Anda di halaman 1dari 12

Asiditas adalah kapasitas kuantitatif air untuk bereaksi dengan basa kuat sehingga menstabilkan

pH hingga mencapai 8,3 atau kemampuan air untuk mengikat OH-. Untuk mencapai pH 8,3 dari pH asal yang rendah. Semua air yang memiliki pH <8,5 mengandung asiditas. Pada dasarnya, asiditas (keasaman) tidak sama dengan pH. Asiditas melibatkan dua komponen, yaitu jumlah asam, baik asam kuat maupun asam lemah (misalnyaasam karbonat dan asam asetat), serta konsentrasi ion hidrogen. Menurut APHA (1976) dalam Effendi (2003), pada dasarnya asiditas menggambarkan kapasitas kuantitatif air untuk menetralkan basa sampai pH tertentu, yang dikenal dengan baseneutralizing capacity (BNC); sedangkan Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa pH hanya menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. Pada kebanyakan air alami, air buangan domestik, dan air buangan industry bersifat buffer karena sistem karbondioksida-bikarbonat. Pada titrasi beberapa asam lemah, dapat diketahui bahwa titik akhir stoikiometri dari asam karbonat tidak dapat dicapai sampai pH sekitar 8,5. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua air yang memiliki pH < 8,5 mempunyai sifat asiditas. Biasanya titik akhir phenophtaleinpada pH 8,2 sampai 8,4 digunakan sebagai titik referensi. Dari titrasi terhadap asam karbonat dan asam kuat, diketahui bahwa asiditas dari air alami disebabkan oleh CO2 yang merupakan agen efektif dalam air yang memiliki pH> 3,7 atau disebabkan oleh asam mineral kuat yang merupakan agen efektif dalam air dengan pH < 3,7. Dapat dikatakan bahwa asiditas di dalam air disebabkan oleh CO2 terlarut dalam air, asam-asam mineral (H2SO4, HCl, HNO3), dan garam dari asam kuatdengan basa lemah.

DEFINISI ASIDITAS
Menurut Buku Kimia air: Asiditas adalah kapasitas air untuk menetralkan OH-. Penyebab dari asiditas umumnya adalah asam-asam lemah seperti, HPO42-, H2PO4-, CO2, HCO3-, protein dan ion-ion logamyang bersifat asam. Menurut Kamus kesehatan : Asiditas atau keasaman adalah tingkat asam dalam suatu zat. Asiditas diukur pada skala yang disebut skala pH.Pada skala ini, nilai pH 7 adalah netral, dan nilai Ph kurang dari 0 sampai 7 menunjukkan peningkatan keasaman. Istilah yang mungkin terkait dengan Asiditas : Asam pH Skala Depresi Gertiatrik Minnesota Multiphasic Personality Inventory Log

Menurut buku Laporan Kerja : Asiditas adalah hasil dari adanya asam lemah seperti H2PO4-, CO2, H2S, asam-asam lemak, dan ion-ion logam asam, terutama Fe3+. Asiditas lebih sukar ditentukandaripada alkalinitas, karena dua kontributor utamanya adalah CO2 dan H2S merupakan larutan volatile yang segera hilang dari sample. (Syafila, Mindriany). Untuk asam kuat seperti H2SO4dan HCl dalam air dikenal dengan

istilahasam mineral bebas (freemineral acid). Acid Mineral Water mengandung asam mineral bebas dalam konsentrasi yang harus diperhitungkan. Asiditas atau keasaman adalah tingkat asam dalam suatu zat. Asiditas diukur pada skala yang disebut skala pH. Pada skala ini, nilai pH 7 adalah netral, dan nilai pH kurang dari 0 sampai 7 menunjukkan peningkatan keasaman. Asiditas adalah kemampuan/kapasitas air untuk menetralkan ion OH. Penyebab Asiditas umumnya adalah asamasam lemah, seperti H2PO4-, HPO4, CO2, HCO3,Protein dan ion-ion logam bersifat asam seperti Fe3+. Penentuan asiditas lebih sulit dibanding alkalinitas. Hal ini di sebabkan oleh adanya2 (dua) zat utama yang berperan yaitu CO2dan H2S yang keduanya mudah menguap,mudah hilang dari sampel yang di ukur. Total asiditas di tentukan oleh satuan dengan basa sampai titik akhir Fenolptalin (pH8,2). Maka untuk asam mineral bebas di tentukan oleh satuan basa lemah sampai titikakhir indicator methil jingga pada pH 4,3. Untuk asam kuat seperti H2SO4 dan HCl dalam air dikenal dengan istilah asammineral bebas (free mineral acid). Acid Mineral Water mengandung asam mineral bebas dalam konsentrasi yang harus diperhitungkan.(Manahan,Stanley). Asiditas pada sistem air alami adalah kapasitas air untuk menetralisir OH-. Air asam biasanya tidak diperhitungkan, kecuali untuk kasus polusi berat. Asiditas biasanya merupakan hasil dari adanya asam lemah seperti H2PO4-, CO2, H2S, protein, asam-asam lemak dan ion-ion logam asam, terutama Fe3+ . Asiditas lebih sukar ditentukandaripada alkalinitas, karena dua kontributor utama, CO2dan H2S, merupakan larutanvolatil yang segera hilang dari sampel (Mindriany Syafila, 1994) : CO2+ OHH2S + OH HCO3HS + H2O

Istilah asam mineral bebas (free mineral acid ) adalah asam kuat seperti H2SO4danHCl di dalam air. Asiditas total ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titikakhir phenolphtalein (pH 8,2). Asam mineral bebas ditentukan oleh titrasi dengan basauntuk mencapai titik akhir methyl orange (pH 4,3). Karakter asam dari ion-ion logamasam, dan biasanya beberapa merupakan asam kuat (Mindriany Syafila, 1994). Alkalinitas merupakan penyangga (buffer) perubahan pH air dan indikasi kesuburan yang diukur dengan kandungan karbonat. Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan(Anonymous A,2010). Asiditas air adalah kapasitas air untuk menetralkan basa kuat pada suatu pH tertentu. Dengan titrasi mempergunakan larutan-larutan baku NaOH, adanya asam-asam mineral kuat, asam-asam mineral, garam-garam yang bisa dihidrolisa dan totaltotal asiditas bisa diperiksa. Tergantung dari sifat, contoh dan keintensifan analisa,prosedur yang digunakan dan data yang dihasilkan bervariasi dari titrasi langsung yangmenggunakan indikator warna sampai ke pembentukan kurva titrasi potensiometrik. Pemeriksaan rutin air yang tidak berwarna atau agak jernih dapat dilakukan dengantitrasi langsung dengan asiditas fenolftalein atau asiditas jingga-metil. Bila airnya keruhatau berwarna, maka penentuan asiditas bila dikalibrasi dengan pH meter. Untuk asiditas jingga-metil pH titik akhir 3,7 dan untuk asiditas fenolflaten 8,3. Penentuan titik akhir yang paling tepat dilakukan dengan membuat kurva titrasi,dengan mengaplot pH yang dibaca terhadap volume titran yang ditambahkan. Titik belok pada daerah curam penyatakan pH titik akhir. Hasil asiditas dinyatakan dalam mgCaCO3/liter.

Contoh yang mengandung residual klor bebas atau ion-ion logam yang bisadihidrolisa, membutuhkan penanganan khusus atau perlakuan pendahuluan. Pada percobaan penentuan alkalinitas dan asiditas dapat menggunakan air sampel apapun, seperti air sungai, danau, rawa, dan lain-lain. Percobaan ini untuk menentukankadar alkalinitas dan asiditas air kran. Sebelum memulai percobaan dilakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Isikan 100 ml air pada labu A dan labu B, kemudian beri tiga tetes indicator MO pada labu A dan tiga tetes indicator PP pada labu B. amati perubahan warna pada labu, yaitu pada labu A berwarna kuning dan labu B tidak berwarna. Dengan demikian, makalabu A dikatakan negative dan labu B positif, karena jika air mengandung ion-ion pembentuk asam (CaCO3dan CO2), maka ketika ditetesi indicator MO akan berwarna orange, dan ketika ditetesi indicator PP tidak berwarna. Untuk mengetahui asiditas air, maka metode yang digunakan, yaitu metoddetitrasi, karena asiditas, maka menggunakan NaOH 0,1 N (basa kuat) sebagai titrannya. Pada proses titrasi dilakukan dari yang tidak berwarna hingga tepat berubah menjadi pink tipis. Catat volume sebelum titrasi dan catat pula volume akhir titrasi dan catat pula volume akhir titrasi untuk mendapatkan volume titrasi. Percobaan ini dilakukan tiga kaliagar lebih akurat data yang di peroleh. Setelah semua data yang di peroleh, lakukan perhitungan asiditasair dengan rumus (V = volume titrasi, F = faktor koreksi, BE = berat ekuivalen), sehingga di dapat nilai 32,860 ppm sebagai CO2 pada asiditas PP. Namun, pada asiditas MO bernilai 0 ppm,karena ketika labu A ditetesi indicator MO bernilai negative, maka tidak dilakukan titrasi,sehingga bernilai 0 ppm. Dengan demikian, air tersebut mengandung 32,860 mg setiapliternya sebagai CO2. Titrasi adalah cara penetapan kadar suatu larutan dengan menggunakan larutanstandar yang sudah diketahui konsentrasinya. Metode seperti ini biasanya dilakukan dilaboratorium. Beberapa jenis titrasi yaitu: 1. titrasi asam basa 2. titrasi redoks 3. titrasi pengendapan Pada percobaan asiditas alkalinitas, jenis titrasi yang digunakan adalah titrasi asambasa.(www.wikipedia.org/titrasi) Asiditas dan alkalinitas sangat bergantung pada pH air. Pengawasan kebasahandata dapat dilakukan ketentuan, yaitu: 1. asiditas sebagai H+ hanya ada dalam air pada pH <4,5; 2. asiditas sebagai CO2 hanya ada dalam air pada pH antara 4,5 8,3; 3. alkalinitas sebagai HCO3-, hanya ada dalam air pada pH 4,58,3; 4. alkalinitas sebagai CO32-, hanya ada dalam air pada pH >8,3; 5. alkalinitas sebagai hidroksida hanya ada dalam air pada pH lebih besar dari10,5.

JENIS ASIDITAS
Pada umumnya terdapat beberapa jenis yang menyebabkan keasaman dalam air adalah: 1. Karbon dioksida (CO2)

umumnya terdapat dalam air permukaan dimana CO2 diserap dari udara jikat e k a n a n C O 2 d a l a m a i r > d a l a m u d a r a . C O 2 juga terdapat dalam a i r k a r e n a pr o s e s d e k o m p o s i s i ( o k s i d a s i ) z a t o r g a n i k o l e h mikroorganisme.Umumnya juga terdapat dalam air yang telah tercemar. 2. Asam mineral u m u m n y a t e r d a p a t d a l a m a i r l i m b a h i n d u s t r i p e n g o l a h a n logam atau pembuatan senyawa kimia. Kadangk a d a n g j u g a t e r d a p a t dalam air alam. 3. asam humus umumnya terdapat dalam air rawa atau danau karena adanya rumput-rumputanatau tumbuhtumbuhan yang hidup dalam air tersebut melepaskan senyawaasam dan warna

Jenis Jenis Asiditas terbagi :


1.Asiditas Total (Asiditas Phenophtalein) Asiditas total merupakan asiditas yang disebabkan adanya CO2 dan asam mineral. Karbondioksida merupakan komponen normal dalam air alami. Sumber CO2 dalam air dapat berasal dari adsorbsi atmosfer, proses oksidasi biologi materi organik,aktivitas fotosintesis, dan perkolasi air dalam tanah. Karbondioksida dapat masuk kepermukaan air dengan cara adsorbsi dari atmosfer, tetapi hanya dapat terjadi jikakonsentrasi CO2 dalam air < kesetimbangan CO2 di atmosfer. Karbondioksida dapat diproduksi dalam air melalui oksidasi biologi dari materi organik, terutama pada air tercemar. Pada beberapa kasus, jika aktivitas fotosintesis dibatasi, konsentrasi CO2 didalam air dapat melebihi keseimbangan CO2 di atmosfer dan CO2 akan keluar dari air. Air permukaan secara konstan mengadsorpsi atau melepas CO2 untuk menjaga keseimbangan dengan atmosfer. Air tanah dan air dari lapisan hypolimnion di danau dan reservoir biasanyamengandung CO2 dalam jumlah yang cukup banyak. Konsentrasi ini dihasilkan darioksidasi materi organik oleh bakteri dimana materi organik ini mengalami kontakdengan air dan pada kondisi ini CO2 tidak bebas untuk keluar ke atmosfer. CO2 merupakan produk akhir dari oksidasi bakteri secara anaerobik dan aerobik. Olehkarena itu konsentrasi CO2 tidak dibatasi oleh jumlah oksigen terlarut. 2.Asiditas Mineral (Asiditas Metil Orange) Asiditas mineral merupakan asiditas yang disebabkan oleh asam mineral. Dapat juga disebut asiditas metil orange karena untuk menentukan titik akhir titrasi digunakan indikator metil orange untuk mencapai pH 3,7. Asiditas mineral di dalam air dapatberasal dari industri metalurgi, produksi materi organik sintetik, drainase buangantambang, dan hidrolisis garam-garam logam berat Asiditas mineral terdapat di limbah industri, terutama industri metalurgi danproduksi materi organik sintetik. Beberapa air alami juga mengandung asiditas mineral.Kebanyakan dari limbah industri mengandung asam organik. Kehadirannya di alamdapat ditentukan dengan titrasi elektrometrik dan gas chromatografi.

KLASIFIKASI ASIDITAS Ada 2 cara untuk menentukan asiditas, yaitu: 1. asiditas total, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhir fenolftalein (pH 8,3) 2. asam mineral bebas, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapaititik akhir methyl orange (pH 4,5). Asiditas dalam air disebabkan oleh karbon dioksida (CO2)asammineral. Adanya asiditas dalam air ditunjukkan oleh pH air tersebut di bawah 8,5. Air dengan pH < 4,5 hanya mengandung asam mineral (kuat). Asiditas oleh CO2 dan asam mineral ini ditentukan dengan menggunakanlarutan baku asam. Asam mineral di titrasi sampai pH mencapai kira-kira 4,5.Karena Methyl Orange (MO) / metil jingga biasanya digunakan sebagaiindicator untuk penentuan asiditas oleh asam mineral, maka biasa disebutsebagai asiditas MO. Titrasi dengan menggunakan indicator PP sampai pH 8,3 untuk menentukanasam mineral dan asam lemah (asiditas jumlah). Asiditas jumlah ini seringdisebut sebagai asiditas phenol pthalein. Asiditas melibatkan dua komponenya yaitu: 1. asam kuat Asam kuat, yaitu asam yang banyak menghasilkan ion yang ada dalamlarutannya (asam yang terionisasi sempurna dalam larutannya) dan jugamerupakan elektrolit kuat. Ketika asam dilarutkan dalam air, sebuah proton (ion hidrogen) ditransferkan ke molekul air untuk menghasilkan ion hidroksonium dan sebuahion negatif tergantung pada asam yang anda pakai. Pada kasus yang umumReaksi tersebut reversibel, tetapi pada beberapa kasus, asam sangat baik pada saat memberikan ion hidrogen yang dapat kita fikirkan bahwa reaksi berjalansatu arah. Asam 100% terionisasi. Sebagai contoh, ketika hidrogen kloridadilarutkan dalam air untuk menghasilkan hidrogenklorida, sangat sedikit sekaliterjadi reaksi kebalikan yang dapat kita tulis:Pada tiap saat, sebenarnya 100% hidrogen klorida akan bereaksi untuk menghasilkan ion hidroksonium dan ionklorida. Hidrogen klorida digambarkan sebagai asam kuat. 2. asam lemah (asam karbonat, Asam asetat, konsentrasi ion hydrogen) Asam lemah, adalah asam yang sedikit menghasilkan ion yang ada dalamlarutannya (hanya terionisasi sebagian). asam lemah digolongkan dalamelektrolit lemah, hal ini karena tidak semua zat yang bereaksi terurai menjadiion2nya namun hanya sebagian kecil saja. untuk menunjukkan besarnya zatyang terurai menggunakan derajad dissosiasi.

Jika kalian perhatikan reaksi umum dalam asam lemah sama saja dengan reaksiasam kuat, hanya saja reaksi dalam asam lemah berlangsung 2 arah, arah pertama = reaksi dari kiri ke kanan, terjadi peruraian zat asam menjadiion2nya arah kedua = reaksi dari kanan ke kiri, terjadi penggabungan ion2 menjadi zatpenyusunnya

kedua reaksi di atas terjadi terjadi bersamaan hingga konsentrasi zatasam dan hasil peruraiannya tidak berubah2 lagi. yang sering dikenal dengan titik setimbang / eqivalen. Saat terjadinya titik eqivalen inilah besarnya derajaddissosiasi dapat dicari. REAKSI ASIDITAS Reaksi-reaksi yang terjadi pada asiditas : H+ CO2 HCO3+ + + OHOHH+ H2 O HCO3H2O + CO2

Pereaksi yang terjadi adalah : Larutan H2SO40,1 N Encerkan 0,28 ml H2SO4 pekat ke dalam 1L air. Larutan H2SO4 0,02 N Pipet 200 ml H2SO4 0,1 N ke dalam 1L air. Larutan standar Na2CO3 Timbang 5 mg Na2CO3 masukkan ke dalam 1L air. Ada 2 cara untuk menentukan asiditas, yaitu: 1. asiditas total, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titik akhir fenolftalein 2. asam mineral bebas, ditentukan oleh titrasi dengan basa untuk mencapai titikakhir metal orange. ( Syafila, Mindriany) Titrasi adalah cara penetapan kadar suatu larutan dengan menggunakan larutanstandar yang sudah diketahui konsentrasinya. Metode seperti ini biasanya dilakukan dilaboratorium. Beberapa jenis titrasi yaitu : 1. titrasi asam basa 2. titrasi redoks 3. titrasi pengendapan PERCOBAAN ALAT : Labu Erlenmeyer 250 ml (4 buah) Buret basa (1 buah) Corong (1 buah) Statif (1 buah) Gelas beker 50 ml (1 buah)

Pipet tetes ( 2 buah) Buret asam (1 buah) Gelas ukur 100 ml (1 buah) BAHAN : Air kran Aquadest Indicator PP Larutan standar NaOH 0,1 N Indicator MO Lrutan standar HCl 0,1 N

PEMERIKSAAN 1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Bilas dan cuci alat yang terbuat dari kaca dengan aquadest hingga tiga kali. 3. Takar air kran dengan gelas ukur sebanyak 100 ml. kemudian tuang pada labuErlenmeyer. Ulangi sekali lagi pada labu Erlenmeyer yang lain. 4. Tetesi air pada labu Erlenmeyer yang pertama dengan indicator MO sebanyaktiga tetes, kemudian beri nama labu A. pada labu ke dua tetesi dengan indicator PP sebanyak tiga tetes dan beri nama labu B. 5. Amati abu A, bila terjadi perubahan warna menjadi orange (positif) dilanjutkantitrasi. Bila berwarna kuning tidak dilanjutkan titrasi. 6. Amati labu B, bila tidak terjadi perubahan warna (positif) dilanjutkan titrasi. Bilaberwarna pink tidak dilanjutkan titrasi. 7. Titrasi labu B (karena labu A negative) dengan titran NaOH 0,1 N. catat volumeawal, volume akhir, dan volume titrasi. Ketika berubah menjadi warna pink tipis,ulangi titrasi sebanyak tiga kali. 8. Lakukan perhitungan sesuai dengan data yang diperoleh. 9. Cuci semua alat yang digunakan dan kembalikan pada tempat semula. Pada percobaan di atas adalah percobaan yang sering digunakan dalamlaboratorium klinik, namun tidak menuntut kemungkinan adanya percobaan percobaan yang lain yang dapat dilakukan pula pada percobaan asiditas air lainnya. Seperti pada pecobaan asiditas yang selanjutnya, Pengambilan contoh I : Contoh dikumpulkan dalam gelas borosilikat 500 ml atau 1 liter atau botolpolyetilen. Istilah penuh dengan air dan tutup dengan kuat. Contoh yangdikumpulkan harus dianalisa pada satu hari itu. Simpanlah contoh pada tempatyang dingin, hindari pengocokan dan kontak langsung dengan udara. Peralatan : PH meter magnetic stirrer Peralatan titrasiburet 50 ml, 25 ml, dan 10 ml Hot plate

Bahan : Air destilata bebas CO2 (didihkan sebelumnya) Larutan KH-ftalat 0,05 N bebas CO2 Larutan NaOH 0,1 N baku Cara Standarisasinya : Pipet 40 ml larutan KH-ftalat dalam wadah untuk titrasi potensiometri.Tempatkan larutan NaOH dalam buret 25 ml dan titrasi berlangsung sampai titikbelok di dekat pH 8,7. Catatlah volume titran. Perhitungan normalitas N = AxB 204,2 x C

A = gram KH-ftalat yang digunakan untuk pembuatan larutan 0,05 N B = ml larutan KH-ftalat yang digunakan dalam titrasi C = ml titran NaOH Larutan NaOH 0,02 N baku. Cara standarisasinya sama dengan padastandarisasi NaOH 0,1 N, hanya dengan volume titrat 15 ml. Larutan hydrogenperoksida 30 %. Indikator fenolflatein Indikator jingga-metil Larutan Na-tiosulfat 0,1 N Larutan H2SO4 0,02

Prosedur : 1. Pilihlah ukuran contoh dan normalitas titran a. Contoh yang mempunyai asiditas dibawah 1000 mg CaCO3/liter,gunakan 50 ml atau lebih dari contoh dan titrasi dengan NaOH0,02 N. b. Contoh yang mempunyai asiditas di atas 1000 mg CaCO3/liter,gunakan 250 ml atau kurang dari contoh dan titrasi dengan NaOH0,1 N. c. Bila sifat dan konsentrasi contoh tidak diketahui, gunakan 100 mlcontoh. Secara kasar titrasi dengan titran NaOH 0,1 N, denganindikator fenolflatein catat volume perkiraan itu. d. Sesuaikan volume contoh atau normalitas titran sehingga bilamenggunakan buret 50 ml, kurang lebih digunakan titran 20 mlatau lebih untuk menetralkan asiditas. e. Ulangi butir c dan d dengan menggunakan indikator jingga-metiluntuk asiditas jingga-metil. 2. Titrasi perubahan warna

a. Aturlah suhu contoh (bila disimpan dalam refrigerator) sesuaidengan suhu kamar. Contoh jangan sekali-kali dikocok atauditekuk. Pipetlah contoh air dengan volume yang cocok (lihat butir 1) ke dalam Erlemeyer 250 ml. b. Bila diperkirakan terdapat klor bebas, tetesakan 1 tetes larutanNa-tiosulfat 0,1 N. c. Tambahkan 2 tetes larutan indikator, dan bila volume contohkurang dari 100 ml, encerkan contoh tersebut sampai 100 mldengan air suling. Titrasi dengan larutan NaOH dengankonsentrasi yang cocok (lihat butir 1).Catatan : perubahan warna fenolftalein dari tidak berwarna kewarna pink permanen pertama. Perubahan warna jingga-metil darimerah ke kuning permanen pertama. d. Catatlah volume dan normalitas dari titran NaOH yang digunakandan nyatakan apakah dalam pengukuran asiditas jingga-metil atauasiditas fenolftalein. e. Perhitungan asiditas Asiditas mg CaCO/liter = dimana: N = normalitas NaOH hasil perhitungan yangdigunakan C = ml NaOH yang digunakan 50 = bobot Ekwivalen CaCO Pengambilan contoh II: Bahan : 1. Sampel air 100 ml ( V1= 50 ml, V2= 50 ml ) 2. Indikator PP 3. Larutan standar NaOH 0,1 Nb) Alat : 1. Pipet 2. Gelas ukur 100 ml 3. 2 Gelas Erlenmeyer 50 ml 4. Buret + Statis 100 m Cara Kerja : 1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Ambil 100 ml air sampel dengan gelas ukur lalu masukan kedalam labuelemeyer. 3. Kemudian menambahkan 3 tetes indikator PP 0,1% , bila tidak terjadiperubahan warna (positif) dilanjutkan titrasi. Bila berwarna pink tidakdilanjutkan titrasi. 4. Kemudian menitrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahanwarna dari tidak berwarna sampai menjadi merah muda atau pink tipis.ulangi titrasi sebanyak tiga kali. 5. Kemudian mencatat jumlah NaOH yang digunakan untuk titrasi. catatvolume awal, volume akhir, dan volume titrasi N x C x 50 x 1000 mL contoh

6. Lakukan perhitungan sesuai dengan data yang diperoleh 7. Perhitungan : Aciditas = 1000CAV1+V22t(4,4)1 Keterangan : CA= jumlah sampel V1 = titrasi I V2 = titrasi II INTERPRETASI HASIL 1. pH sampel air setelah diteteskan indicator PP, yaitu 7,60 2. pH sampel air setelah dititrasi dengan NaOH 0,1 N adalah 8,02 3. Penentuan Aciditas : Diketahui : CA = 100 ml V1 = 0,1 ml V2 = 0,1 ml Penyelesaian : Aciditas

= 1000CAV1+V22t4,41 = 10001000,1+0,124,41 = 100,14,41= 4,4 mg CO2

DATA PERCOBAANASIDITAS Percobaan I Standarisasi NaOH f = 0,79 NaOH digunakan (P ml) P ml I : 4,8 ml II : 4,9 ml III : 2,9 ml +12,6 ml Rata-rata : 12,6 m l= 4,2 ml 3ME CaCO3= Mr CaCO3= 100 valensi 2 = 50 Asiditas jumlah :

AJ

= x P ml x N NaOH x f NaOH x ME CaCO3 = x 4,2 x 0,1 x 0,79 x 50 = 165,9 mg/1 sebagai CaCO3

Percobaan II Standarisasi NaOH F = 25ml NaOH= = 1,08 ml NaOH digunakan (P ml) P ml I : 2,6 ml II : 3,5 ml III : 6,8 ml+12,9 ml Rata-rata : 12,9 ml= 4,3 ml3 ME CaCO3= 50 Asiditas jumlah AJ = x P ml x N NaOH x f NaOH x ME CaCO3 = x 4,3 x 0,1 x 50 x 1,08 = 232,2 mg/l sebagai CaCO3 Percobaan III Standarisasi NaOH ME CaCO3= f = = 0,79 = 50 P ml I : 3,8 ml II : 3,5 ml III : 2,0 ml +9,3 ml Rata-rata : 9,3 ml= 3,1 ml3 Asiditas jumlah AJ = x P ml x N NaOH x f NaOH x ME CaCO3 = x 3,1 ml x 0,1 N x 0,79 x 50 = 122,45 mg/l sebagai CaCO3 PERHITUNGAN Asiditas Rata-rata AJ rata-rata = AJ I + AJ II + AJ III3= 165,9 + 232,2 + 122,453== 173,5 mg/l sebagai CaCO3 PEMBAHASAN Asiditas

Pada percobaan penentuan alkalinitas dan asiditas dapat menggunakan air sampel apapun, seperti air sungai, danau, rawa, dan lain-lain. Percobaan ini untukmenentukan kadar alkalinitas dan asiditas air kran. Sebelum memulai percobaandilakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Isikan 100 ml air pada labu A dan labu B, kemudian beri tiga tetes indicator MO pada labu A dan tiga tetes indicator PP pada labu B. amati perubahan warna pada labu,yaitu pada labu A berwarna kuning dan labu B tidak berwarna. Dengan demikian, makalabu A dikatakan negative dan labu B positif, karena jika air mengandung ion-ion pembentuk asam (CaCO3dan CO2), maka, maka ketika ditetesi indicator MO akanberwarna orange, dan ketika ditetesi indicator PP tidak berwarna. Untuk mengetahui asiditas air, maka metode yang digunakan, yaitu metoddetitrasi, karena asiditas, maka menggunakan NaOH 0,1 N (basa kuat) sebagai titrannya.Pada proses titrasi dilakukan dari yang tidak berwarna hingga tepat berubah menjadipink tipis. Catat volume sebelum titrasi dan catat pula volume akhir titrasi dan catat pulavolume akhir titrasi untuk mendapatkan volume titrasi. Percobaan ini dilakukan tiga kaliagar lebih akurat data yang di peroleh. Setelah semua data yang di peroleh, lakukan perhitungan asiditasair denganrumus (V = volume titrasi, F = faktor koreksi, BE = berat ekuivalen), sehingga di dapatnilai 32,860 ppm sebagai CO2 pada asiditas PP. Namun, pada asiditas MO bernilai 0ppm, karena ketika labu A ditetesi indicator MO bernilai negative, maka tidak dilakukantitrasi, sehingga bernilai 0 ppm. Dengan demikian, air tersebut mengandung 32,860 mgsetiap liternya sebagai CO2. Kesimpulan 1. Penyebab asiditas air kran karena CO2, sebanyak 32,860 mg/l