Anda di halaman 1dari 3

KOMPLIKASI Patofisiologi akhir yang umum yang menyebabkan kor pulmonale kronis adalah peningkatan kronis dari resistensi

aliran darah melalui sirkulasi paru dan mengarah pada hipertensi arteri pulmonal (Pulmonary Arterial Hypertension/PAH). Selain itu kor pulmonale dapat menyebabkan timbulnya aritmia dan gagal jantung kanan

TERAPI SUMBER: PATOFIS JILID 2 Pengobatan kor pulmonale ditujukanj untuk memperbaiki hipoksia alveolar dan vasokontriksi paru yang diakibatkannya dengan cara pemberian oksigen konsentrasi rendah dengan hati-hati. Pemakaian oksigen yang terus menerus dapat menurunkan hipertensi pulmonal, polisitemia, dan takinpnea; memperbaiki keadaan umum dan mengurangi mortalitas. Bronkodilator dan antibiotic membantu meredakan obstruksi aliran udara pada pasien COPD. Pembatasan cairan yang masuk dan diuretic mengurangi tanda-tanda yang timbul akibat kegagalan ventrikel kanan. Terapi antikoagulan jangka panjang diperlukan jika terdapat emboli paru massif (patofis jilid 2).

SUMBER: IPD JILID IIII Tujuan pengobatan kor pulmonal pada PPOK ditinjau dari aspek jantung sama dengan pengobatan kor pulmonal pada umumnya untuk: (1) mengoptimalkan efisiensi pertukaran gas (2) menurunkan hipertensi pulmonal; (3) meningkatkan kelangsungan hidup; (4) pengobatan penyakit dasar dan komplikasinya. a. Terapi oksigen mekanisme bagaimana oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup belum diketahui. Ada dua hipotesis: (1) terapi oksigen mengurangi vasokontriksi dan menurunkan resistensi vaskular paru yang kemudian meningkatkan isi sekuncup ventrikel kanan; (2) terapi oksigen meningkatkan kadar oksigen arteri dan meningkatkan hantaran oksigen ke jantung, otak dan organ vital lain. Pemakaian oksigen secara kontinu selama 12 jam (National Institue of Health), 15 jam (British Medical Research Council), dan 24 jam (NIH) meningkatkan kelangsungan hidup dibandingkan dengan pasien tanpa terapi oksigen. Indikasi terapi oksigen (di rumah) adalah : (1) PaO2 55 mmHg atau SaO2 88% (2) PaO2 55-59 mmHg disertai salah satu dari: (a) edema disebabkan gagal jantung kanan (b) P pulmonal pada EKG

(c) ertrositosis hematokrit >56%

b.

Vasodilator Vasodilator (nitrat, hidralazin, antagonis kalsium, agonis alfa adrenergik, inhibitor ACE dan prostaglandin) pada sampai saat ini belum direkomendasikan pemakaiannya secara rutin. Rubin menemukan pedoman untuk penggunaan vasodilator bila didapatkan 4 respon hemodinamik sebagai berikut: (1) Resistensi vaskuler paru diturunkan minimal 20% (2) Curah jantng meningkatkan atau tidak berubah (3) Tekanan ateri pulmonal menurunkan atau tidak berubah (4) Tekanan darah sistemik tidak berubah secara signifikan. Kemudian harus dievaluasi setelah 4 atau 5 bulan untuk menilai apakah keuntungan hemodinamik diatas masih menetap atau tidak c. Digitalis Digitalis hanya diberikan pada pasien kor pulmonal bila disertai gagal jantung kiri. Digitalis tidak terbukti meningkatkan fungsi ventrikel kanan pada pasien kor pulmonal dengan fungsi ventrikel kiri normal, hanya pada pasien kor pulonal dengan fungsi ventrikel kiri yang menurun digoksin dapat meningkatkan ventrikel kanan. Disamping itu pengobatan dengan digitalis menunjukkan adanya peningkatan terjadinya komplikasi aritmia. d. Diuretika Diuretika diberikan jika ada gagal jantung kanan. Pemberian diuretika yang berlebihan dapat menimbulkan alkolosis metabolik yang bisa memicu peningkatan hiperkapnia. Disamping itu dengan terapi diuretic dapat terjadi kekurangan cairan yang mengakibatkan preload ventrikel kanan dan curah jantung menurun. e. Flebotomi Tindakan flebotomi pada pasien kor pulmonal dengan hematokrit yang tinggi untuk menurunkan hematokrit sampai nilai 59% hanya merupakan terapi tambahan pada pasien kor pulmonal dengan gagal jantung kanan akut. f. Antikoagulan Pemberian antikoagulan pada kor pulmonal didasarkan atas kemungkinan terjadinya tromboemboli akibat pembesaran dan disfungsi ventrikel kanan dan adanya faktor imobilisasi pada pasien.

Di samping terapi di atas pasien kor pulmonal pada PPOK harus mendapat terapi standar untuk PPOK, komplikasi dan penyakit penyerta

PROGNOSIS SUMBER: Ali A Sovari, 2011, Cor Pulmonale Overview of Cor Pulmonale Management, http://emedicine.medscape.com/article/154062-overview#aw2aab6c24 (akses 21 Juni 2012) Prognosis kor pulmonale bervariasi tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Perkembangan kor pulmonale sebagai akibat dari penyakit paru primer biasanya menimbulkan prognosis yang buruk. Contohnya adalah pasien dengan PPOK yang berkembang menjadi kor pulmonal akan memiliki peluang sebesar 30% untuk bertahan hidup selama 5 tahun. Akan tetapi, masih belum jelas diketahui akankah keterlibatan kor pulmonale membawa nilai prognostik tersendiri atau hanya mencerminkan tingkat keparahan yang mendasari penyakit paru PPOK. Prognosis pada kelainan akut seperti emboli paru masif ataupun sindrom respirasi akut (ARDS) dengan kor pulmonale belum pernah dilaporkan sebelumnya. Akan tetapi, sebuah penelitian kohort prospektif yang dilakukan oleh Volschan dkk mengindikasikan bahwa dalam kasus emboli paru, kor pulmonal menjadi sebuah factor timbulnya mortalitas di rumah sakit. Penelitian ini melibatkan data demografik, komorbiditas, dan manifestasi klinis pada 582 pasien yang masuk ke ruang gawat darurat maupun perawatan intensif dan terdiagnosa dengan emboli paru.

SUMBER: dr. Amirullah. R, Cermin Dania Kedokteran No. 31, Komplikasi Kardiovaskuler pada Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM), http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/07_KomplikasiKardiovascularpadaPenyakitparu.pdf/07_K omplikasiKardiovascularpadaPenyakitparu.html

Sedangkan prognosis kor pulmonale yang disebabkan oleh PPOK lebih baik dari prognosis kor pulmonale yang disebabkan oleh penyakit paru lain seperti "restrictive pulmonary disease", ataupun kelainan pembuluh darah paru. Forrer mengatakan penderita kor pulmonale masih dapat hidup antara 5 sampai 17 tahun setelah serangan pertama kegagalan jantung kanan, asalkan mendapat pengobatan yang baik. Padmavati dkk di India mendapatkan angka antara 14 tahun. Sadouls di Perancis mendapatkan angka 10 sampai 12 tahun.