Anda di halaman 1dari 7

REVIEW JURNAL ASERTIV 1. 2.

Judul Latar Belakang HUBUNGAN ANTARA ASERTIVITAS DAN KEMATANGAN DENGAN KECENDERUNGAN NEUROTIK PADA REMAJA Masa remaja merupakan suatu masa penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan baru, padahal emosi remaja dalam keadaan tidak stabil atau masih bergejolak, Jersild, dkk. (1978). Perilaku yang menunjukkan adanya gejala neurotik pada remaja biasanya berupa hal-hal yang negatif, dari kenakalan kecil biasa sampai yang sudah cukup mencemaskan seperti misalnya perkelahian antar pelajar, penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, dan berbagai bentuk kenakalan lain bahkan sampai kriminal (Suranto dalam Kedaulatan Rakyat 16 Juni 1997), selanjutnya dikatakan oleh Suranto, mabok lem yang banyak dilakukan anak-anak jalanan akhirakhir ini menambah panjang daftar bentuk kenakalan remaja tersebut. Diharapkan ramaja mampu menyesuaikan diri dan dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi sehingga dapat berkembang menjadi seorang dewasa yang baik, akan tetapi kenyataan yang ada dalam menghadapi masa transisi ini banyak remaja yang tidak dapat menghadapi dengan baik sehingga mereka mempunyai kecenderungan neurotik yang tinggi dengan gejala-gejala negatif seperti misalnya penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, perkelahian dan kenakalan lain bahkan sampai kriminal. Remaja perlu memiliki kemampuan untuk asertif ini agar dapat mengurangi stres maupun konfliknya sehingga tidak melarikan diri ke hal-hal yang negatif. Perilaku asertif bukan bawaan ataupun muncul secara kebetulan pada tahap perkembangan individu, namun merupakan pola-pola yang dipelajari sebagai reaksi terhadap situasi sosial dalam kehidupannya (Rathus & Nevis, 1982). Menurut Alberti & Emmons (dalam Weiten & Lloyd, 1994) perilaku asertif lebih adaptif daripada submisif atau agresif, asertif menimbulkan harga diri yang tinggi dan hubungan interpersonal yang memuaskan. Kemampuan asertif memungkinkan orang untuk mengemukakan apa yang diinginkan secara langsung dan jelas sehingga menimbulkan rasa senang dalam diri dan orang lain menilai baik. Berdasarkan pendapat tersebut di atas, disimpulkan seorang yang asertif adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk mempertahankan hak, menyatakan perasaan, pendapat, dan keinginan pada orang lain secara langsung, terus terang, dan tegas tanpa ada rasa cemas dan tidak merugikan orang lain. Asertivitas sebagai variabel bebas, yaitu cara yang digunakan seseorang dalam mengekspresikan emosi, perasaan, dan hak personal, serta adanya komunikasi langsung, wajar, jujur, tanpa perasaan cemas dan dapat diterima orang lain. Untuk mendapatkan data tentang asertivitas digunakan angket asertivitas yang aspek-aspeknya adalah ekspresif, pemahaman terhadap hak-hak personal, dan komunikatif. Kuantitatif Penelitian ini dilakukan di SMK 7 Yogyakarta, subjek yang diteliti

3.

Teori

4. 5.

pendekatan Metode

6. 7.

Peneliti Hasil

adalah siswa yang duduk di kelas II dan III, serta berusia antara 15 sampai 18 tahun. Penyebaran angket Pauline Dwiana Chrisma Widjaja (Universitas Katolik Soegijapranata) Ratna Wulan (Universitas Gadjah Mada) Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang sangat signifikan antara asertivitas dan kematangan dengan kecenderungan neurotik. Secara teoritis seharusnya hubungan tersebut negatif yaitu semakin asertif dan semakin matang seseorang akan semakin rendah kecenderungan neurotiknya. Namun hasil penelitian ini secara statistik menunjukkan arah yang berlawanan yaitu arah yang positif, berarti semakin asertif dan matang seseorang akan semakin tinggi pula kecenderungan neurotiknya, PENGARUH PELATIHAN RESILIENSI TERHADAP PERILAKU ASERTIF PADA REMAJA Tidak sedikit remaja dalam menghadapi permasalahan cepat menyerah dan mengambil jalan pintas. Contoh kasusnya adalah ketika seorang remaja berada di sebuah restoran, remaja tersebut memesan dada ayam panggang dan ternyata makanan yang dipesan tidak sesuai dengan apa yang ia minta, karena ia merasa bingung harus berbuat apa dan tidak ingin menimbulkan keributan maka ia memutuskan untuk diam dan menikmati hidangan tersebut dengan perasaan sangat tidak puas. Alberti Emmons, 2002:55 (Setiono, 2005).Bloom dkk (Ardiah, 2003) mengatakan bahwa perilaku seseorang yang tidak asertif merupakan perilaku yang tidak mampu menyatakan perasaan perasaan, kebutuhan-kebutuhan dan gagasan-gagasan yang tepat, mengabaikan hak-haknya dan membiarkan orang lain melanggar haknya tersebut. Perilaku yang tidak asertif ini biasanya bersifat emosional, tidak jujur dan tidak langsung, terhambat dan menolak diri sendiri. Individu yang tidak asertif membiarkan orang lain menentukan apa yang harus dilakukannya dan sering berakhir dengan perasaan cemas, kecewa, bahkan kemudian berakhir dengan kemarahan dan perasaan tersinggung. Pelatihan resiliensi merupakan suatu alternatif yang dapat meningkatkan perilaku asertif pada remaja. a. Perilaku Asertif Perilaku asertif menurut Lloyd (1991), dikatakan sebagai gaya yang wajar, langsung, jujur, penuh respon dalam interaksi individu lain, dapat diekspresikan baik secara verbal maupun dengan menampilkan bahasa tubuh yang serasi. Rimm dan Masters (Rakos, 1991) menyatakan bahwa perilaku asertif adalah suatu perilaku dalam hubungan interpersonal yang bersifat jujur serta mengekspresikan pikiran dan perasaan secara langsung dengan tetap memperhitungkan kondisi sosial yang ada. b. Aspek-aspek Komunikasi, isyarat fisik, ketepatan respon c. Faktor-faktor (khusna, 2002) Latar belakang budaya, jenis kelamin, pengalaman masa kanakkanak, jenis pekerjaan, sosial ekonomi dan intelegensi, tingkat

1. 2.

Judul Latar Belakang

3.

Teori

pendidikan, usia, kepribadian Pelatihan Resiliensi Training atau pelatihan adalah kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kinerja seseorang dalam pekerjaan yang diserahkan kepada mereka (Hardjana, 2001). Grotberg (1999) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas manusia untuk menghadapi dan mengatasi tekanan hidup. Aspek-aspek resiliensi Reivich & Shatte (2002) mengungkapkan bahwa ada tujuh kemampuan yang dapat dijadikan untuk membentuk tingkat resiliensi individu, yaitu: 1. Emotion regulation (pengendalian emosi) 2. Impuls control (pengendalian dorongan) 3. Optimis 4. Causal analysis (analisis penyebab masalah) 5. Empathy (empati) 8 6. Self-efficacy (efikasi diri) 7. Reaching out (kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan) 4. 5. pendekatan Metode Penelitian ini menggunakan suatu rancangan eksperimen yaitu pre test- post test control design. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri 2 Ngaglik yang berusia antara 12 sampai 15 tahun sebanyak 24 orang. Setelah dilakukan pre test, subjek dibagi menjadi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara random sampling Vita Ristinawati, Irwan Nuryana K Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pelatihan resiliensi cukup efektif untuk meningkatkan perilaku asertif khususnya pada remaja. Peningkatan perilaku asertif pada remaja ditandai dengan meningkatnya skor perilaku asertif pada skala perilaku asertif. INTENSI KOMPLAIN KONSUMEN DITINJAU DARI SIKAP ASERTIVITASNYA Komplain konsumen merupakan pengekspresian kekecewaan dan rasa tidak puas konsumen yang disampaikan pada pelaku usaha sebagai akibat dari tidak sesuainya harapan dengan kenyataan yang diterima. Usaha untuk memperjuangkan hak-hak konsumen terutama dilakukan dengan jalan komplain. Pribadi yang asertif tidak mempunyai hambatan dari dalam dirinya untuk melakukan komplain demi menegakkan hak-haknya sebagai konsumen dibandingkan dengan pribadi yang kurang asertif. Sayangnya, kesadaran konsumen untuk memperjuangkan hak-hak yang dimiliki baik secara langsung pada pelaku usaha maupun secara tidak langsung melalui media massa atau organisasi konsumen umumnya masih sangat terbatas di kalangan tertentu saja, misalnya masyarakat di kota-kota besar (Republika, 1999). Perilaku asertif digambarkan oleh Rathus (1982) sebagai perilaku

6. 7.

Peneliti Hasil

1. 2.

Judul Latar Belakang

3.

Teori

4. 5.

pendekatan Metode

6. 7.

Peneliti Hasil

yang penuh keberanian dalam mengekspresikan perasaan yang sesungguhnya, berani membela hak-haknya yang sah, serta berani meolak permintaan-permintaan yang tidak beralasan. Ciri-ciri asertivitas menurut Fensterheim dan Baer (1980) yakni: merasa bebas mengemukakan perasaan dan pendapatnya; dapat berkomunikasi dengan semua orang baik yang dikenalnya maupun tidak; komunikasinya bersifat terbuka, langsung, terang, dan sesuai dengan situasi; mempunyai pandangan aktif tentang hidupnya yang berarti mau mencoba pengalaman baru dalam usahanya mendapatkan apa yang diinginkannya; bertindak dengan cara yang hormat dan menghargai dirinya sendiri; serta menerima keterbatasan dirinya tetapi berusaha untuk meraih tujuannya. menurut Rathus dan Nevid (1980) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan asertivitas seseorang adalah; jenis kelamin, harga diri, usia, inteligensi, kebudayaan, tingkat pendidikan, tipe kepribadian, serta situasi tertentu di sekitarnya. kuantitatif Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa yang tinggal atau kuliah di Yogyakarta serta berusia antara 18-25 tahun. Mahasiswa dinilai mempunyai pola konsumsi yang relatif lebih tinggi dibandingkan ratarata masyarakat disekitarnya. Anne Fatma Analisis hubungan antar variabel menggunakan korelasi product moment dari Pearson menunjukkan adanya korelasi yang positif yang sangat signifikan antara asertivitas dengan intensi komplain konsumen, Mahasiswa di Yogyakarta ternyata mempunyai asertivitas sedang. Hal ini disebabkan karena lingkungan kemahasiswaan yang mendukung bahkan menuntut untuk berani mengemukakan pendapat secara terbuka. Mahasiswa terkondisi untuk bergaul dan berkomunikasi degan banyak kalangan. Ada banyak sarana dan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan perilaku asertif misalnya; dalam kuliah, diskusi, dan seminar atau organisasi. PERILAKU ASERTIF DAN KECENDERUNGAN MENJADI KORBAN BULLYING Bullying merupakan masalah penting yang perlu diperhatikan di lingkungan sekolah, biasanya dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelas atau orang yang lebih kuat. Salah satu faktor yang menentukan intensitas kecenderungan menjadi korban bullying adalah perilaku asertif pada siswa. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap sisiwa-siswi yang ada di MA NU di Pasuruan, menyatakan bahwa sebagian siswa yang menjadi korban bullying adalah siswa dengan tabiat pendiam dan tidak mempunyai kemampuan melawan pada pelaku bullying. Melihat adanya fenomena-fenomena tersebut peneliti

1. 2.

Judul Latar Belakang

3.

Teori

tertarik untuk meneliti secara lebih mendalam mengenai hubungan antara perilaku asertif dengan kecendrungan menjadi korban bullying. Albert dan Emmons (dalam Rosita, tt) mengemukakan bahwa individu yang bersikap asertif adalah individu yang tegas menyatakan perasaan mereka, meminta apa yang mereka inginkan dan mampu mengatakan tidak (ada) tentang suatu hal. Individu tersebut bertindak dengan tegas, mereka bertindak yang terbaik dan berpihak kepada hak atau kebenaran. Atkinson (1997) menyatakan bahwa menjadi asertif mensyaratkan apa hak-hak anda, atau apa yang diinginkan sari suatu situasi dan mempertahankannya sekaligus tidak melanggar hak orang lain. Keasertifan adalah keadaan pikiran-pikiran juga mempunyai keterampilan komunikasi verbal dan non verbal tertentu. Keasertifan juga tentang mempunyai pikiran, dan menjalankan pikiran itu. Keasertifan adalah mampu menyatakan bahwa anda tidak memilih untuk mengklain hak anda di dalam semua situasi, karena anda tahu jika anda mau atau perlu melakukannya, anda dapat melakukannya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Asertif Lioyd (1991) mengatakan asertif dipengaruhi oleh Jenis kelamin karena semenjak kanak-kanak, peran dan pendidikan laki-laki dan perempuan telah dibedakan oleh masyarakat, sejak kecil telah dibiasakan bahwa anak laki-laki harus tegas dan kompetitif dan anak perempuan harus pasif menerima perintah dan sensitif Kecenderungan Menjadi Korban Bullying Korban adalah merupakan orang yang mengalami kerugian baik berupa kerugian fisik, mental maupun kerugian finansial atau mereka yang menderita jasmani dan rohani sebagai akibat tindakan orang lain yang mencuri pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita. Menurut Sullivan & Clearly (2005) Ada beberapa bentuk dari bullying, antara lain: a. Kekerasan secara fisik adalah bentuk bullying yang paling jelas dan terjadi ketika seseorang secara fisik dirugikan melalui tindakan seperti menggigit, memukul, menendang, meninju, meludah, atau bentuk lain dari serangan fisik. b. Kekerasan nonfisik, meliputi aspek sebagai berikut: 1. Bullying nonverbal secara langsung, 2. Bullying nonverbal secara tidak langsung kuantitatif Subyek penelitian adalah siswa-siswi MA NU di Pasuruan. Peneliti mengambil sampel sejumlah 60 siswa Novalia dan Tri Dayakisni ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara perilaku asertif dengan kecenderungan menjadi korban bullying pada siswa MA NU di Pasuruan. Hal ini berarti semakin tinggi perilaku asertif siswa maka semakin rendah kecenderungan menjadi korban bullying, demikian juga sebaliknya, semakin rendah perilaku

4. 5. 6. 7.

pendekatan Metode Peneliti Hasil

asertif maka semakin tinggi kecenderungan menjadi korban bullying. 1. 2. Judul Latar Belakang PERILAKU ASERTIF PADA REMAJA AWAL Masa awal remaja adalah masa dimana seorang anak memiliki keinginan untuk mengetahui berbagai macam hal serta ingin memiliki kebebasan dalam menentukan apa yang ingin dilakukannya. Tidak semua remaja dapat berperilaku asertif. Hal ini disebabkan karena tidak semua anak remaja laki-laki maupun perempuan sadar bahwa mereka memiliki hak untuk berperilaku asertif. Banyak pula anak remaja yang cemas atau takut untuk berperilaku asertif, atau bahkan banyak individu selain anak remaja yang kurang terampil dalam mengekspresikan diri secara asertif. Hal ini mungkin mendapatkan pengaruh dari latar belakang budaya keluarga dimana anak remaja itu tinggal, urutan anak tersebut dalam keluarga, pola asuh orang tua, jenis kelamin, status sosial ekonomi orang tua atau bahkan sistem kekuasaan orang tua. Remaja awal belum dapat mengkomunikasikan perasaan yang dirasa kepada orang lain secara jujur, mereka menganggap mereka tidak memiliki hak untuk melakukan hal tersebut Cawood (1988) menyebutkan bahwa perilaku asertif adalah ekspresi yang langsung, jujur dan pada tempatnya dari pikiran, perasaan, kebutuhan atau hak-hak individu tanpa kecemasan yang tidak beralasan. Lange dan Jakubowski (1978) memberikan pengertian tentang perilaku asertif sebagai berikut: Standing up for personal rights and expressing toughts, feelings, and beliefs in direct, honest, and appropriate ways which do not violate another persons rights Dalam pengertian yang mereka kemukakan, mereka menyatakan bahwa perilaku asertif adalah mempertahankan hak-hak kita dan mengekspresikan apa yang kita yakini, rasakan serta inginkan secara langsung dan jujur dengan cara yang sesuai yang menunjukkan penghargaan terhadap hak-hak orang lain Ciri-Ciri Individu dengan Perilaku Asertif Lange dan Jakubowski (1978) mengemukakan lima ciri-ciri individu dengan perilaku asertif. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: a. Menghormati hak-hak orang lain dan diri sendiri b. Berani mengemukakan pendapat secara langsung c. Kejujuran d. Memperhatikan situasi dan kondisi e. Bahasa tubuh kualitatif MADE CHRISTINA NOVIANTI , DR. AWALUDDIN TJALLA Subjek 1 kurang dapat menghormati hak pribadi, berani mengemukakan pendapat secara langsung, dapat berlaku jujur tentang perasaan, memperhatikan situasi dan kondisi serta tergolong mampu berperilaku asertif dengan menggunakan bahasa tubuh. Subjek merasa

3.

Teori

4. 5. 6. 7.

pendekatan Metode Peneliti Hasil

jenis kelamin mempengaruhi perilaku, subjek merasa memiliki self esteem yang baik, dalam hal budaya dan tingkat pendidikan subjek merasa budaya dan tingkat pendidikan mempengaruhi. Subjek merupakan orang yang terbuka dan merasa mampu menolak perintah yang ditujukan kepadanya. Subjek 2 kurang dapat menghormati hak pribadi, berani mengungkapkan pendapat secara angsung, dapat berlaku jujur tentang perasaan, memperhatikan situasi dan kondisi tetapi kurang mampu berperilaku asertif dengan menggunakan bahasa tubuh. Subjek merasa jenis kelamin mempengaruhi perilaku, subjek merasa memiliki self esteem yang baik, dalam hal budaya, subjek merasa budaya tidak mempengaruhi sedangkan pada tingkat pendidikan, subjek merasa tingkat pendidikan mempengaruhi. Subjek merupakan orang yang tertutup dan merasa sulit untuk menolak perintah yang ditujukan kepadanya. Subjek 3 kurang dapat menghormati hak pribadi, berani mengungkapkan perasaan secara langsung, dapat berperilaku jujur tentang perasaan, kurang dapat memperhatikan situasi dan kondisi serta tergolong mampu berperilaku asertif dengan menggunakan bahasa tubuh. Subjek merasa jenis kelamin mempengaruhi perilaku, subjek merasa memiliki self esteem yang baik, dalam hal budaya, budaya mempengaruhi dan tingkat pendidikan subjek merasa tingkat pendidikan mempengaruhi. Subjek merupakan orang yang tebuka dan merasa mampu menolak perintah yang ditujukan kepadanya.