Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM EKOLOGI PERTANIAN SUKSESI TUMBUHAN SUKSESI SEKUNDER

Oleh

LEXZA FAJRIAN 05121407010

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2013

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Suksesi tumbuhan adalah penggantian suatu komunitas tumbuh-tumbuhan oleh yang lain. Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempat tumbuh mula-mula sangat keras sehingga sedikit tumbuhan dapat tumbuh diatasnya, atau suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitas dirusak oleh suatu faktor seperti api, banjir, atau epidemi serangga dan diganti oleh yang lain. Perubahan bersifat kontinu, rentetan suatu perkembangan komunitas yang merupakan suatu sera dan mengarah ke suatu keadaan yang mantap (stabil) dan permanen yang disebut klimaks. Tansley (1920) mendefinisikan suksesi sebagai perubahan tahap demi tahap yang terjadi dalam vegetasi pada suatu kecendrungan daerah pada permukaan bumi dari suatu populasi berganti dengan yang lain. Suksesi sebagai suatu studi orientasi yang memperhatikan semua perubahan dalam vegetasi yang terjadi pada habitat sama dalam suatu perjalanan waktu (Mueller-Dombois and Ellenberg, 1974). Selanjutnya dikatakan bahwa suksesi ada dua tipe, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Perbedaaan dua tipe suksesi ini terletak pada kondisi habitat awal proses suksesi terjadi. Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal, terbentuk habitat baru. Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu baik secara alami atau buatan dan gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh

organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian menurun pada perkembangan berikutnya. Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hidup permudaan jenis-jenis tertentu. (Marsono dan Sastrosumarto, 1981). Soerianegara dan Indrawan (1988) menyebutkan dalam pembentukan klimaks terjadi 2 perbedaan pendapat yakni; paham monoklimaks dan paham polylimaks. Paham monoklimaks beranggapan bahwa pada suatu daerah iklim hanya ada satu macam klimaks, yaitu formasi atau vegetasi klimaks iklim saja. Ini berarti klimaks merupakan pencerminan keadaan iklim, karena iklim merupakan faktor yang paling stabil dan berpengaruh. Faktor lain yang juga dapat menyebabkan terjadinya klimaks, yaitu edafis dan biotis. Faktor edafis timbul karena pengaruh tanah seperti komposisi tanah, kelembaban tanah, suhu tanah dan keadaan air tanah. Sedangkan biotis adalah faktor yang disebabkan oleh manusia atau hewan, misalnya padang rumput dan sabana tropika. Suksesi merupakan adanya modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis). Di alam ini terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui proses suksesi alami pada lahan garapan. II. TINJAUAN PUSTAKA

Keadaan bumi selalu berubah-ubah. Kandungan CO2 dan O2 dalam udara, iklimnya, gunungnya, flora dan faunanya tidaklah tetap. Dalam skala yang kecil kita lihat pada gunung Krakatau. Setelah letusannya yang amat dahsyat dalam tahun 1883, kehidupan di pulau itu dapat dikatakan terhapus. Dari penelitian yang dilakukan secara berulang dalam jangka waktu panjang, dapatlah diketahui kehidupan kembali lagi. Mula-mula terdapat tumbuhan tingkat rendah, seperti lumut dan paku-pakuan. Kemudian tumbuhan tingkat tinggi. Proses ini disebut suksesi (Soemarwoto, 1983:24). Suatu daerah tidak tetap demikian untuk waktu yang lama. Diawali dengan tumbuhan daerah itu segera dihuni oleh beragam spesies tumbuhan atau hewan. Organisme-organisme ini mengubah habitat yang membuatnya sesuai bagi spesies lain menjadi mantap. Masa pendewasaan perkembangan suatu daerah seringkali mencapai suatu keadaan relatif stabil yang diberikan sebagai tahapan klimaks. Selama masa perkembangan ini, penghunian suatu daerah baru, pertama-tama oleh tumbuhan melandasi jalan bagi hewan-hewan untuk tinggal di dalamnya disebut suksesi. Suksesi adalah suatu cara umum perubahan progresif dalam komposisi spesies suatu komunitas yang sedang berkembang. Hal ini secara bertahap disebabkan oleh reaksi biotik dan berlangsung melalui sederetan tahapan dari tahapan pelopor menuju tahapan klimaks (Michael, 1996:383).

Vegetasi yang dibiarkan demikian saja, menunjukkan kecenderungan untuk berubah ke suatu arah tertentu. Biasanya dari komunitas yang tidak begitu rumit yang terdiri atas tumbuh-tumbuhan kecil menjadi komunitas yang lebih kompleks yang didominasi oleh tumbuh-tumbuhan yang lebih besar (atau bagaimanapun menimbulkan kesan adanya kompetisi yang lebih besar). Perubahan itu bersifat kontinu, tahap-tahap yang dikenal hanya merupakan ruas-ruas ungkapan vegetasi. Demikian itulah yang disebut suksesi (Polunin, 1960:761). Proses pengorganisasian sendiri dengan mana ekosistem-ekosistem

mengembangkan struktur dan proses ekologi dari energi yang tersedia disebut suksesi. Suksesi meliputi pengorganisasian menjadi mantap dan kadang-kadang kembali ke awal (retrogess). Suksesi dipertimbangkan berakhir apabila suatu pola ke suatu kondisi yang kurang terorganisir memulai melakukan suksesi lagi. Klimaks adalah merupakan puncak pertumbuhan atau puncak tertinggi yang telah dicapai (Odum, 1992:456). Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai suksesi ekologis atau suksesi. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis) (Suharno, 1999:184). Suksesi tumbuhan adalah penggantian suatu komunitas tumbuh-

tumbuhanoleh yang lain. Hal ini dapat terjadi pada tahap integrasi lambat ketika tempattumbuh mula-mula sangat keras sehingga sedikit tumbuhan dapat

tumbuhdiatasnya, atau suksesi tersebut dapat terjadi sangat cepat ketika suatu komunitasdirusak oleh suatu faktor seperti api, banjir, atau epidemi serangga dan digantioleh yang lain (Daniel,et al, 1992). Perubahan bersifat kontinu, rentetan suatu perkembangan komunitas yangmerupakan suatu sera dan mengarah ke suatu keadaan yang mantap (stabil) danpermanen yang disebut klimaks. Tansley (1920) mendefinisikan suksesi sebagaiperubahan tahap demi tahap yang terjadi dalam vegetasi pada suatu kecendrungan daerah pada permukaan bumi dari suatu populasi berganti dengan yang lain. Clements (1916) membedakan enam sub-komponen : (a) nudation; (b) migrasi;(c) excesis; (d) kompetisi; (e) reaksi; (f) final stabilisasi, klimaks. UraianClements mengenai suksesi masih tetap berlaku. Bagaimanapun sesuatu mungkin menekankan subproses yang lain, contohnya perubahan angka dalam populasimerubah bentuk hidup integrasi atau perubahan dari genetik adaptasi populasidalam aliran evolusi. Suksesi sebagai suatu studi orientasi yang memperhatikan semuaperubahan dalam vegetasi yang terjadi pada habitat sama dalam suatu perjalananwaktu (Mueller-Dombois and Ellenberg, 1974). Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi akan berakhir dengan pembentukan suatu komunitas atau ekosistem yang disebut klimaks. Dalam suksesi dikenal suksesi primer dan suksesi sekunder. Perbedaan antara dua suksesi ini terletak pada kondisi habitat pada awal suksesi terjadi (Jamili dan Muksin, 2003:5). Apabila perkembangan dimulai di suatu daerah yang sebelumnya belum pernah diduduki oleh suatu komunitas (seperti misalnya batu yang baru saja muncul

atau permukaan pasir, atau aliran lava), maka prosesnya dikenal sebagai suksesi primer. Apabila perkembangan komunitas berlangsung dalam daerah yang pernah diduduki komunitas lain (seperti misalnya padang pertanian yang ditinggalkan atau hutan yang telah ditebang ), prosesnya disebut suksesi sekunder. Suksesi sekunder biasanya lebih cepat sebab beberapa makhluk atau benih-benihnya telah hidup dan ada, dan daerah yang sebelumnya telah diduduki itu lebih mau menerima perkembangan komunitas daripada yang steril. Suksesi primer cenderung mulai pada tahap produktivitas yang lebih rendah daripada suksesi sekunder (Odum, 1996:322323). Menarik untuk diteropong lebih dekat ialah kedudukan dan peran bermacam jenis pionir yang ternyata begitu penting dalam suksesi primer. Pada dasarnya jenisjenis itu hidup pada lingkungan habitat yang sangat gersang. Jenis pionir harus merupakan jenis generalis dengan relung yang lebar, mampu bertahan terhadap fluktuasi faktor abiotik yang tidak melemah karena pengaruh kekuatan

intrakomunitas (Wirakusumah, 2003:142). Suksesi sekunder terjadi apabila suatu suksesi normal atau ekosistem alami terganggu / dirusak. Kebakaran, perladangan, penebangan secara selektif, penggembalaan dan banjir adalah contoh kegiatan manusia yang menimbulkan gangguan tersebut. Pada suksesi primer, habitat awal terdiri atas habitat yang sama sekali baru sehingga tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada tahap awal berasal dari biji dan benih yang datang dari luar. Sedangkan pada suksesi sekunder, biji dan benih tidak saja berasal dari luar tetapi juga dari dalam habitat itu sendiri (Arief, 1994:3233).

Suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim Beberapa ahli mengatakan bahwa proses suksesi selalu progresif artinya selalu mengalami kemajuan, sehingga membawa pengertian ke dua hal: 1. Pergantian progresif pada kondisi tanah (habitat) yang biasanya

pergantian itu dari habitat yang ekstrim ke optimum untuk pertumbuhan vegetasi. 2. Pergantian progresif dalam bentuk pertumbuhan (life form). Namun demikian perubahan-perubahan vegetasi tersebut bisa mencakup hilangnya jenis-jenis tertentu dan dapat pula suatu penurunan kompleksitas struktural sebagai akibat dari degradasi setempat. Keadaan seperti itu mungkin saja terjadi misalnya hilangnya mineral dalam tanah. Perubahan vegetasi seperti itu dapat dikatakan sebagai suksesi retrogresif atau regresi (suksesi yang mengalami kemunduran). Suksesi merupakan pergantian jenis-jenis pioner oleh jenis-jenis yang lebih mantap yang sangat sesuai dengan lingkungannya. Suksesi dapat dibagi menjadi 2 yaitu : Suksesi primer yaitu bila ekosistem mengalami gangguan yang berat sekali, sehingga komunitas awal menjadi hilang atau rusak total, menyebabkan di tempat tersebut tidak ada lagi yang tertinggal dan akhirnya terjadilah habitat baru. Suksesi sekunder yaitu prosesnya sama dengan proses suksesi primer, perbedaannya adalah pada keadaan kerusakan ekosistem atau kondisi awal pada habitatnya. Ekologi

tersebut mengalami gangguan, akan tetapi tidak total, masih ada komunitas yang tersisa. III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan di Lahan Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya pada hari Selasa, tanggal 23 maret 2013.

B. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang dipakai pada praktikum ini adalah 1). Parang 2). Tali rafia 3). Alat tulis 4). Patok.

C. Cara Kerja Adapun cara kerja pada praktikum ini yaitu : 1. Bersihkan lahan garapan dengan cangkul dari rumput dan tumbuhan lain yang ada, seluas 25 m2 2. Bagi lahan tersebut menjadi petak kecil yang berukuran 1 x 1m2 dengan menggunakan meteran dan sibatasi oleh tali raffia. Selanjutnya biarkan petak tersebut selama satu minggu. 3. Setelah satu minggu, amati jenis tumuhan yang tumbuh pada masing-masing petak 1 x 1 m2 dan catat jumlah, serta tinggi masing-masing tumbuhan. 4. Pengamatan dilakukan terus setiap minggu hingga delapan minggu.

5. Catat perubahan komposisi tumbuhan tersebut dan bandingkan hasil pengamatam setiap minggu. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Berikut tabel pengamatan suksesi selama 8 minggu dimulai tanggal 22 maret 2013 16 Mei 2013. Gulma Hari / tanggal sebelum digarap Gulma setelah di garap - Putri malu - Patikan kebo Jumat / 22 Maret 2013 - Rumput gajah - Ilalang - Leguminosa - Rumput kanji - Pete bulu - Rumput gajah - Rumput teki Kamis / 04 April 2013 - Anonim - Putri malu - Anonim - Pete bulu - Rumput teki Kamis / 11 April 2013 - Putri malu - Babandotan - Ilalang - Kacang2an Jenis gulma

Tinggi Gulma (cm) 4 7,5 1,2 11,8 6 14 5 7 10 9

Gulma Hari / tanggal sebelum digarap

Gulma setelah di garap - Rumput teki Jenis gulma

Tinggi Gulma (cm) 15 7 9 11 10 17 8 11 12 12 26 9 14 23 18 28 10 16 25 19 31 11 18 28 20

Kamis / 18 April 2013

- Putri malu - Babandotan - Ilalang - Kacang2an - Rumput teki

Kamis / 25 April 2013

- Putri malu - Babandotan - Ilalang - Kacang2an - Rumput teki

Kamis / 02 Mei 2013

- Putri malu - Babandotan - Ilalang - Kacang2an - Rumput teki

Kamis / 09 Mei 2013

- Putri malu - Babandotan - Ilalang - Kacang2an - Rumput teki

Kamis / 16 Mei 2013

- Putri malu - Babandotan - Ilalang - Kacang2an

B. Pembahasan Pada praktikum kali ini yang berjudul suksesi tumbuhan yang dilakukan di Lapangan melakukan pengamatan tentang perubahan populasi tanaman yang lahannya sudah dibersihkan terlebih dahulu, apakah ada perubahan dari lahan tersebut dan tanaman apa saja yang tumbuh. Dalam pelaksanaan praktikum ini dibuat petak seluas 2 x 2 m2 kemudian dibuat lagi petakan-petakan kecil dengan ukuran 1 x 1 m2. Setelah dibuat petakan-petakan tersebut diamati apakah ada perubahan yang terjadi, tanaman apa saja yang tumbuh, banyak tanaman yang tumbuh, dan jenis-jenis tanaman yang tumbuh. Pengamatan ini dilakukan setelah 1 minggu lahan tersebut dibersihkan dan dibuat petakan-petakan sampai minggu kedua. Pada Praktikum kali ini membahas tentang Suksesi Sekunder yang bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya suksesi alami dari lahan garapan dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi suksesi. Suksesi merupakan proses perubahan dalam suatu komunitas yang berlangsung hingga menuju suatu arah pembentukan komunitas secara teratur. Suksesi merupakan proses yang terjadi akibat adanya modifikasi lingkungan fisik dalam suatu komunitas tersebut. Pengamatan suksesi ini kami lakukan di Lahan Percobaan jurusan Budidaya Pertanian Universitas Sriwijaya. Pada minggu pertama hanya terlihat sedikit tanaman yang tumbuh, tapi pada minggu kedua sudah banyak jenis tanaman yang tumbuh, salah satu yang mendominasi adalah putri malu. Setiap minggu tanaman ini mengalami pertumbuhan

yang relatif cepat dibanding dengan tanaman yang lain seperti belimbing tanah dan alang-alang. Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies pada tahap berikutnya adalah faktor lingkungan yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hidup permudaan jenis-jenis tertentu. Dalam praktikum yang kami lakukan, suksesi yang terjadi pada lahan garapan yang kami buat termasuk dalam jenis suksesi sekunder. Suksesi sekunder muncul dari kerusakan alam yang parsial saja, hal ini sesuai karena kerusakan yang timbul hanya disebabkan oleh proses pencangkulan dan bukan karena kerusakan alam total yang umumnya terjadi akibat bencana alam. Jenis suksesi sekunder yang terjadi berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan proses perubahan yang disebut suksesi progresif. Hal ini disebabkan perubahan komunitas tumbuhan atau vegetasi menggambarkan bertambah banyaknya suatu lahan garapan oleh berbagai jenis tumbuhan pada hasil percobaan. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa vegetasi yang pertama muncul adalah jenis rerumputan yaitu rumput teki. Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir. Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angina topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan

kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia contohnya adalah pembukaan areal hutan. Proses suksesi sangat terkait dengan faktor linkungan, seperti letak lintang, iklim, dan tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukkan struktur komunitas klimaks. Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim kering, maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas rumput; jika berlangsung di daerah beriklim dingin dan basah, maka proses suksesi akan terhenti pada komunitas (hutan) conifer, serta jika berlangsung di daerah beriklim hangat dan basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada hutan hujan tropic. Lalu proses suksesi sangat beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses suksesi pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus tahun. Coba kalian bandingkan kejadian suksesi pada daerah yang ekstrim (misalnya di puncak gunung atau daerah yang sangat kering). Pada daerah tersebut proses suksesi dapat mencapai ribuan tahun. Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut : 1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan. 2. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu. 3. Kehadiran pemencar benih. 4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan. 5. Jenis substrat baru yang terbentuk 6. Sifat sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.

Sukses tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan misalnya di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik. Telah dijelaskan bahwa akhir sukses adalah terbentuknya suatu komunitas klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis komunitas klimaks sebagai berikut : 1. Hidroser yaitu sukses yang terbentuk di ekosistem air tawar. 2. Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau 3. xeroser yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun. Pembentukkan komunitas klimaks sangat dipengaruhi oleh musim dan biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominant. Berdasarkan pengaruh musim terhadap bentuknya komunitas klimaks, terdapat dua teori sebagai berikut : 1. Hipotesis monoklimaks menyatakan bahwa pada daerah musim tertentu hanya terdapat satu komunitas klimaks 2. Hipoteis poliklimaks mengemukakan bahwa komunitas klimaks dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik yang salah satunya mungkin dominan. Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimaks. Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis. Ini dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai akibat dari tanggap (response) yang terkoordinasi dari komponen-komponennya terhadap setiap

kondisi atau rangsangan yang cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas. Jadi bila suatu komunitas telah mencapai klimaks, perubahan yang searah tidak terjadi lagi, meskipun perubahan-perubahan internal yang diperlukan untuk mempertahankan kehadiran komunitas berlangsung secara sinambung

Organisme individu atau populasi yang terbentuk sebagai kumpulan populasi spesies dalam daerah tertentu, yang membentuk suatu komunitas, suatu komunitas dapat berada dalam berbagai ukuran, misalnya komunitas hutan besar, laut atau komunitas kayu busuk. Para ahli tumbuhan dan hewan memerikan komunitas secara beragam. Semua definisi komunitas memiliki pandangan tertentu secara umum. Ini adalah beberapa spesies hadir dalam daerah yang sama dimungkinkan untuk mengenali satu jenis komunitas karena kelompok spesies yang sama dengan komposisi kurang lebih tetap hadir dalam ruang dan waktu; komunitas cenderung menciptakan kestabilan dinamis.Setiap gangguan cenderung diatur oleh aturan sendiri.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari hasil dan pembahasan pada praktikum ini yaitu : 1. Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. 2. Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. 3. Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya. 4. Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. 5. Perubahan bersifat kontinu, rentetan suatu perkembangan komunitas yang merupakan suatu sera dan mengarah ke suatu keadaan yang mantap (stabil) dan permanen yang disebut klimaks.

B. Saran Sebaiknya pengamatan suksesi harus lebih teliti dalam mengamati dan mengukur jenis tumbuhan yang tumbuh pada lahan garapan.

DAFTAR PUSTAKA

Soemarwoto, O., 1983, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta. Diakses 23 Mei 2013 pukul 19:20 Soeriatmadja, R. E., 1977, Ilmu Lingkungan, ITB, Bandung. Suharno, 1999, Biologi, Erlangga, Jakarta. Diakses 23 Mei 2013 pukul 19:17 Wirakusumah, S., 2003, Dasar-dasar Ekologi :Menopang Pengetahuan Ilmu-ilmu lin gkungan, UI Press, Jakarta. Diakses 23 Mei 2013 pukul 19:24