Anda di halaman 1dari 12

JAWABAN BANK SOAL PBI masih kasaaarrr 1. a.

Proses biologi sebagai pengolahan air limbah secara sekunder untuk menghilangkan beberapa nutrient. Terdapat teknologi untuk menghilangkan nitrogen dari limbah dengan menggunakan Intermittentlu Decanted Extended Aeration Lagoon (IDAL) ataupun untuk menghilangkan kandungan fosfor dalam limbah dengan menggunakan Biologically Enhanced Phosporus Removal (BEPR) b. Proses fisika-kimia seperti filtrasi membran, dimana proses pengolahan dengan proses ini memegang peranan penting dalam teknologi pengolahan limbah khususnya reuse. c. Proses hybrid seperti kombinasi dari proses secara fisika-kimia dan proses secara biologi seperti bioreactor membran. System pengolahan IDAL bertujuan untuk menghilangkan kandungan nitrogen dari air limbah domestik, yang terdiri dari dua mekanisme proses. Proses pertama yaitu nitrifikasi dari ammonia-nitrogen menjadi nitrat-nitrogen dengan memanfaatkan bakteri nitrit seperti Nitrosomonas dan Nitrobacter. Sedangkan proses yang kedua yaitu denitrifikasi dari nitrat-nitrogen menjadi gas nitrogen dalam kondisi anaerobik. Pada system IDAL ini, oksidasi biologi dan klarifikasi dilakukan dalam tank yang sama. Terdapat tiga operasi yang dinamakan aeration, settling, dan decantationyang dipisahkan oleh waktu dan proses ini berupa suatu siklus. Nitrifikasi dan denitrifikasi dilakukan selama periode aerasi dan non aerasi dari siklus. Dekantasi dari klarifikasi effluent akan selesai dengan menurunkan outlet dari lagoon. Suatu penelitian juga melakukan pengolahan limbah untuk menghilangkan kandungan fosfat dan ammonia dari limbah dengan menggunakan tanaman. Dari hasil diketahui bahwa penerapan teknologi sederhana tersebut mampu mereduksi kandungan ortofosfat sebesar 28%, dimana total fosfat yang berhasil dihilangkan yaitu sebesar 15. Dimana persentase dari nitrifier dari populasi sludge aktif atau kotoran aktif diperkirakan sebesar 1,1%. Yang diasumsikan bahwa penghilangan fosfor terjadi pada tangki aerasi. Sedangkan pada hasil reduksi dari ammonia, diketahui bahwa penerapan metode tersebut mampu menghilangkan ammonia secara maksimal (Sotirakou, 1999). Fosfor merupakan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan biologi. Kandungan fosfor dari biosolid dari proses pengolahan konvensional sekitar 1,5-2% dari berat keringnya. Beberapa bakteri dari aktif sludge tidak mampu bertahan pada kondisi anaerobic (Ngo, 2010). Adanya fosfor dalam limbah ini menyebabkan suatu proses yang dikenal dengan istilah eutrofikasi. Hal ini dapat mereduksi air yang diterima dan keberlanjutan reuse. Oleh karena itu, di beberapa Negara telah diterapkan suatu standar yang diimplementasikan untuk menanggapi permasalah fofor dalam air limbah. Metode yang digunakan untuk menghilangkan fosfor ini didasarkan pada pengolahan secara fisika-kimia, khususnya dengan menambahkan garam logam. Namun metode ini memiliki kekurangan yaitu membutuhkan biaya yang tinggi khususnya dalam penggunaan bahan kimia, secara signifikan dapat meningkatkan produksi dari logam hidroksida dan logam fosfat, serta dapat menyebabkan akumulasi ion yang diakibatkan oleh meningkatnya kandungan garam.

REFERENSI DARI MAKALAH ELEN a. Secara Biologi Biological Nutrient Removal (BNR) adalah proses yang digunakan untuk penghapusan nitrogen dan fosfor dari air limbah sebelum dibuang ke permukaan atau air tanah. Meningkatnya senyawa berbahaya khususnya nitrogen dan fosfor pada pengolahan air limbah pembuangan pabrik menyebabkan eutrofikasi budaya (pengayaan hara akibat aktivitas manusia) di permukaan air. Musim panas ganggang adalah contoh eutrofikasi dan dapat menimbulkan masalah bagi ekosistem seperti oksigen terlarut rendah, ikan yang mati, air keruh, dan pengurangan flora dan fauna. Pengolahan biologis yang digunakan sebagian besar pengolahan air buangan dengan mengombinasikan penyisihan nutrien lebih tinggi dari pengolahan biologi konvensional. Penyisihan senyawa organik biodegradable SS dan nutrient (N, P, atau keduanya). Pada proses aerob kadar P meningkat membentuk phospat. Pada proses anaerob phospat dibutuhkan oleh mikroba untuk metabolisme, maka kedua hal tersebut dikombinasikan. Pada umunya, proses BNR dilakukan dengan sistem kolamyang dapat menampung semua proses yang terjadi di dalamnya. Aplikasi dari penggunaan kolam tersebut adalah: Pengolahan Air Limbah dengan Kolam Stabilisasi (Waste Stabilization Ponds) Kolam stabilisasi didefinisikan sebagai kolam dangkal buatan manusia yang menggunakan proses fisis dan biologis untuk mengurangi kandungan bahan pencemar yang terdapat pada air limbah. Proses tersebut antara lain meliputi pengendapan partikel padat, penguraian zat organik, pengurangan nutrien (P dan N) serta pengurangan organisme patogenik seperti bakteri, telur cacing dan virus (Polprasert, 1996). Saat ini, pengolahan air limbah dengan sistem kolam stabilisasi cukup banyak digunakan di negara-negara tropis maupun sub-tropis. Bahkan, dikarenakan oleh kehandalan dan efisiensinya, sistem ini juga digunakan dibeberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Jerman. Kolam stabilisasi yang terdiri dari kolam anaerobik, fakultatif dan pematangan mampu mengurangi kandungan BOD air limbah sampai dengan 90%, sedangkan pengurangan bakteri coli (sebagai indikator adanya organisme patogen) dapat mencapai 99% (Veenstra, 2000). Pengolahan Air Limbah dengan Kolam Makrofita (Macrophyte ponds)

Kolam makrofita (makrofita=tumbuhan air yang relatif berukuran lebih besar dari pada alga) adalah sejenis kolam pematangan yang memanfaatkan tumbuhan air yang terapung ataupun mengambang di dalam air. Tumbuhan air yang dipergunakan pada sistem pengolahan ini mampu menyerap nutrien anorganik (terutama P dan N) dalam jumlah yang relatif besar. Selain itu, sistem ini juga mampu untuk mereduksi kandungan logam berat yang terdapat pada air limbah (Pescod, 1992; Polprasert, 1996). Karena proses biologis konvensional dirancang untuk memenuhi standar pengolahan limbah sekunder biasanya tidak menghapus total nitrogen (TN ) dan total fosfat ( TP ) sejauh yang diperlukan untuk melindungi menerima air, fasilitas pengolahan air limbah semakin dituntut untuk menerapkan proses yang mengurangi konsentrasi nutrisi limbah ke tingkat yang aman . Ini bisa menjadi tantangan bagi pabrik pengolahan air limbah karena biasanya melibatkan proses modifikasi besar untuk tanaman, seperti membuat sebagian dari cekungan aerasi anaerob dan / atau anoxic, yang mengurangi volume dan kapasitas aerobik nitrifikasi batas. Clarifier padatan pemuatan biasanya membatasi konsentrasi biomassa tersedia untuk nitrifikasi , sehingga itu umum untuk meningkatkan volume bioreaktor untuk meningkatkan kapasitas pengolahan . Hal ini bisa sangat mahal dan bahkan mustahil jika ruang terbatas .

b. Secara Kimia Proses nutrient removal secara kimia hingga saat ini sudah banyak mengalami perkembangan. Salah satu aplikasi yang digunakan adalah dengan annamox. Anammox (anaerobic ammonia oxidation) adalah suatu proses baru dimana nitrit digunakan sebagai aseptor electron dalam konversi ammonium menjadi gas nitrogen. Proses anammox menghilangkan ammonium dalam sistem autrotrop dengan meninggalkan sedikit biomassa. Karbon organik tidak dibutuhkan dalam sistem ini karena ammonium digunakan sebagai donor electron dalam reduksi nitrit Dahulu sebelum proses ini ditemukan, untuk menghilangkan ammonium, proses oksidasi ammonium adalah dari ammonium menuju nitrit, kemudian nitrat. Selanjutnya, Nitrat direduksi menjadi N2O dan N2. Studi baru-baru ini telah menunjukkan bahwa ada beberapa jalur baru dalam daur N di marine selain denitrifikasi. Gambar 1c menunjukkan pembaharuan (updated) daur nitrogen. Di

samping denitrifikasi (persamaan 1) dan anammox (persamaan 2) ada beberapa reaksi baru yang ditemukan, yang dapat menghasilkan nitrogen N2 dari ammonium dan nitrat. 4 NO3- + 5 CH2O ------2 N2 + 4 HCO3- + CO2 + 3 H2O (persamaan 1) NH4+ + NO2- -------N2 + 2H2O (persamaan 2) Nitrifikasi-denitrifikasi autotrop dalam oksigen yang terbatas (OLAND, Oxygen-limited autotrophic nitrification-denitrification) telah ditemukan tahun 1998 dalam mesin pengelolaan limbah cair (wastewater) dan tidak melulu proses anaerob seperti anammox (Verstraete et al., 1998 dalam Wehrli,2008). Pengoksidasi nitrit dihasilkan secara local oleh nitrifikasi. Dua hal ini yang membedakan OLAND dari anammox. Reaksi ini dipercayai berlangsung dalam sedimen dalam sebuah kelompok nitrifiers dan ammonium oxidizers (Kuai et al., 1998 dalam Hertach, 2008). Reaksi OLAND (persamaan 3) berhubungan erat dengan reduksi nitrit. 2 NH4+ + 1.5 O2 ------N2 + 3 H2O + 2 H+ (persamaan 3) Belum diketahui dengan jelas berapa jumlah OLAND yang disumbangkan pada anammox dan seberapa pentingnya hal tersebut. Denitrifikasi kimiawi (chemodenitrification) adalah reaksi dari spesies mangan (Mn) dengan nitrat atau ammonium (Luther et al., 1997 dalam Hertach, 2008). 6 HNO3- + 10 NH3 8 N2 + 18 H2O (persamaan 4) Satu bagian reaksi ini dipercaya berlangsung secara abiotik dan satu bagian lagi dikatalisir oleh mikrobia. Pentingnya reaksi ini dianggap tidak signifikan (Luther et al., 1997 dalam Hertach, 2008)

Gambar 2.1 Daur Oksigen dengan Annamox Sumber: Hertach, 2007

c. Secara Fisika Masalah yang sering terjadi pada pengolahan nutrient removal secara fisika adalah eutrofikasi. Eutrofikasi merupakan masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 g/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja. Maka tidaklah mengherankan jika eutrofikasi menjadi masalah di hampir ribuan danau di muka Bumi, sebagaimana dikenal lewat fenomena algal bloom.

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya. Negara-negara maju telah menjadikan problem eutrofikasi sebagai agenda lingkungan hidup yang harus ditangani secara serius. Sebagai contoh, Australia sudah mempunyai program yang disebut The National Eutrophication Management Program, yang didirikan untuk mengoordinasi, mendanai, dan menyosialisasi aktivitas riset mengenai masalah ini. AS memiliki organisasi seperti North American Lake Management Society yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian danau melalui aktivitas sains, manajemen, edukasi, dan advokasi. Selain itu, mereka masih mempunyai American Society of Limnology and Oceanography yang menaruh bidang kajian pada aquatic sciences dengan tujuan menerapkan hasil pengetahuan di bidang ini untuk mengidentifikasi dan mencari solusi permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan lingkungan. Negara-negara di kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Phosphates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive 91/271 yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Mereka juga memiliki jurnal ilmiah European Water Pollution Control, di samping Environmental Protection Agency (EPA) yang memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.

2. yang ditanya : berapa potensi ch4 yg dihasilkan? berapa banyak air yg dpt dididhkan oleh gas metana? berapa banyak biogas yg dihasilkan IPAL? a. Potensi ch4 yg dihasilkan : MEP = Q x B x UF x COD Dimana : Q = jumlah air limbah B = kapasitas produksi gas metana pada air limbah 0,21 kg (CH4/kg COD) UF = factor koreksi modal untuk perhitungan ketidakpastian model (1,06) COD=jumlah COD yang terambil MCF=0,8 (kolam anaerobic treatment) MEP = 3.000 m3/hari x 0,21 kg (CH4/kg COD) x 1,06 x 40 kg/m3 x 0,8 = 21.369,6 kg/hari Gatau bener apa ngga, coba koreksi ya temen2. Kalo ada referensi lain dishare ya.. Yg b dan c belumm 3. a.RO Membran RO dibuat dari berbagai bahan seperti selulosa asetat (CA), poliamida (PA), poliamida aromatis, polieteramida,polieteramina, polieterurea, polifelilene oksida, polifenilen bibenzimidazol,dsb. Reverse osmosis adalah proses pengolahan yang membutuhkan tekanan relatif tinggi, walaupun pada beberapa kasus dapat digunakan dalam tekanan rendah, hemat energi , menghasilkan air olahan yang dapat menyaring zat dengan molekul terkecil sekalipun yang tidak dapat diolah oleh proses Mikro filtrasi, ultra filtrasi dan nanofiltrasi. Reverse omosis memiliki kemampuan untuk mengurangi seluruh pencemar dissolved dan Suspended solid. Reverse osmosis pada umumnya digunakan pada proses desalinasi air laut. Pemampatan atau fluks-merosot itu serupa dengan perayapan plastic/logam bila terkena beban tegangan kompresi. Makin besar tekanan dan suhu, biasanya tak reversible dan membran makin mampat. Normalnya, membran bekerja pada suhu 21- 35 derajat celcius. Fouling membran itu diakibatkan oleh zat-zat dalam air baku misalnya kerak, pengendapan koloid, oksida logam, organic dan silica. Berdasarkan kajian ekonomi menunjukkan Reverse Osmosis mempunyai keuntungan sebagai berikut ; 1. Untuk umpan padatan total terlarut di bawah 400 ppm, Reverse Osmosis merupakan perlakuan yang murah. 2. Untuk umpan padatan total terlarut di ats 400 ppm, dengan penuruanan padatan total terlarut 10% semula, Reverse Osmosis sangat menguntungkan dibanding dengan deionisasi 3. Untuk umpan berapapun konsentrasi padatan total terlarut, disertai kandungan organic lebih daripada 15 g/liter, Reverse Osmosis sangat baik untuk praperlakuan deionisasi.

4. Reverse Osmosis sedikit berhubungan dengan bahan kimia, sehingga lebih praktis. Cara Kerja Reverse Osmosis : Sebuah membran semi-permeable, seperti halnya membran yang tersusun dari dinding-dinding sel atau seperti susunan sel pada kantung kemih, bersifat selektif terhadap benda-benda yang akan melaluinya. Umumnya membran ini sangat mudah untuk dilalui oleh air karena ukuran molekulnya yang kecil; tapi juga mencegah kontaminan-kontaminan lain yang mencoba melaluinya. Sebagai percobaan, air diisikan di kedua sisi membran, dimana air di salah satu sisinya memiliki perbedaan konsentrasi mineral-mineral terlarut, karena air memiliki sifat berpindah dari larutan berkonsentrasi rendah menjuju larutan berkonsentrasi lebih tinggi, maka air akan berpindah (berdifusi) melalui membran dari sisi konsentrasi rendah ke sisi konsentrasi yang lebih tinggi. Sehingga, tekanan osmotik akan melawan proses difusi, dan akan terbentuk kesetimbangan.

Skema Proses Reverse Osmosis Proses Reverse Osmosis menggerakkan air dari konsentrasi kontaminan yang tinggi (sebagai air baku) menuju penampungan air yang memiliki konsentrasi kontaminan sangat rendah. Dengan menggunakan air bertekanan tinggi di sisi air baku, sehingga dapat menciptakan proses yang berlawanan (reverse) dari proses alamiah osmosis. Dengan tetap menggunakan membran semi-permeable maka hanya akan mengijinkan molekul air yang melaluinya dan membuang bermacammacam kontaminan yang terlarut. Proses spesifik yang terjadi dinamakan ion eksklusi, dimana sejumlah ion pada permukaan membran sebagai sebuah pembatas mengijinkan molekul-molekul air untuk melaluinya seiring melepas substansi-substansi lain.

Skema Proses Reverse Osmosis Membran semi-permeable di awal-awal percobaan osmosis berasal dari kantung kemih babi. Sebelum tahun 1960, membran-membran jenis ini dinilai sangat tidak efisien, mahal, dan tidak handal untuk penggunaan aplikasi osmosis diluar laboratorium. Bahan-bahan sintetik modern, mampu memecahkan masalah ini, membuat membran menjadi lebih efektif dalam menghilangkan kontaminan, dan membuatnya lebih kuat untuk menahan tekanan air yang lebih besar sebagai efisiensi pengoperasian. Walaupun dengan kemampuannya untuk memurnikan air baku, sebuah sistem Reverse Osmosis harus secara berkala dibersihkan untuk mencegah terbentuknya kerak di permukaan membran. Sistem Reverse Osmosis memerlukan karbon sebagai penyaring awal untuk mereduksi kandungan klorin yang akan merusak membran Reverse Osmosis; dan juga membutuhkan filter sedimen untuk menyaring material-material terlarut dari air baku sehingga tidak menymbat di membran. Mereduksi kesadahan melalui proses water softening atau chemical softening juga dibutuhkan untuk wilayah-wilayah yang memiliki air baku yang sadah. b. Elektrodialisis Elektrodialisis merupakan suatu proses pemisahan dengan menggunakan membran tukar kation, dimana ion berpindah dari larutan yang satu kelarutan yang lain melalui membran

tersebut karena adanya perbedaan tegangan listrik. Proses tersebut berjalan dalam tempat yang dinamakan sel elektrodialisis. Proses ini memaksa transfer ion dari sumber air melalui katoda (ion bermuatan positif) dan anoda (ion bermuatan negatif) dalam konsentrasi aliran air limbah, sehingga menciptakan aliran air dalam bentuk cairan encer.

Gambar Prinsip Elektrodialisis Elektrodialisis secara selektif dapat menyisihkan padatan terlarut dengan mentransfer ion air payau melalui membran pertukaran ion semi permeable dalam listrik potensial. Ini menunjukan bahwa air dalam proses ini dipisahkan menjadi tiga jenis air berikut ini. Product water, dengan konduktivitas dan TDS level yang cukup rendah. Brine, atau konsentrat, merupakan air yang menerima ion air payau. Electrode feed water, air yang secara langsung melewati elektroda dan menciptakan potensi listrik.

Dua jenis membrane ion exchange yang digunakan dalam elektrodialisis adalah : a. Cation transfer membranes, dimana secara elektrikal sebagai membrane konduktif yang hanya dapat dilewati oleh ion bermuatan positif. Kation membrane komersil umumnya terdiri dari polistirene silang yang telah disulfonasi untuk menghasilkan kelompok SO3H yang melekat pada polimer tersebut yang dapat mengionisasi dalam air dan menghasilkan counter ion H+ dan SO3b. Anion transfer membranes, selara elektrik sebagai membrane konduktif yang hanya dapat dilewati oleh ion bermuatan negatif. Membran telah tetap positif oleh kehadiran kelompok quaternary ammonium (-NR3 + OH-).

Mekanisme Elektrodialisis: Pada katoda atau elektroda negative (-) : a. Cations (Na+) attraction. b. Molekul air memecah (memisah) pada katoda untuk menghasilkan ion hidroksil (OH-) dan gas hydrogen (H2). Hidroksida meningkatkan pH air dan menyebabkan presipitasi kalsium karbonat (CaCO3) Pada anoda atau elektroda positif (+) : a. Anions (Cl-) attraction. b. Molekul air memecah (memisah) pada anoda untuk menghasilkan ion hydrogen (H+), molekul oksigen (O2), dan electron. Asam dapat menguraikan kalsium karbonat yang ada sehingga dapat menghambat terjadinya kerak. c. Pembentukan gas klorin (Cl2) dapat terbentuk.

Operasional dan Pemeliharaan: Jadwal pemeliharaan/maintenance tergantung pada pengguna dan penerapan sistem, biasanya bervariasi untuk setipa industry dan produsen.Saat ini, ED dan EDR dirancang sepenuhnya dengan sistem kontrol otomatis.Jadi, operational and maintenance (OM) dilakukan untuk pemeriksaan pengaturan dan operasi parameter seperti pH, suhu, konduktivitas, arus tegangan, intensitas, arus, dan tekanan, didukung dengan sistem deteksi tingkat operasi dan kondisi kritis bangunan ini. Biasanya juga diperlukan proses pembersihan membrane secara berkala terhadap bahan organic, pertumbuhan biologis (lender), partikel koloid, atau konstituen tidak larut yang terbentuk pada permukaan membrane. Perbedaan antara EDR dan RO Berikut ini keuntungan dari penerapan EDR terhadap RO (Reverse Osmosis) dalam proses desalting pada teknologi membrane. a. Sistem EDR tidak membutuhkan kualitas water feed yang tinggi dan kurang sensitive terhadap masalah pre-treatment dibandingkan dengan sistem RO. EDR dapat beroperasi pada Silt Density Index (SDI) rata-rata 12 dibandingkan dengan sistem RO yang hanya dapat beroperaasi pada SDI rata-rata 3.

b. Sistem EDR dapat beroperasi dengan klorin residu bebas secara terus-menerus sampai 1 ppm. Sistem RO akan membutuhkan proses deklorinasi untuk melindungi membrane RO dari degradasi oleh oksidasi klorin bebas. EDR memiliki kemampuan untuk beroperasi dengan gangguan klorin dalam meminimalkan residu bilogi dari fouling membrane dalam sistem yang lebih baik. c. Sistem EDR memiliki pemulihan air payau awal nominal di kisaran 80-90%, sedangkan siste RO memiliki rentang yang lebih rendah pada 65-75%. d. Membran EDR tidak diserang oleh bakteri atau dipengaruhi oleh suhu tinggi. EDR dapat dibersihkan dengan asam dan air garam sedangkan membrane RO membutuhkan bahan kimia pembersih khusus dengan harga yang mahal. Hal ini penting untuk menentukan apakah zat kimia tersebut dapat dibuang ke lingkungan tanpa pengananan lebih lanjut. e. Teknologi membran EDR memiliki daya hidup selama 7-10 tahun, sedangkan RO dirancang rata-rata untuk 5-7 tahun karena sensitivitasnya untuk berbagai operasi faktor. f. Fitur pembalikan pada sistem EDR mengontrol skala membrane dengan bahan kimia. g. Membran EDR dapat dibersihkan dengan cara manual tanpa merusak property membrane karena konfigurasi plate and frame, sedangkan membrane RO menggunakan konfigurasi spiralwound sehingga tidak dapat dibersihkan secara manual dan harus diganti.