Anda di halaman 1dari 5

http://www.tempointeraktif.com/medika/online/index-isi.asp?

file=sar-1 Pedoman Pengobatan Mandiri untuk Diare Akut Dewasa


Wingate D, Philips SF, Lewis SJ,dkk. Alimentary Pharmacology and Therapeutic Juni 2001 Diare akut tanpa komplikasi pada orang dewasa, secara umum bisa diobati sendiri. edoman pengobatan sudah ban!ak dibuat, han!a sa"a tidak konsisten. #adang-kadang kontradiktif dan lebih sering berupa dogma daripada berdasarkan bukti. $ebuah kelompok !ang terdiri dari % ahli tingkat dunia dari berbagai disiplin ilmu telah dibentuk. #elompok ini meneliti kembali berbagai petun"uk pengobatan !ang rasional dan memeriksa &aliditas dari berbagai pengobatan !ang berbeda, sehingga diperoleh suatu petun"uk pengobatan berdasarkan bukti dan dapat diaplikasikan secara luas. enting untuk memberi tekanan bahwa tu"uan pembuatan guideline ini adalah untuk merumuskan standar pengobatan sendiri pada orang dewasa !ang masih kuat. #elompok peneliti ini mengulas ban!ak makalah mengenai diare dari Medlines untuk melihat apakah benar bahwa diare adalah mekanisme pertahanan. Disimpulkan bahwa anggapan diare sebagai mekanisme pertahanan terlihat sebagai logika !ang tidak terlalu mendalam, terutama "ika diare tersebut disebabkan oleh patogen. $ulit untuk men"elaskan bagaimana diare dapat menghilangkan patogen !ang sudah melekat di fimbrae dan mengurangi sekresi !ang disebabkan oleh toksin !ang sudah melekat kuat di mukosa usus. 'tau, pada kasus diare karena &irus, bagaimana bisa meningkatkan absorbsi "ika mukosan!a sudah rusak. ada pasien karena '(D$ atau infeksi parasit dengan perubahan respons imun, diare tidak melen!apkan patogen. )ebih "auh, hipotesis mengenai mekanisme pertahanan tidak cocok untuk diare !ang lain, seperti diare karena diabetes, stres, atau hipertiroid !ang tidak ada hubungann!a dengan patogen. *ereka "uga mengka"i berbagai pilihan terapi diare akut pada orang dewasa. $tudi farmakologi dan studi klinis "uga memeriksa dosis, "adwal pemberian +contoh, seperti profilaksis dan terapi akut,, dan hubungann!a dengan efekti&itas klinis serta pengobatan sendiri pada diare akut dewasa. $ecara umum diakui bahwa pengobatan diare akut dapat menghilangkan ketidakn!amanan dan disfungsi sosial !ang ter"adi. -idak ada bukti bahwa pengobatan sendiri dapat memperpan"ang pen!akit, bahkan cukup aman bagi pasien dewasa. ilihan terapi diare akut !ang dika"i meliputi cairan rehidrasi oral +./0,, probiotik, adsorbent, dan beberapa obat antidiare. 1asil !ang diperoleh di antaran!a ./0 tidak mengurangi laman!a diare atau mengurangi frekuensi diare. ./0 "uga tidak memberikan manfaat !ang berarti bagi orang dewasa !ang dapat men"aga asupan cairann!a selama diare. $ementara itu, han!a ada sedikit bukti bahwa pengobatan dengan probiotik pada manusia mengurangi kolonisasi pathogen atau melindungi dari organisme seperti Vibrio cholera atau E. coli. 'dsorbent beker"a dengan mengikat air sehingga mengurangi cairan !ang keluar bersama diare. -etapi, selain memiliki efek samping !ang rendah, adsorbent tidak memberikan ban!ak manfaat pada orang dewasa !ang terkena diare akut. 0bat antidiare !ang lebih lama seperti opium, morphine, dan codein memang efektif mengatasi diare, tapi memiliki efek sentral. $ecara umum, efekti&itasn!a lebih rendah dibanding loperamide. #arena itu, loperamide oral adalah pilihan utama terapi. )operamide adalah peripheral acting opiate, !ang tidak berpotensi untuk disalahgunakan. 0bat ini tidak melewati sawar darah otak dan sulit mencapai sirkulasi sistemik karena ekstraksi !ang ekstensif di hati serta ekskresi melalui tin"a. )operamide memiliki ban!ak efek antiekskresi, beberapa di antaran!a tidak dimediasi oleh reseptor opiat. ada orang dewasa sehat, dosis terapeutik sebesar 2 mg tidak secara signifikan memperlambat transit orocaecal. Dosis !ang lebih besar atau pengulangan dosis !ang mempertinggi konsentrasi obat di sirkulasi enterohepatik, memperlambat "e"unum atau transit orocaecal. -api, pada keadaan diare dosis terapi tersebut akan menormalkan transit. 3ukti dari studi !ang terkontrol memperlihatkan loperamide tidak memiliki efek !ang tidak baik untuk kasus infeksi non-disentri pada diare per"alanan +tanpa demam tinggi atau darah di tin"a,, meskipun disebabkan oleh E. coli, higella, !ampylobacter atau almonella, baik monoterapi maupun dikombinasi dengan antibiotik. 4ika dikombinasi dengan antibiotik, loperamide akan mengurangi frekuensi diare dan memperpendek durasi diare. $ecara singkat, panel ahli merekomendasikan pedoman pengobatan diare akut dewasa sbb.: (ntake cairan: $ebaikn!a dikonsumsi sesuai dengan rasa haus !ang timbul. Dian"urkan untuk minum cairan !ang mengandung glukosa +limun, soda manis, "us buah, atau sup !ang mengandung ban!ak elektrolit. .airan rehidrasi oral: *eskipun sangat penting untuk kasus diare pada anak-anak, 0/$ tidak diperlukan untuk orang dewasa sehat !ang terkena diare. -idak ada bukti bahwa 0/$ dapat men!embuhkan atau memperpendek masa diare. (ntake makanan: $ebaikn!a konsumsi makanan padat tetap dilakukan sesuai selera. -idak ada bukti bahwa memakan makanan padat akan menghambat pen!embuhan. *akanan kecil !ang ringan

dian"urkan. *akanan berlemak, berat, pedas, atau merangsang +kafein, termasuk !ang terdapat dalam minuman !ang mengandung cola,, sebaikn!a dihindari. *enghindari laktosa di dalam makanan +seperti susu, mungkin akan membantu untuk kasus diare akut !ang episoden!a lebih pan"ang. robiotik: -erbukti tidak membantu meskipun digunakan pada awal pengobatan. 0bat anti diare: ilihan utaman!a adalah loperamide 5 mg +dosis fleksibel, tergantung dari seberapa sering 3'3 cair !ang ter"adi,. 'nti diare lain tidak direkomendasikan karena efekti&itasn!a belum pasti, mula ker"a !ang lambat, dan potensi efek samping !ang ditimbulkan. -idak ada bukti bahwa menghambat keluarn!a 3'3 cair akan memperpan"ang pen!akit. 4ustru telah terbukti penggunaan antidiare akan mengurangi diare dan mmperpendek durasi diare. 'ntimikroba: Dian"urkan untuk diberikan pada turis !ang bepergian dalam tra&el kit beserta loperamide. 6uinolone direkomendasikan sebagai pilihan utama, dan pilihan berikutn!a adalah cotrimoxa7ole.

.ampur tangan dokter "uga diperlukan "ika tidak ada perbaikan ge"ala setelah 28 "am, atau ada bukti ter"adin!a kemunduran, seperti dehidrasi, perut kembung, atau tanda-tanda disentri +panas 9 :8,;<. dan darah pada tin"a,

E ikasi !aksin Malaria "#S,S$AS%& terhadap 'n eksi Plasmodium falciparum di (ambia
)o*ang +A, Milligan PJM, Pinder M, dkk. "ancet 2001# $%&' 1(2)*$+ *alaria !ang disebabkan oleh Plasmodium falciparum masih merupakan pen!ebab utama morbiditas dan mortalitas di ban!ak negara di daerah tropis. engembangan &aksin !ang efektif men"adi prioritas kesehatan utama di negara-negara ini. =aksin ini ditu"ukan untuk stadium praeritrosit P. falciparum dan dapat mencegah atau mengurangi "umlah parasit !ang mencapai stadium eritrosit, !ang men!ebabkan sakit. #andidat &aksin malaria sebelumn!a, $ f>>, !ang memberikan perlindungan pada penelitian awal di 'merika $elatan dan -an7ania, tern!ata tidak memberikan hasil serupa ketika diu"i coba di 'frika dan 'sia. #arena itulah dilakukan penelitian dengan &aksin baru, !aitu /-$,$/'$?5. /-$,$/'$?5 merupakan &aksin malaria praeritrosit !ang dibuat berdasarkan protein permukaan sirkumsporo7oit P. falciparum !ang difusi dengan 1bs'g dan digabungkan dengan ad"u&an baru +'$?5,. enelitian dilakukan secara random untuk mengetahui efikasi /-$,$/'$?5 terhadap infeksi alami P. falciparum pada pria dewasa !ang setengah imun di @ambia. enelitian dilakukan terhadap :?> pria @ambia berusia 18-2; tahun. *ereka secara acak diberikan tiga dosis, baik /-$,$/'$$?5 ataupun &aksin rabies sebagai kontrol. ara sukarelawan ini diberikan sulfadoksin/pirimetamin 5 minggu sebelum dosis ketiga, dan berada dalam pengawasan selama musim penularan malaria. $ediaan apus darah dikumpulkan sekali seminggu dan setiap kali seorang sukarelawan mengalami ge"ala malaria. -u"uan utaman!a adalah menemukan saat pertama kali infeksi P. falciparum. 1asil pengamatan menun"ukkan 5;? pria +1:1 pada kelompok /-$,$/'$?5 dan 11A pada kelompok kontrol, menerima tiga dosis &aksin dan diamati selama 1; minggu. /-$,$/'$?5 terbukti aman dan dapat ditoleransi dengan baik. (nfeksi P. falciparum secara signifikan ter"adi lebih awal pada kelompok kontrol dibandingkan pada kelompok /-$,$/'$?5 +u"i Bilcoxon, p = ?,?18,. Cfikasi &aksin sebesar :2D +A;D inter&al kon&idens 8,?-;:, p = ?,?12,, setelah faktor bias ditiadakan. roteksi &aksin tampakn!a semakin berkurang. erkiraan efikasi selama A minggu pertama pengamatan sebesar %1D +2>-8;,, tetapi berkurang men"adi ?D +-;5-:2, dalam > minggu berikutn!a. =aksinasi menginduksi respons antibodi !ang kuat terhadap protein sirkumsporo7oit, "uga respons sel- !ang kuat. roteksi tidak terbatas pada genotip parasit EF;2 !ang merupakan asal &aksin. $eban!ak 1;8 pria menerima dosis keempat satu tahun berikutn!a dan diamati lagi selama A minggu. ada periode ini, efikasi &aksin han!a 2%D +2-%1, p = ?,?:%,. Dari studi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa /-$,$/'$?5 adalah &aksin !ang aman, imunogenik, dan merupakan &aksin praeritrosit pertama !ang menun"ukkan proteksi !ang signifikan terhadap infeksi alami P. falciparum.

Mutasi Patoadapti ,ang Meningkatkan !irulensi- .rganisasi (enetik "egio cadA Shigella spp.
Da, Jr. WA, Fern/nde0 "E, Maurelli A# ,nfection and ,mmunity- .ecember 2001- p. )+)1*)+&0- Vol. /(- 0o. 12 *utasi patoadaptif mengembangkan kemampuan spesies patogen melalui modifikasi ciri bawaan !ang mempengaruhi faktor &irulensi dan keturunan !ang dibutuhkan untuk bertahan hidup dalam "aringan pe"amu. *utasi patoadaptif !ang diperlihatkan spesies higella adalah hilangn!a ekspresi dekarboksilase lisin +)D., !ang telah bere&olusi dari Escherichia coli !ang mengekspresikan )D.. enelitian sebelumn!a menun"ukkan bahwa produk akti&itas )D., kada&erin, menghambat ker"a enterotoksin higella dan gen !ang mengkode )D., cadA, hilang akibat penghapusan kromosom besar-besaran pada tiap spesies higella. Gntuk lebih memahami sifat dan e&olusi mutasi patoadaptif ini, sisa-sisa regio cad disekuens dari empat spesies higella. 'nalisis ini mengungkapkan adan!a pengaturan gen !ang baru dalam regio kromosom patogen ini. en!isipan sekuens, genom faga, dan/atau lokus dari posisi !ang berbeda dengan kromosom leluhur E.coli telah memindahkan lokus cadA untuk membentuk ikatan genetik !ang berbeda dan unik pada masingmasing spesies higella. $tudi hibridisasi dengan menggunakan E. coli 1*12 microarray, menun"ukkan bahwa gen

!ang dipindahkan untuk membentuk ikatan baru ini masih tetap berada dalam genom higella. -idak satupun dari pengaturan gen baru ini tampak pada representasi filogen E. coli. engamatan ini menun"ukkan inakti&asi gen anti&irulensi cadA ter"adi secara independen pada tiap spesies higella. C&olusi kon&ergen mutasi patoadaptif ini menun"ukkan bahwa setelah e&olusi dari E.coli komensal, besarn!a tekanan pada "aringan pe"amu men!eleksi klon higella dengan kemampuan dan &irulensi !ang lebih tinggi melalui penghapusan ciri leluhur +)D.,. 1asil penelitian ini sangat mendukung peran mutasi patoadaptif sebagai "alur penting dalam e&olusi organisme patogen.

Pembandingan Metode untuk Mengidenti ikasi !irus 1erpes Simpleks ,ang "esisten
Sarisk, "#, 2rosson P, 2ano ", dkk. Journal of !linical Virology Volume 2$- ,ssue $- pp. 1(1 * 200- 1 January- 2002 $e"umlah pengu"ian in 2itro telah dilakukan untuk menentukan kerentanan &irus herpes simpleks +1$=, terhadap obat anti&iral, tetapi hasil pengu"ian ini seringkali bertolak belakang dengan hasil pengobatan. Gntuk itulah se"umlah peneliti berkeinginan untuk menemukan metode dengan kemampuan !ang lebih baik untuk identifikasi suatu isolat sebagai resisten asiklo&ir atau pensiklo&ir. $uatu studi e&aluasi komparatif dari empat u"i in 2itro, reduksi plak + /',, hibridisasi DE', efisiensi plating + C',, dan autoradigrafi plak dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengukur resistensi isolat 1$= klinis +1$=-1 E2, dengan akurat dari pasien !ang tidak responsif terhadap pengobatan asiklo&ir. Dua kriteria ditegakkan untuk memperkirakan resistensi anti&iral, (.;? 9 5,? mg/ml atau (.;? lebih besar dari 1?H di atas &irus sensitif (.;?, seperti haln!a pengu"ian pada deretan sel manusia +*/.-;, dan bukan manusia +mon!et gin"al =ero dan .=-1, die&aluasi. Dari penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa metode !ang paling akurat dalam mengidentifikasi isolat pada batas resisten sebagai &irus !ang resisten obat adalah u"i /' dan hibridisasi DE' bila: +i, &irus sensitif digunakan dalam tiap u"i indi&idual sebagai kontrol, +ii, kerentanan asiklo&ir dan pensiklo&ir die&aluasi pada sel manusia, dan +iii, kriteria 1?x di atas (.;? sensitif digunakan untuk mengelompokkan &irus sebagai &irus !ang resisten obat.

2edera +epala pada Dewasa Muda dan "isiko Depresi Seumur 1idup
1olsinger #, Ste ens D2, Phillips 2, dkk. Arch 3en Psychiatry. 2002#%('1)*22 .edera kepala adalah masalah kesehatan umum !ang penting. Di 'merika $erikat, lebih dari 1,5 "uta penduduk mengalami cedera kepala setiap tahunn!a dan diperkirakan terdapat ;,: "uta penduduk dengan kecacatan akibat cedera kepala. #ecacatan setelah cedera kepala dapat diakibatkan oleh faktor fisik, kognitif, atau psikososial. Depresi adalah gangguan mental !ang paling sering dilaporkan, dengan tingkat pre&alensi sekitar 5>D pada sampel klinik saat penilaian awal, dan 18D sampai :1D pada > bulan setelah cedera. .edera kepala "uga dapat memiliki dampak kognitif "angka pan"ang, tetapi tidak ban!ak diketahui risiko depresi "angka pan"ang !ang berhubungan dengan cedera kepala. #arena itu, dilakukan penelitian untuk men!elidiki tingkat pen!akit depresi ;? tahun setelah cedera kepala. *ereka !ang diikutsertakan dalam penelitian ini adalah &eteran erang Dunia (( !ang bertugas selama 1A22-1A2;, dan pada masa itu dirawat di rumah sakit dengan diagnosis cedera kepala, pneumonia, laserasi, luka tusuk, atau luka sobek. Gntuk menentukan ada tidakn!a serta dera"at keparahan cedera kepala "arak dekat digunakan catatan militer. =eteran dengan cedera kepala +n=;5?, dan tanpa cedera kepala +n=11A8, diwawancarai pada 1AA>-1AA% untuk mengetahui riwa!at pen!akit depresi sepan"ang hidup mereka. ada penelitian ini, pria !ang telah mengalami dementia tidak disertakan. $etelah dilakukan analisis, ditemukan hasil bahwa &eteran dengan cedera kepala cenderung sering melaporkan gangguan depresi ma!or pada tahun-tahun kemudian dan lebih sering mengalami depresi belakangan ini. Dengan menggunakan regresi logistik dan kontrol pada usia serta pendidikan, pre&alensi depresi ma!or sepan"ang hidup pada kelompok cedera kepala sebesar 18,;D bila dibandingkan dengan mereka !ang tanpa cedera kepala 1:,2D +rasio odds = 1,;2I A;D inter&al konfidens = 1,1%-5,?2,. Depresi ma!or !ang baru terdeteksi pada 11,5D &eteran dalam kelompok cedera kepala. $edangkan pada kelompok tanpa cedera kepala, depresi ma!or baru han!a terdapat pada 8,;D &eteran +rasio odds = 1,>:I A;D inter&al konfidens = 1,?%-5,;?,. eningkatan depresi ini tidak dapat di"elaskan dengan riwa!at infark miokard, kecelakaan serebro&askular, atau pen!alahgunaan alkohol. /isiko depresi seumur hidup meningkat sesuai keparahan cedera kepala. Dapat disimpulkan bahwa risiko depresi tetap tinggi puluhan tahun setelah ter"adin!a cedera kepala. /isiko ini tertinggi pada mereka !ang mengalami cedera kepala berat.

Flu3astatin Memperbaiki Abnormalitas Lipid pada Pasien 'nsu isiensi (in*al +ronik
Samuelsson ., Attman P., +night4(ibson 2, dkk. Am J 1idney .is 2002 Jan#$(415'/)*)% (nsufisiensi gin"al kronik ditandai dengan ketidaknormalan metabolisme lipoprotein !ang spesifik. #elainan ini mempengaruhi apolipoprotein ' +apo ',- dan apo 3-!ang mengandung lipoprotein. Gntuk menge&aluasi efek flu&astatin, suatu inhibitor :-hidroksi-:-metilglutaril koen7im ' reduktase sintetis pada dislipoproteinemia renal, para peneliti melakukan u"i periodik silang, dua arah, acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo. enelitian ini mengikutsertakan 2; pasien non-nefrotik +58 pria, 1% wanita, tanpa diabetes dengan insufisiensi gin"al kronik sedang sampai berat. /erata umur ;>,2 J/- 11 tahun. )a"u filtrasi glomerulus berkisar antara 15

sampai 22 m)/menit/1,%: m5 luas permukaan badan +rerata 5,%; J/- 1?,; m)/menit/1,%: m5. *ereka diberikan flu&astatin 2? mg/hari, atau plasebo selama 8 minggu secara acak. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemberian flu&astatin menghasilkan pengurangan !ang signifikan pada &ariabel hasil primer kolesterol lo6*density lipoprotein +)D)-.I -5>DI K ?.??1,, apo 3 +-51DI K ?.??1,, dan kompleks lipoprotein 3 +)p-3c, +-12DI K ?.?1,. -erdapat perbedaan statistik !ang signifikan antara flu&astatin dengan plasebo untuk &ariabel hasil sekunder kolesterol total +-1AD,, trigliserida +-@sI -1:D,, =)D)-. +-1:D,, apo C +-1:D,, and )p-3 +-55D,. -idak terdapat perbedaan pengobatan pada kolesterol high*density lipoprotein +1D), atau lipoprotein +a,. engobatan flu&astatin ditoleransi dengan baik tanpa efek samping serius selama penelitian. Dapat disimpulkan bahwa pengobatan dengan flu&astatin pada pasien dengan insufisiensi gin"al sedang sampai berat dan mengarah pada reduksi signifikan dalam kolesterol-tinggi, tetapi sedikit kurang dalam -@-tinggi, apo 3!ang mengandung lipoprotein. *asih perlu di"elaskan apakah perubahan positif dalam profil lipoprotein ini "uga berakibat pada berkurangn!a proses aterosklerotik pada pasien-pasien ini.

Fisioterapi pada Pasien dengan Masalah Mobilitas Lebih dari Satu #ahun Pas5astroke6*i A5ak #erkontrol
(reen J, Forster A, )ogle S, dkk. "ancet 2002#$%(4($025'1((*20$ asien !ang pernah stroke sering mengalami kesulitan "angka pan"ang dalam ber"alan dan akti&itas sehari-hari, seperti bangun dari kursi dan naik tangga. asien sering "atuh dan ini adalah salah satu akibat stroke !ang berpotensi menimbulkan masalah serius. asien dengan mobilitas memburuk atau pernah "atuh sering diru"uk untuk mendapatkan fisioterapi oleh dokter keluarga dan lembaga lain, seperti lembaga sosial. *eski demikian, manfaat fisioterapi komunitas bagi pasien dengan masalah mobilitas "angka pan"ang pascastroke belum "elas. $etelah dilakukan penelitian oleh @reen dkk., ditemukan bahwa fisioterapi komunitas rutin pada pasien dengan kesulitan mobilitas setahun setelah onset stroke kurang efektif. ara peneliti men!aring :;A pasien berusia lebih dari ;? tahun. enilaian dibuat pada :, >, dan A bulan pada 1%? pasien !ang memenuhi pers!aratan untuk diberikan inter&ensi atau tanpa inter&ensi. -olok ukur primer adalah mobilitas !ang diukur berdasarkan indeks mobilitas /i&ermead. -olok ukur sekunder berupa kecepatan "alan, frekuensi "atuh, akti&itas sehari-hari +skor indeks 3arthel,, akti&itas sosial +indeks akti&itas Frencha!,, skala kecemasan rumah sakit dan depresi, serta stres emosional perawat +58 kuesioner kesehatan umum,. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa ada perubahan dalam skor indeks mobilitas /i&ermead !ang signifikan antara kelompok inter&ensi dengan kontrol pada : bulan +p=?,?18,, tetapi han!a dengan nilai tengah 1 poin +A;D, inter&al konfidens ?,1,, dengan nilai interpolasi ?,;; +?,?8-1,?2,. #ecepatan "alan sebesar 5,> m/menit +?,:?-2,A;, lebih tinggi pada kelompok inter&ensi pada : bulan. #edua perbaikan ini tidak ada !ang menetap pada pengamatan > dan A bulan. (nter&ensi tidak berdampak pada akti&itas sehari-hari, akti&itas sosial, depresi, dan frekuensi "atuh pasien, atau pada stres emosional perawat.

Analisis 6*i Pemberian Ekstrak (inkgo )iloba 7E(b89:;< pada Pasien Dimensia
PL Le )ars, M +ieser, += 'til. .ement 3riartr !ogn .isord 2000# 11'2$0*2$) 3elakangan ini, sebagian besar studi !ang mengu"i keman"uran +efikasi, obat-obatan pada kelainan dimensia menggunakan desain penelitian grup paralel dan dalam "angka waktu pengobatan selama > bulan. 0leh karena itu, bila kita ingin melakukan u"i perbandingan efek terapi terhadap obat-obat kelainan dimensia maka diperlukan "angka waktu pengobatan selama > bulan sebagai salah satu s!arat utama. $alah satu preparat !ang diu"icobakan keman"urann!a adalah ekstrak @inkgo 3iloba +standar: C@b %>1L,. #onstituen aktif utama !ang terdapat dalam formulasi ini adalah 3in7go fla&onoid +52D, dan terpene-lakton +>D,. Balau belum sepenuhn!a diketahui, aksi ekstrak @inkgo 3iloba +C@bL, terhadap sel-sel saraf merupakan hasil dari efek sinergis multipel berbagai 7at !ang terdapat dalam ekstrak tersebut. Di dalam C@bL terdapat 7at-7at !ang akan meningkatkan aliran darah serta mempertahankan metabolisme energi sel saraf dalam kondisi-kondisi kekurangan oksigen atau substrat. Cfek tersebut mempengaruhi berbagai sistem neuro-transmiter/reseptor susunan saraf pusat. -elah dibuktikan pula bahwa 3in7golide merupakan antagonis !ang poten terhadap faktor akti&asi trombosit sehingga dapat berefek langsung terhadap fungsi saraf dan pengaturan proses inflamasi. ada sisi lain, fla&onoid diketahui mempun!ai pengaruh antioksidan dan radikal bebas !ang dapat menurunkan tekanan oksidasi serta peroksidasi dari membran saraf. #edua mekanisme tersebut mungkin memainkan peranan penting pada patofisiologi dari pen!akit 'l7heimer. 'lasan-alasan di atas merupakan suatu landasan rasional !ang dipakai ierre ). )e 3ars bersama kolega dari beberapa institusi untuk melakukan penelitian efek C@bL pada kelainan dimensia. $tudi tersebut merupakan ker"asama dari > institusi dan memiliki desain double*blind- grup paralel, grup kontrol-plasebo, serta dosis tetap. $ub"ek dari studi ini adalah pasien-pasien dengan usia sama atau di atas 2; tahun dengan diagnosis 'l7heimer tanpa komplikasi atau dimensia multi-infark !ang sesuai dengan kriteria di dalam ,!.*10 dan . M*,,,*8. asien !ang dimasukkan +inklusi, memiliki nilai pemeriksaan status mental mini +Mini Mental tate E9amination, antara A dan 5> serta nilai skala deteriorasi global +3lobal .eterioration cale, antara :-->. $edangkan kriteria eksklusi adalah bila pasien memiliki pula kelainan psiakiatrik lain atau kelainan neorologis. Demikian pula haln!a bila memiliki pen!akit sistemik seperti diabetes mellitus, kelainan hati, kelainan gin"al, kelainan kardio&askular, atau

kelainan endokrin. $ebagai tambahan, pasien-pasien !ang men"adi sub"ek studi harus mempun!ai nilai dasar: hasil pemeriksaan laboratorium dan foto roentgen toraks !ang normal serta tiadan!a kelainan lain pada kepala, !ang dibuktikan dari pemeriksaan */( atau .--scan. #emudian, pasien dibagi secara random ke dalam dua grup !ang menerima 2? mg C@b tiga kali sehari atau menerima plasebo selama ;5 minggu. ada minggu ke-15, ke-5>, dan ke-;5, dilakukan pemeriksaan men!eluruh terhadap pengaruh C@b kepada pasien. $ebagai tambahan, dilakukan kun"ungan singkat untuk mengetahui keamanan dan compliance dari C@b. engukuran terhadap efek Cgb dilakukan melalui : cara. Pertama- untuk mengukur perubahan kognitif pasien dengan 'l7heimer digunakan skala 'D'$-.og + Al:heimer;s .isease Assessment cale- !ogniti2e ubscale ,. 1edua- perubahan dalam akti&itas sehari-hari dan kehidupan sosial diukur dengan mempergunakan @C//( +3eriatric E2aluation by 8elati2e;s 8ating ,nstrument ,. $edangkan kema"uan pada kondisi klinis pasien diukur dengan .@(. +!linical 3lobal ,mpression of !hange,. 1asil-hasil !ang diperoleh kemudian dianalisis secara keseluruhan tanpa membedakan terlebih dahulu pasien ke dalam sub-grup 'l7heimer atau dimensia, karena desain studi !ang dipergunakan memerlukan "umlah sampel minimal :?? pasien. Balaupun demikian, karena sebagian besar pasien +%?D, tern!ata termasuk sub-grup 'l7heimer, dilakukan analisis tambahan terhadap data-data dari sub-grup itu sendiri. Dari :5% orang pasien !ang diperoleh pada awal studi, seban!ak 18 orang dikeluarkan +eksklusi, karena tidak memiliki data dasar +1; orang, atau karena memiliki kelainan-kelainan tambahan lainn!a +diabetes melitus dan kelainan mood,. Dari :?A pasien !ang mengikuti studi ini, 522 pasien +%>D dari grup plasebo dan %:D dari grup kontrol, mencapai pengobatan sampai minggu ke-5> +> bulan,, sedangkan >; pasien lainn!a +:5/1;2 grup plasebo dan ::/1;; grup kontrol, drop*out sebelum mencapai minggu ke-5>. 3erdasarkan hasil analisis, secara keseluruhan pasien-pasien pada grup plasebo menun"ukkan perburukan !ang bermakna secara statistik dalam semua cara penilaian. $edangkan grup !ang menerima C@b memperlihatkan perbaikan pada penilaian kognitif dan penilaian akti&itas serta kehidupan sosial sehari-hari. erbedaan terapi ratarata C@b antara 1,: dan ?,5 secara berturut-turut pada penilaian 'D'$-.og +p=?,?2, dan @C//( +p=?,??%,. $eban!ak 5>D pasien dalam grup !ang menerima C@b menun"ukkan peningkatan 2 angka pada skala 'D'$-.og dibandingkan dengan 1%D pasien dalam grup plasebo. $edangkan :?D pasien grup C@b menun"ukkan perbaikan nilai @C//( dan 1%D menun"ukkan perburukan dibandingkan dengan perburukan nilai @C//( sebesar :%D dan han!a 5;D !ang menampakkan perbaikan dalam grup plasebo. -idak ada perbedaan !ang bermakna antara kedua grup dalam hal keamanan +safety,. 1asil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa pemberian ekstrak @inkgo 3iloba menghasilkan efek !ang positif pada pasien-pasien dengan kelainan dimensia, sehingga dapat dipertimbangkan pemberian ekstrak khusus @inkgo 3iloba ini +C@bL, sebagai terapi ad"u&an atau terapi alternatif dari preparat antikolinesterase. Balaupun demikian, masih diperlukan penelitian lan"utan !ang dapat menentukan hubungan dosis-respons dari C@b.

'nstabilitas >eurokardio3askular, Episode 1ipotensi, dan Lesi M"' pada Demensia >eurodegenerati
)allard 2, .?)rien J, dkk Ann 0 < Acad ci 2000 Apr#(0$'++2*% $ekelompok peneliti !ang berasal dari usat enelitian Bolfson, (nstitut bagi #esehatan )an"ut Gsia, /umah $akit Gmum Eewcastle, melakukan penelitian terhadap hubungan antara hipersensiti&itas sinus karotis dan hipotensi ortostatik dengan memburukn!a hiperintensitas */( scan. enelitian dilakukan terhadap :? pasien dengan demensia neurodegeneratif +1% demensia dengan badan )ew!, 1: dengan pen!akit 'l7heimer, !ang telah men"alani pemeriksaan rinci hipotensi ortostatik dan hipersensiti&itas sinus karotis pada saat berdiri serta kepala diangkat. *ereka "uga men"alani */( scan pada ?,1 -esla. ada ukuran ini, hipersensiti&itas diukur berdasarkan skala !ang distandarisasi. 'dan!a penurunan tekanan darah 9 :? mm1g saat pemi"atan sinus karotis atau saat berdiri aktif menun"ukkan hubungan !ang signifikan dengan memburukn!a hiperintensitas */( pada substansia alba +rasio odds 1?,?, A;DI inter&al kon&idens 1,8-;;,%, dan pada ganglia basalis +rasio odds 11.?, A;DI inter&al kon&idens 1.5-AA.;,. -etapi, tidak pada area peri&entrikular +rasio odds 1.2, A;DI inter&al kon&idens ?.:-1.8,. asien dengan hipersensiti&itas sinus karotis bentuk cardio*inhibitory dengan penurunan tekanan darah terbesar paling berisiko mengalami perburukan ini. enelitian lebih lan"ut diperlukan untuk men!elidiki kausalitas untuk menentukan apakah hipersensiti&itas sinus karotis atau hipotensi ortostatik merupakan predisposisi perburukan hiperintensitas */( dan percepatan penurunan fungsi kognitif.

Anda mungkin juga menyukai