Anda di halaman 1dari 76

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN
I.
A.

KONSEP KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN


PENGERTIAN

Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana manusia memerlukan untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan
seseorang melakukan aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja. Kemampuan aktivitas
seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan muskuloskeletal.
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah
dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kesehatannya.
Imobilitas atau imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara
bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan misalnya mengalami trauma tulang
belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas dan sebagainya.

B.

NILAI-NILAI NORMAL

Kategori tingkat kemampuan aktivitas adalah sebagai berikut :Tingkat aktivitas / mobilitas
Kategori
Tingkat 0
Tingkat 1
Tingkat 2

Tingkat 3

Tingkat 4

Mampu merawat diri sendiri secara penuh

Memerlukan penggunaan alat


Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain
Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan peralatan
Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan

Keadaan postur yang seimbang sesuai dengan garis sumbu dengan sentralnya adalah
gravitasi. Kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan seperti kemampuan
mangangkat beban, maksimal 57 %.
C. HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI PADA KLIEN YANG MENGALAMI GANGGUAN
KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN
1. Tingkat aktivitas sehari-hari
Pola aktivitas sehari-hari
Jenis, frekuensi dan lamanya latihan fisik
2. Tingkat kelelahan
Aktivitas yang membuat lelah
Riwayat sesak napas
3. Gangguan pergerakan
Penyebab gangguan pergerakan
Tanda dan gejala
Efek dari gangguan pergerakan
4. Pemeriksaan fisik
Tingkat kesadaran
Postur/bentuk tubuh (Skoliosis, Kiposis, Lordosis, Cara berjalan)
Ekstremitas (Kelemahan, Gangguan sensorik, Tonus otot, Atropi, Tremor, Gerakan tak
terkendali, Kekuatan otot, Kemampuan jalan, Kemampuan duduk, Kemampuan berdiri, Nyeri
sendi, Kekakuan sendi)

II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.

Intoleransi aktivitas b.d nyeri dan pembatasan pergerakan

2.

Gangguan mobilitas fisik b.d imobilisasi dan gangguan neuromuskular

3.

Keletihan b.d proses penyakit

4.

Nyeri akut b.d agen injuri biologis

III.

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN1 Intoleransi aktivitas

Definisi : Ketidakcukupan energui secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau
menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.

Batasan karakteristik :
a.

melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.

b.

Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas

c.

Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.

Faktor faktor yang berhubungan :

Tirah Baring atau imobilisasi

Kelemahan menyeluruh
NOC :

v Energy conservation
v Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
v Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
v Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
NIC :
Energy Management
v Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas

v Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan


v Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
v Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
v Monitor respon kardiovaskuler terhadap aktivitas
v Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

Activity Therapy
v Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalammerencanakan progran terapi yang
tepat.
v Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

Gangguan mobilitas fisik

Definisi :
Keterbatasan dalam kebebasan untuk pergerakan fisik tertentu pada bagian tubuh atau satu
atau lebih ekstremitas
Batasan karakteristik :
-

Postur tubuh yang tidak stabil selama melakukan kegiatan rutin harian

Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar

Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik halus

Keterbatasan ROM

Usaha yang kuat untuk perubahan gerak

Faktor yang berhubungan :


-

Kurang pengetahuan tentang kegunaan pergerakan fisik

Tidak nyaman, nyeri

Kerusakan muskuloskeletal dan neuromuskuler

Intoleransi aktivitas/penurunan kekuatan dan stamina

NOC :
v Mobility Level
v Self care : ADLs
v Transfer performance
Kriteria Hasil :
v Klien meningkat dalam aktivitas fisik
v Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
v Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah
v Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)
NIC :
Exercise therapy : ambulation
Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan
3

Keletihan

NOC :

v Energy conservation
v Nutritional status : energy
Kriteria Hasil :
v Memverbalisasikan peningkatan energi dan merasa lebih baik

v Menjelaskan penggunaan energi untuk mengatasi kelelahan

NIC :
Energy Management
v Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas
v Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
v Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
v Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
v Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
v Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
4

Nyeri akut

Definisi :
Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara aktual atau
potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan (Asosiasi Studi Nyeri
Internasional): serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang
dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan.

Batasan karakteristik :
-

Laporan secara verbal atau non verbal

Fakta dari observasi

Gerakan melindungi

Tingkah laku berhati-hati

Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)

Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan


interaksi dengan orang dan lingkungan)
-

Perubahan dalam nafsu makan dan minum

Faktor yang berhubungan :


Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis)
NOC :
v Pain Level,
v Pain control,
v Comfort level
Kriteria Hasil :
v Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
v Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
v Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
v Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
v Tanda vital dalam rentang normal
NIC :
Pain Management
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa
lampau
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

IV.

DAFTAR PUSTAKA

Towarto, Wartonal. 2007. Kebutuhan Dasar & Prose Keperawatan. Edisi 3. Salemba Medika.
Jakarta.
Alimul H, A Aziz. 2006. Pengantar KDM Aplikasi Konsep & Proses Keperawatan. Salemba
Medika. Jakarta.
Elis J.R, Nowlis E.A. 1985. Nursing a Human Needs Approach. Third Edition. Houghton Mefflin
Company. Boston.\
\
KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT

A.

PENGERTIAN

Aktivitas adalah suatu energy atau keadaan bergerak dimana manusia memerlukan untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan
seseorang melakukan aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja. Kemampuan aktivitas
seseorang tidak terlepas dari keadekuatan system persarafan dan muskuloskeletel.

Kebutuhan aktivitas (pergerakan) merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dengan
kebutuhan dasar dan tidur, dan saling mempengaruhi manusia yang lain seperti istirahat.

Aktivitas sebagai salah satu tanda bahwa seseorang itu dalam keadaan sehat. Seseorang
dalam rentang sehat dilihat dari bagaimana kemampuannya dalam melakukan berbagai
aktivitas seperti misalnya berdiri, berjalan dan bekerja. Kemampuan aktivitas seseorang itu
tidak terlepas dari keadekuatan system persarafan dan musculoskeletal.

Aktivitas sendiri sebagai suatu energi atau keadaan bergerak dimana manusia memerlukan hal
tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

B.

KONSEP DASAR

Fisiologi Pergerakan

Pergerakan merupakan rangkaian yang terintegrasi antara system musculoskeletal dan system
persarafan.
Sistem Musculoskeletal berfungsi sebagai :
a.

Mendukung dan memberi bentuk jaringan tubuh

b.

Melindungi bagian tubuh tetentu seperti hati, ginjal, otak dan paru-paru

c.

Tempat melekatnya otot dan tendon

d.

Sumber mineral seperti garam dan posfat

e.

Tempat produksinya sel darah

Sistem Otot Berfungsi Sebagai :


a.

Pergerakan

b.

Membentuk postur

c.

Produksi panas karena adanya kontraksi dan relaksasi

C.

NILAI NILAI NORMAL

Kategori tingkat kemampuan aktivitas adalah sebagai berikut :


Tingkat Aktivitas / Mobilisasi Kategori
Tingkat 0

Mampu merawat diri sendiri secara penuh

Tingkat 1

Memerlukan penggunaaan alat

Tingkat 2

Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain

Tingkat 3

Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan peralatan

Tingkat 4
perawatan

Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam

D.

RENTANG GERAK SENDI

Gerak Sendi Derajat Rentang yang Normal


Bahu :
Aberhubungan denganuksi
180
Siku :
Fleksi
150
Pergelangan Tangan :
Fleksi
Ekstensi
Hiperekstensi
Aberhubungan denganuksi
Adduksi
80 90
80 90
70 90
0 20
30 50
Tangan Dan Jari :

Fleksi
Ekstensi
Hiperekstensi
Aberhubungan denganuksi
Adduksi
90
90
30
20
20

Keterangan :
Fleksi

; Menekuk persendian

Ekstensi

: Meluruskan persensian

Aberhubungan denganuksi
Adduksi

: Gerakkan anggota tubuh ke arah atas

: Gerkana anggota tubuh menjauhi aksis


Rotasi : Memutar atau menggerakkan suatu bagian melingkar

aksis

E.

Pronasi

: Memutar ke bawah

Supinasi

: Memutar ke atas

Infers

: Menggerakkan ke dalam

Efersi

: Menggerakkan ke luar

DERAJAT KEKUATAN OTOT

Untuk mengetahui seberapa derajat kekuatan otot dapat digunakan dengan sekala sebagai
berikut :
Skala Kakuatan Otot (%)

Keternagan

Paralisis sempurna

10

Tidak ada gerakkan, kontraksi otot dapat dipalpasi atau dilihat

25

Gerakkan otot penuh melawan gravitasi dengan topangan

50

Gerkkan yang normal melawan gravitasi

75

Gerakkan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan minimal

5
100
Kekuatan normal, gerkkan penh yang normal melawan gravitasi dan melawan
tahanan penuh

F.

POSTUR TUBUH (BODY ALIGMENT)

Postur tubuh merupakan susunan geometris dari bagian-bagian tubuh yang berhubungan
dengan bagian tubuh lain. Bagian yang dipelajari dari postur tubuh adalah persendian,, tendon,
ligamen, dan otot. Apabila keempat bagian tersebut digunakan dengan benar dan terjadi
keseimbangan, maka dapat menjadikan fungsi tubuh maksimal, seperti dala posisi duduk,
berdiri dan berbaring yang benar.

Potur tubuh yang baik dapat meningkatkan fungssi tangan dengan baik, mengurangi jumlah
energy yang digunakan, memperthaankan keseimbangan, mengurangi kecelakaan,
memperluas ekspansi paru dan menigkatkan sirkulasi renal dan gastrointestinal. Untuk
mendapatkan postur tubuh yang benar, terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan,
diantaranya :
1.
Keseimbangan dapar dipertahankan jika garis gravitasi (line og gravy garis imajiner
vertical) melewati pusat gravitasi (center of gravity titik yang berada di pertengahan garis
tubuh) dan dasar tumpuan (base of support posisi menyangga atau menopang tubuh)
2.
Jikia dara tumpuan lebih luas dan pusat gravitasi lebih rendah, kestabilan dan
keseimbangan akan lebih besar.

3.
Jika gravitasi berada di luar pusat dasar tumpuan, enegi akan lebih banya digunakan
untuk memperthanakan keseimabangan.
4.
Dasar tumpuan yang luas dan bagian bagian dari postur tubuh yang baik akan
menghemat energy dan mencegah kelelahan otot.
5.

Perubahan dalam posisi tubuh membantu mencegah ketidak nyamanan otot.

6.

Mempertkuat otot yang lemah dapat membantu mencegah kekakuan otot dan ligament.

7.
Posisi dan aktivitas yang bervariasi dapat membantu mempertahankan otot dan
mencegah kelelahan.
8.

Pergantian antara masa aktivitas dan istirahat dapat mencegah kelelahan.

9.
Membagi keseimbangan antara aktivitas pada lengan dan kaki untuk mencegah beban
belakang.
10. Postur yang buru dalam waktu yang lama dapat menimbulkan rasa nyeri, kelelahan otot,
dan kontraktur.

G.

BODY MECHANIC

Mekanika adalah penggunaan organ secara efisien dan efektif sesuai fungsinya. Melakukan
aktivitas dan istirahat pada posisi yang benar akan meningkatkan kesehatan.
Ortopedik adalah pencegahan dan perbaikan dari kerusakan struktur tubuh seperti pada orang
yang mengalami gangguan otot. Orang yang bedrest lama akan menurunkan tonus otot.

Perlu dipahami tentang body aligment, keseimbangan dan kooerdinasi.


a.

Body aligment/postur

Postur yang baik karena menggunakan otot dan rangka tersebut secara benar. Misalnya pada
posisi duduk, berdiri, mengangkat benda, dll.
b.

Keseimbangan

Keadaan postur yang seimbang sesuai dengan garis sumbu dengan sentralnya adalah
gravitasi.
c.

Koordinasi pergerakan tubuh

Kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan seperti kemampuan mengangkat


benda, maksimal 57 % dari berat badan.

H.

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POSTUR TUBUH DAN PERGERAKKAN

Tingkat perkembangan tubuh


Usia akan mempengaruhi tingkat perkembangan neorumuskuler dan tubuh secara proporsional,
postur, pergerakan dan refleks akan berfungsi secara optimal.

Kesehatan fisik
Penyakit, cacat tubuh dan immobilisasi akan mempengaruhi pergerakan tubuh
Keadaan nutrisi
Kurangnya nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot dan obesitas dapat menyebabkan
pergerakan menjadi kurang bebas

Emosi
Rasa aman dan gembira dapat mempengaruhi aktivitas tubuh seseorang. Keresahan dan
kesusahan dapat menghilangkan semangat yang kemudian sering dimanifestasikan dengan
kurangnya aktivitas

Kelemahan neorumuskel dan skeletal


Adanya abnormal postur seperti scoliosis, lordosis dan kiposis dapat berpengaruh terhadap
pergerakan

Pekerjaan
Seseorang yang bekerja dikantor kurang melakukan aktivitas bila dibandingkan dengan petani
atau buruh.

Status kesehatan
Gaya hidup
Perilaku dan nilai

I.

MOBILISASI

Pengertian Mobilisasi
Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan bebas
(Kosier, 1989)

Tujuan dai mobilisasi antara lain :


a.

Memnuhi kebutuhan dasar manusia

b.

Mencegah terjadinya trauma

c.

Mempertahankan tingkat kesehatan

d.

Memperrthanakan interaksi social dan peran sehari hari

e.

Mencegah hilangnya kamampuan funsi tubuh.

Faktor yang mempengaruhi mobilisasi :


a.

Gaya hidup

b.

Proses penyakit dan injuri

c.

Kebudayaan

d.

Tingkat energy

e.

Usia dan satud perkembangan

J.

IMOBILISASI

Imobilisasi adalah ketidakmamapuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau
impairment (gangguan pada alat / organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi juga
dapat diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak/tirah baring yang terus menerus
selama 5 hari akibat perubahan fungdi fisiologis
(Lindgren et al, 2004)

K. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURANGNYA PERGERAKAN ATAU


IMMOBILISASI

Gangguan musculoskeletal
a.

Osteoporosis

b.

Atropi

c.

Kontraktur

d.

Kekakuan dan sakit sendi

Gangguan kardiovaskuler
a.

Postural hipotensi

b.

Vasodilatasi vena

c.

Peningkatan penggunaan valsava maneuver

Gangguan system respirasi


a.

Penurunan gerak pernafasan

b.

Bertambahnya sekresi paru

c.

Atelektasis

d.

Hipotesis pneumonia

L.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOLERANSI AKTIVITAS

Faktor fisiologis
a.

Frekuensi penyakit atau operasi dalam 12 bulan

b.

Tipe penyakit atau operasi dalam 12 bulan terakhir

c.

Status kardiopulmonar ( mis. Dispneu, nyeri dada )

d.

Status musculoskeletal ( mis. Penurunan massa otot )

e.

Pola tidur

f.

Keberadaan nyeri, pengontrolan nyeri

g.
Tanda-tanda vital: frekuensi pernapasan dan nadi kembali ke tingkat istirahat dalam 5
menit setelah latihan, tekanan darah kembali seperti semula dalam 5-10 menit setelah latihan
h.

Tipe dan frekuensi aktivitas latihan

i.
Kelainan hasil laboratorium seperti penurunan konsentrasi O2 arteri, penurunan kadar
hemoglobin, kadar elektrolit yang tidak normal

Faktor emosional
a.

Suasasana hati (mood), depresi, cemas

b.

Motivasi

c.

Ketergantungan zat kimia (mis. Obat-obatan, alcohol, nikotin )

d.

Gambaran diri

Faktor Perkembangan
a.

Usia

b.

Jenis kelamin

c.

Kehamilan

d.

Perubahan massa otot karena perubahan perkembangan

e.

Perubahan system skeletal karena perubahan perkembangan.

ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT

A.

PENGKAJIAN

Tanggal Masuk

Jam

No. CM

Tanggal Pengkajian

Jam

Diagnosa Medis

BIODATA
a.

Identitas klien

Nama

Tempat Tanggal Lahir


Umur

:
:

Jenis kelamin

Agama

Pendidikan

Pekerjan

Suku / Bangsa

Status
No. CM
Alamat
b.

:
:
:

Identitas penanggung jawab

Nama

Tempat Tanggal Lahir


Umur

:
:

Jenis kelamin
Agama

:
:

Pendidikan

Pekerjaan

Suku / Bangsa

Status

Alamat

Hub.dg klien

RIWAYAT KESEHATAN

a.

Keluhan utama

Yang biasa muncul pada pasien dengan gangguan aktivitas dan latihan adalah rasa nyeri,
lemas, pusing, mengeluh sakit kepala berat, badan terasa lelah, muntah tidak ada, mual ada,
bab belum lancar terdapat warna kehitaman dan merah segar hari belum bab, urine keruh
kemerahan, parese pada ekstermitas kanan ataupun fraktur.

Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung lamanya serangan. Untuk memperoleh
pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
1)
Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi
nyeri.
2)
Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah
seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
3)
Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau
menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.

4)
Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan
skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan
fungsinya.
5)
Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari
atau siang hari.
b.

Riwayat penyakit sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari nyeri/fraktur, yang nantinya
membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya nyeri/fraktur tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan
bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya nyeri
bisa diketahui nyeri yang lain.

Waktu terjadinya sakit


Kapan mulai terjadi nyeri dan seberapa sering atau frekuensi nyeri yang dirasakan, apakah
hilang timbul, sering, dan sebagainya.
Proses terjadinya sakit
Perlu dikaji bagaiamana proses dapat terjadinya sakit, kapan.
Upaya yang telah dilakukan selama sakit
Hasil pemeriksaan sementara / sekarang

c.

Riwayat penyakit dahulu.

Ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang mengalami hipertensi apakah sebelumnya
pasien pernah mengalami penyakit seperti saat ini.

d.

Riwayat kesehatan keluarga.

Perlu dikaji penyakit riwayat keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang atau tidak.
Penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes,
osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung
diturunkan secara genetik
(Ignatavicius, Donna D)
e.

Riwayat kesehatan lingkungan klien

f.

Genogram

Adalah gambar bagan riwayat keturunan atau struktur anggota keluarga dari atas hingga ke
bawah yang didasarkan atas tiga generasi sebelum pasien. Berikan keterangan manakah
simbol pria, wanita, keterangan tinggal serumah, yang sudah meninggal dunia serta pasien
yang sakit.

POLA FUNGSI KESEHATAN (GORDON)


a.

Persepsi Terhadap Kesehatan Manajemen Kesehatan

1)

Tingkat pengetahuan kesehatan / penyakit meliputi sebelum sakit dan selam sakit

2)

Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan meliputi sebelum sakit dan selam sakit

3)

Faktor-faktor resiko sehubungan dengan kesehatan

b.

Pola Aktivitas Dan Latihan

Menggunakan tabel aktifitas meliputi makan, mandi berpakaian, eliminasi, mobilisaasi di tempat
tidur, berpindah, ambulansi, naik tangga, serta berikan keterangan skala dari 0 4 yaitu :
0

: Mandiri

: Di bantu sebagian

: Di bantu orang lain

: Di bantu orang dan peralatan

: Ketergantungan / tidak mampuAktifitas

Makan

Mandi

Berpakaian

Eliminasi

Mobilisasi ditempat tidur

Berpindah

Ambulansi

Naik tangga

c.

Pola Istirahat Tidur

Ditanyakan :
1)

Jam berapa biasa mulai tidur dan bangun tidur

2)

Sonambolisme

3)

Kualitas dan kuantitas jam tidur

d.

Pola Nutrisi - Metabolic

Ditanyakan :
1)

Berapa kali makan sehari

2)

Makanan kesukaan

3)

Berat badan sebelum dan sesudah sakit

4)

Frekuensi dan kuantitas minum sehari

e.

Pola Eliminasi

1)

Frekuensi dan kuantitas BAK dan BAB sehari

2)

Nyeri

3)

Kuantitas

f.

Pola Kognitif Perceptual

Adakah gangguan penglihatan, pendengaran (Panca Indra)

g.

Pola Konsep Diri

1)

Gambaran diri

2)

Identitas diri

3)

Peran diri

4)

Ideal diri

5)

Harga diri

h.

Pola Koping

Cara pemecahan dan penyelesaian masalah

i.

Pola Seksual Reproduksi

Ditanyakan : adakah gangguan pada alat kelaminya.

j.

Pola Peran Hubungan

1)

Hubungan dengan anggota keluarga

2)

Dukungan keluarga

3)

Hubungan dengan tetangga dan masyarakat.

k.

Pola Nilai Dan Kepercayaan

1)

Persepsi keyakinan

2)

Tindakan berdasarkan keyakinan

PEMERIKSAAN FISIK
a.

Status kesehatan umum

Keadaan penyakit berat, keadaan umum tampak lemah, kesadaran compos mentis mengarah
apatis, Tekanan darah mmHg, suhu tubuh OC, pernapasan ..x/menit, nadi ..x/menit
(regular), GCS : E=.. M= V=.., BB ( sakit ), BB ( Sblm Sakit ), hasil pengukuran lainnya,
seperti LL dll.
b.

Sistem integument

Tidak tampak ikterus, permukaan kulit kering, tekstur kasar, rambut hitam dan berminyak , tidak
botak, perubahan warna kulit; muka tampak pucat.
c.

Kepala

Normo cephalic, simetris, nyeri kepala/sakit kepala, benjolan tidak ada.


d.

Muka

Asimetris, odema y, otot muka dan rahang kekuatan lemah , sianosis tidak ada
e.

Mata

Alis mata, kelopak mata normal, konjuktiva anemis (+/+), pupil isokor, sclera ikterus (-/ -), reflek
cahaya positif. Tajam penglihatan tidak dapat dievalusai, mata tampak cowong.
f.

Telinga

Secret, serumen, benda asing, membran timpani dalam batas normal


g.

Hidung

Deformitas, mukosa, secret, bau, obstruksi tidak ada, pernafasan cuping hidung tidak ada.
h.

Mulut dan faring

Bau mulut y, stomatitis (-), gigi banyak yang hilang, lidah merah merah
tidak ada. Terpasang NGT
i.

mudah, kelainan lidah

Leher

Simetris, kaku kuduk tidak ada, vena jugularis 5 + 2cm H2O. tidak ada benjolan limphe nodul.
j.

Thoraks

Gerakan dada simitris, retraksi supra sternal (-), retraksi intercoste (-), perkusi resonan, rhonchi
-/- pada basal paru, wheezing -/-, vocal fremitus tidak teridentifikasi.
k.

Jantung

Batas jantung kiri ics 2 sternal kiri dan ics 4 sternal kiri, batas kanan ics 2 sternal kanan dan
ics 5 mid axilla kanan.perkusi dullness. Bunyi S1 dan S2 tunggal; dalam batas normal, gallop(-),
mumur (-). capillary refill 2 3 detik .

l.

Abdomen

Bising usus; hiperperistaltik, bunyi bruit sangat jelasa, tidak ada benjolan, nyeri tekan tidak
ada, perabaan massa tidak ada, hepar tidak teraba, asites (-).
m.

Inguinal-Genitalia-Anus

Nadi femoralis teraba, tidak ada hernia, pembengkakan pembuluh limfe tidak ada., tidak ada
hemoroid, terpasang kateter hr.III
n.

Ekstrimitas

Akral hangat, edema -/-, kekuatan 2/2, gerak yang tidak disadari -/-, atropi -/-, capillary refill 3
detik, atropi -/-. Perifer tampak pucat.
o.

Tulang belakang

Tidak ada lordosis, kifosis atau scoliosis.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Lengkap(18112007)
Hb

: 9.3

(13-16)

Hematokrit

: 28,2

(40-48)

Eritrosit

: 3.15

(4.50-5.50)

MCV

:89.5

(82 92)

MCH

: 29.5

(27 31)

MCHC

: 33.0

(32 36)

Leukosit

:10.400

(510x 103 )

Trombosit

:208.000 (15-40x104)

Darah Lengkap (19-11-2007,jam 09)


LED
Hb

: 20.0
: 8.0

Hematokrit : 23,3

(0.0-10.0)
(13-16)
(40-48)

Eritrosit

: 2.58

(4.50-5.50)

MCV

:90.3

(82 92)

MCH

: 31.0

(27 31)

MCHC

: 34.3

(32 36)

Leukosit

:9.200

(510x 103 )

Trombosit

:206.000 (15-40x104)

Hitung Jenis
Basofil

: 0.0

(0.0-1.0)

Eosinofil

: 0.0

(1.0-3.0)

Neutrofil : 88

(52-76)

Limfosit

: 9.1

(20.0-40.0)

Monosit

:3.3

PT

: 13.2

(2.0-8.0)
(11.0-14.0)

PT control : 12.3
APTT

: 27.0

(27.3-37.6)

APTT control : 31.7


Kadar fibrinogen : 268.3

(200.0-400.0)

D Dimer Kuantitatif:100.00 (0.00-300.00)

Kimia Darah
Billirubin : Negative
Urobilinogen : 3.2
Nitrit

(3.2)

: Negative

Esterase leukosit : Trace


SGOT/AST

: 16

(10-35)

SGPT/ALT : 15

( 10-36)

Albumin

(3.40-4.80)

: 3.50

Kolesterol total: 140 (120-200)


Trigliserida : 139 (50-150)
Kolesterol HDL: 34 (40-55)
Kolesterol LDL : 85.00 (50.00-130.00)
Natrium darah : 138 (135-147)
Kalium darah : 5.04 (3.50-5.50)
Klorida darah : 113.0 (100.0-106.0)
Ureum darah :119 (10-50)
Kreatinin darah :4.5 (0.5-1.5)
Glukosa darah : 132 (70-110)
Glukosa 2 jam PP : 149 (70-140)

Urinalisa
- Warna

: kuning

- Kejernihan : jernih
Sedimen:
- sel epitel

:+

- Leukosit

: 5- 6

- eritrosit

: 0-1

- Silinder

: +, koral 0-1

- Kristal

:-

- Bakteri
- BJ

:: 1.015

- PH

: 5.5

- Protein

: 2+

- Keton

: Trace

- Glukosa

: Negative

Analisa Gas Darah


- PH

: 7.369

- PCO2

: 23,0

- PO2

: 133

- HCO3

: 12,9

- tCO2

; 17.6

- ABE

; - 10,9

- SBE

; - 11,4

- SBC

; 15,8

- tHB

; 9,0 g/dl

- O2 Sat

: 98.1%

- Na/K/Cl

: 139/4,6/99

Hasil CT Scan ;Perdarahan pada basal ganglia dan Thalamus kiri kurang lebih p:
5,2x5.0 mm banyaknya perdarahan 23 cc
-

Hasil Foto rongen; gambaran infiltrate minimal, CTR >50%

Hasil ECG; SR;92x/mnt, MI lead I, AVL,V5-V6 poor r, saran konsul kardiologi konsul
gastro dan ginjal, echokardiograf, tranfusi PRC..
Hasil konsul dengan IPD, gastroenterology prinsipnya sama terapi dilanjutkan dan
rencanakan USG ginjal, dan Koloscopy setelah HB >10 gr/dl

TERAPI

Obat-obatan (17112007)
Nama obat

Dosis Pemakaian

Citicolin

2x500 gr

Efek Samping (evaluasi perawat )

Injeksi Metabolisme cerebral yang tidak adequat

IVFD Asering 8 Jam Infus

Resti infeksi

Captopril

3 x 12,5 mg

Oral

Hipotensi

Paracetamal 3 x 500 mg

Oral

Hipotermia & stress ulcer

ranitidin

Injeksi Mual muntah

O2

2x 1 ampl

2 l/mnt Kanul Keracunan O2

Obat-obatan (20112007)
Nama obat

Dosis Pemakaian

Citicolin

2x500 gr

Efek Samping (evaluasi perawat )

Injeksi Metabolisme cerebral yang tidak adequat

IVFD Asering 8 Jam Infus

Resti infeksi

Captopril

3 x 12,5 mg

Oral

Hipotensi

Paracetamal 3 x 500 mg

Oral

Hipotermia & stress ulcer

ranitidin

Injeksi Mual muntah

O2

2x 1 ampl

2 l/mnt Kanul Keracunan O2

Adalat 1x3 mg

oral

B6,12,Asam folat

2 x 1 tb

Transmin
Vit K

3 x 1 ampl

3 x 1 ampl

Cefriaxon

hipotensi
oral

Meningginya fungsi hati

injeksi Pembekuan darah secara sistemik

injeksi Pembekuan darah secara sistemik

2 x 1 gr

injeksi Alergi sistemik

HCT

1 x 25 mg

laculac 3 x 1 sdk

a.

oral

Output cairan berlebih/tidak terkontrol

Oral (sirup)

Data hasil pemeriksaan yang mungkin ditemukan :

Pengkajian keperawatan dilihat dari dua bagian, Mobilisasi dan Imobilisasi. Kedua area ini biasa
dikaji selama pemeriksaan fisik lengkap.

1)

Mobilisasi

Pengkajian mobilisasi klien berfokus pada rentang gerak , gaya berjalan, latihan dan
toleransi aktivitas serta kesejajaran tubuh.

a)

Rentang gerak

Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada
salah satu potongan tubuh : Sagital, Frontal, Transversal.
Potongan frontal adalah garis yang melewati tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh
menjadi bagian depan dan belakang.
Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan ke belakang membagi tubuh
kanan dan kiri
Potongan transversal adalah garis horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas dan
bawah

b)

Gaya Berjalan

Digunakan menggambarkan cara utama atau gaya ketika berjalan. Siklus gaya berjalan dimulai
dengan tumit mengangkat satu tungkai dan berlanjut dengan tumit mengangkat tungkai yang
sama

c)

Latihan dan Toleransi aktivitas

Latihan adalah aktivitas fisik untuk membuat kondisi tubuh meningkatkan kesehatan dan
menmpertahankan kesehatan jasmani. Toleransi aktivitas adalah jenis dan jumlah latihan atau
kerja yang dapat dilakukan seseorang. Pengkajian toleransi aktivitas meliputi data fisiologis,
emosional dan tingkat perkembangan.

d)

Kesejajaran tubuh

Pengkajian kesejajaran tubuh dapat dilakukan pada pasien yang berdiri tegak, duduk atau
berbaring. Langkah pertama dalam mengkaji kesejajaran tubuh adalah menempatkan klien
dalam posisi istirahat sehingga tidak kaku.

Berdiri
Kepala tegak
Bahu dan panggul sejajar pada arah posterior
Tulang belakang lurus pada arah posterior
Dari arah lateral : kepala tegak, garis tulang belakang digaris dalam pola S terbalik
Dari arah anterior : tulang belakang adalah cembung, tulang belakang torakal pada arah
posterior cembung
Tulang belakang lumbal pada arah anterior adalah cembung.
Arah lateral : perut berlipat kebagian dalam dengan nyaman dan lutut dengan pergelangan
kaki agak melengkung.
Lengan klien nyaman disamping
Kaki sedikit berjauhan sebagai dasar penopang, jari kaki di depan
Dari arah anterior dilihat pusat gravitasi berada ditengah tubuh, garis gravitasi mulai dari
tengah kepala bagian depan sampai titik tengah antara kedua kaki.

Duduk
Kepala tegak, leher dan tulang belakang sejajar
Berat badan rata pada bokong dan paha
Paha sejajar pada potongan horizontal

Kedua kaki ditopang ke lantai


Jarak 2-4 cm dipertahankan antara sudut tempat duduk dan ruang popliteal pada
permukaan lutut bagian posterior
Lengan bawah klien ditopang pada pegangan tangan, dipangkuan atau diatas meja depan
kursi

Berbaring
Pada orang sadar akan mempunyai control otot volunteer dan persepsi normal terhadap
tekanan
Pengkajian dengan posisi berbaring membutuhkan posisi lateral pada klien dengan satu
bantal dan tanpa penopang.

2)

Imobilisasi

Melakukan pengkajian fisik dari ujung kepala sampai ujung kaki, selain itu berfokus pada area
fisiologis, seperti aspek psikososial dan perkembangan klien.

a)

Faktor Fisiologis

b)

Sistem Metabolik
Evaluasi atrofi otot
Evaluasi status cairan
Elektrolit atau kadar serum protein
Penyembuhan luka untuk perubahan transport nutrient
Mengkaji asupan makanan
Pola eliminasi
Ada tidaknya dehidrasi atau edema
Ada tidaknya anoreksia

c)

Sistem Respirasi yang perlu dikaji

Inspeksi pergerakan dada ( dinding dada ) selama siklus inspirasi ekspirasi jika klien
mempunyai area atelektasis maka gerakan dada asimetris
Auskultasi area paru-paru untuk mengidentifikasi gangguan suara napas, crakles atau
mengi

d)

Sistem kardiovaskuler
Kaji TD
Kaji nadi apeks atau nadi perifer
Abservasi tanda-tanda statis vena ( edema & penyembuhan luka buruk )

e)

Sistem Muskuloskeletal
Kaji penurunan tonus otot
Kaji kehilangan masa otot dan kontraktur
Kaji rentang gerak

f)

Sistem integument
Mengkaji tanda-tanda kerusakan
Kaji kebersihan kulit

g)

Sistem Eliminasi
Kaji asupan jumlah dan jenis cairan melalui oral atau parenteral
Kaji adanya dehidrasi
Kaji ada tidaknya konstipasi

b.

Pengkajian Pada Lansia

Faktor Psikososial
Perubahan status psikososial klien biasa terjadi lambat dan sering diabaikan tenaga kesehatan.

Observasi perubahan tingkah laku


Menentukan penyebab perubahan tingkah laku / psikososial untuk mengidentifikasi terapi
keperawatan
Observasi pola tidur klien
Observasi perubahan mekanisme koping klien
Observasi dasar perilaku klien sehari-hari

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Adapun diagnosa yang mungkin muncul yaitu :


1.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan mobilisasi

2.

Resiko cedera berhubungan dengan ketidaktepatan posisi

3.

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan tirah baring

4.

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan ketidaktepatan posisi tubuh

5.

Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan

C.

PERENCANAAN / INTERVENSI

NoDP Tujuan Intervensi

Rasional

1
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selamax24 jam diharapkan pasien dapat
melakukan aktivitasnya dengan normal ditandai :
Activity Tolerance ;
(000501) Pemenuhan keb O2 mencukupi dalam memenuhi aktv dalam batas normal
(000502) Rata-rata TD dalam batas normal
(000503) Rata-rata pernapasan dalam batas normal
(000507) Warna kulit normal
(000513) Laporan dalam pencapaian kebutuhan sehari-hari

Keterangan :
1 : Selalu menunjukkan.
2 : Sering menunjukkan.
3 : Kadang menunjukkan.
4 : Jarang menunjukkan.
5 : Tidak pernah menunjukkan.

Activity Therapy ( 4310 ):

Monitor emosi, fisik, social pasien dalam pemenuhan program aktivitas :


Anjurkan ps untuk meningkatkan batasan aktv yang dicapainya

Fokuskan pada aktv yang bias dilakukan pasien

Anjurkan klg untuk membantu memenuhi kebutuhan pasien

Kolaborasikan dengan terapis dalam latihan pemenuhan aktivitas


Dengan mencatat
segala keb program aktv ps maka dapat diketahui sejauh mana tingkat pemenuhan keb
Semakin meningkat aktv yang dicapai maka semakin cepat ps mandiri dalam pemenuhan keb
Jika ps tidak mampu melakukan aktv terlalu banyak jangan dipaksa
Ps akan terbantu dalam pemenuhan keb selama belum bias mndiri
Dengan adanya kolaborasi akan lebih efektif dan efisien dalam memenuhi keb.
2
Setelah dilakukan tindakan kep selama.x24 jam diharapkan resiko cedera dapat
dihindari ditandai dengan :
Risk Control :
(190202) Monitor lingkungan yang dapat menjadi penebab resiko cedera
(190205) Dapat mengatur control resiko yang diperlukan
(190208) Merubah gaya hidup untuk mengurangi resiko cedera
(190211) dapat mengidentifikasi resiko cedera

(190214) Menerima dukungan orang lain untuk mengontrol resiko cedera.

Keterangan :
1 : Tdk prnh menyebutkan.
2 : Jarang menyebutkan.
3 : Kadang menyebutkan.
4 : Sering menyebutkan.
5 : Selalu menyebutkan.
Enviromental Management Safety (6480) :
Identifikasi keamanan yang diperlukan ps
Identifikasi agen-agen penyebab cedera di sekitar Ps

Gunakan alat-alat pelindung

Ajarkan tentang agen resiko tinggi yang dapat menyebabkan cedera

Kolaborasikan dengan tim medis lain dalam menciptakan lingkungan yang aman

Dengan lingkungan yang aman Ps terhindar dari cedera


Untuk mengamankan Ps dari resiko cedera yang bias disebabkan oleh agen-agen cedera tsb
Menciptakan / menyiapkan alat pelindung akan bermanfaat untuk keamanan Ps
Dengan adanya pengetahuan tsb Ps akan dapat menciptakan lingkungan aman sec mandiri
Hal ini akan sangat membantu agar kondisis Ps lebih terjaga
3
Setelah dilakukan tindakan kep selamax24 jam diharapkan pasien mampu dalam
mobolisasi secara mandiri ditandai dengan :
Mobility Level :
(020801) Keseimbangan dalam aktv

(020803) Rentang otot normal skala 5


(020806) Berjalan mandiri
(020804) rentang sendi normal.

Keterangan :
1 : Tidak memerlukan bantuan.
2 : Membutuhkan bantuan orang lain dan alat
3 : Membutuhkan bantuan oarang lain.
4 : Membutuhkan bantuan alat.
5 : Mandiri penuh.

Bed Rest Care (0740) :

Jelaskan alasan Bedrest

Monitor kondisi kulit

Monitor konstipasi

Jaga agar linen tetap bersih

Ajarkan latihan ditempat tidur

Menjelaskan semua tindakan kep kepada ps penting untuk proses kep


Bed rest lama tanpa perubahan posisi akan bias melukai kulit
Bed rest lama akan menyebabkan perubahan peristaltic
Memberikan kenyamanan pada Ps

Untuk mengurangi kekakuan sendi dan otot


4
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama..x24 jam diharapkan Ps tidak
mengalami gangguan pernapasan ditandai dengan :
Airway Patency :
(041001) tidak ada demam
(041004) pernapasan dalam batas normal
(041006) tidak ada sputum dalam jalan napas
(041007)tidak ada suara tambahan dalam pernapasan

Keterangan :
1 : Selalu menunjukkan.
2 : Sering menunjukkan.
3 : Kadang menunjukkan.
4 : Jarang menunjukkan.
5 : Tidak pernah menunjukkan.
Airway Management (3140) :
Buka jalan napas

Posisikan ps untuk mendapat ventilasi pernapasan max

Ajarkan tekhnik terapi dada

Gunakan ET atau
nasotrakeal sesuai keb

Anjurkan Ps untuk
menggunakan inhaler

Gunakan terapi O2 sesuai keb


Menghindari ketidakakuatan O2 pada klien
Dengan ventilasi pernapasan lancer maka O2 akan terpenuhi
Dengan tekhnik terapi dada akam membantu mrlancarkan keluarnya sputum
Alat ini dapat membantu jalan napas lebih efektif
Akan melegakan pernapasan sebagai terapi
Memenuhi keb O2 yang lebih adekuat
5
Setelah dilakukan tindakan kep selamax24 jam diharapkan pasien dapat mencukupi
keb pola tidur yang seimbang ditandai dengan :
Sleep :
(000401) pola tidur terpenuhi 8 jam / hari
(000404) mencapai kualitas tidur yang baik
(000408) merasa lebih baik setelah tidur
(000407) rutinitas tidur terpenuhi
(000414) Vital sign dalam batasan normal.
Keterangan :
1 : Selalu menunjukkan.
2 : Sering menunjukkan.
3 : Kadang menunjukkan.
4 : Jarang menunjukkan.
5 : Tidak pernah menunjukkan
Sleep Enchancement (1850) :

Kaji pola tidur & istirahat Ps

Ajarkan pentingnya istirahat yang adekuat bagi kesehatan

Anjurkan untuk menambah jumlah waktu istirahat & tidur


Kolaborasikan dengan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi istirahat
pasien

Dengan mendata pola istirahat & tidur dapat diketahui bagaimana keb istirahat terpenuhi
Dengan demikian Ps akan lebih banyak istirah & tidak melakukan aktv berlebih
Kebutuhan istirahat tidur akan terpenuhi secara adekuat
Lingkungan yang nyaman & tenang akan menstimulasi otak untuk istirahat

DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Jakarta : EGC
Tarwoto-Martonah. 2004. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan, Edisi
I. Jakarta : Salemba Medika
A. Aziz Alimul Hidayat. 2004.Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia.Jakarta :
EGC\
\\

KEBUTUHAN AKTIVITAS

Aktivitas adalah suatu keadaan bergerak dimana manusia memerlukannya untuk memenuhi
kebutuhan hidup.

A. SISTEM YANG BERPERAN DALAM KEBUTUHAN AKTIVITAS :


Tulang
Otot dan tendon
Ligamen
Sitem syaraf
Sendi

Keterangan :
Tulang
Ada 206 tulang dalam struktur tubuh manusia

Fungsi :
# Membentuk rangka dan tempat melekatnya otot
# Penyimpan kalsium dan fosfor
# Pelindung organ dalam
# Tempat sumsum tulang dalam membentuk sel darah

Tiga ( 3 ) jenis tulang :


# Pipih
# Kuboid

# Panjang

2. Otot

# Mampu kontraksi
# Dihubungkan dengan tulang melalui tendon ( jaringan ikat yang melekat pada insersinya
di tulang )

Ligamen : bagian yang menghubungkan antara tulang dengan tulang

Sistem syaraf

Terdiri atas :
# SS Pusat ( otak dan medulla spinalis )

# SS Tepi ( percabangan dari SS Pusat )

Setiap syaraf memiliki bagian :


# Somatis ( fungsi sensorik dan motorik )
# Otonom

5. Sendi ( tempat bertemunya 2 tulang atau lebih )

Ada 3 proses penting yang menyebabkan terjadinya pergerakkan :


a. Stimulasi saraf motorik:
Upper Motor Neuron merupakan saraf yang berjalan dari otak ke sinaps pada bagian anterior
horn medulla spinalis, sedangkan Lower Motor Neuron merupakan saraf yang keluar dari
medulla spinalismenuju ke otot rangka. Signal listrik dan potensial aksi terjadi sepanjang mealin
sepanjang akson saraf motorik. Impuls listrik berjalan dari saraf motorik ke sel otot melalui
sinaps dengan bantuan neurotransmitter asetilkolin.
b. Transmisi neuromuskular:
Asetilkolin dihasilkan vesikel akson terminal, adanya depolarisasi dan potensial aksi pada
akson terminal merangsang ion kalsium dari cairan ekstraseluler berpindah ke membrane
akson terminal. Bersamaan dengan itu asetilkolin akan ditangkap oleh reseptor maka terjadilah
potensial aksi pada sel otot dan terjadilah kontraksi
c. Eksitasi-kontraksi Couplin:
Lepasnya ikatan troponin I dengan aktin menimbulkan trpomiosin
ikatan antara aktin dan myosin serta kontraksi otot terjadi
B. KEBUTUHAN MOBILITAS DAN IMOBILITAS
Mobilitas ( kemampuan bergerak secara bebas dan mudah )

bergeser sehingga terjadi

Jenis mobilitas :
# Mobil;itas penuh
# Mobilitas sebagian

Faktor yang mempengaruhi :


# Gaya hidup
# Proses penyakit / cedera
# Budaya
# Energi
# Usia

Imobilitas ( keadaan dimana tubuh tidak bergerak secara bebas/pembatasan gerak )

Jenis imobilitas :
# Fisik
# Intelektual
# Emosional
# Sosial

Perubahan system tubuh akibat imobilitas :


# Perubahan metabolisme
# Ketidakseimbangan cairan elektrolit
# Gangguan fungsi gastrointestinal
# Perubahan kardiovaskuler
# Perubahan system integumen
# Peruban eliminasi
# Perubahan perilaku
# Perubahan system musculoskeletal menyebabkan gangguan :
muscular (masa otot menurun kekuatan otot menurun atropi otot)
skeletal ( terjadinya kontraktur sendi dan osteoporosis )

ASKEP MASALAH KEBUTUHAN MOBILITAS dan IMOBILITAS

A Pengkajian Keperawatan:
1. Riwayat penyakit sekarang
2. Riwayat penyakit yang lalu
3. Fungsi motorik
4. Kemampuan mobilitas ( skala aktivitas / mobilitas ) :
0 = mampu merawat diri secara penuh
1 = perlu bantuan alat
2 = perlu bantuan orang lain
3 = perlu bantuan alat dan bantuan orang lain
4 = tergantung penuh
5. Rentang gerak ( Range of Motion / ROM )
6. Skala kekuatan otot
0 = Paralisis sempurna
1 = Lengan tampak kontraksi sedikit dan ada tahanan saat jatuh
2 = Mampu menahan tegak tapi dengan sentuhan jatuh
3 = Mampu menahan tapi tidak mampu menahan dorongan
4 = Mampu menahan dorongan minimal
5 = Kekutan normal
7. Perubahan Psikologis

B Diagnosa / Masalah Keperawatan:


1. Gangguan mobilitas fisik akibat trauma tulang belakang
2. Intoleransi aktivitas akibat menurunnya tonus dan kekuatan otot
3. Gangguan eliminasi akibat imobilitas
4. Gangguan interksi social akibat imobilitas
5. Gangguan keseimbangan cairan elektrolit akibat kurangnya intake

C Rencana / Intervensi Keperawatan dan Tindakan Keperawatan :


1. Pengaturan posisi pasien :
a. Fowler
( posisi duduk )
b. Sim
( posisi miring kanan / kiri )
c. Trendelenburg
( posisi kepala lebih rendah dari kaki )
d. Dorsal Recumbent
( posisi berbaring terlentang dengan kedua lutut fleksi )
e. Lithotomi
( posisi berbaring terlentang dengan kedua kaki ditarik di perut )
f. Genu Pectoral
( posisi menungging dengan dada menempel tempat tidur)
2. Latihan ROM Pasif dan Aktif

D Evaluasi Keperawatan :
# Peningkatan fungsi sitem tubuh
# Peningkatan kekutan otot
# Peningkatan fleksibilitas sendi
# Peningkatan fungsi motorik

ASKEP PADA MASALAH MEKANIKA TUBUH DAN AMBULASI

A Pengkajian Keperawatan
# Kaji kemampuan bergerak
( bankit dari posisi berbaring ke posisi duduk dll )

B Diagnosa / Masalah Keperawatan


1. Resiko cedera berhubungan dengan adanya paralisis
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan spasme pada ektremitas

C Rencana / Intervensi keperawatan dan Tindakan Keperawatan :


1. latihan ambulasi
( duduk ditempat tidur, turun dan berdiri, membantu berjalan )
Membantu Ambulasi dengan memindahkan pasien
( dari tempat tidur ke branchard, dll )

D Evaluasi Keperawatan
# menilai kemampuan pasien dalam penggunaan mekanika tubuh, penggunaan alat bantu
gerak, cara menggapai benda, naik, turun, berjalan.

MEMBANTU AMBULASI KLIEN


AMBULASI KLIEN
Ambulasi atau gerakan beralan untuk melakukan aktivitas perlu dibantu kususnya klien yang
mengalami imobilisasi karena sakitnya dengan tetap menjaga posisi tubuh yang benar dan
melakukan latihan ROM ( Range of Motion ) sampai batas kemampuan optimalnya.
MENGAJARKAN KLIEN MENGGUNAKAN ALAT BANTU JALAN MEKANIK
Tujuan :
Meningkatkan kekuatan otot, gerak sendi dan kemampuan mobilisasi
Menurunkan resiko komplikasi imobilisasi

Menurunkan ketergantungan klien


Meningkatkan rasa percaya diri
TERDAPAT BEBERAPA TINGKATAN ALAT BANTU MOBILISASI
Tongkat ( Canes )
Alat Bantu jalan dengan support minimal terbuat dari kayu / besi untuk membantu
keseimbangan badan :
# Tongkat standar
# Tongkat bertangkai
( Terdapat gagng untuk dipegang sehingga memudahkan klien yang mengalami kelemhan
tangan )
# Tongkat segi empat
( Mempunyai 3 / 4 kaki sehingga memberikan keseimbangan lebih besar bagi klien dengan
paralysis unilateral pada kaki )
Tongkat penopang ( Kruk )
Terbuat dari kayu / besi sepanjang ujung mencapai aksila digunakan untuk memindahkan berat
dari satu atau dua kaki:
# Tipe Kruk Aksila
( kebanyakan semua golongan umur )
# Tipe Kruk Lofstrand
( Mempunyai suatu pegangan tangan dan lingkaran besi yang melingkari lengan bawah dan
berguna untuk klien yang mengalami ketidakmamouan permanent seperti paraplegia )
# Tipe Kruk Platform
( Untuk klein yang tidak dapat menahan berat di pergelangan tangannya )
Walkers ( Alat Bantu jalan )
Alat ini memliki dasr yang lebar sehingga memberi keseimbangan yang baik. Terdiri dari tangkai
besi dengan pegangan tangan , 4 kaki yang kuat.

BEBERAPA HAL YANG BERKAITAN DENGAN ALAT BANTU


Kruk

Ukuran kruk mencakup 3 hal yaitu : tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dengan aksila ( 4-5
cm dibawah aksila ) dan sudut fleksi siku ( 15-30 derajat )
Tongkat
Jarak tongakat dari samping telapak kaki 15-15 cm dan data fleksi siku 15-30 derajat
Walker
Siku difleksikan pada susdut 15-30 derajat
Menentukan teknik menggunakan langkah yang tepat
# Teknik 4 langkah
( Kruk ditempatkan didepan telapak kaki 15 cm, gerakkan maju kruk kanan 15 cm, gerakkan
maju kaki kiri sejajar dengan kruk kiri
# Teknik 3 langkah
# Teknik 2 langkah
Teknik langkah mengayun
KEBUTUHAN MOBILITAS DAN IMOBILITAS MOBILITAS

Merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah, teratur dengan tujuan
memenuhi kebutuhan aktifitas guna mempertahankan kesehatannya.

Jenis-jenis Mobilitas
- Mobilitas Penuh merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara penuh dan bebas
sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan peran sehari-hari.
Mobilitas Sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas
dan tak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan syaraf motorik dan
sensorik.
Mobilitas Sebagian Temporer merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan
batasan yang sifatnya sementara. Kemungkinan disebabkan oleh trauma pada muskuloskeletal,
Contoh: adanya dislokasi sendi dan tulang.

- Mobilitas Sebagian Permanen merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan


batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan rusaknya sistem syaraf yang
reversibel, contoh: hemiplegia akibat stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang.
Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas

A. Gaya Hidup. Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas seseorang
karena gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaan sehari-hari.
B. Proses Penyakit/cedera. Proses penyakit dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas karena
dapat mempengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh, orang yang menderita fraktur femur
akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam ekstremitas bagian bawah.
1
C. Kebudayaan. Kemampuan melakukan mobilitas dapat juga dipengaruhi kebudayaan.contoh,
orang yang memiliki budaya sering berjalan jauh, memiliki kemampuan mobilitas yang kuat
dibandingkan dengan orang yang karena adat budaya tertentu dibatasi aktifitasnya.
D. Tingkat Energi. Energi adalah sumber untuk melakukan mobilitas. Agar seseorang dapat
melakukan mobilitas yang baik dibutuhkan energi yang cukup.
E. Usia dan Status Perkembangan. Terdapatperbedaan kemampuan mobilitas pada tingkat usia
yang berbeda.
Konsep Dasar Mobilitas
Mobilitas adl kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah, teratur dan
mempunyai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup sehat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas antara lain :
1. Gaya hidup
Belajar tentang nilai dari aktifitas lingkungan keluarga & lingkungan di luar rumah
Pengaruh faktor budaya terhadap aktifitas
2. Ketidakmampuan
Kelemahan fisik & mental yg menghalangi seseorang untuk melaksanakan aktifitas kehidupan.
ketidakmampuan dibagi atas 2 yaitu ketidakmampuan primer dan sekunder.
3. Tingkat energi
Pada tiap individu bervariasi tingkat energinya.
4. Usia

Usia mempengaruhi tingkat aktifitas dikaitkan dengan tingkat perkembangan dari sejak lahir
sampai dengan usia lanjut.

IMOBILITAS
Pengertian IMobilitas
Keadaan dimana individu tidak dapat bergerak dengan bebas karena kondisi yang mengganggu
pergerakan.

Jenis Imobilitas
A. Fisik, pembatasan pergerakan secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan
komplikasi pergerakan, ex: pasien hemiplegi, fraktur.
B. Intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan daya pikir,
seperti pada pasien yang mengalami kerusakan otak akibat suatu penyakit.
2
C. Emosional, keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan secara emosional karena
adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri, stres berat karena adanya bedah
amputasi.
D. Sosial, keadaan individu yang mengalami hambatan dalam berinteraksi sosial karena
keadaan penyakitnya sehingga mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.

Perubahan Sistem Tubuh Akibat Imobilitas


- Perubahan Metabolisme
- Penurunan kecepatan metabolisme dalam tubuh ( BMR )
- Kekurangan energi untuk perbaikan sel
- Mempengaruhi gangguan oksigenasi sel
- Ketidakseimbangan Cairan Elektrolit
- Persediaan protein menurun dan konsentrasi prosein serum berkurang
- Berkurangnya perpindahan cairan dari intravaskuler ke interstisial menyebabkan
udema,sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.

- Gangguan Perubahan zat gizi


- Disebabkan input protein dan kalori menurun
- Pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel menurun.
- Gangguan Fungsi gatrointestinal
- Imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna sehingga timbul keluhan kembung,
mual, dan nyeri lambung yang dapat menyebabkan gangguan eliminasi.
- Perubahan sistem pernapasan
- Kadar Hb menurun menyebabkan penurunan aliran oksigen keG alveoli jaringan menurun,
sehinga mengakibatkan anemia.
- EkspansiG paru menurun, Terjadi kelemahan otot yang dapat menyebabkan proses
metabolisme terganggu
- Perubahan Kardiovaskuler
- Hipotensi ortostatik, kemampuan syaraf otonom yang menurun. Pada posisi tetap dan lama
reflek neovaskuler akan menurun menyebabkan vasokonstriksi, kemudian darah terkumpul
pada vena bagian bawah sehingga darah ke sistem sirkulasi pusat terhambat, sehingga jantung
akan meningkatkan kerjanya
- Perubahan sistem Muskuloskeletal
- Gangguan muskuler, massa ototG menurun, kekuatan otot menurun, atropi massa otot
- Gangguan skeletal, mudah terjadinya kontraktur sendi dan osteoporosis.
3
- Perubahan sistem Integumen, Penurunan elastisitas kulit karena penurunan sirkulasi darah,
terjadi iskemia serta nekrosis pada jaringan superficial dengan adanya luka dekubitus sebagai
akibat tekanan kulit yang kuat dan sirkulasi menurun ke jaringan.
- Perubahan Eliminasi, penurunan jumlah urine yang mungkin disebabkan oleh kurangnya
asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah renal dan urine berkurang.
- Perubahan Perilaku, timbulnya rasa bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi,
perubahan siklus tidur, menurunnya koping mekanisme, penurunan motifasi belajar.

Konsep Dasar Tentang Imobilitas

Imobilitas merupakan manifestasi klinis akibat adanya gangguan anatomi dan fisiologi yang
menimbulkan keterbatasan dalam melakukan pergerakan seperti berjalan, duduk dan bangun
dari tempat tidur.
3 Alasan dari Imobilitas :
1. Pembatasan gerak yang sifatnya terapeutik
2. Pembatasan yang tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan primer
3. Pembatasan secara otomatis sampai dengan gaya hidup

Tingkat Imobilitas
Bervariasi
Komplit : pada pasien tidak sadar
a.

Parsal : pada pasien fraktur kaki

b.

Pembatasan aktifitas karena alasan kesehatan; klien sesak nafas tidak boleh naik tangga.

Bedres
a.
Bedrest Total : Klien tidak boleh bergerak dari tempat tidur & tidak boleh pergi ke kamar
mandi atau duduk di kursi.
b.

Bedrest : Klien istirahat di tempat tidur kecuali ketika ia pergi kemar mandi

PERUBAHAN FISIOLOGI DAN PSIKOSOSIAL AKIBAT MOBILISASI DAN IMOBILISASI


1.

Perubahan Fisiologi

Mobilisasi
Mengacu pada terbentuknya system integument, kardiovaskuler, respirasi,
pencernaan,perkemihan,muskuluskeletal, dan neurosensoris kearah yang lebih baik atau
normal.
Imobilisasi

1. Sistem Integument
Kerusakan intergritas kulit seperti abrasi dan dekubitus.
2. Sistem kardiovaskuler
a.

Penurunan Kardiak Reserve

b.

Peningkatan Beban Kerja Jantung

c.

Hipotensi Ortostatik

d.

Phlebotrombosis

3. Sistem respirasia.
a.Penurunan kapasitas vital
b.penurunan ventilasi volunteer maksimal
c.Penurunan ventilasi atau perfusi setempat
d.Mekanisme batuk yang menurun

4. Sistem pencernaan

a.Anoreksia
b.Metabolisme (kecepatan metabolisme, metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein)
5. Sistem perkemihan
Menyebabkan perubahan pada eliminasi urin.

6. Sistem musculoskeletal
Menyebabkan penurunan massa otot.

7. Sistem neurosensoris
menyebabkan kerusakan jaringan dan menimbulkan gangguan saraf.

5
2. Perubahan psikososial
A. Mobilisasi
Menyebabkan emosional intelektual, sensori, dan sosiokultural ke arah yang lebih baik atau
normal

B. Imobilisasi
a. Depresi
b. Perubahan Tingkah Laku
c. Perubahan Siklus Bangun Tidur
d. Penurunan Kemampuan Pemecahan Masalah

Kesimpulan
Kebebasan rentang gerak saat beraktifitas atau yang dikenal dengan mobilitas dalam
kehidupan ini sangat mempengaruhi individu dalam melangsungkan hidupnya. Selain itu
mobilitas sangat mempengaruhi kesehatan individu,sehingga apa bila terjadi masalah dengan
mobilitas seorang individu akan mengakibatkan adanya keterbatasan rentang gerak yang
disebut dengan imobilitas. Jika terjadi imobilitas pada seorang individu maka akan
mengakibatkan perubahan kesimbangan tubuh individu,perubahan prilaku dan lain sebagainya.

Saran
Adapun saran dari penulis adalah mengingat pentingnya mobilitas bagi kita, maka kita harus
menjaga agar setiap aktifitas yang kita lakukan tidak membahayakan alat gerak yang dapat
mengakibatkan imobilitas.
Diposkan 18th September 2012 oleh Adi Site's
Label: Keperawatan, Kesehatan

Kebutuhan Mobilitas Dan Imobilitas

MOBILITAS
Pengertian
Merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan
tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannnya.

Jenis Mobilitas :
Mobilitas Penuh
Bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi soal dan menjalankan
peran sehari-hari.
Mobilitas Sebagian
Bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak dengan bebas.
Temporer (bersifat sementara karena trauma reversible)
Permanent (menetap)

Factor yang mempengaruhi mobilitas


Gaya hidup
Proses penyakit / cidera
Kebudayaan
Tingkat energi
Usia dan status perkembangan

IMOBILITAS
Pengertian

Keadaan dimanan seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang
mengganggu pergerakan (aktivitas).

Perubahan system tubuh akibat imobilitas


Perubahan Metabolisme : Penurunan kecepatan metabolisme terlihat pada Basal Metabolisme
Rate (BMR) yang mengakibatkan :

Berkurangnya energi untuk perbaikan sel-sel tubuh sehingga mempengaruhi oksigenasi sel.
Penurunan ekresi urine dan peningkatan nitrogen
Atropi kelenjar dan katabolisme protein
Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Demineralisasi tulang
Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
Reabsorsi kalium akibat demineralisasi tulang oleh penurunan aktivitas otot.
Edema akibat penurunan protein serum.

Gangguan pengubahan zat gizi

Gangguan fungsi gastrointestinal


Penurunan peristaltik usus

Perubahan system pernafasan


Penurunan ekspansi paru peningkatan tekanan permukaan paru.

Perubahan kardiovaskuler
Hipotensi ortostatik

Aliran vena bagian bawah terhambat

Perubahan system muskuloskleletal


Menurunnya massa otot, kontraktur sendi, osteoporosis

Perubahan system integument.


Ulkus dekubitus

Perubahan eliminasi
Penurunan jumlah urine

Perubahan perilaku
Bingung, cemas, emosional tinggi, depresi dan lain-lain

PENGKAJIAN

Riwayat Keperawatan Sekarang :


Alasan yang menyebabkan terjadinya keluhan dalam mobilitas dan imobilitas (nyeri, kelemahan
otot, kelelahan, tingkat mobilitas, daerah yang terganggu dan lama terjandinya gangguan.

Riwayat Keperawatan Penyakit yang pernah diderita.


Riwayat penyakit yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mobilitas.

Kemampuan Fungsi Motorik


Ada tidaknya kelemahan, kekuatan atau spastis pada ekstremitas

Kemampuan Mobilitas

Kemampuan gerak ke posisi miring, duduk, berdiri, bangun dan berpindah tanpa bantuan :
Tingkat 0 : Mampu merawat diri sendiri secara penuh
Tingkat 1 : Memerlukan penggunaan alat
Tingkat 2 : Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain
Tingkat 3 : Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan peralatan
Tingkat 4 : Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau
berpartisipasi dalam perawatan

Kemampuan Rentang Gerak Sendi (Range of Motion/ ROM)

Perubahan intoleransi aktivitas :


Sistem pernafasan : suara nafas, analisis gas darah, gerak dinding thorak, akumulasi mukus,
batuk produktif, nyeri saat respirasi.
Sistem Kardiovaskuler : nadi, tekanan darah, gangguan sirkulasi perifer, adanya trombus serta
perubahan vital sign setelah melakukan aktivitas atau perubahan posisi.

Kekuatan Otot
Skala 0 : Paralisis sempurna
Skala 1 : Tidak ada gerakan, kontraksi otot dapat dipalpasi atau dilihat
Skala 2 : Gerakan otot penuh melawan gravitasi dengan topangan
Skala 3 : Gerakan yang normal melawan gravitasi
Skala 4 : Gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan minimal
Skala 5 : Kekuatan normal, gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan tahanan
penuh

Perubahan Emosi

Perubahan perilaku, peningkatan emosi, perubahan dalam mekanisme koping dan lain-lain.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Intoleransi aktivitas
Kondisi dimana seseorang mengalami penurunan energi fisiologis dan psikologis untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.

Kemungkinan berhubungan dengan :


kelemahan umum
bedrest yang lama/imobilisasi
motivasi yang kurang
pembatasan gerak
nyeri

Kemungkinan data yang ditemukan :


verbal mengatakan adanya kelemahan
sesak nafas / pucat
kesulitan dalam pergerakan
abnormal nadi, tekanan darah terhadap respon aktivitas

Tujuan yang diharapkan :


kelemahan yang berkurang
berpartisipasi dalam perawatan diri

mempertahankan kemampuan aktivitas seoptimal mungkin.

Keletihan
Kondisi dimana seseorang mengalami perasaan letih yang berlebihan secara terus menerus
dan penurunan kapasitas kerja fisik dan mental yang tidak dapat hilang dengan istirahat.

Kemungkinan berhubungan dengan :


menurunnya produksi metabolisme
pembatasan diet
anemia
ketidakseimbangan glukosa dan elektrolit

Kemungkinan data yang ditemukan :


kekurangan energi
ketidakmampuan melakukan aktivitas
menurunnya penampilan
lethargy

Tujuan yang diharapkan :


pasien mengatakan keletihan berkurang
meningkatnya tingkat energi
pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuannya secara bertahap.

Gangguan mobilitas fisik


Kondisi dimana pasien tidak mampu melakukan pergerakan secara mandiri.

Kemungkinan berhubungan dengan :


gangguan persepsi kognitif
imobilisasi
gangguan neuromuskuler
kelemahan / paralisis
pasien dengan traksi
Kemungkinan data yang ditemukan :
gangguan dalam pergerakan
keterbatasan dalam pergerakan
menurunya kekuatan otot
nyeri saat pergerakan
kontaksi dan atropi otot
Tujuan yang diharapkan :
pasien dapat menunjukkan peningkatan mobilitas
pasien mengatakan terjadi peningkatan aktivitas

Defisit perawatan diri


Kondisi dimana pasien tidak dapat melakukan sebagian atau seluruh aktivitas sehari-hari
seperti makan, berpakaian, mandi dan lain-lain.

Kemungkinan berhubugan dengan :


gangguan neuromuskuler
menurunnya kekuatan otot
menurunnya kontrol otot dan koordinasi
kerusakan persepsi kognitif
depresi
gangguan fisik

Kemungkinan data yang ditemukan :


ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari
frustasi
Tujuan yang diharapkan :
pasien dapat melakukan perawatan diri secara aman.

PERENCANAAN KEPERAWATAN

Meningkatkan kekuatan, ketahanan otot dan fleksibilitas sendi.


Pengaturan posisi sesuai dengan postur tubuh yang benar
Ambulasi dini
Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri
Latihan isotonik dan isometrik dengan mengangkat beban yang ringan, kemudian yang berat.
Latihan ROM
Meningkatkan fungsi kardiovaskuler
ambulasi dini
pelaksanaan aktivitas sehari-hari secara mandiri
Meningkatkan fungsi respirasi
latihan nafas dalam dan batuk efektif
postural drainage
perkusi dada dan vibrasi
perubahan posisi tiap 1-2 jam
Meningkatkan fungsi gastrointestinal
mengatur diet tinggi kalori, protein, vitamin dan mineral.
Meningkatkan fungsi sistem perkemihan
merubah posisi serta latihan mempertahankannya

minum air 2500 ml per hari atau lebih


menjaga kebersihan perineal
kateterisasi
Memperbaiki gangguan psikologis
komunikasi terapeutik
mengekspresikan kecemasan
meningkatkan privasi
dukungan moril
mempertahankan citra diri
melakukan interaksi sosial
diskusi tentang masalah

TINDAKAN PERAWATAN

Pengaturan posisi tubuh sesuai kebutuhan pasien


Fowler
Setengah duduk atau duduk, dimana bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan.
Posisi ini dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernafasan
pasien.

Dudukkan pasien
Berikan sandaran / bantal pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur, Semifowler (30-45
derajat) dan fowler (90 derajat).

Sim
Posisi miring ke kanan atau miring ke kiri. Dilakukan untuk memberi kenyamanan dan
memberikan obat per anus (supositorial rectal)

Pasien dalam keadaan berbaring , kemudian miringkan ke kiri dengan posisi badan setengah
telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk diarahkan ke dada.
Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan di atas tempat tidur.
Bila paasien miring ke kanan dengan posisi badan setengah telungkup dan kaki kanan lurus,
lutut dan paha kiri ditekuk diarahkan ke dada.
Tangan kanan di atas kepala atau di belakang punggung dan tangan kiri di atas tempat tidur.

Trendelenburg
Pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki.
Posisi ini dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak.

Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, letakkan bantal diantara kepala dan ujung tempat
tidur pasien dan berikan bantal di bawah lipatan lutut.
Berikan balok penopang pada bagian kaki tempat tidur atau atur tempat tidur khusus dengan
meninggikan bagian kaki pasien.

Dorsal Recumbent
Pasien berbaring terlentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau diregangkan) diatas tempat
tidur. Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa genetalia serta pada proses
persalinan.

Dalam keadaan terlentang pakaian bawah bawah dibuka


tekuk lutut, regangkan paha, telapak kaki menghadap ke tempat tidur dan regangkan kedua
kaki. Pasang selimut.

Lithotomi

Pasien terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi
ini dilakukan untuk memeriksa genetalia pada proses persalinan dan memasang alat
kontrasepsi.

Dalam keadaan berbaring terlentang, kemudian angkat kedua paha pasien dan tarik ke arah
perut.
Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap paha
Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi lithotomi
Pasang selimut

Genu Pectoral
Pasien menungging dengan kedua kai ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat
tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rektum dan sigmoid.

Anjurkan pasien untuk menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada kasur
tempat tidur.
Pasang selimut pada pasien

Latihan ROM aktif dan pasif


Latihan ROM dilakukan untuk memelihara dan mempertahankan kekuatan otot serta
memelihara mobilitas persendian.

EVALUASI KEPERAWATAN
peningkatan fungsi sistem tubuh
peningkatan kekuatan dan ketahanan otot

peningkatan fleksibilitas sendi


peningkatan fungsi motorik, perasaan nyaman pada pasien dan ekspresi pasien menunjukkan
keceriaan.\\\\\\\
\
MAKALAH MEKANIKA TUBUH DAN AMBULASI

BAB 1
PENDAHULUAN
1.

Latar belakang

Dalam hidup ini manusia perlu mempertahankan keseimbangan tubuh. Akan tetapi, terkadang
manusia juga mengalami penurunan dalam mempertahankan keseimbangan tubuh. Maka dari
itu, kita perlu mempelajari kebutuhan mekanika tubuh dan ambulasi.
Dalam mekanika tubuh dan ambulasi, akan membahas bagaimana cara memenuhi kebutuhan
dasar manusia dalam mempertahankan keseimbangan tubuh dalam kehidupan sehari-hari.
Disini juga akan membahas tentang teknik ambulasi yang benar untuk meningkatkan efensiensi
kerja, untuk perawat khususya.
2.

TujuanMengetahui pentingnya mekanika tubuh untuk perawat dan pasien.

Mengetahui hal-hal yang mempengaruhi mekanika tubuh.

Mengetahui teknik ambulasi yang benar.

Mempraktikan penggunaan mekanik tubuh dan ambulasi.

3.
A.

Rumusan masalah :
Konsep kebutuhan mekanika tubuh dan ambulasi

1.

Prinsip mekanika tubuh

2.

Komponen mekanika tubuh

3.

Pengerakan dasar dalam mekanika tubuh

4.

Faktor-faktor yang mempengaruhi mekanika tubuh

5.

Dampak mekanika tubuh yang salah

6.

Prinsip ambulasi untuk pasien

B.

Asuhan keperawatan pada masalah mekanika tubuh dan ambulasi

1.

Pengkajian

2.

Diagnosis keperawatan

3.

Perencanan

4.

Intervensi

5.

Evaluasi

Bab II
ISI
A.

Konsep kebutuhan mekanika tubuh dan ambulasi

Mekanika tubuh adalah usaha kordinasi dari muskuskeletal dan system saraf untuk
mempertahankankeseimbangan yang tepat. Mekanika tubuh pada dasarnya adalah bagaimana
tubuh secara efesien terkordinasi dan aman sehingga menghasilkan gerakan yang baik dan
memelihara keseimbangan selama beraktifitas.
Perawat sangat beresiko mengalami cedara tulang belakang karena aktifitas / pekerjaan yang
di lakukan.misalnya, mengangkat klien dari tempat tidur, membawa alat-alat berat, dll.
1.

Prinsip mekanika tubuh

a.

Gravitasi

Memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh


-

Pusat gravitasi, titik yang ada dipertengahan tubuh.

Garis gravitasi, merupakan garis imagines vertical melalui pusat gravitasi.

Dasar tumpuan, merupakan dasar tempat seseorang dalam posisi istirahat untuk
menopang atau menahan tubuh.
b.

Keseimbangan

Keseimbangan dapat dicapai dengan mempertahankan posisi garis gravitasi, diantara garis
gravitasi dan pusat tumpuan.

2.

Komponen mekanika tubuh.

a.
Tulang : jaringan dinamis yang berfungsi menunjang jaringan yang membentuk otot-otot
tubuh.
b.

Otot : berfungsi untuk kontraksi dan menghasilkan gerakan.

c. Tendon: sekumpulan jaringan fibrosa padat yang merupakan perpanjangan dari pembungkus
otot dan membentuk ujung otot yang mengikatnya pada tulang.
d. Ligamen adalah sekumpulan jaringan penyambung fibrosa yang padat lentur dan kuat.
Berfungsi menghubungkan ujung persediaan dan menjaga kestabilan.
e. Kartilago terdiri serat yang tertanam dalam suatu gel yang kuat tetapi elastis dan tidak
mempunyai pembuluh darah.
f.

Sendi memfasilitasi pergerakan dengan memungkinkan terjadinya kelenturan.

Macam macam pergerakan sendi :


-

Fleksi : merupakan pergerakan yang memperkecil sudut persendian.

Ekstensi : merupakan pergerakan yang memperbesar

Adduksi : pergerakan mendekati garis-garis tubuh.

Abduksi : pergerakan menjahui garis-garis tubuh.

Rotasi : gerakan memutari pusat aksis dan tubuh.

Eversi : perputaran bagian telapak kaki ke bagian luar bergerak membentuk sudut dari
persendiaan.
- Inversi : Perputaran bagian telapak kaki ke bagian dalam membentuk sudut dari persendian.
-

Pronasi : Pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan bergerak ke bawah.

Supinasi : Pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan bergerak ke atas.

3.

Pergerakan dasar dalam mekanika Tubuh

a.

Gerakan (ambulating)

Gerakan yang benar akan membantu mempertahankan keseimbangan tubuh. Contoh,


keseimbangan tubuh orang saat berdiri akan mudah stabil dibandingkan dalam posisi jalan.
Dalam posisi jalan akan terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi satu ke sisi yang lain,dan
posisi gravitasi akan selalu berubah pada posisi kaki

b.

Menahan (squatting)dalam melakukan pergantian,posisi menahan selalu berubah.

Contoh : Posisi orang duduk akan beerbeda dengan orang jongkok dan tentunyaberbeda
dengan posisi yang tepat dalam menahan. Dalam menahan diperlukan dasar tumpuan yang
tepat.

c. Menarik (pulling) menarik dengan benar akan memudahkan untuk memindahkan benda.Yang
perlu diperhatikan adalah ketinggian, letak benda, posisi kaki dan tubuh dalam menarik.
Sodorkan telapak tangan dan lengan atas dipusat gravitasi pasien. Lengan atas dan siku di
letakkan pada permukaan pada tempat tidur, pinggul, lutut, dan pergelangan kaki ditekuk lalu
dilakukan penarikan.

d.

Mengangkat (lifting). Mengangkat merupakan pergerakan daya tarik.

Gunakan otot-otot besar dari tumit, paha bagian atas, kaki bagian bawah, perut ,dan pinggul
untuk mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian belakang.

e.
Memutar (pivoting) merupakan gerakan untuk memutar anggota tubuh dan bertumpu
pada tulang belakang. Gerakan memutar yang baik memerhatikan ketiga unsur gravitasi agar
tidak berpengaruh buruk pada postur tubuh.

4.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Mekanika tubuh

a.

Status kesehatan

Terjadi penurunan kondisi yang disebabkan oleh penyakit berupa berkurangnya aktifitas seharihari.
b.

Nutrisi

Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot dan memudahakan terjadinya


penyakit. Contoh tubuh yang kekurangan kalsium akan mudah fraktur.
c.

Emosi

Kondisi psikologi seseorang dapat memudahkan perubahan perilaku yang dapat menurunkan
kemampuan mekanika tubuh yang baik.
d.

Situasi dan Kebiasaan

Situasi atau kebiasaan yang dilakukan seseoarang Misalnya sering mengangkat benda-benda
yang berat.
e.

Gaya Hidup

Perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stres dan kemungkinan besar akan
menyebabkan kecerobohan dalam aktifitas. Begitu juga gaya hidup yang tidak sehat juga akan
mempengaruhi mekanika tubuh seseorang.
f.

Pengetahuan

Pengetahuan yang baik dalam penggunaan mekanika tubuh akan mendorong seseorang
untuk mempergunakannya dengan benar, sehingga mengeluarkan tenaga yang dikeluarkan.

5.

Dampak Mekanika Tubuh yang Salah

a. Terjadi ketergantungan sehingga memudahkan timbulnya kelelehan dan gangguan dalam


muskuskeletal.
b. Resiko terjadi kecelakaan dalam muskuskeletal, misalnya seseorang yang salah berjongkok
atau berdiri.

6.

Prinsip Ambulasi Untuk Pasien

Mekanika tubuh itu penting untuk perawat dan pasien. Hal ini mempengaruhi kondisi kesehatan
mereka. Mekanika tubuh yang benar diperlukan untuk kesehatan dan mencegah kecacatan.
Gaya berat dan fisik dapat mempengaruhi gerak tubuh. Jika digunakan dengan benar kekuatan
ini dapat meningaktkan efisiensi kerja perawat

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan perawat dalam pasien ambulasi adalah sebagai berikut:

a.
Ketika merencanakan untuk memeindahkan pasien, atur unruk bantuan yang kuat.
Gunakan alat bantu mekanik jika bantuan tidak mencukupi
b.

Dorong klien untuk membantu sebanyak mungkin sesuai kemampuan

c.

Jaga punggung , leher , pelvis dan kaki lurus. Cegah tergelincir.

d.

Fleksikan lutut buat kaki tetap lebar

e.

Dekatkan tubuh perawat dengan klien (objek yang diangkat)

f.

Gunakan lengan atau tangan (bukan punggung)

g.

Tarik klien kearah penariknya menggunakan sprei.

h.

Rapatkan otot abdomen dan gluteal untuk persiapan bergerak.

i.
Seseorang dengan beban yang sangat berat diangkat bersama dengan dipimpin dengan
seseorang dengan menghitung satu sampai tiga.

B.Asuhan keperawatan pada masalah mekanika tubuh dan ambulasi


1.

Pengkajian

Menilai kemampuan dan keterbatasan dalam bergerak dengan cara :


-

Bangkit dari posisi berbaring ke posisi duduk .

Bangkit dari kursi ke posisi berdiri

Menilai gaya berjalan

Perubahan posisi

Saat pasien bergerak

Saat beraktifitas

Status ambulasi

2.

Diagnosa Keperawatan

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengam adanya kelemahan akibat spasme pada
extremitas, nyeri akibat arthritis, penggunaan alat bantu dalam waktu yang lama.

Resiko cedera berhubungan dengan adanya paralysis, gaya berjalan tidak stabil,
penggunaan tongkat yang tidak benar.
3.

Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik secara umum.


Perencanaan

Memperbaiki penggunaan mekanika tubuh pada saat melakukan aktifitas.

Memulihkan dan memperbaiki ambulasi

Mencegah terjadinya cedera akibat jatuh

4.

Intervensi

a. Latihan ambulasi
-

Membantu klien duduk diatas tempat tidur

Membantu klien turun dari tempat tidur

Membantu klien berjalan

b.

Membantu ambulasi dengan memindahkan klien

Dilakukan pada klien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan sendiri dari tempat
tidur,ke branchard atau ke tempat lain.
-

Perlu memperhatikan keadaan umum klien senelum melakukan pemindahan.

Perhatikan keamanan bagi klien dan perawat sendiri.

Minta bantuan orang lain jika tidak memungkinkan bekerja sendirian.

5.

Evaluasi

Masalah mekanika tubuh dan ambulasi teratasi dengan baik.

Klien mampu menggunakan mekanika tubuh dengan baik.

Klien mampu menggunakan alat bantu gerak dengan baik.

Klien mampu mengambil benda, naik turun, tidur dan berjalan dengan mandiri.

BAB III

PENUTUP

SIMPULAN
1.
Mekanika tubuh yang baik harus dikuasai oleh perawat,sehingga pelayanan kepada
pasien akan lebih efisien.
2.
Pasein juga harus diberi pengetahuan tentang pentingnya kebutuhan mekanika tubuh
untuk aktifitas sehari-hari,agar berjalan lancar.
3.

Faktor-faktor yang mempengaruhi mekanika tubuh juga harus diperhatikan.

4.

Prinsip ambulasi yang benar akan mengurangi resiko cedera pada pasien

SARAN
1.

Sebagai seorang perawat yang baik,harus mampu menguasai mekanika tubuh ayng baik.

2.
Sebagai seorang perawat yang baik harus mampu menguasai teknik ambulasi yang benar
untuk mengurangi terjadinya cedera.
3.
Pengetahuan mekanika tubuh yang baik juga harus diberikan kepada pasien,untuk
mengurangi cacat yang mungkin terjadi dalam aktifitas sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika
Alimul ,Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika.
Potter and perry volume 2. 2006. Fundamental of Nursing . Jakarta : EGC