Anda di halaman 1dari 58

MAKALAH ANALISIS PUISI KEPADA PEMITA-MINTA OLEH CHAIRIL ANWAR

1.

1.

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi. Dalam hal ini setiap penulis memiliki cara dalam mengemukakn gagasan dan gambarannya untuk menghasilkan efek-efek tertentu bagi pembacanya. Secara menyeluruh kajian stilistik berperan untuk membantu menganalisis dan memberikan gambaran secara lengkap bagaimana nilai sebuah karya sastra.

Karya sastra sebagai kajian dari stilistik yang menggunakan gaya bahasa sastra sebagai media untuk menemukan nilai estetisnya. Aminuddin (199767) mengemukakan terdapat jenis karya sastra yaitu puisi dan prosa fiksi. Dalam hal ini perbedaan karakteristik karya sastra mengakibatkan perbedaan dalam tahapan pemaknaan dan penafsiran ciri dan penggambarannya. Pengarang memiliki kreativitas masing-masing dan setiap karya yang dihasilkan memperhatikan kebaharuan dan perkembangan sosial budaya. Misalnya puisi sebagai objek kajian yang dianalisis. Setiap orang tentunya pada umumnya memiliki pendapat dan penafsiran terhadap suatu puisi. Perbedaan itu muncul pula pada pemahaman seseorang, stilistika akan muncul dengan kekhasan bahasa yang digunakan dan akan sangat berbeda dengan penggunaan bahasa sehari-hari.

Sastra terbagi atas dua jenis yaitu sastra lama dan modern. Sastra ini menjadi objek yang diamati dalam penelitian sastra, sastra modern dapat meliputi puisi, prosa maupun drama. Berdasarkan hal tersebut menurut Ratna (2009:19) dari ketiga jenis sastra modern dan sastra lama, puisilah yang paling sering digunakan dalam penelitian stilistika. Puisi memiliki ciri khas yaitu kepadatan pemakaian bahasa sehingga paling besar kemungkinannya untuk menampilkan ciri-ciri stilistika. Dibandingkan dengan prosa yang memiliki ciri khas pada cerita (plot) sedangkan ciri khas drama pada dialog.

Pada lingkupnya puisi diciptakan oleh seseorang dengan melukiskan dan mengekspresikan watakwatak yang penting si pengarang, bukan hanya menciptakan keindahan. Aminuddin (199765) menyatakan dalam puisi misalnya membutuhkan efek-efek emotif yang mempengaruhi karya sastra. Memperoleh efek-efek tersebut dapat melalui kebahasaan, paduan bunyi, penggunaan tanda baca, cara penulisan dan lain sebagainya. Dengan kriteria tersebut membantu dalam menganalisis sebuah puisi. Berdasarkan kriteria tersebut dipilih puisi dengan judulKepada Peminta-minta karya Chairil Anwar untuk dianalisis. Chairil Anwar pula memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan. Menurut Ratna (2009:353)

keberhasilan puisi Chairil Anwar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, 1) representasi visual melalui komposisi, sususnan baris dan bait, 2) efesiensi bahasa, penggunaan kata-kata secara singkat sederhana, tetapi penuh energi, 3) pembawa aliran baru, sebagai ekspresionisme, 4) kebaruan isi, yaitu nasionalisme, 5) keberhasilannya dalam menggugah emosi pembaca. Dengan demikian keindahan puisi pada dasarnya membentuk suatu pesan dan gaya bahasa tersendiri memberikan wujud keindahan karya sastra.

1.2 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan konsep dan aplikasi kajian stilistika pada puisi Kepada Peminta-Minta Karya Chairil Anwar.

1.

2.

Stilistika

2.1 Hakikat Stilistika

Stilistika (stylistic) dapat diterjemahkan sebagai ilmu tentang gaya. Secara etimologis stylisticberhubungan dengan kata style yaitu gaya. Dengan demikian stilistika adalah ilmu pemanfaatan bahasa dalam karya sastra. Penggunaan gaya bahasa secara khusus dalam karya sastra. Gaya bahasa yang muncul ketika pengarang mengungkapkan idenya. Gaya bahasa ini merupakan efek seni dan dipengaruhi oleh hati nurani. Melalui gaya bahasa itu seorang penyair mengungkapkan idenya. Pengungkapan ide yang diciptakan melalui keindahan dengan gaya bahasa pengarangnya (Endraswara, 2011:7273). Melalui ide dan pemikirannya pengarang membentuk konsep gagasannya untuk menghasilkan karya sastra. Aminuddin (1997:68) mengemukakan stilistika adalah wujud dari cara pengarang untuk menggunakan sistem tanda yang sejalan dengan gagasan yang akan disampaikan. Namun yang menjadi perhatian adalah kompleksitas dari kekayaan unsur pembentuk karya sastra yang dijadikan sasaran kajian adalah wujud penggunaan sistem tandanya.

Secara sederhana menurut Sudiman dikutip Nurhayati (2008:8) Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa didalam karya sastra. Konsep utamanya adalah penggunaan bahasa dan gaya bahasa. Bagaimana seorang pengarang mengungkapkan karyanya dengan dasar dan pemikirannya sendiri.

Dalam hal ini untuk memahami konsep stilistik secara seksama Nurhayati (2008:7) mengemukakan pada dasarnya stilistika memiliki dua pemahaman dan jalan pemikiran yang berbeda. Pemikiran tersebut menekankan pada aspek gramatikal dengan memberikan contoh-

contoh analisis linguistik terhadap karya sastra yang diamati. Selain itu pula stillistika mempunyai pertalian juga dengan aspek-aspek sastra yang menjadi objek penelitiannya adalah wacana sastra.

Stilistika secara definitif adalah ilmu yang berkaiatan dengan gaya dan gaya bahasa. Tetapi pada umumnya lebih banyak mengacu pada gaya bahasa. Dalam pengertiannya secara luas stilistika merupakan ilmu tentang gaya, meliputi berbagai cara yang dilakukan dalam kegiatan manusia (Ratna, 2011:167).

2.2 Tujuan Kajian Stilistika

Stilistika sebagai salah satu kajian untuk menganalisis karya sastra. Endraswara (2011:72) mengemukakan bahasa sastra memiliki tugas mulia. Bahasa memiliki pesan keindahan dan sekaligus pembawa makna. Tanpa keindahan bahasa, karya sastra menjadi hambar. Keindahan suatu sastra dipengaruhi oleh kemampuan penulis mengolah kata. Keindahan karya sastra juga memberikan bobot penilaian pada karya sastra itu. Selain itu, menurut Sudjiman dikutip Nurhayati (2008:11) mengemukakan titik berat pengkajian stilistik adalah terletak pada penggunaan bahasa dan gaya bahasa suatu sastra, tetapi tujuan utamanya adalah meneliti efek estetika bahasa. Keindahan juga merupakan bagian pengukur dan penentu dari sebuah sastra yang bernilai.

2.3 Sumber Objek Penelitian Stilistika

Penelitian stilistika menuju kepada bahasa, dalam hal ini merupakan bahasa yang khas. Menurut Ratna (2009:14) bahasa yang khas bukan pengertian bahwa bahasa dan sastra berbeda dengan bahasa sehari-hari dan bahasa karya ilmiah. Ciri khasnya yaitu pada proses pemilihan dan penyusunan kembali. Hal tersebut merupakan analog dengan kehidupan sehari-hari dan merupakan proses seleksi, manipulasi dan mengombinasikan kata-kata. Bahasa yang memiliki unsur estetis, berbagai fungsi mediasi, dan emonsionalitas.

Dalam hal ini kekuatan dalam karya seni adalah kekuatan untuk menciptakan kombinasi baru, bukan objek baru. Dengan demikian seperti yang telah dikemukan sebelumnya jenis sastra puisilah yang dianggap sebagai objek utama stilistika. Puisi memiliki medium yang terbatas sehingga keterbatasannya sebagai totalitas puisi yang hanya terdiri dari beberapa baris harus mampu menyampaikan pesan sama dengan sebuah cerpen, bahkan juga novel yang terdiri atas banyak jumlah halaman.

2.4 Pendekatan dalam Stilistika

Melalui stilistika dapat dijabarkan ciri-ciri khusus karya sastra. Berdasarkan hal itu, Wellek, dan Warren (1993:226) menyatakan ada dua kemungkinan pendekatan analisis stilistika dengan cara semacam itu. Yang pertama di analisis secara sistematis tentang sistem linguistik karya sastra, kemudian membahas interprestasi tentang ciri-cirinya dilihat berdasarkan makna total atau makna keseluruhan. Melalui hal ini akan muncul sistem linguistik yang khas dari karya atau sekelompok karya. Pendekatan yang kedua yaitu mempelajari sejumlah ciri khas membedakan sistem satu dengan yang lainnya. Analisis stilistika adalah dengan mengamati deviasi-deviasi seperti pengulangan bunyi, inversi susunan kata, susunan hirarki klausa yang semuanya mempunyai fungsi estetis penekanan, atau membuat kejelasan, atau justru kebalikannya yang membuat makna menjadi tidak jelas.

Sejalan dengan pernyataan di atas dalam kajian stilistik dipengaruhi oleh karya sastra dan bentuk pendekatan yang digunakan. Nurhayati (2008:1320) mengemukakan lima pendekatan yang dapat digunakan yaitu, sebagai berikut:

1.

Pendekatan Halliday

Dalam pendekatan ini Halliday mengilustrasikan bagaimana kategori-kategori dan metode-metode linguistik deskriptif dapat diaplikasikan ke dalam analisis teks-teks sastra seperti dalam materi analisis teks yang lainnya. Melalui hal ini analisis bukan hanya kepada interprestasi atau evaluasi estetika terhadap pesan-pesan sastra yang dianalisisnya tetapi hanya kepada deskripsi unsurunsur bahasa. Dalam kajiannya ia tidak mengungkapkan bagaimana bentuk-bentuk verbal tersebut disusun sehingga berhubungan dengan bentuk lainnya pada hubungan intra-tekstual.

1.

Pendekatan Sinclair

Pendekatan ini searah dengan teori pendekatan Halliday. Ia menerapkan kategori-kategori deskripsi linguistik Halliday. Sinclair mengemukakan terdapat dua aspek yang berperan penting dalam pengungkapan pola-pola intratekstual karya sastra.

1.

Pendekatan Goeffrey Leech

Leech mengemukakn bahwa karya sastra mengandung dimensi-dimensi makna tambahan yang beroperasi pula di dalam wacana lainnya. Leech mengungkapkan tiga gejala ekspresi sastra, yaitu cohesion, foregrounding, dan cohesion of foregrounding. Ketiga gejala ekspresi ini menghadirkan dimensi-dimensi makna yang berbeda yang tidak tercakup oleh deskripsi linguistik dengan kategori-kategori normalnya. Cohesion merupakan hubungan interatekstual antara unsur gramatikal dengan unsur leksikal yang jalin-menjalin dalam sebuah teks sehingga menjadi sebuah unit wacana yang lengkap. Foregrounding merupakan gejala khas yang hanya terdapat dalam karya

sastra. Sedangkan cohesion of foregrounding adalah penyimpangan-penyimpangan dalam teks yang dihubungkan dengan bentuk lain untuk membentuk pola-pola intratekstual. 1. Pendekatan Roman Jakobson Pendekatan ini menggolongkan fungsi puitik bahasa sebagai sebuah penggunaan bahasa yang berpusat kepada bentuk aktual dari pesan itu sendiri. Tulisan sastra tidak seperti bentuk-bentuk lainnya. Dalam tulisan sastra ditemukan pesan yang berpusat pada pesan itu sendiri.

1.

Pendekatan Samuel R. Levin

Pendekatan Levin dalam analisis stilistika serupa dengan pendekatan Halliday dan Sinclair yang berpusat pada analisis butir-butir linguistik. Levin juga mengembangkan gagasan kesejajaran yang juga dikemukakan oleh Jakobson. Dalam hal ini kesejajaran tersebut berlaku pada level fonologi, sintaksis, dan semantik yang untuk menghasilkan ciri-ciri struktural.

2.5 Teori yang Berhubungan dengan Kajian Stilistik

Pembentuk utama unsur puisi selain bahasa adalah keindahan. Pada dasarnya kajian stilistika dikemukakan beberapa teori-teori yang berhubungan. Menurut Nurhayati (2008:3038) teoriteori tersebut digunakan untuk menganalisis bahasa. Teori tersebut adalah sebagai berikut:

1)

Diksi, pemilihan kata sangat erat kaitannya dengan hakikat puisi yang penuh pemadatan.

Oleh karena itu, penyair harus pandai memilih kata-kata. Penyair harus cermat agar komposisi bunyi rima dan irama memiliki kedudukan yang sesuai dan indah. Selain itu, Tarigan (2011:29) mengemukakan diksi adalah pilihan kata yang digunakan oleh penyair. Pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, dan nada dalam suatu puisi.

2)

Citraan, merupakan penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan,

perasaan, pikiran, ide, pernyataan, pikiran dan setiap pengalaman indera atau pengalaman indera yang istimewa. Dalam hal ini yang dimaksud adalah citraan yang meliputi gambaran angan-angan dan pengguna bahasa yang menggambarkan angan-angan tersebut, sedangkan setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji. Secara spesifik Tarigan (2011:31) dalam menciptakan karya penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga merekalah yang benar-benar mengalami peristiwa dan perasaan tersebut. Penyair berusaha agar penikmat dapat melihat, merasakan mendengar, dan menyentuh apa yang ia alami dan rasakan.

3)

Kata-kata konkret, merupakan kata yang dapat melukiskan dengan tepat, membayangkan

dengan jitu apa yang hendak dikemukakan oleh pengarang. Tarigan (2011:32) mengungkapkan

salah satu cara membangkitkan daya bayang imajianasi para penikmat puisi adalah menggunakan kata-kata yang tepat, kata yang dapat menyarankan suatu pengertian secara menyeluruh.

4)

Bahasa figuratif, untuk memperoleh kepuitisan, penyair menggunakan bahasa figuratif,

yaitu bahasa kiasan atau majas. Menurut Endraswara (2011:73) terdapat dua macam bahasa kiasan atau stilistik kiasan, yaitu gaya retorik dan gaya kiasan. Gaya retorik meliputi eufemisme, paradoks, tautologi, polisndeton, dan sebagainya. Sedangkan gaya kiasan amat banyak ragamnya antara lain alegori, personifikasi, simile, sarkasme, dan sebagainya.

Menurut Ratna (2011:164) majas (figure of speech) adalah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan. 5) Rima dan ritma, merupakan pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan pengulangan bunyi

tersebut, puisi menjadi merdu bila dibaca. Bentuk-bentuk rima yang paling sering muncul adalah aliterasi, asonansi, dan rima akhir. Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suatu gerak yang teratur. Gerak yang teratur tersebut di sebut ritma atau rhythm. Tarigan (2011:35) mengatakan rima dan ritma memiliki pengaruh untuk memperjelas makna puisi. Dalam kepustakaan Indonesia, ritme atau irama adalah turun naiknya suara secara teratur, sedangkan rima adalah persamaan bunyi. 2.6 Struktur Batin Puisi

Struktur batin puisi pula yang menjadi salah satu unsur pembentuk puisi. Struktur batin berperan untuk menjiwai sebuah puisi. Dalam hal ini menurut Nurhayati (2008:4043) hakikat puisi terdiri atas beberapa komponen yang membangun sebuah puisi. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:

1)

Tema (sense), merupakan gagasan atau ide pokok dalam suatu kajian puisi. Hal yang

menjadi pokok persoalan dalam puisi tersebut. Setiap puisi memiliki pokok persoalan yang hendak di sampaikan kepada pembacanya. Selain itu menurut Tarigan (2011:1011) dalam puisi memiliki subject matter yang hendak dikemukakan atau ditonjolkan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman penyair. Makna yang terkandung dalam subject matter adalah senseatau tema dalam puisi tersebut. 2) Perasaan (feeling) merupakan sikap penyair terhadap pokok persoalan yang terdapat dalam

puisinya. Dalam hal ini pada umumnya setiap penyair tentunya akan memiliki pandangan yang berbeda terhadap suatu karya. Menurut Tarigan (2011:12) rasa/felling yaitu merupakan sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang ada pada puisinya.

3)

Nada (tone), merupakan refleksi sikap penyair terhadap pembacanya, baik suasana hati, dan

pandangan moral, dan terkadang muncul pula karakter kepribadian pengarangnya tercemin dalam puisi. Penyair pula menunjukkan sikapnya kepada pembacanya, misalnya dengan sikap menggurui, menyindir atau bersifat lugas. 4) Amanat (intention) atau tujuan merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan

suatu puisinya. Dalam hal ini penyair menciptakan puisinya dan tersirat secara tidak langsung muncul melalui di balik tema yang diungkapkan. 3 Analisis Stilistika

Karya sastra pada analisis stilistika memiliki kaitan erat dengan bahasa yang menjadi medium utamanya. Ratna (2009:330) menyatakan bahwa analisis yang baik adalah kajian yang memelihara keseimbangan antara prinsip linguistik dan sastra kebudayaan atau yang mendasar pada pencapaian aspek estetis.

Dalam kajian stilistika hendaknya sampai pada dua hal yaitu makna dan fungsi. Makna dicari melalui penafsiran yang dikaitkan melalui totalitas karya, sedangkan fungsi terbesit dari peranan stilistika dalam membangun karya (Endraswara, 2011:76). Senada dengan hal tersebut Nurhayati (2008:46) mengemukakan terdapat 2 unsur dalam menganalisis puisi, yaitu pada kajian stilistika dan struktur batin puisi. Pada kaiian stilistika di bahas masalah penerimaan, linguistik, diksi, citraan, kata-kata konkret dan bahasa figuratif. Sedangkan struktur batin membahas masalah tema, perasaan, nada dan amanat. Dalam hal ini puisi yang akan di analisis adalah puisi dengan judul Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar. Puisi tersebut adalah sebagai berikut:

Kepada Peminta-Minta 1 Baik, baik aku akan menghadap Dia

2 Menyerahkan diri dan segala dosa

3 Tapi jangan lagi tentang aku

4 Nanti darahku jadi beku

5 Jangan lagi kau bercerita

6 Sudah tercacar semua di muka

7 Nanah meleleh dari luka

8 Sambil berjalan kau usap juga

Bersuara tiap kau melangkah

10 Mengerang tiap kau menendang

11 Menetes dari suasana kau datang

12 Sembarang kau merebah

13 Mengganggu dalam mimpiku

14 Menghempas aku di bumi keras

15 Di bibirku terasa pedas

16 Mengaum di telingaku

17 Baik, baik aku akan menghadap Dia

18 Menyerahkan diri dan segala dosa

19 Tapi jangan tentang lagi aku

20 Nanti darahku jadi beku

(Chairil Anwar, 2010:78)

3.1 Teori yang Berhubungan dengan Kajian Stilistik

1)

Diksi

Kata-kata dalam puisi Kepada Peminta-minta memiliki makna kiasan yang harus dipahami secara seksama. Tokoh aku dan dia memerlukan interprestasi sendiri untuk menentukannya. Hal ini dalam setiap maksudnya memerlukan pemahaman yang menyeluruh. Secara umum puisi juga sulit untuk dipahami, terdapat penafsiran tertentu. Dengan demikian penggunaan kata konotatif dalam puisi tersebut cukup menjadi perhatian. Penyair menggunakan kata-kata tersebut untuk

mengungkapkan sesuatu. Sesuatu itulah yang dinamakan makna konotatif. Jadi, penggunaan kata konotatif dilakukan untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Penggunaan kata konotatif juga untuk menciptakan efek estetis.

Sesuai dengan judulnya, puisi tersebut banyak menggunakan kata konotasi. Misalnya pada baris ke empat Nanti darahku jadi beku. Hal ini merupakan makna konotasi yang memerlukan penafsiran.Terdapat pula makna konotasi pada baris 6 Sudah tercacar semua di muka. Secara keseluruhan baris dalam puisi ini memiliki makna kiasan yang perlu untuk ditelaah sebelumnya. Bukan jenis citraan yang mengandung makna denotasi yang secara umum mudah untuk langsung dipahami. Pemilihan kata pada baris genap tidak terlepas dari kata yang digunakan pada 2 baris pertama. Misalnya pada baris pertama penyair mengatakan dia akan menghadap Dia, maka pada baris kedua kata menyerahkan diri dan segala dosa dirasa sangat cocok konteksnya. Pada baris ketiga dan keempat penyair meminta untuk jangan menentang dirinya lagi, maka darahnya akan menjadi beku, hal ini sesuai konteksnya. Pada baris kelima dan keenam penyair meminta untuk jangan bercerita lagi, semua sudah tercacar dimuka. Baris ketujuh dan kedelapan penyair nanah meleleh dari luka sambil berjalan kau usap juga. Dari hal itu terlihat pemilihan kata yang tepat sekali yang digunakan oleh penyair.

Pilihan kata (diksi) dalam puisi Kepada Peminta-minta mempunyai efek kecewa, menyerah, letih, terluka, sedih, berat, dan risau. Hal itu dapat terlihat dari penggunaan kata: menyerahkan diri, tentang, luka, tercacar, meleleh, menghempas, mengerang, merebah, menetas. Sedangkan adanya risau terlihat dari apa yang di ungkap oleh penyair yaitu: mengganggu, menghempas, merasa pedas dan mengaum di telinga. Selain itu, penyair juga menggunakan pilihan kata yang menciptakan efek letih, menyerah, kecewa, terluka, dan risau. Kesimpulan dari analisis gaya kata adalah puisi Kepada Pemintaminta selain menggunakan kata konotatif untuk mengungkapkan gagasan dan untuk mencapai efek estetis. 2) Citraan

Citraan dalam karya sastra berperan untuk menimbulkan pembayangan imajinatif bagi pembaca. Pada dasarnya citraan kata terefleksi melalui bahasa kias. Citraan kata meliputi penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, dan setiap pengalaman indera yang istimewa. Citraan dibuat dengan pemilihan kata (diksi). Dalam puisi Kepada Peminta-minta penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung. Citraan visual (penglihatan) terlihat pada baris 1, dan 10 yaitu menghadap dan memandang. Citraan perabaan terdapat pada baris 8, yaitu kata usap. Memaknai

usap dapat dirasakan dengan indera perabaan. Citraan pendengaraan terlihat pada baris 9 dan 16, yaitu pada kata bersuara dan mengaum. Dalam hal ini kata bersuara dan mengaumdapat dirasakan oleh indera pendengaran. Selain itu pula terdapat citraan pengecap yaitu pada baris 15 pada kata pedas. Rasa pedas dapat dirasakan melalui indera pengecap. Kesimpulannya adalah puisi Kepada Peminta-minta memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Citraan membantu pembaca dalam menghayati makna puisi. Puisi Kepada Peminta-minta memanfaatkan citraan visual (penglihatan), pendengaran, pengecap dan citraan perabaan. 3) Kata-Kata Konkret

Pada puisi ini ditemukan diksi yang berupa kata-kata kongkret yang dapat membangkitkan citraan seperti berjalan, melangkah, mengempas, merebah menunjukkan citraan gerak dan beberapa citraan lainnya. Kata-kata kongkret tersebut jelas menunjukkan sikap tindakan baik dari si peminta-minta maupun pengarang. Kata-kata kongkret yang menggambarkan unsur-unsur puisi secara tepat dengan tujuan pengarang agar pembaca dapat merasakan keadaannya. 4) Rima

Puisi Kepada Peminta-minta secara keseluruhan didominasi dengan adanya vocal /a/ dan /u/. Sedangkan bunyi konsonan yang dominan yaitu bunyi /t/, /k/ dan /d/. Asonansi a terdapat pada baris puisi yaitu baris 1, 2, 5, 6, 7, 8. 17, dan 18 Misalnya, pada baris pertama yaitu: Baik, baik aku akan menghadap Dia, pada baris ketiga: Menyerahkan diri dan segala dosa. Asonansi uterdapat pada baris genap yaitu baris 3, 4, 13, 16, 19, dan 20. Misalnya, pada baris ketiga yaitu: Tapi jangan lagi tentang aku, pada baris keempat: Nanti darahku jadi beku. Asonansi a pada 2 baris pertama dan asonansi u pada 2 baris berikutnya mengesankan bahwa puisi ini mempunyai irama yang tetap dan teratur yakni irama vokal aauu. Pada baris pertama dijumpai aliterasi d (menghadap, dia). Aliterasi d juga terdapat pada baris 7, 10, 11, 13 dan 15 yakni pada kata: dari, menghadang, datang, dalam, dan pedas. Pengulangan 4 baris pertama juga dilakukan untuk menambah bentuk asonansi dan aliterasi dalam puisi ini. Aliterasi k dapat dilihat banyak sekali digunakan. Beberapa di antaranya juga terdapat pada baris 1, 2, 4, 5, 6, 7, 14 dan 16 yakni pada kata: baik, aku, akan, menyerahkan, beku, kau, muka, luka, keras dan ku. Berikutnya aliterasi t terdapat pada baris 3, 5, 11, 15, dan 16 yaitu: tentang, bercerita, datang, terasa, dan ditelingaku. Selain asonansi dan aliterasi, terdapat pengulangan rima yang teratur yang disusun oleh penyair. Pada 2 baris pertama berakhiran bunyi vokal yang sama yaitu vokal adan pada baris 3 dan 4 berakhiran bunyi vokal yang sama yaitu vokal u sehingga rima puisi tersebut

mempunyai rima yang teratur yaitu aabb. Penggunaan gaya bunyi dengan variasi dan rima pada puisi tersebut menimbulkan sebuah irama yang menciptakan sebuah irama yang indah. 5) Bahasa Figuratif

Dalam puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar bahasa figuratif yang muncul yaitu pada baris ke 4 dan 21. Merupakan majas hiperbola yang bersifat berlebih-lebihan. Muncul majas hiperbola dari kata nanti darahku jadi beku. Selain itu pula muncul majas repetisi pada baris 1 dan 18. Terjadi pengulangan pada kata baik, dalam konteksnya yaitu baik, baik aku akan menghadap Dia. 3.2 Struktur Batin Puisi

1)

Tema (sense), merupakan hal yang ingin disampaikan oleh pengarang. Puisi Chairil Anwar

menceritakan seseorang yang melarat, miskin yang tidak memiliki apa-apa. Subjet matter yang ditonjolkan dalam puisi ini yaitu tingkah atau sikap si peminta-minta dan bagaimana sikap penyair terhadap nya. Penyair menekankan pandangannya kepada sang peminta-minta. Bagaimana sikapnya terhadap kaum melarat. Pada baris ketiga Tapi jangan tentang lagi aku menunjukkan sikapnya yang merasa nyaman dengan kehadirannya. Penyair mengungkapkan semua yang terjadi telah diketahui. Hal ini tertuang dalam baris 5, 6, 7 yaitu Jangan lagi kau bercerita sudah tercecer semua dimuka dengan nanah yang meleleh dari muka semua itu telah terjadi dan diketahui. Penyair juga merasa tertanggu dengan adanya peminta-peminta, hal ini dinyatakan dalam barisdibibirku terasa pedas mengaum ditelingaku. 2) Perasaan (feeling) perasaan yang ditekankan pada puisi ini adalah rasa benci Chairil Anwar

terhadap peminta-minta. Perasaan menyerah dan merasa bersalah atas dosa yang diperbuat. Hal tersebut dikemukan pada baris 2 yaitu menyerahkan diri dan segala dosa. Tarigan (2011:16) mengemukakan Chairil Anwar memandang si peminta-minta dengan belakan mata dan rasa benci. Muncul perasaan terganggu dan kurang simpati terhadap si peminta-minta.Selain itu, Chairil juga menunjukkan sikap jengkel kepada si peminta-minta. Sikap yang terlalu menyerah pada keadaan hidup dan begitu menunjukkan kepedihannya dan kemelaratannya. 3) Nada (tone), nada yang ditunjukan dalam puisi adalah sinis. Nada sinis muncul akibat dari

kebencian pengarang kepada peminta-minta. Hal tersebut salah satunya muncul pada baris puisi berikut jangan lagi kau becerita sudah tercacar semua dimuka nanah meleleh dari muka sambil di jalan kau usap juga. Muncul nada sinis akibat dari tekanan yang didasarkan oleh rasa benci dari sikap si pemintaminta.Selain itu, terlihat terdapat nada menyindir dari makna puisi Chairil Anwar. Menyindir pada tingkah si peminta-minta yang terlalu melebih-lebihkan rasa penderitaannya. 4) Amanat (intention) dalam puisi ini tujuan yang memiliki peranan penting. Dalam hal ini Chairil

Anwar yang memiliki sikap ekspresionisme memberikan sajian puisi yang ekspresif. Ia mengemukakan sikapnya terhadap si peminta-minta. Chairil menunjukkan sikap sosial dan

kenyataan yang terjadi pada masyarakat. Sikap Chairil yang kritis menampilkan gambaran yang sesungguhnya tentang kehidupan rakyat miskin atau kaum melarat. Dengan demikian mampu menyampaikan pesan secara tidak langsung kepada pembaca bagaimana sikap dan perilaku yang seharusnya dilakukan. Menyampaikan amanat dan pesan moral kepada masyarakat/pembacanya.

Kesimpulan

Analisis stilistika memperhatikan pada dua aspek kekhasan karya sastra, yaitu dari segi linguistik dan pemaknaannya. Keduanya menonjolkan keindahan suatu karya sastra. Hal ini dapat pula menentukan suatu prinsip yang mendasari kesatuan karya sastra. Menemukan suatu tujuan estetika umum yang menonjol dalam sebuah karya sastra dari keseluruhan unsurnya. Dengan demikian nilai, pemikiran dan prinsip pengarang dapat dipahami. Puisi adalah salah satu objek kajian stilistika yang tepat untuk diteliti. Puisi memiliki kekhasan bahasa dan kepadatan bahassa yang sesuai untuk dikaji dengan stilistika. Dalam hal ini sebagai contoh puisi Chairil Anwar yang dapat dikaji sebagai salah satu objek kajian stilistika. Namun pada dasarnya setiap jenis karya sastra dapat dikaji dengan stilistika. Jenis-jenis karya sastra tersebut memiliki bagian-bagian yang penting dalam setiap unsur dan pembahasannya.

Daftar Pustaka

Aminnuddin. 1997. Stilistika, Pengantar Memahami Karya Sastra. Semarang: CV. IKIP Semarang Press. Anwar, Chairil. 2010. Aku ini Binatang Jalang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Endraswara, Suwardi. 2011. Metodelogi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS. Nurhayati. 2008. Teori dan Aplikasi Stilistik. Penerbit Unsri. Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika, Kajian Puitika Bahasa, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. \ Tarigan, HG. 2011. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Wellek, R dan Warren, A. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. STRUKTUR PUISI (CONTOH ANALISIS)

Puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Puisi termasuk karya sastra, dan semua karya sastra bersifat imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak digunakan makna kias dan makna lambang. Dibandingkan dengan bentuk karya sastra yang lain, puisi, lebih bersifat konotatif. Bahasanya lebih banyak mengandung kemungkinan makna. Hal ini disebabkan terjadinya pengonsentrasian atau pemadatan segenap

kekuatan bahasa dalam puisi. Apabila dilihat dari segi bentuk penulisannya, puisi memiliki suatu tata wajah atau penampilan khusus di atas kertas, yang biasa disebut tipografi.

Pada dasarnya untuk memberikan pengertian puisi secara memuaskan cukup sulit. Adapun pengertian puisi menurut Waluyo (1987:25) beberapa yang dapat dirangkum dalam satu kalimat dapat dipaparkan sebagai berikut.

a.

Dalam puisi terjadi pemadatan segala unsur kekuatan bahasa;

b.

Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperbagus, diatur sebaik-baiknya dengan

memperhatikan irama dan bunyi;

c.

Puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan pengalaman jiwa dan bersifat

imajinatif;

d.

Bahasa yang dipergunakan bersifat konotatif; hal ini ditandai dengan kata konkret lewat pengimajian,

pelambangan, dan pengiasan, atau dengan kata lain dengan kata konkret dan bahasa figuratif;

e.

Bentuk fisik dan bentuk batin puisi merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, tidak dapat dipisahkan dan

merupakan kesatuan yang padu. Bentuk fisik dan bentuk batin itu dapat ditelaah unsur-unsurnya hanya dalam kaitannya dengan keseluruhan. Unsur-unsur itu hanyalah berarti dalam totalitasnya dengan keseluruhannya.

Selain itu, unsur-unsur puisi juga melakukan regulasi diri artinya mempunyai saling keterkaitan antara unsur yang satu dengan yang lain. Jalinan unsur-unsur yang terdapat dalam struktur fisik dalam membentuk kesatuan dan keutuhan puisi menyebabkan keseluruhan puisi lebih bermakna dan lebih lengkap dari sekadar kumpulan unsurunsur. Puisi itu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama, merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting.

Dengan demikan, setiap unsur yang terdapat dalam puisi tersebut memiliki saling hubunga antara yang satu dengan yang lain untuk terbentuknya suatu kesatuan makna dari sebuah puisi.

A.

Tema Puisi

Sebelum membaca puisi, peneliti harus menyadari bahwa makna puisi harus ditafsirkan dan bukan makna secara langsung yang dapat diketahui. Djojosuroto menambahkan untuk langkah selanjutnya dapat dilakukan dengan menafsirkan konteks dalam linguistik berupa alat-alat linguistik yang secara eksplisit digunakan dalam ujaran (2005:24). Hal ini dapat dilihat dari penggunaan kata dan hubungan antar kalimat dalam tiap baris puisi tersebut.

Jika hal demikian dilakukan, akan diperoleh penafsiran yang tidak berbeda dengan maksud penyairnya. Sehingga pokok pikiran atau tema pada puisi dapat diketahui.

Setiap wacana tentu memiliki tema atau hal pokok yang menjadi topik pembicaraan, begitu pula pada wacana sastra khususnya pada puisi juga memiliki tema di dalamnya. Tema puisi adalah gagasan pokok yang dikemukakan penyair lewat puisinya (Djojosuroto, 2005:24). Tema puisi biasanya mengungkapkan persoalan manusia yang bersifat hakiki, seperti: cinta kasih, ketakutan, kebahagiaan, kedukaan, kesengsaraan hidup, keadilan, kebenaran, ketuhanan, kritik sosial, dan protes. Tema dapat dijabarkan menjadi subtema atau dapat dikatakan pokok pikiran.

B.

Nada Puisi

Sebuah puisi dapat menimbulkan suatu nada tertentu dari pembawaan sikap penyairnya. Nada atau sikap pada puisi sering dikaitkan dengan suasana. Jika nada berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan ( feeling) dan sikap penyair terhadap pembaca (tone), maka suasana berarti keadaan perasaan yang ditimbulkan oleh pengungkapan nada dan lingkungan yang dapat ditangkap oleh panca indera. Nada berhubungan dengan tema dan pembaca. Nada yang berhubungan dengan tema menunjukkan sikap penyair terhadap objek yang digarapnya. Misalnya, penyair menggarap objek seorang perampok, penyair dapat bersikap simpati, benci, antipati, terharu, dan sebagainya. Nada yang berhubungan dengan pembaca, misalnya nada menggurui, nada sinis, nada menghasut, nada santai, nada filosofis, dan lain-lainnya.

Penghayatan pembaca akan nada yang dikemukakan penyair harus sesuai. Hanya dengan cara demikian tafsiran atas makna sebuah puisi dapat mendekati ketepatan yang dikehendaki penyair. Cara menafsirkan puisi diantaranya ialah dengan meninjau bahasa yang digunakan oleh penyair, yaitu menentukan konteks puisi berdasarkan hubungan kohesi (hubungan struktur antar kalimat) dan koherensi (hubungan makna antar kalimat). Makna puisi tidak hanya ditentukan oleh kata dan kalimat secara lepas, akan tetapi ditentukan oleh hubungan antara kalimat yang satu dengan yang lain baik kalimat sebelumnya dan sesudahnya (Djojosuroto, 2005:26).

C.

Suasana Puisi

Dalam puisi diungkapkan perasaan penyair secara totalitas. Puisi dapat mengungkapkan perasaan gembira, sedih, terharu, takut, gelisah, rindu, penasaaran, benci, cinta, dendam, dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan, penyair mengerahkan segenap kekuatan bahasa untuk memperkuat ekspresi perasaan yang bersifat total (Tarigan, 1984:5). Bahasa memiliki fungsi simbolik, emotif, dan afektif (Suriasumantri, 1985:181; Djojosuroto, 2005:26). Di dalam puisi, ketiga fungsi bahasa itu dimanfaatkan. Unsur emotif mendapat porsi yang lebih dominan.

D.

Struktur Fisik Puisi

1.

Bunyi

Menurut Pradopo (2007:22-37) bunyi dalam sebuah puisi bersifat estetik, unsur puisi yang bertugas untuk memberikan keindahan dan tenaga ekspresif. Bunyi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan dalam sebuah puisi, juga mempunyai peranan yang lebih penting, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, atau menimbulkan suasana yang khusus. Selain itu, bunyi pada puisi juga digunakan sebagai orkestrasi untuk menimbulkan bunyi musik. Bunyi konsonan dan bunyi vokal disusun begitu rupa sehingga menimbulkan bunyi yang merdu dan berirama seperti bunyi musik, dari bunyi musik murni ini dapatlah mengalir perasaan, imaji-imaji dalam pikiran, atau pengalaman-pengalaman jiwa pendengarnya (pembacanya).

Kombinasi-kombinasi bunyi yang merdu itu biasanya disebut efoni (euphony), atau bunyi yang indah. Orkestrasi bunyi yang merdu ini biasanya dipergunakan untuk menggambarkan perasaan mesra, kasih sayang atau cinta, serta hal-hal yang meng-gembirakan. Misalnya terlihat pada sajak Soeparwoto Wiraatmadja berikut ini.

SENANDUNG NATAL

Nyanyi suci di dalam hati

Mengalun setanggi sesela hati

Adik mengapa dikau sendiri

Bersama abang mari ziarah ke gereja suci

Sunyi hati di gelap hari

Serangga mati di nyala api

Kristus janganlah pergi sertai kami

dalam sepi jalan sendiri

Dan bulan, kerinduan yang dalam

menikam nurani pengembara di perlawatan

Tuhan di palungan betapa pun kebesaran

Manusia nikmat tertidur di peristirahatan

Nyanyi suci di malam sepi

Mengalun hati diayun setanggi

Adik mari berlutut di sini

Tuhan hadir bagi insani

Sunyi suci di gelap dini

Berayun hati digetar nyanyi

Dan adik mari bukakan diri

Kristus istirahatlah di hati kami

Kristus! Lindungilah dan berkati

Ajar kami berendah hati

Dan biarlah tanganmu suci

di dahi kami tersilang aman abadi

(Kidung Keramahan, 1963; Apresiasi Puisi, 2005)

Bagi umat Kristen, malam Natal adalah malam bahagia untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus Sang Penebus. Penyair mengajak kekasihnya merayakan malam Natal dengan ziarah ke gereja suci. Kerinduan akan kehadiran Sang Penebus begitu dalam menikam pengembaraan di dalam perlawatan. Hal ini tampak pada bunyi-bunyi yang dimunculkan penyair dengan bunyi vokal i pada kata ziarah dan suci, kesyahduan rindu yang dalam digambarkan dengan bunyi vokal a berkombinasi dengan bunyi konsonan m dan n pada katapengembaraan dan perlawatan. Di setiap malam Natal akan terdengar lagu malam sunyi. Di malam yang gelap dini / digetar nyanyi itu, penyair mengajak kekasihnya membuka diri agar Kristus masuk ke hati sanubari manusia.

Selain bunyi-bunyi merdu, dalam sebuah puisi juga dapat ditemukan kombinasi-kombinasi bunyi yang tidak merdu, parau disebut kakafoni (cacophony). Seperti pada sajak Hamid Jabbar berikut ini.

AROMA MAUT

Berapa jarak antara hidup dan mati, sayangku

Barangkali satu denyut lepas, o, satu denyut lepas

Tepat saat tak jelas batas-batas, sayangku

Segalanya terhempas, o, segalanya terhempas!

(Laut masih berombak, gelombangnya entah ke mana-mana

Angina masih kembali berhembus, topannya entah ke mana,

Bumi masih beredar, getarnya sampai ke mana?

Semesta masih belantara, sunyi sendiri, ke mana?)

Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?

Barangkali hilir mudik di satu titik

Tumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku:

Sampai tetes embun pun selesai, tak menitik!

(Gelombang lain datang begitu lain.

Topan lain datang begitu lain.

Getar lain datang begitu lain.

Sunyi lain begitu datang sendiri tak bisa lain!)

(Wajah Kita, 1981; Apresiasi Puisi, 2005)

Puisi di atas menceritakan bahwa jarak antara hidup dan mati dilambangkan denganbarangkali satu denyut lepas. Penyair membayangkan kematian itu begitu pasti kedatangannya, tiap manusia yang hidup di dunia suatu saat akan menghadapi kematian. Perpaduan bunyi yang terdapat pada larik-larik dalam puisi Aroma Maut lebih dominan memperdengarkan bunyi-bunyi konsonan tak bersuara yang mengesankan bunyi-bunyi kakafoni, seperti adanya bunyi p, s, t, dan k. Sehingga sebagian besar bunyi-bunyi yang terdengar begitu parau dan sangat tidak merdu. Hal ini sangat mendukung tema puisi yang menggambarkan kematian sebagai suatu yang tidak menyenangkan untuk sebagian besar orang yang hidup di dunia.

Begitulah, unsur bunyi musik dapat untuk memperdalam arti, memperjelas tanggapan, dan memperdalam perasaan. Menurut Slametmuljana dalam puisi bunyi kata itu di samping tugasnya yang pertama sebagai simbol arti dan juga untuk orkestrasi, digunakan juga sebagai peniru bunyi atau onomatope, lambang suara ( klanksymboliek), dan kiasan suara (klankmetaphoor) (Pradopo, 2007:32). Bunyi-bunyi juga mempunyai suatu simbolik sehingga dengan bunyi-bunyi dapat diciptakan suasana, perasaan, dan kesan tertentu (Luxemburg, 1992:193). Asosiasi pribadi turut memainkan peranan dalam penafsiran. Sehingga terjadi onomatope bila suatu bunyi tertentu ditiru, seperti ngiau, ngeong, dorr, crott, dan lain sebagainya. Jadi Wellek dan Warren (1995:200) menyimpulkan bahwaonomatope yakni kelompok kata yang agak menyimpang dari sistem bunyi bahasa pada umumnya. Onomatope disebut juga dengan peniruan bunyi. Peniru bunyi dalam puisi kebanyakan hanya memberikan saran tentang suara sebenarnya. Onomatope menimbulkan tanggapan yang jelas dari kata-kata yang tidak menunjukkan adanya hubungan dengan hal yang ditunjuk, sebab dalam puisi diperlukan kejelasan. Seperti peniruan suara tangis manusia yang diasosiasikan menjadi bunyi angin pada penggalan sajak Tuhan Telah Menegurmu karya Apip Mustopa berikut ini.

TUHAN TELAH MENEGURMU

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

Lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

Lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran

Lewat gempa bumi yang berguncang

Deru angin yang meraung-raung kencang

Hujan dan banjir yang melintang-pukang.

(Laut Biru Langit Biru, 1977; Apresiasi Puisi, 2005)

2.

Kata

Satuan arti yang membentuk struktur formal lingustik karya sastra adalah kata. Untuk mencapai nilai seni pada suatu karya sastra maka pengarang dapat menggunakan berbagai cara, terutama alatnya yang terpenting adalah kata, karena kata dapat menjelmakan pengalaman jiwa si pengarang dalam karya yang dihasilkannya. Menurut Aminuddin (1995:201) gaya pemilihan kata atau kata-kata dalam karya sastra adalah cara penggunaan kata atau kata-kata dalam teks sastra sebagai alat untuk menyampaikan gagasan dan nilai estetis tertentu. Jadi, kata memiliki arti dan efek tertentu yang akan ditimbulkannya. Di antaranya adalah arti denotatif dan konotatif, pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan dan gaya bahasa, citraan, dan hal-hal yang berhubungan dengan struktur kata-kata atau kalimat puisi, yang semuanya dipergunakan penyair untuk melahirkan pengalaman jiwa dalam sajak-sajaknya. Kata-kata yang telah digunakan oleh penyair ini disebut kata berjiwa, yang tidak sama artinya dengan kata dalam kamus, yang harus melalui proses pengolahan. Dalam kata berjiwa ini sudah dimasukkan perasaan-perasaan penyair, sikapnya terhadap sesuatu. Kata berjiwa sudah diberi suasana tertentu.

Kata-kata dalam tiap sajak merupakan cerminan kepribadian penyair, yaitu suatu bentuk pengekspresiannya yang bersifat pribadi atau individual. Oleh karena itu, penyair mempunyai cara sendiri untuk menyampaikan pengalaman jiwanya, misalnya pada sajak Emha Ainun Najib berikut ini.

PUTIH, PUTIH, PUTIH

Meratap bagai bayi

Terkapar bagai si tua renta

Di padang Mahsyar

Di padang penantian

Di depan pintu gerbang janji keabadian

Saksikan beribu-ribu jilbab

(Lautan Jilbab, 1989; Apresiasi Puisi, 2005)

Untuk menggambarkan penyesalannya penyair menggambarkan dirinya meratap bagai bayi, dan menunjukkan ketidakberdayaan manusia di hadapan Tuhan, penyair menggunakan kata-kata: terkapar bagai si tua renta. Rasa tidak berdaya orang yang sudah renta, yang tidak sanggup mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang lain, lebih terasa konkret dari pada kata lemah.

Penggunaan kata pada puisi populer juga diupayakan untuk menimbulkan efek tertentu dan melahirkan pengalaman jiwa penyair dalam sajak-sajaknya. Dalam hal ini ditinjau dari arti kata yang meliputi pemilihan kata

(diksi), denotasi dan konotatif, bahasa kiasan, citraan, serta hal-hal yang berhubungan dengan struktur kata-kata atau kalimat puisi, yang semuanya digunakan penyair untuk menggambarkan perasaan dan pengalaman jiwanya dalam tiap sajaknya. Sama halnya dengan penyair pada umumnya, mereka yang termasuk penulis puisi populer tentunya mempunyai cara sendiri untuk menyampaikan pengalaman jiwanya.

a)

Pemilihan Kata

Menurut Pradopo (2007:54-58) pemilihan kata dalam sajak disebut diksi. Alat untuk menyampaikan perasaan dan pikiran sastrawan adalah bahasa. Baik tidaknya tergantung kecakapan sastrawan dalam menggunakan kata-kata. Kehalusan perasaan sastrawan menggunakan kata-kata sangat diperlukan. Selain itu, perbedaan arti dan rasa sekecil-kecilnya pun harus dikuasai pemakaianya. Seorang penyair dapat menggunakan kata-kata kuna yang sudah mati, tetapi harus dapat menghidupkannya kembali. Oleh karena itu, penyair sangat cermat dalam memilih katakata sebab kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi (Waluyo, 1987:72). Sejalan dengan Aminuddin (1995:201) yang menyatakan bahwa gaya pemilihan kata-kata dalam karya sastra adalah cara penggunaan kata-kata dalam teks sastra sebagai alat untuk menyampaikan gagasan dan nilai estetik tertentu. Jadi, pemilihan kata yang tepat harus dipertimbangkan urutan katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut agar selain makna dalam sebuah puisi, aspek estetis juga perlu diperhatikan.

Penyair dalam puisinya terkadang menggunakan kata-kata yang berasal dari bahasa daerah. Penggunaan kata daerah ini secara estetis harusdapat dipertanggung-jawabkan, artinya harus dapat menimbulkan efek puitis, atau dimungkinkan dalam bahasa Indonesia kata-kata itu tidak ada (Pradopo, 2007:52-53). Selain itu penyair juga biasa menggunakan istilah-istilah atau kata-kata dalam bahasa asing atau perbandingan asing, serta kalimat-kalimat bahasa asing. Penggunaan kata-kata dalam bahasa asing ini pun harus dapat memberi efek puitis. Dalam hal ini, penyair bermaksud agar karyanya dapat dimengerti oleh kalangan luas dan memberi efek universal. Oleh sebab itu, penggunaan atau perbandingan itu harus sudah dikenal umum, atau sudah populer. Misalnya pada sajak Rita Oetoro berikut ini.

RAYUAN SERAYU

panjang berliku-liku seperti

ular naga airmu mengalir turun

dari pegunungan, baur dalam

kembang glepang tanah pedataran.

panjang berliku-liku adalah

episode masa remaja yang jauh

panjang berliku-liku wahai

dikau serayu terpendam kerinduan

sepanjang hayatku.

(Kawindra, 1994; Apresiasi Puisi, 2005)

Kembang glepang suatu istilah yang digunakan orang Jawa untuk penataan rambut gadis-gadis Jawa atau pun Bali yang berbentuk kuncir dan ditambah dengan hiasan berupa bunga melati pada celah-celah pangkal kunciran rambutnya, gadis yang menggunakan kunciran seperti itu akan terlihat cantik bagi yang memandangnya. Jadi dalam puisi Rayuan Serayumenggambarkan suatu kenangan indah yang begitu banyak lika-liku namun tetap terasa manis untuk selalu diingat, selayaknya melihat gadis yang berambut kembang glepang. Oleh karena itu, penggunaan kata-kata bahasa sehari-hari dapat memberi efek gaya yang realistis, sedangkan penggunaan kata-kata yang indah dapat memberi efek romantis.

b.

Denotasi dan Konotasi

Kata-kata yang digunakan dalam dunia persajakan tidak seutuhnya bergantung pada makna denotatif, tetapi lebih cenderung pada makna konotatif (Tarigan, 1984:29). Djojosuroto (2005:13) berpendapat bahwa bahasa puisi itu cenderung bersifat konotatif. Sehingga disimpulkan oleh Pradopo (2007:58-61) bahwa sebuah kata yang digunakan

dalam puisi itu mempunyai dua aspek arti, yaitu denotasi, ialah artinya yang menunjuk, dan konotasi, yaitu arti tambahannya. Denotasi sebuah kata adalah definisi kamusnya atau makna leksikon, yaitu pengertian yang menunjuk benda atau hal yang diberi nama dengan kata itu. Jadi, satu kata itu menunjuk satu hal. Maka dalam membaca sajak orang harus mengerti arti kamusnya, arti denotatif, orang harus mengerti apa yang ditunjuk oleh tiap-tiap kata yang digunakan. Namun seperti yang telah dikemukakan di atas dalam puisi, sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasinya saja. Bukan hanya berisi arti yang ditunjuk saja, masih ada arti tambahannya, yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya. Misalnya sajak Kirjomulyo berikut ini.

TANJUNG SANGIANG

Angin laut jauh sampai ke atas bukit

dinginnya terasa sampai ke hati

aku melihat ujung buih

serupa melihat diri sendiri

datang dan pergi

(Romansa Perjalanan, 2000)

Angin laut terasa dinginnya sampai menembus ke hati. Angin laut adalah udara yang berg erak dari darat ke laut dan terjadi pada malam hari. Angin itu menyejukkan bahkan bisa terasa sangat sejuk hingga membuat orang kedinginan sampai kulit terasa kering dan kelu. Apa lagi angin yang berhembus pada malam hari, pasti akan terasa sangat dingin saat udara itu menyentuh kulit. Jika angin yang dingin itu berhembus sampai menembus ke hati pasti akan terasa sangat dingin melebihi saat menyentuh kulit saja, mungkin seperti mati rasa.

Bahasa sastra itu penuh arti ganda (ambiguitas), homonim, kategori-kategori arbitraire(mana suka) dan terkesan tidak masuk akal apabila dilihat dari kepaduan kata-kata yang digunakan dalam puisi itu. Selain itu bahasa sastra umumnya dan puisi khususnya juga menyerap peristiwa-peristiwa sejarah, ingatan-ingatan, dan asosiasi-asosiasi.

Bahasa sastra jauh dari hanya menerangkan saja, tapi juga cenderung menyembunyikan makna. Bahasa sastra mempunyai segi ekspresifnya, membawa nada dan sikap si pembicara atau penulis. Jadi, dalam membaca sajak selain harus dipahami secara leksikonitas, juga harus diperhatikan dan dipahami makna tambahan atau konotasinya yang ditimbulkan oleh asosiasi-asosiasi arti denotatifnya.

3. Bahasa Kiasan

Unsur kepuitisan yang lain, untuk mendapatkan kepuitisan ialah bahasa kiasan ( figurative language). Menurut Aminuddin (1995:227) kajian retorik memilah figurative language(bahasa figuratif) menjadi dua jenis, yakni (1) figure of thought: bahasa figuratif yang terkait dengan cara pengolahan dan pembayangan gagasan, dan (2) rhetorical figure: bahasa figuratif yang terkait dengan cara penataan dan pengurutan kata-kata dalam konstruksi kalimat. Pemakaian kiasan oleh penyair dalam sebuah puisi pada dasarnya bertujuan agar dapat membantu dan merangsang imajinasi atau daya bayang pembaca untuk melukiskan apa yang sedang dibacanya itu dalam angan-angan sendiri (Surana, 2001:90). Adanya bahasa kiasan ini menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan. Bahasa kiasan ini mengiaskan atau menyamakan sesuatu hal dengan hal lain agar gambaran jelas, lebih menarik, dan hidup. Bahasa kiasan ada bermacam-macam, namun meskipun bermacam-macam, mempunyai sesuatu hal (sifat) yang umum, yaitu bahasa-bahasa kiasan tersebut mengaitkan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain (Pradopo, 2007:62-79). Jenis-jenis bahasa kiasan yang termasuk bahasa figuratif tersebut adalah perbandingan (simile), metafora, perumpamaan epos (epic simile), personifikasi, metonimi, sinekdoki (synecdoche), dan allegori.

a)

Perumpamaan (Simile)

Perumpamaan adalah kiasan yang tidak langsung atau yang disebut dengan perbandingan (Waluyo, 1987:84). Perumpamaan ini dapat dikatakan bahasa kiasan yang paling sederhana dan paling banyak digunakan dalam sajak. Benda yang dikiaskan kedua-duanya ada bersama pengiasnya dan digunakan kata-kata seperti laksana, bagaikan, bak, layaknya, seumpama, serupa, semisal dan sebagainya. Misalnya pada sajak Kirjomulyo berikut ini.

ROMANSA KECAPI SUNDA

Jalanan waktu serupa jalanan alam

melingkar, membelit serupa hati

lincah seperti musim

sebulan membunga, sebulan menghijau

lain saat menguning

(Romansa Perjalanan, 2000)

Jalanan waktu diumpamakan serupa atau sama dengan jalanan alam yang terus melingkar dan membelit layaknya hati serta lincah seperti musim yang terus berganti sesuai dengan perubahan iklim udara.

b)

Metafora

Metafora adalah kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan (Waluyo, 1987:84). Metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan atau diungkapkan dengan benda yang lain, contohnya: tangan kanan (orang kepercayaan), raja siang (matahari), putri malam (bulan), bunga bagsa (pahlawan), dan lain sebagainya). Jadi, metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama. Misalnya dalam sajaknya yang berjudul Aku dalam kumpulan puisinya Kerikil Tajam, Chairil Anwar menyamakan dirinya dengan binatang jalang yang bebas, tidak memiliki ikatan, dan tak dibatasi oleh apa pun, dalam hal ini Chairil Anwar dalam berkarya tidak memerhatikan cara atau aturan lama, seperti berikut.

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term) (Pradopo, 2007:66-67). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok

atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedang term kedua atau vehicle adalah hal yang membandingkan. Misalnya Aku ini binatang jalang: Aku adalah term pokok, sedang binatang jalang term kedua atau vehicle. Namun seringkali penyair langsung menyebutkan term kedua tanpa menyebutkan term pokok atau tenor.

c)

Perumpamaan Epos

Perumpamaan (epic simile) ialah perbandingan yang dilanjutkan, atau diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut (Pradopo, 2007:69). Terkadang kelanjutan perbandingan ini sangat panjang. Dapat dilihat sajak Sapardi Djoko Damono berikut.

DONGENG MARSINAH

Marsinah itu arloji sejati,

tak telah berdetak

memintal kefanaan

yang abadi:

kami ini tak banyak kehendak,

sekedar hidup layak,

sebutir nasi.

(Ayat-ayat Api, 2000)

Dalam penggalan sajak di atas penyair mengumpamakan engkau ini seperti kolam dan melanjutkannya gambaran tentang engkau engkau ini layaknya kolam yang berada di tengah-tengah belukar atau semak. Ditambah lagi

dengan perbandingan beriak-riak tenang, membiarkan nyiur sepasang, bercerminkan diri ke dalam airmu. Sehingga semakin jelas apa yang digambarkan penyair dalam puisinya. Jadi, guna perumpamaan epos ini pada dasarnya seperti perumpamaan juga, yaitu untuk memberi gambaran yang jelas, hanya saja perumpamaan epos dimaksudkan untuk lebih memperdalam dan menandaskan sifat-sifat pembandingnya, bukan sekedar memberikan persamaannya saja.

d)

Allegori

Allegori ialah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan (Pradopo, 2007:71). Cerita kiasan atau lukisan kiasan ini mengiaskan hal lain atau kejadian lain. Allegori ini banyak terdapat dalam sajak-sajak Pujangga Baru. Namun pada waktu sekarang banyak juga terdapat dalam sajak-sajak Indonesia modern. Allegori ini sesungguhnya metafora yang dilanjutkan. Misalnya dapat dilihat pada sajak Kirjomulyo berikut ini.

BUAT H. B. JASSIN

Dalam kemenangan keselip kekalahan

siapa terlalu memilih

akan datang di tanah pasir

Dalam kekalahan keselip kemenangan

siapa terlalu memilih

akan datang di tanah batu

Kita lahir dan menerima sekali waktu

alam cinta, tangis dan harap

Kita hadir dan menerima sekali saat

kemenangan dan kekalahannya

Hanya dalam sadar dan yakin

dari keduanya, lahirlah mesra

(Romansa Perjalanan, 2000)

e)

Metonimia

Metonimia adalah bahasa kias yang mempergunakan sebuah kata atau kalimat untuk menyatakan sesuatu, karena mempunyai pertautan yang dekat dan relasional (Djojosuroto, 2005:19). Dalam pola-pola kontiguitas tiada relasi kesamaan, melainkan relasi kebertautan unsur, atau pengertian yang satu dipergunakan sebagai pengganti pengertian lain yang berdekatan. Kaitan-kaitan tersebut berdasarkan berbagai motivasi, misalnya karena ada hubungan kausal, logika, hubungan waktu atau ruang. Hal ini diperjelas oleh Hartoko (1992:189) yang menyatakan bahwa kasus-kasus metonimia ialah akibat digantikan sebab, isi diganti wadah. Satu contoh sajak Bercerai karya Chairil Anwar berikut ini.

JARING-JARING

Kali ini

Nelayan menebar jaring di laut

Menangkap ikan

Kali lain

Tuhan menebar jaring maut

Menangkap insan.

(Biarkan Angin Itu, 1996; Apresiasi Puisi, 2005)

Kata-kata jaring maut dalam penggalan puisi di atas berperan menggantikan sesuatu kekuasaan Tuhan yang terwujud dalam kasih dan sayang Tuhan terhadap umatNya. Tuhan ingin mengumpulkan manusia untuk kembali kejalan yang benar. Jadi, metonimi digunakan untuk menggambarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang dapat mewakili sifat yang digantikan atau digambarkan.

f)

Personifikasi

Personifikasi adalah bahasa kiasan yang menggambarkan keadaan atau peristiwa alam sering dikiaskan sebagai keadaan atau peristiwa yang dialami oleh manusia (Waluyo, 1987:85). Menurut Djojosuroto (2005:18) personifikasi adalah jenis bahasa kias yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dapat berbuat, berpikir sebagaimana seperti manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa personifikasi adalah bahasa kias yang melukiskan benda-benda mati seolah-olah seperti manusia. Di bawah ini beberapa contoh personifikasi.

PULANG MALAM

Dan hari pun telah silam

daunan berhenti menderai

tidur dan tidur

hanya bulan memanjat bukit

(Kirjomulyo, Romansa Perjalanan, 2000)

DI DEPAN PINTU

di depan pintu: bayang-bayang bulan

terdiam di rumput. Cahaya yang tiba-tiba pasang

mengajaknya pergi

menghitung jarak dengan sunyi

(Sapardi Djoko Damono, Ayat-ayat Api, 2000)

g)

Sinekdoki (synecdoche)

Sinekdoki adalah bahasa kiasan yang menyebutkan sebagian untuk maksud keseluruhan, atau menyebutkan keseluruhan untuk maksud sebagian (Waluyo, 1987:85). Dalam hal ini Pradopo (2007:78-79) menggolongkan sinekdoki ini terdiri dari dua macam, yaitu: (1) pars pro toto: sebagian untuk keseluruhan, contohnya: hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga , masa depan Indonesia yang diramaikan oleh orang-orang yang kesulitan mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dikiaskan dengan bagian anggota tubuh yakni mulut yang menganga seperti orang kelaparan atau kehausan, (2) totum pro parte: keseluruhan untuk sebagian, contohnya: pergi ke dunia luas/ anakku sayang/ pergi ke hidup bebas, perintah sang ibu kepada anaknya untuk dapat hidup mandiri di luar rumah dikiaskan dengan kehiduan yang luas yang ada di dunia luar.

Selain bahasa-bahasa figuratif di atas, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa unsur kepuitisan dengan menggunakan bahasa kiasan juga didukung dengan adanya sarana retorika atau disebut juga gaya bahasa (rhetorical figure). Menurut Aminuddin (1995:227) sarana retorika atau gaya bahasa yang digunakan oleh penyair dalam puisinya adalah bahasa figuratif yang terkait dengan cara penataan dan pengurutan kata-kata dalam konstruksi kalimat. Dengan adanya sarana retorika dalam sebuah puisi ini dapat menimbulkan reaksi tertentu, untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca.

Tiap pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri. Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing pengarang. Meskipun tiap pengarang mempunyai gaya dan cara sendiri dalam melahirkan pikiran, namun ada sekumpulan bentuk atau beberapa macam bentuk yang biasa digunakan.

Sarana retorika itu bermacam-macam, namun setiap periode atau angkatan sastra itu mempunyai jenis-jenis sarana retorika yang digemari, bahkan setiap penyair itu mempunyai kekhususan dalam menggunakan dan memilih sarana retorika dalam sajak-sajaknya. Meskipun begitu, tetapi untuk puisi-puisi modern atau pun puisi populer juga masih dapat ditemukan berbagai gaya bahasa dalam tiap lariknya.

Beberapa sarana retorika yang biasa terdapat dalam suatu sajak adalah pleonasme, enumerasi, pararelisme, retisense, hiperbola, dan paradoks. Berikut penjelasannya:

Pleonasme (keterangan berulang) ialah sarana retorika yang sepintas lalu seperti tautologi, tetapi kata yang kedua sebenarnya telah tersimpul dalam kata yang pertama (Pradopo, 2007:95). Dengan cara demikian, sifat atau hal yang dimaksudkan itu lebih terang bagi pembaca atau pendengar. Misalnya: naik meninggi, turun melembah jauh ke bawah, tinggi membukit, jatuh ke bawah, raih menjulang menggapai bukit, terbang melayang mencapai langit, luka menoreh menusuk perih, duka menyeruak menghapus suka.

Enumerasi (penjumlahan)ialah sarana retorika yang berupa pemecahan suatu hal atau keadaan menjadi beberapa bagian dengan tujuan agar hal atau keadaan itu lebih jelas dan nyata bagi pembaca atau pendengar (Pradopo, 2007:96). Dengan demikian suatu pernyataan atau keadaan, memberi intensitas. Seperti sajak Kirjomulyo berikut ini.

APRIL

Kenangan buat Lorca

Secepat kedatangan bulan April

cintaku kembali dalam diri

membersit,sewarna hijau alam

melingkar, sebulat bulan sabit

Langkahku memberat menciptakan bumi

girang melonjak mengatasi hati

berpecahan di atas kota hati

pada hati dan hati, pada wajah dan wajah

Tiada terasa dan tiada bermaksud

aku menjerit sejauh angin menderai

Lorca, ku ingat padamu

Hijau alammu sehijau alamku

(Romansa Perjalanan, 2000)

Bait kedua itu merupakan enumerasi (penjumlahan): girang yang dirasakan sampai bertebaran di kota sampai ke desa, bahkan dapat dirasakan oleh hati-hati yang lain dan semua orang dapat melihatnya.

Pararelisme (persejajaran) ialah mengulang isi kalimat yang maksud dan tujuannya serupa. Slametmuljana menambahkan bahwa sarana retorik yang dalam penataan kata-katanya menggunakan gaya pararelisme dalam puisi yakni kalimat yang berikut hanya dalam satu atau dua kata berlainan dari kalimat yang mendahului. (Pradopo, 2007:97). Misalnya pada sajak Sapardi Djoko Damono berikut ini.

SUNYI YANG LEBAT

sunyi yang lebat: ujung-ujung jari

sunyi yang lebat: bola mata dan gendang telinga

sunyi yang lebat: lidah dan lubang hidung

sunyi yang dikenal: sebagai hutan pohon-pohon roboh

margasatwa membusuk di tepi sungai kering, para

pemburu mencari jejak pencaindra

(Ayat-ayat Api, 2000)

Pengulangan bunyi pada larik yang berbunyi sunyi yang lebat pada baris ke-1, ke-2, dan ke-3 ini bertujuan mempertegas suasana sepi yang ingin dirasakan penyair saat itu. Kesepian itu seperti semak yang tumbuh lebat, menjalar ke ujung-ujung jari, bola mata dan gendang telinga, sampai ke lidah dan ujung hidung. Sehingga kesendirian yang dialami penyair begitu terasa nyata. Jadi, tujuan penyair mengulangi kata sunyi pada baris pertama ingin menunjukkan betapa sepi dan sendirinya ia ketika itu.

Selain gaya bahasa yang menunjukkan adanya penegasan dengan menggunakan pengulangan atau pun penjumlahan kata-kata, dalam puisi juga terdapatsarana yang menggunakan titik-titik banyak untuk mengganti perasaan yang tidak terungkapkan. Sarana retorik semacam ini dikatakan oleh Pradopo (2007:97) adalah retorik retisense. Pada umumnya penyair romantik banyak menggunakan sarana retorika ini, lebih-lebih sajak romantik remaja banyak

menggunakannya. Seperti sajak karya J.E. Tatengkeng Kusuka Katakan (1974:19; Pengkajian Puisi, 2007:97) berikut ini.

Kupandang bayang melompat-lompat,

Di padang rumput;

Kulihat daun bergerak cepat

O, kusuka sebut

Apalah warna mainan gerak,

Dan bisikan angina sayup gelak;

Tapi sukma masih ngeram

Dan diam di dalam

Oh, jangan kau paksa

Melahirkan rasa!

Biarlah aku menderita

Menanti ketika

Hiperbola adalah kiasan yang dalam mengungkapkan sesuatu maksud atau hal apa pun secara berlebihan (Waluyo, 1987:85). Penyair merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan itu agar mendapatkan perhatian yang lebih seksama dari pembaca. Seperti pada sajak Emha Ainun Najib berikut ini.

PUTIH, PUTIH, PUTIH

Meratap bagai bayi

Terkapar bagai si tua renta

Di padang Mahsyar

Di padang penantian

Di depan pintu gerbang janji keabadian

Saksikan beribu-ribu jilbab

Hai! Bermilyar-milyar jilbab!

Samudera putih

Lautan cinta kasih

Gelombang sejarah

Pengembaraan amat panjang

Di padang Mahsyar

Menjelang hari perhitungan

Seribu galaksi

Hamparan jiwa suci

Bersujud

Putih, putih, putih

Bersujud

Menyeru belaian tangan kekasih

Bersujud

Dan alam raya

Jagad segala jagad

(Lautan Jilbab, 1989; Apresiasi Puisi, 2005)

Paradoks adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berlawanan, tetapi sebenarnya tidak sungguhsungguh dipikir dan rasakan (Pradopo, 2007:99). Seperti: siang yang berselimut malam, ini sebuah kiasan yang artinya di siang (keceriaan) hari tetapi terasa gelap (tidak menyenangkan) karena tertutup langit malam (kesedihan), dalam kemenangan keselip kekalahan (sebelum dapat meraih kemenangan, seseorang pasti pernah mengalami kekalahan).

Bahasa kiasan menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Oleh karena itu, bahasa kiasan seringkali digunakan oleh penyair karena dianggap lebih efektif untuk menyatakan atau mengungkapkan maksud penyair karena bahasa kias mampu menghasilkan kesenangan imajinatif dan memberi imaji tambahan dalam puisi. Sehingga yang abstrak menjadi konkret dan menjadikan puisi lebih enak dinikmati pembaca. Selain itu, bahasa kias juga berpengaruh pada intensitas pengungkapan perasaan penyair untuk puisinya dan dapat mengonsentrasikan makna puisi yang luas dengan bahasa yang singkat.

4.

Citraan

Pencitraan atau pengimajian adalah pengungkapan pengalaman sensoris penyair ke dalam kata dan ungkapan, sehingga terjelma gambaran yang lebih konkret. Sehingga untuk memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana yang khusus, untuk membuat lebih hidup gambaran dan pikiran serta penginderaan dalam sebuah puisi yang dimaksudkan untuk menarik perhatian, penyair juga menggunakan gambaran-gambaran angan (pikiran), di samping alat kepuitisan yang lain. Menurut Waluyo (1987:78) citraan atau pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian berikut: kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Dengan demikian, orang harus mengerti arti kata-kata, yang dalam hubungan ini juga harus dapat mengingat sebuah pengalaman inderaan objek-objek yang disebutkan atau diterangkan, atau secara imajinatif membangun semacam pengalaman di luar hal-hal yang berhubungan sehingga kata-kata akan secara sungguh-sungguh berarti kepada pembaca atau pendengarnya. Jadi, dengan adanya citraan dapat lebih mengingatkan kembali dari pada membuat baru kesan pikiran, sehingga pembaca terlibat dalam kreasi puitis. Maka pembaca akan mudah menanggapi hal-hal yang dalam pengalamannya telah tersedia simpanan imajiimaji yang kaya.

Seperti yang telah dijelaskan di atas gambaran-gambaran angan atau pengimajian itu ada bermacam-macam, yaitu dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, dan penciuman. Bahkan juga diciptakan oleh pemikiran dan gerakan. Berdasarkan hal itu, Pradopo (2007:81) menggolongkan citraan menjadi beberapa jenis, antara lain citraan yang ditimbulkan oleh penglihatan (visual imagery), yang ditimbulkan oleh pendengaran disebut citra pendengaran (auditory imagery) dan sebagainya. Gambaran-gambaran angan yang bermacam-macam itu tidak digunakan secara terpisah-pisah oleh penyair dalam sejaknya, melainkan digunakan bersama-sama, saling memperkuat dan saling menambah kepuitisannya.

Citra penglihatan memberi rangsangan kepada indera penglihatan, hingga sering hal-hal yang tidak terlihat jadi seolah-olah terlihat. Misalnya pada penggalan sajak Sapardi Djoko Damono berikut ini.

TIGA SAJAK RINGKAS TENTANG CAHAYA

Cahaya itu, yang sesat

di antara pencakar langit,

sia-sia mencari

baying-bayangnya.

(Ayat-ayat Api, 2000)

Citraan pendengaran itu dihasilkan dengan menguraikan bunyi suara. Penyair yang banyak menggunakannya disebut penyair auditif. Citraan pendengaran seringkali berupa onomatope. Misalnya pada penggalan sajak Rendra berikut ini.

SURAT CINTA

Kutulis surat cinta ini

kala hujan gerimis

bagai bunyi tambur main

ank-anak peri dunia yang gaib.

Dan angin mendesah.

Wahai, dik Narti,

aku cinta kepadamu!

(Empat Kumpulan Sajak, 1961; Apresiasi Puisi, 2005)

Meskipun jarang digunakan seperti citra penglihatan dan pendengaran, citra perabaan ( tactilethermal imagery) juga banyak digunakan oleh para penyair. Misalnya dapat dilihat pada sajak Subagio Sapardi Djoko Damono berikut ini.

KAMAR

ketika kumasuki kamar ini

pasti dikenalinya kembali aku

suara langkahku, nafasku

dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya

(Ayat-ayat Api, 2000)

Citraan yang begitu jarang dipergunakan ialah citraan penciuman dan pengecapan. Namun sebagai contoh dapat dilihat sajak berikut ini.

Penciuman:

DI KUBURAN

hanya bebauan daunan busuk

dan serak batuan

sekitar samara

(Chairil Anwar, Mencari Makna, 2005)

Pengecapan:

SENJA DI JALAN PASEH

Seperti yang mendesak dalam diri

begitu manis, berat dan membasah

berwajah sejernih hati perawan

berdaun sejauh laut subuh

(Kirjomulyo, Romansa Perjalanan, 2000)

Ada juga citraan gerak (movement imagery atau kinaesthetic imagery). Imaji ini menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan seperti dapat bergerak. Citraan gerak ini membuat hidup dan gambaran jadi dinamis. Misalnya pada sajak Sapardi Djoko Damono berikut ini.

AKU TENGAH MENANTIMU

aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas

di pucuk kemarau yang mulai gundul itu

berapa juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu

(Ayat-ayat Api, 2000)

Di bawah ini penyair mengggunakan bermacam-macam citraan secara bersama-sama. Misalnya pada sajak berikut.

TROMPET

Terompet dilengkingkan napas nestapa

bagai pekik elang tua

membuat garis di pasir pantai

Bau pandan di sepi malam

duri-durinya menyuruk di daging.

Amboi, aroma daun pandan!

Amboi amis darah dan daging!

Nestapa!

Maha duka!

Didambakannya dahlia dua tangkai,

burung-burung dua pasang,

emas fajar yang pertama.

Nestapa! Maha duka!

Menyepak-nyepak dalam dada

buyar napas isi rasa

lepas lewat kerongkongan tembaga.

Terompet dilengkingkan napas nestapa.

Arwah leluhur mencekik malam dena

(Empat Kumpulan Sajak, 1978; Pengkajian Puisi, 2007)

Penyair menggunakan banyak menggunakan imaji auditif seperti: terompet dilengkingkan dan pekik elang. Kata kata bau pandan, aroma daun pandan, dan amis darah dan daging merupakan pengimajian penciuman. Imaji perabaan terdapat pada baris ke-5 yang berbunyi duri-durinya menyuruk di daging. Penyair juga mengimajikan citra penglihatan pada puisinya contohnya emas fajar yang pertama. Selain itu ada pula d iselipkan citra gerak yakni pada baris-baris terakhir yang berbunyi menyepak-nyepak dalam dada.

Untuk memberi suasana khusus dan memberi gambaran suatu tempat secara jelas penyair menggunakan kesatuan citra-citra yang masih dalam satu ruang lingkup. Ada kalanya penyair juga menggunakan imaji-imaji pedesaan, alam, dalam sajak-sajaknya, atau dapat juga dengan menggunakan imaji yang memberi gambaran tentang citracitra kekotaan dan khidupan modern. Misalnya pada sajak Agnes Sri Hartini Arswendo yang berikut ini. Penyair menggunakan imaji yang menggambarkan citra-citra pedesaan dan alam.

DARI JENDELA

Dari jendela kaca kereta Senja kusaksikan

anakku berlari menerobos sawah dan kali

berjalan di atas batang padi

dengan longdress putih dan sayap bidadari

hujan turun dan kabut tebal sekali

itu semua tak menahan penglihatanku lewat kaca

itu semua tak menahan kemauannya menari

ia tak menoleh ke arahku

tapi aku pasti

ia tampak girang sekali

bermain-main di tempat tanpa batas

Dari jendela kaca kereta Senja kusaksikan

wajah sendiri

tergeletak di antara sawah, kali, dan batang padi.

(Batang Padi IV, 1987; Apresiasi Puisi, 2005)

Puisi di atas menggambarkan hal-hal yang cenderung ditemui di pedesaan, misalnya sawah, kali, batang padi, suasana alam berkabut. Sedangkan imaji-imaji kekotaan dan kehidupan dunia modern dapat dilihat pada sajak Sapardi Djoko Damono berikut.

IKLAN

Ia penggemar berat iklan. Iklan itu sebenar-benar

hiburan, kata lelaki itu. Siaran berita dan cerita itu

sekedar selingan. Ia tahan seharian di depan televise.

istrinya suka menyediakan kopi dan kadang-kadang

kacang atau kentang goreng untuk menamaninya

mengunyah iklan.

Anak perempuannya suka menatapnya aneh jika ia

menirukan lagu iklan supermi kepalanya bergoyang-

goyang dan matanya berbinar-binar. Anak lelakinya

sering memandangnya curiga jika ia tertawa melihat

badut itu mengiklankan sepatu sandal kakinya digerak-

gerakkannya ke kanan-kiri. Dan istrinya suka tidak

paham jika ia mendadak terbahak-bahak ketika

menyaksikan iklan tentang kepedulian sosial itu dua

tangannya terkepal dan dihentak-hentakkannya.

Lelaki itu meninggal seminggu yang lalu; konon yang

terakhir diucapkannya sebelum Allahuakbar adalah

Hidup Iklan! sejak itu istrinya gemar duduk di depan

televisi, bersama-sama anak-anaknya, menebak-nebak iklan

mana gerangan yang menurut dokter itu telah

menyebabkan begitu bersemangat sehingga

jantungnya mendadak berhenti.

(Ayat-ayat Api, 2000)

Penyair secara jelas mengimajikan suasana kota, dan kehidupan modern yang ditampilkan itu tergambar dari katakata dalam puisinya, seperti televisi, iklan, kentang goreng, dokter, dan badut yang kata -kata tersebut cenderung menggambarkan kehidupan modern di kota. Jadi, sajak yang menunjukkan adanya kesatuan citraan membuat jelas dan memberi suasana khusus. Seperti sajak di bawah ini, citra-citranya menunjukkan citraan kesedihan. Misalnya pada sajak Kirjomulyo berikut ini.

DUKA

Di ujung malam

orang hendak melupakan duka

Ke mana duka akan terlempar

datangnya serupa hari

serupa ada

serupa tak ada

(Romansa Perjalanan, 2000)

Citraan yang terdapat dalam sajak di atas menggambarkan atau menunjukkan perjalanan hidup anak manusia yang tidak dapat diketahui kapan berakhir, hal ini terlihat jelas pada korespondensi kata-kata yang dipilih. Namun perlu juga sajak-sajak yang tidak menunjukkan kesatuan citraan akan menyebabkan makna atau gambaran puisi menjadi gelap, karena tidak adanya saling hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain atau antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain.

5.

Irama

Satu hal yang masih erat hubungannya dengan pembicaraan bunyi adalah irama. Bunyi-bunyi yang berulang, pergantian yang teratur, dan variasi-variasi bunyi menimbulkan suatu gerak yang hidup, seperti gercik air yang mengalir turun tak putus-putus. Gerak yang teratur itulah yang disebut irama. Irama dalam bahasa adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa yang teratur. Irama itu dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu metrum dan ritme. Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Sedangkan ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan atau pergantian bunyi tinggi

rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya.

Dalam puisi timbulnya irama itu karena perulangan bunyi berturut-turut dan bervariasi, misalnya sajak akhir, asonansi, dan aliterasi. Begitu juga karena adanya pararelisme-pararelisme, ulangan-ulangan kata, ulangan-ulangan bait. Selain itu, disebabkan pula oleh tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemah, disebabkan oleh sifat-sifat konsonan dan vokalnya atau panjang-pendek kata, atau kelompok-kelompok sintaksis berupa gatra atau kelompok kata.

Pada puisi-puisi Indonesia, puisi dengan metrum tertentu dapat dikatakan tidak ada. Apabila terdapat metrum, maka bersifat individual, artinya metrum-metrum itu buatan-buatan penyair-penyair pribadi yang saling berbeda, tanpa aturan dan patokan tertentu. Sebenarnya yang mempunyai metrum adalah pantun dan syair. Hal ini disebabkan jumlah suku kata yang cenderung tetap dalam tiap baris baitnya dan oleh persajakan (tengah dan akhir) yang tetap.

Begitu juga dalam sajak-sajak Pujangga Baru kelihatan seperti mempunyai metrum karena bentuknya yang teratur rapi dan jumlah suku kata yang cenderung tetap. Misalnya sajak karya Amir Hamzah ini.

DOA POYANGKU

Poyangku rata meminta sama

Semoga sekali aku diberi

Memetik kecapi , kecapi firdusi

Menampar rebana, rebana swarga

Para penyair sesungguhnya lebih memerhatikan ritme pada puisinya. Ritme ini didasari oleh adanya pertentangan bunyi, membuat perulangan, juga untuk membuat irama itu penyair juga dapat melakukannya dengan menyingkat kata, misalnya hadir menjadi dir, hendak menjadi nak, atau manusia menjadi nusia. Memilih kata yang cocok bunyinya: pitunang poyang, habis kikis, atau selaras dengan kata yang dikombinasikan itu, dan sebagainya. Dengan adanya irama itu, selain puisi terdengar merdu, mudah dibaca, juga hal ini menyebabkan aliran perasaan ataupun pikiran yang tidak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji-imaji) yang jelas dan hidup. Hal ini menimbulkan juga adanya pesona atau daya magis hingga melibatkan para pembaca atau pendengar ke dalam keadaan extase(bersatu diri dengan objeknya).

Puisi yang merdu bunyinya dikatakan melodius: berlagu seolah-olah seperti nyanyian yang mempunyai melodi. Misalnya seperti sajak M. Yamin berikut ini.

Tanahku bercerai seberang-menyeberang

Merapung di air, malam dan siang

Sebagai telaga dihiasi kiambang

Sejak malam diberi kelam

Sampai purnama terang-benderang

Di sanalah bangsaku gerangan menopang

Selama berteduh di alam nan lapang

(Indonesia Tanah Darahku, Tonggak I, 1987; Apresiasi Puisi, 2005)

Melodi adalah panduan susunan deret suara yang teratur dan berirama. Melodi itu timbul karena pergantian nada kata-katanya, tinggi rendah bunyi yang berturut-turut. Bedanya melodi nyanyian dengan puisi ialah terletak pada macam bunyi (nada) yang terdapat pada sajak itu tidak seberapa banyak dan intervalnya (jarak nada) juga terbatas. Irama, metrum, dan melodi itu bekerja sama dalam sajak hingga membentuk kesatuan yang bercorak indah.

Pada saat berdeklamasi, irama puisi ini dapat tercipta dengan tekanan-tekanan, jeda (waktu yang dipergunakan deklamator untuk perhentian suara). Deklamator atau tris harus memerhatikan irama puisi itu sebab tiap-tiap puisi membawa iramanya sendiri-sendiri. Dalam melodisasi puisi, irama puisi itu pun sudah menentukan lagunya. Selain itu, irama dan ketepatan ekspresi dalam berdeklamasi didapatkan dengan mempergunakan tekanan-tekanan pada kata. Ada tiga jenis tekanan, yaitu tekanan dinamik, tekanan nada, dan tekanan tempo. Tekanan dinamik ialah tekanan pada kata yang terpenting, menjadi sari kalimat dan bait sajak. Tekanan nada ialah tekanan tinggi (rendah). Perasaan girang dan gembira, perasaan marah, keheranan sering menaikkan suara, sedang perasaan sedih merendahkan suara. Tekanan tempo ialah lambat cepatnya pengucapan suku kata atau kata dan kalimat.

Pada seni sastra khususnya sajak, irama membuat rangkaian kata-kata seolah-olah hidup dan bernyawa (Surana, 2001:25). Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai irama, dengan irama kita berbicara, berbaris, bernyanyi, menumbuk padi, menari, dan sebagainya. Irama itu mendatangkan rasa senang, walaupun juga dapat menimbulkan rasa mencekam. Irama yang tetap dan beraturan timbulnya di dalam puisi disebut kaki sajak. Tiaptiap larik terbagi atas dua alun irama. Perhentian di antara dua alun itu disebut cesura. Cesura itu digambarkan dengan garis miring (/). Misalnya dapat dilihat pada kutipan puisi Doa Poyangku Amir Hamzah dibawah ini.

Poyangku rata / meminta sama

Semoga sekali / aku diberi

Memetik kecapi / kecapi firdusi

Menampar rebana / rebana swarga

Dua alun irama ini dalam puisi sangat penting. Sastrawan-sastrawan modern tidak mau lagi menggunakan puisi berdasarkan dua alun suara ini, sama halnya dengan puisi-puisi populer juga telah mengabaikannya. Mereka lebih bebas dan mementingkan keutuhan pengertian, bukan ikatan alun irama.

Dalam seni sastra Barat, irama itu dinyatakan dengan tanda (-) yang disebut arsis, untuk suku kata yang mendapat tekanan keras (panjang). Sedangkan kata yang mendapat tekanan lunak (pendek) dinyatakan dengan tanda (^), yang diberi nama thesis. Berikut dapat dilihat pada kutipan puisi Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo Rendra sebagai berikut.

- ^ - ^

^^

^ - ^

- ^ ^ ^

Dengan kuku-kuku besi, kuda menebah perut bumi

- ^

^ ^ ^

- ^

- - ^

^ -

^ ^ - ^

- ^

- ^

Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya pada pucuk-pucuk para

- ^

- - -

- ^

^ -

^ -

^- ^

Mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu

- ^ -

^ -

- ^

^^- -

^- ^

Surai bau keringat basah jenawipun telanjang

Kata-kata yang mendapat penekanan pada tiap baris larik di atas ditandai dengan pelantunan irama bertekanan lembut (rendah) seperti: kuku-kuku besi dan perut bumi.

Nama-nama yang membentuk kaki puisi yaitu: 1) / ^ / ^ / (jambe), 2) / ^ ^ / ^ ^ / (anapes), 3) / ^ / ^ / (troacheus), dan 3) / ^ ^ / ^ ^ / (dactylus). Suku kata dalam jambe bervariasi, ada yang diberi tekanan dan ada yang tidak. Ada yang bertekanan keras dan lembut. Pada troacheus, tekanan keras terdapat pada suku kata pertama. Pada daktylus, tekanan terdapat pada awal baris, dan selanjutnya diselingi dua suku kata tidak bertekanan. Pada anapest tekanan dimulai pada suku kata ketiga dan pada awal kata tidak bertekanan (Waluyo, 1987:96).

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa puisi modern termasuk puisi populer dinyatakan bahwa lebih mementingkan makna dari pada alun irama. Namun pada tiap larik puisi tetap mempunyai irama dalam setiap pembacaannya. Jadi, dalam puisi populer perulangan bunyi dan tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemah, disebabkan oleh konsonan dan vokal atau panjang pendek kata, juga disebabkan adanya kelompok sintaksis dapat menimbulkan irama. Seperti halnya puisi pada umumnya, puisi populer dengan metrum tertentu cukup sulit ditemukan. Namun jika ada metrum itu hanya buatan-buatan penyair-penyair secara pribadi yang tentunya berbeda satu dengan lainnya, tanpa aturan dan patokan tertentu.

puisi kahlil gibran 7 alasan mencela diri


November 10, 2012 tagged 7 alasan, diri, gibran, kahlil, mencela, puisi | Leave a comment 7 ALASAN MENCELA DIRIMU Oleh Kahlil Gibran

Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku, pertama kali ketika aku melihatnya lemah, padahal seharusnya ia bisa kuat.

Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket dihadapan orang yang lumpuh

Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah ia memilih yang mudah

Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan cuba menghibur diri dengan mengatakan bahawa semua orang juga melakukan kesalahan

Kelima kali, ia menghindar kerana takut, lalu mengatakannya sebagai sabar

Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk padahal ia tahu, bahawa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai

Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat ANTARA PAGI DAN MALAM HARI Oleh Kahlil Gibran TENANGLAH hatiku, kerana langit tak pun mendengari Tenanglah, kerana bumi dibebani dengan ratapan kesedihan. Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu. Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahsiamu, dan bayang-bayang tak berhenti dihadapan mimpimimpi. Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya. Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku. DALAM mimpi aku melihat seekor murai menyanyi saat dia terbang di atas kawah gunung berapi yang meletus. Kulihat sekuntum bunga Lili menyembulkan kelopaknya di balik salju. Kulihat seorang bidadari te***jang menari-menari di antara batu-batu kubur. Kulihat seorang anak tertawa sambil bermain dengan tengkorak-tengkorak. Kulihat semua makhluk ini dalam sebuah mimpi. Ketika aku terjaga dan memandang sekelilingku, kulihat gunung berapi memuntahkan nyala api, tapi tak kudengar murai bernyanyi, juga tak kulihat dia terbang.

Kulihat langit menaburkan salju di atas padang dan lembah, dilapisi warna putih mayat dari bunga lili yang membeku. Kulihat kuburan-kuburan, berderet-deret, tegak di hadapan zaman-zaman yang tenang. Tapi tak satu pun kulihat di sana yang bergoyang dalam tarian, juga tidak yang tertunduk dalam doa. Saat terjaga, kulihat kesedihan dan kepedihan; ke manakah perginya kegembiraan dan kesenangan impian? Mengapa keindahan mimpi lenyap, dan bagaimana gambaran-gambarannya menghilang? Bagaimana mungkin jiwa tertahan sampai sang tidur membawa kembali roh-roh dari hasrat dan harapannya?

DENGARLAH hatiku, dan dengarlah ucapanku. Semalam jiwaku adalah sebatang pohon yang kukuh dan tua, menghunjam akar-akarnya ke dasar bumi dan cabangcabangnya mencekau ke arah yang tak terhingga. Jiwaku berbunga di musim bunga, memikul buah pada musim panas. Pada musim gugur kukumpulkan buahnya di mangkuk perak dan kuletakkannya di tengah jalan. Orang-orang yang lalu lalang mengambil dan memakannya, serta meneruskan perjalanan mereka.

KALA musim gugur berlalu dan gita pujinya bertukar menjadi lagu kematian dan ratapan, kudapati semua orang telah meninggalkan diriku kecuali satu-satunya buah di talam perak. Kuambil ia dan memakannya, dan merasakan pahitnya bagai kayu gaharu, masam bak anggur hijau. Aku berbicara dalam hati,Bencana bagiku, kerana telah kutempatkan sebentuk laknat di dalam mulut oran g-orang itu, dan permusuhan dalam perutnya. Apa yang telah kaulakukan, jiwaku, dengan kemanisan akar-akarmu itu yang telah meresap dari usus besar bumi, dengan wangian daun-daunmu yang telah meneguk cahaya matahari? Lalu kucabut pohon jiwaku yang kukuh dan tua. Kucabut akarnya dari tanah liat yang di dalamnya dia telah bertunas dan tumbuh dengan subur. Kucabut akar dari masa lampaunya, menanggalkan kenangan seribu musim bunga dan seribu musim gugur. Dan kutanam sekali lagi pohon jiwaku di tempat lain. Kutanam dia di padang yang tempatnya jauh dari jalan-jalan waktu. Kulewatkan malam dengan terjaga di sisinya, sambil berkata,Mengamati bersama malam yang membawa kita mendekati kerlipan bintang. Aku memberinya minum dengan darah dan airmataku, sambil berkata,Terdapat sebentuk keharuman dalam darah, dan dalam airmata sebentuk kemanisan. Tatkala musim bunga tiba, jiwaku berbunga sekali lagi.

PADA musim panas jiwaku menyandang buah. Tatkala musim gugur tiba, kukumpulkan buah-buahnya yang matang di talam emas dan kuletakkan di tengah jalan. Orang-orang melintas, satu demi satu atau dalam kelompok-kelompok, tapi tak satu pun menghulurkan tangannya untuk mengambil bahagiannya. Lalu kuambil sebuah dan memakannya, merasakan manisnya bagai madu pilihan, lazat seperti musim bunga dari syurga, sangat menyenangkan laksana anggur Babylon, wangi bak wangi-wangian dari melati.

Aku menjerit,Orang-orang tak menginginkan rahmat pada mulutnya atau kebenaran dalam usus mereka, kerana rahmat adalah puteri airmata dan kebenaran putera darah! Lalu aku beralih dan duduk di bawah bayangan pohon sunyi jiwaku di sebuah padang yang tempatnya jauh dari jalan waktu.

TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba. Tenanglah, kerana langit menghembus bau hamis kematian dan tak bisa meminum nafasmu. Dengarkan, hatiku, dan dengarkan aku bicara. Semalam fikiranku adalah kapal yang terumbang-ambing oleh gelombang laut dan digerakkan oleh angin dari pantai ke pantai Kapal fikiranku kosong kecuali untuk tujuh cawan yang dilimpahi dengan warna-warna, gemilang berwarna-warni. Sang waktu datang kala aku merasa jemu terapung-apungan di atas permukaan laut dan berkata, Aku akan kembali ke kapal kosong fikiranku menuju pelabuhan kota tempat aku dilahirkan. Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku Aku mulai mengecat sisi-sisi kapalku dengan warna-warni kuning matahari terbenam, hijau musim bunga baru, biru kubah langit, merah senjakala yang menjadi kecil. Pada layar dan kemudinya kuukirkan susuk-susuk menakjubkan, menyenangkan mata dan menyenangkan penglihatan. Tatkala kerjaku selesai, kapal fikiranku laksana pandangan luas seorang nabi, berputar dalam ketidakterbatasan laut dan langit. Kumasuki pelabuhan kotaku, dan orang muncul menemuiku dengan pujian dan rasa terima kasih. Mereka membawaku ke dalam kota, memukul gendang dan meniup seruling. Ini mereka lakukan kerana bahagian luar kapalku yang dihias dengan cemerlang, tapi tak seorang pun masuk ke dalam kapal fikiranku. Tak seorang pun bertanya apakah yang kubawa dari seberang lautan Tak seorang pun tahu kenapa aku kembali dengan kapal kosongku ke pelabuhan. Lalu kepada diriku sendiri, aku berkata,Aku telah menyesatkan orang-orang, dan dengan tujuh cawan warna telah kudustai mata mereka

Setelah setahun aku menaiki kapal fikiranku dan kulayari di laut untuk kedua kalinya. Aku berlayar menuju pulau-pulau timur, dan mengisi kapalku dengan dupa dan kemenyan, pohon gaharu dan kayu cendana. Aku berlayar menuju pulau-pulau barat, dan membawa bijih emas dan gading, batu merah delima dan zamrud, dan sulaman serta pakaian warna merah lembayung. Dari pulau-pulau selatan aku kembali dengan rantai dan pedang tajam, tombak-tombak panjang, serta beraneka jenis senjata. Aku mengisi kapal fikiranku dengan harta benda dan barang-barang lhasil bumi dan kembali ke pelabuhan kotaku, sambil berkata, Orang-orangku pasti akan memujiku, memang sudah pastinya. Mereka akan menggendongku ke dalam kota sambil menyanyi dan meniup trompet Tapi ketika aku tiba di pelabuhan, tak seorangpun keluar menemuiku. Ketika kumasuki jalan-jalan kota, tak seorang pun memerhatikan diriku.

Aku berdiri di alun-alun sambil mengutuk pada orang-orang bahawa aku membawa buah dan kekayaan bumi. Mereka memandangku, mulutnya penuh tawa, cemuhan pada wajah mereka. Lalu mereka berpaling dariku. Aku kembali ke pelabuhan, kesal dan bingung. Tak lama kemudian aku melihat kapalku. Maka aku melihat perjuangan dan harapan dari perjalananku yang menghalangi perhatianku. Aku menjerit. Gelombang laut telah mencuri cat dari sisi-sisi kapalku, tak meninggalkan apa pun kecuali tulang belulang yang bertaburan. Angin, badai dan terik matahari telah menghapus lukisan-lukisan dari layar, memudarkan ia seperti pakaian berwarna kelabu dan usang. Kukumpulkan barang-barang hasil dan kekayaan bumi ke dalam sebuah perahu yang terapung di atas permukaan air. Aku kembali ke orang-orangku, tapi mereka menolak diriku kerana mata mereka hanya melihat bahagian luar. Pada saat itu kutinggalkan kapal fikiranku dan pergi ke kota kematian. Aku duduk di antara kuburan-kuburan yang bercat kapur, merenungkan rahsia-rahsianya.

TENANGLAH, hatiku, hingga fajar tiba. Tenanglah, meskipun prahara yang mengamuk mencerca bisikan-bisikan batinmu, dan gua-gua lembah takkan menggemakan bunyi suaramu. Tenanglah, hatiku, hingga fajar tiba. Kerana dia yang menantikan dengan sabar hingga fajar, pagi hari akan memeluknya dengan semangat. NUN di sana! Fajar merekah, hatiku. Bicaralah, jika kau mampu bicara! Itulah arak-arakan sang fajar, hatiku! Akankah hening malam melumpuhkan kedalaman hatimu yang menyanyi menyambut fajar? Lihatlah kawanan merpati dan burung murai melayang di atas lembah. Akankah kengerian malam menghalangi engkau untuk menduduki sayap bersama mereka? Para pengembala memandu kawanan dombanya dari tempat ternak dan kandang. Akankah roh-roh malam menghalangimu untuk mengikuti mereka ke padang rumput hijau? Anak lelaki dan perempuan bergegas menuju kebun anggur. Kenapa kau tak berganjak dan berjalan bersama mereka? Bangkitlah, hatiku, bangkit dan berjalan bersama fajar, kerana malam telah berlalu. Ketakutan malam lenyap bersama mimpi gelapnya. Bangkitlah, hatiku, dan lantangkan suaramu dalam nyanyian, kerana hanya anak-anak kegelapan yang gagal menyatu ke dalam nyanyian sang fajar.

BAYANG Oleh Kahlil Gibran

Setiap langkah ku ada dia.. Mengikuti di belakang punggungnya. .

Gelap dan tak terlihat.. Kasat mata..

Terdiam kala banyak yang membicarakannya. . Seakan tak seorang pun memandang kearah ku.. Sibuk mengagumi pesonanya.. Sibuk meminta senyumannya. .

Akulah sang tak terlihat.. Saat dia berada di dekat ku..

Akulah sang gelap.. Dibalik wajah cerah nya..

Akulah sang kasat mata.. Ada namun seakan tak ada..

Akulah sang bayang.. Sesuatu yang tak dianggap ada..

menunggu

Hari terhitung minggu Minggu pun menjadi bulan.. Pagi ku mengingat mu Malam ku mengenangmu

Tetap saja semua sama Sejak kau pergi.. Ku masih saja menanti mu Hingga kau kembali Dan takkan tinggalkan ku lagi.. Entah kapan..

Menunggu mu masih.. Setia tetap ku janji..

Hingga ku dapat kau kembali.. Bersama jalani hari..

CINTA SETUBUH PADAS Oleh Kahlil Gibran

Cinta setubuh padas! Bergelang waktu menggoda sesal anak rahim di kandung celaka. Mengunci tabir di buih-buih selaksa doa.

Mungkin karunia itu berakhir patah, atau sekedar mengusap lempeng cumbu bertahta angin! Dan cinta kian menitik air mata di seanyam arang, mantra hati menyusut di susuk semangat.

Kembalikanlah amarahku; oh, cermin sangga!

Lembut suara angannya mengelus padas, agar memeluk kerat penguak duri percintaan bersanding ajal. Keadilan Cinta ketika hati melangkah ketika hasrat menggema ketika rasa bergetar saat itu daya tak kuasa menemukan kekasih hati

Dimanakah posisi cinta dikala hati menginginkannya apakah cinta hanya sebuah pelampiasan dari hasrat diri dimanakah rasa dikala posisi cinta bergeser

Cinta, adakah cinta untukku apakah cinta bisa berbuat adil

Entahlah dayaku tak kuasa lagi untuk menemukan cinta