Anda di halaman 1dari 3

Sakit kepala, epilepsi, dan fotosensifitas : bagaimana keterkaitan mereka?

Abstrak Walaupun sakit kepala dan epilepsi pada anak-anak dan orang dewasa sering dikaitkan satu dengan yang lainnya, namun hubungan elektroklinis dan patofisiologis diantara kedua penyakit ini dan juga keterkaitan dengan fotosensitifitas belum sepenuhnya difahami. Biasanya, hubungan antara sakit kepala dan epilepsi terjadi pada semua jenis epilepsi dan tidak hanya epilepsi pada otak bagian belakang. Terlepas dari parah atau tidaknya, sakit kepala peri-ictal umumnya sering diabaikan karena pasien lebih mempersoalkan kenapa ia terjadi secara tiba-tiba (berupa serangan dadakan). Berubahnya respon dari saraf otak besar mungkin menjadi penghubung dua kondisi diatas dan ini ditunjukkan oleh fotosensitivitas. Dokter harus mengingat keterkaitan ini ketika menangani pasien epilepsi dan migrain agar bisa memberikan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang benar terahadap pasien; hal ini juga harus diingat ketika memberi tahu pasien epilepsi dengan tidak terjadi dengan tiba-tiba. Hingga saat ini, Perhimpunan Sakit Kepala International atau Liga International untuk Melawan Epilepsi belum menyebutkan bahwa sakit kepala atau migrain mungkin merupakan hanyalah manifestasi dari epilepsi ictal. Pada akhirnya, studi ini sangat dibutuhkan karena didesain untuk menginvestigasi peran penyebab terjadinya fotosensitivity baik pada penyakit kepala atau epilepsi. Kata Kunci cari sendiri artinya d kamus! Pendahuluan Walaupun kita belum sepenuhnya memahami mekanisme yang menyebabkan terjadinya sakit kepala, epilepsi dan potosensitivity, ketiga kondisi ini berhubungan dengan terjadinya perubahan yang tidak teratur terhadap respon otak dan juga diketahui saling menfasilitasi satu lainnya. Contohnya, interaksi ini muncul dari abnormalitas EEG dan fenomena klinis yang berkaitan lainnya yang disebabkan oleh stimulasi photic yang tidak beraturan (IPS), yang bisa menimbulkan ransangan photopharoxymal EEG (PPR), migraen dan epilepsi yang terjadi secara tiba-tiba. Karena pasien epilepsi biasanya hanya peduli pada serangan yang terjadi secara tiba-tiba dibandingkan sakit kepala, gejala sakit kepala sering diabaikan baik oleh si pasien maupun dokter yang mengobati. Hal ini mungkin memperjelas kenapa gangguan ini pada umumnya dilihat sebagai dua penyakit paroxymal berbeda yang dianggap memperlihat epidemiologis dan komordibitas klinis. Hubungan dekat antara migrain dan epilepsi hanya dapat diketahui pada epilepsi idiophatic occipital lobe, yang merupakan bagian dari epilepsi. Baik occipital epilesi dan migrain kedua ditandai aura visual yang diikuti oleh sakit kepala atau simptom bebas lainnya. Pengakuan bahwa sakit kepala sebagai manifestasi epilepsi masih menjadi kendala. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengkaji ulang literatur tentang kharakteristik klinis dan EEG dari sakit kepala peri-ictal pada anak-anak yang menderita epilepsi, dan mendiskusikan hubungan temporal (kronologis) dan etiopathogenetic antara sakit kepala, epilepsi, dan khususnya fotosensitivitas. Definisi

Dalam review ini, kami menggunakan beberapa definisi berikut: Sakit kepala adalah rasa sakit yang terletak diatas garis orbitomeatal. Migrain adalah gangguan sakit kepala yang berulang kali terjadi, memberikan serangan selama 4-72 h; tipikal ciri-ciri migrain adalah berlokasi disatu tempat, kualitasnya yang aktif, berkekuatan sedang atau parah, diperburuk oleh aktivitas rutin dan mengakibatkan muntah, Photophobia dan Phonophobia. Pada anak-anak, migrain berlangsung selama 1-72 h. Epilepsi merupakan kondisi neurologis klinis yang ditandai dengan manifestasi berlebihan dan/atau hypersynchronous yang berulang-ulang, biasanya aktifitas neuron yang terbatas didalam otak. Photosensitivitas merupakan reaksi epilepsi terhadap rangsangan visual. Perbedaan dapat dibuat diantara respon epileptiform EEG terhadap IPS selama EEG recording (biasanya dinamakan ransangan photopharoxysmal: PPRs) dan tanda dan gejala klinis baik yang disebabkan oleh IPS atau ransangan visual dikehidupan sehari-hari seerti lampu disko, TV dan video games. PPRs tersebut tidak normal, bawaan sejak lahir, rangsangan electroencephalographic dari cortical otak manusia terhadap frekuensi sinar atau rangsangan visual lainnya. Jika sebuah PPR ditemukan, maka pasien dianggap sensitive terhadap IPS atau photosensitive. Sensitivitas visual didefinisikan sebagai rentan terhadap serangan tiba-tiba, yang dipicu oleh kharakteristik fisik dari rangsangan visual dan bukan karena benda perceptual; contohnya serangan refleks yang disebabkan oleh efek kognitif dari ransangan visual. Istilah migralepsy pertama kali diperkenalkan oleh Lennox dan Lennox pada tahun 1960 (walaupun diattributkan untuk Dr. Douglas Davidson) untuk menggambarkan kondisi dimana migrain ophthalmic diikuti oleh gejala yang memiliki ciri-ciri seperti epilepsi. Istilah tersebut berasal dari gabungan kata migrain dan epilepsi. Sejak saat itu, sekitar 50 kasus migralepsi sudah ditangani, dimana kebanyakan sering diperdebatkan. Panayiotopoulus khususnya berargumentasi bahwa walaupun tidak alasan kenapa epilepsi bisa menyerang secara tiba-tiba, sangat rentan terhadap faktor cepat yang berasal dari luar dan dalam, yang tidak rentan terhadap perubahan korteks yang disebabkan oleh migrain atau sebaliknya. Banyak kasus yang dilaporkan tentang migralepsi sangat kompleks dan tidak memiliki urutan migrain-epilepsi yang jelas; jadi mereka mungkin dianggap sebagai serangan occipital yang mirip migrain dan aura, dan ditandai oleh sensasi visual, sakit kepala dan simptom bebas lainnya. Sakit kepala itu sendiri bisa menjadi serangan dari aura epilepsi, sebagaimana telah ditunjukkan oleh deskripsi kasus seorang pasien dengan status epilepticus sebahagian pada occipital lobe epilepsy. Migralepsi telah dimasukkan kedalam klasifikasi ICHD -2 dan ILAE. Walaupun skeptisme disekitar konsep migralepsi, dimana dua jenis gangguan tersebut dianggap terjadi secara bertahap, serangan yang dipicu oleh migrain sudah dimasukkan kedalam ICHD-II yang terbaru sebagai sebuah komplikasi migrain yang berdasarkan terdapatnya dua kriteria: a. Untuk migrain dengan sensasi (aura) b. Terjadinya serangan epilepsi selama atau dalam 1 h dari aura migrain. Walaupun migralepsi tidak dimasukkan kedalam klasifikasi serangan tiba-tiba ILAE yang terbaru sejak tahun1981 atau dalam rekomendasi ILAE Commision terhadap Klasifikasi dan Istilah (2009).

Serangan yang berkaitan dengan sakit kepala (SRH) bisa menjadi pre (sebelum), post (setelah), atau peri-ictal, contohnya mereka bisa memulai, mengikuti atau terjadi secara berurutan dengan manifestasi serangan aktual. Epilepsi hemicrania dikenal oleh klasifikasi ICHD-2 (diberi kode 7.6.1) sebagai sakit kepala ictal (ipsilateral pada ictal EEG bebas) disinkronkan dengan serangan (serangan epilepsi sebahagian) yang diakui oleh klasifikasi ILAE. Istilah sakit kepala epilepsi ictal mengakui sakit kepala sebagai fenomena epilepsi semata tanpa ada keterkaitan dengan tanda ictal epilepsi / simptom yang diakui oleh ILAE

Komordibitas Migrain dan Epilepsi Epidemiology Komordibitas Orang dengan epilepsi kemungkinan akan menderita migrain 2.4 kali dari pada orang yang tidak memiliki epilepsi. Baulac menemukan 5.9% banyaknya penderita epilepsi dari 1830 penderita migrain. Dalam penelitian lainnya, banyaknya penderita epilepsy pada penderita migrain berkisar dari 1 sampai 17% dengan median 5.9% yang pada dasarnya lebih tinggi 0.5% dari penderita epilepsi pada populasi keseluruhan. Mark dan Ehrenberg menemukan bahwa 79 dari 395 (20%) pasien dengan riwayat epilepsi juga memiliki migrain menurut International Headache Classification (IHC). Pada kebanyakan pasien yang menderita kedua gangguan tersebut (84%), serangan terjadi secara terpisah. Namun mereka tidak mengakui bahwa symptom migrain aura yang sangat mirip dengan symptom serangan epilepsi.