Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN TETAP LABORATORIUM UNIT PROSES COOLING TOWER APPARATUS

Oleh: KELOMPOK 2 Maulana Rionaldo H. Yuri Prasetyo Evi Nurul Triandari Septi Afria (03111403006) (03111403027) (03111403030) (03111403038)

NAMA ASISTEN Agus Candra

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dalam suatu proses di pabrik kimia, pendinginan sangatlah vital karena dibutuhkan sebagai media untuk melakukan pertukaran panas antara fluida yang panas dengan air pendingin (air dingin), berlangsungnya suatu pertukaran panas tersebut terjadi didalam suatu heat exchanger atau yang lebih spesifik disebut dengan cooler. Air digunakan sebagai sumber pendingin untuk mengembalikan ke kondisi semula. Air pendingin akan berubah suhunya sebab terjadinya panas yang dibawa oleh air tersebut. Dikarenakan adanya pertukaran panas yang menyebabkan air pendingin tersebut mengalami perubahan temperatur, dimana temperatur air pendingin menjadi naik karena disebabkan oleh panas yang dibawa oleh suatu fluida yang panas diserap oleh air. Air yang mengalami perubahan temperatur tersebut tidak dapat langsung digunakan kembali sebagai air pendingin dan juga tidak dapat dibuang ke sungai atau ke lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan suatu proses pendinginan untuk menurunkan temperatur air tersebut sehingga dapat dipergunakan kembali sebagai pendingin atau dibuang ke lingkungan. Karena limbah air tersebut dapat menyebabkan dampak negatif pada lingkungan yang bisa saja disebabkan oleh temperatur air yang dibuang masih dalam keadaan yang sangat tinggi dan tidak memenuhi syarat aman dampak lingkungan. Teknologi pendingin sudah lama diketemukan pada teknologi pertama kali dengan teknologi pendinginan udara. Kemudian teknologi pendinginan air ini baru diketemukan lagi sebab dengan pendinginan air inilah maka pendinginan menjadi lebih konstanDengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, maka untuk mendinginkan air yang telah digunakan pada suatu proses sebelum dibuang ke lingkungan sekitar, setelah (cooling tower). ditemukan suatu teknologi menara pendingin

1.2. Tujuan 1) Untuk mendinginkan air panas sisa operasi yang berasal dari kondesor atau unit perpindahan panas lainnya. 2) Untuk mengetahui beberapa perubahan panas yang terjadi dibandingkan dengan laju udara yang masuk. 3) Untuk mengetahui cara kerja cooling tower. 1.3. Permasalahan 1) Bagaimanakah pengaruh flow rate udara terhadap temperatur keluar ? 2) Apa pengaruh perubahan panas yang terjadi terhadap flow rate ? 3) Apa pengaruh perubahan panas yang terjadi terhadap flow rate udara apabila tinggi atau rendah ? 1.4. Manfaat Percobaan 1) Dapat mengetahui cara kerja cooling tower. 2) Dapat mengetahui pengaruh hubungan kecepatan aliran udara terhadap laju pendinginan. 3) Dapat mengetahui bagian-bagian cooling tower dan fungsinya. 4) Dapat mengetahui hubungan antara kecepatan udara terhadap approach to Wet bulb dan presure drop, maka dapat diaplikasikan pada peralatan cooling secara lebih efisien.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Teknologi pendingin sudah lama diketemukan dengan teknologi pertama kali dengan teknologi pendinginan udara. Kemudian teknologi pendinginan air baru diketemukan sebab dengan pendinginan air pendinginan menjadi lebih konstan. Pertama teknologi pendinginan air menggunakan sungai, sumur, danau dan kanal. Tetapi sejak perluasan industri yang sudah sangat luas banyak industri berdiri jauh dari sumber air, apalagi suatu industri yang berdiri di negara yang minim sumber air. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, maka untuk mendinginkan air yang telah digunakan pada suatu proses sebelum dibuang ke lingkungan sekitar, setelah (cooling tower). Cooling Tower adalah suatu alat yang dipergunakan untuk memindahkan sejumlah panas dari suatu fluida ke fluida lain. Cooling tower ini beroperasi menurut prinsip difusi, dimana adanya perubahan temperatur dapat ditemukan suatu teknologi menara pendingin

mengakibatkan perbedaan besarnya laju perpindahan massa yang terjadi. Besarnya laju perpindahan massa dipengaruhi oleh luas daerah kontak antara fluida panas dengan fluida dingin. Sedangkan cooling water adalah air pendingin yang digunakan untuk mendinginkan peralatan. Pendinginannya air terjadi didalam cooling tower. 2.1. Cooling Water Peralatan-peralatan yang digunakan untuk pengolahan/ penyediaan cooling water adalah: 1) Cooling Tower (Basin, ID fan). 2) Pompa Cooling Water. 3) System Injeksi bahan kimia. Cooling water atau air pendingin adalah suatu media air yang berfungsi untuk mengambil panas dari suatu proses atau equipment dengan jalan perpindahan panas (heat transfer).

Cooling water system pada garis besarnya dibagi menjadi 2 (dua) type, yaitu: 1) Recirculation Type. a) Open type, yaitu dimana sebagian air setelah mengalami pemanasan akan diuapkan untuk proses pendinginannya kembali. b) Close type, yaitu dimana pendingin kembali airnya tanpa penguapan. Type ini biasanya dipakai untuk internal engine combustion system. 2) Once Through Type (tergantung penggunaannya). Cooling water sangat penting gunanya untuk pabrik, karena apabila ada gangguan cooling water akan menyebabkan terjadinya pengurangan produksi atau akan menyebabkan kerusakan alat baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu Cooling Water System harus dikontrol dengan sebaik-baiknya, minimal mampu beroperasi tanpa gangguan selama 1-2 tahun. Adapun tujuan digunakannya cooling water adalah : a) Korosi yang terjadi dalam peralatan dapat dihindari sekecil mungkin. b) Deposit yang terjadi didalam peralatan dapat dihindari sekecil mungkin. c) Pertumbuhan bakteri, jamur, lumut terkendali. d) Menaikkan efisiensi alat pendingin. e) Tidak merusak lingkungan. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap cooling water adalah sebagai berikut: 1) Make Up Air Pendingin Sebagai make up adalah filter water. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar karena filter water membawa beberapa komponen yang dapat

mengakibatkan timbulnya deposit maupun korosif. 2) Lingkungan Sekitar Karena sebagai media pendingin dari air pendingin di cooling water adalah udara yang diambil dari sekitarnya, maka dari kotoran atau benda asing lainnya yang dibawa udara masuk kesistem air pendingin, akibatnya terkontaminasi. 3) Proses yang terkait Yang dimaksud proses terkait adalah bentuk atau macam fluida yang didinginkan, Hal ini biasanya terjadi karena kebocoran dari peralatan. Misalnya

Heat Exchanger untuk pelumas gas ammonia atau gas sintesa apabila terjadi kebocoran akan mengakibatkan kontaminasi air pendingin. 4) Bahan Kimia Penggunaan bahan kimia melalui injeksi tidak terkontrol menimbulkan efek samping, pengaruh ini lebih dominan bilamana jumlahnya semakin besar. 2.2. Treatment Prosedur Ada beberapa batasan yang harus diperhatikan air sebelum masuk ke cooling tower, yaitu: 1) pH harus dijaga kondisi normal, yaitu 6-7, karena pH yang lebih tinggi akan menyebabkan perubahan lignin pada pemanasan weed fiber. 2) Inhibitor korosi dipilih berdasarkan pada adanya serat-serat kimia dalam make up water dan material dari peralatan Heat Exchanger. 3) Penambahan zat anti alga dan jamur diperlukan untuk menjaga keadaan zat kimia tersebut. 2.3. Pengontrolan Cooling Water Yang dimaksud dengan Cooling water control system adalah usaha-usaha untuk menjaga kualitas dan kuantitas cooling water sesuai dengan parameter design yang telah ditetapkan. Kuantitas/ jumlah cooling water ditentukan oleh kondisi mekanik seperti pompa, opening valve, tekanan yang mempengaruhi flow cooling water. Sedangkan kualitas cooling water ditentukan oleh chemical treatment yang dilakukan. Adapun bahan kimia yang diinjeksikan untuk chemical treatment adalah: 1) Pencegah Korosi (Corrossion Inhibitor) Korosi adalah suatu peristiwa perusakan water olehreaksi kimia atau reaksi elektrokimia. Untuk menghindari ini maka diinjeksikan bahan kimia yang dapat melapisi permukaan metal (protective film) agar terhindar dari pengaruh korosi atau dapat menurunkan kecepatan korosi. Bahan kimia ini berupa cairan yang terdiri dari Ortho Phospat, Poly Phospat dan Phospat dengan perbandingan tertentu, diinjeksikan ke dalam cooling water system sampai di dapat kadar Ortho Phospat sebesar 12 17 ppm.

2) Pencegah Kerak (Scale Inhibitor) Kerak terjadi karena adanya endapan deposit dipermukaan metal. Endapan ini dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu: a) Mineral scale, yaitu pengendapan garam-garam kistal apabila daya kelarutannya dilampaui (misalnya: garam-garam Ca, Mg, SiO2). b) Suspended metter, yaitu partikel-partikael asing yang masuk ke dalam sistem karena terbawa udara (misalnya: debu). c) Corrosion Product, hasil sampingan proses korosi yang tidak larut dalam air. Adanya kerak dalam permukaan pipa akan menyebabkan, sebagai berikut: a) Mengganggu perpindahan panas. b) Menyebabkan penyumbatan pipa. c) Penyebab korosi. Untuk menghindari terbentuknya pengendapan, yang berupa garam Ca, maka diinjeksikan scale inhibitor (Dispersant). Terbentuknya kerak ini dipengaruhi beberapa faktor, yaitu: a) pH, makin tinggi pH maka makin mudah terjadinya pengendapan. b) Temperatur, makin tinggi temperatur maka kelarutan garam kalsium karbon semakin turun sehingga bertendensi terjadi pengendapan c) Flow rate, semakin rendah flow rate memperbesar kesempatan pengendapan 3) Pencegah Slime (Slime inhibitor) Slime adalah lendir yang berwarna coklat kehitaman yang menempel dipermukaan pipa. Slime akan mengurangi effect pencegahan korosi dan menurunkan efisiensi cooling water. Slime disebabkan oleh adanya bakteri mikroorganisme yang terbentuk dalam cooling water. Untuk mencegah mikroorganisme tersebut, diinjeksikan gas chlorine yang akan mampu membunuh hampir semua mikroorganisme yang ada. Disamping bakteri, gas chlorine juga mampu menghilangkan fungi/ jamur, alga/ganggang dan juga pengganggu berupa lumut. (Utility Plant, PT PUSRI, Page 8 - 10). Secara umum elemen-elemen yang dimiliki oleh suatu steam plant terlihat pada komponen-komponen antara lain boiler, kondensor, pompa, turbin dan juga cooling tower. Cooling tower terbagi beberapa macam antara lain:

1) Berdasarkan arah aliran udara masuk a) Cross flow

b) Counter current flow 2) Berdasarkan cara pemakaian alat bantu seperti fan atau blower a) Induced draf (alat bantu berada dibagian puncak tower)

b) Force draf (alat bantu berada dibagian bawah tower) 3) Berdasarkan kondisi aliran udara bebas tanpa alat pembantu a) Atmosphere (udara pada kondisi atmosphereric mengalir bebas tanpa memakai penutup tower). b) Natural draf (udara mengalir dalam udara pendinginan dari tower namun kondisi udara belum tentu atmospheric). 2.4. Fungsi Cooling Tower Cooling tower sangat dibutuhkan oleh industri sebab cooling tower merupakan bagian dari utilitas yang banyak digunakan. Dimana cooling tower memproses air yang panas menjadi air yang dingin yang digunakan kembali yang bisa dirotasikan. Cooling tower salah satu alat yang juga mengolah air untuk mengatasi masalah polusi lingkungan. 2.5. Persyaratan Proses Menara Pendingin Umumnya batasan operasi cooling tower adalah pada suhu 120
o

F.

Temperatur air keluar biasanya lebih rendah dari 120 oF. Pada saat temperatur air proses melebihi 120 oF perlu dilakukan tahapan evaporasi dengan menggunakan cooler sehingga tidak terjadi kontak langsung antar air panas dan udara. 2.6. Packing Pengisian packing pada cooling tower harus memenuhi karakteristik sebagai berikut: 1) Permukaan interfacial antara fuida yang akan didinginkan dengan fluida yang mendinginkan besar. 2) Memiliki karakteristik aliran fluida yang didinginkan pada packing harus terjadi pertukaran volume fluida yang besar melalui cross section tower yang kecil tanpa loading/ fleeding dan presure drop yang rendah untuk gas.

3) Zat inert fluida dapat diproses secara kimia. 4) Mempunyai kekuatan struktural sehingga mudah dalam penangan dan instalasi. 5) Biayanya murah. Terdapat dua cara pengisian packing, yaitu: 1) Random Packing Jenis random packing yang digunakan, yaitu: a) Rasching ring b) Lessing ring c) Partition ring d) Belt saddle e) Intalox saddle f) Tellerate

g) Pall ring atau flexiring 2) Regular Packing Jenis regular packing yang digunakan, yaitu: a) Rasching ring b) Doble spiral ring c) Section through expanded metal packing d) Wood grids 2.7. Water Make-Up Perlengkapan make up untuk cooling tower terdiri dari penjumlahan evaporation loss, drift loss dan blown down. Rumus: Wm = We + Wd + Wb Dimana: Wm Wd Wb = = = Water make up. Water drift loss. Water blown down. (1)

Evaporation loss dapat ditentukan dengan persamaan, yaitu: We = 0,00085 Wc (T1 - T2)

Dimana: Wc T1 - T2 = = Sirkulasi water flow (gal/ min pada tower inlet) Temperatur air masuk - temperatur air keluar, oF.

Blown down mengurangi bagian dari sirkulasi air terkonsentrasi terhadap proses evaporasi untuk menurunkan konsentrasi sistem solid blown dapat dihitung berdasarkan jumlah siklus dari konsentrasi. Kuantitas blowndown yang dibutuhkan: Cycle of concentration = = 2.8. House Power Pada cooling tower sumber daya yang digunakan sebagai pengeluar udara adalah fan atau blower, kecepatan tergantung dari beberapa banyak air yang akan diinginkan. Jumlah dari fan tergantung pada faktor cooling tower, termasuk type fill, konfigurasi tower dan kondisi thermal. Static Dimana: Q = hs = d = Volume udara (ft3/ min). Static head di dalam air. Densitas air pada temperatur ambient (lb/ ft3). =
Q hs d 33.000 12 We Wb Wb We 1 Wb

(2)

(3)

2.9. Pump Horse Power Pompa adalah salah satu bagian yang terpenting dari cooling tower untuk mengalirkan air dari dasar cooling tower menuju bagian spray pada puncak cooling tower. Cara menghitung reducing pompa adalah : Pump bhp Dimana: ht = total head, ft. =

gal / min (ht ) 3.960 ( pump efficiency )

10

2.10. Operasi Cooling Tower Penerapan yang nyata dari operasi ini adalah dengan cooling tower. Biasanya cooling tower ini menyerupai kotak kayu, dimana alat ini mengontakkan air panas sisa dari proses pendingin ke udara sehingga terjadi proses pendinginan air. Fungsi kayu yang ada pada bagian cooling tower adalah untuk memperluas wilayah pertemuan antara air dan udara. Suatu cooling tower biasanya dapat menekan kebutuhan akan cooling water sebanyak 98 % walau ada juga resiko terkontaminasi yang disebabkan oleh penjenuhan air oleh uap air. Pada cooling tower udara dingin dari atmosfer dilewatkan ke bagian bawah cooling tower dan terjadi panas antara air panas dengan udara dingin. Bila zat cair panas dikontakkan kepada gas tak jenuh, sebagian dari zat cair tersebut akan menguap dan suhu zat cair menjadi turun. Pendinginan air dalam jumlah besar dilakukan dalam kolam-kolam semprot (Spray Pond). Kita telah tahu bahwa tujuan dari dibuatnya cooling tower atau menara pendingin adalah untuk mensirkulasikan air pendingin dengan cara mendinginkan air itu dan menggunakannya kembali secara berulang-ulang. Pada prinsipnya cooling tower atau menara pendingin adalah jenis bahan isian yang khusus yaitu kayu sipres yang mempunyai daya tahan aksi gabungan air dan angin. Dalam menara itu sebagian air menguap ke udara dan kalor sensibel berpindah dari air panas ke udara yang lebih dingin. Kedua proses itulah yang mengakibatkan turunnya air dingin dan untuk menjaga keseimbangan air dingin kita hanya perlu menambahkan air untuk menggantikan air yang hilang karena penguapan atau angin. 2.11. Teori Difusi Suatu peristiwa difusi melibatkan peresapan satu fluida lainnya misalnya, gas udara yang mengandung sejumlah kecil uap aseton yang larut dalam air sedangkan udara tidak larut dalam air. Seandainya campuran udara-aseton dimasukkan ke menara dimana air akan mengalir secara kontinu sehingga molekul aseton melekat ke molekul air. Maka molekul aseton dalam lapisan film udara menyentuh lapisan film liquid dan menyerap dengan cepat oleh larutan tersebut

11

dalam liquid sehingga konsentrasi aseton dalam lapisan udara lebih kecil dibandingkan yang terlarut. 2.12. Packing Pengisian packing harus memenuhi karakteristik sebagai berikut : 1. Permukaan interfacial antara fluida yang akan didinginkan dengan fluida yang mendinginkan besar. 2. Memiliki karakteristik aliran fluida yang diinginkan, pada packing harus terjadi pertukaran volume fluida yang besar melalui cross section tower yang kecil tanpa loading atau fleeding dan pressure drop yang rendah untuk gas. 3. Zat inert fluida dapat diproses secara kimia. 4. Mempunyai kekuatan struktural sehingga mudah dalam penangan dan instalasi. 5. Biayanya relatif murah Terdapat dua cara pengisian packing, yaitu : 1. Random Packing Sewaktu instalasi packing dijatuhkan atau ditempatkan kedalam menara secara acak dimana menara diisi dengan air untuk mengurangi kecepatan jatuhan. Jenis random packing yang sering digunakan adalah : a. Rasching ring b. Leesing ring c. Partition ring d. Berl saddle e. Intalox saddle f. Tellrate g. Pall ring or Flex ring 2. Regular Packing Packing jenis ini menguntungkan karena pressure drop yang rendah dan laju alir fluida yang lebih besar. Jenis-jenis packing regular, yaitu : a. Rasching ring b. Double spiral ring c. Section through expanded metal lath packing d. Wood grids

12

2.13. Faktor-faktoryang Mempengaruhi Kerja Cooling Tower Beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap cooling tower adalah : 1. Kecepatan aliran air, kecepatan aliran air yang masuk ke cooling tower merupakan suatu faktor yang mempengaruhi, semakin besarnya rate air yang masuk maka akan semakin besar beban fluida pendingin dalam proses pendinginan. 2. Kecepatan aliran udara, semakin besarnya rate udara yang masuk maka prosespendinginan di dalam cooling tower akan semakin cepat. 3. Perbandingan distribusi air dan udara, perbandingan distribusi air sebagai fluida yang akan didinginkan dan udara sebagai fluida yang digunakan untuk mendinginkan haruslah sesuai dengan kondisi yang diinginkan. 4. Heat load (beban panas), semakin besar heat load, maka akan dibutuhkan rate udara masuk yang besar pula. 5. Make-up air pendingin, sebagai make-up adalah filter water. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar karena filter water dapat membawa beberapa komponen-komponen yang dapat mengakibatkan timbulnya deposit maupun korosi. 6. Lingkungan sekitar, karena sebagai media pendingin dari air pendingin di cooling water adalah udara yang diambil dari sekitarnya, maka tidak lepas dari kotoran atau benda asing lainnya yang dibawa udara masuk ke system air pendingin, akibatnya terkontaminasi. 7. Proses yang terkait yang dimaksud proses terkait adalah bentuk atau macam fuida yang didinginkan. Hal ini biasanya terjadi karena kebocoran darai peralatan. Misalnya heat exchanger untuk pelumas gas ammonia atau gas sintesa apabila terjadi kebocoran akan mengakibatkan kontaminasi air pendingin. 8. Bahan kimia Penggunaa bahan kimia melalui injeksi yang tidak terkontrol akan menimbulkan efek samping. Pengaruh ini lebih dominan ketika jumlah dari penggunaaan bahan kimia tersebut semakin besar.

13

BAB III METODELOGI

3.1. Alat dan Bahan 1. Satu unit Cooling Tower Armfield yang dilengkapi pemanas 2. Aquades 3. Udara bebas sebagai media pendingin 3.2. Prosedur Percobaan 1. Siapkan peralatan cooling tower supaya dapat beroperasi 2. Masukkan aquadest ke dalam basin 3. Hubungkan cooling tower dengan arus listrik, atur debit air yang mengalir dan Q sesuai dengan yang dikehendaki 4. Catat temperatur inlet dan outlet untuk dry bulb dan wet bulb T1 T6 tekanan dan presure drop yang ditunjukan. Lakukan pengambilan data sebanyak lima kali dengan tekanan yang berbeda-beda. 5. Hitung laju alir udara masing-masing data.

14

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

4.1. Hasil Pengamatan X (mmH2O) 18 19 20 12 23 24 T1 30,7 31,7 31,2 31,7 32,7 33,7 Temperatur (oC) T2 29,6 30,1 30,6 29,6 30,1 31,1 T3 39,5 38,5 38,9 39,5 40,0 38,5 T4 36,7 37,7 37,3 36,7 35,7 36,2 T5 45,6 45,6 45,6 50,6 50,6 50,6 T6 33,5 32,5 33,0 40,0 33,5 33,0

Q (kW)

Mv (g/ s) 25

0,5

35 45 25

1,0

35 45

Dimana: T1 = T2 = T3 = T4 = T5 = T6 = Temperatur dry bulb masuk Temperatur wet bulb masuk Temperatur dry bulb keluar Temperatur wet bulb keluar Temperatur air masuk Temperatur air keluar

4.2 Perhitungan Diketahui: 1. Orifice Constant Rumus: ma Keterangan: ma x= /Vb = Dry air mass flowrate (kg/s) =
0 ,137 x Vb

Orifice differential (mmH2O) = Specific volume of steam and air mixture leaving top of column (m3/kg)

2. Water Capacity of System

= 3,0 liter (excluding make up tank)

15

3. Dimensions of Column 4. Packing Data Number of decks Number of plates per deck

= = = =

150 mm x 150 mm x 100 mm (High) B-200 m-1 8 18 2,16 0,48 200

Total surface area of packing, m2 = Height of packing, m Packing density = =

area , m-1 volume

Untuk Cooling Load Q = 0,5 kW, Laju Alir 25 gr/ s 1. Untuk Orifice Differential (x) = 18 mmH2O = 33,5 oC = (33,5 29,6) oC = 3,9 oC = 4 oC Spesifikasi volumetrik udara keluar dengan menggunakan cara plot Temperatur dry bulb udara keluar (T3) dan Temperatur wet bulb keluar (T4) pada physcometric chart, maka diperoleh Vb = 0,94 m3/kg. Air mass flowrate (m) = 0 ,137
x Vb

Temperatur wet bulb udara masuk (T2) = 29,6 oC Temperatur air keluar (T6) Approach to wet bulb

= 0,137

18 0,94

= 0,0599 kg/ s Air volume flowrate (V) = m Vb = 0,0599 kg/ s 0,94 m3/ kg = 0,0563 m3/ s Cross sectional area of empty tower (A) = 0,15 m 0,15 m = 0,0225 m2 Kecepatan udara = =

V A
0,05635 = 2,5044 m/s 0,0225

16

Untuk Cooling Load Q = 0,5 kW, Laju Alir 35 gr/ s 1. Untuk Orifice Differential (x) Temperatur wet bulb udara masuk (T2) Temperatur air keluar (T6) Approach to wet bulb = 19 mmH2O = 30,1 oC = 32,5 oC = (32,5 - 30,1) oC = 2,4 oC Spesifikasi volumetrik udara keluar dengan menggunakan cara plot Temperatur dry bulb udara keluar (T3) dan Temperatur wet bulb keluar (T4) pada physcometric chart, maka diperoleh Vb = 0,94 m3/ kg. Air mass flowrate (m) = 0 ,137
x Vb

= 0,137

19 0,94

= 0,0616 kg/ s Air volume flowrate (V) = m Vb = 0,0616 kg/ s 0,94 m3/ kg = 0,0579 m3/s Cross sectional area of empty tower (A) = 0,15 m 0,15 m = 0,0225 m Kecepatan udara = =

V A
0,0579 0,0225

= 2,573 m/ s Untuk Cooling Load Q = 0,5 kW, Laju Alir 45 gr/ s 2. Untuk Orifice Differential (x) Temperatur wet bulb udara masuk (T2) Temperatur air keluar (T6) Approach to wet bulb = 20 mmH2O = 30,6 oC = 33,0 oC = (33,0 30,6) oC = 2,4 oC

17

Spesifikasi volumetrik udara keluar dengan menggunakan cara plot Temperatur dry bulb udara keluar (T3) dan Temperatur wet bulb keluar (T4) pada physcometric chart, maka diperoleh Vb = 0,94 m3/ kg. Air mass flowrate (m) Q = 0,137
x Vb

= 0,137

20 0,94

= 0,0632 kg/ s Air volume flowrate (V) = m Vb = 0,0632 kg/ s 0,94 m3/ kg = 0,0594 m3/s Cross sectional area of empty tower (A) = 0,15 m 0,15 m = 0,0225 m2 Kecepatan udara = =

V A
0,0594 0,0225

= 2,64 m/ s Untuk Cooling Load Q = 1,0 kW, Laju Alir 25 gr/ s 4. Untuk Orifice Differential (x) Temperatur wet bulb udara masuk (T2) Temperatur air keluar (T6) Approach to wet bulb = 12 mmH2O = 29,6 oC = 40,0 oC = (40,0 29,6) oC = 10,4 oC Spesifikasi volumetrik udara keluar dengan menggunakan cara plot Temperatur dry bulb udara keluar (T3) dan Temperatur wet bulb keluar (T4) pada physcometric chart, maka diperoleh Vb = 0,94 m3/ kg. Air mass flowrate (m) = 0 ,137
x Vb

= 0,137

12 0,94

18

= 0,0489 kg/ s Air volume flowrate (V) = m Vb = 0,0489 kg/ s 0,94 m3/ kg = 0,046 m3/s Cross sectional area of empty tower (A) = 0,15 m 0,15 m = 0,0225 m2 Kecepatan udara = =

V A
0,046 0,0225

= 2,044 m/ s Untuk Cooling Load Q = 1,0 kW, Laju Alir 35 gr/ s 5. Untuk Orifice Differential (x) Temperatur wet bulb udara masuk (T2) Temperatur air keluar (T6) Approach to wet bulb = 23 mmH2O = 30,1 oC = 33,5 oC = (33,5 - 30,1) oC = 3,4 oC Spesifikasi volumetrik udara keluar dengan menggunakan cara plot Temperatur dry bulb udara keluar (T3) dan Temperatur wet bulb keluar (T4) pada physcometric char, maka diperoleh Vb = 0,935 m3/ kg. Air mass flowrate (m) = 0 ,137
x Vb

= 0,137

23 0,935

= 0,0679 kg/ s Air volume flowrate (V) = m Vb = 0,0679 kg/ s 0,935 m3/ kg = 0,0635 m3/s Cross sectional area of empty tower (A) = 0,15 m 0,15 m = 0,0225 m2

19

Kecepatan udara

= =

V A
0,0635 0,0225

= 2,822 m/ s Untuk Cooling Load Q = 1,0 kW, Laju Alir 45 gr/ s 6. Untuk Orifice Differential (x) Temperatur wet bulb udara masuk (T2) Temperatur air keluar (T6) Approach to wet bulb = 24 mmH2O = 31,1 oC = 33,0 oC = (33,0 - 31,1) oC = 1,9 oC = 2,0 oC Spesifikasi volumetrik udara keluar dengan menggunakan cara plot Temperatur dry bulb udara keluar (T3) dan Temperatur wet bulb keluar (T4) pada physcometric chart, maka diperoleh Vb = 0,93 m3/ kg. Air mass flowrate (m) = 0 ,137
x Vb

= 0,137

24 0,93

= 0,0696 kg/ s Air volume flowrate (V) = m Vb = 0,0696 kg/ s 0,93 m3/ kg = 2,84 m/ s = 0,064 m3/s Cross sectional area of empty tower (A) Kecepatan udara = 0,0225 m2 = = = =

V A
0,064 0,0225

2,844444 2,85

20

Tabel 1. Cooling Load Q = 0,5 kW Type B-200 m-1 Variabel Orifice Differential (x), mmH2O Temperatur wet bulb keluar (T2), oC Temperatur air keluar (T6), C T3, oC T4, oC Approach to wet bulb temperature Spesific volume, m3/ kg Air mass flow rate (m), kg/ s Air volume flow rate (V), m3/ s Cross Sectional area of empty tower (A) Kecepatan alir udara, m/ s
o

Laju Alir q = 25 gr/ s 18 29,6 33,5 39,5 36,7 4,00 0,94 0,056 0,0563 0,0225 2,5044 q = 35 gr/ s 19 30,1 32,5 38,5 37,7 2,4 0,94 0,0616 0,0579 0,0225 2,573 q = 45 gr/ s 20 30,6 33,0 38,9 37,3 2,4 0,94 0,0632 0,0594 0,0225 2,64

Tabel 2. Cooling Load Q = 1,0 kW Type B-200 m-1 Variabel Orifice Differential (x), mmH2O Temperatur wet bulb keluar (T2), oC Temperatur air keluar (T6), oC T3, oC T4, oC Approach to wet bulb temperature Spesific volume, m3/ kg Air mass flow rate (m), kg/ s Air volume flow rate (V), m3/ s Cross Sectional area of empty tower (A) Kecepatan alir udara, m/ s Laju Alir q = 25 gr/ s 12 29,6 40 39,5 36,7 10,4 0,940 0,0489 0,046 0,0225 2,044 q = 35 gr/ s 23 30,1 33,5 40 35,7 3,4 0,935 0,0679 0,0635 0,0225 2,822 q = 45 gr/ s 24 31,1 33,0 38,5 36,2 2,00 0,93 0,0696 0,064 0,0225 2,84

21

Tabel 3. Spesific Volume (dari Humidity Chart) Udara-Air Type B-200 m-1 Q, kW x, mmH2O 15 0,5 16 17 20 1,0 21 22 T3, oC 39,0 38,0 38,5 39,0 39,5 38,0 T4, oC 36,0 37,0 36,5 36,0 35,0 35,5 Spesific Volume (Vb) 0,940 0,940 0,940 0,940 0,935 0,930

Tabel 4. Laju Pendinginan dan Cooling Range Untuk Tipe B-200 m-1 Q x 18 0,5 19 20 12 1,0 23 24 Laju Alir Udara 2,5044 2,5730 2,6400 2,0440 2,8220 2,8400 T5 45,6 45,6 45,6 50,6 50,6 50,6 T6 33,5 32,5 33,0 40,0 33,5 33,0 Cooling Range Laju Pendinginan 12,1 13,1 12,6 10,6 17,1 17,6 0,041 0,038 0,039 0,094 0,058 0,057

Pendinginan dan Cooling Range Untuk Q = 0,5 kW Laju Alir 25 gr/ s Laju pendinginan =

Q T5 T6
T5 T6
o

= 0,041 kW/oC Cooling Range =

= 12,1

Laju Alir 35 gr/ s Laju pendinginan =

Q T5 T6

= 0,038 kW/oC

22

Cooling Range

T5 T6

= 13,1 oC Laju Alir 45 gr/ s Laju pendinginan =

Q T5 T6

= 0,039 kW/oC Cooling Range = T5 T6 = 12,6 oC Pendinginan dan Cooling Range Untuk Q = 1 kW Laju Alir 25 gr/ s Laju pendinginan =

Q T5 T6

= 0,094 kW/oC T5 T6

Cooling Range

= 10,6 oC Laju Alir 35 gr/ s Laju pendinginan =

Q T5 T6

= 0,058 kW/oC Cooling Range = T5 T6 = 17,1 oC Laju Alir 45 gr/ s Laju pendinginan =

Q T5 T6

= 0,057 kW/oC Cooling Range = T5 T6 = 17,6 oC

23

BAB V PEMBAHASAN

Percobaan terakhir kami adalah cooling tower dengan nama lain menara pendingin yang berfungsi mendinginkan air proses dengan cara mengontakkan air tersebut dengan udara. Selain itu Cooling tower berfungsi untuk menurunkan panas yang dikandung oleh fluida dengan cara melepaskan panas tersebut ke lingkungan melalui kontak dengan udara. Semakin besar laju alir udara maka akan semakin banyak panas yang dapat dipindahkan dari fluid. Cooling tower merupakan suatu alat atau unit yang digunakan untuk pembuatan cooling water yang baik. Bila zat cair panas dikontakkan dengan gas tak jenuh, sebagian dari zat cair itu akan menguap dan suhu zat cair akan turun. Berdasarkan hal tersebut, maka pada operasi cooling tower terjadi suatu proses perpindahan panas, yaitu perpindahan panas laten karena penguapan air dalam jumlah kecil dan perpindahan panas sensibel karena perbedaan temperatur air dan udara. Udara dan air adalah bahan-bahan yang bernilai rendah dan dalam volume besar harus dapat ditangani, seperti dalam berbagai operasi pendinginan air, peralatan yang bernilai rendah dan biaya operasi yang murah sangat penting. Salah satu usaha untuk melestarikan air pendingin adalah dengan mendinginkan air hangat/panas yang biasanya berasal dari kondensor sehingga dapat digunakan kembali secara berulang-ulang. Dari hasil pengamatan dan perhitungan, terlihat bahwa pada kecepatan udara atau flow rate udara masuk berbanding lurus dengan orifice differential atau tekanan yang digunakan. Makin tinggi tekanan yang digunakan maka kecepatan udara atau flow rate udara masuk makin tinggi pula. Hasil pengamatan ini sesuai dengan rumus yang digunakan dimana dari keempat rumus yang digunakan pada pengolahan data terlihat bahwa kecepatan udara (V) berbanding lurus dengan tekanan atau orifice differential (x). Temperatur Wet Bulb adalah temperatur steady state yang dicapai oleh sejumlah kecil cairan/liquid yang mengalami penguapan ke dalam sejumlah besar campuran uap-gas yang tidak jenuh (unsaturated). Temperatur Dry Bulb adalah temperatur dari campuran uap

24

gas yang diperoleh dengan cara mencelupkan termometer ke dalam campuran gas tersebut. Temperatur dry bulb udara (T3) yang keluar dan temperatur wet bulb (T4) udara yang keluar dapat digunakan untuk menentukan spesifik voume udara keluar. Dari Pshychometric Chart yang digunakan, hasil dari pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa makin kecil T3 dan T4, maka spesifik volume udara keluar yang didapat juga makin kecil. Sesuai dengan prinsip operasi cooling tower yang berdasarkan pada penguapan dan perubahan panas sensibel, dimana campuran dua aliran fluida pada temperatur yang berbeda akan melepaskan panas laten penguapan yang menyebabkan efek pendinginan ke fluida yang lebih panas dalam kasus ini adalah air. Efek pendinginan ini dicapai dengan merubah sebagian cairan ke keadaan uap dengan melepaskan panas laten penguapan. Selain itu, panas sensibel juga berperan ketika air panas yang dilewatkan kontak dengan aliran udara dingin yang masuk, sehinga udara akan mendinginkan air dan temperaturnya akan meningkat sesuai dengan jumlah panas sensibel air yang diperolehnya. Ini terlihat pada hasil pengamatan bahwa temperatur air yang masuk (T5) lebih besar dari temperatur wet bulb udara yang keluar (T4). Alat cooling tower pada skala laboraturium operasi teknik kimia ini bekerja dengan prinsip difusi dan dengan proses humidifikasi dimana proses humidifikasi ini berfungsi untuk menambah kelembapan lagi setelah banyak yang hilang. Bagian-bagian alat dari cooling tower ini adalah blower yang berfungsi untuk mengalirkan udara. Pada proses ini terdapat tiga jenis proses penguapan yaitu loss drift yaitu terjadi kehilangan air di packing, kemudian evaporasi terjadi pada eliminator yang berfungsi agar air tidak menguap tetapi kembali lagi untuk di sirkulasi, kemudian yang terakhir adalah terjadinya blow down, dimana endapan yang terjadi pada basin menyebabkan kekurangan air sehingga proses ini dinamakan blow down. Suhu yang terdapat pada indikator suhu menunjukkan T1T6 dimana T1-T2 terletak dibawah lawfer (kotak penutup kaca), T3-T4 di atas lawfer, T5 di nozzle dan T6 di basin dengan temperatur air yang masuk ke packing pada nozzle dari temperatur tinggi ke temperatur rendah.

25

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan 1. Cooling tower adalah alat yang digunakan untuk memindahkan sejumlah panas dari suatu fluida ke udara. 2. Operasi cooling tower didasarkan pada prinsip difusi, dimana perubahan temperatur dapat mengakibatkan besarnya perbedaan laju perpindahan massa yang terjadi. 3. Besarnya laju perpindahan massa dipengaruhi oleh luas daerah kontak antara air dan udara. 4. 5. 6. Semakin cepat aliran udara maka semakin besar pula penurunan temperatur. Fan berfungsi untuk membantu penurunan temperatur fluida. Semakin besar cooling load, laju alir udara dan kecepatan udara maka akan berpengaruh terhadap approach to wet bulb.

6.2 Saran 1. Penggunaan laju alir udara harus disesuaikan dengan kebutuhan pendinginan agar kehilangan air dapat dikontrol. 2. 3. Dalam penggunaan pompa supaya diatur debit alir airnya. Diharapkan alat-alat didalam laboratorium agar diperbarui sehingga praktikan mengetahui dengan jelas proses yang berlangsung.

26

DAFTAR PUSTAKA

Karn, Donald Q. Proses Heat Transfer. Nicholas P and Paul N. 1983. Cooling Tower Selection Design and Practice. Michinger, USA: ANN Arbor Science. Perry, Robert H dan Don Green, CH. 1984. Perrys Chemical Engineers Handbook. Edisi Keenam. USA: McGraw-Hill. Treyball, Robert E. 1987. McGraw-Hill. Mass Transfer Operation, Edisi ketiga. USA:

McCabe, Warren L., Julian C. Smith and Peter Harriot. 1993. Operasi Teknik Kimia. Jakarta: Erlangga.

27

GAMBAR ALAT BENCH TOP COOLING TOWER


Droplat Arrester Water Distribution System t4 ORIFICE t3 Air Outlet Temperature Conection for Orifice Differential Pressure

t5

Conections for Pressure Drop Accross Packing Main Switch PACKING 0,5 KW Switch 1 KW Switch Air Inlet t2 Temperature t1 Water Out Lock Temperature Make Up Tank
00.00
1 2

Temperature Indicator

Damper BASIN t6
F V l a o l a v t e

Fan Air Inlet

Mano meter Recirculation Thermostat Pump

0,5 KW 1 KW Heaters