Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

A. Definisi Modernisasi Modernisasi adalah suatu gejala yang universal dan kompleks dan ia selalu ditandai dengan adanya keyakinan akan pentingnya pengelolaan yang rasionil dan ilmiah. Keyakinan ini merupakan ciri yang paling penting dari modernisasi. Robert Ward juga memandang modernisasi sebagai gerakan menuju masyarakat modern, yang ditandai oleh kemampuannya untuk mengendalikan atau mempengaruhi keadaan fisik dan sosial dari lingkungannya dalam jangka panjang dan oleh adanya suatu system nilai yang betul betul optimistis mengenai kemungkinan dan konsekuensi dari kemampuan ini. B. Definisi Pembangunan Untuk mendapatkan kesamaan definisi, marilah kita mulai dengan definisi pembangunan. Pertama, kita menggunakan istilah pembangunan dalam istilah yang kabur dan longgar, dalam arti ini kita dapat mengatakan bahwa Pembangunan merupakan suatu situasi untuk memperlihatkan sedikit lebih banyak daripada sekedar proses yang berlangsung, meski sulit untuk membayangkan pola umum yang menjelaskan setiap proses perkembangan. Pemakaian istilah pembangunan yang longgar ini yang lebih mempersamakan pembangunan dengan perubahan semata, Namun demikian pembangunan, sering digunakan dalam artian yang langsung bertentangan dengan pembangunan yang bergerak kearah tujuan yang didefinisikan secara tertutup. Pembangunan di lain pihak, dapat diartikan sebagai kemajuan ke arah tujuan yang lebih luas, atau kemajuan kearah tujuan yang ditetentukan oleh agen, atau oleh kita sendiri. Jika kita gagal menciptakan suatu keadaan akhir yang khusus, kita akan mudah terpeleset kedalam asumsi bahwa hal ini bagaimanapun juga ada. Jadi kita menggunakan kata pembangunan harus jelas apakah ini berarti perubahan kearah keadaan akhir, atau hanya perubahan saja. Jika kita membayangkan suatu tujuan dan ini sangat sulit tanpa melakukan hal itu harus didefinisikan secara hati-hati, meskipun kita pada akhirnya tidak setuju pada hasil dari pembangunan politik. Jika kita tidak memperinci pembangunan politik, maka akan mudah terpeleset ke dalam asumsi yang tidak kita sadari. C. Modernisasi Politik Moderenisasi politik sering diartikan sebagai transformasi politik yang dialami di Eropa dan selanjutnya di bagian-bagian dunia lain setelah dan sejak renaissance. Transformasi ini dapat dikatakan sebagai syndrome ciri-ciri yang berkaitan dari modernisasi politik. Syndrome ini menurut Lucian Pye agak berbeda, tapi dapat dikatakan meliputi: (1) Sikap umum arah bersamaan yang memungkinkan persamaan kesempatan berpartisipasi dalam politik dan bersaing mendapatkan jabatan pemerintahan,

(2) Kapasitas sistem politik merumuskan kebijaksanaan dan pelaksanaanya, (3) Diferensisasi dan spesialisasi fungsi politik tanpa mengorbankan integritas secara menyeluruh, (4) Sekularisasi proses politik, pemisahan politik dari tujuan dan pengaruh agama. Tujuan modernisasi politik adalah pembangunan suatu kerangka instusionil yang cukup luwes dan kuat untuk memenuhi tuntutan-tuntutan yang diajukan di dalamnya. Singkatnya, pemerintah harus sungguh-sungguh dapat menjalankan tugas yang beraneka ragam. Modernisasi politik berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan dengan perubahanperubahan sosial serta psikologis, dan jelas bahwa kapasitas pemerintah untuk memenuhi tuntutan-tuntutan seperti dipengaruhi oleh faktor- faktor ekonomi dan kebudayaan. Proses modenisasi politik memiliki tiga ciri pokok : 1. Peningkatan pemusatan kekuasaan pada negara dibarengi dengan melemahnya sumber-sumber wewenang kekuasaan tradisionil; 2. Diferensiasi dan spesialisasi lembaga-lembaga politik; 3. Peningkatan partisipasi rakyat dan politik, dan kesedian individu-individu untuk mengidentifikasikan diri dengan sistem politik sebagai suatu keselurhan. Jadi modernisasi politik pertama-tama menyangkut pengalihan secara dramatis pusat wewenang kekuasaan. Kepala-kepala suku, pangeran-pangeran kecil dan sebagainya sedikit demi sedikit kehilangan kekuasaannya. Modernisasi adalah akibat yang baru terhadap yang lama, bukan pemberantasan yang lama dan diganti dengan yang baru. D. Pembangunan Politik Pembangunan politik sebagai kemampuan penyelesaian masalah yang timbul dari modernisasi, diperlihatkan secara lebih sederhana, meskipun berbeda, oleh penulis terkemuka lainya di bidang ini. Pembangunan politik didefinisikan tidak sebagai suatu proses dengan tujuan kondisi politik tertentu, tapi proses yang menciptakan kerangka lembaga untuk menyelesaikan masalah sosial yang terus berkembang. Ini menandai keinginan untuk menghindari perincian tujuan pembangunan politik seperti menciptakan Negara demokrasi liberal atau sisoalis. Tapi yang lebih penting adalah masalah yang diselesaikan menjadi luas dan keluar dari batas-batas perangkat masalah pembangunan. E. Pembangunan Politik Sebagai Modernisasi Definisi mengenai pembangunan politik banyak sekali. Tetapi sebagian besar dari definisi itu member dua ciri yang keduanya berhubungan erat. Pertama, pembangunan politik disamakan sebagai salah satu aspek dari atau berhubungan erat dangan proses-proses modernisasi yang lebih luas di dalam masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Modernisasi mempengaruhi semua bagian-bagian masyarakat; aspek-aspek politiknya merupakan pembangunan politik. Banyak penulis nampaknya lebih menyukai ungkapan modernisasi politik karena lebih deskriptif untuk perhatian utama mereka. Kedua, kalau pembangunan politik dihubungkan dengan modernisasi, pembangunan politik merupakan proses yang luas dan kompleks. Karenanya sebagian besar penulis mengatakan bahwa pembangunan politik harus diukur dengan banyak kriteria.

Rasionalisasi, integrasi, dan demokratisasi biasanya muncul dalam definisi-definisi tentang pembangunan politik. Tetapi ciri pembangunan politik atau modernisasi politik yang biasa ditekankan adalah mobilisasi atau partisipasi. Karl Deutsch menekankan mobilisasi sosial. Peningkatan-peningkatan kemampuan membaca dan menulis, urbanisasi, keterbukaan media masa, industrialisasi, melipatgandakan tututan-tuntutan akan pelayanan-pelayanan pemerintah, jadi merangsang adanya peningkatan kemampuan pemerintah, perluasan kaum elit, partisipasi politik yang bertambah, dan pergeseran-pergeseran perhatian dari tingkat daerah ke tingkat nasional. Jelas bahwa, diskusi perubahan politik penuh dengan kekaburan dan kesulitan teoritis. Tapi kita akan memulai bahwa konsep pembangunan politik dan moderenisasi politik mengandung pengertian berikut : Perubahan politik perlu untuk mencapai tujuan khusus, yaitu demokrasi liberal, masyarakat komunis atau Negara Islam. Suatu proses perubahan umum dalam kawasan politik berkaitan erat dengan aspek masyarakat lainya, yaitu a) perluasan dan sentralisasi kekuasaan pemerintah, serta diferensasi dan spesialisasi fungsi dan struktur politik, b) peningkatan partisipasi masyarakat dalam politik, c) peningkatan identifikasi masyarakat dalam sistem politik. Kemampuan sistem politik dalam a) menyelesaikan persoalan-persoalan, pembangunan, dan b) mengawali kebijaksanaan baru bagi masyarakat, menyusun struktur baru dan memperbaiki yang lama. Kemampuan belajar lebih baik dan bagaimana melaksanakan fungsi politik dan menyusun struktur politik. Moderenisasi politik kadang-kadang dipergunakan untuk menunjukkan semata-mata pada (ii) di atas. Pembangunan politik kadang terbatas pada (i), (iii), atau (iv). Tapi perbedaan ini bersifat umum. Dalam tulisan ini, pembangunan politik digunakan untuk keempat kategori, tapi lebih lanjut tidak membicarakan definisi dalam (iv), dan tak banyak mengamati (iii). Perhatian kita diarahkan pada (i), tapi terutama proses perubahan itu dibawah item (ii) di atas.

i. ii.

iii.

iv.

BAB II PEMBAHASAN
Pembangunan politik sebagai bagian dari modernisasi senantiasa melibatkan ketegangan dan konflik secara terus menerus antara proses pembangunan dengan syaratsyarat agar sstem politik tetap pada keadaannya. Ketegangan maupun konflik tersebut merupakan sesuatu inheren dalam pembangunan, yang meliputi tuntutan akan persamaan, proses-proses diferensiasi serta kebutuhan akan kapasitas yang lebih besar. Merupakan suatu hal yang biasa bahwa setiap perubahan-perubahan pada dimensi persamaan, diferensiasi dan

kapasitas/kemampuan dalam pembangunan akan mempengaruhi budaya politik elite dan massa, perubahan (smooth) dimana elite maupun massa terakomodasi dalam budayabudayanya. Hal ini menunjukkan dinamika modernisasi masyarakat. Krisis mulai terjadi apabila budaya elite atau massa atau keduanya, menyebabkan ketegangan-ketegangan yang inheren, misalnya antara dimensi kapasitas dengan dimensi persamaan yang semakin membesar dan sangat terlihat sebagai suatu ancaman utama pemerintah atau rakyat maupun kedua-duanya. Sejak tahun 1980-an, negara-negara berkembang di dunia terjadi kecenderungan disintegrasi maupun upaya untuk memajukan demokrasi untuk menghindari krisis disintegrasi. Upaya untuk mencegah disintegrasi bangsa akan lebih relevan dan actual melalui studi pembangunan politik, istilah lain dari pembangunan politik adalah pendidikan politik, pembaharuan politik, pengembangan politik, perubahan politik dan modernisasi politik. Pakar politik Lucien W. Pye (Aspects of Political Development, pada Memajukan Demokrasi mencegah disintegrasi, sebuah wacana Pembangunan Politik oleh Nicolaus Budi Harjanto) memberikan dimensi/unsur dari pembangunan politik sebagai berikut : Pembagunan politik sebagai : pertambahan persamaan (equality) antara individu dalam hubungannya dengan system politik, pertambahan kemampuan (capacity) system politik dalam hubungannya dengan lingkungan, dan pertambahan pembedaan (differentiation and specialization) lembaga dan struktur di dalam system politik itu. Ketiga dimensi tersebut senantiasa ada pada Dasar dan jantung proses pembangunan. Menurut Pye, dimensi persamaan (equality) dalam pembangunan politik berkaitan dengan Masalah partisipasi dan keterlibatan rakyat dalam Kegiatan-kegiatan politik, baik yang dimobilisir secara demokratis maupun totaliter. Dalam unsur/dimensi ini dituntut adanya pelaksanaan hukum secara universal, dimana semua orang harus taat kepada hokum yang sama, dan dituntut adanya kecakapan dan prestasi serta bukan pertimbanganpertimbangan status berdasarkan suatu system sosial yang tradisional. Dalam proses pembangunan, dimensi ini berkaitan erat dengan budaya politik, legitimasi dan keterikatan pada system. Sedangkan dimensi kapasitas (capacity) dimaksudkan sebagai kemampuan system politik yang dapat dilihat dari output yang dihasilkan dan besarnya pengaruh yang dapat diberikan kepada sistem-sistem lainnya seperti system sosial dan ekonomi. Dimensi ini berhubungan erat prestasi pemerintah yang memiliki wewenang resmi, yang mencerminkan besarnya ruang lingkup dan tingkat prestasi politik dan pemerintahan, efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan kebijakan umum dan rasionalitas dalam administrasi serta orientasi kebijakan. Sedangkan dimensi diferensiasi dan spesialisasi (differentiation and specialization), menunjukkan adanya lembaga-lembaga pemerintahan dan strukturstrukturnya beserta fungsinya masing-masing, yang terdapat pada sistem politik. Dengan diferensiasi berarti bertambah pula pengkhususan atau spesialisasi fungsi dari beberapa peranan politik di dalam sistem. Di samping itu diferensiasi melibatkan pula Masalah integrasi proses-proses dan struktur-struktur yang rumit (Spesialisasi yang didasarkan pada perasaan integrasi keseluruhan).

Sedangkan menurut ahli politik Claude E. Welch (Studi perbandingan modernisasi Politik pada Memajukan Demokrasi mencegah disintegrasi, sebuah wacana Pembangunan Politik oleh Nicolaus Budi Harjanto) menggunakan istilah modernisasi politik dalam memahami pembangunan politik, dengan pemikiran modernisasi politik dalam memahami pembangunan politik, sebagai berikut : Proses modernisasi politik memiliki tiga ciri Pokok yaitu : Pertama, peningkatan pemusatan kekuasaan pada negara, bersamaan dengan melemahnya sumber-sumber wewenang kekuasaan tradisional; Kedua, diferensiasi dan spesialisasi lembaga-lebaga politik; Ketiga, peningkatan partisipasi rakyat dalam politik dan kesediaan individu-individu untuk mengidentifikasikan diri dengan sistem politik sebagai suatu keseluruhan. Jadi modernisasi politik pertama-tama menyangkut pengalihan secara dramatis Pusat wewenang kekuasaan. Sistem politik yang telah di modernisasi akan menjadi rumit dan kompleks, karena modernisasi politik akan melipatgandakan volume, ruang lingkup dan efisiensi keputusankeputusan resmi; lembaga pemerintahan harus mengembangkan tingkat diferensiasi struktural dan spesialisasi fungsional yang tinggi; sikap-sikap politik rakyat harus dirubah dan sifat partisipasi politik harus diganti. Jadi pola modernisasi politik yang teratur mensyaratkan adanya transformasi sikap-sikap yaitu perubahan secara dramatis praktek-praktek sosial dan politik tradisional ke arah modern. Huntinton SP. (Tertib politik di dalam masyarakat yang sedang berubah pada Memajukan Demokrasi mencegah disintegrasi, sebuah wacana Pembangunan Politik oleh Nicolaus Budi Harjanto) melihat pembangunan politik sebagai suatu aspek dari adanya modernisasi. Aspek-aspek modernisasi politik tersebut dapat diringkas ke dalam tiga kategori utama, yaitu : Pertama, modernisasi politik melibatkan adanya rasionalisasi kekuasaan, pergantian sejumlah besar Pejabat-pejabat politik tradisional, etnis, keagamaan, kekeluargaan oleh kekuasaan nasional yang sekuler. Kedua, pembangunan politik melibatkan diferensiasi fungsi politik yang baru dan pengembangan struktur khusus sebagai pelaksana seluruh fungsi tersebut. Ketiga, pembangunan politik ditandai oleh peran serta politik seluruh lapisan masyarakat. Partisipasi politik ini ditandai dengan.meningkatnya kontrol/pengawasan masyarakat terhadap pemerintah/penguasa dan warga negara secara langsung terlibat dalam mempengaruhi pemerintahan. Modernisasi politik secara alamiah dimaksudkan untuk mengubah masyarakat terbelakang menjadi maju. Sehingga masalah pokok yang timbul dari proses modernisasi politik adalah pergeseran masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, sementara modernisasi politik dianggap aspek dan dampak politik modernisasi sosial, ekonomi dan budaya. Akibat modernisasi yang lainnya adalah adanya partisipasi di panggung politik yang berlangsung mulai dari pedesaan sampai kota-kota besar yang dimainkan oleh kelompokkelompok sosial yang meliputi seluruh lapisan masyarakat dan mengembangkan pranata politik baru, seperti partai politik yan mengorganisir partisipasi politik tersebut.

Ciri-ciri modernisasi menurut Alex Inkeles (Making Men Modern: On the causes and consequence of individual change Indonesia six developing countries pada Memajukan Demokrasi mencegah disintegrasi, sebuah wacana Pembangunan Politik oleh Nicolaus Budi Harjanto), berdasarkan hasil penelitiannya menemukan batasan modernitas manusia secara universal sebagai berikut : Manusia modern akan mempunyai ciri-ciri pokok sebagai berikut: terbuka terhadap pengalaman baru, memiliki sikap yang semakin independen terhadap berbagai bentuk otoritas tradisional, percaya terhadap ilmu pengetahuan termasuk kemampuannya menundukkan alam semesta, memiliki orientasi mobilitas dan ambisi hidup yang tinggi, memiliki rencana jangka panjang dan aktif terlibat dalam percaturan politik. Oleh karena itu pendidikan merupakan faktor yang terpenting yang mencirikan manusia modern. Sedangkan Huntington SP (The change to change: modernization, development and politic pada Memajukan Demokrasi mencegah disintegrasi, sebuah wacana Pembangunan Politik oleh Nicolaus Budi Harjanto) membangun kerangka teori dan tesisnya tentang modernisasi, dengan memberikan ciri-ciri pokok modernisasi sebagai berikut: Pertama, modernisasi merupakan proses revolusioner. Hal ini merupakan konsekuensi langsung karena adanya masyarakat tradisionil dan modern yang berbeda dan kontradiktif satu sama lain, dan perubahan dari tradisional ke modernitas melibatkan masalah perubahan total dan radikal dalam pola-pola hidup manusia. Kedua, modernisasi merupakan proses yang rumit, karena melibatkan perubahan hampir di semua bidang pemikiran dan tingkah laku manusia serta sekurang-kurangnya terdiri dari unsur-unsur: industrialisasi, urbanisasi, mobilisasi sosial, diferensiasi, sekularisasi, perluasan media, peningkatan tingkat literasi dan perluasan partisipasi politik. Ketiga, modernisasi merupakan proses yang sistematis. Perubahan dalam satu bidang/aspek akan membawa perubahan atau setidaknya mempengaruhi bidang/aspek lain. Keempat, modernisasi adalah suatu proses global. Hal ini disebabkan adanya penyebaran gagasan-gagasan dan teknik-teknik modern dalam kehidupan di seluruh penjuru dunia. Kelima, modernisasi merupakan proses jangka panjang. Pada awal perubahan masyarakat tradisional memang terlihat revolusioner, tetapi proses modernisasi secara keseluruhan hanya mungkin terjadi dalam proses yang evolusioner dan memerlukan jangka waktu yang panjang. Keenam, modernisasi merupakan proses yang bertahap, yaitu mulai dari tahap tradisional menuju masyarakat modern. Ketujuh, modernisasi merupakan proses homogenitas. Dengan modernisasi akan terbentuk berbagai masyarakat dengan struktur dan tendensi yang serupa, karena modernisasi meliputi gerak menuju interdependensi antar masyarakat politik serta ke arah integrasi semua masyarakat. Kedelapan, modernisasi merupakan proses yang selalu bergerak ke depan. Meskipun pada beberapa kasus ada kemungkinan berhenti atau mundur sementara, tetapi proses modernisasi tidak dapat dihentikan. Kesembilan, modernisasi merupakan proses progresif. Dalam jangka panjang modernisasi meningkatkan kesejahteraan manusia, baik kultural maupun material.

Dari beberapa teori para ahli ilmu politik tersebut, dapat disimpulkan bahwa teori modernisasi terdapat beberapa kelemahan yaitu: tidak mampu menggambarkan hari depan modernitas secara pasti, modernisasi tidak mampu menggambarkan proses pergerakan yang terjadi pada masyarakat, modernisasi tidak mampu memberikan alasan mengapa negara sedang berkembang harus mengikuti arah pembangunan yang pernah ditempuh negara barat, dan teori modernisasi tidak memperhitungkan terjadinya kemacetan, kemunduran, stagnasi maupun keterbelakangan pembangunan serta kegagalan pembangunan.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Modernisasi merupakan suatu yang alamiah terjadi dalam perkembangan suatu Negara, modernisasi sering diartikan sebagai peroses perubahan dari masyarakat yang bercorak tradisional ke masyarakat Negara yang bercirikan modern. Negara tradisional biasanya sebagian besar masyarakatnya hidup dari sektor pertanian, berorientasi masa lalu, masyarakat agamis, gotong royong, statis, primitif, dan tertutup. Sedangkan ciri negara modern biasanya sebagian besar masyarakatnya hidup di sektor industri, Future Oriented, Sekuler, individual, dinamis, dan terbuka. Berbagai keunggulan dan manfaat serta didukung oleh tren perkembangan dunia, banyak negara dan hampir di semua negara melakukan proses modernisasi yang dicirikan dalam proses pembangunan disegala sektor, dan merubah corak tradisional negara ke bentuk modern lewat proses industrialisasi. Lewat modernisasi pulalah kemudian diperkenalkan tahap-tahap pembangunan politik maupun ekonomi sebagai gerak perubahan yang gradual. Tahap-tahap ini bagi negara-negara berkembang yang dalam proses menuju negara modern seakan-akan harga mati untuk mencapai negara sejahtera. Mereka menganalogikan masyarakat sebagai makhluk organik, yang lahir, tumbuh berkembang menjadi dewasa, dan akhirnya mati. Mereka terlanjur menjadikan Barat sebagai model puncak modernitas dalam tahap-tahap pembangunan. Pembangunan disegala sektor dalam upaya moderinasi juga terkait dengan pembanguan politik sebuah negara, pembangunan politik biasanya terkait dengan peningkatan kualitas demokrasi, penguatan sistem politik dan pemerintahan, penguatan partai politik menjadi lebih mapan serta peningkatan partisipasi masyarakat. Tingginya partisipasi masyarakat merupakan cermin kuatnya demokrasi dan legitimasi pemerintah atas masyarakat, terlebih bila didukung oleh sistem politik dan partai politik yang bisa memfasilitasi partisipasi masyarakat dengan baik. Pembangunan politik menjadi penting terkait dengan modernisasi terlebih merupakan prasyarat kesejahteraan masyarakat.

B.

Saran Pembangunan politik sebagai bagian dari modernisasi senantiasa melibatkan ketegangan dan konflik secara terus menerus antara proses pembangunan dengan syarat-syarat agar sistem politik tetap pada keadaannya. Ketegangan maupun konflik tersebut merupakan sesuatu inheren dalam pembangunan, yang meliputi tuntutan akan persamaan, proses-proses diferensiasi serta kebutuhan akan kapasitas yang lebih besar. Untuk itu, sudah seharusnya pemerintah menciptakan suasana politik yang harmonis, serta adanya dukungan dari masyarakat untuk menciptakan pembangunan dan modernisasi kea rah yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Muhaimin,Yahya dan Collin McAndrews.1981.Politik Pembangunan.Jakarta Huntinton SP.1975.Tertib Politik di dalam Masyarakat yang Sedang Berubah.Jakarta

Anda mungkin juga menyukai