Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg atau keduanya (sylvia, 2005). Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah dan terhambat ke jaringan yang membutuhkannya, hal ini menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Hipertensi, 2010). Penyakit jantung hipertensi adalah suatu penyakit yang berkaitan dengan dampak sekunder pada jantung karena hipertensi sistemik yang lama dan berkepanjangan (Sudoyo, 2009). Hipertensi merupakan penyakit yang banyak dijumpai di Indonesia. Hipertensi mendapat julukan sebagai The Silent Killer karena penyakit ini sering tidak menunjukan tanda-tanda untuk waktu yang lama dan banyak penderita yang tak sadar jika menerima penyakit ini. Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita hipertensi mungkin tak menunjukan gejala selama bertahun-tahun, masa laten ini menyelubungi perkembangan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang bermakna. Bila terdapat gejala biasanya bersifat non-spesifik seperti sakit kepala atau pusing. Apabila hipertensi tidak diketahui atau tidak dirawat akan mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokardium, stroke atau gagal ginjal (Sylvia, 2005). Penyebab hipertensi ada 2, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder (Robbins, 2007). Hipertensi dapat ditangani dengan mengubah gaya hidup, seperti mengurangi natrium dalam makanan, menurunkan berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, pengendalian stres, serta dengan obat-obatan seperti inhibitor ACE, beta bloker atau diuretik (sylvia, 2005). Oleh karena itu, dalam referat ini penulis akan menjelaskan tetang hipertensi yang mencakup patofisiologi, faktorisiko, klasifikasi dan diagnosis, pengelolaan terkini tentang hipertensi, dan mekanisme farmakologi hipertensi.

Tujuan dan Manfaat I.2.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui tentang hipertensi dan penyakit jantung hipertensi. I.2.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui tentang patofisiologi, klasifikasi, faktor

risiko dan diagnosis, pengelolaan tentang hipertensi, dan mekanisme farmakologi hipertensi. 2. Untuk lebih memahami tentang hipertensi dan penyakit

jantung hipertensi. I.2.3 Manfaat Agar pembaca dapat mengetahui tentang hipertensi dan penyakit jantung hipertensi mencakup patofisiologi, klasifikasi, faktor risiko dan diagnosis, pengelolaan tentang hipertensi, dan mekanisme farmakologi hipertensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Pendekatan Klinis II.1.1. Pengertian Hipertensi Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko terpenting pada penyakit jantung koroner dan kecelakaan serebrovaskular, selain itu hipertensi juga dapat menyebabkan hipertrofi jantung dan gagal jantung (penyakit jantung hipertensi), diseksi aorta, dan gagal ginjal (Robbins, 2007). Gejala-gejala hipertensi adalah: sakit kepala, jantung berdebar-debar, sulit bernapas setelah bekerja keras atau mengangkat berat dan mudah lelah (hipertensi, 2010). Penyebab hipertensi ada 2, yaitu: a. Hipertensi essensial (hipertensi primer) Adalah hipertensi yang penyebabnya belum diketahui dan merupakan penyebab paling sering yaitu sekitar 90-95%. Penderita hipertensi ini banyak dipengaruhi oleh pola hidup, misalnya makan-makanan tidak sehat, kurang olah raga, dan sering minum alkohol (Cahyono, 2008). b. Hipertensi sekunder Adalah hipertensi yang penyebabnya diketahui seperti pada penyakit ginjal (contoh glomerulonefritis akut) atau kardiovaskular (contoh peningkatan curah jantung).

II.1.2. Patofisiologi Hipertensi Berbagai hipertensi merupakan penyimpangan dari pengendalian fisiologi normal tekanan darah. Pengendalian tekanan darah normal adalah tingkatan tekanan darah merupakan suatu sifat kompleks yang dibentuk oleh interaksi berbagai faktor genetik, lingkungan dan demografik yang mempengaruhi dua variabel hemodinamik: curah jantung dan resistensi perifer total. Total curah jantung dipengaruhi oleh volume darah, sementara volume darah sangat bergantung pada homeostatis natrium. Resistensi perifer total terutama ditentukan di tingkat arteriol dan bergantung pada efek

saraf dan hormon. Peningakatn aliran darah memicu peningakatn vasokontriksi agar tidak terjadi hiperperfusi jaringan. Ginjal berperan penting dalam pengendalian tekanan darah, sebagai berikut: 1. Melalui sistem renin-angiotensin, ginjal memengaruhi resistensi perifer dan homeostatis natrium. Renin yang dikeluarkan

mengubah angiotensi plasma menjadi angiotensi I, kemudian diubah menjadi angiotensi II oleh bantuan enzim konverting angiotensin (ACE). Angiotensin II meningkatkan tekanan darah dengan meningkatakan resistensi perifer (efek langsung pada sel otot polos vaskular) dan volume darah (stimulasi sekresi aldosteron, peningkatan reabsorpsi natrium dalam tubulus ginjal). 2. Ginjal menghasilkan berbagai zat vasodepresor atau antihipertensi yang mungkin melawan efek vasopresor angiotensin. 3. Bila volume darah berkurang, laju filtrasi glomerulus menurun sehingga meningkatkan reabsorpsi natrium oleh tubulus proksimal sehingga natrium ditahan dan volume darah meningkat. 4. Faktor natriuretik yang tidak bergantung pada laju filtrasi glomerulus, termasuk peptida natriumetik atrium yang disekresikan oleh atrium jantung sebagai respon terhadap ekspansi volume, menghambat reabsorpsi natrium di tubulus distal dan menyebabkan vasodilatasi. 5. Bila fungsi ekskresi ginjal terganggu, mekanisme kompensasi yang membantu memulihkan keseimbangan elektrolit dan cairan adalah peningkatan tekanan arteri (Robbins, 2007).

a. Hipertensi Primer Hipertensi essensial atau hipertensi primer disebakan oleh berbagai variasi genetik yang secara sendiri-sendiri tidak menimbulkan

konsekuensi bermakna. Namun, perlu dicatat bahwa walaupun efek genetik penting, faktor lingkungan juga penting dan mempngaruhi curah jantung, dan/atau resistensi perifer. Oleh karena itu beberapa faktor dapat diduga berperan dalam defek primer pada hipertensi essensial dan

mencakup baik pengaruh genetik maupun lingkungan. Stadium pertama dari hipertensi essensil adalah kenaikan tonus dari arteriol sehingga tahanan bertambah. Tahanan akan sangat mempengaruhi terhadap tingginya desakan darah. Tahanan ini terjadi pada pembuluh darah perifer. Tahanan terbesar dialami oleh arteriole sehingga perbedaan desakan disini besar (60mmHg), bila arteriole menyempit akan menaikan desakan. Saatsaat berikutnya, hipertensi akan menyebabkan penebalan intima dan hipertropi tunica medi perubahan-perubahan ini akan menyebakan kenaikan desakan pembuluh darah akibat penyempitan lumen atreirole (Zuidema, 2003). Meknaismenya, yaitu (Robbins, 2007): 1. Penurunan ekskresi natrium pada keadaan tekanan arteri normal mungkin merupakan peristiwa awal dalam hipertensi essensial. Penurunan ekskresi natrium dapat menyebabkan meningkatnya volume cairan, curah jantung, dan vasokonstriksi perifer sehingga tekanan darah meningkat. (Robbins, 2007) 2. Faktor lingkungan memungkinkan moemodifikasi ekspresi gen pada peningkatan tekanan. Stres, kegemukan, merokok, aktivitas fisik kurang dan konsumsi daram dalam julah besar dianggap sebagai faktor eksogen dalam hipertensi (Robbins, 2007). Pada orang normal yang emosi, maka tekanan darahnya akan naik. Kenaikan ini pada penderita hipertensi essensil akan lebih tinggi. Secara singkat bahwa hipertensi essensil merupakan penyakit

multifaktorial kompleks. Faktor lingkungan (misal; stres, asupan garam) mempengaruhi variabel yang mengendalikan tekana darah pada orang yang secara genetis sangat rentan. b. Hipertensi Sekunder Hipertensi sekunder berbeda dengan hipertensi essensial. Hipertensi sekunder terjadi sebanyak 10%. Pada umunya kasus yang menyebabkan hipertensi sekunder adalah kasus yang disebabkan oleh penyakit ginjal kronik atau renovascular. Kondisi lain yang dapat menyebakan hipertensi sekunder antara lain pheochromocytoma, sindrom cushing, hipertiroid,

aldosteron primer, kehamilan, obstruksif sleep apnea, dan kerusakan aorta. Hipertensi sekunder ini paling sering terjadi akibat proses penyakit seperti penyakit parenkim ginjal yang mengakibatkan gangguan fungsi ginjal dan penyakit renovaskular yang menyebabkan hipertensi akibat lesi pada arteri ginjal sehingga terjadi hipoperfusi ginjal.

II.1.3.

Klasifikasi

Tekanan darah normal pada seseorang adalah 120/80 mmHg. Namun, bila dalam rentang waktu panjangn tekanan darah meningkat atau tetap tinggi disebut sebagai tekanan darah tinggi atau hipertensi. Berikut klasifikasi tekanan darah, yaitu: (Cahyono, 2008) a. Tekanan darah mormal adalah 120/80 b. Normal tinggi adalah sistol 130-139 dengan diastol 85-89, berisiko terkena hipertensi. c. Hipertensi stadium 1 adalah sistole 140-159 dan diatole 90-99, merupakan hipertensi dan memerlukan perbaikan pola hidup yang lebih sehat dan pengobatan dari dokter. d. Hipertensi stadium 2 adalah sistole 160-179 dan diastol 100-109, dan merupakan hipertensi dan memerlukan perbaikan pola hidup yang lebih sehat dan membutuhkan pengobatan dari dokter. e. Hipertensi benigna adalah keadaan hipertensi yang tidak menimbulkan gejala, biasanya ditemukan saat penderita datang ke tempat sarana kesehatan. f. Hipertensi malignant adalah keadaan hipertensi yang membahayakan biasa disertai dengan keadaan kegawatan yang merupakan komplikasi organ seperti otak, jantung dan ginjal.

Klasifikasi Hipertensi menurut WHO


Kategori Optimal Normal Tingkat 1 (hipertensi ringan) Sistol (mmHg) < 120 < 130 140-159 Diastol (mmHg) < 80 < 85 90-99

Sub grup : perbatasan Tingkat 2 (hipertensi sedang) Tingkat 3 (hipertensi berat) Hipertensi sistol terisolasi Sub grup : perbatasan

140-149 160-179 180 140 140-149

90-94 100-109 110 < 90 < 90

Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7 Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg) Normal <120 Dan <80 Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89 Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99 Hipertensi tahap 2 160 Atau 100

Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia


Kategori Normal Pre hipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Hipertensi sistol terisolasi Sistol (mmHg) <120 120-139 140-159 160 140 Dan/atau Dan Atau Atau Atau Dan Diastole (mmHg) <80 80-89 90-99 100 < 90

II.1.4. Faktor Risiko Banyak faktor yang memepengaruhi hipertensi. Faktor tersebut ada dua macam, yaitu faktor mayor dan faktor minor. Faktor mayor atau faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti: usia, jenis kelamin, ras, dam keturunan. Sedangkan, faktor minor atau faktor yang dapat dikendlikan seperti: pola hidup, pola makan, stress, kehamilan, dan pil kontrasepsi. Beberapa penjelasan tentang faktor yang menyebabkan hipertensi, yaitu: a. Jenis kelamin Penyakit hipertensi cenderung banyak pada laki-laki dan perempuan yang sudah menopause. Hal ini dikarenakan pada laki-laki pola hidup seperti sering merokok sangat tinggi. Merokok menyebakan

peningkatan kadar LDL dalam darah dan meurunkan kadar HDL. Sehingga, dapat menyebabkan aterosklerosis pada pembuluh darah dan dapat menyebakan hipertensi (Sylvia, 2005). Sedangkan pada wanita monopause penurunan kadar estrogen menyebakan hipertensi. Estrogen berfungsi melindungi dari penyakit kardiovaskuler dengan cara meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL. Estrogen dapat memperlebar pembuluh darah sehingga mempercepat aliran darah. Pada wanita menopause penurunan kadar estrogen dapat lebih rentan terkena hipertensi karena penurunan kadar estrogen. b. Usia Semakin bertambhanya usia, kemungkinan sessorang mengalami hipertensi semakin besar. Tekanan darah akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur seseorang. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan struktur pembuluh darah diakibatkan bertambhanya usia. Setelah umur 45 tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena adanya zat kolagen pada lapisan otot sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan kaku. Bertambhanya umur juga mengakibatkan beberapa perubahan fisiologis seperti peningkatan ressitensi perifer dan adanya aktivitas simpatis dan pengaturan baroreseptor semakin bertambahnya usia sensitivitasnya berkurang. c. Keturunan penyakit keluarga Apabila riwayat hipertensi didapat pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi essensial akan sangat besar. Hipertensi essensial biasanya terkait dengan gen dan faktor genetik. Seseorang yang memiliki riwayat hipertensi mempunyai risiko 2 kali dua kali lebih besar terkena hipertensi. Gen yang berperan dalam patofisiologi hipertensi adalah adanya mutasi digen yang untuk protein sitoskeleton -adductin dan polimorfisme pada subunit-3 protein Gheterometrik. -adductin berfungsi mengatur pemindahan natrium di tubulus ginjal dan proteinG merupakan suatu jalur sinyal yang mempertahankan homeostatis natrium (Robbins, 2007).

d. Obesitas Merupakan ciri khas pada hipertensi. Walaupun belum diketahui secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, namun terbukti bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi daripada penderita hipertensi dengan berat badan normal. e. Stress Diduga melalui aktivitas saraf simpatis. Peningkatan aktivitas saraf simpatis mengakibatkan tekanan darah meningkat secara inttermiten atau tidak menentu. Kemarahan yang ditekan akan dapat

mengakibatkan meningkatnya tekanan darah karena adanya pelepasan adrenalin tambahan oleh kelenjar adrenal yang terus-menerus dirangsang. f. Pola hidup Kebiasaan melakukan seperti merokok, meminum alkohol dan kurang olah raga dapat menyebabakan peningkatan tekanan darah. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL dan juga merokok dapat meneybakan keluarnya hormon kotekolamin yang menyebabkan kekakuan pada pembuluh darah. g. Pola makan Karena semakin majunya zaman dan makin meningkatnya gaya hidup modern tidak selamanya membawa pengaruh positif. Banyaknya masyarakat yang memakan makanan junk food atau makanan cepat saji memngakibatkan meningkatnya LDL dan menurunkan HDL pada seseorang. Sehingga, dapat mengakibatkan terjadinya tekanan darah tinggi. II.1.5. Diagnosis Hipertensi Hipertensi biasanya didiagnosis selama pemeriksaan fisik umum check up, atau kunjungan ke dokter untuk beberapa keluhan lain kadang-kadang seseorang mungkin didiagnosis mengalami stroke atau serangan jantung dan kemudian ditemukan memiliki tekanan darah tinggi. Tekanan darah diukur adalah dengan menggunakan alat yang

10

disebut sphygmomanometer, yang memiliki manset karet yang dibungkus di sekitar lengan atas dan ditiup dengan udara melalui bola karet yang berulang kali diperas. Ketika tekanan dalam manset mendapat cukup tinggi, itu memotong aliran darah pada arteri utama dari lengan atas - udara ini kemudian perlahan-lahan dilepaskan dari manset melalui katup dan sebagai tekanan dalam manset turun suara darah mengalir deras melalui arteri didengar melalui stetoskop ditempatkan di atas arteri. Tekanan di mana pertama kali mendengar suara seperti manset dilepaskan adalah tekanan sistolik dan tekanan di mana suara terakhir adalah mendengar seperti darah kembali ke alirannya diam, tanpa hambatan - adalah tekanan diastolik. Otomatis alat ukur elektronik melakukan hal yang sama tetapi lebih akurat, lebih mudah digunakan, dan dapat digunakan oleh pasien untuk pemantauan tekanan darah di rumah. Seorang dokter tidak akan mendiagnosa hipertensi berdasarkan satu membaca abnormal karena tekanan darah berfluktuasi dan biasanya memakan waktu tiga bacaan abnormal tinggi berturut-turut, yang diambil pada kesempatan yang berbeda, sebelum diagnosis hipertensi dapat dibuat. Titik di mana pembacaan tekanan darah tinggi dianggap abnormal akan tergantung pada usia seseorang - ahli menyarankan bahwa orang di bawah usia 65 tahun harus memiliki tekanan darah pada sisa tidak lebih dari 130/85 mm Hg - dan mereka lebih dari 65 tahun harus bertujuan untuk pembacaan tekanan darah tidak lebih dari 140/90 mm Hg. Ketika tekanan darah seseorang dipandang tinggi secara konsisten, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa apakah ada penyakit yang mendasarinya bisa pelakunya dan juga memeriksa apakah ada tanda-tanda kerusakan pada organ-organ tubuh seperti pulsa absen di anggota badan, bukti dari penyakit arteri di retina mata, atau jejak mikroskopis darah dalam urin (tanda penyakit ginjal). Bahkan jika tekanan darah menjadi normal ditemukan setelah tiga cek itu masih harus diperiksa secara teratur karena dapat berubah

11

dan hipertensi sebelumnya didiagnosa dan dikendalikan, semakin sedikit kerusakan akan ada pada, otak jantung, ginjal dan organ lainnya. Mereka yang tidak memiliki riwayat pribadi atau keluarga dari kondisi harus memiliki memeriksa setiap dua tahun dan selama kunjungan rutin ke dokter - mereka yang memiliki riwayat pribadi atau keluarga tekanan darah tinggi, Stroke, atau serangan jantung harus diperiksa lebih sering. Untuk anak-anak, tekanan darah tinggi ditentukan dengan membandingkan tekanan darah anak dengan distribusi tekanan darah untuk anak-anak yang sama, usia jenis kelamin dan tinggi.

II.1.6. Pengelolaan Terkini Hipertensi Untuk mengobati hipertensi, dapat dilakukan dengan

menurunkan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup atau TPR. Intervensi farmakologis dan non farmakologis dapat membantu individu mengurangi tekanan darahnya. Pada sebagian orang penurunan berat badan dapat mengurangi tekanan darah, kemungkinan dengan mengurangi bebean kerja jantung sehingga kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup juga berkurang. Olahraga, terutama bila disertai penurunan berat, menurunkan tekanan darah dengan menurunkan kecepatan denyut jantung istirahat dan mungkin TPR. Olahraga meningkatkan kadar HDL, yang dapat hipertensi. Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan TPR dengan cara menghambat respon stres saraf simpatis Berhenti merokok penting untuk mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung. mengurangi terbentuknya aterosklerosis akibat

12

Diuretik bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dengan mendorong ginjal meningkatkan ekskresi garam dan airnya. Sebagian diuretik (tiazid) juga dapat menurunkan TPR.

Penyekat kanal kalsium menurunkan kontraksi otot polos jantung atau arteri dengan mengintervensi influks kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi. Sebagian penyekat kanal kalsium bersifat lebih spesifik untuk kanal kalsium otot polos vaskular. Dengan demikian, berbagai penyekat kanal kalsium memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menurunkan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, dan TPR.

Penghambat enzim pengubah angiotensin II atau inhibitor ACE berfungsi untuk menurunkan angiotensin II dengan menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II. Kondisi ini menurunkan tekanan darah secara langsung dengan menurunkan TPR, dan secara tidak langsung dengan menurunkan sekresi aldosteron, pada yang urine akhirnya kemudian

meningkatkan

pengeluaran

natrium

menurunkan volume plasma dan curah jantung. Inhibitor ACE juga menurunkan tekanan darah dengan efek bradikinin yang

memanjang, yang normalnya memecah enzim. Inhibitor ACE dikontraindikasi untuk kehamilan. Antagonis reseptor beta (-blocker), terutama penyekat selektif, bekerja pada reseptor beta di jantung untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah jantung. Antagonis reseptor alfa (-blocker) menghambat reseptor alfa di otot polos vaskular yang secara normal berespons terhadap rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi. Hal ini akan menurunkan TPR. Vasodilator arteriol langsung dapat digunakan untuk menurunkan TPR.

13

Padea beberapa individu dapat mungkun mendapat manfaat dari diet pembatasan natrium. Hipertensi gestasional dan preeklamsi-eklamsi membaik setelah bayi lahir.

II.1.7. Penyakit Jantung Hipertensi a. Patofisiologi

Patofisiologi dari penyakit jantung hipertensi adalah satu hal komplek yang melibatkan banyak faktor yang saling mempengaruhi, yaitu hemodinamik, struktural, neuroendokrin, seluler, dan faktor molekuler. Di satu sisi, faktorfaktor ini memegang peranan dalam perkembangan hipertensi dan komplikasinya, di sisi lain peningkatan tekanan darah itu sendiri dapat memodulasi faktor-faktor tersebut. Peningkatan tekanan darah menyebabkan perubahan yang merugikan pada struktur dan fungsi jantung melalui 2 cara: secara langsung melalui peningkatan afterload dan secara tidak langsung melalui nuerohormonal terkait dan perubahan vaskular. Peningkatan perubahan tekanan darah dan tekanan darah malam hari dalam 24 jam telah dibuktikan sebagai faktor yang paling berhubungan dengan berbagai jenis patologi jantung, terutama bagi masyarakat Afrika-Amerika. Patofisiologi berbagai efek hipertensi terhadap jantung berbeda-beda dan akan dijelaskan pada bagian ini.

14

1. Hipertrofi ventrikel kiri Pada pasien dengan hipertensi, 15-20% mengalami hipertrofi ventrikel kiri (HVK). Risiko HVK meningkat dua kali lipat pada pasien obesitas. Prevalensi HVK berdasarkan penemuan lewat EKG(bukan merupakan alat pemeriksaan yang sensitif) pada saat menegakkan diagnosis hipertensi sangatlah bervariasi.Penelitian telah menunjukkan hubungan langsung antara derajat dan lama berlangsungnya peningkatan tekanan darah dengan HVK. HVK didefinisikan sebagai suatu penambahan massa pada ventrikel kiri, sebagai respon miosit terhadap berbagai rangsangan yang menyertai peningkatan tekanan darah. Hipertrofi miosit dapat terjadi sebagai kompensasi terhadap peningkatan afterload. Rangsangan mekanik dan neurohormonal yang menyertai hipertensi dapat menyebabkan aktivasi pertumbuhan sel-sel otot jantung, ekspresi gen (beberapa gen diberi ekspresi secara primer dalam perkembangan miosit janin), dan HVK. Sebagai tambahan, aktivasi sistem renin-angiotensin melalui aksi angiotensin II pada reseptor angiotensin I mendorong pertumbuhan sel-sel interstisial dan komponen matrik sel. Jadi, perkembangan HVK dipengaruhi oleh hipertrofi miosit dan ketidakseimbangan antara miosit dan struktur interstisium skeleton cordis. Berbagai jenis pola HVK telah dijelaskan, termasuk remodelling konsentrik, HVK konsentrik, dan HVK eksentrik. HVK konsentrik adalah peningkatan pada ketebalan dan massa ventrikel kiri disertai peningkatan tekanan dan volume diastolik ventrikel kiri, umumnya ditemukan pada pasien dengan hipertensi. Bandingkan dengan HVK eksentrik, di mana penebalan ventrikel kiri tidak merata namun hanya terjadi pada sisi tertentu, misalnya pada septum. LVH konsentrik merupakan pertanda prognosis yang buruk pada kasus hiperetensi. Pada awalnya proses HVK merupakan kompensasi perlindungan sebagai respon terhadap peningkatan tekanan dinding ventrikel untuk mempertahankan cardiac output yang adekuat, namun HVK kemudian mendorong terjadinya disfungsi diastolik otot jantung, dan akhirnya menyebabkan disfungsi sistolik otot jantung.

15

2. Abnormalitas Atrium Kiri Sering kali tidak terduga, perubahan struktur dan fungsi atrium kiri sangat umum terjadi pada pasien dengan hipertensi. Peningkatan afterload membebani atrium kiri lewat peningkatan tekanan end diastolik ventrikel kiri sebagai tambahan untukmeningkatkan tekanan darah yang menyebabkan gangguan pada fungsi atrium kiri ditambah peningkatan ukuran dan penebalan tarium kiri. Peningkatan ukuran atrium kiri pada kasus hipertensi yang tidak disertai penyakit katup jantung atau disfungsi sistolik menunjukkan kronisitas hipertensi dan mungkin berhubungan dengan beratnya disfungsi diastolik ventrikel kiri. Sebagai tambahan, perubahan struktur ini menjadi faktor predisposisi terjadinya atrial fibrilasi pada pasien-pasien tersebut. Atrial fibrilasi, dengan hilangnya kontribusi atrium pada disfungsi diastolik, dapat mempercepat terjadinya gagal jantung.

3. Penyakit Katup Meskipun penyakit katup tidak menyebabkan penyakit jantung hipertensi, hipertensi yang kronik dan berat dapat menyebabkan dilatasi cincin katup aorta, yang menyebabkan terjadinya insufisiensi aorta signifikan. Beberapa derajat perubahan perdarahan secara signifikan akibat insufisiensi aorta sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol. Peningkatan tekanan darah yang akut dapat menentukan derajat insufisiensi aorta, yang akan kembali ke dasar bila tekanan darah terkontrol secara lebih baik. Sebagai tambahan, selain menyebabkan regurgitasi aorta, hipertensi juga diperkirakan dapat mempercepat proses sklerosis aorta dan menyebabkan regurgitasi mitral.

4. Gagal Jantung Gagal jantung adalah komplikasi umum dari peningkatan tekanan darah yang kronik. Hipertensi sebagai penyebab gagal jantung kongestif seringkali tidak diketahui, sebagian karena saat gagal jantung terjadi, ventrikel kiri yang mengalami disfungsi tidak mampu menghasilkan tekanan darah yang tinggi, hal ini menaburkan penyebab gagal jantung tersebut. Prevalensi disfungsi diastolik yang asimtomatik pada pasien dengan hipertensi dan tanpa HVK

16

(Hipertensi Ventrikel Kiri) adalah sekitar 33%. Peningkatan afterload yang kronis dan terjadinya HVK dapat memberi pengaruh buruk terhadap fase awal relaksasi dan fase komplaien lambat dari diastolik ventrikel. Disfungsi diastolik umumnya terjadi pada seseorang dengan hipertensi. Disfungsi diastolik biasanya, namun tidak tanpa kecuali, disertai dengan HVK. Sebagai tambahan, selain peningkatan afterload, faktor-faktor lain yang ikut berperan dalam proses terjadinya disfungsi diastolik adalah penyakit arteri koroner, penuaan, disfungsi sistolik, dan abnormalitas struktur seperti fibrosis dan HVK. Disfungsi sistolik yang asimtomatik biasanya juga terjadi. Pada bagian akhir penyakit, HVK gagal mengkompensasi dengan

meningkatkan cardiac output dalam menghadapi peningkatan tekanan darah, kemudian ventrikel kiri mulai berdilatasi untuk mempertahankan cardiac output. Saat penyakit ini memasuki tahap akhir, fungsi sistolik ventrikel kiri menurun. Hal ini menyebabkan peningkatan lebih jauh pada aktivasi neurohormonal dan sistem renin-angiotensin, yang menyebabkan peningkatan retensi garam dan cairan serta meningkatkan vasokontriksi perifer. Apoptosis, atau program kematian sel, distimulasi oleh hipertrofi miosit dan ketidakseimbangan antara stimulan dan penghambat, disadari sebagai pemegang peran pentingdalam transisi dari tahap kompensata menjadi dekompensata. Pasien menjadi simptomatik selama tahap asimtomatik dari disfungsi sistolik atau diastolik ventrikel kiri, menerima perubahan pada kondisi afterload atau terhadap kehadiran gangguan lain bagi miokard (contoh: iskemia, infark). Peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba dapat menyebabkan edema paru akut tanpa perlu perubahan pada fraksi ejeksi ventrikel kiri. Secara umum, perkembangan dilatasi atau disfungsi ventrikel kiri yang asimtomatik maupun yang simtomatik melambangkan kemunduran yang cepat pad status klinis dan menandakan peningkatan risiko kematian. Sebagai tambahan, selain disfungsi ventrikel kiri, penebalan dan disfungsi diastolik ventrikel kanan juga terjadi sebagai hasil dari penebalan septum dan disfungsi ventrikel kiri.

17

5. Iskemik Miokard Pasien dengan angina memiliki prevalensi yang tinggi terhadap hipertensi. Hipertensi adalah faktor risiko yang menentukan perkembangan penyakit arteri koroner, bahkan hampir melipatgandakan risiko. Perkembangan iskemik pada pasien dengan hipertensi bersifat multifaktorial. Hal yang penting pada pasien dengan hipertensi, angina dapat terjadi pada ketidakhadiran penyakit arteri koroner epikardium. Penigkatan aferload sekunder akibat hipertensi menyebabkan peningkatan tekanan dinding ventrikel kiri dan tekanan transmural, menekan aliran darah koroner selama diastole. Sebagai tambahan, mikrovaskular, diluar arteri koroner epikardium, telah terlihat mengalami disfungsi pada pasien dengan hipertensi dan mungkin tidak mampu mengkompensasi peningkatan metabolik dan kebutuhan oksigen. Perkembangan dan progresifitas aterosklerosis, merupakan tanda penyakit arteri koroner, di eksaserbasikan pada arteri yang menjadisubjek peningkatan tekanan darah kronis mengurangi tekanan yang terkait dengan hipertensi dan disfungsi endotelial menyebabkan gangguan pada sintesis dan pelepasan nitrit oksida yang merupakan vasodilator poten. Penurunan kadar nitrit oksida menyebabkan perkembangan dan makin cepatnya pembentukan

arteriosklerotis dan plak. Gambaran morfologi plak identik dengan plak yang ditemukan pada pasien tanpa hipertensi.

6. Arimia kardiak Arimia kardia umumnya ditemukan pada pasien dengan hipertensi yang mengalami arterial fibrilasi kontraksi ventrikel yang prematur dan ventrikuler takikardi. Resiko henti jantung mendadak meningkat. Berbagai metabolismedipekirakan memegang peranan dalam patogenesis aritmia termasuk perubahan struktur dan metabolisme sel, ketidakhomogen miokard, perfusi yang buruk, fibrosis miokard dan fluktuasi pada afterload. Semua faktor tersebut dapat menyebabkan peningkatanan resiko ventrikel takiaritmia. Artrial fibrilasi (paroksisimal, kronik rekuren, atau kronik persisten), sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi. Faktanya, peningkatan tekanan

18

darah merupakan faktor umum bagi artrial fibrilasi. Pada suatu penelitian hampir 50% pasien dengan artrial fibrilasi mengidap hipertensi walaupun etiologi yang pasti tidak diketahui, abnormalitas struktur atrium kiri, penyakit arteri koroner, dan HVK telah dianggap sebagi faktor yang mungkin berperan. Perkembangan artrial fibrilasi dapat menyebabkan disfungsi sistolik dekompensata, dan yang lebih penting, disfungsi diastolik, menyebabkan hlangnya kontraksi atrium, dan juga meningkatkan resiko komplikasi tromboembolik, khususnya stroke. Kontraksi ventrikuler prematur, ventrikuler aritmia dan henti jantung mendadak ditemukan lebih sering pada pasien dengan HVK daripada pasien tanpa HVK. Penyebab arimitmia tersebut dianggap terjadi bersama-sama dengan penyakit arteri koroner dan fibrosis miokard.3,5,7,9,10

b. Etiologi Tekanan darah tinggi meningkatkan beban kerja jantung, dan seiring dengan berjalannya waktu hal ini dapat menyebabkan penebalan otot jantung. Karena jantung memompa darah melawan tekanan yang meningkat pada pembuluh darah yang meningkat, ventrikel kiri membesar dan jumlah darah yang dipompa jantung setiap menitnya (cardiac output) berkurang. Tanpa terapi, gejala gagal jantung akan makin terlihat. Tekanan darah tinggi adalah faktor resiko utama bagi penyakit jantung dan stroke. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan penyakit jantung iskemik ( menurunnya suplai darah untuk otot jantung sehingga menyebabkan nyeri dada atau angina dan serangan jantung) dari peningkatan suplai oksigen yang dibutuhkan oleh otot jantung yang menebal. Tekanan darah tinggi juga berpenaruh terhadap penebalan dinding pembuluh darah yang akan mendorong terjadinya aterosklerosis (peningkatan kolesterol yang akan terakumulasi pada dinding pembuluh darah). Hal ini juga meningkatkan resiko seangan jantung dan stroke. Penyakit jantung hipertensi adalah penyebab utama penyakit dan kematian akibat hipertensi. Hal ini terjadi pada sekitar 7 dari 1000 orang.2

19

II.1.8. Mekanisme Farmakologi Medikamentosa Hipertensi a. Terapi farmakologis Terapi obat direkomendasikan bagi individu dengan tekanan darah 140/90 mmHg. Derajat keuntungan yang diperoleh dari agen-agen antihipertensif berhubungan dengan besarnya reduksi tekanan darah. Penurunan tekanan darah sistolik sebesar 10-12 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 5-6 mmHg bersama-sama memberikan reduksi risiko sebesar 35-40% untuk stroke dan 12-16% untuk CHD dalam 5 tahun dari mula penatalaksanaan. Risiko gagal jantung berkurang sebesar >50%. Terdapat variasi yang nyata dalam respon individual terhadap kelas-kelas agen antihipertensif yang berbeda, dan besarnya respon terhadap agen tunggal apapun dapat dibatasi oleh aktivasi mekanisme counter-regulasi yang melawan efek hipotensif dari agen tersebut. Pemilihan agen-agen antihipertensif, dan kombinasi agen-agen, harus dilakukan secara individual, dengan pertimbangan usia, tingkat keparahan hipertensi, faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular lain, kondisi komorbid, dan pertimbangan praktis yang berkenaan dengan biaya, efek samping, dan frekuensi pemberian obat.

1. Diuretik Diuretik thiazide dosis-rendah sering digunakan sebagai agen lini pertama, sendiri atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensif lain. Thiazide menghambat pompa Na+/Cl- di tubulus konvultus distal sehingga

meningkatkan ekskresi natrium. Dalam jangka panjang, mereka juga dapat berfungsi sebagai vasodilator. Thiazide bersifat aman, memiliki efikasi tinggi, dan murah serta mengurangi kejadian klinis. Mereka memberikan efek penurunan-tekanan darah tambahan ketika dikombinasikan dengan beta blocker, ACE inhibitor, atau penyekat reseptor angiotensin. Sebaliknya, penambahan diuretik terhadap penyekat kanal kalsium adalah kurang efektif. Dosis biasa untuk hydrochlorothiazide berkisar dari 6.25 hingga 50 mg/hari. Karena peningkatan insidensi efek samping metabolik (hipokalemia, resistansi insulin, peningkatan kolesterol), dosis yang lebih tinggi tidaklah dianjurkan. Dua diuretik hemat kalium, amiloride dan triamterene, bekerja dengan

20

menghambat kanal natrium epitel di nefron distal. Agen-agen ini adalah agen antihipertensif yang lemah namun dapat digunakan dalam kombinasi dengan thiazide untuk melindungi terhadap hipokalemia. Target farmakologis utama untuk diuretik loop adalah kotransporter Na+-K+-2Cl- di lengkung Henle ascenden tebal. Diuretik loop umumnya dicadangkan bagi pasien hipertensif dengan penurunan kecepatan filtrasi glomerular [kreatinin serum refleksi >220 mol/L (>2.5 mg/dL)], CHF, atau retensi natrium dan edema karena alasanalasan lain seperti penatalaksanaan dengan vasodilator yang poten, seperti monoxidil. Contoh obat diuretik, yaitu: 1. Furosemide Nama paten : Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix, salurix, uresix. Sediaan obat Mekanisme kerja : Tablet, capsul, injeksi. : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke dalam intersitium pada ascending limb of henle. Indikasi : Edema paru akut, edema yang disebabkan penyakit jantung kongesti, sirosis hepatis, nefrotik sindrom, hipertensi. Kontraindikasi Efek samping Interaksi obat : wanita hamil dan menyusui : pusing. Lesu, kaku otot, hipotensi, mual, diare. : indometasin menurunkan efek diuretiknya, efek ototoksit meningkat bila diberikan bersama

aminoglikosid. Tidak boleh diberikan bersama asam etakrinat. Toksisitas silisilat meningkat bila diberikan bersamaan. Dosis : Dewasa 40 mg/hr Anak 2 6 mg/kgBB/hr (Ganiswarna SG, 2004). 2. HCT (Hydrochlorothiaside) Sediaan obat : Tablet

21

Mekanisme kerja

: mendeplesi (mengosongkan) simpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun.

Farmakokinetik

: diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Didistribusi keseluruh ruang ekstrasel dan hanya ditimbun dalam jaringan ginjal.

Indikasi

: digunakan untuk mengurangi udema akibat gagal jantung, hipertensi. cirrhosis hati, gagal ginjal kronis,

Kontraindikasi

: hypokalemia, hypomagnesemia, hyponatremia, hipertensi pada kehamilan.

Dosis

: Dewasa 25 50 mg/hr Anak 0,5 1,0 mg/kgBB/12 24 jam (Ganiswarna SG, 2004).

2. Penyekat sistem renin-angiotensin ACE inhibitor mengurangi produksi angiotensin II, meningkatkan kadar bradikinin, dan mengurangi aktivitas sistem saraf simpatis. Penyekat reseptor angiotensin II menyediakan blokade reseptor AT1 secara selektif, dan efek angiotensin II pada reseptor AT2 yang tidak tersekat dapat menambah efek hipotensif. Kedua kelas agen-agen ini adalah agen antihipertensif yang efektif yang dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau dalam kombinasi dengan diuretik, antagonis kalsium, dan agen-agen penyekat alfa. Efek samping ACE inhibitor dan penyekat reseptor angiotensin antara lain adalah insufisiensi ginjal fungsional karena dilatasi arteriol eferen ginjal pada ginjal dengan lesi stenotik pada arteri renalis. Kondisi-kondisi predisposisi tambahan terhadap insufisiensi ginjal yang diinduksi oleh agen-agen ini antara lain adalah dehidrasi, CHF, dan penggunaan obat-obat antiinflamasi non steroid. Batuk kering terjadi pada ~15% pasien, dan angioedema terjadi pada <1% pasien yang mengkonsumsi ACE inhibitor. Angioedema paling sering terjadi pada individu yang berasal dari Asia dan lebih lazim terjadi pada orang Afrika Amerika dibanding orang Kaukasia. Hiperkalemia yang disebabkan

22

hipoaldosteronisme merupakan efek samping yang kadang terjadi baik pada penggunaan ACE inhibitor maupun penyekat reseptor angiotensin. Contoh obat ACE inhibitor, yaitu: 1. Kaptopril Nama paten : Capoten Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga menurunkan angiotensin II yang berakibat

menurunnya pelepasan renin dan aldosterone. Indikasi Kontraindikasi : hipertensi, gagal jantung. : hipersensivitas, hati hati pada penderita dengan riwayat angioedema dan wanita menyusui. Efek samping : batuk, kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi, dyspepsia, pandangan kabur, myalgia. Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretika. Tidak boleh diberikan bersama dengan vasodilator seperti nitrogliserin atau preparat nitrat lain. Indometasin dan AINS lainnya menurunkan efek obat ini. Meningkatkan toksisitas litium. Dosis 2. Lisinopril Nama paten : Zestril Sediaan obat : Tablet : 2 3 x 25 mg/hr (Ganiswarna SG, 2004).

Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone. Indikasi Kontraindikasi : hipertensi : penderita dengan riwayat angioedema, wanita hamil, hipersensivitas. Efek samping : batuk, pusing, rasa lelah, nyeri sendi, bingung, insomnia, pusing.

23

Interaksi obat

: efek hipotensi bertambah bila diberikan bersama diuretic. Indomitasin meningkatkan efektivitasnya. Intoksikasi litium meningkat bila diberikan bersama.

Dosis 3. Ramipril

: awal 10 mg/hr (Ganiswarna SG, 2004).

Nama paten : Triatec Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : menghambat enzim konversi angiotensin sehingga perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II terganggu, mengakibatkan menurunnya aktivitas vasopressor dan sekresi aldosterone. Indikasi Kontraindikasi : hipertensi : penderita dengan riwayat angioedema, hipersensivitas. Hati hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui. Efek samping : batuk, pusing, sakit kepala, rasa letih, nyeri perut, bingung, susah tidur. Interaksi obat : hipotensi bertambah bila diberikan bersama

diuretika. Indometasin menurunkan efektivitasnya. Intoksitosis litiumm meningkat. Dosis : awal 2,5 mg/hr (Ganiswarna SG, 2004).

3. Antagonis aldosteron Spironolakton adalah antogonis aldosteron nonselektif yang dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan diuretik thiazide. Ia adalah agen yang terutama efektif pada pasien dengan hipertensi esensial rendah-renin, hipertensi resistan, dan aldosteronisme primer. Pada pasien dengan CHF, spironolakton dosis rendah mengurangi mortalitas dan perawatan di rumah sakit karena gagal jantung ketika diberikan sebagai tambahan terhadap terapi konvensional dengan ACE inhibitor, digoxin, dan diuretik loop. Karena spironolakton berikatan dengan reseptor progesteron dan androgen, efek samping dapat berupa ginekomastia, impotensi, dan abnormalitas menstruasi.

24

Efek-efek samping ini dihindari oleh agen yang lebih baru, eplerenone, yang merupakan antagonis aldosteron selektif. Eplerenone baru-baru ini disetujui di US untuk penatalaksanaan hipertensi

4. Beta blocker Penyekat reseptor adrenergik mengurangi tekanan darah melalui penurunan curah jantung, karena reduksi kecepatan detak jantung dan kontraktilitas. Mekanisme lain yang diajukan mengenai bagaimana beta blocker mengurangi tekanan darah adalah efek pada sistem saraf pusat, dan inhibisi pelepasan renin. Beta blocker terutama efektif pada pasien hipertensif dengan takikardia, dan potensi hipotensif mereka dikuatkan oleh pemberian bersama diuretik. Pada dosis yang lebih rendah, beberapa beta blocker secara selektif menghambat reseptor 1 jantung dan kurang memiliki pengaruh pada reseptor2 pada sel-sel otot polos bronkus dan vaskular; namun tampak tidak terdapat perbedaan pada potensi antihipertensif beta blocker kardio selektif dan non kardio selektif. Beta blocker tertentu memiliki aktivitas

simpatomimetik intrinsik, dan tidaklah jelas apakah aktivitas ini memberikan keuntungan atau kerugian dalam terapi jantung. Beta blocker tanpa aktivitas simpatomimetik intrinsik mengurangi tingkat kejadian kematian mendadak (sudden death), mortalitas keseluruhan, dan infark miokardium rekuren. Pada pasien dengan CHF, beta blocker telah dibuktikan mengurangi risiko perawatan di rumah sakit dan mortalitas. Carvedilol dan labetalol menyekat kedua reseptor 1 dan 2 serta reseptor adrenergik perider. Keuntungan potensial dari penyekatan kombinasi dan adrenergik dalam penatalaksanaan hipertensi masih perlu ditentukan. Contoh obat beta bloker, yaitu: 1. Asebutol (Beta bloker) Nama Paten : sacral, corbutol,sectrazide. Sediaan obat Mekanisme kerja : tablet, kapsul. : menghambat efek isoproterenol, menurunkan aktivitas renin, menurunka outflow simpatetik perifer.

25

Indikasi

: hipertensi,

angina

pectoris,

aritmia,feokromositoma, kardiomiopati obtruktif hipertropi, tirotoksitosis. Kontraindikasi : gagal jantung, syok kardiogenik, asma, diabetes mellitus, bradikardia, depresi. Efek samping : mual, kaki tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, lesu Interaksi obat : memperpanjang keadaan hipoglikemia bila diberi bersama insulin. Diuretic tiazid meningkatkan kadar trigleserid dan asam urat bila diberi bersaa alkaloid ergot. Depresi nodus AV dan SA meningkat bila diberikan bersama dengan

penghambat kalsium Dosis :2 x 200 mg/hr (maksimal 800 mg/hr)

(Ganiswarna SG, 2004). 2. Atenolol (Beta bloker) Nama paten : Betablok, Farnomin, Tenoret, Tenoretic, Tenormin, internolol. Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi

adrenoseptor di ginjal. Indikasi Kontraindikasi : hipertensi ringan sedang, aritmia : gangguan konduksi AV, gagal jantung

tersembunyi, bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, diabetes. Efek samping : nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu, gangguan tidur, kulit kemerahan, impotensi. Interaksi obat : efek hipoglikemia diperpanjang bila diberikan bersama insulin. Diuretik tiazid meningkatkan kadar

26

trigliserid dan asam urat. Iskemia perifer berat bila diberi bersama alkaloid ergot. Dosis : 2 x 40 80 mg/hr (Ganiswarna SG, 2004).

3. Metoprolol (Beta bloker) Nama paten : Cardiocel, Lopresor, Seloken, Selozok Sediaan obat : Tablet curah jantung yang diikuti

Mekanisme kerja : pengurangan

vasodilatasi perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor beta 1 di ginjal. Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari. Farmakodinamik : penghambat perangsangan adrenergic simpatik, beta sehingga menghambat menurunkan

denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI. Indikasi Kontraindikasi : hipertensi, miokard infard, angina pektoris : bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III, syok kardiogenik, gagal jantung tersembunyi Efek samping : lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare Interaksi obat Dosis : reserpine meningkatkan efek antihipertensinya : 50 100 mg/kg (Ganiswarna SG, 2004).

4. Propranolol (Beta bloker) Nama paten : Blokard, Inderal, Prestoral Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : tidak begitu jelas, diduga karena menurunkan curah jantung, menghambat pelepasan renin di

27

ginjal, menghambat tonus simpatetik di pusat vasomotor otak. Farmakokinetik : diabsorbsi dengan baik oleh saluran cerna. Waktu paruhnya pendek, dan dapat diberikan beberapa kali sehari. Sangat mudah berikatan dengan protein dan akan bersaing dengan obat obat lain yang juga sangat mudah berikatan dengan protein. Farmakodinamik : penghambat perangsangan adrenergic simpatik, beta sehingga menghambat menurunkan

denyut jantung dan tekanan darah. Penghambat beta dapat menembus barrier plasenta dan dapat masuk ke ASI. Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung,

migren, stenosis subaortik hepertrofi, miokard infark, feokromositoma Kontraindikasi : syok kardiogenik, asma bronkial, brikadikardia dan blok jantung tingkat II dan III, gagal jantung kongestif. Hati hati pemberian pada penderita biabetes mellitus, wanita haminl dan menyusui. Efek samping : bradikardia, insomnia, mual, muntah,

bronkospasme, agranulositosis, depresi. Interaksi obat : hati hati bila diberikan bersama dengan reserpine karena menambah berat hipotensi dan kalsium antagonis karena menimbulkan penekanan

kontraktilitas miokard. Henti jantung dapat terjadi bila diberikan bersama haloperidol. Fenitoin,

fenobarbital, rifampin meningkatkan kebersihan obat ini. Simetidin menurunkan metabolism propranolol. Etanolol menurukan absorbsinya. Dosis : dosis awal 2 x 40 mg/hr, diteruskan dosis pemeliharaan (Ganiswarna SG, 2004).

28

5. Penyekat adrenergik Antagonis adrenoreseptor selektif postsinaptik mengurangi tekanan darah melalui penurunan resistansi vaskular perifer. Mereka adalah agen antihipertensif yang efektif, yang digunakan sebagai monoterapi maupun dalam kombinasi dengan agen-agen lain. Namun dalam uji klinis pada pasien hipertensif, penyekatan alfa tidak terbukti mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular ataupun menyediakan perlindungan terhadap CHF sebesar kelas-kelas agen antihipertensif lain. Agen-agen ini juga efektif dalam menangani gejala tractus urinarius bawah pada pria dengan hipertropi prostat. Antagonis adrenoreseptor nonseletif berikatan dengan reseptor postsinaptik dan presinaptik dan terutama digunakan untuk penatalaksanaan pasien dengan pheokromositoma.

6. Agen-agen simpatolitik Agonis simpatetik yang bekerja secara sentral mengurangi resistansi perifer dengan menghambat aliran simpatis. Mereka terutama berguna pada pasien dengan neuropati otonom yang memiliki variasi tekanan darah yang luas karena denervasi baroreseptor. Kerugian agen ini antara lain somnolens, mulut kering, dan hipertensi rebound saat penghentian. Simpatolitik perifer

mengurangi resistansi perifer dan konstriksi vena melalui pengosongan cadangan norepinefrin ujung saraf. Walaupun merupakan agen antihipertensif yang potensial efektif, kegunaan mereka dibatasi oleh hipotensi orthostatik, disfungsi seksual, dan berbagai interaksi obat.

7. Penyekat kanal kalsium Antagonis kalsium mengurangi resistansi vaskular melalui penyekatan Lchannel, yang mengurangi kalsium intraselular dan vasokonstriksi. Kelompok ini terdiri dari bermacam agen yang termasuk dalam tiga kelas berikut: phenylalkylamine (verapamil), benzothiazepine (diltiazem), dan 1,4-

dihydropyridine (mirip-nifedipine). Digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan agen-agen lain (ACE inhibitor, beta blocker, 1-adrenergic blocker), antagonis kalsium secara efektif mengurangi tekanan darah; namun, apakah

29

penambahan diuretik terhadap penyekat kalsium menghasilkan penurunan lebih lanjut pada tekanan darah adalah tidak jelas. Efek samping sepertiflushing, sakit kepala, dan edema dengan penggunaan dihydropyridine berhubungan dengan potensi mereka sebagai dilator arteriol; edema disebabkan peningkatan gradien tekanan transkapiler, dan bukan karena retensi garam dan cairan. Contoh obat penyekat kanal kalsium, yaitu: 1. Diltiazem (kalsium antagonis) Nama paten : Farmabes, Herbeser, Diltikor. Sediaan obat : Tablet, kapsul

Mekanisme kerja : menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui slow cannel calcium. Indikasi : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit

vaskuler perifer. Kontraindikasi Efek samping : wanita hamil dan menyusui, gagal jantung. : bradikardia, pusing, lelah, edema kaki, gangguan saluran cerna. Interaksi obat : menurunkan denyut jantung bila diberikan bersama beta bloker. Efek terhadap konduksi jantung dipengaruhi bila diberikan bersama amiodaron dan digoksin. Simotidin meningkatkan efeknya. Dosis : 3 x 30 mg/hr sebelum makan (Ganiswarna SG, 2004).

2. Nifedipin (antagonis kalsium) Nama paten : Adalat, Carvas, Cordalat, Coronipin, Farmalat, Nifecard, Vasdalat. Sediaan obat : Tablet, kaplet resistensi vaskuler perifer,

Mekanisme kerja : menurunkan

menurunkan spasme arteri coroner. Indikasi : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal jantung refrakter.

30

Kontraindikasi

: gagal jantung berat, stenosis berat, wanita hamil dan menyusui.

Efek samping Interaksi obat

: sakit kepala, takikardia, hipotensi, edema kaki. : pemberian bersama beta bloker menimbulkan hipotensi berat atau eksaserbasi angina.

Meningkatkan digitalis dalam darah. Meningkatkan waktu protombin bila diberikan bersama

antikoagulan. Simetidin meningkatkan kadarnya dalam plasma. Dosis : 3 x 10 mg/hr (Ganiswarna SG, 2004).

3. Verapamil (Antagonis kalsium) Nama paten : Isoptil Sediaan obat : Tablet, injeksi

Mekanisme kerja : menghambat masuknya ion Ca ke dalam sel otot jantung dan vaskuler relaksasi sistemik arteri sehingga dan

menyebabkan

coroner,

menurunkan resistensi perifer sehingga menurunkan penggunaan oksigen. Indikasi : hipertensi, migren. Kontraindikasi : gangguan fibrilasi, ventrikel blok berat, syok kardiogenik, II dan III, angina pectoris, aritmia jantung,

jantung

tingkat

hipersensivitas. Efek samping : konstipasi, mual, hipotensi, sakit kepala, edema, lesu, dipsnea, bradikardia, kulit kemerahan. Interaksi obat : pemberian bersama beta bloker bias menimbulkan efek negative pada denyut, kondiksi dan

kontraktilitas jantung. Meningkatkan kadar digoksin dalam darah. Pemberian bersama antihipertensi lain menimbulkan efek hipotensi berat. Meningkatkan kadar karbamazepin, litium, siklosporin. Rifampin

31

menurunkan efektivitasnya. Perbaikan kontraklitas jantung bila diberi bersama flekaind dan penurunan tekanan darah yang berate bila diberi bersama kuinidin. Fenobarbital nemingkatkan kebersihan obat ini. Dosis : 3 x 80 mg/hr (Ganiswarna SG, 2004).

8. Vasodilator Langsung Agen-agen ini mengurangi resistensi perifer, lazimnya mereka tidak dianggap sebagai agen lini pertama namun mereka paling efektif ketika ditambahkan dalam kombinasi yang menyertakan diuterik dan beta blocker. Hydralazine adalah vasodilator direk yang poten yang memiliki efek antioksidan dan penambah NO, dan minoxidil merupakan agen yang amat poten dan sering digunakan pada pasien dengan insufisiensi ginjal yang refrakter terhadap semua obat lain. Hydralazine dapat menyebabkan sindrom mirip-lupus, dan efek samping minoxidil antara lain adalah hipertrikosis dan efusi perikardial.4,8. Contoh obat vasodilator, yaitu: 1. Hidralazin Nama paten : Aproseline Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut jantung. Indikasi Kontraindikasi Efek samping : hipertensi, gagal jantung. : gagal ginjal, penyakit reumatik jantung. : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah, kulit kemerahan. Interaksi obat : hipotensi berat terjadi bila diberikan bersama diazodsid. Dosis : 50 mg/hr, dibagi 2 3 dosis (Ganiswarna SG, 2004).

32

BAB III PENUTUPAN III.1. KESIMPULAN Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg, dan merupakan penyakit dengan julukan sebagai The Silent Killer. Gejala biasanya bersifat nonspesifik seperti sakit kepala atau pusing. Penyakit jantung hipertensi adalah suatu penyakit yang berkaitan dengan dampak sekunder pada jantung karena hipertensi sistemik yang lama dan berkepanjangan. Faktor risiko dari hipertensi ada 2 yaitu faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti: usia, jenis kelamin, ras, dan keturunan dan faktor yang dapat dikendalikan seperti: pola hidup, pola makan, stress, kehamilan, dan pil kontrasepsi. Hipertensi memiliki klasifikasi yang berbeda. Penyebab hipertensi yaitu hipertensi essensial atau primer atau idiopatik dan paling sering yaitu sekitar 90-95% dan biasanya dipengaruhi oleh pola hidup. Sedangkan, hipertensi sekunder sekitar 10-15% dan dengan penyebab yang pasti. Hipertensi dapat ditangani dengan mengubah gaya hidup, seperti mengurangi natrium dalam makanan, menurunkan berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, pengendalian stres, serta dengan obat-obatan seperti inhibitor ACE, beta bloker atau diuretik.

III.2. SARAN Berdasarkan pembahasan diatas kita harus menjaga pola makan yang seimbang, menjaga pola hidup, menghindari stress. Hal ini bertujuan agar tidak menyebabkan penyakit yang tidak diinginkan seperti hipertensi dan penyakit jantung hipertensi. Penulis mengharapkan agar pembaca bisa membaca sumber referensi lain untuk menambah pemahaman pembaca mengenai hipertensi dan penyakit jantung hipertensi karena dalam referat ini masih banyak kekurangan dalam penulisan maupun tinjauan pustaka.

33

DAFTAR PUSTAKA Ganiswarna SG. 2004. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakata. FKUI. Katzung, betram. 1997. Farmakologi dasar dan klinik.Edisi VI. Jakarta. EGC. Laureen, Sheerwood. 2011. Fisiologi Manusia. EGC. Jakarta Price SA, Wilson LM. 2006. Fisiologi Sistem Kardiovaskular, Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses Penyakit. Jakarta. EGC.

Robbins, S.L, Kumar, V, Cotran, RS. 2007. Buku Ajar Patologi. Edisi ke-7. Jakarta. EGC. Robbins, S.L, Kumar, V, Cotran, RS. Dasar Patologi Penyakit Volume 2. Edisi ke-5. Jakarta. EGC. Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, Bambang., dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Edisi 5. Publishing Interna. Jakarta