Anda di halaman 1dari 3

In Vitro Fertilization

Pematangan oosit in vitro adalah pematangan oosit pada medium di luar tubuh dan dikultur secara in vitro. Adanya tehnik pematanganin vitro dimungkinkan untuk memperoleh oosit matang dalam jumlah besardengan cara menanam telur yang belum diovulasikan dalam medium pematangan(Bavister et al, 1992) Pematangan oosit primer dapat berkembang menjadi oosit sekunder yang akan melakukan proses pembelahan meiosis dengan normal dan sempurna sehigga menghasilkansel telur yang siap untuk dibuahi !osit yang matang in vivo dan in vitro tidak ada perbedaan yang nyata dalam tingkat pematangan inti, "ertilisasi atau pembelahan, tetapi bagaimanapuntergantung dari perkembangan kemampuan pada oosit itu sendiri (#reve et al, 199$) %ertilisasi In Vitro dirintis oleh P & 'teptoe dan ( # )d*ards (199+) ,erupakan suatu upaya peningkatan produksi didalam menyelamatkan bibit unggul yang tidak dapat dilakukan dengan "ertilisasi in vivo yaitu dengan suatu teknik pembuahan dimana sel ovum dibuahi diluar tubuh -eknologi "ertilisasi secara in vitro (%./) pada ternak, khususnya sapi merupakan salah satu usaha meman"aatkan limbah ovari dari induk sapi betina yang dipotong di (umah Potong 0e*an %./ ini diharapkan dapat memproduksi embrio sapi dalam jumlah massal untuk dititipkan pada induk resipien, sehingga dapat diperoleh ternak dalam jumlah banyak untuk meningkatkan populasi ternak di .ndonesia (1aiin et al., 2223) ./% adalah teknik mempertemukan sel telur dan sperma dalam ca*an petri ./% adalah proses untuk menstimulasi ovarium supaya menghasilkan sebanyak mungkin telur, mengambil telur4telur tersebut untuk dapat dibuahi oleh sperma di ca*anpatri, dan mengembalikan hasil pembuahan tersebut ke dalam (ahim dengan harapan dapat menempel sehingga terjadilah kebuntingan ./% bukan merupakan langkah pertama untuk terapi in"ertilitas 'ebaliknya, ./% digunakan pada kasus in"ertilitas yang tidak dapat diatasi dengan terapi lain seperti obat "ertilitas, pembedahan, dan inseminasi buatan ./% merupakan terapi yang e"ekti" untuk in"ertilitas kecuali pada in"ertilitas yang disebabkan oleh kelainan anatomi uterus seperti perlengketan didalam uterus (rahim)yang berat(Bavister, 1992) .ndikasi ./% adalah pada in"ertilitas menurut -rounson (1992)disebabkan oleh5 1 2 %aktor tuba 6is"ungsi ovulasi ( setelah gagal dengan terapi lain)

$ 7 8 +

Ovarian reserve yang sedikit5 jumlah telur yang sedikit )ndometriosis ( setelah gagal dengan terapi lain) .n"ertilitas dari "aktor pria yang berat .n"ertilitas yang tidak diketahui penyebabnya (setelah gagal dengan terapi lain) Proses meiosis In Vitro Fertilization (./%) ,erupakan metode pengamatan terhadap terjadinya proses

6. Ovarian failure

"ertilisasi dengan cara membuat percobaan pembuahan di luar tubuh ,enurut 'upri !ndho (1993) secara garis besar percobaan ./% meliputi serangkaian kegiatan berupa mengumpulkan ovarium, koleksi oosit, kapasitasi spermato9oa, pembuahan dan perkembangan embrio Berikut ini adalah tahapan4tahapan "ertilisasi .n /itro 5 1 Pengumpulan ovarium dari (umah Pemotongan 0e*an ((P0), Pengumpulan ovarium dilaksanakan dengan cara mengambil ovarium dari ternak yang dipotong 'etelah ovarium didapatkan, kemudian dimasukkan ke dalam :a&l "isiologis 2,9; dan di ba*a ke laboratorium 2 $ 7 8 1oleksi !osit, proses koleksi oosit ini dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu aspirasi (menghisap), sayatan dan injeksi medium ,aturasi !osit, %ertilisasi, 1ultur in Vitro Pembekuan )mbrio Program -rans"er )mbrio

%aktor yang mempengaruhi keberhasilan ./% antara lain pengaruh umur, berat badan, kadar prolaktin, endometriosis, serta kadar gonadotropin endogen dan eksogen 'elain itu terdapat "aktor4"aktor lain yang tak kalah penting, yaitu usia maternal, <ovarian reserve<, serta per"orman reproduksi terakhir %aktor lainnya yaitu ri*ayat obstetric reproduksi sebelumnya, studi menunjukkan adanya hidrosal"ing menurunkan keberhasilan ./%= angka kelahiran hidup satu setengah kali lebih rendah dibandingkan dengan betina tanpa hidrosal"ing(-rounson, 1992) %aktor terpenting yang berkaitan dengan prosedur ./% adalah jumlah telur yang diambil dan jumlah embrio berkualitas baik yang berhasil dilakukan di laboratorium, kematangan dari oosit, sehinga proses "ertilisasi akan berhasil apabila didukung oleh kematangan inti pada tahap meta"ase ..

In Vitro ,aturation adalah pematangan oosit pada medium di luar tubuhdan dikultur secara in vitro (#ordon dkk , 1997) Adanya tehnik in vitro maturation dimungkinkanuntuk memperoleh oosit matang dalam jumlah besar dengan cara menanam teluryang belum diovulasikan dalam medium pematan gan Pematangan oosit primer dapat berkembang menjadi oositsekunder yang akan melakukan proses pembelahan meiosis dengan normal dansempurna sehigga menghasilkan sel telur yang siap untuk dibuahi(-rounson, 1992)

1aiin, ) , , ' 'aid > B -appa 2223 1elahiran Anak 'api 0asil %ertilisasi secara in Vitro dengan 'perma 0asil Pemisahan Bidang Biologi 'el dan ?aringan, Pusat Penelitian Bioteknologi @.P. 'upri !ndho, A 1993 Peningkatan Pematangan !osit dan Perkembangan )mbrio 6omba .n /itro melalui Penambahan %'0, )stradiol 41+B dan 1okultur 'el )pitel -uba %alopii ke 6alam -&,4199 6isertasi Program Pasca 'arjana .nstitut Pertanian Bogor Bogor Bavister, B 6, (ose40allakent and - Pinyopumminter, 1992 Development ofMatured In Vitro Fertilized Bovine Embryo Into Morulae and Blastocyts.-heriogenology, $+512+417B #ordon, . (1997) aboratory !roduction of "attle Embryos. Department of#nimal $cience and !roduction. Cniversity &ollege 6ublin .reland #reve, -, / ,adison, B Avery, 0 &allsen, and P 0yteel, 199$ . !roduction ofBovine Embryos, # !ro%ess &eport and "onse%uences on t'e (enetic)p%radin% of "atlle !opulation ? Anim (eprod 'ci $$5814B9 -rounson, A 1992 -he Production o" (uminant )mbryos In Vitro Anim (eprod 'ci 2351284 1$+