bahwa manajer proyek perlu memiliki dalam mengelola proyek green construction. Hasil dari pre-survei dan wawancara berfungsi sebagai platform dalam mengembangkan kuesioner survey utama. Bagian pertama dari kuesioner survey adalah memperoleh data profil responden. Bagian kedua tercantum tantangan tentang apa yang dihadapi manajer proyek dalam mengelola green contruction. Responden-responden diminta untuk menilai sejauh mana masing-masing dari tantangan mempengaruhi, mereka menggunakan skala Likert (1= tidak relevan sama sekali; 5=paling relevan). Bagian selanjutnya meminta responden untuk menilai pentingnya atribut manajer proyek dalam menanggapi tantangan yang diijelaskan pada bagian kedua dari survey tersebut (1=tidak penting sama sekali; 5=sangat penting). Bagian terakhir responden diminta untuk menilai kepentingan relative dari atribut dibandingkan dengan proyek konstruksi tradisional. Pertanyaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi pentingnya setiap bidang pengetahuan manajemen proyek dan keterampilan dimana seorang manajer proyek harus memperkuat dalam rangka untuk menjadi kompeten dalam green construction project bila dibandingkan dengan proyek-proyek tradisional. Dari 500 kuisioner yang dikirimkan, 30 set kuisioner survey yang lengkap diterima dan dianalisis. Tingkat respon relative rendah karena hanya tanggapan dari responden yang memiliki pengalaman dalam mengelola green construction projects yang dianggap valid. Seluruh responden memiliki lebih dari 4 tahun pengalaman dalam mengelola proyek tradisional dan beberapa memiliki pengalaman dengan green construction projects (sampai dengan 1 tahun, 7%; 1-2 tahun, 17%; 2-3 tahun, 23%; 3-4 tahun, 23%; lebih dari 4 tahun, 30%). Data juga menunjukkan jenis dan sifat dari total 68 green construction projects yang dikelola oleh responden di seluruh karir mereka. Ada 23 proyek komersial (34%),

14

19 proyek perumahan (28%), dan 26 proyek pendidikan (38%). Sebagian besar (84%) dari proyek direkam dari survey yang melibatkan konstruksi baru dengan sisa (16%) menjadi penambahan dan pengubahan proyek. 7. Analisis Tantangan Sub bagian berikut mendiskusikan hasil analisis terhadap berbagai tantangan yang dihadapi manajer proyek selama manajemen proyek green project construction. Tabel 4 merangkum tantangan-tantangan khusus yang dikategorikan dalam tujuh bidang, nilai rata-rata mereka, dan jajaran dalam dan di seluruh kategori. 7.1 Tantangan yang Berhubungan dengan Perencanaan (Planning-Related Challenges) Kebanyakan tantangan yang dihadapi oleh manajer pelaksana proyek green construction adalah tantangan yang berhubungan dengan perencanaan. Semakin lama waktu diperlukan untuk proses pra-konstruksi, P6, menghasilkan nilai rata-rata tertinggi yaitu 4.57, menunjukkan bahwa sering ditemui tantangan pada P6. Green specification yang diberikan dalam rincian kontrak, P7, menduduki peringkat tertinggi kedua, sementara proses persetujuan yang panjang untuk menyetujui teknologi baru, P5 menduduki peringkat sebagai tantangan yang paling kritis berhubungan dengan perencanaan, dengan nilai rata-rata 2.43. Menurut Kubba (2010), dari waktu ke waktu proyek green building semakin menggabungkan system yang lebih canggih dan rumit. Selama desain, dampak dari unsur-unsur pada setiap system harus dianggap sebagai satu kesatuan. Kegagalan dalam memperhatikan integrasi green technology dan dampaknya terhadap elemen bangunan lainnya, menghasilkan konflik pada pembangunan yang mengarah pada penundaan, dalam rangka mengatasi masalah tersebut. Para responden dari penelitian ini diverifikasi bahwa periode pra-pembangunan proyek
15

green construction biasanya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan proyek pembangunan tradisional. Alasannya adalah karena adanya kebutuhan untuk lebih merencanakan desain yang rinci dan komprehensif, yang mencakup semua green features yang dibutuhkan oleh proyek pembangunan. Hal ini sering diartikan lebih banyak keterlibatan dan interaksi dengan pemangku kepentingan (stakeholders) yang berbeda, yang juga dapat memperlambat proses prakonstruksi. Yang diwawancarai menekankan bahwa selama tahap pengembangan desain, tim desain membutuhkan lebih banyak waktu untuk mempelajari desain kinerja system terhadap green building. Kebanyakan, teknologi green tergolong baru untuk pembangunan industry dan kinerja system mereka tidak banyak diketahui. Selain itu, upaya yang lebih besar dibutuhkan untuk memastikan bahwa fitur green dimasukkan ke dalam desain dengan mempertimbangkan sumber yang lebih murah, namun tetap pilihan green yang efisien. Lebih lanjut, desain, orientasi, dan struktur bangunan (P2) harus memainkan peran utama dalam memilih fitur green yang paling efektif untuk dipekerjakan pada sebuah bangunan green. Misalnya, panel surya harus terletak di tempat dimana ada sinar matahari yang maksimum. Meskipur proyek pembangunan green sering memiliki green consultants dan green engineers, manajer proyek harus memiliki kemampuan untuk menilai faktor-faktor yang dihadapi dan memberikan solusi terbaik untuk proyek tersebut. 7.2 Tantangan yang terkait proyek (Project-related challenges) Di antara semua tantangan yang terdaftar dalam kategori project-related challenges, T3, memiliki kendala terkait dengan pemilihan subkontraktor yang menyediakan green construction, dimana T3 memiliki rata-rata tertinggi dengan nilai 4,50.

16

Pemilihan subkontraktor untuk konstruksi proyek tradisional mungkin tidak terlalu sulit bagi manajer proyek berpengalaman yang akrab dengan kinerja subkontraktor yang telah bekerja di masa lalu. Hal ini juga memungkinkan bahwa adanya informasi kinerja yang cukup untuk subkontraktor yang terlibat dalam proyek green construction. Sebagai hasilnya, proses seleksi menjadi lebih keras dan mungkin membutuhkan lebih banyak waktu. Adapun tantangan kedua, yaitu mengidentifikasi dan memvariasikan perubahan yang berhubungan dengan desain selama proses pembangunan sebagai masalah yang signifikan, salah satu yang diwawancarai menyarankan bahwa elemen pada peringkat ini tinggi karena tampaknya harus ada usaha lebih dari sebelumnya untuk menghasilkan perubahan dalam proyek green construction. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah gambar yang tidak konsisten seperti yang diberikan oleh arsitek dan desain utama yang menggabungkan fitur green. Untuk menjawab tantangan ini, manajer proyek harus bekerjasama lebih intensif dengan pemangku jabatan (stakeholders) dengan tujuan mencapai keberhasilan proyek. Tabel 4 Analysis summary: Challenges

17

7.3

Tantangan yang terkait klien (Client-related project) Seperti yang terlihat pada Tabel 4, terdapat tujuan yang perlu dipahami bahwa klien ingin

mencapai tujuan dengan green building, C2, memiliki rata-rata tertinggi yaitu 4,01. Salah seorang yang diwawancarai menekankan penting bagi manajer proyek untuk memahami tujuan klien mereka, terutama ketika klien ingin mencapai sebuah sertifikat green mark. Dalam rangka mencapai tujuan mencapai tujuan tersebut, klien harus menentukan jenis green technology yang akan digunakan meskipun ini juga dapat menimbulkan tantangan jika green technology yang tidak ditentukan secara local. Selain itu, tingkat resiko yang menunjukkan bahwa klien bersedia untuk melakukan tantangan lainnya untuk manajer proyek. Manajer proyek bertanggung jawab untuk memastikan bahwa green technologies yang diterapkan dalam proyek ini adalah aman,
18

terutama jika klien memiliki ambang yang rendah untuk resiko. Klien mungkin membutuhkan waktu lebih dari jumlah biasa untuk membuat keputusan apakah ia atau tidak untuk melaksanakan green technologies seperti system. 7.4 Tantangan yang terkait tim proyek (Project team-related challenges) Hasil analisis pada Tabel 4 melaporkan bahwa PT3, frekuensi pertemuan dengan green specialist, adalah salah satu tantangan yang paling kritis yang dihadapi oleh manajer proyek. Seseorang yang diwawancarai menegaskan bahwa peningkatan jumlah pertemuan dibutuhkan untuk proyek green construction karena sebuah aliansi yang intens dengan green specialist adalah perlu untuk menyempurnakan masalah yang muncul. Beberapa orang yang diwawancarai juga mencatat bahwa informasi yang diperlukan dari spesialis cenderung tertunda (PT4), mempengaruhi jadwal proyek keseluruhan. Selain itu, meskipun perlu untuk kolaborasi lebih dekat dalam tim proyek, manajer proyek melaporkan masalah dengan kurangnya komunikasi dan ketertarikan antara anggota tim proyek (PT2).

7.5

Material dan tantangan yang berhubungan dengan peralatan (Material and equipment-related challenges) Dalam hal material dan tantangan yang berhubungan dengan peralatan, responden

mengutip ketidakpastian dengan green material dan green equipment, M2 (Mean = 4.50), sebagai tantangan yang paling relevan yang mereka hadapi. Semua yang diwawancarai menyatakan kekhawatiran atas kehandalan green material dan green equipment sebagai teknologi baru dimana sebagian besar dari mereka tidak memiliki rekam jejak yang terbukti.

19

Tantangan kedua tertinggi adalah cost of green material, M1. Penelitian yang dilakukan oleh Zhang et al. (2011) berpendapat bahwa dengan menggunakan green material akan menelan biaya mulai dari 3% sampai 4% lebih dari bahan konstruksi biasa. Pemilihan green material harus sadar biaya untuk mencegah kelebihan anggaran. Tidak seperti bahan bangunan biasa, ketersediaan dari green material mungkin tidak tersedia secara local. Masalah yang timbul dari bahan impor mungkin termasuk memahami peraturan hokum dari berbagai Negara. Selanjutnya, untuk meyakinkan bahwa bahan impor akan kompatibel untuk penggunaan local, pengujian ekstensif mungkin diperlukan. 7.6 Tantangan yang terkait tenaga kerja (Labor-related challenges) Dalam kategori yang berhubungan dengan tantangan tenaga kerja, resistensi pekerja untuk mengubah praktek-praktek tradisional mereka (L1) adalah tantangan yang paling tinggi yang dihadapi oleh manajer proyek. Meskipun manajer proyek mungkin tidak secara langsung berhubungan dengan para pekerja di lokasi, pekerjaan mereka memainkan peran penting dalam keberhasilan proyek. Jika pekerja tidak memiliki keterampilan teknis yang diperlukan (L2) atau menyadari prosedur yang benar (L3), mereka mungkin memiliki dampak negative pada pencapaian keberhasilan proyek. 7.7 Tantangan eksternal (External challenges) Tantangan eksternal dapat mempengaruhi proyek dalam banyak cara. Keadaan yang tak terduga (E4) mungkin bahkan kurang dapat diprediksi dalam proyek green constructions dibandingkan dengan pembangunan proyek yang biasa. Proyek pembangunan hijau masih relative baru di Singapura, dan akibatnya, tim anggota dan pekerja memiliki sedikit pengalaman. Ketika dihadapkan dengan keadaan yang tak terduga, manajer proyek mungkin tidak dilengkapi
20

dengan pengetahuan sebelumnya untuk menangani situasi. Salah seorang yang diwawancarai mengutip sebuah contoh dimana klien telah memutuskan untuk lebih green mark score, beralih dari emas ke platinum, di tengah pembangunan proyek. Hal ini menciptakan perubahan tantangan yang tak terduga dan cukup besar bagi manajer proyek dalam penjadwalan ulang pembangunan sesuai dengan persyaratan dan desain baru. Memahami kebijakan pemerintah terkait dengan proyek green construction (E1) juga penting dan mendapatkan peringkat tertinggi. Kebijakan dan peraturan yang ketat dirancang untuk melindungi kesehatan manusia dan masalah lingkungan dan kegagalan untuk mematuhi dapat menyebabkan keterlambatan proyek, pemutusan, dan denda. Bahkan apabila green consultant terlibat selama proyek green construction, adalah penting bahwa manajer proyek memiliki pemahaman yang baik tentang kebijakan. 8. Analisis Bidang Pengetahuan dan Keterampilan Untuk Memenuhi Tantangan Bagian ini menyajikan hasil analisis survey. Bidang pengetahuan dan keterampilan yang membutuhkan manajer proyek dalam rangka untuk menghadapi tantangan green construction dibahas secara efektif. Tabel 5 dan 6 mendaftar pengetahuan dan keterampilan yang diidentifikasi melalui kajian literature dan diverifikasi oleh presurvey. 8.1 Bidang Pengetahuan dan Keterampilan yang Berhubungan dengan Tantangan Perencanaan Seperti terlihat pada Tabel 5, survey mengungkapkan bahwa yang menjadi ketiga teratas critical to project planning-related challenges adalah (1) pengelolaan jadwal dan perencanaan, (2) manajemen komunikasi, dan (3) manajemen resiko. Sebagaimana dibahas sebelumnya, lebih banyak waktu yang diperlukan selama proses perencanaan pra-proyek untuk green projects. Oleh

21

karena itu, manajer proyek harus efektif dalam menyusun jadwal dan perencanaan manajemen untuk memastikan bahwa proyek akan selesai pada waktunya. Seseorang yang diwawancarai (interviewee) menyatakan bahwa keseimbangan harus dicapai untuk memastikan bahwa terdapat sumber alternative yang lebih murah sambil memastikan semuanya berjalan sesuai dengan jadwal. Selanjutnya, green construction mungkin memerlukan manajer proyek yang lebih detail ketika akan melakukan perencanaan pada proyek. Manajemen komunikasi juga penting karena manajer proyek harus memastikan bahwa informasi dikomunikasikan secara efektif kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pra-proyek termasuk green specialist dan arsitek. Table 5 Analysis summary: Critical Management Knowledge Areas

Keterampilan menganalisis ditemukan, dan menjadi keterampilan yang paling penting yang diperlukan untuk mengatasi pra-proyek-tantangan yang terkait, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6. Seseorang yang diwawancarai (interviewee) menyebutkan bahwa sangat penting untuk manajer proyek untuk menganalisis seluruh situasi dan datang dengan jadwal proyek terpadu yang dapat dicapai dan dikelola. Table 6 Analysis summary: Critical management skills
22

8.2

Bidang pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan yang berhubungan dengan proyek Tabel 5 menunjukkan bahwa tantangan yang berhubungan dengan proyek, respondents

ranked schedule management and planning sebagai bidang pengetahuan yang paling penting, yang diikuti oleh manajemen resiko. Manajemen resiko sangat penting karena dapat membantu dalam pemilihan sub kontraktor yang menyediakan teknologi dan teknik yang dibutuhkan untuk green construction. Manajer proyek harus sadar akan resiko yang terlibat dan pertimbangan dengan penuh hati-hati harus diberikan kepada pemilihan subkontraktor baru. Meskipun demikian, penilaian resiko lebih lama dan proses pengambilan keputusan dapat menyebabkan keterlambatan. Penambahan dan perubahan terhadap lingkup konstruksi juga dapat mempengaruhi jadwal proyek yang direncanakan. Manajer proyek perlu dilengkapi dengan jadwal dan perencanaan pengetahuan yang baik untuk mengatasi tantangan ini. Keterampilan yang paling penting untuk mengelola tantangan yang terkait dengan proyek ditemukan untuk membuat keputusan dengan skor rata-rata 4.6 (Tabel 6). Hasilnya dapat dijelaskan dengan kebutuhan yang diperlukan manajer proyek untuk membuat keputusan terbaik pada pilihanpilihan tertentu seperti teknologi, system dan subkontraktor yang dipelukan untuk green projects.
23

8.3

Bidang pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan yang berhubungan dengan klien Tabel 5 menunjukkan bahwa manajemen pemangku kepentingan (stakeholder) adalah

bidang pengetahuan yang paling penting untuk mengatasi tantangan yang berhubungan dengan klien. Hasil ini dapat dijelaskan dengan bagaimana pentingnya memahami tujuan klien seperti yang dikonfirmasi oleh yang diwawancarai (interviewee). Klien dianggap sebagai salah satu pemangku kepentingan (stakeholders) dalam sebuah proyek dan kemampuan dalam mengelola stakeholder yaitu dengan memahami kebutuhan dan tujuan mereka adalah penting untuk mencapai proyek yang sukses. Manajemen biaya pun merupakan hal yang perlu diperhatikan. Salah satu yang diwawancarai (interviewee) menyebutkan bahwa manajemen biaya adalah praktek yang dilakukan oleh perusahaan untuk menjaga proyek green construction tetap dalam anggaran, meskipun memakan biaya yang tinggi, tapi ini dilakukan untuk mencapai dasar Green Mark dan memenuhi syarat minimum peraturan Building Control (Environment Suistainability), kecuali klien meminta tingkat sertifikasi yang lebih tinggi seperti Green Mark Gold atau Platinum. Dapat dikatakan bahwa manajemen stakeholder dan manajemen biaya sama pentingnya seperti yang mereka terapkan secara bersamaan sehingga dapat berpengaruh terhadap tantangan yang berhubungan dengan klien. Kemampuan menganalisis disebut sebagai kemampuan yang paling penting untuk mengatur tantangan yang berhubungan dengan klien. Hal ini bias berarti bahwa analisis yang kompeten adalah sesuatu yang sangat penting untuk menganalisis dan menangani persyaratan untuk menjadi stakeholders dan untuk mendatangkan solusi-solusi terbaik.

24

8.4

Bidang pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan yang berhubungan dengan proyek-tim Pengetahuan tentang manajemen komunikasi menduduki peringkat pertama dengan rata-

rata 4.30. sejak green projects memerlukan pendekatan terpadu dan paling menyeluruh, proses desainnya lebih kompleks dan fase-fase desainnnya lebih tumpang tindih dengan konstruksi (Glavinich, 2008). Beberapa pewawancara melaporkan kebutuhan bagi setiap orang dalam tim proyek untuk menjadi baik diinformasikan dengan tujuan-tujuan proyek dan objektivitas untuk mencegah kesalahan-kesalahan. Manajemen konflik dan perselisihan menduduki peringkat kedua seperti yang diperlihatkan di Tabel5. Konflik dengan anggota tim proyek lain dapat menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan para manajer proyek harus memperalati untuk menangani konflik tersebut secara efektif tanpa mempengaruhi kemajuan-kemajuan dari proyek tersebut. Hasil-hasil survey mengidentifikasikan kerja tim sebagai sesuatu keahlian yang paling penting dalam kategori ini (Tabel 6). Sejak tantangan-tantangan yang ada dalam kategori ini berhubungan dengan tim proyek, hal ini merupakan sesuatu yang masuk akal bahwa para manajer proyek yang diperalati dengan tim-tim yang baik membangun keahlian yang dapat meningkatkan kekompakan tim, meningkatkan penampilan tim secara keseluruhan. 8.5 Bidang pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan yang berhubungan dengan material dan peralatan Berdasarkan Tabel 5, pengetahuan tentang manajemen biaya berada pada peringkat pertama. Bidang pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan yang berhubungan dengan tantangan yang berhubungan dengan material dan peralatan, yang diikuti dengan sumber

25

material, dan manajemen resiko. Hal ini sangat penting bagi manajer proyek untuk memiliki pengertian yang baik mengenai manajemen biaya untuk menangani green materials yang

bernilai dan efektif dan untuk mencegah biaya yang berlebihan. Salah satu pewawancara menunjukkan bahwa unutk memastikan biaya yang masih ada dalam budget, biaya perkiraan seharusnya biaya tetap dalam anggaran, biaya perkiraan seharusnya menjadi dekat dengan jumlah yang sebenarnya yang memungkinkan selama proyek tersebut merencanakan suatu tahap. Manajer proyek harus mengukur biaya dan manfaat dalam menggunakan green materials disamping ketidak tentuan akan pasar dan menilai suatu resiko yang terlibat dalam akuisisi mereka.salah satu pewawancara melaporkan contoh keputusan biaya vs keputusan resiko. Memperkerjakan suatu produk yang inovatif dapat menghasilkan nilai Green Mark yang tinggi, tetapi pada saat yang sama menimbulkan resiko kegagalan produk yang tinggi karena tidak memiliki rekam jejak yang terbukti. Faktanya Tabel 6 mnunjukkan bahwa keahlian mengambil keputusan merupakan yang paling kritis untuk mengurangi tantangan yang berhubungan dengan persyaratan dan bahan-bahan secara efektif. Pengambilan keputusan yang efektif juga menerapkan pembuatan keputusan yang tepat dalam jangka waktu yang paling pendek unutk mencegah keterlambatan. 8.6 Bidang pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan yang berhubungan dengan tenaga kerja Seperti terlihat pada Tabel 5, manajer proyek perlu memahami manajemen sumber daya manusia (rata-rata=4.40) dan manajemen komunikasi (rata-rata=4.00) untuk menunjukkan tantangan yang berhubungan dengan tenaga kerja secara efektif. PMI juga mendukung manajemen sumber daya manusia sebgai sesuatu yang penting tantangan yang berhubugan dengan tenaga kerja. Manajer proyek harus memberikan pelatihan yang tepat bagi para pekerja
26

mereka dan topik lainnya, beberapa pekerja mungkin perlu pelatihan tentang green construction. Manajemen komunikasi sangat penting untuk menyebarluaskan informasi dan tata tertib dalam bekerja sehingga pekerja dapat melaksanakan pekerjaan mereka secara efektif. Informasi yang disampaikan harus benar dan tepat waktu untuk mencegah kesalahan. Hasil ini juga disertai dengan analisis pada keterampikan yang kritis sehinga dapat mengurangi tantangan yang berhubungan dengan tenaga kerja, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6 hubungan tenaga kerja. 8.7 Bidang pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan yang berhubungan dengan dunia luar Para responden mengurutkan pengetahuan tentang jadwal dan manajemen perencanaan sebagai sesuatu yang penting untuk merespon tantangan luar (Tabel 5). Dengan pengetahuan perencanaan yang baik, manajer proyek mungkin dapat mengalokasikan waktu untuk buffer unforeseen situations and the lengthy approval process. Perlu dicatat bahwa ada beberapa bidang pengetahuan dengan rata-rata nilai di bawah 3 dalam kategori ini. Hal ini dapat diartikan bahwa tantangan eksternal yang diajukan kepada manajer proyek tidak akan sepenuhnya dikelola dengan hanya meningkatkan bidang pengetahuan yang terdaftar. Keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan eksternal adalah pemencahan masalah (Tabel 6), menunjukkan bahwa mereka dapat menimbulkan sejumlah besar ketidakpastian sehingga manajer perlu dilengkapi dengan keterampilan untuk mengelola kejadian tidak terduga. 9. Bidang Pengetahuan dan Keterampilan: Tradisional vs Green Projects

27

Dalam survey itu, responden memberikan penilaian mereka mengenai bidang pengetahuan dan keterampilan untuk pembangunan green dan tradisional. Bagian berikut menyajikan perbandingan mengenai respon-respon mereka. 9.1 Bidang Pengetahuan Seperti terlihat pada Tabel 7, pengetahuan tentang pengelolaan jadwal dan perencanaan jadwal untuk proyek pembangunan secara tradisional menghasilkan nilai rata-rata tertinggi dengan rata-rata nilai 4.77, diikuti dengan pengetahuan tentang kesehatan dan manajemen keselamatan (rata-rata=4.73), dan pengetahuan manajemen sumber daya manusia (ratarata=4.60). Di sisi lain, untuk pengetahuan biaya pembangunan proyek green buiding (ratarata=4.90) dan manajemen komunikasi (rata-rata=4.80) yang dianggap lebih penting daripada manajemen jadwal dan perencanaan (rata-rata=4.77). Untuk memeriksa lebih lanjut peringkat antara proyek tradisional dan proyek green building, korelasi rank Speraman-nya dihtung dan signifikansi statistikanya diuji. Hasilnya dilaporkan bahwa korelasi rank-nya adalah 0.037 dengan nilai-P 0.920, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan di peringkat bidang pengetahuan antara dua kelompok. Alasan untuk perbedaan ini mungkin karena lebih menekankan ditempatkan pada aspek lain pada proyek pembangunan green building. Misalnya, pengetahuan tentang manajemen biaya adalah penting untuk proyek green construction karena biaya yang lebih tinggi pada green materials, system dan teknologi baru, dan peralatan khusus yang digunakan untuk proyek-proyek. Hasil ini dapat membuktikan bahwa pengetahuan yang diperlukan untuk kompetensi manajer proyek bervariasi sesuai konteks, dan green projects membutuhkan keahlian yang berbeda dari pembangunan tradisional. 9.2 Keterampilan

28

Seperti terlihat pada Tabel 8, pengambilan keputusan, delegasi, dan kemampuan menganalisis adalah peringkat ketiga teratas mengenai keterampilan yang harus dimiliki untuk proyek green construction dengan skor rata-rata masing-masing 4.87 , 4.80 , dan 4.767. Untuk proyek pembangunan tradisionak, skor rata-rata untuk keterampilan penambilan keputusan adalah 4.57, delegasi adalab 4.90, dan analisis adalah 4.40. Rank korelasi Spearman (0.675) menunjukkan korelasi yang cukup kuat antara kedua kelompok dengan nilai-P 0.032, yang membuktikan bahwa korelasi rank adalah signifikan secara statistic. Ini berarti bahwa responden merasakan bahwa tingkat keterampilan sama-sama penting baik salam proyek tradisional, maupun project greens. Tabel 7: Management Knowledge Areas: Traditional vs Green Projects

10. Kesimpulan dan Saran Keprihatinan dunia atas perubahan iklim yang berkelanjutan mendorong untuk lebih membutuhkan green buildings dalam pembangunan industri. Di Singapura, seluruh renovasi bangunan baru dan bangunan penting harus mencapai standar minimum Green Mark, sebagaimana diamanatkan pada Undang-Undang Tahun 2008. Karena manajer proyek memainkan peran penting, oleh karena itu penting untuk mengidentifikasi pengetahuan dan

29

keterampilan secara kritis dimana seorang manajer membutuhkannya untuk melaksanakan proyek green construction secara efektif. Alhasil, tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengidentifikasi pentingnya pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang manajer proyek yang kompeten pada pembangunan proyek green building; (2) untuk menemukan tantangan yang ditemui manajer proyek dalam mengelola proyek green construction dan menentukan bidang pengetahuan dan keterampilan yang kritis yang dapat merespon tantangan; dan yang terakhir, (3) untuk menyediakan perbandingan bidang pengetahuan dan keterampilan yang kritis antara pembangunan proyek tradisional dan green construction. Ulasan kepustakaan yang tersedia sangatlah penting untuk menunjang bidang kompetensi pengetahuan dan keterampilan seorang manajer proyek. Hal ini juga mengungkapkan bahwa manajer proyek dapat menghadapi tantangan seperti biaya yang lebih tinggi pada proyek-proyek green construction, dan bahwa ada resiko tinggi karena terdapat berbagai bentuk penyampaian proyek dan perencanaan panjang, dan proses persetujuan untuk teknologi dan bahan-bahan green yang baru. Analisis tanggapan dari survey dan wawancara mengungkapkan 10 tantangan tertinggi, yang penting untuk manajer proyek dalam mengelola proyek: (1) lama waktu yang dibutuhkan selama proses pra-konstruksi; (2) kesulitan dalam pemilihan subkontraktor yang menyediakan jasa green construction; (3) ketidakpastian dengan green materials dan green equipment; (4) tingginya biaya green materials dan green equipment; (5) meningkatkan pertemuan dan koordinasi yang diperlukan dengan green consultant dan green engineer; (6) perubahan desain yang lebih sering dan variatif selama proses konstruksi; (7) kesulitan dalam memahami green specification dalam rincian kontrak; (8) keadaan yang ridak terduga dalam melaksanakan green project; (9) perencanaan rangkaian pembangunan non-tradisional; (10) perencanaan teknik konstruksi yang berbeda. Bidang keterampilan dan pengetahuan adalah penting untuk merespon

30

merespon tantangan yang juga diidentifikasi. Bidang pengetahuan yang paling penting adalah manajemen jadwal dan perencanaan, manajemen stakeholder, manajemen komunikasi, manajemen biaya, dan manajemen sumber daya manusia. Selain itu, bidang keterampilan penting untuk dipelajari, karena diperlukan untuk mengurangi tantangan yang analitis, pengambilan keputusan, kerja tim, delegasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Selain itu, perbandingan bidang pengetahuan dan keterampilan antara proyek green construction dan proyek pembangunan tradisional mengungkapkan bahwa ada bidang pengetahuan tertentu yang harus diperkuat dalam rangka mengelola proyek green construction secara efektif. Ini mungkin karena lebih menekankan pada aspek tertentu pada proyek green buiding construction. Kontribusi utama dari penelitian ini adalah untuk lebih mengidentifikasi bidang pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk proyek green construction, dari perspektif manajer proyek serta dalam konteks fitur green construction yang menyebabkan berbagai tantangan untuk manajer proyek. Sementara keterampilan dan pengetahuan diuraikan dalam bagian pertama, makalah ini telah dikenal baik oleh industry, ada beberapa studi langka yang mengeksplorasi dan menekankan bidang pengetahuan dan keterampilan yang spesifik dan terfocus dimana manajer proyek yang mengelola green projects harus dilengkapi dengan itu semua, berdasarkan pengetahuan yang sudah ada. Melalui temuan yang berdasarkan dari studi ini, industry pembangunan dapat memperoleh pemahaman tentang atribut dari seorang manajer proyek yang kompeten da;am kaitannya dengan proyek green construction. Juga, tingkat pentingnya atribut bias berfungsi sebagai panduan bagi perusahaan dan lembaga pembelajaran untuk mengembangkan pelatihan silabut yang menargetkan target dan

Tabel 8 : Management Skills: Traditional vs Green Projects


31

focus pada atribur yang lebih penting. Meskipun tujuan dari penelitian ini tercapai, ada beberapa keterbatasan yang dapat ditarik. Sebagai analisis yang dilakukan dengan sample yang kecil, kehati-hatian itu dibenarkan, ketika hasilnya umum. Hal itu juga diamati bahwa responden survey dengan pengalaman yang lebih banyak dalam proyek green construction cenderung memberikan peringkat yang lebih rendah untuk tantangan dibandingkan dengan mereka yang memiliki pengalaman yang lebih rendah. Pada studi yang akan datang diharapkan untuk lebih mengontrol dan menyeimbangkan tahun pengalaman responden dalam green construction. Selain itu, penelitian ini terbatas pada sudut pandang manajer di Singapura. Untuk penelitian yang akan datang, akan lebih menarik untuk mengidentifikasi atribut yang diperlukan untuk manajer proyek dari perspektif stakeholders lainnya seperti klien, pengembang, pemerintah asosiasi, dan kontraktor konstruksi. Dengan perspektif yang berbeda, penelitian yang akan datang dapat mengembangkan kerangka kompetensi. Juga, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana cara meningkatkan dan memperkuat bidang

32

pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, manajer proyek dapat meningkatkan kompetensi mereka dalam mengelola proyek green construction, meningkatkan kemungkinan memproduksi proyek green construction yang sukses. Terakhir, bidang keterampilan dan pengetahuan baru yang tidak termasuk dalam penelitian ini dapat dieksplorasi dalam penelitian yang akan datang untuk lebih memupuk badan dari pengetahuan untuk mengelola proyek green construction.

33