Anda di halaman 1dari 19

Inkontinensia Urin & Alvi

Pembimbing : Dr. Lina Mahasiswa : Andrew Lie (406118022)

Definisi
Inkontinenensia urine adalah pengeluaran urin tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan dan atau sosial.Variasi dari inkontinensia urin meliputi keluar hanya beberapa tetes urin saja, sampai benar-benar banyak, bahkan terkadang juga disertai inkontinensia alvi (disertai pengeluaran feses). (agungrakhmawan, 2008).

Inkontinensia urine merupakan dorongan tidak sadar untuk mengeluarkan urine yang dapat bersifat permanen maupun temporer yang dapat menjurus ke dalam gangguan emosional dan dapat mempengaruhi pola sosialisasi.

1. Inkontinensia urin akut reversibel


- pada pasien delirium, stroke, fraktur coxae dsbnya. - obat-obatan (ccb, antikolinergik, diuretik) - obstruksi anatomis - infeksi (vaginitis dan uretritis) untuk mempermudah penyebab pada jenis ini : D : delirium R : restriksi mobilitas, retensi urin I : infeksi, inflamasi, impaksi P : poliuri, pharmasi

2. Inkontinensia Urin Persisten


a. Stress incontinence - Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan intraabdominal, seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga - disebabkan melemahnya otot dasar panggul - sering pada lansia < 75 thn - lebih sering pada wanita

b. Urgency incontinence
- penyebab tersering pada lansia > 75 thn - Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan berkemih. - berkaitan dengan kontraksi otot detrusok tak terkendali - Masalah-masalah neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia urin urgensi ini, meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis - Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul keinginan untuk berkemih

Etiologi
a) Kelainan urologic; misalnya radang,batu,tumor dll. b) Kelainan neurologic; misalnya stroke,trauma pada medulla spinalis, dimensia dll. c) Lain-lain misalnya; hambatan mobilitas, situasi atau tempat berkemih yang tidak memadai d) Usia, jenis kelamin, serta jumlah persalinan per vaginam yang pernah dialami sebelumya. e) Infeksi saluran kemih, menopause, pembedahan urogenital, penyakit kronis dan penggunaan obat-obatan

Manifestasi klinis
Ruam Dekubitus Infeksi kulit dan saluran kemih Pembatasan mobilisasi/aktifitas

Pemeriksaan penunjang
1. Tes Diagnostik

a. Mengukur sisa urin setelah berkemih, dilakukan dengan cara : Setelah buang air kecil, pasang kateter, urin yang keluar melalui kateter diukur atau menggunakan pemeriksaan ultrasonik pelvis, bila sisa urin > 100 cc berarti pengosongan kandung kemih tidak adekuat. b. Urinalisis Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk mendeteksi adanya faktor yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin seperti hematuri, piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria. Tes diagnostik lanjutan perlu dilanjutkan bila evaluasi awal didiagnosis belum jelas. Tes lanjutan tersebut adalah : c. Tes laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen, creatinin, kalsium glukosa sitologi. d. Tes urodinamik a untuk mengetahui anatomi dan fungsi saluran kemih bagian bawah e. Tes tekanan urethra mengukur tekanan di dalam urethra saat istirahat dan saat dianamis. f. Imaging tes atau pemotretan terhadap saluran perkemihan bagian atas dan bawah.

2. Pemeriksaan penunjang Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-alat mahal. Sisa-sisa urin pasca berkemih dapat dihitung dengan ultrasound atau kateterisasi urin. Merembesnya urin pada saat dilakukan penekanan dapat juga dilakukan 3. Lab Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria. 4. Voiding record Untuk mengetahui pola berkemih, membandingkan saat inkontinensia dengan tidak, dicatat selama 1-3 hari.

Tatalaksana
mengurangi faktor resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin, modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan.

Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot dasar panggul secara berulangulang. Adapun cara-cara mengkontraksikan otot dasar panggul tersebut adalah dengan cara : Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan terbuka, kemudian pinggul digoyangkan ke kanan dan ke kiri 10 kali, ke depan ke belakang 10 kali, dan berputar searah dan berlawanan dengan jarum jam 10 kali.

Gerakan seolah-olah memotong feses pada saat kita buang air besar dilakukan 10 kali. Hal ini dilakukan agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan urethra dapat tertutup dengan baik. a. Inkontinensia tipe stress Latihan oto-otot dasar panggul Latihan penyesuaian berkemih Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih Tindakan pembedahan dapat memperkuat muara kandung kemih b. Inkontinensia urgensi: Latihan mengenal sensasi berkemih Obat-obatan untuk merelaksasikan kandung kemih dan estrogen Tindakan pembedahan untuk mengambil sumbatan yang dalam keadaan patologik dapat menyebabkan iritasi pada saluran kandung kemih bagian bawah.

c. Inkontinensia tipe luapan: Kateterisasi, bila mungkin secara intermiten, dan kalau tidak mungkn secara menetap. Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan. d. Inkontinensia tipe fungsional: Penyesuaian sikap berkemih antara lain dengan jadwal dan kebiasaan berkemih. Pakaian dalam dan kain penyerap khusus lainnya, Penyesuaian /modifikasi lingkungan tempat berkemih Kalau perlu gunakan obat-abatan yang dapat merelaksasikan kandung kemih

Farmakologi
antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra. Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan secara singkat.

Inkontinensia Alvi
Definisi Ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar. Hal ini meyebabkan feses bocor dari rectum pada waktu yang tak terduga. Kondisi ini lebih umum pada wanita dan lansia.

Etiologi
Dibagi menjadi 4 kelompok a. Inkontinensia akibat konstipasi b. Inkontinensia alvi simtomatik DM, tirotoksikosis, kerusakan sfingter anus postop hemoroid & prolapsus rekti c. Inkontinensia alvi neurologik pada penderita denga infark cerebri multiple atau penderita demensia.

d. Inkontinensia alvi akibat hilangnya reflek anal

Manifestasi Klinis
Secara klinis, inkontinensia alvi dapat tampak sebagai feses yang cair atau belum berbentuk dan feses keluar yang sudah berbentuk, sekali atau dua kali sehari dipakaian atau tempat tidur.

Tatalaksana
Pada OS dgn feses lunak / cair : Metilselulosa atau psilium + restriksi cairan Pada OS dgn diare non-infeksius : Loperamide (Imodium), 2-3x/hari,@2-4mg,max 16mg Meningkatkan waktu transit, absorbsi air dari feses Biofeedback : rectal sensitivity training & sphincter strength training