Anda di halaman 1dari 26

DAFTAR ISI 1.1 Skema Pergeseran Paradigma Perencanaan di Indonesia............................................ 3 1.

2 Penjelasan singkat mengenai pergeseran paradigma perencanaan di Indonesia ...... 4 1.2.1 Periode 60-an .......................................................................................................... 4 1.2.2 Periode 70-an .......................................................................................................... 4 1.2.3 Periode 80-an .......................................................................................................... 7 1.2.4 Periode 90-an ........................................................................................................ 10 1.2.5 Periode 2000-an .................................................................................................... 13 1.2.6 Wawasan masa depan ........................................................................................... 14 1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Paradigma Perencanaan di Indonesia .......................................................................................................................... 15 1.3.1 Periode 60-an ........................................................................................................ 15 1.3.2 Periode 70-an ........................................................................................................ 16 1.3.3 Periode 80-an ........................................................................................................ 16 1.3.4 Periode 90-an ........................................................................................................ 17 1.3.5 Periode 2000-an .................................................................................................... 18 1.4 Kesimpulan ...................................................................................................................... 18 2.1 Penerapan Konsep Radiant City, Garden City dan Broadacre City di Indonesia...................................................................................................................... 19 2.1.1 Konsep radiant city di Indonesia ........................................................................... 19 2.1.2 Konsep garden city di Indonesia ........................................................................... 20 2.2 Ketahanan Konsep Tersebut Pada Masa yang Akan Datang .................................... 21 2.2.1 Radiant city ........................................................................................................... 21 2.2.2 Garden city ............................................................................................................ 21 3.1 Perbedaan Antara Comprehensive Plan, Structure Plan, Continuous Plan, Strategic Plan, dan Concencus Plan .............................................................................. 23 3.2 Penjelasan Mengenai Perbedaan Antar Beberapa Teori Perencanaan .................... 24 3.2.1 Comprehensive plan .............................................................................................. 24 1

3.2.2 Structure plan ........................................................................................................ 24 3.2.3 Continuous Plan .................................................................................................... 24 3.2.4 Strategic plan......................................................................................................... 25 3.2.5 Concencus plan ..................................................................................................... 25 3.3 Ciri-Ciri Pokok Comprehensive Plan, Structure Plan, Continuous Plan, Strategic Plan, dan Concencus Plan ............................................................................... 26 3.3.1 Comprehensive plan .............................................................................................. 26 3.3.2 Structure plan ........................................................................................................ 26 3.3.3 Continuous plan .................................................................................................... 26 3.3.4 Strategic plan......................................................................................................... 26 3.3.5 Concencus plan ..................................................................................................... 26

1.1 Skema Pergeseran Paradigma Perencanaan di Indonesia

PERIODE 60-AN

PERIODE 70-AN

PERIODE 80-AN

PERIODE 90-AN

PERIODE 2000-AN

WAWASAN KE DEPAN

lebih menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi

Pendekatan sektoral

Pengembangan wilayah melalui program pembangunan perkotaan

Penataan ruang berdasarkan pendekatan wilayah

Perencanaan diwarnai oleh pendekatan sektoral dan parsial

Pendekatan pengembangan wilayah

Pengembangan wilayah melalui pendekatan lingkungan

Pendekatan strategis management untuk perencanaan yang berwawasan implementasi.

muncul paradigma baru dalam pengembangan wilayah/kawasan, yaitu memasuki era otonomi daerah, melalui pergeseran paradigma

Local based flexible (conditional)

Tranparency (politically accepted)

Cara pandang perencana yang mempertentangkan urban dan rural

Pengembangan wilayah melalui pembangunan infrastruktur

Desentralisasi perencanaan

mulai muncul Revolusi 3 T (telekomunikasi, transportasi dan tourism)

Probisnis (layak ekonomi)

Perencanaan bersifat top down

Pengembangan wilayah berbasis sistem kegiatan ekonomi

Pengembangan berdasarkan pendekatan penataan ruang dinamis

Long term (berkesinambungan)

Pengembangan melalui koordinasi antar daerah administrasi

Integrated (holistik)

Pengembangan melalui sinkronisasi program pembangunan 3

1.2 Penjelasan singkat mengenai pergeseran paradigma perencanaan di Indonesia 1.2.1 Periode 60-an Periode 60-an merupakan awal bagi pembangunan terencana setelah mengalami keterpurukan akibat penjajahan dan perang. Gambarannya adalah sebagai berikut : 1. Kebijakan pembangunan nasional lebih menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 2. Perencanaan diwarnai oleh pendekatan sektoral dan parsial; ada pembedaan kota dan desa (dikotomi desa-kota). Konsentrasi diarahkan ke perkotaan, sementara di perdesaan ditemui stagnasi, kemunduran dan kemiskinan. 3. Dikotomi perencanaan kota dan perencanaan desa memberi dampak yang tidak menguntungkan secara regional, karena interdependency desa-kota tidak terjadi. 4. Cara pandang perencana yang mempertentangkan urban dan rural, yang menimbulkan friksi karena tidak adanya koordinasi lintas sektoral. 5. Muncul disparitas kegiatan ekonomi dan kependudukan antara kota sebagai growth pole dengan desa sebagai hinterland-nya. 6. Mulai terjadi polarisasi kota-kota yang dicirikan oleh tingginya angka indeks primacy (di atas 2,0 untuk kota-kota besar dan di atas 3,0 untuk kota-kota metro). 1.2.2 Periode 70-an Pada era 70-an terdapat enam pendekatan yang digunakan di Indonesia, yaitu : 1. Pendekatan sektoral Pada awal 70-an perencanaan kewilayahan sudah mulai dilakukan, walaupun konsepnya baru sebatas kepentingan sektoral dan masih berjalan sendiri-sendiri. Dalam pengembangan pertanian dianut pembagian unit lahan yang

menggambarkan kelas kesesuaian lahan pertanian berdasarkan sifat, kondisi tanah, iklim, morfologi. Di sektor pertanahan dilakukan perencanaan tata guna tanah yang didasarkan pada potensi tanah sehingga diperoleh rencana penggunaan tanah (zoning plan). Di sektor kehutanan diintroduksi cara penetapan status/fungsi hutan berupa pembagian unit hutan yang disebut rencana tata guna hutan. Di dalam Rencana Induk Pariwisata dikenal clustering berdasarkan WTW dan DTW. Departemen Perhubungan menyusun sistem transportasi nasional dengan memanfaatkan hasil OD survei, struktur jaringan jalan dan pola sebaran transportasi. Perencanaan sektoral bertujuan meningkatkan optimasi penggunaan ruang dan sumberdaya, dengan titik berat kepentingan sektor; sehingga terjadi 4

duplikasi pendanaan, konflik kepentingan, sentralistis, normative dan supplydriven oriented. 2. Pendekatan pengembangan wilayah Pada pertengahan 70-an mulai berkembang penggunaan teori dan model pembangunan yang terkait dengan aspek pembangunan ekonomi, demografi dan geografi; sebagai reaksi atas kelemahan pendekatan sektoral. Pada era ini dikembangkan pendekatan komprehensif dengan tujuan agar pembangunan saling sinergi yang secara totalitas menunjukkan resultante perkembangan optimum (pareto optima). Untuk mendukung pendekatan tersebut banyak dikembangkan model analisis wilayah seperti backward-forward linkage, urban-rural linkage, shift and share, input-output, economic-treeshold dan lainnya. Kompleksitas permasalahan mendorong para pakar untuk mencari pendekatan yang lebih komprehensif, yang akhirnya melahirkan pendekatan pengembangan wilayah yang menekankan pada keterpaduan analisis wilayah (Regional Science). Pendekatan pengembangan wilayah merupakan kajian terhadap hubungan sebab akibat dari faktor-faktor utama pembentuk wilayah yang meliputi aspek fisik, sosial-budaya dan ekonomi. 3. Pengembangan wilayah melalui pembangunan infrastruktur Pendekatan ini didasari oleh kebijakan pembangunan nasional (Pelita I) yang menekankan pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian, yang membutuhkan pembangunan sosial ekonomi yang didukung pembangunan fisik infrastruktur sesuai dengan kondisi geografi Indonesia. Soetami (1973) menggagas konsep pengembangan wilayah bersamaan dengan pembangunan infrastruktur. Konsepnya didasarkan pada interaksi antara manusia dengan alam dan lingkungan yang membentuk keserasian, keselarasan dan keseimbangan (Ilmu Wilayah). Kemudian disusun program pembangunan prasarana dan sarana untuk meningkatkan aksesbilitas kegiatan bermukim dan berproduksi tanpa merusak lingkungan. Dalam implementasinya lebih bersifat mendukung pengembangan sentra-sentra produksi. Sebagai contoh; pada sub sektor pertanian tanaman pangan, pembangunan prasarana dilaksanakan untuk mendukung program intensifikasi dan ekstensifikasi, antara lain pembangunan waduk, jaringan irigasi, pengembangan rawa, lahan pasang surut, pencetakan sawah, dan sebagainya.

4. Pengembangan wilayah berbasis sistem kegiatan ekonomi Konsep ini dikembangkan oleh Poernomosidi Hadjisarosa melalui pendekatan satuan-satuan wilayah ekonomi yang bertumpu pada teori Losch. Pendekatan ini juga mengadopsi teori interdependency yang menyatakan bahwa antara wilayah satu dengan lainnya akan terjadi saling ketergantungan melalui mekanisme pasar (hubungan supply-demand). Konsep ini diarahkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan struktur ekonomi bertumpu pada sektor pertanian secara luas (kebijakan Pelita II). Pembangunan yang menonjol pada saat itu adalah kegiatan produksi, koleksi, distribusi dan transmigrasi. Setiap wilayah yang mempunyai pengaruh ekonomi yang berbeda; masing-masing berbentuk Satuan Wilayah Ekonomi (SWE) dimana luas dan batasnya sangat bergantung pada kemampuan jangkauan pelayanan kotanya (pusat pengembangan) sebagai simpul jasa koleksi dan distribusi barang; sehingga kota-kota mempunyai hirarki dan fungsi dalam sistem perkotaan (system of cities) yang diidentifikasikan sebagai kota ordo kesatu, kedua, ketiga dan seterusnya. Jaringan transportasi untuk mendukung sistem tersebut mempunyai fungsi dan hirarki yang diidentifikasi sebagai jalan arteri primer/sekunder, kolektor primer/ sekunder dan lokal primer/sekunder. Pendekatan Poernomosidi ini sangat mewarnai hirarki jalan (Undang-undang tentang Jalan) dan hirarki permukiman dalam perencaaan lokasi transmigrasi. 5. Pengembangan wilayah melalui koordinasi antar daerah administrasi Pertengahan tujuh puluhan, Hariri Hady (Beppenas) mengintroduksikan sistem perwilayahan nasional, yakni pengelompokan beberapa daerah administrasi menjadi suatu wilayah/sub wilayah Pembangunan berdasarkan kekuatan

perdagangan, keuangan, jasa, kegiatan produksi, sistem prasarana wilayah, dan lainnya. Sistem perwilayahan ini merupakan pendekatan untuk menjamin tercapainya pembangunan yang serasi, selaras dan seimbang, baik antar sektor maupun antar wilayah pembangunan. Walaupun secara konseptual dilaksanakan secara regional, tetapi dalam pelaksanaannya tetap dilakukan menurut prosedur administrasi pembangunan yang ada. Karena itu perlu kerjasama antar Pemerintah Daerah, antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dan antar sektor. Pendekatan ini dilakukan melalui forum konsultasi regional dan nasional, dimana perencanaan dan program dirumuskan bersama, dan mencari pemecahan bersama. 6

6. Pengembangan wilayah melalui sinkronisasi program pembangunan Pendekatan ini merupakan penyempurnaan pendekatan sebelumnya dengan memperjelas mekanisme penyusunan program pembangunan. Muncul pendekatan perencanaan yang disebut top-down approach, dan bottom-up approach.

Pendekatan dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, harus dilihat sebagai satu kesatuan sesuai dengan proses alamiah perkembangan di suatu wilayah. Muncul mekanisme perumusan program pembangunan dengan melibatkan seluruh perangkat pemerintah melalui mekanisme rembug desa temu karya rakorbang II rakorbang I konreg konnas. Sebagai perwujudannya muncul pembangunan yang memusatkan perhatiannya pada persoalan urgen; seperti basic needs, teknologi tepat guna, land consolidation, kampoong improvement, posyandu, puskesmas, SD Inpres, dan lainnya. 1.2.3 Periode 80-an Pada era 80-an ada empat pendekatan perencanaan, yaitu : 1. Pendekatan pembangunan perkotaan Pada awal delapan puluhan dirumuskan pengembangan kota berdasarkan fungsi dan hirarkinya melalui strategi nasional pembangunan perkotaan (NUDS). Klasifikasi kota menurut pendekatan pembangunan perkotaan yaitu: a. Berdasarkan besaran penduduk, kota diklasifikasikan menjadi kota

metropolitan, kota besar, kota sedang dan kota kecil. b. Berdasarkan fungsi pelayanan, kota diklasifikasikan ke dalam National Development Centre (NDC), Interregional Development Centre (IRDC), Regional Development Centre (RDC) dan Local Service Centre (LSC). c. Berdasarkan RTRWN (PP. No. 47/1997 dikembangkan menjadi Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Untuk mengimplementasikan strategi tersebut disusunlah rencana-rencana tata

ruang kota dan program-program P3KT dengan mengembangkan sistem jaringan transportasi melalui pendekatan keterpaduan. 2. Pengembangan melalui pendekatan lingkungan Kebijakan pembangunan pada awal 80-an (Pelita III) adalah pemerataan pembangunan ekonomi dengan dominasi sektor industri yang saling menguatkan dengan pertanian. Setelah diterimanya konsep sustainable development dan 7

Ramsar Convention tentang pengelolaan lahan basah, pemerintah mempertajam kebijakannya melalui keterpaduan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan manusia. Pada era ini berbagai kegiatan sektor ekonomi digalakkan; seperti kehutanan, perkebunan, pertambangan, industri, pariwisata, transportasi; yang menuai kecaman para ecologist dan environmentalist tentang permasalahan lingkungan (global issue). Sebagai implikasinya muncul pendekatan yang mengarah pada upaya pemanfaatan sumberdaya alam sehemat mungkin tanpa merusak lingkungan, dan upaya untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan. Model pengembangan tersebut antara lain adalah : economic treeshold, ecodevelopment, carriryng capacity, analisis dampak lingkungan, analisis sumber daya, dan sebagainya. Untuk mengoperasionalkan kebijakan tersebut maka dikeluarkanlah UU No. 4/1982 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup, Keppres 32/1990 tentang Kawasan Lindung. Suyono Sosrodarsono kemudian mengembangkan : a. Pendekatan wilayah fungsional yang merupakan satu ekosistem, yaitu Satuan Wilayah Sungai (SWS dan Daerah Pengaliran Sungai (DPS). b. Keterpaduan antara pengembangan prasarana (pengairan, transportasi,

pengelolaan lingkungan) dengan kesatuan wilayah fungsional. 3. Desentralisasi perencanaan Menjelang akhir 80-an (akhir Pelita IV) disadari bahwa mekanisme yang terlalu sentralistis telah menimbulkan banyak permasalahan, antara lain : a. Terjadinya kebocoran dan duplikasi pendanaan pembangunan karena

penyusunan program sektoral yang tumpang tindih. b. Dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan seringkali tidak tepat sasaran (lokasi, waktu, target group, kualitas dan kuantitas) karena rendahnya akuntabilitas. c. Kurangnya keterlibatan peranserta daerah, masyarakat dan swasta/dunia usaha, yang sebenarnya dapat membantu pemerintah dalam pendanaan. d. Keterlambatan dalam mewujudkan hasil pembangunan karena terlalu birokratif. e. Banyak peraturan yang dibuat masing-masing sektor lebih mengutamakan kepentingan sektor. Dalam rangka memperbaiki mekanisme pembangunan dari sentralistis ke desentralistis, maka dirumuskan kebijakan desentralisasi, antara lain dengan 8

diterbitkannya PP. No. 14/1987 tentang penyerahan sebagian urusan pemerintah di bidang ke-PU-an kepada daerah, termasuk penyerahan urusan rencana tata ruang ke urusan di bidang Cipta Karya. Desentralisasi perencanaan berimplikasi pada pemberdayaan daerah di bidang perencanaan, melalui beberapa kegiatan : a. Pembentukan unit perencanaan di daerah, dan dikembangkannya pusat informasi dan dokumentasi penataan ruang daerah. b. Penyusunan pedoman dan petunjuk teknis penataan ruang. c. Pembinaan teknis penataan ruang melalui kegiatan desiminasi dan sosialisasi produk hukum yang terkait penataan ruang; pelatihan perencanaan tata ruang di daerah; sosialisasi pedoman/petunjuk teknis penataan ruang. 4. Pendekatan penataan ruang dinamis Di akhir 80-an pendekatan pengembangan wilayah semakin diperjelas, dengan memasukan rencana tata ruang dalam dokumen resmi perencanaan pembangunan (Buku Repelita IV dan Repelita V). Untuk mengantisipasi adanya pengaruh globalisasi ekonomi, dikembangkan pendekatan penataan ruang yang tanggap terhadap dinamika pembangunan melalui pendekatan penataan ruang dinamis (Tarudin). Berawal dari pendekatan yang terlalu normatif, legalistik, tertutup, supply oriented, atau hanya menampung visi perencanaan saja, sudah waktunya dirubah. Aternatifnya adalah pendekatan perencanaan yang lebih partisipatif, tanggap terhadap dinamika pembangunan yang berubah cepat, serta

mempertimbangkan kepentingan semua pihak (stakeholders). Dalam upaya menarik investasi, penataan ruang dinamis dikembangkan sebagai instrumen dalam: a. Keterpaduan pelaksanaan pembangunan dan sinkronisasi program pebangunan sektoral dan daerah. b. Acuan dalam alokasi investasi. c. Mendorong dan membuka peluang serta memberi kemudahan dalam kegiatan investasi. d. Kerjasama atau peran serta masyarakat dan swasta dengan pemerintah. Pada era ini juga sudah mulai dirintis pengembangan sistem informasi penataan ruang dan sistem informasi geografis.

1.2.4 Periode 90-an Selama periode 90-an ada dua pendekatan pengembangan wilayah yang diintroduksi di Indonesia, yaitu : 1. Penataan ruang berdasarkan pendekatan wilayah Pendekatan ini diwarnai oleh penataan wilayah berdasarkan UU No. 24/1992 tentang Penataan Ruang, dan termuatnya rencana tata ruang sebagai dasar perencanaan pembangunan dalam GBHN 1993 yang diikuti dengan TAP MPR No. IV/MPR/199 tentang GBHN 1999 dan UU Propenas (2000-2004). Prinsipprinsipnya adalah : a. Pendekatan wilayah adalah cara pandang untuk memahami kondisi, ciri, fenomena, dan hubungan sebab akibat dari unsur-unsur pembentuk wilayah; seperti penduduk, sumberdaya alam, sumberdaya buatan, sosial, ekonomi, budaya, fisik lingkungan. b. Rencana tata ruang dikembangkan ke arah wawasan lingkungan dan manusia, yang menserasikan tata guna tanah, tata guna hutan dan tata guna sumberdaya lainnya dalam satu kesatuan tata lingkungan yang harmonis. c. Tata ruang disusun berdasarkan pola terpadu melalui pendekatan wilayah dengan memperhatikan sifat alam dan lingkungan sosial. d. Bersifat futuristik melalui langkah-langkah menentukan arah pengembangan; bersifat preskriptif menuju kondisi masa depan yang diharapkan bertitik tolak dari data, informasi, iptek. Hasilnya bukan hanya berupa identifikasi fenomena atau hubungan sebab akibat, tetapi juga pemahaman bagaimana mengembangkan kegiatan sektor ekonomi, sumberdaya alam, perlindungan lingkungan, pengembangan infrastruktur, yang dituangkan dalam spatial planning. 2. Pendekatan implementasi a. Pertama Globalisasi mempercepat gelombang ketiga yakni peralihan dari ekonomi dunia yang bertumpu pada industrialisasi kepada ekonomi informasi (Alvin Tofler. The Third Wave. 1997). Dampak globalisasi yang paling terasa menjelang akhir 90-an adalah munculnya blok ekonomi. Saat itu Asia dalam proses memegang peranan ekonomi dunia (John Naisbitt. Megatrend Asia. 10 strategic management untuk perencanaan yang berwawasan

1996) karena revolusi 3 T lebih terkonsentrasi di sini. Di Indonesia, dengan keikutsertaannya dalam revolusi 3 T, berkembanglah tuntutan masyarakat akan transparansi, peranserta masyarakat, desentralisasi, HAM. Menghadapi situasi ini para ahli menyarankan re-orientasi arah pembangunan terutama

pemanfaatan ruang perlu diperkaya dengan rencana tindak (action plan). Dalam perkembangannya action plan banyak mengadopsi model manajemen yang disebut strategic plan, dan implementasinya disebut manajemen strategis. Dalam kaitannya dengan perbaikan struktur ekonomi nasional, beberapa pendekatan yang disarankan Toeffler banyak diterapkan. Dalam rangka peningkatan kinerja birokrasi, pemerintah menerima pendekatan dari Osborne, yang menawarkan perubahan paradigma cara kerja birokrat : 1) Lebih bersifat menyetir dari pada mendayung. 2) Lebih bersifat pemberdaya (enabler) dari pada penyedia (provider). 3) Lebih merupakan organisasi yang berperan sebagai penggerak perubahan. 4) Penggunaan dana untuk memperoleh hasil, bukan untuk input. 5) Mempertemukan kebutuhan costumer, bukan birokrasi. 6) Lebih banyak pendapatan dari pada pebelanjaan. 7) Lebih baik mencegah dari pada mengobati. 8) Mengubah pendekatan dari hirarki menuju partisipatori. 9) Lebih baik mendelegasikan (desentralisasi) dari pada dipusatkan. 10) Lebih berorientasi pada pasar. Dengan kesadaran perlunya melakukan reorientasi arah pembangunan, maka dilakukan upaya : 1) Pergeseran tupoksi pemerintah dari provider menjadi enabler. 2) Restrukturisasi organisasi pemerintah. 3) Mempromosikan kawasan-kawasan bernilai strategis. 4) Pengembangan model pembangunan dalam engembangkan kawasan strategis dan sektor unggulan. 5) Penyederhanaan debirokratisasi, mekanisme pembangunan melalui deregulasi,

pemberian insentif/disinsentif, reward dan punishment

kepada pelaku pembangunan. 6) Pengembangan model-model kerjasama dalam proses pebangunan. 7) Kebijakan fiskal dan moneter. 11

Dalam tata ruang wilayah mulai diprakarsai pengembangan kawasan andalan sebagai sektor unggulan. Model yang pertama kali dikembangkan adalah KAPET (Kawasan Pertumbuhan Ekonomi Terpadu) yang merupakan gabungan strategic planning dan strategic management yang dinamakan IDEP (Integrated Area Developent Plan). b. Kedua Desakan untuk menerapkan peranserta masyarakat, mendorong

dikembangkannya pendekatan penataan ruang yang lebih memperhatikan hak masyarakat yang dituangkan dalam PP. No. 69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peranserta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Hal ini mendorong keterlibatan penyediaan dana

pembangunan, menciptakan keragaman alternatif, dalam penyusunan rencana pembangunan yang melibatkan pihak swasta. c. Ketiga Berkaitan dengan revolusi 3 T, diperlukan dukungan informasi Pada akhir 90-an telah dilakukan : 1) Pengembangan SIGNAS (Sistem Infromasi Geografi Nasional) 2) Pengembangan Sistem Informasi Penataan Ruang Wilayah Propinsi dan Kabupaten. 3) Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pembangunan Perkotaan. 4) Pengembangan pola-pola kerjasama masyarakat dan dunia usaha dengan pemerintah. 5) Pengembangan pendekatan action plan. Selain itu mulai muncul Revolusi 3 T (telekomunikasi, transportasi dan tourism) mempercepat arus globalisasi yang menciptakan kebutuhan transformasi di segala aspek kehidupan. Hal ini mewarnai kebijakan pebangunan era 90-an, yakni : 1) Pertumbuhan sekaligus pemerataan pembangunan ekonomi dengan dominasi sektor industri dan pemasaran yang saling menguatkan dengan sector pertanian, pertambangan, pariwisata, transportasi dan telekomunikasi. 2) Peningkatan penanaman modal asing dan domestik. 3) Peningkatan desentralisasi dan peranserta masyarakat. 12 yang handal.

4) Pengembangan kawasan strategis. 5) Pelaksanaan Agenda 21 Rio de Janeiro. Operasionalisasi kebijakan tersebut antara lain dikeluarkannya PP. No. 45/1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah yang kemudian disempurnakan dalam UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. 1.2.5 Periode 2000-an Pada era 2000-an muncul paradigma baru dalam pengembangan wilayah/kawasan, yaitu memasuki era otonomi daerah, melalui pergeseran paradigma sebagai berikut : 1. Dari sasaran yang terfokus pada pertumbuhan, sektoral, parsial, makro dan nasional; ke sasaran yang menitikberatkan pada kesejahteraan, keterpaduan, mikro, dan local based. 2. Dari pendekatan perencanaan yang terlalu general, model abstrak ideal, sentralistik dan model ekonomi kuantitatif; menuju ke pendekatan perencanaan yang lebih lokal spesifik dengan pandangan holistik, berfikir ke depan secara global, kontemporer, lokal dan sosio kualitatif. 3. Dari implementasi berdasarkan pembangunan terencana, top-down approach, dan arahan pemerintah yang dominan; menuju ke pembangunan yang interaktif, bottom up approach, dan partisipatory. 4. Dari kontrol yang menekankan pada auditing pencapaian goal, ke kontrol yang yang menekankan kepada umpan balik dan penyempurnaan proses. Sejalan dengan itu maka paradigma baru dalam penataan ruang wilayah adalah sebagai berikut : 1. Penataan ruang desentralistik (lebih bottom up approach). 2. Pemerintah tidak lagi sendiri tetapi bersama masyarakat menciptakan rencana, melaksanakan dan melakukan pengendalian. 3. Pemerintah daerah proaktif dan kebijakan tata ruang diketahui semua pihak. 4. Penyusunan rencana tata ruang dilakukan dengan mengikut sertakan masyarakat (public participation). 5. Pemerintah daerah aktif memberikan sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat. Agar pendekatan wilayah lebih realistis, acceptable dan mudah diterapkan, maka pada awal 2000-an lebih disempurnakan lagi dengan mengakomodasi jiwa otonomi : 1. Lebih menitikberatkan pada pendekatan bottom up. 13

2. Melibatkan semua pelaku pembangunan (stakeholders). 3. Transparan dalam perencanaan, implementasi dan pengendalian. 4. Memberi perhatian besar pada tuntutan jangka pendek. 5. Realistis terhadap tuntutan dunia usaha dan masyarakat. 6. Berwawasan luas, dengan perhatian pada kawasan yang lebih detail. 7. Rencana dapat dijadikan pedoman investasi. 8. Menjaga dan meningkatkan mutu lingkungan sambil mendorong dan memfasilitasi pembangunan. 9. Mempunyai visi pembangunan dan manajemen pembangunan. Sebagai respons terhadap berbagai pendekatan yang pernah diterapkan sebelumnya, maka pendekatan pada periode 2000-an adalah pendekatan tata ruang wilayah melalui proses perencanaan berwawasan otonomi daerah, yang sudah mempertimbangkan aspek pemanfaatan ruang dan aspek pengendaliannya. 1.2.6 Wawasan masa depan Dengan mengadopsi nilai-nilai yang berkembang, idealnya pendekatan

pengembangan wilayah memiliki wawasan (Deni dan Jumantri, 2002) : 1. Local based flexible (conditional) Dapat dimodifikasi, dapat diadjust sesuai kesepakatan berdasarkan kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang. 2. Tranparency (politically accepted) Terbuka, melibatkan masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya sejak awal. Semua pihak mentaati norma, kriteria, prosedur yang telah disepakati bersama. 3. Probisnis (layak ekonomi) Memperhitungkan seluruh korban termasuk lingkungan dan sumberdaya lainnya. 4. Pemanfaatan ruang yang menimbulkan kerugian bagi yang lain, wajib membayar atas kerugian yang ditimbulkannya. 5. Pemanfaatan ruang yang menciptakan keuntungan bagi yang lain, layak mengenakan biaya kepada pemanfaat yang mendapat keuntungan. 6. Long term (berkesinambungan) Pembangunan diperhitungkan manfaatnya untuk jangka panjang dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

14

7. Integrated (holistik) Program dan kegiatan diselenggarakan oleh pelaku pembangunan dengan mengacu pada kesepakatan yang telah dipahami bersama. Selain itu dalam konteks pembangunan dewasa ini perlu dikembangkan pendekatan holistik; yaitu cara pandang yang menyatakan bahwa pembangunan fisik bukanlah tujuan tetapi lebih merupakan alat untuk mewujudkan tujuan akhir yang telah disepakati bersama. Untuk mewujudkan tujuan akhir ini tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bekerjasama dengan pihak lain sejak awal sampai akhir. 1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Paradigma Perencanaan di Indonesia 1.3.1 Periode 60-an 1. Pada kurun waktu ini, pendekatan pembangunan yang dilakukan masih bersifat parsial dan sektoral. Sebagai negara yang baru belajar membangun, pendekatan pembangunan yang diterapkan masih terbatas dan dipengaruhi pendekatan pembangunan masa sebelumnya. Titik berat pelaksanaan pengembangan wilayah terfokus pada kawasan perkotaan, sedangkan perdesaan belum mendapat perhatian serius. 2. Dikotomi antara pengembangan perkotaan dan perdesaan mengakibatkan primacy kota (ditandai primacy index di atas 2.0 untuk kota besar dan di atas 3.0 untuk metropolitan). Di samping itu, kesenjangan pembangunan ekonomi dan demografi kian melebar. Hal ini dapat dimengerti, karena kawasan perkotaan menjadi magnet yang menarik untuk kegiatan investasi dan penduduk perkotaan. 3. Pendekatan pengembangan wilayah yang memisahkan antara pengembangan perkotaan dan perdesaan terbukti kontraproduktif terhadap pembangunan keseluruhan. Memang terjadi peningkatan kegiatan ekonomi di perkotaan, tetapi di sisi lain mengakibatkan penurunan mutu lingkungan. Di samping itu, perdesaan yang kurang terperhatikan mengakibatkan produktivitasnya menurun. Hal ini mengakibatkan beban perkotaan meningkat akibat migrasi masuk kota meninggi dan supply produksi pertanian dari perdesaan menurun. tertarik ke kawasan

15

1.3.2 Periode 70-an 1. Dalam prakteknya upaya keterpaduan melalui koordinasi antara daerah administrasi ini belum menunjukkan hasil optimal, karena forum konsultasi lebih banyak dimanfaatkan untuk adu argumentasi dalam mempertahankan program dan proyeknya masing-masing. Hal ini disebabkan karena kurang kuatnya faktor pengikat yang mampu membangkitkan rasa kebersamaan. 2. Perumusan program pengembangan wilayah masih didominasi oleh program pusat (sentralistis) dan sektoral, karena pelaksanaan asas desentralisasi dan integrasi masih dikalahkan asas dekonsenterasi masing-masing sektor. Sementara itu, program daerah belum mencerminkan aspirasi masyarakat karena tindak pelibatan masyarakat masih semu (artificial). 3. Meski pada akhir periode ini muncul kegiatan untuk melibatkan daerah dan masyarakat, tetapi praktek yang dilaksanakan masih merupakan kegiatan pusat yang dititipkan ke daerah seperti proyek konsolidasi lahan, Improvement Project (KIP), UDKP dan lain-lain. 1.3.3 Periode 80-an 1. Permasalahan dalam implementasi pendekatan lingkungan yaitu : a. Belum terintegrasinya perencanaan berdasarkan wilayah administrasi dengan perencanaan berdasarkan wilayah fungsional SWS dan wilayah fungsional lainnya. b. Kegiatan amdal masih bersifat parsial dan sektoral. c. Peraturan perundangan yang berlaku masih bersifat normatif, sehingga masih diperlukan pengaturan yang lebih operasional dan lebih tegas dalam memberlakukan sangsi terhadap pelanggaran. 2. Menjelang akhir 80-an (akhir Pelita IV) disadari bahwa mekanisme yang terlalu sentralistis telah menimbulkan banyak permasalahan, antara lain : a. Terjadinya kebocoran dan duplikasi pendanaan pembangunan karena Kampoong

penyusunan program sektoral yang tumpang tindih. b. Dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan seringkali tidak tepat sasaran (lokasi, waktu, target group, kualitas dan kuantitas) karena rendahnya akuntabilitas.

16

c. Kurangnya keterlibatan peranserta daerah, masyarakat dan swasta/dunia usaha, yang sebenarnya dapat membantu pemerintah dalam pendanaan. d. Keterlambatan dalam mewujudkan hasil pembangunan karena terlalu birokratif. e. Banyak peraturan yang dibuat masing-masing sektor lebih mengutamakan kepentingan sektor. 3. Dalam evaluasi prakteknya, ada beberapa kelemahan dalam menerapkan pendekatan itu, yaitu : a. Penyusunan P3KT sebagai implemtasi Strategi Nasional Pembangunan Perkotaan (NUDS) kerap hanya mencakup prasarana keciptakaryaan dan seolah terlepas dari pembangunan prasarana perkotaan lain, tidak terkait dalam sistem pengembangan wilayah terpadu. Hal ini barangkali menjadi kelemahan konsep P3KT. b. Dalam penerapan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), muncul kesulitan mengintegrasikan pendekatan pembangunan berdasarakan wilayah administrasi dan wilayah fungsional. c. Program masih bersifat sektoral dan daerah. d. Kebijakan untuk melaksanakan pendekatan ini masih bersifat makro dan normatif sehingga sulit dilaksanakan. 1.3.4 Periode 90-an 1. Perkembangan teknologi informasi memicu tuntutan terhadap transparansi, keterlibatan masyarakat dalam pembangunan, desentralisasi dan otonomi daerah serta penghargaan terhadap HAM di Indonesia. Di samping itu, pembangunan yang terlalu sentralistik dan birokratis menimbulkan permasalahan baru, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan peran mereka dalam pembangunan dan menurunnya peran swasta dan dunia usaha dalam investasi. 2. Terlalu dini menyatakan gagal atau berhasil terhadap pendekatan penataan ruang yang dilaksanakan pada periode ini. Pendekatan pembangunan yang dilaksanakan seperti KAPET dan penyusunan strategic plan baru saja dilaksanakan. Meski demikian, seiring pemberlakuan UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, pendekatan tersebut butuh banyak penyesuaian. 3. Program pengembangan KAPET tidak dapat dipisahkan dari kewenangan daerah dalam mengembangkan wilayahnya. Dalam hal ini, keterlibatan unsur daerah

17

seperti pemerintah daerah, DPRD, masyarakat, LSM, organisasi profesi, organisasi massa dan swasta, tidak dapat dikesampingkan. 4. Periode 90-an diakhiri dengan terjadinya turbulensi ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter, yang berlanjut pada krisis ekonomi yang berkepanjangan. Hal ini menyadarkan masyarakat untuk melakukan reformasi hukum dan perundangan, reformasi ekonomi dan sistem pemerintahan; yang melahirkan UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah; UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan, dan UU No. 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN. 1.3.5 Periode 2000-an Pendekatan periode 2000-an bukanlah satu-satunya obat mujarab yang dapat memecahkan semua masalah, karena masih memerlukan pengujian-pengujian; dan perlu diintegrasikan dengan pendekatan lain, yang mampu membangkitkan kesadaran masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya untuk berperanserta dalam

pembangunan wilayah. 1.4 Kesimpulan Dalam pelaksanaannya, pendekatan pengembangan wilayah di Indonesia terus dilakukan penyesuaian seiring koreksi terhadap pendekatan yang dilaksanakan sebelumnya. Muncul kesadaran, pendekatan pembangunan yang bersifat sektoral dan parsial kerap mengakibatkan inefisiensi pembangunan, seperti duplikasi kegiatan serta konflik antarsektor dan daerah. Pendekatan pengembangan wilayah yang diterapkan terus berevolusi dari pendekatan yang bertumpu pada pendekatan ekonomi wilayah kemudian berkembang dengan mengintegrasikan pendekatan fisik dan infrastruktur, kelembagaan, manajemen dan lingkungan. Meski demikian, tantangan yang perlu dijawab agar pendekatan pengembangan wilayah berjalan efisien dan efektif adalah : 1. Perlu tim yang mampu bekerja dalam bidang yang bersifat interdisipliner serta tersedia informasi yang cukup untuk semua aspek yang dikaji; 2. Perlu kerelaan untuk mendesentralisasikan kewenangan pembangunan termasuk pembiayaan; 3. Perlu willingness pemerintahan daerah untuk mengkoordinasikan kegiatan mereka dan bekeja sama satu dengan lainnya;

18

4. Perlu keseimbangan antara pendekatan bottom up dan top down serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam menentukan tujuan dan prioritas pembangunan. 2.1 Penerapan Konsep Radiant City, Garden City dan Broadacre City di Indonesia 2.1.1 Konsep radiant city di Indonesia Apartemen merupakan sebuah model tempat tinggal yang hanya mengambil sebagian kecil ruang dari suatu bangunan. Suatu gedung apartemen dapat memiliki puluhan bahkan ratusan unit apartemen. Lahan yang dapat dikembangkan di dalam suatu perkotaan semakin sempit tetapi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal selalu naik, sehingga solusi terbaik dalam menangani hal ini adalah didirikannya suatu apartemen. Apartemen juga merupakan bangunan yang didirikan secara vertikal sehingga mengikuti konsep dari radiant city (modern city), dimana sebuah kota diarahkan pembangunan bangunan/gedung ke arah vertikal untuk mengefisienkan lahan yang digunakan. Contoh superblok di Indonesia adalah superblok Podomoro City yang terletak di kawasan Jakarta Barat. superblok tersebut terdiri atas 5 menara, yakni 3 menara Central Park Residences yang masing-masing menara berjumlah 340 unit apartemen dan 2 menara Royal Mediterania Garden sebanyak 1619 unit apartemen. Dalam superbok tersebut terdapat office tower 46 lantai, Central Park Mall seluas 115 m2, 15 menara apartemen sebagai pusat hunian, The Pullman Hotel bintang 5 dan taman hijau Tribeca Park seluas 1,5 hektare sebagai pusat aktivitas sosial bagi masyarakat dengan nuansa alam. keseluruhan superblok seluas 21 hektare, tersisa 2,5 hektare. masyarakat umum dan penghuni yang tinggal di kawasan tersebut dapat menikmati taman hijau seluas 1,5 hektare yang dilengkapi dengan kolam ikan koi, air terjun mini, ruang terbuka untuk duduk santai dan sebuah lokasi dancing fountain yang dapat menjadi pusat hiburan bernuansa alam.

19

2.1.2 Konsep garden city di Indonesia Kota Bandung yang pada awalnya dibangun dengan konsep garden city, terutama di kawasan Cibeunying dan sekitarnya. Namun akibat terjadinya pemusatan atau konsentrasi penduduk di kawasan Bandung Utara. Sebagai daerah wilayah pengembangan yang terletak di kawasan utara Bandung, Cibeunying tentu saja terkena dampak dari pertumbuhan ini, diantaranya adalah peningkatan fasilitas perumahan dan fasillitas lain yang dibutuhkan warga, serta berkurangnya lahan kosong ataupun lahan hijau. Seiring dengan berkembang tingkat kebutuhannya maka pertumbuhan bangunan bangunan (sebagai naunagan bagi manusia untuk berkegiatan) ataupun infrastruktur (sebagai sarana penunjagnya) menjalar di setiap ruas ruas kota, secara amorph semakin bertolak belakang dengan konsep awalnya.konsep awal sebagai garden city di kota bandung terbukti pada daerah daerah pusat kota yang memiliki banyak persimpangan jalan, taman taman kota dan pedestrian pedestrian jalan yang sedemikian rupa dibangun dengan maksud mempernyaman jalur sirkulasi pejalan kaki.dengan konsep tersebut maka aplikasi bangunan yang skalatis dengan skala manusia menunjang pengalaman ruang yang manusiawi dengan mudah dapat dinikmati dengan mata telanjang .penataan kota yang semula dibuat memadai dan nyaman untuk pejalan kaki tersebut kemudian kian berkembang dengan wajah wajah bebangunan yang terkadang tidak menghiraukan kualitas visual. Pembangunan bangunan bangunan dengan ketinggian ketingian menjulang yang memiliki jarak minim dari tepian jalan, ketinggian bangunan dan bebangunan yang memotong jarak pandang dan ruang ruang publik kota yang kurang bersahabat sehingga menimbulkan gradasi fungsi kualitas ruang merupakan beberapa contoh dari permasalahan permasalahan yang cenderung memperburuk kualitas visual ruang yang tercipta sebagai lingkungan binaan seharusnya memberikan pengalaman pengalaman ruang yang nyata kemudian terimplementasikan dari berbagai sudut pandang baik dari segi fungsi,estetis dan kualitasnya.

20

2.2 Ketahanan Konsep Tersebut Pada Masa yang Akan Datang 2.2.1 Radiant city Konsep radiant city di Indonesia yang diimplementasikan dalam bentuk superblok, sangat basar kemungkinannya untuk bertahan. Karena konsep superblok sendiri adalah konsep modern dimana tempat tinggal dan bekerja dipadukan dalam satu kawasan sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah di masa mendatang seperti meningkatnya tingkat kemacetan dan semakin berkurangnya ruang yang dapat dikembangkan. 2.2.2 Garden city Konsep garden city di indonesia yang telah dikembangkan sejak jaman kolonial Belanda, sepertinya sulit untuk diimplementasikan kembali pada penatan kota di indonesia. Pasalnya, kota-kota yang dulunya sempat menanut konsep garden city, sekarang telah menyimpang jauh dari perencanaan awalnya. Hal ini dikarenakan pertambahan penduduk yang tajam di kawasan perkotaan sehingga ruang terbuka

21

hijau harus beralih fungsi menjadi fasilitas umum dan permukiman agar pelayan umum berjalan maksimal. Konsep garden city yang memerlukan lahan yang sangat luas, hanya dapat dikembangkan apabila permasalahan pertambahan penduduk yang sangat tajam ditambah dengan indeks primacy yang tinggi pada kota-kota di Indonesia dapat diatasi dengan baik.

22

3.1 Perbedaan Antara Comprehensive Plan, Structure Plan, Continuous Plan, Strategic Plan, dan Concencus Plan JENIS-JENIS TEORI CONTINUOUS PLAN Format perencanaan yang berupa perencanaan secara berkesinambungan atau berkalanjutan. Melakukan perencanaan secara berkelanjutan

INDIKATOR

Format Perencanaan

COMPREHENSIVE PLAN Format perencanaan yang dalam perencanaannya bersifat menyeluruh.

STRUCTURE PLAN format perencanaan yang merupakan penyederhanaan dari comprehensive planning . Hanya merencanakan pokok-pokok permasalahan atau halhal yang sifatnya primer.

STRATEGIC PLAN Format perencanaan yang mengadopsi pola penyusunan strategi militer

CONCENCUS PLAN Format perencanaan yang menitikberatkan pada pengambilan keputusan secara sosial atau bersama. Penentu kebijakan Perencanaan yang dilakukan berdasarkan keputusan sosial yang disepakati semua pihak.

Merencanakan secara menyeluruh. Tugas Planner

Merencanakan dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan yang ada. Perumusan visi misi kedepan yang berorientasi pada peluang yang ada.

Fokus Perencanaan

Pembangunan fisik yang ditata secara spesifik

Perencanaan yang fleksibel dan Memperhitungkan perubahan jaman

Perencanaan yang berdasarkan perencanaan sebelumnya

Perencanaan yang telah disepakati bersama.

23

3.2 Penjelasan Mengenai Perbedaan Antar Beberapa Teori Perencanaan 3.2.1 Comprehensive plan 1. Format perencanaan comprehensive plan yang berupa perencanaan secara menyeluruh, sehingga memerlukan jangka waktu yang panjang yaitu berkisar antara 20-30 tahun. Di Indonesia teori ini di implementasikan pada Rencana Induk Kota, Rencana Umum Tata Ruang Kota, Masterplan, dan merupakan rencana yang ambisius dikarenakan melihat cakupan aspeknya. Hakekatnya merupakan produk kebijaksanaan daripada produk rencana fisik yang spesifik, mengorganisir sumber perkembangan sosial, ekonomi, fisik, budaya, politik secara rasional dan produktif. 2. Planner harus membuat perencanaan yang sangat spesifik, yaitu rencana yang mencakup seluruh wilayah geografis yang menimbulkan perkembangan fisik, rangkuman kebijakan dan usulan, tidak berindikasi peraturan yang spesifik, dan pelaksanaannya jangka panjang. 3. Fokus perencanaan pada comprehensive planning adalah pembangunan fisik yang kompleks. 3.2.2 Structure plan 1. Format perencanaan pada structure plan merupakan penyederhanaan dari format perencanaan comprehensive plan. Karena pada structure plan, planner hanya merencanaakan hal-hal pokok seperti letak fasilitas umum. Selain itu structure plan bersifat fleksibel karena perencanaannya tidak secara spesifik/kaku. 2. Planner hanya mengatur hal-hal yang sifatnya primer/vital terhadap suatu daerah perencanaan. 3. Fokus perencanaan pada structure plan bersifat fleksibel atau dapat diubah-ubah sesuai tuntutan masa depan. 3.2.3 Continuous Plan 1. Format perencanaan pada continuous plan berdasarkan pada perencanaan sebelumnya dan perencanaan sekarang digunakan sebagai input dari perencanaan dimasa mendatang.

(ilustrasi teori continuous plan)

24

2. Planner harus membuat perencanaan yang berdasarkan kepada perencanaan sebelumnya yang telah dilakukan pada daerah perencanaan tersebut dan membuat perencanaan yang dapat digunakan sebagai titik acuan di perencanaan masa mendatang. 3. Yang menjadi fokus atau titik acuan pada continuous plan adalah perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya pada suatu daerah perencanaan. 3.2.4 Strategic plan 1. Strategic plan merupakan format perencanaan yang diadopsi dari pola penyususnan strategi militer yang dikembangkan dalam manajemen perusahaan sehingga dapat disebut sebagai perencanaan strategis. 2. Tugas planner dalam strategic plan menurut Boseman dan Phatak (1989) mencakup : a. Penilaian terhadap organisasi (SWOT) b. Perumusan misi organisasi c. Perumusan filsafah dan kebijakan organisasi d. Penetapan sasaran strategik e. Penetapan strategik f. Implementasi strategik g. Pengendalian strategi organisasi 3. Fokus perencanaannnya adalah pada peluang-peluang, kelemahan, hambatan dan tantangan yang ada dalam daerah perencanaan. 3.2.5 Concencus plan 1. Concencus plan merupakan perencanaan yang menitikberatkan pada pengambilan keputusan bersama. Sehingga semua pihak yang terlibat termasuk masyarakat yang bermukim pada daerah perencanaan tersebut dapat mengetahui secara menyeluruh bentuk perencanaan pada daerahnya dan lebih terjamin kepuasannya. 2. Perencanaan berrdasarkan keputusan sosial atau bersama akan membantu masyarakat dalam menyalurkan aspirasinya terhadap perencanaan di daerahnya. 3. Hanya melakukan perencanaan yang dibuat apabila telah mendapatkan persetujuan bersama dari seluruh pihak yang terlibat, sehingga mengurangi dampak penolakan dari pihak-pihak lain ketika rencana tersebut dilaksanakan.

25

3.3 Ciri-Ciri Pokok Comprehensive Plan, Structure Plan, Continuous Plan, Strategic Plan, dan Concencus Plan 3.3.1 Comprehensive plan 1. Perencanaan bersifat menyeluruh 2. Perencanaan jangka panjang yaitu 20-30 tahun 3. Berkarateristik pada perencanaan fisik 4. Perencanaan spesifik dan kaku 5. Bersifat umum 6. Perencanaan berdasarkan tujuan kommunitas dan kebijakan sosial ekonomi 3.3.2 Structure plan 1. Mengutamakan pokok-pokok permasalahan 2. Fleksibel atau tidak kaku 3. Berisi kerangka pengarahan rencana 4. Unsur kota yang terstruktur mapan seperti jaringan transportasi tidak mengalami perubahan 3.3.3 Continuous plan 1. Merupakan rencana yang berkesinambungan atau berkelanjutan 2. Rencana yang dibuat berdasrkan rencana sebelumnya 3. Rencana yang dibuat akan digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan rencana berikutnya 3.3.4 Strategic plan 1. Berorientasi pada strategi militer yang berupa tindakan (action) 2. Menampung seluruh aspirasi masyarakat yang terlibat 3. Mempertimbangkan peluang-peluang, tantangan serta kelemahan atau hambatan yang ada 4. Menaruh perhatian pada kompetisi di kalangan masyarakat 5. Melakuakn penilaina terhadap suatu organisasi (SWOT) 3.3.5 Concencus plan 1. Fokus kepada pengambilan keputusan sosial yang untuk mencapai kesepakatan bersama 2. Planner bertugas sebagai penentu kebijakan perencanaan yang telah disepakati 3. Pihak yang terlibat ialah lembaga pemerintah, interest group, dan masyarakat. 4. Adanya pertimbangan politis

26