Anda di halaman 1dari 6

Syok anafilaktik Penanganan akut/segera Penatalaksaan segera untuk syok anafilaksis dimulai dari penilaian terhadap jalan nafas,

, pernafasan dan sirkulasi.2 Syok anafilaktik merupakan keadaan gawatdarurat yang sering terjadi dalam praktek kedokteran gigi. Kegawatdaruratan medis dapat dicegah dengan antisipasi dini. Warna kulit pasien yang tidak normal, frekuensi denyut nadi atau pernapasan bisa menandakan akan terjadinya keadaan gawatdarurat. Pendekatan yang baik terhadap pasien sangat penting dilakukan mengetahui penyakit pasien dan membuatnya merasa tenang. Prinsip-prinsip penanganan untuk kasus gawat darurat seperti syok anafilaksis dapat disingkat menjadi 'ABCDE'.1

Airway

Breathing

Circulation

Disability ( or neurogical status) Exposure (in dental practice, to facilitate placement of

AED / Automated External Defibrillator paddles) or appropriately exposing parts to be examined

Pastikan bahwa lingkungan disekitar pasien dalam keadaan aman. Pentingnya juga untuk meminta bantuan dari anggota tim dokter gigi untuk memanggil ambulans. Penilaian prinsip-prinsip yang dijelaskan diatas tadi dilakukan terus-menerus, terutama jalan nafas pasien. Tanpa adanya yang penyaluran oksigen yang teapt untuk pasien, langkah-langkah penanganan lain akan menjadi langkah yang sia-sia. Penanganan kasus ini mungkin membutuhkan waktu.1 Jika pasien sadar, tanyakan bagaimana keadaannya. Hal ini dapat memberikan informasi penting (misalnya, pasien yang tidak bisa berbicara atau memberitahu Anda bahwa mereka memiliki nyeri dada). Jika pasien tidak responsif, pasien harus diguncang dan

tanyakan 'Apakah kamu baik-baik saja?'. Jika mereka tidak merespon sama sekali, tidak ada denyut nadi dan tidak menunjukkan tanda-tanda dia sadar dan mengalami serangan jantung maka harus ditangani seperti yang dijelaskan sebelumnya. Jika pasien mungkin menanggapi dengan cara yang terengah-engah makan kita bisa bertanya 'Apakah Anda tersedak?.1 A = Airway Obstruksi jalan napas adalah keadaan yang harus dikelola dengan cepat. Bebaskan jalan nafas dengan memiringkan kepala dan mengangkat dagu pasien. Pasien yang tidak dapat berbicara dalam membutuhkan perhatian penting dan penting unutk membangun jalan napas. Hal ini penting untuk menghilangkan benda asing terlihat, darah dan penggunaan penyedot mungkin menguntungkan. Membersihkan mulut harus dilakukan dengan hati-hati menggunakan 'finger sweep' pada orang dewasa untuk menghindari bahan mendorong lebih jauh ke dalam saluran napas bagian atas. Alat saluran napas tambahan sederhana seperti saluran napas orofaringeal dapat digunakan. B dan C= Breathing dan Circulation Seorang dokter harus melihat, mendengarkan dan merasakan tanda-tanda gangguan pernapasan. Ini harus dilakukan sementara menjaga jalan napas terbuka dan dokter harus: Lihat gerakan dada Dengarkan bunyi napas dari mulut pasien Rasakan udara melalui pipi dengan kepala berbalik melawan mulut pasien Hal ini harus dilakukan tidak lebih dari 10 detik untuk menentukan apakah pernapasan pasien normal Jika ada keraguan apakah napas tidak normal, tindakan harus seolah-olah tidak normal, yaitu dimulai cardiopulmonary resuscitation (CPR). D = Disability Kecacatan adalah istilah yang mengacu pada penilaian terhadap status neurologis pasien. Hal ini terutama mengacu pada tingkat kesadaran (pada pasien trauma pemeriksaan neurologis lengkap diperlukan). Hipoksia atau hiperkapnia (peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah) kemungkinan terjadi, bersamaan dengan obat penenang atau obat analgesik. Penilaian sederhana untuk tingkat kesadaran meliputi AVPU, yaitu: A = Alert ( Apakah pasien waspada?)

V = Response to verbal stimulus (Apakah pasien merespon rangsang suara?) P = Response to pain (Apakah pasien merespon rasa sakit?) U = Unresponsive (Apakah pasien tidak merespon?)

Keadaan tak sadarkan diri mungkin terjadi karena hipoglikemia - jika kadar glukosa darah kurang dari 3mmol/litre setelah diperiksa oleh alat pengukur glukosa maka glukagon harus diberikan. E = Exposure Hal ini dilakukan dengan melonggarkan atau pelepaskan beberapa pakaian pasien. Epinefrin adalah obat pilihan untuk anafilaksis dan harus diberikan segera untuk setiap pasien dengan dugaan syok anafilaksis. Pengobatan harus disediakan bahkan jika diagnosis tidak pasti karena ada di sini ada kontraindikasi untuk penggunaan epinefrin. Dosis yang dianjurkan epinefrin untuk akut pengobatan anafilaksis adalah 0,01 mg/kg sampai maksimal 0,5mg diberi secara intramuskular setiap 5 - 20 menit yang diperlukan. Pemberian intramuskular ke paha lateral dianjurkan karena memungkinkan untuk penyerapan lebih cepat dan lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian subkutan. Glukagon juga harus diperhatikan pada seseorang yang menggunakan beta blocker. Semua pasien yang menerima epinefrin harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan evaluasi dan observasi. Posisi pasien juga harus dibaringkan (terlentang) dengan posisi ekstremitas bawah ditinggikan, posisi ini dilarang pada kondisi pasien yang mengalami sesak nafas atau muntah. Jika epinefrin intramuskular dan intravena gagal untuk memperbaiki gejala anafilaktik, infus epinefrin secara intravena dapat dilakukan namun infus ini harus diberikan oleh dokter yang terlatih dan berpengalaman dengan kontrol tekanan darah dan pemantauan jantung. Setelah pengobatan akut, pasien harus diamati dalam jangka waktu tertentu karena memungkinkan terulangnya reaksi syok akibat epinefrin habis. Para ahli telah merokemendasikan bahwa pasien harus diamati selama 4 sampai 6 jam setelah terjadinya reaksi anafilaktik dengan waktu observasi yang panjang untuk pasien dengan gejala berat.

Penanganan jangka panjang Pengelolaan jangka panjang untuk kasus syok anafialktik ini meliputi: penilaian oleh ahli, pemberian resep epinefrin auto-injeksi, edukasi pada pasien untuk mencegah reaksi berulang, dan pemberian imunoterapi.2 Penilaian para ahli Setelah anafilaktik akut, pasien harus dinilai bagaimana keadaannya di masa depan, idealnya oleh alergi. Dokter yang telah berpengalaman dalam mengidentifiikasi dan mengkonfirmasi penyebab syok anafilaktik, edukasi pada pasien mengenai cara yang tepat dalam menghindari terjadinya syok anafilaktik, penyusunan langkah pencegahan, dan mendiskusikan apakah imunoterapi telah sesuai.

Pemberian resep epinefrin auto-injeksi Pemberian resep anafilaksis auto-injeksi harus diberikan pada pasien yang pernah mengalami syok sebelumnya. Epinefrin auto-injeksi juga diberikan pada pasien yang memiliki onset yang cepat terhadap alergi sistemik (gastrointestinal, pernafasan, dan jantung), reaksi alergi yang cepat karena makanan atau serangga. Saat ini, ada dua macam auto-injektor yang tersedia di Amerika Utarayaitu, EpiPen dan Twinject. Kedua produk ini tersedia dalam dua dosis (0,15mg dan 0,30mg) yang diresep kan sesuai dengan berat badan, 0,30mg dianjurkan untuk pasien dengan berat badan < 30kg, sedangkan dosis 0,15mg untuk anak-anak dengan berat badan 15-30kg. Sumber tertentu, merokemendasikan dosis 0,30mg dapat diberikan pada pasien yang mempunyai berat < 25 kg. Alat ini harus disimpan pada suhu tertentu, dan diganti apabila telah melewati tanggal kadaluarsa.

Edukasi pasien untuk menghindari bila terjadi syok anafilaksis lagi Pasien dan perawat harus diedukasi tentang agen ataupun eksposur yang dapat menempatkan mereka pada resiko syok di masa depan. Strategi penghindaran terhadap agen pemicu ini bersifat individual dengan memapertimbangkan faktorfaktor pemicu relevan seperti; usia, hobi, aktivitas, pekerjaan, kondisis perumahan, perawatan medis dan kecemasan pasien sendiri. Pasien yang memiliki

reaksi anafilaktik terhadap makanan harus diinstruksikan membaca label makanan dengan hati-hati, memperhatikan makanan-makanan yang tersembunyi. Pasien dengan anafilaktik terhadap obat harus diinformasikan mengenai reaksi silang obat, sehingga penggunn obat penyebab syok anafilaksis dapat dihindari. Medikasi sebelum perawatan dan penggunaan obat dengan osmolaritas yang rendah dapat diberikan pada pasien yang mempunyai riwayat syok anafilaktik terhadap obat. Pasien harus memakai identifikasi medis seperti gelang/ kalung sebagai medical alert yang menunjukan bahwa pasien telah mengalami syok. Pasien juga harus diinstruksikan untuk menghindari obat-obatan yang mungkin bisa meningkatkan kerentanan atau memperumit pengolaan anafilaktik seperti beta-blockers, ACE inhibitor atau ARBs.

Referensi 1. Greenwood, Mark. Medical Emergencies in Dental Practice: 1. The Drug Box, Equipment and General Approach. Dent Update 2009; 36: 202211 2. Kim H, Fischer D. Anaphylaxis. Allergy, atsma, and clinical Immunology : 2012. 7(Suppl 1):S6