Anda di halaman 1dari 67

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

EDITORIAL
Salam hangat dari Dewan Redaksi Seluruh komponen Dewan Redaksi Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes memanjatkan rasa syukur kehadirat Yang Maha Kuasa, karena atas kemurahan-Nyalah selama ini kami dapat melaksanakan misi publikasi ilmiah dengan lancar. Dalam volume pertama publikasi yaitu selama kurun waktu tahun 2010, telah dilakukan enam kali publikasi terdiri atas empat kali publikasi rutin (nomor 1 sampai dengan 4) dan dua kali publikasi khusus yaitu dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Internasional dan Hari Kesehatan Nasional. Keenam nomor publikasi tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar, kendati masih terdapat banyak kekurangan. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan hasil-hasil penelitian rekan-rekan profesi kesehatan dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Nganjuk, Kediri, Surabaya, Bangkalan dan Bandung. Publikasi kali ini adalah mengawali Volume II yang direncanakan akan berlangsung selama tahun 2011. Artikel-artikel yang ditampilkan merupakan hasil penelitian dalam bidang kesehatan lingkungan, kesehatan masyarakat, kesehatan anak, kesehatan reproduksi, kebidanan, serta pendidikan dalam bidang kesehatan. Patut menjadi kebanggaan kita bersama bahwa pada publikasi ke tujuh ini, telah hadir sebuah laporan penelitian kualitatif, yang selama ini belum pernah ditampilkan dalam jurnal ini. Penelitian tersebut merupakan karya rekan-rekan kita dari FKIK UNSOED Purwokerto, yang kebetulan merupakan rekanrekan pendatang baru. Selain itu juga ditampilkan laporan-laporan penelitian kuantitatif dari Madiun, Yogyakarta, Bangkalan, Surabaya, dan Kediri. Seperti editorial-editorial terdahulu, kami senantiasa mengajak Para Pembaca untuk mengunjungi jurnal ini dalam versi online di www.suaraforikes.webs.com atau www.suaraforikes.page.tl. Selanjutnya kami ucapkan terimakasih kepada seluruh Pembaca dan selamat bersua pada publikasi berikutnya pada bulan April 2011. Redaksi

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

DAFTAR ISI
PEMANFAATAN CANGKANG BEKICOT DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR HASIL PEWARNAAN INDUSTRI TEKSTIL Sri Poerwati DAMPAK TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH WINONGO TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP Lilis Prihastini HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH IBU DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK TODDLER (Di Ngentak Sumberdadi Mlati Sleman Yogyakarta) Dwi Fitriyanti, Induniasih, Ida Nursanti, Agus Sarwo Prayogi HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BAYI TENTANG REAKSI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DPT/HB COMBO DENGAN KECEMASAN IBU SEBELUM MELAKSANAKAN IMUNISASI DI POLINDES DESA KARANGREJO WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGASEM KEDIRI Sumy Dwi Antono, Triatmi Andri Yanuarini, Dian Novitasari PENGARUH FAKTOR RESIKO TERHADAP PERDARAHAN IBU POST PARTUM DI RS SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN Badriyah, Sulastri, Sutio Rahardjo PERMASALAHAN MAHASISWA PADA PENEMPATAN PERTAMA KALI DI STASE KEPERAWATAN ANAK Haryatiningsih Purwandari, Wastu Adi Mulyono PRAKTIK NERS 1-6

7-15

16-25

26-31

32-36

37-43

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN GIZI DENGAN TUMBUH KEMBANG ANAK USIA 5-6 TAHUN Temu Budiarti, P.H.Wahjurini, Fifi Suryawati GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENOPAUSE TENTANG POTENSI SEKSUAL (Di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya) Rijanto, Ria Rizki Astalina HUBUNGAN ANTARA MOBILISASI DINI DAN PENGELUARAN LOCHEA IBU NIFAS Dwi Purwanti dan Riska Dwi Kristanti GAMBARAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH KDPK Dwi Purwanti, Sitti Rahayuningsih

44-50

51-56

57-62

63-65

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

PEMANFAATAN CANGKANG BEKICOT DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR HASIL PEWARNAAN INDUSTRI TEKSTIL Sri Poerwati * ABSTRAK Penelitian ini hendak mengetahui kemampuan cangkang bekicot dalam menghilangkan warna limbah cair pewarnaan industri tekstil dan menganalisis pengaruh jenis dan waktu perendaman cangkang bekicot dengan dan tanpa pengadukan, jenis cangkang dan aliran terhadap BOD, COD, Crom, Phenol, TSS, pH limbah cair hasill pewarnaan industri tekstil. Penelitian eksperimen ini menggunakan sampel limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil simulasi satu warna kadar 20 mg/liter zat warna. Pengumpulan data dengan perendaman limbah cair dengan cangkang bekicot alami dan aktif selama 24, 48, 72 jam dengan pengadukan dan tanpa pengadukan, dialirkan pada cangkang bekicot alami dan aktif kemudian dibandingkan dengan baku mutu KEPMENLH No.Kep-51/MENLH/10/1995 dan menguji hipotesis dengan uji Anova. Diperoleh simpulan bahwa cangkang bekicot mampu 88,05% menghilangkan warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil. Ada pengaruh semua perlakuan terhadap BOD, COD, Phenol, Crom dan TSS tetapi tidak ada pengaruh jenis cangkang bekicot aktif direndam 24 jam dengan pengadukan terhadap Crom, cangkang bekicot aktif direndam 48 jam tanpa pengadukan dan cangkang bekicot alami direndam 72 jam tanpa pengadukan terhadap TSS, jenis dan aliran terhadap BOD,COD, cangkang bekicot alami dialirkan terhadap TSS serta tidak ada pengaruh semua perlakuan terhadap pH limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil. Kata kunci: Cangkang bekicot, warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil *= Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Kampus Madiun PENDAHULUAN Latar Belakang Pertumbuhan industri di Indonesia akan meningkatkan beban pencemar pada lingkungan. Sektor industri telah mengakibatkan tingginya beban pencemar karena limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik dan karena penggunaan bahan pencemar untuk proses maupun sebagai bahan baku tidak terkendali. Bahan pencemar berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan oleh industri umumnya adalah logam berat, sianida, pestisida, cat dan zat warna, minyak, zat pelarut dan kimia berbahaya lainnya (Kantor MenLH.1997:75). Salah satu industri yang menggunakan zat warna sebagai bahan proses produksi adalah industri tekstil. Sumber pencemar dari proses deying, printing dan finishing tekstil, sedang pencemaran utama berasal dari logam berat (terutam As,Cd,Cr,Pb,Cu,Zn), Hidrocarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing), zat warna dan pelarut organik, Tensioactive (surfactant) (PP RI No. 85 Tahun 1999). Pengolahan limbah cair industri tekstil dalam proses koagulasi ada yang menggunakan kapur karena akan bereaksi dengan air menjadi CaOH mengikat unsur dan senyawa warna sehingga senyawa pembentuk warna akan pecah satu sama lain akibatnya warna akan

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

menjadi pudar (kepekatan warna menjadi turun bahkan pada konsentrasi warna yang rendah dapat hilang) (Sundari Siti, Sri Rahmawati.2004:43) Bekicot adalah binatang bertubuh lunak dilindungi rangka luar (cangkang) yang kuat dan keras karena mengandung Kalsium karbonat (http://www.suarapembaharuan.com/ News/2004/10/31/Hobi/hobi01.htm.31 Oktober 2004). Pembuangan cangkang bekicot harus menggunakan tempat khusus dengan menimbun atau dibuang pada pembuangan sampah yang tertutup. Bau dan serangga yang segera datang akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan estetika masyarakat (http://warintek.progessio.or.id/23/01/2006). Rumusan Masalah Rumusan masalah penelitian adalah: Apakah cangkang bekicot mempunyai kemampuan dalam menghilangkan warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil ? Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui kemampuan cangkang bekicot dalam menghilangkan warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil 2. Untuk menganalisis jenis cangkang bekicot dan waktu perendaman dengan dan tanpa pengadukan terhadap kualitas air warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil 3. Untuk menganalisis pengaruh jenis cangkang bekicot dan aliran terhadap kualitas air warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil BAHAN DAN METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen berupa The Post Test-Only Control group Design. Limbah cair industri tekstil sebagai populasi dan limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil sebagai sampel. Variabel independen penelitian adalah cangkang bekicot Achatina fulica sp. Variabel dependen adalah penghilangan warna yaitu ada dan tidak warna limbah cair, kualitas limbah: penurunan kandungan limbah berdasarkan KEPMENLH No.Kep51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Analisis data yang digunakan untuk menentukan tingkat kejenuhan dengan persamaan K(%) = C/L x 100% (Supriyono V, H.W.Trimawan.P Tuhu, 2005:16). Untuk kualitas air limbah dengan pemeriksaan lab.( BOD, COD, TSS, Phenol, Crom serta pH). Uji Anova digunakan, dan jika (0,00) < (0,05) berarti ada pengaruh. Prosedur penelitian: menyiapkan bak percobaan 6,5 cm, tinggi 13 cm (luas penampang 33,17 cm2 ) debit 8 lt/dt. Cangkang bekicot Achatina fulica sp (3 mm) diaktifkan dan alami dengan berat 500 gram. Cangkang alami dan aktif dialiri limbah cair industri tekstil simulasi satu warna dengan dosis 20 mg/liter jenis Reumasol Red RB 133% (Riyanto Didik,1997) secara kontinyu tanpa pengadukan. Merendam limbah cair industri tekstil pada cangkang bekicot alami dan aktif dengan dan tanpa pengadukan selama 24, 48,72 jam dilakukan dengan 14 perlakuan dengan replikasi tiap perlakuan 3 kali. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1. Hasil uji lab, cangkang bekicot jenis alami mempunyai komposisi 0,23% protein, 58,8% kalsium, 0,79% fosfor, sedang jenis aktif 0,20% protein, 56,2% kalsium dan 0,75% fosfor.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 2

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Gambar 1. Cangkang Bekicot Jenis Achatina fulica sp

Gambar 2. Jenis Cangkang Kiri (gelap), Alami Tengah Tanpa Cangkang (control), Kanan (putih) Aktif 2. Kemampuan cangkang bekicot dalam menghilangkan warna limbah cair industri tekstil, hasil tertinggi 88,05% dengan perubahan warna sebesar 165,10 Unit setelah direndam cangkang bekicot alami 72 jam dengan pengadukan.Tingkat kejenuhan jenis cangkang alami sebesar 0,96% dan cangkang aktif 0,91%.

Gambar 3. Perubahan warna sebesar 165,10 Unit setelah direndam cangkang bekicot alami 72 jam dengan pengadukan sebesar 88,05% (Kiri = cangkang bekicot alami, kanan = cangkang bekicot aktif) 3. Jenis cangkang bekicot dan waktu perendaman tanpa pengadukan ada pengaruh terhadap BOD, COD , Phenol, Crom karena (0,00) < sedang terhadap TSS ada pengaruhnya kecuali untuk cangkang alami direndam 72 jam dan cangkang aktif direndam 48 jam tidak berpengaruh (1,00) > . pH limbah cair industri tekstil tidak berpengaruh dengan perendaman cangkang bekicot alami maupun aktif tanpa pengadukan. Jenis cangkang bekicot dan waktu perendaman dengan pengadukan berpengaruh terhadap BOD, Phenol, TSS, COD,Crom kecuali COD dan Crom untuk cangkang aktif dengan pengadukan 24 jam (1,00) > dan pH untuk semua perlakuan.

Gambar 4 . Jenis cangkang bekicot dan waktu perendaman dengan pengadukan


Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 3

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Gambar 5. Perbedaan warna setelah perlakuan dan tanpa perlakuan (dari kiri ke kanan) A. dialirkan cangkang bekicot aktif B. perendaman cangkang bekicot aktif selama 72 jam tanpa pengadukan C. perendaman cangkang bekicot aktif selama 72 jam dengan pengadukan D. tanpa perlakuan (control) E. perendaman cangkang bekicot alami selama 72 jam tanpa pengadukan F. perendaman cangkang bekicot alamiselama 72 jam tanpa pengadukan G. dialirkan cangkang bekicot alami 4. Jenis cangkang bekicot dan aliran terhadap kualitas limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil tidak ada pengaruh pada BOD, COD, pH, TSS cangkang alami sedang untuk Phenol, Crom dan TSS cangkang alami berpengaruh.

Gambar 6 : Jenis cangkang bekicot dan perlakuan aliran Pembahasan Cangkang bekicot yang ditumbuk akan meningkatkan kandungan kalsium, 25% menjadi 31,54% mempunyai kemampuan untuk menghilangkan warna baik alami maupun aktif (P Roni, Asiani B.2002). Penggunaan karbon aktif butiran dipakai untuk memisahkan kontaminan air buangan seperti warna secara langsung pada proses kimia fisika. Ukuran partikel
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 4

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

berpengaruh terhadap kecepatan adsorpsi, sedang luas permukaan total mempengaruhi kapasitas adsoprsi total yang meningkatkan efektifitas karbon ktif dalam menyelesaikan senyawa dalam air buangan (Gumbolo Hadi Santoso, 2000). Persentase kejenuhan hanya bisa menghilangkan warna sampai 4,18%, agar memperoleh prosentase kejenuhan yang besar maka perlu penambahan berat cangkang. Setelah direndam cangkang bekicot alami 72 jam dengan pengadukan menghilangkan warna limbah cair industri tekstil sampai 88,05%. Penggunan bak koagulasi CaO dengan pengadukan tanpa ferro sulfat dan polimer dapat merubah warna menjadi jernih. Jadi air limbah direndam cangkang bekicot kemudian diaduk dengan mixer, akan bereaksi dengan senyawa pembentuk warna akan pecah satu sama lain akibatnya warna akan pudar (kepekatan warna menjadi turun)(Sundari Siti dan Rahmawati Sri ,2004). Cangkang bekicot berpengaruh terhadap kualitas limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil pada parameter BOD, Phenol, COD, Crom,TSS kecuali TSS rendam cangkang alami tanpa pengadukan selama 72 jam dan aktif selama 48 jam, COD dan Crom rendam cangkang aktif dengan pengadukan selama 24 jam, TSS dialirkan pada cangkang alami. Kualitas limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil pada parameter pH semua perlakuan, BOD dan COD dialirkan tidak berpengaruh dengan cangkang bekicot. Sehingga parameter yang berpengaruh dapat menggunkan cangkang bekicot sebagai bahan peningkatan kualitas air limbah hasil pewarnaan industri tekstil ( KEPMENLH No.Kep-51/MENLH/10/1995). SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Cangkang bekicot Achatina fulica sp mampu menghilangkan warna sampai 88,05% melalui cangkang bekicot alami dengan pengadukan selama 72 jam limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil 2. Ada pengaruh jenis cangkang bekicot dan waktu perendaman tanpa pengadukan terhadap kualitas air warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil untuk parameter BOD (kenaikan 147,42%), COD (kenaikan 247,40%), Phenol (Penurunan 2,06%), TSS (penurunan 20%), tidak ada pengaruh jenis cangkang bekicot aktif dan waktu perendaman t48 jam dan cangkang bekicot alami dan waktu perendaman 72 jam tanpa pengadukan terhadap TSS. Ada pengaruh jenis cangkang bekicot dan waktu perendaman dengan pengadukan terhadap kualitas air warna limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil untuk parameter BOD (kenaikan 150,65%), COD (kenaikan 296%), Phenol (Penurunan 5,50%), TSS (penurunan 33,33%), tidak ada pengaruh jenis cangkang bekicot aktif dan waktu perendaman dengan pengadukan selama 24 jam terhadap Crom. 3. Jenis cangkang bekicot tidak ada pengaruh dan aliran terhadap BOD,COD, TSS jenis cangkang alami tetapi ada pengaruh pada Phenol (penurunan 2,06%), Crom (penurunan 4,76%), TSS (penurunan 33,33%) limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil. Tidak ada pengaruh jenis cangkang bekicot pada semua perlakuan terhadap pH limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil. Kualitas limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil masih dibawah baku mutu berdasarkan KEPMENLH No.Kep-51/MENLH/10/1995.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Saran 1. Bagi masyarakat dan pengusaha bekicot atau budidaya bekicot, agar tidak membuang limbah cangkang bekicot yang dapat mencemari lingkungan tetapi limbah cangkang bekicot masih dapat dimanfaatkan lagi (reuse) sebagai bahan pengolahan limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil 2. Bagi pengusaha industri tekstil, pemanfaatan cangkang bekicot dalam pengolahan limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil akan lebih murah, mudah dan dapat meminimalisasi penggunaan bahan pencemar berbahaya dan beracun. 3. Sebagai dasar penelitian selajutnya : perlu penambahan berat cangkang bekicot untuk memperoleh prosentase kejenuhan yang lebih besar dalam penghilangan warna, perlu penambahan bak, waktu dalam perendaman cangkang bekicot dengan dan tanpa pengadukan yang diharapkan dapat menghilangkan warna dan meningkatkan kualitas limbah cair hasil pewarnaan industri tekstil. Pada perlakuan perendaman dengan pengadukan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan pengadukan cepat. DAFTAR PUSTAKA Anonim.2000.Paket Terapan Produksi Bersih pada Industri Tekstil. http:forlink.dml.or.id/ pterapb/textile/1216.htm.12 Januari 2006 BPPT.1999.Teknologi Pengolahan Air.Jakarta:BPPT Budi Heieronymus Santoso.2005.Bekicot Lezat dan Kaya Protein. http://www.kompas.com/kesehatan/news/senior/gizi/0206/05/gizi.htm.05 Juni 2005 Gumbolo Hadi Susanto.2000.Diktat Kuliah Teknik Lingkungan.Yogyakarta:Jurusan Teknik Kimia,Fakultas Teknologi Industri UII Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.KEP-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri MenLH.1997.Ringkasan Agenda 21 Jakarta Peraturan Pemerintah RI Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan atas PP no.18 tahun 1999 tetang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun P.Roni dan Asiani.2002.Budi Daya & Prospek Bisnis Bekicot. Surabaya : Penebar Swadaya Rans.2006.Bekicot-warintek-Merintis Bisnis.http://warintek.progrssio.or.id/23/01/2006 Riyanto Didik.1997.Proses Batik.Batik Tulis,Batik Cap.Bating Printing.Solo:Aneka Santoso Singgih.2000.Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik.Jakarta:Gramedia Supriyono V,HW Trimawan,P Tuhu.2005.Pemanfaatan Limbah Cangkang Udang (Khitin) Dengan Bahan Aktif Khitosan sebagai Insektisida Alternatif Dalam Membunuh Larva Nyamuk Aedes aegypti.Surabaya:Poltekkes Surabaya Sugiharto.1987.Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah.Jakarta:Universitas Indonesia Sundari Siti,Rahmawati Sri.2004.Laporan Magang di PT Kusumahadi Santosa Surakarta.Prodi Kesling Madiun Susantio Djulianto.2004.Konkologi, Hobi Mengoleksi Cangkang Moluska. http://www.suarapembaharuan.com/News/2004/10/31/Hobi/hobi01.htm.31 Oktober 2004

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

DAMPAK TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH WINONGO TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP Lilis Prihastini * ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air sumur dan pengaruh jarak TPA Winongo terhadap kualitas air sumur (DO, BOD, COD, kesadahan, Mn, NO2, Fe, Cd, dan Pb) dan mengetahui kepadatan lalat dan pengaruh jarak TPA Winongo terhadap kepadatan lalat. Penelitian observasional ini dilakukan lokasi di Madiun. Data penelitian ini berupa hasil pemeriksaan kualitas air sumur untuk parameter DO, BOD, COD, kesadahan, Mn, NO2 , Fe, Cd, dan Pb serta hasil pengukuran kepadatan lalat. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, pengukuran di lapangan, pengambilan sampel air dengan metode grap sampling dan pemeriksaan kualitas air di laboratorium. Analisis data menggunakan uji statistik regresi linier sederhana. Data hasil pemeriksaan dibandingkan dengan baku mutu. Setelah dilakukan analisis, disimpulkan bahwa kualitas air sumur di Dusun Gembel ditinjau dari parameter DO, BOD, COD, Mn dan NO2, melampaui baku mutu yang disyaratkan menurut PP No.82 tahun 2001 untuk air Kelas I, sedang untuk parameter kesadahan, Fe, Cd dan Pb masih memenuhi syarat baku mutu. Menurut Petunjuk teknis dari Dit.Jen PPM dan PLP (1991) kepadatan lalat di Dusun Gembel termasuk kategori sangat tinggi yaitu rata-rata 33 ekor lalat per grill. Dari hasil uji korelasi antara jarak TPA Winongo dengan kualitas air sumur untuk parameter DO, BOD dan COD terdapat hubungan yang kuat dan pada taraf signifikan 0,05 diperoleh nilai Sig (2-tailed) untuk ketiga parameter lebih kecil dari , yang berarti ada hubungan yang signifikan antara jarak TPA dengan kadar DO, BOD dan COD air sumur, sedangkan untuk parameter NO2, kesadahan, Mn, Fe, Cd dan Pb tidak ada hubungan. Dari hasil uji regresi diperoleh nilai R2 untuk DO (0,62), BOD (0,595) dan untuk COD (0,574), yang berarti kadar DO air sumur 62 % dipengaruhi oleh jarak TPA dengan sumur, sedangkan kadar BOD dan COD masing-masing 59,5 % dan 57,4 % dipengaruhi oleh faktor jarak. Hasil Uji korelasi antara jarak TPA dengan kepadatan lalat diperoleh nilai r (-0,979) yang menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat dan pada taraf 0,05 diperoleh nilai Sig (2-tailed) lebih kecil dari sehingga hipotesa diterima. Dari hasil uji regresi diperoleh nilai R2 0,958 yang berarti pengaruh jarak terhadap kepadatan lalat di Dusun Gembel 95,8%. Kata kunci : Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sampah, kualitas lingkungan hidup * = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Kampus Madiun PENDAHULUAN Latar Belakang Pembuangan akhir sampah merupakan tahap terakhir dalam pengelolaan sampah. Menurut Depkes RI (1987:21), bahwa TPA sampah harus direncanakan dengan baik karena bila tidak dapat mengakibatkan: tempat berkembang dan sarang dari serangga dan tikus, sumber pengotoran tanah, air permukaan/air tanah maupun udara dan menjadi sumber dan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 7

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

tempat hidup dari kuman-kuman yang membahayakan kesehatan. Menurut Azrul Azwar (1983:58), syarat yang harus dipenuhi dalam membangun tempat pembuangan sampah adalah tempat tersebut dibangun tidak dekat dengan sumber air minum atau sumber lainnya yang dipergunakan oleh manusia, tidak pada tempat yang sering terkena banjir dan jauh dari tempat tinggal manusia, jaraknya sekitar 2 km dari perumahan penduduk. Pada TPA sebagian besar sampah akan mengalami dekomposisi dan sebagaian sulit atau bahkan tidak dapat terdekomposisi. Sampah yang tidak terdekomposisi akan menyebabkan pencemaran pada tanah, sedang sampah yang terdekomposisi akan menghasilkan gas dan cairan yang dikenal dengan istilah leachate (air lindi). Gas hasil dekomposisi dapat menyebabkan bau dan gangguan pernafasan bagi penduduk sekitar TPA, sedang air lindi dengan berbagai pencemar yang dikandungnya, akan mengalir meninggalkan timbunan sampah. Mengalirnya air lindi dapat menyebabkan pencemaran pada air permukaan maupun air tanah di sekitar TPA sampah.Air yang telah tercemar bila dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari akan menimbulkan gangguan, Selain itu sampah merupakan tempat yang disenangi oleh lalat untuk berkembangbiak. Menurut Ditjem PPM dan PLP (1991:3), bila perputaran dalam memproduksi telur (gonotropic cycle) 10 hari dan tiap ekor betina bertelur 120 butir, setelah 5 bulan akan menghasilkan 5.592.720 ekor lalat. Jarak terbang lalat sangat tergantung pada adanya makanan yang tersedia, rata-rata 6 9 km, kadang-kadang dapat mencapai 19 20 km dari tempat berbiak. Sampah di Kota Madiun dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Madiun. Sekarang pembuangan akhir sampah Kota Madiun adalah TPA Winongo di Kelurahan Winongo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun. Luas TPA tersebut 6,4 Ha dan yang efektif untuk TPA Sampah 5 Ha. TPA ini direncanakan dapat menampung sampah selama 7 tahun, mulai tahun 1999 hingga tahun 2006. Metode pembuangan akhir sampah di TPA Winongo menggunakan sistem open dumping, hasil dekomposisi dari sampah yang berupa air lindi dibuang langsung tanpa pengolahan, hal ini dapat menimbulkan pencemaran pada air tanah maupun air permukaan di sekitar TPA. Jenis sampah yang dibuang ke TPA Winongo sebagian besar adalah sampah basah, yang baik untuk perkembangbiakan lalat. Dusun Gembel (RT 31 dan RT 32) Kelurahan Manguharjo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun merupakan dusun terdekat dengan TPA Winongo dengan jarak lebih kurang 70 meter. Masyarakat di sini menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari pengamatan fauna yang terlihat banyak adalah lalat. Berdasarkan wawancara dengan penduduk bahwa sebelum ada TPA jumlah lalat yang ada tidak sebanyak saat ini, dan masyarakat merasa tidak nyaman/terganggu dengan banyaknya lalat. Berdasar survey awal, tingkat kepadatan lalat di TPA Winongo sangat tinggi yaitu 63 ekor lalat per blok grill. Kandungan air lindi TPA Winongo untuk parameter DO adalah 0 mg/lt, BOD 3509 mg/lt dan COD 6188 mg/lt, sedang Cd 0,277 mg/lt dan Pb 0,180 mg/lt., parameter ini merupakan logam berat yang bersifat akumulatif dan karsinogenik sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Untuk kesadahan 2006 mg/lt , Mn 1,05 mg/lt, NO2 3,18 mg/lt dan Fe 4,92 mg/lt. Rumusan Masalah Rumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana dampak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winongo terhadap kualitas lingkungan hidup?
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 8

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tujuan Penelitian 1. Mengukur kualitas air sumur penduduk Dusun Gembel Kelurahan Manguharjo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun untuk parameter DO, BOD, COD, Cd, Pb, kesadahan, Mn, NO2 dan Fe. 2. Menganalisis pengaruh jarak TPA sampah Winongo terhadap kualitas air sumur penduduk Dusun Gembel Kelurahan Manguharjo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun untuk parameter DO, BOD, COD, Cd, Pb, kesadahan, Mn, NO2 dan Fe. 3. Mengukur kepadatan lalat di Dusun Gembel Kelurahan Manguharjo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun. 4. Menganalisis adanya pengaruh jarak TPA sampah Winongo terhadap kepadatan lalat di Dusun Gembel Kelurahan Manguharjo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Dusun Gembel (RT 31 dan RT 32) Kelurahan Manguharjo Kecamatan Manguharjo Kota Madiun. Dusun Gembel merupakan permukiman terdekat dengan TPA Winongo, yaitu sekitar 70 meter. Penelitian dilaksanakan selama 10 (sepuluh ) bulan yang dimulai pada bulan Oktober 2005 sampai dengan Juli 2006. Jenis penelitian ini adalah observasional, dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah rumah penduduk yang memiliki sumur. Sampel penelitian adalah 10 rumah yang ditentukan secara purposive sampling, dengan kriteria rumah: 1. Mempunyai sumur yang airnya masih digunakan untuk keperluan sehari-hari 2. Jarak sumur dari TPA sampah kurang lebih 75 m, 100m, 125m, 150 m, 175 m, 200 m, 225 m, 250 m, 275 m, 300 m. 3. Bila terdapat lebih dari satu rumah yang memenuhi kriteria 1 dan 2, maka hanya diambil salah satu sebagai sampel. Variabel bebas adalah jarak TPA Winongo dengan rumah penduduk, sedang variabel terikat adalah kualitas air sumur meliputi parameter DO, BOD, COD, Cd, Pb, kesadahan, Mn, NO2 dan Fe serta kepadatan lalat di Dusun Gembel Kelurahan Manguharjo. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, pengukuran kepadatan lalat, pengambilan contoh air sumur dan pemeriksaan laboratorium. Pengambilan contoh air dengan metode Grap Sampling. Semua data hasil pemeriksaan laboratorium yaitu DO, BOD, COD, Cd, Pb, kesadahan, Mn, NO2 dan Fe pada air sumur penduduk dan hasil pengukuran kepadatan lalat disajikan dalam bentuk tabel. Untuk mengolah data digunakan program komputer dengan perangkat lunak SPSS for Windows versi 10. Untuk mengetahui kualitas air sumur, hasil pemeriksaan laboratorium dibandingkan dengan baku mutu. Untuk mengetahui pengaruh jarak TPA sampah Winongo terhadap kualitas air sumur penduduk di Dusun Gembel dan pengaruh jarak TPA terhadap kepadatan lalat digunakan analisis regresi linier sederhana. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil observasi di lahan penelitian disajikan sebagai berikut:
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 9

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Air Lindi TPA Winongo Kota Madiun Tahun 2006 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Parameter Temperatur pH DO BOD COD Kesadahan Mangan (Mn) Nitrit (NO2) Besi (Fe) Kadmium (Cd) Timbal (Pb) Satuan oC mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt Hasil Pemeriksaan 28 7,5 0,0 3509 6188 2066 1,05 3,18 4,92 0,277 0,180

Tabel 2. Hasil pemeriksaan kualitas air sumur di Dusun Gembel Tahun 2006 Jarak DO BOD COD Kesa Mn NO2 Fe sumur mg/lt mg/lt mg/lt dahan mg/lt mg/lt mg/lt dari TPA mg/lt 1. 75 3,5 13,9 59,4 276,6 0,416 0,204 0.527 2. 100 4,3 11,1 44,6 260,7 0,067 0,231 0.091 125 4,6 9,3 37,2 228,9 0,098 0,194 0.204 3. 4,5 10,2 44,6 250,7 0,112 0,319 0.172 4. 150 4,3 10,8 44,6 208,9 0,084 0,067 0.096 175 5. 6. 200 4,9 8,9 37,2 147,3 0,087 0,182 0.116 4,4 10,2 44,6 193,0 0,080 0,165 0.202 7. 225 4,6 9,5 37,2 222,9 0,079 0,148 0.109 8. 250 9. 275 4,9 9,2 37,2 173,1 0,082 0,172 0.204 10. 300 5,2 7,7 29,7 262,7 0,248 0,106 0.316 Rata-rata 4,5 10,1 41,6 222,5 0,135 0.179 0,204 No Cd mg/lt 0.000 0.001 0.000 0.000 0.002 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0,0004 Pb mg/lt 0,000 0,000 0,001 0,000 0,000 0,006 0,000 0,000 0,001 0,000 0,0003

Hubungan antara kualitas air sumur dengan jarak rumah dari TPA Winongo dapat digambarkan pada gambar berikut.
15 10 5 0 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 Jarak TPA dengan rumah BOD (mg/lt rona lingkungan awal th.1999. BOD (mg/lt) DO (mg/lt)

Gambar 1. Grafik Hubungan Antara Jarak TPA dengan Kadar DO dan BOD Air Sumur
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 10

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098
COD (mg/lt) Kesadahan (mg/lt)

300 200 100 0 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 Jarak TPA dengan rumah (m)

COD (mg/lt) rona lingk. Awal 1999

Gambar 2. Grafik Hubungan Antara Jarak TPA dengan Kadar COD dan Kesadahan
0.6 0.4 0.2 0 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 Mn (mg/lt) rona Jarak TPA dengan rumah (m) NO2(mg/lt) Fe (mg/lt) Mn (mg/lt)

Gambar 3. Grafik Hubungan Antara Jarak TPA dengan Kadar Mn, NO2 dan Fe Air Sumur
0.0025 0.002 0.0015 0.001 0.0005 0 -0.0005 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 Jarak TPA dengan rumah (m) Cd (mg/lt) Pb (mg/lt)

Gambar 4. Grafik Hubungan Antara Jarak TPA dengan kadar Cd dan Pb Air Sumur Tabel 3. Hasil Pengukuran Kepadatan Lalat di Dusun Gembel Tahun 2006 No. Jarak rumah dari TPA Winongo (m)
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 75 100 125 150 175 200 225 250 275 300 Rata-rata

Kepadatan Lalat (ekor /blok grill)


57 49 44 36 36 33 22 20 18 17 33

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

11

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Kepadatan Lalat (ekor/blok grill) 60 40 20 0

75

100

125

150

175

200

225

250

275

300

Jarak TPA dengan rumah (m)

Gambar 5. Grafik Hubungan Antara Jarak TPA dengan Kepadatan Lalat di Dusun Gembel Hasil uji korelasi jarak TPA dan DO diperoleh nilai r (+0,787) ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan nilai positif berarti semakin besar jarak TPA dari sumur kadar DOnya semakin besar. Pada taraf signifikan 5%, nilai Sig (2-tailed) adalah 0,007 < ( 0,05) berarti ada hubungan positif dan signifikan antara jarak TPA sampah dengan kadar DO air sumur. Hasil uji regresi diperoleh nilai t hitung (13,572) > t tabel (2,306), berarti ada pengaruh jarak TPA sampah terhadap kadar DO air sumur dan nilai R2 adalah 0,620 berarti kadar DO air sumur di Dusun Gembel 62 % dipengaruhi oleh jarak TPA dengan sumur, melalui persamaan regresi linier sederhana: y = 3,620 + 0,0048x. Hasil uji korelasi jarak TPA dan BOD diperoleh nilai r (-0,771) ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan nilai negatif berarti semakin besar jarak TPA dari sumur kadar BODnya semakin kecil. Pada taraf signifikan 5%, nilai Sig (2-tailed) adalah 0,009 < ( 0,05) yang berarti ada hubungan negatif dan bermakna antara jarak TPA sampah dengan kadar BOD air sumur. Hasil uji regresi diperoleh nilai t hitung (13,344) > t tabel (2,306), berarti ada pengaruh jarak TPA sampah terhadap kadar BOD air sumur dan nilai R2 adalah 0,595 berarti kadar BOD air sumur di Dusun Gembel 59,% dipengaruhi oleh jarak TPA dengan sumur, dengan persamaan regresi linier sederhana: y = 13,262 - 0,017x Dari hasil uji korelasi antara jarak TPA dan COD diperoleh nilai r (-0,758) ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan nilai negatif berarti semakin besar jarak TPA dari sumur kadar CODnya semakin kecil. Pada taraf signifikan 5%, nilai Sig (2-tailed) adalah 0,011 < ( 0,05) berarti ada hubungan negatif dan bermakna antara jarak TPA sampah dengan kadar COD air sumur Hasil uji regresi diperoleh nilai t hitung (11,616) > t tabel (2,306), berarti ada pengaruh jarak TPA sampah terhadap kadar COD air sumur di Dusun Gembel dan nilai R2 adalah 0,574 berarti kadar COD air sumur di Dusun Gembel 57,4% ditentukan oleh jarak TPA dengan sumur melalui persamaan regresi linier sederhana : y = 56,493 - 0,080x. Pada taraf signifikan 5%, untuk kesadahan diperoleh nilai Sig (2-tailed) adalah 0,208 > ( 0,05) berarti tidak ada hubungan antara jarak TPA sampah dengan kadar kesadahan air sumur. Untuk Mn diperoleh nilai Sig (2-tailed) adalah 0,464 > ( 0,05) berarti tidak ada hubungan antara jarak TPA sampah dengan kadar Mn air sumur. Untuk NO2 diperoleh nilai Sig (2-tailed) adalah 0,140 > ( 0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara jarak TPA sampah dengan kadar NO2 air sumur. Pada Fe diperoleh nilai Sig (2-tailed) adalah 0,573 > (0,05) berarti tidak ada hubungan antara jarak TPA sampah dengan kadar Fe air sumur. Untuk Cd diperoleh nilai Sig (2-tailed) adalah 0,773 > ( 0,05) berarti tidak ada hubungan antara jarak TPA sampah dengan kadar Cd air sumur. Untuk Pb diperoleh nilai Sig (2-tailed)
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 12

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

adalah 0,754 > ( 0,05) berarti tidak ada hubungan bermakna jarak TPA sampah dengan kadar Pb air sumur. Uji korelasi jarak TPA dengan kepadatan lalat menunjukkan nilai r (-0,979), berarti ada hubungan yang sangat kuat dan nilai negatif berarti semakin besar jarak TPA dari rumah penduduk kepadatan lalatnya semakin kecil. Pada taraf signifikan 5%, nilai Sig (2-tailed) adalah 0,000 < ( 0,05) yang berarti ada hubungan negatif dan bermakna antara jarak TPA sampah dengan kepadatan lalat. Hasil uji regresi menunjukkan nilai t hitung (25,019) > t tabel (2,306), berarti ada pengaruh jarak TPA sampah terhadap kepadatan lalat dan nilai R2 adalah 0,958 berarti kepadatan lalat di Dusun Gembel 95,8% dipengaruhi oleh jarak TPA dengan rumah penduduk, melalui persamaan regresi linier sederhana: y = 66,927 - 0,180x . Pembahasan Berdasarkan survei metode pembuangan akhir sampah dengan metode open dumping. Air lindi tidak dilakukan pengolahan, sebagian menggenang di sekitar sampah dan sebagian mengalir ke saluran drainase dan dibuang ke badan air. Berdasar pemeriksaan pada tanggal 15 Pebruari 2006 bahwa air lindi TPA Winongo mempunyai kadar BOD 3509 mg/lt. TPA Winongo mulai operasional sejak tahun 1999 dan sesuai rencana digunakan sampai tahun 2006, yaitu selama 7 tahun, dengan demikian sesuai rencana, tahun ini merupakan tahun terakhir operasional TPA Winongo. Tanpa adanya pengolahan air lindi, dalam 7 tahun dapat mendukung terjadinya pencemaran pada air tanah/ air sumur di sekitar TPA Winongo. Jarak Dusun Gembel dengan TPA Winongo adalah 70 m. Menurut Egmond G Wagner (1959 :116), secara umum penyebaran pencemar kimia pada tanah secara horizontal pada jarak 25 dari sumber akan melebar 9 meter dan menyempit pada jarak 95 meter. Dengan demikian jarak Dusun Gembel masih masuk dalam pola penyebaran bahan pencemar kimia secara maksimum dalam tanah. Sampah yang dibuang di TPA Winongo sebagian besar adalah sampah basah, dimana sampah ini banyak mengandung zat-zat organik, sehingga pencemaran pada air tanah maupun air permukaan sebagian besar disebabkan oleh adanya bahan-bahan organik dari sampah. Bahan organik secara alamiah akan terdekomposisi, yang memerlukan oksigen. Semakin tinggi kandungan bahan organik dalam air, semakin tinggi oksigen yang diperlukan untuk proses dekomposisi, ini dapat menyebabkan turunnya nilai DO pada air tanah dan meningkatnya nilai BOD dan COD pada air tanah dan air permukaan. Uji korelasi antara jarak TPA dengan kadar DO, BOD dan COD air sumur di Dusun Gembel memperoleh nilai r untuk DO (+ 0,787), BOD (- 0,771), COD (-0,758), ketiganya masuk dalam kategori hubungan yang kuat, dan pada taraf signifikan 0,05 untuk ketiga parameter mempunyai nilai Sig (2-tailed) yang lebih kecil dari , yaitu untuk DO 0,007; untuk BOD 0,009 dan COD 0,011; berarti ada hubungan yang bermakna antara jarak TPA sampah dengan kandungan DO, BOD dan COD air sumur di Dusun Gembel. Uji regresi antara jarak TPA dengan kadar DO, BOD dan COD air sumur memperoleh nilai t hitung untuk DO (13,572), BOD (13,344) dan COD (11,616), nilai ini lebih besar dari nilai t tabel (2,306) berarti ada pengaruh jarak TPA dengan kadar DO, BOD dan COD air sumur di Dusun Gembel dan diperoleh nilai R2 untuk DO adalah 0,620 berarti kadar DO air sumur di Dusun Gembel 62% dipengaruhi oleh jarak TPA Winongo dengan sumur, nilai R2 untuk BOD adalah 0,595 berarti kadar BOD air sumur di Dusun Gembel 59,5% dipengaruhi jarak TPA dengan sumur, dan nilai

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

13

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

R2 untuk COD adalah 0,574 berarti kadar COD air sumur di Dusun Gembel adalah 57,4% dipengaruhi oleh jarak TPA dengan sumur. Rata-rata kepadatan lalat di Dusun Gembel 33 ekor per blok grill. Sesuai dengan Petunjuk Teknis dari Ditjen PPM dan PLP Dep.Kes (1991:9) bahwa kepadatan lalat 21 ekor per blok grill ke atas : populasinya sangat padat dan perlu dilakukan pengamanan terhadap tempat-tempat berbiaknya lalat dan tindakan pengendalian lalat, ini termasuk kategori kepadatan lalat sangat tinggi/sangat padat. Lalat terbang sangat tergantung pada adanya makanan yang tersedia, rata-rata 6 9 km, kadang-kadang dapat mencapai 19-20 km. Lalat tertarik pada makanan yang dimakan manusia, seperti gula, susu dan makanan lainnya. Dusun Gembel terletak 70 m dari TPA Winongo, jarak ini merupakan jarak terbang lalat dan didukung dengan arah angin ke selatan dengan kecepatan rata-rata 1,94 m/dt akan mempercepat terbang lalat, hal ini akan meningkatkan kepadatan lalat di Dusun Gembel. Berdasarkan uji korelasi, antara jarak TPA dengan kepadatan lalat diperoleh nilai r (0,979) berarti mempunyai hubungan yang sangat kuat. Karena nilai r negatif (-) dapat disimpulkan bahwa semakin jauh jarak rumah dari TPA maka semakin rendah kepadatan lalatnya. Pada taraf sinifikan 0,05 diperoleh nilai Sig(2- tailed) 0,000, nilai ini lebih kecil dari nilai yang berarti ada hubungan yang bermakna antara jarak TPA sampah dengan kepadatan lalat di Dusun Gembel. Dari hasil uji regresi diperoleh nilai t hitung (25,019) lebih besar dari nilai t tabel (2,306) yang berarti ada pengaruh jarak TPA sampah dengan kepadatan lalat di Dusun Gembel dan nilai R2 adalah 0,958 berarti kepadatan lalat di dusun Gembel 95,8 % dipengaruhi oleh jarak TPA dengan rumah penduduk. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Kadar air sumur di Dusun Gembel untuk rata-rata parameter DO: 4,52 mg/lt, BOD: 10,08 mg/lt, COD: 41,63 mg/lt, Mn: 0,1353 mg/lt dan NO2: 0,1788 mg/lt. Menurut PP No. 82 tahun 2001 bahwa syarat minimum untuk air baku air minum (Kelas I) mempunyai kandungan DO minimal 6 mg/lt, BOD maksimal 2 mg/lt, COD maksimal 10 mg/lt, Mn maksimal 0,1 mg/lt dan NO2 maksimal 0,06 mg/lt, dengan demikian parameter DO, BOD, COD, Mn dan NO2 air sumur di Dusun Gembel melampaui baku mutu yang disyaratkan. Sedangkan untuk kesadahan, Fe, Cd dan Pb masih memenuhi baku mutu yang disyaratkan. 2. Ada hubungan yang kuat antara jarak TPA dengan kualitas air sumur untuk parameter DO, BOD dan COD, sedangkan untuk kesadahan, Mn, NO2, Fe, Cd dan Pb tidak ada hubungan. Pengaruh jarak terhadap kadar DO air sumur sebesar 62 %, pengaruh jarak terhadap kadar BOD dan COD masing-masing sebesar 59,5 % dan 57,4 %. 3. Kepadatan lalat di Dusun Gembel termasuk kategori sangat tinggi. 4. Ada hubungan yang sangat kuat antara jarak TPA dengan kepadatan lalat. Jarak TPA mempunyai pengaruh terhadap kepadatan lalat sebesar 95,8%. Saran 1. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Madiun perlu memonitor air lindi dan air sumur disekitar TPA secara periodik, yaitu 3 bulan sekali,melakukan pengolahan air lindi sebelum dibuang ke badan air sesuai rencana dalam dokumen RKL dan RPL, melakukan pengendendalian lalat melalui penyemprotan berkala di TPA dan di perumahan penduduk.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 14

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

2. Perlu penelitian dengan parameter yang sama yang dilakukan pada musim kemarau dan penelitian tentang pola penyebaran air lindi di TPA Winongo. DAFTAR PUSTAKA Azrul Azwar, 1983, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Mutiara, Jakarta Djasio Sanropie,dkk,1985,Pedoman Bidang Studi Penyediaan Air Bersih Akademi Penilik Kesehatan Teknologi sanitasi (APK-TS), Dep.Kes. RI Edmund G Wagner, 1959, Water Supply for Rural Areas and Small Communities, WHO,Geneva Frank Flintoff, 1984,Magagemen of Solid Wastes in Developing Countries, WHO Frederick G Pohland,1985,Critical Reviev and Summary of Leachate and Gas Production from Landfills, EPA,Cincinnati OHIO G Tchobanoglous, 1977, Solid Wastes,McGraw-Hill Kogakusha, Tokyo H Adang Iskandar,dkk,1985, Pemberantasan Serangga dan Binatang Pengganggu APK-TS, Dep.Kes.RI Masri Singarimbun,1989, Metode Penelitian Survey,LP3ES,Jakarta Soekidjo Notoatmodjo, 1993, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta Maulida Khiatuddin, 2003, Melestarikan Sumber Daya Air dengan Teknologi Rawa Buatan, UGM Press, Yogyakarta Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1997, Ringkasan Agenda 21 Indonesia Strategi Nasional untuk Pembangunan Berkelanjutan Philip Kristanto, 2002, Ekologi Industri, Andi, Yogyakarta Robert J.Kodoatie, 1996, Pengantar Hidrogeologi, Andi, Yogyakarta Sandi Eko Bramono,2005,TPST Bojong dan Sampah Jakarta,www.suara karya-online.com/19 September 2005 Singgih Santoso, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, PT Elex Media Komputindo, Jakarta Soedjajadi Keman,2005,Pengaruh Pembuangan Sampah Terbuka (Open Dumping terhadap Kualitas Kimia Air Sumur gali penduduk di sekitarnya (Studi di TPA Sukolilo,Surabaya),http//ad/n.lab.unair.ac.id/print.php,19 September 2005 Sugiharto, 1985, Penyediaan Air Bersih Bagi Masyarakat, Dep.Kes.RI Sudarso,1985, Pembuangan Sampah, Pusdiknakes Sugiyono,2001, Statistik untuk Penelitian dan Aplikasinya dengan SPSS 10.0 for Windows, Alvabeta,Bandung ............,2002, Statistik untuk Penelitian, Alvabeta,Bandung Wisnu Arya,1995, Dampak Pencemaran Lingkungan,Andi Offset Yogyakarta ,1987,Pembuangan Sampah APK-TS, Pusdiknakes ...........,1991, Petunjuk Teknis tentang Pemberantasan Lalat, Ditjen PPM dan PLP Dep.Kes RI PP RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/90 tentang Syarat-syarat Pengawasan Kualitas Air Kepmenkes RI No. 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

15

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH IBU DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK TODDLER (Di Ngentak Sumberdadi Mlati Sleman Yogyakarta) Dwi Fitriyanti *, Induniasih **, Ida Nursanti *, Agus Sarwo Prayogi ** (RELATIONSHIP PATTERNS OF CARE OF MOTHER WITH TODDLER LANGUAGES DEVELOPMENT
IN NGENTAK SUMBERADI MLATI SLEMAN YOGYAKARTA)

ABSTRACT Background: The pattern foster parents become the most fundamental thing in the stage of growth and development of children. This behavioral pattern can be perceived by a child, in terms of negative and positive. Parents are a direct example of the seen and imitated by children. Parents who spoke with good quality will be a good example for their children. The ability to speak their potential toddler -age child can be stimulated through active communication using the language properly. Because the ability to speak the child is a reflection of the style thought. Language proficiency is an indicator of the whole child development. Objective of the research: The study was an observational to determine the relationship of maternal care pattern with toddler language development. Method of the research: The study was an conducted to determine study or non experimental cross sectional approach. Result of the research: The pattern of foster mothers showed that mothers apply the overall pattern of care that is both as much as 44 people or 88% with child language development is most advanced. Data analysis using Spearman Rank test p -value obtained for 0,021< (0.05). Positive coefficient of 0,327 there is a relation between pattern of care of mother with toddler language development. Conclusion: There was a significant relationship between care of mother with toddler language development in Hamlet Ngentak Sumberadi Mlati Sleman Yogyakarta. Keywords: Pattern of care of mother, toddler language development * = Stikes A.Yani Yogyakarta ** = Poltekkes Kemenkes Yogyakarta PENDAHULUAN Manusia dalam perjalanan hidupnya selalu mengalami perubahan dari awal masa pembuahan sampai kematian. Perubahan itu adalah proses pertumbuhan dan perkembangan yang saling berkaitan satu sama lain, sehingga proses pertumbuhan dan perkembangan sulit untuk dipisahkan (Hidayat, 2005). Tumbuh kembang anak tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: faktor herediter/genetika, faktor lingkungan yang dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor prenatal dan faktor pascanatal. Faktor pascanatal di antaranya kebutuhan tumbuh kembang anak yang mencangkup tiga hal, yaitu kebutuhan asuh, kebutuhan asih, dan kebutuhan asah. Kebutuhan asuh, asih dan asah saling berhubungan satu sama lain sehingga tidak dapat dipisahkan. Kebutuhan tersebut menjadi tugas keluarga/orang tua untuk memenuhinya. Pola
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 16

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

asuh keluarga terutama orang tua menjadi hal yang paling mendasar dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pola asuh orang tua dapat diartikan sebagai pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif maupun positif. Terdapat 3 macam pola asuh orang tua yaitu pola asuh demokratis, pola asuh otoriter, pola asuh permisif (Kriswanto, 2009). Pola asuh keluarga juga dapat diartikan sebagai pola interaksi antara orang tua dan anak, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak, termasuk cara menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik sebagai panutan bagi anak (Shanty, 2009). Deteksi dini untuk mengetahui masalah atau keterlambatan tumbuh kembang sangat penting. Untuk menilai tumbuh kembang anak banyak pilihan cara. Penilaian pertumbuhan dapat dilihat dari pengukuran antropometri, meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, sedangkan untuk penilaian tahap perkembangan dapat diketahui dengan cara melakukan test IQ, test Denver II, maupun test psikologi lainnya (Kriswanto, 2009). Menurut data kependudukan Kabupaten Sleman Yogyakarta pada tahun 2007, anak usia 04 tahun sebanyak 72.940, terdiri atas 37.283 laki -laki dan 35.657 perempuan. Data tersebut berdasarkan sensus Kependudukan, Tenaga Kerja, Keluarga Berencana dan Transmigrasi Kabupaten Sleman Yogyakarta. Jumlah anak usia 0-4 tahun tersebut tersebar di 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman (www.bappeda-slemankab.go.id). Hasil studi pendahuluan di Dukuh Ngentak Sumberadi Sleman Yogyakarta, didapatkan anak-anak berinteraksi dan bermain bersama dengan teman seusianya yang ada di sekitar lingkungan rumah. Anak-anak dibebaskan bermain bersama teman seusianya. Selama anak berinteraksi dengan teman sebaya, anak selalu didampingi dan diawasi oleh ibunya. Berdasarkan hasil tes Denver II, masing-masing anak berusia 1 tahun 10 bulan dan 1 tahun 7 bulan, hasilnya adalah suspect pada kedua anak tersebut. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan pendekatan cross sectional. Sampel jenuh ditentukan berdasarkan: 1) kriteria inklusi ibu yaitu tidak bekerja, mempunyai anak usia 1-3 tahun, tidak cacat mental dan fisik, bersedia menjadi responden, mampu membaca dan menulis huruf latin, 2) kriteria inklusi anak, yaitu berusia 1-3 tahun, tidak cacat mental dan fisik, diizinkan untuk menjadi responden, 3) kriteria eksklusi ibu dan anak yaitu ibu atau anak dalam keadaan sakit keras, sedang tidak berada di tempat penelitian/ ke luar kota pada waktu penelitian dilakukan. Untuk mengukur pola asuh ibu, dikembangkan angket yang disusun berdasarkan indikator-indikator pola asuh. Angket yang digunakan merupakan modifikasi dari angket yang pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya yaitu pada penelitian Varalin (2004), Wahyuningtiyas (2007), Sinaga (2004) dan peneliti sendiri. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 50 pasang ibu dan anak usia 1- 3 tahun yang bertempat tinggal di Dukuh Ngentak Sumberadi Mlati Sleman Yogyakarta.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 17

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 1. Karakteristik Ibu dan Anak di Dukuh Ngentak Sumberadi Mlati Sleman Yogyakarta Karakteristik 1. Umur Ibu < 20 tahun 20 35 tahun > 35 tahun 2. Pendidikan SD SMP SMA D3 3. Umur Anak 1-2 Tahun >2-3 Tahun Frekuensi 2 45 3 11 14 23 2 22 28 Persentase 4,0 9,0 6,0 22,0 28,0 40,0 4,0 44% 56%

Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas umur ibu adalah 20-35 tahun sebanyak 45 orang (90%), pendidikan ibu terbanyak adalah lulus SMA sebanyak 23 orang (46%), dan umur anak terbanyak adalah >2-3 tahun yaitu sebanyak 28 orang (56%). Tabel 2. Perkembangan Bahasa Anak Toddler Perkembangan Bahasa Anak Toddler Advance Caution Delay Jumlah Frekuensi 28 13 9 50 Persentase 56,0% 26,0% 18,0% 100%

Tabel 2 menunjukkan bahwa ibu yang memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance, caution, dan delay masing-masing sebesar 56%, 26%, dan 18%. Tabel 3.Perkembangan Bahasa Anak Toddler Berdasarkan Pola Asuh Otoriter Pola Asuh Otoriter Sangat Baik Baik Kurang Baik Total f % f % f % f % Perkembangan Bahasa Anak Toddler Total Advance Caution Delay 6 100% 22 56,4% 0 0% 26 56,0% 0 0% 11 28,2% 2 40,0% 13 26,0% 0 0% 6 15,4% 3 60,0% 9 18,0% 6 100% 39 100% 5 100% 50 100%

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

18

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 3 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh otoriter baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance yaitu sebanyak 22 orang atau 56,4%. Tabel 4. Uji Spearman Rank Hubungan antara Pola Asuh Otoriter dengan Perkembangan Bahasa Anak Toddler p hitung 0,483 p-value 0,000 Keterangan Signifikan

Hasil uji Spearman Rank (Tabel 4) menunjukkan p-value sebesar 0,000 < (0,05) sehingga disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan perkembangan bahasa anak toddler. Nilai koefisien korelasi positif sebesar 0,483 berarti semakin sedikit penerapan pola asuh otoriter, maka perkembangan bahasa anak toddler semakin cepat. Tabel 5. Perkembangan Bahasa Anak Toddler berdasarkan Pola Asuh Permisif Pola Asuh Permisif Sangat Baik Baik Kurang Baik Total f % f % f % f % Perkembangan Bahasa Anak Toddler Total Advance Caution Delay 5 71,4% 23 57,5% 0 0% 28 56,0% 2 28,6% 11 27,5% 0 0% 13 26,0% 0 0% 6 15,0% 3 100 9 18,0% 7 100% 40 100% 3 100% 50 100%

Tabel 5 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh permisif baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance yaitu sebanyak 23 orang atau 57,5%. Tabel 6. Uji Spearman Rank Hubungan antara Pola Asuh Permisif dengan Perkembangan Bahasa Anak Toddler p hitung 0,334 p-value 0,018 Keterangan Signifikan

Hasil uji Spearman Rank (Tabel 6) menunjukkan p-value sebesar 0,018 < (0,05) maka disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pola asuh permisif dengan perkembangan bahasa anak toddler. Nilai koefisien korelasi positif sebesar 0,334 menunjukkan semakin sedikit penerapan pola asuh permisif, perkembangan bahasa anak toddler semakin cepat.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

19

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 7. Perkembangan Bahasa Anak Toddler Berdasarkan Pola Asuh Demokratis Pola Asuh Demokratis Sangat Baik Baik Kurang baik Total F % F % F % F % Perkembangan Bahasa Anak Toddler Advance Caution Delay Total 3 100% 23 95,8% 2 8,7% 28 56,0% 0 0% 0 0% 13 56,5% 13 26,0% 0 0% 1 4,2% 8 34,8% 9 18,0% 3 100% 24 100% 23 100% 50 100%

Tabel 7 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh demokratis baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance yaitu sebanyak 23 orang atau 95,8%. Tabel 8. Uji Spearman Rank Hubungan antara Pola Asuh Demokratis dengan Perkembangan Bahasa Anak Toddler p -hitung 0,806 p-value 0,000 Keterangan Signifikan

Hasil uji Spearman Rank (Tabel 8) menunjukkan p-value sebesar 0,000 < (0,05), maka disimpulkan ada hubungan signifikan antara pola asuh demokratis dengan perkembangan bahasa anak toddler. Nilai koefisien korelasi positif sebesar 0,806 menunjukkan semakin baik penerapan pola asuh demokratis maka perkembangan bahasa anak toddler semakin cepat. Tabel 9. Perkembangan Bahasa Anak Toddler Berdasarkan Pola Asuh Secara Keseluruhan Pola Asuh Secara Keseluruhan Sangat baik Baik Kurang baik Total f % f % f % f % Perkembangan Bahasa Anak Toddler Advance 2 100% 25 56,8% 1 25,0% 28 56,0% Caution 0 0% 13 29,5% 0 0% 13 26,0% Delay 0 0% 6 13,6% 3 75,0% 9 18,0% Total 2 100% 44 100% 4 100% 50 100%
20

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 9 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh sangat baik, seluruhnya (100%) memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance yaitu 2 orang. Ibu dengan pola asuh baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance yaitu 25 orang (56,8%). Sedangkan ibu dengan pola asuh kurang baik terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa delay sebanyak 3 orang (75%). Tabel 10. Uji Spearman Rank Hubungan Antara Pola Asuh Keseluruhan dengan Perkembangan Bahasa Anak Toddler p -hitung 0,327 p-value 0,021 Keterangan Signifikan

Hasil uji Spearman Rank (Tabel 10) menunjukkan p-value sebesar 0,021 < (0,05), sehingga disimpulkan ada hubungan signifikan antara pola asuh secara keseluruhan dengan perkembangan bahasa anak toddler. Nilai koefisien korelasi positif sebesar 0,327 menunjukkan bahwa semakin baik penerapan pola asuh, maka perkembangan bahasa anak toddler semakin cepat. Tabel 11. Perkembangan Bahasa Anak Toddler Berdasarkan Umur Anak Umur anak 1-2 tahun >2-3 tahun Total Frek. F % f % F % Perkembangan Bahasa Anak Toddler Advance Caution Delay 11 6 5 50% 27,3% 22,7% 17 7 4 60,7% 25% 14,3% 28 13 9 56% 26% 18%

Total 22 100% 28 100% 50 100%

Tabel 11 menunjukkan bahwa perkembangan bahasa terbanyak yaitu advance yaitu 28 anak atau sebesar 56%. Perkembangan bahasa tersebut terbagi dalam dua kategori usia yaitu 1-2 tahun dan >2-3 tahun. Sejumlah 17 (60,7%) adalah anak berusia >2-3 tahun. Tabel 12 menunjukkan bahwa bahwa item yang paling banyak tidak mampu dilewati anak yaitu mengucapkan 3 kata pada anak dengan rentang usia 1-2 tahun. Anak usia >2-3 tahun sebanyak 3 orang anak belum mampu menyebut 4 gambar. Tabel 13 menunjukkan bahwa item yang paling banyak tidak mampu dilewati anak adalah menunjuk 2 gambar yaitu 3 anak. Anak umur 1-2 tahun yang belum mampu menyebut (ayah/ibu) yaitu 2 orang anak.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

21

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 12. Perkembangan Bahasa Caution Berdasarkan Umur Anak Item yang Gagal Dilewati Mengetahui kegunaan benda Mengucapkan 3 kata Menyebut 4 gambar Menyebut (ayah/ibu) Memahami 4 kegiatan Menyebut 1 gambar Menunjuk 4 gambar Mengucapkan lebih dari kata Total Total Umur anak 1-2 tahun >2-3 tahun 0 0% 3 100,0% 0 0% 1 100,0% 0 0% 0 0% 0 0% 2 100,0% 6 46,2% 1 100,0% 0 0% 3 100,0% 0 0% 1 100,0% 1 100,0% 1 100% 0 0% 7 53,8% 1 100% 3 100,0% 3 100,0% 1 100,0% 1 100,0% 1 100,0% 1 100,0% 2 100,0% 13 100,0%

Tabel 13. Perkembangan Bahasa Delay Berdasarkan Umur Anak Item yang Gagal Dilewati Mengucapkan 3 kata Menunjuk 2 gambar Menyebut 4 gambar Mengucapkan 2 kata Menyebut (ayah/ibu) Total Umur anak 1-2 tahun 1 100,0% 1 33,0% 0 100,0% 1 0% 2 0% 5 56,0% Total >2-3 tahun 0 1 0% 100,0% 2 3 67,0% 2 0% 0 100,0% 0 100,0% 4 44,0% 100,0% 2 100,0% 1 100,0% 2 100,0% 9 100,0%

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

22

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu menerapkan pola asuh secara keseluruhan yaitu kategori baik (88%). Komunikasi pada anak usia toddler bersifat egosentris, rasa ingin tahunya sangat tinggi, inisiatifnya tinggi, kemampuan bahasa mulai meningkat, mudah merasa kecewa dan rasa bersa lah karena tuntutan tinggi, setiap komunikasi harus berpusat pada dirinya, takut terhadap ketidaktahuan, anak pada usia ini masih belum fasih berbicara (Hidayat, 2005). Kondisi ini apabila tidak didukung dengan pola asuh yang sesuai akan berpengaruh buruk terhadap kemampuan berkomunikasi anak usia toddler. Mengingat bahwa orang tua terutama ibu merupakan figur pertama yang dikenal oleh anak, maka ketika ibu menerapkan suatu pola asuh kepada anak hendaknya tidak terlepas dari komunikasi atau cara yang baik d alam menerapkan pola asuh tersebut (Dariyo, 2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menerapkan pola asuh otoriter baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance dan ada hubungan signifikan antara pola asuh otoriter dengan perkembangan bahasa anak toddler. Pola asuh otoriter berdampak buruk pada anak, seperti anak merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berisiatif, selalu tegang, tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk), begitu juga komunikasinya yang buruk. Diterapkannya pola asuh otoriter yang baik sesuai dengan situasi dan kondisi anak akan berdampa k baik pada perkembangan bahasa anak (Kriswanto, 2009). Dari analisis data diketahui bahwa bahwa ibu yang menerapkan pola asuh permisif baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance dan ada hubungan signifikan antara pola asuh permisif dengan perkembangan bahasa anak toddler. Pola asuh permisif atau pemanja akan menimbulkan serangkaian dampak buruk, di antaranya anak mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya. Kondisi yang demikian juga akan berdampak pada kemampuan komunikasi anak yang buruk. Diterapkannya pola asuh permisif yang baik sesuai dengan situasi dan kondisi anak akanberdampak pada semakin cepatnya perkembangan bahasa anak (Kriswanto, 2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menerapkan pola asuh demokratis baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance, dan terbukti ada hubungan signifikan antara pola asuh demokratis dengan perkembangan bahasa anak toddler. Pola asuh demokratis akan membawa dampak yang menguntungkan bagi anak, di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stress, mempunyai keinginan berprestasi dan bisa berkomunikasi baik dengan teman-teman dan orang dewasa. Diterapkannya pola asuh demokratis akan berdampak pada semakin cepatnya perkembangan bahasa anak (Kriswanto, 2009). Dari hasil penelitian diketahui bahwa ibu dengan pola asuh secara keseluruhan sangat baik, seluruhnya memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance. Ibu dengan pola asuh secara keseluruhan kategori baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa advance. Ibu dengan pola asuh secara keseluruhan kategori kurang baik, terbanyak memiliki anak dengan perkembangan bahasa delay. Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola asuh keseluruhan dengan perkembangan bahasa anak toddler. Hal ini sesuai dengan pendapat Sacharin (1996) yang menyatakan bahwa perkembangan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 23

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

bahasa dipengaruhi oleh interaksi orang tua anak, dalam hal ini termasuk pola asuh orang tua yang diberikan kepada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan bahasa terbanyak yaitu advance (56%). Perkembangan bahasa tersebut terbagi dalam dua kategori usia yaitu usia 1-2 tahun dan usia >2-3 tahun, dari pembagian perkembangan bahasa anak toddler 17 diantaranya anak dengan umur >2-3 tahun. Diketahui pula bahwa item yang paling banyak tidak mampu dilewati anak yaitu mengucapkan 3 kata pada anak dengan rentang usia 1-2 tahun. Anak usia >2-3 tahun sebanyak 3 orang anak belum mampu menyebut 4 gambar. Dari hasil penelitian terlihat bahwa item yang paling banyak tidak mampu dilewati anak yaitu menunjuk 2 gambar yaitu 3 anak. Menyebut (ayah/ibu) tidak mampu dilewati oleh anak umur 1-2 tahun yaitu 2 orang anak. Pola asuh keluarga terutama ibu menjadi hal yang paling mendasar dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pola asuh ibu dapat diartikan sebagai perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negatif maupun positif. Menurut Yusuf (2002) salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan bahasa antara lain hubungan keluarga yang dimaknai sebagai proses berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama ibu yang mengajar, mengasuh, melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anaknya. Hubungan yang sehat dan baik antara ibu dan anak dapat memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak mengalami kesulitan dan keterlambatan dalam perkembangan bahasa. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Ibu di Dukuh Ngentak Sumberadi Mlati Sleman Yogyakarta mayoritas menerapkan pola asuh dalam kategori baik dengan perkembangan bahasa anak toddler terbanyak yaitu advance. 2. Pola asuh ibu otoriter memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan perkembangan bahasa anak toddler. 3. Pola asuh ibu permisif memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan perkembangan bahasa anak toddler. 4. Pola asuh ibu demokratis memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan perkembangan bahasa anak toddler. 5. Perkembangan bahasa anak toddler di Dukuh Ngentak Sumberadi Mlati Sleman terbanyak adalah advance. 6. Hipotesis awal ditolak dan hipotesis alternatif diterima yaitu ada hubungan pola asuh ibu terhadap perkembangan bahasa anak toddler di Dukuh Ngentak Sumberadi Mlati Sleman Yogyakarta. Saran: 1. Bagi peneliti lain a. Perlu dilakukan penelitian yang menyangkut pola asuh ibu yang lebih mendalam dengan menggunakan metode kualitatif serta observasi langsung kepada ibu dalam
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 24

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

menerapkan pola asuh anaknya. b. Perlunya dilakukan pengkajian lebih dalam tentang faktor -faktor yang mempengaruhi ibu dalam menerapkan pola asuh 2. Bagi orang tua anak a. Orang tua hendaknya mampu memilih dan memilah pola asuh yang akan diterapkan kepada anaknya sehingga dapat mendukung perkembangan anak menjadi baik sesuai dengan usai tumbuh kembang anak. Pola asuh yang baik akan membawa dampak yang baik pula bagi perkembangan anak, begitu pula sebaliknya. 3. Bagi Posyandu/Puskesmas Sumberadi Hendaknya dilakukan penyebarluasan Informasi tentang pola asuh dan perkembangan anak kepada ibu-ibu di Dukuh Ngentak Sumberadi Mlati Sleman. Penyuluhan yang diberikan tidak selalu mengenai gizi dan pertumbuhan anak, tetapi perkembangan juga perlu mendapat perhatian dari orang tua. Diharapkan setelah dilakukan penyuluhan, orang tua terutama ibu meminimalkan pola asuh permisif dan otoriter serta memaksimalkan pola asuh demokratis. DAFTAR PUSTAKA Hidayat, AA. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta. Salemba Medika Kriswanto, I.C. 2009. Empat Tipe Pola Asuh Orang Tua. [internet]. Tersedia dalam: <http://www.tabloid-nakita.com> [diakses 8 Oktober 2009] Shanty, T.I. (2009). Pola Asuh Efektif Pola Asuh Penuh Cinta. [internet]. Tersedia dalam: <http://www.tabloid-nakita.com> [diakses 8 Oktober 2009] Bappeda Sleman. 2007. Penduduk, Tenaga Kerja, Keluarga Berencana dan Transmigrasi . [internet]. Tersedia dalam <www.bappeda-slemankab.go.id> [diakses 13 November 2009] Yusuf S. 2002. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja . Cet ke-3. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Bandung. Revisi Terbaru. CV ALFABETA Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta. Rineka Cipta Dariyo, A. 2007. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Bandung. PT Refika Aditama Lubis, F.Y. (2008). Aspek Bahasa Pada Anak 0-5 tahun. Untuk Dipresentasikan pa da Ke gi at a n P ar ent i n g. [ i nt er net ] . T er s edi a dal am : <http://pustaka.unpad.ac.id> [diakses 19 Desember 2009] Sacharin, R.M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Edisi ke-2. Jakarta. EGC Varalin, D. 2004. Hubungan Pola Asuh Ibu Dengan Tingkat Perkembangan Bahasa Pada Anak Prasekolah di TK ABA Ketanggungan Yogyakarta. PSIK-FK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tidak Dipublikasikan Wahyuningtiyas, S. 2007. Tingkat Perkembangan Bahasa dan Sosial Kemandirian Anak Usia Prasekolah Pada TK full day dan TK half day. PSIK-FK UGM Yogyakarta Tidak Dipublikasikan.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

25

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BAYI TENTANG REAKSI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DPT/HB COMBO DENGAN KECEMASAN IBU SEBELUM MELAKSANAKAN IMUNISASI DI POLINDES DESA KARANGREJO WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGASEM KEDIRI Sumy Dwi Antono*, Triatmi Andri Yanuarini*, Dian Novitasari* ABSTRACT There are the effects after doing DPT immunizitation that is famous of Adverse Events Following Immunization (AEFI). The roles mother at immunization programs are very important. So that a knowledge about immunization program is very needed doing immunization. The most of children suffering a fever after getting the DPT immunization, but it is usual, nevertheless this condition makes most of mother feel worried. The aim this research is to know the relationship of babys mother knowledge about the adverse events following immunization (AEFI) DPT / Hb Combo with dread of mother before doing DPT / Hb Combo immunization in polindes karangrejo village of puskesmas ngasem, kediri district. The Research Desain which is used analytic with Cross Sectional Corelation. The Subyek of this Research is the mother who having babys amoung 2nd-11th months. The data result of this research use kuesioner. Amount of sampel is 37 responder. Result of research will be analysed with Spearman Rank. From the result of this research is gotten the result of t calculate smaller than t of table, so Ho is received and H1 is rejected (price 0,75748 < 2,0315). The conclusion there arent the relationship of babys mother knowledge about the adverse events following immunization (AEFI) DPT / Hb Combo with dread of mother before doing DPT / Hb Combo immunization Keyword: Knowledge, Mother, Adverse Events Following Immunization (AEFI), Dread of Before Doing DPT / HB Combo Immunization * = Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, Jurusan Kebidanan, Kampus Kediri PENDAHULUAN Latar Belakang Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya salah satunya adalah imunisasi DPT (Diphteria, Pertussis, Tetanus). Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan tetanus (A. Aziz, 2008). Kalau anak tidak diberikan imunisasi DPT maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut (Soedjatmiko, 2007). Terdapat efek samping setelah pelaksanaan imunisasi DPT yang dikenal dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) merupakan suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi (Depkes, 2000).

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

26

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karena pengetahuan tentang program imunisasi amat diperlukan dalam pelaksanaan imunisasi (Mirzal Tawi, 2008). Pemahaman persepsi dan pengetahuan ibu tentang imunisasi membantu pengembangan program kesehatan (Manjunath U, 2003). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Lynda M. Baker (2007) di Amerika Serikat, pengetahuan ibu berkaitan imunisasi DPT hanya 4 ibu dari 30 ibu yang tahu nama dan tujuan dari pemberian vaksin pada anak anak mereka dan 26 ibu yang tidak tahu nama dan tujuan dari vaksin DPT (Lynda M. Baker 2007). Kebanyakan anak menderita panas setelah mendapat imunisasi DPT, tetapi itu adalah yang wajar, namun seringkali ibu-ibu tegang, cemas dan khawatir (Tecyya 2009). Selain itu, banyak ibu yang cemas sekali karena timbul bengkak di bekas tempat suntikan. Untuk anak yang memiliki riwayat kejang demam, imunisasi DPT tetap aman dan tidak membahayakan, tetapi banyak ibu yang cemas (Hemas 2007). Adapun penyebab kecemasan ibu dikarenakan pemberitaan miring tentang efek samping imunisasi (Ani M dan Ai S 2009). Menurut laporan WHO angka cakupan imunisasi untuk DPT secara global adalah 78%. Berarti terdapat 28 juta anak di dunia yang belum mendapat imunisasi DPT. 75% dari anak-anak ini tinggal di 10 negara, diantaranya Indonesia (Harsono Salimo 2009). Cakupan imunisasi DPT di Indonesia secara global adalah 70,26% dimana jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi terbesar ada di tiga propinsi di pulau Jawa (29% dari angka nasional) yaitu propinsi Jawa Barat (46.863), Jawa Timur (47.332) dan Banten (28.359) (Pusat Komunikasi Publik 2010). Angka cakupan imunisasi DPT di Jawa timur secara global 70,79% dimana DPT 1 sejumlah 79%, DPT 2 sejumlah 72,69% dan DPT 3 sejumlah 60,68% (M. Faried K 2009). Program imunisasi di Kabupaten Kediri masih dibawah standar. Adapun cakupan imunisasi DPT yang berada di bawah target 30% adalah di Puskesmas Ngasem sejumlah 29,6%. Adapun Data Kumulatif Pencapaian Imunisasi DPT bulan Desember 2009 di desa Karangrejo yaitu: DPT1 91,5%, DPT2 87,7%, DPT3 93,9 %. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasi pengetahuan ibu, 2) mengidentifikasi kecemasan ibu, 3) menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/Hb Combo. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada tanggal 10 Mei 17 Mei 2010 dengan menggunakan desain korelasi Cross Sectional. Populasi penelitian adalah 40 ibu yang mempunyai bayi usia 2-11 bulan di Polindes Karangrejo Puskesmas Ngasem Kediri. Besar sampel adalah 37 orang, yang diambil dengan teknik simple random sampling dengan cara undian. Alat ukur yang digunakan yaitu: kuesioner tentang pengetahuan reaksi KIPI dan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

27

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian 1.Karakteristik Umur, Pendidikan, dan Pekerjaan Distribusi umur terbanyak adalah 21-25 tahun, pendidikan terbanyak adalah SMA, sedangkan pekerjaan terbanyak adalah ibu murah tangga. Data lengkap ditampilkan pada Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3.
36-40 thn, 10.80% 31-35 thn, 13.50% 26-30 thn, 18.90% 21-25 thn, 45.90% 15-20 thn, 10.80%

Gambar 1. Distribusi Umur Responden


PT, 2.70% SD, 5.40% SMP, 24.30%

SMA, 67.60%

Gambar 2. Pendidikan Responden


SWASTA, 21.60% ,0 ,0

IRT, 78.40%

Gambar 3. Pekerjaan Responden 2.Pengetahuan Ibu Bayi Tentang Reaksi KIPI DPT/HB Combo
Kurang, 10.80% ,0 Baik, 35.10%

Cukup, 54.10%

Gambar 4. Distribusi Pengetahuan Ibu Bayi Tentang Reaksi KIPI DPT/HB Combo

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

28

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo sebagian besar mempunyai pengetahuan cukup 54,1% (20 responden). 3.Kecemasan Ibu Sebelum Melaksanakan Imunisasi DPT/HB Combo
Cemas Berat, 2.70% Cemas Sedang, 13.50% Cemas Berat Sekali, 2.70% Tidak Cemas, 13.50%

Cemas Ringan, 67.60%

Gambar 5. Distribusi Kecemasan Ibu Sebelum Melaksanakan Imunisasi DPT/HB Combo Sebagian besar ibu mengalami cemas ringan (67,6%) sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo. 4. Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Tentang Reaksi KIPI Dengan Kecemasan Ibu Sebelum Melaksanakan Imunisasi DPT/HB Combo Hasil t hitung sebesar 0,75748, dibandingkan dengan tabel t untuk taraf kesalahan 5%. Dengan dk = 35 diperoleh harga t = 2,0315. Jadi hasil t hitung lebih kecil dari t tabel, maka H1 ditolak (harga 0,75748 < 2,0315), sehingga disimpulkan tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu bayi tentang reaksi KIPI DPT/Hb Combo dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/Hb Combo. Pembahasan 1.Pengetahuan Ibu Bayi Tentang Reaksi KIPI DPT/Hb Combo Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pengetahuan ibu cukup ke arah baik. Hal ini mungkin terjadi karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap suatu informasi yang telah didapatkan. Pengetahuan manusia diperoleh melalui alat indra dan pengetahuan yang cukup baik, hal ini dipengaruhi oleh faktor ingatan, pemahaman, penerapan tentang sesuatu yang dipelajari. Selain itu juga karena ibu kurang memperhatikan informasi yang diberikan atau ibu kurang konsentrasi dalam pemberian informasi, sehingga informasi yang diberikan tidak dapat diterima dengan baik. Pada penelitian ini umur responden terbanyak adalah 21-25 th (45,9%). Faktor Umur mempengaruhi pengetahuan ibu, khususnya mengenai pengalaman ibu sehingga dengan perbedaan usia ibu berbeda pula pengalaman ibu. Hal ini sesuai dengan pendapat Noor (2000) yang dikutip oleh Mirzal Tawi bahwa perbedaan pengalaman ibu dipengaruhi oleh umur individu tersebut.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 29

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Pendidikan ibu pada penelitian ini terbanyak SMA (67,6%). Pendidikan mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu karena semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin banyak pula informasi yang diperoleh. Meskipun pendidikan ibu cukup, dalam penerimaan informasi tentang reaksi KIPI DPT/HB Combo, ibu kurang/tidak mendapat informasi dari pendidikan formal. Informasi tentang KIPI banyak diperoleh dari pendidikan non formal yaitu penyuluhan dari bidan. Hal ini sesuai pendapat Soekidjo Notoatmodjo yang dikutip oleh Mirzal Tawi (2008), bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu sangat mempengaruhi terlaksananya kegiatan pelaksanaan imunisasi pada bayi. 2. Kecemasan Ibu Sebelum Melaksanakan Imunisasi DPT/HB Combo Dari hasil penelitian responden yang mengalami cemas ringan 67,6% (25 responden), cemas sedang 13,5% (5 responden), tidak cemas 13,5% (5 responden), cemas berat 2,7% (1 responden), cemas berat sekali 2,7% (1 responden). Hal ini mungkin disebabkan karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda dalam menanggapi suatu respon yang telah didapatkan. Dalam setiap individu otak memiliki reseptor khusus yang membantu regulasi kecemasan sehingga setiap individu secara otomatis menanggapi rasa cemas berbeda. Sikap orangtua yang cenderung mengalami kecemasan ini karena akan adanya situasi yang mengancam pada bayinya. Hal ini sesuai dengan teori Biologik dikutip oleh Suliswati (2005) bahwa pada otak terdapat GABA (Gamma Amino Butyric Acid) yang mengontrol aktivitas kecemasan. 3.Hubungan Antara Pengetahuan Ibu Bayi Tentang Reaksi KIPI Dengan Kecemasan Ibu Sebelum Melaksanakan Imunisasi DPT/HB Combo Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu bayi tentang reaksi KIPI DPT/HB Combo dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo. Setiap individu memiliki kecemasan, dan kecemasan akan tetap muncul secara otomatis bila tubuh merespon adanya suatu konflik. Hal ini sesuai dengan teori kajian keluarga dikutip oleh Suliswati (2005) bahwa kecemasan selalu ada pada tiap keluarga. Meskipun telah memiliki pengetahuan yang baik tentang reaksi KIPI DPT/HB Combo, bila seorang ibu menganggap membahayakan bagi bayinya maka kecemasan tetap terjadi. Sehingga seseorang yang mempunyai pengetahuan baik belum tentu tidak mengalami kecemasan. Sebaliknya seseorang yang memiliki pengetahuan cukup atau kurang tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo belum tentu mengalami kecemasan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Sebagian besar ibu mempunyai pengetahuan cukup tentang reaksi KIPI DPT/HB Combo. 2. Sebagian besar ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo mengalami cemas ringan. 3. Tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu bayi tentang reaksi KIPI dengan kecemasan ibu sebelum melaksanakan imunisasi DPT/HB Combo

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

30

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Saran 1. Bagi Tempat Penelitian diharapkan Petugas kesehatan memberikan pengertian dan adanya perlindungan kesehatan jika ada KIPI kepada ibu bayi sehingga kecemasan ibu berkurang 2. Bagi Institusi Pendidikan sebagai masukan bahwa perlu dikaji lebih lanjut tentang faktorfaktor yang mempengaruhi kecemasan ibu dalam melaksanakan imunisasi, selain factor pengetahuan ibu bayi tentang reaksi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi DPT/HB Combo. DAFTAR PUSTAKA A. Aziz Alimul Hidayat. (2005)Pengantar Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. (2007)Metode Penelitian Kebidanan dan Teknis Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika (2008)Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika. A. H Markum. (2002)Imunisasi. Jakarta: PT Grapik Grapos Indonesia Ani M dan Ai S.Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Polio dengan Tingkat Kecemasan Pasca Imunisasi Polio Pada Anaknya di Posyandu Margasari Tasikmalaya Tahun 2007. 26-12-2009 <http://www.skripsistikes.wordpress.com> Dinkes Prop Jatim. (2000)Pedoman Operasional Pelayanan Imunisasi.Surabaya. Gail Wiscarz Stuart. (2003)Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC Harsono Salimo.Peran Imunisasi untuk Menunjang Tumbuh Kembang Balita Anak Indonesia Berkualitas. 8 April 2009 <http://pustaka.uns.ac.id> Heas.Efek dari Imunisasi. 23 Nopember 2007 <http://info.balitacerdas.com> Huliana, M. (2003)Perawatan Ibu Pasca Melahirkan. Jakarta: Puspa Swara Lynda M. Baker.Ibu Pengetahuan dan Kebutuhan Informasi Berkaitan dengan Imunisasi Anak. 2 Jan 2007 <http://translate.google.co.id> M. Faried K.Pengembangan Program Imunisasi di Jawa Timur. 13 April 2010 <http://www.kalbe.co.id/files > Manjunath U, Pareek. Pengetahuan dan Persepsi Ibu tentang Imunisasi Rutin di Rajasthan. 27 Januari 2010 <http://translate.google.co.id> Mirzal Tawi.Imunisasi dan Faktor yang Mempengaruhinya. 12 May 2009 <http://syehaceh.wordpress.com> Nursalam.(2008)Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2. Jakarta : Salemba Raya Schwartz, M. (2004)Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC Soedjatmiko. Imunisasi Penting untuk Mencegah Penyakit Berbahaya. 26 Desember 2009 <http://www.ykai.net.com> Soekidjo Notoatmodjo. (2003)Ilmu Kesehatan Mayarakat, Jakarta: PT Rineka Cipta Sugiyono. (2007)Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfa Beta Suharsimi A. (2006)Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta Tecyya. Demam Sehabis Imunisasi. 25-12-2009 http://ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/ 268/demam-sehabis-imunisasi

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

31

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

PENGARUH FAKTOR RESIKO TERHADAP PERDARAHAN IBU POST PARTUM DI RS SYARIFAH AMBAMI RATO EBU BANGKALAN Badriyah*, Sulastri*, Sutio Rahardjo* ABSTRAK Perdarahan post partum merupakan penyebab utama kematian ibu yang dapat dideteksi dengan melihat faktor resiko pada saat kehamilan dan persalinan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh faktor resiko terhadap perdarahan ibu post partum di Rumah Sakit Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan, dengan rancangan penelitian analitik observasional dengan desain non reaktif dengan mengambil data sekunder Rekam Medis Rumah Sakit. Besar populasi adalah 444 ibu post partum dan besar sampel 210, diambil dengan teknik systematic random sampling. Variabel independen meliputi paritas, kehamilan ganda, hidramnion, bayi besar, dan partus lama, sedangkan perdarahan post partum merupakan variabel dependen. Analisis data menggunakan uji Regresi ganda dengan signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukan nilai prediktor (R Square) paritas, kehamilan ganda, dan hidramnion tidak dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap perdarahan post partum, dan diperkuat dengan hasil nilai probabilitas lebih besar dari nilai taraf signifikansi (0,981 > 0,05 dan 0, 253 > 0,05 serta 0, 692 > 0, 05). Sedangkan bayi besar dan partus lama menunjukan nilai R Square yang dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap perdarahan post partum, yang diperkuat dengan hasil nilai probabilitas lebih kecil dari nilai taraf signifikansi (0,00 < 0,05 dan 0,00 < 0,05). Selanjutnya disimpulkan bahwa faktor paritas, kehamilan ganda, dan hidramnion tidak berpengaruh terhadap perdarahan post partum, sedangkan besar bayi dan lama partus berpengaruh terhadap perdarahan post partum. Kata kunci: faktor resiko perdarahan post partum. * = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan, Kampus Bangkalan PENDAHULUAN Latar Belakang Di kawasan ASEAN Indonesia mempunyai AKI yang paling tinggi. Berdasarkan hasil SDKI (2005) AKI dilaporkan mencapai 265 tiap 100 ribu kelahiran hidup. Faktor yang menjadi penyebab angka kematian ibu tetap tinggi di antaranya adalah perdarahan, infeksi, hipertensi kehamilan, serta abortus. Di antara keempat faktor tersebut perdarahan menduduki tingkat pertama dengan 45% kejadian (http:www.rinspeed.com/pages.htm). Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500 ml dalam 24 jam pertama setelah kelahiran bayi. Perdarahan pasca persalinan masih merupakan salah satu sebab kematian ibu yang penting. Mochtar melaporkan angka kematian ibu 7,9% dan Wiknjosastro 1,8-4,5% (http:www.alamsyah.com). Rumusan Masalah Rumusan masalah penelitian adalah: Apakah ada pengaruh paritas, riwayat kehamilan (ganda, hidramnion), bayi besar, partus lama terhadap perdarahan ibu post partum?

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

32

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah: 1) menganalisis pengaruh paritas terhadap perdarahan ibu post partum, 2) menganalisis pengaruh riwayat kehamilan (ganda, hidramnion) terhadap perdarahan ibu post partum, 3) menganalisis pengaruh berat badan bayi terhadap perdarahan ibu post partum, 4) menganalisis pengaruh partus lama terhadap perdarahan ibu post partum. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Studi ini merupakan penelitian analitik observasional, dengan desain non reaktif, peneliti mengambil data sekunder yang ada di rekam medik RS dan melengkapi data secara primer. Populasi penelitian adalah semua ibu bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan tahun 2009 sebesar 444 orang, dengan sampel sebesar 210 orang, yang diambil dengan cara systematic random sampling. Variabel penelitian ini adalah faktor resiko penyebab perdarahan postpartum meliputi paritas, jumlah janin, jumlah air ketuban, besar bayi, partus lama, dan perdarahan postpartum. Waktu penelitian mulai sejak bulan Januari 2010 sampai dengan bulan Agustus 2010. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan. Data primer diambil di rumah pasien di wilayah Kabupaten Bangkalan, kemudian peneliti mengambil data dari rekam medik rumah sakit. Bila ditemukan data tidak lengkap, maka peneliti melengkapi dengan data primer melalui kunjungan rumah bidan penolong. Data yang sudah dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi dan tabulasi silang, kemudian dianalisa dengan menghitung mean, median dan untuk mengetahui pengaruhnya digunakan uji statistik Regresi Linier dengan batas kemaknaan 0,05. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Pengaruh Paritas terhadap perdarahan Post Partum Berdasarkan pengolahan data menurut paritas di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan pada tahun 2009 didapatkan ibu nifas dengan paritas primipara yaitu sebanyak 103 ibu nifas (48,6%). Dari 103 ibu nifas primipara, yang mengalami HPP (perdarahan post partum) sebesar 12,6%, dari 87 ibu nifas multipara, yang mengalami HPP sebesar 16,1%, dan dari 22 ibu nifas grande multipara, yang mengalami HPP sebesar 9,1%. Hasil uji statistik Regresi logistik menunjukkan nilai R Square 0,000 (0%), berarti persentase variabel paritas tidak dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap variabel perdarahan post partum. Keadaan ini diperkuat dengan nilai p menunjukkan nilai yang lebih besar dari (0,981 > 0,05) yang berarti H0 diterima atau tidak ada pengaruh paritas terhadap terjadinya HPP. Terjadinya HPP dipengaruhi oleh banyak faktor selain faktor paritas. Menurut Manuaba (1999), multiparitas dan grandemulti merupakan faktor predisposisi perdarahan post partum, dikarenakan kelemahan dan kelelahan otot rahim. Apabila dalam pertolongan persalinan diberikan uterutonika segera setelah persalinan bayi sehingga persalinan plasenta dipercepat dan terjadi kontraksi uterus, maka perdarahan post partum tidak akan terjadi.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

33

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

2. Pengaruh Riwayat Kehamilan Ganda terhadap perdarahan Post Partum Berdasarkan pengolahan data menurut kehamilan di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan pada tahun 2009, didapatkan ibu nifas dengan riwayat kehamilan tunggal yaitu sebanyak 204 ibu nifas (96,2%). Dari 204 ibu nifas dengan kehamilan tunggal, yang mengalami HPP sebesar 14,2%, dan dari ibu nifas dengan kehamilan gemelli yang mengalami HPP sebesar 0,0%. Hasil uji Regresi logistik menunjukkan nilai R Square 0,006 (0,6%), berarti hanya 0,6% variabel riwayat kehamilan ganda dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap HPP. Kondisi ini diperkuat dengan nilai p lebih besar dari (0,253 > 0,05) yang berarti H0 diterima, ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh kehamilan ganda terhadap terjadinya HPP. Menurut buku safe motherhood (2001), dijelaskan bahwa kehamilan ganda dapat menyebabkan uterus terlalu meregang, dengan overdistensi tersebut dapat menyebabkan uterus atonik atau perdarahan yang berasal dari letak plasenta akibat ketidakmampuan uterus berkontraksi dengan baik. Faktor resiko ini dapat dikenali saat antenatal dan dapat dirujuk pada waktu yang tepat. 3. Pengaruh Jumlah Air Ketuban terhadap perdarahan Post Partum Berdasarkan pengolahan data menurut jumlah air ketuban di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan pada tahun 2009 didapatkan ibu nifas dengan jumlah air ketuban normal sebanyak 211 ibu nifas (99,5%). Dari 211 ibu nifas normal, yang mengalami HPP sebesar 13,7%, dan dari 1 ibu nifas dengan hidramnion, yang mengalami HPP sebesar 0,0%. Hasil uji Regresi logistik menunjukkan nilai R Square 0.001 ( 0,1% ), berarti hanya 0,1% variabel jumlah air ketuban dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap variabel HPP. Keadaan ini diperkuat dengan nilai p lebih besar dari (0,692 > 0,05), yang berarti H0 diterima atau tidak ada pengaruh jumlah air ketuban terhadap terjadinya HPP. Hidramnion ringan biasanya tidak memerlukan perawatan. Meskipun dengan komplikasi yang sedang, termasuk kasus di mana terdapat rasa nyeri, biasanya dapat dirawat tanpa intervensi sampai persalinan timbul atau ketuban pecah secara spontan. Bila dijumpai dispnea atau nyeri perut, atau bila wanita tersebut sukar bergerak, perlu dirawat di rumah sakit. Tidak ada pengobatan yang memuaskan terhadap hidramnion yang simtomatik, kecuali dengan mengeluarkan sebagian cairan amnion (Pritchard). 4. Pengaruh Bayi Besar terhadap perdarahan Post Partum Berdasarkan pengolahan data menurut besar bayi di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan pada tahun 2009, didapatkan ibu nifas dengan bayi normal yaitu sebanyak 185 ibu nifas (87,3%). Dari 185 ibu nifas dengan bayi normal, yang mengalami HPP sebesar 5,4%, dan dari 27 ibu nifas dengan bayi besar, yang mengalami perdarahan HPP sebesar 70,4%. Hasil uji Regresi logistik menunjukkan nilai R Square 0,397 (39,7%), berarti 39,7% variabel besar bayi dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap variabel perdarahan post partum.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

34

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Keadaan ini diperkuat dengan nilai p lebih kecil dari (0,00 < 0,05), yang berarti H0 ditolak atau ada pengaruh bayi besar terhadap terjadinya HPP. Menurut buku Safe Motherhood (2001), uterus ibu nifas pada persalinan dengan bayi besar akan membesar melebihi kehamilan biasa yang sehingga uterus terlalu meregang yang mengakibatkan perdarahan yang berasal dari letak plasenta akibat ketidak mampuan uterus berkontraksi dengan baik, kontraksi ini sangat diperlukan untuk mengendalikan perdarahan. Bila kontraksi lemah maka perdarahan post partum akan melebihi 500 ml bila tidak segera diatasi bisa terjadi shok dan akan terjadi kematian. 5. Pengaruh Lama Partus terhadap perdarahan Post Partum Berdasarkan pengolahan data menurut lama partus di RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan pada tahun 2009 didapatkan ibu nifas dengan partus normal yaitu sebanyak 134 ibu nifas (63,2 %). Dari 134 ibu nifas normal, yang mengalami HPP sebesar 4,5%, dan dari 78 ibu nifas dengan partus lama, yang mengalami HPP sebesar 29,5%.Hasil uji Regresi Logistik menunjukkan R Square 0,123 (12,3%), berarti 12,3% variabel lama persalinan dapat memperjelas sebagai prediktor terhadap HPP. Keadaan ini diperkuat dengan nilai p lebih kecil dari (0,00 < 0,05), yang berarti H0 ditolak atau ada pengaruh lama partus terhadap terjadinya HPP. Partus lama terbanyak disebabkan oleh kontraksi uterus yang tidak adekuat,selain faktor kontraksi juga dapat disebabkan oleh faktor janin dan faktor panggul ibu. Jenis kelainan kontraksi adalah Inersia uteri dimana kontraksi rahim lebih singkat dan jarang sehingga tidak menghasilkan penipisan dan pembukaan serviks,serta penurunan bagian terendah janin,selain inertia uteri kelainan kontraksi yang lain adalah incoordinate uterine action yaitu tonus otot uterus meningkat diluar kontraksi, tidak ada koordinasi antara kontraksi bagian atas,tengah dan bawah menyebabkan kontraksi tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. Tonus otot yang terus naik menyebabkan rasa nyeri yang lebih, bila ketuban sudah lama pecah menyebabkan spasmus sirkuler setempat,sehingga terjadi penyempitan cavum uteri disebut dengan lingkaran kontraksi yang biasanya ditemukan pada batas antara bagian atas dan segmen bawah uterus. Menurut buku Safe Motherhood (2001), persalinan lama dapat menyebabkan kelelahan uterus dimana tonus otot rahim pada saat setelah plasenta lahir uterus tidak dapat berkontraksi dengan baik sehingga terjadi perdarahan pada post partum primer. Tidak ada pengaruh paritas terhadap terjadinya perdarahan post partum (HPP). SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Tidak ada pengaruh kehamilan ganda terhadap terjadinya HPP 2) Tidak ada pengaruh jumlah air ketuban terhadap terjadinya HPP 3) Ada pengaruh berat badan bayi terhadap terjadinya HPP 4) Ada pengaruh partus lama terhadap terjadinya HPP. Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitiankan adalah:
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 35

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

1) Bagi pihak rumah sakit diharapkan: (a) lebih mewaspadai ibu bersalin dengan riwayat persalinan dengan partus lama dan persalinan dengan bayi besar yang mengandung resiko perdarahan pada post partum, (b) pada ibu bersalin sebaiknya digunakan manajemen aktif kala III untuk mencegah terjadinya perdarahan pada ibu post partum. 2) Bagi profesi IBI diharapkan: (a) menghimbau para bidan di BPS agar merujuk ibu bersalin dengan partus lama masih dalam kondisi yang baik agar tidak terjadi partus kasep. DAFTAR PUSTAKA Amsyah (2008). Post partum,http:/www.alhamsyah.com FK UI,(2002). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta.YBP Sarwono Prawirohardjo. Maurren,(2008).Kedaruratan dalam persalinan.Jakarta.EGC. Mochtar (1999).Obstetri Operatif Obstetri Sosial ed.Sinopsis Obstetri jilid 2.Jakarta.EGC Notoatmodjo,Soekidjo, (2002). MetodologiPenelitian Kesehatan.Jakarta. Rineka cipta. Nursalam,(2001), Metodologi Riset Penelitian. Jakarta. CV Agung Seto. Prirtchard,(1991), Obstetri William, Jakarta. Airlangga University Press. Rendra, (2008). Empat Faktor Penyebab kematian Ibu, http:/www.risoeed.com. Saifuddin A.B,(2001).Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta.YPB Sarwono Prawirohardjo. Unpad, (1983). Obstetri Patologi. Bandung.Elena. Wiknjosastro, (1999). Ilmu Kebidanan. Jakarta.YPB Sarwono Prawirohardjo. WHO, Safe Motherhood,(2001). Modul Hemorogi Postpartum. Jakarta. EGC

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

36

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

PERMASALAHAN MAHASISWA PADA PENEMPATAN PRAKTIK NERS PERTAMA KALI DI STASE KEPERAWATAN ANAK Haryatiningsih Purwandari *, Wastu Adi Mulyono * ABSTRAK Keperawatan anak merupakan keperawatan lanjut dan memerlukan pengalaman merawat masalah berbagai sistem pada orang dewasa. Kondisi lahan praktik menyebabkan stase praktik keperawatan anak ditempatkan pada putaran pertama praktik profesi Ners yang. Belum ada penelitian sebelumnya yang melaporkan permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi permasalahan mahasiswa yang menjalani penempatan pertama praktik Ners di stase keperawatan anak. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dilakukan. Lima mahasiswa Program Ners FKIK Unsoed Angkatan V yang telah menjalani praktik penuh stase anak dipilih dan diwawancarai dalam kelompok diskusi terarah (FGD). Permasalahan yang dihadapi mahasiswa antara lain: lingkungan belajar klinik, ketidaksesuaian teori dan praktik, dan perlunya self efficacy mahasiswa. Kesimpulan. Secara keseluruhan penempatan pertama di stase anak tidak menjadi permasalahan jika self efficacy mahasiswa sudah terbentuk. Sebagai rekomendasi, pihak pengelola akademik perlu memfasilitasi perkembangan self efficacy melalui penetapan tujuan afektif dalam pembelajaran. Perawat rumah sakit perlu pelatihan pembentukan lingkungan belajar klinik untuk seluruh staf perawat. Penelitian selanjutnya dapat melakukan bentuk pelatihan CLE untuk perawat rumah sakit pendidikan. Kata kunci: praktik Ners, lingkungan belajar, self efficacy * = FKIK Unsoed Purwokerto, Jurusan Keperawatan PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan klinik sangat vital dalam kurikulum keperawatan (Chan, 2002). Keperawatan anak dianggap sebagai pengetahuan lanjut dalam praktik keperawatan. Hal ini disebabkan perawatan anak membutuhkan pengetahuan gangguan sistem tubuh secara menyeluruh yang biasanya didapatkan selama menjalankan stase keperawatan medikal bedah. Penegasan anggapan ini jelas terlihat dengan penempatan keperawatan anak dalam semester yang lebih tinggi, termasuk juga dalam stase praktik Ners. Padatnya lahan praktik oleh mahasiswa menuntut penyesuaian terhadap penempatan calon Ners. Penempatan dengan pendekatan konvensional yaitu menjalani penempatan. awal pada stase keperawatan medikal bedah tidak dapat diaplikasikan lagi. Penyesuaian terhadap penempatan praktik ners sangat diperlukan. Meskipun demikian penempatan pertama mahasiswa pada stase anak perlu dikaji agar dapat mengatasi permasalahan yang ada.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

37

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Peneliti belum menemukan laporan yang berkaitan dengan hal ini sehingga penelitian ini perlu dilakukan. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi permasalahan mahasiswa yang menjalani penempatan pertama kali praktik profesi Ners pada stase keperawatan anak. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Pendekatan kualitatif fenomenologis dipilih dalam penelitian ini, dengan menekankan pada subyektifitas pengalaman mahasiswa dalam menjalani penempatan praktik klinik pertama kali pada stase keperawatan anak. Pendekatan fenomenologi adalah pengembangan makna pengalaman dari suatu fenomena untuk mencari kesatuan makna melalui identifikasi inti yang akurat pengalaman hidup sehari-hari (Steubert and Carpenter, 1999). Partisipan Partisipan penelitian adalah 5 orang mahasiswa program reguler yang sedang menjalani praktik ners angkatan V di stase keperawatan anak di RS Goetheng Tarunadibrata Purbalingga. Partisipan terdiri dari 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Kelima partisipan dipilih karena semuanya merupakan satu kelompok yang paling awal ditempatkan di ruang perawatan anak dan telah menjalani putaran di RS. Pengumpulan Data Diskusi kelompok terfokus (Focused Group Discusion/FGD) digunakan untuk menggali data, dengan pertimbangan efisiensi waktu dan kesetaraan semua mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan dalam 2 jam, di ruang yang nyaman. Diskusi direkam dan disalin dalam bentuk transkrip. Dua orang peneliti secara simultan memberikan pertanyaan tentang pengalaman selama praktik klinik pertama, untuk memudahkan kedalaman informasi yang diperoleh. Analisis Data Content analyses (analisis isi) digunakan untuk mempelajari isi diskusi, melalui pembacaan hasil rekaman dan membandingkannya dengan catatan kedua peneliti. Tematema diidentifikasi dan dikategorikan untuk memperoleh informasi yang memiliki makna. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Terdapat tiga tema utama dari hasil diskusi, meliputi: lingkungan belajar klinik, ketidaksesuaian antara teori dan praktik, dan koping mahasiswa menghadapi tekanan. Lingkungan Belajar Klinik Pembelajaran klinik sangat penting untuk mahasiswa keperawatan. Keberhasilan pembelajaran klinik sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya adalah lingkungan belajar
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 38

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

klinik (clinical learning environment). Lingkungan belajar klinik merupakan salah satu bentuk iklim pembelajaran, yang pada pembelajaran medis, inisiatif awal, perkembangan berkelanjutan, dan kelelahan kepaniteraan (Boor et al., 2008). Lingkungan belajar klinik dibentuk oleh beberapa faktor. Faktor pembentuk tersebut meliputi kurikulum, sistem, pembimbing klinik, staf perawat, beban kerja dan lingkungan yang baik. Faktor yang Lingkungan belajar klinik yang paling dirasakan oleh mahasiswa sebagai hal yang sangat mengganggu adalah perilaku kurang suportif dari staf perawat. Staf perawat merupakan orang yang paling sering berinteraksi dengan mahasiswa. Perilaku staf perawat inilah yang sebetulnya dapat diimitasi oleh mahasiswa. Hubungan dengan staf perawat dirasakan sebagai tekanan tersendiri oleh mahasiswa. Hal ini diakui oleh seluruh partisipan. Perilaku perawat yang sangat tidak nyaman dirasakan mahasiswa adalah ketidakramahan staf perawat. Hal ini dapat ditemukan pada pernyataan partisipan: sebel Bu kalau perawatnya jutek (tidak ramah). (P1) kami sekelompok sudah berusaha tersenyum pada perawat, bahkan menyapa lebih dulu, tapi dicuekin sajamalah mereka asyik sendiri bicara dengan perawat yang lain kan sebel Bu (P2) Mahasiswa menyadari sepenuhnya bahwa perawat sibuk. Mahasiswa bahkan mempersepsikan bahwa perawat menganggap mahasiswa hanya merepotkan saja. Perilaku perawat tersebut dapat dijelaskan dalam teori CLE, yaitu beban kerja mempengaruhi lingkungan (Fretwell 1980; dalam Dunn and Burnett, 1995). Selain itu dapat juga dipengaruhi kurang percaya diri perawat untuk memberikan bimbingan. Hal ini disebabkan mahasiswa yang praktik sudah memperoleh gelar sarjana (S1) sedangkan para staf perawat semuanya hanya berpendidikan Diploma 3. Beban kerja yang tinggi menyebabkan staf perawat tidak memperdulikan hal-hal lain selain tugas yang menjadi tanggung jawabnya termasuk memfasilitasi mahasiswa bimbingan. Beban kerja tinggi pada waktu jaga pagi dan malam dapat dilihat dari rasio perawat dan pasien di ruang Cempaka RS Goetheng Tarunadibrata. Mahasiswa harus berinisiatif sendiri untuk mencapai tujuan kompetensinya (Bezuidenhout et al., 1999). Lingkungan belajar yang baik dapat mengurangi beban kerja perawat jika dapat dikelola dengan baik. Kepercayaan kepada mahasiswa sehingga memberikan tugas yang tepat dapat mengurangi kelelahan perawat akibat menangani tugas yang banyak. Alokasi pasien merupakan salah satu faktor penentu lingkungan belajar klinik yang baik (Dunn and Hansford, 1997). Mahasiswa juga merasa lebih percaya diri jika diberikan tugas yang mampu dikerjakannya (Alhaqwi et al., 2010). Hal ini dapat ditemukan dari pernyataan partisipan: jika diberikan kesempatan kami pasti dapat mengerjakannya (P3) saya sebelumnya sudah pernah magang di tempat lain. Waktu terjadi kejang saya sudah mengatakan pada perawat bahwa itu bukan kejang demam, tetapi perawatnya malah mengatakan itu biasa ternyata saya memang benar Bu, karena setelah diperiksa lagi pasien tersebut menderita epilepsy (P2) Mahasiswa praktik sudah memiliki pengetahuan yang cukup melalui pembelajaran di kampus. Mahasiswa perlu memperoleh kepercayaan di lahan praktik agar menumbuhkan keingintahuan lebih besar. Kepercayaan ini dapat mengurangi tekanan lingkungan yang penuh
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 39

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

stress dari mahasiswa. Karena mahasiswa sudah merasakan lingkungan perawatan anak merupakan sumber tekanan tersendiri. Hal ini seperti diungkapkan oleh partisipan: bingung Bubaru didekati sudah menangis.. tidak tahu harus berbuat kalau mendengar anak menangis Kurang percaya diri dalam memberikan bimbingan merupakan permasalahan pada pembimbing di lahan praktik. Peran pembimbing klinik yang memiliki pendidikan setara sangat diperlukan. Selain itu juga perlu pembimbing klinik juga memiliki kewajiban mendelegasikan pengawasan dan fasilitasi pada perawat staf perawat. Komunikasi antara pembimbing klinikstaf perawat-dan mahasiswa, akan dapat menjembatani komunikasi dan menurunkan ketegangan antara mahasiswa dan staf perawat. Hal ini dapat dijembatani melalui peran kepala ruang (Bezuidenhout et al., 1999). Perawat yang diam ini menyebabkan komunikasi terhadap asuhan keperawatan menjadi tidak terjalin dengan baik. Mahasiswa mengalami kesulitan untuk memperoleh pengalaman melakukan prosedur tertentu misalnya injeksi, atau prosedur keperawatan lainnya. kadang-kadang kita sudah kontrak dengan pasien untuk melakukan injeksi.. tapi ternyata sudah dikerjakan oleh perawatnya Ketidaksesuaian Teori dan Praktik Mahasiswa semakin bingung menghadapi perilaku perawat. Kebingunan terutama disebabkan oleh adanya perbedaan prosedur yang dilakukan di lahan praktik dengan teori yang di terima dalam tahap akademik. Ketidaksesuaian ini merupakan suatu hal yang disadari. Hal ini dapat diketahui dari pernyataan yang dilaporkan oleh partisipan, di praktik itu memang tidak seperti di teori Dik (P1,P3,P5) Ketidaksesuaian dengan teori menunjukkan mahasiswa tidak memperoleh contoh yang baik untuk menunjukkan komitmen terhadap standar. Setiap rumah sakit memiliki standar operasional prosedur yang lengkap, demikian juga dengan di rumah sakit ini. Menghadapi ketidaksesuaian pelaksanaan prosedur dengan teori yang diperoleh di fase akademik. Ketidaksesuaian bukan hanya terjadi pada permasalahan teknik dan prosedur. Mahasiswa juga mengatakan adanya filosofi keperawatan anak yang tidak diterapkan oleh perawat anak itu sendiri. Salah satu filosofi tersebut adalah atraumatic care. Mahasiswa melihat perawat ruang anak tetap memaksakan suatu tindakan meskipun anak meronta dan menangis. sakit itu sudah risiko nya Dik, jadi prosedur tetap harus dijalankan Ketidaksesuaian antara teori dan praktik membuat mahasiswa serba salah. Mahasiswa menjadi ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Kondisi ini sering disebut sebagai perbedaan antara praktisi dan mahasiswa (practicioner-student gap) (Endacott et al., 2003). Hal ini dapat diperoleh dari pernyataan partisipan: ...kalau kami yang melakukan perasat sendirimaka akan kami lakukan sesuai teoritapi kalau dengan perawat ruangan mereka sering tidak sabarkelamaan katanya Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan role model dalam praktik klinik, dan pembelajaran laboratorium yang sesuai dengan lahan praktik. Baik pembelajaran lab maupun

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

40

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

pembelajaran klinik saling melengkapi (Alteren and Bjrk, 2006). Mahasiswa mengharapkan adanya perawat yang bisa dicontoh, yang berkualitas. Salah seorang partisipan mengatakan, kita pingin pembimbing yang berkualitas (P1) Peran pembimbing atau preceptor di lahan praktik selain sebagai pembimbing juga harus dapat menjadi role model. Preseptorship yang efektif mampu mengintegrasikan profesional dan interpersonal dalam hubungan dengan mahasiswa (Heffernan et al., 2009). Perawat yang bertugas fungsional lebih sesuai sebagai pembimbing dalam hal ini. Realitas yang ada justru perawat yang memiliki pendidikan Ners, -yang berkompeten sebagai pembimbing-, justru ditempatkan di struktural yang tidak bersentuhan langsung dengan aktivitas fungsional keperawatan. Hal ini menyebabkan mahasiswa kurang berinteraksi dengan pembimbing. Mahasiswa, sesuai dengan teori Bandura, belajar melalui mengamati perilaku orang lain yang sangat dihormati (Price and Price, 2009). Koping Mahasiswa Lahan praktik yang penuh dengan tekanan menuntut koping yang positif dari mahasiswa. Seluruh partisipan mengatakan berusaha beradaptasi dengan baik. Berusaha mengawali hubungan dengan lingkungan merupakan koping yang konstruktif. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan, kami sekelompok punya kesepakatan harus memulai hubungan baik Mahasiswa menunjukkan koping yang sehat dalam menghadapi permasalahan stressor di lingkungan klinik dengan sehat. Ketrampilan ini merupakan self efficacy yang merupakan modal dalam keberhasilan pembelajaran klinik. Mahasiswa memutuskan untuk memulai komunikasi lebih dulu jika ada masalah. Mereka menyadari komunikasi yang baik dapat mengurangi konflik. Kurangnya komunikasi menyebabkan mahasiswa gagal memperoleh target perasat yang dibutuhkan, seperti diungkapkan partisipan: kita sudah kontrak dengan keluarga akan melepas infuseh ketika kita datang lagiperawat sudah melepas infuse tersebuttanpa memberi tahu pada kami (P1, P2, P5) Usaha untuk mengatasi masalah secara positif ini diperoleh sebagai hasil berbagi pengalaman dari kakak kelas. Pengalaman kakak kelas yang kurang komunikatif dengan perawat dapat berakibat pada mahasiswa pada angkatan atau periode stase anak berikutnya. Hal ini diungkapkan partisipan: kakak kelas bercerita begini, Pokoknya Dik seribu kebaikan kami tidak dilihat, tetapi sedikit aja kesalahan kamipasti diingat-ingat (P3). kalau kami berbuat salah, nanti adik kelas yang kesulitan waktu praktik di sini (P1). Usaha mengatasi permasalah secara positif diperoleh dari adanya self efficacy yang dimiliki oleh mahasiswa. Mahasiswa berpikir positif dan lebih memilih mencari solusi daripada menggunakan mekanisme pertahanan diri. Self efficacy yang kuat merupakan precursor pendorong otonomi (Livsey, 2009). Sayang sekali self efficacy ini merupakan keterampilan bawaan mahasiswa karena tidak difasilitasi oleh akademik. ya biasanya kami memang begitusebelum kuliah bukan dari kampus Bu (P4).

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

41

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Self efficacy sangat diperlukan dalam keberhasilan pembelajaran klinik. Ketrampilan ini juga membutuhkan fasilitasi. Akademik dapat memupuk dan memperkuat keterampilan bawaan ini melalui aktivitas pembelajaran. Interaksi dalam kegiatan belajar-mengajar dan penetapan ranah afektif dalam tujuan belajar dapat mengingatkan dosen-mahasiswa dalam membentuk self efficacy ini. Lingkungan pendidikan sangat perlu membangun self efficacy (Livsey, 2009). Self efficacy merupakan kompetensi lanjut yang dicapai dalam proses pembelajaran. Setiap pengajar selalu dibekali untuk merencanakan tujuan dalam ranah kongnitif, afektif, dan psikomotor. Self efficacy merupakan bagian dari pencapaian tujuan dalam ranah afektif. Perhatian pada kompetensi lanjut ini penting diperhatikan oleh akademik. Pengulangan pada perilaku-perilaku yang diinginkan ini yang kemudian akan membentuk karakter sikap mahasiswa di klinik. Seperti halnya pemanfaatan nilai spiritualitas dalam bisnis, perlu pengulangan sampai membentuk karakter yang diinginkan dan memberi manfaat pada bisnis (Cavanagh and Bandsuch, 2002). SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Kesimpulan Terdapat tiga masalah utama yang dihadapi mahasiswa ketika praktik klinik, yaitu lingkungan belajar klinik, ketidaksesuaian penerapan teori dalam praktik, dan perlunya penyiapan self efficacy mahasiswa. Secara keseluruhan penempatan pertama di stase anak tidak menjadi permasalahan jika self efficacy mahasiswa sudah terbentuk. Saran Akademik perlu memfasilitasi berkembangkan self efficacy melalui penetapan tujuan afektif pembelajaran. Perawat rumah sakit perlu pelatihan pembentukan lingkungan belajar klinik untuk seluruh staf perawat. Penelitian selanjutnya dapat melakukan bentuk pelatihan CLE (Clinical Learning Environment) untuk perawat rumah sakit pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Alhaqwi, A. I., van der Molen, H. T., Schmidt, H. G. & Magzoub, M. E. (2010) Determinants of effective clinical learning: a student and teacher perspective in Saudi Arabia. Education For Health (Abingdon, England), 23, 369-369. Alteren, J. & Bjrk, T. (2006) Students' learning of practical skills in the skills-laboratory and the clinical setting: an explorative study [Norwegian]. Nordic Journal of Nursing Research & Clinical Studies / Vrd I Norden, 26, 25-30. Bezuidenhout, M. C., Koch, S. & Netshandama, V. O. (1999) The role of the ward manager in creating a conducive clinical learning environment for nursing students. Curationis, 22, 46-52. Boor, K., Scheele, F., Cpm, Teunissen, P. W., den Breejen, E. M. E. & Scherpbier, A. J. J. (2008) How undergraduate clinical learning climates differ: a multi-method case study. Medical Education, 42, 1029-1036.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 42

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Cavanagh, G. F. & Bandsuch, M. R. (2002) Virtue as a benchmark for spirituality in business. Journal of Business Ethics, 38, 109-117. Chan, D. (2002) Development of the Clinical Learning Environment Inventory: using the theoretical framework of learning environment studies to assess nursing students' perceptions of the hospital as a learning environment. The Journal Of Nursing Education, 41, 69-75. Dunn, S. V. & Burnett, P. (1995) The development of a clinical learning environment scale. Journal of Advanced Nursing, 22, 1166-1173. Dunn, S. V. & Hansford, B. (1997) Undergraduate nursing students' perceptions of their clinical learning environment. Journal of Advanced Nursing, 25, 1299-1306. Endacott, R., Scholes, J., Freeman, M. & Cooper, S. (2003) The reality of clinical learning in critical care settings: a practitioner:student gap? Journal Of Clinical Nursing, 12, 778785. Heffernan, C., Heffernan, E., Brosnan, M. & Brown, G. (2009) Evaluating a preceptorship programme in South West Ireland: perceptions of preceptors and undergraduate students. Journal Of Nursing Management, 17, 539-549. Livsey, K. R. (2009) Structural empowerment and professional nursing practice behaviors of baccalaureate nursing students in clinical learning environments. International Journal Of Nursing Education Scholarship, 6, Article26-Article26. Price, A. & Price, B. (2009) Role modelling practice with students on clinical placements. Nursing Standard. RCN Publishing Company. Steubert, H. J. & Carpenter, D. R. (1999) Qualitative research in nursing: advancing humanistic imperative, Philadelphia, Lippincott.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

43

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN GIZI DENGAN TUMBUH KEMBANG ANAK USIA 5-6 TAHUN

Temu Budiarti *, P.H.Wahjurini *, Fifi Suryawati ** ABSTRAK Makanan yang mengandung gizi mempunyai peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Adanya anak dengan asupan gizi tidak baik dan tumbuh kembang yang tidak normal disebabkan karena banyaknya orang tua yang kurang mengerti dan memahami pentingnya memberikan asupan makanan yang bergizi. Dari studi pendahuluan yang dilakukan di TK Dharma Wanita Desa Setono Rejo, peneliti mendapatkan masih banyak anak yang dibiarkan membeli jajan sembarangan oleh orang tuanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang hubungan asupan gizi dengan tumbuh kembang anak usia 5-6 tahun di TK Dharma Wanita Desa Sentonorejo Kecamatan Kras Kabupaten Kediri. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross-sectional, populasinya adalah semua ibu anak usia 5-6 tahun dan anak usia 5-6 tahun di TK Dharma Wanita, sampelnya berjumlah 29 ibu dan 29 anak diambil dengan teknik Simple Random Sampling. Data ditabulasikan kemudian dianalisa dengan menggunakan uji chi-kuadrat. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebagian besar anak usia 5-6 tahun di TK Dharma Wanita memiliki asupan gizi baik dan tumbuh kembang yang normal pula . Dari uji yang digunakan diperoleh harga x2 hitung (3,837) > x2 (3,481), sehingga ada hubungan antara asupan gizi dengan tumbuh kembang anak usia 5-6 tahun. Kata Kunci: Asupan Gizi, Tumbuh Kembang, Usia 5-6 Tahun. * = Poltekkes Kemenkes Malang, Jurusan Kebidanan, Kampus Kediri ** = Alumnus Poltekkes Kemenkes Malang PENDAHULUAN Latar Belakang Data UNICEF tahun 1999 menunjukkan 10-12 juta (50-69,7%) anak balita di Indonesia 4 juta diantaranya di bawah satu tahun berstatus gizi sangat buruk dan mengakibatkan kematian, malnutrisi berkelanjutan meningkatkan angka kematian anak. Setiap tahun diperkirakan 7% anak balita Indonesia (sekitar 300.000 jiwa) meninggal, ini berarti setiap 2 menit terjadi kematian satu anak balita dan 170.000 anak (60%) diantaranya akibat gizi buruk. Dari seluruh anak usia 4-24 bulan yang berjumlah 4,9 juta di Indonesia, sekitar seperempatnya sekarang berada dalam kondisi kurang gizi (Asta Qauliyah, 2008). Demikian pula data yang diperoleh dari Jawa Timur menunjukkan bahwa sebanyak 5000 balita dinyatakan mengalami masalah gizi yang disebabkan karena masih tingginya jumlah penduduk miskin di Provinsi Jawa Timur (Siswono, 2008). Masalah tumbuh kembang anak yang masih banyak ditemui sampai sekarang, situasi dan kondisi yang tidak kondusif turut menjadi penyebab makin banyaknya anak yang mengalami gangguan atau penyimpangan tumbuh kembang. Di Surabaya masih didapatkan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 44

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

kasus keterlambatan tumbuh kembang yang salah satunya adalah keterlambatan berbicara dengan jumlah lebih dari 40 persen dari kasus tumbuh kembang yang ada. Kasus ini meningkat empat kali lipat dibanding empat tahun yang lalu (Reny Mardiningsih, 2010). Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Jawa Timur menyebutkan bahwa di Kota Kediri yang mempunyai jumlah balita dan anak prasekolah 24.523 hanya dilakukan deteksi dini pada 7.622 balita dan anak prasekolah, sedangkan di Kabupaten Kediri yang memiliki balita dan anak prasekolah 125.728 hanya dilakukan deteksi dini pada 50.689 balita dan anak prasekolah, hal ini menunjukkan bahwa belum dilakukan deteksi dengan tepat sehingga tidak bisa diketahui jumlah anak dengan kelainan tumbuh kembang yang sesungguhnya (Dinas Kesehatan Jawa Timur, 2004). Dari studi pendahuluan yang dilakukan di TK Dharma Wanita Desa Setono Rejo, dijumpai beberapa anak yang dibiarkan membeli jajan sembarangan oleh orang tuanya. Pertanyaan tentang asupan gizi diberikan kepada 5 orang tua siswa dan hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak lebih suka mengkonsumsi makanan ringan yang di jual di sekolah, dan didapatkan anak yang masih mengalami kesulitan mengutarakan maksud dalam berbicara. Rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian Rumusan masalah penelitian ini adalah Adakah Hubungan Asupan Gizi Dengan Tumbuh Kembang Anak Usia 5-6 Tahun? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Asupan Gizi Dengan Tumbuh Kembang Anak Usia 5-6 Tahun Di TK Dharma Wanita Desa Setono Rejo Kecamatan Kras Kabupaten Kediri. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah dapat digunakan sebagai masukan dan bahan pertimbangan serta evaluasi bagi orang tua dan guru agar dapat memantau dalam pemberian asupan makanan bergizi. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di TK Dharma Wanita Desa Setono Rejo Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, tanggal 10-15 Mei 2010, menggunakan pendekatan cross sectional. Variabel independen yang diamati adalah Asupan gizi pada anak usia 5-6 tahun sedangkan tumbuh kembang anak merupakan variabel dependen. Populasi penelitian adalah anak usia 5-6 tahun dan anak usia 5-6 tahun di TK Dharma Wanita dengan besar sampel 29 orang, yang ditentukan dengan simple random sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan pemeriksaan pada anak usia 5-6 tahun untuk mengetahui tumbuh kembang anak dan pertanyaan dengan kuesioner untuk mengetahui asupan gizi anak. Peneliti mengumpulkan orang tua anak kemudian meminta orang tua untuk menjadi responden. Kuesioner untuk mengetahui asupan gizi anak berjumlah 15 soal berupa pertanyaan tertutup dengan dua pilihan (ya-tidak). Pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan dengan menggunakan seperangkat alat pemantauan tumbuh kembang yaitu lembaran Deteksi Dini Tumbah Kembang (DDTK) yang meliputi lembar KPSP, TDD, TDL, KMME, dan GPPH.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 45

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel1. Definisi Operasional Variabel Asupan Gizi Anak Usia 5-6 Tahun Parameter Alat Kode Ukur Nominal Kuesi- Tidak Baik : 0-7 oner Baik : 8-15 (dimodifikasi dari Arikunto, 2006) Skala

Asupan makanan pada anak yang diperoleh dari jawaban ibu terhadap kuesioner asupan gizi meliputi: jenis, jumlah, dan waktu. Tumbuh 4 aspek tumbuh kembang Nominal DDTK Normal: KPSP: Ya=9-10, TDD: Kembang yang dinilai menggunakan Ya=2, TDL: dapat melihat Anak alat DDTK yang meliputi: sampai baris ke-3 dari Usia 5-6 KPSP, TDD, TDL, KMME, posterE, KMME: Tidak=12, Tahun dan GPPH GPPH: nilai < 13 Tidak normal: KPSP: Ya6, TDD: Tidak 1, TDL: tidak bisa melihat baris ketiga poster E, KMME: Ya1, GPPH: nilai 13

Untuk membuktikan hipotesis penelitian digunakan uji Chi Square pada alpha 0,05. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Data distribusi asupan gizi dan tumbuh kembang tertuang dalam Tabel 2 dan Tabel 3. Tabel 2. Distribusi Asupan Gizi Pada Anak Usia 5-6 Tahun No 1 2 Asupan Gizi Baik Tidak Baik Jumlah Jumlah 19 10 29 Persentase (%) 65,52% 34,48% 100%

Tabel 3. Distribusi Tumbuh Kembang Pada Anak Usia 5-6 Tahun No 1 2 Tumbuh Kembang Tumbuh Kembang Normal Tumbuh Kembang Tidak Normal Jumlah Jumlah 21 8 29 Persentase (%) 72,41% 27,59% 100%

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

46

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Hasil uji chi square (X2) dengan mengunakan taraf signifikansi 5%, didapatkan X2 hitung (3,837) X2 tabel (3,481), maka hipotesis nol ditolak, dengan kesimpulan ada hubungan antara asupan gizi dengan tumbuh kembang anak usia 5-6 tahun. Pembahasan ASUPAN GIZI Dari 10 anak yang memiliki asupan gizi tidak baik, 5 di antaranya disebabkan karena orangtua masih membiarkan anak membeli makanan yang dijual sembarangan sebagai contoh adalah makanan siap saji, es lilin, tempura, permen, coklat, dan juga orang tua kurang perhatian terhadap pemberian asupan makanan yang bergizi seperti anak tidak diberikan vitamin secara rutin, membatasi makan anak sehari 3 kali, tidak memberikan sayur setiap hari. Anak yang masih tinggal dengan orang tuanya pasti mengikuti apa yang diajarkan oleh orang tua. Apabila orang tua tidak memberikan perhatian lebih kepada anaknya dan tidak memberitahukan mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, maka anak akan merasa bahwa yang mereka lakukan sudah benar, dalam hal ini anak tidak mengerti kalau jajan sembarangan merupakan hal yang kurang baik bagi kesehatan dirinya. Oleh karena itu, peranan orang tua bagi anak dipandang sebagai suatu hal yang mendasar. Selain itu orangtua juga harus mampu untuk memenuhi kebutuhan makanan dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya, serta dapat mamberikan waktu, perhatian, dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, dan sosial. Djawad Dahlan (2005:47) mengemukakan bahwa orang tua adalah contoh atau model bagi anak, tidak dapat disangkal bahwa contoh dari orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat pada anak. Cara berbuat dan berpikir anak dibentuk oleh cara berpikir dan berbuat orangtuanya. TUMBUH KEMBANG. Terdapat 2 anak dengan gangguan bicara. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi masalah tersebut antara lain orang tua kurang memberikan perhatian pada anaknya. Seorang anak apabila mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tua pasti akan merasa senang, namun apabila diantara orang tua dan anak kurang menjalin komunikasi dan interaksi maka dapat mempengaruhi perkembangan bahasa pada anak. Seharusnya orang tua dapat mengajar, melatih, dan memberi contoh berbahasa kepada anak, sehinga tugas perkembangan bahasa anak dapat terlampaui. Menurut Djawad Dahlan (2005:122) hubungan yang sehat antara orang tua dan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya) memfasilitasi perkembangan bahasa pada anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat (kurang kasih sayang atau kurang perhatian) mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau hambatan dalam perkembangan bahasanya. Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena berbahasa sangat sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, psikologis, emosi, dan lingkungan sekitar anak (Puskesmas Pangkurdi, 2010). Empat anak mengalami tumbuh kembang yang tidak normal pada aspek sosialisasi dan kemandirian, ditunjukkan dengan anak yang belum bisa berpakaian sendiri. Beberapa hal yang berpengaruh pada kondisi tersebut adalah orang tua cenderung tidak memberikan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 47

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

kesempatan pada anak untuk melakukan hal tersebut secara mandiri, karena orangtua kurang begitu telaten mengajari anak untuk berpakaian sendiri dan waktu yang dimiliki orang tua terbatas karena harus bekerja. Hendaknya orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat belajar hidup secara mandiri, karena kemandirian anak berkembang melalui latihan yang dilakukan secara perlahan dan bertahap, begitu pula kehadiran orang tua disamping anak sangat mempengaruhi perkembangan sosial dan kemandiriannya. Kemandirian seorang anak menurut Bariyah (2009) akan terwujud dengan kehadiran orang tua, kedekatan anak dengan orang tua akan membuat anak merasa aman. Karenanya dengan adanya rasa aman anak tahu dan yakin bahwa masih ada orang yang dekat dengan dirinya, sehingga dapat terbentuk pribadi yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Diperoleh hasil 5 anak mengalami tumbuh kembang tidak normal pada aspek gangguan pemusatan dan hiperaktifitas. Dari 5 anak tersebut, mereka mendapatkan nilai total pada deteksi GPPH (Gangguan Pemusatan dan Hiperaktivitas) >13 sehingga mereka dikatakan mengalami gangguan hiperaktivitas. Peneliti mendapatkan bahwa anak-anak tersebut kurang perhatian dalam mengikuti pelajaran, perhatiannya mudah teralihkan, tidak kenal lelah, sering dan mudah menangis, permintaannya harus segera dituruti, dan mudah marah, serta suka mengganggu teman-teman yang lainnya. GPPH menurut Frisian Flag (2010) adalah gangguan neurobehavioural atau gangguan fisik di otak, sehingga anak dengan GPPH tidak mampu berkonsentrasi dan sangat impulsive atau sering bergerak tiba-tiba. Secara umum ciri yang bisa dilihat pada penderita GPPH adalah sulit berkonsentrasi pada suatu aktivitas, dan cenderung terus bergerak, ia selalu pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, dan tidak dapat menyelesaikan satu pekerjaan yang sederhana sekalipun secara tuntas. Kesulitan konsentrasi pada penderita GPPH tersebut dikarenakan adanya gangguan fungsi pada sel otak yang dipengaruhi oleh hormone dopamine yang bekerja sebagai neurotransmitter. HUBUNGAN ANTARA ASUPAN GIZI DENGAN TUMBUH KEMBANG Didapatkan bahwa anak yang mempunyai asupan gizi baik yang juga mengalami tumbuh kembang normal 16 anak (55,17%), hal ini dikarenakan orangtua sudah dapat memberikan asupan gizi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh anak usia 5-6 tahun, dimana dampak dari asupan gizi yang baik pada anak dapat mendukung tumbuh kembang anak yang optimal sehingga anak dapat mencapai kesehatan yang paripurna (Chaerunisa, 2008). Sedangkan yang mempunyai asupan gizi baik namun mengalami tumbuh kembang tidak normal sebanyak 3 anak (10,34%). Anak dengan asupan gizi tidak baik namun mengalami tumbuh kembang normal sebanyak 5 anak (17,24%), dan 5 anak (17,24%) memiliki asupan gizi yang tidak baik dan tumbuh kembang yang tidak normal, hal ini disebabkan karena pemberian asupan gizi oleh orangtua kurang begitu diperhatikan dan orangtua kurang begitu tegas terhadap anak, sehingga jika anak minta dibelikan jajanan ataupun makanan siap saji selalu dituruti oleh orangtua, hal seperti inilah yang sama sekali tidak mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Menurut Chaerunisa (2008) dampak dari asupan gizi yang tidak baik pada anak dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan badan, terhambatnya pertumbuhan mental dan kecerdasan, serta anak mudah jatuh sakit, dan juga dapat terjadi KEP

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

48

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan dari penelitian ini adalah lebih dari 50% responden Anak usia 5-6 tahun memiliki asupan gizi yang baik tumbuh kembang yang yang normal. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara asupan gizi dengan tumbuh kembang anak usia 5-6 tahun. Disarankan bagi lahan penelitian (pihak sekolah) bekerjasama dengan orang tua untuk tetap memberikan asupan makanan bergizi dan memberikan stimulasi untuk tahap tumbuh kembang selanjutnya. DAFTAR PUSTAKA Akhmadi. (2009) Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi. Accessed on February 9th 2010 <http://rajawana.com/artikel.htm>. at 07.00 pm. Arisman. (2004) Gizi Dalam Daur Kehidupan:Buku Ajar Ilmu Gizi. EGC, Jakarta. Asta Qauliyah. (2008) Pola Asuh Dalam Hubungannya Dengan Status Gizi Anak Balita Ditinjau Dari Pekerjaan, Pendapatan, Dan Pengeluaran Orang Tua Di Daerah Sulawesi Selatan. Accessed on February 5th 2010 <http://astaqaulliyah.com/search/hubungan/status/nutrisi/dengan/tumbuh/kembang/okti>. at 05.00 pm. A. Aziz Alimul Hidayat. (2007) Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis Data.Salemba Medika, Jakarta. _____ . (2005) Pengantar Ilmu Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta. _____ . (2008) Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Salemba Medika, Jakarta. Baniyah.(2009) Menumbuhkan Kemandirian Dan Kreativitas Pola Pikir Anak Usia Prasekolah.Accessed on July 18th 2010 <http://www.bandono.web.id/2009/07/03> . at 03.00 pm. Chaerunnisa.(2008) Kenali Asupan Gizi Anak. Accessed on February 9th 2010 <http://www.kenali-asupan-gizi.htm>. at 07.30 pm. Departemen Kesehatan RI. (2006) Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak. Direktorat Bina Kesehatan Anak, Jakarta. Dinas Kesehatan Jawa Timur.(2004) Cakupan Deteksi Tumbuh Kembang Anak Balita, Pemeriksaan Siswa SD Dan Kes.Remaja Propinsi Jawa Timur. Accessed on February 1st 2010 <www.dinkesjatim.go.id>. at 08.00 pm. Djawad Dahlan. (2005) Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Frisian Flag.(2010) Perhatian Lebih Untuk Anak Hiperaktiv. Accessed on 19th July 2010 <http://ibudan balita.com/pojokcerdas/artikelumum/nutrisi>. at 07.45 pm. Hari Astuti. (2009) Ciri-ciri Gizi Kurang Anak. Accessed on February 8th 2010 <http://www.adriyan-infokesahatan.blogspot.com>. at 05.00 pm. Hidayat Syarief. (2004) Masalah Gizi di Indonesia: Kondisi Gizi Masyarakat Memprihatinkan. 2010 <http://www.gizi.net/cgiAccessed on February 2nd bin/berita/fullnewscgi?newsid1088142057,65767>. at 06.00 pm.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 49

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Kominfo Newsroom.(2008) Masalah Gizi di Jawa Timur. Accessed on February 2nd 2010 <http://www.metronews.com>. at 06.30 pm. Kusnadi Rusmil.(2008) Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak. Accessed on January 23th 2010<http://www.com/content/view/23/29/1/5>. at 09.00 pm. Muhammad Zainal Abidin .(2009) Materisasi Pendidikan Dalam Keluarga.Accessed on July 18th 2010 <www.metabied.wordpress.com>. at 08.15 pm. Nursalam. (2002) Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta. ________. (2008) Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta. Reni Mardiningsih.(2010)SurabayaPost.Accessed on February 2nd 2010 <http://www.surabayapost.co.id>. at 09.30 pm. Ribut Eko Wijanti. (2006) Hand Out Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Prodi Kebidanan Kediri Jurusan Kebidanan Poltekkes Malang. Setiadi.(2007) Konsep & Penulisan Riset Keperawatan. Graha Ilmu, Yogyakarta. Siswono .(2008) 5000 Balita Di Jawa Timur Kekurangna Gizi. Accessed on February 11th 2010 <http://tempointeraktif.com>. at 07.30 pm. Soegeng Santoso. (2004) Kesehatan dan Gizi. PT Rineka Cipta, Jakarta. Soekidjo Notoadmoajo. (2005) Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta, Jakarta. Solihin Pudjiadi. (2005) Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. FKUI, Jakarta. Suharsimi Arikunto. (2006) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. PT Rineka Cipta, Jakarta. Sunita Almatsier. (2005) Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Yupi Supartini. (2004) Buku Ajar Konsep Keperawatan Anak. EGC, Jakarta

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

50

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENOPAUSE TENTANG POTENSI SEKSUAL (Di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya) Rijanto *, Ria Rizki Astalina * ABSTRAK Hasil studi pendahuluan di RW 02 Kelurahan Tanah Kali Kedinding Surabaya pada bulan Maret 2008 menunjukkan bahwa 50% ibu menopause mempunyai pengetahuan kurang tentang potensi seksual, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual di RW 02 Kelurahan Tanah Kali Kedinding Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Besar sampel sebanyak 51 responden, yang diambil secara purposive. Variabel penelitian adalah pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (52,94%) ibu menopause mempunyai pengetahuan kurang tentang potensi seksual. Simpulan yang didapatkan dalam penelitian ini adalah sebagian besar ibu menopause mempunyai pengetahuan kurang tentang potensi seksual. Berdasarkan simpulan tersebut, maka saran yang dapat diberikan adalah perlu ditingkatkan mutu pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi guna meningkatkan pengetahuan ibu menopause. Kata kunci: menopause, potensi seksual, pengetahuan * = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan PENDAHULUAN Latar Belakang Menopause (masa berakhirnya menstruasi atau haid), sering dianggap sebagai momok dalam kehidupan seorang wanita. Masa ini mengakibatkan terjadinya perubahan pada organ reproduksi wanita dan memunculkan berbagai keluhan fisik yang mempengaruhi keadaan psikisnya. Trias gejala psikologis sering kali disebut dalam hubungannya dengan menopause, depresi alam perasaan, insomnia dan penurunan minat seksual merupakan dasar terhadap sindrom depresi pada wanita menopause. Selama bertahun-tahun telah menjadi anggapan bahwa semakin tua usia wanita, minat seks dan responsif wanita menurun. Hal ini terus berlanjut dengan anggapan bahwa wanita yang telah melewati masa reproduksinya berpotensi kehilangan keinginan dan hasrat seksual. Padahal fungsi seksual yang memuaskan adalah bagian integral kesehatan dan kesejahteraan wanita. Gangguan fungsi seksual yang sebenarnya ditunjukkan oleh kegagalan satu fase atau lebih dari siklus respons seksual. Bagi banyak wanita, aspek terburuk menopause adalah kurangnya informasi dan pengetahuan serta ketidakpastian tentang perubahan yang menyebabkan rasa takut karena pasangannya tak lagi tertarik pada mereka (Bobak, dkk, 2005). Menurut hasil survei di Amerika Serikat, 50% wanita menopause mengalami penurunan keinginan seksual. Sedangkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh RSU Cipto
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 51

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Mangunkusumo pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 86% wanita mengalami masalah libido, 31% orgasme, 21% arousal dan 21% gangguan nyeri saat bersenggama. Menurut data dari Biro Pusat Statistik tahun 2006 jumlah penduduk di Indonesia adalah sekitar 225 juta dan 52% adalah perempuan. Pada tahun 2010 jumlah perempuan yang berusia 50-55 tahun diperkirakan mencapai 30,3 juta (kira-kira 15%). Ini berarti semakin banyak kemungkinan seorang wanita akan mengalami masa menopause dalam hidupnya. Berdasarkan laporan kependudukan di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya bulan Februari 2008, wanita yang telah memasuki menopause sebanyak 307 orang, 10 diantaranya dijadikan responden untuk studi pendahuluan tanggal 27 Maret 2008 dan hasilnya diketahui 50% ibu menopause mempunyai pengetahuan kurang tentang potensi seksual. Menopause adalah fase di dalam kehidupan seorang wanita dimana indung telur tidak lagi melepaskan telur tiap bulan dan menstruasi berhenti. Menopause berangsur-angsur terjadi pada wanita yang berusia 4555 tahun. Pada masa ini terjadi penurunan aktivitas hormon estrogen dan progesteron yang mengakibatkan berhentinya haid diikuti berbagai perubahan kondisi fisik dan psikologis seperti kulit keriput, mata kering, vagina kering, gangguan tidur, depresi, dll. yang bila dibiarkan berkelanjutan akan sangat mengganggu aktivitasnya, termasuk aktivitas seksual. Perubahan aktivitas seksual terjadi akibat proses menua. Perubahan tersebut terlihat pada tiap fase respon seksual. Respons seksual mengalami perlambatan sehingga waktu yang diperlukan untuk terangsang menjadi lebih lama. Hal ini menunjukkan adanya perubahan pada potensi seksual. Potensi diartikan sebagai kekuatan atau kemampuan, sedangkan seksual sering dikaitkan dengan hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Jadi, potensi seksual diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat melakukan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan. Pada wanita menopause penurunan potensi seksual dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai sejauh mana pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual, sehingga ibu menopause lebih mengetahui potensi seksualnya pada masa menopause. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya. 2. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya berdasarkan pendidikan. 3. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya berdasarkan pekerjaan. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Populasi penelitian deskriptif ini adalah seluruh (307 orang) wanita menopause di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya. Besar sampel adalah 51 orang yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Data tentang pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual dikumpulkan menggunakan kuesioner, selanjutnya dianalisis secara deskriptif berupa distribusi frekuensi, dengan kategori: baik: 76%-100%, cukup: 56%-75%, dan kurang: <55%.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

52

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pada bab ini diuraikan tentang hasil penelitian yang berjudul Gambaran Pengetahuan Ibu Menopouse Tentang Potensi Seksual Di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedindiding Surabaya yang dilaksanakan pada tanggal 2025 Juni 2008. PENGETAHUAN IBU MENOPAUSE TENTANG POTENSI SEKSUAL Sebagian besar (52,94%) mempunyai pengetahuan kurang (Tabel 1). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Menopause Tentang Potensi Seksual di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya Bulan Juni 2008 No 1. 2. 3. Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Jumlah 10 14 27 51 (%) 19,61 27,45 52,94 100,00

PENGETAHUAN RESPONDEN BERDASARKAN PENDIDIKAN Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa responden yang berpendidikan SD dan SMP, sebagian besar berpengetahuan kurang, masing-masing 66,67% dan 54,55%. Sedangkan yang berpendidikan SMA dan perguruan tinggi, sebagian besar berpengetahuan baik, masingmasing 57,14% dan 100,00%. Tabel 2. Distribusi Pengetahuan Ibu Menopause Tentang Potensi Seksual Berdasarkan Pendidikan Di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya Pengetahuan Cukup Kurang f % f % 10 33,33 20 66,67 2 18,18 6 54,55 2 28,57 1 14,29 0 0,00 0 0,00 14 27,45 27 52,94

No 1. 2. 3. 4.

Pendidikan SD SMP SMA/SMK PT/Akademi Jumlah F 0 3 4 3 10

Baik % 0,00 27,27 57,14 100,00 19,61

Jumlah f % 30 100,00 11 100,00 7 100,00 3 100,00 51 100,00

PENGETAHUAN RESPONDEN BERDASARKAN PEKERJAAN Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga sebagian besar (70,59%) berpengetahuan kurang, yang bekerja sebagai wiraswasta, sebagian besar berpengetahuan cukup, sedangkan yang bekerja sebagai pegawai swasta dan PNS sebagian besar berpengetahuan baik, masing-masing 57,14% dan 100,00%.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

53

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 3. Pengetahuan Ibu Menopause Tentang Potensi Seksual Berdasarkan Pekerjaan Di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya No 1. 2. 3. 4. Pengetahuan Pekerjaan Baik Cukup Kurang F % f % f % Ibu rumah tangga 2 5,88 8 23,53 24 70,59 0,00 33,33 Wiraswasta 0 4 66,67 2 Swasta 4 57,14 2 28,57 1 14,29 PNS 4 100,00 0 0,00 0 0,00 Jumlah 10 19,61 14 27,45 27 52,94 Jumlah f % 34 100,00 6 100,00 7 100,00 100,00 4 51 100,00

Pembahasan PENGETAHUAN IBU MENOPAUSE TENTANG POTENSI SEKSUAL Tabel 1 menunjukkan bahwa secara umum pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual kurang, hal ini dapat disebabkan kurangnya informasi yang didapat, tidak ada pengetahuan sebelumnya, pendidikan yang rendah, sibuk dengan anak atau pekerjan sehingga mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi. Menurut Notoatmodjo (2005), pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan dapat diperoleh melalui berbagai cara, baik secara tradisional maupun modern. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain adalah usia, pendidikan dan pekerjaan. Pengetahuan yang dimiliki setiap orang berbeda satu sama lain. Semakin cukup usia, seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja, hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya. Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang terhadap pengetahuan. Pendidikan yang tinggi akan mempermudah seseorang untuk menerima informasi. Semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat sikap seseorang terhadap nilainilai yang baru diperkenalkan. Selain usia dan pendidikan, pengetahuan juga dipengaruhi oleh pekerjaan seseorang. Adanya suatu pekerjaan pada seseorang akan menyita banyak waktu dan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting dan memerlukan perhatian tersebut. Sehingga masyarakat yang sibuk hanya mempunyai sedikit waktu untuk memperoleh informasi (Notoatmodjo, 2003). Karena kesibukan dapat menyebabkan seseorang tidak mempunyai minat dan tidak merespon sesuatu yang bersifat sebagai informasi pengetahuan walaupun informasi itu ada disekitarnya. Seorang wanita yang sudah memasuki masa menopause akan mengalami penurunan potensi seksual. Penurunan potensi seksual tersebut dapat mempengaruhi kehidupan wanita menopause, khususnya kehidupan rumah tangga. Wanita menopause membutuhkan kasih sayang, perhatian hingga penerimaan dari orang lain, terutama suami dan keluarga mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Maslow (1908-1970), ahli psikologi yang membagi kebutuhan manusia menjadi 5, yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, prestise dan aktualisasi diri.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 54

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Pemberian dan penerimaan kasih sayang merupakan bagian dari kebutuhan sosial sedangkan penghargaan untuk penghormatan diri, status, perhatian hingga penerimaan orang lain, termasuk kebutuhan ketiga yaitu kebutuhanprestise. Oleh karena itu, perlu diberikan konseling mengenai pentingnya pengetahuan terutama tentang potensi seksual pada ibu menopause di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya sehingga ibu menopause mau lebih bekerja sama dalam memperoleh informasi baru. Selain itu untuk meningkatkan potensi seksual pada masa menopause perlu diberikan konseling tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh, salah satu caranya yaitu dengan membiasakan diri berolahraga. Olahraga di masa menopause lebih ditekankan untuk meningkatkan kebugaran. Olahraga yang sesuai untuk wanita menopause antara lain jalan cepat, senam dan berenang. Dengan demikian diharapkan ibu menopause dapat menjalani kehidupan di masa menopausenya dengan lebih baik. PENGETAHUAN IBU MENOPAUSE TENTANG POTENSI SEKSUAL BERDASARKAN PENDIDIKAN Dari Tabel 2 tampak bahwa semakin tinggi pendidikan ibu, semakin banyak yang berpengetahuan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka makin mudah seseorang dalam memahami dan menerapkan informasi yang diterima. Ternyata tingkat pendidikan seseorang berkaitan dengan pemahaman seseorang terhadap pengetahuan. Semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan sehingga informasi yang didapatnya juga kurang. PENGETAHUAN IBU MENOPAUSE TENTANG POTENSI SEKSUAL BERDASARKAN PEKERJAAN Dari Tabel 3 tampak bahwa ada perbedaan proporsi tingkat pengetahuan berdasarkan pekerjaan ibu menopause. Hasil di atas menunjukkan bahwa ibu rumah tangga pada dasarnya mempunyai masalah dalam memperoleh sumber informasi, karena walaupun hanya sebagai ibu rumah tangga, mereka tetap sibuk dengan segala kegiatannya, di antaranya mengurus anak, suami, dan kegiatan rumah tangga lainnya. Selain itu dapat dikarenakan ibu rumah tangga tidak mempunyai minat dan tidak merespon sesuatu yang bersifat sebagai informasi pengetahuan. walaupun informasi itu ada disekitar responden yang berupa TV, radio, majalah dan koran. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Simpulan penelitian ini adalah: 1. Pengetahuan Ibu Menopause tentang potensi seksual di RW 02 Kelurahan Tanah Kalikedinding Surabaya sebagian besar masih kurang.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

55

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

2. Ibu menopause yang berpendidikan SD dan SMP, sebagian besar berpengetahuan kurang, sedangkan yang berpendidikan SMA dan perguruan tinggi, sebagian besar berpengetahuan baik. 3. Ibu menopause yang bekerja sebagai ibu rumah tangga sebagian besar berpengetahuan kurang, yang bekerja sebagai wiraswasta sebagian besar berpengetahuan cukup, sedangkan yang bekerja sebagai pegawai swasta dan PNS sebagian besar berpengetahuan baik. Saran Beberapa saran yang diajukan adalah: 1. Diharapkan bidan senantiasa meningkatkan mutu pelayanan, khususnya KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) tentang potensi seksual kepada ibu menopause. 2. Hendaknya ibu menopause lebih merespon informasi tentang potensi seksual sehingga pengetahuan ibu menopause tentang potensi seksual dapat bertambah. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 2006. Bagaimanakah Gejala-gejala Menopause?. [Internet] Available From : http://www.medicastore.com (acsessed 23th February 2008). Anonimous. 2006. Siapkan Diri Sebelum Menopause Datang. [Internet] Available From :http://www.tabloidnova.com/articles (acsessed 23thFebruary 2008). Alimul, A. 2003. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan llmialt. Jakarta : Salemba. Medika. Anisah Ardiana. 2007. Seksualitas. [Internet] Available From : http://www.elearning.unej. ac.id (acsessed 23th February 2008). Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi IV. Jakarta : Rineka Cipta. Baziad,Ali. 2005. Menopause Dan Andropause. EGC. Jakarta: 2003. Bobak,dkk. 2005. Keperawatan Maternitas.Jakarta : EGC. Ebet Kadarusman.2007. LIBIDO dan Potensia Sex. [Internet] Available From : http://www.forum.detik.com (acsessed 23th February 2008). Eric Sasono. 2006. Eric Sasono. [Internet] Available From : http://www.ericsasono. blogspot.com (acsessed 28thJuly 2008). Moki. 2007. Hubungan Intim. [Internet] Available From : http://www.cakmoki86. th wordpress.com (acsessed 23 February 2008). Nazir, M. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Notoatmodjo, S. 2002. llmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka. CiptaNoverius Laoli.2007. Seksualitas dan Moralitas. [Internet] th Available From: http://www.noveonline.wordpress.com (acsessed 23 February 2008). Nursalam.2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Surabaya : Salemba Medika. Nursalam dan Pariani, S. 2001. Metodologi Riset Keperawatan. Surabaya : CV lnfomedia.

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

56

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

HUBUNGAN ANTARA MOBILISASI DINI DAN PENGELUARAN LOCHEA IBU NIFAS Dwi Purwanti * dan Riska Dwi Kristanti * ABSTRAK Jumlah dan karakteristik dari lochea dapat menunjukkan kemajuan luka endometrium. Dengan mobilisasi maka pengeluaran lochea akan meningkat, sehingga pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Menurut data di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya tahun 2007 yang melakukan mobilisasi dini 42% dan tidak melakukan mobilisasi dini 58% karena kurangnya informasi tentang keuntungan mobilisasi dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara mobilisasi dini dengan pengeluaran lochea di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya tahun 2010. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional, dengan sampel 32 ibu nifas yang dipilih dengan cara purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasui dan pengisina kuesioner, selanjutnya dilakukan chisquare test, dengan tingkat kemaknaan 5%, untuk menganalisis hubungan antara mobilisasi dini dengan pengeluaran lochea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu nifas (84%) melakukan mobilisasi dini, sebagian besar ibu nifas (78%) mengeluarkan lochea berjumlah cukup, dan ada hubungan antara mobilisasi dini dengan pengeluaran lochea. Selanjutnya disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan, peningkatan KIE, dan peningkatan kemauan ibu nifas untuk mobilisasi dini. Kata kunci: mobilisasi dini, lochea, nifas * = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan PENDAHULUAN Latar Belakang Masa nifas merupakan masa setelah ibu melahirkan bayi yang digunakan untuk memulihkan kesehatannya berarti memulihkan organ yang mengalami perubahan pada waktu hamil maupun bersalin. Maka dianjurkan melakukan aktivitas fisik yang mempengaruhi kebutuhan otot akan oksigen, yang kebutuhannya akan meningkat berarti memerlukan aliran darah yang kuat. Seperti halnya otot rahim, lalu dirangsang kontraksinya dengan aktivitas fisik maka aliran darah akan meningkat dan lancar, kontraksi uterus semakin baik. Pengeluaran lochea menjadi lancar sehingga mempengaruhi pengecilan rahim (Manuaba, 1995:155). Jumlah dan karakteristik dari lochea secara langsung dapat menunjukkan kemajuan luka endometrium. Banyaknya lochea selalu lebih banyak dari pengeluaran darah dan lendir pada waktu menstruasi berwarna merah, berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi tidak busuk. Dengan dilakukan mobilisasi maka pengeluaran lochea akan meningkat, sehingga pembuluhpembuluh darah yang berada di antara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Apabila tak dilakukan mobilisasi, pengeluaran lochea dapat tertahan sehingga dapat dikeluarkan bukan saja sedikit atau kurang dari biasa. Menurut data di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya tahun 2007 yang melakukan mobilisasi dini 42% dan tidak melakukan mobilisasi dini 58% karena kurangnya informasi tentang keuntungan mobilisasi dini.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 57

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Banyak fakta bahwa orang-orang zaman dahulu tidak melakukan mobilisasi dini karena pantangan dari orang tua. Melihat kenyataan ini, perlu upaya peningkatan pengetahuan ibu tentang pentingnya mobilisasi dini agar masa nifas berjalan secara fisiologis dengan pengeluaran lochea yang lancar dan involusi berjalan dengan baik. Dari uraian di atas perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara mobilisasi dini dan pengeluaran lochea pada hari pertama sehingga hasil dari penelitian ini dapat memberikan masukan kepada bidan dalam memberikan asuhan pada ibu nifas. Rumusan Masalah dan Hipotesis Rumusan masalah penelitian ini adalah: Apakah ada hubungan antara mobilisasi dini dan pengeluaran lochea pada ibu nifas?. Sedangkan hipotesis penelitian adalah: Ada hubungan antara mobilisasi dini dan pengeluaran lochea pada ibu nifas. Tujuan Penelitian 1. Mengidentifikasi mobilisasi dini ibu nifas 2. Mengidentifikasi pengeluaran lochea ibu nifas 3. Menganalisis hubungan antara mobilisasi dini dan pengeluaran lochea pada ibu nifas. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya pada tanggal 13 30 Juli 2010 ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu nifas yang ada di Ruang Nifas RSUD dr. Moch Soewandhie Surabaya. Besar sampel adalah 32 ibu nifas yang dipilih dengan cara purposive sampling, sesuai dengan kriteria inklusi (pasca salin fisiologis, hari pertama/2 jam PP dan bersedia menjadi responden) dan kriteria eksklusi (tidak bersedia menjadi responden, disertai komplikasi, pasca salin dengan tindakan, tidak sekolah atau tidak tamat SD). Variabel bebas penelitian adalah mobilisasi dini, yaitu aktivitas yang dilakukan sedini mungkin (beberapa jam setelah persalinan) yang diukur melalui observasi dan pengisian kuesioner dengan kriteria: 1) melakukan mobilisasi dini (melakukan aktivitas segera sesuai dengan indikator), 2) tidak melakukan mobilisasi dini (tidak melakukan aktivitas segera sesuai dengan indikator). Sedangkan variabel tergantung adalah pengeluaran lochea, yaitu jumlah darah, warna, bau pada lochea hari pertama yang diukur melalui observasi, dengan kriteria menurut Reeder (1996): 1) lochea rubra berlebihan (noda pada pembalut > 6 inchi antara 5080cc), 2) lochea rubra cukup (noda pada pembalut < 6 inchi antara 25-50 cc), 3) lochea rubra kurang (noda pada pembalut < 4 inchi antara 10-25cc), 4) lochea rubra kurang sekali (noda pada pembalut < 1 inchi kurang 10 cc). Data yang terkumpul ditabulasi dan dianalisis dengan chi-square test, dengan tingkat kemaknaan 5%, untuk menganalisis hubungan antara mobilisasi dini dengan pengeluaran lochea. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN Hasil Penelitian Penelitian dilakukan di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya dengan sampel 32 orang. Karakteristik umur, pendidikan, pekerjaan, status gizi, paritas, dan status
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 58

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

menyusui responden disajikan pada Tabel 1 sampai dengan Tabel 6. Sedangkan mobilisasi dini dan pengeluaran lochea disajikan pada Tabel 7 sampai dengan Tabel 9. Tabel 1. Distribusi Usia Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Usia <20 tahun 20-34 tahun >34 tahun Total Frekuensi 8 15 9 32 Persentase (%) 25 47 28 100

Tabel 2. Distribusi Pendidikan Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Pendidikan SD - SMP SMA Akademi / PT Total Frekuensi 15 16 1 32 Persentase (%) 47 50 3 100

Tabel 3. Distribusi Pekerjaan Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Pekerjaan Swasta/Wiraswasta PNS/TNI Tidak Bekerja Total Frekuensi 19 0 13 32 Persentase (%) 59 0 41 100

Tabel 4. Distribusi Status Gizi Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Makanan Kurang Cukup Baik Total Minuman 2-3 gelas setiap hari 4-5 gelas setiap hari 7-8 gelas setiap hari Total Frekuensi 11 9 12 32 Frekuensi 0 10 22 32 Persentase (%) 34 28 38 100 Persentase (%) 0 31 69 100

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

59

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Tabel 5. Distribusi Paritas Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Paritas Frekuensi Persentase (%) Pertama 12 38 50 Ke 2/3/4 16 >4 4 12 Total 32 100 Tabel 6. Distribusi Status Menyusui Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Status Menyusui Frekuensi Persentase (%) < 2 jam PP 3 9 2-6 jam PP 14 44 > 6 jam PP 15 47 Total 32 100 Tabel 7. Distribusi Status Mobilisasi Dini Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Status Mobilisasi Dini Frekuensi Persentase (%) Melakukan Mobilisasi Dini 27 84,00 Tidak Melakukan Mobilisasi Dini 5 16,00 Total 32 100 Dari Tabel 7 diketahui bahwa sebagian besar ibu nifas (84%) melakukan mobilisasi dini. Tabel 8. Distribusi Pengeluaran Lochea Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Pengeluaran Lochea Frekuensi Persentase (%) Berlebihan 5 15,70 Cukup 25 78,00 2 6,30 Kurang 0 Kurang sekali 0 Total 32 100 Dari Tabel 8 diketahui bahwa sebagian besar ibu (78%) mengalami pengeluaran lochea dalam jumlah cukup. Tabel 9. Distribusi Pengeluaran Lochea Berdasarkan Mobilisasi Dini Ibu di Ruang Nifas RSUD dr. Moch. Soewandhie Surabaya Tanggal 13-30 Juli 2010 Pengeluaran Lochea Mobilisasi Berlebihan Cukup Kurang Kurang Sekali Total n % n % n % n % n % Dini 3 11,11 22 81,49 2 7,41 27 100 Tidak Dini 2 40 3 60 5 100 Total 5 15,63 25 78,13 2 6,25 32 100
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 60

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa mobilisasi dini mempunyai dampak terhadap pengeluaran lochea. Dari 27 ibu nifas yang melakukan mobilisasi dini 11,11% mengalami pengeluaran lochea berlebihan, 81,49% pengeluaran lochea cukup dan 7,49% pengeluaran lochea kurang. Sedangkan ibu nifas yang tidak melakukan mobilisasi dini sebagian besar 60% pengeluaran lochea cukup dan 40% pengeluaran lochea berlebihan. Hasil uji Chi-Square menunjukkan X2 hitung (46,25) > X2 tabel (7,815) maka, Ho ditolak. Jadi, ada hubungan antara mobilisasi dini dan pengeluaran lochea pada ibu nifas. Pembahasan MOBILISASI DINI Telah diketahui bahwa sebagian besar responden melakukan mobilisasi dini. Mobilisasi sangat bervariasi, tergantung pada komplikasi persalinan, nifas atau kesembuhan luka (jika ada luka), jika tidak ada kelainan lakukan mobilisasi sedini mungkin yaitu 2 jam setelah persalinan normal, ini berguna untuk memperlancar sirkulasi darah dan mengeluarkan cairan (lochea) (Mellyana H, 2003 : 3). Mulailah mobilisasi secara bertahap yaitu duduk, berdiri, dan berjalan sesuai dengan kemampuan, usahakan untuk berjalan tegak agar postur tubuh yang baik dapat dipertahankan dalam masa nifas (Mellyana H, 2003:10). Mobilisasi adalah kemampuan untuk bergerak bebas dalam lingkungan. Mobilisasi ini melibatkan antara lain sistem integumen dan sistem neuromuskuler. Tujuan dari mobilisasi adalah sebagai ekspresi emosi dalam bentuk non verbal, pertahanan diri, pemenuhan kebutuhan dasar, aktivitas sehari-hari dan aktivitas rekreasi (Potter & Perry, 193:1469). PENGELUARAN LOCHEA Telah diketahui bahwa sebagian besar responden dengan mengalami pengeluaran lochea dalam jumlah cukup. Pengeluaran lochea salah satunya dipengaruhi oleh kesediaan ibu untuk menyusui. Isapan anak akan merangsang otot polos payudara untuk berkontraksi yang kemudian merangsang susunan saraf di sekitarnya dan meneruskan rangsangan ini ke otot. Otot akan memerintahkan kelenjar hipofisis posterior untuk mengeluarkan hormon pituitarin lebih banyak, sehingga kadar hormon estrogen dan progesteron yang masih ada menjadi lebih rendah. Pengeluaran hormon pituitarin yang lebih banyak akan mempengaruhi kuatnya kontraksi otot-otot polos payudara dan uterus. Kontraksi otot-otot polos payudara berguna untuk mempercepat involusi (Bahiyatun, 2009 : 23) Jika dikaitkan dengan teori yang dikemukakan diatas status gizi juga bisa mempengaruhi pengeluaran lochea karena dengan status gizi yang baik pada ibu dapat mencegah infeksi nifas dan pengeluaran lochea menjadi lancar. Karena dengan adanya infeksi, akan mempengaruhi kontraksi uterus, dengan kekurangan kekuatan ini, pembuluh-pembuluh darah yang pecah akan terbuka lebih lama dan mengeluarkan darah. Untuk pengeluaran lochea yang kurang bisa dikarenakan tertahannya darah karena ibu tidak melakukan mobilisasi dini. HUBUNGAN MOBILISASI DINI DAN PENGELUARAN LOCHEA Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobilisasi dini mempunyai dampak terhadap pengeluaran lochea. Menurut Manuaba (1999 : 155) aktifitas fisik akan mempengaruhi kebutuhan otot terhadap oksigen, yang kebutuhannya akan meningkat berarti memerlukan aliran darah yang kuat, seperti halnya otot rahim, lalu dirangsang kontraksinya dengan
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 61

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

aktivitas fisik maka aliran darah akan meningkat dan lancar, kontraksi uterus semakin baik pengeluaran lochea menjadi lancar sehingga mempengaruhi proses pengecilan rahim. Menurut (Reeder:668) jumlah dan karakteristik lochea secara langsung menunjukkan proses kemajuan penyembuhan luka endometrium. Dalam keadaan normal jumlah lochea yang keluar dan komponen darah didalam berkurang secara bertahap disertai dengan perubahan warna yang semakin memucat. Pengeluaran lochea meningkat bila dilakukan pergerakan karena dengan pergerakan akan menjadi peningkatan kontraksi uterus sehingga pembuluh-pembuluh darah yang diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Sebagian besar ibu nifas di Rumah Sakit Soewandhi Surabaya melakukan mobilitas dini. 2. Sebagian besar ibu nifas di Rumah Sakit Soewandhie mengeluarkan lochea dalam jumlah cukup 3. Ada hubungan antara mobilisasi dini dan pengeluaran lochea pada ibu nifas di Rumah Sakit Soewandhi Surabaya. Saran 1. Diharapkan para peneliti melakukan penelitian lanjutan yang lebih sempurna sehingga hasil yang diperoleh lebih signifikan. 2. Diharapkan pemberi layanan kesehatan meningkatkan komunikasi, informasi, edukasi dan motivasi pada ibu nifas untuk melakukan mobilisasi dini agar pengeluaran lochea menjadi lancar dan masa nifas berjalan secara fisiologis. 3. Hendaknya ibu nifas melakukan mobilisasi dini sesuai dengan anjuran dari petugas akan berdampak baik terhadap kesehatan. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Bahiyatun. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC. Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan.EGC . Jakarta. Manuaba, Ida Bagus Gde. 1999. Memahami Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan. Manuaba, Ida Bagus Gde. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC. Mochtar, R. 1995. Sinopsis Obstetri I. Jakarta : EGC. Notoatmodjo, Soekidjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika . Prawirohardjo, S. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Prawirohardjo, S. 2007. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Yogyakarta : Andi
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 62

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

GAMBARAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH KDPK Dwi Purwanti *, Sitti Rahayuningsih * ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Motivasi Belajar Mahasiswa Semester II Pada Mata Kuliah KDPK Mahasiswa Prodi Kebidanan Sutomo Poltekkes Kemenkes Surabaya Tahun Akademik 2009 2010. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Populasi adalah semua mahasiswa semester II Prodi Kebidanan Sutomo Poltekkes Kemenkes Surabaya Tahun Akademik 2009 2010 sejumlah 80 orang. Besar sampel 37 orang dengan teknik sampling simple random sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan angket dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar motivasi belajar mahasiswa adalah rendah yaitu 29 responden (78,37 %). Hasil belajar sebagian besar mahasiswa mendapat nilai cukup yaitu 20 responden (54,05 %). Simpulan dari penelitian ini adalah Gambaran Motivasi Belajar Mahasiswa Semester II Pada Mata Kuliah KDPK Studi Kebidanan Sutomo. Kata Kunci : Motivasi Belajar , Mata Kuliah KDPK * = Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jurusan Kebidanan PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan D III Kebidanan merupakan program pendidikan yang bertujuan menghasilkan tenaga Ahli Madya Kebidanan sebagai tenaga profesional. Hasil ujian mata kuliah semester I merupakan syarat untuk melanjutkan semester berikutnya, salah satunya adalah Ketrampilan Dasar Praktik Kebidanan (KDPK). Pembelajaran ini memberikan kemampuan melaksanakan keterampilan dasar pratik kebidanan terhadap ibu, bayi, dan anak balita. Namun nilai mata kuliah KDPK lebih rendah dibanding mata kuliah yang lain. Hasil ujian mata kuliah KDPK tahun 2009-2010 dari 80 mahasiswa yang mendapat nilai A sebanyak 4 orang (4,93%), nilai B sebanyak 32 0rang (39,51%) dan nilai C sebanyak 45 orang (55,56%). Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar (Dimyati dan Mudjiono, 2006). Hasil belajar yang dicapai mahasiswa dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dari dalam diri sendiri (mahasiswa) dan faktor dari luar (dosen, sarana dan prasarana serta lingkungan) (Sanjaya, 2007). Faktor dari diri mahasiswa (motivasi belajar, minat, perhatian, sikap kebiasaan belajar, ketekunan, faktor fisik dan psikis (Sudjana N, 2008). Kedua faktor tersebut besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Motivasi belajar yang kuat akan memberikan kontribusi terhadap hasil belajar dari mata kuliah KDPK. Motivasi belajar mahasiswa dapat mengalami penurunan. Menurunnya motivasi belajar dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar. Dalam keadaan demikian, keluarga dibutuhkan untuk memperhatikan kebutuhan dan kegiatan belajar mahasiswa. Karena jika ini berlanjut tidak menutup kemungkinan bahwa hasil yang diperoleh mahasiswa tidak akan memuaskan dan bahkan mungkin akan mengalami kegagalan dalam pendidikannya (Djamarah, 2002:158). Motivasi erat hubungannya dengan kebutuhan dan dorongan yang ada di dalam diri si belajar. Seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila dirasakan kebutuhan yang ada
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 63

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

pada dirinya menurut pemenuhan,selama kebutuhan tersebut belum terpenuhi maka selama itu pula yang bersangkutan belum merasakan kepuasan pada dirinya, sehingga menimbulkan keinginan untuk memenuhinya misalnya: kepuasan memperoleh nilai (Soeharto, 2003). McDonald (dalam Hamalik, 2007:106) mengemukakan bahwa motivasi sebagai suatu perubahan tenaga di dalam diri atau pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan. Motivasi merupakan bagian dari learning. Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan penelitian tentang motivasi belajar mahasiswa pada mata kuliah KDPK di Poltekkes Kemenkes Prodi DIII Kebidanan Sutomo Surabaya TA 2009/2010. Rumusan Masalah Bagaimanakah gambaran motivasi belajar Mahasiswa Semester II pada mata kuliah KDPK Prodi Kebidanan Soetomo Poltekkes Kemenkes Surabaya ?. Tujuan Penelitian Mengetahui gambaran motivasi belajar mahasiswa Semerter II pada mata kuliah KDPK Mahasiswa Prodi Kebidanan Sutomo Poltekes Kemenkes Surabaya TA 2009/2010. BAHAN DAN METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan dilaksanakan di Prodi Kebidanan Sutomo Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya, pada bulan Juni sampai Agustus 2010. Populasi penelitian adalah semua mahasiswa Prodi DIII Kebidanan Sutomo Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surabaya TA 20092010, sejumlah 80 orang. Besar sampel adalah 37 orang yang diambil melalui simple random sampling. Variabel penelitian adalah motivasi belajar mahasiswa, yaitu total jawaban hasil pengisian 16 item kuesioner berskala Likert tentang motivasi belajar KDPK, berskala nominal dengan kategori tinggi: 75-100% dan rendah: 50-75%. Setelah terkumpul, data dianalisis secara deskriptif berupa distribusi frekuensi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 37 responden, sebagian besar yaitu 24 orang (78,37%) memiliki motivasi belajar rendah. Data secara lengkap disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar Pada Mata Kuliah KDPK Mahasiswa Semester II Prodi Kebidanan Sutomo Poltekkes Kemenkes Surabaya Tahun Akademik 20092010. No. 1. 2. Motivasi Belajar Tinggi Rendah Jumlah Frekuensi 8 24 37 Persentase 21,62 78,37 100,00

Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai motivasi rendah pada Mata Kuliah KDPK. Menurut Hamzah (2007), motivasi adalah dorongan yang
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 64

Volume II Nomor 1, Januari 2011

ISSN: 2086-3098

terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Motivasi ini timbul dari dalam diri mahasiswa itu sendiri (intrinsic) dan dari luar mahasiswa (ekstrinsic) sehingga dengan motivasi mahasiswa akan berusaha keras untuk menangani setiap kesulitan yang dihadapi dalam kegiatan belajarnya. Menurut Fatimah (2002), motivasi berfungsi sebagai suatu kekuatan yang membangkitkan keinginan untuk belajar. Motivasi responden yang dalam proses pembelajaran KDPK, juga didukung oleh faktor lingkungan belajar yang memadai seperti ruang kelas yang ber-AC, pencahayaan yang cukup, ruang laboratorium, dan perpustakaan yang memudahkan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan dalam pembelajaran KDPK. Ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2007) bahwa faktor lingkungan belajar juga mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa. Motivasi belajar merupakan faktor yang sangat besar, yang mempunyai daya penggerak yang cukup kuat dalam pribadi individu untuk melakukan aktivitas atau kegiatan belajar. Mahasiswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi akan lebih bersemangat dalam proses pembelajaran, dan selalu ingin tahu mengenai hal-hal baru. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa Mahasiswa Semester II Prodi D III Kebidanan Sutomo Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surabaya memiliki motivasi rendah terhadap mata kuliah KDPK. Selanjutnya disarankan perlunya penelitian untuk menentukan faktor-faktor yang terkait, dan perlunya kreatifitas dosen untuk membangkitkan motivasi belajar mahasiswa. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2007, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta. Arikunto. S. 2008, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara Dimyati dan Mudjiono (2006) Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta Hamalik, Oemar, 2001, Metode Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar, Bandung, Tarsito Jhon, W, 2000, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional. Nursalam (2003) Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta : Fitramaya Nurkencana, 1998, Proses Belajar Mengajar, Bandung, Remaja Rosdakarya Nursalam, 2001, Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan, Jakarta, Sagung Seto Notoatmodjo, Soekidjo (2005) Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta Purwanto N, 2006, Psikologi Pendidikan, Bandung, Remaja Rosdakarya Sita, 2005, Perolehan Indeks Prestasi Mahasiswa Teknik Sipil ITS, http://www.digilib.its.ac.id Sardan, 2002, Tantangan Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Era Globalisasi dan Industrialisasi, Jakarta, Widya Sanjaya, 2007, Strategi Pembelajaran : Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Prenada Media Group Sudjana, Nana (2008) Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algensindo

Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

65