Anda di halaman 1dari 18

PELESTARIAN KESENIAN BAMBU DI SAUNG ANGKLUNG UDJO

JURNAL

Disusun Oleh: Muhamad Farhan 0807179

PROGRAM STUDI MANAJEMEN RESORT & LEISURE FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2012

ABSTRAK PELESTARIAN KESENIAN BAMBU DI SAUNG ANGKLUNG UDJO Oleh: Muhamad Farhan NIM: 0807179 Masalah yang dibahas adalah bagaimana upaya Saung Angklung Udjo dalam melestarikan kesenian bambu dan bagaimana upaya Saung Angklung Udjo dalam mengembangkan atraksi wisata yang memuat kesenian bambu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah program yang telah dilakukan Saung Angklung Udo telah mencakup prinsip pelestarian yang mencakup perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya sesuai dengan peraturan bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata no 42 tahun 2009 tentang pedoman pelestarian kebudayaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu penelitian yang lebih mengarah pada pengungkapan masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada. Teori-teori yang berkaitan dan mendukung penelitian ini antara lain konsep kebudayaan, prinsipprinsip pelestarian cagar budaya dan konsep kesenian. Wawancara dengan pihak pengelola juga dilakukan guna mengetahui program yang telah dilakukan dalam upaya pelestarian kesenian sunda dan didukung oleh observasi langsung kelapangan guna mengetahui kondisi Saung Angklung Udjo secara faktual. Hasil penelitian menunjukan bahwa program pelestarian yang dilakukan oleh Saung Angklung Udjo telah mengacu pada pedoman pelestarian yang telah ditetapkan oleh peraturan bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No 42 Tahun 2009 tentang pedoman pelestarian kebudayaan dengan upaya perlindungan, membentuk yayasan Saung Angklung Udjo yang salah satu programnya membangun museum hidup. Upaya pengembangan, dengan mengembangkan alat musik bambu serta atraksi wisata, dan penyelengaraan workshop serta pelatihan. Upaya Pemanfaatan dengan membentuk suatu badan pendidikan Udjo School sebuah institusi pendidikan dengan sebuah misi yang harus dijalankan yaitu untuk melestarikan budaya sunda.

Kata Kunci : Pelestarian, Saung Angklung Udjo, Kesenian bambu

A. Pendahuluan Pembangunan sektor pariwisata merupakan bagian integral pembangunan nasional yang pelaksanaannya melibatkan tiga stakeholder kunci yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Pembangunan sektor ini dilaksanakan secara sektoral yang melibatkan institusi baik tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional. Salah satu dampak yang secara langsung terasakan saat ini yaitu dalam hal perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja. Banyak sekali investor-investor baik dalam dan luar negeri yang menanamkan usaha pariwisatanya di Indonesia. Secara tidak langsung kesempatan bekerja dalam industri pariwisata semakin meluas. Pengembangan atau pembangunan pariwisata telah terbukti mampu memberi dampak positif dengan adanya perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Secara ekonomi pariwisata memberi dampak dalam perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja, peningkatan income per kapita dan peningkatan devisa negara. Hal tersebut sejalan dengan undang-undang republik Indonesia nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan pada Pasal 4 mengenai tujuan dari kepariwisataan salah satunya adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan dan mengatasi pengangguran. Pembangunan kepariwisataan seharusnya mampu memberikan kontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara atau daerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian

kebudayaan di berbagai daerah (Depbudpar RI, 2005). Pelestarian dan pengembangan kebudayaan pada dasarnya dilaksanakan untuk mengetengahkan nilai-nilai kebudayaan guna memperkokoh ketahanan budaya bangsa. Kebijakan yang dikembangkan dalam melaksanakan program ini adalah mengembangkan kebudayaan sebagai alat pemersatu bangsa dalam kerangka

Negara Kesatuan Republik Indonesia serta meningkatkan adab masyarakat Indonesia. Aktualisasi budaya lokal dalam kehidupan bermasyarakat pada kenyataannya masih belum berjalan dengan baik. Nilai budaya yang bersumber pada kearifan lokal dan kebudayaan suku-suku bangsa dengan masuknya unsurunsur budaya yang merugikan yang diserap tanpa filter budaya, menyebabkan masyarakat cenderung tidak lagi menggunakan nilai-nilai budaya tersebut dalam kehidupan, sehingga tidak ada lagi pilihan selain terjun dalam kancah pergaulan bangsa dan interaksi kebudayaan lintas bangsa. Oleh karena itu dalam kondisi inilah kebudayaan harus membuka pemahaman akan kekayaan dan keragaman warisan budaya yang kita miliki sebagai salah satu kekuasaan dan keunggulan daerah/ Negara dalam berkompetensi memasuki persaiangan-persaingan global, maka pengembangan aset warisan budaya selain memiliki dimensi pelestarian diharapkan juga akan mendorong kemampuan dan daya produktifitas bagi peningkatan perekonomian secara keseluruhan. Saung Angklung Udjo (SAU) adalah suatu tempat workshop kesenian, yang merupakan tempat pertunjukan, pusat kerajinan tangan dari bambu, dan workshop instrumen musik dari bambu. Selain itu, SAU mempunyai tujuan sebagai laboratorium kependidikan dan pusat belajar untuk memelihara kesenian Sunda dan khususnya angklung. Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni tradisional Sunda. Berlokasi di Jln. Padasuka 118, Bandung Timur Jawa Barat Indonesia.Dengan suasana tempat yang segar udaranya dan dikelilingi oleh pohon-pohon bambu, dari kerajinan bambu dan interior bambu sampai alat musik bambu. Disamping pertunjukan rutin setiap sore, Saung Angklung Udjo telah berkali-kali mengadakan pertunjukan khusus yang dilakukan pada pagi atau siang hari. Pertunjukkan tersebut tidak terbatas diadakan di lokasi Saung Angklung Udjo saja, tetapi berbagai undangan tampil di berbagai tempat baik di dalam maupun di luar negeri. Kebudayaan sunda memiliki banyak jenis kesenian, namun dalam perjalanannya telah banyak yang punah dan tidak dikenal lagi oleh masyarakat

nya. Bahkan kesenian yang masih dipertunjukan sekalipun masih langka dipagelarkan, dan ditonton / disaksikan oleh masyarakatnya sendiri, gagasan SAU dalam melestarikan sebagian kesenian sunda yang berbahan dasar dari bambu dan pementasannya adalah bagian penting dalam pelestarian kesenian sunda untuk lebih dikenal oleh masyarakat didalam maupun luar Negeri yang telah

menimbulkan dorongan agar kesenian sunda masih dapat dinikmati oleh siapapun B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut 1. Bagaimana upaya Saung Angklung Udjo dalam melestarikan kesenian bambu ? 2. Bagaimana upaya saung angklung udjo dalam mengembangkan atraksi kesenian bambu ? C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1. Mendeskripsikan upaya Saung Angklung Udjo dalam melestarikan kesenian bambu. 2. Mendeskripsikan upaya Saung Angklung Udjo dalam mengembangkan Atraksi kesenian bambu D. Metode Penelitian Dalam penelitian ini digunakan riset deskriptif kualitatif, riset deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk mencari unsur-unsur, ciri-ciri, sifat-sifat suatu fenomena.Metode ini dimulai dengan mengumpulkan data, mengaanalisis data dan menginterpretasikannya. Metode kualitatif yaitu metode yang lebih bersifat makna dari pada generalisasi. Analisis data bersifat induktif berdasarkan faktafakta yang ditemukan di lapangan kemudian dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori.Metoda kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam

dan mengandung makna, yaitu data yang sebenarnya dan data pasti (Suryana, 2010). Pembagian jenis data Dilihat dari asal atau sumbernya data dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yang disebut data sekunder dan data primer. a.Data sekunder Data sekunder dapat didefinisikan sebagai data yang telah dikumpulkan pihak lain, bukan oleh pelaku riset. Data ini bersifat internal dan instansi, dinas, lembaga, perusahaan yang memiliki keterkaitan dalam penelitian ini. b.Data primer Definisi data primer adalah data asli yang dikumpulkan sendiri oleh pelaku riset untuk menjawab masalah risetnya secara khusus dalam pelestarian budaya sunda. Data primer akan diperoleh melalui data kualitatif dalam bentuk wawancara dan analisis dokumenter. Variabel Penelitian Sangadji dan Sopiah (2010 :133) mengemukakan bahwa variabel penelitian adalah konstrak (abstraksi fenomena kehidupan nyata yang diamati) yang diukur dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran lebih nyata mengenai fenomena-fenomena. Jadi, variabel penelitian merupakan objek penelitian yang dapat dianalisis lalu diinterpretasi untuk menghasilkan kesimpulan dalam suatu penelitan.Variabel penelitian dalam penelitian ini adalah : a) Atraksi kesenian bambu b) Pelestarian kesenian bambu Sampel Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian. Sampel dalam penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis, karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori.

Sampel dalam penelitian kualitatif disebut juga sebagai sampel konstruktif, karena dengan sumber data sari sampel itu dapat dikonstruksikan fenomena yang semula masih belum jelas. Sugiono (2011:298-229). Narasumber yang dijadikan sampel dalam penelitian ini oleh penulis adalah: 1. Bpk.Taufik Udjo selaku Direktur Utama Saung Angklung Udjo. 2. Ibu.Mutiara Udjo selaku Direktur Operasional Saung Angklung Udjo. 3. Bpk.Sam Udjo selaku Direktur Yayasan/Udjo Foundation. 4. Kang Tata selaku Manajer Pertunjukan Saung Angklung Udjo. 5. Kang Maulana selaku Manajer Marketing Saung Angklung Udjo. 6. Kang Riza Handani selaku Corporate Secretary Saung Angklung Udjo. 7. Annisa Agriani. SPd selaku Ketua biro marketing teater lakon Universitas Pendidikan Indonesia, Penari Sanggar Seni Sunda canghegar. Instrumen Penelitian. Dalam metode kualitatif instrumennya adalah orang, yaitu peneliti itu sendiri. Peneliti adalah sebagai instrumen kunci, untuk dapat menjadi instrumen, maka peneliti harus memiliki wawasan dan bekal teori yang luas sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret, dan mengkontruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna (Suryana, 2010), peneletian ini juga

menggunakan peraturan bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata no 42 tahun 2009 tentang pedoman pelestarian sebagai instrumen penelitian untuk mengetahui apakah upaya pelestarian yang telah dilakukan ditempat penelitian telah sesuai dengan kriteria pedoman pelestarian yang telah ditetapkan. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan untuk melalui wawancara dan studi dokumentasi. a.Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab dan bertatap muka dengan menggunakan alat yang dinamakan panduan wawancara (Sugiono, 2002:234) b.Studi Dokumentasi Sudijono (2008:30) mengemukakan bahwa studi dokumentasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan meneliti bahan dokumentasi yang ada dan mempunyai relevansi dengan tujuan. Senada dengan pendapat Sudijono tersebut, Sukmadinata (2005:221) mengemukakan bahwa studi dokumentasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumendokumen, baik dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik. c.Observasi Lapangan Teknik observarsi lapangan ini digunakan penulis dengan tujuan untuk mendapatkan data mengenai keadaan umum obyek yang akan diteliti, dimana peneliti akan melakukan observasi terhadap variabel-variabel yang ada di lokasi penelitian. d.Studi Literatur Adalah cara pengumpulan data untuk mendapatkan informasi literatur mengenai kepariwisataan dan data lain yang berkaitan dengan judul skripsi dengan cara mempelajari buku, jurnal, dan lainnya. Analisis Data Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel. Miles and Huberman, (1984) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu:

a) Pengumpulan informasi Pengumpulan informasi melalui wawancara, maupun observasi langsung. b) Reduksi data (Data reduction) Langkah ini adalah untuk memilih informasi mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan masalah penelitian. c) Penyajian data (Data display) Setelah informasi dipilih maka bisa disajikan dalam bentuk tabel, ataupun uraian penjelasan. d) Tahap akhir (Conclusion) Tahap akhir adalah menarik kesimpulan (Miles dan Huberman, 1992:18) E.Hasil Penelitian 1. Pengembangan Atraksi Kesenian Bambu di SAU Jawa Barat sebagai suatu daerah yang masyarakatnya mayoritas merupakan etnis Sunda memiliki berbagai jenis kesenian yang bersifat lokal atau tradisional. Berdasarkan penelaahan terhadap beberapa buku yang mengutarakan tentang seni tradisional dan seni pertunjukan, penulis mendapat gambaran bahwa seni tradisional merupakan seni yang tumbuh serta berkembang pada suatu daerah tertentu. Pada umumnya kesenian tradisional dapat tetap hidup pada daerah yang memiliki kecenderungan tidak terkena pengaruh dari masyarakat luar. Sedangkan seni pertunjukkan merupakan suatu bentuk seni yang pengungkapannya dapat dinikmati oleh penonton lewat indera mata serta pendengaran dan hanya berlaku pada saat terjadinya pementasan dan terekam dalam pemikiran manusia yang menyaksikannya. Pada awalnya Saung Angklung Udjo (SAU) hanya memiliki satu konsep pertunjukan yang diberi nama Kaulinan Urang Lembur yaitu suatu konsep pertunjukan yang memadukan unsur kesenian dan pendidikan yang diciptakan oleh pendiri SAU Udjo Ngalagena, saat ini pengelola SAU telah mengembangkan dan mengemas Atraksi pertunjukannya menjadi dua paket pertunjukan yaitu : Pertunjukan Internal SAU

Sebuah paket atraksi yang terdiri dari : a. Pertunjukan Bambu Petang (reguler) Pertunjukan ini berisi beberapa penampilan pendek dari beberapa kesenian seperti : demonstrasi wayang Golek, upacara helaran, tari tradisional, Angklung pemula, angklung pemula, Angklung orkestra masal dan Arumba. Di akhir pertunjukan, para penonton akan diajak untuk menari bersama anak-anak. Pertunjukan Bambu Petang dikembangkan dari sebuah konsep Kaulinan Urang Lembur yang diciptakan oleh Udjo Ngalagena. b. Setengah Hari di Saung Angklung Udjo Para murid TK sampai SMA dapat mengambil bagian dalam program ini, mengawali hari dengan berjalan mengelilingi saung Angklung Udjo (SAU) sambil mengenal SAU lebih dekat melalui cerita dari awal berdirinya sampai sekarang, kemudian para peserta akan belajar membuat Angklung bersama para pengrajin Angklung, dilanjutkan dengan menonton sebuah pertunjukan bambu Kaulinan Urang Lembur di Bale Karesemen dan makan siang ala Kampung Sunda di taman belakang SAU. Diakhir program, para peserta akan menceritakan pengalaman

menyenangkan mereka selama di SAU melalui sebuah karangan. c. Workshop Saung Angklung Udjo Program ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk membuat Angklung sendiri, dan akan dimainkan dalam pertunjukan bambu Kaulinan Urang Lembur, Angklung yang telah dibuat dapat dibawa pulang sebagai cenderamata. Pertunjukan Eksternal Sebuah paket Atraksi yang terdiri dari : a. Iwung Menawarkan sebuah pertunjukan interaktif keharmonisan suara Angklung yang memainkan lagu-lagu populer. Selain itu, sebuah Angklung bertanda

khusus yang disesuaikan dengan acara tersebut akan diberikan sebagai cenderamata. b. Awi Paket ini berisikan Iwung dan Angklung orkestra. Permainan Angklung orkestra membawa filosofi Angklung sebagai alat pemersatu yang dipercaya dapat menumbuhkan semangat patriotik, sehingga terkadang dapat menggugah sisi emosional penonton. c. Gombong Sebuah pengalaman untuk merasakan semangat dan kemeriahan pertunjukan bambu Kaulinan Urang Lembur di tempat yang wisatawan inginkan. d. Arumba Sebuah bentuk inovasi baru dari instrumen bambu. Menggunakan tangga nada diatonik, sehingga arumba dapat memainkan beragam jenis musik yang berbeda, dari tradisional klasik, hingga kontemporer. Karena formatnya yang menyerupai band, arumba dapat menyesuaikan berbagai macam kebutuhan acara konsumen.
Tabel 4.1Paket Pertunjukan Di Saung Angklung Udjo Pertunjukan Internal SAU Pertunjukan Bambu Petang (reguler) Setengah Hari di Saung Angklung Udjo Workshop Saung Angklung Udjo Pertunjukan Eksternal Iwung Pertunjukan Lainnya

Rampak Kendang

Awi Gombong Arumba

Calung Cilik Prosesi dan aktivitas masyarakat Sunda Tari Tradisional Sunda

Sumber : Diolah Oleh Penulis

Selain kedua paket tersebut Saung Angklung Udjo juga menyediakan beberapa pertunjukan kesenian dan kebudayaan Sunda lainnya, mulai dari tarian Rampak Kendang dan Calung cilik hingga prosesi upacara dan aktivitas masyarakat Sunda lainnya. Selain itu SAU juga memiliki produk pendukung untuk memenuhi kebutuhan wisatawan pada saat di SAU. Produk pendukung tersebut diantaranya : 1. Toko Cinderamata (Pernak-pernik budaya, suvenir pernikahan, satisioner.) 2. Produk alat musik bambu (Angklung, Arumba, Calung) 3. Kursus seni budaya (Angklung, Arumba, Tari tradisional, Pencak Silat, Vokal, kecapi Suling, Gamelan, MC, dan Wayang Golek) 4. F&B (Makanan & Minuman khas Sunda) 5. Infrastruktur (Guest House, Workshop Pembuatan Alat Musik Bambu, Bale Karesmen, Buruan Sari Asih) Program Pelestarian Kesenian diSAU Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan

memanfaatkan Cagar Budaya. Beberapa Program yang dimiliki SAU dalam melestarikan kesenian Bambu diantaranya dengan mendirikan 1. SAU Bamboo Music & Craft Production Udjo Ngalagena telah mulai memproduksi Angklung dengan tangga nada pentatonik dan diatonik sejak tahun 1961. Dengan pengalaman selama 45 tahun, SAU hadir sebagai pusat produksi alat musik bambu terbaik di Indonesia. Dengan terus meningkatkan varian dan mutu dari beragam produknya, kini, SAU tidak hanya dikenal sebagai tempat produksi alat musik bambu tetapi sebagai pusat kerajinan bambu. Berikut beberapa ragam produk yang dihasilkan SAU

Tabel 4.2 Ragam Produk Bambu SAU Angklung Angklung Unit Kecil Angklung Unit Sedang Angklung Unit Besar Angklung Sarinande Plus Arumba Arumba Unit Kecil Arumba Unit Besar Arumba Melodi 2 Tabung Lain-lain Gambang Gambang mini Calung Kendang Gamelan Awi

Sumber : Diolah Oleh Penulis

2. Akademi SAU dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan budaya Sunda. Karakteristik Sunda menyelimuti dan melandasi setiap aktivitas yang terjadi di sini dan telah menjadi bagian dalam kehidupan seharihari. Dengan sebuah misi yang harus dijalankan yaitu untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda di masyarakat, SAU tetap mempertahankan salah fungsinya sebagai sarana pendidikan. SAU membagi 2 wilayah pendidikannya : 2.1 Beasiswa Seni dan Budaya Saung Angklung Udjo Memfokuskan program ini untuk masyarakat di sekitar Saung Aangklung Udjo, khususnya anak-anak. 2.2 Udjo School Seperti layaknya sebuah institusi pendidikan, Udjo School telah terakui dan terakreditasi. Dan sebagai nilai lebih, Udjo School memiliki dedikasi yang tinggi untuk pelestarian budaya Sunda. Di Udjo School, Anda akan dapat mengembangkan dasardasar prinsip seni yang Anda pilih. Tidak hanya itu, Anda juga akan belajar untuk menjadi seorang ahli yang dapat menggunakan bakat untuk pegangan hidup. Udjo School memiliki dua metode pengajaran : Internal, yang berarti membuka kelaskelasdengan jadwal dan tempat yang sudah ditetapkan.

Dan Eksternal, yang berarti mempelajari hal yang serupa secara privat individual ataupun grup. Pemilihan mata pelajaran adalah hal yang utama dalam pendidikan karena membebaskan orang untuk memilih apa yang ingin dipelajari. Udjo school membaginya ke dalam : a. Angklung dan Arumba Kelas ini mempelajari bagaimana cara bermain Angklung yang benar. Satu kelas (minimal) terdiri dari 14 orang untuk dapat menghasilkan harmoni suara Angklung yang indah. b. Tari Tradisional Hanya tersedia untuk kelas privat baik untuk kelompok maupun individual. c. Pencak Silat Olahraga bela diri asli Indonesia, dan Sunda memiliki aliran Pencak Silatnya sendiri. Terdapat dua jenis pencak silat yang dapat dipelajari, yaitu : seni dan bela diri. d. Karawitan. Terbagi dalam tiga bagian: Vokal / Mamaos, mempelajari teknik bernyanyi secara profesional. Kecapi Suling, mempelajari cara memainkannya dengan benar. Kelas ini hanya untuk kelompok.Gamelan, belajar secara bertahap dengan peralatan gamelan lengkap Host/MC. e. Wayang. Wayang golek merupakan pertunjukan boneka tradisional berwujud tiga dimensi dan terbuat dari kayu. Belajar menjadi seorang Dalang yang handal. 3. Foundation Saung Angklung Udjo Foundation adalah sebuah yayasan yang diresmikan pada 30 Juni 2010, sebagai wujud nyata melanjutkan perjuangan dan cita-cita Abah Udjo Ngalagena pencetus YAYASAN SAUNG ANGKLUNG pada 14

September 1973 dengan tujuan utama melestarikan, mengembangkan dan meningkatkan kesenian Angklung khususnya serta kesenian-kesenian daerah Sunda pada umumnya yang dibuat dari pada bambu dan alat-alat lainya. Visi : Sebagai sentra budaya angklung dan budaya Jawa Barat pada umumnya dengan pemberdayaan manusia yang berkualitas Misi : Memelihara, mengembangkan angklung lainnya. Memelihara dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusianya dan mensosialisasikan seni dan budaya

serta sejenisnya, demikian pula terhadap kesenian sunda

sebagai pelaksana. 3.1 Program Yayasan Saung Angklung Udjo didirikan oleh generasi penerus Bah Udjo Ngalagena sebagai wujud apresiasi melanjutkan dan melestarikan budaya Sunda. a. Melanjutkan pendidikan budaya Sunda dan angklung pentatonis, Dimaksudkan sebagai upaya pendidikan yang bertujuan membentuk karakter kepribadian tertentu yang mampu memelihara, melestarikan dan mempertahankan tradisi dan nilai-nilai lokal yang ditopang oleh pemahaman yang memadai tentang kebudayaan Sunda dan Angklung Pentatonis b. Membangun museum hidup Angklung (dengan semua jenisnya), Dimaksudkan untuk memberikan pesan kebudayaan dan seni dalam bentuk nyata dari berbagai jenis angklung dan alat musik bambu yang di tempatkan dalam suatu wadah Musium Hidup. c. Mengasuh SDM anak-anak selain berkesenian juga dalam bidang pendidikan formal dan non formal,

Dimaksudkan sebagai rasa tanggung jawab dan rasa kecintaan terhadap anakanak untuk terus mengembangkan dan menanamkan kesenian, kerohanian, pendidikan formal dan non-formal. d. Menyusun silabus pengajaran angklung dan sertifikat pelatihan angklung yang diakui oleh DIKNAS, Dimaksudkan sebagai rasa tanggung jawab dan rasa kecintaan terhadap budaya asli Indonesia, maka Angklung akan dijadikan sebagai salah satu pelajaran seni di sekolah-sekolah. Sertifikat pelatihan angklung yang diakui DIKNAS akan menjadikan suatu standarisasi sebagai upaya peningkatan kualitas Seni dan

Angklung di Indonesia khususnya Jawa Barat. e. Menjaga kelestarian alam dan tanaman bambu yang berkualitas, Sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap program pemerintah untuk menciptakan lingkungan hijau dengan melestarikan tanaman bambu dan tanaman lain. Mengembangkan dan melestarikan tanaman bambu untuk menghasilkan bahan baku angklung yang berkualitas. f. Menciptakan Inovasi dan kreatifitas musik Bambu. Dimaksudkan sebagai bentuk kreatifitas dan pelestarian alat musik bambu yang ada di Indonesia khususnya Jawa Barat (Sunda), yang kemudian dikembangkan menjadi suatu alat musik ber instrumen sama dalam bentuk atau terbuat dari bambu. Contoh : ARUMBA. F. Kesimpulan Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sebuah tujuan wisata budaya yang lengkap, karena SAU memiliki arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan workshop untuk alat musik bambu. Disamping itu, kehadiran SAU di Bandung menjadi lebih bermakna karena kepeduliannya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sunda, khususnya kesenian yang berbahan dasar bambu, kepada masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan

maka dapat diambil kesimpulan bahwa SAU telah melakukan upaya pelestarian Kesenian bambu yang sesuai dengan pedoman pelestarian yang berbasis pada peraturan bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No 42 Tahun 2009 tentang pedoman pelestarian kebudayaan dengan upaya-upaya sebagai berikut : 1. Perlindungan : Sebagai upaya dalam melakukan perlindungan terhadap Kesenian Bambu SAU membentuk suatu yayasan dengan nama Saung Angklung Udjo Foundation dengan salah satu programnya membangun museum hidup Angklung (dengan semua jenisnya), yang dimaksudkan untuk memberikan pesan kebudayaan dan seni dalam bentuk nyata dari berbagai jenis angklung dan alat musik bambu yang di tempatkan dalam suatu wadah Musium Hidup. 2. Pengembangan : Membentuk suatu yayasan dengan nama Saung Angklung Udjo Foundation dengan salah satu programnya, menciptakan Inovasi dan kreatifitas musik bambu yang maksudkan sebagai bentuk kreatifitas dan pelestarian alat musik bambu yang ada di Indonesia khususnya Jawa Barat (Sunda), yang kemudian dikembangkan menjadi suatu alat musik berinstrumen sama dalam bentuk atau terbuat dari bambu. Contoh : ARUMBA. Menyelenggarakan Workshop Saung Angklung Udjo. Program ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk membuat Angklung sendiri, dan akan dimainkan dalam pertunjukan bambu Kaulinan Urang Lembur, Angklung yang telah dibuat dapat dibawa pulang sebagai cenderamata. 3. Pemanfaatan : Membentuk suatu badan pendidikan Udjo School sebuah institusi pendidikan dengan sebuah misi yang harus dijalankan yaitu untuk melestarikan budaya sunda. Membentuk Saung Angklung Udjo

Foundation Sebuah yayasan yang diresmikan pada 30 juni 2010, dengan tujuan utama melestarikan, mengembangkan dan meningkatkan kesenian angklung khususnya serta kesenian-kesenian daerah Sunda pada umumnya yang dibuat dari pada bambu dan alat-alat lainnya. SAU mengemas dan

mengembangkan sebagaian kesenian sunda sebagai bagian dari daya tarik wisata yang disajikannya seperti pergelaran Angklung Orkestra, Arumba dan pergelaran tari-tarian tradisional. G. Daftar Pustaka Caturwati, Endang (2007) . Tari ditatar Sunda. Bandung : Sunan Ambu Press. Mutakin, Awan (2008). IPTEK dan Masyarakat Industrial. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Mutakin, Awan (2006). Pengantar Antropologi. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Rustiyanti, Sri (2010). Menyingkap Seni Pertunjukan Etnik Di Indonesia. Bandung :Sunan Ambu Press. Masunah, Juju dan Narawati, tati (2003) Seni dan Pendidikan Seni. Bandung : P4ST UPI. Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Gunung Agung. Suryana (2010). Metode Penelitian Model Praktis Penelitian Kuantitatif dam Kualitatif. Bandung : Universita Pendidikan Indonesia. Suranti, Ratna (2005). Pariwisata Budaya dan Peran Serta Masyarakat. (Makalah). Undang-Undang No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Undang-Undang No. Undang-Undang Republik Indonesia No.10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan Peraturan Bersama Menteri dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 42 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan. Rencana Strategis kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2010-2014. Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Sukabumi Tahun 2007.