Anda di halaman 1dari 21

1

Anatomi Fisiologi Darah


A. Pengertian Darah Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah. Darah memiliki warna merah yang berasal dari kandungan oksigen dan karbon dioksida di dalamnya. Adanya oksigen dalam darah diambil dengan jalan bernafas, dan zat ini sangat berguna pada peristiwa pembakaran/metabolisme di dalam tubuh. Viskositas/kekentalan darah lebih kental daripada air yang mempunyai BJ 1,041-1,067, temperature 38C, dan pH 7,37-7,45. Warna darah bervariasi dari merah terang sampai merah tua kebiruan, tergantung pada kadar oksigen yang di bawa sel darah merah. Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah pada tubuh orang dewasa sebanyak kira-kira 1/13 dari berat badan atau sekitar 4-5 liter. Jumlah darah tersebut pada setiap orang berbeda-beda. Tergantung kepada umur, ukuran tubuh, dan berbanding terbalik dengan jumlah jaringan adiposa pada tubuh. Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.

B. Fungsi Darah Fungsi Darah Pada Tubuh Manusia : 1. Alat pengangkut air dan menyebarkannya ke seluruh tubuh 2. Alat pengangkut oksigen dan menyebarkannya ke seluruh tubuh 3. Alat pengangkut sari makanan dan menyebarkannya ke seluruh tubuh 4. Alat pengangkut hasil oksidasi untuk dibuang melalui alat ekskresi 5. Alat pengangkut getah hormon dari kelenjar buntu 6. Menjaga suhu temperatur tubuh

7. Mencegah infeksi dengan sel darah putih, antibodi dan sel darah beku8. Mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dll

Bagian darah Air Protein Mineral 91% 3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinogen) 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat, magnesium, kalsium dan zat besi) Bahan Organik 0,1% (glukosa, lemak, asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino)

C. Komposisi Darah

1. Air : 91% 2. Protein : 3% (albumin, globulin, protombin, dan fibrinogen) 3. Mineral : 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat, magnesium, kalsium, dan zat besi) 4. Bahan organic :0,1% (glukosa, lemak, asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino) D. Bagian-bagian Darah a. Plasma Darah b. Macam-macam Sel Darah

1. Sel Darah Merah (eritrosit) 2. Sel Darah Putih (leukosit) 3. Sel Pembeku Darah (trombosit)/ Platelet c. Plasma + Sel Darah : Whole Blood E. Plasma Darah 1. Pengertian Plasma Darah (Cairan Darah) Plasma darah adalah

cairan darah berbentuk butiranbutiran berwarna darah dalam yang darah tidak Di

dalamnya terkandung benangbenang fibrin / fibrinogen yang berguna untuk menutup luka yang terbuka. Plasma darah juga mengandung berbagai macam zat organik, anorganik, dan air. 2. Komponen Penyusun Plasma Darah Air : 91% Protein plasma darah : 7% Komponen lainya Asam amino, lemak, glukosa, urea, garam,0,9% Hormon, antibody.0,1% Senyawa atau zat-zat kimia yang larut dalam cairan darah antara lain sebagai berikut. 1) Sari makanan dan mineral yang terlarut dalam darah, misalnya monosakarida, asam lemak, gliserin, kolesterol, asam amino, dan garam-garam mineral. Garam-garam mineral meliputi: a. kation : Na+, K++, Ca++, Mg++ b. anion : Cl-, HCO3-, PO42) Enzim, hormon, dan antibodi, sebagai zat-zat hasil produksi sel-sel. 3) Protein yang terlarut dalam darah (7%), molekul-molekul ini berukuran cukup besar sehingga tidak dapat menembus dinding kapiler. Contoh:

a) Albumin (4%), protein plasma yang paling banyak mengikat banyak zat (sebagai contoh, bilirubin, garam empedu, dan penisilin) untuk transportasi melalui plasma dan sangat berperan dalam menentukan tekanan osmotik darah karena jumlahnya. b) Globulin (2,7%), terdapat tiga subkelas; Globulin alfa (), beta (), dan gamma (); 1) Globulin alfa dan beta spesifik mengikat dan mengangkut sejumlah zat dalam plasma, misalnya hormon tiroid, kolersterol, dan besi. 2) Banyak faktor yang berperan dalam proses pembekuan darah terdiri dari globulin alfa dan beta. 3) Globulin alfa yang berperan penting dalam pengaturan keseimbangan garam di tubuh. 4) Globulim gamma adalah imunnoglobulin (antibodi), yang penting bagi mekanisme pertahanan tubuh. c) Fibrinogen (0,3%), berperan penting dalam pembekuan darah. 4) Urea dan asam urat, sebagai zat-zat sisa dari hasil metabolisme. 5) O2, CO2, dan N2 sebagai gas-gas utama yang terlarut dalam plasma. 3. Fungsi Plasma Darah Peran Plasma darah sangatlah bervariasi yaitu 1. berfungsi mengangkut air 2. mengangkut mineral, ion ion misalnya ion karbonat 3. mengangkut sari-sari makanan ke seluruh jaringan tubuh. 4. mengangkut panas hasil oksidasi , sehingga panas tubuh kita bisa merata dan bisa mempertahankan suhu tubuh itu (37o) dengan membuang panas yang berlebihan itu lewat keringat 5. mengangkut hasil sisa oksidasi sel CO2 yang diangkut dalam bentuk HCO3 6. mengangkut hormon 7. mengangkut antibody / zat immun 8. mengangkut zat ekskresi dari jaringan tubuh ( urea) ke ginjal Bagian plasma darah yang mempunyai fungsi penting adalah serum. Serum merupakan plasma darah yang dikeluarkan atau dipisahkan fibrinogennya dengan cara memutar darah dalam sentrifuge. Serum tampak sangat jernih dan mengandung zat antibodi. Antibodi merupakan protein yang dapat mengenali dan mengikat antigen ( protein asing) tertentu. Antibodi ini berfungsi untuk membinasakan protein asing yang masuk ke dalam

tubuh. Protein asing yang masuk ke dalam tubuh disebut antigen. Antigen adalah molekul Protein asing yang tidak dikenal yang masuk ke plasma darah , adanya antigen maka akan terbentuk antibody ( Antibody jumlahnya berbanding lurus dengan antigen yang ada) maka orang yang sakit karena adanya kuman ( antigen asing) , dan bisa sehat dipastikan di tubuhnya (plasma darahnya) banyak antibody special kuman tersebut sehingga ia sudah kebal terhadap kuman yang menyebabkan penyakit tersebut. Berdasarkan cara kerjanya, antibodi dalam plasma darah dapat dibedakan sebagai berikut. 1) Aglutinin : menggumpalkan antigen. 2) Presipitin : mengendapkan antigen. 3) Antitoksin : menetralkan racun. 4) Lisin : menguraikan antigen. 5) Netralisasi : antigenik menutup tempat yang toksik ( beracun) Antigen yang terdapat dalam sel darah dikenal dengan nama aglutinogen, sedangkan antibodi terdapat di dalam plasma darah dinamakan aglutinin. Aglutinogen membuat sel-sel darah peka terhadap aglutinasi (penggumpalan). Adanya aglutinogen dan aglutinin di dalam darah ini pertama kali ditemukan oleh Karl Landsteiner (18681943) dan Donath. Di dalam darah terdapat dua jenis aglutinogen, yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Berdasarkan ada tidaknya aglutinogen dalam darah, Landsteiner membagi empat macam golongan darah, yaitu darah golongan A, B, AB, dan O. Sistem penggolongan darah ini dinamakan sistem ABO. F. Macam-macam Sel Darah Sel Darah Merah (Eritrosit)

Berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping namapak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak mikron, belakang. dan Berdiameter 8

mempunyai

ukuran

ketebalan sebagai berikut: pada bagian yang paling tebal, tebalnya 2 mikron, sedangkan pada bagian tengah tebalnya 1 mikron atau kurang.

Volume rata-rata sel darah merah adalah sebesar 83 mikron kubik. Dalam setiap millimeter kubik darah sel terdiri luar terdapat darah. atas atau massa darah

5.000.000 Strukturnya pembungkus stroma,

berisi Sel

hemoglobin. merah

memerlukan

protein karena strukturnya terbentuk dari asam

amino. Mereka juga memerlukan zat besi, sehingga untuk membentuk penggantinya diperlukan diet seimbang yang berisi zat besi. Pembentukan sel darah merah. Sel darah merah di bentuk di dalam sumsum tulang, terutama dari tulang pendek, pipih dan tak beraturan, dari jaringan kanselus pada ujung tulang pipa dan dari sumsum dalam batang iga-iga dan dari sternum. Di dalam sumsum tulang terdapat banyak sel pluripoten hemopoietik stem yang dapat membentuk berbagai jenis sel darah. Sel-sel ini akan terus menerus direproduksikan selama hidup manusia, walaupun jumlahnya akan semakin berkurang sesuai dengan bertambahnya usia. Sel pertama yang akan dapat diketahui termasuk ke dalam rangkaian sel-sel darah merah dapat disebut sebagai proeritroblas. Dengan rangsangan yang sesuai maka dari sel-sel stem ini dapat dibentuk banyak sekali sel-sel. Sekali proeritroblas ini terbentuk, maka ia akan membelah beberapa kali sampai akhirnya akan terbentuk 8 sampai 16 sel-sel darah merah yang matur. Sel-sel baru dari generasi pertama ini disebut sebagai basofil eritroblas sebab dapat di cat dengan zat warna basa; dan sel-sel ini pada saat ini akan mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Tetapi pada generasi berikutnya yang disebut sebagai polikromatofil eritroblas akan mulai terbentuk cukup hemoglobin sehingga sel-sel ini mempunyai gambaran polikromatofil. Sesudah terjadi pembelahan lainnya atau selebihnya, maka akan terbentuk lebih banyak lagi hemoglobin dan sel-sel ini lalu disebut sebagai ortokromatik eritroblas dimana warnanya sekarang dapat menjadi merah oleh karena adanya hemoglobin. Akhirnya, bila sitoplasma dari sel-sel ini sudah dipenuhi oleh hemoglobin sehingga mencapai konsentrasi 34%, maka nukleus akan memadat sampai ukurannya menjadi kecil dan

terdorong dari sel. Pada saat yang sama retikulum endoplasma akan mereabsorbsi. Dimana pada tahap ini sel tersebut disebut sebagai retikulosit oleh karena masih mengandung sedikit bahan-bahan basofilik mengandung sisa-sisa Golgi, mitokondria dan sedikit organela sitoplamik yang lain. Pada tahap retikulosit ini sel-sel tersebut akan berjalan masuk ke dalam darah kapiler dengan cara diapedesis (terperas melalui pori-pori membran). Bahan-bahan basofilik yang tesisa di dalam retikulosit tada dalam keadaan normalnya akan menghilang dalam waktu satu sampai dua hari dan sel ini lalu disebut sebagai eritrosit matur. Oleh karena waktu hidup eritrosit ini pendek, maka pada umumnya konsentrasi seluruh sel-sel darah merah dalam darah itu pada keadaan normal jumlahnya kurang dari 1%. Rata-rata panjang hidup darah merah kira-kira 115 hari. Sel menjadi usang, dan dihancurkan dalam sistema retikulo-endotelia, terutama dalam limpa dan hati. Globin dari hemoglobin dipecah menjadi asam amino untuk digunakan sebagai protein dalm jaringanjaringan dan zat besi dalam hem dari hemoglobin dikeluarkan untuk digunakan dalam pembentukan sel darah merah lagi. Sisa hem dari hemoglobin diubah menjadi bilirubin (pigmen kuning) dan biliverdin yaitu yang berwarna kehijau-hijauan yang dapat dilihat pada perubahan warna hemoglobin yang rusak pada luka memar. Konsentrasi sel-sel darah merah di dalam darah, pada pria normal jumlah rata-rata selsel darah merah per millimeter kubik adalah 5.200.000 ( 300.000) dan pada wanita normal jumlahnya 4.700.000 (300.000). Jumlah sel-sel darah merah ini bervariasi pada kedua jenis kelamin dan pada perbedaan umur, pada ketinggian tempat seseorang itu tinggal akan mempengaruhi jumlah sel darah merah. Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru.

Kadar normal hemoglobin Kadar hemoglobin menggunakan satuan

gram/dl. Yang artinya banyaknya gram hemoglobin dalam 100 mililiter darah. Nilai normal hemoglobin tergantung dari umur pasien : Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl Anak anak : 11-13 gram/dl Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl Eritroposis Pembentukan sel darah merah (eritroposis) adalah subyek pengaturan feedback. Eritroposis diatur oleh suatu hormone glikoprotein yang beredar yang dinamakan eritropoeitin yang dibentuk oleh kerja dari faktor ginjal pada globulin plasma. Hormone ini mempermudah diferensiasi sistem sel menjadi proeritroblast. Kerapuhan sel darah merah. Faktor penghambat pembentukan eritroposis adalah kenaikan sel darah merah dalam sirkulasi yang mencapai nilai diatas normal sedangkan pembentukan eritroposis dirangsang oleh anemia, hipoksia, dan kenaikan jumlah sel darah merah yang beredar adalah gambaran yang menonjol dari aklimanisasi pada dataran tinggi. Sel-sel darah merah, seperti sel-sel lainnya , mengkerut dalam larutan dengan tekanan osmotic yang lebih tinggi dari tekanan osmotik plasma. Pada larutan yang tekanan osmotiknya lebih rendah sel darah merah akan membengkak, menjadi cembung dan kemudian kehilangan hemoglobinnya (hemolisis). Haemoglobin eritrosit yang hemolisis larut dalam plasma, member warna merah pada plasma. Bila kerapuhan osmotiknya normal, sel darah merah mulai hemolisis bila dimasukkan dalam larutan NaCl 0,48% dan pada larutan NaCl 0,33% hemolisis adalah sempurna. Pada sferositosis herediterb(ikterus hemolitik congenital) sel-sel adalah sferositik dalam plasma normal dan lebih banyak terjadi hemolisis daripada sel-sel normal pada larutan natrium khlorida hipotonik (kerapuhan sel darah merah abnormal)

Sel darah merah juga dapat dilisiskan oleh obat-obatan dan infeksi. Mudahnya hemolisis sel darah merah terhadap zat-zat ini meningkat pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PD) , yaitu enzim yang mengkatalisis langkah permulaan oksidasi glukosa melalui heksosa monofosfat shunt. Jalan ini menghasilkan NAPDH, yang diperlukan pada beberapa jalan untuk memperahankan kerapuhan sel darah merah. Defisiensi aktivasi G6DP congenital dalam sel darah merah disebabkan adanya variant-variant enzim sering terjadi. Sebenarnya defisiensi G6DP adalah abnormalitas enzim yang secara genetik paling sering ditemukan pada manusia. Lebih dari 80 variant genetik G6DP telah ditemukan, 40 diantaranya tidak menyebabkan penurunan aktivitas enzim yang banyak, tetapi lainnya menyebabkan penurunan aktivitas dan peningkatan sensitivitas terhadap zat-zat hemolitik dan anemia hemolitik. Defisiensi G6DP yang berat juga menghambat daya bunuh granulosit terhadap bakteri dan merupakan predisposial terhadap infeksi berat. Sel Darah Putih (Leukosit)

Rupanya bening dan tidak berwarna, bentuknya lebih besar dari sel darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil. Leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Sistem perthanan ini sebagian dibentuk di dalam sumsum tulang (granulosit dan monosit dan sedikit limfosit) dan sebagian lagi di salam jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma), tapi setelah dibentuk sel-sel ini kana diangkut didalam darah menuju ke bermacam-macam bagian tubuh untuk dipergunakan. Granulosit atau sel polimorfonuklear merupakan hampir 75% dari seluruh jumlah sel darah putih. Mereka terbentuk dalam sumsum merah tulang. Sel ini berisi sebuah nukleus yang berbelah banyak dan protoplasmanya berbulir. Karena itu disebut sel berbulir atau granulosit. Kekurangan

10

granulosit

disebut

granulositopenia.

Sedangkan

tidak

adanya

granulosit

disebut

agranulositosis yang timbul setelah makan obat tertentu, termasuk juga beberapa antibiotika. Fungsi sel darah putih , granulosit dan monosit mempunyai peranan penting dalam perlindungan badan terhadap mikroorganisme. Dengan kemampuannya sebagai fagosit (fagosaya makan), mereka memakan bakteri-bakteri hidup yang masuk ke peredaran darah. Dengan kekuatan gerakan amuboidnya ia dapat bergerak bebas di dalam dan dapat keluar pembuluh darah dan berjalan mengitari seluruh bagian tubuh. Dengan demikian sel darah putih mempunyai fungsi : 1. Mengepung daerah yang terkena infeksi atau cedera 2. Menangkap organisme hidup dan menghancurkannya 3. Menyingkirkan bahan lain seperti kotoran-kotoran, serpihan kayu, benang jahitan (catgut), dll dengan cara yang sama. Sebagai tambahan granulosit memiliki enzim yang dapat memecah protein, yang memungkinkan merusak jaringan tubuh, menghancurkan dan membuangnya. Dengan ini jaringan yang sakit atau terluka dapat dibuang dan dimungkinkan sembuh. Sebagai hasil kerja fagositik dari sel darah putih, peradangan dapat dihentikan sama sekali. Bila kegiatannya tidak dapat berhasil dengan sempurna, maka dapat terbentuk nanah. Nanah berisi jenazah dari kawan dan lawan. Fagosit yang terbunuh dalam perjuangannya melawan kuman yang menyerbu masuk disebut sel nanah. Klasifikasi leukosit. Ada lima jenis leukosit dalam sirkulasi darah, yang di bedakan berdasarkan ukuran, bentuk nukleus, dan ada tidaknya granula sitoplasma. Sel yang mempunyai granula sitoplasma disebut granulosit, dan sel yang tidak mempunyai granula disebut agranulosit.

11

A. Granulosit merupakan Sel yang mempunyai granula sitoplasma

12

13

B. Agranulosit merupakan sel yang tidak mempunyai granula didalamnya

14

Mengenai fungsi limfosit sedikit yang diketahui. Mereka tidak memiliki gerakan amuboid, terapung-apung di dalam aliran darah dan juga terdapat dalam aliran darah dan juga terdapat dalam jaringan limfe dari semua bagian badan. Mereka tidak memakan bakteri, tetapi diduga bahwa mereka membentuk antibodi (badan penangkis) penting yang melindungi tubuh terhadap infeksi khorik dan mempertahankan tingkat kekebalannya (imunitas) tertentu terhadap infeksi. Konsentrasi bermacam-macam sel-sel darah putih dalam darah. Pada manusia dewasa dapat di jumpai kira-kira 7.000 sel-sel darah putih per millimeter kubik darah. Jumlah persentase bermacam-macam sel-sel darah putih kira-kira sebagai berikut: Netrofil Polimorfonuklir Eosinofil Polimorfonuklir Basofil Polimorfonuklir Monosit Limfosit 62,0% 2,3% 0,4% 5,3% 30,0%

15

Jumlah platelet yang hanya merupakan fragmen-fragmen sel dalam keadaan normal jumlahnya kira-kira 300.000 per millimeter kubik. Leukositosis ialah istilah untuk menunjukkan penambahan jumlah keseluruhan sel darah putih dalam darah, yaitu apabila penambahan melampaui 10.000 butir per millimeter kubik. Leukopenia berarti berkurangnya jumlah sel darah putih sampai 5.000 atau kurang. Limfositosis yaitu pertambahan jumlah limfosit. Pembetukan sel darah putih. Sel-sel darah putih dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama granulosit akan disimpan di dalam sumsum sampai mereka diperlukan di dalam sistem sirkulasi. Kemudian bila kebutuhannya meningkat, maka bermacam-macam faktor yang akan meneyebabkan granulosit tersebut dilepaskan. Dalam keadaan normal granulosit yang bersikulasi di dalam seluruh aliran darah kira-kira tiga kali daripada jumlah granulosit yang disimpan dalam sumsum. Jumlah ini sesuai dengan persediaan granulosit selama 6 hari. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembentukan sel-sel darah putih. Pada umumnya untuk pembentukan sel-sel darah putih itu juga sangat membutuhkan vitaminvitamin dan asam-asam amino seperti halnya kebanyakan sel-sel yang lain dalam tubuh. Terutama bila sampai kekurangan asam folat, suatu senyawa vitamin B kompleks, yang menghambat pembentukan sel-sel darah merah. Juga pada gangguan metabolisme yang parah, maka produksi sel-sel darah putih mungkin akan sangat berkurang walaupun sebenarnya sel-sel ini lebih dibutuhkan daripada keadaan-keadaan yang biasa. Komponen Sel Darah Putih Sel Sel rata) Sel darah putih 9000 total Granulosit Netrofil Eosinofil Basofil Limfosit Monosit 2750 540 1500-4000 300-600 20-40 2-8 5400 275 35 3000-6000 150-300 0-100 50-70 1-4 0,4 4000-11000 /L (rata- Kisaran normal Persen sel darah putih total .

16

Eritrosit Wanita Pria Trombosit

4,8 x 10 5,4 x 10

. .

. .

300.000

200.000 500.000

Sel Pembeku Darah (Trombosit)/ Platelet Trombosit merupakan benda-benda kecil yang mati yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat ada juga yang berbentuk lonjong, memilik warna putih. Pada orang dewasa terdapat 200.000-300.000 trombosit per millimeter kubik. Fungsinya memegang peranan penting dalam pembekuan darah. Jika banyaknya kurang dari normal, maka apabila terdapat luka dan darah tidak segera membeku sehingga timbul pendarahan yang terus menerus. Trombosit lebih dari 300.000 disebut trombositosis. Trombosit yang kurang dari 200.000 disebut trombositopenia. Di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu Ca2+ dan fibrinogen. Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka.

Faktor pembekuan darah Faktor 1 I II Nama Fibrinogen Protombin

17

III IV V VII VIII IX X XI XII XIII HMW-K PRE-Ka Ka PL

Tromboplastin Kalsium Proakselerin, faktor labil, globulin akselerator. Prokonvertin, SPCA, faktor sabil Faktor antihemofilia (AHF), faktor antihemofilia A, globulin antihemofilia (AHG) Komponen tromboplastik plasma (PTC), faktor christmast, faktor antihemofilia B. Faktor Stuwart-plower Turunan tromboplastin plasma (PTA), faktor antihemofilia C. Faktor hagenan., faktor gelas Faktor penstabil fibrin, faktor laki-lorand Kininogen berberat molekul tinggi, faktor fitzgerald Prekallikrein, faktor fletcher Kallikrein Fosfolipid trombosit.

faktor VI bukan merupakan faktor tersendiri dan dihilangkan.

Proses pembekuan darah Pembekuan darah merupakan rangkaian proses yang terjadi pada jaringan tubuh, plasma darah, dan trombosit. Bila darah ke luar dari pembuluh darah, maka akan segera membeku atau menggumpal (koagulasi). Mekanismenya sebagai berikut:

18

Perhatikan proses pembekuan darah. Eritrosit terjebak jala yang dibentuk oleh benang fibrin. Peristiwa ini berfungsi mencegah kehilangan banyak eritrosit saat luka. Untuk keperluan tertentu, misalnya dalam proses pengambilan darah dari donor, maka pembekuan darah dapat dihindari dengan jalan: 1. Mendinginkan darah mendekati titik bekunya untuk menghalangi pembentukan trombin. 2. Memberi garam natrium oksalat atau natrium sitrat untuk mengendapkan ion Ca, sehingga pengubahan protrombin menjadi trombin terhambat 3. Pemberian heparin atau dicumarol. Kedua zat tersebut merupakan zat anti koagulan atau anti pembekuan darah 4. Mencegah persentuhan dengan permukaan yang kasar, jadi harus menggunakanjarum yang tajam dan pipa atau gelas yang licin. G. Pengertian dan Fungsi Sistem Peredaran Getah Bening Selain sistem peredaran darah, manusia juga mempunyai sistem peredaran getah bening (limfa) yang keduanya berperan dalam sistem transportasi. Sistem limfa berkaitan erat dengan sistem peredaran darah. Sistem limfa terdiri dari cairan limfa, pembuluh limfa, dan kelenjar limfa.

Fungsi sistem peredaran getah bening adalah sebagai berikut : 1. Untuk sistem pertahanan tubuh

19

2. Mengangkut kembali cairan tubuh, cairan plasma darah, sel darah putih yang berada di luar pembuluh darah, dan mengangkut lemak dari usus ke dalam sistem peredaran darah.

Cairan limfa mengandung sel-sel darah putih yang berfungsi mematikan kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Cairan ini keluar dari pembuluh darah dan mengisi ruang antarsel sehingga membasahi seluruh jaringan tubuh. Pembuluh limfa mempunyai banyak katup dan terdapat pada semua jaringan tubuh, kecuali pada sistem saraf pusat. Pembuluh limfa dibedakan menjadi dua macam yaitu pembuluh limfa kanan dan pembuluh limfa kiri. Pembuluh limfa kanan berfungsi menampung cairan limfa yang berasal dari daerah kepala, leher bagian kanan, dada kanan, dan lengan kanan. Pembuluh ini bermuara pada vena yang berada di bawah selangka kanan. Pembuluh limfa kiri berfungsi menampung getah bening yang berasal dari daerah kepala, leher kiri, dada kiri, dan lengan kiri serta tubuh bagian bawah. Pembuluh ini bermuara pada vena di bawah selangka kiri. Kelenjar limfa berfungsi untuk menghasilkan sel darah putih dan menjaga agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut. Kelenjar limfa terdapat di sepanjang pembuluh limfa, terutama terdapat pada pangkal paha, ketiak, dan leher. Alat tubuh yang mempunyai fungsi yang sama dengan kelenjar limfa yaitu limpa dan tonsil. Limpa merupakan sebuah kelenjar yang terletak di belakang lambung dan berwarna ungu. Fungsinya antara lain sebagai tempat penyimpanan cadangan sel darah, membunuh kuman penyakit, pembentukan sel darah putih dan antibodi, dan tempat pembongkaran sel darah merah yang sudah mati. Tonsil atau amandel terletak di bagian kanan dan kiri pangkal tenggorokan. Tonsil yang berada di belakang anak tekak yaitu di dalam rongga hidung disebut polip hidung. Fungsi tonsil adalah untuk mencegah infeksi yang masuk melalui hidung, mulut, dan tenggorokan. H. Proses Pembentukan Sel Darah 1. Terjadi awal masa embrional, sebagian besar pada hati dan sebagian kecil pada limpa. Pada minggu ke 20 masa embrional mulai terjadi pada sumsum tulang. 2. Semakin besar janin peranan pembentukan sel darah terjadi pada sumsum tulang 3. Setelah lahir semua sel darah dibuat disumsum tulang, kecuali limposit yang juga dibentuk dikelenjar limpe, thymus dan lien 4. Setelah usia 20 tahun sumsum tulang panjang tidak memproduksi lagi sel darah kecuali bagian proximal humerus dan tibia.

20

I. Golongan Darah Golongan darah sangat penting untuk diketahui sehubungan dengan transfusi darah yaitu memasukan darah seseorang ke dalam tubuh orang lain melalui pembuluh darah vena. Transfusi ini bermanfaat dan diperlukan tetapi jika pekerjaan ini dilakukan sembarangan sangat berbahaya karena bisa menimbulkan kematian bagi yang menerimanya. Apabila darah dari golongan yang bertentangan ditransfusikan akan mengakibatkan bahan dalam plasma yang bernama aglutinin menggumpal dan juga terjadi hemolisis (memecahnya) sel darah merah sehingga dapat membahayakan atau menimbulkan kematian. Di dalam serum darah manusia terdapat suatu zat yang disebut zat aglutinin/zat penggumpal yang terdiri dari 2 macam yaitu aglutinin alfa dan aglutinin beta. Sedangkan di dalam eritrosit terdapat pula zat lain yang disebut aglutinogen A dan aglutinogen B. Berdasarkan faktor tersebut diatas makan Landsteiner membagi darah ke dalam empatt golongan yaitu: 1. Golongan darah A, yang mempunyai aglutinogen A dalam eritrositnya dan mengandung aglutinin beta dalam serumnya. 2. Golongan darah B yang mempunyai aglutinogen B dalam eritrositnya dan mengandung aglutinin alfa dalam serumnya. 3. Golongan darah AB yaitu darah yang mempunyai aglutinogen A dan B dalam eritrositnya, dan tidak mengandung alfa dan beta dalam serumnya. 4. Golongan darah O, yaitu darah yang tidak mengandung agluinogen (antigen) dan mengandung aglutinin alfa dan beta dalam serumnya. Golongan darah O mempunyai aglutinin alfa dan beta, tetapi tidak mempunyai aglutinogen sehingga apabila diberikan pada darah yang golongan AB atau A-B tidak akan menimbulkan penggumpalan, sehingga orang yang mempunyai golongan darah O disebut general donor atau pemberi darah umum. Skema golongan darah Golongan darah AB A B O Aglutinogen eritrosit A dan B A B Aglutinin serum BETA ALFA ALFA BETA

21

DAFTAR PUSTAKA
C. Pearce, Evelyn. 1992. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Guyton, Arthur C. 1993. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 7 bagian 1. Jakarta: EGC. Syaifuddin, Drs. H. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC. http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2020566-komposisi-darah/ http://id.wikipedia.org/wiki/Darah http://www.g-excess.com/359/pengertian-dan-fungsi-sistem-peredaran-getah-bening/ http://www.sentra-edukasi.com/2011/07/fungsi-jenis-jumlah-leukosit.html http://m.medicastore.com/index.php?mod=penyakit&id=160 http://www.sarjanaku.com/2011/06/sistem-peredaran-darah.html http://www.lkc.or.id/gentagold/2012/10/02/fungsi-pengertian-dan-komponen-plasma-darah/ http://ettaabu.blogspot.com/2011/06/anatomi-and-fisiologi-darah.html http://biologigonz.blogspot.com/2010/03/plasma-darah.html http://lemootpners.blogspot.com/2011/10/anfis-darah.html http://mhswkprwtn.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html http://anfis-mariapoppy.blogspot.com/2011/01/darah.html