Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

PERCOBAAN 4
KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS: Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L) dan Pemisahan Zat Warna

Nama NIM Kelompok Tanggal praktikum Tanggal pengumpulan Asisten

: Regina Putri Lowren : 13012006 : 01 : Jumat, 21 Februari 2014 : Jumat, 28 Februari 2014 : Atika Nurani (10511089)

Laboratorium Kimia Organik Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung 2014

PERCOBAAN 4 KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS: Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L) dan Pemisahan Zat Warna
I Tujuan Percobaan
1. Menentukan senyawa-senyawa komponen hasil isolasi kurkumin dari kunyit 2. Menentukan retardation factor (Rf) kurkumin dan komponen utama lainnya dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi lapis tipis preparatif 3. Menentukan retardation factor (Rf) beberapa sampel zat pewarna makanan dengan kromatografi lapis tipis sebelum dan sesudah kromatografi kolom

II

Teori Dasar

Metode kromatografi adalah cara pemisahan dua atau lebih senyawa atau ion berdasarkan pada perbedaan migrasi dan distribusi senyawa atau ion-ion tersebut di dalam dua fasa yang berbeda. Dua fasa ini bisa berwujud padat-cair, cair-cair, atau gas-cair. Zat terlarut di dalam suatu fasa gerak mengalir pada suatu fasa diam. Zat terlarut yang memiliki afinitas terhadap fasa gerak yang lebih besar akan tertahan lebih lama pada fasa gerak, sedangkan zat terlarut yang afinitasnya terhadap fasa gerak lebih kecil akan tertahan lebih lama pada fasa diam. Dengan demikian senyawa-senyawa dapat dipisahkan komponen demi komponen akibat perbedaan migrasi di dalam fasa gerak dan fasa diam. Dalam semua metode kromatografi terdapat fasa gerak dan fasa diam. Fasa diam adalah fasa yang tidak bergerak, sedangkan fasa gerak adalah fasa yang bergerak melalui fasa diam dan membawa komponen komponen senyawa yang akan dipisahkan. Pada posisi yang berbeda-beda, senyawa-senyawa yang berbeda akan tertahan dan terabsorbsi pada fasa diam, dan kemudian satu demi satu senyawasenyawa ini akan terbawa kembali oleh fasa gerak yang melaluinya. Dalam kromatografi kertas dan kromattografi lapis tipis, fasa gerak adalah pelarut. Fasa diam pada kromatografi kertas adalah kertas yang menyerap pelarut polar, sedangkan fasa diam pada kromatografi lapis tipis adalah pelat yang dilapisi adsorben tertentu. Kedua jenis kromatografi ini menggunakan aksi kapilaritas untuk menggerakkan pelarut melalui fasa diam. Terdapat empat jenis utama kromatografi: kromatografi Cair, Kromatogrfi Gas, kromatografi lapis Tipis dan kromatografi kertas. Keakuratan hasil pemisahan dengan metode kromatografi bergantung pada beberapa faktor berikut: 1. Pemilihan adsorben sebagai fasa diam 2. Kepolaran pelarut atau pemilihan pelarut yang sesuai sebagai fasa gerak

3. Ukuran kolom (panjang dan diameter) relatif terhadap jumlah material yang akan dipisahkan. 4. Laju elusi atau aliran fasa gerak. Dengan pemilihan kondisi yang sesuai, hampir semua komponen dalam campuran dapat dipisahkan. Dua pemilihan mendasar untuk pemisahan secara kromatografi adalah pemilihan jenis adsorben dan sistem pelarut. Pada umumnya, senyawa non polar melewati kolom lebih cepat daripada senyawa polar, karena senyawa non polar memiliki afinitas lebih kecil terhadap adsorben. Jika adsorben yang dipilih mengikat semua molekul yang terlarut (baik polar maupun non polar) dengan kuat, maka senyawa-senyawa tersebut tidak akan bergerak turun keluar dari kolom. Sebaliknya, jika pelarut yang dipilih terlalu polar, semua zat terlarut (polar maupun non polar) akan dengan mudah tercuci keluar kolom, tanpa adanya pemisahan. Adsorben dan pelarut sebaiknya dipilih sedemikian rupa sehingga kompetisi molekul-molekul terlarut di antara kedua fasa terjadi dalam kesetimbangan.

Fasa Diam Silika gel, fasa diam yang paling umum digunakan sebagai fasa diam, memiliki rumus empiris SiO2. Tetapi, pada permukaan partikel silika gel, terdapat atom-atom oksigen yang terikat pada proton. Adanya gugus hidroksil ini mengakibatkan permukaan silika gel sangat polar, sehingga analit organik yang memiliki gugus fungsi polar akan terikat dengan kuat pada permukaan partikel silika gel dan senyawa yang non polar hanya berinteraksi lemah dengan silika gel. Molekul yang memiliki gugus fungsi polar dapat terikat pada silika gel dalam dua cara: melalui ikatan hidrogen dan melalui interaksi dipoldipol. Pada Gambar 1 diperlihatkan model interaksi analit senyawa oraganik dengan silika gel.

Fasa Gerak Pada kromatografi yang menggunakan silika gel sebagai fasa diam, fasa gerak yang digunakan adalah suatu pelarut organik atau campuran beberapa pelarut organik. Ketika fasa gerak melalui permukaan silika gel, fasa gerak ini membawa analit organic kmelalui partikel-partikel pada fasa diam. Tetapi, molekul analit hanya bebas bergerak oleh adanya pelarut apabila molekul tersebut tidak terikat

pada permukaan silika gel. Kemampuan suatu analit terikat pada permukaan silika gel dengan adanya pelarut tertentu dapat dilihat sebagai penngabungan 2 interaksi yang saling berkompetisi. Pertama, gugus polar dalam pelarut dapat berkompetisi dengan analit untuk terikat pada permukaan silika gel. Dengan demikian, jika pelarut yang sangat polar digunakan, pelarut akan berinteraksi kuat dengan permukaan silika gel dan hanya menyisakan sedikit tempat bagi analit untuk terikat pada silika gel. Akibatnya, analit bergerak cepat melewati fasa diam dan keluar dari kolom tanpa pemisahan. Dengan cara yang sama, gugus polar pada pelarut dapat berinteraksi kuat dengan gugus polar dalam analit dan mencegah interaksi analit pada permukaan silika gel. Pengaruh ini juga menyebabkan analit cepat meninggalkan fasa diam. Kepolaran suatu pelarut yang dapat digunakan untuk kromatografi dapat dievaluasi dengan memperhatikan tetapan dielektrik () dan momen dipol () pelarut. Semakin besar kedua tetapan tersebut, semakin polar pelarut tesebut. Sebagai tambahan, kemampuan berikatan hidrogen pelarut dengan fasa diam harus dipertimbangkan. Semua jenis kromatografi melibatkan proses kesetimbangan molekul-molekul yang dinamis dan cepat diantara 2 fasa (diam dan gerak). Kesetimbangan di antara kedua fasa tersebut bergantung pada 3 faktor: Kepolaran dan ukuran molekul yang akan dipisahkan Kepolaran fasa diam Kepolaran fasa gerak Proses pemisahan dapat dilihat pada Gambar 2. Pada proses ini, molekul A yang terabsorbsi lebih lemah pada fasa diam akan bergerak keluar lebih dulu terbawa oleh pelarut (fasa gerak). Semakin polar molekul yang akan dipisahkan, semakin kuat interaksinya dengan fasa diam, akibatnya molekul tersebut akan tertahan lebih lama dalam fasa diam. Sebaliknya, molekul non polar yang afinitasnya lebih kecil terhadap fasa diam akan cenderung berada dalam fasa gerak lebih lama dan akan terelusi lebih dahulu. Secara umum, jika pada kromatografi digunakan

fasa diam yang polar, pertama kali pilihlah pelarut yang non polar sebagai fasa gerak untuk mengelusi komponen dalam campuran. Selanjutnya, lakukan proses elusi dengan penggantian fasa gerak dengan pelarut yang semakin lebih polar, sampai akhirnya semua Gambar 2. Proses pemisahan dengan kromatografi komponen terpisah dan keluar dari fasa diam.

III

Data Pengamatan
A. Isolasi Kurkumin dari Kunyit Dari percobaan isolasi kurkumin dari kunyit dengan kromatografi lapis tipis dan preparative (fasa

diamnya adalah silica), diperoleh data sebagai berikut

A.1 Kromatografi lapis tipis preparative Jenis eluen Urutan noda (terhadap batas bawah) Bawah CH2Cl2 : MeOH = 97 : 3 Tengah Atas Jarak noda dari batas bawah (cm) 7,2 8,5 10,3 18 Jarak tempuh pelarut dari batas bawah (cm)

A.2 Uji Kromatografi Lapis Tipis Jenis eluen Urutan noda (terhadap batas bawah) Bawah CH2Cl2 : MeOH = 97 : 3 Tengah Atas Jarak noda dari batas bawah (cm) 0,8 1,4 1,8 4,2 Jarak tempuh pelarut dari batas bawah (cm)

B. Pemisahan Zat Pewarna Makanan Identifikasi komponen warna dari sampel zat pewarna makanan menggunakan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom menghasilkan data sebagai berikut. B.1 Data sampel zat pewarna sebelum kromatografi kolom Sebelum kromatografi kolom, sampel zat pewarna makanan yang terdiri dari pewarna merah, pewarna biru dan pewarna kuning diidentifikasi terlebih dahulu dengan KLT.

Jenis eluen

Urutan dan warna noda (terhadap batas bawah) Kuning

Jarak noda dari batas bawah (cm) 0,5 0,55 1,1

Jarak tempuh pelarut dari batas bawah (cm) 3,5 3,9 3,5

Butanol:Etanol:Ammonia 2% (3:1:2)

Merah Biru

B.2 Data sampel zat pewarna setelah kromatografi kolom Fraksi eluat yang keluar dari kromatografi kolom menghasilkan tiga pita dengan warna yang berbeda-beda yaitu, merah, kuning dan biru. Jenis eluen Urutan noda (terhadap batas bawah) Kuning Butanol:Etanol:Ammonia 2% (3:1:2) Biru Merah Jarak noda dari batas bawah (cm) 0,6 0,8 1,0 Jarak tempuh pelarut dari batas bawah (cm) 3,9 3,9 3,9

IV

Pengolahan Data
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, praktikan dapat menghitung retardaction factor (Rf)

dari senyawa sampel menggunakan data yang telah diperoleh sebelumnya. Pengolahan data pada percobaan kali ini meliputi hasil kromatografi lapis tipis dari percobaan hasil isolasi kurkuminoid dan pemisahan zat pewarna makanan. I. Hasil Isolasi Kurkumin dari Kunyit Uji kromatografi lapis tipis yang praktikan lakukan memperoleh tiga buah Rf yang diidentifikasi berasal dari tiga senyawa berbeda (dibahas lebih lanjut pada bab V Pembahasan). Uji kromatografi lapis tipis tersebut menggunakan eluen CH2Cl2:MeOH= 97:3. Uji KLT yang praktikan lakukan meliputi KLT biasa dan KLT preparative.

A. Kromatografi Lapis Tipis A.1 Uji KLT Senyawa 1 (noda paling bawah terhadap batas bawah pelat KLT) Jarak noda senyawa 1 dari batas bawah = 0,8 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 4,2 cm Maka nilai Rf senyawa 1, Rf = Rf = = 0,1905 =

A.2 Uji KLT Senyawa 2 (noda di tengah pelat KLT) Jarak noda senyawa 2 dari batas bawah = 1,4 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 4,2 cm Maka nilai Rf senyawa 2, Rf = Rf = = 0,3333 =

A.3 Uji KLT Senyawa 3 (noda paling atas terhadap batas bawah pelat KLT) Jarak noda senyawa 3 dari batas bawah = 1,8 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 4,2 cm Maka nilai Rf senyawa 3, Rf = Rf = = 0,4286 =

B. Kromatografi Lapis Tipis Preparative A.1 Uji KLT preparative Senyawa 1 (noda paling bawah terhadap batas bawah pelat KLT) Jarak noda senyawa 1 dari batas bawah = 7,2 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 18 cm Maka nilai Rf senyawa 1, Rf = Rf = = 0,4000 =

A.2 Uji KLT preparative Senyawa 2 (noda di tengah pelat KLT) Jarak noda senyawa 2 dari batas bawah = 8,5 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 18 cm

Maka nilai Rf senyawa 2, Rf = Rf = = 0,4722 =

A.3 Uji KLT preparative Senyawa 3 (noda paling atas terhadap batas bawah pelat KLT) Jarak noda senyawa 3 dari batas bawah = 10,3 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 18 cm Maka nilai Rf senyawa 3, Rf = Rf = = 0,5722 =

II.

Pemisahan Zat Pewarna Makanan Uji kromatografi lapis tipis yang praktikan lakukan memperoleh tiga pita warna yang

berbeda dan memiliki Rf . Praktikan mengidentifikasi bahwa pita-pita warna tersebut berasal dari zat pewarna yang berbeda yaitu pewarna merah, biru dan kuning. Ketiga Rf tersebut diperoleh sebelum dan sesudah kromatografi kolom. Uji kromatografi lapis tipis tersebut menggunakan eluen Butanol:Etanol:Ammonia 2% (3:1:2)

A. Uji KLT terhadap zat pewarna sebelum kromatografi kolom A.1 Pita pertama (kuning) Jarak noda pita pertama dari batas bawah = 0,5cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 3,5 cm Maka nilai Rf pita pertama, Rf = Rf = = 0,1428 =

A.2 Pita kedua (merah) Jarak noda pita kedua dari batas bawah = 0,55 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 3,9 cm Maka nilai Rf pita kedua, Rf = Rf = = 0,1410 =

A.3 Pita ketiga (biru) Jarak noda pita ketiga dari batas bawah = 1,1 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 3,5 cm Maka nilai Rf pita ketiga, Rf = Rf = = 0,3143 =

C. Uji KLT terhadap zat pewarna setelah kromatografi kolom B.1 Pita pertama (kuning) Jarak noda pita pertama dari batas bawah = 0,6 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 3,9 cm Maka nilai Rf pita pertama, Rf = Rf = = 0,1538 =

B.2 Pita kedua (biru) Jarak noda pita kedua dari batas bawah = 0,8 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 3,9 cm Maka nilai Rf pita kedua, Rf = Rf = = 0,2051 =

B.3 Pita ketiga (merah) Jarak noda pita ketiga dari batas bawah = 1,0 cm Jarak tempuh pelarut dari batas bawah = 3,9 cm Maka nilai Rf pita ketiga, Rf = Rf = = 0,2564 =

Pembahasan
Kurkumin (Gambar 1) merupakan salah satu senyawa aktif yang diisolasi dari rimpang Curcuma

longa (kunyit). Namun berdasarkan penelitian terbaru, kurkumin juga dapat diisolasi dari Curcuma

zedoaria dan Curcuma aromatica. Kurkumin dihasilkan secara alami dari rimpang kunyit bersamaan dengan dua senyawa analog kurkumin lainnya, yaitu demetoksikurkumin (gambar 2) dan bisdemetoksikurkumin (gambar 3) . Kurkumin dihasilkan dari rimpang kunyit dalam jumlah yang paling banyak dibandingkan dengan demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin.

Kurkumin dapat ditemukan pada dua bentuk tautomer, yaitu bentuk keto dan bentuk enol. Struktur keto lebih stabil atau lebih banyak ditemukan dalam fasa padat, sedangkan struktur enollebih dominan pada fasa cair atau larutan.

Berdasarkan penjelasan di atas dan data pada lampiran, praktikan memperkirakan bahwa senyawa demetoksikurkumin dan bis-demetoksikurkumin yang turut dihasilkan pada percobaan isolasi kurkumin dari kunyit merupakan komponen utama dari kurkuminoid, bukan berasal dari pemanasan kurkumin saat refluks maupun distilasi yang menghasilan turunan-turunan senyawa tersebut. Kurkuminoid berasal dari kunyit yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu kurkumin, demetoksikukumin, dan bisdemetoksikurkumin. Pada percobaan yang dilakukan oleh praktikan, ekstrak kasar kurkumin yang berasal dari hasil refluks ditotolkan pada KLT untuk menentukan Rf senyawa- senyawa kurkuminoid dan mengurutkannya sesuai kepolaran. Manfaat refluks yaitu memisahkan zat pengotor yang masih bercampur dengan zat-zat yang akan diuji dengan kromatografi, selain itu proses ini bertujuan untuk mengekstrak kurkumin yang ada pada kunyit . Prinsip utamanya adalah memurnikan zat dengan cara penguapan secara kondensasi. Pelat KLT yang ditotolkan oleh ekstrak kurkuminoid tersebut menghasilkan tiga fraksi berwarna yang berbeda. Tiga fraksi tersebut dari batas atas ke bawah berturut- turut adalah warna coklat kemerahan, oranye, dan kuning. Praktikan memperkirakan, komponen yang bewarna coklat kemerahan adalah kurkumin, komponen yang berwarna oranye adalah demetoksikurkumin, sedangkan fraksi yang kuning adalah bisdemetoksikurkumin. Praktikan memperkirakan hal tersebut berdasarkan segi kepolaran molekul (struktur senyawa) dan membandingkannya berdasarkan literature berikut.

Jika dilihat dari struktur kurkumin dan turunannya, urutan dari yang paling polar ke yang kurang polar adalah bisdemetoksikurkumin, demetoksikurkumin dan kurkumin. Tingkat kepolaran antara kurkumin, demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin diakibatkan hilangnya gugus metoksi pada struktur kurkumin. Bisdemetoksikurkumin adalah senyawa yang bersifat paling polar karena dibandingkan ketiganya, molekul bisdemetoksi kurkumin berukuran paling kecil sehingga menambah kepolaran senyawanya. Hal ini membuat demetoksikurkumin lebih banyak berinteraksi pada silica yang polar pula sehingga ia lebih lama diam pada silica. Kemudian, kurkumin yang berada pada posisi paling atas, memiliki struktur simetris yang menunjukkan bahwa kurkumin senyawa nonpolar. kurkumin lebih banyak berinteraksi dengan fasa gerak yang nonpolar sehingga memiliki nilai Rf terbesar dibanding ketiganya. Sementara itu, demetoksikurkumin terdapat pada fraksi tengah yang menunjukkan bahwa ia merupakan senyawa yang polar, walau tidak sepolar bisdemetoksikurkumin. Hal ini dapat dilihat dari strukturnya yang tidak lagi simetris karena tidak adanya gugus metoksi di salah satu sisinya.

Literatur (menggunakan eluen yang berbeda) di atas menunjukkan hal yang sama seperti yang diperkirakan oleh praktikan. Urutan kepolaran dapat diidentifikasi dengan membandingkan nilai Rf. Semakin besar Rf suatu senyawa makan semakin nonpolar (jika eluennya nonpolar). Kromatografi adalah suatu metode untuk memisahkan senyawa dalam campuran sehingga

senyawa tersebut dapat dianalisis dan dipelajari. Prinsipnya adalah adanya perbedaan distribusi dan migrasi senyawa pada dua fasa yang berbeda. Selain itu, kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas) Teknik pemisahan ini memanfaatkan interaksi komponen dengan fase diam dan fase gerak serta sifat fisik dan sifat kimia komponen. Pada percobaan IV, praktikan memisahkan komponen dengan tiga jenis kromatografi yaitu, kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom, dan kromatografi lapis tipis preparative. 1. Kromatografi lapis tipis (KLT) Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Prinsip kerja KLT untuk memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang akan digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin

dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Hal itu mendasari prinsip KLT untuk melakukan pemisahan komponen berdasarkan distribusinya pada fase diam dan fase gerak. Komponen yang memiliki interaksi lebih besar terhadap fase diam akan tertahan lebih lama. Sebaliknya, komponen yang memiliki interaksi lebih besar terhadap fase gerak akan bergerak lebih cepat. Fase diam yang umum digunakan pada KLT adalah silika gel. Selain itu, kromatografi lapis tipis merupakan analisis yang cepat dan sederhana karena tidak memerlukan banyak bahan sampel maupun eluennya 2. Kromatografi Kolom Kromatografi kolom menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponenkomponen dalam campuran. Prinsip kerjanya didasarkan pada perbedaan afinitas absorbsi komponen-komponen campuran terhadap permukaan fasa diam. Sampel yang memiliki afinitas besar terhadap absorben akan secara selektif tertahan dan yang afinitasnya paling kecil akan mengikuti aliran pelarut. Contohnya jika fasa diamnya silica (polar) maka senyawa yang lebih polar akan terserap lebih kuat sehingga turun lebih lambat dari senyawa non polar terserap lebih lemah dan turun lebih cepat. Zat yang di serap dari larutan secara sempurna oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada kolom. Pelarut lebih lanjut / dengan tanpa tekanan udara masin-masing zat akan bergerak turun dengan kecepatan khusus sehingga terjadi pemisahan dalam kolom. Selain itu, pada sebagian besar kromatografi kolom yang menggunakan fase diam bersifat polar dengan fase gerak yang non-polar, waktu retensi senyawa yang akan diuji (polar) akan menjadi lebih singkat. Semakin cepat pergerakan fase gerak akan meminimalkan waktu yang diperlukan untuk bergerak di sepanjang kolom. Laju aliran kolom dapat ditingkatkan dengan memperluas aliran eluent di dalam kolom dengan mengisi fase diam pada bagian bawah atau dikurangi dengan mengontrol keran. Laju aliran yang lebih baik dapat dicapai dengan menggunakan pompa atau dengan menggunakan gas dengan kompresi (misalnya udara,nitrogen, argon) untuk mendorong pelarut melalui kolom. Semakin tinggi kolom yang akan dilalui oleh campuran , semakin baik komponen di dalamnya dapat dipisahkan dengan kromatografi kolom. 2. KLT Preparatif Kromatografi Lapis Tipis Preparatif merupakan proses isolasi yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan bergerak mengikuti kepolaran eluen oleh karena daya serap adsorben terhadap komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan pemisahan. Tujuan dari kromatografi preparatif adalah memisahkan komponen campuran untuk digunakan lebih lanjut (proses pemurnian ulang). Oleh karena itu, kromatografi

preparatif digunakan untuk memurnikan jumlah yang cukup dari bahan untuk digunakan lebih lanjut, bukan analisis.

Perbedaan antara KLT dan kromatografi kolom terletak pada fase diam dan fase geraknya. Pada kromatografi lapis tipis (KLT) digunakan untuk identifikasi atau pengujian komponen dari suatu zat karena mudah dan sederhana. Kromatografi kolom memberikan pilhan fase diam yang lebih luas dan berguna untuk pemisahan masing-masing senyawa secara kuantitatif. Selain itu, prinsip dari KLT adalah menggunakan kapilaritas, sedangkan pada kromatografi kolom memanfaatkan gravitasi untuk memisahkan senyawa. Perbedaan kromatografi lapis tipis dengan KLT preparative adalah KLT dapat digunakan untuk tujuan analitik sedangkan KLT preparative dapat pula digunakan untuk memurnikan bahan percobaan yang akan digunakan lebih lanjut (sebagai bahan analisis lebih lanjut). Dalam percobaan kali ini, praktikan menggunakan KLT preparative untuk mermurnikan ekstrak kurkuminoid sehingga mendapat tiga fraksi komponen penyusunnya,yaitu kurkumin, demetoksikurkumin dan bis-demetoksikurkumin. Selain itu, KLT digunakan untuk menganalisa sennyawa pada skala kecil, sedangkan KLT preparative digunakan untuk memisahkan campuran senyawa dari sampel dalam jumlah besar berdasarkan fraksinya. Fraksi tersebut dikumpulkan dan digunakan untuk analisis selanjutnya. Pada percobaan, fraksi kurkumin berwarna jingga. Berdasarkan referensi, molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik tidak jenuh dengan kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat warna dengan serat. Zat organik tidak jenuh yang dijumpai dalam pembentukan zat warna adalah senyawa aromatik antara lain senyawa hidrokarbon aromatik dan turunannya, fenol dan turunannya serta senyawa-senyawa hidrokarbon yang mengandung nitrogen. Gugus kromofor adalah gugus yang menyebabkan molekul menjadi berwarna. Gugus kromofor dan memberi daya ikat terhadap serat yang diwarnainya. Gugus kromofor merupakan struktur parsial yang perlu untuk warna (gugus tak jenuh yang dapat menjalanitransisi ----> * dan n----> *). Sedangkan auksokrom dapat mengintensifkan warna. Auksokrom ialah gugus yang tidak dapat menjalani transisi --> *, tetapi dapat menjalani transisi electron n. Zat warna adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk memberi warna suatu objek atau suatu kain. Saat ini terdapat banyak sekali senyawa organik berwarna, naman hanya beberapa saja yang sesuai untuk zat warna. Suatu senyawa organik dapat dikatakan sebagai zat warna jika memenuhi beberapa persyaratan, yakni : (a) Zat warna yang baik mempunyai sifat tahan lama, oleh karena itu zat warna tersebut harus terikat kuat pada kain. Setiap jenis kain mempunyai tingkat kesulitan tertentu dalam proses pewarnaan. Bahan yang paling mudah diwarnai adalah sutera, karena mengandung banyak gugus polar yang berantaraksi dengan zat warna (Fessenden, 1994) (b) Mengandung gugus kromofor yang

dapat menimbulkan warna, seperti nito dan nitroso. Selain itu zat tersebut mengandung gugus yang mempunyai afinitas terhadap serat tekstil seperti amino dan hidroksil. Berdasarkan percobaan kromatografi lapis tipis, praktikan membandingkan nilai Rf untuk mengurutkan zat warna dari yang polar hingga nonpolar. Sebelum kromatografi urutan kepolaran zat pewarna adalah merah, kuning dan biru, sedangkan setelah kromatografi urutan kepolarannya menjadi kuning, biru, merah. Praktikan memperkirakan ketidakcocokan data pengamatan sebelum dan sesudah praktikum disebabkan pemisahan pita berwarna saat kromatografi kolom tidak benar. Beberapa pita mengandung zat pengotor sehingga saat pemisahan menggunakan kromatografi lapis tipis, jarak tempuhnya menjadi terhambat atau sebaliknya. Selain itu,zat pengotor mungkin saja muncul saat elusi pelat KLT. Chamber tidak tertutup dengan benar sehingga volume chamber terjenuhi bukan dari uap eluen saja.

VI

Kesimpulan Berdasarkan percobaan yang telah dilaksanakan, praktikan menyimpulkan,


1. Hasil isolasi kurkumin dari kunyit terdiri dari tiga komponen utama yaitu kurkumin, demetoksikurkumin, dan bisdemetoksikurkumin. 2. Retardation factor (Rf) senyawa kukuminoid yang ditentukan dengan kromatografi lapis tipis adalah Rf bisdemetoksikurkumin = 0,1905 Rf demetoksikurkumin = 0,3333 Rf kurkumin = 0,4286

sedangkan dengan kromatografi lapis tipis preparative, Rf bisdemetoksikurkumin = 0,4000 Rf demetoksikurkumin = 0,4772 Rf kurkumin = 0,5772

3. Retardation factor (Rf) beberapa sampel zat pewarna sebelum kromatografi kolom adalah Rf pewarna kuning = 0,1428 Rf pewarna merah = 0,1410 Rf pewarna biru = 0,3143

sedangkan Rf zat pewarna setelah kromatografi kolom Rf pewarna kuning = 0,1538 Rf pewarna biru = 0,2051 Rf pewarna merah = 0,2564

VII Daftar Pustaka


Anderson, A.M., Mitchell, M.S., and Mohan, R.S. 2000. Isolation of Curcumin from Turmeric. J Chem Ed. 77 Bird, E.W. dan Sturtevant, F. 1992. Extraction of FD&C dyes from Common Food Source: Their Separation Utilizing Column Chromatography.J Chem Edu 69 Fessenden and Fessenden. 1994. Organic Chemistry, 5th edition. California: Wademorth. http://cerita-dari-itb.blogspot.com/2012/07/laporan-praktikum-kimia-organik-ki-2051_12.html. Tersedia. Tanggal akses 27 Februari 2014 pukul 01.40 WIB http://diaharrazy.files.wordpress.com/2010/12/lap-kimor-4-3rd-fa09.pdf. Tersedia. Tanggal akses 27 Februari 2014 pukul 01.20 WIB http://farmacyku.blogspot.com/2012/02/kromatografi-lapis-tipis.html. Tersedia. Tanggal akses 27 Februari 2014 pukul 01.09 WIB http://id.wikipedia.org/wiki/Kromatografi_lapis_tipis. Tersedia. Tanggal akses 27 Februari 2014 pukul 01.11 WIB http://ririramadhani.blogspot.com/2013_01_01_archive.html. Tersedia. Tanggal akses 27 Februari 2014 pukul 01.54 WIB http://rozichem91.blogspot.com/2011/03/zat-warna.html. Tersedia. Tanggal akses 27 Februari 2014 pukul 01.34 WIB http://yunitaerma.blogspot.com/2012/02/isolasi-flavonoid.html. Tersedia. Tanggal akses 27 Februari 2014 pukul 01.02 WIB

VIII Lampiran

Diklorometana
General Synonyms: HCC 30, methane dichloride, methylene chloride, methylene dichloride, aerothene MM, DCM, narkotil, solaesthin, solmethine, NCI-C50102, R 30, methylene bichloride, Freon 30 Molecular formula: CH2Cl2 Physical data Appearance: colourless liquid Specific gravity: 1.32 Melting point: -97 C Flash point: none Boiling point: 40 C Explosion limits: 14 % - 22% Vapour density: 2.9 Autoignition temperature: 661 C Vapour pressure: 6.8 psi at 20 C Water solubility: slight Stability Stable. Incompatible with alkali metals, aluminium, strong oxidizing agents, strong caustics, some forms of plastic, titanium. A small amount of added amylene (1-pentene) may be present to enhance stability.

N-heksana
MSDS Name: Hexane MSDS Preparation Date: 06/19/2009 Synonyms or Generic ID: n-Hexane, Hexylhydride, Dipropyl, normal-Hexane, Hex. State: Liquid Appearance: colorless Odor: Gasoline Like Boiling Point (C): 62-69C ,760mm HG pH: not available

Specific Gravity: 0.678 Vapor Pressure (mm Hg): 151mm Hg @ 25C Vapor Density (AIR=1): 2.97

Solubility in Water: insoluble

Kurkumin
Bentuk fisik dan tampilan Massa molekul Warna Kelarutan : Padat : 368,39 g/mol : Jingga. Jingga-kekuningan. : Sangat sedikit terlarut dalam aseton. Tidak larut dalam air dingin dan dietil eter.

Kurkumin (1) merupakan salah satu senyawa aktif yang diisolasi dari rimpang Curcuma longa (kunyit). Namun berdasarkan penelitian terbaru, kurkumin juga dapat diisolasi dari Curcuma zedoaria dan Curcuma aromatica. Kurkumin dihasilkan secara alami dari rimpang kunyit bersamaan dengan dua senyawa analog kurkumin lainnya, yaitu demetoksikurkumin (2) dan bisdemetoksikurkumin (3). Kurkumin dihasilkan dari rimpang kunyit dalam jumlah yang paling banyak dibandingkan dengan demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin. Kurkumin (1) merupakan salah satu senyawa kimia yang sering diteliti. Beberapa peneliti terkadang menghendaki sifat-sifat dari kurkumin menjadi lebih baik setelah dilakukan modifikasi pada struktur awalnya sehingga menghasilkan 2 senyawa-senyawa baru yang strukturnya analog dengan kurkumin. Modifikasi struktur kurkumin dapat dilakukan pada atom karbon yang terletak di pusat rantai C7 yang ditunjukkan pada gambar 1.1 di bawah ini. Modifikasi struktur kurkumin pada posisi tersebut dianggap serupa dengan struktur asetilaseton yang tersubstitusi (Anand dkk, 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Lin dkk menghasilkan senyawa turunan kurkumin yang tersubstitusi pada atom karbon yang terletak di pusat rantai C7. Modifikasi tersebut dilakukan untuk mensintesis senyawa asam 7-(3,4-dimetoksifenil)-4-[3-(3,4-dimetoksi fenil)-akriloil]-5-hidroksi-hepta2,4,6-trienoat etilamida (8) melalui reaksi adisi konjugat dari senyawa dimetil kurkumin (6) pada N-etilpropionamida (7) yang merupakan senyawa ,-tak jenuh karbonil yang ditunjukkan pada persamaan reaksi di bawah ini.

Lin dkk tidak hanya mensintesis senyawa di atas. Kelompok penelitian tersebut juga mensintesis senyawa turunan kurkumin lain seperti 4-alkoksikarboniletil kurkumin. Pereaksi yang digunakan oleh Lin dkk untuk mensintesis senyawa 4- alkoksikarboniletil kurkumin adalah vanilin, etil 4-asetil-5oksoheksanoat, dan anhidrida borat (Lin dkk, 2006). Dengan menggunakan prinsip-prinsip reaksi kimia organik dan pendekatan diskoneksi yang telah dipelajari sebelumnya, senyawa 3 4-alkoksikarboniletil kurkumin diharapkan dapat dibentuk dari reaksi kurkumin dan alkil akrilat dengan adanya ion etoksi. Senyawa hasil ini diharapkan mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih tinggi daripada senyawasenyawa turunan kurkumin lainnya.