Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemanasan global (global warming) saat ini menjadi isu lingkungan. Gejala naiknya suhu permukaan bumi dikarenakan naiknya intensitas efek rumah kaca (ERK). Isu pemanasan global muncul karena mempunyai dampak yang sangat besar bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup, yaitu permukaan iklim dunia dan kenaikan permukaan laut. Intensitas ERK di atmosfer meningkat karena adanya peningkatan kadar gas rumah kaca (GRK) seperti uap air, CFC, ozon, dan sebagainnya ( Sunu, 2001). Persoalan dalam pemanasan global adalah bahwa kita perlu bertindak sebelum ada bukti, karena pada saat kita mempunyai bukti kuat tentang efek pemanasan global, waktu itu sudah terlambat menghentikannya. Namun, ada beberapa kepastian. Kita tahu bahwa atmosfer Bumi bertindak hampir seperti kaca pada rumah kaca. Atmosfer membiarkan kehangatan mataharu masuk tapi mencegah panas keluar. Tanpa atmosfer, bumi akan sedingin bulan (Jhamtani, 1993). Plankton dapat berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan. Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak (dawes, 1989). Keberadaan fitoplankton di suatu perairan memberikan kontribusi terbesar terhadap produktivitas primer di satu perairan. Menurut Steeman-Nielsen, kurang lebih 95% produktivitas primer di laut disumbangkan oleh fitoplankton. Namun ternyata tidak selamanya populasi fitoplankton yang padat dapat memberikan dampak positif pada kesuburan perairan. Pada beberapa kasus, ledakan

populasi fitoplankton justru menjadi bencana bagi kehidupan biota lainnya. Hal inilah yang kemudian disebut blooming atau ledakan populasi. Pada umumnya, fenomena blooming ditandai dengan berubahnya warna air laut yang dikenal dengan sebutan red tide atau pasang merah. Namun pada perkembangannya,
1

istilah ini sering menyesatkan karena ledakan fitoplankton ternyata tidak selalu dicirikan dengan warna merah (red). Blooming fitoplankton juga dapat

menyebabkan air laut berubah warna dari biru-hijau menjadi merah kecoklatan, hijau, atau kuning-hijau, bergantung pada pigmen yang dikandungnya. Bahkan dalam beberapa kasus, ledakan fitoplankton tidak menimbulkan warna apa-apa di permukaan laut (Nasran, 2011). Fitoplankton mempunyai peranan yang sangat penting di dalam suatu perairan, selain sebagai dasar dari rantai pakan (primary producer) juga merupakan salah satu parameter tingkat kesuburan suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur komunitas dan kelimpahan fitoplankton di Danau Laguna serta mempelajari keterkaitan antara kelimpahan fitoplankton dengan beberapa parameter fisika-kimia perairan (Yuliana, 2005). Kelimpahan plankton dan distribusi sangat tergantung pada faktor-faktor seperti konsentrasi hara, keadaan air dan kelimpahan plankton lain. Kelimpahan plankton bervariasi yaitu secara horizontal, vetikal, dan musiman. Sumber utama dari variabilitas ini adalah ketersediaan cahaya dan nutrisi. Untuk melengkapi dan menambah pengetahun dalam mempelajari ataupun mengidentifikasi blooming plankton maka saya berinisiatif membuat makalah tentang blooming plankton agar mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang lebih mendalam dan secara spesifik mengetahui proses blooming plankton (nasran, 2011). 1.2 Tujuan Tujuan tulisan ini adalah memberikan gambaran yang luas tentang kehidupan plankton yang memiliki peran dalam pengaturan pemanasan global (Global Warming). 1.3 Manfaat Adapun manfaat tulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Sebagai informasi mengenai peranan plankton dalam pengaturan pemanasan global 2. Untuk mengetahui apa peranan plankton dalam pengaturan global warming yang semakin terjadi pada zaman ini.

BAB II
TUNJAUAN PUSTAKA 2.1 Defenisi Pemanasan Global (Global Warming) Peningkatan suhu Bumi, ialah Pemanasan global disebabkan oleh timbunan gas-gas rumah kaca seperti karbon dioksida, metana, nitrat oksida dan klorofluorokarbon (CFC) di atmosfer. Timbunan ini memperangkapkan panas dari matahari sehingga menimbulkan peningkatan suhu. Seperti yang telah disebut, dan juga dinyatakan buku ini, ada banyak hal yang belum pasti tentang pemanasan global (Jhamtani, 1993). 2.1.1 Gas Rumah Kaca Gas rumah kaca atau greenhause gases adalah gas-gas yang menyebabkan terjadinnya efek rumah kaca (ERK). GRK dalam alam secara langsung mampu sebagai akibat pencemaran. GRK dalam atmosfer menyerap sinar inframerah yang dipantulkan oleh bumi. Peningkatan kadar GRK akan meningkatkan intensitas ERK yang dapat menyebabkan terjadinnya pemanasan global (sunu, 2001). Gas-gas rumah kaca yang paling penting, yang menangkap panas di dalam atmosfer adalah uap air dan karbon dioksida. Gas lain yang terdapat secara alami adalah metana, nitrat oksida dan ozon. Selain itu ada beberapa gas buatan, di mana yang terpenting adalah klofluorokarbon (CFC) yang mempunyai efek rumah kaca amat kuat (Jhamtani, 1993). 2.1.2 Efek Rumah Kaca ERK merupakan pengalaman para petani di daerah berikliman sedang yang menanam seperti sayur-sayuran, biji-bijian, buah-buahan di dalam rumah kaca. Pada siang hari sinar matahari menembus kaca, dipantulkan kembali oleh bendabenda diruangan rumah kaca sebagai gelombang panas yang berupa sinar inframerah. Oleh karena itu, udara didalam rumah kaca suhunya naik dan panas yang dihasilkan terperangkap didalam ruangan rumah kaca dan tidak tercampur dengan udara di luar rumah kaca. Akibatnya, suhu di dalam ruangan rumah kaca lebih tinggi dari pada suhu diluarnnya dan hal tersebut dikatakan sebagai efek rumah kaca (sunu, 2001)

Kerja gas rumah kaca dalam meningkatkan suhu kadang-kadang dinyatakan sebagai pemaksaan radioaktif. Penting untuk membedakan efek rumah kaca, yang merupakan sebuah proses alami, dari ancaman yang disebabkan emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. Peningkatan efek rumah kaca yang disebabkan oleh gas-gas tambahan ini kadanga-kadang dinyatakan sebagai efek rumah kaca antropogenik atau efek rumah kaca yang meningkat (Jhamtani, 1993). 2.2 Defenisi Plankton Secara sederhana plankton diartikan sebagai hewan dan tumbuhan renik yang terhanyut di laut. Nama plankton berasal dari akar kata Yunani planet yang berarti pengembara. Istilah plankton pertama kali diterapkan untuk organisme di laut oleh Victor Hensen direktur Ekspedisi Jerman pada tahun 1889, yang dikenal dengan Plankton Expedition yang khusus dibiayai untuk menentukan dan membuat sitematika organisme laut (Charton dan Tietjin, 1989). Biota yang mengapung ini mencakup sejumlah biota besar dilaut, baik ditinjau dari jenisnya maupun kepadatannya. Produsen primer (fitoplankton), herbivor, konsumen tingkat pertama, larva dan juwana planktonik dan hewan air, digabung menjadi satu membentuk volume biota laut yang luar biasa besarnya. Mereka hidup terbatas di lapisan perairan laut beberapa ratus meter dari permukaan laut (Romimohtarto, 2001). Plankton juga dibagi menjadi fitoplankton, yaitu organisma plankton yang bersifat tumbuhan dan zooplankton, yaitu plankton yangbarsifat hewan (Barus, 2004). 2.2.1 Fitoplankton Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopik (bersel tunggal, berbentuk filamen atau berbentuk rantai) yang menempati bagian atas perairan (zona fotik) laut terbuka dan lingkungan pantai. Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau "tanaman" dan planktos berarti "pengembara" atau "penghanyut. Walaupun bentuk uniseluler/bersel tunggal meliputi hampir sebagian besar fitoplankton, beberapa alga hijau dan alga biru-hijau ada yang berbentuk filamen (yaitu sel-sel yang berkembang seperti benang) (Sunarto, 2008).
4

Fitoplankton merupakan kelompok yang memegang peranan sangat penting dalam ekosistem air, karena kelompok dengan ini adany kandungan klorofil mampu melakukan fotosintesis. Proses fotosintesis pada ekosistem air yang dilakukan fitoplankton (produsen), merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisma air lainnya yang berperan sebagai konsumen, dimulai dengan zooplankton dan diikuti oleh kelompok organisma air lainnya yang membentuk rantai makanan. Dalam ekosistem air hasil dari fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton bersama dengan tumbuhan air lainnya disebut sebagai produktifitas primer. Fitoplankton hidup terutama pada lapisan perairan yang mendapat cahaya matahari yang dibutuhkan untuk melakukan proses fotosintesis (Barus, 2004). 2.2.2 Zooplankton Zooplankton merupakan plankton hewani yang terhanyut secara pasif karena terbatasnya kempuan bergerak. Berbeda dengan fitoplankton , zooplankton hampir meliputi seluruh filum hewan mulai dari protozoa (hewan bersel tunggal) sampai filum Chordata (hewan bertulang belakang). Para ahli kelauatn juga mengklasifikasikan zooplankton sesuai ukuran dan lamanya hidup sebagai plankton (Sunarto, 2008). Meskipun jumlah jenis dan kepadatannya lebih rendah daripada fitoplankton, mereka membentuk kelompok yang lebih beraneka ragam. Setidaktidaknya ada sembilanfilum yang mewakili kelompok zooplankton ini dan ukurannya sangat beragam, dari yang sangat kecil atau retnik sampai yang garis tenggahnya lebih dari 1 m ((Romimohtarto, 2001).

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Peran plankton dalam Memperlambat Proses Pemanasan Global (Global Warming) Para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan fitoplankton secara tidak langsung dapat membuat awan yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan.

Ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur. Fitoplankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, fitoplankton mengalami malnutrisi. Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, fitoplankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya. Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat

dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka. Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS).

DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara. Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan. Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet (Anonim, 2012). 3.2 Peranan Fitoplankton dalam Mengurangi Pemanasan Global Meski laut menjadi korban dari pemanasan global, sebenarnya laut pula yang dapat menyelamatkan bumi karena dengan fitoplankton-nya mampu menyerap emisi karbon. Di perairan laut keberadaan fitoplankton sangat berpengaruh, fitoplankton akan mengekstrak gas karbon dioksida dari atmosfer untuk proses fotosintesa. Fitoplankton merupakan mikroalgae yang melayang di permukaan air dan pergerakannya lebih banyak dibantu oleh arus laut dan merupakan biota yang dapat dimanfaatkan sebagai penyerap gas CO2 secara maksimal. Proses sederhana ini dapat terjadi di permukaan laut dan membutuhkan beberapa syarat seperti cukupnya sinar matahari untuk proses fotosintesa dan nutrisi di permukaan laut untuk mendukung pertumbuhan plankton di permukaan laut. Pergerakan atmosfer yang sangat dinamis mengakibatkan gas CO2 dapat tersebar secara merata di permukaan bumi. Dengan permukaan bumi yang sebagian besar merupakan lautan (sekitar 70%), terjadilah interaksi antara atmosfer dan permukaan laut sehingga melalui cara inilah emisi gas CO2 di atmosfer terdifusi ke dalam laut dan kemudian digunakan oleh fitoplankton untuk proses fotosintesis. Hasil sampingan dari reaksi biokimia ini berupa O2 akan digunakan oleh mahluk hidup di dalam air untuk proses respirasi. Di lautan terdapat ratusan jenis fitoplankton. Akibatnya, potensi lautan mengisap CO2 sangat tinggi. Ketika gas karbon mengendap ke permukaan air, maka akan berubah menjadi dua, yaitu karbon organik partikulat dan karbon organik terurai. Karbon partikulat akan tenggelam ke dasar laut. Sebagian lainnya akan dimakan biota laut. Meskipun demikian, apabila komposisinya di lautan terlalu berlebihan juga akan mengakibatkan dampak negatif terhadap biota laut lainnya seperti Red

tide. Keberadaan laut sebagai penyerap emisi gas CO2 di atmosfer masih kurang mendapat perhatian di zaman ini. Padahal menurut peneliti NOAA-AS (National Oceanic and Atmospheric Administion) Christopher Sabine, dalam majalah science, mengatakan bahwa laut mampu menyerap emisi gas CO2 dari atmosfer sebesar 48% atau 39 miliar ton. Dengan daya serap yang sangat tinggi, peran laut untuk mengurangi laju pemanasan global yang terjadi saat ini tidak terelakkan. Fitoplankton membuat laut bagaikan hutan tropis bawah air. Walaupun memiliki ukuran yang sangat kecil, mulai dari mikro meter (10-6) hingga pico meter (1012), sehingga membuat tumbuhan air ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Dengan jumlah yang tidak terbatas, keberadaan tumbuhan bawah laut ini sangat penting dalam mengatasi pemanasan global. Namun, keberadaan fitoplankton sebagai hutan tropis bawah laut untuk penyerap global emisi gas CO2, sangat tergantung pada daya dukung lingkungan laut tersebut. Fitoplankton dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sangat tergantung dari kemampuan sinar matahari menembus lapisan permukaan air sehingga proses konversi CO2 dalam chloroplas dapat terjadi. Jika kandungan CO2 di dalam air laut telah mencapai titik jenuh atau supersaturasi, maka CO2 di atmosfer akan sulit diserap oleh permukaan laut dan bahkan air laut dapat melepaskan (source) CO2 ke atmosfer sebagaimana terjadi di perairan yang sering mengalami penggangakatan massa air laut (up-welling) atau tercemar. Sehingga dengan menjaga perairan laut kita dari polusi merupakan salah satu kontribusi terbesar dalam menjaga perairan laut kita tetap mampu menyerap emisi gas CO2 di atmosfer. Dengan demikian

makna laut dalam pembangunan baik dalam ekonomi maupun jasa lingkungan kini makin penting, sehingga perlu pengarus-utamaan kelautan dalam kebijakan nasional, khususnya dalam kebijakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Sehingga, masa depan laut kita sangat tergantung dari kecerdasan kita mendesain kebijakan mengantisipasi perubahan iklim global ini (Education, 2011) 3.3 Peran fitoplankton dalam mengurangi efek rumah kaca Fitoplankton tumbuh terlewat subur atau kandungan unsur-unsur hara sangat berlebihan akan membahayakan kehidupan di perairan. Kondisi lewat subur semacam ini disebut Yutrofikasi.pada siang hari, produksi oksigen terlarut sangat tinggi, bahkan seringkali terjadi kondisi yang lewat jenuh (over saturated).
8

Sedangkan pada malam hari, sering terjadi kondisi anoxic (kehabisan oksigen), akibat penggunaan untuk respirasi dan perombakan bahan-bahan orhanik, dari organisme yang telah mati. Sebagai contoh dari yutrofikasi di perairan pantai adalah peristiwa yang sering disebut red tides. Sebutan red tidesini karena adanya ledakan (blooming) jumlah fitoplankton, sebagai akibat dari banyaknya unsur hara, baik yang berasal dari limbah penduduk, limbah pertanian, ataupan lainnya, seperti up welling, yang menyebabkan warna air laut menjadi kemerahan (supriharyono, 2000). Potensi fitoplankton untuk menyerap emisi Karbondioksida di Atmosfer dalam upaya mengurangi isu global.Isu lingkungan yang menjadi permasalahan internasional saat ini adalah pemanasan global (global warming). Pemanasan global disebabkan oleh peningkatan gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca tersebut akan menyebabkan terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect). Gas rumah kaca terbesar adalah karbondioksida (CO2). Umumnya peningkatan CO2 berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, pemakaian bensin dan solar pada kendaraan, pembuangan limbah pabrik, dan penggundulan hutan. Dampak dari meningkatnya CO2 di atmosfer antara lain: meningkatnya suhu permukaan bumi, naiknya permukaan air laut, anomali iklim, timbulnya berbagai penyakit pada manusia dan hewan. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju peningkatan emisi CO2 di atmosfer. Upaya terbesar untuk mengatasi peningkatan emisi CO2 di tingkat internasional adalah dengan meratifikasi Protokol Kyoto (persetujuan internasional mengenai pemanasan global). Semua negara di dunia diwajibkan untuk mendukung terwujudnya Protokol Kyoto dengan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya yang ada. Salah satu sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi emisi CO2 adalah lautan. Di dalam lautan terdapat berbagai organisme laut yang dapat menyerap CO2. Organisme laut yang dapat menyerap emisi CO2 diantaranya adalah fitoplankton. Fitoplankton merupakan organisme autotrof yang mempunyai klorofil sehingga dapat melakukan proses fotosintesis. Bacillariophyceae merupakan kelas fitoplankton yang mendominasi di suatu perairan. Indonesia mempunyai lautan yang luasnya mencapai 5,8 juta km2 sehingga keberadaan Bacillariophyceae di perairan Indonesia melimpah dan berpotensi besar untuk menyerap emisi CO2 (Anonim, 2009).

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan 1. Plankton memiliki peranan yang sangat baik dalam pengaturan pemanasan global yang merupakan masalah terbesar di Dunia pada zaman sekarang 2. Hampir seluruh oksigen (O2) belasal dari perairan (air tawar dan air laut) yang dihasilkan oleh fitoplankton dengan melakukan fotosintesis 3. Plankton dapat menyerap karbondioksida yang merupakan unsur penyebab pemanasan global, karbon dioksida digunakan plankton sebagai bahan untuk melakukan fotosintesis 4.2 Saran Lestarikan lah ekosistem plankton di perairan dengan cara tidak mengotori perairan karena plankton sangat memberikan pengaruh positif terhadap pemasalahan pemanasan global (global warming) walaupun plankton juga dapat memberikan dapak negatif yaitu menyebabkan terjadinya blooming.

10

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. peranan fitoplankton dalam mengurangi efek rumah kaca. http://id.shvoong.com/exact-sciences/zoology/1944281-peranfitoplankton-dalam-mengurangi-efek/ (diakses pada 1 maret 2012). . 2012. Peran plankton dalam Memperlambat Proses Pemanasan Global. http://AQUACULTURE%20%20Pengaruh%20Plankton%20Terhadap%2 0Pemanasan%20Global.htm (diakses pada 5 maret 2012). Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. USU press. Medan. Charton, B dan J. Tietjen. 1989. Seas and Oceans. Collin. Glassglow and London. Dawes, C.J. 1981. Marine Botany. A Willey Interscience Publ : 628 p Education. 2011. Peranan fitoplankton dalam mengurangi pemanasan global. http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/02/peran-fitoplankton-dalammengurangi.html. Jhamtani, H. 1993. Pemanasan global. Yayasan obor indonesia. Jakarta. Nasran. 2011. Tugas Blooming Plankton. Mspnasran.blogsport.com/2011/11/ tugas-bloming.plankton.html. Sunarto. 2008. Kereteristik Biologi dan Peranan Planktonologi bagi Ekosistem Laut.www.pustaka.unpad.ac.id.-kareteristik-biologi-dan-peranan plankton. Sunu,P. 2001. Melindungi lingkungan. PT.Gramedia. Jakarta. Romimohtarto, K. dan Juwana. 2009. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang BiotaLaut. Djambatan. Jakarta. Yuliana,dan Tamrin. 2007. Fluktuasi di danau laguna Ternate, Maluku utara. Lip (belum dipublikasikan).

11