Anda di halaman 1dari 2

Penyerapan kornea obat yang diberikan melalui kornea berangsur-angsur harus menembus mata.

Penyerapan kornea lebih efektif dari penyerapan scleral atau konjungtiva. Banyak obat tetes mata adalah basa lemah dan diterapkan pada mata sebagai larutan garam. Basa bebas dan garam akan berada dalam keseimbangan yang akan tergantung pada pH dan karakteristik individu dari senyawa. Untuk membantu dalam menjaga stabilitas penyimpanan dan kelarutan, obat mungkin bersifat asam namun pada saatnya akan berangsur-angsur aksi dinetralkan dari cairan lakrimal yang akan mengubahnya dengan cepat ke kisaran pH fisiologis (sekitar pH 7,4), di mana akan ada cukup bebas hadir dasar untuk memulai penetrasi epitel kornea. Setelah didalam epitel yang memisahkan basa bebas tak terdisosiasi menjadi segera terdisosiasi. Bagian gugus disosiasi kemudian akan cenderung menembus stroma karena sifatnya yang larut air. Di junction stroma dan endotelium proses yang sama yang berlangsung di permukaan luar epitel harus terjadi lagi. Akhirnya, obat terdisosiasi meninggalkan endotelium aqueous humor. Disini dapat dengan mudah berdifusi ke iris dan ciliary body, ke situs aksi farmakologis (menurut RPS hal. 1583).

1. Non-Corneal Absorption Penetrasi melalui Sclera & Conjuctiva untuk masuk ke dalam jaringan mata. Non-Productive: karena penetrasi obat diabsorpsi ke sirkulasi umum.

2. Corneal absorpsi Outer Epithelium: rate limiting barrier, dengan ukuran pori 60, hanya bisa untuk ion kecil & molekul lipofilik. Trans cellular transport: transport between corneal epithelium & stroma (menurut, web ppt)

Absorpsi pemakaian pada mata (web PDF) Obat hrs menembus bgn dalam mata, baik struktur hidrofil maupun lipofil. Epitel kornea dan endotel kornea berfungsi sbg pembatas lipofil, sdgkan zat hidrofil dpt berdifusi melalui stroma. Dengan demikian, kondisi penembusan akan sangat menguntungkan untuk obat yg dapat menunjukkan sifat lipofil dan hidrofil bersama-sama. Ini terjadi pada asam lemah dan basa lemah yg sebagian dalam btk tak terionisasi, shg bersifat larut lemak dan bgn yang terionisasi shg bersifat larut dalam air. Menurut, farmasetika, moh.Anief 1993).

Masuknya obat ke dalam mata dapat digambarkan sebagai berikut: Kebanyakan substansi ini akan mudah melalui kornea apabila zat tersebut mempunyai kelarutan bifase. Biasanya obat untuk tetes mata adalah basa lemah dan merupakan garamnya dalam larutan ini. Selanjutnya, air mata akan menetralkan larutan tetes mata sampai range pH fisiologis (pH = 7,4), dan tergantung pada derajat dissosiasinya, sebagian garamnya akan berubah menjadi bentuk basa bebas, umumnya larut dalam lipoid, maka itu mudah diangkut kedalam sel epitel yang kaya lipoid. Bentuk basa bebas masuk ke dalam substanti propria yang merupakan lapisan laminair, sedikit mengandung lipoid dan kaya dalam sifat berair. Tergantung dari lingkungan berair dalam substansi propria, basa bebas berubah menjadi proton, dan waktu mau melalui lapisan lipoid dari endothelium, berubah lagi menjadi basa bebas masuk aquaeous humor dan segera berdifusi ke dalam air dan ciliary body dimana aksi farmakologis terjadi.