Anda di halaman 1dari 34

1

PENGARUH KONSELING OBAT TERHADAP KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI DI POLIKLINIK KHUSUS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

ARTIKEL

Oleh : DENIA PRATIWI 08 212 13 052

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011

PENGARUH KONSELING OBAT TERHADAP KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI DI POLIKLINIK KHUSUS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG Oleh : Denia Pratiwi Alamat : Jalan Pangeran Hidayat No 114 Pekanbaru-Riau ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konseling terhadap kepatuhan pasien hipertensi dinilai dari pengetahuan dan sikap. Rancangan penelitian yang dipakai adalah The One Group Pretest-Posttest design yang merupakan penelitian experimental, yaitu pre-experimental design. Hasil penelitian menunjukkan dari 50 pasien bahwa terdapat perbedaan pengetahuan, sikap dan tekanan darah (sistol dan diastol) sebelum dan sesudah konseling dengan menggunakan uji t berpasangan. Nilai t hitung hasil perhitungan diperoleh nilai berturut-turut -16.448, -26.518, 3.963 dan 2.087 dengan tingkat signifikansi 0.000, 0.000, 0.000 dan 0.042 (p<0.05). Sedangkan hasil analisis dengan menggunakan uji Regresi Linear Sederhana pengaruh konseling obat terhadap pengetahuan pasien diperoleh nilai F hitung 82.327 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05), terhadap sikap pasien diperoleh nilai F hitung 45.595 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05), terhadap tekanan darah sistol pasien didapatkan nilai F hitung 8.396 dan tekanan darah diastol didapatkan nilai F hitung 0.385 dengan tingkat signifikansi 0.538 (p>0.05) yang berarti tidak ada pengaruh konseling obat terhadap nilai tekanan darah diastol pasien hipertensi. Untuk melihat hubungan karakteristik demografi (usia, lama menderita, jenis kelamin dan pendidikan) dengan pengetahuan dan sikap digunakan uji statistik Chi-Square diperoleh nilai berturut-turut 5.451, 16.470, 1.478 dan 6.289 pada pengetahuan dengan tingkat signifikansi 0.793, 0.058, 0.687 dan 0.901 (p>0.05) dan 7.067, 5.781, 2.361, 20.842 pada sikap dengan tingkat signifikansi 0.630, 0.762, 0.501 (p>0.05) kecuali pendidikan berhubungan dengan sikap dengan tingkat signifikansi 0.053 (p<0.05). Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan konseling dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap pasien dan akan berpengaruh terhadap kepatuhan terhadap pengobatan.

Kata Kunci : Hipertensi, Konseling, Kepatuhan

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kepatuhan pasien berpengaruh terhadap keberhasilan suatu pengobatan. Hasil terapi tidak akan mencapai tingkat optimal tanpa adanya kesadaran dari pasien itu sendiri, bahkan dapat menyebabkan kegagalan terapi, serta dapat pula menimbulkan komplikasi yang sangat merugikan dan pada akhirnya akan berakibat fatal (Hussar, 1995). Terapi obat yang aman dan efektif akan terjadi apabila pasien diberi informasi yang cukup tentang obat-obat dan penggunannya (Cipolle, Strand & Morley, 2004). Pada pemberian informasi obat ini terjadi suatu komunikasi antara apoteker dengan pasien dan merupakan salah satu bentuk implementasi dari Pharmaceutical Care yang dinamakan dengan konseling (Jepson, 1990; Rantucci, 2007). Konseling ditujukan untuk meningkatkan hasil terapi dengan

memaksimalkan penggunaan obat-obatan yang tepat (Jepson, 1990, Rantucci, 2007). Salah satu manfaat dari konseling adalah meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat, sehingga angka kematian dan kerugian (baik biaya maupun hilangnya produktivitas) dapat ditekan (Schnipper, et al., 2006). Selain itu pasien memperoleh informasi tambahan mengenai penyakitnya yang tidak diperolehnya dari dokter karena tidak sempat bertanya, malu bertanya, atau tidak dapat mengungkapkan apa yang ingin ditanyakan (Zillich, Sutherland, Kumbera, Carter, 2005; Rantucci, 2007) Menurut laporan Department of Health and Human Service ( DHHS ) tahun 1990, 48 % dari seluruh penduduk Amerika serikat, dan 55 % geriatri,

dalam beberapa hal, gagal mengikuti regimen pengobatan (Kessler, 1992). Meskipun ketidakpatuhan tidak selalu menimbulkan konsekuensi, penelitian menunjukkan bahwa 25 % pasien ini akan menggunakan obat dengan cara yang dapat membahayakan kesehatan pasien. Ketidakpatuhan dapat memperlama masa sakit atau meningkatkan keparahan penyakit. Tinjauan literatur rmemperlihatkan bahwa 11% pasien masuk rumah sakit akibat ketidakpatuhan terhadap terapi obat (Aslam, Tan & Prayitno, 2003). Pasien yang perlu untuk diberi konseling adalah pasien-pasien yang berkemungkinan untuk tidak patuh terhadap pengobatan seperti pasien yang ditunjuk dokter, pasien dengan penyakit tertentu seperti hipertensi, gagal jantung, pasien yang menerima golongan obat tertentu, pasien geriatrik, pediatrik, pasien yang keluar dari Rumah Sakit, dan lain-lain (Hussar, 1995). Surgeon General C. Everalt Koop dalam simposiumnya Meningkatkan Kepatuhan Pengobatan, menyatakan bahwa ketidakpatuhan mengakibatkan penggunaan obat yang salah dan bisa mengakibatkan memburuknya keadaan pasien tersebut. Diperkirakan ada sekitar 125.000 kematian akibat ketidakpatuhan pada pengobatan dengan penyakit kardiovaskuler (Hussar, 1995). Penderita hipertensi merupakan salah satu pasien dengan kriteria pasien yang harus diberi konseling, karena hipertensi merupakan penyakit yang sangat perlahan apabila hipertensi tidak diketahui dan dirawat mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokardium, stroke, atau gagal ginjal dengan demikian pemeriksaan tekanan darah secara teratur memilki arti penting dalam perawatan hipertensi. Kurangnya kepatuhan pasien hipertensi juga merupakan

masalah dalam terapi hipertensi (Onzenoort, 2010). Penderita hipertensi tidak sadar dengan karakter yang timbul tenggelam, ketika si penderita dinyatakan bisa berhenti minum obat karena tekanan darahnya bisa normal, dia sering menganggap kesembuhan permanen padahal sekali divonis hipertensi, penyakit itu akan terus ada yang bisa dilakukan mengontrolnya dengan mengkonsumsi obat penurun hipertensi dan menjalankan pola hidup sehat (Price & Lorraine, 1994). Penanganan hipertensi pada tahap awal dilakukan dengan modifikasi gaya hidup meliputi penurunan berat badan, pembatasan asupan garam, diet kolesterol dan lemak jenuh, olahraga, pembatasan konsumsi alkohol dan kopi, relaksasi untuk redakan stress dan menghentikan kebiasaan merokok. Selain itu penderita hipertensi juga harus mempunyai pengetahuan dan sikap kepatuhan untuk dapat menyesuaikan penatalaksanaan hipertensi dalam kehidupan sehari- hari (Woodley & Allison, 1995). Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kepatuhan terjadi pada 27 pasien (77,15 %) dari 35 pasien hipertensi. Pasien yang mengalami penurunan tekanan darah terjadi pada 26 pasien (74,28 %). R hitung yang didapat 0.68 ini berarti 68% kepatuhan mempengaruhi nilai tekanan darah (Utami, 2009). Pada beberapa jurnal juga menyebutkan bahwa konseling akan meningkatkan kepatuhan pasien dinilai dari pengetahuan pasien, sikap dan praktek pasien (Mellen, Palla, Goff, Bonds, 2004; Zillich, et al, 2005; Sushmita, et al, 2010)

Oleh karena hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan harapan mendapatkan suatu gambaran mengenai pengaruh konseling obat terhadap kepatuhan pasien hipertensi rawat jalan sehingga didapatkan model yang sesuai untuk konseling obat pada pasien hipertensi rawat jalan poliklinik khusus RSUP. Dr. M. Djamil.

2.

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dirumuskan permasalahan

penelitian ini : Bagaimana pengaruh pemberian konseling obat terhadap kepatuhan pasien hipertensi di poliklinik khusus RSUP Dr. M. Djamil Padang.

3. Tujuan Penelitian 2.1 Tujuan umum Untuk mengetahui pengaruh konseling obat terhadap kepatuhan pasien hipertensi di Poliklinik Khusus RSUP Dr. M. Djamil Padang 2.2 Tujuan khusus 1. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap pasien hipertensi sebelum dan sesudah diberi konseling obat 2. Untuk mengetahui pengaruh konseling obat terhadap pengetahuan dan sikap pasien hipertensi 3. Untuk mengetahui perbedaan nilai tekanan darah (sistol dan diastol) pasien hipertensi sebelum dan sesudah konseling obat

4. Untuk mengetahui pengaruh konseling obat terhadap nilai tekanan darah (sistol dan diastol) pasien hipertensi

4.

Manfaat Penelitian 1. Bagi pihak manajemen RSUP Dr. M. Djamil Padang, hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai masukan untuk untuk menentukan model konseling obat yang sesuai untuk pasien hipertensi di Poliklinik Khusus RSUP Dr. M. Djamil Padang. 2. Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengayaan materi ilmu kefarmasian khususnya dalam bidang farmasi klinik. 3. Bagi penelitian lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan pembanding atau sebagai dasar penelitian selanjutnya untuk memperoleh hasil yang lebih baik. 4. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman lapangan tentang penatalaksanaan konseling dan pengalaman belajar untuk dapat memahami kaedah penelitian. 5. Pada pasien sendiri bahan pertimbangan dan masukan agar mengetahui
dampak yang diakibatkan jika tidak patuh dalam menjalankan terapi hipertensi, sehingga pasien akan mematuhi aturan aturan dalam terapi hipertensi.

B. Metode Penelitian 1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Khusus Hipertensi RSUP Dr. M . Djamil Padang dari bulan Februari - April 2011. 2. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan metode penelitian experimental, menggunakan pre-experimental design. Penelitian ini menggunakan pre test sebelum perlakuan dan post test setelah diberi perlakuan, dengan rancangan yang digunakan adalah The One Group Pretest-Posttest design (Sugiyono, 2007; TA, 2010). Dalam rancangan ini digunakan satu kelompok subjek, pertama-tama dilakukan pengukuran, lalu dikenakan perlakuan untuk jangka waktu tertentu, kemudian dilakukan pengukuran untuk kedua kalinya. Pengambilan data dilakukan secara prospektif. Uji ada/tidaknya perbedaan antara nilai pre test dan post test dengan t berpasangan dan ada/tidaknya pengaruh konseling dengan regresi linear. 3. Populasi, Sampel dan Besaran Sampel Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah pasien hipertensi rawat jalan di Poliklinik Khusus Hipertensi RSUP Dr. M. Djamil Padang 4. Sampel Penelitian Pasien dengan kriteria inklusi pada bulan Februari - April dan pengamatan dilakukan setelah pasien berobat di rawat jalan Poliklinik Khusus Hipertensi RSUP Dr. M. Djamil Padang. 5. Kriteria inklusi

10

1. Pasien hipertensi yang berobat rawat jalan di Poliklinik Khusus Hipertensi RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Februari-April 2011. 2. Pasien yang ada data nilai tekanan darah 6. Kriteria ekslusi 1. Pasien hipertensi dengan komplikasi yang dapat mempengaruhi

pemeriksaan nilai tekanan darah seperti diabetes, gangguan ginjal dan hati yang berat. 2. Pasien dengan gangguan kejiwaan 3. Pasien yang sedang hamil 7. Klasifikasi variabel Variabel yang dipakai dalam penelitian ini : a. Variabel bebas (Independent Variable ) adalah konseling obat b. Variabel Tergantung (Dependent Variable) adalah kepatuhan pasien 8. Menghitung sisa jumlah tablet Menghitung jumlah sisa tablet secara langsung dan menghitung tingkat kepatuhan pasien dengan menggunakan rumus : (Jasti, et al., 2005) Kepatuhan = jumlah obat jumlah sisa obat jumlah obat 9. Instrumen Penelitian Kuesioner yang dibuat berdasarkan panduan dari Departemen Kesehatan (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2007), tabel induk untuk skor pengetahuan, tabel induk untuk skor sikap, lembar pengumpul data x 100%

11

untuk hasil pemeriksaan tekanan darah dan menghitung jumlah sisa tablet, modul obat dan Kartu Rawat Mandiri. 10. Prosedur Pengumpulan Data

a. Data dari pasien baru yang memenuhi kriteria inklusi, dan data dari hasil pemeriksaan untuk tekanan darah dicatat dari rekam medik dan dimasukkan dalam lembar pengumpul data untuk hasil pemeriksaan tekanan darah b. Pada saat pasien telah selesai melakukan pemeriksaan dilakukan pretest untuk mengetahui pengetahuan pasien, sikap pasien dengan wawancara dan menggunakan lembar kuesioner, setelah itu dilakukan konseling obat dengan menggunakan modul dan contoh obat c. Setiap 2 minggu kemudian selama 3 kali dilakukan penilaian ulang atau posttest dengan menggunakan lembar kuesioner dan pemeriksaan ulang nilai tekanan darah. d. Data yang didapat kemudian direkapitulasi dalam tabel induk untuk pengetahuan dan tabel induk sikap dalam bentuk yang sudah dinominalkan

C. Hasil Penelitian 1. Umur pasien Dalam penelitian ini umur yang paling muda adalah 34 tahun sedangkan yang paling tua adalah 74 tahun. Umur tersebut kemudian dikategorikan menjadi 4 golongan. Hasil selengkapnya mengenai distribusi umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 9. Distribusi Umur dan Jenis Kelamin Pasien Penderita Hipertensi

12

No 1 2 3 4

Kategori Usia (tahun) 33-43 44-54 55-65 >65 Jumlah

Jum Presen lah tase (%) 2 4 11 22 18 36 19 38 50 100

Kategori Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah

Jumlah 20 30 50

Presen tase (%) 40 60 100

2.

Pendidikan pasien Pendidikan terakhir pasien yang pernah ditempuh, dari hasil penelitian menunjukkan dari 50 pasien pendidikan yang paling rendah adalah tamat Sekolah Dasar, sedangkan yang paling tinggi adalah Sarjana Strata 2. Hasil selengkapnya mengenai distribusi pendidikan terkahir dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 10. Distribusi Pendidikan Pasien Penderita Hipertensi No 1 2 3 4 5 Kategori Pendidikan SD SMP SMA S1 S2 Jumlah Jumlah 1 1 36 11 1 50 Presentase (%) 2 2 72 22 2 100

3.

Lama menderita hipertensi Hasil penelitian mengenai lama pasien menderita hipertensi dikelompokkan menjadi 4. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 11. Distribusi Lama Menderita Hipertensi No 1 2 Lama Menderita Hipertensi 0-1 tahun 2-5 tahun Jumlah 13 22 Presentasi 26 44

13

3 4

6-10 tahun >10 tahun Jumlah

10 5 50

20 10 100

4.

Hubungan karakteristik demografi pasien terhadap pengetahuan dan sikap Untuk melihat adanya hubungan antara karakteristik demografi dengan pengetahuan dan sikap dilihat dengan menggunakan uji statistik crosstab (tabulasi silang). Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 12. Hubungan Karakteristik Pengetahuan dan Sikap Karakteristik Demografi Demografi Pasien Terhadap

Pengetahuan Sikap Kategori (%) 4 (sangat baik) 4 (sangat baik) Umur (tahun) 33-43 0 0 44-54 11.1 22.2 55-65 5.6 11.1 >65 10 25 Pendidikan SD 0 100 SMP 0 0 SMA 8.3 13.9 S1 9.1 18.2 S2 0 100 Lama Menderita (tahun) 0-1 0 16.7 2-5 13.6 18.2 6-10 10 10 > 10 0 33.3 Jenis Kelamin Perempuan 10 20 Laki-laki 5 15

14

Untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antar variabel tersebut digunakan uji statistik Chi-Square. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 13. Hasil Uji Statistik Hubungan Karakteristik Demografi Pasien Terhadap Pengetahuan dan Sikap Karakteristik Demografi Umur Pendidikan Lama Menderita Jenis kelamin Pengetahuan Sikap Nilai Signifikansi Nilai Signifikansi 5.451 0.793 7.067 0.630 6.289 0.901 20.842 0.053 16.470 0.058 5.781 0.762 1.478 0.687 2.361 0.501

5. Obat-obat yang didapatkan dalam terapi Obat-obat yang didapatkan pasien dalam terapi ada dalam bentuk tunggal dan banyak dalam bentuk kombinasi, distribusi kombinasi obat pada pasien dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 14. Golongan dan Kombinasi Obat yang Digunakan No Kombinasi Golongan obat jumlah antihipertensi pasien 1 Diuretik + ARB + CCB 18 2 Diuretik + CCB 11 3 Diuretik + ACE + CCB 5 4 Diuretik + ARB 4 5 Calcium Chanel Blocker (CCB) 3 6 Angiotensin Reseptor Bloker (ARB) 2 7 Angiotensin Converting Enzym (ACE) 2 8 CCB + ARB 2 9 Diuretik + ACE 1 10 Diuretik + CCB + -bloker 1 11 CCB + ARB + ACE + -bloker 1 Jumlah 50 Persentase (%) 36 22 10 8 6 4 4 2 2 2 2 100

15

6. Hasil pengujian statistik untuk normalitas data Uji normalitas data diperlukan untuk mengetahui distribusi sebuah data dimana asumsi distribusi ini diperlukan untuk pengujian parametrik. Metode pengujian yang digunakan adalah Kolmogrov Smirnov (KS) (Lampiran 11). Hasil pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 15. Hasil Uji Normalitas Kuisioner Sebelum dan Sesudah Konseling Obat di RSUP Dr. M. Djamil No 1 2 3 4 5 6 7 8 Data Pre test pengetahuan Post test pengetahuan Pre test sikap Post test sikap Pre test TD sistol Post test TD sistol Pre test TD diastol Post test TD diastol Nilai KS 0.728 0.509 0.599 0.566 0.544 0.487 0.767 0.598 Sig. 0.664 > 0.05 0.958 > 0.05 0.866 > 0.05 0.906 > 0.05 0.928 > 0.05 0.972 > 0.05 0.598 > 0.05 0.207 > 0.05 Keterangan Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal Normal

7. Hasil pengujian kuisioner untuk validitas dan reliabilitas Hasil uji validitas variabel pengetahuan (Lampiran 12) dengan menggunakan uji product moment dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 16. Hasil Uji Validitas Kuisioner untuk Variabel Pengetahuan No 1 2 3 4 5 6 7 8 Item P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 Nilai r o.855 0.850 0.683 0.544 0.605 0.307 0.312 0.177 P 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.030 0.028 0.219 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Not Valid

16

Uji reliabilitas variabel pengetahuan dengan menggunakan uji alpha cronbach diperoleh hasil 0.744 (Lampiran 13). Oleh karena nilai alpha lebih besar dari 0.6 maka variabel pengetahuan adalah reliabel. Hasil uji validitas variabel sikap (Lampiran 13) dengan menggunakan uji product moment dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 17. Hasil uji validitas kuisioner untuk variabel pengetahuan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Item S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 Nilai r 0.578 0.684 0.566 0.681 0.508 0.346 0.409 0.290 0.483 P 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.014 0.003 0.041 0.000 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Uji reliabilitas variabel sikap dengan menggunakan uji alpha cronbach diperoleh hasil 0.712. Oleh karena nilai alpha lebih besar dari 0.6 maka variabel sikap adalah reliabel. 8. Hasil statistik hubungan konseling dengan peningkatan pengetahuan Hasil skor rata-rata pengetahuan pasien hipertensi sebelum konseling obat adalah 20.38 4.24 dan sesudah konseling obat 26.38 3.21. Hasil pengujian statistik pada skor pengetahuan sebelum dan sesudah konseling obat dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung -16.448 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05). Sedangkan untuk mengetahui pengaruh konseling obat terhadap pengetahuan pasien hipertensi

17

berdasarkan skor kuisioner, maka digunakan uji regresi linear sederhana dengan hasil F hitung 82.327 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05). 9. Hasil statistik hubungan konseling dengan peningkatan sikap Hasil skor rata-rata sikap pasien hipertensi sebelum konseling obat adalah 28.16 3.113 dan sesudah konseling obat 36.94 2.89. Hasil pengujian statistik pada skor pengetahuan sebelum dan sesudah konseling obat dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung -26.518 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05) Sedangkan untuk mengetahui pengaruh konseling obat terhadap pengetahuan pasien hipertensi berdasarkan skor kuisioner, maka digunakan uji regresi linear sederhana dengan hasil F hitung 45.595 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05). 10. Hasil statistik hubungan konseling dengan tekanan darah Tekanan darah dibagi atas tekanan darah sistol dan diastol. Kadar nilai tekanan darah sistol rata-rata pasien hipertensi sebelum konseling 151 23.582 dan sesudah konseling 138.40 14.758. Kadar nilai tekanan darah diastol rata-rata sebelum konseling 88.40 12.513 dan sesudah konseling 84.40 6.440. Hasil pengujian statistik pada skor pengetahuan nilai tekanan darah sistol sebelum dan sesudah konseling obat dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung 3.963 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05). Hasil pengujian statistik pada skor pengetahuan nilai tekanan darah diastol sebelum dan sesudah konseling obat dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung 2.087 dengan tingkat signifikansi 0.042 (p<0.05). Sedangkan

18

untuk mengetahui pengaruh konseling obat terhadap nilai tekanan darah pasien hipertensi berdasarkan skor kuisioner, maka digunakan uji regresi linear sederhana pada tekanan darah sistol hasil F hitung 8.396 dengan tingkat signifikansi 0.006 (p<0.05) dan pada tekanan darah diastol hasil F hitung 0.385 dengan tingkat signifikansi 0.538 (p>0.05). 11. Hasil statistik pengaruh pengetahuan dan sikap dengan nilai tekanan darah Untuk melihat pengaruh pengetahuan dan sikap pasien hipertensi terhadap penurunan tekanan darah setelah konseling obat maka dilakukan pengujian dengan menggunakan regresi linear berganda pada tekanan darah sistol diperoleh nilai F hitung 0.060 dengan tingkat signifikansi 0.942 (p>0.05) dan pada tekanan darah diastol diperoleh nilai F hitung 1.831 dengan tingkat signifikansi 0.172 (p>0.05) 12. Hubungan pengetahuan dengan sikap Hubungan pengetahuan dengan sikap diuji dengan menggunakan pearson product moment. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai r hitung sebesar 0.291 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.041 (p<0.05) (Lampiran 23). 13. Hasil perhitungan pill count Hasil perhitungan pill count untuk menilai kepatuhan pasien berdasarkan masing-masing obat yang didapatkan (Lampiran 32). Masing-masing pasien mendapatkan satu atau beberapa obat antihipertensi, persen kepatuhan dihitung untuk masing-masing obat yang didapatkan pasien. Pada tabel di

19

bawah ini didapatkan ada 6 jenis obat yang kurang kepatuhannya dari 100% pada pasien. Tabel 18. Obat dengan Tingkat Kepatuhan Kurang dari 100% No Nama Obat 1 Hydrochlorthiazid (HCT) 2 Amdixal (amlodipin) 3 Captopril 4 Valsartan 5 Irbesartan 6 diltiazem Jumlah D. Pembahasan 1. Distribusi demografi pasien Untuk mengetahui hubungan antara tiap variabel demografi tersebut (umur, pendidikan, lama menderita hipertensi dan jenis kelamin) terhadap sikap diuji dengan Chi-Square (lampiran 28,29,30,301Dari hasil pengujian diperoleh nilai 7.067, 20.842, 5.781, 2.361 dengan tingkat signifikansi 0.630, 0.053, 0.762, 0.501 (p> 0.05). Tingkat signifikansi pada umur, lama menderita dan jenis kelamin lebih besar dari 0.05 maka tidak ada hubungan, sedangkan pada pendidikan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05 berarti ada hubungan. Pada penelitian ini hal ini dapat disebabkan karena tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap setelah konseling karena berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menerima dan mengolah informasi yang didapatkan dari konseling (Niven, 2002). Jumlah (%) 20 6 4 4 2 2 100%

20

2. Perbedaan dan pengaruh konseling terhadap pengetahuan Dari rata-rata pengetahuan pasien sebelum dan sesudah konseling terdapat perbedaan pengetahuan yang bermakna pada pasien hipertensi, berdasarkan hasil pengujian statistik dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung -16.448 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05) (Lampiran 14). Peningkatan skor konseling setelah pasien menerima konseling menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan pasien. Konseling dapat meningkatkan pengetahuan pasien karena pasien diberikan informasi tentang obat mencakup nama obat, dosis, waktu dan jadwal minum obat dan juga tentang penyakitnya. Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan pada aspek pengetahuan nomor 4, dimana pasien dari awal yang tidak mengerti tentang jadwal minum obat apakah sesudah makan atau sebelum makan menjadi tahu dan teratur karena adanya pemberian Kartu Minum Obat Mandiri yang digunakan sebagai pengingat. Selain itu pada pertanyaan nomor 7 meningkatnya pengetahuan pasien tentang cara mengatasi efek yang merugikan dari obat yang dikonsumsi, pasien tidak mengerti bagaiman cara mengatasi efek samping yang kadang muncul seperti pusing atau mual dan muntah. Sedangkan pada pertanyaan nomor 6 tentang efek merugikan yang muncul setelah minum obat tidak banyak mengalami peningkatan skor sebelum dan sesudah konseling karena pasien mendapatkan obat yang sama sebelum dan sesudah konseling sehingga efek yang dirasakan pun sama. Sesuai dengan teori edukasi yang menyatakan bahwa konseling harus

21

bertujuan untuk mendidik pasien sehingga pengetahuan pasien terhadap obat akan meningkat dan hal ini mendorong pada perubahan perilaku (Rantucci, 2007). Melalui konseling maka asumsi dan perilaku pasien yang salah akan dapat diperbaiki/dikoreksi. Peningkatan pengetahuan ini sendiri juga harus diikuti dengan peningkatan dalam kompetensi sosial. Kompetensi ini mencakup kemampuan untuk mempersepsikan dan menginterpretasikan secara akurat isyarat yang dibuat oleh konselor dan kapasitas untuk berprilaku secara terampil dalam memberikan respon pada orang lain. Hal ini diwujudkan dalam penelitian ini karena pasien selalu diberikan informasi yang berulang-ulang selama tiga kali sehingga pasien dapat mengerti informasi yang ingin disampaikan (Niven, 2002). Sedangkan untuk melihat pengaruh konseling terhadap pengetahuan dilakukan dengan uji regresi linear sederhana. Dari data yang diperoleh didapatkan nilai F hitung 82.327 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05) dan nilai R2 (koefisien determinasi) diperoleh nilai 0.632 (Lampiran 16). Sedangkan nilai R (koefisien korelasi) 0.795 (79.5%) Ini berarti konseling berpengaruh terhadap pengetahuan sebesar 79.5% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Nilai yang ditunjukkan melebihi dari 50%, ini berarti konseling sangat berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan pasien dibandingkan variabel lain, dan sisanya 20.5% bisa saja dipengaruhi oleh jumlah dan karakteristik sampel penelitian. Pada penelitian ini sampelnya tidak seragam mulai dari tingkat pendidikan sampai status sosial sehingga

22

didapatkan hasil yang tidak optimal karena untuk meningkatkan pengetahuan memerlukan proses yang berbeda pada setiap pasien (Niven, 2002). 3. Perbedaan dan pengaruh konseling terhadap sikap Dari rata-rata sikap pasien sebelum dan sesudah konseling terdapat perbedaan pengetahuan yang bermakna pada pasien hipertensi, berdasarkan hasil pengujian statistik dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung -26.518 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05). Peningkatan skor sikap yang terjadi setelah konseling menunjukkan bahwa informasi yang didapat dari konseling dan meningkatkan pengetahuan pasien akan berdampak terhadap perubahan sikap pasien terhadap penyakit dan pengobatannya. Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan pada aspek sikap nomor 6 yaitu pertanyaan tentang dosis obat, pada awalnya pasien merasa tidak perlu untuk mengetahui dosis obat yang diberikan oleh dokter tetapi setelah diberi konseling bagaimana pentingnya mengetahui dosis obat yang biasa diminum karena dosis menentukan ukuran kekuatan dari obat tersebut dan juga untuk mengetahui apabila dokter meningkatkan dosis dari yang biasa diminum oleh pasien. Pertanyaan nomor 5 tentang lama pemakaian obat antihipertensi juga mengalami peningkatan skor, pada awalnya pasien tidak mengetahui berapa lama mereka harus mengkonsumsi obat ini tetapi setelah diberi konseling pasien mengerti bahwa obat ini harus selalu diminum untuk mengontrol tekanan darah agar stabil dan menghindari terjadinya komplikasi. Sedangkan pertanyaan nomor 7 tentang apakah pasien rajin mengontrol tekanan darah peningkatan skor tidak terlalu banyak, hal ini disebabkan biasanya pasien

23

memang rajin untuk mengontrol tekanan darah walaupun tidak ke rumah sakit biasanya mereka ke puskesmas terdekat dan bahkan ada yang memiliki alat tensimeter sendiri. Sikap seseorang adalah komponen yang sangat penting dalam perilaku kesehatannya, yang kemudian diasumsikan bahwa adanya hubungan langsung antara sikap dan perilaku seseorang. Sikap terbentuk dari 3 komponen utama yaitu : (1) komponen afektif, berhubungan dengan perasaan dan emosi tentang seseorang atau sesuatu, (2) komponen kognitif, berhubungan dengan kepercayaan tentang sesorang atau sesuatu objek, (3) komponen perilaku, sikap terbentuk dari tingkah laku atau perilaku. Untuk mendapatkan sikap yang diinginkan maka pasien harus melewati 3 komponen tersebut (Niven, 2002). Sedangkan untuk melihat pengaruh konseling terhadap sikap dilakukan dengan uji regresi linear sederhana. Dari data yang diperoleh terdapat pengaruh konseling terhadap pengetahuan nilai F hitung 45.595 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05) dan nilai R 2 (koefisien determinasi) diperoleh nilai 0.487. Sedangkan nilai R (koefisien korelasi) 0.698 (69.8%). Ini berarti konseling berpengaruh terhadap sikap sebesar 69.8% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain selain variabel bebas yang diteliti. Nilai yang ditunjukkan melebihi dari 50%, ini berarti konseling berpengaruh terhadap peningkatan sikap pasien dibandingkan variabel lain, dan sisanya 30.2% bisa saja dipengaruhi oleh jumlah dan karakteristik sampel penelitian. Perubahan sikap yang tidak terlalu tinggi mungkin disebabkan karena perubahan sikap itu sulit dicapai karena sikap positif seseorang

24

terhadap kesehatan kemungkinan tidak otomatis berdampak pada perilaku seseorang menjadi positif, tetapi sikap yang negatif terhadap kesehatan hampir pasti berdampak negatif pada perilakunya (Niven, 2002). 4. Perbedaan dan pengaruh konseling terhadap nilai tekanan darah Dari rata-rata nilai tekanan darah sistol dan diastol pasien sebelum dan sesudah konseling terdapat perbedaan nilai tekanan darah sistol dan diastol yang bermakna pada pasien hipertensi, berdasarkan hasil pengujian statistik dengan menggunakan uji t berpasangan pada tekanan darah sistol diperoleh nilai t hitung 3.963 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05) dan tekanan darah diastol diperoleh nilai t hitung 2.087 dengan tingkat signifikansi 0.042 (p<0.05). Penurunan tekanan darah sistol dan diastol setelah konseling menunjukkan bahwa konseling yang diberikan berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap pasien sehingga akan menimbulkan tindakan untuk patuh terhadap pengobatan. Pada penelitian lain juga diungkapkan bahwa pada penelitian observasi pasien yang menerima manajemen pengobatan hipertensi yang lebih intensif akan mendapatkan kontrol tekanan darah yang baik (Rose, et al., 2009) Sedangkan untuk melihat pengaruh konseling terhadap tekanan darah sistol dan diastol dilakukan dengan uji regresi linear sederhana. Dari data yang diperoleh terdapat pengaruh konseling terhadap tekanan darah sistol nilai F hitung 8.396 dengan tingkat signifikansi 0.006 (p<0.05) dan nilai R 2 (koefisien determinasi) diperoleh nilai 0.149 dan nilai R (koefisien korelasi)

25

0.386 (38.6%). Pada tekanan darah diastol nilai F hitung 0.385 dengan tingkat signifikansi 0.538 (p>0.05), nilai R 2 (koefisien determinasi) 0.008 dan nilai R (koefisien korelasi) 0.089 (8.9%). Berarti hanya 38.6% konseling berpengaruh terhadap tekanan darah sistol dan 8.9% terhadap tekanan darah diastol dan lebih banyak dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini. Hasil uji regresi linear sederhana pengaruh konseling terhadap nilai tekanan darah sistol menunjukkan hasil yang signifikan walaupun hanya 38.6% konseling yang berpengaruh. Sedangkan hasil uji regresi linear sederhana pengaruh konseling terhadap nilai tekanan darah diastol menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Hal ini disebabkan oleh turunnya tekanan darah diastol hanya sedikit menunjukkan perbaikan. Naik turunnya tekanan darah tidak hanya karena obat tetapi naik turunnya tekanan darah paling banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologi, fluktuasinya diakibatkan oleh interaksi yang komplek antara rangsangan lingkungan luar dan respon individu pada sistem kardiovaskuler (Sulaiman, et al., 2009). Adanya perbedaan signifikansi pada tekanan darah sistol dan diastol mungkin disebabkan karena pasien hipertensi memiliki kenaikan yang berarti pada tekanan darah sistol dan tidak terlalu berpengaruh terhadap tekanan darah diastol. Pada kebanyakan pasien, tekanan darah diastol yang diinginkan akan tercapai apabila tekanan darah sistol yang diinginkan sudah tercapai. Karena kenyataannya tekanan darah sistol berkaitan dengan resiko kardiovaskuler dibanding tekanan darah diastol, maka tekanan darah sistol

26

harus digunakan sebagai petanda klinis utama untuk pengontrolan penyakit hipertensi (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006). 5. Pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap nilai tekanan darah Untuk melihat pengaruh pengetahuan dan sikap pasien hipertensi terhadap penurunan nilai tekanan darah setelah konseling dilakukan pengujian dengan menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil uji F pada tekanan darah sistol menunjukkan nilai sebesar 0.060 dengan tingkat signifikansi 0.942 (p>0.05) dan pada tekanan darah diastol 1.831 dengan tingkat signifikansi 0.172 (p>0.05). Hal ini berarti secara bersamaan variabel pengetahuan dan sikap tidak berpengaruh terhadap nilai tekanan darah baik sistol maupun diastol. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi nilai tekanan darah, walaupun pasien telah rajin minum obat tetapi faktor internal dan eksternal akan sangat mempengaruhi. Faktor internal itu misalnya usia, semakin tua umur maka arteri akan kehilangan elastisitasnya dan dapat meningkatkan tekanan darah; stress; emosi yang berlebih; keadaan depresi pasien. Faktor eksternal misalnya adanya permasalahan dari luar, pekerjaan, obesitas, kebiasaan makan, cuaca, atau setelah melakukan suatu aktivitas seperti merokok dan berlari (Sulaiman, et al., 2009; Sadorf, 2009; Calhoun & Ahmed, 2010). 6. Hubungan pengetahuan dengan sikap Dari penelitian ini didapatkan hubungan pengetahuan terhadap sikap secara signifikan berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan Pearson

27

Product Moment. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai r hitung sebesar 0.291 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.041 (p<0.05). Dengan demikian terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap. Pengetahuan dan sikap akan sangat berhubungan, tetapi untuk membentuk sikap memerlukan suatu proses yang panjang. Meningkatnya pengetahuan akan meningkatkan keterampilan yang lebih jauh dan kesadaran terhadap komunikasi interpersonal akan mendalam. Komunikasi ini akan mempengaruhi perubahan sikap karena adanya suatu bentuk komunikasi persuasif yang efektif untuk mengubah sikap seseorang menjadi lebih sehat (Nelvin, 2002). 7. Perhitungan pill count Dari penelitian ini didapatkan persen kepatuhan yang dihitung berdasarkan rumus, maka didapatkan hasil ada 19 obat dengan % kepatuhan kurang dari 100% Kepatuhan itu sendiri dapat didefinisikan yaitu dimana pasien mengikuti atau mematuhi segala intruksi tenaga kesehatan (Metry, 2002). Evaluasi kepatuhan yang digunakan pada penelitian ini adalah pill count (menghitung jumlah obat sisa), metode ini dinilai lebih efektif dan efisien dalam mengukur tingkat kepatuhan pasien (Jasti, et al., 2005). Hasilnya didapatkan ada 6 buah obat pada 14 pasien yang memiliki persentase kepatuhan kurang dari 100%.

28

Berbagai macam faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obatnya, di sini diperlukan peran seorang apoteker agar faktor-faktor ketidakpatuhan tersebut dapat diminimalkan (Sulaiman, et.al, 2009). Pemberian informasi tentang obat sehingga pasien merasa yakin dengan keefektifan obat anti hipertensinya, membuka sebuah komunikasi dengan pasien sehingga ketika pasien merasa tidak cocok dengan suatu obat karena efek sampingnya dapat langsung dikonsultasikan yang terjadi selama ini pasien merasa lebih baik diam karena komunikasi yang terbatas sebelumnya. Ketakutan pasien yang berlebihan karena harus meminum obat anti hipertensi seumur hidup juga akan menjadi masalah, di sini konselor harus menekan kan bahwa obat anti hipertensi yang dikonsumsi adalah aman sehingga tidak apa-apa dikonsumsi seterusnya. Ini penting untuk mengontrol tekanan darah agar selalu stabil sehingga tidak menimbulkan komplikasi yang parah seperti stroke, gagal ginjal, gagal jantung dan yang lainnya (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006).

E. Kesimpulan Dari penelitian Pengaruh Konseling Obat terhadap Kepatuhan Pasien Hipertensi Rawat Jalan di RSUP DR. M. Djamil Padang, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Terdapat pengaruh konseling obat terhadap kepatuhan pasien hipertensi poliklinik di RSUP DR. M. Djamil Padang, dilihat dari :

29

a.

Terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap yang bermakna pada pasien hipertensi setelah dilakukan konseling obat, berdasarkan hasil pengujian statistik dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung -16.448 dan -26.518 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05).

b.

Ada pengaruh konseling obat terhadap pengetahuan pasien hipertensi berdasarkan hasil pengujian statistik dengan nilai F hitung 82.327 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05). Ada pengaruh konseling obat terhadap sikap pasien hipertensi berdasarkan hasil pengujian statistik dengan nilai F hitung 45.595 dengan tingkat signifikansi 0.000 (p<0.05). Artinya konseling obat dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap pasien.

c.

Terdapat perbedaan tekanan darah sistol dan diastol yang bermakna pada pasien hipertensi setelah dilakukan konseling obat, berdasarkan hasil pengujian statistik dengan menggunakan uji t berpasangan diperoleh nilai t hitung 3.963 dan 2.087 dengan tingkat signifikansi 0.000 dan0.042 (p<0.05).

d.

Ada pengaruh konseling obat terhadap nilai tekanan darah sistol pasien hipertensi berdasarkan hasil pengujian statistik dengan nilai F hitung 8.396 dan tidak ada pengaruh konseling obat terhadap nilai tekanan darah diastol pasien hipertensi berdasarkan hasil pengujian statistik dengan nilai F hitung 0.385 dengan tingkat signifikansi 0.538 (p>0.05), Artinya konseling obat dapat menurunkan tekanan darah sistol pasien.

30

2. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan terhadap sikap setelah konseling dengan nilai pearson Chi-Square 20.842 dengan tingkat signifikansi 0.053 (p<0.05) dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur, pendidikan, lama menderita, jenis kelamin dengan

pengetahuan dan umur, lama menderita, jenis kelamin dengan sikap.

F. Saran 1. Perlu adanya pemberian konseling pada pasien hipertensi rawat jalan dengan jangka waktu yang lebih lama untuk mendapatkan hasil yang optimal 2. Perlu dilakukan konseling obat dengan bantuan kelompok pasien dan bantuan audio visual untuk mendapatkan hasil yang optimal 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan konseling obat dengan pengetahuan dan sikap untuk menilai kepatuhan. 4. Perlu dilakukannya kembali penyediaan fasilitas untuk dilakukannya konseling pada pasien hipertensi poliklinik khusus RSUP DR. M. Djamil Padang.

31

DAFTAR PUSTAKA Aslam, Mohammed., Tan, Chik Kaw., Prayitno, Adji. 2003. Farmasi Klinis. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Cipolle, RJ., Strand, LM., Morley, PC. 2004. Pharmaceutical Care Practice : The Clinicians Guide (2th Ed). New York: The McGraw Hill Co. Hussar, DA., 1995. Patient Compliance, in Remington: The Science and Practice of Pharmacy (1796-1807), Volume II, USA: The Philadelphia Collage of Pharmacy and Science. Jasti, Sunitha., Siega-Riz, AM., Cogswell, ME., Hartzema, AG, Bentleyt, ME. 2005. Pill Count Adherence to Prenatal Multivitamin/Mineral Supplement Use Among Low-Income Women. USA : The American Society for Nutritional Science . 135: 1093-1101. Jepson, M.H. 1990. Patient Compliance and Counselling , Diana M., Aulton, ME.(Editor), London: Pharmaceutical Practice, Churscill Livingstone. Kessler, D. A, 1992. A Challenge for American Pharmacist , Am Pharm, ;NS32(1):33-36. Mellen, P. B., Palla, S. L., Goff, D. C., Bonds, D. E. (2004). Prevalence of Nutrition and Exercise Counseling for Patients With Hypertension. J. Gen Intern Med, 19, 917924. Onzenoort, H.A.W. 2010. Assesing Medication Adherence Simultaneously by Electronic Monitoring and Pill Count in Patients With Mild to Moderate Hypertension. USA : American Journal of Hypertension. 23, 149-154. Price, SA dan M. W. Lorraine. 1994. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi IV Jilid I, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Rantucci, MJ., 2007. Komunikasi Apoteker-Pasien (Edisi 2). Penerjemah : A. N. Sani. Jakarta : Penerbit Kedokteran EGC. Schnipper, JL, Jennifer, LK, Michael, CC, Stephanie, AW, Brandon, AB, Emily, T, Allen, K, Mark, H, Christoper, LR, Sylvia, CM, David, WB. 2006. Role of Pharmacist Counseling in Preventing Adverse Drug Events After Hospitalization. USA : Archives of Internal Medicine. Vol 166.565-571.

32

RIWAYAT HIDUP

Penulis

dilahirkan pada tanggal 22 Desember 1986 di

Pekanbaru, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dari ayah Drs. H. Muhammad Razif dan IbuHj. Suprihatin. Penulis menamatkan SD pada tahun 1998, SMP tahun 2001 dan SMA pada tahun 2004 di Pekanbaru. Penulis memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Universitas Andalas di Padang tahun 2008 dan memperoleh gelar Apoteker pada Fakultas Farmasi Universitas Andalas di Padang tahun 2010. Pada tahun 2009 meneruskan pendidikan pada Program Studi Farmasi Peminatan Farmasi Komunitas dan Klinis Program Pascasarjana Universitas Andalas di Padang.

33

PENGARUH KONSELING OBAT TERHADAP KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI DI POLIKLINIK KHUSUS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG Oleh : Denia Pratiwi Alamat : Jalan Pangeran Hidayat No 114 Pekanbaru-Riau

34